Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Sunday, June 6, 2010

Tante Ira, Beby dan Sumirah

Akhir pekan ini aku uring-uringan banget, abis Beby pacarku 3 bulan terakhir ini, kayanya ada gejala menjauhi aku... beberapa kali kupergoki jalan sama Teddy anak arsitek itu... en beberapa kali kutelpon selalu maminya bilang kaga’ ada, malah tante Ira mami si Beby bilang,
" Udah, kalo mau main dateng aja...ntar juga pulang, tungguin aja Bon..." kata tante Ira lembut.

Nggak tau Jack... malem ini, angin apa yang niup mobilku buat parkir di depan rumahnya.. pikir-pikir asyik juga kok ngobrol sama tante Ira... biar kata udah 40 tahun tapi bisa ngobrol gaya anak muda.. itu aja dasar pemikiranku...
" Eeeeeiiiii.... anak muda... gitu dong apelin tante sekali-sekali... " sambut tante Ira ramah banget. Coca cola dingin yang disajikan si Sum babu centil itu hampir tandas, tante Ira nggak muncul-muncul katanya mau ganti baju dulu. Akhirnya kusosot habis juga minuman itu setelah kuputuskan mau jalan aja...
"Bonny... naik aja, ngobrol di atas aja yuuk.. " kudengar panggilan tante Ira dari lantai atas, dilantai atas memang ada ruangan yang dibikin home theatre... beberapa kali kusetubuhi Beby di ruangan itu sambil nonton BF... tentu saja waktu nggak ada tante Ira. Benar saja tante Ira sudah menunggu di ruangan itu... busyyyeett.. tau nggak Jack... aroma parfum mahalnya semerbak lembut memenuhi ruangan itu... dan yang bikin biji mataku hampir meloncat keluar pakaian yang dipakai doi... gaun panjang transparant, mirip gaun tidur, aku yakin tante Ira nggak pake daleman alias BH en celana dalem, sebab di bagian itu bakal kelihatan bayangannya kalo doi pake... agak canggung juga pada awalnya, palagi ketika tante Ira menumpangkan kaki satunya di kaki yang lain, pahanya kebuka, ternyata gaun itu berbelahan samping sampai ke pinggang. Tapi gaya ngobrolnya yang santai membuatku agak santai juga walaupun mata ini lebih sering menatap karpet atau langit-langit rumah, sebab menatap kedepan yang kutemui kalo nggak paha panjang berkulit mulus, atau buah dada montok dengan puting susu yang tercetak jelas di balik kain transparant itu.
"Kamu kenapa siih... kaya orang kedinginan..." tegurnya melihatku yang salah tingkah.
" Iya tante ACnya dingin banget..." jawabku asal kena, tapi memang di ruangan itu kurasakan dingin sekali.
"Tante punya minuman sampagne, mau kamu Bon...? lumayan buat anget-anget..." Katanya sambil membuka kulkas di sudut ruangan... wooow... ketika kulkas terbuka aku menyaksikan silhoutte tubuhnya yang terbentuk karena sinar terang dari dalam kulkas menghilangkan bayangan kain transparant. body yang sempurna dan memastikan perkiraanku bahwa tubuh berbody gitar ini tanpa pakaian dalem, bahkan kulihat bayangan rambut kemaluannya, karena tante Ira berdiri agak mengangkang, agak lama juga kunikmati pemandangan ini.setelah menuangkan minuman dijatuhkannya pantat montoknya di sebelahku.
"Ayo anak muda, demi kehangatan tubuh..." kata tante Ira sebelum kita toast.... kuteguk setengah gelas sampagne,... busyet... doi segelas disikatnya sampagne itu tandas... kuikuti aja toh rasanya enak nggak kaya minuman keras lainnya... nggak lama gelasku penuh lagi, karena tante Ira menuangkan lagi minuman enak itu... sampai beberapa kali.
"Gimana Bon..? sudah hangat tubuhmu...?" tanya Tante Ira.
" Iya tante apalagi deket tante... jadi hangat..." Aku tak menduga jawabanku menjadi kacau begitu, tapi aku heran tante Ira malah ketawa geli dan tubuhnya makin mepet ke tubuhku.
" Kamu pikir tubuh tante ini kompor, bakal ngangetin masakan...? kamu deket tante aja hangat, apalagi nempel pasti mendidih... hi... hi... hi... " kepalaku yang mulai pusing akibat minuman, makin pusing aja sebab toket montoknya dengan kekenyalannya menempel ketat di dadaku, sementara kepalaku diusap-usapnya manja.
" aduuhhh... kalo ini sih nggak mendidih lagi, tubuh tante bagai kompor listrik yang rusak... jadi bikin korsleting..." jawabku ngawur. Tante Ira ketawa ngakak... jari jemarinya yang indah menelusup dan menggelitik masuk ke dadaku, matanya bersinar binal menatap wajahku dengan gemas. Kesadaranku mulai goyang, entah kapan mulainya tahu-tahu di layar lebar home theatre itu sudah terpampang adegan mesum dari film BF, dan baju hemku sudah terbuka seluruh kancingnya sehingga dadaku terbuka lebar... uuiihhh... buah dada tante irapun sudah terbuka sebelah dan kini menggesot-gesot dadaku... entah siapa yang memulai, bibir kami berpagutan, lidah tante Ira menggeliat liar melata masuk ke mulutku, membelit lidahku dan dengan gemas kuremasi buah dadanya yang ternyata memang mengkal menggemaskan.

" kamu nakal Bonny... harus diajar sopan... " desisnya sambil diremasinya selangkanganku, bahkan dengan lincahnya ikat pinggangku berhasil dilolosinya dan mencuatlah kejantananku dari balik celana jeansku.
"Iiiihhh... kamu malah nantangin ya...?" celoteh tante Ira disela-sela dengus nafasnya yang memburu penuh nafsu, sambil meremasi kontolku yang sudah setengah ngaceng... dadaku diciumi dan dijilatinya, aku menikmati aksi itu sambil tanganku tak lepas meremasi buah dadanya yang memang montok dan kenyal, sesekali kupelintir-pelintir puting susunya.... wow... alamak... berbarengan dengan adegan di film, tante Ira kini juga sedang mengulum dan menjilati kepala kontolku, membuatku menggeliat dan mengeram penuh kenikmatan, kulihat wajah tante Ira berbinar senang melihat ekspresiku merespon aksinya, sesekali batang kemaluanku yang sudah 100% ngaceng ini ditimang-timangnya dengan ekspresi wajah gemas penuh nafsu...
"Mmmm... mantap sekali Bonn... tante suka yang macam begini..." sejenak dikocok-kocoknya batang kemaluanku dan kembali dikemotnya.
" Iiiihh... keras banget Bon... gede lagi... tante jadi ngeri dehh... mmmm... ccllp... clpp" kuamati saja tingkah wanita setengah baya ini sambil kunikmati aksi oral sexnya yang canggih.
" Boon... tante juga mau digituin... " rengeknya manja sambil berdiri, langsung saja kusergap selangkangannya karena dengan aku duduk di sofa rendah itu wajahku tepat di depan bukit vaginanya yang di selimuti rambut subur tercukur rapi.
" Aiiihh..! kamu nggak sabaran deh... " protesnya centil, namun selanjutnya dengan posisi berdiri tante Ira mengatur posisinya dengan lihay, kaki kirinya ditumpangkan di sandaran sofa, sehingga wajahku tepat diantara selangkangannya

Wuuiiihhh... tercium semerbak bau harum, begitu selangkangan tante Ira mengangkangi wajahku, entah parfum merek apa yang memproduksi parfum memek... segera aku beraksi menunjukkan kecanggihan oral sexku... kudaratkan ciuman dan jilatanku ke seputar bukit vagina yang sudah menggembung gemuk akibat gairah seks yang meningkat.
" Booonnn... geliii doong sayaang... iiihhh... kamu nakal banget...." tante Ira mulai gemas karena lidah dan bibirku belum juga singgah di tempat yang dimauinya... pinggulnya bergerak gemulai mencari titik kenikmatan.
" Eiiihhh...! yaaa... Bonny... disituuu... nikmat banget Booonnn..." celoteh tante Ira, begitu ujung lidahku menyambar clitorisnya yang mengintip malu-malu... Rupanya tante Ira bukan seorang yang penyabar... rambutku direnggutnya sehingga kepalaku terkunci dan dengan mengerang-erang histeris dibesot-besotkanya clitorisnya kemulutku...
"Hiiiii...! kamu nakal Booonn... hhooo... inii nikmaatnya bukan maenn... sayaang..sssshhhh..." volume suara tante Ira makin meninggi sehingga lebih mirip teriakan... Pada suatu kesempatan, butir clitoris yang makin mengeras itu kukulum lembut dengan bibirku, kusedot-sedot lembut sambil lidahku mengusap-usap mesra...akibatnya sungguh hebat.. diiringgi lenguhan panjang, tubuh sintal tante Ira mengejang...
" Uuuuuuunnnggghhh....! Boooonn... kamuu pinteeerrr dehhh...!! ooooowww...!!" sebuah ekspresi khas wanita mencapai orgasme ditunjukkan oleh tante Ira, tubuhnya menggelejat, bagai tak terkontrol...
" Iiiihhh... tak kusangka... kamu pinter mainin tubuh perempuan... bocah ganteng..." bisik tante Ira sambil menggelendot manja di pangkuanku, setelah disambar badai orgasme...
" Tapi saya yakin tante jauh lebih pinter dari saya, makanya saya pingin diajarin..." jawabku sambil sesekali kukecupi bibir manisnya.
" Eeeh... kamu percaya nggak sih... dengan oral sex, jarang banget tante bisa orgasme, seumur-umur bisa dihitung jari deh...ini siiihh... bibir kaya begini ini yang bikin tante lemes sebelum tempuuurr... " bibirku dijewer mesra... matanya menatap bibirku penuh hasrat birahi, sampai bibir manis yang setengah terbuka itu gemetar menahan gemas... akhirnya dengan penuh luapan birahi, bibirku dilumatnya habis-habisan... kembali dengus nafas betina tante Ira menderu, menuntut penuntasan. Tubuh sintal yang duduk mengangkangi pangkuanku itu bembesot-besotkan buah dada mengkalnya ke dadaku dan menggoser-goserkan bukit vaginanya ke batang kemaluanku... wajahku habis dihujani ciuman penuh birahi... serta leherku dikecupinya denga liar, terasa celekat-celekit di seputar kulit leherku... pantat montoknya yang bergerak gemulai, kuremasi dengan gemas... jari tengah dan telunjukku merambah liang sanggama tante Ira yang ternyata sudah kembali licin dan kurasakan kembang kempis seolah menanti mangsa.
" Boonny... c’mon baby... kita mulai permainan yang sesungguhnya... tante siap menghajar si bontot yang bongsor ini..." bisik tante Ira sambil meremasi batang kemaluanku yang ready combat. Dengan posisi tetap saling berhadapan, tante Ira mengangkang di pangkuanku... batang kemaluanku

dituntun ke liang cintanya yang sudah menganga menanti mangsa... bibir manis tante Ira bergerak-gerak ekspresif mengiringi usahanya menjejalkan batang kemaluanku ke liang sanggamanya, ujung batang kemaluanku digesek-gesekkan ke bibir vaginanya sambil sedikit demi sedikit ditekan.
" Si bontotmu bandel banget... susah disuruh masuk... " bisik tante Ira.
" Punya tante kelewat rapet siih.." jawabku
" Bisa aja kamu, si bontot ini yang kegedean..." sahut tante Ira sambil menggigit bibir bawahnya dengan alis mengerinyit... ketika kurasakan kepala kontolku sudah amblas di jepitan liang sanggama tante Ira... ketika batang kemaluanku masuk setengahnya... kembali ditarik keluar... kemudian masuk lagi, begitu beberapa kali diulang-ulang dengan hati-hati dan aku nggak boleh bergerak oleh tante Ira, ternyata akhirnya habis juga batang kemaluanku ditelan liang sanggama tante Ira... pinggul montok tante Ira mulai bergerak dengan mata setengah terpejam serta bibirnya mendesis lirih... besutan perdana otot vagina tante Ira pada batang kemaluanku sangat nikmat, kurasakan seperti pijitan bidadari... gerakan pinggul tante Ira makin cepat dan makin kuat dan pijitan bidadari itupun semakin menjadi-jadi nikmatnya, aku masih belum mengadakan counter attack... kulampiaskan kenikmatan ini pada sepasang payudara montok yang bergerak-gerak di depan wajahku, kukulum dan kusedot bergantian sepasang puting susu berwarna coklat gelap yang mencuat keras.
"Hooo..! hhooo..! hhh...hhh... nikmat bukan main Booonnn.! oooohhh..!" kembali volume suara tante Ira meninggi... dan makin tinggi..mendorongku untuk menyambut goyang gemulai pinggul tante Ira, kuayunlah pinggulku... sekali, dua kali, tiga kali...dan ke delapan kali ayunan pinggulku...
"Ooooww..! yaa..! yaa..! oooo... my God..! Booonnny..! tante...nggak...tahaaann..!" Suara tante Ira atau lebih tepat disebut teriakan, terdengar parau.Wajah manis tante Ira menegang... bibirnya gemetar... giginya terdengar gemerutuk, cengkeraman tangannya pada pundak dan pinggangku mengencang sehingga kurasakan kuku-kuku jarinya yang panjang menembus kulitku... Tepat pada ayunan pinggulku yang ke sepuluh...
"Aaaaaaaakkkkkkhhhh.....! ya ammppuuunn Boooooonnnyy...!" Teriakan panjang itu mengiringi tubuh sintal Tante Ira sejenak meregang kuat, kemudian menggelejat liar, bagaikan sekarat... ayunan pinggulku kupercepat dan kuperkuat, sehingga terdengar suara ceprat-ceprot dari selangkangan kami... Sesaat kemudian tubuh sintal yang bergerak liar itu menelungkup lunglai di atas tubuhku.
"Terus..kan.. jangan hhh...berhenti...hh..hh Bon... ganti..an tante di..di bawahh... gilaa lemesss bangeth..hh..hhh" bisik tante Ira ketika aku menghentikan ayunan pinggulku... kulihat betapa lunglai tubuhnya.. Kurebahkan tubuh tante Ira di karpet...
"Ayo sayaang.. masukin lagi, hajar tante sepuasmu... " walau dengan suara lirih tapi nadanya penuh tantangan... membuatku bersemangat lagi dan kembali batang kemaluanku menyungkal selangkangan tante Ira...
" Iiihh.. letoy amat siiihhh..." cela tante Ira ketika dirasakan sodokan kontolku setengah-setengah... akupun meningkatkan speed dan power
" Eh..Eh..hhhh... Tante... ya...kin kamu bisa lebih kuat... lagi Boon..." walau dengan kondisi lunglai dan pasrah, kata-kata tante Ira masih bernada tantangan dan membuatku agak panas juga...kuperkuat dan kupercepat rajaman kontolku menghajar liang sanggama tante Ira.
"Aaaihh..! gilaa... hhhooo... sss... ayyyoo Booonn... lebih dalammm..!"Dengan celotehnya yang aneh, kata-katanya keras penuh tantangan,namun rengekannya bernada memelas dan memilukan, entah bagaimana yang dirasakan tante Ira... yang jelas kubaca ekspresi wajahnya nampak menahan sesuatu... entah sakit atau enak dan tubuh sintalnya kembali menggeliat-geliat tak beraturan
" Ooooohhh...! ooooww...! C’mooon baby... jangan letoooyyy... keras... keras...! yaa.. lebih keraaaasss...Oooouugghh..!"akhirnya aku tak peduli lagi... kujawab tantangan tante Ira, dimana kini aku sudah tanpa ampun menghajar liang selangkangan yang terkangkang lebar... kukerahkan seluruh kemampuanku untuk menambah kekuatan dan kecepatan ayun batang kemaluanku keluar-masuk liang sanggama Tante Ira, walaupun kulihat air mata Tante Ira bercucuran bercampur keringat dengan gigi menggigit kencang ujung sprei, walaupun begitu suara celotehnya tak berubah...ditingkahi rengekan yang mirip suara tangis...
"Ampppuunn..! oohh.. oooww.. oooouugght..!! " game point akhirnya tercapai dengan kuberi score 3 orgasme untuk tante Ira, sedangkan pointku 1 kumuntahkan spermaku yang hampir 3 minggu mengendap, ke buah dada tante Ira dan matanya yang nanar menatap dengan saksama proses menyemburnya spermaku yang sangat kental di permukaan kulit buah dadanya yang putih mulus.

