Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Monday, October 8, 2012

Cerita Dewasa Mengetik Dengan Nina

Cerita Dewasa Ini adalah pengalamanku beberapa bulan lalu di tempat kost pacarku Nina. Aku sudah terbiasa keluar masuk di tempat kost itu baik itu bersama Nina atau sendirian. Kadang aku juga nginep kalau kemalaman. Kost ini memang nggak ada yang ngawasi, pemiliknya hanya datang sebulan sekali ambil duit.

Suatu hari aku datang ke kost Nina, sialnya pas saat itu Nina sudah keburu pergi ke Bromo bersama teman kuliahnya. Dalam hatiku aku mengumpati si Nina yang nggak lagi pamit kek atau ngasih tahu seperti biasanya. Mentang-mentang dia ada yang naksir lagi trus aku mulai nggak dianggap lagi.

Sore itu iseng-iseng aku nyalakan komputer di kamar Nina, ntar biar aku masukin virus makro-nya MS-Word lagi biar ilang semua ketikan dia. Tapi aku main DOOM dulu biar medongkolku agak berkurang. Belum lima belas menit aku main tiba-tiba pintu kamar yang nggak aku kunci terbuka. Eva dengan celana pantai dan kaos dagadunya sudah menerombol masuk ke kamar Nina. Waduh aku kena jadi sembur monster Doom deh.

“Hai mas,aE| sedang apa ?” si Eva teman sekost nya Nina datang, wah si Eva nih pasti minta tolong ngetik lagi.
“Minta tolong dong mas,aE|” pintanya sambil berganyut di daun pintu. Aku pura-pura nggak mau

“Aduh,.. aku bener-bener capek sekarang Va,aE| kalau kamu sendiri mau pake komputer ini pake aja” Eva memonyongkan bibirnya, aku tahu dia nggak lancar ngetik maklum nggak sering make komputer.
“Tolonglah mas,aE| aku nggak bisa ngetik lancar nih apalagi ini banyak rumusnya, bisa-bisa dua lembar selesai dua hari “. Memang sih kalo MSWord pake rumus mesti klak-klik terusan ngerjakannya.

“Kamu bawa ke rental saja deh, ntar disana ada kok yang mau ketikin”.
“Penuh,aE| besok sudah harus dikumpulin” jawabnya singkat.
“Duh mahasiswa, kebiasaan pake acara dadakan tuh,aE| Oke aku ketik tapi nanti kamu harus pijitin aku. Bagaimana ?” aku mengajukan penawaran.
“Nanti kalo ketahuan Nina ?” Eva memandang langit-langit dan aku memandangi pahanya.
“Enggak,aE| kan Nina lagi ke Bromo”

Singkatnya penawaranku diterima dan aku langsung ketik naskah punya Eva. Baru dua paragraf aku ketik, aku jadi teringat kalau aku juga pernah ketik naskah semacam ini untuk Nina. So jadi tinggal Copy dan Paste lalu Edit sedikit dan selesai.

“Di print sekalian nggak nih Va ?” tanyaku pada Eva yang malah asik bolak-balik majalah punya Nina.
“Lho kok cepet sekali, nggak ada yang salah ketik apa ?” ia bangkit dan mendekat ke arah monitor memeriksa naskah itu. Eva agak membungkuk membaca hasil ketikanku di monitor. Eh ada kesempatan baik, leher kaosnya jadi turun dan aku bisa melirik tetek milik Eva. Luar biasa, sekilas saja aku bisa pastikan tetek milik Eva masih kencang.

“Eh nakal ya,aE|” aduh ketahuan deh. Eva segera bangkit dan menutup leher kaosnya. Aku nyengir-nyengir saja. Tapi dia nggak serius tuh marahnya, Eva malah senyum-senyum malu sambil memaksakan diri melotot.
“Ntar aku bilangin Nina lho, mas suka ngintip” ancamnya lagi.
“Ah bukannya kamu yang suka ngintip kalo aku pas tidur sama Nina”, aku balikan kata sambil menyalakan printer. Memang Eva pernah ketahuan ngintip pas aku sedang minta jatah biologis sama Nina.

“Nih ” empat lembar naskah itu sudah tercetak dan aku serahkan sama Eva.
“Trims ya mas,aE|. Jadi nggak pijit nya ?”
“Oh ya jadi dong,aE|”

Aku tiduran di ranjang dan Eva memijiti punggungku. Pintu aku tutup tapi nggak aku kunci. Aku melepaskan baju yang aku pakai, aku bilang takut kusut. Pijatan Eva terasa enak sekali malah seperti sudah prof. Dari leher sampai pinggang diurut dengan seksama.

“Va,aE| kamu cerita sama Budi (pacarnya Eva) nggak ?” tanyaku membuka kebisuan.
“Cerita apa ?”
“Tentang yang kamu intip itu”
“Ah ya enggak dong ”
“Bener ?”
“Iya,..!!!”

Dua puluh menit aku dipijitin sama si Eva lalu dia mengeluh capek. Aku menawarakan diri untuk gantian pijit.

“Ah enggak ah, geli,aE|”.
“Tapi enak lho Va percaya deh” mulanya dia nolak tapi akhirnya mau juga. Aku bangkit sambil aku geser dia untuk naik ke ranjang. Aku pijit mulai dari lehernya lalu turun ke punggung dan pinggang. Aku perhatikan paha bagian belakang Eva mulusnya bukan main, putih lagi.

“Va kamu pernah nggak main sama Budi ?” aku beranikan diri untuk masuk ke dalam topik yang rada ngeres.
“Main apaan ?”
“Main kayak aku sama Nina”
“Ehm,aE| mulai aneh-aneh ya,aE|”
“Cuma nanya kok ”
“Kalo pernah kenapa dan kalo belum pernah juga kenapa ?”
“Yah nggak apa-apa, cuma pingin tahu aja, kamu tahu aku sama Nina, aku juga kepingin tahu kamu dengan Budi”
“Nggak ah,aE| nggak aku jawab”
“Ah berarti pernah nih”
“Lho kok bisa ambil kesimpulan?”
“Iya biasanya kalo belum pernah pasti jawabnya tegas belum”
“Terus, kalo aku sudah pernah main sex begitu sama Budi kenapa juga”
“Yah,aE| barangkali,aE|.” Aku sengaja nggak nerusin kata-kataku.
“Barangkali apa ?!”
“barangkali aku boleh coba”
“Ah nggak mau,aE|.”
“Kenapa,aE|”
“Aku takut, punya mas besar sekali”
“Justru yang besar itu yang enak tahu ”

“Ah masak ?” Eva memutar badannya dari yang tadinya telungkup jadi telentang. Aku nggak buang waktu lagi, aku segera menindihnya. Eva gelagepan ketika aku serang teteknya yang membuat aku penasaran dari tadi. Aku ciumi lehernya sampai dia terengah-engah kehabisan nafas. Ketika aku dapatkan bibirnya tanganku mulai melepasi kaos dan celana pantai sekalian cd-nya. Aku tangkap gundukan daging di selangkangannya dan dengan jari tengahku aku gosok lipatan dagingnya yang sudah becek dengan lendir. Eva jadi Ahhh uhhhh sambil menggelinjang ke kanan dan ke kiri.

Tiba tiba Eva jadi buas, ia mendorong tubuhku dan duduk diatas perutku membelakangi aku. Dengan terburu-buru ia melepaskan ikat pinggang celana yang aku pakai. Aku ngeri takut kalau resleting celanaku makan korban. Dan sebentar saja Eva sukses menurunkan celana yang aku pakai sebatas lutut. Dan bongkahan daging yang sedari tadi sudah membengkak diselangkanganku menyembul keluar. Eva meremasnya kuat-kuat sebelum ia memundukkan pantatnya ke arah mukaku dan “slup” bongkahan dagingku itu sudah masuk dalam mulutnya. Nggak nyangka, Eva yang selama ini aku kira diem eh ternyata,aE|. Boleh juga permainannya.

Aku juga nggak tinggal diam, memiaw Eva yang hampir tanpa bulu itu sudah terpampang didepan mukaku dan aku hisap serta jilati sepuasnya. Lidahku aku julurkan mencoba menerobos ke dalam lobang memiaw Eva. Sejenak ia melepaskan kulumannya dan menengadah sambil merancu “Ehhh lagi mas ehhh terus terus yah yang itu ehhhh” ….

Aku nggak tahan lagi didiemin barangku. Segera aku dorong pantat Eva sehingga ia telungkup lagi dan aku arahkan rudal scottku ke balik pahanya.

“Agak diangkat dikit dong Va” pintaku supaya Eva agak nungging. Ia menuruti sambil membuka selangkangannya lebih lebar. Dan aku mulai membenamkan rudalku dalam memiawnya. Ia meringis dan katanya punyaku lebih besar dari pada milik si Budi. Tapi ketika aku mulai membenamkan lebih dalam lagi Eva melotot dan mengaduh kesakitan. Mungkin karena ia baru pertama kali ini mendapatkan the real penis macam punya aku. Aku diamkan sebentar sambil menenangkan Eva. Kalau gara-gara ini akhirnya di cancel wah rugi dong aku.

Aku mulai pelan pelan menarik dan membenamkannya lagi sampai Eva terbiasa. Nggak seberapa lama kok, lima enam kali memiaw Eva sudah bisa adaptasi dengan punyaku. Meskipun begitu lobang memiaw Eva masih terasa menggenggam batang dagingku erat sekali. Jadi ingat rasanya seperti pertama aku memperawani si Nina dulu. Nggak sampai sepuluh menit Eva sudah kejang melepaskan orgasmenya yang pertama. Ah dasar pemula sih. Aku berhenti sejenak disaat aku sudah sampai pada tujuh puluh lima persen hampir orgasme.

Aku bangkitkan lagi gairahnya dengan meremas kedua puting tetek Eva dari belakang. Berhasil, Eva mulai menggoyangkan lagi pantatnya dan aku nggak buang waktu lagi, aku segera mengayunkan ke depan dan kebelakang mengimbanginya. Eva orgasme sampai empat kali sebelum yang kelimanya aku dan Eva orgasme bareng-bareng. Aku hamburkan semua spermaku dalam memiaw Eva yang berdenyut kuat dan aku tertidur.

Aku bangun sekitar pukul setengah sembilan dengan kemaluan masih menancap dalam memiaw Eva. Aku bangunkan dia dan,aE| asiknya si Eva jadi minta lagi. Malam itu aku ganti ganti style mulai dari frontal, berdiri, doggy style juga dengan duduk diatas kursi. Aku bermalam di tempat kost itu kali ini bukan di kamar Nina tapi di kamar Eva. Aku jadi nggak kesepian lagi meski Nina ke Bromo sampai empat hari dan empat hari itu aku dan Eva menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.

Eva pindah kost setelah dua minggu sejak itu. Tempat kost baru Eva sejenis dengan tempat kost sebelumnya bebas keluar masuk. Aku dapat dua jatah satu dengan Nina satu lagi dengan Eva. Terus terang aku lebih suka main dengan Nina yang lebih prof daripada Eva. Beberapa hal yang aku suka pada tubuh Eva adalah memiawnya yang nggak terlalu banyak bulu dan teteknya yang begitu ranum, sedang yang aku suka pada Nina adalah teknik main sexnya yang luar biasa. Sorry nggak sempat aku ceritakan disini, mungkin lain kali. Buat Budi aku minta maaf telah melanggar kebunmu, habis menurut Eva kamu kurang bersungguh-sungguh dan selalu ketakutan dengan kehamilan. Kan ada tekniknya supaya nggak hamil tanpa harus ketakutan ,aE|

Sunday, October 7, 2012

Cerita Dewasa Ku Renggut Keperawanan Rara

Cerita Dewasa ini bermula waktu jumat malam sabtu sekitar jam setengah 12 malam. Tiba-tiba aku menerima telepon dari Rara, teman kuliahku dulu. Udah lama aku gak denger kabar dari. Dulu aku sering jalan bareng sama dia dan anak-anak dari jakarta. Biasalah, waktu di kampus kan kita primodial banget

Tapi gak ada ruginya temenan sama Rara kok, orangnya cantik, tinggi semampai, body aduhai dan yang terakhir yang aku suka banget dari Rara adalah rambutnya. Dari awal kuliah sampe selesai rambut Rara yang hitam legam itu selalu panjang. Apalagi kalau ditata sedikit menggelung, hmmm... aku selalu nganggep dia barbie doll banget

"Halo Ra ? ada apa nih, tumben nelpon aku. Malem-malem lagi !" tanyaku.

