Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Sunday, December 23, 2012

Sex Menyimpang Wanda

Well, namaku Wanda, umurku 21 tahun. Kata orang aku cantik, dan aku mengetahui hal itu, haha..
Tinggiku 160 cm dan beratku 52 kg,Ukuran Braku 34 C dan celana jeansku 28. Bentuk tubuhku nyaris sempurna, kenapa aku bilang nyaris karena kan tidak ada orang yang sempurna
Yah dengan segala kelebihanku ini aku merasa harus membaginya dengan sesama, itu lah kenapa aku suka berpakaian minim dan memamerkan tubuhku.
Umm apa ya sebutannya, ah ga penting yang penting kalian tahu maksudku kan?

Aku mengetahui kelainanku ini ketika duduk di kls 1 sma, waktu itu di kelasku mayoritas cowok. Sehingga cewek-cewek di kelas diperlakukan bagai Putri.
Tetapi di kelasku itu hanya ada 3 orang cewe yang berwajah lumayan, aku, teman sebangkuku Achie dan satu lagi aku ga begitu kenal dekat tapi kalau
ga salah namanya Nadia. Jadilah kalau pelajaran kosong atau istirahat cowok-cowok di kelas cari muka dengan aku dan Achie teman sebangkuku.
Entah kenapa aku merasa senang skali jadi pusat perhatian, jadi mulailah sedikit demi sedikit baju seragamku mengetat, dan rok ku memendek
Achie yang sedikit tomboy dan sudah punya pacar terkadang kalau istirahat langsung ngeloyor ke kelas cowoknya, sedangkan aku diam di kelas meladeni cowok2
kesepian itu.Namun keberanianku cuma sampai disitu saja.

Hingga sewaktu aku naik kelas 2 aku ikut ekskul cheerleaders sehingga aku makin2 jadi pusat perhatian. Cheerleaders yang kalau tampil selalu pakai baju ketat
dan rok mini. Sehingga aku pun semakin berani menampilkan diri, terkadang sampai basah vaginaku bila cowok-cowok yang menonton melihat dengan pandangan
yang mupeng seakan-akan melihatku bagai tanpa busana.

Aku ingin menceritakan pengalaman beraniku sewaktu kelas 3 SMA, waktu itu hari sudah sore, anggota cheers baru selesai latihan, beberapa langsung pulang
dan beberapa lagi langsung mandi di ruang locker. Sedangkan aku memilih untuk bersantai di kelasku 3 IPS 3 yang berada di lantai 3 paling pojok.
Kelasku ini paling nyaman dibanding kelas-kelas lainnya, kelas ini satu-satunya yang memiliki 3 AC sekaligus, jadi lebih sejuk di kelas ini, selain AC
kelas ini juga paling besar dan punya fan juga. Pokoknya kelas paling enak deh, aku berlari dari aula lantai 2 tempatku berlatih ke lantai 3.
Sampai di kelas karena hari itu sudah hampir pukul 5, dan sepi banget, aku memutuskan untuk ganti baju disitu. Aku lepaskan celana pendek daleman rokku
dan juga kaosku yang sudah basah oleh keringat. Aku lupa tidak membawa baju ganti, jadi kuputuskan untuk memakai baju seragam putihku.
Tapi sebelum aku berganti baju aku tidur-tiduran di atas meja, tepat dibawah fan untuk meng”adem”kan badanku. Latihan cheers tadi menguras keringatku
jadi seluruh tubuhku basah. Aku hanya memakai rok cheers yang pendek dan celana dalam g-string warna hitam serta Bra hitam mini, aku tidur-tiduran di atas meja
sambil sesekali mengelap tubuhku dengan handuk kecil, tetapi ternyata aku kecapean hingga ketiduran. Tiba-tiba aku dengar pintu dibuka, aku tersentak kaget
dan kulihat si ganteng Evan anak IPA itu memasuki kelas, aku melirik jam ternyata aku ketiduran 20 menit. Bukannya aku mencoba menutupi tubuhku tapi malah
aku pasang posisi menggoda dan pura-pura tertidur. Evan si ketua osis itu melongo melihatku seperti itu. Namun perlahan tapi pasti Evan malah mendekatiku.

Evan mencoba memanggil namaku, nampaknya ingin membangunkan atau hanya ingin mengecek saja. “Wan..” seru Evan pelan. Aku pura-pura tertidur sambil mengganti posisi
lebih menggoda lagi, tanpa kusadari sudah basah vaginaku melihat evan melongo memandangiku. Evan menyentuh pelan tanganku untukmembangunkanku
namun aku diam saja. Evan pun memegang perutku namun aku masih pura-pura tertidur. Sampai Evan menyentuh payudaraku pelan, aku malah mendesah namun tetap tertidur
akhirnya evan memberanikan diri meremas payudaraku, lagi-lagi aku mendesah saja. Evan menurunkan tali Braku dan menarik Braku turun hingga ke perut.
Buah dadaku terpampang dengan jelas, dan putingnya yang mengeras sudah tegak berdiri. Evan meremasnya lagi, kini aku pura-pura agak tersadar.
Evan kaget dan sedikit mundur dari tempatnya berdiri, namun aku masih ingin menikmati permainan ini sehingga aku merubah posisi menjadi menyamping.
Rok cheersku yang pendek terangkat, sehingga pantatku terpampang di hadapan Evan. Aku mengenakan g-string jadi Evan bisa melihat jelas bongkahan pantatku
Evan meremasnya, aku sangat menikmatinya, aku yakin vaginaku sudah sangat basah. Evan lalu berpindah berdiri, sehingga ia berada di hadapan payudaraku.
Ia meremasnya lembut dan tangan satunya meremas pantatku. Aku masih pura-pura tertidur, nampaknya evan tahu aku pura-pura, karena aku terkadang mendesah pelan
tiap kali ia menyentuhku. Nampaknya Evan sudah tidak tahan, aku bisa melihat “adek”nya sudah sangat keras dibalik celana abu-abunya, karena berada tepat di depan wajahku.
Aku pura-pura mengganti posisi dan menyebabkan wajahku menempel pada “adek”nya, Evan menggesek-gesekan adeknya itu, dan tiba-tiba saja tanpa disangka-sangka
Evan menarik g-string miniku hingga putus. Dan ia memukul pantatku, ah diperlakukan seperti itu tidak mungkin aku pura-pura tertidur, jadi aku bangun dan dengan panik
aku tutupi dadaku. “Evan, mau ngapain lo!” bentakku, Evan hanya tersenyum saja dan dia berkata “Engga tadi laporan osis ketinggalan..” lalu ngeloyor pergi, aku terduduk di meja
membenahi Braku itu, namun Evan balik lagi, aku langsung panik menutupi payudaraku lagi Evan berkata “Umm btw, nice boobs u have..” lalu pergi lagi, aku hanya
tersenyum tersipu ketika Evan pergi, entah kenapa aku merasa horny sekali sewaktu dia memujiku. Ketika aku sedang tersenyum Evan balik lagi dan memergoki ku sedang
tersenyum tersipu..lalu dia berkata lagi “haha..lo seneng ya?, ah..nice butt too” lalu dia pergi lagi. Aku senang bercampur malu saat itu.

Aku melihat jam sudah menunjukan hampir pukul 6, karena ga ada celana dalam lagi, aku pulang hanya menggunakan rok cheers tanpa celana dalam.
Rupanya tanpa aku sadari kaos bekas cheers tadi yang basah aku letakkan di atas seragam putihku, sehingga seragam putihku
itu ikut-ikutan basah. “Wah kebetulan, its show time!” kataku dalam hati, aku lepaskan Bra hitam miniku, dan pulang mengenakan seragam sekolah putih
yang basah dan rok cheers yang mini tanpa pakaian dalam sama sekali. Aku menatap cermin yang ada di kelas itu, putingku yang masih mengeras
tercetak jelas di seragam putihku yang ketat dan rok cheers itu sangat pendek sekali, bila aku membungkuk sedikit saja, pasti orang-orang bisa melihat bokong indahku.
“Sempurna” bisikku pada diriku sendiri. Aku bergegas pulang, ketika aku melintasi lapangan masih ada anak-anak kelas 2 sedang bermain basket, dan bola itu
memantul dekat tmpku berjalan. Cowok-cowok itu meminta tolong aku mengambil bola basket itu, aku tersenyum manis, membelakangi mereka dan dengan pantat menghadap mereka
aku membungkuk mengambil bola itu, cowok-cowok kelas 2 itu langsung terdiam, mereka dapat melihat jelas pantat mulusku, bahkan vaginaku bila mereka
lebih teliti lagi. Tapi kejadian itu tak berlangsung lama, hanya sekitar 5 detik-an dan aku berbalik badan melempar bola basket itu. Mereka hanya tersenyum saja
ketika aku berbalik badan dengan wajah “tak tahu apa-apa”.

Aku pun pulang naik mikrolet, untung saja langsung kudapatkan begitu aku keluar sekolah. Di mikrolet itu hanya ada 1 anak kuliahan *mungkin* dan 2 orang bapak-bapak
aku sedikit menyesal karena di mikrolet itu tidak ada yang mukanya oke punya. Ketika memasuki Mikrolet aku agak membungkuk, pastilah pantatku itu terlihat jelas, pikirku
dalam hati. Aku duduk di pojok, di depanku 2 orang bapak-bapak itu, aku duduk agak menyamping, namun tmp duduk mikrolet itu terlalu pendek. Dudukku jadi seperti berjongkok
aku tutup kakiku rapat-rapat, tapi pasti pahaku bisa terlihat jelas oleh bapak-bapak itu. Aku pura-pura tidak tahu, anak kuliah itu pasti tadi sudah melihat pantatku waktu aku masuk tadi
karena ia duduk dekat pintu, sekarang bapak-bapak ini menatapku dari atas sampai bawah. Entah kenapa aku horny sekali ketka mereka memandangiku seperti itu, jadilah aku mulai berulah
aku memutir2 kancing kedua baju seragamku, lalu perlahan, dengan wajah tidak melihat bapak-bapak itu aku melepaskan kancing keduanya. tanpa melepas kancingpun mereka sudah bisa
melihat payudaraku secara jelas aku pikir, namun karena hari itu sudah gelap, dan lampu mikrolet remang-remang mungkin putingku tidak terlalu tercetak. Aku mendengar bapak-bapak itu
menahan nafas waktu aku melepaskan kancing nomor dua itu dengan seksi. Kini aku semakin berani, entah kenapa dorongan untuk berbuat lebih ada dalam diriku. Aku pun tidak lagi memiringkan
badanku, tapi menghadap lurus ke bapak-bapak itu, sehingga sekarang mereka bukan saja melihat payudaraku dari samping, tapi dengan jelas dapat melihat belahan dada dan separuh payudaraku
apalagi putingnya tercetak jelas disitu, aku tersenyum menggoda kepada mereka, dan mereka balas tersenyum.

Asal kalian tahu, kancing bajuku hanya ada 4, jika sudah terbuka 2, berarti sudah separuh dari bajuku terbuka. Aku memilin2 kancing nomor 3, aku melihat anak kuliahan itu begeser mendekat,
tak ingin ketinggalan pertunjukan rupanya. Aku memilin-milin kancing nomor 3 dan perlahan ku buka pahaku..aku yakin vaginaku yang basah dapat terlihat.
Aku membukanya sedikit saja, tanganku yang satu memilin-milin kancing baju nmor 3 dan satunya mengangkat rok-ku perlahan-lahan.
Ketika aku ingin melepaskan kancing nomor 3, aku mendengar seseorang memanggil. Aku menghentikan kegiatanku, nampaknya mereka kecewa. Aku menoleh ke belakang, rupanya Evan dalam mobil Jazznya
waktu itu Jazz baru saja keluar, wah pokoknya mewah banget, ia memberikan isyarat untuk turun dan naik mobilnya, memang waktu itu lampu merah. Namun tanpa kusangka-sangka bapak-bapak di depanku
membuka lebar pahaku, dan yang satunya menarik rokku naik, aku berteriak sedikit. Lalu aku mengetuk mikrolet tanda aku ingin turun. Sebelum turun aku tulis nomor tlpku di tangan salah satu bapak itu
entah apa maksudku, mungkin agar aku dibiarkan turun, mereka melepaskan pahaku. Aku menyiapkan uang receh lalu bergegas turun. Namun sewaktu turun aku sengaja membungkuk dengan belebihan
sehingga pantatku terlihat semua, lalu aku rasakan tangan-tangan mereka mencubit dan memegang pantatku, aku membayar mikrolet dan sempat berkata. “Udah dulu ya live shownya” sambil tersenyum menggoda
mereka hanya tertawa-tawa saja.

Aku berlari menuju mobil Evan, dan langsung duduk di depan. Rokku tertarik naik sewaktu aku duduk buru-buru. Evan tersenyum ia bilang “Da..body lo oke banget..di rawat ya”, eh agak canggung aku tp aku
pura-pura cuek dan menjawab “thx, iya emang gw care banget sama body gw”, suasana hening sejenak, “Da, mau makan dulu ga, lo pasti laper abis latihan cheers” suara Evan yang berat itu memecah keheningan
aku cuma mengangguks aja, “eh tapi bayarin yah, gw ga ada duit” kata ku tiba-tiba, “Beres, tapi ada imbalannya ya” jawab Evan sambil tangannya berpindah ke pahaku, dan membelainya. “Eh..iyaa..” jawabku
pelan menikmati sentuhannya, kami menuju ke Chitos, namun aku ingat kalau di Chitos ga boleh masuk pakai seragam. Maka aku sempatkan ganti baju di parkiran, dengan kaos bekas latihan tadi, sudah bau keringat
tapi gimana lagi, sewaktu aku ganti baju Evan menciumku dan meremas dadaku lembut, aku membalasnya tapi hanya sebentar saja karena aku blg “Van, makan dulu yu, macem-macemnya nanti aja de” kataku tersenyum
manja. Evan melongo waktu dia sadar baju apa yang kukenakan. “Lo yakin Da mau pakai baju itu?” kata Evan berusaha meyakinkan diri, “iya emangnya kenapa..” jawabku cuek. Haha..baju itu sudah tidak lagi menutupi
apa-apa, kaos itu berdada V rendah berwarna putih polos, bahannya sangat tipis karena itu kaos untuk latihan, sehingga tidak membuat badan panas. Dan kali ini ditambah dengan basah, lekuk tubuhku dan bayangan putingku
tercetak jelas. “Udah la van cuek aja..”kataku, Evan hanya mengangguk-angguk lalu memencet tombol kunci mobilnya. “Kecuali kalo lo malu..” sambungku, “ah gila kali lo ya, jalan sama cewe secantik lo, seseksi lo, bisa malu gw?”
jawab Evan spontan, aku hanya tersenyum geli saja. Kami makan di Izzi Pizza, sewaktu kami makan aku tak luput dari pandangan orang-orang, ya cewe ya cowok, dan pandangannya macem-macem, ada cewe yang jealous
ada yang jijik mungkin, ada yang kaget, tapi lebih banyak yang mupeng sih. Evan tidak makan banyak waktu itu, tangannya terus berada dibawah membelai-belai pahaku bahkan sampai terangkat rokku, terkadang aku membuka
pahaku, sehingga jari-jari Evan kadang menyentuh vaginaku, pemandangan itu tentu saja membuat orang-orang kaget. Tapi nampaknya Evan juga cuek saja, jadi ya aku cuek saja.