"Sss...oooohhh.. iiihhh kental banget Boon...sampe lengket " desis tante Ira ketika dengan tangannya mengusap ceceran pejuhku merata ke permukaan tubuh bagian depannya..
" Boon..nny... tante lemes banget nih... nggak bisa bangun... tolong dong ambilin air es di bawah..." suara tante Ira kudengar lirih dan agak serak, kulihat wajahnya pucat pias dengan sorot mata yang nampak kuyu kehabisan tenaga... tubuh sintal yang mulus tampak berkilat oleh basahnya keringat dan pejuhku... tergolek telentang tak berdaya di karpet ruangan. Ketika aku sedang memilih botol air mineral yang paling dingin di dalam kulkas, telingaku menangkap suara aneh... kucari arah suara sayup-sayup itu... ternyata dari arah dapur di balik dinding ruang makan ini... karena penasaran kucari pintu ke arah dapur... kudapatkan lubang penghubung dari dapur ke ruang makan yang biasa untuk lewat makanan... dengan sedikit mengendap-endap, kudapatkan sumber suara itu... edaann..! gimana nggak edan..? kalian tahu broer... Sumirah... pembokat tante Ira, sedang nungging di meja dapur dengan tubuh bagian bawahnya telanjang, sambil merintih-rintih sendiri... tau nggak lagi ngapain do’i..? lagi masturbasi jack..! gue bilang edan, karena masturbasinya pake dildo alias ****** mainan, dapet dari mana pula si Sum ini... Gila... ngaceng lagi ngeliat gaya si Sum... eh gue ngga nyangka tubuh pembokat ini begitu mulus, kulihat dari pantatnya yang bulat dan bahenol itu sangat mulus bersih... aahh sial aku harus balik ke atas tante Ira pasti nunggu minumannya..
dengan rasa sayang kutinggalkan pemandangan langka di dapur. Di ruang Home Theatre kulihat posisi tubuh tante Ira tak berubah, telentang bugil di karpet ruangan... ternyata si tante tidur pulas banget, berkali-kali kugoyang-goyang tubuhnya sambil kupanggil namanya, bergerakpun enggak... iih.. kaya’ mati tidurnya... tiba-tiba kuingat sesuatu.. langsung aku cabut lagi kebawah... tau dong ente broer... kuintip lagi adegan di dapur... asyiik masih lanjut.. langsung aku menuju pintu dapur dengan langkah hati-hati... Si Sum terjingkat kaget ketika tahu-tahu aku sudah di ruangan dapur.. dengan wajah merah padam perempuan muda ini gugup berusaha menutupi bagian-bagian tubuh bahenolnya yang telanjang... he..he.. rok bawahannya ada di bawah kakiku... akhirnya dengan dengan kain lap piring do’i tutupin selangkangannya yang sempat kulihat jembutnya sangat subur membentuk segitiga kebawah..
"Eeehh... terusin aja Sum.. gue cuma pengen nonton aja... atau mau gue bantuin..." kataku sambil cengengesan... sambil kudekati tubuh bahenol yang meringkuk mojok... mendengar gurauanku rupanya cukup menenangkan hati si Sum yang aku yakin pasti kaget, malu jadi satu
" Mas Bonny, bikin kaget... sih.. nakal banget.." sahutnya lirih, sambil beringsut mengambil rok bawahannya.
" Mau bantuin malah dikatain nakal, gimana siih..?" selakku sambil kuikuti langkahnya...
" Kalo mau bantu... ya nggak disini.." sahutnya dengan suara setengah-setengah, namun matanya mengerling menantangku dengan isyarat ajakan, sebelum kabur keluar dari dapur... Dugaanku tepat do’i masuk kamarnya, dan dugaanku tepat lagi ketika kubuka, pintu kamar itu tak dikuncinya... sengaja... kulihat si Sum tengkurap di ranjang. Aku benar-benar sudah mata gelap... semenjak kontolku dibikin ngaceng oleh aksi masturbasinya tadi, aku naik ke ranjangnya... kusingkap rambut yang menutupi tengkuknya dan kukecupi tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus... tubuh bahenol si Sum bergidik karena ulah nakalku...
" Mas Boonny... gangguin orang aja siih..." Sum merengek manja, namun tak berusaha menghindari kecupan-kecupanku di tengkuknya, malah kuarahkan kecupan dan jilatanku ke punggungnya yang berkulit bersih, setelah kupelorotkan blouse merahnya. Sumirah perempuan 27 tahun bertubuh sedang, badannya subur, namun tak bisa dibilang gemuk, lebih tepatnya bahenol... karena memang kemontokkan payudaranya sedikit di atas rata-rata, dan perempuan ini memiliki pinggang yang cukup ramping, ditopang pantatnya yang bulat serta kemontokan tubuh bagian ini juga agak di atas rata-rata. Wajah..? tidak mengecewakan, bahkan jika didandanin... nggak kalah deh sama Jihan Fahira. kelebihan lain si Sum, adalah genit dan centilnya yang minta ampun... paling nggak tahan melihat lelaki tinggi gede dengan kumis dan jambang dicukur kasar dan tubuhnya banyak bulu.
"Lubangmu udah basah aja siih.." tanyaku setelah jari tengahku merasakan licinnya liang sanggama si Sum.
" Iiihh.. ya jelas dong... seandainya di dapur tadi mas Bonny nggak gangguin, saya udah dapet lho..."
" Ntar gue gantiin 5 kali lipet... langsung gue masukin aja ya..?"
" Saya takut sama nyonya lho mas.."
" Do’i pules banget tidurnya... makanya cepetan gue masukin ya..?.." kataku sambil kusodok-sodokkan kontolku ke selangkangannya.

" Iiiihh ngeriii... gede bangeethh..." desis Sum centil, ketika batang kemaluanku bagai ular merayap di sela-sela pahanya yang masih merapat...
" Gue tanggung bakal mantap deeh..." kataku meyakinkan, sambil tak henti-hentinya tanganku meremasi payudara Sum yang sudah mengembang dan mengeras...
"Sssshhhh.... mas Bonny... asal bikin Sum... puaaas kaya nyonya ...." rengeknya manja sambil menggeliat gemas merasakan nakalnya kuluman bibirku pada puting susu kirinya... Sum mulai membuka pahanya, kubesut-besutkan batang kemaluanku yang sudah membengkak itu ke bibir vagina si Sum... wooow... si Sum mulai membalas seranganku... dihujaninya leher dan dadaku dengan kecupan dan gigitannya... jari-jari tangannya meremasi otot punggungku.
"Eeehhh... hhh... nngghh... maaasss... Sum udaah nggaakk tahann..." rengek Sum di sela-sela dengus nafasnya yang tak beraturan... aku tahu apa yang diinginkannya, tanpa dikomandoi kami segera pasang posisi.... Sum menekuk kedua kakinya yang mengangkang ke atas, sampai lututnya menyentuh payudara, sehingga bukit vaginanya tengadah ke atas dan bibir vagina yang berwarna merah segar dan basah, tampak merekah bergerak kembang kempis seolah menantangku... sejurus kemudian jari-jari lentiknya melebarkan bibir vagina tersebut... giliran aku sekarang yang nggak sabar... dengan posisi setengah berlutut kujejalkan kepala batang kemaluanku kesasarannya... seperti yang sudah kubayangkan... liang sanggama si Sum tak muat dijejali kepala kontolku... lagi-lagi aku diharuskan sabar... apalagi kulihat si Sum meringis kesakitan ketika kucoba memaksakan kepala kontolku untuk menembus liang sanggamanya... maka kugunakan cara yang dipake tante Ira tadi...
"Oookh..! maaass...! sa..sakkiiit..." keluh si Sum memelas... dengan ekspresi meringis menahan sakit, ketika kepala kontolku berhasil menembus masuk.
" Tahan Suum... hhh... " keringat berhamburan dari pori-pori tubuh kami, dalam upaya penembusan di pintu nikmat...akhirnya diiringi rintih sakit dan usaha keras... amblas jugalah batang kemaluanku di liang becek di tengah selangkangan si Sum... kudengar si Sum membuang nafas lega dan menjatuhkan kepalanya ke ranjang... sesaat kemudian si Sum menyatakan siap tempur, aku memulainya dengan meludahi arena pertempuran, untuk membantu pelumasan.
"Ooohk.. pelan maass...sss ho’ooo iyaaahh.. " pelahan tapi pasti, kesulitan mulai berkurang dan sedikit demi sedikit kenikmatan mulai terasa...dibandingkan dengan postur tubuhku, tubuh si Sum nampak kecil... tapi tubuh kecil si Sum ternyata menyimpan energi luar biasa, dan tak kusangka ternyata tubuh bahenol ini sangat lihay memainkan jurus-jurus goyang dan geol yang cukup menunjukkan bahwa si Sum ternyata berpengalaman ngeladenin syahwat lelaki... semua variasi geraknya memberikan kenikmatan untukku... sementara si Sum sendiri terbaca dari ekspresi wajah dan gerak maupun ekspresi suaranya, sangat menikmati serangan olah sanggamaku
"Heh... hh.. heh... mas Boo..nny Sum ndak bisa nahan lebih lama... barenggiin yaa..? tahhan... maass... hajar lebih daleemm lagi..." Ekspresi wajah dan gerak si Sum mulai gelisah... kubaca kondisi ini dan keluarlah aji pamungkasku... kedua tangan Sum kutekan ke ranjang sehingga terkunci nggak bisa bergerak lalu dengan kedua kakinyapun kubuat terbatas gerakannya... mulailah ayunan pinggulku kupercepat dan kuperkeras... kepala batang kemaluanku merajam tanpa ampun dasar liang sanggama Sum dengan kecepatan semakin tinggi dan hajaran semakin keras...akibatnya... tanpa dapat ditahan tubuh bahenol Sum menggelejat liar melepas orgasme.
"Oooowwwhhhh..mas...mas...massss Boonn..nnyy.. nnnggghhh...!" lenguhan panjang mengiringi lepasnya kenikmatan seksual seorang wanita... aku masih stabil mengayun dengan hi speed dan hi power.... dengan posisi tetap terkunci kulihat kembali wajah Sum menegang dengan mata membelalak menatapku seolah takjub...
"Ooooww...! hoooohhh... maaaassss... Suumm dapettt lagggggiii!" tubuh bahenol si Sum kembali kelojotan hebat disambar orgasme keduanya... pada saat itu si Sum masih berusaha menundukkan kesaktian kejantananku dengan menggeol pinggul sejadi-jadinya.
"Woooohhh...! ayooo... keluariiin... mmaass..hhhhiihh..!" seru si Sum dengan wajah penasaran... liang sanggama yang semula seret dilalui batang kemaluanku, kini terasa licin dan begitu loncer, sampai mengeluarkan suara ceprat-ceprot, karena membanjirnya cairan vagina si Sum akibat dua kali orgasme.
"Gimana Sum..? hhh... masih pingin dapet lima kali.." tanyaku sambil masih mengayun kemaluanku memompa liang sanggama si Sum yang semakin becek.. kali ini ayunanku tak sekencang dan sekuat tadi.
"Ngghh... bisa semaput mungkin... wih.. wih mas Bonny kaya badak... kuat banget..." jawab si Sum sambil mengulumi puting susuku dan kurasakan pinggulnya bergerak lagi.
"Maass... ntar pejuhnya keluarin di sini yaa..?" kata si Sum sambil menjulurkan lidah panjangnya.
Sekali lagi tubuh si Sum menggelepar gila disambar orgasmenya yang ketiga, dan kira-kira 2 menit kemudian saatkupun tiba... kuhajar liang sanggama si Sum dengan kejamnya, menjelang muncratnya sang bubur sumsum... dengan gerakan yang sangat kompak dalam mengatur posisi... akhirnya muntahlah lendir syahwatku ke rongga mulut si Sum dan disambut dengan sangat rakus oleh wanita berbody bahenol ini, bahkan disedot-sedotnya batang kemaluanku sampai benar-benar kering spermaku.

