Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Tuesday, December 25, 2012

Pemerkosaan Yang Menggila II

Satu jam kemudian, Ronny dan Frans sedang berada di dalam mobil polisi yang sedang menuju ke salah satu stasiun kereta api.
"Hei Ron, kita kan sudah menempatkan beberapa orang polisi di setiap stasiun kereta api yang diperkirakan akan dituju Rico dan Tono. Untuk apa lagi kita menuju ke stasiun kereta api yang terakhir?" Tanya Frans.
"Yang saya takutkan adalah, mereka akan kabur dengan kapal laut di pelabuhan yang berdekatan dengan stasiun kereta api terakhir." Kata Ronny.
"Kapal laut? Kalau begitu mereka bisa saja.."
"Benar.. mereka bisa saja kabur ke luar negeri. Kalau mereka sempat kabur keluar negeri, maka kita akan semakin sulit menangkap mereka."

Sementara itu, di dalam kereta api yang sedang ditumpangi oleh Rico dan Tono.

Mereka sedang duduk di dalam salah satu gerbong yang hanya terdapat enam orang penumpang, termasuk Rico dan Tono. Saat-saat ini bukanlah masa liburan sehingga kereta api tersebut tidak banyak penumpangnya.

Tiba-tiba Rico berkata kepada Tono. "Hei, coba kamu lihat. Cewek yang duduk di seberang sana cakep juga loh."
"Yang mana." Kata Tono.
"Yang itu." Kata Rico sambil menunjuk ke arah cewek tersebut.
"Wah, OK juga. Bodynya juga mantap." Kata Tono.
"Hei Ton, bagaimana kalau kita memperkosa dia." Sebuah senyuman bengis terukir di bibir Rico.
"Tapi.. kejadian di gubuk tua waktu itu sudah ketahuan oleh polisi, dan mungkin polisi saat ini sedang mengejar kita. Apa tidak sebaiknya kita diam dulu untuk sementara." Kata Tono.
"Tenang saja. Begitu kita tiba di stasiun, kita langsung menuju ke pelabuhan dan kabur ke luar negeri. Polisi pasti akan sulit melacak kita."

Tono merenungkan perkataan Rico sejenak, kemudian dia berkata. "Baiklah kalau begitu. Tapi, bagaimana caranya kita membujuk cewek itu ke tempat kosong."
"Begini saja, kamu.." Rico lalu membisikkan rencana mereka di telinga Tono.

---//---

"Halo nona." Sapa Rico kepada gadis cantik yang tadi ditunjukkannya kepada Tono.
"Halo.." Kata cewek itu dengan ragu-ragu. "Apakah sebelumnya kita pernah berjumpa?"
"Oh tidak.. saya hanya lagi bosen, jadi saya sekalian mengajak nona untuk berbincang-bincang. Bolehkah saya duduk disini?" Kata Rico sambil tersenyum manis.
"Silahkan.. silahkan.." Kata cewek itu.
"Nama saya Rico. Bolehkah saya tahu nama anda?" Kata Rico.
"Saya Fitri." Balas cewek itu.

Rico lalu berusaha untuk bersikap ramah dan terus mengajak Fitri berbual-bual, sambil mencari kesempatan untuk mengajaknya ke gerbong paling belakang (gerbong yang kebetulan sedang tidak ada penumpang, dan Tono sedang menunggu disana.)

Setelah beberapa menit, Rico pun tidak punya bahan pembicaraan lagi. Saat dia sedang sibuk memikirkan cara untuk mengajak Fitri, Rico tidak sengaja melihat ke dada Fitri.

Saat itu Fitri sedang mengenakan pakaian serba hitam yang seksi. Kaos hitam ketat, rok mini hitam, serta stocking yang juga berwarna hitam.

Kaos Fitri yang ketat itu membuat payudaranya kelihatan sangat besar dan montok.

Melihat payudara yang sangat menggairahkan itu, Rico jadi lupa kepada rencana semula. Tanpa disadarinya, tangannya mulai meraba-raba paha Fitri yang halus itu.
Melihat hal ini, Fitri sangat terkejut. Dia spontan menepis tangan Rico sambil berkata dengan kasar. "Anda mau apa!"

Rico menjadi panik. "Celaka, rencana gagal!" Pikirnya. Namun pada saat ini, dia teringat kepada pisau belatinya yang selalu dibawanya itu. Dia lalu mengeluarkan pisau belatinya dan mengarahkan pisau itu ke pinggang Fitri sambil berkata dengan nada mengancam. "Kamu lihat belati ini. Kalau kamu berani menjerit, saya akan menusuk kamu."

Fitri terkejut setengah mati. Dia lalu memohon kepada Rico. "Jangan bang.. saya.. saya punya sedikit uang, ambil saja semuanya bang." Kata Fitri sambil mengeluarkan dompetnya dengan tangan yang gemetaran.
"Diam! Uang saja tidak cukup!" Kata Rico.
"Ka.. kalau begitu bang, saya juga punya beberapa perhiasan, ambil saja semuanya bang, tapi jangan lukai saya." Kata Fitri dengan suara gemetaran.
"Kamu belum mengerti juga ya non, yang saya inginkan adalah tubuh kamu." Kata Rico sambil meraba-raba paha Fitri dengan tangannya yang satu lagi yang tidak memegang belati.

Mendengar perkataan Rico, Fitri semakin takut dan panik. Keringat dingin pun mulai mengalir.
"Jangan.. jangan bang.. semua uang saya akan saya berikan.. tapi jangan perkosa saya bang.." Kata Fitri dengan nada memohon.
"Tubuhmu seksi juga non." Kata Rico sambil memasukkan tangannya ke dalam rok mini Fitri.
"Ah.. jangan disitu bang.. jangan.." Kata Fitri sambil menahan tangan Rico dengan kedua tangannya supaya Rico tidak dapat meraba lebih dalam lagi.

Rico lalu menusukkan belatinya lebih kuat sedikit, sehingga Fitri mulai merasakan rasa sakit di pinggangnya. "Ah.. sakit bang.. pisaunya jangan ditekan kuat-kuat bang."
"Lepaskan kedua tanganmu dulu, dan biarkan saya meraba pahamu." Kata Rico.

Fitri tidak punya pilihan lain. Dia pun tidak berani lagi menahan tangan Rico, sehingga sekarang tangan Rico bebas bergerak di dalam rok mini Fitri.

Gerakan tangan Rico di dalam rok mini Fitri membuatnya sesekali mendesah. "Ahh.. uuhh.. ahh.."

Sementara tangan Rico meraba-raba paha Fitri, mulutnya juga tidak tinggal diam. Rico mulai menciumi dan menjilati leher dan telinga Fitri.

Pada saat ini kereta api sedang berjalan pada kecepatan tinggi, sehingga erangan dan desahan Fitri tidak akan terdengar oleh penumpang lain karena tertutup oleh suara mesin kereta api yang cukup berisik.

Setelah puas meraba paha Fitri, Rico lalu memasukkan tangannya ke dalam kaos Fitri dari bawah dan mulai meremas-remas payudara Fitri, sedangkan mulutnya tetap menciumi dan menjilati telinga serta leher Fitri.

Mula-mula tangan Rico hanya meremas-remas BH Fitri, namun beberapa saat kemudian, Rico pun memaksakan jari-jarinya untuk masuk ke dalam BH Fitri yang lumayan ketat itu, dan mulai mempermainkan puting susu Fitri.

Beberapa saat kemudian, Rico lalu menyuruh Fitri untuk berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke gerbong belakang sambil diikuti oleh Rico. Belati Rico juga masih diarahkan ke punggung Fitri, untuk mencegahnya berbuat macam-macam. Rico juga berjalan berdekatan dengan Fitri, supaya penumpang lain tidak melihat belati yang sedang dipegang oleh Rico.

Melihat pantat Fitri yang bergoyang-goyang saat berjalan, Rico menjadi semakin bergairah, sehingga sesekali dia mengelus dan meremas pantat Fitri. Namun Fitri hanya diam saja, karena dia takut Rico akan menusukkan belatinya kalau dia berani macam-macam.

Tidak lama kemudian, mereka pun tiba di gerbong terakhir, dimana Tono sedang menunggu.

"Lama sekali kamu. Saya pikir rencana kita gagal." Kata Tono.
"Mana mungkin kita gagal." Kata Rico sambil tersenyum bengis.
"Baiklah, kalau begitu saya akan berjaga-jaga di pintu. Kalau ada orang yang ingin masuk, saya akan menghalanginya." Kata Tono. "Tapi ingat, waktumu cuma sepuluh menit, setelah sepuluh menit, gantian kamu yang jaga."
"Baiklah, baiklah." Kata Rico dengan tidak sabar.

Tono lalu berjalan ke pintu gerbong, dan saat dia melewati Fitri, dia meremas kedua dada Fitri cukup keras, sehingga Fitri mengerang kesakitan.
Setelah Tono keluar dari gerbong, Rico lalu mendorong Fitri hingga terjatuh di atas lantai, kemudian Rico pun langsung menghimpit tubuh Fitri sambil menciumi bibirnya dengan paksa.

Fitri tidak berani bertindak macam-macam. Dia hanya menurut saja saat bibirnya diciumi dan dadanya diraba-raba oleh Rico. Walaupun sebenarnya dia merasa jijik dan ingin muntah.

Setelah menciumi bibir Fitri, Rico lalu menciumi dagu Fitri, leher Fitri, dan kemudian payudara Fitri. Sementara tangannya dimasukkan ke dalam rok mini Fitri sambil meraba-raba pangkal pahanya.

Rico lalu menarik kaos Fitri serta BH nya ke atas, sehingga mencuatlah payudara Fitri yang besar itu. Mula-mula Rico meremas-remas kedua dada Fitri terlebih dahulu, kemudian dia memutar-mutar kedua puting susu Fitri dan menghisap keduanya secara bergantian.

Sebenarnya Fitri tidak ingin mengeluarkan suara desahan dan erangan, karena dia tahu hal itu akan membuat Rico semakin bergairah. Namun mulut Rico yang terus memain-mainkan puting susunya, serta jari-jari Rico yang mengelus-elus pangkal pahanya dengan gencar itu membuatnya tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Fitri pun akhirnya menjerit. "AHH.. OOhh.. aahh.."

Pada saat ini, vagina Fitri juga sudah mulai mengeluarkan cairan. Rico lalu melepaskan rok mini dan celana dalam Fitri, sehingga terlihatlah vagina Fitri yang penuh dengan bulu-bulu halus yang sudah mulai basah itu.

Melihat pemandangan yang menggairahkan itu, tanpa pikir panjang lagi, Rico langsung melepaskan celana jeans serta celana dalamnya. Ini adalah pertama kalinya Fitri berhubungan seks dengan seorang laki-laki, sehingga lubang vagina Fitri masih sempit. Maka saat Rico menusukkan penisnya yang terhitung besar itu ke dalam vagina Fitri, Fitri langsung menjerit kesakitan.

Tanpa mempedulikan jeritan Fitri, Rico terus memompa vagina Fitri dengan keras, hingga kedua payudara Fitri juga ikut bergerak naik turun.

Beberapa menit kemudian, Rico pun menembakkan cairan panas ke dalam vagina Fitri, membuat Fitri menjerit untuk yang kedua kalinya, kemudian Fitri pun terkulai lemas pada lantai kereta api tersebut. Air mata pun mengalir turun membasahi pipinya.

Sebenarnya Rico masih punya tenaga untuk 'bermain' lagi, namun pada saat ini Tono memasuki gerbong tersebut karena waktu sepuluh menit sudah berlalu. Maka dengan agak kesal, Rico pun terpaksa mengenakan pakaiannya kembali, dan keluar dari gerbong tersebut untuk menghalangi orang lain memasuki gerbong itu.

Melihat Fitri yang hampir telanjang bulat itu sedang terkulai lemas di atas lantai, penis Tono langsung menegang. Tono lalu melepaskan celananya, dan berdiri di hadapan Fitri dengan penisnya yang sangat besar itu diacungkan ke wajah Fitri sambil berkata. "Jilat lalu hisap!"