Waktu sampai di mobil, Evan langsung menyergapku, menurunkan kusiku hingga tiduran, mencium bibirku dengan nafsunya dan langsung menarik payudaraku keluar dari bajuku melalui kerah V yang rendah itu, ia langsung menghisapnya
keras-keras dan jarinya mulai mengelus-elus vaginaku, vaginaku sangat basah, daritadi aku merasa horny banget dengan segala kelakuan gilaku, aku membuka pahaku lebar-lebar sehingga jari-jarinya lebih leluasa membuaiku.
Evan makin liar, kini jari-jarinya mulai disodok-sodok ke vaginaku, aku benar-benar terbuai, sebenarnya kaca mobil Evan termasuk 95% gelap, namun tidak dengan kaca depannya. Kaca depannya bening sebening aquarium, sehingga siapapun yang melintas pasti bisa melihat perbuatan kami, namun kami parkir agak jauh dan hari itu hari sekolah, sehingga Chitos tidak begitu ramai. Aku naikkan kakiku ke atas dashboard, dan membukanya lebar-lebar, namun tiba-tiba aku melihat seorang satpam memergoki kami dari kaca depan, aku pura-pura tidak tau saja, malah membalas ciuman evan dengan ganas, Evan pun makin liar mengelus-elus klitorisku dan mulutnya masih tetap di buah dadaku yang montok itu.

Satpam itu disitu sekitar 4 Menit, menonton kami hingga akhirnya ia mengetok kaca sebelahku, Evan terlonjak kaget dan ingin segera tancap gas, karena daritadi mobilnya sudah menyala. Namun aku memegang tangannya dan malah
membuka kaca itu, payudaraku sebelah masih keluar dari kerahku, dan rokku masih terangkat memperlihatkan vaginaku dengan bulu-bulu halus yang rapih. Satpam itu nampaknya kaget, namun denga sigap aku pegang tangan satpam itu
dan menaruhnya di payudaraku, tangan itu begitu kasar, berbeda dengan tangan Evan, Satpam itu diam tak berkutik, “Bapak mau ini kan..” kataku sambil menuntunnya meremas-remas payudaraku. Aku merasakan sensasi luar biasa, hingga
mendesah-desah sendiri, Evan menonton kelakuanku hingga melotot. Satpam itu terlihat sangat menikmatinya, namun tiba-tiba aku berteriak “Van gas sekarang!!”, Evan dengan panik langsung menginjak gas dan pergi dari situ.
Lalu Evan dan aku tertawa-tawa heboh, “Gila ya lo da, gw ga nyangka lo seliar itu” kata Evan, aku tersenyum menggoda, merapatkan tubuhku yang payudaranya masih mencuat keluar, dan berkata “Mau yang lebih liar..”
Evan lalu mempercepat laju mobilnya, namun tiba-tiba di tengah perjalanan dia bertanya “Da, maaf nih ya, tp lo cewe bayaran?” katanya pelan. Aku cuma tertawa saja, “Da serius, kalau bener bisa dibayar…” evan menghentikan kalimatnya “Kenapa lo mau bayar gw?” kataku cepat..Evan tersenyum dan mengangguk, “Van..buat lo gratis..” jawabku cuek. “Eh da, jadi bener lo cewe bayaran?” tanyanya lagi. Aku menggeleng, dia terlihat kebingungan.
“Engga, percaya ato ga gw masih virgin kalee” jawabku lagi, Evan melotot, “Beneran?” tanyanya ga percaya, “Mau bukti..?” tantangku, Evan diam saja, “Ini kan sekarang kita mau buktiin” jawabku sambil tersenyum. Evan hanya terdiam kebingungan.

Akhirnya kami sampai di sebuah rumah besar banget dibilangan Cilandak, ga jauh dari Chitos. Waktu hampir sampai Evan memintaku membenarkan pakaianku. Dan memintaku mendoblekan bajuku dengan baju seragam tadi, supaya tidak terlihat
mencolok. Benar saja 2 satpam langsung membukakan pintu, Evan langsung memasukin garasi. Dan mematikan mobilnya, waktu itu sudah hampir pukul 9, aku pun turun dari mobil, dengan pakaian yang lebih rapih. Tersenyum pada satpam itu, satpam itu
bertanya pada Evan “pacar baru den?” Evan hanya menjawab “Yoi donk pak!” sambil menggandeng tanganku masuk. Rumah itu besaaar banget, tapi sepi ga ada orang, “Van pada kemana..” kataku pelan, “Nyokap udah meninggal waktu lahirin gw, bokap..
tinggal dirumah istri barunya, gw sendirian deh..” jawabnya singkat. “Ah udahlah yuk masuk..” kata Evan sambil menarik tanganku masuk ke kamarnya. Evan segera menutup pintunya dan menciumku dengan liarnya, tangannya segera menjelajah semua
tubuhku, dalam posisi berdiri dia angkatnya rokku dan diremasnya pantatku. Namun tiba-tiba Evan berhenti, “Da, lo nginep sini aja ya, blg sama nyokap lo gih” katanya sambil melemparkan hpnya. Lalu aku meminta Evan menyalakan CD playernya dengan
lagu-lagu hiphop “Ma..wanda ga bisa balik nih, masih latihan cheers” teriakku disela-sela musik yang kencang itu, “Oh iya-iya itu apa sih dibelakang berisik amat” kata mama balas teriak “Anak-anak lagi latihan ma, mungkin kalau kemaleman Wanda nginep
rumah temen ya ma” jawabku lagi, mama hanya bisa menyetujui saja.

Selesai menelepon aku melihat sekeliling, tidak ada Evan, tiba-tiba Evan keluar dengan baju handuk putih, dan menarikku masuk ke kamar mandi. “Mandi dulu, lo bau asem” katanya sambil cengengesan, aku hanya bisa menurut saja.
Di kamar mandinya ada whirlpool, seperti jacuzzi, sudah dituang shower bath sehingga berbusa-busa, Evan melepas seluruh bajuku dan menggendongku masuk ke jacuzzi itu. Evan memandikanku dengan sangat lembut. Ia membelai seluruh jengkal tubuhku
tapi dengan lembut sekali, berbeda dengan ketika di mobil tadi. Evan menarik tubuhku keluar dan menyuruhku berdiri dibawah shower, ia menyalakan air hangat dan membiarkanku membilas diri. Evan yang sudah tanpa busana itu memelukku dari belakang
“adek”nya menyentuh pantatku, ditekan-tekannya adeknya itu, lalu Evan meremas payudaraku dari belakang, sambil tetap ditekan-tekan penisnya ke pantatku. Nafsuku bangkit, dibawah guyuran air hangat dari shower, Evan menciumi pundakku, dan leherku
terkadang dijilatnya telingaku, membuatku bergetar-getar tersengat dengan birahiku. Aku membalikkan badan, dan mencium Evan, kami berciuman lama sekali, aku sudah horny sekali, ingin rasanya meminta Evan memasukkan penisnya, namun aku malu.
Lagi-lagi Evan menghentikan aksinya, ditariknya tubuhku lalu dikeringkan, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku diperlakukan bagai Putri. Evan lalu mengeringkan tubuhnya sendiri lalu menggendongku ke tempat tidur. Ia menindihku dan menciumku
lidah kami berpangutan, terkadang Evan menghisap bibirku, tangannya meremas lembut payudaraku, terus ke perutku dan lalu sampai di vaginaku. Di gesek-gesekkan perlahan jarinya di klitorisku, aku mendesah tidak karuan, Evan lalu menurunkan bibirnya
menjilati leherku, pundakku lalu ke payudaraku, di gigit-gigit lembut putingku, sambil tangannya terus bergerilya di vaginaku. Aku memeluk Evan lalu berguling. Aku cium Evan dari bibir, dada, perut sampai ke penisnya. Penisnya besar dengan panjang hampir 20 cm
dan diameter yang besar pula. Aku terbayang ngeri memasukkan benda itu ke vagina perawanku. Aku menjilati penis Evan, tiba-tiba Evan memegang kepalaku dan mendorongnya, sampai tersedak aku, benda itu tidak bisa masuk semua ke dalam mulutku
aku bermain dengan penis Evan sekitar 10 menit, ketika tiba-tiba Evan membalikkan badannya hingga posisi 69, aku diatas. Evan menjilat vaginaku pelan, aku langsung mengejang, ini pertama kali aku dijilat di vagina. Tangan evan sesekali menyodok-nyodok
vaginaku, sambil lidahnya disentil-sentilkan ke klitorisku. Aku benar-benar terbuai oleh nafsuku.

Aku sampai memohon pada Evan agar ia segera memasukkan penisnya, “Van, please van..”hampir nangis aku dibuatnya. Evan membuka pahaku lebar-lebar, dan mengarahkan penisnya ke vaginaku yang sangat basah itu.
“Aaashh..”desisku pelan, sakit tapi aku berusaha tak menunjukkannya, Evan kembali mendorongnya sedikit lagi, “Sshhshh..”Desahku antara sakit dan enak, “Ahhh..” Evan berteriak ketika seluruh penisnya masuk, aku meneteskan air mata, karena rasanya sakit
sekali, nampaknya Evan mengetahui hal itu ia tidak bergerak sedikitpun, memberi waktu vaginaku untuk menyesuaikan diri. Ketika aku sudah mulai terlihat tenang, Evan menggerakkan pinggulnya, menarik dan memasukkan penisnya dengan perlahan.
Tubuhku bergerak-gerak ga karuan, nikmatnya luar biasa. Makin lama Evan mempercepat gerakannya, aku pun berusaha menyeimbanginya, namun semakin aku bergerak semakin dekat aku menuju orgasme pertamaku. “Aaahh..terus van, oh yess..shitt..ahh” ceracauku
ga karuan, Evan nampaknya tau aku sudah hampir sampai, makin liar gerakannya, selain maju mundur, terkadang diputar-putar, membuatku melotot keenakan. Akhirnya tak berapa lama sampailah aku pada orgasmeku “Aaarrgh..aaaaaaaaaa….” teriakku melengking
Evan melotot, aku yakin dia menahan orgasmenya, karena pasti vaginaku mencengkram penisnya kuat-kuat saat itu.

“Ah gila van..enak banget” jawabku lemas dengan pandangan sayu. Evan hanya tersenyum, lalu dengan penis masih tertancap, ia menyedot-nyedot payudaraku, aku keenakan dibuatnya, sehingga horny lagi. Aku menggerakan pinggulku maju mundur, padahal Evan
masih diam saja, tersenyum penuh kemenangan “Van, sodok donk, asshh..van cmon” pintaku memelas pada Evan, Evan malah melepaskan penisnya, aku melotot mau marah, tapi, Evan segera membalikkan tubuhku dan menggangkat pinggulku. Aku segera pasang posisi
merangkak, bertumpu pada tangan. Evan memasuki vaginaku dari belakang, lalu memompanya dengan cepat, tangannya meremas-remas payudara 34 C ku yang bergoyang-goyang kesana kemari. “Ohhh..aahhh..Wandaa..m*m*k lo..aassshhh” ceracau Evan menikmati
posisi tersebut, aku hanya bisa mendesah-desah keenakan, karena orgasme keduaku hampir datang “Van, terus van, gw mau keluar lagi”, kataku ngos-ngosan. Tanpa diduga, Evan menjabak rambutku “Aaaaaww” teriakku kesakitan, namun ia tetap memompa vaginaku
jadi antara enak dan sakit, aku baru sadar ia mengangkat kepalaku agar melihat persetubuhan kami di cermin di samping tmp tidur itu, yang terletak di lemari, cermin seluruh badan. POsisi kami memang bukan di tengah tmp tidur, kaki Evan masih berada di lantai, Evan
berdiri sementara aku posisi merangkak, sekarang posisiku setangah jongkok karena Evan menjabak rambutku, di cermin aku bisa melihat payudaraku bergerak-gerak, dan aku bisa melihat expresiku setiap kali Evan menyodok vaginaku dari belakang. Ini membuatku semakin
bernafsu, dan makin dekat orgasme, “Van..gw mau keluar..assshhh” katalu terengah-engah, “Da, gw…juga..di da-lem..niihhh?” jawab Evan putus-putus karena sambil memompaku. “Iya di dalem aja, please, dikit lagi..aaashh..sshhh..”jawabku cepat-cepat.
Evan semakin mempercepat gerakannya. Tangan satunya masih menjambakku, dan satunya lagi meremas-remas payudaraku. “AAAAAAAAAARRRGGHHH” teriak kami berbarengan, saat kami *ternyata* orgasme bersamaan “aasshhh..aaa” sambungku lagi, orgasmeku
panjang sekali, aku bisa merasakan penis Evan menyemprot berkedut-kedut di dalam vaginaku.

Evan melepas jambakannya dan membiarka tubuhku terkulai. Evan menindihku dari belakang, membuatku ngos-ngosan, akhirnya penis yang masih tertancap itu ditarik oleh Evan, dan ia berguling ke samping. “Thx ya da..” katanya sambil mengelus-elus kepalaku.
Aku membalikkan badan dan merapatkan tubuhku, Evan memelukku. Namun tidak lama Evan berdiri dan menggendongku memandikanku lagi. Ketika kembali ke tmp tidur, Evan melihat bercak darah kevirginanku. Evan melotot dan melihat ke arahku kaget,
aku cengengesan dan berkata “bener kan gw masih perawan”, Evan merasa bersalah, dan sejak saat itu kami resmi berpacaran.

Evan sangat mendukung hobbyku pamer-pamer tubuh, bahkan ia tidak mengizinkanku memakai BH ke sekolah. Nampaknya ia juga horny kalau melihat laki-laki lain memandangi tubuhku sampai melotot.
Akibat tidak pakai BH dan pakaian kelewat tipis, serta kelewat pendek. Aku sampai dipanggil kepala sekolah. Lain kali aku ceritakan pengalamanku bersama Kepala Sekolah , dan pengalaman-pengalamanku yang lainnya.
Sekarang aku masih pacaran dengan Evan, kami berdua kuliah di Bandung, dan hobbyku ini masih tetap berlangsung.