"Iiih... mas Bonny ternyata jagoan ******* lho... seumur-umur baru sama mas Bonny ini Sum bisa keluar berturut-turut... iiiihhh... ngeriii deeh.."kata si Sum menyatakan kekagumannya, sambil menyisir rambut hitamnya didepan cermin.
"Kenapa kok ngeri...?" tanyaku sambil mencari kemana jatuhnya celana dalamku.
" Kalo ketagihan gimana...? enaak banget siih.." si Sum membungkus tubuh bahenolnya dengan handuk.
" Selama pusaka gue masih bisa ngaceng, lu pingin dapet enak berapa kali gue kasiih.."sahutku sambil mengenakan celanaku.
" Iiiihhh... dasar lelaki... ngomongnya doang... kaya mas Bonny ini, pertama anaknya disosot, terus nyokabnya digagahi pula... eh.. eh... babunyapun dihajar juga..!" kata si Sum sambil ketawa genit.
" Sialan lu... siapa suruh mengumbar memek sembarangan. Eh... Sum lu punya ******-kontolan beli dimana lu...?"
" Oooohh.. dari nyonya, dulu Sum pacaran sama Supar tukang siomay... ketahuan nyonya, saya lagi dientot di garasi... nyonya takut Sum meteng... lalu Sum dilarang pacaran sama Supar..."
"Hubungannya ama ****** mainan itu apa..?"
" Sum bilang, kalo 3 hari nggak dientot lelaki, Sum suka pusing dan uring-uringan... terus itu dikasih mainan itu sama nyonya... lumayan bisa dipake kapan saja Sum pengen..." Celoteh Sum sambil menimang-nimang dildo pemberian tante Ira...Tepat jam 24.00 gue balik ke ruangan Home Theatre... kulihat tubuh tante Ira masih belum berubah posisinya... benar-benar pulas tidurnya, Gue duduk di sofa sambil menikmati Coca cola kaleng yang gue bawa dari bawah... duduk di ruangan ini gue jadi inget waktu hubungan gue ama Beby lagi hot-hotnya... di ruangan ini pula pertama kali gue setubuhin tubuh montok Beby... setelah kena gue bo’ongin...gue inget itu setelah 2 minggu gue resmi macarin do’i...
" Beb... nonton VCD aja yuuk... gue baru dapet kiriman dari Anto’ temen gue yang di Amrik... " Setelah hampir 2 jam ngobrol berdua di ruang tamu.
" Ah elo, udah bosen ya ngobrol ama gue? ditonton di rumah kenapa..?" Sahut Beby sengit.
" Beby, karena gue pengin nonton berdua ama lu... gue rasa lu juga suka..."
" Iiih sok tau deeh... emang lu tau film kesukaan gue....? ayyooo deh sayyyaangg... gitu aja ngambek.." Beby bangkit dari duduknya sambil merapikan blouse dan roknya yang sempat gue bikin lecek saat session peluk, remas dan cium selama setengah jam... yang akhirnya bikin gue horny berat berkepanjangan... udah gue niatin bahwa malam ini, gue harus bisa meranjangkan Beby... bosen aja lebih sepuluh malem gue dibikin horny lewat peluk, cium dan remasan-remasan di ruang tamu rumahnya... nggak tuntas friend... kalo nggak nyokabnya lewat, si Sum sambil nyeletuk jorok...
"Oooh my God... lu tau aja Bon film kesukaan gue..." bisik Beby yang duduk di sebelah gue.. setelah seperempat jam film terputar...
" Itu salah satu bentuk perhatian gue ke orang yang gue sayang..." sahutku spontan... padahal sungguh mati tau juga enggak kalo Beby suka film-film yang agak jorok, seperti film VCD yang gue pinjem dari Tedjo temen gue.

" Cuma gue nggak tau kenapa lu suka dengan film begini Beb..?" tanya gue lembut.
" Karena gue kepengin jadi cewek dalam film itu.." jawab Beby dengan suara mendesah, gue menangkap nyala gairah dalam kerling matanya yang sekejap menyambar mata gue... gue tangkap isyarat itu... gue peluk tubuh Beby dengan lembut... " Gue akan mewujudkan apa yang lu pingin..." Sahutan gue segera disambutnya dengan ciuman bibir yang hangat... bibir kami berpagutan dengan gairah yang mulai menggelegak, lidah dalam rongga mulut kami saling belit dengan liar... gue rasain desah nafas Beby mulai tak beraturan,
tangan gue mulai gerayangan masuk kebalik blouse Beby, tubuh sintal Beby menggeliat dan mendesah lirih ketika tangan gue mengelus kulit pinggangnya dan bergerak menggelitik punggungnya, kembali tubuh sintal ini menggeliat resah mendesak ketubuh gue disertai remasan gemas pada otot punggung gue... gue ngerasain kekenyalan payudara montok gadis berdarah Menado ini... sekali sentil lepaslah kaitan BH berukuran 36B di punggung Beby...

" Oooohhh... Boonnyy..." desahnya lirih dengan mata setengah terpejam
" Sayaangg..." sahut gue pendek
" Lu bandel..." katanya sambil merenggut T-shirt gue lepas dari tubuh... dan gue juga ngelakuin hal yang sama.... mata gue nanar ngeliat kemulusan tubuh atas Beby yang baru kali ini gue liat seutuhnya, payudaranya yang montok nampak mengkal mengeras dengan puting susu berwarna merah tua tampak mencuat ke depan... Gila bener gue ga’ sabar friend... gue sosot aja langsung puting susunya sebelah kiri....gue mainin lidah gue disitu.
" Ooooww.. my god... Bonnny lu emaaangg bandelll..." tubuhnya menggerinjal keras. posisi tubuh Beby kini duduk mengangkang di pangkuan gue, saling berhadapan... Tubuh indah Beby hanya terbalut CD mini berwarna hitam... ooo... friend tangan gue kaya nggak bosen ngeremesin payudara indah Beby yang sangat montok dan kenyal bak karet... gue yakin ekspresi wajah Beby menunjukkan rasa kenikmatan... dan gue juga yakin do’i pasti suka... sebaliknya dengan liar do’i membalas dengan ciuman-ciuman yang variatif pada leher dan muka gue... dada bidang gue tak lepas dari remasan atau lebih tepatnya cakaran jari jari lentik berkuku panjang itu.. nafas betinanya mendengus tak beraturan... tangan gue mulai merayap ke balik CD hitamnya dan gue remasi pantat besarnya yang terus di goser-goserkan ke tubuh gue... gue temuin lubang anusnya... sejenak gue elus-elus dan bergerak lagi sedikit gue ketemu sekumpulan rambut halus yang lumayan lebat... jari gue menerobos rerimbunan rambut kemaluan Beby... sampai gue temuin belahan bibir vaginanya... ternyata udah basah licin...jari gue bergerak menggelitik syaraf-syaraf perasa pada kulit bagian ini.

"Booonnny.!! terusin...!!! sayannnnggg gue pengin tuntasin hasrat ini..." suara Beby bergetaran parau merespon aksi jari gue di selangkangannya. Gue rebahin telentang tubuh Beby diatas sofa hitam Beby pasrah ketika CD hitamnya gue lepas, waoow.. manakala sepasang kaki panjangnya direntang lebar... mempertontonkan bibir vagina yang merah basah dikelilingi rambut kemaluan yang rimbun terpotong rapi... tanpa banyak cincong kusosot pangkal selangkangan indah itu, gue mainin tarian lidah di antara bibir vagina yang beraroma khas...
"Sssss...hhhoooo..! " pinggul besar itu bergerak gemulai menyesuaikan dengan tarian lidah gue, diiringi rintih dan desah yang menggambarkan kenikmatan birahi seorang wanita, lidah gue menari lincah membesut liar klitoris yang kian membesar dan mengeras... jari tengah gue menyelinap diantara bibir vagina dan langsung memasuki lorong berlendir licin... Beby mendesah panjang manakala jari tengahku yang panjang dengan nakalnya menggelitik dinding liang cintanya.... tangannya menggapai selangkanganku yang sudah menggembung, akibat desakan kemaluanku
" Booonnyy... gue pingin punya lu... iiihhh... keras banget... gede nggak Bonn...?" sambil ngoceh nggak jelas, Beby dengan cekatan berhasil menelanjangi gue, posisi kita menjadi 69, kembali gue dengar teriakan kagum dari Beby yang kini gue yakin sedang berhadapan dengan to’ol gue yang panjang maksimumnya 18cm dengan diameter 5.5cm.
" Gilaaaa... baru kali ini gue temuin musuh seseram ini... gue suka Bonnn.... gue nggak sabar pengin segera ngerasain, yang segede lu punya.. iiihh keras lagi" kata Beby dengan suara mendesis bernada kagum, ooow maak.! batang kemaluan gue dihajar bibir indah yang rada dower milik Beby, lidahnya dengan lincah menjelajahi area selangkangan gue, bahkan dubur gue nggak luput dari aksi lidahnya yang liar dan nakal... dalam posisi 69 ini, serangan balikku tak kalah galak... klitorisnya kukenyut-kenyut dan kuoles-oles lembut dengan sapuan lidahku... sementara jari tengahku menjelajahi liang becek menggelitik syaraf-syaraf birahi di seputar dinding liang sanggamanya...
" sssh.. sss ampuun Boonn...! ooowww gue nggak tahan... hh hh.. gue pengen... orgasme dengan si bongsor ini..." seru Beby dengan suara gemetaran, gue belum jawab, Beby sudah merubah posisi.. Do’i rebah telentang di sofa dengan sepasang kaki panjangnya terentang lebar, mempertontonkan anatomi rahasianya... sepasang bibir vagina yang merah basah menggembung gemuk, bergerak kembang kempis menanti mangsa, dikelilingi rambut-rambut halus yang lumayan lebat... matanya yang agak sipit menatap gue dengan tajam penuh ketidak sabaran...bibirnya yang dower seksi monyong-monyong seakan memprotes gue yang lelet..