"Yan, bisa jemput aku di XXX gak ?" tanyanya sambil menyebut salah satu tempat hiburan malam yang cukup ternama di kota bandung.

"Ha ? Kamu ada di Bandung ? Bukannya kamu di jakarta ? Terakhir aku denger kamu dah kerja di Jakarta ?" tanyaku heran, ngapain malem-malem Rara tiba-tiba ada di Bandung.

"Yan ceritanya entar aja deh, sekarang please jemput aku. Dah malem banget nih" rajuk Rara padaku sedikit memelas.

"Ok deh, kamu tunggu sebentar, aku jemput sekarang, 10-15 menit deh" jawabku. Kemudian aku bersiap-siap mengeluarkan mobil untuk menjemput Rara.

Dalam perjalanan pikirannku penuh dengan pertanyaan. Pertanyaan terbesar tetap saja, ngapain Rara melem-malem ada tempat hiburan malam di Bandung, sendirian lagi. Yang lebih aneh kenapa minta jemput sama aku ? makin aneh !

Sesampainya di tempat hiburan malam tersebut, aku memarkir mobilku. Setelah turun, aku segera menemukan Rara sedang berdiri di pintu masuk. Kondisinya agak aneh.

"Halo Ra ! Sendirian ?" tanyaku. "Iya Yan.." jawabnya lemah. Matanya kelihatan merah sekali.

"Ra, kenapa nih ada disini ? Hmm.. sorry ya, kamu mabuk ya ?" tanyaku menyelidik.

"Yan bisa kita berangkat sekarang gak ? gak enak nih diliatin sama orang-orang" ajaknya. Aku melihat sekeliling, memang sih beberapa security dan pengunjung yang baru datang memperhatikan kita dengan tatapan aneh. "Oke deh, ayo. Mobilku kesebelah sana." ajakku ke Rara untuk naik ke mobil.

Setelah menghidupkan mobil dan mengemudikan keluar areal parkir, aku bertanya ke Rara "Mau kemana nih Ra ?" tanyaku. "Kemana aja deh Yan" jawab rara yang duduk disebelahku.

"Kamu nginep dimana ?" tanyaku. "Belom punya tempat nginep" jawabnya singkat. "Loh, gimana sih. Dah malem banget loh Ra, aku anter cari hotel ya" tawarku.

"Yan aku boleh nginep tempat kamu gak. Semalem aja, aku lagi butuh ditemenin nih" pintanya. "Kamu gak pa-pa nginep ditempat aku ? Rumah kontrakan aku kecil loh, berantakan lagi. Biasa, rumah bujangan" jawabku sambil tersenyum. "Aku dah tahu kamu emang berantakan dari dulu" jawabnya tersenyum kecil. Akhirnya dia tersenyum juga

"Ya udah kita pulang aja ya, kayaknya kamu juga dah cape banget." ajakku. "Dari Jakarta kapan ?" tanyaku. "Tadi sore" jawab Rara. "Jadi dari jakarta kamu langsung ke xxx ?" tanyaku heran. Dia cuma tersenyum kecil. Dasar nakal !

"Sorry nih Ra, kamu lagi ada masalah ya ?" tanyaku. Dia terdiam sejenak, kemudian menjawab "Ya gitu deh." jawabnya. "Boleh aku tau gak masalahnya sampe kamu jadi kayak gini" tanyaku lagi. "Yan boleh gak nanya dulu gak ? Please..." pintanya. "Aku cuma butuh ditemenin sekarang, tapi janji aku ceritain, kamu kan orang yang jadi repot gara-gara masalahku ini" lanjut Rara. "OK deh, kalo kamu lagi gak pengen ngomongin, aku gak bakal nanya lagi" jawabku.

Sesampainya dirumahku, ternyata Rara gak ada persiapan apa-apa untuk pergi ke bandung, dia cuma membawa tas kecil yang berisi dompet dan peralatan kosmetik. "Ra pake bajuku aja deh, baju kamu kan dah kotor dipake perjalanan" kataku sambil memberi Rara bajuku yang paling kecil dan celana pendek berkaret. "Ok deh" jawabnya menerima baju tersebut. Kemudian Rara masuk kekamar mandi membersihkan badan dan berganti pakaian. Sementara aku membersihkan kamarku untuk ditempati Rara dan aku menggelar kasur di ruang tamu untuk tempat aku tidur. Aku memang punya kasur cadangan untuk persiapan kalo ada keluarga ato teman yang mau manginap.

"Ra kamu tidur di kamar aku aja ya, tuh aku dah siapin" kataku ke Rara. "Aduh sorry Rian, aku jadi ngerepotin banget" katanya. "Trus kamu dimana ?" tanya Rara. "Tuh di ruang tamu, aku punya kasur cadangan kok" jawabku.

"Kamu dah makan malem ?" tanyaku. "Udah, pake beberapa gelas bir" jawabnya sambil ketawa. "Dasar kamu... Ya udah aku punya french fries sama nugget, mau aku gorengin gak ?" tawarku. "Bolehlah, dari pada gak ada apa-apa" jawabnya sambil tertawa kecil. Akhirnya aku memasakkan dia kentang goreng, nugget dan sosis, emang cuma ada itu di kulkasku. Aku juga membuatkan dia teh hangat. Setelah makan dan minum, terlihat Rara agak segaran dikit.

"Ya udah Ra, kamu tidur aja sekarang, udah jam setengah 2 nih" kataku. "Lagian aku juga dah ngantuk banget" lanjutku. "OK deh" jawab Rara yang kemudian beranjak masuk ke kamar, sebelum masuk dia sempat ngelambain tangan ke aku sambil tersenyum. Dasar nih orang, ngerepotin tanpa perasaan

Kemudian aku rebahan di kasur dan menyalakan televisi. Tv memang ada di ruang tamuku. Aku mengecilkan suaranya supaya tidak mengganggu Rara. Walaupun aku dah ngantuk, tapi susah sekali aku memejamkan mata.

Sekitar 15 menit kemudian, Rara keluar dari kamar an menghampiri aku. "Ada apa Ra ? butuh sesuatu ?" tanyaku. Rara cuma diam tapi kemudian rebahan disampingku, bahkan dia menarik selimut yang aku pakai supaya dia kebagian.

"Kan aku dah bilang yan, aku lagi butuh ditemenin. Aku boleh tiduran disini gak ? Aku masih pengen ngobrol-ngobrol dulu sama kamu" kata Rara. "Tapi Ra, kita kan beda" jawabku. "Beda gimana ?" tanya Rara yang sudah rebahan disebelahku. "Ya kamu kan cewek, aku cowok, trus kita dah sama-sama dewasa, apa kamu gak takut" tanyaku. "Hmmm.. masa sih kamu mo nyakitin aku ? Setau aku dari dulu kamu kan baik sama aku Yan." jawab Rara. Aku cuma menarik nafas, pikirku mungkin aku baik sama dia, tapi kan aku juga cowok biasa, mana ada cowok yang gak pusing ada cewek cantik tidur disebelahnya

"Ya terserah kamu aja sih, walau menurutku agak aneh. Tapi berhubung kamu sedikit mabuk wajarlah" kataku. Rara cuma tersenyum kecil.

"Ra, ngapain kamu ada di Bandung, trus dari sekian banyak orang di bandung kenapa sih kamu minta aku yang jemput ?" tanyaku. "Gak tau Yan. Dipikiranku cuma ada kamu yang bisa aku percaya dan aku repotin" jawabnya. Aku tersenyum kecil, sialan nih cewek, di baikin malah manfaatin. "Inget waktu kuliah dulu ga yan, kamu kan bantu aku terus" lanjut Rara. Aku terdiam mengingat masa lalu, memang sih Rara dulu gak semangat banget kuliahnya, kalo gak dibantu mungkin gak selesai.

"Inget waktu skripsiku dulu gak ? Kan kamu banyak banget bantu aku" lanjut Rara. "Kayaknya aku gak bantuin deh, tapi ngebuatin" jawabku sambil tertawa. "Ye... tapi kan aku dah bayar pake makan-makan" jawab Rara sambil memukul lenganku. "Masa sih bayarnya cuma makan-makan" jawabku sambil terus tertawa. "Jadi dulu gak iklas nih" tanya Rara cemberut. "Ya iklas lah, namanya juga temen" jawabku. kami berdua tertawa.

"Ra, seinget aku, kamu dulu cewek baik-baik banget deh. Walau kamu trendi abis, selalu gaya, tapi gak pernah aneh-aneh. Tapi coba liat sekarang, tiba-tiba dateng ke bandung, mabok, trus nginep di tempat cowok lagi" kataku.

Rara cuma terdiam sambil memandangi cincin yang dipakai di jari manisnya. Kemudian dia melepas cincin itu dan meletakkannya di lantai. "Ini gara-gara tunangan gue yan" kata Rara lirih.

"Jadi kamu dah tunangan ?" tanyaku. Rara cuma mengangguk kecil. "Dulu.." jawabnya singkat. "Kok dulu ?" tanyaku heran.

"Sampe siang tadi sih yan. Hari ini kan libur, maksud aku sih mau istirahat aja dirumah. Tapi tiba-tiba tunanganku dateng sama seorang cewek. Dia mo mutusin tunangan kita. Dia mo nikah sama cewek itu minggu depan yan, cewek itu dah hamil" kata Rara sambil terisak. "Oh gitu" jawabku prihatin.

"Masalahnya dia udah ngelamar aku yan, tanggal pernikahan juga udah ditentuin, persiapan juga udah dimulai" lanjut Rara dengan tangisnya yang menjadi. "Mau bilang apa coba aku sama keluargaku Yan, aku malu banget" lanjut Rara menangis.

"Ya mo gimana lagi Ra, masalahnya emang berat banget" kataku kemudian memeluk dia. Lama sekali Rara menagis dipelukanku. Aku gak bisa banyak komentar, emang masalahnya pelik banget sih. Setelah tangis reda, pelukan kami lepaskan, aku dan rara rebahan saling bersisian kembali.

"Mungkin emang dia bukan jodoh kamu Ra." kataku ke Rara. "Iy sih, tapi masa sih dia ninggalin aku gitu aja" jawab Rara. "Abis mo gimana lagi Ra ? Anak yang dalam kandungan cewek itu gimana ? Kan harus ada yang tanggung jawab" jawabku. "Kalo misalnya kamu maksain nikah sama dia, apa kamu mau seumur hidup tersiksa mengingat cowok yang kamu nikain ternyata gak bertanggung jawab sama darah dagingnya sendiri"

"Iya juga sih. Kalo aku jadi cewek itu, aku pasti juga nuntut tanggung jawab" kata Rara. "Ya masih untung lah mantan tunangan kamu masih mau tanggung jawab" kataku.