Fitri merasa jijik dan takut, karena penis Tono sangat bau. Dan karena Fitri masih saja enggan menjilati penis Tono, Tono lalu menjambak rambut Fitri dan memaksanya untuk menjilatinya.

Akhirnya Fitri pun terpaksa menjilati penis Tono, walaupun sebenarnya dia ingin muntah karena saking baunya. Setelah dijilati untuk beberapa saat, Tono lalu berkata kepada Fitri. "Sekarang hisap!"

Sambil mencoba untuk tidak membayangkan bau yang berasal dari penis Tono itu, Fitri pun mulai menghisap penis Tono.

Beberapa saat kemudian, penis Tono akhirnya mulai bergetar. Fitri juga merasakan bahwa Tono sudah akan berejakulasi, maka dia bermaksud untuk menyingkirkan penis Tono dari mulutnya. Namun Tono justru menekan kepala Fitri dan memasukkan penisnya makin dalam ke mulut Fitri, dan beberapa detik kemudian, Tono pun berejakulasi di mulut Fitri.

Waktu itu posisi penis Tono di dalam mulut Fitri cukup dalam, sehingga spermanya langsung ditembakkan ke dalam tenggorokan Fitri. Fitri yang tidak pernah menelan sperma laki-laki itu kontan terbatuk-batuk dan muntah di lantai kereta api itu. Karena merasa jijik dan terhina, Fitri pun menangis tersedu-sedu di gerbong kereta api itu.

Namun Tono tidak mempedulikan tangisan Fitri. Dia lalu melebarkan kedua kaki Fitri ke samping dan bermaksud untuk mengentotinya.

Melihat hal ini, Fitri langsung menutupi vaginanya dengan kedua tangannya, dan mencoba untuk merapatkan kedua kakinya sambil berkata. "Jangan bang.. tolonglah bang.. jangan.. sakit bang.."
Akan tetapi Tono tidak mempedulikan ratap tangis Fitri. Tono menampar Fitri dengan keras, dan menyingkirkan kedua tangan Fitri yang sedang menutupi vaginanya itu. Lalu Tono mulai memompa vagina Fitri sambil sesekali meremas kedua payudara Fitri yang juga ikut bergerak naik turun itu, dan gerakan Tono semakin lama semakin cepat. Tidak lama kemudian, Tono pun berejakulasi untuk kedua kalinya, dan kali ini di dalam vagina Fitri.

---//---

Beberapa jam kemudian, Ronny dan Frans pun tiba di stasiun kereta api terakhir yang juga dituju oleh Rico dan Tono itu. Namun sayang sekali, mereka datang terlambat. Rico dan Tono sudah melesat ke pelabuhan, dan kemudian menaiki salah satu feri yang ada disana.

"Kita terlambat Ron, misi kita gagal.." Kata Frans dengan nada sedih.
Ronny tidak berkata apa-apa. Dia kelihatan sedang merenung.
"Sekarang kita kehilangan jejak mereka. Disini terdapat feri yang menuju ke Pulau Batam, Singapore dan Malaysia. Kita tidak mungkin tahu mereka menaiki feri yang mana." Kata Frans lagi.
"Belum tentu." Kata Ronny. "Coba lihat ini. Benda yang mereka tinggalkan di kereta api. Mungkin gara-gara terburu-buru pergi."

Ronny lalu menyodorkan sebuah karcis bus kepada Frans.
"Bukankah ini.. karcis bus Johor Bahru?" Kata Frans.
"Benar sekali." Balas Ronny.
"Kalau begitu sasaran mereka adalah Malaysia." Kata Frans.
"Seratus untuk kamu." Kata Ronny lagi.
"Yang serius dong Ron, ini berarti kita harus meminta kepada polisi Malaysia untuk menangkap kedua bajingan itu dan mengirim mereka kemari."
"Tidak, tidak perlu. Kita kirim bukti-bukti kejahatan mereka kesana saja, dan suruh polisi-polisi Malaysia untuk menghukum mereka sesuai dengan hukum yang berlaku disana."
"Tapi Ron.."
"Sudahlah, turuti saja perintahku, tidak akan salah lagi." Kata Ronny sambil tersenyum penuh kemenangan.

Empat hari kemudian, di sebuah kantor kepolisian yang terletak di Sumatera Barat

Frans memasuki kantor Ronny sambil membawa sepucuk koran di tangannya. "Coba lihat Ron, kedua bajiangan itu sudah tertangkap."
Ronny mengambil koran tersebut dari tangan Frans dan membacanya sejenak, kemudian dia berkata. "Bagus sekali! Persis seperti yang kuinginkan!"
"Apanya yang persis seperti kamu inginkan?" Tanya Frans.
"Menurut koran, kedua bajingan itu masing-masing dihukum cambuk enam kali lalu dipenjarakan selama sepuluh tahun."
"Hukuman cambuk? Jadi hanya gara-gara itu kamu tidak mau mereka dikirim kembali ke Indonesia?"
"Kamu belum mengerti rupanya Frans. Coba pikirkan, apa efek dari hukuman cambuk?" Tanya Ronny.
"Efek dari hukuman cambuk? Em.. paling-paling cuman rasa sakit di pantat doang."
"Rasa sakit dari hukuman cambuk bukan rasa sakit biasa, karena cambuk yang dipakai adalah cambuk khusus. Selain itu efek dari hukuman cambuk juga bisa sampai membuat orang mandul."
"Ah, saya mengerti sekarang. Kamu ingin mereka mendapatkan hukuman yang setimpal bukan?"
"Kalau cuman dipenjara sih, belum tentu mereka akan jera. Tapi kalau sudah sampai mandul, lain lagi ceritanya."

"Ha.. ha.. ha.. tidak kusangka, ternyata kamu sadis juga." Kata Frans sambil tertawa kecil.
"Eh, sekarang kan waktunya makan siang, bagaimana kalau kamu kutraktir di warung seberang jalan yang baru dibuka itu."
"Wah, kalau ditraktir sih tidak mungkin aku menolak." Kata Frans.

Kemudian sambil tertawa kecil, kedua polisi itu pun menuju ke warung yang baru dibuka itu.

Monday, December 24, 2012

Pemerkosaan Yang Menggila I

"Mau apa kalian!"
"Saya rasa.. non sendiri juga sudah mengerti.."
"Jangan mendekat! Kalau kalian berani macam-macam, saya akan menjerit!"
"He.. he.. percuma saja non, jerit saja sepuas-puasnya, gubuk tua ini terletak beberapa puluh kilometer dari pemukiman penduduk yang terdekat."
"aa! TOLONG!" Jerit wanita itu sambil berusaha menghindari cengkraman tangan Rico.
"He.. he.. mau lari kemana non." Tawa Rico sambil berjalan mendekati Lisa dengan perlahan-lahan.

"Ayolah Rico, penis gua udah tidak tahan lagi. Hentikan permainan kejar-kejarannya." Kata Tono yang sedang berjaga-jaga di pintu masuk, supaya Lisa tidak melarikan diri.
"He.. he.. baiklah kalau begitu, ayo kita kepung dia." Kata Rico.
"Tidak! Jangan mendekat!" Lisa terlihat sangat ketakutan, keringat dingin mulai mengalir membasahi keningnya.

Lisa sedang mengenakan kemeja berwarna putih, rok mini yang hanya sebatas paha, dan sepatu hak tinggi.
Tidak lama kemudian, Lisa akhirnya terkepung di sudut ruangan. Kakinya gemetaran. Rico lalu mengelus-elus dagu Lisa sambil berkata. "Wajahmu sungguh cantik neng, halus lagi."

Sementara itu, tono mengamat-amati tubuh Lisa dan berkata. "Dadamu besar juga neng, pahamu juga mulus."
"Tolong bang.. jangan bang.." Wajah Lisa terlihat memelas.
"Tenang saja non, kalau kamu bersikap manis, kami juga akan bersikap manis." Kata Rico sambil tersenyum bengis.
"Hei Rico, kali ini saya duluan dong, masa setiap kali saya kebagian sisanya." Kata Tono dengan nada kesal.
Rico melihat-lihat tubuh Lisa yang molek itu sejenak, kemudian dia berkata. "Baiklah, tapi jangan lama-lama ya."
Rico lalu merebahkan tubuhnya pada sebuah sofa yang sudah usang.

Kedua tangan Tono lalu memegangi pundak Lisa dan bibirnya mulai menciumi leher Lisa.
"ahh.. jangan bang.. tolong bang.. ja.. aa!" Perkataan Lisa terputus karena Tono tiba-tiba menusukkan jari tangan kirinya ke vagina Lisa.
"aahh.. Sakit bang!" Air mata mulai mengalir turun dari kedua mata Lisa, namun Tono tidak peduli, dia malah semakin bernafsu memperkosa Lisa.

Tono mulai menciumi bagian atas dada Lisa yang tidak tertutupi bajunya, sementara tangan kirinya sibuk mengelus-elus vagina Lisa yang masih terbalut oleh celana dalam.

Beberapa saat kemudian, Tono lalu bermaksud untuk melepaskan kancing baju Lisa, namun Lisa secara refleks segera menangkap kedua tangan Tono sambil berkata dengan nada memohon. "Jangan bang.. tolong bang, jangan.."

"Ayolah, jangan malu-malu neng." Tawa Tono sambil menurunkan kedua tangan Lisa dengan paksa.
Lisa tidak punya pilihan lain, dia hanya pasrah pada nasibnya.

Melihat Lisa tidak memberikan perlawanan lagi, Tono lalu melepaskan kancing kemeja Lisa satu persatu. Saat semua kancing bajunya sudah terlepas, terlihatlah buah dada yang berukuran cukup besar itu beserta BH berwarna hitam yang sedikit tembus pandang.

Melihat hal itu, gairah Tono langsung meningkat. Dia pun mulai menjilati dan meremas-remas dada Lisa yang masih terbalut BH berwarna hitam itu, sehingga Lisa sesekali bergidik dan mengerang.

Tidak lama kemudian, Tono lalu mengangkat rok mini Lisa ke atas hingga sebatas pinggang, dan terlihatlah celana dalam Lisa yang juga berwarna hitam. Sementara mulut Tono menciumi dan menjilati dada Lisa, tangan kirinya sibuk meraba-raba paha Lisa, dan tangan kanannya meremas-remas pantat Lisa yang montok itu.

Setelah puas meraba dan menjilati dada Lisa, Tono sekarang bermaksud untuk mengentoti Lisa. Dia lalu merobek BH dan celana dalam Lisa dengan paksa, sehingga Lisa menjerit kesakitan. Tono lalu melepaskan celana panjang serta celana dalamnya, dan terlihatlah penis yang sudah sangat menegang itu sedang bersiap-siap untuk menyerang.

Melihat hal ini, Lisa sangat terkejut. Dia segera mendorong tubuh Tono dan segera berlari menuju pintu gubuk tua itu, walaupun dia sedang tidak mengenakan BH dan celana dalam, dia tidak peduli lagi. Namun, baru saja Lisa melangkah keluar dari gubuk tua itu, rambut panjangnya dijambak oleh Rico, dan segera ditariknya Lisa kembali ke dalam gubuk itu dengan paksa.

Rico lalu menempeleng pipi Lisa dan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa usang. Tono yang sempat terkejut karena mengira Lisa akan melarikan diri itu sekarang sudah berdiri di hadapan Lisa. Tono lalu mengacungkan sebuah belati tajam ke leher Lisa dan berkata. "Kalau kamu berani macam-macam lagi. Akan kuiris-iris wajahmu yang cantik itu."

Mendengar ancaman Tono, Lisa menjadi semakin ketakutan, dan setelah Tono yakin bahwa Lisa tidak akan melarikan diri lagi, dia pun mulai mengelus-eluskan penisnya pada vagina Lisa dan bersiap-siap untuk mengentoti Lisa. Namun kali ini Lisa tidak memberikan perlawanan apa-apa lagi. Dia hanya tidur terlentang di atas sofa usang itu sambil memejamkan matanya rapat-rapat karena dia tidak tahan melihat keperawanannya direbut oleh seorang bajingan.

Beberapa detik kemudian, keheningan gubuk itu pun dipecahkan oleh suara jeritan Lisa.