" Booonn... hhh...hhh... ayo sayaaangg.. lu juga bakal gue kasih nikmatnya olah cinta gue... mmm...ooohh..." suaranya mendesah dan mendesis, sambil jari-jari tangan kirinya mengelusi kadang menjebirkan bibir vaginanya yang sedower bibir atasnya... Dengan gaya yang sangat cool gue berlutut diantara pangkal pahanya... gue remas sepasang payudara montoknya dengan dua tangan... cewek Fak. Ekonomi setahun di bawah gue ini mengeram resah... hhmmm sepasang kaki panjangnya bergerak menjepit pinggangku , sehingga bibir vaginanya yang licin menempel erat ke batang kemaluanku yang mengacung galak... kemudian dibesot-besotkannya belahan bibir vaginanya yang basah dengan liarnya... matanya tampak mengerinyit kesal.
" Bonny lu nakal banget siiih... " protesnya
" Gue suka ngeliat cewek yang nggak ketahanan nafsunya... bikin gue tambah terangsang.." sahut gue kalem, sambil mata gue menatap matanya penuh arti.. kepala batang kemaluan gue yang mirip topi baja itu gue oles-olesin di sepanjang belahan bibir vagina Beby sampai menyentuh klitorisnya yang mengintip malu-malu, disambut desah resah, pinggul montoknya yang terus bergerak, bergoyang dan menggeol gemulai oooh merangsang sekali, wajah gemasnya terpancar jelas lewat sinar matanya yang agak sipit... ekspresi bibir dowernya, kadang bibir bawahnya digigit, monyong-monyong atau meringis memperlihatkan giginya yang beradu dengan rahang mengeras... mmm...ssss kali ini gue yang nggak tahan melihat ekspresi wajah Beby yang sangat natural
Gue arahin ujung topibaja kemaluan gue ke pintu liang sanggama Beby... dan langsung gue ayun masuk, tubuh Beby menggerinjal.
" Akkhh..!" serunya tertahan, wajah Beby gue lihat meringis kesakitan dan mata sipitnya terbeliak menatap gue.
" Pelan-pelan sayaang... gue makin nggak sabar... ayo lagi.." desisnya penuh penasaran.. Gue ulangi langkah pertama tadi, dengan agak hati-hati... beberapa kali ujung topi baja ****** gue kepeleset ke samping atau kebawah.. walaupun ludahku berhamburan di pintu liang sanggama untuk membantu melicinkan jalan masuk yang sempit... beberapa kali gagal membuat Beby tambah semangat... dikangkangkannya selebar mungkin pahany a dan kedua tangannya menahan kakinya...
"Yaaa....! tekaaannnn... hoo’o...ssss.. aahhh..! Boonny tahann..." dengan ekspresi yang sulit gue ceritain.. Beby memberi aba-aba... dan gue berhenti mendorong sementara topi baja itupun amblas..gue lihat nafas beby tersengal sengal dengan keringat mulai berhamburan membasahi tubuh mulusnya...
" Dorooongg lagi... dengan lembut saayyyaangg....ooookkkhhh..!" kembali gue bergerak dan berhenti ketika gue lihat telapak tangan kanannya membuka lebar seperti memberi kode berhenti... setengah panjang batang kemaluanku kini amblas tertanam di pusat selangkangan Beby.
" Siapa takuut..?" bisik Beby... setelah beberapa saat tubuhnya tak bergerak bagaikan mati dengan nafas tersengal-sengal... matanya yang sipit menatap gue penuh tantangan... tiba-tiba gue rasain gerakan lembut seakan mengurut dan menarik batang kemaluan gue yang amblas di liang sanggama Beby... ternyata Beby menggunakan otot perutnya, membuka jalan masuk batang kemaluan gue ke dasar liang sanggamanya, gue sedikit bergetar dengan kenikmatan yang gue rasain dan akhirnya amblaslah hampir seluruh otot tegang di selangkangan gue tertelan liang cinta di pusat selangkangan beby...
" Ayo jantan... berdansalah di atas tubuh gue.." bisik Beby sambil lidahnya yang runcing panjang menggapai daun telinga gue...dengan gerakan coba-coba kuayun lembut pinggul gue..keluar dan masuk... Beby mendesah dengan mata setengah terpejam.
" Nikmat Beby sayang..?"
" Bukan main... otot jantan lu memenuhi liang cinta gue, teruskan sayaang jangan ragu.."desah Beby dengan mata masih terpejam tampak menikmati, sambil menggerumasi rambut gondrong gue. Tarian pinggul gue, disambut desah dan desis kenikmatan disertai remasan lembut jari-jari lentik Beby pada segenap otot punggung gue, dan gue nikmatin jepitan liang sanggama yang sempit. gue tambah power dalam ayunan pinggulku...disambut rintihan manja Beby dan jepitan itupun makin nikmat gue rasakan.
" Bonny...oohh... otot jantan lu menggelitik seluruh... syaraf liang cinta gue..." mendengar respon Beby dansa gue tambah ekspresif...
"Yaaahh..! Booonny... lu galak bangeeettt... gue sukaa sayaang... yaaa... terus.. Boonnn..!"suara Beby meninggi dan gue rasakan pinggulnya mulai bergoyang bertanda otot elastis liang sanggama Beby mulai bekerja... selanjutnya gerakan
tubuh kami yang menyatu semakin liar. Pinggul gue mengayun menghantar rajaman kejam kepala batang kemaluan ke dasar liang sanggama Beby, tanpa ampun... sementara tubuh sintal di bawah tubuh gue pun menunjukkan perlawanan gigihnya, pinggul bulatnya tak hentinya bergoyang dan menggeol gemulai mengcounter serangan gue, agaknya Beby mulai mengeluarkan jurus-jurus goyang pinggul simpanannya... dari yang rasanya ****** gue kaya dikemot-kemot mulut ompong sampe yang rasanya ****** gue dilipet-lipet didalam liang sanggamanya... pokoknya semuanya ampun deh nikmat bener... wajahnya kadang beringas menatap gue penuh dendam... kadang matanya menatap wajahku dan seolah mengatakan rasakan goyang pinggul gue..! kadang dengan mesra kecupan bibir dowernya menjelajahi leher dan dada gue... bahkan desahan panjang bernada putus asapun sempat keluar dari mulutnya.
" Lu... oohh... hh.. hh.. e... emang pejantan sejati Bonn... hh..uuhh..." rengek Beby menunjukkan kegeraman, mata sipitnya menatap mata gue dengan sinar mata gemas, menyusul meredanya goyang pinggul Beby yang bak pusaran angin puting beliung...
" Gue nikmatin keliaran lu sayaang..." gue perlambat ayunan pinggul gua...
" Gue yakin... lu bangsa pejantan yang tahan lama gue suka hh..hhh.. bikin gue nikmat dengan gaya yang lain Bonn..." desisnya dengan sinar mata sipitnya yang tajam, tubuh bahenol itu melepaskan diri dari himpitan gue... Tubuh indah itu berdiri mengangkang menghadap TV monitor raksasa, kedua tangannya mencengkeram erat frame besi TV monitor tsb. setelah pantat bulat itu ditunggingkan.
"C’moon honey, hajar gue dari belakang..." mata sipitnya melirik ke arah gue yang masih telentang di sofa sambil mengocok batang kemaluan gue sendiri agar terjaga kengacengannya, gue ngeliat bentuk shilhoutte tubuh Beby yang menggeol-geolkan pinggulnya di depan TV monitor yang sedang menyuguhkan gambar wajah 3 orang wanita yang sedang berebut sperma yang berhamburan dari sebatang ******... Singkat kata denganpose itu Beby gue hajar habis-habisan, tubuhnya yang tergolong tinggi memungkinkan untuk itu, tubuhnya meliuk-liuk dengan erangan-erangan tak lagi ditahan.
"Booonnn...! Haaaa...rrgghh..! hhhhoooo... gueee..! saaaammmpeeee laaggiii... Aaaaarrrrggghh..!" Tubuh indah ini menggelejat hebat untuk ke 2 kalinya... tanpa berhenti gue hajar lebih gila lagi....nggak sampe 30 detik setelah orgasmenya yang ke tiga...
"Ooooohhh shiiit...! ammpppuuunn.. Boonn gue dapeeeeeett laggggghhhooooowww..!!!" kali ini kedua tangannya menggapai ke leher gue dan tubuhnya bergantung pada tubuh gue.. setelah tubuhnya berhenti menggelejat bak orang sekarat dengan suara seraknya melolong penuh kegemasan...
" Gue isep aja ya sayy... gue nyeraah deh... hhh.. hh" bisiknya lemah.. ditengah nafasnya yang belum beraturan... iiihh, pucet banget mukanya...apa boleh buat... malem itu peju gue berhamburan di wajah Beby....itupun tanpa sempet ngebersihin peju gue yang belepetan di wajahnya... langsung pules do’i ketiduran... ya uddeh.. gue cabut aja.
setelah gue selimutin tubuh bugil Beby cewek gue... Sambil siul-siul kecil gue turun tangga, busyeet di anak tangga ada onggokan pakaian dalem perempuan... seinget gue Beby gue telanjangin di ruang Home Theatre... sayup-sayup gue denger... busyet ga’ salah orang lagi ML... langsung gue ngendap-endap mencari sumber suara... untung tempat gue bediri agak gelap...naaahh... ketemu lu... whaaattt??? nyokapnya Beby... lagi disetubuhin laki-laki yang gue kenal karena beberapa kali ketemu di rumah ini...
" Aaaahh... Deeenn... tunggguu dooonngg..!" keluh Tante Ira dengan nada kecewa dan gue lihat laki-laki itu mencabut kontolnya dari memek Tante Ira dan semburatlah peju kental diatas perut Tante Ira banyak sekali... namun tanpa respon dari Tante Ira...
" Sooorry hh...hhh... sayaaanng Abang ngggak tahann..." kata Oom Deden dengan nafas ngos-ngosan...
" Sorry...? uuuh sebel masak udah hampir seminggu gue nggak dapet juga... udah abang coli aja di rumah...uuuuh..!!" Tante Ira meninggalkan Oom Deden yang bengong. Mata gue mengikuti langkah gemulai Tante Ira yang telanjang bulat memasuki kamar mandi .... alamak... tubuh wanita setengah baya itu ga’ kalah sama anak gadisnya.... toketnya yang besar tampak mengkal dan masih kencang tegak, dan tubuhnyapun tampak masih singset tak berlemak.... kulihat oom Deden menyusul ke kamar mandi yang memang tak terkunci... kesempatan buat gue merat keluar rumah. Udah deh sejak saat itu Beby bagaikan tersedot magnet, lengket ama gue terus.

Saturday, June 5, 2010

Aku dan Lembuku

Bukannya bermaksud merendahkan martabat seorang wanita bila photo-photo dibawah ini mengantikan objek lembu dalam cerita... Bila ada yang tersinggung MAAF!!!



Ketika SMP aku dan teman-teman biasa pergi mengangon lembu ke sudut-sudut perkebunan sawtit. Biasanya pemilik kebun sawit senang, bila kamu mengangon lebu di sana. Aku pertama kali ikut mengangon lembu yang baru dibelikan ayah untukku atas desakanku.
Aku heran, kenapa teman-temanku suka membawa kancing peniti dan menyimpan minyak sawit di saku mereka. Ketika hal itu kutanyakan kepda temanku Anto, dia tersenyum-senyum saja. Tapi lama kelamaan teman-temanku yang lain memberitahu rahasianya kenapa harus membawa peniti dan minyak sawit. Aku terta, setelah mendengar penjelasan itu. Semua anak pengangon lembu atau kerbau pasti membawa kancing peniti atau jarum pentul.

Aku ingin merasakan, bagaimana enaknya ngentot dengan lembu betina itu. Tiba-tiba Anto menyediakan lembunya untuk aku setubvuhi, karean lembuku masih lembu anak berusia 5 bulan. Meraka sudah tahu mana lembu yang mau disetubuhi dan mana yang tidak. Tanda-tandanya, bila vagina lembu sudah mulai mengembang dan suka mengosok-gosokknya vaginanya ke pohon, itu tandanya, dia mulai birahi dan mau disetubuhi. Lembu-lembu itu akan suka, kalau paginanya dielus-elus oleh tangan setelah dicuci bersih. Aku mendapat penjelasan, bila kontol kita mulai diisap oleh vagina lembu itu, kita cepat mencucukkan peniti ke tubuh lembu, agar isapan vaginanya tidak terjadi. Bila tidak, kontol kita akan disedot kuat oleh vagina lembu iotu ke dalam dan kita merasa sakit.

Dengan diajari oleh teman-temanku aku mulai mengikuti petunjuk mereka. Aku lumuri vagina lembu ANto dengan minyak sawit agar licin, tentunya setelah dibersihkan dengan air dan dicuci pakai sabun lebih dulu. Aku naik ke punggung lembu itu. Kontolku yang sudah tegang, aku cucukkan ke dalam vagina lembu itu. Tentu saja ekornya dikesampingkan lebih dulu. Minyak sawit yang berada di bibir vagina dan di liang vagina itu terasa licin. Minyak sawit bisa diperoleh dekat pabrik sawit. Tentu saja minyak yang terbuang di lantai pabrik sawit itu. Untuk mendapatkannya tidak susah.
Benar saja. perlahan aku merasa nikmat. Kontolku terasa diremas-remas oleh vagiona lembu itu. Tak lama kemudian, kontolku terasa seperti disedot kuat ke dalam vaginanya. Saat itu aku mencucukkan penili yang tajam itu ke tubuh lembu. Tak sampai melukainya. Hanya sekedar mengejutkannya saja dan ada rasa sakit. Terasa kontolku kembali berhenti disedot ke dala, vagina itu.

Seperti yang diajarkan kepadaku, aku mulai mengelus-elus tubuh lembu yang baru saja kucucuk pakai peniliti. Jari-jariku menekan-nekan tubuh lembu yang baru kucucuk. Saat itu, kembali vagina lembu meremas-remas kontolku. Agar sedotan lembu tidak terlalu kuat yang katanya bisa membuat kontol kita putus tersedot, kembali minyak sawit disiramkan oleh Anto ke vagina lembu, melalui alur vagina di sisi kontolku. Vagina lembu itu terasa begitu licin. Ramasan vagina lembu itu terasa semakin membuat aku nikmat.

"Enak enggak?" tanya mereka menyaksikan aku keenakan.
"Enaaakkk..." kataku. Mereka tertawa-tawa kegirangan. Dan mereka meminta agar aku tidak bercerita kepada teman-teman yang bukan corps pengangon lembu. Rumanya, para pengangon lembu punya corps tersendiri.

Aku diajari, kalau mencucuk tubuh lembu jangan terlalu kuat. Kalau t erlalu kuat, dia akan melompat dan berlari, membuat kita bisa terpelanting terjatuh. Kalau lompatnya tingi dan dan kita terjatuh kuat, bisa-bisa tangan kita patah, setidaknya terkilir atau keseleo. Aku mengikuti nasehat mereka.

Kembali kontolku disedot oleh lembu itu. Aku setengan berteriak.
"Dia nyedot lagi.." lalu aku menusuk peniti itu pwerlahan-lahan. Sedotannya makin kuat dan Anto kembali menetaskan minyak sawit ke vagina lembu. Licinnya minyak sawit, membuat kontolku tidak tersedot jauh, bahkan terasa enak. Begitu seterusnya aku kembali lagi mengelus-elus tubuh lembu yang kutusuk pakai peniti dan memutar-mutar jari telunjukku ke bekas tusukan. Saat itu, aku merasakan kontolku kembali diremas-remas lembut dan nikmat sekali. Karean aku pemula, aku belum begitu pintar memainkan jarum dan mengelus bekas tusukan jarum. Tapi remasan vagina lembu itu, membuat aku cepat mengeluarkan spermaku. Crooot...crooot.
"Aku sudah keluar, Kataku. Dengan cepat Anto naik ke punggung lembunya. Begitu aku turun dia langsung memasukkan kontolnya ke vagina lembunya.
Kini giliran Giman berisap-siap. Jika Anto sudah mengeluarkan spermanya, Giman yang akan naik ke punggung lembu itu. Kini Giman yang bertugas menetesi minyak sawit ke vagina lembu.

Anto cepat terngkurap di atas tubuh lembunya dan memasukkan kontolnya ke vagina lembu itu. Kontiol Giman memang lebih besar dan lebih panjang dibandingkan dengann kontilku. Demikian juga kontol teman-temanku. Mungkin mereka terbiasa disedot-sedot loleh lembu itu, maka kontol mereka jauh lebih panjang dan lebih besar dariku.
"Siram Man..." kata Anto. Guiman tau tugasnya meneteskan minyak sawit ke pagina lembu. Anto mencucuk cabut kontolnya di vagina lembu itu. Kelihatan kontol Giman keluar masuk. Lalu menekannya dan mencucuk peniti ke tubuh lembu. Lalu mengelus-elus bekas tusukan itu.
"Siran lagi Man..." perintah Anto. GIman kembali meneteskan kira-kira lima ml minyak sawit ke vagina lembu. Anto memejamkan matanya dan menekankan tubuhnya ke tubuh lembu itu. Sampai akhirnya, ANto meminta Giman naik ke punggung lembu untuk menggantikannya. Giman cepat memanjat tubh lembu itu dibantu oleh Warso dan aku sendiri. Begitu Anto mencabut kontolnya dari vagina lembunya dan melompat turun, Giman langsung memeluk tubuh lembu itu dan memasukkan kontolnya ke pagina lembu. Kini tugas Warso yang menetesi minyak sawit.

Dua hari sekai, kami melaklukan itu. Sampai akhirnya lembu Anto dikawinkan dengan pejantan. Kami pun menunggu lembu-lembu yang lainnya birahi. Terkadang, kalau kami sudah kebelat, kami pun menaiki lembu yang belum birahi. Caranya, kami merangsangnya dulu dengan tangan setelah vagina lembu itu kamu lumuri minyak sawit. Ternyata remasan vagina lembu itu tidak bisa kami lupakan.

Koleksi Foto Hot

Friday, June 4, 2010

Minah-ku



Kalau aku lagi sepi, aku suka berburu. Bukan berbuuru ke hutan, melainkan berburu ke mall atau pust perbelanjaan lainnya. terutama yang berada di pusat perbelanjaan di pinggiran. Aku tahu, di sana banyak anak-anak ABG yang lagi mejeng sekedar "cuci mata".