Saturday, December 22, 2012

Sex Bikin Awet Muda

Perkenalkan namaku A, mahasiswa tingkat 3 sebuah perguruan tinggi swasta di DP. Tinggiku 172 cm berat 67 kg, atletis, wajahku lumayan ganteng, dan dengan modal ini pula aku banyak menarik perhatian gadis-gadis teman kuliahku. Aku tidak mempunyai pacar tetap bukan karena aku homo atau sejenisnya tapi melainkan karena aku tidak terlalu tertarik pada gadis-gadis seusiaku apalagi yang lebih muda. Aku lebih senang kencan dengan tante-tante yang usianya sama dengan ibuku.

Keperjakaanku hilang ketika aku berusia 13 tahun, akibat dikencani oleh seorang janda tetanggaku. Sejak saat itu aku hanya tertarik untuk kencan dengan wanita setengah baya, karena permainan mereka yang aduhai dan mampu membuatku terbang ke awang-awang. Sampai sekarang sudah belasan tante-tante atau janda kesepian yang telah kukencani. Tidak semuanya berdasarkan uang, tapi ada juga yang karena suka sama suka, yang jenis ini biasanya karena wajahnya masih cantik dan bodinya sensual, kalau jelek ya.. terpaksa deh aku pasang tarif lumayan tinggi, hitung-hitung uang lelah.

Pengalamanku yang akan kuceritakan ini mungkin sudah pernah dialami oleh beberapa orang yang rajin membaca situs 17Tahun.com ini, karena berhubungan dengan seseorang yang sangat terkenal khususnya pada tahun 1980-an sebagai seorang artis dan penyanyi. Kejadiannya sekitar tahun 1997 akhir waktu itu aku dan temanku R (laki-laki) sedang ngobrol-ngobrol sehabis pulang sekolah di kawasan Blok M. R bertanya padaku apakah aku mau kencan dengan seorang artis. Aku tentu saja menjawab mau, pikirku kapan lagi bisa kencan dengan tante-tante, artis lagi.

"Siapa artisnya, jangan-jangan Maissy lagi?" kataku setengah meledek R.
"Bukan goblok, emangnya gue phedophili, itu tuh Tante TP", jawab R.
Aku terkejut bukan main, jadi gosip itu benar bahwa Tante TP wanita setengah baya yang usianya sudah lebih 50 tahun itu suka main dengan anak muda, untuk memelihara kecantikan wajahnya.
"Yang bener loe, Tante TP yang punya operet PPK itu kan, yang dulu suka bawain lagu anak-anak tahun 80-an", tanyaku memastikan.
"Iya bener, nih gue ada nomor HP-nya.. elo telpon aja kalo kagak percaya." Jawab R meyakinkanku.
"Oke deh gue percaya, kapan kita ke sana?" tanyaku.
"Besok deh kita cabut aja sekolah itung-itung refreshing oke?" jawab R, aku mengiyakan dan berjanji dengan R untuk bertemu di kafe OLA di PI Mall esok harinya.

Keesokan harinya tepat jam 10.00, aku bertemu R di kafe OLA.
Aku bertanya, "Udah ditelpon belum, Tante TP-nya entar dia telat lagi."
"Tenang aja deh udah beres, dia sebentar lagi datang", kata R meyakinkanku.
Benar juga seperempat jam kemudian kulihat sesosok wanita setengah baya mengenakan baju putih berkerudung dan mengenakan kacamata hitam lebar, tampaknya ia tidak mau dikenali orang banyak. Tante TP langsung duduk di tempat kami, dan membayar bill makanan lalu langsung mengajak kami pergi. Kami berdua mengikutinya, lalu kami bertiga meluncur ke hotel SHD di kawasan Sudirman di mana Tante TP sudah menyuruh asistennya untuk mem-booking kamar hotel tersebut. Dia tidak banyak bicara sepanjang jalan kecuali menanyakan namaku dan rumahku. Selebihnya justru aku yang bengong karena sebentar lagi aku akan berkencan dengan seorang artis yang waktu aku kecil dulu aku sering melihat wajahnya di TV membawakan lagu anak-anak kesukaanku.

Akhirnya kami sampai juga, Tante TP menyuruhku dan R untuk naik ke kamar lebih dulu baru kemudian ia menyusul, supaya orang tidak curiga katanya. Aku dan R sampai di kamar langsung saja bersorak kegirangan, "Gila gue ngentot ama TP, pasti anak-anak kagak bakalan ada yang percaya nih.. beneran itu TP yang sering di TV."

Tak lama kemudian Tante TP menyusul masuk ke kamar, begitu sampai ia langsung membuka kerudung dan kacamatanya, kemudian ia menyuruhku dan R mandi untuk membersihkan badan. Setelah mandi, aku dan R keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk, agak malu juga sih dari balik handuk itu menyembul batang kemaluanku yang ternyata sudah lebih tidak sabar dari tuannya untuk segera merasakan liang sorga Tante TP. Tante TP hanya tersenyum saja, kemudian ia menyuruh kami berdua untuk ikut berbaring di sisinya, Aku di sebelah kanan, R di sebelah kiri. Ia merangkul kami berdua seperti anaknya, kemudian ia mencium bibirku dengan lembut, aku pun membalasnya, R sepertinya iri dan dengan tidak sabar ia meremas payudara Tante TP.

"Aduh sabar dikit dong Nak.. nanti juga Tante kasih", kata Tante TP sambil tersenyum pada R dan kemudian ganti mencium bibir R. Melihat hal itu aku jadi bernafsu juga ingin meremas-remas payudara Tante TP. Perlahan-lahan kubuka kancing bajunya satu persatu dan nampaklah payudaranya yang montok dan masih terlihat kencang dibungkus bra warna pink yang menantang. Aku remas pelan sambil jari-jariku berusaha mencari puting susunya, Tante TP mengerang pelan pertanda ia merasakan kenikmatan saat aku menyentuh puting susunya dari balik BH-nya.

"Ahh.. enak.. sebentarnya Tante buka aja deh sekalian." Tangan Tante TP meraih ke punggungnya melepaskan hook BH-nya dan sekaligus membuka kemejanya sehingga sekarang ia hanya mengenakan rok panjang berwarna hitam. Payudaranya montok dan menantang ukurannya sekitar 36C, putih dan mancung dengan puting yang berwarna agak kecoklatan. Aku dan R jadi sangat bernafsu, segera saja kami berdua meremas payudara Tante TP satu orang satu. Tante TP mengerang dengan penuh nafsu. "Ayo dong anak-anak hisap pentil Tante", katanya memohon. Tidak perlu disuruh dua kali, aku dan R segera mengisap puting susu Tante TP, menjilat, menghisap, sambil sesekali kugigit pelan. "Ahh.. enak.. ohh.. agak keras gigitnya dong.. achh..!" erangan Tante TP justru semakin membuatku dan R bernafsu mengisap dan mengigit puting Tante TP.

Tante TP tidak diam saja, ia juga bereaksi dengan menyingkapkan handuk yang dipakai olehku dan R, kemudian tangannya menggengam batang kemaluan kami satu tangan satu. Tante TP agak terkejut dengan ukuran batang kemaluanku yang 21 cm dengan diameter 3,5 cm, batang kemaluan R sedikit lebih pendek yaitu 19 cm dengan diameter yang sama. Batang kemaluan kami diremas dan dikocok pelan, kemudian agak kencang, membuat kami menggelinjang dan semakin bernafsu untuk menikmati payudara Tante TP. "Aduh Tante jangan keras-keras nanti keluar loh..!" kata R setengah bercanda. "Jangan keluar dulu dong anak manis.. Tante belum apa-apa nih, lagipula jangan keluarin di sini, nanti aja di mulut Tante biar Tante minum semua sperma kamu." Aku berpikir, jadi gosip itu benar bahwa Tante TP gemar mengkonsumsi sperma anak-anak muda untuk menjaga keindahan kulit dan tubuhnya. Pantas saja, walaupun usianya sudah lebih 50 tahun, tubuhnya masih terlihat seperti umur 25-an.

Kemudian kami berganti posisi, Tante TP bergerak ke arahku kemudian membuang handukku ke lantai. Kemudian Tante TP menggenggam batang kemaluanku dan menjilati ujungnya yang terlihat ada setetes precum akibat aku sudah terangsang hebat. Ia kemudian memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya mulai dari kepalanya sampai ke ujung pangkalnya sambil meremas-remas biji pelirku. Dia sangat ahli sekali dalam urusan ini, nikmatnya sampai ke ubun-ubun, dijilat, dikulum, bibirnya mengitari sepanjang topi bajanya, sambil ujung lidahnya menusuk-nusuk ke lubang kecil di ujung batang kemaluanku berharap masih ada precum yang tersisa.

"Ahh.. Tante enak banget Tante.. ohh..!" desahku menahan nikmat yang tiada tara. Untung aku punya pengalaman dengan tante-tante, kalau tidak.. pasti sejak tadi aku sudah muncrat, saking jagonya hisapan Tante TP. Sementara Tante TP asyik menikmati batang kemaluanku, R tidak tinggal diam, dia menyibakkan rok Tante TP sampai terlihat celana dalamnya dan pelan-pelah R menurunkan celana dalam hitam milik Tante TP dan terlihatlah liang kewanitaan Tante TP yang ditumbuhi oleh bulu-bulu yang lebat, pahanya terlihat mulus bagai pualam, bukti wanita ini tahu bagaimana merawat diri dengan baik.

Tante TP kemudian membuka roknya dan melemparnya ke lantai. Kini ia sudah telanjang bulat, Aku dan R sungguh sangat mengagumi kemulusan dan kemolekan tubuh Tante TP, benar-benar luar biasa untuk wanita seusianya. Tante TP kembali mengulum batang kemaluanku dan R mengambil posisi di bawah Tante TP, dan bersiap menikmati liang kewanitaan Tante TP. Ia mengelus paha Tante TP, kemudian menjilatinya mulai dari lutut terus naik ke atas ke lubang surga Tante TP. R menyibakkan bulu-bulu yang menutupinya kemudian ia menjulurkan lidahnya mencari-cari klitoris Tante TP, menjilatnya sambil dijepit dengan kedua bibirnya.

"Achh.. oohh.. anak nakall.. awww..!" Tante TP mengerang-ngerang seperti orang gila ketika klitorisnya diperlakukan seperti itu. Cairan kewanitaannya tampak meleleh membasahi bibir R yang sepertinya justru menyukai rasanya. "Ohh.. aku nggak tahan deh anak-anak, ayo kita mulai aja deh", kata Tante TP sambil membalikkan badannya dan beralih menghampiri batang kemaluan R. "Kamu masukin batang kemaluan kamu sekarang ya A, aku hisap batang kemaluan teman kamu", katanya memberi komando, aku hanya mengangguk setuju.

Tante TP mengambil posisi doggy style, ia menungging dan mengarahkan liang kewanitaannya padaku. Aku menyaksikan liang kewanitaannya yang berwarna merah muda itu terbuka di hadapanku dan tampak cairan kenikmatannya meleleh keluar. Aku segera mengambil posisi, kupegang batang kemaluanku dan mulai mengarahkannya ke liang kewanitaan Tante TP, pelan-pelan kumasukkan sambil tanganku berpegang pada kedua bongkahan pantat Tante TP. Liang kewanitaannya sempit dan agak susah untuk batang kemaluanku yang besar untuk masuk padahal cairan kenikmatannya sudah mengalir deras.

Pelan-pelan kumasukkan dan ketika kepalanya berhasil masuk kuhentakkan pantatku, akhirnya batang kemaluanku berhasil masuk semuanya, Tante TP agak terdorong ke depan dan berteriak ketika batang kemaluanku masuk ke liang kewanitaannya. "Ahh.. enak A, terus kocok kontol kamu di liang memek Tante.. ahh!" teriaknya. Aku segera memainkan gerakan maju mundur mengeluarmasukkan batang kemaluanku di liang kewanitaannya yang sempit dan dinding kemaluannya seperti memijit-mijit batang kemaluanku, hisapan lembah sorganya seperti memaksa spermaku untuk keluar. Sementara Tante TP mengulum batang kemaluan R, aku asyik memainkan batang kemaluanku keluar masuk liang kewanitaan Tante TP.

Kira-kira setengah jam kemudian aku merasakan spermaku seperti hendak berontak keluar, kupercepat gerakanku, "Ohh.. Tante.. saya mau keluarr.. nihh.." kataku pelan. Kurasakan badanku mulai tegang dan batang kemaluanku seperti berdenyut dengan keras. Mendadak Tante TP mencabut batang kemaluanku dari liang kewanitaannya dan dengan gerakan cepat ia memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Bersamaan dengan itu aku mencapai klimaks, "Aaahh.. aku mau keluar Tante.. ahh!" tulang-tulangku serasa rontok semua, badanku serasa melayang saat spermaku muncrat di dalam mulut Tante TP. Batang kemaluanku berdenyut keras sambil memuntahkan sperma dalam jumlah yang cukup banyak. Terlihat Tante TP sibuk menelan seluruh spermaku, dia tidak ingin ada yang tersisa. Batang kemaluanku diurut-urut dengan kasar berharap semua spermaku terkuras habis dan pindah ke mulutnya.

Aku langsung terkapar tidak berdaya, tenagaku habis. Seiring dengan dilepasnya mulut tante TP dari batang kemaluanku, ia berbaring telentang sambil membuka kakinya lebar-lebar. "Sekarang giliran kamu nyumbang sperma buat Tante", katanya sambil tersenyum pada R. R begitu bernafsu langsung menusukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaan Tante TP, keluar masuk dengan lancar karena tadi aku sudah membuka jalannya, ia mengangkat paha Tante TP dan menaruhnya di bahunya agar batang kemaluannya bisa masuk lebih dalam lagi. "Ohh.. Tante.. Aku juga mau keluar sebentar lagi.." katanya lirih. "Iya Nak.. ayo terusin aja.."

Tiba-tiba Tante TP menyuruh R berhenti. "Tunggu dulu ya.. kamu mau ngerasain sesuatu yang baru nggak." R kontan menjawab mau, Tante TP menyuruh R bergerak agak ke atas kemudian menaruh batang kemaluannya di tengah-tengah payudaranya. Tante TP kemudian menghimpit batang kemaluan R dengan kedua payudaranya, dan menyuruh R kembali melakukan gerakan mengocok-ngocok. Kurang ajar si R dapat atraksi lain tapi aku tidak. Gaya ini ternyata cukup ampuh terbukti baru 5 menit, R sudah mengerang lagi, "Aduh.. Tante nggak tahan nih.. mau keluar.." Tante TP tersenyum, "Ayo keluarin aja.."