Tiga hari kemudian, di sebuah kantor kepolisian yang terletak di Sumatera Barat

"Keparat!" Bentak Ronny sambil meninju meja yang terletak di hadapannya dengan keras. "Ini sudah kasus yang ke delapan. Apakah tidak ada jejak kedua orang itu sama sekali?"
"Lapor pak! Tim penyelidik telah memeriksa gubuk tua itu dengan seksama, namun tidak diketahui kemana larinya dua orang itu. Di tempat kejadian juga tidak ada barang bukti yang ditinggalkan si pelaku, kecuali gadis bernama Lisa yang telah diperkosa mereka berdua itu."

Pada saat yang bersamaan, seorang polisi lain memasuki ruangan Ronny dengan tergesa-gesa.
"Ada apa Frans?" Tanya Ronny.
"Motel Cahaya Malam.. mereka ada disana.." Kata Frans dengan nafas tersenggal-senggal.
"Tenangkan dirimu dulu. Saya tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan." Kata Ronny.
"Tiga jam yang lalu, ada seorang saksi melihat dua pemerkosa yang sedang kita cari itu berjalan keluar dari Motel Cahaya Malam." Kata Frans.
"Benarkah itu?" Kata Ronny sambil bangkit berdiri dari kursinya. "Kalau begitu kita harus segera menuju ke motel tersebut dan menanyakan masalah ini kepada si pemilik motel."

Sementara itu, di ruangan pribadinya, Iwan, sang pemilik motel Cahaya Malam sedang duduk di kursi empuknya sambil merokok. Dia melihat jam tangannya sejenak, kemudian dia berdiri dari kursinya dan membetulkan posisi video kamera mini yang terletak di rak bukunya sambil bergumam. "Dari posisi ini seharusnya bisa mengambil gambar di seluruh kamar ini."

Tidak lama kemudian, terdengar sebuah ketukan di pintu, dan setelah Iwan berkata "Masuk!", seorang pelayan berambut pendek yang cantik dan seksi pun berjalan memasuki ruangan tersebut.

Pelayan wanita itu sedang mengenakan seragamnya yang berupa kemeja putih berlengan panjang serta rok mini yang berwarna merah.
"A.. ada apa tuan memanggil saya?" Tanya pelayan itu dengan gugup.
"Kemarilah sejenak dan duduklah disini." Kata Iwan sambil menyodorkan sebuah kursi kepadanya. "Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu."

Setelah pelayan itu duduk, Iwan lalu berjalan ke arah pintu dan mengunci pintu itu dengan perlahan.
"Kudengar dari pelayan lain kamu memecahkan dua piring lagi." Kata Iwan sambil berjalan mendekati pelayan wanita tersebut.
"Sa.. saya tidak sengaja tuan. Waktu itu piringnya agak licin, sehingga.." Namun belum sempat pelayan itu menyelesaikan kata-katanya, Iwan langsung merangkul pelayan itu dari belakang sambil memegangi kedua payudaranya yang besar dan montok itu.

Pelayan itu sangat terkejut, dia langsung menepis tangan Iwan ke samping dan segera menjauh dari Iwan. "An.. anda mau apa tuan!"
"He.. he.. tidak kusangka, ternyata dadamu besar juga." Kata Iwan sambil berjalan mendekati pelayan tersebut.
"Jangan mendekat! Kalau kamu berani mendekat lagi, aku akan menjerit!" Ancam pelayan itu.
"Ayolah Lucy, kamu sangat membutuhkan pekerjaan ini bukan? Keluargamu di kampung yang miskin itu sedang menunggu uang penghasilanmu bukan? Apa jadinya kalau aku terpaksa memecat kamu? Apakah kamu tidak kasihan kepada adik-adikmu yang akan mati kelaparan itu?" Kata Iwan.

Lucy sang pelayan tidak berkata apa-apa. Dia kelihatan sedang memikirkan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Iwan.
Iwan lalu memegangi kedua bahu Lucy dan mulai menciumi leher Lucy. Namun Lucy tidak memberikan perlawanan karena seperti yang dikatakan Iwan, keluarganya sangat miskin, dan dia tidak ingin kehilangan pekerjaan yang satu ini karena gajinya lumayan besar.

Lucy lalu memejamkan kedua matanya, sambil mencoba untuk menikmati perlakuan bosnya. Lucy juga merasakan ciuman Iwan semakin lama semakin menurun, dan sesaat kemudian, Iwan sedang menciumi payudara Lucy.

Pada saat ini, Lucy sebenarnya ingin sekali menampar keparat yang sedang berdiri di hadapannya itu, namun dia mengurungkan niatnya saat mengingat keluarganya di kampung.

Melihat Lucy tidak lagi memberikan perlawanan, Iwan pun mulai melepaskan kancing baju Lucy satu persatu. Melihat hal ini, Lucy menjadi semakin takut, dia bergerak dengan gelisah sambil sesekali berkata. "Jangan pak.. tolong.. jangan buka baju saya.."

Namun Iwan tidak menghiraukan perkataan Lucy. Setelah selesai melepaskan semua kancing baju Lucy, tangan kiri Iwan pun mulai meremas-remas payudara Lucy yang masih terbungkus BH berwarna putih itu, sementara bibirnya sibuk menciumi bibir Lucy dengan paksa.

Namun Lucy berusaha untuk menghindari ciuman Iwan sambil sesekali mengerang dan mendesah. "Ahh.. uhh.. ahh.. ja.. ngan.. pak.."

Setelah meremas-remas payudara Lucy dan menciumi bibirnya, Iwan bermaksud untuk bertindak lebih jauh lagi. Dia lalu memasukkan tangannya yang satu lagi ke dalam rok mini Lucy dan mulai meraba-raba pahanya yang mulus itu.
Saat tangan kanan Iwan mulai meraba-raba paha Lucy, Lucy secara refleks langsung merapatkan kedua pahanya supaya tangan Iwan tidak bisa mencapai vaginanya.

Namun Iwan tetap memaksakan tangannya untuk meraba vagina Lucy, sehingga Lucy menjadi semakin takut dan gelisah. Lucy sesekali menghentakkan kakinya ke atas lantai, sambil berkata dengan nada memohon. "Ah.. pak.. jangan.. jangan disitu pak.. tolong pak.. jangan disitu.."

Setelah gagal meraih vagina Lucy, Iwan lalu mengarahkan tangannya ke pantat Lucy dan meremas-remasnya. Tindakan Iwan membuat Lucy mengerang dan mendesah. Iwan lalu menggenggam celana dalam Lucy dan menariknya turun. Namun Lucy tetap merapatkan kedua pahanya erat-erat, sehingga celana dalamnya susah untuk ditarik turun.

Melihat hal ini, Iwan lalu menggunakan tangannya yang satu lagi untuk menarik BH Lucy ke atas, sehingga terlihatlah kedua payudara Lucy yang besar dan montok itu, beserta puting susunya yang berwarna merah.

Iwan lalu memain-mainkan puting susu Lucy dengan jari-jarinya, sementara mulutnya menjilat dan mengulum-ngulum puting susunya yang satu lagi.

Menghadapi serangan di tiga tempat ini, Lucy menjadi kewalahan, sehingga tanpa disadarinya dia pun melonggarkan kedua pahanya, dan celana dalamnya pun berhasil ditarik turun oleh Iwan.

Begitu celana dalam Lucy berhasil diturunkan, Iwan langsung mengarahkan tangannya ke vagina Lucy sambil meraba-raba bagian luar dan dalamnya, sehingga erangan dan desahan Lucy terdengar semakin keras.

Tidak lama kemudian, vagina Lucy pun mulai mengeluarkan cairan. Saat tangan Iwan merasakan cairan yang keluar dari vagina Lucy, dia pun berjongkok di depan Lucy dan mulai menjilat-jilati vagina Lucy. Lidah Iwan menyerang vagina Lucy dengan gencar. Mula-mula dia menjilati bagian luar vagina Lucy terlebih dahulu. Kemudian dia pun mulai menusuk-nusukkan lidahnya ke dalam vagina Lucy.

Karena tidak tahan terhadap rasa gelinya, tangan Lucy pun meremas-remas tirai jendela yang tergantung disampingnya dengan kuat, sambil sesekali mendesah. "Aahh.. uuhh.. aahh.."

Namun nasib Iwan sungguh sial. Justru pada saat inilah, pintu ruangan tersebut diketuk, dan terdengar suara yang berkata. "Kami polisi, harap dibukakan pintunya, ada hal yang ingin kami tanyakan."

Polisi yang tiba-tiba datang ke motelnya membuat Iwan menjadi kalang-kabut. Dia mengira bahwa perbuatannya terhadap Lucy sudah ketahuan oleh polisi. Dia lalu berjalan kesana kemari karena saking paniknya. Dia tidak tahu apakah dia harus membukakan pintu atau tidak.

Melihat hal ini, Lucy cepat-cepat membetulkan letak BH-nya, mengancingkan bajunya dan menaikkan celana dalamnya kembali, serta tanpa pikir panjang lagi, Lucy langsung berteriak "Tolong! Tolong!"

Mendengar teriakan Lucy, Iwan bertambah panik, sementara para polisi semakin keras menggedor pintu tersebut sambil berteriak "Ada apa di dalam! Cepat bukakan pintu!"

Sesaat kemudian, pintu tersebut pun berhasil didobrak oleh para polisi.

---//---

Beberapa menit kemudian, Iwan dan Lucy beserta beberapa orang polisi sedang duduk di dalam sebuah ruangan kecil di Motel Cahaya Malam.

Tidak lama kemudian, Ronny dan Frans juga memasuki ruangan tersebut.

Ronny menatap Iwan sejenak, kemudian dia menyodorkan dua buah foto ke arah Iwan sambil bertanya. "Kamu kenal dua orang ini?"
Iwan melihat foto itu sebentar, kemudian dia berkata dengan ragu-ragu. "Ti.. tidak kenal pak."
"Jangan bohong!" Kata Frans sambil menepuk kepala Iwan.
"Be.. benar pak, sa.. saya tidak bohong pak!" Kata Iwan yang terlihat sangat ketakutan.

Ronny lalu menghadap ke arah Lucy dan bertanya dengan suara yang lebih lembut. "Nona Lucy, coba katakanlah apa yang dilakukan bosmu kepadamu di dalam ruangan tadi."
Lucy kelihatan ragu-ragu apakah hendak mengatakan perbuatan kurang ajar bosnya atau tidak.
"Tidak perlu takut nona Lucy, kamu berada di bawah perlindungan kami. Katakanlah yang sebenarnya." Kata Ronny lagi.
Setelah mempertimbangkan sejenak, Lucy kemudian berkata. "Dia.. dia hendak memperkosaku."

"Tidak! Itu tidak benar! Itu bohong!" Kata Iwan yang terlihat semakin panik dan takut.
"Lalu bagaimana kamu menjelaskan isi video ini." Frans menyodorkan sebuah video yang berisi rekaman apa yang dilakukan Iwan kepada Lucy barusan.

Wajah Iwan langsung menjadi pucat pasi. Dia terduduk lemas di kursinya tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Video yang sengaja direkamnya supaya bisa digunakannya kelak untuk memeras Lucy justru menjadi senjata makan tuan.

"Bawa dia ke kantor polisi atas tuduhan mencoba untuk memperkosa seorang gadis!" Kata Ronny kepada seorang polisi yang berdiri disampingnya.
"Tidak, jangan pak! Saya kenal dua orang itu! Saya akan mengatakan semuanya! Mereka bernama Rico dan Tono!" Kata Iwan dengan nada panik.
"Baiklah kalau begitu, coba ceritakan semuanya." Kata Ronny.

"Mereka mulai tinggal di motel ini kira-kira satu minggu yang lalu. Pada suatu malam, saya memergoki mereka sedang memperkosa seorang gadis, tapi saya ketahuan oleh salah satu dari mereka. Mereka lalu mengancam saya, kalau saya berani memberitahukan hal ini kepada polisi, mereka akan membunuh saya dan membakar seluruh motel ini." Kata Iwan.