Aku rela berlama-lama mengelilingi pusat perbelanjaan itu. Sampai akhirnya aku ketemu dengan seorang gadis. AKu kira umurnya 16 tahun dan masih kelihatan lugu. Cara berpakaiannya masih sederhana saja. Tidak banyak polesan make up. Dia menjinjing sebuah tas. Memakai sepatu murahan dan bahan pakaiannya juga dari biasa-biasa saja. Aku sengaja mendekat padanya. Dia sangat lesu kelihatannya. Namun wajahnya masih kelihatan polos dan cantik. Mungil tubuhnya dan teteknya paling ukuran 32B.

"Sendirian saja dik?" kataku. Dia menolehku dan tersenyum. Aku juga tersenyum ramah.
"Mari duduk. Kita minum dulu, nampaknya adik ini sudah lesu sekali," kataku. Dia langsung tersenyum dan mengucapkan terima kasih dan mau aku ajak. Ini dia pikirku.

Aku memsan dua botol coca cola. Lalu aku tawari dia makan KFC. Dia setuju. AKu hiba melihatnya makan begitu lahap. AKhirnya dai mengaku, kalau dia belum makan seharian. Katanya dia berasal dari kota kecil R dan sedang mencari kerja di kota besar ini. Seorang temannya sudah mendapat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, tinggal dia yang belum. Kesempatan pikirku.
"Mau bekerja di tempatku? Kebetulan aku juga sendirian," kataku. Dia langsung gembira.
"Terima kasih mBak. Aku mahu. Tapi aku belum biasa bekerja dan tolong aku diajari dan dinasehati," katanya merendah dan berharap.

Usai makan, kami langsung meningalkan tempat itu. Dia hanya membawa sebuah tas ransel berisi pakaiannya. Kulitnya sawo matang dan bersih. Aku suka kebersihannya dan bibirnya yang mungil. Langsung kami ke area parkir dan menaiki mobil ke rumahku.
AKu tempatkan dia di kamar dekat dapur. Sebagai seorang karyawan swasta, aku memiliki sebuah rumah yang lumayan luas dan sebuah mobil dengan perabotan rumah yang lumayan. Aku suruh dia mandi bersih dan aku berikan dia pakaian dasterku yang lama yang sudah tak bisa kupakai lagi. Dia meerimanya dengan senang hati. Semua pakaian dalamnya dalam keadaan kotor dan dia memakai aster tanpa celana dalam dan bra. Aku tersenyum.

Seusai makan malam, aku mengajaknya menonton TV di ruang tengah. Ruang khususkuuntuk bersantai membaca dan mengerjakan pekerjaanku yang belum selesai di kantor.
Aku sengaja meletakan CD fil;m porno lesbian dari jepang. Asyik menonton TV aku menekan tombol remoute control. Dan mulailah film lesbian itu berputar. Mulanya Minah (bukan nama sebenarnya)malu-malu menontonya. Lama kelamaan dia asyik juga. Kurangkul tengkuknya dan kurapatkan tubuhku ke tubuhnya. Melihat tadi dia memakai pakaian daster tanpa celana dalam dan bra, aku juga memakai daster mini, tanpa celana dalam dan bra.

"Bagus ya film-nya," bisikku ke telinganya. Minah diam saja. Perlahan kuelus-elus pundaknya dengan lembut. Lalu aku meraba teteknya dari luar. Terasa bagiku pentilnya mengeras. Tanganku sebelah lagi mengelus-elus perutnya.
Minah diam sja. Aku tak tahu, apakah dai takut aku usir atau dia sudah horney. Lama kelamaan aku mendengar desah nafasnya sudah tidak beraturan lagi. Ini dia pikirku.

Aku berdiri dan melepas daster miniku. Aku sudah telanjang bulat di depannya. Kutuntun dia berdiri. Dia pun bangkit, tapi matanya masih menatap ke TV. Dengan cepat kuangkat dasternya dari bawah dan mengangkatnya ke atas, melepasnya. Di hadapanku, Minah sudah telanjang bulat, aku juga demikian. Langsung kupeluk dia dan tetekku dan teteknya berlaga. Soft gerakan. Aku memeluknya dan meraba-raba punggungnya.
"mBak..." katanya lirih.
"Tak apa, nanti kamu terbiasa dan enak," kataku merayu. AKu terus menjilati lehernya, membuat dia merasa geli-geli enak. TV terus memutar film lesbian itu.

Aku mendudukkannya di lantai. Di atas karpet, aku memeluknya dan menjilati teteknya. Kueleus tetek yang sebelahnya lagi. Tetek yang besarnya tidak seberapa, tapi sangat kenyal dan kencang. Pentilnya kecil. Terus aku menjilati perutnya, ketiaknya dan sampai ke selangkangannya. Minah mendesah-desah kenikmatan. Dia mulai meremas-remas rambutku. Dia sudah merasakan bagaimana melayang-layang di awang nikmat. Kukangkangkan kedua pahanya dan aku menjilati klitorisnya. Kumasukkan lidahku terus dan menggerak-gerakkannya di dalam memeknya. MInah terus mendesah.

"mBaaaakkkk..."
Kubaliknya tubuhku. Aku terus menjilati memeknya dan kuatur letak memekku ke mulutnya. Dia belumberani menjilati memekku. Tak apa, setidaknya dia sudah mencium aroma indah dari memekku. Saat aku menjilati memeknya, tetekku, kugerak-gerakkan ke perutnya. Lubang memekku, sengaja kegerak-gerakkan ke wajahnya, ke batang hidungnya.

Minah masih perawan. Aku tak akan merusaaknya. Aku terus memberikan jilatan pada klitorisnya. Lendir mengental mulai membasahi lubang memeknya. Bulu-bulu memek yang masih halus dan belum lebat, membuat aku semakin semangat menjilatinya. MInahpun mengepit kedua pahanya ke kepalaku. Kuat sekali, sampai aku sudah bernafas. Dan aroma memeknya semakin meninggi, Ada bau nenas muda bercampur aroma mangga. Lendirnya semakin banyak dan kepitannya semakin kuat. AKu tak perduli, aku terus menjilatinya.
"Maaf mBak...aku pipiiiissss," katanya. Tak perlu dia minta maaf. Aku justru puas menjilati lendir itu di sela-sela memeknya.

Setelah kepitan kedua pahanya merenggang, aku kembali ke antara dua pahanya. AKu dudk dan kubimbing dia duduk du atas kedua pahaku. AKu peluk dia dan menciumi pipi dan lehernya. Kuminta dia mengisap-isap tetekku. MInah mulai mengisapnya dan menjilatinya. Kuminta dia meremas-remas tetekku yang sebelah lagi. Saat itu aku memeluknya kuat dan merapatkan kedua tetekku ke teteknya pula dan aku menciumi lehernya. AKu pun orgasme.

Sejak saat itu, kami selalu melakukan adegan-demi adegan. MInah sudah kuajari pula bagaimana berciuman dan berlaga lidah. Minah sudah pandai mempermainkan klitorisku dengan lidahnya. Aku sekarang sudah memiliki seorang teman di rumahku sendiri. Terkadang dia adalah pembantuku, terkadang dia adalah adikku, sahabatku dan kekasihku. Dua tahun lamanya dia bekerja untukku. Semua gajinya utuh tertabung.

Suatu sore ayah dan ibunya datang ke rumah dan membawa Minah pulang kampung, untuk membantu usaha kedai mereka. Minah pun pulang dalam keadaan perawannya yang tida terganggu. Aku percaya, dia tidak akan mampu melupakan aku, karean dia mendapatka pelajaran seks pertama dariku.
Kini? Entah dimana dia berada.

Thursday, June 3, 2010

Belajar Naik Sepeda Motor


Sepeda motor bekas pun akhirnya dibelikan kepada kakakku Adi. Maksudnya, agar Kak Adi boleh memboncengku ke sekolah, kemudian dia pun meneruskan ke sekolahnya di STM. Bila pulang sekolah, aku menunggunya, kami pun kembali berboncengan pulang kembali ke rumah. Dengan uang Rp. 10.000, kami boleh sekolah berdua dengan aman. Selama ini, bapak kami harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 30.000,- per hari buat kami berdua.
Kak Adi sekolah kelas 3 STM dan aku kelas 1 SMP. Jalan menuju jalan besar, sedikit berlubang dan dikuatkan dengan batu-batu kerikil. Mulanya, aku sangat takut dengan lubang lubang itu, membuat aku harus memeluk kuat Kak Adi di boncengan.
Sebulan setelah itu, keadaan biasa-biasa saja. Tapi lama-lama aku merasa sangat nyaman dan enak, ketika jalan berlubang itu kami lalui. Sepanjang 2 Km, tetekku yang mulai membengkak tergesek-gesek di punggung kakakku. Sampai akhirnya Kak adi sendiri yang berkata:" Tuty, kakak senang sekali kalau kamu peluk erat dari belakang."
"Kenapa kak?"
"Tapi jangan bilang siapa-siapa ya. Tetekmu enak mengelus-elus punggung kakak," katanya. Aku tersenyum. Ternyata buka aku saja yang merasakan enaknya. Kak Adi juga.
"Aku juga," kataku polos. Dan kami pun tersenyum berdua.
Pulang sekolah, ada sisa jajan, dan kami duduk di warung di sebuah ketingian, hingakami bisa menyaksikan keindahan pohon-pohon sait yang baru ditanami, hijau bergelombang di tanah yang berlembah dan berbukit. Kami duduk di bawah pohon rindang, memesan dua gelas es dawet dingin.
"Tut... kata orang, ciuman itu enak. Kami mau kalau Kakak cium?" Kak Adi berkata seperti kepada dirinya sendiri. Sepertinya dia ragu mengucapkan kata-katanya. Aku tertunduk malu. Padahal aku juga ingin dicium. Di kelas, kawan-kawanku mengaku sudah punya pacar dan sudah pernah berciuman. Dalam umurku yang 13 tahun, aku sudah haid dan selalu membayangkan Kak Adi mencium dan memelukku.
"Kok kamu enggak menjawab," Kak Adi mengusik lamunanku. Aku hanya tersenyum dan tertunduk malu. Setelah melihat keadaan aman di balik pohon besar tempat kami duduk itu, tiba tiba Kak Adi mendekatiku dan memelukku serta mencium bibirku. Aku terkejut dan membiarkannya. Bibirku bagian bawah dia sedot-sedot sembari tangannya mengelus tetekku dari luar. Uuuhhh... aku melayang. Kami pun saling menatap, kemudian aku tertunduk malu dan tersenyum.



"Kapan-kapan lagi ya?" Kak Adi membisikiku. Kami pun pulang karena takut terlambat di rumah. Sudah diberikan sepeda motor, malah terlambat.
Kami makan bedua, lalu Kak Adi mau ke ladang memindahkan lembu yang biasanya terikat di ladang. Dia hanya mengenakan celana pendek. Ibu kami asyik dengan jualannya pada warung di depan rumah kami. Dia menjual gado-gado dan pecel serta ayah berada di sawah, karena sebentar lagi musim tanam padi.
"Mak, aku boleh ikut Kak Adi memindahkan lembu ya. Kasihan setiap hari Kak Adi memindahkan sendiri lembu-lembu itu," kataku. Ibuku tersenyum.
"Kalau semua kerjaan di rumah sudah selesai, ya sana ikut Kak Adi mu," kata ibuku. AKu pun ikut dengan Kak Adi. Kami berjalan cepat-cepat. Lembu-lembu kami pindahkan bersama ke tempat yang agak teduh dan rumput yang segar. Tiga ekor lembu yang setiap pagi dibawa oleh ayah ke ladang, siang dan sore Kak Adi yang memindahkannya dan mebawanya pulang ke kandang.
Usai memindahkan lembu-lembu itu, kami duduk di bwah pohon manga yang subur dan lebat. Sunyi sekali saat itu. Kak Adia mengajakku ke rumput bambu yag lebat. Ada beberapa rumpun babmu besar di ladang kami yang luas. Sepi dan sunyi. Kak Adi memelukku dan bibir kami berpautan. Lidah Kak Adik bermain-main di dalam rongga mulutku. Tangannya mengelus-elus tetekku.
"Kamu lepas BH mu ya Tut. Kakak kau isep tetekmu. Boleh ya...?" Aku menurut saja. Kulepas BH ku dan kukantongi di celanaku. Baju kaos oblongku disingkap ke atas dan mulutnya mulai mengisapi pentil tetekku yang mungil. Aku senang sekali. Kak Adi memelukku kuat dan erat, aku membalasnya juga dengan pelukanku. Semakin kuat Kak Adi memelukku, aku juga semakin kuat membelasnya. Sebelah tangannya mengelus-elus pantatku dan memekku begitu rapat dengan burungnya, walau kami sama-sama masih memakai celana. Akhirnya Kak Adi melepaskan ciumannya dan meregangkan pelukannya.
Kami kembali ke pohon mangaa yang rindang mengamati lembu kami asyik memamah rumput segar. Tak lama kami meliohat ayah mendekati kami. Untung saja, kami sudah berada di bawah pohon mangga. Ayah tersenyum melihat kami duduk berdua, dan aku sedang membaca buku yang kubawa dari rumah. Ayah kami mengira aku sedang diajari oleh Kak Adi.