Beberapa detik kemudian, R meregang hebat dan langsung Tante TP menggenggam batang kemaluannya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. "Ahh.. Tante.. enakk.. ahh.." kulihat R meregang nikmat saat spermanya dihisap habis oleh Tante TP. Dan sama seperti aku ia pun terkulai lemas sesaat kemudian. Tante TP tersenyum penuh kemenangan. "Ternyata kalian anak muda berdua tidak bisa mengalahkan seorang nenek seperti saya". Aku menjawab, "Terang aja nenek-neneknya penghisap tenaga anak muda." Kami pun tertawa bersama dan beristirahat sejenak. Lalu kami menikmati hidangan makanan dan minuman yang dipesan Tante TP, dalam keadaan masih telanjang bulat.

"Terus terang aku masih pengen nih, tapi nanti malam ada show di TMII, biasa.. acaranya Mbak TT, Tante belum orgasme nih, kalian bantu Tante masturbasi ya", katanya. Kami setuju saja, lalu kami membantu Tante TP dengan menjilati payudaranya satu orang satu sementara ia mengocok liang kewanitaannya dengan jari-jarinya. Setelah ia klimaks, kami pun mandi bersama lalu memakai pakaian kembali, lalu bergegas meninggalkan hotel, tapi tidak ada satu pun diantara aku dan R yang mau french kiss dengan Tante TP sebelum pulang, kebayang dong berarti aku ikut merasakan sperma si R dan si R juga merasakan spermaku, nggak janji la yaw.. Sebelum pulang Tante TP menyerahkan amplop yang isinya uang dua juta rupiah, aku dan R langsung berfoya-foya di plaza SNY makan dan belanja sepuasnya.

Friday, December 21, 2012

Keperkasaan Prajurit

Pada suatu sore saat aku dengan Dewi temanku dalam perjalanan di jalan bebas hambatan, waktu itu hujan cukup deras sehingga jalanan kurang nampak jelas dari kaca mobil kami. Dewi yang memegang setir pada waktu itu sebenarnya juga mengendarai dengan hati-hati, tapi karena sedang apes mobil yang kami naiki itu keluar jalur dan mobilnya terperosok ke dalam parit. Untung Dewi tidak ngebut sehingga kami berdua selamat dan tidak mengalami lecet sedikit pun. Karena mobilnya terperosok ke dalam parit, maka kami tidak bisa langsung membawa mobil ke jalur yang semestinya lagi.

“Waduh.. Sus! Nggak bisa keluar nih bannya, mana HP-ku habis batterainya, wah! Gimana nih?” Dewi panik dan sepertinya kehabisan akal.
“HP-ku juga nih, mana hujan lagi, sepi kendaraan lagi, kalau gini sich! Meski ada orang yang memperkosa kita nggak pa-pa deh! Asal kita diantar pulang saja”, aku ngomong sekenanya.
“Gila kau Sus, tapi benar juga asal jangan kasar-kasar kali ya, hehehe..!”
“Loh! Semakin kasar semakin nikmat lagi, hahaha..!” kami tertawa seakan-akan kami sudah terlepas dari masalah.
“Sus, kalau kita di dalam mobil saja, kita akan di sini sampai mampus”, gerutu Dewi.
“Habis gimana lagi, di luar kan hujan gitu.”
“Yah kamu, nggak takut diperkosa, masak takut sama hujan, ya sudah aku saja yang keluar, kucoba dorong mobil ini keluar dari lubang”, Dewi nekat dengan semangat empat lima dia keluar dan mulai mendorong moncong depan mobil sialan ini.

Aku melihat Dewi berusaha dengan keras dan mengerahkan seluruh tenaganya, tapi mobil sialan ini tidak bergerak sedikit pun.
“Sus! Hidupin mesinnya!” Dewi teriak-teriak, kuhidupkan mesin lalu giginya kuganti gigi mundur, ternyata mobil hanya bergeming sedikit saja. Lalu aku ikut keluar dan juga mencoba mendorong sama-sama dan ternyata tidak membawa perubahan yang berarti.
“Ya.. nggak bisa juga Wik”, keluhku.
“Iyah, tapi bodimu cukup bagus basah-basah gini Sus..”
“Kamu itu mabok ya? Tapi bodimu juga terlihat bagus”, lalu kami tertawa-tawa.

“Hei..! Sus itu ada mobil, kita cegat yuk”, sambil Dewi menunjuk ke arah mobil truk yang semakin mendekat, dan kemudian kami bergegas berlari sampai ke tengah jalan dan melambai-lambaikan kedua tangan kami. Dan kami berhasil, truk itu ternyata adalah truknya tentara.
“Kenapa kalian? Kenapa dengan mobilnya?” Teriak supir truk, dan kami menghampirinya, “Itu Pak mobil kami masuk parit, jadi mobil kami tidak bisa jalan lagi nih Pak!” kujawab dengan nada yang mesra.
“O iya! Hei! Anak-anak bantu nyonya-nyonya ini ayo cepat.” Kemudian turun empat orang dari belakang truk itu.
“Mari Nyonya, anda yang pegang kemudi”, kata salah satunya dengan tegas kepadaku, lalu kujawab, “Loh, kok Nyonya sih, kan aku masih muda dan single lagi”, sambil kugoda dia, huh badannya tegap, tampangnya nggak jelek-jelek amat, tapi yang penting kan bodinya kekar.

Kucoba menghidupkan mesin lagi beberapa kali tapi tak mau hidup-hidup, waduh kenapa ya?, dan kulihat ternyata bensinnya sudah habis.
“Waduh Mas bensinnya habis, ada cadangan ngak mas-mas ini”, teriakku.
“Waduh maaf Nona kami tak punya..”
“Yah sudah, kalau gitu kami ikut kalian saja”, setelah kami mengambil tas, kami langsung naik truk mereka.

Setelah masuk, dengan santainya aku melepas bajuku yang basah di hadapan keempat prajurit yang tidak jelas pangkatnya itu, kulihat mereka menatap kami tanpa berkedip sedikit pun, lalu kudekati salah satu dari mereka setelah pakaianku terlepas semua. “Kenapa? suka dengan bodiku hmm..” godaku. Kulihat jakunnya naik turun dan matanya tak henti-hentinya melihat payudaraku yang boleh dibilang montok dan seksi cukup mengoda pokoknya. Lalu kupegang tangannya, kudekatkan ke bongkahan payudaraku, “Gruungg!” suara itu tiba-tiba merusak suasana hening, “Hei! Jangan berangkat dulu”, mereka berempat bergegas mendekati jendela sopir, entah apa yang mereka bicarakan.
“Sus, kamu sudah gila ya?” tegur Dewi yang terlihat agak malu-malu tapi mau.
“Sudahlah, lagian kita kan kedinginan butuh penghangat dong”, sambil kucubit susu kirinya dan Dewi pun tersenyum dan mulai melepas bajunya.

Mesin truk tak lama kemudian mati lagi dan keempat prajurit itu dengan cepat melucuti bajunya masing-masing. “Nona jangan salahkan kami, karena kami sudah empat bulan tidak pernah menyentuh wanita, mungkin nanti agak kasar”, kata salah seorang prajurit yang hanya tinggal celana dalamnya saja yang menempel di tubuhnya. Kemudian dia mendekap tubuhku lalu langsung melumat halus bibirku, ternyata dia mahir memainkan lidahnya, nafasku habis rasanya, dan sekilas kulihat prajurit yang lain menggelar terpal dalam tuk yang cukup luas itu dan kulihat Dewi sudah mulai dikerjai seorang prajurit yang mulai membelai, mencium dan mengulum dada montok milik Dewi.

Setelah beberapa saat berciuman, prajurit yang berhadapan denganku mulai mencium leher di bawah telingaku sambil mendesah-desah merasakan kenikmatan, setelah itu dia merambat mengerjai susu sebelah kiriku dengan liar dan ganas. Ssst! Sunguh nikmat sekali. Dengan tiba-tiba badanku ditarik lalu dibaringkan ke atas terpal kasar di lantai truk itu. Sekilas kulihat supir tadi juga mulai naik, kemudian dengan tergesa-gesa melepas pakaiannya sampai polos, lalu mendekatiku dan menuju selangkanganku, kemudian dia menjilati liang kewanitaanku, langsung aku mendesis dan mengeram, dengan tiba-tiba prajurit yang tadi membaringkanku langsung menghimpit kepalaku dengan selangkangannya, kemudian dengan cepat kulepas celana dalamnya. Setelah keluar batang kemaluannya kemudian langsung kulahap batang kemaluan yang lumayan besar itu. Kukulum-kulum dan kusedot kuat-kuat hingga prajurit itu mengeram-ngeram sambil menekan-nekan kepalaku sampai aku sesak nafas. Sesekali aku mendengus dan mendesis akibat ulah supir truk yang mejilat dan menggigit lembut klitorisku, sampai tubuhku mengejang lalu tak lama kemudian sepertinya tumpah semua cairan dalam liang kewanitaanku.

Aku tetap sibuk dengan batang kemaluan yang ada dalam mulutku lalu kurasakan payudaraku ada yang meremas dan sesekali dikulum-kulum. Sungguh kewalahan aku melayani mereka. Dengan tiba-tiba aku mendengar erangan Dewi tepat di sebelah kiri kupingku, ternyata dia sedang dalam keadaan tengkurap di antara kedua prajurit. “Gilaa Suss.. ughh.. sst!” Dewi mulutnya ngomel-ngomel nggak karuan sambil merem-melek tak berdaya. Gila, Dewi dikerjai depan belakang. Lalu prajurit-prajurit yang mengerjaiku berusaha membimbingku untuk nungging, setelah nungging di atas salah seorang dari mereka dan setelah batang kemaluan prajurit di bawahku tepat di antara bibir kewanitaanku, pantatku ditarik dengan keras-keras hingga masuk semua betang kemaluan prajurit itu dengan lancar karena liang kewanitaanku sudah licin.

Setelah beberapa kali genjotan prajurit yang lain berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. “Ssst.. aah.. aah!” Gila sakit banget, baru kali ini anusku digarap orang. “Aaakkh..!” aku menjerit sekuat tenaga begitu batang kemaluan prajurit yang besar itu masuk ke dalam anusku. Selang beberapa saat, terasa juga nikmatnya gesekan dari dua lubangku yang sebelumnya tidak terbayang, meski rasa sakit masih menyertai. Kemudian tubuhku mengejang dan sampailah aku pada klimaks kedua, tapi kuperhatikan kedua prajurit itu masih sibuk menggenjotku. Pelir besar tiba-tiba berada di wajahku, kemudian peler itu didorongnya ke mulutku yang kemudian kukulum dan kusedot, di sela-sela desisan dan eranganku. “Ayo Nona sedot yang kuat!” kata prajurit itu sambil menekan-nekan kepalaku. “Uuugh.. aakh.. esst!” suara geraman dan desisan silih berganti saling sahut menyahut dalam truk itu.

Saat kulihat di sebelah, Dewi terkapar dan lemas, sesekali dia mengeram karena prajurit itu masih getol menyetubuhi Dewi. Gila rasanya aku mau keluar untuk ketiga kalinya sebentar lagi, beberapa saat kemudian kurasakan kedua prajurit yang menyetubuhiku depan belakang mengeram serta merangkul kuat-kuat tubuhku dan kemudian kurasakan liang kewanitaan dan duburku tersembur cairan yang hangat hampir bersamaan, aku pun mencapai klimaks yang ketiga.

Setelah aku mencapai klimaks, aku semakin bersemangat mengulum dan menyedot batang kemaluan di hadapanku sampai pada akhirnya cairan hangat itu menyembur memenuhi rongga tenggorokanku. Lalu prajurit itu melepaskanku dan bergerak menjauhiku. Dan kulihat Dewi pun mulai di tinggal sendirian, kemudian kelima prajurit itu mendekat. “Ayo sini kita gantian, aku pingin rasain juga dia”, kata salah satu dari mereka sambil tertawa-tawa, waduh habis aku.

Dua prajurit yang menyetubuhi Dewi mendekat, lalu satu dari mereka menggendongku dan kemudian setelah pelernya tepat di tengah-tengah liang kewanitaanku, aku sedikit diturunkan dan amblas sudah batang kemaluannya tertelan liang kewanitaanku tanpa halangan. Aku disetubuhinya sambil berdiri, sambil tangannya tak henti-hentinya naik turun dengan posisi aku merangkul erat tubuhnya, kemudian dari belakang duburku disodok peler dari belakang, aku menjerit dan mengeram kesakitan, buah dadaku digerayanginya dengan brutal.

Setelah beberapa saat aku dikerjain berdiri, aku diturunkan kemudian aku disuruh mengangkangi seorang prajurit, dan setelah pas masuklah kembali peler besar itu dalam liang kewanitaanku, dan yang lain menyusul menimpaku dari belakang, dan bukannya masuk ke duburku melainkan juga masuk ke dalam liang kewanitaanku, gila ini prajurit, dengan kasar dan brutal akhirnya masuk juga pelernya meski hanya setengahnya, tapi sakitnya bukan main aku menjerit-jerit minta ampun tapi tidak di gubrisnya. Karena mungkin tidak memuaskan dia, maka peler yang masuk hanya setengah itu dicabutnya kemudian dengan serta-merta menyodokkan ke duburku dengan keras, lalu mengosoknya dengan brutal, tak lama kemudian dia mencapai klimaks, setelah beberapa saat lalu batang kemaluannya dicabutnya.

Sekarang aku berkonsentrasi pada satu orang saja, aku merubah posisiku dengan posisi nangkring di atas selangkangannya, kemudian aku mulai naik turun dan sedikit goyang kanan kiri, hingga tak lama kemudian pertahanannya terlihat sedikit goyang, begitu pula aku sepertinya aku akan mencapai klimaks keempat kalinya. Setelah beberapa saat kurasakan liang kewanitaanku di sembur cairan hangat dan kemudian aku pun mencapai klimaks yang keempat kalinya, kami pun saling menggeram, lalu aku menggulirkan tubuhku di samping prajurit yang terlihat lemas. Kulihat Dewi masih di kerjai tiga orang prajurit, Dewi meringis-ringis sambil terus dijejali batang kemaluan prajurit yang besar itu. Karena aku merasa kasihan dengan Dewi dengan sedikit sempoyongan kuhampiri mereka kemudian kutarik salah satu dari mereka yang sedang getol-getolnya ngerjai dubur Dewi lalu kukangkangi dia, setelah tepat posisi pelernya diantara bibir kewanitaanku, kududuki dan langsung masuk seluruh batang kemaluan prajurit itu. Kugoyang-goyang dengan gencar hingga prajurit itu kewalahan menghadapi seranganku, membuatnya tak kuasa menahan lahar spermanya, menyemburlah spermanya dalam liang kewanitaanku. Karena aku belum mencapai klimaks lagi kepalang tanggung sehinga aku tetap menggoyang pinggulku sampai aku mencapai klimaks.