"Kira-kira tiga jam yang lalu mereka keluar dari hotel ini, kamu tahu mereka menuju kemana?" Tanya Ronny.
"Saya tidak tahu pak, tapi salah seorang dari mereka sepertinya berbicara tentang kereta api."
"Ada hal lain lagi yang ingin kamu katakan?" Tanya Ronny lagi.
"Tidak ada lagi pak, semuanya sudah aku katakan."
"Baiklah, seret dia ke kantor polisi atas tuduhan mencoba untuk memperkosa seorang gadis." Kata Ronny kepada Frans.

"Tapi pak.. ini tidak adil pak! saya sudah memberitahukan semuanya! Pak! Ampun pak!!" Iwan lalu diseret keluar ruangan oleh Frans dan beberapa orang polisi.
Samar-samar Ronny dapat mendengar suara Frans yang sedang membentaki Iwan. "Tidak adil kepalamu! Kamu kira ini pasar malam hah? Pake tawar menawar segala."

Ronny lalu menghadap ke arah Lucy dan berkata. "Tidak ada masalah lagi nona Lucy. Sekarang kamu sudah boleh pulang."
Lucy langsung memeluk Ronny dengan erat sambil berkata. "Untung kalian datang pak.. terima kasih pak.. terima kasih banyak.."
Ronny menjadi salah tingkah dan mukanya menjadi merah. Dia lalu berkata. "Tidak apa-apa.. ini.. sudah menjadi kewajibanku."

Sunday, December 23, 2012

Sex Menyimpang Wanda

Well, namaku Wanda, umurku 21 tahun. Kata orang aku cantik, dan aku mengetahui hal itu, haha..
Tinggiku 160 cm dan beratku 52 kg,Ukuran Braku 34 C dan celana jeansku 28. Bentuk tubuhku nyaris sempurna, kenapa aku bilang nyaris karena kan tidak ada orang yang sempurna
Yah dengan segala kelebihanku ini aku merasa harus membaginya dengan sesama, itu lah kenapa aku suka berpakaian minim dan memamerkan tubuhku.
Umm apa ya sebutannya, ah ga penting yang penting kalian tahu maksudku kan?

Aku mengetahui kelainanku ini ketika duduk di kls 1 sma, waktu itu di kelasku mayoritas cowok. Sehingga cewek-cewek di kelas diperlakukan bagai Putri.
Tetapi di kelasku itu hanya ada 3 orang cewe yang berwajah lumayan, aku, teman sebangkuku Achie dan satu lagi aku ga begitu kenal dekat tapi kalau
ga salah namanya Nadia. Jadilah kalau pelajaran kosong atau istirahat cowok-cowok di kelas cari muka dengan aku dan Achie teman sebangkuku.
Entah kenapa aku merasa senang skali jadi pusat perhatian, jadi mulailah sedikit demi sedikit baju seragamku mengetat, dan rok ku memendek
Achie yang sedikit tomboy dan sudah punya pacar terkadang kalau istirahat langsung ngeloyor ke kelas cowoknya, sedangkan aku diam di kelas meladeni cowok2
kesepian itu.Namun keberanianku cuma sampai disitu saja.

Hingga sewaktu aku naik kelas 2 aku ikut ekskul cheerleaders sehingga aku makin2 jadi pusat perhatian. Cheerleaders yang kalau tampil selalu pakai baju ketat
dan rok mini. Sehingga aku pun semakin berani menampilkan diri, terkadang sampai basah vaginaku bila cowok-cowok yang menonton melihat dengan pandangan
yang mupeng seakan-akan melihatku bagai tanpa busana.

Aku ingin menceritakan pengalaman beraniku sewaktu kelas 3 SMA, waktu itu hari sudah sore, anggota cheers baru selesai latihan, beberapa langsung pulang
dan beberapa lagi langsung mandi di ruang locker. Sedangkan aku memilih untuk bersantai di kelasku 3 IPS 3 yang berada di lantai 3 paling pojok.
Kelasku ini paling nyaman dibanding kelas-kelas lainnya, kelas ini satu-satunya yang memiliki 3 AC sekaligus, jadi lebih sejuk di kelas ini, selain AC
kelas ini juga paling besar dan punya fan juga. Pokoknya kelas paling enak deh, aku berlari dari aula lantai 2 tempatku berlatih ke lantai 3.
Sampai di kelas karena hari itu sudah hampir pukul 5, dan sepi banget, aku memutuskan untuk ganti baju disitu. Aku lepaskan celana pendek daleman rokku
dan juga kaosku yang sudah basah oleh keringat. Aku lupa tidak membawa baju ganti, jadi kuputuskan untuk memakai baju seragam putihku.
Tapi sebelum aku berganti baju aku tidur-tiduran di atas meja, tepat dibawah fan untuk meng”adem”kan badanku. Latihan cheers tadi menguras keringatku
jadi seluruh tubuhku basah. Aku hanya memakai rok cheers yang pendek dan celana dalam g-string warna hitam serta Bra hitam mini, aku tidur-tiduran di atas meja
sambil sesekali mengelap tubuhku dengan handuk kecil, tetapi ternyata aku kecapean hingga ketiduran. Tiba-tiba aku dengar pintu dibuka, aku tersentak kaget
dan kulihat si ganteng Evan anak IPA itu memasuki kelas, aku melirik jam ternyata aku ketiduran 20 menit. Bukannya aku mencoba menutupi tubuhku tapi malah
aku pasang posisi menggoda dan pura-pura tertidur. Evan si ketua osis itu melongo melihatku seperti itu. Namun perlahan tapi pasti Evan malah mendekatiku.

Evan mencoba memanggil namaku, nampaknya ingin membangunkan atau hanya ingin mengecek saja. “Wan..” seru Evan pelan. Aku pura-pura tertidur sambil mengganti posisi
lebih menggoda lagi, tanpa kusadari sudah basah vaginaku melihat evan melongo memandangiku. Evan menyentuh pelan tanganku untukmembangunkanku
namun aku diam saja. Evan pun memegang perutku namun aku masih pura-pura tertidur. Sampai Evan menyentuh payudaraku pelan, aku malah mendesah namun tetap tertidur
akhirnya evan memberanikan diri meremas payudaraku, lagi-lagi aku mendesah saja. Evan menurunkan tali Braku dan menarik Braku turun hingga ke perut.
Buah dadaku terpampang dengan jelas, dan putingnya yang mengeras sudah tegak berdiri. Evan meremasnya lagi, kini aku pura-pura agak tersadar.
Evan kaget dan sedikit mundur dari tempatnya berdiri, namun aku masih ingin menikmati permainan ini sehingga aku merubah posisi menjadi menyamping.
Rok cheersku yang pendek terangkat, sehingga pantatku terpampang di hadapan Evan. Aku mengenakan g-string jadi Evan bisa melihat jelas bongkahan pantatku
Evan meremasnya, aku sangat menikmatinya, aku yakin vaginaku sudah sangat basah. Evan lalu berpindah berdiri, sehingga ia berada di hadapan payudaraku.
Ia meremasnya lembut dan tangan satunya meremas pantatku. Aku masih pura-pura tertidur, nampaknya evan tahu aku pura-pura, karena aku terkadang mendesah pelan
tiap kali ia menyentuhku. Nampaknya Evan sudah tidak tahan, aku bisa melihat “adek”nya sudah sangat keras dibalik celana abu-abunya, karena berada tepat di depan wajahku.
Aku pura-pura mengganti posisi dan menyebabkan wajahku menempel pada “adek”nya, Evan menggesek-gesekan adeknya itu, dan tiba-tiba saja tanpa disangka-sangka
Evan menarik g-string miniku hingga putus. Dan ia memukul pantatku, ah diperlakukan seperti itu tidak mungkin aku pura-pura tertidur, jadi aku bangun dan dengan panik
aku tutupi dadaku. “Evan, mau ngapain lo!” bentakku, Evan hanya tersenyum saja dan dia berkata “Engga tadi laporan osis ketinggalan..” lalu ngeloyor pergi, aku terduduk di meja
membenahi Braku itu, namun Evan balik lagi, aku langsung panik menutupi payudaraku lagi Evan berkata “Umm btw, nice boobs u have..” lalu pergi lagi, aku hanya
tersenyum tersipu ketika Evan pergi, entah kenapa aku merasa horny sekali sewaktu dia memujiku. Ketika aku sedang tersenyum Evan balik lagi dan memergoki ku sedang
tersenyum tersipu..lalu dia berkata lagi “haha..lo seneng ya?, ah..nice butt too” lalu dia pergi lagi. Aku senang bercampur malu saat itu.

Aku melihat jam sudah menunjukan hampir pukul 6, karena ga ada celana dalam lagi, aku pulang hanya menggunakan rok cheers tanpa celana dalam.
Rupanya tanpa aku sadari kaos bekas cheers tadi yang basah aku letakkan di atas seragam putihku, sehingga seragam putihku
itu ikut-ikutan basah. “Wah kebetulan, its show time!” kataku dalam hati, aku lepaskan Bra hitam miniku, dan pulang mengenakan seragam sekolah putih
yang basah dan rok cheers yang mini tanpa pakaian dalam sama sekali. Aku menatap cermin yang ada di kelas itu, putingku yang masih mengeras
tercetak jelas di seragam putihku yang ketat dan rok cheers itu sangat pendek sekali, bila aku membungkuk sedikit saja, pasti orang-orang bisa melihat bokong indahku.
“Sempurna” bisikku pada diriku sendiri. Aku bergegas pulang, ketika aku melintasi lapangan masih ada anak-anak kelas 2 sedang bermain basket, dan bola itu
memantul dekat tmpku berjalan. Cowok-cowok itu meminta tolong aku mengambil bola basket itu, aku tersenyum manis, membelakangi mereka dan dengan pantat menghadap mereka
aku membungkuk mengambil bola itu, cowok-cowok kelas 2 itu langsung terdiam, mereka dapat melihat jelas pantat mulusku, bahkan vaginaku bila mereka
lebih teliti lagi. Tapi kejadian itu tak berlangsung lama, hanya sekitar 5 detik-an dan aku berbalik badan melempar bola basket itu. Mereka hanya tersenyum saja
ketika aku berbalik badan dengan wajah “tak tahu apa-apa”.

Aku pun pulang naik mikrolet, untung saja langsung kudapatkan begitu aku keluar sekolah. Di mikrolet itu hanya ada 1 anak kuliahan *mungkin* dan 2 orang bapak-bapak
aku sedikit menyesal karena di mikrolet itu tidak ada yang mukanya oke punya. Ketika memasuki Mikrolet aku agak membungkuk, pastilah pantatku itu terlihat jelas, pikirku
dalam hati. Aku duduk di pojok, di depanku 2 orang bapak-bapak itu, aku duduk agak menyamping, namun tmp duduk mikrolet itu terlalu pendek. Dudukku jadi seperti berjongkok
aku tutup kakiku rapat-rapat, tapi pasti pahaku bisa terlihat jelas oleh bapak-bapak itu. Aku pura-pura tidak tahu, anak kuliah itu pasti tadi sudah melihat pantatku waktu aku masuk tadi
karena ia duduk dekat pintu, sekarang bapak-bapak ini menatapku dari atas sampai bawah. Entah kenapa aku horny sekali ketka mereka memandangiku seperti itu, jadilah aku mulai berulah
aku memutir2 kancing kedua baju seragamku, lalu perlahan, dengan wajah tidak melihat bapak-bapak itu aku melepaskan kancing keduanya. tanpa melepas kancingpun mereka sudah bisa
melihat payudaraku secara jelas aku pikir, namun karena hari itu sudah gelap, dan lampu mikrolet remang-remang mungkin putingku tidak terlalu tercetak. Aku mendengar bapak-bapak itu
menahan nafas waktu aku melepaskan kancing nomor dua itu dengan seksi. Kini aku semakin berani, entah kenapa dorongan untuk berbuat lebih ada dalam diriku. Aku pun tidak lagi memiringkan
badanku, tapi menghadap lurus ke bapak-bapak itu, sehingga sekarang mereka bukan saja melihat payudaraku dari samping, tapi dengan jelas dapat melihat belahan dada dan separuh payudaraku
apalagi putingnya tercetak jelas disitu, aku tersenyum menggoda kepada mereka, dan mereka balas tersenyum.