"Nih... aku bawakan sebuah pepaya untuk kelian. Aku pulang duluan, mau ke rumah Pakde mu. Abangmu mau menikah, jadi aku dan ibumu akan ke sana. Nanti malam baru pulang," kata ayah sembari menyerahkan sebuah pepaya. Kami senang sekali. Begitu ayah menjauh, Kak Adi membisikiku.
"Tut... aku masih mau lho... Kamu cebok dulu ke irigasi. Cuci yang bersih tempemu," bisiknya.
"Mau diapai tempeku?"
"Sudah sana, nanti kamu tau sendiri." Aku pun segera ke irigasi berair jernih itu dan mencuci tempeku. Jaraknya hanya 20 meter dari tempat duduk kami.
Kembali Kak Adi membawaku ke rumpu bambu yang lebat dan kami masuk ke sela-sela antara tiga rumpun. Di bwah bambu itu bersih sekali. Aku ditidurkan Kak Adi di tanah yang keras beralaskan daun pisang kering. Kedua kakiku dikankangkan dan Kak Adi berada di antara kedua kakiku. Dia mulai menunduk dan menjilati tempeku.
"Kak... jijik, kak. Tempuku kok dijilati?"
"Kan sudah dicucui bersih tadi?"
"Sudah tapi...."
"Sudah diam saja. Pasti kamu nanti ketagihan."
Aku membiarkan Kak Adia menjilati tempeku dan benar saja, terasa nikmat sekali. Aku menggelinjang-gelinjang dan kuelus rambut Kak Adi. Sampai akhirnya aku menjepit kepala Kak Adi dengan kedua kakiku dengan kuat dan aku mengerang.
"Kak... AKu mau pipis..." akuterus menjepit kepala Kak Adi dengan kedua kakiku dengan kuat sekali dan kemudian aku lemas setelah aku berada tinggi di atas awang-awang.
Saat aku lemas, Kak Adi melapas jilatannya di Tempeku, kemudian dia menciumi bibirku, tetekku dan memelukku kuat sekali, kemudian dia pun melemas


Setiap ada kesempatan, aku dan KakAdi selalu saja menyempatkan diri untuk melakukan berbagai hal. Mulai dari berciuman, Kak Adia menjilati Tempeku dan aku mengisap burungnya serta banyak hal lagi.
Di ladang, aku diajari oleh Kak Adi membawa sepeda motor. Ayah dan ibuku senang sekali, melihat kekompakan kami berdua. Kak Adi aternyata sangat menyayangiku. Mereka tak tahu apa sebabnya. Pokoknya mereka senang, melihat Kak Adia mengajariku naik sepeda motor. Hari pertama biasa saja. Hari kedua juga biasa saja. Hari ketiga juga dan beberapa hari kemudian aku semakin mahir membawa sepeda motor bebek itu.
Kak adi meminta agar aku membawa sepeda motor ke rumpun bambu. Tangannya terus mengelur tempe ku dari luar. Aku mengelinjang. Bahkan tempeku menjadi basah, karena elusannya itu. Sepeda motorpun kami starndart kan di bawah rumpun bambu sembari mengawasi lembu kami memakan rumut.
"Selama ini, burung Kak Adi kan sudah laga dengan tempe-mu Tut? Bagaimana kalau burung Kak Adi dimasukin ke dalam lubang tempe-mu...." Kak Adi membisiku. Aku tersenyum.
"Terserah Kak Adi saja..."
"Tapi katanya sedikit sakit. Hanya sebentar kok. Kalau sudah itu, lantas jadi enak?"
"Terserah Kak Adi saja."
Aku pun dibawa ke tempat biasa kami, yakni di antara tiga rumpun bambu yang lebat dan di bwahnya bersih sekali. Malah (pasti) Kak adi sudah menyiapkan sebuah plasti untuk tempat tidur. Aku terlentang. Kulepas celana dalamku dan Kak Adi meliorotkan celananya sampai ke dengkul. Kulihat Burung Kak Adi begitu keras dan berdiri megacung. MUlanya dia menjilati tempe-ku dengan rakusnya, sampau aki merasakan melayang-layang. Kemudian dia mendekatkan ujung burungnya ke tempe-ku. Sebelah tangan kirinya mengarahkan burungnya ke tempe-ku dan sebelah lagi mendekapku. Perlahan ujung burung Kak Adi menyeruak lubang tempe-ku. Aku menggigit bibirku, karean terasa sakit.
"Sakit Kaaakkk..." Tekanan burungnya terhenti, justru bibirnya dan lidahnya bermain di mulutku. Kemudian dia menekan kembali dengan terus sampai aku hambpir saja menjerit karean menahan sakit dan perih. Air mataku meleleh menahankan rasa sakit itu. Kak Adi pun membelai kepalaku dan mencium pipiku denganlembut. Sebentar lagi tak sakit lagi, katanya. Setelah tetekku diisapinya, kembali dia menerik burungnya dan kembali menusuknya, menarik perlahan dan menusuk perlahan dan seterusnya. Aku sudah mampu merasakan perubahan dari sakit dan mulai nikmat, sampai akhirnya, aku merasakan ada lendir hangat memenughi ruang tempe-ku.
Cepat aku disuruhnya mencuci tempeku ke irigasi. Aku melihat ada darah di air jernih itu. Aku pun menyurun strategi, kalau ditanyai kenapa jalanku seperti tidak normal. Benar saja, ibu bertanya seperti apa yang kubayangkan. Aku mengatakan, aku datang bulan (haid) dan terasa sangat sakit. Ibu tersenyum. Dia memberikan jamu agar rasa sakitnya hilang dan darah lancar keluar. Aku meminumnya, Tapi ras nyeri masih juga ada. Besoknya aku tidak sekolah. Aku kesepian, Kak Adi tak ada bersamaku. Menunggu jam 13.30 rasanya seperti mau mati. Akhirnya yang kutungu datang juga. Dengan pucat dia bertanya.
"Gak apa-apa Kak." Aku kembali ikut ke ladang memindahkanlembu. Bahkan aku diminta membawa sepeda motor dan Kak Adi duduk di belakang. Dengan jani di hadapan ayah dan ibu, aku tak boleh membawa sepeda motor di jalan Rasa karena belum punya lisensi untuk itu. Aku setuju. Ayah dan ibuku tersenuk gembira dengan peraturan yang dibuat oleh Kak Adi.



Setelah seminggu tak ada lagi rasa sakit di tempe-ku. Setelah memindahkan lembu, kami ke dekat rumpun bambu. Kak Adi melapas celana dalamku. Dia juga melorotkan celananya. Di atas sepeda motor yang berhenti kami dduk berhadap-hadapan. Kak Adia mengangkat tubuhku ke atas kedua pahanya. Perlahan burungnya memasuki lubang tempe-ku. Kami berpelukan, berciuman. Tangan Kak Adi meremas halus tetekku dan menciumi bibirku, sampai akhirnya kami sama-sama berada pada kenikmatan kami beruda. Sperma Kak Adi memenuhi lubang tempe-ku dan aku juga lemas. Nikmat sekali. Dan tiga harui kemudian aku haid. Aku melapor lagi pada ibu. Kata ibu, kalau masih remaja tingting, haidnyabelum teratur.
Kerig haidku. Aku minta lagi akan agar Kak Adi memasukkan burungnya ke lubang tempeku. Kak Adi memasang sarung pada burungnya. Katanya biar tidak hamil. Aku setuju saja.
Di atas sepeda motor dengan alasan belahar naik s3epeda motor, di bawah pohon rumpun bambu, di rumah, di kamar mandi, bahkan saat kami pulang sekolah, aku merasa sangat bernafsu. Di atas sepeda motor aku bisiki pada Kak Adi.
"Kak... aku mau burung Kak Adi dimasukin sekarang..."
Cepat Kak Adia membelokkan sepeda motor ke sela-sela sawit. Cepat dia mengambil sarung burungnya yang terbuat dari karet itu. Saat itu aku sudah melepas celana dalamku dan memaskkannya ke dalam tasku. Kak Adi duduk di tanah dan aku langsung menaiki tubuhnya, menangkap burungnya, kemudian mengarahkannya ke dalam lubang tempe-ku. Tak lama, kemudian kami berdiri dan berbenah dengan cepat, sepeda motor pun kami naiki dan pulang k rumah.
Selepas makan, Ibu tidak membuka warungnya, karean ikut bertanam pagi di sawah. Kak Adi berbisik padaku.
"Kita ke kamarku yok... cepatan.." Aku tersenyum. Padahal baru saja kami melakukannya, tapi aku tau, kalau Kak Adi memnginginkannya. Kami bertelanjang bulat di atas tempat tidur Kak Adi, kami melakukan persetubuhan dengan bebas dan buas sekali Kak Adi menyetubuhiku. Aku sangat puas dan puas. Kalau aku haid, dan Kak Adi menginginkannya, dia minta burungnya aku jilati dan kulum, sampai akhirnya spermanya lepas dalam mulutku.
Tapi ketika aku sakit gigi dan tak mampu mengulum burungnya, KakAdia memasukkannya dari duburku. Aku merasa sakit sekali. Kedua kali juga terasa masih sakit. Mulai ketiga kalinya, aku merasa mulai nikmat. Mulut tempe-ku dan duburku semua sudah dimasuki burung Kak Adi. Aku memang mencintai Kak Adi. Aku malah tak rela, kalau Kak Adi nanti pacaran dengan perempuan lain dan harus menikah dengan perempuan lain.
Kami pun sepakat, kalau sudatu saat kami menikah, kami akan tetap melakukan hal yang sama secara sembunyi-sembunyi. Aku setuju.

Wednesday, June 2, 2010

Darno anak Ibu Kos


Aku biarkan saja dia mengintip dudukku. Aku tahu matanya begitu tajam melihat selangkanganku. Mampu kau pikirku saja. Aku terus sja berbicara dengan ibunya. Begitu ibunya meleng sedikit saja, aku mengangkat sebelah pahaku, hingga, aku yakin matanya bisa melihat keputihan pahaku yang mulus. Nama laki-laki itu adalah Darno. Aku kos di rumah mereka. Ibu Darno suka sekali bertandang ke kamarku di sisi rumah mereka, tersendiri dari anak kos yang lainnya.

Ibu Darno suka menceritakan kelakuan anak-anak kos yang suka di booking oleh om-om. Dan dia menceritakan dan membanggakan Darno seorang anak walau masih berusia 15 tahun dan sudah duduk si SMA adalah anak yang alim, baik budi dan tidak mau mengikuti teman-temannya berbuat yang tidak baik. Dalam hati aku tersenyum, karean aku baru saja melihat mata anaknya melirik tubuhku dan jakunnya naik turun serta tidak mau beranjang dari duduknya dan setia menemani ibunya. Setiap kali ibunya bertandang ke kamarku, Darno pasti mengikutinya dan aku tahu, matanya melirik bagian tertentu dariku.

Begitulah sore itu, aku sengaja memakai baju yang transparan tanpa BH dengan alasan gerah. AKu juga memakai rok mini dengan alasan yang sama. Begitu aku duduk dan berbincang dengan ibu itu, Darno tiba-tiba muncul dan duduk di hadapanku. Aku tersenyum padanya dan sedikit memujinya, agar ibunya senang. Darno memang masih sangat muda, berkulit putih pula dengan tinggi tubuh persis setinggi tubuhku. Sebentar-sebentar dia melirik pahaku. Aku sengaja dudjk bergerak-gerak dan membuat Darno benar-benar terangsang. Aku sebenarnya sudah muak, Ibu Darno memuji-muji anaknya itu. Dengan alasan sakit perut, aku minta izin untuk tidur dan istirahat. AKu mengikuti saran, agar aku meminum obat yang dianjurkannya. Aku minta tolong kepada Darno untuk membelikan obat itu ke warung. Kami pun bubar dari obrolan dan aku minta izin untuk ke kamar untuk tidur. Ibu Darno setuju dan dia pergi entah kemana. Mungkin mencari rumah orang lain untuk menceritakan kehebatan dan kebaikan anaknya itu. Terserah saja.

Darno datang mengetuk pintu untuk mengantarkan obat. Langsung kubuka pintu dan kutangkap tangannya dan menyeretnya ke kamarku. Dia menurut saja. Setelah kukunci pintu kamar, aku mengatakan;
"Setiap kamu duduk di depanku, aku tahu kamu suka mengintip melihat pahaku, kan? Jangan bohong. Aku minta kamu membuka pakaianku dan pakaianmu juga. Kalau tidak kamu aku laporkan kepada mama-mu.." ancamku dengan nada selembut mungkin. AKu melihat Darno agak pucat mendengar ancamanku.
Langsung saja kubuka bajuku yang takpa bra. Lalu aku minta dia membuka bajunya juga. Kemudian aku membuka rok miniku dan aku minta juga dia membuka celananya. Kami tingal kolor. Aku membuka lagi celana dalamku lalu kuminta dia membuka celana dalamnya juga. Setengah paksa aku ikut membukanya, sampai kai berdua bugil. Dengan cepat kuisap penisnya. Begitu cepat tegang dankeras. Tak kusia-siakan kesempatan itu. Langsung Darno mengejang dan menjambak rambutku. Ah...ah... dia mendesah. Semakin kuat dia menjambak rambutku dan tak lama dia melepaskan spermanya di dalam mulutku. Beberapa kali. Aku menelan sperma yang lemak itu. Aku tersenyum padanya, sementara dia seperti merasa berdosa telah melepaskan spermanya dalam mulutku. Aku menenangkan dirinya, bahwa itu biasa dan memintanya untuk tidak menceritakan itu kepada siapa pun. Kalau dia cerita, pasti teman-temannya akan bercerita kepada ibu mama dan papanya. Darno mengangguk. Kuminta dia berpakaian, setelah itu melompat dari jendela. Dia melakukannya dan aku tersenyum.

Besoknya minggu. Aku sudah siap mandi dan memakai daster tanpa apa-apa. Kulihat Darno dan kulambai dia untuk datang.
"Mama kamu ke mana, kok rumahmu sepi," tanyaku. Katanya mama dan papanya pergi ke rumah neneknya bersama dua orang adiknya. Aku minta dia masuk ke rumah, lalu rumah segera kukunci. Kutarik dia ke kamarku dan Darno tersenyum. Aku bahagia melihat senyumnya. Itu pertanta apa yang dia alami kemarin, masih dia butuhkan. Darno sudah semakin berani.
"Seperti kemarin?" tanyanya. Aku mengangguk. Aku berjanji akan memberikanya yang jauh lebih enak lagi. Setelah telanjang bulat, aku mengajarinya bagaimana menetek yang nikmat. Bagaimana menjulurkan lidah dan saling mengisap. Bagaimana menjilati vagina. Pelajaran demi pelajaran aku berikan dengan penuh kehati-hatian dan penuh sabar.