"Sebenernya dia dulu pernah minta ML sama aku, tapi aku tolak Yan. Mungkin kalo dulu aku kasih enggak jadi begini kejadiannya" kata Rara blak-blakkan. "Walaupun demikian Ra, menurut aku gak bisa jadi alasan terus dia selingkuh dan ngehamilin cewek laen" Kataku.

"Dasar cowok, kenapa sih pikirannya seks melulu" kata Rara sedikit meninggi. "Emang tuh, makanya aku gak mau pacaran sama cowok" jawabku sambil tertawa. Rara ikutan tertawa.

"Rian, kamu dah pernah ML gak ?" tanya Rara menyelidik. Aku cuma tersenyum kecil. "Kok gak jawab ? dah pernah ya ?" tanya Rara dengan sangat ingin tau. "Tuh kan diem aja, berarti dah pernah. Dasar cowok sama aja, pikirannya gak jauh-jauh dari selangkangan" kata Rara sambil memukuli dadaku.

"Ya walaupun dah pernah tapi aku kan gak ngelingkuhin tunanganku dan ngehamilin cewek laen" jawabku menggoda Rara sambil tertawa. "Sama aja, dasar cowok. Brengsek semua" kata Rara sambil mengubah posisi yang awalnya menghadapku menjadi menghadap keatas. Aku masih tertawa.

"Yan emang ML enak banget ya, kok banyak banget sih yang belom nikah tapi dah ML, sampe hamil lagi" tanya Rara. "Enggak Ra, ML sakit banget, makanya aku gak mau lagi" jawabku becanda. Rara mencubit pinggangku. "Ihh... ditanya serius malah becanda" kata Rara.

"Abis kamu pake nanya sih. Ya pasti enak lah, kalo enggak kenapa semua orang pengen ML dan jadi ketagihan lagi" Kataku. "Mungkin kalo ML gak enak manusia udah punah kali. Gak ada yang mau punya anak kalo MLnya ga enak ato sakit" kataku bercanda. Rara cuma ketawa kecil.

"Emang enaknya kayak gimana sih" tanya Rara. Aku terdiam sejenak. "Gimana ya Ra, aku susah untuk neranginnya, tapi emang ML kegiatan paling enak dari semua kegiatan. Entar kamu juga ngerti kok kalo udah ngalamin" jawabku.

"Hmm... enaknya kayak coklat gak ?" tanya Rara semakin aneh
"Gimana ya Ra, kalo kita makan coklat kan rasa enaknya konstan, sebanyak yang elo makan ya enaknya kayak gitu aja. Tapi kalo ML enaknya ada tahapannya. jadi enaknya berubah-ubah tergantung tahapnya, kayak ada sesuatu yang dituju, ya orgasme itu" jawabku.

"Emang orgasme itu kayak apa sih ?" tanya Rara lagi. "Aku gak ngerti orgasme cewek ya, tapi kalo dicowok sih orgasme biasanya barengan sama keluarnya sperma. Dicewek kayaknya sih mirip, abis kalo cewek udah orgasme biasanya vaginanya banjir lendir" jawabku. "Gitu aja ?" tanya Rara. "Ya enggak lah" jawabku. "Kalo dah orgasme badan rasanya rileks banget, kaya diawang-awang gitu deh sangking enaknya". lanjutku.

"Jadi mau.." kata rara dengan muka pengen. Aku mendorong jidat Rara sambil berkata "Udah tidur sana, pikiran kamu dah kacau tuh", walaupun sebenarnya aku juga jadi mau

"Tapi bener Yan, aku jadi mau. Kamu mau gak ?" tanya Rara. Aku cuma diam. "Kenapa Yan, aku kurang cantik ya ? ato aku kurang seksi sampe kamu gak mau ?" tanya Rara.

"Bukan begitu Ra. Kamu tuh lagi mabok, belom sadar bener. Pikiran kamu jadi kacau. Mendingan kita tidur aja deh, dari pada ngelakuin sesuatu yang mungkin nanti kita seselin besok pagi." kataku. Rara mengangguk kecil.

"Ya udah, kita tidur. Tapi sebelum tidur aku boleh peluk kamu gak ? Sekali aja.." tanya Rara. Aku memandangi Rara kemudian memeluknya. Rara melingkarkan tangannya dileherku sedang aku memeluk pinggang langsing Rara. Paha Rara menjepit pahaku diselangkangannya.

"Ma kasih ya Yan, kamu selalu bantu aku kalo aku ada masalah" kata Rara. "Iya, iya, sekarang kamu tidur istirahat, biar pikiran kamu tenang besok" kataku sambil mengelus-elus rambutnya. Kemudian aku mengecup kening Rara. Pelukan Rara makin erat, aku melanjutkan mengelus-elus rambutnya, kadang aku mengelus punggungnya.

"Yan cium lagi dong" kata Rara. Aku mengecup keningnya lagi. "Bukan disitu" kata Rara lagi. "Disini ?" kataku sambil menunjuk pipinya, kemudian aku mengecup pipi yang merona merah itu. "Bukan disitu" kata Rara lagi sambil menutup mata dan memajukan bibirnya.

Wah si Rara bener-bener menguji imanku. Sebenarnya aku dah nafsu banget dari tadi, tapi dalam hatiku aku gak mau manfaatin cewek yang lagi gak 100% sadar.

Aku kecup bibirnya. Tapi setelah kukecup Rara masih menutup mata dan menyorongkan bibirnya ke aku. Aku kecup sekali lagi, kali ini agak lama. Rara bereaksi dengan ikut menghisap bibirku. Aku lepas ciumanku, kemudian aku memandang Rara yang sedang melihatku dengan penuh harap. Well... wtf lah, aku gak peduli lagi, akhirnya aku cium Rara dengan buas.

Aku mencium Rara dengan menghisap bibir bawahnya, Rara membalasnya dengan menghisap bibir bawahku. Kadang-kadang aku masukkan lidahku ke mulutnya. Awalnya Rara gak bereaksi, tapi lama-lama saat lidahku masuk dia menghisap kencang, kadang-kadang Rara gantian memasukkan lidahnya kemulutku.

Selama ciuman, aku mengelus rambut Rara, kemudian elusanku turun ke punggungnya, turun lagi ke pinggangnya. Kemudian aku memberanikan diri untuk meremas pantatnya. Rara melenguh kecil "Uhh...." sambil menekan selangkangannya kearah selangkanganku.

Setelah beberapa kali mengelus bagian belakang sampai meremas pantatnya, aku meremas dadanya. Hmmm... payudara Rara mantap sekali. Besar sekali dibandingkan dengan tubuhnya. "Hmm... Hgmmm.. Hgmmm" lenguh rara karena payudaranya diremas-remas olehku, dengan tidak melepaskan ciumannya.

Birahi memuncak saat meremas-remas sepasang daging kenyal Rara. Kemudian aku mengelus punggung rara kembali. Kali ini aku masukkan tanganku kedalam kausnya dan mengelus punggungnya langsung dikulit. Shit, ternyata Rara tidak pakai bra, pantas saja tadi waktu payudaranya aku remas dari luar terasa kenya sekali.

Saat aku mengelus-elus punggungnya, aku elus juga bagian samping tubuhnya sehingga panggkal payudara ikut terelus. Sepertinya Rara sangat menikmati elusanku, kemudian dia memagang tanganku dan mengarahkan tanganku agar meremas-remas payudaranya. Gila, asik banget payudaranya. Payudaranya mancung kedepan dengan pentil yang besar !

Aku sangat menikmati meremas-remas payudara Rara, terkadang aku memainkan pentilnya. Sepertinya Rara juga sangat menikmatinya, tubuhnya bergetar sambil mengeluarkan lenguhan-lenguhan kecil "Uggrhh....ugrh...."

Pahaku yang dijepit diantara selangkangan sengaja aku gesek-gesekkan ke memeknya supaya Rara makin terangsang. Rara meresponnya dengan ikut menekan-nekan memeknya lebih kuat ke pahaku. Kalau aku berhenti menggesekkan pahaku, maka Rara menggerak-gerakkan sendiri pinggulnya.

Tangan kananku kembali meremas pantat Rara. Kali ini aku masukkan tanganku ke celananya. Berhubung dia pakai celana berkaret, aku dengan mudah memasukkan tanganku. Ternyata Rara juga tidak memakai celana dalam. Aku dengan mudah meremas pantat bulat itu. Setiap aku meremas pantatnya, Rara makin menekan memeknya ke pahaku.

Aku mencoba untuk memegang memeknya dari belakang. Saat tersentuk, tubuh Rara seperti tersetrum, sambil melenguh "Uhh....". Hmmm... ternyata Rara benar-benar terangsang, memeknya sudah sangat basah.

Sekarang aku memegang memeknya dari depan. Dan mulai mengelus-elus bibir luar memek Rara yang sudah banjir itu. Rara melepaskan ciumanku. Sekarang setiap aku menggosok bibir luar vaginanya, rara memekik kencang "Ohgh....Ohgh.... Ohgh.....". "Enak yan, enak banget. Kamu ngapain aku, kok enak banget sih" kata rara sambil merem melek. Dengan jari tengahku aku mencari klentitnya, kemudian aku usap perlahan. "Akhhh..." teriak Rara saat klentitnya aku usap. Kemudian Rara menahan tanganku, sepertinya dia tidak kuat kalau klentitnya diusap terus.

Akhirnya aku telentangkan Rara. Kemudian aku membuka kaos yang dikenakan Rara sehingga Rara 1/2 bugil sekarang. Aku buka paha Rara lebar-lebar dan aku tempatkan tubuhku diantara selangkangannya. Sasaranku berikutnya adalah payudaranya. Sekarang aku menjilati pentil payudara kanannya. Tubuh Rara begerak-gerak keenakan, sepertinya dia suka sekali aku menjilati dan menghisap-hisap pentilnya. Kadang Rara menyatukan kedua payudaranya agar lebih maju.

Aku berhenti sebentar, memandangi Rara. Sebenarnya aku ingin sekali membuka celana Rara dan menusuk-nusuk memeknya dengan penisku. Tapi aku sedikit ragu.

"Yan, setubuhin aku dong, aku dah gak tahan nih" kata Rara sambil memandangku penuh harap. Perkataan Rara seperti menghapus keraguanku entah kemana. Aku menari celana Rara dengan mudah, apalagi Rara membantu dengan mengangkat pantatnya. Kemudian aku berdiri, membuka kaos dan celanaku, shinga sekarang aku dan Rara sama-sama bugil.

Sesaat aku memandang tubuh Rara. Badannya yang langsing tinggi dibalut dengan kulit putih mulus, ditambah payudara besar didadanya. Kakinya yang panjang dan jenjang memiliki betis seperti bulis padi. Aku ternganga sesaat apalagi saat melihat vaginanya yang diliputi bulu hitam titis diantara pahanya yang sudah terbuka lebar.

"Kok cuma diliatin ?" tanya rara. Aku terseyum kemudian menempatkan tubuhku diantara selangkangannya. AKu cium Rara sekali lagi, dia membalasnya dengan cukup buas, kemudian ciumanku turun ke payudara besarnya. Aku cuma mau memastikan Rara cukup terangsang sebelum aku menembus memek perawannya. Sat mencium penisku menggesek-gesek memeknya walaupun belum masuk.

Aku posisikan tubuhku dan menuntun penisku ke memeknya. "Ra, pertamanya sakit, tapi entar enak kok" kataku. "Iya yan gue juga sering denger". jawab Rara. Aku mulai mendorong penisku kedalam memek Rara. Rara hanya memandangku sambil menggigit bibirnya.

