Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih
Showing posts with label Sedarah. Show all posts
Showing posts with label Sedarah. Show all posts

Sunday, December 30, 2012

Sayang Anak

Berikut akan saya ceritakan sebuah pengalaman nyata tentang romantika sex dari salah seorang sahabat karib saya, Marlina. Semua nama-nama yang saya tulis adalah nama-nama yang sebenarnya, tentu saja dengan seijin yang bersangkutan. Juga, sengaja saya berikan bumbu-bumbu romantis pada cerita nyata ini agar enak dibaca, tanpa mengubah cerita aslinya.

Marlina, 35 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak. Penampilan Marlina sangat menarik. Sebagai wanita yang tinggal di kota besar, Bandung, cara berpakaiannya selalu sexy. Tidak sexy murahan tapi berkelas dan menarik. Dengan tubuh tinggi semampai, dada 36, dan kulit yang putih, walau sudah menikah dan punya anak yang sudah cukup dewasa, tapi masih banyak lelaki yang selalu menggodanya.

Anaknya yang paling besar, Jimmy, 16 tahun, seorang anak yang yang baik dan penurut pada orang tuanya. Anak kedua, Yenny, 14 tahun, seorang anak yang sudah mulai beranjak dewasa. Sedangkan suami Marlina, Herman, adalah seorang suami yang cukup baik dan perhatian pada keluarga. Bekerja sebagai seorang PNS di suatu instansi pemerintah.

Kehidupan sexual Marlina sebetulnya tidak ada masalah sama sekali dengan suaminya. Walau banyak lelaki yang menggoda, tak sedikitpun ada niat dia untuk mengkhianati Herman.

Tapi ada sesuatu yang berubah dalam diri Marlina ketika suatu hari dia secara tidak sengaja melihat anak lelakinya, Jimmy, sedang berpakaian setelah mandi. Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, Marlina dengan jelas melihat Jimmy telanjang. Matanya tertuju pada kontol Jimmy yang dihiasi dengan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat.

Sejak saat itu Marlina pikirannya selalu teringat pada tubuh telanjang anak lelakinya itu. Bahkan seringkali Marlina memperhatikan Jimmy bila sedang makan, sedang duduk, atau sedang apapun bila ada kesempatan.

"Ada apa si Mam, kok liatin Jimmy terus?" tanya Jimmy ketika Marlina memperhatikannya di ruang tamu.
"Tidak ada apa-apa, Jim.. Hanya saja Mama jadi senang karena melihat kamu makin besar dan dewasa," ujar Marlina sambil tersenyum.
"Kamu sudah punya pacar, Jim?" tanya Marlina.
"Pacar resmi sih belum ada, tapi kalau sekedar teman jalan sih ada beberapa. Memangnya kenapa, Mam?" tanya Jimmy.
"Ah, tidak. Mama hanya pengen tahu saja," ujar Marlina.
"Kamu pernah kissing?" tanya Marlina.
"Ah, Mama.. Pertanyaannya bikin malu Jimmy ah..." ujar Jimmy sambil tersenyum.
"Yee.. Tidak apa-apa kok, Jim.. Jujur saja pada Mama. Mama juga pernah muda kok. Mama mengerti akan maunya anak muda kok..." ujar Marlina sambil menjewer pelan telinga Jimmy. Jimmy tertawa.
"Ya, Jimmy pernah ciuman dengan mereka," ujar jimmy.
"ML?" tanya Marlina lagi.
"ML apa sih artinya, Mam?" tanya Jimmy tidak mengerti.
"Making LOve.. Bersetubuh..." ujar Marlina sambil mempraktekkan ibu jarinya diselipkan diantara telunjuk dan jari tengah.
"Wah kalau itu JImmy belum pernah, Mam.. Tidak berani. Takut hamil..." ujar Jimmy. Marlina tersenyum mendengarnya.
"Kenapa Mama tersenyum?" tanya Jimmy.
"Karena kamu masih sangat polos, sayang..." kata Marlina sambil mencubit pipi Jimmy, lalu bangkit untuk menyiapkan segala sesuatunya karena Herman akan segera pulang.

Malam harinya, Marlina, Jimmy, dan Yenny asyik menonton TV, sedangkan Herman sedang mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.

"Ciuman rasanya gimana sih?" tanya Yenny ketika menyaksikan adegan ciuman di televisi.
"Ah, kamu.. Masih kecil! Tidak perlu tahu," ujar Jimmy sambil mengucek-ngucek rambut Yenny.
"Tidak boleh begitu, Jim.. Adikmu harus tahu tentang apapun yang dia tidak mengerti. Biar tidak salah langkah nantinya..." ujar Marlina sambil menatap Jimmy.
"Begini, Yen..." ujar Marlina.
"Ciuman itu tidak ada rasa apa-apa.. Tidak manis, pahit atau asin. Hanya saja, kalau kamu sudah besar nanti dan sudah merasakannya, yang terasa hanya perasaan nyaman dan makin sayang kepada pacar atau suami kamu..." ujar Marlina lagi.
"Ah, nggak ngerti..." ujar yenny.
"Mendingan Yenny tidur saja, ah.. Sudah ngantuk..." ujar Yenny.
"Ya sudah, tidurlah sayang," ujar Marlina. Yenny kemudian bangkit dan segera menuju kamar tidurnya.

Ketika menyaksikan adegan ranjang di televisi, Marlina bertanya kepada Jimmy, "Apakah kamu sudah itu dengan pacarmu?".
"Jimmy belum punya pacar, Mam.. Mereka hanya sekedar teman saja," jawab Jimmy.
"Tapi kok kamu bisa ciuman dengan mereka?" tanya Marlina lagi sambil tersenyum.
"Ya namanya juga saling suka..." jawab Jimmy sambil tersenyum juga.
"Sudah sejauh mana kamu melakukan sesuatu dengan mereka?" tanya Marlina.
"Tidak apa-apa kok, Jim.. Bicara terbuka saja dengan Mama," ujarnya Marlina lagi. Jimmy menatap mata ibunya sambil tersenyum.
"Ya begitulah..." kata Jimmy.
"Ya begitulah apa?" tanya Marlina lagi.
"Ya begiutlah.. Ciuman, saling pegang, saling raba..." ujar Jimmy malu malu. Marlina tersenyum.
"Hanya itu?" tanya Marlina lagi.

Jimmy melirik ke arah ayahnya yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.

"Mama jangan bilang ke Papa ya?" ujar Jimmy.

Marlina tersenyum sambil mengangguk. Jimmy lalu beringsut mendekati Marlina.

"Jimmy pernah oral dengan beberapa teman wanita..." ujarnya sambil berbisik.

Marlina tersenyum sambil mencubit pipi Jimmy.

"Nakal juga ya kamu!" ujar Marlina sambil tersenyum.
"Rasanya bagaimana?" tanya Marlina sambil berbisik.
"Sangat enak, Mam..." ujar Jimmy.
"Tapi Jimmy dengar, katanya kalau punya Jimmy dimasukkan ke punya wanita rasanya lebih enak.. Benar tidak, Mam?" tanya Jimmy.

Marlina kembali tersenyum tapi tidak menjawab..

"Kamu mau tahu rasanya, Jim?" tanya Marlina sambil tetap tersenyum. Jimmy mengangguk.
"Sini ikut Mama..." ajak Marlina sambil bangkit lalu pergi ke ruang belakang. Jimmy mengikuti dari belakang.

Sesampai di ruang belakang, Marlina menarik tangan Jimmy agar mendekat.

"Ada apa sih, Mam?" tanya Jimmy.
"Karena kamu sudah dewasa, Mama anggap kamu sudah seharusnya tahu tentang hal tersebut," ujar Marlina dengan nafas agak memburu menahan gejolak yang selama ini terpendam terhadap anaknya tersebut.
"Ciumlah Mama sayang..." kata Marlina sambil mengecup bibir Jimmy.

Jimmy diam karena tidak tahu harus berbuat apa. Marlina terus melumat bibir anaknya itu sambil tanggannya masuk ke dalam celana Hawaii Jimmy. Lalu dengan lembut diremas dan dikocoknya kontol anaknya. Karena tidak tahan merasakan rasa enak, Jimmy dengan segera membalas ciuman Marlina dengan hangat.

Sambil terus mengocok dan meremas kontol Jimmy, Marlina berkata, "Kamu ingin merasakan rasanya bersetubuh kan, sayang?".
"Iya, Mam..." ujar Jimmy dengan nafas memburu.
"Mama juga sama, Jim.. Mama ingin merasakan hal itu dengan kamu," ujar Marlina.
"Kapan, Ma?" tanya Jimmy sambil menggerakkan pinggulnya maju mundur karena enak dikocok kontol oleh Marlina.
"Jangan sekarang ya, sayang..." ujar Marlina sambil melepaskan genggaman tangannya pada kontol Jimmy.
"Yang penting kamu harus tahu bahwa Mama sangat sayang kamu..." kata Marlina sambil mengecup bibir Jimmy.
"Jimmy juga sangat sayang Mama," ujar Jimmy.
"Sekarang Mama harus tidur karena sudah malam. Nanti Papamu curiga..." ujar Marlina sambil meninggalkan Jimmy.

Jimmy menarik nafas panjang menahan suatu rasa yang tak bisa diucapkan.. Tak lama Jimmy masuk ke kamar mandi.. Onani. Besok paginya, Herman sudah siap-siap pergi kerja sekalian mengantar Yenni ke sekolah karena masuk pagi. Sementara Jimmy masuk sekolah siang. Dia masih tidur di kamarnya.

Setelah Herman dan Yenni pergi, dengan segera Marlina mengetuk dan masuk ke kamar Jimmy. Jimmy masih tidur dengan hanya memakai celana Hawaii saja. Marlina tersenyum sambil duduk di sisi ranjang anaknya tersebut. Tangannya mengusap dada Jimmy. Dimainkannya puting susu Jimmy. Jimmy terbangun karena merasakan ada sesuatu yang membuat darahnya berdesir nikmat. Ketika matanya dibuka, terlihat mamanya sedang menatap dirinya sambil tersenyum.

"Bangun dong, sayang.. Sudah siang," ujar Marlina sambil tangannya berpindah masuk ke dalam celana Hawaii Jimmy.

Diusap, dibelai, diremas, lalu dikocoknya kontol Jimmy sampai tegang dan tegak. Jimmy terus menatap mata MArlina sambil merasakan rasa nikmat pada kontolnya.

"Mau sekarang?" tanya Marlina sambil tetap tersenyum.
"Saya mau kencing dulu, Mam..." kata Jimmy sambil bangkit lalu bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai, segera dia kembali ke kamarnya.
"Lama amat sih?" tanya Marlina.
"Jimmy kan sikat gigi dulu, Mam..." ujar Jimmy sambil duduk di pinggir ranjang berdampingan dengan Marlina.
"Kenapa Mama mau melakukan ini dengan Jimmy?" tanya Jimmy. Marlina tersenyum sambil mencium pipi anaknya itu.
"Karena Mama sangat sayang kamu. Juga Mama ingin mendapat kebahagiaan dari orang yang paling Mama sayangi.. Kamu," ujar Marlina sambil kemudian melumat bibir Jimmy.

Jimmy membalasnya dengan hangat pula. Kemudian Marlina bangkit lalu melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Jimmy terus menatap tubuh ibunya dengan kagum dan nafsu.

"Buka celana kamu dong, sayang," ujar Marlina.
"Iya, Mam..." ujar Jimmy sambil bangkit lalu melepas celana Hawaiinya.
"Sini, Jim..." ujar Marlina sambil berjongkok.

Tak lama mulut Marlina sudah mengulum kontol Jimmy. Jilatan dan hisapannya membuat Jimmy bergetar tubuhnya menahan nikmat yang amat sangat.

"Mmhh.. Enakk, Mamm..." desah Jimmy sambil agak menggerakkan pinggulnya maju mundur.

Marlina melepas kulumannya, sambil tersenyum menatap wajah Jimmy yang tengadah merasakan nikmat, tangannya terus mengocok kontol Jimmy.

"Gantian, Jim..." ujar Marlina.
"Iya, Mam..." ujar Jimmy.

Marlina lalu naik ke ranjang anaknya. Lalu segera dibukanya paha lebar-lebar.. Jimmy langsung mendekatkan wajahnya ke memek Marlina. Lalu segera dijilatinya seluruh permukaan memek Marlina. Marlina terpejam menahan nikmat. Apalagi ketika jilatan lidah Jimmy bermain di kelentitnya.. Mata Marlina terpejam, tubuhnya bergetar sambil menggoyangkan pinggulnya.

"Ohh.. Enakk.. Teruss, Jimm..." desah Marlina.

Setelah sekian menit Marlina dijilati memeknya, tiba-tiba tubuhnya bergetar makin keras, ditekannya kepala Jimmy ke memeknya, lalu segera dijepit dengan pahanya.. Tak lama...

"Ohh.. Mhh.. Ohh..." desah Marlina panjang. Marlina orgasme.
"Ohh, enak sekali sayang.. Naik sini!" ujar Marlina.

Jimmy naik ke tubuh Marlina. Dengan segera Marlina melumat bibir Jimmy walau masih belepotan dengan cairan dari memek Marlina sendiri.

"Masukkin sayang..." bisik Marlina sambil menggenggam kontol Jimmy dan diarahkan ke memeknya.

Setelah itu, Jimmy langsung memompa kontolnya di memek Marlina. Mata Jimmy terpejam sambil terus mengeluarmasukkan kontolnya.

"Bagaimana rasanya, Jim?" tanya Marlina sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan Jimmy.
"Nikmat sekali, Mam..." ujar Jimmy.

Marlina tersenyum sambil terus menatap mata anaknya. Tak lama, tiba-tiba tubuh Jimmy mengejang, gerakannya makin cepat..

"Jimmy mau keluar, Mam," bisik Jimmy.
"Mmhh.. Keluarkan sayang, puaskan dirimu..." bisik Marlina sambil memegang pantat Jimmy lalu menekankan ke memeknya keras-keras.

Tak lama.. Crott! Crott! Crott! Air mani Jimmy muncrat banyak di dalam memek Marlina. Jimmy mendesakkan kontolnya dalam-dalam ke memek Marlina..

"Bagaimana rasanya sayang?" tanya Marlina.
"Sangat nikmat, Mam.. Lebih nikmat daripada oral..." ujar Jimmy sambil mengecup bibir Marlina.
"Jimmy sangat sayang Mama," ujar Jimmy.
"Mama juga sangat sayang kamu," ujar Marlina.

Lalu mereka berpelukan telanjang.

Sesuai dengan penuturan Marlina langsung kepada saya, sejak saat itu mereka selalu melakukan persetubuhan setiap ada kesempatan. Hanya saja ketika Jimmy harus kuliah di Jogja, mereka terpaksa harus berpisah. Tapi bila Jimmy datang liburan atau Marlina sengaja datang ke Jogja untuk menengok Jimmy, mereka pasti akan melakukan "tanda kasih sayang" mereka itu sampai sekarang..

Demikian kisah nyata ini saya paparkan.

Saturday, December 29, 2012

Tubuh Ibuku Bikin Penisku Berdiri

Namaku Ikin. Umurku sekarang 18 tahun dan Ibuku berumur 38 tahun. Ibuku Sangat cantik dan seksi layaknya gadis umur 25 tahunan. Dia pandai merawat tubuhnya. Kulitnya yang putih mulus, buah dada yang besar dengan putingnya yang kecoklatan, dan juga kakinya yang jenjang dan seksi. Aku tak mengerti mengapa memandang ibuku seperti itu, tapi aku dapat memastikan setiap laki-laki yang melihat ibuku pasti ingin memilikinya.