Asal kalian tahu, kancing bajuku hanya ada 4, jika sudah terbuka 2, berarti sudah separuh dari bajuku terbuka. Aku memilin2 kancing nomor 3, aku melihat anak kuliahan itu begeser mendekat,
tak ingin ketinggalan pertunjukan rupanya. Aku memilin-milin kancing nomor 3 dan perlahan ku buka pahaku..aku yakin vaginaku yang basah dapat terlihat.
Aku membukanya sedikit saja, tanganku yang satu memilin-milin kancing baju nmor 3 dan satunya mengangkat rok-ku perlahan-lahan.
Ketika aku ingin melepaskan kancing nomor 3, aku mendengar seseorang memanggil. Aku menghentikan kegiatanku, nampaknya mereka kecewa. Aku menoleh ke belakang, rupanya Evan dalam mobil Jazznya
waktu itu Jazz baru saja keluar, wah pokoknya mewah banget, ia memberikan isyarat untuk turun dan naik mobilnya, memang waktu itu lampu merah. Namun tanpa kusangka-sangka bapak-bapak di depanku
membuka lebar pahaku, dan yang satunya menarik rokku naik, aku berteriak sedikit. Lalu aku mengetuk mikrolet tanda aku ingin turun. Sebelum turun aku tulis nomor tlpku di tangan salah satu bapak itu
entah apa maksudku, mungkin agar aku dibiarkan turun, mereka melepaskan pahaku. Aku menyiapkan uang receh lalu bergegas turun. Namun sewaktu turun aku sengaja membungkuk dengan belebihan
sehingga pantatku terlihat semua, lalu aku rasakan tangan-tangan mereka mencubit dan memegang pantatku, aku membayar mikrolet dan sempat berkata. “Udah dulu ya live shownya” sambil tersenyum menggoda
mereka hanya tertawa-tawa saja.

Aku berlari menuju mobil Evan, dan langsung duduk di depan. Rokku tertarik naik sewaktu aku duduk buru-buru. Evan tersenyum ia bilang “Da..body lo oke banget..di rawat ya”, eh agak canggung aku tp aku
pura-pura cuek dan menjawab “thx, iya emang gw care banget sama body gw”, suasana hening sejenak, “Da, mau makan dulu ga, lo pasti laper abis latihan cheers” suara Evan yang berat itu memecah keheningan
aku cuma mengangguks aja, “eh tapi bayarin yah, gw ga ada duit” kata ku tiba-tiba, “Beres, tapi ada imbalannya ya” jawab Evan sambil tangannya berpindah ke pahaku, dan membelainya. “Eh..iyaa..” jawabku
pelan menikmati sentuhannya, kami menuju ke Chitos, namun aku ingat kalau di Chitos ga boleh masuk pakai seragam. Maka aku sempatkan ganti baju di parkiran, dengan kaos bekas latihan tadi, sudah bau keringat
tapi gimana lagi, sewaktu aku ganti baju Evan menciumku dan meremas dadaku lembut, aku membalasnya tapi hanya sebentar saja karena aku blg “Van, makan dulu yu, macem-macemnya nanti aja de” kataku tersenyum
manja. Evan melongo waktu dia sadar baju apa yang kukenakan. “Lo yakin Da mau pakai baju itu?” kata Evan berusaha meyakinkan diri, “iya emangnya kenapa..” jawabku cuek. Haha..baju itu sudah tidak lagi menutupi
apa-apa, kaos itu berdada V rendah berwarna putih polos, bahannya sangat tipis karena itu kaos untuk latihan, sehingga tidak membuat badan panas. Dan kali ini ditambah dengan basah, lekuk tubuhku dan bayangan putingku
tercetak jelas. “Udah la van cuek aja..”kataku, Evan hanya mengangguk-angguk lalu memencet tombol kunci mobilnya. “Kecuali kalo lo malu..” sambungku, “ah gila kali lo ya, jalan sama cewe secantik lo, seseksi lo, bisa malu gw?”
jawab Evan spontan, aku hanya tersenyum geli saja. Kami makan di Izzi Pizza, sewaktu kami makan aku tak luput dari pandangan orang-orang, ya cewe ya cowok, dan pandangannya macem-macem, ada cewe yang jealous
ada yang jijik mungkin, ada yang kaget, tapi lebih banyak yang mupeng sih. Evan tidak makan banyak waktu itu, tangannya terus berada dibawah membelai-belai pahaku bahkan sampai terangkat rokku, terkadang aku membuka
pahaku, sehingga jari-jari Evan kadang menyentuh vaginaku, pemandangan itu tentu saja membuat orang-orang kaget. Tapi nampaknya Evan juga cuek saja, jadi ya aku cuek saja.

Waktu sampai di mobil, Evan langsung menyergapku, menurunkan kusiku hingga tiduran, mencium bibirku dengan nafsunya dan langsung menarik payudaraku keluar dari bajuku melalui kerah V yang rendah itu, ia langsung menghisapnya
keras-keras dan jarinya mulai mengelus-elus vaginaku, vaginaku sangat basah, daritadi aku merasa horny banget dengan segala kelakuan gilaku, aku membuka pahaku lebar-lebar sehingga jari-jarinya lebih leluasa membuaiku.
Evan makin liar, kini jari-jarinya mulai disodok-sodok ke vaginaku, aku benar-benar terbuai, sebenarnya kaca mobil Evan termasuk 95% gelap, namun tidak dengan kaca depannya. Kaca depannya bening sebening aquarium, sehingga siapapun yang melintas pasti bisa melihat perbuatan kami, namun kami parkir agak jauh dan hari itu hari sekolah, sehingga Chitos tidak begitu ramai. Aku naikkan kakiku ke atas dashboard, dan membukanya lebar-lebar, namun tiba-tiba aku melihat seorang satpam memergoki kami dari kaca depan, aku pura-pura tidak tau saja, malah membalas ciuman evan dengan ganas, Evan pun makin liar mengelus-elus klitorisku dan mulutnya masih tetap di buah dadaku yang montok itu.

Satpam itu disitu sekitar 4 Menit, menonton kami hingga akhirnya ia mengetok kaca sebelahku, Evan terlonjak kaget dan ingin segera tancap gas, karena daritadi mobilnya sudah menyala. Namun aku memegang tangannya dan malah
membuka kaca itu, payudaraku sebelah masih keluar dari kerahku, dan rokku masih terangkat memperlihatkan vaginaku dengan bulu-bulu halus yang rapih. Satpam itu nampaknya kaget, namun denga sigap aku pegang tangan satpam itu
dan menaruhnya di payudaraku, tangan itu begitu kasar, berbeda dengan tangan Evan, Satpam itu diam tak berkutik, “Bapak mau ini kan..” kataku sambil menuntunnya meremas-remas payudaraku. Aku merasakan sensasi luar biasa, hingga
mendesah-desah sendiri, Evan menonton kelakuanku hingga melotot. Satpam itu terlihat sangat menikmatinya, namun tiba-tiba aku berteriak “Van gas sekarang!!”, Evan dengan panik langsung menginjak gas dan pergi dari situ.
Lalu Evan dan aku tertawa-tawa heboh, “Gila ya lo da, gw ga nyangka lo seliar itu” kata Evan, aku tersenyum menggoda, merapatkan tubuhku yang payudaranya masih mencuat keluar, dan berkata “Mau yang lebih liar..”
Evan lalu mempercepat laju mobilnya, namun tiba-tiba di tengah perjalanan dia bertanya “Da, maaf nih ya, tp lo cewe bayaran?” katanya pelan. Aku cuma tertawa saja, “Da serius, kalau bener bisa dibayar…” evan menghentikan kalimatnya “Kenapa lo mau bayar gw?” kataku cepat..Evan tersenyum dan mengangguk, “Van..buat lo gratis..” jawabku cuek. “Eh da, jadi bener lo cewe bayaran?” tanyanya lagi. Aku menggeleng, dia terlihat kebingungan.
“Engga, percaya ato ga gw masih virgin kalee” jawabku lagi, Evan melotot, “Beneran?” tanyanya ga percaya, “Mau bukti..?” tantangku, Evan diam saja, “Ini kan sekarang kita mau buktiin” jawabku sambil tersenyum. Evan hanya terdiam kebingungan.

Akhirnya kami sampai di sebuah rumah besar banget dibilangan Cilandak, ga jauh dari Chitos. Waktu hampir sampai Evan memintaku membenarkan pakaianku. Dan memintaku mendoblekan bajuku dengan baju seragam tadi, supaya tidak terlihat
mencolok. Benar saja 2 satpam langsung membukakan pintu, Evan langsung memasukin garasi. Dan mematikan mobilnya, waktu itu sudah hampir pukul 9, aku pun turun dari mobil, dengan pakaian yang lebih rapih. Tersenyum pada satpam itu, satpam itu
bertanya pada Evan “pacar baru den?” Evan hanya menjawab “Yoi donk pak!” sambil menggandeng tanganku masuk. Rumah itu besaaar banget, tapi sepi ga ada orang, “Van pada kemana..” kataku pelan, “Nyokap udah meninggal waktu lahirin gw, bokap..
tinggal dirumah istri barunya, gw sendirian deh..” jawabnya singkat. “Ah udahlah yuk masuk..” kata Evan sambil menarik tanganku masuk ke kamarnya. Evan segera menutup pintunya dan menciumku dengan liarnya, tangannya segera menjelajah semua
tubuhku, dalam posisi berdiri dia angkatnya rokku dan diremasnya pantatku. Namun tiba-tiba Evan berhenti, “Da, lo nginep sini aja ya, blg sama nyokap lo gih” katanya sambil melemparkan hpnya. Lalu aku meminta Evan menyalakan CD playernya dengan
lagu-lagu hiphop “Ma..wanda ga bisa balik nih, masih latihan cheers” teriakku disela-sela musik yang kencang itu, “Oh iya-iya itu apa sih dibelakang berisik amat” kata mama balas teriak “Anak-anak lagi latihan ma, mungkin kalau kemaleman Wanda nginep
rumah temen ya ma” jawabku lagi, mama hanya bisa menyetujui saja.

Selesai menelepon aku melihat sekeliling, tidak ada Evan, tiba-tiba Evan keluar dengan baju handuk putih, dan menarikku masuk ke kamar mandi. “Mandi dulu, lo bau asem” katanya sambil cengengesan, aku hanya bisa menurut saja.
Di kamar mandinya ada whirlpool, seperti jacuzzi, sudah dituang shower bath sehingga berbusa-busa, Evan melepas seluruh bajuku dan menggendongku masuk ke jacuzzi itu. Evan memandikanku dengan sangat lembut. Ia membelai seluruh jengkal tubuhku
tapi dengan lembut sekali, berbeda dengan ketika di mobil tadi. Evan menarik tubuhku keluar dan menyuruhku berdiri dibawah shower, ia menyalakan air hangat dan membiarkanku membilas diri. Evan yang sudah tanpa busana itu memelukku dari belakang
“adek”nya menyentuh pantatku, ditekan-tekannya adeknya itu, lalu Evan meremas payudaraku dari belakang, sambil tetap ditekan-tekan penisnya ke pantatku. Nafsuku bangkit, dibawah guyuran air hangat dari shower, Evan menciumi pundakku, dan leherku
terkadang dijilatnya telingaku, membuatku bergetar-getar tersengat dengan birahiku. Aku membalikkan badan, dan mencium Evan, kami berciuman lama sekali, aku sudah horny sekali, ingin rasanya meminta Evan memasukkan penisnya, namun aku malu.
Lagi-lagi Evan menghentikan aksinya, ditariknya tubuhku lalu dikeringkan, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku diperlakukan bagai Putri. Evan lalu mengeringkan tubuhnya sendiri lalu menggendongku ke tempat tidur. Ia menindihku dan menciumku
lidah kami berpangutan, terkadang Evan menghisap bibirku, tangannya meremas lembut payudaraku, terus ke perutku dan lalu sampai di vaginaku. Di gesek-gesekkan perlahan jarinya di klitorisku, aku mendesah tidak karuan, Evan lalu menurunkan bibirnya
menjilati leherku, pundakku lalu ke payudaraku, di gigit-gigit lembut putingku, sambil tangannya terus bergerilya di vaginaku. Aku memeluk Evan lalu berguling. Aku cium Evan dari bibir, dada, perut sampai ke penisnya. Penisnya besar dengan panjang hampir 20 cm
dan diameter yang besar pula. Aku terbayang ngeri memasukkan benda itu ke vagina perawanku. Aku menjilati penis Evan, tiba-tiba Evan memegang kepalaku dan mendorongnya, sampai tersedak aku, benda itu tidak bisa masuk semua ke dalam mulutku
aku bermain dengan penis Evan sekitar 10 menit, ketika tiba-tiba Evan membalikkan badannya hingga posisi 69, aku diatas. Evan menjilat vaginaku pelan, aku langsung mengejang, ini pertama kali aku dijilat di vagina. Tangan evan sesekali menyodok-nyodok
vaginaku, sambil lidahnya disentil-sentilkan ke klitorisku. Aku benar-benar terbuai oleh nafsuku.