Saat penisku sudah masuk 1/2 Rar memekik "AKhh...sakit yan" . Aku berhentikan sebentar penisku. Setelah selang beberapa saat aku goyang sedikit penisku kemudian aku dorong lagi sampai full. "Aduh yan sakit banget" kata Rara memelas. "Tenang Ra, paling sakitnya sebentar, nanti juga enak" kataku menenangkan. "Enggak Yan, sakit banget, bisa elo cabut dulu gak" pinta Rara sambil menahan sakit. Aku juga gak tega melihatnya akhirnya aku cabut penisku. Saat dicabut penisku diselimuti darah perawan Rara. Dari vaginanya juga aku melihat darah mengalir. Hmmm... memang lebih banyak daripada darah perawan yang pernah aku liat.

"Yan kok berdarah sih ?" tanya Rara panik. "Itu namanya darah perawan sayang. Selaput dara kamu dah pecah" jawabku. "Aku mo kekamar mandi dulu yan, mo bersihin dulu" kata Rara. Aku mengantarkan Rara kekamar mandi dan menungguinya dari luar, untuk memastikan Rara gak apa-apa.

Setelah Rara keluar dari kamar mandi, vaginanya sudah bersih. Tapi nafsuku sudah turun, sepertinya nafsu Rara juga sudah turun. Akhirnya kami hanya rebahan saling berdampingan, masih bugil.

"Yan kok sakit banget ya" tanya Rara. "Iya lah Ra, itu kan pertama kalinya kamu, memek kamu masih sempit ditambah ada selaput dara" jawabku. "Masih mau lanjut gak Ra ?" tanyaku pada Rara. "Mau yan, tapi pelan-pelan ya" jawab rara.

Akhirnya Aku tempatkan tubuhku diatas tubuhnya lagi. Aku mulai menciumi tubuh rara. Dari bibirnya, pipi, leher dan payudaranya. Aku seperti gak puas-puas menciumi dan menjilati tubuh mulus yang masih sekel itu. Kadang tanganku mengelus memeknya. Aku memang tidak berencana mencium vaginanya, takutnya dia shock dan merasa jijik, bisa batal orgasme malam ini

Setelah Rara sudah cukup terangsang, aku arahkan penisku ke vaginanya. Kali ini Rara tidak terlihat tegang seperti waktu yang pertama. Aku dorong penisku masuk. "Heghh..heghmm..." lenguh Rara saat penisku masuk. Kali ini vaginanya tidak terlalu sulit dipenestrasi, mungkin karena tidak tegang sehingga cairan vaginanya cukup. Aku dorong penisku sampai mentok. Aku melihat ada sediki darah mengalir dari vaginanya, mungkin sisa selaput daranya masih ada yang belum pecah.

Aku goyang perlahan penisku, tubuh Rara terguncang sedikit, rara masih menggigit bibirnya. Goyanganku aku percepat sedikit, nikmat sekali memek Rara. Sangking sempitnya serasa penisku terhisap kuat oleh vaginanya.

Aku percepat goyanganku, sekarang Rara mulai melenguh, "Akh...Akh...Akhhh..." seirama dengan keluar masuknya penisku di vaginanya. "Lagi yan..Lagi yan..Lagi" desahnya sambil memegangi pantatku seakan ingin menekannya terus.

"Gila Ra, memek kamu enak banget, sempit banget". kataku. "Penis kamu juga keras banget yan, enak..." jawab Rara disela-sela lenguhannya.

Aku memang tidak berniat untuk memakai gaya lain. Untuk pertama kalinya Rara cukup pakai gaya konvensional, laki-laki diatas. Dengan demikian aku bisa ngontrol tusukan penisku kedalam memeknya. Aku tusuk perlahan memek Rara, kadang aku percepat. Kadang aku berhenti sesaat kemudian aku tusuk dengan keras. Kadang aku tusuk kearah samping.

Tiba-tiba tubuh Rara sedikit menegang, sepertinya dia ingin orgasme. Aku percepat goyanganku, soalnya aku mau orgasme sama-sama. Kalo sama yang perawan kadang gak mau terus kalo dia udah orgasme, cepek katanya. "Ahhh...Akhh....Aghkhh.." pekikan Rara makin keras seiring dengan makin cepatnya tusukan penisku.

"Lagi sayang...lagi...lagi.." pekik Rara. Akupun merasa aku sedikit lagi akan orgasme. Tiba-tiba tubuh rara menegang dan terguncang hebat sambil berteriak "AKHHHH...." rara mendekapku erat dan melingkarkan kakinya di tubuhku, Aku pun sudah tidak kuat lagi, tapi aku gak bisa melepaskan tubuhku dari Rara. Akhirnya aku nekat, aku tekan penisku dalam-dalam dan aku tembakkan spermaku ke rahim Rara 5 atau 6 kali. Aku puas sekali menggagahi Rara komplit, dari merawanin sampai orgasme didalam memeknya.

Setelah beberapa lama akhirnya penisku mengecil dan rara melepaskan dekapannya. "Gila enak banget, pantes banyak yang ketagihan" Kata rara setelah rebahan disebelahku.

Akhirnya Rara pulang kejakarta hari minggu sore. Aku dan Rara beberapa kali mengulangi persetubuhan kami disela-sela aku dan Rara jalan-jalan di Bandung, atau lebih tepatnya aku dan Rara jalan-jalan disela-sela persetubuhan kami.

Saturday, October 6, 2012

Balas Dendam Kematian Osama, Pakistan di Bom


Dua ledakan terjadi di pusat pelatihan paramiliter di bagian barat laut Pakistan pada Jumat, 13 Mei 2011, menewaskan sedikitnya 80 orang. Militan Taliban mengklaim melakukan serangan tersebut untuk membalas dendam kematian Osama bin Laden.

Dilansir dari laman Associated Press, pengebom meledakkan diri di depan gerbang dan di dalam pusat pelatihan di kota Shabqadar yang memang tidak mendapat penjagaan yang ketat. Pemandangan setelah ledakan sangat mengerikan. Menurut saksi mata, ledakan sangat besar dan menimbulkan asap yang tebal. Akibat ledakan, sebanyak 10 mobil van juga terbakar.

"Ledakannya sangat besar. Saya melihat asap, darah dan serpihan tubuh dimana-mana," ujar seorang tukang sayur yang berjualan di dekat lokasi.

Kepala polisi lokal, Liaqat Ali Khan, mengatakan bahwa insiden tersebut menewaskan sebanyak 80 orang, 66 diantaranya adalah para anggota paramiliter yang baru saja direkrut untuk menjadi polisi. Sebanyak 117 orang telah dilarikan ke rumah sakit, 40 diantaranya dalam kondisi kritis.

Menurut polisi lainnya, Jahanzeb Khan, peledakan dilakukan menggunakan bom seberat 6 sampai 8 kilogram. Di dalam bom, ujarnya, diletakkan paku, baut, dan mur sehingga membuat korban semakin banyak.

Juru bicara Taliban Pakistan, Ahsanullah Ahsan, mengatakan bahwa serangan ini dilakukan oleh kelompok mereka. Dia mengatakan bahwa serangan tersebut adalah pembalasan atas pembunuhan Osama bin Laden oleh pasukan khusus Amerika Serikat.

Tempat pelatihan polisi seringkali menjadi sasaran serangan militan karena tempat ini mendapat banyak bantuan dana dari Amerika Serikat. Beberapa hari setelah kematian Osama, militan Taliban bersumpah akan melakukan balas dendam dan akan melakukan serangan di Pakistan.

"Kami melakukan ini untuk membalaskan dendam atas insiden Abbottabad. Tentara Pakistan juga telah gagal dalam melindungi tanahnya," ujar Ahsan melaluli sambungan telepon.

Cerita Dewasa Nikmatnya Tubuh Tetanggaku

Cerita Dewasa Awalnya aku tak terlalu tertarik dengan pasangan suami-istri muda yang baru tinggal di samping rumahku itu. Suaminya yang bernama Bram, berusia sekitar 32 tahun, merupakan seorang pria dengan wajah tirus dan dingin. Sangat mahal senyum. Sedang istrinya, seorang wanita 23 tahun, bertubuh sintal yang memiliki sepasang mata membola cantik, raut wajah khas wanita Jawa.

Tak beda jauh dengan suaminya, dia juga terlihat kaku dan tertutup. Tapi watak itu, agaknya lebih disebabkan oleh sikap pendiam dan pemalunya. Sehari-harinya, dia selalu mengenakan pakaian kebaya. Latar belakang kehidupan pedesaan wanita berambut ikal panjang ini, terlihat masih cukup kental, Jakarta tak membuatnya berubah. Aku hanya sempat bicara dan bertemu lebih dekat dengan pasangan ini, dihari pertama mereka pindah. Saat mengangkat barang-barangnya, aku kebetulan baru pulang dari jogging dan lewat di depan pintu pagar halaman rumah yang mereka kontrak. Setelah itu, aku tak pernah lagi kontak dengan keduanya. Aku juga tak merasa perlu untuk mengurusi mereka.

Perasaan dan pikiranku mulai berubah, khususnya terhadap si Istri yang bernama Maryati, ketika suatu pagi bangun dari tidur aku duduk di balik jendela. Dari arah sana, secara kebetulan, juga melalui jendela kamarnya, aku menyaksikan si Istri sedang melayani suaminya dengan sangat telaten dan penuh kasih. Mulai menemani makan, mengenakan pakaian, memasang kaos kaki, sepatu, membetulkan letak baju, sampai ketika mencium suaminya yang sedang bersiap-siap untuk turun kerja, semua itu kusaksikan dengan jelas. Aku punya kesimpulan wanita lumayan cantik itu sangat mencintai pasangan hidupnya yang berwajah dingin tersebut.

Entah mengapa, tiba-tiba saja muncul pertanyaan nakal di otakku. Apakah Istri seperti itu memang memiliki kesetiaan yang benar-benar tulus dan jauh dari pikiran macam-macam terhadap suaminya? Sebutlah misalnya berhayal pada suatu ketika bisa melakukan petualangan seksual dengan lelaki lain? Apakah seorang istri seperti itu mampu bertahan dari godaan seks yang kuat, jika pada suatu ketika, dia terposisikan secara paksa kepada suatu kondisi yang memungkinkannya bermain seks dengan pria lain? Apakah dalam situasi seperti itu, dia akan melawan, menolak secara total meski keselamatannya terancam? Atau apakah dia justru melihatnya sebagai peluang untuk dimanfaatkan, dengan dalih ketidakberdayaan karena berada dibawah ancaman? Pertanyaan-pertanyaan itu, secara kuat menyelimuti otak dudaku yang memang kotor dan suka berhayal tentang penyimpangan seksual. Sekaligus juga akhirnya melahirkan sebuah rencana biadab, yang jelas sarat dengan resiko dosa dan hukum yang berat. Aku ingin memperkosa Maryati! Wuah! Tapi itulah memang tekad yang terbangun kuat di otak binatangku.

Sesuatu yang membuatmu mulai hari itu, secara diam-diam melakukan pengamatan dan penelitian intensif terhadap pasangan suami istri muda tersebut. Kuamati, kapan keduanya mulai bangun, mulai tidur, makan dan bercengkrama. Kapan saja si Suami bepergian ke luar kota lebih dari satu malam, karena tugas perusahaannya sebuah distributor peralatan elektronik yang cukup besar. Dengan kata lain, kapan Maryati, wanita dengan sepasang buah dada dan pinggul yang montok sintal itu tidur sendirian di rumahnya.