Ayahku pengusaha sukses yang sangat sibuk, Ia biasa bepergian ke luar kota bahkan ke berbagai negara untuk mengurus bisnisnya. Dia memberikan semua kebutuhan kami seperti rumah yang sangat besar dengan taman yang luas, juga sarana olah raga di rumah.

Ceritanya bermula ketika usiaku 15 tahun dan ibuku 35 tahun. Suatu hari kulihat ayahku sedang bersiap-siap untuk perjalanan bisnisnya selama kurang lebih dua minggu. Ketika akan berangkat, dia berpesan agar menjaga rumah dan ibuku, dan agar jangan macam-macam sehingga menyusahkan ibuku, selama ayah keluar kota.

Hari itu berlalu seperti biasanya tanpa sesuatu hal luar biasa yang terjadi. Kesokan harinya cuaca sangat panas dan kering, lebih panas dan kering dari biasanya karena saat itu lagi puncaknya musim kemarau. Kebetulan waktu itu lagi libur semesteran jadi aku tidak ke sekolah. Ketika keluar dari kamarku, kucari ibuku ke tempat biasanya. Kulihat ibuku di kolam renang mengenakan bikini yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ketika kulihat dadanya yang seperti mengambang di air, kurasakan burungku mulai mengeras. Begitu melihatku, dia menyuruhku mengambil sarapan yang telah disiapkan di dapur.

Ketika aku didapur, ibuku selesai dari kolam renang kemudian membersihkan badannya di kamar mandi. Kucoba untuk mengintipnya, tapi pintu kamar mandi terkunci rapat. Aku pergi ke ruang tengah sambil tetap membayangkan goyangan dadanya dengan air bercucuran sampai ke kaki jenjangnya yang seksi.

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian dia menghampiriku ke ruang tengah dan aku tak dapat membuang bayangan tubuh ibuku yang sangat menggairahkan.

Jam 11 siang ketika sedang nonton TV, ibuku bilang akan tidur siang. Aku berharap dia akan mengajaku tidur bersama di sampingnya. Ketika berjalan menaiki tangga, kulihat goyangan pinggulnya yang membuat burungku mengeras lagi.

Jam 12 siang aku bermaksud tidur siang. di kamarku aku tidak bisa tidur karena cuaca yang tidak enak, dan aku tak bisa membuang lamunanku tentang tubuh indah ibuku. Aku pegang burungku yang sudah sangat keras dan kukocok-kocok sambil membayangkan goyangan dada ibuku waktu di kolam renang.

Setelah selesai, kucoba untuk tidur kembali, tetapi meskipun mata terpejam tetap tidak bisa tidur. Burungku masih sangat keras. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku sangat menginginkan ibuku.

Aku keluar kamarku memakai celana pendek, kemudian ke kamar ibuku. Pintunya terbuka. Dia tidur tengkurap dengan kedua kakinya agak terbuka. dia memamakai celana kolor tapi masih menutupi pantatnya. Ibuku kalau tidur seperti orang mati, susah bangunya, tapi aku takut sekali.

Aku mulai mengelus-ngelus burungku yang masih dalam celana pendekku. Aku merasakan sesuatu yang nikmat sekali, sampai aku tak tahan lagi. Aku berdiri di samping ranjangnya dan kusemprotkan seluruh maniku disekujur kaki jenjangnya. Aku melenguh dan mendesah perlahan sekali, Aku merasa takut sekali kalau dia terbangun karena cucuran maniku yang panas di sekujur kakinya. Aku kembali ke kamarku, tak dapat kupercaya kusemprotkan maniku ke tubuh ibuku. Aku merasa berdosa sekali, kemudian aku tertidur lelap.

Paginya deg-degan aku sudah siap-siap akan kemarahan ibuku, tapi kok ya.., tidak apa-apa, sepertinya dia tidak menemukan bekas maniku pada saat dia bangun. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan melakukan itu lagi, karena dia adalah ibuku. Sepanjang siang itu sikap ibuku biasa-bisa saja seperti tidak ada apa-apa. Kupikir dia tahu tapi dia menyukainya, entahlah.., Atau maniku telah mengering waktu dia bangun.

Dua malam kemudian burungku tegang lagi. Malam itu adalah malam terpanas pada musim kemarau tsb. Aku tak bisa tidur lagi, kulihat pintu kamar ibuku tertutup. Kupikir dia tahu apa yang telah kulakukan dan dia menginginkanya lagi.

Kubuka perlahan-lahan tanpa menimbulkan suara dan kemudian masuk ke kamar ibuku. Kulihat ibuku tertidur hanya memakai celana dalam dan BH. Tak dapat kupercaya mataku melihatnya setengah telanjang. Kupegang burungku dan kukocok dengan keras, ketika maniku akan keluar, kusemprotkan di selangkanganya dan di atas celana dalamnya. cepat-cepat aku kembali ke kamarku. Kupikirkan apa yang telah terjadi sampai aku terdidur.

Paginya masih seperti biasa ibuku tidak apa-apa. Aku masih penasaran, tahu nggak sih kelakuanku, gimana caranya untuk meyakinkan hal itu?

Malam berikutnya aku ke kamar ibuku lagi, dia memakai celana dalam dan BH saja, tapi kali ini tidurnya miring. Wah.., gimana caranya ngocok nih. Aku mau kemut teteknya, mungkin dia akan membunuhku kalau sampai terbangun. Kucoba untuk merabanya, waduh gimana caranya ya.., aku gemetaran.., Kulihat ada vaseline di meja rias. Lalu kuambil dan kuoleskan pada burungku. Lalu aku nekad akan kucoba gesek-gesekan burungku ke ibuku.

Aku naik ke ranjang dan berbaring di belakangnya dan mulai mengesek-gesekan burungku ke pantatnya. Dia masih tertidur, tidak bergerak. Kuselipkan burungku lebih bawah lagi diantara kakinya dan mulai kutekan-tekan. Sebenarnya aku takut dia bangun kalau aka kebanyakan bergerak, tapi aku nggak tahan. Aku pompa burungku keluar masuk di antara kakinya. Tak berapa lama maniku muncrat di antara kedua kakinya dan sebagian meleleh kena vaginanya. Aku kembali ke kamarku dengan pikiran dipenuhi bayangan vaginanya.

Paginya masih seperti biasa, ibuku tidak ngomong apa-apa, sehingga menambah rasa penasaranku, masak sih dia tidak merasakan ada bekas vaseline dan maniku di kakinya.

Kucoba untuk mengetesnya. Kutunggu di kamarku sampai jam 6 pagi. Aku tahu persis ibuku selalu bangun jam 7 pagi setiap hari, aku ke kamarnya dan menggesek-gesekan burungku di antara kakinya, butuh waktu 30 menit untuk muncrat di kakinya, kemudian akau keluar tiduran sambil menunggu apa yang akan terjadi.

Jam 7 pagi ibuku bangun terus mandi. Aku keluar kamar terus ke dapur. Dia sedang sarapan dan bicaranya wajar seperti tidak ada apa-apa sambil mencuci piring. Aku ke kamar mandinya, kulihat celana dalamnya basah kuyup oleh maniku. Sekarang akau yakin sekali, ibuku tahu kelakuanku. Malah aku jadi bingung sendiri, soalnya ibuku tidak memperlihatkan perubahan apapun. Dia pergi ke supermarket dan kembali tiga jam kemudian. Aku masih memikirkan apa yang akan kulakun dengan ibuku malam ini.

Kita nonton TV, kemudian ibuku bilang akan pergi tidur. Kutunggu hampir 2 jam, biar dia tidur nyenyak dulu. Kemudian masuk kamarnya dan kulihat dia tidur berselimut. sialan.., rupanya dia tidak suka aku kerjain. Aku sudah tegang banget, kuambil vaseline kuoleskan ke burungku kemudian akau naik keranjang. Dia tidur tengkurap dengan kakinya terbuka sangat lebar. Kucoba singkap selimutnya agar bisa mengocok di antara kakinya.

Ketika kusingkap selimutnya, jantungku hampir berhenti berdenyut, dia telanjang bulat! Aku lihat vaginanya dengan jelas dan bibir vaginanya kelihatannya begitu hangat. Dengan tangan gemetaran kusentuh vaginanya perlahan kemudian kuusap-usap dengan lembut.

Lama-lama vaginanya semakin basah, kemudian kutarik kedua kakinya berlawanan sehingga kakinya semakin membentang lebar.

Tiba-tiba dia bergerak, posisinya menjadi miring membelakangiku. Tapi kedua kakinya masih terbuka lebar. Aku berbaring di belakangnya dan mulai mengocokkan burungku di antara kakinya dan kucoba menyentuh vaginanya. Dia tidak bergerak ketika perlahan-lahan burungku masuk makin dalam ke vaginanya. Aku mulai memompanya keluar masuk perlahan-lahan, kudengar dia mendesah kayaknya sedang mimpi.

Aku nggak tahan lagi, sehingga kocokanku semakin keras dan cepat. Kurasakan cairan di vaginanya semakin deras. Aku juga merasakan sudah waktunya akan orgasme, tiba-tiba dia melepaskan burungku dari vaginanya sehingga maniku berhamburan di bibir vaginanya. Kemudian dia tidur lagi telentang dengan kedua kakinya dirapatkan.

Kulihat kedua teteknya yang besar. Kemudian kujilat dan kuhisap-hisap. Ibuku mendesah-desah ketika kuhisap putingnya. Aku mulai menggesek-gesekan burungku lagi dan air maniku berceceran di antara teteknya. Aku kembali kekamarku dan sulit kupercaya apa yang telah terjadi aku telah ngentotin ibuku. Kemudian aku tertidur dengan nyenyak sekali.

Pagi harinya kulihat ibuku memakai daster. Kulihat juga puting susunya di balik dasternya yang tipis. Dia tidak ngomong apapun tentang semalam. Heran.., kenapa dia melepaskan vaginanya sebelum aku orgasme. Aku masih takut-takut untuk mulai ngomong denganya.

Siangnya ibuku pergi dengan temannya untuk menghadiri pesta perkawinan. Jam 11 malam baru pulang, mungkin jalan-jalan dulu. Dia bilang sangat lelah sekali dan ingin tidur dengan nyenyak. Ketika ngomong begitu dia tersenyum manis sekali kemudian menciumku dan bilang selamat malam. Kutunggu hampir 1 jam, kemudian kulepas semua pakaianku kemudian kekamar ibuku, pintunya terbuka.

"Wwaaw..!, Dia tidur telanjang tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Tidurnya telentang dengan kedua kakinya terbuka sangat lebar. Aku berlutut di antara kedua kakinya dan mulai mengelus-elus vaginanya dengan tangan sebelahnya kuusap-usap putingnya. Vaginanya semakin basah saja dan burungku semakin keras. Kuarahkan burungku ke vaginanya, "Hmm.., nikmatnya", dan dia kudengar mendesah juga.

Kurasakan otot vaginanya meremas-remas burungku sehingga aku mulai memompa lebih cepat dan keras. Aku hisap putingnya juga. Ibuku terbangun!, dengan suaranya yang perlahan nyaris tak terdengar dia bilang, "Oh.., Ikin apa yang kamu lakukan?, aku ibumu".
"Aku sangat mencintaimu Mam dan aku akan ngentotin Mami jika Mami menginginkanya juga"
Kemudian dia bilang sambil mendesah, "Ok, tapi jangan semprotkan di dalam, Aku tak mau dihamili anaku sendiri".

Ketika kudengar itu, kugenjot semakin keras dan keras.
Dia bilang, "Oh Kin, Yang keras lagi dong. Mami suka burung besarmu. Oooh.., Mami mau sampai, Kin, Mami.., ssaammppaaii.."
Kugenjot tambah keras lagi. Kurasakan aku mau sampai juga.
"Aku ingin semprotkan di dalam Mam, Akan kusemprotkan semuanya di dalam."
"Jangan kin.., tolong jangan.., Mami tidak pakai kontrasepsi.., ntar Mami hamil anakmu"
"Nggak bisa Mam, aku sangat menginginkanya. Sekaranghh Mam.., Mam aku sampai"
"Kin manimu panas sekali, Mami suka sekali sayang."
"Tapi.., iyer.., terus sayang.., teruskan.., a..aahh"
Ternyata dia sangat menyukainya, so kita ngentot tiap hari sampai ayahku pulang.

Setelah itu, kita selalu tidur sekamar kalau ayah keluar kota lagi. Sekarang umurku 18. Ibuku 38 dan kita masih ngentot terus. Ibuku hamil, tapi dia putuskan untuk mengugurkannya karena dia tidak ingin punya bayi dariku. Tapi dia bilang, boleh ngentotin dia terus kalau ayah bepergian.

Friday, October 19, 2012

Cerita Dewasa Rasa Sayang Yang Salah

Cerita Dewasa Namaku joko, umurku memasuki usia kurang lebih 20 tahun bulan ini. Para reader yang budiman, aku akan bercerita tentang pengalaman nyata pertamaku bagaimana rasanya bersetubuh dengan wanita. Pengalamanku ini terjadi pertengahan tahun 1995 dengan kakak teman karibku.

Awalnya aku pikir bersetubuh dengan wanita adalah hal yang biasa-biasa saja, atau kenikmatannya sama saja dengan waktu kita beronani dikamar mandi saat kita lagi butuh kepuasan, itu pendapatku waktu itu. Kebiasaanku beronani atau kata orang aEt nyoli aEt dimulai waktu usiaku masih 17 tahun ketika aku duduk dikelas tiga S M P. Telah menjadi kebiasaanku sepulang sekolah aku harus pergi kesawah untuk mencari sekarung rumput makanan dua ekor kambingku saat masih dikampung, kini aku tinggal di Jakarta bersama budeku. Memang kedua orang tuaku adalah peternak yang kurang sukses.

Karena terbentur utang yang tak kunjung lunas akhirnya hewan perliharaanya tersisa dua ekor lagi. Teman setiaku adalah wawan, rumahnya persis didepan rumahku hanya dibatasi sebuah jalan kecil yang menghubungkan kesebuah danau diantara rumah kami berdua. Waktu itu hari menjelang sore, aku bergegas berganti pakaian sehabis makan sore sepulang sekolah lalu ku ambil sabit yang terselip didinding dapur rumahku yang terbuat dari anyaman bambu, serta tak lupa kutarik karung yang tergeletak dibawah meja makan, kemudian kutaruh keduanya diatas sadel belakang sepeda kesayanganku sambil makan pisang aku bergegas kerumah wawan untuk meminjam asahan menajamkan sabitku supaya mudah menebas rumput, setelah sampai didepan pintu aku masuki rumahnya lalu kupanggil dia aEt wan..aEt iya..jawab wawan dari kamar. aEt pinjam asahnya dong wan aEs, sembari trus berjalan aEt dibelakang ko, di kamar mandi, ambil aja, saya lagi ganti pakaianaEt jawab wawan dari kamar. aEt cepatan wan..udah sore nih..aEt Pintaku ke wawan.