Setelah selesai prajurit-prajurit itu mengerjaiku dan Dewi mereka terlihat lelah. Aku menghampiri Dewi, kulihat wajahnya sudah lelah, “Gimana Wik?” bisikku. “Wah! habis aku, sampai aku klimaks lima kali Sus”, Dewi menjawab pertanyaanku dengan sisa-sisa tenaganya. Setelah itu kami minta diantar ke rumah kontrakanku dan kemudian aku menghubungi jasa mobil derek kemudian kami istirahat setelah kami mandi bersama.



Wednesday, December 19, 2012

Nafsuku

Aku sudah dua bulan putus dengan pacarku, selama itu pulalah aku tidak dijamah pria. Malam mimggu ini aku sendiri lagi. Kuputuskan untuk main ke sekretariat Mapala di kampusku yang biasanya ada yang menunggu 24 jam. Aku bukan anggota, tapi kenal beberapa orang. Disana sepi, hanya ada Mas Putra yang tengah asyik nonton TV. Setelah saling menyapa, kami menonton sambil mengobrol.

aEsKok nggak ngapelin Mbak Rosa, Mas..?aEt tanyaku.
aEsNggak, lagi boring ketemu dia terus.aEt
aEsLo kok..? Kan pacar..?aEt
aEsIya sih, tapi lagi pengen ganti suasana aja.aEt
aEsDia nggak marah nih, nggak ngapel..?aEt
aEsNggak, kita lagi berantem kok!aEt
aEsNapa..?aEt
aEsRahasia dong.aEt
aEsPaling urusan sex.aEt kataku asal tebak.
aEsLo, kok tau..?aEt tanyanya heran.
aEsTau dong..,aEt jawabku, padahal aku hanya iseng saja asal tebak.

Jangan heran, kalau mengobrol soal sex dengan anak-anak Mapala ini sudah biasa, pada aE~bocoraE? dan aE~kocakaE? semua.
aEsEmang napa sih, dia nggak bisa muasin yah..?aEt tanyaku sambil tertawa terbahak-bahak.
Mas Putra melotot. aEsNggak juga, dia malah nggak bisa ngapa-ngapain, kalo dicium diem aja, kalo udah mo ngebuka bajunya, dia langsung berontak.aEt kulihat sorot mata kesal.
aEsO, gitu..aEt
aEsLagian, payudaranya kecil banget..!aEt katanya.
Aku tertawa lagi. aEsImpas kan, punya Mas juga kecil,aEt
aEsEnak aja, mau liat..?!aEt tantangnya.

Aku tertawa, walaupun ingin juga. Sebenarnya aku naksir tubuhnya saja, atletis, kulit coklat, dada bidang. Dia paling suka panjat tebing, dan aku sudah pernah melihat dia mandi di pantai. Cool.
aEsBoleh..,aEt tantangku balik.
aEsOke, tapi kamu juga tunjukin payudara kamu, gimana..? Kan impas.aEt
Aku terdiam sejenak. Tapi aku berpikir, why not, tidak ada ruginya.
aEsOke,aEt jawabku, aEsMas duluan ok..!aEt

Dia menatapku tajam sambil berlutut, membuka reslueting celana jeans-nya pelan hingga terlihat CD yang membalut penisnya yang sudah menegang.
aEsSekarang kamu..!aEt perintahnya.
aEsLo kok..?aEt kataku bingung.
aEsSatu persatu, biar fair..,aEt
aEsOke.aEt

Aku membuka sweater cardiganku yang melapisi tank top yang kupakai. Tanpa kata-kata dia menurunkan jeans-nya sebatas lutut. Aku membalas dengan menaikkan tank top-ku sebatas leher hingga memperlihatkan payudaraku yang dibalut bra. Mas Putra tidak langsung membuka CD-nya, tapi malah mengelus-elus penisnya yang menegang. Aku benar-benar terangsang dan membalas mengelus-elus payudaraku. Pelan dia menurunkan CD-nya, memperlihatkan kepala penisnya yang coklat, kemudian batangnya yang lumayan besar untuk ukuran orang Indonesia. Aku tidak kuasa menahan dengusan nafasku, begitu juga dengan Mas Putra. Aku menaikkan bra-ku pelan yang memperlihatkan payudaraku berputing merah dan kenyal.

Sejenak kami berpandangan, masing-masing tangan memegang payudara dan penis. Tanpa dikomando, Mas Putra perlahan mendekat, aku diam saja. Kepalanya dicondongkan ke arah payudaraku. Tangannya memegang bahuku pelan. Kemudian dia mengecup payudaraku pelan, mengulum. Aku menggelinjang pelan. Tanganku meremas kepalanya. Tangan dan bibirnya makin binal, mengecup dan mengulum payudaraku, meremas sebelahnya. Mendadak aku sadar kalau ini di sekretariat, banyak orang bisa berdatangan kapan saja. Aku melepaskan cumbuannya, dia memandangku.

aEsJangan disini..!aEt bisikku. Dia mengerti.
aEsKamu naik ke lantai 5 perpustakaan, nanti aku menyusul..aEt perintahnya.
Aku membenahi baju dan beranjak menuju perpustakaan yang tidak jauh dari situ. Di atas aku menunggu 5 menit sampai Mas Putra menyusul dengan membawa sleeping bag 3 buah. Hmm, mungkin biar empuk, pikirku. Dia langsung menggelar sleeping bag jadi tumpuk 3. Aku tetap berdiri sampai dia mendekat. Kami berangkulan pelan. Saling mengulum bibir. Tangan saling menggerayangi. Kutatap matanya tajam sambil tanganku membuka kancing kemejanya satu persatu.

Kuelus dadanya yang bidang sambil membuka kemeja lepas dari tubuhnya. Kuciumi dadanya, putingnya kukulum pelan, dia menggelinjang, mendesah. Kuciumi leher dan beralih ke bibirnya. Kemudian gantian dia yang menarik tank top-ku lepas dari tubuhku, dielusnya payudaraku yang dibalut bra sebelum meraih pengaitnya di belakang. Begitu terlepas, dia langsung mencumbu payudaraku, tangannya yang satu meremas payudaraku yang sebelah, yang satu lagi merogoh celana jeans yang kupakai, membuka kancing dan reslueting, kemudian mengelus-elus vaginaku yang dibalut CD. Aku mendesah pelan.

Cumbuannya makin turun, tangannya kemudian membuka jeans-ku, aku membantu dengan menaikkan kaki. Sambil berdiri, dia mencoba membuka celananya sendiri, aku langsung beranjak mundur dan memandang Mas Putra membuka jeans-nya. Mata kami saling bertatapan. Aku melihat dia membuka jeans-nya, menunduk, dan waktu berdiri aku benar-benar kagum dengan kejantanan tubuhnya yang macho.

Kami saling berangkulan lagi. Kali ini dia mengangkat tubuhku sambil menciumi bibirku. Aku memeluk bahunya. Direbahkannya tubuhku di sleeping bag yang digelar. Kemudian dia merangkulku pelan, saling berpagutan. Dia mencumbu leherku, terus turun ke payudara, meninggalkan cupangan disana. Tangannya aktif di vaginaku, kali ini tidak lagi di luar CD tapi sudah berada di dalam. Aku benar-benar menikmati elusannya. Klirotisku dimainkan dengan lembut, payudaraku dikulum pelan. Akhirnya dia menarik CD-ku, aku membantu dengan mengangkat pantat.

Pelan dia memainkan lidahnya di vaginaku, menjilat, mengulum, aku mendesah tidak karuan. Dia memelukku dan menarik tubuhku. Kami duduk berhadapan, kaki saling menyilang, saling memeluk, mengulum bibir, meremas payudara. Aku meraih penisnya dan mengelus-elus pelan, sambil dia mencumbu leher dan bibirku. Kutidurkan badannya, dan aku di atas. Kubuka CD-nya sedikit hingga penisnya kelihatan, aku mengarahkan vaginaku dan menggesek-gesekkannya disana, tanpa penetrasi, payudaraku diraihnya dan diremas-remas.

Aku duduk di atas pahanya, mengarahkan vaginaku di penisnya, kuraih penisnya dan menggosok-gosokkan kepalanya di vaginaku, memainkan klirotisku dengan penisnya. Aku takut untuk penetrasi karena masih perawan. Dengan begini saja aku sudah menikmati. Kupeluk tubuhnya dan terus menggesekkan vaginaku di penisnya. Kuciumi leher terus turun ke dada, pantatku terus bergoyang, sampai aku merasa tubuhku menegang dan akan mencapai klimaks. Mas Putra meraih payudaraku dan mendekapku sambil membalas goyanganku, aku menjerit tertahan waktu klimaks. Kupeluk Mas Putra dengan tubuh berkeringat dan lemas.

Dia bangun dan mendekapku sambil merebahkan tubuhku lagi. Pelan dia membuka CD-nya, kulihat penisya coklat menegang hebat. Dia memelukku pelan sambil mencumbu dan meremas. Tapi aku mencoba bangun dan menolak cumbuan MAs Putra. Dia mengalah, aku segera memunguti pakaianku dan memakainya segera. Aku memang egois. Tanpa basa basi aku langsung turun dan pulang ke kost.

Besoknya dia mengajakku jalan, kami pergi naik motor. Tanpa tujuan yang jelas, habis makan di KFC, Mas Putra mengarahkan motornya keluar kota, ke arah jalan Kaliurang, masuk ke daerah pakem yang lumayan jauh dari Yogya, aku baru kali ini ke daerah ini. Daerah ini lumayan dingin karena daerah dataran tinggi lereng merapi. Aku tidak membawa jaket. Karena kedinginan, aku memeluk Mas Putra agar mendapatkan kehangatan. Kurasakan payudaraku menempel di punggungnya.

Magrib kami sampai di kawasan wisata Mbebeng. Indah sekali dapat melihat siluet merapi dari sini, walaupun dingin menggigit. Sepi.., hanya ada kami berdua di bibir jurang. Tanpa segan aku memeluk Mas Putra untuk mencari kehangatan. Dia membalas merangkulku. Kemudian kami naik agak ke atas, tempat panggung yang sudah rusak karena tidak terawat sambil berangkulan. Pelan-pelan Mas Putra mulai mencium ubun-ubunku. Aku mendongak, dia langsung menyambar bibirku.

Hari sudah gelap, sehingga aman melakukannya di alam terbuka begini. Kami berciuman dengan panas, tangannya berkeliaran di payudaraku. Tanganku memeluk punggungnya. Begitu tiba di belakang panggung, Mas Putra memepetkan tubuhku di dinding dan mencumbuku habis-habisan, sepertinya dia ingin membalas perlakuanku kemarin. Baju kaosku direnggut dari kepala, begitu juga dengan bra. Pelan dicumbunya leher, turun ke payudara dan menaikkan rok yang kupakai. Tangannya meraba-raba vaginaku yang mulai basah. Tanpa komando, dia membuka sendiri kemejanya di depanku pelan-pelan, seolah mau merangsangku.

Dengan menatap mataku, dia melepas satu persatu kancing kemejanya sambil mengelus sendiri puting susunya. Perlahan tangannya turun ke pusar, terus membuka reslueting jeans pelan, merogoh ke dalam CD tanpa mengeluarkan penis. Jujur, aku benar-benar terangsang. Tapi aku masih ingin menikmati permainannya. Pelan dia menurunkan jeans-nya, tinggal CD yang menempel dengan siluet penis menyamping. Perlahan dia mendekat dan mencumbuku lagi, kali ini santai tidak menggebu-gebu lagi seperti tadi.

Aku menikmati setiap sentuhan, dan aku mengerang tanpa malu-malu. CD-ku dilepaskannya dengan mulut tanpa membuka rok yang hanya dinaikkan. Dia membuka CD-nya juga, penisnya tegak menjulang merangsang. Kembali kami saling berangkulan. Terasa denyutan penisnya di perutku. Perlahan dia menaikkan tubuhku ke atas batu, dan membuat tubuh kami sejajar. Terasa penisnya kini menempel di vaginaku sekarang. Hangat. Kali ini aku pasrah kalau dia mau penetrasi. Penisnya hanya digesek-gesekkan di vaginaku sambil mengulum bibirku.

Kemudian dia meraba vaginaku yang sudah basah. Ditatapnya mataku sambil memegang bahu. Kami saling bertatapan lama. Perlahan tangannya mengarahkan penis ke vagianku. Aku memeluk punggungnya sambil terus bertatapan. Kubantu penisnya mencari lubang vaginaku, dia memeluk bahuku, mencium pelan bibirku, dan begitu merasa sudah pas, dia menekan pelan penisnya ke vaginaku. Pelan kepala penisnya terasa menyeruak masuk, aku meremas punggungnya. Terasa nyeri.

Dia menghentikan gerakannya sejenak. Mencumbu bibirku lagi, mengelus punggung dan mencium kupingku. Aku agak tenang, kemudian pelan dia kembali menekan penisnya lebih dalam, aku menggigit bibir, dia menatapku waktu memasukkan lagi penisnya pelan-pelan. Aku mendongak dan menjerit tertahan. Dia berhenti setelah semua penisnya masuk dan mencumbu leherku yang mendongak, aku masih merasa nyeri. Mas Putra mendiamkan penisnya di vaginaku, sementara kami mulai bercumbu lagi.

Setelah aku tenang lagi, pelan dia mulai menggoyangkan pantatnya. Pelan-pelan penisnya keluar masuk di vaginaku. Aku mulai menerima rasa sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Gerakan pelan mulai berubah menjadi gerakan liar, kocokan penisnya di vaginaku semakin kencang, aku semakin bergairah, mengerang, menggigit. Kakiku yang kanan mengait di pinggang Mas Putra dibantu tangannya, sementara tanganku memeluk punggungya.

Waktu aku mau klimaks, aku menghentikan goyangan, dan Mas Putra mengerti dan menghentikan kocokannya juga. Kami bercumbu sebentar, menenangkan diri dengan penis tetap menancap di vagina. Aku menawarkan untuk ganti posisi dan Mas Putra menyetujui. Kami sepakat mencoba doggie style. Aku langsung menungging di atas rumput, dan Mas Putra berlutut segera memasukkan penisnya dan mulai mengocok, terasa sensai yang lain lagi. Aku mengerang bebas dan Mas Putra merangkulku dari belakang meremas payudara sambil terus mengocok.