Untuk diketahui, pasangan ini tidak punya pembantu. Saat itulah yang bakal kupilih untuk momentum memperkosanya. Menikmati bangun dan lekuk-lekuk tubuhnya yang memancing gairah, sambil menguji daya tahan kesetiaannya sebagai istri yang bisa kukategorikan lumayan setia. Sebab setiap suaminya bepergian atau sedang keluar, wanita ini hanya mengunci diri di dalam rumahnya. Selama ini bahkan dia tak pernah kulihat meski hanya untuk duduk-duduk di terasnya yang besar. Itu ciri Ibu Rumah Tangga yang konservatif dan kukuh memegang tradisi sopan-santun budaya wanita timur yang sangat menghormati suami. Meski mungkin mereka sadar, seorang suami, yang terkesan sesetia apapun, jika punya peluang dan kesempatan untuk bermain gila, mudah terjebak ke sana. Aku tahu suaminya, si Bram selalu bepergian keluar kota satu atau dua malam, setiap hari Rabu. Apakah benar-benar untuk keperluan kantornya, atau bisa jadi menyambangi wanita simpanannya yang lain. Dan itu bukan urusanku. Yang penting, pada Rabu malam itulah aku akan melaksanakan aksi biadabku yang mendebarkan.

Semua tahapan tindakan yang akan kulakukan terhadap wanita yang di mataku semakin menggairahkan itu, kususun dengan cermat. Aku akan menyelinap ke rumahnya hanya dengan mengenakan celana training minus celana dalam, serta baju kaos ketat yang mengukir bentuk tubuh bidangku. Buat Anda ketahui, aku pria macho dengan penampilan menarik yang gampang memaksa wanita yang berpapasan denganku biasanya melirik. Momen yang kupilih, adalah pada saat Maryati akan tidur. Karena berdasarka hasil pengamatanku, hanya pada saat itu, dia tidak berkebaya, cuma mengenakan daster tipis yang (mungkin) tanpa kutang. Aku tak terlalu pasti soal ini, karena cuma bisa menyaksikannya sekelebat saja lewat cara mengintip dari balik kaca jendelanya dua hari lalu. Kalau Maryati cuma berdaster, berarti aku tak perlu disibukkan untuk melepaskan stagen, baju, kutang serta kain yang membalut tubuhnya kalau lagi berkebaya. Sedang mengapa aku cuma mengenakan training spack tanpa celana dalam, tahu sendirilah.

Aku menyelinap masuk ke dalam rumahnya lewat pintu dapur yang terbuka petang itu. Saat Maryati pergi mengambil jemuran di kebun belakangnya, aku cepat bersembunyi di balik tumpukan karton kemasan barang-barag elektronik yang terdapat di sudut ruangan dapurnya. Dari sana, dengan sabar dan terus berusaha untuk mengendalikan diri, wanita itu kuamati sebelum dia masuk ke kamar tidurnya. Dengan mengenakan daster tipis dan ternyata benar tanpa kutang kecuali celana dalam di baliknya. Si Istri Setia itu memeriksa kunci-kunci jendela dan pintu rumahnya. Dari dalam kamarnya terdengar suara acara televisi cukup nyaring. Nah, pada saat dia akan masuk ke kamar tidurnya itulah, aku segera memasuki tahapan berikut dari strategi memperkosa wanita bertubuh sintal ini. Dia kusergap dari belakang, sebelah tanganku menutup mulutnya, sedang tangan yang lain secara kuat mengunci kedua tangannya. Maryati terlihat tersentak dengan mata terbeliak lebar karena terkejut sekaligus panik dan ketakutan. Dia berusaha meronta dengan keras. Tapi seperti adegan biasa di film-film yang memperagakan ulah para bajingan, aku cepat mengingatkannya untuk tetap diam dan tidak bertindak bodoh melakukan perlawanan. Hanya bedanya, aku juga mengutarakan permintaan maaf.

"Maafkan saya Mbak. Saya tidak tahan untuk tidak memeluk Mbak. Percayalah, saya tidak akan menyakiti Mbak. Dan saya bersumpah hanya melakukan ini sekali. Sekali saja," bisikku membujuk dengan nafas memburu akibat nafsu dan rasa tegang luar biasa. Maryati tetap tidak peduli. Dia berusaha mengamuk, menendang-nendang saat kakiku menutup pintu kamarnya dan tubuhnya kepepetkan ke dinding. "Kalau Mbak ribut, akan ketahuaan orang. Kita berdua bisa hancur karena malu dan aib. Semua ini tidak akan diketahui orang lain. Saya bersumpah merahasiakannya sampai mati, karena saya tidak mau diketahui orang lain sebagai pemerkosa," bisikku lagi dengan tetap mengunci seluruh gerakan tubuhnya.

Tahapan selanjutnya, adalah menciumi bagian leher belakang dan telinga wanita beraroma tubuh harum merangsang itu. Sedang senjataku yang keras, tegang, perkasa dan penuh urat-urat besar, kutekankan secara keras ke belahan pantatnya dengan gerakan memutar, membuat Maryati semakin terjepit di dinding. Dia mencoba semakin kalap melawan dan meronta, namun apalah artinya tenaga seorang wanita, di hadapan pria kekar yang sedang dikuasai nafsu binatang seperti diriku.

Aksi menciumi dan menekan pantat Maryati terus kulakukan sampai lebih kurang sepuluh menit. Setelah melihat ada peluang lebih baik, dengan gerakan secepat kilat, dasternya kusingkapkan. Celana dalamnya segera kutarik sampai sobek ke bawah, dan sebelum wanita ini tahu apa yang akan kulakukan, belahan pantatnya segera kubuka dan lubang anusnya kujilati secara buas. Maryati terpekik. Sebelah tanganku dengan gesit kemudian menyelinap masuk diantara selangkangannya dari belakang dan meraba serta meremas bagian luar kemaluannya, tapi membiarkan bagian dalamnya tak terjamah. Strategiku mengingatkan belum waktunya sampai ke sana. Aksi menjilat dan meremas serta mengusap-usap ini kulakukan selama beberapa menit. Maryati terus berusaha melepaskan diri sambil memintaku menghentikan tindakan yang disebutnya jahanam itu. Dia berulang-ulang menyebutku binatang dan bajingan. Tak soal. Aku memang sudah jadi binatang bajingan. Dan sekarang sang bajingan sudah tanpa celana, telanjang sebagian.

"Akan kulaporkan ke suamiku," ancamnya kemudian dengan nafas terengah-engah. Aku tak menyahut sambil bangkit berdiri serta menciumi pundaknya. Lalu menempelkan batang perkasaku yang besar, tegang dan panas diantara belahan pantatnya. Menekan dan memutar-mutarnya dengan kuat di sana. Sedang kedua tanganku menyusup ke depan, meraba, meremas dan memainkan puting buah dada besar serta montok wanita yang terus berjuang untuk meloloskan diri dari bencana itu.

"Tolong Mas Dartam, lepaskan aku. Kasihani aku," ratapnya. Aku segera menciumi leher dan belakang telinganya sambil berbisik untuk membujuk, sekaligus memprovokasi. "Kita akan sama-sama mendapat kepuasan Mbak. Tidak ada yang rugi, karena juga tidak akan ada yang tahu. Suamimu sedang keluar kota. Mungkin juga dia sedang bergulat dengan wanita lain. Apakah kau percaya dia setia seperti dirimu," bujukku mesra. "Kau bajingan terkutuk," pekiknya dengan marah. Sebagai jawabannya, tubuh putih yang montok dan harum itu (ciri yang sangat kusenangi) kali ini kupeluk kuat-kuat, lalu kuseret ke atas ranjang dan menjatuhnya di sana. Kemudian kubalik, kedua tangannya kurentangkan ke atas. Selanjutnya, ketiak yang berbulu halus dan basah oleh keringat milik wanita itu, mulai kuciumi. Dari sana, ciumanku meluncur ke sepasang buah dadanya. Menjilat, menggigit-gigit kecil, serta menyedot putingnya yang terasa mengeras tegang.

"Jangan Mas Darta. Jangan.. Tolong lepaskan aku." Wanita itu menggeliat-geliat keras. Masih tetap berusaha untuk melepaskan diri. Tetapi aku terus bertindak semakin jauh. Kali ini yang menjadi sasaranku adalah perutnya. Kujilat habis, sebelum pelan-pelan merosot turun lebih ke bawah lalu berputar-putar di bukit kemaluannya yang ternyata menggunung tinggi, mirip roti. Sementara tanganku meremas dan mempermainkan buah dadanya, kedua batang paha putih dan mulusnya yang menjepit rapat, berusaha kubuka. Maryati dengan kalap berusaha bangun dan mendorong kepalaku. Kakinya menendang-nendang kasar. Aku cepat menjinakkannya, sebelum kaki dan dengkul yang liar itu secara telak membentur dua biji kejantannanku. Bisa celaka jika itu terjadi. Kalau aku semaput, wanita ini pasti lolos.

Setelah berjuang cukup keras, kedua paha Maryati akhirnya berhasil kukuakkan. Kemudian dengan keahlian melakukan cunnilingus yang kumiliki dari hasil belajar, berteori dan berpraktek selama ini, lubang dan bibir kelamin wanita itu mulai menjadi sasaran lidah dan bibirku. Tanpa sadar Maryati terpekik, saat kecupan dan permainan ujung lidahku menempel kuat di klitorisnya yang mengeras tegang. Kulakukan berbagai sapuan dan dorongan lidah ke bagian-bagian sangat sensitif di dalam liang senggamanya, sambil tanganku terus mengusap, meremas dan memijit-mijit kedua buah dadanya. Maryati menggeliat, terguncang dan tergetar, kadang menggigil, menahan dampak dari semua aksi itu. Kepalanya digeleng-gelengkan secara keras. Entah pernyataan menolak, atau apa. Sambil melakukan hal itu, mataku berusaha memperhatikan permukaan perut Si Istri Setia ini. Dari sana aku bisa mempelajari reaksi otot-otot tubuhnya, terhadap gerakan lidahku yang terus menyeruak masuk dalam ke dalam liang senggamanya. Dengan sentakan-sentakan dan gelombang di bagian atas perut itu, aku akan tahu, di titik dan bagian mana Maryati akan merasa lebih terangsang dan nikmat.

Gelombang rangsangan yang kuat itu kusadari mulai melanda Maryati secara fisik dan emosi, ketika perlawanannya melemah dan kaki serta kepalanya bergerak semakin resah. Tak ada suara yang keluar, karena wanita ini menutup bahkan menggigit bibirnya. Geliat tubuhnya bukan lagi refleksi dari penolakan, tetapi (mungkin) gambaran dari seseorang yang mati-matian sedang menahan kenikmatan. Berulang kali kurasakan kedua pahanya bergetar. Kemaluannya banjir membasah. Ternyata benar analisa otak kotorku beberapa pekan lalu. Bahwa sesetia apapun seorang Istri, ada saat di mana benteng kesetiaan itu ambruk, oleh rangsangan seksual yang dilakukan dalam tempo relatif lama secara paksa, langsung, intensif serta tersembunyi oleh seorang pria ganteng yang ahli dalam masalah seks. Maryati telah menjadi contoh dari hal itu. Mungkin juga ketidakberdayaan yang telah membuatnya memilih untuk pasrah. Tetapi rasanya aku yakin lebih oleh gelora nafsu yang bangkit ingin mencari pelampiasan akibat rangsangan yang kulakukan secara intensif dan ahli di seluruh bagian sensitif tubuhnya.

Aksiku selanjutnya adalah dengan memutar tubuh, berada di atas Maryati, memposisikan batang kejantananku tepat di atas wajah wanita yang sudah mulai membara dibakar nafsu birahi itu. Aku ingin mengetahui, apa reaksinya jika terus kurangsang dengan batang perkasaku yang besar dan hangat tepat berada di depan mulutnya. Wajahku sendiri, masih berada diantara selangkangannyadengan lidah dan bibir terus menjilat serta menghisap klitoris dan liang kewanitaannya.