Aku lalu kedapur karena memang kamar mandinya ada diluar, dibelakang rumah. Kamar mandi dikampungku umumnya hanya terbuat dari terpal yang dililitkan diempat tiang yang terpancang ditanah, itupun hanya sepatas pinggul, pendek. Pabila kita mau mandi ya harus duduk supaya nggak kelihatan. Pintu kamar mandinya pun hanya di tutupi dengan handuk, sebagai simbol menandakan kalo didalam kamar mandi ada yang sedang mandi. Kubuka pintu dapur yang menuju keluar - kekamar mandi, memang kamar mandinya di keliling pohon pisang dan rambutan jadi kurang begitu jelas kalo terlihat dari pintu dapur rumah wawan. Setelah beberapa langkah mendekati kamar mandi byur..suara orang sedang mandi betapa kagetnya ketika kulihat kearah kamar mandi, aku pikir tak ada orang dikamar mandi karena tak ada handuk yang terjuntai dipintunya. Sungguh pemandangan yang spektakuler waktu itu, betapa tidak Mbak tiyah kakaknya wawan yang masih kelas 3 SMU Negeri 1 di kampungku itu sedang asik mandi tanpa sehelang benangpun yang menutupi indah tubuhnya. Dibawah kuncuran air yang tertampung dalam kotak segi empat terbuat dari semen yang digantung diatas kamar mandi ia asik membersihkan pantat dan pinggangnya yang ramping, karena ia membelakangiku ia tak tahu kehadiranku aku tertengun kuperhatikan dari ujung kakinya lalu naik kepahanya mulus, putih gempal ditumbuhi bulu lembut diatas lututnya, aku tak tahan pandanganku trus naik kearah pantat luar biasa padat dan berisi ujung pantatnya yang menyembul bergoyang ? goyang ketika Mbak tiyah mengoyangkan kepalanya yang sedang ia keramasi.

Dia membalikkan badannya, semetara aku telah bersembunyi dilebatnya pohon pisang kulihat payudaranya membusung keatas indah dan sekal berjuntai kesana kemari seperti balon yang terisi air, diujung payudara sebelah bawah ada daging kecil warna coklat muda yang agak menonjol dan astaga..!! pandanganku turun kebawah perutnya, ramping sekali dan pusarnya indah serta bersih ..apa itu.. disela-sela kedua panggkal pahanya ada tonjolan daging yang belah ditengahnya ditumbuhi bulu ? bulu halus hampir sampai lubang pusarnya. Aku tetap diam dibalik pohon pisang sembari mataku tak lepas dari pandangan kearah kamar mandi. Aku nikmati pemandangan itu sampai Mbak tiyah selesai mandi, baru aku mengambil asahan kemudian mengajak wawan pergi kesawah untuk mencari rumput.

Malam harinya pikiranku nggak bisa tenang, selalu terbayang dengan busungan kedua payudara dan bulu-bulu halus diselangkangan Mbak tiyah, sambil terbaring dikamar yang telah kukunci kucoba untuk memejamkan mata tetap saja terbayang, akhirnya pikiranku tak bisa tenang perlahan kumasukan jari-jari tangan kananku dibalik sarung, trus kebawah diantara kedua panggkal pahaku lalu tanganku kususupkan kebalik celana dalam merk Sony yang sedang kukenakan, kupegangi bulu-bulu dipangkal kemaluanku, walau baru tumbuh sedikit namun terasa kasar kutarik-kutarik perlahan-lahan bulu yang tumbuh disekitar pangkal penis, penisku menegang beberapa urat terasa menyembul dipinggir batang kemaluanku, kutarik tanganku kemudian kuludahi permukaan tanganku lalu kumasukan kembali kebalik sarung sementara celana dalamku telah kulepas tapi masih tersangkut dimata kakiku.

Ku urut pelan-pelan sembari kuremas-remas penisku, makin lama terasa nikmat sekali. Namun baru beberapa urutan genggaman tanganku pada penis terasa mulai seret dan panas karena ludahku mengering. Disamping ranjangku diatas meja belajar ada sebotol handbody lotion yang selalu kupakai sehabis mandi, ku ambil dan kutuangkan dipermukaan tanganku, ku oleskan diseluruh batang kemaluanku setelah itu ku genggam seraya kemudian posisi tubuh kuberbalik dan sekarang aku tengkurap sembari menggenggam batang kemaluanyang makin membesar kupejamkan kedua mataku seolah ? olah aku sedang menindih Mbak tiyah, kutekan perlahan-lahan pantatku sangat teratur naik turun, tanganku kubiarkan saja menempel dikasur sembari tetap menggenggam batang penisku.

Napasku mulai tersengal gerakanku semakin cepat ku kuremas ? remas batang kemaluanku kubayangkan kalau kemaluanku terjepit diantara selangkangan Mbak tiyah yang berbulu halus itu makin lama kurasakan makin aEsnikmat oughh.. Mbak tiyah.. enaakk..aEt desahku ada sesuatu yang terasa makin memuncak makin dekat kelubang penisku dan akhirnya aEsoughh..croott.. crott.. enakk Mbak tiyahh..aEtsegumpal cairan warna kuning-kecoklatan agak kental keluar mengalir dari ujung penisku, aku terkulai lemas, kubalikkan tubuhku sekarang aku terlentang keringat mengucur disekitar dada dan wajahku, pelan ?pelan ku urut batang kemaluanku ke arah atas ku peras sisa ? sisa buih kenikmatan yang masih tersisa, mungkin aku lelah karena kegiatan itu ku ulangi sampai tiga kali malam itu sampai-sampai handbody lotionku habis..akhirnya ku tertidur pulas..

Tepatnya malam tanggal 17 Agustustus 1995 wawan datang kerumahku, lalu mengajakku main kerumahnya tujuannya untuk menyelesaikan pe-er bahasa inggris dari Bu guruku, memang pelajaran yang paling kusuka disekolah adalah bahasa inggris. Sesampai dirumahnya kulihat diruang tamu Mbak tiyah sedang tidur terlentang sambil menonton TV, aEt kok sendiri mbak, Bapak sama Ibu pada kemana?? tanya ku kepadanya sembari kulirik buah dadanya menonjol dibalik t-shirt warna ungu yang sangat ketat melekat ditubuhnya serta memperlihatkan lubang pusarnya. aEt lagi ke rumah saudara ko, ada yang nikahan di Jakarta aEt ujarnya aEt ada pe-er malem ini ko?aEt, tanya diaaEt iya mbak, pe-er bahasa inggris, Mbak mau bantuin??, ku pancing dia. aEt nggak ah, filmnya bagus entar aja ko, coba aja dulu entar kalo nggak bisa Mbak bantuin deh aEt jawab Mbak tiyah, aEt iya deh mbak, saya permisi dulu kekamar wawan nggak enak sama wawan udah nungguinaEt kataku, padahal aku masih ingin mengobrol bersamanya. Dikamar aku sibuk menyelesaikan pe ?er dimeja belajar wawan sementara wawan malahan baca majalah diatas ranjang yang terbuat dari papan tapi diatasnya ada kasur busanya, pe-er kali ini membuat kepalaku benar-benar pusing, akhirnya setelah pukul 11 malam baru pe-er itu dapatku selesaikan, karena asiknya membuka dan menutup kamus sampai-sampai aku lupa pada wawan, kutengok kearah ranjang kulihat ia telah terlelap tidur. Kututup kamus dan kurapikan meja belajar wawan.

Kuselimuti dia, ahh lebih baik aku kedapur cari makanan pikirku karena rumah wawan sudah seperti rumahku sendiri, ketika ku melintas ruang tamu kulihat Mbak tiyah masih tidur terlentang didepan TV, hanya saja kini ia telah berganti pakain memakai baju tidur longgar bercorak bunga-bunga. aEt Mbak belum tidur aEs, tanyaku aEt belum ko, habis filmnya bagus, udah beres pe-ernya?aEt Mbak tiyah balik bertanya seraya ku duduk disampingnya tetapi aku menghadap ke TV sementara ia masih tidur-tiduran. aEt mana wawan? aEs, tanya Mbak tiyah aEt udah tidur dari tadi mbak, mungkin capek?aEt jawabku. aEt ko kata wawan kamu pintar ngurut kepala ya?aEt, sembari Mbak tiyah menekan kepalanya seolah ? olah sedang pusing, atau memang pusing beneran aku tak tahu waktu itu. aEt tolong pijitan kepala Mbak ko aEt pintanya aEt bisa sih sedikit mbak, kenapa?, kepala Mbak sakit, yang sebelah mana yang sakit Mbak aEt sembari mulai kupegang kepalanya tepat diatas jidatnya, kutekan perlahan-perlahan.

Tapi pandanganku tetap ke arah TV, tapi sumpah enggak tahu pikiranku mulai porno, sementara dibalik celana hawaiku, penisku nggak bisa diajak kompromi makin menegang. Aku tetap memijat disekitar kening Mbak tiyah, kulirik ia ternyata matanya tertutup mungkin menikmati pijitan tanganku. aEt enak ko, kamu pintar mijatnyaaEt kata Mbak tiyah. Aku hanya tersenyum. aEt udah ko, pijitin pinggang Mbak iyaaEt tanpa menunggu persetujuan dari ku kemudian ia membalikan tubuhnya. aEt sebelah sini ko aEt Mbak tiyah memegang pinggangnya menjelaskan letak yang harus ku pijat. Ku pegang pigangnya, ku urut dari mulai dari atas kebawah sambil ku tekan perlahan-lahan permukaan pigangnya tapi hanya sebatas pinggulnya tak lebih dari itu, aku takut dibilang kurang ajar. Tapi beberapa kali tanganku tersangkut baju tidurnya. aEt susah ya ko, kamu ngurutnya, sebentar ko biar bajunya Mbak angkat keatas aEt Mbak tiyah pegang ujung bajunya yang menutupi punggungnya hingga pinggulnya kemudian ia tarik hingga sebatas tali branya, tapi Mbak tiyah masih dalam posisi tengkurap. Ia letakkan tangan yang sebelah kiri diatas punggungnya.

Aku benar-benar terpesona melihat permukaan kulit pinggul Mbak tiyah yang kamarin lusa hanya mampu kupandangi dari jauh kini ada di depan mataku, dapat ku sentuh dan kuraba. aEt cepatan ko aEt suara Mbak tiyah mengagetkanku. aEt iya Mbak aEt aku tergagap, kucoba tetap bersikap wajar ku tekan sebisa mungkin pikiran pornoku setelah sekian menit aku dan Mbak tiyah hanya diam sementara aku hanya mengurut dan Mbak tiyah sesekali mengeluh menahan tekanan tanganku, kucoba membuka pembicaraan aEt kulit Mbak putih ya aEt pujiku tetapi aku tetap mengurut dibagian pinggang Mbak tiyah pelan-pelan. Pijatanku kuarahkan kebagian bawah pertama kuberanikan memijat gundukan daging pantatnya, rasanya padat dan kenyal lalu kupegang dengan kedua tanganku kuremas-remas, aku hampir nggak bisa menguasai diri sepertinya Mbak tiyaHPun menikmati pijatan-pijatanku, desahan nafas Mbak tiyah makin jelas kudengar iramanya seperti orang sehabis lari pagi.

Tiba-tiba Mbak tiyah berbalik kini ia terlentang. Aku kaget setengah mati, mati aku..pikirku aku pasti akan dicaci oleh Mbak tiyah atas ulahku yang kurang ajar. Tapi aneh Mbak tiyah justru tersenyum melihatku. Mbak tiyah bangun dari tidurnya, kulihat matanya sayu, dan bibirnya setengah terbuka dan basah sangat mengoda. aEt sini tanganmu ko aEt Mbak tiyah meraih kedua tanganku, aku diam saja aku bagai terhipnotis hanya desah napasku makin tak teratur. Diletakkannya kedua tanganku diatas payudaranya, ia bimbing kedua tanganku untuk meremas kedua payudara dibalik bajunya. Aku tak tahan ku angkat ujung bajunya lalu aku berdiri dan kutarik keatas melewati kepalanya hingga akhirnya bajunya terlepas dari tubuhnya, aku duduk lagi dihadapannya kupeluk dia, kupegang tali pengait BH warna ungu dipunggungnya, kutarik secara paksa, aEsaduhh, pelan-pelan ko sakitaEt ketika tali BH itu terlepas secara paksa.

Kini payudara itu menyembul keluar, membusung indah ku pegang perlahan-lahan lalu kuremas-remas, aEsaughh..geli..enak..ko, auhghh pelan-pelan ko..aEt Mbak tiyah memegang lenganku semakin kecang pegangannya, mata Mbak tiyah kadang terbuka kadang tertutup. Ku pegang bagian bawah payudaranya kuangkat lalu kuarahkan mulutku kebagian puting payudara Mbak tiyah sebelah kiri, kumasukan kemulutku lalu ku gigit pelan-pelan, aEt auhghh..enakk..ko..geli..ko, terus teruss enakk koo aEs, Mbak tiyah memeluk kepalaku, ia tarik rambutku sementara tangan kanannya membuka kancing celanaku lalu trus kebawah hingga masuk kebalik celana dalamku dan..auhh..ia pegang batang kemaluanku yang dari tadi telah menegang. Ia tarik kebawah celana hawaiku hingga terlepas, akupun tak tinggal diam ku pegang celana tidur Mbak tiyah kutarik hingga terpelorot sampai bawah.

Ku baringkan Mbak tiyah diatas tilam warna ungu kemudian kepalanya kuangkat lalu kuselipkan bantal dibawah kepalanya. Tubuhku merosot kesebelah bawah sementara kini posisiku diatas Mbak tiyah sedangkan kedua pahanya mengapit pinggangku, tubuhku makin kebawah. Kusentuh bagian vital Mbak tiyah trus kubelai rambut ? rambut halus disekitar lubang kewanitaanya kucium perlahan lalu kugigit bagian daging yang menyembul keluar sebesar biji sirsak berwarna merah, Mbak tiyah merintih..uaghh..kamu pintar koo.. sementara kedua pahanya mengapit kepalaku menahan geli bercampur nikmat, kurasakan kini liang yang ada dipangkal Mbak tiyah itu makin lama makin mengeluarkan cairan yang memenuhi lubang kemaluanya.

Posisiku kini berubah perlahan aku duduk didepan selangkangan Mbak tiyah ku pegang kedua pahanya Mbak tiyah kutaruh diatas lututku, kini didepanku terlihat jelas belahan liang kemaluan Mbak tiyah makin membelah hingga didalamnyapun terlihat jelas olehku karena terpaan sinar lampu diruang tengah itu, perlahan-lahan kumasukan jari tengahku kedalam lubang kemaluan Mbak tiyah baru kira ? kira satu cm ku putar ? putar jari tengah ku didalam kemaluan Mbak tiyah tepat diatas daging yang menonjol didalam liang itu.aEt Aughh..truss..ko..enak sekali..kooaEt,
Mbak tiyah merintih-rintih semetara kedua tangannya berputar kesana kemari meraih apa yang bisa ia pegang, ku lihat Mbak tiyah bagai cacing kepanasan menggeliat kesana ? kemari. Ia berusaha meraih batang kemaluanku. aEt Jokoo masukin punyamu koaEt suara Mbak tiyah terdengar parau akibat tekanan birahi yang kian memuncak. Ku genggam batang penisku yang sudah mengencang dari tadi lalu tanganku yang sebelah kiri merenggangkan paha Mbak tiyah, terlihat jelas liang kemaluan Mbak tiyah makin menganga, batang kamaluanku makin dekat dengan lubang selangkangan Mbak tiyah lalu kuarahkan tepat ditengah dan bluuss..aEt aauu..sakit koo jangan kuat ?kuat nekannya,aEt teriak Mbak tiyah.
aEt enaakk mbak, aughh punya Mbak tiyah enakk.. aku tak menghiraukan lagi teriakan Mbak tiyah. Awalnya lubang kemaluan Mbak tiyah terasa serat tapi lama ? kelamaan ada cairan yang mengalir hangat mengalir keluar dari rahim Mbak tiyah, hingga kini batang penisku dapat lancar keluar masuk kedalam lubang kenikmatan itu.
Cepat..koo..tekan yang kuat punya Mbak mau keluar.. rintihan Mbak tiyah makin menjadi-jadi..sementara dekapannya dipunggungku makin kecang auhghh cepatt koo yang kuat nusukk nya..aEt rintih Mbak tiyah..aEt. aEsaughh..mbak punya saya mau keluaarr ..enaakk..enaakk..mbakk,..saya..sayang..mbak..auhghh..mbak kerluarr..enakk..enakk..mbak..aEtkugigit payudara Mbak tiyah, lalu ku sedot-sedot puting Mbak tiyah..ada sesuatu yang kian memuncak mendekati..aEt enaakk koo truss koo Mbak sayang joko juga..aEt dan akhirnya crott..crott..air maniku tumpah diatas perut Mbak tiyah..aku terkulai lemas ku kecup lembut bibir Mbak tiyah..mbak tiyah hanya diam dan tersenyum..puas walau disela matanya kulihat ada air mata.