Aku tidur di atas tilam. Aku kangkangkan kedua pahaku. Aku minta dia menjilatiku. Tentu saja vaginaku harum bau sabun mandi merk lux. MUlanya dia belum bisa menjilati vaginaku seperti apa yang kuharapkan. Aku harus membimbingnya dengan baik dan perlahan, walaupun aku sudah sangat horney. Akhirnya, dia temukan klitorisku. Aku minta dia mempermainkan lidahnya di sana. Permainan lidanya belum sempurna. Sampai satu saat, dia menemukan permainan itu dan aku minta dia mempertahankan jilatannya. Oh...nimmat sekali. Setelah aku orgasme, aku minta dia naik ke atas tubuhku dan memasukkan penisnya ke dala vaginaku. Aku hampir saja meledak tertawa, ketika beberapa kali tusukannya tidak mengena. AKu terpaksa menuntunnya, agar penisnya tepat di lubang vaginaku. Begitu penisnya masuk di vaginaku yang sudah licin. Darno berteriak kecil. Enaaakkk...mbaaakkk," katanya. Aku minta dia terus menggoyang dan menggoyang, agar dia tau nikmat yang sebenarnya.
Aku memang sangat senang kepada laki-laki muda yang beljum berpengalaman. Mengajarinya adalah sebuah kenikmatan tersendiri buatku. Banyak teman-temanku juga mengatakan demikian.

Darno menggenjotku semakin kencang dan kencang. Kuajari dia menggenjot, sembari menjilati tetekku dan menggigit-gigit kecil di puting tetekku. Aku memeluknya dan mengelus-elus tengkuknya. Kujepit pinggulnya denga kedua kakiku dan aku meresponsnya dengan goyangan dari bawah. Darno kembali mengerang kenikmatan. Aku semakin semangat menggoyangnya dari bawah. Sampai akhirnya Darno terkulai lemas. Aku puas sekali mampu mengajari Darno mengenal dan bermain seks. Dia adalah anak ketiga yang aku ajari setelah aku dari semester pertama sampai semester lima sekarang.

Aku tidak susah lagi memanggilnya. Justru sebaliknya, ketkika Darno sangat menginginkan seks dariku, dia sudah berani mengirimkan SMS untukku. Kalau keadaan aku lihat aman, aku membalas SMS-nya. Lalu dia datang. Terkadang dari pintu depan dan lebih sering lompat dari jendela samping rumah.

Akhirnya, Darno juga menyukai permainan yang sangat aku inginkan. Penisnya yang biasa saja ukuran besar dan panjangnya itu, aku lumuri vaseline. Tentu saja setelah beberapa jam sebelumnya aku buang air besar di WC. Aku menungging dan aku tuntun penisnya menyeruak luabng anusku. Darno ternyata menyenangi permainan anusku. Selain lebih ketat dan sempit, pengaruh vaseline itu membuatnya licin dan mendapat kenikmatan tersendiri. Aku juga menikmatinya dengan baik. Permaianan yang sangat diinginkan oleh Darno ketika aku mengisap penisnya dan menjilatinya, serta permainan melalui anus/dubur.

Kini Darno sudah ketagihan untuk bermain seks denganku. Terkadang aku kasihan kepadanya yang setiap hari minta untuk ML. Aku harus mampu memberinya pengertian, agar kami main dua kali seminggu atau paling banyak 3 kali seminggu. Tapi terkadang, aku terpaksa juga memberinya, ketkka dai ngotiot minta ML, terpaksa aku membernya, agar dia puas. Maklum anak remaja yang sedang menggebu-gebu.

Sekarang aku sedang menjaga jarak dengannya, karean seorang anak lagi (anak tetangga yang baru pindah) berusia 14 tahun, ganteng, bersih dan bertubuh atletis sedang aku incer. Aku harus mendapatkannya. Biasanya anak remaja seperti ingin dipuja-puji dan diberikan kemanjaan. Laki-laki mana sih yang tak ingin dimanja. Preman sekali pun aka takluk, jika perempuan mampu memanjakannya.

Kemanjaan adalah milik laki-laki kalau sudah berduaan dan bermesraan terlebih di atas tempat tidur. Kebututuhan itulah, membuat banyak laki-laki bertengkat dengan isterinya, karean sudah tidak mendapat kemanjaan lagi. Demikian juga mereka selalu bertengkar dengan pacarnya, karean pacarnya jsutru ingin mendapatkan kemanjaan.

Tuesday, June 1, 2010

Pramugari Malang

Cerita diambil dari Situs/Blog yang Keren!!!
Cerita hanya khayalan semata!!!!



Malam telah larut dimana jarum jam menunjukkan pukul 23.15. Suasana sepi menyelimuti sebuah kost-kostan yang terletak beberapa kilometer dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.. Kost-kostan tersebut lokasinya agak jauh dari keramaian sehingga menjadi tempat favorit bagi siapa saja yang menginginkan suasana tenang dan sepi. Kost-kostan yang memiliki jumlah kamar mencapai 30 kamar itu terasa sepi karena memang baru saja dibuka untuk disewakan,hanya beberapa kamar saja yang sudah ditempati, sehingga suasananya dikala siang atau malam cukup lengang. Saat itu hujan turun lumayan deras, akan tetapi nampak sesuatu telah terjadi disalah satu kamar dikost-kostan itu.

Seiring dengan turunnya air hujan, air mata Dinda juga mulai turun berlinang disaat lelaki itu mulai menyentuh tubuhnya yang sudah tidak berdaya itu. Saat ini tubuhnya sudah dalam kekuasaan para lelaki itu, rasa keputus asaan dan takut datang menyelimuti dirinya. Beberapa menit yang lalu secara tiba- tiba dirinya diseregap oleh seseorang lelaki disaat dia masuk kedalam kamar kostnya setibanya dari sebuah tugas penerbangan. Kedua tangannya langsung diikat kebelakang dengan seutas tali, mulutnya disumpal dengan kain dan setelah itu tubuhnya dicampakkan oleh lelaki itu keatas tempat tidurnya. Ingin rasanya dia berteriak meminta pertolongan kepada teman-temannya akan tetapi kendaraan antar jemput yang tadi mengantarkannya sepertinya sudah jauh pergi meninggalkan kost-kostan ini, padahal didalam
kendaraan tersebut banyak teman-temannya sesama karyawan.

Dinda Fitria Septiani adalah seorang Pramugari pada sebuah penerbangan swasta, usianya baru menginjak 19 tahun, wajahnya cantik imut-imut, postur tubuhnya tinggi dan langsing proporsional. Dengan dianugerahi penampilan yang cantik ini sangat memudahkan baginya untuk diterima bekerja sebagai seorang pramugari. Demikian pula dengan karirnya dalam waktu yang singkat karena kecantikannya itulah dia telah menjadi sosok primadona di perusahaan penerbangan itu. Banyak lelaki yang berusaha merebut hatinya, baik itu sesama karyawan ditempatnya bekerja atau kawan-kawan lainya. Namun karena alasan masih ingin berkarir maka dengan secara halus maksud-maksud dari para lelaki itu ditolaknya.

Akan tetapi tidak semua lelaki memahami atas sikap dari Dinda itu. Paul adalah salah satu dari orang yang tidak bisa menerima sikap Dinda terhadap dirinya. Kini dirinya bersama dengan seorang temannya telah melakukan seuatu perhitungan terhadap Dinda. Rencana busuk dilakukannya terhadap Dinda. Malam ini mereka telah menyergap Dinda dikamar kostnya. Paul adalah satu dari sekian banyaknya lelaki yang menaruh hati kepada dirinya, akan tetapi Paul bukanlah seseorang yang dikenalnya dengan baik karena kedudukannya bukanlah seorang karyawan penerbangan ditempatnya bekerja atau kawan-kawannya yang lain, melainkan dia adalah seorang tukang batu yang bekerja dibelakang kost-kostan ini. Ironisnya, Paul yang berusia setengah abad lebih dan melebihi usia ayah Dinda itu lebih sering menghalalkan segala cara dalam mendapatkan sesuatu, maklumlah dia bukan seseorang yang terdidik. Segala tingkah laku dan perbuatannyapun cenderung kasar, karena memang dia hidup dilingkungan orang-orang yang bertabiat kasar.

"Huh rasakan kau gadis sombong !", bentaknya kepada Dinda yang tengah tergolek dikasurnya.
"Aku dapatkan kau sekarang....!", lanjutnya. Sejak perjumpaannya pertama dengan Dinda beberapa bulan yang lalu, Paul langsung jatuh hati kepada Dinda. Dimata Paul, Dinda bagaikan bidadari yang turun dari khayangan sehingga selalu hadir didalam lamunnanya. Diapun berniat untuk menjadikannya sebagai istri yang ke-4. Bak bukit merindukan bulan, Paul tidak berdaya untuk mewujudkan impiannya itu. Predikatnya sebagai tukang batu, duda dari 3 kali perkawinan, berusia 51 tahun, lusuh dan miskin menghanyutkan impiannya untuk dapat mendekati sang bidadari itu.
Terlebih-lebih ada beberapa kali kejadian yang sangat menyakitkan hatinya terkait dengan Dinda
sang bidadari bayangannya itu. Sering tegur sapanya diacuhkan oleh Dinda,tatapan mata Dindapun selalu sinis terhadap dirinya. Lama kelamaan didalam diri Paul tumbuh subur rasa benci terhadap Dinda, penilaian terhadapnyapun berubah, rasa kagumnya telah berubah menjadi benci namun gairah nafsu sex terhadap Dinda tetap bersemi didalam dirinya tumbuh subur menghantui dirinya selama ini. Akhirnya dipilihlah sebuah jalan pintas untuk melampiaskan nafsunya itu, kalaupun cintanya tidak dapat setidaknya dia dapat menikmati tubuh Dinda pikirnya. Jadilah malam ini Paul melakukan aksi nekat, diapun membulatkan hatinya untuk memberi pelajaran kepada Dinda sekaligus melampiaskan nafsunya yang selama ini mulai tumbuh secara subur didalam dirinya.

Kini sang bidadari itu telah tergeletak dihadapannya, air matanyapun telah membasahi wajahnya yang putih bersih itu. "Lihat aku, cewek *******.....!", hardiknya seraya memegang kepala Dinda dan menghadapkan kewajahnya. "Hmmmphh....!!", jeritnya yang tertahan oleh kain yang menyumpal dimulutnya, mata Dinda pun melotot ketika menyadari bahwa saat ini dia telah berhadapan dengan Paul seseorang yang dibencinya. Hatinyapun langsung ciut dan tergetar tatkala Paul yang berada dihadapannya tertawa penuh dengan kemenangan, "Hahaha....malam ini kamu jadi pemuasku, gadis cantik". Keringatpun langsung mengucur deras membasahi tubuh Dinda, wajahnya nampak tersirat rasa takut yang dalam, dia menyadari betul akan apa-apa yang bakal terjadi terhadap dirinya. Disaat seperti inilah dia menyadari betul akan ketidak berdayaan dirinya, rasa sesal mulai hadir didalam hatinya, akan sikap- sikapnya yang tidak berhati-hati terhadap Paul.

Kini dihadapan Dinda, Paul mulai melepaskan baju kumalnya satu persatu hingga akhirnya telanjang bulat. Walaupun telah berusia setengah abad lebih, namun karena pekerjaannya sebagai buruh kasar maka Paul memiliki tubuh yang atletis, badannya hitam legam dan kekar, beberapa buah tatto menghiasi dadanya yang bidang itu. Isak tangis mulai keluar dari mulut Dinda, disaat paul mulai mendekat ketubuhnya. Tangan kanannya memegang batang kemaluannya yang telah tegak berdiri itu dan diarahkannya kewajah Dinda. Melihat ini Dinda berusaha memalingkan wajahnya, namun tangan kiri Paul secepat kilat mencengkram erat kepala Dinda dan mengalihkannya lagi persis menghadap ke batang kemaluannya.. Dan setelah itu dioles-oleskannya batang kemaluannya itu diwajah Dinda, dengan tubuh yang bergetar Dinda hanya bisa memejamkan matanya dengan erat karena merasa ngeri dan jijik diperlakukan seperti itu. Sementara kepala tidak bisa bergerak-gerak karena dicengkraman erat oleh tangan Paul. "Ahhh....perkenalkan rudal gue ini sayang.....akhhh...." ujarnya sambil terus mengoles-oleskan batang kemaluannya diwajah Dinda, memutar-mutar dibagian pipi, dibagian mata, dahi dan hidungnya. Melalui batang kemaluannya itu Paul tengah menikmati kehalusan wajah Dinda. "Hai cantik !....sekarang sudah kenal kan dengan ****** gue ini, seberapa mahal sih wajah cantik elo itu hah ? sekarang kena deh ama ****** gue ini....", sambungnya.



Setelah puas dengan itu, kini Paul mendorong tubuh Dinda hingga kembali terjatuh kekasurnya.
Sejenak dikaguminya tubuh Dinda yang tergolek tak berdaya ditempat tidurnya itu. Baju seragam
pramugarinya masih melekat rapi dibadannya. Baju dalaman putih dengan dasi kupu-kupu berwarna biru ditutup oleh blazer yang berwarna kuning tua serta rok pendeknya yang berwarna biru seolah semakin membangkitkan birahi Paul, apalagi roknya agak tersingkap hingga pahanya yang putih mulus itu terlihat. Rambutnya yang panjang sebahu masih digelung sementara itu topi pramugarinya telah tergeletak jatuh disaat penyergapan lagi. "Hmmpphhh...mmhhh...", sepertinya Dinda ingin mengucapkan sesuatu kepadanya, tapi apa perdulinya paling-paling cuma
permintaan ampun dan belas kasihan. Tanpa membuang waktu lagi kini diputarnya tubuh Dinda menjadi tengkurap, kedua tangannya yang terikat kebelakang menempel dipunggung sementara dada dan wajahnya menyentuh kasur. Kedua tangan kasar Paul itu kini mengusap-usap bagian pantat Dinda, dirasakan olehnya pantat Dinda yang sekal. Sesekali tangannya menyabet bagian itu bagai seorang ibu yang tengah menyabet pantat anaknya yang nakal "Plak...Plak...". "Wah sekal sekali pantatmu...", ujar Paul sambil terus mengusap-usap dan memijit- mijit pantat Dinda.
Dinda hanya diam pasrah, sementara tangisannya terus terdengar. Tangisnya terdengar semakin
keras ketika tangan kanan Paul secara perlahan-lahan mengusap kaki Dinda mulai dari betis naik terus kebagian paha dan akhirnya menyusup masuk kedalam roknya hingga menyentuh kebagian selangkangannya.