Aku sampai memohon pada Evan agar ia segera memasukkan penisnya, “Van, please van..”hampir nangis aku dibuatnya. Evan membuka pahaku lebar-lebar, dan mengarahkan penisnya ke vaginaku yang sangat basah itu.
“Aaashh..”desisku pelan, sakit tapi aku berusaha tak menunjukkannya, Evan kembali mendorongnya sedikit lagi, “Sshhshh..”Desahku antara sakit dan enak, “Ahhh..” Evan berteriak ketika seluruh penisnya masuk, aku meneteskan air mata, karena rasanya sakit
sekali, nampaknya Evan mengetahui hal itu ia tidak bergerak sedikitpun, memberi waktu vaginaku untuk menyesuaikan diri. Ketika aku sudah mulai terlihat tenang, Evan menggerakkan pinggulnya, menarik dan memasukkan penisnya dengan perlahan.
Tubuhku bergerak-gerak ga karuan, nikmatnya luar biasa. Makin lama Evan mempercepat gerakannya, aku pun berusaha menyeimbanginya, namun semakin aku bergerak semakin dekat aku menuju orgasme pertamaku. “Aaahh..terus van, oh yess..shitt..ahh” ceracauku
ga karuan, Evan nampaknya tau aku sudah hampir sampai, makin liar gerakannya, selain maju mundur, terkadang diputar-putar, membuatku melotot keenakan. Akhirnya tak berapa lama sampailah aku pada orgasmeku “Aaarrgh..aaaaaaaaaa….” teriakku melengking
Evan melotot, aku yakin dia menahan orgasmenya, karena pasti vaginaku mencengkram penisnya kuat-kuat saat itu.

“Ah gila van..enak banget” jawabku lemas dengan pandangan sayu. Evan hanya tersenyum, lalu dengan penis masih tertancap, ia menyedot-nyedot payudaraku, aku keenakan dibuatnya, sehingga horny lagi. Aku menggerakan pinggulku maju mundur, padahal Evan
masih diam saja, tersenyum penuh kemenangan “Van, sodok donk, asshh..van cmon” pintaku memelas pada Evan, Evan malah melepaskan penisnya, aku melotot mau marah, tapi, Evan segera membalikkan tubuhku dan menggangkat pinggulku. Aku segera pasang posisi
merangkak, bertumpu pada tangan. Evan memasuki vaginaku dari belakang, lalu memompanya dengan cepat, tangannya meremas-remas payudara 34 C ku yang bergoyang-goyang kesana kemari. “Ohhh..aahhh..Wandaa..m*m*k lo..aassshhh” ceracau Evan menikmati
posisi tersebut, aku hanya bisa mendesah-desah keenakan, karena orgasme keduaku hampir datang “Van, terus van, gw mau keluar lagi”, kataku ngos-ngosan. Tanpa diduga, Evan menjabak rambutku “Aaaaaww” teriakku kesakitan, namun ia tetap memompa vaginaku
jadi antara enak dan sakit, aku baru sadar ia mengangkat kepalaku agar melihat persetubuhan kami di cermin di samping tmp tidur itu, yang terletak di lemari, cermin seluruh badan. POsisi kami memang bukan di tengah tmp tidur, kaki Evan masih berada di lantai, Evan
berdiri sementara aku posisi merangkak, sekarang posisiku setangah jongkok karena Evan menjabak rambutku, di cermin aku bisa melihat payudaraku bergerak-gerak, dan aku bisa melihat expresiku setiap kali Evan menyodok vaginaku dari belakang. Ini membuatku semakin
bernafsu, dan makin dekat orgasme, “Van..gw mau keluar..assshhh” katalu terengah-engah, “Da, gw…juga..di da-lem..niihhh?” jawab Evan putus-putus karena sambil memompaku. “Iya di dalem aja, please, dikit lagi..aaashh..sshhh..”jawabku cepat-cepat.
Evan semakin mempercepat gerakannya. Tangan satunya masih menjambakku, dan satunya lagi meremas-remas payudaraku. “AAAAAAAAAARRRGGHHH” teriak kami berbarengan, saat kami *ternyata* orgasme bersamaan “aasshhh..aaa” sambungku lagi, orgasmeku
panjang sekali, aku bisa merasakan penis Evan menyemprot berkedut-kedut di dalam vaginaku.

Evan melepas jambakannya dan membiarka tubuhku terkulai. Evan menindihku dari belakang, membuatku ngos-ngosan, akhirnya penis yang masih tertancap itu ditarik oleh Evan, dan ia berguling ke samping. “Thx ya da..” katanya sambil mengelus-elus kepalaku.
Aku membalikkan badan dan merapatkan tubuhku, Evan memelukku. Namun tidak lama Evan berdiri dan menggendongku memandikanku lagi. Ketika kembali ke tmp tidur, Evan melihat bercak darah kevirginanku. Evan melotot dan melihat ke arahku kaget,
aku cengengesan dan berkata “bener kan gw masih perawan”, Evan merasa bersalah, dan sejak saat itu kami resmi berpacaran.

Evan sangat mendukung hobbyku pamer-pamer tubuh, bahkan ia tidak mengizinkanku memakai BH ke sekolah. Nampaknya ia juga horny kalau melihat laki-laki lain memandangi tubuhku sampai melotot.
Akibat tidak pakai BH dan pakaian kelewat tipis, serta kelewat pendek. Aku sampai dipanggil kepala sekolah. Lain kali aku ceritakan pengalamanku bersama Kepala Sekolah , dan pengalaman-pengalamanku yang lainnya.
Sekarang aku masih pacaran dengan Evan, kami berdua kuliah di Bandung, dan hobbyku ini masih tetap berlangsung.

Saturday, December 22, 2012

Sex Bikin Awet Muda

Perkenalkan namaku A, mahasiswa tingkat 3 sebuah perguruan tinggi swasta di DP. Tinggiku 172 cm berat 67 kg, atletis, wajahku lumayan ganteng, dan dengan modal ini pula aku banyak menarik perhatian gadis-gadis teman kuliahku. Aku tidak mempunyai pacar tetap bukan karena aku homo atau sejenisnya tapi melainkan karena aku tidak terlalu tertarik pada gadis-gadis seusiaku apalagi yang lebih muda. Aku lebih senang kencan dengan tante-tante yang usianya sama dengan ibuku.

Keperjakaanku hilang ketika aku berusia 13 tahun, akibat dikencani oleh seorang janda tetanggaku. Sejak saat itu aku hanya tertarik untuk kencan dengan wanita setengah baya, karena permainan mereka yang aduhai dan mampu membuatku terbang ke awang-awang. Sampai sekarang sudah belasan tante-tante atau janda kesepian yang telah kukencani. Tidak semuanya berdasarkan uang, tapi ada juga yang karena suka sama suka, yang jenis ini biasanya karena wajahnya masih cantik dan bodinya sensual, kalau jelek ya.. terpaksa deh aku pasang tarif lumayan tinggi, hitung-hitung uang lelah.

Pengalamanku yang akan kuceritakan ini mungkin sudah pernah dialami oleh beberapa orang yang rajin membaca situs 17Tahun.com ini, karena berhubungan dengan seseorang yang sangat terkenal khususnya pada tahun 1980-an sebagai seorang artis dan penyanyi. Kejadiannya sekitar tahun 1997 akhir waktu itu aku dan temanku R (laki-laki) sedang ngobrol-ngobrol sehabis pulang sekolah di kawasan Blok M. R bertanya padaku apakah aku mau kencan dengan seorang artis. Aku tentu saja menjawab mau, pikirku kapan lagi bisa kencan dengan tante-tante, artis lagi.

"Siapa artisnya, jangan-jangan Maissy lagi?" kataku setengah meledek R.
"Bukan goblok, emangnya gue phedophili, itu tuh Tante TP", jawab R.
Aku terkejut bukan main, jadi gosip itu benar bahwa Tante TP wanita setengah baya yang usianya sudah lebih 50 tahun itu suka main dengan anak muda, untuk memelihara kecantikan wajahnya.
"Yang bener loe, Tante TP yang punya operet PPK itu kan, yang dulu suka bawain lagu anak-anak tahun 80-an", tanyaku memastikan.
"Iya bener, nih gue ada nomor HP-nya.. elo telpon aja kalo kagak percaya." Jawab R meyakinkanku.
"Oke deh gue percaya, kapan kita ke sana?" tanyaku.
"Besok deh kita cabut aja sekolah itung-itung refreshing oke?" jawab R, aku mengiyakan dan berjanji dengan R untuk bertemu di kafe OLA di PI Mall esok harinya.

Keesokan harinya tepat jam 10.00, aku bertemu R di kafe OLA.
Aku bertanya, "Udah ditelpon belum, Tante TP-nya entar dia telat lagi."
"Tenang aja deh udah beres, dia sebentar lagi datang", kata R meyakinkanku.
Benar juga seperempat jam kemudian kulihat sesosok wanita setengah baya mengenakan baju putih berkerudung dan mengenakan kacamata hitam lebar, tampaknya ia tidak mau dikenali orang banyak. Tante TP langsung duduk di tempat kami, dan membayar bill makanan lalu langsung mengajak kami pergi. Kami berdua mengikutinya, lalu kami bertiga meluncur ke hotel SHD di kawasan Sudirman di mana Tante TP sudah menyuruh asistennya untuk mem-booking kamar hotel tersebut. Dia tidak banyak bicara sepanjang jalan kecuali menanyakan namaku dan rumahku. Selebihnya justru aku yang bengong karena sebentar lagi aku akan berkencan dengan seorang artis yang waktu aku kecil dulu aku sering melihat wajahnya di TV membawakan lagu anak-anak kesukaanku.

Akhirnya kami sampai juga, Tante TP menyuruhku dan R untuk naik ke kamar lebih dulu baru kemudian ia menyusul, supaya orang tidak curiga katanya. Aku dan R sampai di kamar langsung saja bersorak kegirangan, "Gila gue ngentot ama TP, pasti anak-anak kagak bakalan ada yang percaya nih.. beneran itu TP yang sering di TV."

Tak lama kemudian Tante TP menyusul masuk ke kamar, begitu sampai ia langsung membuka kerudung dan kacamatanya, kemudian ia menyuruhku dan R mandi untuk membersihkan badan. Setelah mandi, aku dan R keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk, agak malu juga sih dari balik handuk itu menyembul batang kemaluanku yang ternyata sudah lebih tidak sabar dari tuannya untuk segera merasakan liang sorga Tante TP. Tante TP hanya tersenyum saja, kemudian ia menyuruh kami berdua untuk ikut berbaring di sisinya, Aku di sebelah kanan, R di sebelah kiri. Ia merangkul kami berdua seperti anaknya, kemudian ia mencium bibirku dengan lembut, aku pun membalasnya, R sepertinya iri dan dengan tidak sabar ia meremas payudara Tante TP.

"Aduh sabar dikit dong Nak.. nanti juga Tante kasih", kata Tante TP sambil tersenyum pada R dan kemudian ganti mencium bibir R. Melihat hal itu aku jadi bernafsu juga ingin meremas-remas payudara Tante TP. Perlahan-lahan kubuka kancing bajunya satu persatu dan nampaklah payudaranya yang montok dan masih terlihat kencang dibungkus bra warna pink yang menantang. Aku remas pelan sambil jari-jariku berusaha mencari puting susunya, Tante TP mengerang pelan pertanda ia merasakan kenikmatan saat aku menyentuh puting susunya dari balik BH-nya.