Paha Maryati sendiri, entah secara sadar atau tidak, semakin membuka lebar, sehingga memberikan kemudahan bagiku untuk menikmati kelaminnya yang sudah membanjir basah. Mulutnya berulangkali melontarkan jeritan kecil tertahan yang bercampur dengan desisan. Aksi itu kulakukan dengan intensif dan penuh nafsu, sehingga berulang kali kurasakan paha serta tubuh wanita cantik itu bergetar dan berkelojotan.

Beberapa menit kemudian mendadak kurasa sebuah benda basah yang panas menyapu batang kejantananku, membuatku jadi agak tersentak. Aha, apalagi itu kalau bukan lidah si Istri Setia ini. Berarti, selesailah sudah seluruh perlawanan yang dibangunnya demikian gigih dan habis-habisan tadi. Wanita ini telah menyerah. Namun sayang, jilatan yang dilakukannya tadi tidak diulanginya, meski batang kejantananku sudah kurendahkan sedemikian rupa, sehingga memungkinkan mulutnya untuk menelan bagian kepalanya yang sudah sangat keras, besar dan panas itu. Boleh jadi wanita ini merasa dia telah menghianati suaminya jika melakukan hal itu, menghisap batang kejantanan pria yang memperkosanya! Tak apa. Yang penting sekarang, aku tahu dia sudah menyerah. Aku cepat kembali membalikkan tubuh. Memposisikan batang kejantananku tepat di depan bukit kewanitaannya yang sudah merekah dan basah oleh cairan dan air ludahku. Aku mulai menciumi pipinya yang basah oleh air mata dan lehernya. Kemudian kedua belah ketiaknya. Maryati menggelinjang liar sambil membuang wajahnya ke samping. Tak ingin bertatapan denganku. Buah dadanya kujilati dengan buas, kemudian berusaha kumasukan sedalam-dalamnya ke dalam mulutku. Tubuh Maryati mengejang menahan nikmat. Tindakan itu kupertahankan selama beberapa menit. Kemudian batang kejantananku semakin kudekatkan ke bibir kemaluannya.

Ah.., wanita ini agaknya sudah mulai tidak sabar menerima batang panas yang besar dan akan memenuhi seluruh liang sanggamanya itu. Karena kurasa pahanya membentang semakin lebar, sementara pinggulnya agak diangkat membuat lubang sanggamanya semakin menganga merah. "Mbak Mar sangat cantik dan merangsang sekali. Hanya lelaki yang beruntung dapat menikmati tubuhmu yang luar biasa ini," gombalku sambil menciumi pipi dan lehernya. "Sekarang punyaku akan memasuki punya Mbak. Aku akan memberikan kenikmatan yang luar biasa pada Mbak. Sekarang nikmatilah dan kenanglah peristiwa ini sepanjang hidup Mbak." Setelah mengatakan hal itu, sambil menarik otot di sekitar anus dan pahaku agar ketegangan kelaminku semakin meningkat tinggi, liang kenikmatanwanita desa yang bermata bulat jelita itu, mulai kuterobos. Maryati terpekik, tubuhnya menggeliat, tapi kutahan. Batang kejantananku terus merasuk semakin dalam dan dalam, sampai akhirnya tenggelam penuh di atas bukit kelamin yang montok berbulu itu.

Untuk sesaat, tubuhku juga ikut bergetar menahan kenikmatan luar biasa pada saat liang kewanitaan wanita ini berdenyut-deyut menjepitnya. Tubuhku kudorongkan ke depan, dengan pantat semakin ditekan ke bawah, membuat pangkal atas batang kejantananku menempel dengan kuat di klitorisnya. Maryati melenguh gelisah. Tangannya tanpa sadar memeluk tubuhku dengan punggung melengkung. Kudiamkan dia sampai agak lebih tenang, kemudian mulailah gerakan alamiah untuk coitus yang membara itu kulakukan.

Maryati kembali terpekik sambil meronta dengan mulut mendesis dan melengguh. Tembakan batang kejantananku kulakukan semakin cepat, dengan gerakan berubah-ubah baik dalam hal sudut tembakannya, maupun bentuknya dalam melakukan penetrasi. Kadang lurus, miring, juga memutar, membuat Maryati benar-benar seperti orang kesurupan. Wanita ini kelihatanya sudah total lupa diri. Tangannya mencengkram pundakku, lalu mendadak kepalanya terangkat ke atas, matanyaterbeliak, giginya dengan kuat menggigit pundakku. Dia orgasme! Gerakan keluar-masuk batang kejantananku kutahan dan hanya memutar-mutarnya, mengaduk seluruh liang sanggama Maryati, agar bisa menyentuh dan menggilas bagian-bagian sensitif di sana.

Wanita berpinggul besar ini meregang dan berkelonjotan berulang kali, dalam tempo waktu sekitar dua puluh detik. Semuanya kemudian berakhir. Mata dan hidungnya segera kuciumi. Pipinya yang basah oleh air mata, kusapu dengan hidungku. Tubuhnya kupeluk semakin erat, sambil mengatakan permintaan maaf atas kebiadabanku. Maryati cuma membisu. Kami berdua saling berdiaman. Kemudian aku mulai beraksi kembali dengan terlebih dahulu mencium dan menjilati leher, telinga, pundak, ketiak serta buah dadanya. Kocokan kejantananku kumulai secara perlahan. Kepalanya kuarahkan ke bagian-bagian yang sensitif atau G-Spot wanita ini. Hanya beberapa detik kemudian, Maryati kembali gelisah. Kali ini aku bangkit, mengangkat kedua pahanya ke atas dan membentangkannya dengan lebar, lalu menghujamkan batang perkasaku sedalam-dalamnya. Maryati terpekik dengan mata terbeliak, menyaksikan batang kejantananku yang mungkin jauh lebih besar dari milik suaminya itu, berulang-ulang keluar masuk diantara lubang berbulu basah miliknya. Matanya tak mau lepas dari sana. Kupikir, wanita ini terbiasa untuk berlaku seperti itu, jika bersetubuh. Wajahnya kemudian menatap wajahku.

"Mas..." bisiknya. Aku mengangguk dengan perasaan lebih terangsang oleh panggilan itu, kocokanbatang kejantananku kutingkatkan semakin cepat dan cepat, sehingga tubuh Maryati terguncang-guncang dahsyat. Pada puncaknya kemudian, wanita ini menjatuhkan tubuhnya di tilam, lalu menggeliat, meregang sambil meremas sprei. Aku tahu dia akan kembali memasuki saat orgasme keduanya. Dan itu terjadi saat mulutnya melontarkan pekikan nyaring, mengatasi suara Krisdayanti yang sedang menyanyi di pesawat televisi di samping ranjang. Pertarungan seru itu kembali usai. Aku terengah dengan tubuh bermandi keringat, di atas tubuh Maryati yang juga basah kuyup. Matanya kuciumi dan hidungnya kukecup dengan lembut. Detak jantungku terasa memacu demikian kuat. Kurasakan batang kejantananku berdenyut-denyut semakin kuat. Aku tahu, ini saat yang baik untuk mempersiapkan orgasmeku sendiri.

Tubuh Maryati kemudian kubalikkan, lalu punggungnya mulai kujilati. Dia mengeluh. Setelah itu, pantatnya kubuka dan kunaikkan ke atas, sehingga lubang anusnya ikut terbuka. Jilatan intensifku segera kuarahkan ke sana, sementara jariku memilin dan mengusap-usap klitorisnya dari belakang. Maryati berulang kali menyentakkan badannya, menahan rasa ngilu itu. Namun beberapa menit kemudian, keinginan bersetubuhnya bangkit kembali. Tubuhnya segera kuangkat dan kuletakkan di depan toilet tepat menghadap cermin besar yang ada di depannya. Dia kuminta jongkok di sana, dengan membuka kakinya agak lebar. Setelah itu dengan agak tidak sabar, batang kejantananku yang terus membesar keras, kuarahkan ke kelaminnya, lalu kusorong masuk sampai ke pangkalnya. Maryati kembali terpekik. Dan pekik itu semakin kerap terdengar ketika batang kejantananku keluar masuk dengan cepat di liang sanggamanya. Bahkan wanita itu benar-benar menjerit berulangkali dengan mata terbeliak, sehingga aku khawatir suaranya bisa didengar orang di luar.

Wanita ini kelihatannya sangat terangsang dengan style bersetubuh seperti itu. Selain batang kejantananku terasa lebih dahsyat menerobos dan menggesek bagian-bagian sensitifnya, dia juga bisa menyaksikan wajahku yang tegang dalam memompanya dari belakang. Dan tidak seperti sebelumnya, Maryati kali ini dengan suara gemetar mengatakan dia akan keluar. Aku cepat mengangkat tubuhnya kembali ke ranjang. Menelentangkannya di sana, kemudian menyetubuhinya habis-habisan, karena aku juga sedang mempersiapkan saat orgasmeku. Aku akan melepas bendungansperma di kepala kejantananku, pada saat wanita ini memasuki orgasmenya. Dan itu terjadi, sekitar lima menit kemudian. Maryati meregang keras dengan tubuh bergetar. Matanya yang cantik terbeliak. Maka orgasmeku segera kulepas dengan hujaman batang kejantanan yang lebih lambat namun lebih kuat serta merasuk sedalam-dalamnya ke liang kewanitaan Maryati.

Kedua mata wanita itu kulihat terbalik, Maryati meneriakkan namaku saat spermaku menyembur berulang kali dalam tenggang waktu sekitar delapan detik ke dalam liang sanggamanya. Tangannya dengan kuat merangkul tubuhku dan tangisnya segera muncul. Kenikmatan luar biasa itu telah memaksa wanita ini menangis.

Aku memejamkan mata sambil memeluknya dengan kuat, merasakan nikmatnya orgasme yang bergelombang itu. Ini adalah orgasmeku yang pertama dan penghabisanku dengan wanita ini. Aku segera berpikir untuk berangkat besok ke Kalimantan, ke tempat pamanku. Mungkin seminggu, sebulan atau lebih menginap di sana. Aku tidak boleh lagi mengulangi perbuatan ini. Tidak boleh, meski misalnya Maryati memintanya.

Friday, October 5, 2012

Kasihan Kelinci, Dimakan Bulat2 Oleh Bangau

Kasihan kelinci, dimakan bulat2 oleh sang bangau...
Begitu sih memang hidup...





Cerita Dewasa Keperawanan yang Dipertanyakan

Cerita Dewasa Yah, kita terlambat deh, Yu.aEt keluh Dinda.aEsSudah lewat lima menit nihaEt, Ayu langsung lunglai.Kuliah pertama hari ini dosennya killer banget, namanya Pak Sundjoto. Ia benar-benar takut sama Pak Sundjoto. Namanya saja sudah Sundjoto, bagaimana senjatanya.

Finally, mereka harus bolos kuliah. Itu lebih baik, daripada mereka harus dihukum menyalin tugas statistik tujuh kali.aEsYa udah deh, aku mandi dulu. Kau juga Din, nanti masuk anginaEt kata Ayu sambil segera masuk ke kamarnya dengan lemas.
Dinda benar-benar merasa bersalah. Seharusnya ia tak terlalu lama memilih-milih bra tadi, tapi Dinda memang paling senang pilih-pilih underwear. Bisa dikategorikan bahwa Dinda seorang kolektor underwear. Akibatnya mereka harus mengejar waktu menembus hujan yang cukup deras, tapi nyatanya tetap harus terlambat. Untuk menebus kesalahannya itu Dinda memasakkan mie goreng untuk Ayu. Ayu gemar banget sama mie goreng, dan itu merupakan senjatanya untuk meminta maaf kepada Ayu.
Dinda tak peduli kedinginan. Tanpa harus mandi dulu, ia sudah menggorengkan mie untuk Ayu. Lalu Dinda segera membawa mie goreng aEsmade inaEt dirinya ke kamar Ayu. Ayu kaget ketika Dinda tiba-tiba masuk ke kamarnya begitu saja. Pasalnya Ayu belum selesai memakai bajunya. Ia masih bertelanjang dada. Untung bagian paling sensitifnya sudah aE~diamankanaE? sebelum Dinda masuk tadi.