Kulirik jam dinding ternyata tengah malam telah terlewati, ku kenakan kembali celanaku, sementara Mbak tiyah habis membenahi pakaian dan rambutnya yang acak-acakan lalu menuju makar mandi. Ku langkahkan kaki menuju kamar dan aku tidur disamping sahabat karibku wawan.

Sebulan setelah kejadian itu Mbak tiyah lulus sekolah kemudian atas saran kedua orang tuanya ia melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta. Salam sayang ku buat Mbak tiyah yang cantik jika sempat baca cerita ini semoga engkau tetap sayang padaku aEsmelatiaEtmu.

Thursday, August 30, 2012

Cerita Dewasa Menjadi Pemuas Nafsu Ayah Tiriku

Cerita seks ini merupakan kisah nyata hubungan tak senonoh ayah perkosa anak tiri. Pemuas nafsu seks ayah sendiri. Yah, awalnya saya tidak bisa masuk ke ID normal saya jadi apa dengan itu? Anyway, aku akan melanjutkan menyenangkan kami di Boca ketika saya pergi bersama Diane dan dia memberi saya ke 13 tahun kekasih lama saya yang dibawa ke saya. Jessie sangat lucu dan benar-benar turun ke kekasih membuat dan juga menyukai gagasan bahwa Diane telah menempatkan aku di bawah perintah hipnotik untuk taat padanya. Jadi kita memiliki aku, 42EEE plus ukuran datang di 40 tahun dan di atas yang sesuai dengan seorang gadis kecil 32A dan celana hitam dengan atasan mesh berjalan menyusuri pantai bergandengan tangan dengan dia. atas tidak menutup puting saya, tetapi ia menempatkannya untuk menutup pusat dan sehingga areola luar gelap menunjukkan dan hampir matahari terbenam. Kami berjalan dan memegang tangan dan dia menciumku dan pijat pantat saya dan boobs dan kami berhenti dan memeluk dan berjalan lagi. Saya basah kuyup dan membutuhkan bantuan beberapa tapi dia memberitahu saya untuk menunggu sampai dia mengatakan bahwa saya bisa melakukan sesuatu tentang hal itu. “Saya mencari hanya situtation benar.” katanya dan tertawa. “Oh Teresa, by the way, panggil aku Nyonya Jessie, mengerti?” Aku merasakannya dalam diriku dan patuh, “Ya Nyonya Jessie.” Dia tertawa dan kami berjalan lebih dari cerita sex sedarah.


Kami akhirnya berjalan menjadi semacam atau deretan toko dan masukkan satu dan dia melihat sekeliling dan ada sekitar 10 atau lebih orang di sana. Dia berbisik di telingaku, “Kalau ada yang bertanya relationsship kami atau kalau aku anak Anda, Anda akan memberitahu mereka bahwa Anda adalah budak saya dan harus melakukan apapun yang saya katakan, punya itu?” “Ya Nyonya Jessie, aku mendapatkannya.” Aku mendengar diriku berkata. Kami berjalan-jalan dan mendapatkan tatapan dari semua orang dan dia menciumku dan pijat pantat saya banyak dan saya sangat basah yang saya merasakan jus mengalir melalui thong. Seorang wanita muncul dan sangat menarik dan kecokelatan. Dia menatap kami dan berkata, “Jadi, Anda memiliki anak yang sangat manis.” kepada saya. Jessie squuzes tanganku dan aku mendengar diriku berkata, “Dia bukan anak saya dia adalah nyonya saya dan saya budak dan saya harus melakukan apa pun dia memberitahu saya.” Wanita itu mendapat bermata lebar dan berkata, “Ada gadis kecil ini mengatakan Anda lakukan?” Aku mendengar diriku berkata, “Ya, apa pun yang Nyonya Jessie mengatakan, saya harus lakukan.” “Tidak peduli apa itu?” wanita itu bertanya. “Apa saja.” Kataku. “Yah Anda tidak memiliki banyak tapi aku berharap dia akan memberitahu Anda untuk melepas apa yang Anda miliki di sini sehingga aku bisa melihat kalian semua.” katanya. Aku berdiri di sana dan Jessie tersenyum, “Apa yang akan Anda berikan saya untuk menceritakan itu?” katanya dan wanita mengeluarkan uang kertas 5 dollar $ 20 dan menahan mereka padanya. Jessie membawa mereka dan berkata, “Tess, melepas semua yang Anda miliki di sekarang.” Aku melakukan apa yang dia katakan dan kemudian ia mengambil sandal thong dan atas dan atas dan. Wanita itu tersenyum, “Oh, itu bagus, aku bisa menikmati dia.” Jessie tidak ragu-ragu tetapi mengatakan, “Tess, melakukan apa saja dia suka.” dan aku melangkah ke si wanita. Dia mengulurkan tangan dan masssaged payudaraku menarik puting yang sudah keras membuat saya mengerang. “Ayo satu kembali hun budi, katanya dan aku melakukan apa yang telah ia lakukan.” Letakkan tangan Anda di antara kedua kakiku hun “katanya dan aku mengulurkan tangan dan terkejut menemukan ayam besar keras di sana di tempat pus. Wanita hampir menatapku dan tersenyum, “Itu benar hun, mendapat barang itu untuk keduanya.” dan aku lifeted / nya bajunya dan melihat ayam besar bengkak. Orang-orang melihat permainan yang kami bermain dan penjaga toko telah tutup pintu.

Kisah nyata hubungan tak senonoh ayah perkosa anak tiri. Dia / dia memimpin saya ke counter dan berbalik saya sekitar dan membungkuk saya di atas dan tiba-tiba mendorong ayam ke dalam vagina saya dan saya disemprot ayam di seluruh membuat erangan keras. Jessie sedang menonton dan tertawa dan mencium seorang wanita yang telah melangkah padanya, ini benar-benar seorang wanita. Aku sedang memukul keras oleh pria / wanita di belakang saya dan akhirnya merasa ayam penuhilah aku. “Oh itu Hun manis.” katanya dan menyelinap keluar. “Bersihkan aku Hun” adalah perintah dan aku mengisap ayam dan mendapatkan semua cum off dan membuatnya keras lagi. Tiba-tiba aku fekt jari di rambut saya dan saya terpaksa ke ayam keras yang turun tenggorokanku. Aku mengambilnya di tetapi ia memegang saya di sana dan akhirnya pindah keluar dan kemudian masuk dan keluar lebih keras daripada sebelumnya. Saya lupa waktu tapi akhirnya tenggorokan saya penuh dan ia movedc dariku. Jessie baru saja selesai orgasme yang diberikan kepadanya oleh seorang wanita tua dan menempatkan cocok untuknya kembali. Jessie berpakaian saya dan kami berjalan keluar, cum menetes dari vagina saya dan thong tidak tetap masuk Kami berjalan lebih lanjut dan ia melihat beberapa orang berdiri di samping sepeda dan menarik tanganku. “Waktu untuk beberapa lebih menyenangkan.” katanya. Kami berjalan dan dia berdiri di sampingku, “Hei guys.” katanya dan mereka semua memandang kami, dia lalu aku. “” Teman Apa Facebook wanita kecil “satu kata.” kebutuhan Pacar saya waktu yang baik, kalian terlihat bagus untuk itu. “katanya dan mendorong saya di depan mereka. Salah satu memandang ke sebuah bangunan kecil, “Mari masuk” dan kami semua berjalan ke door dan mereka membawa saya masuk Ada tempat yang memiliki kasur kecil di lantai dan aku undressd. “Sekarang, Tess, memberi orang-orang ini fucking terbaik yang pernah Anda lakukan. Jadilah pelacur kami tahu Anda, menikmati semua seks Anda bisa. “Kata dia dan aku mulai bergerak perlahan-lahan ayam menyambar dan menghisap mereka yang terbaik yang saya tahu bagaimana. Sebagai salah satu masing-masing memberi saya itu cum aku akan pergi ke depan dan kemudian saya meletakkan, “perlu saya menjadi orang-orang kacau.” Aku mengerang dan mereka mulai mendapatkan dalam diri saya, saya mengisi berulang-ulang Jessie mengatakan. saya kemudian garis berada di luar gudang kecil dan ada orang-orang lebih dari dia dihitung tetapi dia dikumpulkan 20 dolar dari masing-masing itu. setelah tengah malam ketika aku bangun sakit dan penuh cum dan ia sid, “membungkus ini di sekitar Anda dan mari kita pergi ke air.” telah Kami dan aku merasa air kesungguhan tubuh saya. ” Kami berjalan ke apartemen dan Diane tidur di tempat tidur dengan dua tahun 15. usia. Jessie dan aku meletakkan di cusions di lantai dan aku tertidur dan kita terbangun matahari pagi berikutnya datang di pintu geser. Jessie menciumi saya dan menatapku, “Apakah Anda ingin menjadi budak saya?” “Ya Nyonya Jessie.” Aku berkata dan dia berkata begitu apa yang Anda ingin lakukan hari ini? “.” Satisify Anda. “Dan kami berciuman dan tidur lebih. Sisa dari hari kita direndam dan minum anggur dan bercinta. Diane dan gadis-gadis kiri untuk berbelanja dan sebagainya kami ditinggalkan untuk diri kita sendiri.

Sunday, July 15, 2012

Ngentot Adek cewek yang seksi

Kubelokkan mobilku masuk ke halaman parkir gedung tua itu. Entah kenapa bibirku seolah memaksaku untuk tersenyum lebar. Tapi, sesaat kemudian aku tersadar… Terlalu banyak kenangan manis yang disimpan gedung ini.

“… Kangen ya sama sekolah ini.”

Aku mengangguk dan tersenyum pada Cherry yang duduk di sebelahku, seolah dia mengerti apa yang aku pikirkan. Aku yakin sahabatku ini juga memikirkan hal

Sunday, December 4, 2011

Wisata ke Blora, Pesta Sex Sama Ibu dan Anak

Awalnya aku dan Roso ngobrol ke sana-kemari. Obrolan makin seru ketika topiknya masalah sex. Roso seumuran dengan ku sekitar 35 an. Akhirnya kuketahui bahwa dia berasal dari Blora Jawa Tengah. Aku lalu minta konfirmasi mengenai daerah Jepon, dekat Blora yang terkenal sebagai gudangnya “ledek” penari Tayub. Aku pernah baca tulisan di majalah yang mengungkapkan kehidupan para ledek di Jepon.
Dengan semangat Roso bercerita mengenai pengelanaannya ke Jepon. Dia membenarkan bahwa memang Jepon adalah gudangnya penari Tayub. “ Wah kapan ya kita bisa bareng ke sana,” aku setengah bertanya ke Roso.
“Wah kapan saja, kita bisa jalan bareng dan ambil cuti. Yang penting jangan musim hujan,” ujar Roso.
Kami lalu menyepakati waktunya. Namun dia mengajukan syarat minta dibayari ongkos pulang pergi dari Jakarta ke Blora. Syarat itu tidak terasa memberatkan bagiku, karena banyak penerbangan murah dari Jakarta – Solo.
Pada hari yang ditentukan pagi-pagi sekali kami sudah bertemu di Bandara Soekarno Hatta. Penerbangan ke Solo tidak terlalu lama, karena sekitar jam 8 pagi pesawat sudah mendarat di Solo.
Dari Bandara kami memesan taxi menuju terminal bus. Kami memang merencanakan jalan-jalan hemat, sehingga bus adalah pilihan untuk mencapai Blora.

Sebelum memilih bus, kami sempat mengisi perut dengan soto di terminal. Wajah Roso berseri-seri. Dia kelihatan senang sekali dalam perjalanan pulang kampung kali ini. Berbagai promosi di ceritakan. Aku selalu menjawab “ tidak percaya, karena belum ada bukti” Jawaban itu memang bikin kesal Roso, tetapi semangatnya bercerita tidak kendur.
Setelah terkantuk-kantuk di bus dalam perjalanan ke Blora, akhirnya kami sampai juga. Roso memberi tahu kondektur dimana kami akan turun.
Setelah turun dari bus, Roso mengontak temannya yang di Jepon. Temannya itu menawarkan menjemput dengan sepeda motor. Tapi aku memilih naik angkutan saja, karena jarak ke Jepon lumayan jauh sekitar 14 km ke arah Cepu.

Tidak sampai setengah jam kami sudah turun dari angkutan di sambut oleh beberapa ojek. Roso celingak-celinguk sebentar lalu membalas lambaian tangan temannya yang berdiri di depan warung. Kami lalu mendatangi warung. Perut belum terasa terlalu lapar, tetapi saatnya makan siang memang sudah hampir. Apalagi di warung itu aku melihat sop balungan dengan daun kedondong. Makanan ini sudah lama ku idam-idamkan karena aku pernah merasakannya ketika di Bojonegoro beberapa waktu lalu. Tawaran teman Roso aku ikuti. Jadilah kami menyeruput sop iga dengan rasa agak asam dan pedas. Rasanya segar sekali. Roso memperkenalkan temannya dan rupanya temannya membawa satu orang lagi yang juga baru dikenal Roso.

Teman Roso mengatur aku dibonceng oleh teman baru Roso dan Roso dibonceng temannya. Kami masuk kampung sekitar perjalanan 10 menit masuk lebih jauh ke ke desa. Aku lupa apa nama desanya ketika kami berhenti di satu rumah disambut oleh seorang bapak dan istrinya. Perempuan yang diperkenalkan sebagai istri penyambut tadi lumayan cakep dan umurnya di sekitaran 30 tahun. Wajahnya manis khas orang desa dan badannya agak gempal dengan susu yang cukup besar.

Menurut cerita Roso, para istri di kampung ini bisa menerima tamu, meski suaminya masih dirumah. Istilah Roso, “ngompreng”. Aku lantas berpikir, wanita itukah yang nanti akan menemani tidur. Lumayan juga kalau jadi pasanganku. Tapi aku tidak bisa menghilangkan rasa rikuhnya, seandainya aku harus nginap di rumah itu lalu meniduri istri tuan rumah. “ Waduh gimana ya, aku lantas memainkan peran apa, mau berperan sebagai saudara, padahal baru kenal, sebagai tamu, tapi niduri istri orang sementara suaminya ada di situ,” batinku.