"Ahh.. enak.. sebentarnya Tante buka aja deh sekalian." Tangan Tante TP meraih ke punggungnya melepaskan hook BH-nya dan sekaligus membuka kemejanya sehingga sekarang ia hanya mengenakan rok panjang berwarna hitam. Payudaranya montok dan menantang ukurannya sekitar 36C, putih dan mancung dengan puting yang berwarna agak kecoklatan. Aku dan R jadi sangat bernafsu, segera saja kami berdua meremas payudara Tante TP satu orang satu. Tante TP mengerang dengan penuh nafsu. "Ayo dong anak-anak hisap pentil Tante", katanya memohon. Tidak perlu disuruh dua kali, aku dan R segera mengisap puting susu Tante TP, menjilat, menghisap, sambil sesekali kugigit pelan. "Ahh.. enak.. ohh.. agak keras gigitnya dong.. achh..!" erangan Tante TP justru semakin membuatku dan R bernafsu mengisap dan mengigit puting Tante TP.

Tante TP tidak diam saja, ia juga bereaksi dengan menyingkapkan handuk yang dipakai olehku dan R, kemudian tangannya menggengam batang kemaluan kami satu tangan satu. Tante TP agak terkejut dengan ukuran batang kemaluanku yang 21 cm dengan diameter 3,5 cm, batang kemaluan R sedikit lebih pendek yaitu 19 cm dengan diameter yang sama. Batang kemaluan kami diremas dan dikocok pelan, kemudian agak kencang, membuat kami menggelinjang dan semakin bernafsu untuk menikmati payudara Tante TP. "Aduh Tante jangan keras-keras nanti keluar loh..!" kata R setengah bercanda. "Jangan keluar dulu dong anak manis.. Tante belum apa-apa nih, lagipula jangan keluarin di sini, nanti aja di mulut Tante biar Tante minum semua sperma kamu." Aku berpikir, jadi gosip itu benar bahwa Tante TP gemar mengkonsumsi sperma anak-anak muda untuk menjaga keindahan kulit dan tubuhnya. Pantas saja, walaupun usianya sudah lebih 50 tahun, tubuhnya masih terlihat seperti umur 25-an.

Kemudian kami berganti posisi, Tante TP bergerak ke arahku kemudian membuang handukku ke lantai. Kemudian Tante TP menggenggam batang kemaluanku dan menjilati ujungnya yang terlihat ada setetes precum akibat aku sudah terangsang hebat. Ia kemudian memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya mulai dari kepalanya sampai ke ujung pangkalnya sambil meremas-remas biji pelirku. Dia sangat ahli sekali dalam urusan ini, nikmatnya sampai ke ubun-ubun, dijilat, dikulum, bibirnya mengitari sepanjang topi bajanya, sambil ujung lidahnya menusuk-nusuk ke lubang kecil di ujung batang kemaluanku berharap masih ada precum yang tersisa.

"Ahh.. Tante enak banget Tante.. ohh..!" desahku menahan nikmat yang tiada tara. Untung aku punya pengalaman dengan tante-tante, kalau tidak.. pasti sejak tadi aku sudah muncrat, saking jagonya hisapan Tante TP. Sementara Tante TP asyik menikmati batang kemaluanku, R tidak tinggal diam, dia menyibakkan rok Tante TP sampai terlihat celana dalamnya dan pelan-pelah R menurunkan celana dalam hitam milik Tante TP dan terlihatlah liang kewanitaan Tante TP yang ditumbuhi oleh bulu-bulu yang lebat, pahanya terlihat mulus bagai pualam, bukti wanita ini tahu bagaimana merawat diri dengan baik.

Tante TP kemudian membuka roknya dan melemparnya ke lantai. Kini ia sudah telanjang bulat, Aku dan R sungguh sangat mengagumi kemulusan dan kemolekan tubuh Tante TP, benar-benar luar biasa untuk wanita seusianya. Tante TP kembali mengulum batang kemaluanku dan R mengambil posisi di bawah Tante TP, dan bersiap menikmati liang kewanitaan Tante TP. Ia mengelus paha Tante TP, kemudian menjilatinya mulai dari lutut terus naik ke atas ke lubang surga Tante TP. R menyibakkan bulu-bulu yang menutupinya kemudian ia menjulurkan lidahnya mencari-cari klitoris Tante TP, menjilatnya sambil dijepit dengan kedua bibirnya.

"Achh.. oohh.. anak nakall.. awww..!" Tante TP mengerang-ngerang seperti orang gila ketika klitorisnya diperlakukan seperti itu. Cairan kewanitaannya tampak meleleh membasahi bibir R yang sepertinya justru menyukai rasanya. "Ohh.. aku nggak tahan deh anak-anak, ayo kita mulai aja deh", kata Tante TP sambil membalikkan badannya dan beralih menghampiri batang kemaluan R. "Kamu masukin batang kemaluan kamu sekarang ya A, aku hisap batang kemaluan teman kamu", katanya memberi komando, aku hanya mengangguk setuju.

Tante TP mengambil posisi doggy style, ia menungging dan mengarahkan liang kewanitaannya padaku. Aku menyaksikan liang kewanitaannya yang berwarna merah muda itu terbuka di hadapanku dan tampak cairan kenikmatannya meleleh keluar. Aku segera mengambil posisi, kupegang batang kemaluanku dan mulai mengarahkannya ke liang kewanitaan Tante TP, pelan-pelan kumasukkan sambil tanganku berpegang pada kedua bongkahan pantat Tante TP. Liang kewanitaannya sempit dan agak susah untuk batang kemaluanku yang besar untuk masuk padahal cairan kenikmatannya sudah mengalir deras.

Pelan-pelan kumasukkan dan ketika kepalanya berhasil masuk kuhentakkan pantatku, akhirnya batang kemaluanku berhasil masuk semuanya, Tante TP agak terdorong ke depan dan berteriak ketika batang kemaluanku masuk ke liang kewanitaannya. "Ahh.. enak A, terus kocok kontol kamu di liang memek Tante.. ahh!" teriaknya. Aku segera memainkan gerakan maju mundur mengeluarmasukkan batang kemaluanku di liang kewanitaannya yang sempit dan dinding kemaluannya seperti memijit-mijit batang kemaluanku, hisapan lembah sorganya seperti memaksa spermaku untuk keluar. Sementara Tante TP mengulum batang kemaluan R, aku asyik memainkan batang kemaluanku keluar masuk liang kewanitaan Tante TP.

Kira-kira setengah jam kemudian aku merasakan spermaku seperti hendak berontak keluar, kupercepat gerakanku, "Ohh.. Tante.. saya mau keluarr.. nihh.." kataku pelan. Kurasakan badanku mulai tegang dan batang kemaluanku seperti berdenyut dengan keras. Mendadak Tante TP mencabut batang kemaluanku dari liang kewanitaannya dan dengan gerakan cepat ia memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Bersamaan dengan itu aku mencapai klimaks, "Aaahh.. aku mau keluar Tante.. ahh!" tulang-tulangku serasa rontok semua, badanku serasa melayang saat spermaku muncrat di dalam mulut Tante TP. Batang kemaluanku berdenyut keras sambil memuntahkan sperma dalam jumlah yang cukup banyak. Terlihat Tante TP sibuk menelan seluruh spermaku, dia tidak ingin ada yang tersisa. Batang kemaluanku diurut-urut dengan kasar berharap semua spermaku terkuras habis dan pindah ke mulutnya.

Aku langsung terkapar tidak berdaya, tenagaku habis. Seiring dengan dilepasnya mulut tante TP dari batang kemaluanku, ia berbaring telentang sambil membuka kakinya lebar-lebar. "Sekarang giliran kamu nyumbang sperma buat Tante", katanya sambil tersenyum pada R. R begitu bernafsu langsung menusukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaan Tante TP, keluar masuk dengan lancar karena tadi aku sudah membuka jalannya, ia mengangkat paha Tante TP dan menaruhnya di bahunya agar batang kemaluannya bisa masuk lebih dalam lagi. "Ohh.. Tante.. Aku juga mau keluar sebentar lagi.." katanya lirih. "Iya Nak.. ayo terusin aja.."

Tiba-tiba Tante TP menyuruh R berhenti. "Tunggu dulu ya.. kamu mau ngerasain sesuatu yang baru nggak." R kontan menjawab mau, Tante TP menyuruh R bergerak agak ke atas kemudian menaruh batang kemaluannya di tengah-tengah payudaranya. Tante TP kemudian menghimpit batang kemaluan R dengan kedua payudaranya, dan menyuruh R kembali melakukan gerakan mengocok-ngocok. Kurang ajar si R dapat atraksi lain tapi aku tidak. Gaya ini ternyata cukup ampuh terbukti baru 5 menit, R sudah mengerang lagi, "Aduh.. Tante nggak tahan nih.. mau keluar.." Tante TP tersenyum, "Ayo keluarin aja.."

Beberapa detik kemudian, R meregang hebat dan langsung Tante TP menggenggam batang kemaluannya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. "Ahh.. Tante.. enakk.. ahh.." kulihat R meregang nikmat saat spermanya dihisap habis oleh Tante TP. Dan sama seperti aku ia pun terkulai lemas sesaat kemudian. Tante TP tersenyum penuh kemenangan. "Ternyata kalian anak muda berdua tidak bisa mengalahkan seorang nenek seperti saya". Aku menjawab, "Terang aja nenek-neneknya penghisap tenaga anak muda." Kami pun tertawa bersama dan beristirahat sejenak. Lalu kami menikmati hidangan makanan dan minuman yang dipesan Tante TP, dalam keadaan masih telanjang bulat.

"Terus terang aku masih pengen nih, tapi nanti malam ada show di TMII, biasa.. acaranya Mbak TT, Tante belum orgasme nih, kalian bantu Tante masturbasi ya", katanya. Kami setuju saja, lalu kami membantu Tante TP dengan menjilati payudaranya satu orang satu sementara ia mengocok liang kewanitaannya dengan jari-jarinya. Setelah ia klimaks, kami pun mandi bersama lalu memakai pakaian kembali, lalu bergegas meninggalkan hotel, tapi tidak ada satu pun diantara aku dan R yang mau french kiss dengan Tante TP sebelum pulang, kebayang dong berarti aku ikut merasakan sperma si R dan si R juga merasakan spermaku, nggak janji la yaw.. Sebelum pulang Tante TP menyerahkan amplop yang isinya uang dua juta rupiah, aku dan R langsung berfoya-foya di plaza SNY makan dan belanja sepuasnya.

Friday, December 21, 2012

Keperkasaan Prajurit

Pada suatu sore saat aku dengan Dewi temanku dalam perjalanan di jalan bebas hambatan, waktu itu hujan cukup deras sehingga jalanan kurang nampak jelas dari kaca mobil kami. Dewi yang memegang setir pada waktu itu sebenarnya juga mengendarai dengan hati-hati, tapi karena sedang apes mobil yang kami naiki itu keluar jalur dan mobilnya terperosok ke dalam parit. Untung Dewi tidak ngebut sehingga kami berdua selamat dan tidak mengalami lecet sedikit pun. Karena mobilnya terperosok ke dalam parit, maka kami tidak bisa langsung membawa mobil ke jalur yang semestinya lagi.

“Waduh.. Sus! Nggak bisa keluar nih bannya, mana HP-ku habis batterainya, wah! Gimana nih?” Dewi panik dan sepertinya kehabisan akal.
“HP-ku juga nih, mana hujan lagi, sepi kendaraan lagi, kalau gini sich! Meski ada orang yang memperkosa kita nggak pa-pa deh! Asal kita diantar pulang saja”, aku ngomong sekenanya.
“Gila kau Sus, tapi benar juga asal jangan kasar-kasar kali ya, hehehe..!”
“Loh! Semakin kasar semakin nikmat lagi, hahaha..!” kami tertawa seakan-akan kami sudah terlepas dari masalah.
“Sus, kalau kita di dalam mobil saja, kita akan di sini sampai mampus”, gerutu Dewi.
“Habis gimana lagi, di luar kan hujan gitu.”
“Yah kamu, nggak takut diperkosa, masak takut sama hujan, ya sudah aku saja yang keluar, kucoba dorong mobil ini keluar dari lubang”, Dewi nekat dengan semangat empat lima dia keluar dan mulai mendorong moncong depan mobil sialan ini.