Agak lama aku klimaks, malah gantian Mas Putra yang mau klimaks, tubuhnya menegang dan meracau. Aktifitas langsung berhenti. Kali ini aku aktif mencumbunya, kami duduk berhadapan, kakinya menjulur lurus, aku duduk di atasnya memasukkan vagina ke penis, mengoyang-goyang pelan, akhirnya di merebahkan dirinya di atas rumput. Aku makin leluasa mengocok penisnya di vaginaku. Terasa penetrasi lebih dalam dan dinding vaginaku terasa geli dan nikmat.

Sebelum klimaks, lagi-lagi kami ganti posisi, Mas Putra gantian menindihku dengan gaya konvensional. Kocokannya benar-benar bernafsu dan cepat, aku menggelinjang geli dan membalas setiap gerakan Mas Putra. Kami saling mengerang, menjerit tertahan dengan nafas mendengus sampai tubuhku menegang akan mencapai klimaks. Mas Putra tidak perduli, terus mengocok penisnya, aku menjerit pelan begitu klimaks, memeluk Mas Putra lemas yang terus menggenjot sampai dia pun klimaks. Kami saling berangkulan di atas rumput, tersenyum dengan peluh membanjiri tubuh. Setelah berpakaian kami segera pulang.

Tuesday, December 18, 2012

Nafsu Anak Pecinta Alam

Namaku Son, mahasiswa semester III, tinggiku 168 cm dan berat 58 kg.

Kejadian ini terjadi pada waktu aku melakukan pendakian gunung Lawu bersama teman-temanku. Lokasiku saat itu berada dekat base camp pertama kearah pendakian gunung Lawu. Aku sedang beristirahat sendirian disini. Tadi malam aku bersama teman-temanku 5 orang sudah melakukan pendakian menuju puncak Lawu dan telah berhasil mencapai puncak Lawu jam 6 pagi tadi.

Sekarang dalam perjalanan pulang, sementara teman-temanku sudah pada turun gunung semua. Kuputuskan untuk beristirahat sebentar di base camp pertama ini sambil mendirikan tenda, biar nanti agak sorean aku turun sendiri menuju pos kami yang dekat dengan rumah penduduk sekitar gunung Lawu ini.

Sore itu pukul 15.10 WIB, aku baru saja selesai menyeduh kopi instanku, ketika tiba-tiba dari arah semak belukar arah barat muncul 2 orang cewek dengan baju dan kondisi acak-acakan.

”Halo Mas?” sapa salah satu cewek itu padaku.

Cewek yang kutaksir berusia 18 tahun kelihatannya anak SMA, rambutnya pendek seperti aktris Agnes Monica. Sedangkan temannya yang satu berambut panjang sebahu mirip-mirip bintang sinetron Bunga lestari.

”Halo juga” jawabku menyembunyikan kekagetanku karena munculnya yang tiba-tiba, sempat terpikir ada setan atau penunggu gunung ini yang mau menggodaku.
”Loh, dari mana, kok berduaan aja?” tanyaku coba berbasa-basi.
”Iya, kita tadi misah dari rombongan, terus nyasar..” jawab cewek itu sambil duduk di depanku.
”Boleh minta minum gak? Kita haus sekali, sudah 5 jam kita jalan muter-muter gak ketemu jalan sama orang” lanjutnya kemudian.

Aneh juga pikirku, padahal perasaanku dari tadi pagi, sering sekali aku berpapasan dengan orang-orang atau rombongan pecinta alam.

”Ada juga air putih, tuh di botol atau mau kopi, sekalian aku buatin?” jawabku.

Cewek yang berbicara denganku tadi ini tidak menjawab pertanyaanku, tapi langsung menghampiri botol minum yang kutunjukan dan segera meminumnya dengan terburu-buru, sedangkan temannya yang satu lagi hanya memperhatikan dan kemudian meminta botol minumku dengan santun.

Kuperhatikan saja tingkah mereka, cewek-cewek muda ini cakep juga khas ABG kota, tapi saat itu mukanya kotor oleh debu dan keringat, kaosnya cuma ditutupi jaket kain, celana jeans dan sepatu olah raga warna hitam, ini sih mau piknik bukan mau naik gunung, abis gak bawa bekal atau peralatan sama sekali.

Mereka minum terus sampai puas kemudian tiduran disamping kompor parafin yang sedang kugunakan untuk memasak air.

”Mas namanya siapa?” tanya cewek yang berambut pendek.
”Namaku Adek sedangkan ini temenku Lina” katanya lagi.
”Namaku Son” jawabku pendek sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
”Ada makanan gak, Mas? Adek laper banget nih..” tanya Adek tanpa basa basi kepadaku yang sedang memperhatikannya.
”Ada juga mie kalo mau, sekalian aja masak mumpung airnya mendidih” jawabku.

Ternyata Adek tidak mau masak sendiri, dia terus berbaring dan minta tolong padaku untuk dimasakin mie.

”Wah kamu ini manja banget ya? Kenal aja barusan tapi udah nyuruh-nyuruh?” godaku pada Adek.
”Tolong deh Mas.. Adek capek banget” “Nanti gantian deh..” rayu Adek padaku.
”Gantian apa ya? Emang nanti kamu mau masak mie lagi? Bayarnya pake pijet aja ya?” godaku lebih lanjut.
”Maunya tuh.. tapi bereslah..” jawab Adek cuek sambil memejamkan matanya.

Kuperhatikan Lina, tapi dia ternyata diam saja, dan hanya mengangguk kecil ketika kutawarkan mie. Sementara aku masak mie instan, Adek kemudian bercerita kisahnya sampai dia dan Lina tersesat berduaan di tengah gunung Lawu ini. Adek berangkat bersama serombongan pecinta alam SMAnya jam 10 siang tadi. Rencananya malam nanti Adek dan rombongan akan mendaki gunung Lawu, tapi waktu menuju base camp kedua, perut Lina sakit, sehingga Adek menemani Lina mencari tempat untuk buang hajat, tetapi setelah selesai ternyata mereka tertinggal dan terpisah dari rombongan.

Setelah mienya siap segera saja pancinya kuberikan pada mereka untuk segera disantap. mMsih saja Adek protes kok tidak ada piringnya.

”Emangnya ini di warung” kataku cuek sambil tersenyum kearah Lina.

Lina hanya tersenyum tipis dengan bibir gemetar.

”kamu sakit ya Lin?” tanyaku.
”Nggak Mas hanya kedinginan” katanya pelan.
”Butuh kehangatan tuh Mas Son” potong Adek sekenanya.

Wah kaget juga aku mendengar celoteh Adek yang terkesan berani. Kuperhatikan keadaan sekitar yang sudah mulai berkabut dan langit gelap sekali. Waduh jangan-jangan sudah mau hujan. Segera saja kubereskan peralatanku.

”Masih pada kuat jalan nggak?” tanyaku pada 2 orang cewek ini.
”Nanti kalau disini hujan, bisa basah semua.. Mending kalo masih bisa jalan kita cepat turun agar nggak kehujanan” lanjutku.

Baru saja selesai aku bicara, tiba-tiba ada kilatan petir disusul dengan suaranya yang keras.

”Duer!!”

Disusul dengan tiupan angin yang kencang membawa rintik-rintik air hujan.

”Nah lo.. benerkan, telat deh kalo kita mau nekat turun sekarang” kataku sambil mematikan kompor parafinku.
”Ya udah, cepet masuk tenda sana, cuaca lagi nggak bersahabat nih, bakal hujan deres disini!” perintahku sambil membereskan peralatanku yang lain karena hujan sudah mulai turun.

Aku, Adek, dan Lina segera berdesak-desakan di dalam tenda kecil parasut, sementara hujan semakin deras disertai bunyi angin yang keras, segera aku memasang lampu kemah kecil yang biasa kubawa kalau aku naik gunung. Lumayanlah cahayanya cukup untuk menerangi di dalam tenda ini. Sementara kurasa hari menjelang maghrib, dan hujan masih saja turun walau tidak deras.

Adek dan Lina duduk meringkuk berdampingan dihadapanku sambil tangannya mendekap kaki.

”Kamu masuk aja ke sleeping bag itu, kelihatannya kok kamu kedinginan sekali” saranku pada Lina yang mulai menggigil kedinginan.
”Tapi copot sepatunya” lanjutku kemudian.

Lina diam saja, tapi menuruti saranku. Akhirnya Adek dan Lina tiduran berhimpitan di dalam sleeping bag sambil berpelukan.
Kuperhatikan saja tingkah mereka berdua,

”Hei kalian pada ngomong dong, jangan diem aja. Jadi serem nih suasananya” ucapku pada Adek dan Lina.
”Mas Son gak kedinginan..” tanya Lina tiba-tiba.
”Ya dingin to, siapa juga yang nggak kedinginan di cuaca seperti ini?” jawabku apa adanya.
”Kalian enak berduan bisa berpelukan gitu.. gak adil” kataku mencoba bercanda.
”Ya Mas Son sini to, kita berpelukan bertiga” kata Adek pendek, tak ada nada bercanda dalam nada omongannya.

”Waduh, gak salah denger nih?” pikirku.

Tak akan ada kesempatan kedua kalau hal ini kutanyakan lagi.

”Ya udah, kalian geser dong. aku mau di tengah biar hangat” kataku cuek sambil membuka resleting sleeping bagku.

Tidak sempat kuperhatikan ekspresi Lina atau Adek karena keadaannya yang remang-remang. Aku merebahkan diri diantara dua cewek yang baru kukenal ini, tak ada kata-kata atau komentar apapun, kulingkarkan kedua tanganku kepada Adek di sebelah kiri dan Lina disebelah kanan. Walau awalnya aku merasa canggung tapi setelah kunikmati dan merasakan dua tubuh hangat mendekapku dan akupun merasa nyaman sekali. Kepala Adek dan Lina bersamaan rebah di dadaku. Kurasakan deru nafas yang memburu dari keduanya dan dariku juga.

”Badan Mas Son hangat ya Lin?” kata Adek pelan seraya tangannya melingkar kebawah dadaku dan kakinya naik menimpa kakiku, barangkali Adek lagi membayangkan aku seperti gulingnya kalau dia pas lagi mau tidur.
”Iya tadi Lin takut sekali, sekarang dipeluk sama Mas Son, Lin jadi nggak takut lagi” jawab Lina pelan sambil mengusap kepalanya di dadaku.

Samar-samar tercium bau wangi dari rambutnya. Kemudian darahku terasa terkesiap saat lutut Adek entah disengaja atau tidak menyenggol burungku.

”Ehm..” aku hanya bisa berdehem kecil ketika kurasa hal itu ternyata mendorong birahiku naik.

Waduh, pikiranku langsung ngeres, rugi juga ya kalau kesempatan selangka seperti ini kusia-siakan, minimal harus ngelaba sesuatu nih..
Iseng-iseng tangan kiriku yang masih leluasa kuberanikan memeluk tubuh Adek mulai meraba-raba kebagian daerah buah dada Adek.

”Ehm..” Adek ternyata hanya berdehem pelan.

Akupun mulai berani meningkatkan aksiku lebih lanjut, aku mencoba meremas lembut susunya. Ternyata Adek hanya diam, dia hanya mendongakkan mukanya menatapku, sambil tangannya juga meraba-raba dan mengelus-elus dadaku. Kucoba mencium rambutnya lalu kukecup kening Adek, sementara tanganku terus meremas-remas susunya dengan tempo agak cepat.

”Aah.. Mas Son” suara Adek terdengar lirih.
”Ada apa Dek?” tanyaku pelan melihat Lina sudah mulai curiga dengan aktivitas yang kulakukan.
”Kamu masih kedinginan ya?” kataku lagi sambil menggeser tubuhnya agar lebih naik lagi.

Sementara tanganku jadi lebih leluasa menelusup ke dalam balik jaketnya dan membuka pengait BHnya yang masih tertutup dengan kaos luarnya. Adek hanya diam saja saat kulakukan hal itu, bahkan saat tanganku sudah sempurna merengkuh susunya dibalik BHnya. Dia menggigit kecil dadaku.

”Ah.. Mas Son..” katanya parau dengan tidak memperdulikan ekspresi Lina yang kebingungan.

Saat kupermainkan puting susunya, tiba-tiba Adek bangkit.

”Mas Son, Adek ma.. masih kedinginan” kata Adek dengan bergetar sambil menghadapkan mukanya ke wajahku sehingga jarak muka kami begitu dekat.

Kurasakan nafasnya memburu mengenai wajahku. Aku hanya bisa diam tercekat ketika Adek mulai menciumi mukaku dengan tidak beraturan, mungkin karena gelap hampir semuanya kena diciumnya. Kurasakan lagi kaki Adek sudah melakukan gerakan yang teratur menggesek-gesek ******ku naik dan turun. Tanpa sadar akupun membalas ciuman Adek, hingga akhirnya bibir kami bertaut. Dengan penuh nafsu Adek mengulum bibirku sambil lidahnya terjulur keluar mencari lidahku. Setelah didapatnya lidahku, dihisapnya dengan kuat sehingga aku sulit bernafas.

”Gila nih, cewek ABG sudah pintar french kiss” ucapku dalam hati.

Tanpa sadar tangan kananku mencengkram pundak Lina.

”Mas sakit Mas pundak Lina” kata Lina tiba-tiba yang menghentikan aktivitasku dengan Adek.
”Oh maaf Lin” jawabku dengan terkejut.

Kuperhatikan ekspresi Lina yang bengong melihatku dengan Adek. Tapi rasa tidak enakku segera hilang karena ternyata Adek tidak menghentikan aktivitasnya, dia tampaknya cuek aja dengan Lina, seakan menganggap Lina tidak ada. Adek terus menciumi telinga dan leherku.

”Mas Son, Adek jadi pengen.. Adek jadi BT, birahi tinggi” kata Adek lirih di telingaku sambil tangannya sudah bergerilya mengusap-usap ******ku yang masih tertutup rapat oleh celana jeansku.

”Waduh.. bagaimana ini” pikirku dalam hati.

Pikiranku serasa buntu. Kupandangi wajah Lina yang kaku melihat polah tingkah Adek yang terus mencumbuku. Lina pun bangkit dari rebahannya sambil beringsut menjauh dari badanku. Tak sempat ku berkata lagi, Adek yang sudah birahi tinggi tanpa ampun menyerangku dengan ganasnya, dicumbunya seluruh wajah dan leherku, malah kini posisinya menaiki tubuhku dan berusaha membuka bajuku.

Aku yakin walau suasananya remang-remang, Lina pasti melihat jelas semua aktivitas kami, bahkan dengan kaos dan BH Adek yang sudah tersingkap keatas dan tanganku yang sedang meremas-remas susu Adek, sekarang jelas terpampang di depan mata Lina. Kepalang tanggung, segera saja kurengkuh tubuh kecil Adek dan kuhisap puting payudaranya yang kecil dan berwarna merah kecoklatan itu secara bergantian dengan posisi adek diatas tubuhku. Pentil itu tampak sudah tegak mengacung karena pemiliknya sudah dilanda nafsu birahi yang sangat tinggi.