Di tengah kegalauanku, kulihat Roso tidak merasa rikuh sedikitpun. Malah kesanku dia seperti mengunjungi rumah saudaranya yang lama tidak ketemu. Melihat Roso bertindak tidak canggung, aku pun terpaksa mengikuti gaya dan gerak-geriknya. Apalagi si tuan rumah yang suami nyonya rumah sudah berkali-kali menyilakan kami masuk. Kami duduk di ruang tamu. Seperti biasa basa-basi tuan rumah yang memperkenalkan diri dengan nama Sastro menanyakan kapan kami sampai dari Jakarta ? Naik apa dan sebagainyalah dengan pertanyaan standar berbahasa Jawa. Roso dengan lancar menjawab semua pertanyaan. Sebetulnya aku juga mau ikut menjawab, karena aku masih menguasailah bahasa Jawa, meskipun tidak selancar Roso.

Tidak lama kemudian terhidang teh manis panas dengan singkong rebus dan kacang rebus. Sebetulnya aku berselera juga dengan hidangan itu, tetapi perut masih kenyang karena baru diisi. Nyonya rumah kemudian kuketahui bernama Rini. Dia ikut ngobrol dengan kami sambil duduk memangku nampan. Kami beramah tamah sekitar 10 menit lalu Roso berdiri dan menggamit aku untuk ikut keluar. Kami keluar rumah dan Roso memberi tahu bahwa dia yang akan memakai nyonya rumah ini. Aku sebenarnya ingin protes, karena aku juga berselera. Tapi protesku tak sampai terucap setelah Roso memberi jaminan bahwa cewek yang kelak akan bersamaku mutunya tidak kalah.

Teman Roso yang ikut nimbrung malah memberi tahu bahwa pasanganku kelak jauh lebih bagus. Aku memang tidak bingung soal berapa nanti aku beri uang ke Nyonya rumah kalau menginap semalaman. Tapi melihat kondisi yang sebenarnya, informasi yang telah dikemukakan Roso jadi kurang meyakinkan, jadi aku tanya lagi. Yang menjawab bukan Roso, tetapi temannya. “ Lima ratus sudah banyak mas kalau di desa ,” katanya.

Setelah pembicaraan singkat itu Roso menyilakan aku untuk meneruskan perjalanan dengan pembawa motor yang menggoncengku tadi. Aku pamit ke tuan rumah dan istrinya. Mereka sempat bertanya aku akan menginap di mana. Teman Roso lalu menunjuk pemboncengku.
Pemboncengku memperkenalkan diri ketika bertemu di warung tadi dengan nama Kardi. Aku segera meluncur bersama Kardi. Roso dan temannya tinggal di rumah Sastro. Tidak sampai 5 menit Kardi menghentikan motornya di sebuah rumah yang letaknya agak masuk kedalam dan halamannya rimbun. “ Mari mas masuk, “ kata Kardi.
Kardi dengan santainya masuk kerumah dan dia langsung masuk ke dalam sementara aku dipersilakan duduk di ruang tamu. Gak lama kemudian Kardi keluar bersama perempuan yang berkulit putih, tidak kalah montoknya dengan istri Sastro. “ Mas perkenalkan istri saya,” kata Kardi. Sosok istri Kardi ini mengingatkanku pada profil penyanyi Jawa Sunyah Ni

Seandainya aku sakit jantung, mungkin aku langsung pingsan, karena kaget. Ternyata si Kardi itu yang memboncengku akan menyerahkan istrinya untuk kutiduri. “ Oh istri sampeyan toh,” ucapku ketika menyalami istrinya yang memperkenalkan diri dengan suara lirih bernama Warni.
“Mas santai aja mas anggap saja rumah sendiri, mana barangnya biar saya masukkan ke kamar,” Kardi berusaha memecahkan suasana rikuhku. Aku menyerahkan ranselku yang langsung di sambut Kardi dan membawanya ke dalam. Tak lama kemudian dia keluar lagi dan mengajakku masuk menunjukkan dimana kamar yang nanti akan menjadi tempatku menginap. Sebuah kamar yang sudah dirapikan dengan tempat tidur ukuran 160 terbuat dari besi dan diselubungi oleh kelambu. Kelihatannya spreinya baru diganti dengan motif batik. Ada meja rias dan ada lemari serta sebuah kursi makan di dalamnya. Kamarnya cukup luas. Kutaksir sekitar 3 x 4 m. Ada sebuah jendela dengan korden berwarna merah jambu yang menggantung hanya setengah tinggi jendela.
“Apa mau istirahat dulu apa gimana, “ tanya Kardi.

Aku tentu saja malu kalau baru datang langsung masuk kamar. Untuk mengatasi kerikuhanku aku menanyakan dimana kamar mandinya, karena mau buang air kecil. Kardi menunjukkan kamar mandi di belakang dekat dengan dapur. Di dalam kamar mandi itu ada ember plastik yang ukurannya agak besar, mungkin difungsikan sebagai bak mandi, lalu wc jongkok dan ember kecil di dekatnya. Lantainya dari semen. Uniknya kamar mandi ini tidak berpintu, hanya ditutup oleh korden terbuat dari plastik tenda berwarna biru. Jadinya korden kamar mandi itu tidak bisa menutup rapat, masih ada celah yang memungkinkan orang di luar bisa melihat siapa yang berada di dalam. Kalau yang mandi telanjang, pasti orang yang di luar bisa sekilas melihat juga. Tantangan makin seru, batinku dalam hati.

Dari kamar mandi aku berpapasan dengan Warni yang kelihatannya baru menjerang air. Dia langsung bertanya, apakah aku mau dibuatkan kopi. Aku setuju lalu berjalan menuju ruang tamu.
Di ruang tamu Kardi sedang duduk sambil menghisap rokok kretek, langsung mempersilakan aku duduk. Dari obrolanku, kuketahui Kardi mempunyai dua anak, yang pertama perempuan baru kelas 2 SMP dan yang kedua laki-laki baru kelas 4 SD. Kardi tanpa sungkan menceritakan bahwa istrinya adalah penari tayub, alias ronggeng. “ Sekarang susah mas, ledek gak sebebas dulu lagi, mereka harus punya sertifikat yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata. Kalau tidak ada sertifikat, tidak boleh manggung. Lagi pula narinya tidak sebebas dulu lagi, jadi ya yang mau naik panggung agak kurang minat. Makanya sekarang semakin jarang orang nanggap tayuban, Lha wong udah gak seru lagi,” kata Kardi.
Kardi mengaku dalam sebulan terakhir ini istrinya baru dapat 3 kali manggung. “ Itu pun sawerannya gak banyak,” katanya.
“Bayangin mas, nayub semaleman cuma dapat sejuta,” kata Kardi.
Hatiku terus tergelitik ingin menanyakan gimana rasanya kalau istrinya aku tiduri. Sampai akhirnya waktunya kurasa tepat, kulepas pertanyaan yang bikin penasaran sejak aku berangkat dari Jakarta.
“Ya gak apa-apa toh mas, disini sudah biasa ,” jawabnya sambil tertawa.
Sebetulnya jawabannya itu sudah cukup tetapi aku masih penasaran, maksudnya gak apa-apa gimana itu .
“Ya sebelum jadi istri saya dia kan juga sudah terbiasa sama laki-laki lain. Saya pun mau mengawini Warni kan berarti harus bisa menerima keadaannya, iya toh” kata Kardi.
Dari obrolanku yang seru itu ku ketahui pula bahwa meski Warni boleh main dengan laki-laki lain , tetapi Kardi tidak boleh nyeleweng. Aneh juga ya.

Penjelasan Kardi ternyata sederhana, “ Kalau laki-laki nyeleweng ongkosnya besar mas, tapi kalau istri nyeleweng, hasilnya lumayan mas,” kata Kardi sambil tertawa. Istrinya yang duduk di samping Kardi tersenyum malu sambil mencubit dan memukul bahu Kardi.
Warni seperti umumnya wanita desa menggunakan kebaya dan jaritan. Belahan baju kebayanya sangat rendah sehingga buah dadanya yang terhimpit menampilkan pemandangan celah dan sedikit gundukan payudara. Kutaksir umurnya belum mencapai 30 tahun. Ternyata memang benar umurnya baru 28 tahun. Dia kawin dengan Kardi dengan status janda. Anaknya yang pertama hasil perkawinan dengan suaminya pertama. Dia dinikahi ketika masih umur 13 tahun, ketika itu katanya baru lulus SD. Tidak lama kemudian hamil dan lahirlah anak pertamanya yang perempuan.

Kami ngobrol banyak bertiga sampai anaknya pulang sekolah. Seorang gadis kecil dengan seragam putih biru mendekat lalu menyalamiku dengan mencium tangan. “Diah oom,” katanya ketika kutanya namanya. Gadis manis baru tumbuh dengan rambut lurus sebahu. Dia lalu berlalu masuk ke belakang. Tidak lama kemudian datang lagi anak berseragam SD dan menyalami ku juga. Dia menyebut namanya Herman.

Aku gundah juga rasanya. Memikirkan bagaimana keluarga ini lengkap dengan anaknya berdiam di satu rumah lalu menerima tamu yang kemudian tidur dengan ibunya. Mungkin benar juga kata pepatah “ alah bisa karena biasa”
Kulirik jam di tangan menunjukkan jam 2 siang. Aku mengambil inisiatif mengeluarkan 4 lembar lima puluhan kuserahkan ke nyonya rumah. “ Ini untuk beli bahan makanan, untuk makan nanti malam,” kataku.
Warni kelihatan bingung menerimanya. Suaminya juga terdiam sesaat. “Mas e mau makan apa toh kok uangnya banyak bener,” kata Warni.
“Ah apa saja lah, kalau susah cari belanjaan ya belikan saja sate ayam, katanya sate Blora enak,” kataku memberi jalan.
“Wah di desa sini gak ada yang jual sate,” kata sang istri.
“ Wis tak golekne, gampanglah,” kata Kardi.
Mereka berdua lalu masuk ke belakang. Mungkin mereka berembuk mau dibelanjakan apa uang itu.
Tak lama kemudian Kardi keluar sudah mengenakan jaket. Dia permisi mau keluar cari makanan untuk nanti malam. Aku sekalian memesankan agar jangan lupa membeli kopi.
Kardi berlalu dan Warni menemaniku di depan.

“Mas e apa gak cape dari Jakarta kok belum istirahat, Kalau mau istirahat monggo nanti saya pijetin biar badannya lemes, “ kata Warni.
Aku antara segan dan ingin juga menanggapi tawaran Warni. Akhirnya aku tidak bisa nolak setelah tanganku digandeng. Rasanya malu sekali, karena warni menggandengku masuk kamar sementara kedua anaknya melihat kami. Di dalam kamar aku diberi sarung dan aku mengganti pakaianku dengan kaus oblong. Rasanya setelah pakai sarung aku jadi kebelet buang air kecil.
Aku permisi ke Warni ke kamar mandi. Di kamar mandi aku membayangkan apa yang akan terjadi di dalam kamar nanti ya. Apa bisa eksekusi, atau aku harus menahan diri, karena waktunya sempit. Ah bagaimana nanti sajalah. Setelah buang air aku membersihkan seputar kelaminku dengan sabun sehingga bekas keringat di lipatan selangkanganku baunya harum sabun.

Aku masuk kamar kulihat Warni sudah mengganti bajunya dengan hanya menggunakan kemben sarung. Buah dadanya jadi makin terlihat belahannya dan tonjolan ke atas. Kelihatannya dia tidak mengenakan BH di balik sarungnya. Baru membayangkan gitu saja senjataku langsung bereaksi.
Aku diminta membuka kaus, sehingga tinggal sarung dan di dalamnya masih ada celana dalam. Aku langsung mengambil posisi telungkup.
Warni memulai pijatan dari bahu menggunakan pelicin minyak kelapa yang dicampur dengan kayu putih. Harus diakui pijatannya mantep banget. Terlepas dari masalah birahi, tetapi pijatannya sudah sangat memuaskan. Otot yang kaku, katanya dia urut sampai rasanya nikmat sekali. Setelah bagian punggung, pinggang, Warni melonggarkan sarungku dan ditariknya ke bawah. Tangannya memijat bongkahan pantatku dan entah memang cara dia memijat begitu atau ada maksud lain, tetapi kedua ibu jarinya masuk ke dalam celana dalamku dan mengurut belahan pantatku sampai hampir mengenai biji.
Sarungku ditarik kebawah dan dilepas. Giliran kedua kakiku merasakan urutan tangan lembutnya yang cukup bertenaga.

Aku tinggal bercelana dalam. Warni mengangkangiku dia duduk di bongkahan pantatku. Aku merasa dia duduk di atas pahaku tanpa penghalang sarung. Posisi duduknya makin ke atas seiring dengan pijatan ke bahuku. Aku berkosentrasi bukan pada pijatannya yang memang sangat nikmat, tetapi aku mengerahkan konsentrasi ke syaraf perasa dipungungku. Rasanya Warni tidak mengenakan celana dalam, karena di punggungku terasa gerusan bulu-bulu jembut. Membayangkan itu, senjataku makin mengeras. Untung saja posisinya tadi tegak keatas, sehingga jika memuai tidak sampai menyakitkan.

Aku masih menikmati gerusan bulu jembutnya di punggungku, Warni kemudian memintaku berbalik posisi menjadi telentang. Tanpa minta izin dariku, celana dalamku dia tarik kebawah dan dilepas dan digantung di balik pintu. Senjataku tegak mengeras. Warni senyum-senyum melihat senjataku siap tempur. Dia memijati kedua kakiku lalu merambat keatas sampai ke selangkangan dan dia berusaha tidak menyentuh bagian-bagian sensitif di selangkanganku. Mungkin juga karena tangannya sedang penuh dengan minyak kelapa yang bercampur minyak kayu putih. Bisa-bisa aku belingsatan ke pedesan jika larutan minyak kayu putih mengenai bagian vitalku. Warni kembali mengangkangiku dan selangkangannya langsung berhadapan dengan senjataku Aku merasa belahan memeknya berada tepat di batang penisku. Pantatnya maju mundur mengikuti gerakan pijatannya. Sensasi yang luar biasa dan aku sudah merasa terbang ke awang-awang dan sama sekali lupa bahwa kini sedang berada di desa. Keahlian Warni patut aku acungi jempol. Dengan halusnya dia bisa menempatkan ujung penisku ke lubang memeknya dan gerakan lembutnya membawa penisku perlahan-lahan memasuki lubang vaginanya.

Aku semakin melayang menikmati gelombang birahi yang dipacu oleh olahan Warni. Dia tidak lagi memijatku, tetapi pinggulnya dia gerakkan memutar, sehingga penisku terasa seperti dibetot-betot. Aku harus akui ketrampilan Warni memainkan penis di dalam memeknya memang luar biasa. Jujur saja aku belum pernah merasakan sensasi seperti ini, walau dalam dunia perlendiran aku sudah mencapai tingkat Suhu. Air maniku seperti disedot oleh gerakan memeknya. Dia bisa membuat lubang memeknya seolah-olah vakum. Biasanya aku merasa hisapan ini jika dioral, karena memang penisku disedot. Namun kali ini vagina yang menyedot, dan nikmatnya jauh melebihi hisapan oral. Aku benar-benar tidak mampu bertahan oleh olah birahi Warni sehingga dalam waktu singkat jebollah pertahananku. Aku terpaksa mengaku kalah, karena kelihatannya dia belum mencapai orgasme. Ah apa peduliku, aku kan memang yang harus dilayani, batinku mencari pembenaran atas kekalahanku.