Aku melihat Dewi berusaha dengan keras dan mengerahkan seluruh tenaganya, tapi mobil sialan ini tidak bergerak sedikit pun.
“Sus! Hidupin mesinnya!” Dewi teriak-teriak, kuhidupkan mesin lalu giginya kuganti gigi mundur, ternyata mobil hanya bergeming sedikit saja. Lalu aku ikut keluar dan juga mencoba mendorong sama-sama dan ternyata tidak membawa perubahan yang berarti.
“Ya.. nggak bisa juga Wik”, keluhku.
“Iyah, tapi bodimu cukup bagus basah-basah gini Sus..”
“Kamu itu mabok ya? Tapi bodimu juga terlihat bagus”, lalu kami tertawa-tawa.

“Hei..! Sus itu ada mobil, kita cegat yuk”, sambil Dewi menunjuk ke arah mobil truk yang semakin mendekat, dan kemudian kami bergegas berlari sampai ke tengah jalan dan melambai-lambaikan kedua tangan kami. Dan kami berhasil, truk itu ternyata adalah truknya tentara.
“Kenapa kalian? Kenapa dengan mobilnya?” Teriak supir truk, dan kami menghampirinya, “Itu Pak mobil kami masuk parit, jadi mobil kami tidak bisa jalan lagi nih Pak!” kujawab dengan nada yang mesra.
“O iya! Hei! Anak-anak bantu nyonya-nyonya ini ayo cepat.” Kemudian turun empat orang dari belakang truk itu.
“Mari Nyonya, anda yang pegang kemudi”, kata salah satunya dengan tegas kepadaku, lalu kujawab, “Loh, kok Nyonya sih, kan aku masih muda dan single lagi”, sambil kugoda dia, huh badannya tegap, tampangnya nggak jelek-jelek amat, tapi yang penting kan bodinya kekar.

Kucoba menghidupkan mesin lagi beberapa kali tapi tak mau hidup-hidup, waduh kenapa ya?, dan kulihat ternyata bensinnya sudah habis.
“Waduh Mas bensinnya habis, ada cadangan ngak mas-mas ini”, teriakku.
“Waduh maaf Nona kami tak punya..”
“Yah sudah, kalau gitu kami ikut kalian saja”, setelah kami mengambil tas, kami langsung naik truk mereka.

Setelah masuk, dengan santainya aku melepas bajuku yang basah di hadapan keempat prajurit yang tidak jelas pangkatnya itu, kulihat mereka menatap kami tanpa berkedip sedikit pun, lalu kudekati salah satu dari mereka setelah pakaianku terlepas semua. “Kenapa? suka dengan bodiku hmm..” godaku. Kulihat jakunnya naik turun dan matanya tak henti-hentinya melihat payudaraku yang boleh dibilang montok dan seksi cukup mengoda pokoknya. Lalu kupegang tangannya, kudekatkan ke bongkahan payudaraku, “Gruungg!” suara itu tiba-tiba merusak suasana hening, “Hei! Jangan berangkat dulu”, mereka berempat bergegas mendekati jendela sopir, entah apa yang mereka bicarakan.
“Sus, kamu sudah gila ya?” tegur Dewi yang terlihat agak malu-malu tapi mau.
“Sudahlah, lagian kita kan kedinginan butuh penghangat dong”, sambil kucubit susu kirinya dan Dewi pun tersenyum dan mulai melepas bajunya.

Mesin truk tak lama kemudian mati lagi dan keempat prajurit itu dengan cepat melucuti bajunya masing-masing. “Nona jangan salahkan kami, karena kami sudah empat bulan tidak pernah menyentuh wanita, mungkin nanti agak kasar”, kata salah seorang prajurit yang hanya tinggal celana dalamnya saja yang menempel di tubuhnya. Kemudian dia mendekap tubuhku lalu langsung melumat halus bibirku, ternyata dia mahir memainkan lidahnya, nafasku habis rasanya, dan sekilas kulihat prajurit yang lain menggelar terpal dalam tuk yang cukup luas itu dan kulihat Dewi sudah mulai dikerjai seorang prajurit yang mulai membelai, mencium dan mengulum dada montok milik Dewi.

Setelah beberapa saat berciuman, prajurit yang berhadapan denganku mulai mencium leher di bawah telingaku sambil mendesah-desah merasakan kenikmatan, setelah itu dia merambat mengerjai susu sebelah kiriku dengan liar dan ganas. Ssst! Sunguh nikmat sekali. Dengan tiba-tiba badanku ditarik lalu dibaringkan ke atas terpal kasar di lantai truk itu. Sekilas kulihat supir tadi juga mulai naik, kemudian dengan tergesa-gesa melepas pakaiannya sampai polos, lalu mendekatiku dan menuju selangkanganku, kemudian dia menjilati liang kewanitaanku, langsung aku mendesis dan mengeram, dengan tiba-tiba prajurit yang tadi membaringkanku langsung menghimpit kepalaku dengan selangkangannya, kemudian dengan cepat kulepas celana dalamnya. Setelah keluar batang kemaluannya kemudian langsung kulahap batang kemaluan yang lumayan besar itu. Kukulum-kulum dan kusedot kuat-kuat hingga prajurit itu mengeram-ngeram sambil menekan-nekan kepalaku sampai aku sesak nafas. Sesekali aku mendengus dan mendesis akibat ulah supir truk yang mejilat dan menggigit lembut klitorisku, sampai tubuhku mengejang lalu tak lama kemudian sepertinya tumpah semua cairan dalam liang kewanitaanku.

Aku tetap sibuk dengan batang kemaluan yang ada dalam mulutku lalu kurasakan payudaraku ada yang meremas dan sesekali dikulum-kulum. Sungguh kewalahan aku melayani mereka. Dengan tiba-tiba aku mendengar erangan Dewi tepat di sebelah kiri kupingku, ternyata dia sedang dalam keadaan tengkurap di antara kedua prajurit. “Gilaa Suss.. ughh.. sst!” Dewi mulutnya ngomel-ngomel nggak karuan sambil merem-melek tak berdaya. Gila, Dewi dikerjai depan belakang. Lalu prajurit-prajurit yang mengerjaiku berusaha membimbingku untuk nungging, setelah nungging di atas salah seorang dari mereka dan setelah batang kemaluan prajurit di bawahku tepat di antara bibir kewanitaanku, pantatku ditarik dengan keras-keras hingga masuk semua betang kemaluan prajurit itu dengan lancar karena liang kewanitaanku sudah licin.

Setelah beberapa kali genjotan prajurit yang lain berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. “Ssst.. aah.. aah!” Gila sakit banget, baru kali ini anusku digarap orang. “Aaakkh..!” aku menjerit sekuat tenaga begitu batang kemaluan prajurit yang besar itu masuk ke dalam anusku. Selang beberapa saat, terasa juga nikmatnya gesekan dari dua lubangku yang sebelumnya tidak terbayang, meski rasa sakit masih menyertai. Kemudian tubuhku mengejang dan sampailah aku pada klimaks kedua, tapi kuperhatikan kedua prajurit itu masih sibuk menggenjotku. Pelir besar tiba-tiba berada di wajahku, kemudian peler itu didorongnya ke mulutku yang kemudian kukulum dan kusedot, di sela-sela desisan dan eranganku. “Ayo Nona sedot yang kuat!” kata prajurit itu sambil menekan-nekan kepalaku. “Uuugh.. aakh.. esst!” suara geraman dan desisan silih berganti saling sahut menyahut dalam truk itu.

Saat kulihat di sebelah, Dewi terkapar dan lemas, sesekali dia mengeram karena prajurit itu masih getol menyetubuhi Dewi. Gila rasanya aku mau keluar untuk ketiga kalinya sebentar lagi, beberapa saat kemudian kurasakan kedua prajurit yang menyetubuhiku depan belakang mengeram serta merangkul kuat-kuat tubuhku dan kemudian kurasakan liang kewanitaan dan duburku tersembur cairan yang hangat hampir bersamaan, aku pun mencapai klimaks yang ketiga.

Setelah aku mencapai klimaks, aku semakin bersemangat mengulum dan menyedot batang kemaluan di hadapanku sampai pada akhirnya cairan hangat itu menyembur memenuhi rongga tenggorokanku. Lalu prajurit itu melepaskanku dan bergerak menjauhiku. Dan kulihat Dewi pun mulai di tinggal sendirian, kemudian kelima prajurit itu mendekat. “Ayo sini kita gantian, aku pingin rasain juga dia”, kata salah satu dari mereka sambil tertawa-tawa, waduh habis aku.

Dua prajurit yang menyetubuhi Dewi mendekat, lalu satu dari mereka menggendongku dan kemudian setelah pelernya tepat di tengah-tengah liang kewanitaanku, aku sedikit diturunkan dan amblas sudah batang kemaluannya tertelan liang kewanitaanku tanpa halangan. Aku disetubuhinya sambil berdiri, sambil tangannya tak henti-hentinya naik turun dengan posisi aku merangkul erat tubuhnya, kemudian dari belakang duburku disodok peler dari belakang, aku menjerit dan mengeram kesakitan, buah dadaku digerayanginya dengan brutal.

Setelah beberapa saat aku dikerjain berdiri, aku diturunkan kemudian aku disuruh mengangkangi seorang prajurit, dan setelah pas masuklah kembali peler besar itu dalam liang kewanitaanku, dan yang lain menyusul menimpaku dari belakang, dan bukannya masuk ke duburku melainkan juga masuk ke dalam liang kewanitaanku, gila ini prajurit, dengan kasar dan brutal akhirnya masuk juga pelernya meski hanya setengahnya, tapi sakitnya bukan main aku menjerit-jerit minta ampun tapi tidak di gubrisnya. Karena mungkin tidak memuaskan dia, maka peler yang masuk hanya setengah itu dicabutnya kemudian dengan serta-merta menyodokkan ke duburku dengan keras, lalu mengosoknya dengan brutal, tak lama kemudian dia mencapai klimaks, setelah beberapa saat lalu batang kemaluannya dicabutnya.

Sekarang aku berkonsentrasi pada satu orang saja, aku merubah posisiku dengan posisi nangkring di atas selangkangannya, kemudian aku mulai naik turun dan sedikit goyang kanan kiri, hingga tak lama kemudian pertahanannya terlihat sedikit goyang, begitu pula aku sepertinya aku akan mencapai klimaks keempat kalinya. Setelah beberapa saat kurasakan liang kewanitaanku di sembur cairan hangat dan kemudian aku pun mencapai klimaks yang keempat kalinya, kami pun saling menggeram, lalu aku menggulirkan tubuhku di samping prajurit yang terlihat lemas. Kulihat Dewi masih di kerjai tiga orang prajurit, Dewi meringis-ringis sambil terus dijejali batang kemaluan prajurit yang besar itu. Karena aku merasa kasihan dengan Dewi dengan sedikit sempoyongan kuhampiri mereka kemudian kutarik salah satu dari mereka yang sedang getol-getolnya ngerjai dubur Dewi lalu kukangkangi dia, setelah tepat posisi pelernya diantara bibir kewanitaanku, kududuki dan langsung masuk seluruh batang kemaluan prajurit itu. Kugoyang-goyang dengan gencar hingga prajurit itu kewalahan menghadapi seranganku, membuatnya tak kuasa menahan lahar spermanya, menyemburlah spermanya dalam liang kewanitaanku. Karena aku belum mencapai klimaks lagi kepalang tanggung sehinga aku tetap menggoyang pinggulku sampai aku mencapai klimaks.

Setelah selesai prajurit-prajurit itu mengerjaiku dan Dewi mereka terlihat lelah. Aku menghampiri Dewi, kulihat wajahnya sudah lelah, “Gimana Wik?” bisikku. “Wah! habis aku, sampai aku klimaks lima kali Sus”, Dewi menjawab pertanyaanku dengan sisa-sisa tenaganya. Setelah itu kami minta diantar ke rumah kontrakanku dan kemudian aku menghubungi jasa mobil derek kemudian kami istirahat setelah kami mandi bersama.



Sungguh Puaskah Istri Anda ?