”Ah.. ah.. Mas Son..” gumam Adek lirih.
”Enak Mas, terus.. jangan dijilat terus, tapi disedot.. aah..” lanjutnya.

Aktivitas ini kuteruskan dengan mengelus dan meraba pantat Adek yang sejajar dengan ******ku. Kuremas pantat Adek sambil menggesek-gesekan ******ku pada daerah kemaluan Adek yang masih terbungkus dengan celana jeans yang dikenakannya. Kujilati semua yang ada di dada Adek, bahkan kugigit kecil puting mancung itu yang membuat Adek melenguh panjang.

”Aaahh.. sshh..”

Aksiku ternyata membuat Adek blingsatan, dikulumnya bibirku dan diteruskan ke leherku sambil berusaha membuka semua bajuku, nampaknya Adek mau balas dendam melancarkan aksi yang sama dengan yang kulakukan tadi.

Benar saja, begitu bajuku terbuka semua, Adek segera menghisap putingku dan menggigit-gigit putingku dengan ganas. Kurasakan sensasi yang luar biasa yang membuat ******ku semakin tersiksa karena tidak bisa bangun terhalang oleh celana jeansku. Saat itu bisa kuperhatikan Lina di samping kiriku yang sedang menatap nanar aktivitas kami, kulihat tangan kanannya dijepitkan pada dua belah pahanya, entah sedang terangsang atau sedang kedinginan.

Tanpa kata, kuberanikan tangan kananku mengelus paha Lina sambil berusaha meraih tangan Lina. Lina hanya diam saja, bahkan semakin terpaku saat melihat aksi Adek yang terus mencumbu bagian bawah pusarku. Aku yang merasa sangat geli hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku ke kiri dan ke kanan.

”Aah.. Dek, jangan dijilat di daerah situ terus.. ge..li se..ka..li..” ujarku dengan nafas tersengal.

Tanpa sadar aku sudah meremas tangan Lina dan Linapun kurasa juga membalas remasan tanganku. Tapi kejadian demi kejadian berlangsung begitu cepat, Adek seolah sudah tidak peduli lagi, dia langsung membuka ikat pinggangku diteruskan dengan membuka resleting celana jeansku. Aku hanya bisa pasrah menerima nasibku saat itu, keperhatikan tingkah Adek sambil tanganku tetap memegang tangan Lina.

Saat resleting celanaku sudah terbuka, Adek meraih ******ku yang masih terbungkus celana dalamku, lalu dielusnya sebentar kemudian ditariknya sampai selutut celana jeansku berikut celana dalamku juga. Tanpa banyak kata, Adek hanya memperhatikan sebentar ******ku kemudian mencium dan menjilat permukaan ******ku.

”Aah..” aku hanya bisa mengeluarkan kata itu saat Adek mulai mengulum ******ku dan mengisapnya.
”Aargh .. Dek, enak sekali Dek” erangku.

”Gila nih anak, baru SMA sudah selihai ini, aku tak habis pikir” gumamku dalam hati.

Saat Adek masih asik berkaraoke dengan ******ku, kulihat sekilas ke Lina, ternyata dia sedang memperhatikanku dengan pandangan yang tidak kumengerti artinya. Kemudian seperti ada dorongan lain kutarik tangan Lina sehingga tubuhnya rebahan lagi disampingku.

”Lin, aku ingin cium bibir kamu” bisikku perlahan di telinga Lina.

Saat itu Lina diam saja sambil tetap menatapku. Kutarik wajahnya mendekat dengan wajahku dan segera kulumat bibir Lina yang mungil itu.

”Eemh ..” suara yang terdengar dari mulut Lina.

Tak ada perlawanan yang berarti dari Lina, Lina diam saja tak membalas ciumanku, entah karena pasrah atau tidak tahu caranya berciuman. Kurasakan getaran birahi yang luar biasa saat ******ku terus dipermainkan oleh Adek sementara konsentrasiku terarah pada Lina yang pasrah. Segera saja aku menciumi dada Lina yang masih terbungkus oleh bajunya sementara tanganku yang satu mengelus-elus selangkangan Lina.

”Aah.. ah..” Lina mulai bereaksi panas saat kusibak bajunya sehingga aku bisa menjilati permukaan susu yang masih tertutup oleh BHnya yang berwarna pink.
”Ya diajari tuh Lina, Mas Son.. sudah gede tapi belum bisa bercinta” kata Adek tiba-tiba.

Kaget juga aku mendengar teguran itu, kuperhatikan Adek tenyata dia sudah tidak menghisap ******ku lagi, tapi sedang membuka celana jeans lalu celana dalamnya sendiri.

”Adek masukkin ya Mas” kata Adek pelan tanpa menunggu persetujuanku sambil mengarahkan ******ku ke lubang kawinnya yang tampak olehku disuburi bebuluan jembut keriting.

Pelan tapi pasti Adek membimbing ******ku untuk masuk penuh ke dalam tempiknya. Kurasakan rasa hangat menjalar dari ******ku ke seluruh tubuhku. Tempik Adek yang sudah basah oleh lendir pelumasnya memudahkan ******ku masuk ke dalamnya.

”Ah.. burung Mas Son gede.. terasa penuh di tempik Adek” katanya mendesis sambil menggoyangkan pantatnya dan memompanya naik turun.
”Ah.. ash.. ah.. enak sekali Mas Son” kata Adek parau sambil mencumbu dadaku lagi.

Aku yang menerima perlakuan demikian tentu saja tidak terima, kuangkat badan Adek dan mendekatkan teteknya ke mulutku sambil terus memompa dari bawah mengimbangi goyangan Adek.

”Huuf.. uh..uh.. aah.. terus Mas” erang Adek memelas.

Kujilati terus dan mengisap puting Adek bergantian kiri dan kanan, sementara Adek menerima perlakuanku seperti kesetanan.

”Ayo Mas.. Son.. terus.. ayo .. teruuss.. Adek mau dapet ni..” katanya bernafsu.

Tak beberapa lama kemudian, dengan kasar Adek mencium dan mengulum bibirku.

”Eeemhp.. aaah..”

Dan kemudian Adek terkulai lemas di dadaku, sementara aku yang masih memompa dari bawah hanya didiamkan Adek tanpa perlawanan lagi.

”Aaa.. berhenti dulu Mas Son, istirahat sebentar, Adek sudah dapat Mas Son” kata Adek lirih mendekapku dengan posisinya masih di atasku dan ******ku masih di dalam liang senggamanyanya.

Kurasakan detak jantung Adek yang bergemuruh di dadaku dan nafasnya yang ngos-ngosan mengenai leherku.

”Makasih ya Mas Son, enak sekali rasanya” kata Adek pelan.

Aku yang belum mendapatkan orgasme, hanya bisa melirik ke arah Lina yang saat itu ada di sampingku, ternyata tangannya sedang meremas-remas teteknya sendiri dibalik BH berendanya yang sudah terbuka. Segera saja kutarik Lina mendekatiku dan menyuruhnya agar ia berposisi push up mendekatkan teteknya kemulutku.

”Aah .. Mas Son..” kata Lina pelan saat tetek kanannya kuhisap.

Saat itu Adek bangkit dari posisi semula dan mencabut tempiknya dari ******ku, kemudian berbaring di sisi kiriku sambil merapikan kaosnya. Aku yang kini leluasa berusaha bangkit sambil mencopot celana jeansku yang masih menempel di lututku. Kuterus meremas-remas tetek Lina sambil mengulum bibir Lina yang kini posisinya berbaring di bawahku. Berbeda dengan yang tadi, kini Lina mulai agresif membalas kulumanku bahkan bibirnya menjulur-julur minta diisap.

Kubimbing tangan Lina untuk memegang ******ku yang masih tegang dan basah karena cairan kawin dari tempik Adek. Semula seakan ragu, tapi kini Lina mengenggam erat ******ku dan seperti sudah alami Lina mengocok ******ku waktu lidahku bermain di bawah telinganya dan lehernya.

”Aah .. Mas Son.. geli ..” hanya itu komentar dari bibir Lina yang seksi itu.

Perlahan lidahku mulai bermain di seluruh dada Lina, dari leher sampai gundukan teteknya kujilati semua, dan kugigit kecil pentil susu Lina yang berwarna kemerahan dan sudah tampak tegang itu.

”Aargh.. aah ..” Lina mulai menggelinjang.

Lina diam saja waktu kubuka ikat pinggangnya dan kubuka kancing celana jeansnya. Kuperhatikan Lina masih memejamkan matanya dan melenguh terus saat kucumbu bagian pentilnya, sementara tangan kanannya tetap menggenggam erat ******ku, dan tangan kirinya menekan-nekan kepalaku, sesekali menjambak rambutku. Kemudian tanganku menelusup ke dalam balik celana dalam Lina waktu kancing celana jeans Lina sudah terbuka, kurasakan sambutan hangat bulu-bulu jembut yang masih jarang diatas tempiknya. Kuelus-elus sebentar permukaan liang kawinnya, lalu jari-jariku tak ketinggalan bermain menekan-nekan tempiknya yang sudah basah oleh lendir kawinnya.

”Ah.. Mas.. Son .. aah” suara Lina semakin terdengar parau.

Aku segera mengalihkan cumbuan ke daerah perut Lina dan menurun menuju tempiknya. Kubuka celana dalam berenda yang juga berwarna pink itu tanpa melihat reaksi Lina dan segera menciumi permukaan tempik Lina yang masih ditumbuhi bulu-bulu jembut halus yang jarang-jarang.

”Ah.. jangan Mas Son .. ah..” kata Lina mendesis.

Tentu saja kubiarkan sikap yang menolak tapi mau itu. Lidahku sudah mencapai permukaan tempiknya lalu kujilati yang segera membuatnya menggelinjang dan dengan mudah aku menurunkan celana jeansnya sampai sebatas pahanya. Kujilati terus tempik Lina sampai kedalam-dalam sehingga pertahanan Lina akhirnya jebol juga, pahanya semula yang mengapit kepalaku mulai mengendur dan mulai terbuka mengangkang, sehingga akupun leluasa mencopot seluruh celana jeans dan celana dalamnya.

”Aah .. argh ..” desis Lina pelan.

Posisiku saat itu dengan Lina seperti posisi 69, walau Lina tidak mengoral ******ku aku tidak peduli tetap menjilati tempiknya dengan ganas dan tanpa ampun.

”Aah.. Mas .. truss.. ahhh .. enaak.. Mas .. aah ..” teriak Lina tidak jelas, sampai akhirnya pahanya menjepit erat kepalaku dan ******ku terasa sakit digenggam erat oleh Lina.
”Aaah.. Mas ..” teriakan terakhir Lina bersamaan dengan sedikit cairan birahi yang menyemprot dari dalam tempiknya kedalam mulutku.

Rupanya Lina sudah mendapat orgasme pertamanya walau dengan lidahku.

”Aah.. enak sekali.. Mas Son .. sudah ya Mas Son..” kata Lina pelan sambil tergolek lemah dan pasrah.

Akupun menghentikan aktivitasku dan mengambil nafas dulu karena mulutku jadi pegal-pegal kelamaan asyik mengoral tempiknya. Aku berbaring di tengah dua cewek ini dengan posisi yang terbalik dengan mereka, kepalaku berada diantara kaki-kaki mereka.
Baru sebentar aku mengambil nafas, kurasakan ******ku sudah ada yang memegang lagi.

”Mas main sama Adek lagi ya? Adek jadi nafsu ngeliat Mas Son main sama Lina” kata Adek tiba-tiba yang sudah bangkit dan kini tangannya sedang memegang ******ku.

Aku tak sempat menjawab karena Adek sudah mengulum ******ku lagi, bahkan kini pantatnya beralih ke wajahku, menyorongkan tempiknya kemulutku untuk minta dioral juga seperti tadi aku dengan Lina. Posisiku dengan Adek kini 69 betulan tapi dengan posisiku yang di bawah. Kujilati tempik Adek dengan lidah yang menusuk-nusuk kedalamnya.

”Eeemph .. emmph ..” Adek tak bisa mendesah bebas karena mulutnya penuh dengan ******ku.

Lama kami bermain dengan posisi itu, sampai akhirnya kuhentikan karena aku tidak tahan dengan isapan Adek yang luar biasa itu dan kalau dibiarkan terus akibatnya ******ku bisa muntah-muntah di dalam mulut Adek. Aku bimbing agar Adek berbaring di samping Lina sedangkan aku di atasnya mulai mencumbu lagi dari teteknya dengan menggesek-gesekan ******ku ke permukaan tempiknya yang dipenuhi oleh bulu-bulu jembut yang berwarna hitam pekat itu. Adek seperti mengerti, kemudian membimbing ******ku untuk masuk ke dalam lubang kawinnya. Akupun bangkit sambil mengarahkan ******ku siap untuk menghujam lubang senggama Adek. Pelan tapi pasti kumasukan ******ku mulai dari kepala hingga semuanya masuk ke dalam tempiknya.

”Aaah .. Mas Son ..” desis Adek sambil menggoyang pantatnya.

Kurasakan seret sekali tempiknya, beda sekali dengan yang tadi gesekan itu terasa nikmat menjalar di setiap centi dari ******ku dengan sesekali terasa denyutan pelan dari liang kemaluannya.

”Mas yang keras dong goyangnya.. terasa sekali mentok” kata Adek sambil melingkarkan tangannya ke leherku.

Akupun jadi semangat memompa tubuh ranum yang mungil ini. Di udara dingin seperti ini terasa hangat tapi tidak berkeringat.

”Aah.. ah.. terus Mas .. terusss.. ah.. ah ..” lanjutnya keenakan.

Mungkin sekitar 5 menit aku menggoyang Adek, sampai kemudian aku tidak tahan melihat teteknya yang bergoyang indah dengan puting kecil menantang. Akupun mengulum puting Adek sambil meremas-remasnya dengan gemas, sementara pompaan ******ku telah diimbangi goyangan Adek yang bisa kupastikan goyangan ngebor ala Inul tidak ada apa-apanya.

”Ma.. Mas .. Adek mau dapet laggii.. bareeng yaa.. ah.. ah..” desis Adek histeris.

Aku jadi terangsang sekali mendengar lenguhan Adek yang merangsang itu, kuteruskan aksiku dengan menjilat dan mencium dada, ketiak, leher, telinga dan pipi Adek.

”Aaarg ..” erangnya keras.