Warni meraih tissu dan dengan hati-hati melepas memeknya dari penisku yang mulai menyusut. Dengan cekatan dia menyumpal memeknya dan beringsut keluar dari ranjang lalu jongkok dilantai. Kulihat air maniku tumpah semua ke lantai. Warni membersihkan sisa-sisa spermaku dan membersihkan lantai dari ceceran spermaku. Handuk basah yang rupanya sudah dia persiapkan digunakan untuk membasuh alat vitalku sampai bersih benar. Aku diam saja terbujur. Tubuhku lalu ditutupi dengan sarung dan Warni beranjak keluar kamar membawa handuk kecil dan tissu yang penuh dengan spermaku. Dia kembali mengenakan kemben sarungnya.
Nikmat sekali permainan Warni sehingga aku benar-benar mencapai kepuasan yang luar biasa.
Tidak lama kemudian warni sudah kembali sambil menenteng ember kecil dan handuk. Badanku diseka dengan handuk hangat sampai terasa minyak kelapa dibadanku hilang. Terasa segar. Warni lalu menaburi bedak talk ke sekujur tubuhku. Penisku masih tidur melemas.

Warni menjalankan episode berikutnya dia berlutut diantara kedua kakiku lalu mulutnya langsung menghisap penisku yang masih kuyu. Permainan kombinasi antara hisapan dan jilatan ke sekujur alat vitalku berhasil membangunkan kembali penisku sehingga perlahan-lahan kembali mengembang. Tidak hanya penisku yang dia terapi, tetapi sampai ke lubang anusku dia jilati dengan telaten. Aku kembali merasa terbang ke awang-awang. Aku tergerak menggapai kedua buah dadanya yang montok sekali. Simpul sarungnya kulepas dan terlihatlah bongkahan tetek besar mengantung di dadanya. Aku meremasnya perlahan-lahan dan memelintir kedua putingnya yang mengeras. Mungkin puting itu adalah bagian kelemahan Warni sehingga dia mendesis ketika putingnya kupelintir perlahan-lahan.

Kutarik badannya ke atas sehingga kedua buah dadanya menggelantung tepat diatas mulutku. Aku hisap putingnya sebelah kiri dan kanan bergantian. Warni makin mendesah-desah. Kubalik posisinya sehingga dia kini berada dibawah. Aku menindihnya. Tanganku menggapai belahan memeknya yang terasa berlendir. Aku mencuri-curi mencium tanganku yang terkena lendir memeknya. Tidak terasa ada bau yang menganggu. Aku menyimpulkan dia cukup pandai menjaga kebersihan alat vitalnya dan yang terpenting memeknya sehat.

Dari menghisap kedua putingnya aku terus melorot kebawah menciumi perutnya yang tebal, tapi kelihatan cukup terawat karena tidak sampai membuncit dan tidak pula terlihat guratan-guratan putih seluloid.
Bulu jembutnya sangat lebat, sehingga aku terpaksa menguak kedua belah bibir memeknya agar aku bisa menemukan belahan memeknya. Di dalamnya terlihat warna merah merekah. Ujung lidahku mencoba menyentuh benjolan kecil clitorisnya. Warni terjingkat ketika ujung clitorisnya tersentuh. Mulutku langsung membekap ke belahan memeknya dan lidahku beroperasi menyapu clitorisnya.

Warni tanpa rasa malu merintih-rintih. Suara rintihannya pasti terdengar sampai keluar, tetapi kelihatannya dia tidak peduli. Clitorisnya makin mengeras dan mungkin makin terasa sensitif. Aku berkosentrasi menjilati seputar clitorisnya sampai dalam waktu tidak terlalu lama dia mencapai orgasme. Sekujur daging memeknya berkedut-kedut melampiaskan gelombang orgasmenya.

Setelah terlihat reda, kedua jariku, jari tengah dan jari manis aku susupkan masuk ke dalam vaginanya. Aku mencari titik yang disebut Gspot. Ada bagian yang terasa lembut agak menonjol di dinding atas lubang vaginanya. Bagian itu aku raba dengan sentuhan halus berkali-kali. Mulanya tidak ada reaksi, tetapi lama-lama Warni mulai mendesis. Dia mulai merasakan nikmatnya rangsangan Gspotnya. Kedua jariku kutarik-tarik keatas seolah mengangkat badan Warni berstumpu di lubang vaginanya.

Dia makin keras merintih sejalan dengan gerakanku yang makin cepat. Kedua tangannya meremas-remas sprei sampai akhirnya dia berteriak dengan mengatakan “Aduuuuuuuhhhhhh”. Bersamaan dengan itu terlihat muncratnya cairan kental dari lubang kencingnya. Sebagian mengenai mukaku. Memeknya memuncratkan cairan kental sekitar 5 kali sampai akhirnya Warni terkulai lemas. Sementara itu kedua jariku masih terbenam di dalam lubang memeknya dan tadi merasakan denyutan menjepit. Beberapa saat kemudian kuulangi gerakan kedua jariku. Warni langsung mendesis kembali dan dia tampaknya tidak mampu bertahan meredam kenikmatan dan kembali dalam waktu singkat mencapai orgasmenya. Percikan cairan kental masih ada, tetapi pancarannya tidak sejauh seperti yang pertama tadi.

Aku terus melakukan berulang-ulang sampai Warni mencapai 5 kali orgasme dengan cara begitu. Dia minta-minta ampun karena rasanya lemas sekali katanya. Namun walau dia sudah minta ampun pada seranganku yang kedua, dia tetap bisa mencapai orgasme sampai akhirnya orgasme yang kelima, cairan kental itu hanya meleleh saja. Warni kelihatan sangat kelelahan. Giliranku kemudian menuntaskan permainan dengan membenamkan penisku ke dalam memeknya. Penisku bukan berukuran besar, normal-normal saja dengan panjang 15 cm. Tetapi ketika berada di dalam lubang vaginanya terasa tercengkam.

Terasa sekali penisku seperti digenggam vaginanya. Denyutan otot vaginanya menimbulkan sensasi yang luar biasa. Aku tidak menyangka memek Warni yang berbadan agak subur ini bisa begini menggenggam. Meskipun memeknya becek, tetapi kesannya tetap mencengkeram dan sempit. Aku terus menggenjot dan berusaha menggerus Gspotnya di dinding atas lubang vagina. Permainanku agak lama karena di ronde kedua memang normalnya durasiku lebih panjang. Warni sudah kelojotan berkali-kali dengan orgasmenya sampai dia memohon-mohon agar aku menyudahi permainan, karena dia merasa tidak kuat lagi. Tapi permohonannya itu tidak kuhiraukan sampai akhirnya kami mencapai puncak secara bersamaan.

“Ampun mas pinter sekali mainnya sampai aku lemes banget, gak tahu ini masih kuat berdiri apa enggak,” katanya.
Aku membantu membersihkan memeknya dari lelehan spermaku. Setelah penisku kubersihkan juga aku berbaring disampingnya. Warni sudah lebih dulu terlelap bahkan dia mendengkur halus.

Aku tidak tahu berapa lama kami tertidur, tetapi ketika sadar, kulihat diluar sudah gelap. Aku bangun untuk kembali mengenakan celana dalam, sarung dan kaus oblongku. Warni ikut terbangun kemudian dan dia kembali mengenakan kemben. Warni kelihatannya sudah segar kembali meski matanya sayu seperti terlalu lelah. Dia menawariku untuk mandi. Badanku memang terasa lengket oleh bekas keringat. Aku menyiapkan baju ganti berupa celana panjang dan kaus oblong serta handuk. Aku mendahului masuk ke kamar mandi.

Ah tidak peduli apa orang bisa melihat aku di dalam mandi telanjang apa tidak. Aku santai saja telanjang dan membasahi seluruh tubuhku dengan air segar. Aku terkejut karena tiba-tiba terasa ada orang masuk kamar mandi. Ternyata Warni yang masih berkemben sarung ikut masuk. Dia melepas sarungnya sehingga ikut bugil juga. Aku yang tidak terbiasa dengan kamar mandi yang tak berpintu agak gentar juga, karena kalau ada yang melintas di depan pintu kamar mandi pasti bisa melihat kami berdua bugil. Tapi aku mencoba tidak peduli dengan rasa malu itu. Nyatanya Warni dengan santai mengambil gayung langsung membasahi seluruh tubuhnya. Dia mengambil sabun dan menyabuni seluruh tubuhku seperti dia memandikan anaknya.

Penisku sempat dikocok-kocok sebentar yang masih berada pada posisi lemas. Warni tertawa lalu melanjutkan menyabuni dirinya. Aku tidak berani macam-macam di kamar mandi yang rawan ini. Jadinya aku benar-benar hanya melakukan aktifitas mandi normal. Kami selesai bersamaan dan keluar kamar mandi juga bersamaan. Bedanya aku mengenakan celana panjang seperti celana sport dan kaus oblong putih, Warni tetap dengan kemben sarungnya. Setelah bersisir sejenak aku menuju ruang tamu. Disana sudah tersedia Coffe mix hangat dan pisang goreng. Perutku memang agak lapar, setelah pertempuran dua ronde tadi. Meski tanpa dipersilakan aku gebet saja pisang kepok goreng yang masih hangat. Siapa ya kira-kira yang menyiapkan ini semua, rasanya tidak mungkin Warni, karena dia baru saja bangun dan mandi bersamaku. Belum habis aku berpikir, muncul Kardi. “ Silakan mas, seadanya saja, maklum di desa,” katanya.

Dua potong pisang goreng aku lahap dan kopi susu hangat aku seruput sampai tinggal setengah gelas.
Aku berdiri dan mencoba melihat keadaan di luar rumah bagian depan. Di teras rumah ada amben, atau dipan bambu. Tampaknya enak juga duduk di situ karena udara segara pedesaan. Di luar kelihatan agak gelap. Keremangan hanya karena cahaya bulan yang mungkin sedang purnama. Aku ditemani Kardi duduk sambil menghisap rokok. Kardi memindahkan kopi ku yang tinggal setengah gelas lengkap dengan pisang gorengnya.

Dia bercerita bahwa dia sempat meluncur ke kota membeli sate seperti yang aku inginkan. Aku jadi merasa bersalah karena telah membuat dia bersusah payah mamacu sepeda motornya bolak-balik ke kota Blora. “ Ah gak apa-apa mas, saya sudah biasa , gak lama kok ke Blora,” katanya menjawab rasa bersalahku.
Tidak lama kemudian dari dalam terdengar suara istrinya menyilakan kami bersantap malam. Makanan dihidangkan di ruang dalam. Sebuah meja makan yang menempel di dinding hanya mempunyai 3 kursi. Aku dipersilakan mengambil tempat duduk. Aku memilih yang menempel dinding. Di meja terhidang sate ayam, lalu sate kambing dan sayuran seperti sayur bening tapi bukan bayam, melainkan kangkung. Nasinya ditaruh diwadah nasi yang terbuat dari anyaman bambu dan masih hangat. Kami bertiga makan bersama dan kedua anaknya ikut nimbrung. Mereka duduk di tikar sambil menonton televisi. Baru terlihat bahwa anak sulungnya ternyata cantik dan manis. Badannya khas ABG dengan tetek yang baru kelihatan masih kecil.

Tidak ada kesan mereka rikuh denganku walaupun mereka tahu bahkan mendengar desahan ibunya yang aku embat tadi siang. Selepas makan kami kembali ke ruang depan meneruskan obrolan. Tapi kali ini kedua anaknya ikut nimbrung, karena katanya besok mereka libur. Ya memang benar karena besok tanggal merah hari Jumat.

“Oom boleh liat HP nya,” tiba-tiba si ABG menegurku. Dia rupanya tertarik ketika aku mengeluarkan IPhone edisi terbaru. Aku sedang mengutak-atik melihat posisi ku di GPS.
Aku serahkan IPhone ku. Diamati dan dibolak balik. “ Kok gak ada keypadnya oom,” katanya.
“Oh ya itu memang touch screen” kataku.
“Apa itu oom, ajarin dong, “pintanya sambil mendekat dan duduk menghimpitku.
Aku menunjukkan berbagai feature di HP itu. Lalu aku buka game balapan mobil dan menunjukkan cara memainkannya. “ Wih asik banget lho dik katanya beranjak menjauhiku dan menunjukkan kepada adiknya. Mereka berdua lalu asyik tenggelam memainkan HPku.
Ibunya berkali-kali wanti-wanti agar hati-hati jangan sampai rusak.
“Diah itu lho mas, sudah lama dia minta dibeliin HP, anak sekarang kecil-kecil kemauannya udah banyak. Saya saja gak punya HP, e eh kok malah dia pengen punya HP segala, “ kata Warni.
“Emangnya Diah pengen HP yang kayak apa, “tanyaku menegur Diah yang sedang asyik.
Tadinya sih pengin BB Oom, tapi yang ini kok lebih keren.
“Wah kalau kayak punya Oom itu nanti kalau rusak di sini gak ada yang bisa service, paling nggak mesti dibawa ke Solo, “ jawabku.
“Emangnya oom mau beliin Diah HP ya Oom,” katanya setengah manja.
“Boleh aja sih asal jangan yang mahal-mahal, “ kataku.
“Asyik…..” katanya sambil terus bermain dengan Iphone ku.
Ketika kami sedang asyik ngobrol, Diah bangkit dan langsung duduk di pangkuanku. Aku jadi serba salah pada posisi begini. Mau menolak, rasanya ngak enak, mau membiarkan juga serba salah kepada orang tuanya. “ Oom jadi belikan Diah HP, gak usah yang mahal-mahal deh buatan China juga gak apa-apa, yang penting keren,” katanya sambil menyandar.
Ibunya langsung bereaksi,” nduk ngopo kok njaluk pangku karo Oom, nggak sopan ii.”
“Ben wae wong Oom arep nukokno HP, yo oom yo,” katanya dengan nada manja.
Ayahnya diam saja tidak bereaksi.

Yang beraksi justru senjataku tertindih bokong Diah yang terasa empuk. Diah malah menarik kedua tanganku agar memeluk pinggangnya. Kemauannya kuturuti saja, sambil mengatur posisi pangkuannya agar tidak terlalu menjepit senjataku yang mulai terkokang. Senjataku mengeras diantara belahan bokongnya. Mestinya Diah merasa ada perubahan dari landasan yang diduduki, tetapi dia diam saja sambil terus melendot.

Aku jadi bingung harus bereaksi bagaimana menerima suguhan ABG yang tiba-tiba berada di pangkuanku.
Selanjutnya aku terjemahkan saja dialog dalam bahasa Indonesia. “ Bu malam ini aku ikut dong bobo sama oom, masak ibu saja yang keenakan, aku kan juga mau,” kata Diah.
Aku terkejut dengan spontanitas Diah, sehingga tidak bisa bereaksi menanggapi pernyataannya itu.
“Kamu gila apa, masih kecil mau ikut-ikutan, “ kata ibunya agak sewot.
“Lho ibu dulu kan malah lebih muda dari aku sudah kumpul sama laki-laki,” kata Diah.
Rupanya dia mengungkap rekam jejak ibunya yang pada umur masih sangat muda sudah menikmati hubungan dengan laki-laki.
“ Kapok kamu bu, anak sekarang pinter-pinter,” kata Kardi.
Ibunya memerah wajahnya, entah karena malu atau karena marah, tetapi dia terdiam sejenak.
“Ah oom mu belum tentu mau bobo ama kamu, kok kamu GR,” kata ibunya kemudian.
“ Mau ya oom,” kata Diah sambil menempelkan pipinya ke pipiku.