Sesampainya dibagian itu, salah satu jari tangan kanan Paul, yaitu jari tengahnya menyusup masuk kecelana dalamnya dan langsung menyentuh kemaluannya. Kontan saja hal ini membuat badan Dinda agak menggeliat, dia mulai sedikit meronta-ronta, namun jari tengah Paul tadi langsung menusuk lobang kemaluan Dinda. "Egghhmmmmm.......", Dinda menjerit badannya mengejang tatkala jari telunjuk Paul masuk kedalam liang kewanitaannya itu. Badan Dindapun langsung menggeliat- geliat seperti cacing kepanasan, ketika Paul memainkan jarinya itu didalam lobang kemaluan Dinda. Dengan tersenyum terus dikorek- koreknyalah lobang kemaluan Dinda, sementara itu badan Dinda menggeliat-geliat jadinya, matanya merem-melek, mulutnya mengeluarkan rintihan- rintihan yang teredam oleh kain yang menyumpal mulutnya itu "Ehhmmmppphhh....mmpphhhh.....". Setelah beberapa menit lamanya, kemaluan Dindapun menjadi basah oleh cairan kewanitaannya, Paul kemudian mencabut jarinya.

Tubuh Dindapun dibalik sehingga posisinya terlentang. Setelah itu roknya disingkapkan keatas hingga rok itu melingkar dipinggulnya dan celana dalamnya yang berwarna putih itu ditariknya hingga bagian bawah Dinda kini telanjang. Terlihat oleh Paul, kemaluan Dinda yang indah, sedikit bulu-bulu tipis yang tumbuh mengitari lobang kemaluannya yang telah membengkak itu.
Dengan bernafsunya direntangkan kedua kaki Dinda hingga mengangkang setelah itu ditekuknya hingga kedua pahanya menyentuh ke bagian dada. Wajah Dinda semakin tegang, tubuhnya gentar, seragam pramugarinyapun telah basah oleh keringat yang deras membanjiri tubuhnya, Paul bersiap-siap melakukan penetrasi ketubuh Dinda. "Hmmmmpphhh..........hhhhhmmmmppp.... ..", Dinda menjerit dengan tubuhnya yang mengejang ketika Paul mulai menanamkan batang kemaluannya didalam lobang kemaluan Dinda. Matanya terbelalak menahan rasa sakit dikemaluannya, tubuhnya menggeliat-geliat sementara Paul terus berusaha menancapkan seluruh batang kemaluannya. Memang agak sulit selain Dinda masih perawan, usianyapun masih tergolong muda sehingga kemaluannya masih sangat sempit. Akhirnya dengan sekuat tenaganya, Paul berhasil menanamkan seluruh batang kemaluannya didalam vagina Dinda. Tubuh Dinda berguncang-guncang disaat itu karena dia menangis merasakan sakit dan pedih tak terkirakan dikemaluannya itu. Diapun menyadari bahwa malam itu keperawanannya akhirnya terenggut oleh Paul. "Ahh....kena kau sekarang !!! akhirnya Gue berhasil mendapatkan perawan elo !", bisiknya ketelinga Dinda.

Hujanpun semakin deras, suara guntur membahana memekakkan telinga. Karena ingin mendengar suara rintihan gadis yang telah ditaklukkannya itu, dibukannya kain yang sejak tadi menyumpal mulut Dinda. "Oouuhhh.....baang....saakiitt...banngg....amp uunn ...", rintih Dinda dengan suara yang megap- megap. Jelas Paul tidak perduli. Dia malahan langsung menggenjot tubuhnya memopakan batang kemaluannya keluar masuk lobang kemaluan Dinda. "Aakkhh....ooohhhh....oouuhhhh....ooohhhggh... .", Dinda merintih-rintih, disaat tubuhnya digenjot oleh Paul, badannyapun semakin menggeliat-geliat. Tidak disadarinya justru badannya yang menggeliat-geliat itu malah memancing nafsu Paul, karena dengan begitu otot-otot dinding vaginanya malah semakin ikut mengurut-urut batang kemaluan Paul yang tertanam didalamnya, karenanya Paul merasa semakin nikmat. Menit-menitpun berlalu dengan cepat, masih dengan sekuat tenaga Paul terus menggenjot tubuh Dinda, Dindapun nampak semakin kepayahan karena sekian lamanya Paul menggenjot tubuhnya. Rasa pedih dan sakitnya seolah telah hilang, erangan dan rintihanpun kini melemah, matanya mulai setengah tertutup dan hanya bagian putihnya saja yang terlihat, sementara itu bibirnya menganga mengeluarkan alunan-alunan rintihan lemah, "Ahhh.....ahhhh...oouuhhhh...". Dan akhirnya Paulpun berejakulasi di lobang kemaluan Dinda, kemaluannya menyemburkan cairan kental yang luar biasa banyaknya memenuhi rahim Dinda. "A..aakkhhh.....", sambil mengejan Paul melolong panjang bak srigala, tubuhnya mengeras dengan kepala menengadah keatas. Puas sudah dia menyetubuhi Dinda, rasa puasnya berlipat-lipat baik itu puas karena telah mencapai klimaks dalam seksnya, puas dalam menaklukan Dinda, puas dalam merobek keperawanan Dinda dan puas dalam memberi pelajaran kepada gadis cantik itu. Dinda menyambutnya dengan mata yang secara tiba-tiba terbelalak, dia sadar bahwa pasangannya telah berejakulasi karena disakannya ada cairan-cairan hangat yang menyembur membanjiri vaginanya. Cairan kental hangat yang bercampur darah itu
memenuhi lobang kemaluan Dinda sampai sampai meluber keluar membasahi paha dan sprei kasur. Dinda yang menyadari itu semua, mulai menangis namun kini tubuhnya sudah lemah sekali.

Dengan mendesah puas Paul merebahkan tubuhnya diatas tubuh Dinda, kini kedua tubuh itu jatuh lunglai bagai tak bertulang. Tubuh Paul nampak terguncang-guncang sebagai akibat dari isak tangis dari Dinda yang tubuhnya tertindih tubuh Paul. Setelah beberapa menit membiarkan batang kemaluannya tertanam dilobang kemaluan Dinda, kini Paul mencabutnya seraya bangkit dari tubuh Dinda. Badannya berlutut mengangkangi tubuh lunglai Dinda yang terlentang, kemaluannya yang nampak sudah melemas itu kembali sedikit- demi sedikit menegang disaat merapat kewajah Dinda. Dikala sudah benar-benar menegang, tangan kanan Paul sekonyong-konyong meraih kepala Dinda. Dinda yang masih meringis-ringis dan menangis tersedu-sedu itu, terkejut dengan tindakan Paul. Terlebih-lebih melihat batang kemaluan Paul yang telah menegang itu berkedudukan persis dihadapan wajahnya. Belum lagi sempat menjerit, Paul sudah mencekoki mulutnya dengan batang kemaluannya. Walau Dinda berusaha berontak namun akhirnya Paul berhasil menanamkan penisnya itu kemulut Dinda. Nampak Dinda seperti akan muntah, karena mulutnya merasakan batang kemaluan Paul yang masih basah oleh cairan sperma itu. Setelah itu Paul kembali memopakan batang kemaluannya didalam rongga mulut Dinda, wajah Dinda memerah jadinya, matanya melotot, sesekali dia terbatuk-batuk dan akan muntah. Namun Paul dengan santainya terus memompakan keluar masuk didalam mulut Dinda, sesekali juga dengan gerakan memutar-mutar. "Aahhhh....", sambil memejamkan mata Paul merasakan kembali kenikmatan di batang kemaluannya itu mengalir kesekujur tubuhnya. Rasa dingin, basah dan geli dirasakannya dibatang kemaluannya. Dan akhirnya, "Oouuuuhhhh...Dinndaaaa...sayanggg... ..", Paul mendesah panjang ketika kembali batang kemaluannya berejakulasi yang kini dimulut Dinda. Dengan terbatuk-batuk Dinda menerimanya, walau sperma yang dimuntahkan oleh Paul jumlahnya tidak banyak namun cukup memenuhi rongga mulut Dinda hingga meluber membasahi pipinya. Setelah memuntahkan spermanya Paul mencabut batang kemaluannya dari mulut Dinda, dan Dindapun langsung muntah-muntah dan batuk-batuk dia nampak berusaha untuk mengeluarkan cairan-cairan itu namun sebagian besar sperma Paul tadi telah mengalir masuk ketenggorokannya.

Saat ini wajah Dinda sudah acak- acakan akan tetapi kecantikannya masih terlihat, karena memang kecantikan dirinya adalah kecantikan yang alami sehingga dalam kondisi apapun selalu cantik adanya. Dengan wajah puas sambil menyadarkan tubuhnya didinding kasur, Paulpun menyeringai melihat Dinda yang masih terbatuk-batuk. Paul memutuskan untuk beristirahat sejenak, mengumpulkan kembali tenaganya. Sementara itu tubuh Dinda meringkuk dikasur sambil terisak-isak. Waktupun berlalu, jam didinding kamar Dinda telah menunjukkan pukul 1 dinihari. Sambil santai Paulpun menyempatkan diri mengorek-ngorek isi laci lemari Dinda yang terletak disamping tempat tidur. Dilihatnya album foto- foto pribadi milik Dinda, nampak wajah-wajah cantik Dinda menghiasi isi album itu, Dinda yang anggun dalam pakaian seragam pramugarinya, nampak cantik juga dengan baju muslimnya lengkap dengan ****** ketika foto bersama keluarganya saat lebaran kemarin dikota asalnya yaitu Bandung. Kini gadis cantik itu tergolek lemah dihadapannya, setengah badannya telanjang, kemaluannya nampak membengkak. Selain itu, ditemukan pula beberapa lembar uang yang berjumlah 2 jutaan lebih serta perhiasan emas didalam laci itu, dengan tersenyum Paul memasukkan itu semua kedalam kantung celana lusuhnya, "Sambil menyelam minum air", batinnya.

Setelah setengah jam lamanya Paul bersitirahat,kini dia bangkit mendekati tubuh Dinda. Diambilnya sebuah gunting besar yang dia temukan tadi didalam laci. Dan setelah itu dengan gunting itu, dia melucuti baju seragam pramugari Dinda satu persatu. Singkatnya kini tubuh Dinda telah telanjang bulat, rambutnyapun yang hitam lurus dan panjang sebahu yang tadi digelung rapi kini digerai oleh Paul sehingga menambah keindahan menghiasi punggung Dinda. Sejenak Paul mengagumi keindahan tubuh Dinda, kulitnya putih bersih, pinggangnya ramping, payudaranya yang tidak terlalu besar, kemaluannya yang walau nampak bengkak namun masih terlihat indah menghias selangkangan Dinda. Tubuh Dinda nampak penuh dengan kepasrahan, badannya kembali tergetar menantikan akan apa-apa yang akan terjadi terhadap dirinya.

Sementara itu hujan diluar masih turun dengan derasnya, udara dingin mulai masuk kedalam kamar yang tidak terlalu besar itu. Udara dingin itulah yang kembali membangkitkan nafsu birahi Paul. Setelah hampir sejam lamanya memberi istirahat kepada batang kemaluannya kini batang kemaluannya kembali menegang. Dihampirinya tubuh telanjang Dinda, "Yaa...ampuunnn bangg...udah dong....Dinda minta ampunn bangg...oohhh....", Dinda nampak memelas memohon-mohon kepada Paul. Paul hanya tersenyum saja mendengar itu semua, dia mulai meraih badan Dinda. Kini dibaliknya tubuh telanjang Dinda itu hingga dalam posisi tengkurap. Setelah itu ditariknya tubuh itu hingga ditepi tempat tidur, sehingga kedua lutut Dinda menyentuh lantai sementara dadanya masih menempel kasur dipinggiran tempat tidur, Paulpun berada dibelakang Dinda dengan posisi menghadap punggung Dinda. Setelah itu kembali direntangkannya kedua kaki Dinda selebar bahu, dan.... "Aaaaaaaaakkkkhh.........", Dinda melolong panjang, badannya mengejang dan terangkat dari tempat tidur disaat Paul menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Dinda.

Rasa sakit tiada tara kembali dirasakan didaerah selangkangannya, dengan agak susah payah kembali Paul berhasil menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Dinda. Setelah itu tubuh Dindapun kembali disodok-sodok, kedua tangan Paul meraih payudara Dinda serta meremas-remasnya. Setengah jam lamnya Paul menyodomi Dinda, waktu yang lama bagi Dinda yang semakin tersiksa itu. "Eegghhh....aakkhhh....oohhh...", dengan mata merem-melek serta tubuh tersodok- sodok Dinda merintih-rintih, sementara itu kedua payudaranya diremas-remas oleh kedua tangan Paul. Paul kembali merasakan akan mendapatkan klimaks, dengan gerakan secepat kilat dicabutnya batang kemaluan itu dari lobang anus Dinda dan dibaliklah tubuh Dinda itu hingga kini posisinya terlentang. Secepat kilatpula dia yang kini berada diatas tubuh Dinda menghujamkan batang kemaluannya kembali didalam vagina Dinda. "Oouuffffhhh......", Dinda merintih dikala paul menanamkan batang kemaluannya itu. Tidak lama setelah Paul memompakan kemaluannya didalam liang vagina Dinda "CCREETT....CCRROOOT...CROOTT...", kembali penis Paul memuntahkan sperma membasahi rongga vagina Dinda, dan Dindapun terjatuh tak sadarkan diri.

Fajar telah menjelang, Paul nampak meninggalkan kamar kost Dinda dengan tersenyum penuh dengan kemenangan, sebatang rokok menemaninya dalam perjalanannya kesebuah stasiun bus antar kota, sementara itu sakunya penuh dengan lembaran uang dan perhiasan emas. Entah apa yang akan terjadi dengan Dinda sang pramugari cantik imut-imut itu, apakah dia masih menjual mahal dirinya. Entahlah, yang jelas setelah dia berhasil menikmati gadis cantik itu, hal itu bukan urusannya lagi.

End
Sungguh Puaskah Istri Anda ?