Dinda juga tak kalah kagetnya. Ia sampai terbengong-bengong memandangi pemandangan indah yang terhampar di depan matanya. Kedua bukit kembar Ayu membusung di depannya. Sekal membulat sedikit berlebihan untuk tubuhnya yang agak kurus. Kedua bola mata Dinda yang bening nanar memandangi kedua daging kecil coklat kemerah-merahan yang bertengger di kedua ujung bukit kembar itu. Darah Dinda bagai disiram air hujan, dingin menggigil. Ia terbayang beberapa adegan blue film yang pernah ditontonnya.

Hujan semakin deras di luar. Petir mengelegar memekakkan telinga. Dinda tersentak mendengarnya.aEsAh, maaf Yu. Aku tak sengaja. Ini mie goreng untukmu. Makanlah selagi hangat,aEt kata Dinda sedikit gugup.Diletakkannya sepiring mie goreng itu di meja rias. Dinda segera berbalik hendak pergi tapi urung karena Ayu memanggilnya.

aEsDin, aku masuk angin. Kamu mau kerokin kan aku?aEt pinta Ayu.Mulanya Dinda ingin menolak. Dia takut birahinya muncul dan salah tempat karena Ayu dan Dinda sejenis. Tapi melihat wajah memelas Ayu, perasaan bersalah Dinda kembali muncul. Bagaimanapun juga Dinda yang menyebabkan Ayu jadi masuk angin. Akhirnya Dindapun bersedia menuruti permintaan Ayu.
aEsSebentar aku ambilkan balsemnya,aEt ujar Dinda segera keluar kamar Ayu.Tapi ternyata Ayu menyusul Dinda. Ayu berfikir di kamar Dinda juga tidak apa-apa, sama saja. Maka dengan hanya mengenakan CD-nya Ayu masuk ke kamar Dinda. Tentu saja Ayu tidak perlu khawatir karena mereka hanya berdua di rumah itu saat ini.

aEsDisini saja, Din.aEt kata Ayu membuat Dinda terkejut tak menyangka Ayu akan menyusul ke kamarnya.Ayu menelungkupkan badannya diatas ranjang. Kemudian Dinda duduk di tepi ranjang untuk mulai mengerokin kulit punggung Ayu. Tapi niat itu urung dengan tiba-tiba. Jemari Dinda menyentuh kulit punggung Ayu sekilas. Kulit punggung Ayu halus sekali.
Punggung Ayu yang agak kecoklat-coklatan nampak belang di bagian yang biasa tertutup tali bra. Tanpa sadar Dinda menyentuhkan jari telunjuknya menyusuri bagian punggung Ayu yang belang itu. Dari punggung atas teruuss menyamping. Ayu yang merasa kegelian membalikkan badan. Pada saat itulah tanpa sengaja jari telunjuk Dinda menyentuh payudara kiri Ayu.

aEsKenapa, Din?aEt tanya Ayu sedikit mengatupkan mata menahan rasa merinding di tubuhnya.aEsKulitmu halus sekali.aEtujar Dinda dengan nafas tersendat.Mata Dinda kembali tertuju pada bukit kembar yang terpampang di depannya.aEsMilikmu besar sekali.aEt lanjut Dinda.aEsKamu sudah pernah ML (make love) ya?aEtaEsSiapa bilang? Ini keturunan.aEt, jawab Ayu sambil sedikit mengangkat bukit kirinya ke atas, bagaikan menantang setiap tangan untuk memegangnya.
Birahi Dinda yang mulai terbakar dan imbas dari kehujanan tadi membuat Dinda menggigil. Kemudian dilepaskannya kaosnya yang sudah agak kering. Tersembulah dua bukit kembar Dinda yang masih terbalut kain bra. Dua bukit yang sebenarnya agak kecil itu terlihat lebih besar dari ukuran sebenarnya karena menegang menahan birahi Dinda yang mulai meluap. Entah mengapa Ayu menjadi senang ketika Dinda melepas kaosnya.

aEsMilikmu juga besar Din.aEt kata Ayu.Dinda memandangi kedua bukit yang masih tertutup kain ituaEsCoba aku buka yaaEt pinta Ayu.
Ayu menempelkan tubuhnya ke tubuh Dinda untuk membuka pengait bra di punggung Dinda sehingga Dinda mudah untuk melepaskannya. Mata Ayu berbinar-binar memandangi dua bukit kembar ukuran 32 milik Dinda itu. Walau sedikit lebih kecil dari miliknya, tapi milik Dinda itu nampak lebih ranum. Tentu saja itu karena birahi Dinda yang mulai bergolak. Tiba-tiba Dinda melepaskan klok yang dipakainya. Sesekali gerakannya tersendat. Kini mereka berdua sama. Hanya memakai CD tanpa penutup lain.

aEsYuu.. aku rasanya mau..aEt suara Dinda mendesahaEsMau apa?aEt tanya Ayu dengan tatapan menggoda.aEsAku tak bisa menahannya Yu..aEt suara Dinda makin mendesah.
Tahulah kini Ayu apa yang diinginkan Dinda. Ia segera menarik tuduh Dinda merebah. Kemudian dirabanya dada Dinda perlahan dan lembut. Diresapinya kehalusan kulit Dinda senti demi senti. Disentil-sentilnya puting payudara Dinda setiap kali jemari Ayu menyentuhnya. Dada Ayu bergemuruh, nafasnya naik turun. Sedang Dinda tersengal-sengal menikmati setiap sentuhan Ayu.

aEsYu.. ooh.. dinginn..aEtaEsDin.. kamu menggairahkan banget.. aku.. juga mau..aEt
Ayu mulai gelap mata. Kini ditindihnya tubuh Dinda. Bibir Ayu menyentuh bibir Dinda. Dilumatnya bibir bawah Dinda dengan rakus, dihisap dan digigit-gigit kecil. Dipermainkannya lidah Dinda dengan lidahnya hingga membuat Dinda berkerjap-kerjap. Bukit kembar mereka saling menghimpit. Keduanya nampak seperti kembar siam saja, saling menempel dan melumat. Dinda menggesek-gesekkan kemaluannya pada kemaluan Ayu berirama. Sedangkan kedua tangannya telah meremas-remas kedua bokong Ayu yang semok dan sekal. Nafas keduanya semakin memburu menikmati apa yang belum pernah sekalipun mereka rasakan.
aEsAhgh.. Yu.. enak.. teruus aahhaEt rintih Dinda di sela-sela cumbuan Ayu.Bibir Ayu turun menjilati leher Dinda yang jenjang dan memberikan gigitan-gigitan kecil sehingga nampak noda merah di beberapa tempat di leher Dinda. Gejolak birahi Dinda yang telah bergolak bagai tak bisa dibendung menyambar-nyambar bagai kilat di sore itu. Dibalikkannya tubuh Ayu sekuat tenaga.

Kini posisi mereka berbalik. Dinda yang berbadan lebih besar menghimpit tubuh Ayu. Tanpa banyak pikir diremasnya bukit kembar Ayu bergantian. Makin lama semakin keras. Ayu meringis menahan sakit. Lalu Dinda memasukkan puting merah kecoklat-coklatan itu ke dalam mulutnya. Di dalam mulutnya Dinda meniup dan menghisap daging kecil itu. Dijilatinya beberapa bagian yang bisa digapai oleh lidahnya. Kemudian digigit-gigitnya gemas daging yang sudah sangat keras itu.
aEsAchh..aEt teriak Ayu kesakitan.Ayu membenamkan kepala Dinda ke dadanya yang semakin dibusungkan. Ayu benar-benar melayang. Manakala jemari Dinda mulai meraba-raba isi dibalik CD-nya. CD itu telah basah bermandikan lendir yang berasal dari lubang vagina Ayu. Dinda meraba-rabanya. Tangannya kini telah menelusuri setiap lekuk bukit belah yang berumput basah itu. Disentilnya sesekali ketika cemarinya menyentuh daging kecil yang tersembul di antara belahannya.

aEsEhh.. nikmat sekali Din.. teruss lakukan teruss.. ehhaEt Ayu mengerang kenikmatan.Dinda tak banyak bicara. Ia hanya mendengus-dengus memburu sambil terus mengulum puting susu Ayu. Ditekannya vagina Ayu dengan telapak tangannya. Tersembur cairan kental dari lubang vagina Ayu yang kini menempel di tangannya. Dinda menghentikan kulumannya. Dilihatnya telapak tangannya yang basah oleh cairan dari lubang vagina Ayu itu. Dijilatnya cairan itu. Tak berasa.
aEsKenapa berhenti, Din?aEt kata Ayu kesal.aEsIkuti petunjukku Ayu,aEt pinta Dinda.Dinda segera melepas CDnya. Kini ia dalam keadaan telanjang bulat. Tak selembar kainpun membalut tubuhnya. Dilemparkannya CD yang telah basah itu entah kemana. Kemudian dilepasnya pula CD milik Ayu. Ayu membantu dengan meregangkan selangkangannya. Kini mereka telah sama-sama polos seperti bayi.

Dinda kini berganti posisi tidur. Tubuhnya masih tetap menindih tubuh Ayu. Tapi mukanya kini sudah berada di atas selakang Ayu. Dan wajah Ayupun sudah berada di bawah selakang Dinda. Dinda memulainya dengan menciumi vagina Ayu. Kemudian lidahnya mulai bermain-main di rerumputan yang telah basah itu.
Ayu bagai diperintah mengikuti semua yang dilakukan Dinda. Disapunya semua bagian vagina Dinda yang ditumbuhi bulu-bulu yang agak jarang. Dijilat-jilatnya klitoris Dinda lalu dihisapnya agak kuat. Dinda mendesis-desis kegelian. Lalu dilakukannya hal serupa pada vagina Ayu membuat Ayu bergelinjangan. Ditekan-tekannya kembali vagina Ayu dengan telapak tanggannya. Suur.. cairan kental itu kembali keluar. Dijilatinya dinding vagina Ayu sehingga membuat Ayu semakin terlena.

Tiba-tiba Dinda melihat lubang berwarna coklat kemerah- merahan yang agak terkatup. Dijilat-jilatnya lubang itu, Ayu bergelinjangan. Dinda terus menjilatinya sambil mengingat-ingat salah satu blue film yang pernah ditontonnya. Mungkin lubang inilah yang dimaksud. Lubang yang selalu disodok oleh penis kalau ingin mendapatkan kepuasan tertinggi. Mata Dinda berbinar-binar. Ia berguling ke samping, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Ayu.aEsAku akan membawamu terbang, Yuu..aEt

Ayu mengangguk pasrah. Yang terpenting baginya adalah menikmati permainan Dinda selanjutnya. Dinda meraih sebatang wortel dari rak sayur di bawah meja. Kemudian ditekuknya siku kaki Ayu dengan posisi agak mengangkang sehingga kepala Dinda mudah mencumbu kembali bagian terpeka Ayu itu. Dengan perlahan ditusukkannya ujung wortel itu ke dalam lubang kemaluan Ayu. Ayu merintih-rintih kesakitan. Vaginanya terasa panas dan nyeri. Tapi Dinda terus mendorongnya ke dalam.

aEsAaahh..aEt Ayu menjerit badannya terduduk seketika.Matanya liar memandangi benda apakah gerangan yang telah membuatnya merasa kesakitan. Darah segar menyembur, keperawanan Ayu telah amblas. Dinda menarik keluar batang wortel itu, tapi belum sampai keluar sepenuhnya, sudah dimasukkan kembali. Mata Dinda mengerjap-ngerjap. Sedang Ayu memandangi batang wortel yang keluar-masuk lubang keperawanannya dengan nafas menghentak-hentak. Ada rasa nikmat di antara rasa nyeri di lubang kewanitaannya.