Aku berpikir keras, bahwa kedepan ini kejadian diluar skenario. Jika memang aku jadi meniduri Diah, berarti dia masih perawan. Tidak pantas rasanya aku mengeluarkan duit sama besarnya dengan yang bakal kuberikan kepada ibunya. Kupikir empat kali lipat rasanya cukup memadai. Sambil berpikir begitu, senjataku makin mengeras di bawah sana. Merasa ada yang mengganjal, Diah malah menggerakkan pantatnya untuk memperbaiki posisinya agar duduknya lebih nyaman. Posisinya jadi berubah. Rasanya ketegangan batangku mengganjal persis di belahan memeknya. Pikiranku jadi kacau kalau sudah terangsang.

Tiba-tiba ibunya angkat bicara. “ Ya sudah sana dulu deh kamu keluar sama adikmu, kami mau membicarakannya dulu.”
Dia berdiri menggandeng adiknya. Mereka berdua sambil membawa HP ku kelihatannya berjalan meninggalkan rumah, mungkin ke rumah tetangganya untuk memamerkan HPku ke teman-temannya.

Sepeninggalan Diah, Aku, Kardi dan Warni berembug. “ Gimana itu mas,” katanya bertanya kepadaku.
“Aku sih monggo saja nurut keputusan keluarga kalian,” kataku dalam bahasa Indonesia campur Jawa.
“Bapaknya, gimana,” tanya Warni ke Kardi.
“Aku sih gak masalah, wong di kampung sini anak seumuran Diah sudah banyak yang jadi janda,” katanya pula.

Dari pembicaraan itu aku menangkap mereka tidak punya alasan menolak keinginan Diah. Berarti aku berpeluang menikmati perawan.
“Lha terus gimana caranya,” kata Warni yang masih diliputi kebingungan.
“ Ya mbok kamu ajari, cara melayani laki-laki yang benar. Itukan lebih baik dari pada dia nanti salah dan nggak tau apa yang bakal dialami” kata Kardi.
Aku tidak menyangka orang di desa yang jauh dari keramaian ini bisa berpikiran demikian terbuka.
“Gimana mas,” tanya Warni ke aku.
“ Bener kata suamimu, Diah kan masih hijau, dan belum ngerti, jadi dia kayaknya perlu tuntunan.” kataku.
“ Lebih bagus diperawani sama si oom, daripada dia main sama orang desa yang gak jelas, emangnya kamu bisa njaga anakmu siang malam agar tidak dibujuk laki-laki kampung,” kata si Kardi.
Warni terdiam, mungkin dia terpengaruh juga dengan kata-kata Kardi yang terakhir.
“ Iya ya Diah akhir-akhir ini banyak teman lakinya, mondar-mandir naik motor gak jelas juntrungnya,” kata Warni.

Kata kesepakatan tercapai, keluarga ini akan menyerahkan keperawanan anaknya kepadaku. Mereka sama sekali tidak menyinggung soal berapa nanti uang yang akan aku berikan kepada mereka. Masalah uang bagi orang desa seperti mereka merupakan hal yang sensitif dan membicarakannya adalah hal yang tidak sopan. Padahal aku sudah siap dengan jawaban seandainya mereka menanyakan jumlah yang akan kuberikan nanti.
Warni masuk ke dalam dan tidak lama kemudian dia membawa 2 cangkir kopi. Keteganganku berangsur-angsur pulih oleh siraman kopi ke dalam tenggorongan. Entah karena kopinya memang enak, atau memang suasananya lagi mendukung, aku merasakan kopi yang dibuat Warni kali ini nikmat sekali.
Aku melirik jam di tangan sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tak lama kemudian muncullah dua anak itu kembali dari rumah tetangganya. Warni lalu menarik Diah kelihatannya mereka masuk ke dalam kamar. Cukup lama Warni berbincang dengan anaknya. Sulit aku tebak apa yang dibicarakan, tetapi mungkin kira-kira ya pengarahan bagaimana Diah harus bersikap ketika berhadapan denganku.

Aku berdua meneruskan obrolan dengan Kardi, yang banyak mengungkap soal kawin muda di desa ini dan hamil di luar nikah. Dari dalam rumah muncul Warni yang sudah berganti busana dengan kemben sarung lalu menggandengku masuk. Sebelum masuk ke kamar aku minta izin untuk ke kamar mandi membuang hajat kecilku dan sekalian membersihkan selangkanganku dengan sabun agar baunya harum.
Terus terang aku berdebar-debar juga menghadapi situasi yang tidak aku bisa diprediksi. Skenario apa kira-kira yang akan dilaksanakan malam ini di kamar.
Warni masih menunggu di luar pintu kamar tidur. Ketika aku muncul dia langsung menggandengku masuk kamar.

Suasana di dalam kamar sudah remang-remang. Dari luar kelambu aku menangkap bayangan Diah tidur berbujur dengan hanya mengenakan sarung. Warni menyerahkan sarung agar aku kenakan. Aku membuka semua pakaianku dan meninggalkan celana dalam saja lalu mengenakan sarung yang aku ikatkan dipinggang. Warni mengarahkan agar Diah bergeser ke pinggir. Aku diposisikan ditengah.

Aku diminta telungkup oleh Warni. Dia kemudian membangunkan anaknya dan menyuruhnya menggosok punggungku dengan hand and body lotion. Warni mengajari anak gadisnya memijat bagian belakang pungungku. Dia berkali kali memberi contoh mengenai bagaimana cara memijat punggung yang benar serta urat-urat mana yang harus diperhatikan. Tangan Diah terasa kecil dan gerakannya memang belum terlalu nikmat. Setelah bagian punggung dan bahu kemudian bagian bongkahan pantat. Sarungku dipelorotkan sehingga tinggal celana dalam.


Pijatan sudah meliputi kedua kaki lalu aku diminta berbalik. Bagian dada di urut pada giliran pertama. Warni memberi tahu posisi badan ketika memijat bagian dadaku Warni memberi contoh menduduki bagian vitalku. Aku merasa Warni tidak bercelana dalam, karena jembutnya terasa menggerus. Dia hanya sebentar lalu mengarahkan anaknya duduk seperti dirinya di atasku.

Mulanya posisi duduk Diah masih terhalang sarung. Rupanya Warni memperhatikan posisi kain sarung Diah sehingga dia berusaha memperbaiki posisi sasrung anaknya. Kain sarung anaknya disingkap di bagian bawah ,sehinga aku merasa batangku yang masih terbungkus celana dalam menyentuh selangkangan Diah. Aku merasa Diah sudah melepas celana dalamnya, tetapi aku tidak merasa ada bulu-bulu yang menggerus tubuhku.

Pijatan terus mengarah kebawah lalu ke bagian kaki. Selesai bagian kaki. Warni mengajari anaknya menarik kebawah celana dalamku. Kedua tangan mungil itu meraih kedua sisi celana dalamku dan meloloskannya dari kedua kakiku. Senjataku langsung tegak berdiri. Tangan Warni yang dipenuhi hand body menggenggam batang penis dan menunjukkan ke Diah cara merangsang penisku. Warni mengocok beberapa gerakan penisku. Aku langsung merasa kenikmatan yang tinggi. Giliran berikutnya tangan mungil Diah menggenggam penisku yang mengeras. Kocokannya belum terasa nikmat, tetapi sensasi digenggam oleh ABG menambah rangsangan.

Warni memerintahkan anaknya untuk mengulum. “ Dilomot nduk,” kata Warni. Diah bingung atas perintah ibunya. Ibunya mengambil oper dan mencontohkan bagaimana mengulum batang penisku dan menjilati kedua biji zakarku dan menghisap-hisapnya.

Dengan agak ragu Diah mengikuti ajaran ibunya. Kuluman mulut kecil ini meski belum mahir tetapi sensasinya yang membakar birahiku makin panas. Jilatan-jilatannya masih kaku. Aku sudah terbang ke awang-awang melihat Diah mengulum penisku dan menjilati kedua bijiku. Tapi aku masih mampu bertahan agar tidak jebol. Sekitar 10 menit mereka berdua bergantian melakukannya. Warni memerintahkan anaknya membuka sarungnya dan berbaring .

Aku bangkit untuk memberi ruang di tengah ranjang. Meski penerangan remang-remang, tetapi aku bisa melihat cukup jelas seluruh tubuh Diah yang bugil. Teteknya masih kecil, mungkin baru tumbuh setahun yang lalu. Puting susunya masih sangat kecil, seperti puting laki-laki.
Aku mencium bibirnya dan mengulum dan mempermainkan lidahku ke dalam mulutnya. Mulanya Diah diam saja dan kaku, tetapi tuntunan dari rangsangan birahinya kemudian dia mulai membalas ciumanku. Dia mulai beringas dan nafasnya makin memburu.

Birahi Diah sudah mulai terbakar. Ini adalah hal penting yang kuinginkan, Sebab jika ABG belum bangkit birahnya, seluruh tubuhnya akan merasa geli jika disentuh laki-laki. Sehingga kalau dia belum terangsang, dia tidak akan tahan kegelian ketika aku jilati kedua puting susunya.

Ciumanku lalu beralih ke telinga kiri dan kanan. Kedua simpul birahi ini akan berdampak menaikkan rangsangan. Selanjutnya lehernya dan terus ke bagian dadanya. Diah menggeliat-geliat menerima seranganku. Ketika kedua putingnya kujilati dan kuhisap pelan, Diah menggeliat-geliat. Mungkin dia menahan rasa geli dan juga merasakan nikmatnya rangsangan yang aku lakukan.
Setelah puas meremas halus dan menciumi kedua susu kecil ciumanku terus kebawah dengan mampir sebentar ke seputaran pusarnya yang berbentuk indah.

Giliran berikutnya adalah selangkangannya. Warni membantuku melebarkan kedua kaki Diah. Aku tidak langsung menjilat belahan memeknya. Memeknya baru berbulu beberapa lembar. Gundukan memeknya, yang dalam istilah bahasa Jawa disebut “mentul” aku sapu sekelilingnya dengan lidahku. Diah mengejang-ngejang sambil menarik dan mencengkeram sprei. Lidahku mulai menjilati belahan memeknya yang masih rapat. Diah makin menggeliat. Dengan kedua tanganku aku menguak belahan memeknya. Kelihatan celah itu sudah dibasahi oleh lendir. Baunya tidak ada, malah terasa harum wangi sabun. Lidahku memulai jilatan ke lubang vaginanya. Diah sudah makin menggeliat dan mengerah. Dia mengeluh geli. Ibunya berusaha menenteramkannya dengan ikut memegangi pinggul anaknya agar tidak terlalu banyak bergerak. Aku paham, anak seusia Diah belum terlalu siap menerima rangsangan di kemaluannya, makanya dia masih merasakan kegelian.

Lidahku mulai menyapu bagian pinggir clitorisnya. Aku merasa Diah sudah cukup terangsang karena benjolan clitorisnya sudah menonjol. Kalau aku jilat langsung ujung clitorisnya Diah tidak akan mampu menahan rasa gelinya, maka aku hanya menyentuh pinggir-pinggirnya saja. Diah mengerang-ngerang nikmat dan terus bergerak dan menggeliat. Ibunya masih memegangi pinggulnya dan minta ke Diah agar jangan banyak bergerak. Mulutku sudah menangkup ke memeknya yang relatif masih gundul. Tonjolan clitorisnya makin nyata terasa diujung lidahku. Aku mulai menjilati itilnya dengan gerakan lidah menyapu ke kiri dan ke kanan. Diah makin menggila mengerang dan pinggulnya terlonjak-lonjak sejalan dengan sentuhan lidahku ke clitorisnya. Tanda-tanda bahwa Diah akan mencapai orgasmenya sudah makin jelas terasa.

Dia diam sejenak, lalu tiba-tiba dia mengerang panjang dan bersamaan dengan itu seluruh bagian memeknya berdenyut-denyut. Lidahku tidak bergerak lagi, kecuali menekan lidahku agak keras ke bagian itilnya yang juga berkedut-kedut. Terasa cairan makin membanjir keluar dari celah memeknya. Mungkin dia juga berejakulasi seperti ibunya.
Warni bertanya ke Diah, “ Gimana Nduk rasanya,”
Diah diam sejenak. “ Nggak ngerti bu, rasane aneh banget kayak pengen pipis tapi gak bisa ditahan, tapi sumpah bu enak buanget, pantes ya ibu tadi siang ngrintih-ngrintih,” kata Diah.
Warni mempersiapkan anaknya untuk aku jebol keperawanannya. Aku bangkit mengambil jeli khusus untuk melicinkan jalan masuk penisku ke lubang vagina Diah.

Diah sudah dikangkang oleh ibunya dan dibawahnya dia lapisi kain putih dan di bawahnya masih ada lapisan kain batik. Aku melumuri seluruh penisku dengan jeli. Aku lalu melumasi belahan memek Diah dengan jeli sampai agak sedikit masuk ke liang vaginanya. Warni sempat bertanya apa yang aku olesi itu. Kuceritakan bahwa ini adalah cairan pelicin untuk mengurangi rasa sakit bagi perempuan yang baru pertama kali disetubuhi. Jeli memang bekal standarku seperti odol, sikat gigi dan handuk.


Aku mengambil posisi duduk bersimpuh di antara kedua kaki Diah. Ibunya mengingatkan Diah bahwa untuk pertama kalinya semua perempuan akan merasakan sakit dan perih ketika penis laki-laki memasuki memek. Dia minta Diah menahan rasa sakit itu, karena rasa sakit itu hanya sebentar.

Mendengar pengarahan ibunya Dia stres. Tarasa dia menegangkan otot di sekitar memeknya. Aku minta dia bersikap rileks, karena kalau ditegangkan akan terasa makin sakit. Kepala penisku aku geser-geserkan di permukaan lubang vaginanya. Aku menggeser-geserkan kepala penisku ke clitorisnya yang kelihatan agak mencuat. Hal itu rupanya bisa menaikkan lagi rangsangan ke Diah. Nafasnya kembali memburu. Cairan di belahan memeknya juga sudah mulai aktif, terlihat ada sedikit lelehan keluar dari dalam. Berarti vaginanya sudah siap diterobos. Aku menekan sedikit kepala penisku ke lubang vaginanya. Diah agak takut sehingga dia menegangkan ototnya. Aku memintanya kembali rileks. Posisiku yang bersimpuh agak kurang leluasa menekan penisku sehingga aku mengubah posisi merangkak. Warni membantuku memosisikan penisku di lubang kemaluan anaknya, sehingga aku hanya tinggal menekan saja. Terasa kepala penisku sudah menyelinap ke dalam belahan memeknya dan masuk ke lubang vaginanya. Jalannya sudah benar, tinggal meneruskan saja.

Diah meringis menahan rasa perih. Aku perlahan-lahan terus menekan penisku sehingga terus maju, sampai akhirnya menemukan halangan. Penisku bisa masuk sekitar 5 cm. Terasa agak seret untuk terus maju, sehingga aku melakukan gerakan maju mundur untuk melonggarkan lubang memeknya. Setelah gerakan maju mundur terasa lancar, aku kembali menekan sampai terhalang oleh selaput daranya. Aku berhenti pada posisi itu. Selanjutnya melakukan gerakan mengejan berkali-kali. Pertama kali Diah bereaksi sakit ketika aku mengeraskan penisku.

Namun selanjutnya dia tidak terlihat merasa sakit lagi. Aku terus mengejan sambil agak menekan maju. Selaput perawannya berhasil ku tembus dengan cara mengejan. Diah tidak menyadari bahwa pertahanannya sudah jebol, tetapi aku merasakannya karena terasa ada yang pecah diujung penisku. Selanjutnya ketika aku tekan, penisku terasa tidak adalagi yang menghalangi. Meski begitu aku tetap berhati-hati memajukan penisku. Aku terus melakukan gerakan mengejan sambil terus maju sedikit- demi sedikit.