Adek mengulum bibirku sambil memejamkan matanya. Nampaknya Adek telah mendapat orgasmenya yang kedua, sementara tubuhnya menegang sebentar dan kemudian melemas walau aku masih memompanya. Aku segera mencabut ******ku dan mengocoknya sebentar untuk menumpahkan pejuku ke perut Adek.

”Crut.. crut..”

Pejuku keluar banyak membasahi perut Adek dan mengenai teteknya.

”Aaah..” akupun melenguh puas saat hasratku telah tersalurkan.

Adek mengusap-usap pejuku di perutnya kemudian membersihkan dengan tisu yang diambil dari celananya, sedangkan Lina mendekat dan melihat aksi Adek, kemudian membantu membersihkan pejuku.

”Baunya seperti santan ya?” komentar Lina sambil mencium tisunya yang penuh dengan pejuku.
”Ya udah. Semua dibereskan dulu” kataku memberi perintah kepada dua cewek yang baru saja bermain cinta denganku ini.
”Kita istirahat dulu ya sambil tiduran, nanti kalo sudah nggak hujan kita putuskan mau turun ke bawah atau bermalam disini ya” lanjutku kemudian.

Akhirnya akupun tertidur kelelahan dengan dua cewek yang mendekapku. Entah mimpi apa aku semalam bisa terjebak dalam situasi seperti ini.

Monday, December 17, 2012

Cerita Dewasa Kontolku Dijepit Susu Lidya

Cerita Dewasa Lega rasanya aku melihat pagar rumah kosku setelah terjebak dalam kemacetan jalan dari kampusku. Kulirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 21.05 yang berarti aku telah menghabiskan waktu satu jam terjebak dalam arus lalu-lintas Jakarta yang begitu mengerikan. Setelah memarkir mobilku, bergegas aku menuju ke kamarku dan kemudian langsung menghempaskan tubuh penatku ke ranjang tanpa sempat lagi menutup pintu kamar.

Baru saja mataku tertutup, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh ketukan pada pintu kamarku yang disertai dengan teriakan nyaring dari suara yang sudah sangat aku kenal.
“Ko, loe baru pulang yah?” gelegar suara Voni memaksa mataku untuk menatap asal suara itu.
“iya, memangnya ada apa sih teriak-teriak?” jawabku sewot sambil mengucek mataku.
“Ini gue mau kenalin sepupu gue yang baru tiba dari Bandung” jawabnya sambil tangan kirinya menarik tangan seorang cewek masuk ke kamarku.

Kuperhatikan cewek yang disebut Voni sebagai sepupunya itu, sambil tersenyum aku menyodorkan tangan kananku kearahnya “Hai, namaku Riko”
“Lydia” jawabnya singkat sambil tersenyum kepadaku.

Sambil membalas senyumannya yang manis itu, mataku mendapati sesosok tubuh setinggi kira-kira 165 cm, walaupun dengan perawakan sedikit montok namun kulitnya yang putih bersih seakan menutupi bagian tersebut.

“Riko ini teman baik gue yang sering gue ceritain ke kamu” celetuk Voni kepada Lydia.
“Oh..”
“Nah, sekarang kan loe berdua udah tau nama masing-masing, lain kali kalo ketemu kan bisa saling memanggil, gue mau mandi dulu yah, daag..” kata Voni sambil berjalan keluar dari kamarku.

Aku menanggapi perkataan Voni barusan dengan kembali tersenyum ke Lydia.
“Cantik juga sepupu Voni ini” pikirku dalam hati.
“Lydia ke Jakarta buat liburan yah?” tanyaku kepadanya.
“Iya, soalnya bosen di Bandung melulu” jawabnya.
“Loh, memangnya kamu nggak kuliah?”
“Nggak, sehabis SMA aku cuma bantu-bantu Papa aja, males sih kuliah.”
“Rencananya berapa lama di Jakarta?”
“Yah.. sekitar 2 minggu deh”
“Riko aku ke kamar Voni dulu yah, mau mandi juga “
“Oke deh”

Sambil tersenyum lagi dia berjalan keluar dari kamarku. Aku memandang punggung Lydia yang berjalan pelan ke arah kamar Voni. Kutatap BH hitamnya yang terlihat jelas dari balik kaos putih ketat yang membaluti tubuhnya yang agak bongsor itu sambil membayangkan dadanya yang juga montok itu. Setelah menutup pintu kamarku, kembali kurebahkan tubuhku ke ranjang dan hanya dalam sekejab saja aku sudah terlelap.

“Ko, bangun dong”
Aku membuka kembali mataku dan mendapatkan Voni yang sedang duduk di tepi ranjangku sambil menggoyangkan lututku.

“Ada apa sih?” tanyaku dengan nada sewot setelah untuk kedua kalinya dibangunkan.
“Kok marah-marah sih, udah bagus gue bangunin. Liat udah jam berapa masih belom mandi!”
Aku menoleh ke arah jam dindingku sejenak.
“Jam 11, emang kenapa kalo gue belum mandi?”
“Kan loe janji mau ngetikin tugas gue kemaren”
“Aduh Voni.. kan bisa besok..”
“Nggak bisa, kan kumpulnya besok pagi-pagi”

Aku bergegas bangun dan mengambil peralatan mandiku tanpa menghiraukan ocehan yang terus keluar dari mulut Voni.
“Ya udah, gue mandi dulu, loe nyalain tuh komputer!”

*****

Tulisan di layar komputerku sepertinya mulai kabur di mataku.
“Gila, udah jam 1, tugas sialan ini belum selesai juga” gerutuku dalam hati.

“Tok.. Tok.. Tok..” bunyi pintu kamarku diketok dari luar.
“Masuk!” teriakku tanpa menoleh ke arah sumber suara.

Terdengar suara pintu yang dibuka dan kemudian ditutup lagi dengan keras sehingga membuatku akhirnya menoleh juga. Kaget juga waktu kudapati ternyata yang masuk adalah Lydia.

“Eh maaf, tutupnya terlalu keras” sambil tersenyum malu dia membuka percakapan.
“Loh, kok belum tidur?” dengan heran aku memandangnya lagi.
“Iya nih, nggak tau kenapa nggak bisa tidur”
“Voni mana?” tanyaku lagi.
“Dari tadi udah tidur kok”
“Gue dengar dari dia katanya elo lagi buatin tugasnya yah?”
“Iya nih, tapi belum selesai, sedikit lagi sih”
“Emang ngetikin apaan sih?” sambil bertanya dia mendekatiku dan berdiri tepat disamping kursiku.

Aku tak menjawabnya karena menyadari tubuhnya yang dekat sekali dengan mukaku dan posisiku yang duduk di kursi membuat kepalaku berada tepat di samping dadanya. Dengan menolehkan kepalaku sedikit ke kiri, aku dapat melihat lengannya yang mulus karena dia hanya memakai baju tidur model tanpa lengan. Sewaktu dia mengangkat tangannya untuk merapikan rambutnya, aku dapat melihat pula sedikit bagian dari BHnya yang sekarang berwarna krem muda.

“Busyet.. loe harum amat, pake parfum apa nih?”
“Bukan parfum, lotion gue kali”
“Lotion apaan, bikin terangsang nih” candaku.
“Body Shop White Musk, kok bikin terangsang sih?” tanyanya sambil tersenyum kecil.
“Iya nih beneran, terangsang gue nih jadinya”
“Masa sih? berarti sekarang udah terangsang dong”

Agak terkejut juga aku mendengar pertanyaan itu.
“Jangan-jangan dia lagi memancing gue nih..” pikirku dalam hati.
“Emangnya loe nggak takut kalo gue terangsang sama elo?” tanyaku iseng.
“Nggak, memangnya loe kalo terangsang sama gue juga berani ngapain?”
“Gue cium loe ntar” kataku memberanikan diri.

Tanpa kusangka dia melangkah dari sebelah kiri ke arah depanku sehingga berada di tengah-tengah kursi tempat aku duduk dengan meja komputerku.

“Beneran berani cium gue?” tanyanya dengan senyum nakal di bibirnya yang mungil.
“Wah kesempatan nih” pikirku lagi.

Aku bangkit berdiri dari dudukku sambil mendorong kursiku sedikit ke belakang sehingga kini aku berdiri persis di hadapannya.
Sambil mendekatkan mukaku ke wajahnya aku bertanya ” Bener nih nggak marah kalo gue cium?”
Dia hanya tersenyum saja tanpa menjawab pertanyaanku.

Tanpa pikir panjang lagi aku segera mencium lembut bibirnya. Lydia memejamkan matanya ketika menerima ciumanku. Kumainkan ujung lidahku pelan kedalam mulutnya untuk mencari lidahnya yang segera bertaut dan saling memutar ketika bertemu. Sentuhan erotis yang kudapat membuat aku semakin bergairah dan langsung menghujani bibir lembut itu dengan lidahku.

Sambil terus menjajah bibirnya aku menuntun pelan Lydia ke ranjang. Dengan mata masih terpejam dia menurut ketika kubaringkan di ranjangku. Erangan halus yang didesahkan olehnya membuatku semakin bernafsu dan segera saja lidahku berpindah tempat ke bagian leher dan turun ke area dadanya.

Setelah menanggalkan bajunya, kedua tanganku yang kususupkan ke punggungnya sibuk mencari kaitan BH-nya dan segera saja kulepas begitu aku temukan. Dengan satu tarikan saja terlepaslah penutup dadanya dan dua bukit putih mulus dengan pentil pink yang kecil segera terpampang indah didepanku. Kuremas pelan dua susunya yang besar namun sayang tidak begitu kenyal sehingga terkesan sedikit lembek.

Puting susunya yang mungil tak luput dari serangan lidahku. Setiap aku jilati puting mungil tersebut, Lydia mendesah pelan dan itu membuatku semakin terangsang saja. Entah bagaimana kabar penisku yang sedari tadi telah tegak berdiri namun terjepit diantara celanaku dan selangkangannya.

Putingnya yang kecil memang sedikit menyusahkan buatku sewaktu menyedot bergantian dari toket kiri ke toket kanannya, namun desahan serta gerakan-gerakan tubuhnya yang menandakan dia juga terangsang membuatku tak tahan untuk segera bergerilya ke perutnya yang sedikit berlemak.

Namun ketika aku hendak melepas celananya, tiba-tiba saja dia menahan tanganku.
“Jangan Riko!”
“Kenapa?”
“Jangan terlalu jauh..”
“Wah, masa berhenti setengah-setengah, nanggung nih..”
“Pokoknya nggak boleh” setengah berteriak Lydia bangkit dan duduk di ranjang.

Kulihat dua susunya bergantung dengan anggunnya di hadapanku.
“Kasihan ama ini nih, udah berdiri dari tadi, masa disuruh bobo lagi?” tanyaku sambil menunjuk ke arah penisku yang membusung menonjol dari balik celana pendekku.

Tanpa kusangka lagi, tiba-tiba saja Lydia meloroti celanaku plus celana dalamku sekalian.
Aku hanya diam ketika dia melakukan hal itu, pikirku mungkin saja dia berubah pikiran.
Tetapi ternyata dia kemudian menggenggam penisku dan dengan pelan mengocok penisku naik turun dengan irama yang teratur.

Aku menyandarkan tubuhku pada dinding kamar dan masih dengan posisi jongkok dihadapanku Lydia tersenyum sambil terus mengocok batang penisku tetapi semakin lama semakin cepat.
Nafasku memburu kencang dan jantungku berdegub semakin tak beraturan dibuatnya, walaupun aku sangat sering masturbasi, tapi pengalaman dikocok oleh seorang cewek adalah yang pertama bagiku, apalagi ditambah pemandangan dua susu montok yang ikut bergoyang karena gerakan pemiliknya yang sedang menocok penisku bergantian dengan tangan kiri dan kanannya.

“Lyd.. mau keluar nih..” lirih kataku sambil memejamkan mata meresapi kenikmatan ini.
“Bentar, tahan dulu Ko..”jawabnya sambil melepaskan kocokannya.
“Loh kok dilepas?” tanyaku kaget.

Tanpa menjawab pertanyaanku, Lydia mendekatkan dadanya ke arah penisku dan tanpa sempat aku menebak maksudnya, dia menjepit penisku dengan dua susunya yang besar itu. Sensasi luar biasa aku dapatkan dari penisku yang dijepit oleh dua gunung kembar itu membuatku terkesiap menahan napas. Sebelum aku sempat bertindak apa-apa, dia kembali mengocok penisku yang terjepit diantara dua susunya yang kini ditahan dengan menggunakan kedua tangannya.

Kali ini seluruh urat-urat dan sendi-sendi di sekujur tubuhku pun turut merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada kocokan dengan tangannya tadi.

“Enak nggak Ko?” tanyanya lirih kepadaku sambil menatap mataku.
“Gila.. enak banget Sayang.. terus kocok yang kencang..”
Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah pahanya yang mulus. Sesekali memutar arah ke bagian belakang untuk merasakan pantatnya yang lembut.

“Ahh.. ohh..” desahnya pelan sambil kembali memejamkan matanya.
Kocokan serta jepitan susunya yang semakin keras semakin membuatku lupa daratan.
“Lyd.. aku keluar..”

Tanpa bisa kutahan lagi semprotan lahar panasku yang kental segera menyembur keluar dan membasahi lehernya dan sebagian area dadanya. Seluruh tubuhku lemas seketika dan hanya bisa bersandar di dinding kamar. Aku memandang nanar ke Lydia yang saat itu bangkit berdiri dan mencari tissue untuk membersihkan bekas spermaku. Ketika menemukan apa yang dicari, sambil tersenyum lagi dia bertanya
“Kamu seneng nggak”
Aku mengangguk sambil membalas senyumannya.

“Jangan bilang siapa-siapa yah, apalagi sama Voni” katanya memperingatkanku sambil memakai kembali BH dan bajunya yang tadi kulempar entah kemana.
“Iyalah.. masa gue bilang-bilang, nanti kamu nggak mau lagi ngocokin gue”

Lydia kembali hanya tersenyum padaku dan setelah menyisir rambut panjangnya dia pun beranjak menuju pintu.
“Gue bersih-bersih dulu yah, abis itu mau bobo” ujarnya sebelum membuka pintu.
“Thanks yah Lyd.. besok kesini lagi yah” balasku sambil menatap pintu yang kemudian ditutup kembali oleh Lydia.

Aku memejamkan mata sejenak untuk mengingat kejadian yang barusan berlalu, mimpi apa aku semalam bisa mendapat keberuntungan seperti ini. Tak sabar aku menunggu besok tiba, siapa tahu ternyata bisa mendapatkan lebih dari ini. Mungkin saja suatu saat aku bisa merasakan kenikmatan dari lubang surga Lydia, yang pasti aku harus ingat untuk menyediakan kondom di kamarku dulu.
Sungguh Puaskah Istri Anda ?