Teknik mengejan itu seperti membukakan jalan dan melonggarkan lubang sempit, jadi ibarat penisku menguak perlahan lahan lubang sempitnya. Penisku berhasil terbenam seluruhnya. Pada posisi itu aku kembali mengejan berkali-kali. Diah mengatakan tidak terlalu merasa sakit. Aku menarik penisku perlahan lahan lalu kudorong lagi. Begitu berkali-kali sampai terasa lubang vaginanya bisa menerima ukuran penisku dan pelumasannya sudah sempurna. Meski begitu sensasi rasa sempit lubang vaginanya masih sangat terasa. Penisku seperti dipegangi oleh vagina Diah. Aku terus memompanya dan mencari posisi yang dia rasakan nikmat. Tentunya sasaranku adalah menggerus Gspotnya. Jujur saja kalau aku tadi siang tidak bertempur, pasti sekarang aku tidak mampu bertahan. Tapi karena penisku terasa agak imum, makanya aku mampu bermain agak lama.

Diah mulai mengerang-ngerang merasakan nikmatnya bersenggama. Erangannya itu membakar birahiku makin tinggi. “Aduh oomm, enaaaakk oom , aduuuuh ,” tiba-tiba dia mengejang dan kedua kakinya melingkar ke pinggangku dan seolah-olah meminta agar aku menghentikan gerakan. Aku benamkan dalam-dalam penisku dan berusaha menekan clitorisnya. Terasa denyutan di sekujur bagian dalam vaginanya. Aku tunggu sampai orgasmenya mereda.
“Aneh banget enak e sampai aku lemes bu, “ kata Diah ketika menjawab pertanyaan ibunya.

Warni rupanya sudah telanjang bulat. Dia berbaring di samping anaknya. Aku tidak meneruskan ronde kedua untuk Diah tetapi pindah lubang . Sebelum pindah, kain putih yang mengalasi pantat Diah aku raih dan aku bersihkan batang penisku dengan kain putih itu, Terlihat warna merah muda. Aku berpindah dan menancapkan penisku langsung ke memek Warni. Terasa lubang yang ini sangat longgar dibanding lubang tadi. Warni melawan gerakanku dengan pinggul memutar. Kosentrasiku jadi buyar, sehingga makin menjauhkan ejakulasiku. Aku minta berganti posisi, aku di bawah dan Warni bergejolak di atas. Posisi WOT ini makin memberi kemampuanku mengontrol menahan ejakulasiku.

Sementara itu Warni berusaha menemukan posisi yang dia rasa paling nyaman, sehingga tidak lama kemudian dia pun ambruk dan memeknya berkedut-kedut. Kuminta Warni menungging dan aku mencoblos dari belakang. Diah memperhatikan ibunya aku entot. Warni tidak peduli ditonton anaknya dia tetap saja mengerang-erang menikmati genjotanku. Posisi ini memudahkan penisku menggerus Gspotnya sehingga akhirnya Warni kembali mencapai orgasmenya. Dia mengeluh badannya lemas sekali dan menyerah tidak mampu lagi berada di posisi WOT.

Warni berbaring di samping anaknya. Aku menyaksikan dua tubuh telanjang ibu dan anak. Aku ingin menyudahi permainan ini dan untuk itu aku memilih lubang Diah. Aku pindah posisi dan mengangkangkan kaki Diah. Dia menurut saja. Perlahan-lahan kumasukkan kembali penisku ke dalam memeknya. Kali ini relatif lebih mudah karena aku juga kembali melumuri penisku dengan jeli. Tanpa halangan berarti penisku berhasil terbenam di memeknya. Sensasi memek sempit rasanya luar biasa. Aku mulai menggenjot pelan-pelan. Sudah 10 menitan aku melakukan gerakan sampai aku merasa lelah, tetapi, orgasme masih belum terasa tanda-tandanya. Dia ingin mencoba posisi WOT. Aku mengatur posisi dan penisku kembali bersarang di memeknya. Dia melakukan gerakan tidak beraturan , sampai berkali-kali penisku lepas dari memeknya.

Dia menemukan posisi kenikmatannya sampai akhirnya mencapai orgasme lagi lalu ambruk memelukku.
Aku balikkan tubuhnya sambil berusaha menjaga agar penisku tidak sampai terlepas. Setelah itu aku berkonsentrasi untuk meraih orgasmeku. Berkat konsetrasi dan bantuan erangan Diah orgasmeku makin dekat. Menjelang ejakulasi kucabut buru-buru lalu kulepaskan diatas perut Diah.

Kuraih handuk lembab yang sudah disiapkan Warni. Dan kubersihkan sisa-sisa mani di penisku dan kubersihkan pula dua memek yang berlendir. Warni sudah terlelap dan mendengkur. Aku lalu mengatur posisi tidur dan menggeser mereka berdua agar agak merenggang. Ada celah sedikit diantara mereka aku lalu membaringkan diri. Warni dan Diah kuselimuti sarung dan aku tidur juga mengenakan sarung dengan bertelanjang dada.

Kami tertidur pulas.
Aku tersadar ketika mendengar kokok ayam jantan dan merasa geli di penisku. Ternyata penisku dijadikan sarapan oleh Warni. Setelah penisku tegang dia langsung mendudukiku dan mulai memacuku sampai akhirnya dia sendiri kecapean dan ambruk sambil memeknya berkedeut-kedut. Gerakan persetubuhan Warni membangunkan Diah sehingga dia menonton ibunya mengentotin aku.

Setelah Warni turun dari tubuhku, Diah ikut-ikutan pula mendudukiku dan memasukkan batang penisku ke memeknya. Mungkin memeknya belum begitu siap sehingga dia agak susah dan sakit. Kuraih jeli dan kulumari memeknya dan penisku dengan jeli. Dengan begitu dia jadi mudah menyarangkan penisku ke memeknya. Diah pun menggenjot penisku sampai dia akhirnya rubuh dengan memek yang juga berdenyut. Penisku lepas dari lubangnya dan Diah berbaring disampingku.

Sepeninggalan kedua lubang itu, penisku perlahan-lahan menyusut kembali. Aku tidak mau memaksakan berejakulasi lagi, apalagi diluar sudah terlihat agak terang.
Warni mengajakku bangun dan juga Diah disuruh bangkit. Kami bertiga menuju kamar mandi. Kuintip di ruang tamu Kardi masih mengorok dan anaknya Herman tidur dengan hamparan tikar di bawahnya. Kami mandi bertiga dengan air dingin yang segar. Aku puas meremas tetek besar Warni dan tetek mengkal Diah. Mereka berdua bermanja-manja denganku, sambil mengocok dan sesekali menghisap penisku. Ritual mandi kami jadi agak lama karena diselingin bergantian menghisap penisku. Penisku masih terus bertahan tidak mengeluarkan sperma.

Sampai akhirnya mereka bosan dan kami mengakhiri mandi yang rasanya hampir selama satu jam.
Aku masuk kamar dan mengenakan pakaian training dengan celana panjang dan kaus oblong. Warni membangunkan suaminya dan anaknya. Aku duduk di amben depan sambil menghisap rokok ditemani kopi panas. Nikmat sekali rasanya hidup ini.

Tidak lama kemudian Diah muncul dengan gelas kecil yang berisi dua telur ayam kampung setengah matang yang sudah digarami dan diberi lada sedikit. “Ini Oom untuk stamina kata ibu,” katanya. Kuseruput sekali saja langsung habis.

Iseng-iseng kuhubungi Roso pagi itu. Dia mengangkat telepon langsung bertanya, “Gimana.”
“Wah hebat aku dapat bonus malahan, “kataku.
“Bonus apaan,” tanyanya penasaran.
“Bonus buka segel,” kataku.
“Segelnya siapa,” dia tambah penasaran
“Anaknya,” kataku tenang.
“Wah uedann,” jawabnya.

Tidak lama kemudian Roso sudah muncul dibonceng Sastro.
Kami ngobrol sampai akhirnya terhidang nasi goreng.
Aku masuk ke kamar. Warni kutarik. Di dalam kuserahkan uang dua juta setengah, sambil kujelaskan bahwa yang limaratus untuk dirinya dan yang 2 juta untuk ganti keperawanan anaknya. Warni bertepuk tepuk kegirangan dan berkali-kali mencium uang yang dipegangnya lalu mencium pipiku.

Aku kembali bergabung dengan Roso di depan. Di otakku sudah ada skenario baru.
Aku mengajak Roso dengan pasangannya dan aku membawa Warni dan anaknya ke Solo untuk menginap semalam di kota itu. Aku ingin menikmati sensasi lain disana.
Usulku itu langsung disetujui Warni dan Diah, tetapi Roso masih bingung. Aku langsung menjawab kebingungannaya, pasti soal fulus. “ Sudah semua aku yang tanggung. “ kataku
Dia langsung menjawab “oke”

Kami berlima sudah duduk di dalam bus yang membawa ke Solo.
Di Solo aku memesan hotel terbaik di kota itu. Suite room untukku yang mempunyai conneting door dengan kamar Roso.
Seharian kami jalan-jalan ke Solo dan aku masih sempat membelikan sebuah HP untuk Diah.
Setelah lelah kami kembali ke hotel untuk istirahat. Kami semuanya terlelap sampai akhirnya terbangun hampir gelap.
“Gimana rencananya nanti malam acaranya apa,” tanya roso yang masuk ke kamarku.
“ Kita mengadakan acara tayuban yang eksotis,” kataku.
Aku sudah menyiapkan lagu tayuban dan kurekam dalam Iphone ku dan ada speaker kecil yang lumayan bagus suaranya.

Setelah makan malam, kami kembali ke kamar.
Semua berkumpul di kamarku. Aku menjelaskan acara tayuban yang akan kami gelar.
Bir sudah didinginkan di kulkas, semua sudah siap.
Lampu sengaja tidak kami redupkan.

Warni dan Rini yang memang ledek, langsung paham lagu-lagu yang mengumandang dari Iphoneku. Bedanya tayuban di kamar ini adalah para ledeknya harus bugil, tapi tetap mengenakan selendang.
Mulanya mereka agak canggung langsung bugil, jadi mereka masih bertahan dengan celana dalam dan BH. Diah ikut serta jadi ronggeng. Ketika lagu berkumandang Rini, Warni mulai bergoyang. Diah diajari ibunya menari sambil mengenakan selendang. Rini juga hanya mengenakan celana dalam dan mini setnya.
Aku dan Roso duduk di kursi hanya dengan mengenakan celana dalam.

Rini mengalungkan selendang ke Roso dan Warni serta Diah mengalungkan selendangnya ke aku. Kami berlima berjoget mengikuti irama musik.
Sambil menari aku dan Roso berkali-kali menggak bir sampai rasa di kepala agak nggliyeng.
Aku memeluk Warni sambil berusaha melepaskan kaitan bhnya. BHnya terlepas dan kuputar-putar diatas dengan satu tanganku. Buah dadanya yang besar bergoyang goyang seirama dengan gerakan tariannya. Roso mengikuti langkahku. Dari memeluk Warni aku memeluk Diah yang badannya agak kecil lalu kutarik ke atas minisetnya sehingga menyembullah tetek kecilnya. Aku bergantian memeluk Warni dan Diah tetapi aku memeluknya dari belakang sehingga kedua tanganku bisa meremas-remas kedua tetek mereka.

Puas bermain tetek aku menarik celana dalam mereka berdua bergantian sehingga keduanya bugil. Roso mengikuti, dan Rini kelihatan agak malu sehingga dia berusaha menutupi kemaluannya. Tapi itu berlangsung sebentar saja setelah Roso mengobel-ngobel memeknya, selanjutnya Rini lupa menutupi memeknya lagi.
Kami lalu begrganti pasangan aku memeluk Rini dan Roso memilih memeluk Diah terlebih dahulu sambil memainkan tetek dan memek gundulnya. Kemudian dia pindah ke Warni.

Tidak ada penghalang rasa malu lagi ketika celana dalamku ditarik Rini dan Warni menarik celana Roso. Penis kami berdua sudah mengacung. Warni merebut ku lalu dia memelukku lalu berjongkok di depanku dan menghisap penisku sambil terus menari. Dia lalu menarik anaknya untuk menghisap penisku juga.
Roso yang juga diisap Rini ingin pula merasakan kuluman Warni. Ditariknya penisku dari mulut Rini lalu disodorkan ke Warni. Dengan sigap Warni langsung menelan penis Roso, Sementara itu aku berpindah dari kuluman Diah ke mulut Rini.

Rini kusenderkan ke dinding dan satu kakinya kuangkat. Penisku kuarahkan ke memeknya dengan satu gerakan maju ambleslah penisku ke dalam memeknya. Aku menggenjotnya sebentar. Roso iri melihatku. Dia pun menyandarkan Warni lalu melesakkan penisnya ke memek Warni. Tarian kami sudah tidak karuan lagi, karena sudah tidak mengikuti irama lagu, tetapi mengikuti irama ngentot. Dari Warni Roso penasaran ingin merasakan memek kecil, dipeluknya Diah. Diah agak takut, tetapi setelah melihat anggukan ibunya dia melemas. Roso berkali-kali gagal memasukkan penisnya ke memek Diah. Mungkin karena tidak berhasil, dia memeluk Diah dan mengeretnya ke tempat tidur. Diah dibaringkan di tempat tidur dengan kaki tetap menjuntai lalu di melesakkan penisnya masuk ke memek Diah.

Sementara itu penisku yang maju mundur di memek Rini dalam posisi berdiri kedua bijiku diemut Warni dan lubang matahari ku dijilatinya. Aku ingatkan Roso agar jangan sampai melepas sperma di dalam memek Diah. Dia menggangguk lalu menarik penisnya dan melepaskan semprotan spermanya ke perut Diah.
Kami melakukan ritual tayuban bugil itu sampai jam 2 malam dan kami semua kelelahan.

Bed cover aku gelar di lantai dan kami tidur di atasnya berlima. Sebelumnya AC sudah kumatikan sehingga kami tidak kedinginan tidur dalam keadaan bugil.

Aku puas sekali malam itu bisa melakukan persetubuhan maraton berganti-ganti lubang. Keesokan paginya nafsuku sudah habis, sehingga jika biasanya bangun pagi penisku menegang, kali ini tetap lemas. Sementara itu Roso masih penasaran. Dia pagi itu melakukan persetubuhan maraton. Aku hanya duduk sambil telanjang menonton aksi life show.

Setelah sarapan di hotel, kami sempat berjalan-jalan sebentar ke kota Solo. Warni, Rini dan Diah kami lepas di terminal bus . Tadi waktu di hotel mereka masing-masing sudah kusumpeli uang sejuta-sejuta. Di terminal bus masih aku kasih ongkos duaratus-duaratus.

Kami kembali ke hotel untuk istirahat. Ketika kami sedang asyik, tiba-tiba no telepon Diah masuk. “ Oom ada yang ketinggalan, kami balik ke hotel lagi,”
Aku menjemput mereka di Lobby dan kembali masuk ke kamar. Rupanya tas Diah tertinggal di dalam lemari. Mereka menawar pulangnya besok saja, masih ingin menginap semalam lagi bersamaku. Aku tidak kuasa menolak, selain mengiyakan saja.

Aku telepon front office bahwa kamar masih diperpanjang sampai besok. Aku sudah sangat lelah sehingga minta mereka memijatiku.
Awalnya memang pijat tapi berakhir dengan ngentot juga. Sampai mereka pulang aku entah berapa kali melakukan persetubuhan dengan mereka bertiga.

T A M A T
Sungguh Puaskah Istri Anda ?