Kemudian direbutnya batang wortel itu dari tangan Dinda. Dimasukkannya ujung wortel itu lebih dalam dengan tangganya sediri. Matanya terpejam menikmati kenikmatan yang luar biasa. Dinda yang merasa kelelahan tergeletak bersimbah keringat.
Hatinya bergemuruh mengenang yang barusan terjadi. Ada apa dengannya? Apakah dia sudah menjadi seorang lesbi? Ah, tidak! Ia masih normal! Hati Dinda berontak. Ia segera berlari keluar kamar sebelum Ayu kembali memburunya dengan batang wortel yang masih bersimbah darah keperawanan Ayu.

Thursday, October 4, 2012

Cerita Dewasa Sex Phone

Cerita Dewasa kali ini terjadi pada awal bulan Mei tahun ini. Saat itu aku mendapatkan gangguan pada Handphone-ku, karena terjatuh ke dalam air ketika aku sedang menjalani perawatan Spa. Sekretarisku di kantor menyarankan untuk menservisnya pada tempat servis resminya. Karena HP-ku adalah merek tertentu, di mana tempat servis resminya hanya ada 3 tempat di kota Kembang ini, maka aku membawanya ke salah satu servis resminya yang terdapat pada salah satu pusat perbelanjaan di daerah pusat kota Bandung.

Jumat sore itu sepulang dari kantor, aku membawa mobilku meluncur ke arah pusat kota, lalu setelah terjebak beberapa saat dalam kemacetan, akhirnya aku berhasil mendapatkan tempat parkir di pusat perbelanjaan itu. Tak beberapa lama, aku telah berhasil menemukan tempat servis HP itu. Aku segera masuk ke ruangan ber-AC, dan langsung disambut dengan senyum manis seorang cowok.

"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" katanya sopan.
"Ini nih Mas, HP saya terjatuh dalam air kemarin, terus jadinya mati, bisa diperbaiki nggak.."A'tanyaku, sambil menyodorkan HP itu padanya.
"Sebentar ya Mbak, biar teknisi kami yang mengeceknya."

Dia berlalu ke dalam ruangan lain. Lalu tak lama kemudian dia muncul lagi dan berkata bahwa HP-ku bisa diservis, dia menyebutkan juga biaya servisnya. Aku menyetujuinya.
"Kira-kira masih lama nggak Mas servisnya?" tanyaku.
"Mungkin sekitar satu jam lah", jawabnya.
"Ya udah deh, saya tinggal jalan-jalan dulu saja kali yaa..?" kataku lagi.
"Silakan.. Mbak", balasnya.

Aku lalu pergi melihat baju-baju di etalase toko, hingga tiba-tiba kurasakan perutku minta diisi, ternyata aku sadar bahwa aku belum sempat lunch tadi di kantor. Aku bergegas ke lantai atas pusat perbelanjaan itu, di mana terdapat Food Court. Aku memutuskan untuk masuk pada salah satu restoran fast food yang menyediakan masakan khas Jepang.

Saat aku mengantri, tiba-tiba ada suara menyapaku dari belakang.
"Wah.. mau makan juga Mbak?" aku menoleh, dan ternyata cowok yang tadi di tempat servis HP.
"Eh iya, gimana HP saya sudah selesai belum?" tanyaku.
"Nanti deh selesai makan paling juga sudah selesai.. Boleh saya temani makan?"
"Wah, berani juga nih cowok", kataku dalam hati.
"Mmm.. boleh deh", jawabku pendek.

Kemudian kami mengambil tempat duduk dan mulai menyantap hidangan. Dalam hati kuamati dia, menurutku dia anak yang menyenangkan, tidak terlalu tinggi, bahkan bisa dibilang kurus, tapi ada sisi yang menarik. Apalagi setelah aku terlibat obrolan dengannya, aku makin menyadari bahwa dia adalah seorang yang hangat, humoris, dan selalu nyambung dalam pembicaraan. Hingga aku berinisiatif untuk melangkah lebih jauh.

Aku lalu bertanya, "Kamu kapan liburnya?"
"Wah kenapa nih nanya liburku?" dia mengangkat alis, dan tersenyum simpul.
"Yaa.. kalau kamu mau sih, aku pingin ajak kamu jalan nanti malam, sekalian kita weekend lah", tawarku.
"Wuah, serius nih..?" dengan nada tak percaya.
"Aku bisa minta ijin dua hari buat besok dan hari Minggunya, tapi ngomong-ngomong kamu mau ajak aku jalan ke mana?" dia masih kelihatan tidak percaya.
"Udah deh, nggak perlu nanya-nanya, lihat aja nanti.." aku membuatnya penasaran.
Lalu setelah sepakat bertemu di suatu tempat nanti malam, aku segera kembali ke tempat dia kerja untuk mengambil HP-ku yang telah selesai diservis, dan segera pergi sambil menyusun acara buat berdua.

Aku membawa mobilku ke arah Dago atas, menuju ke sebuah hotel bintang lima dan mem-booking kamar untuk tiga malam selama weekend, kemudian segera pulang ke rumah untuk mengambil baju dan keperluan sekedarnya.

Sekitar jam 11 malam, aku pergi menemuinya di sebuah CafA? yang terletak di persimpangan lima jalan besar, yang nama Cafe-nya selalu mengingatkanku pada salah satu posisi bercinta. Malam itu dia mengenakan kemeja biru gelap, dan tercium olehku wangi Tommy Hilfiger dari tubuhnya, dia makin terlihat tampan, dengan rambut basah yang tersisir rapi ke belakang.

"Hai, sudah lama kamu di sini?" aku menyapanya pelan.
"Enggak juga kok", dia terdiam sejenak, memandangiku lama.
"Kenapa sih, kayak lihat makhluk aneh saja..!" aku merasa jengah dipandangi seperti itu.
Tiba-tiba dia menarik lenganku, dan berbisik di telingaku, "Kamu cantik sekali malam ini Dini.. mimpi apa aku hingga bisa kencan dengan bidadari dari kayangan sepertimu?".
Wajahku bersemu merah mendengar pujiannya, "Kamu berlebihan deh, biasa aja kenapa sih." aku segera mengalihkan perhatian dengan memesan Black Russian pada waiter yang kebetulan lewat di dekat kami duduk.

Lalu tak lama kami telah terlibat dalam obrolan yang menyenangkan, kadang diselingi dengan humor segar, dia sangat pintar menciptakan suasana yang hangat. Aku jadi tahu bahwa dia adalah lulusan sebuah sekolah pariwisata yang terkenal di Bali, dan sempat tinggal di Amerika selama dua tahun, tidak heran wawasannya begitu luas.

"Jadi kerjaan kamu yang sekarang, nggak ada nyambung-nyambungnya sama background pendidikan kamu dong?"
"Iya sih, ha.. ha.." dia tertawa renyah.
Aku mengeluarkan cigarette pack, mengambil sebatang Capri, belum sempat aku menyalakan, dia berinisiatif mengangsurkan api buat rokokku.
"Thank", kataku pendek.
"Hmm, perhatian juga.." batinku.
"Mau cabut sekarang?" tawarku.
Dia memandang sekeliling, "Mmm, ayolah.. eh tapi ke mana?"
A' "Ke hotel S**** (edited), mau nggak?" tawarku.
"Oh.. eh", dia terbelalak, seakan tidak mempercayai apa yang baru saja di dengarnya.
"Tawaran nggak datang dua kali lho.." aku kedipkan mata.
"Ayolah", akhirnya setelah beberapa saat dia jawab juga dengan wajah berbinar.
Kupikir aku akan menyumpahinya kalau sampai dia menolak ajakanku, barangkali aku akan bilang bahwa dia adalah laki-laki paling tolol di seluruh dunia, atau barangkali seorang gay, tapi ternyata tawaranku yang menang. Aku senang.

Kemudian kami berlalu dari tempat itu, mobil langsung kubawa ke arah Dago atas, dan langsung menuju Hotel S**** (edited). Sesampainya di kamar, kuletakkan travel bag kecilku, lalu aku ke bathroom untuk bebersih sebentar. Dia menghempaskan pantatnya pada pinggiran bed, dan meraih remote TV, menyalakannya. Dari bathroom kudengar sayup-sayup suara musik.

Saat aku masih sibuk dengan contact lens-ku, tiba-tiba pintu bathroom diketuk pelan dari luar. "Din.. boleh aku masuk bentar, mau pipis nih.." Aku tersenyum, lalu meraih handel pintu, begitu pintu terbuka sedikit, ternyata dia langsung menerobos masuk dan yang membuatku terkejut, dia sudah tidak mengenakan selembar benang pun. Telanjang bulat. Dia langsung mendekapku, dan dengan sekali renggut, handuk yang kupakai untuk menutupi tubuhku terlepas sudah, jatuh ke lantai. Bibirnya langsung menyambar bibirku, kurasakan lidahnya menjelajahi rongga mulutku dengan penuh nafsu, aku pun membalasnya dengan tak kalah bernafsunya, kadang lidahnya kuhisap, kujilat dan saling memilin. Kurasakan kewanitaanku mulai hangat. Ciumannya mulai menjelajah, dari mulai leherku yang jenjang, lalu beralih ke arah telinga, kurasakan geli luar biasa menjalari sekujur tubuhku. Aku makin terangsang.

Tangannya juga beraksi meremas-remas payudaraku, sambil tak lupa memilin-pilin putingnya, yang makin mengacung keras karena terangsang, satu tangannya lagi menelusup pada pangkal pahaku, mengusap-usap bukit lembut yang kenyal yang mulai basah oleh cairan kewanitaanku. Aku tak tinggal diam, tanganku meremas-remas batang kejantanannya yang mulai tegang dan keras itu, sambil perlahan aku mengurutnya lembut. Dia menikmatinya, terdengar lenguhan-lenguhan pendek dari mulut kami.

"Ouhh.. mmhh.. yahh.."
"Suka Sayang?" desahnya lembut.
"Hmm.. hh.." aku tak mampu menjawabnya, hanya mengangguk pelan, mataku pun telah sayu. Ciumannya makin mengganas, kali ini kedua puting payudaraku dihisapnya bergantian, hingga tubuhku serasa dibakar birahi yang panas. "Auuhh.. oohh.. Sayang.. oohh.. sshh.. ahh.." aku mengerang-erang penuh kenikmatan. Tangannya mulai beraksi menyibakkan rerumputan halus di kewanitaanku, lalu satu jarinya menelusup masuk ke dalam rongga hangatnya, hingga menemukan tonjolan daging kecil, dan segera mengusap-usapnya lembut. Aku menggelinjang-gelinjang kenikmatan. Kewanitaanku kurasakan makin merah, merekah, licin dan basah oleh lendir yang makin keluar seiring oleh rangsangan yang kuterima.

Kemudian dia membimbingku menuju tempat tidur, lalu menyuruhku telentang sambil membuka pahaku lebar-lebar, rupanya dia akan memberiku oral seks. Aku pun segera menuruti perintahnya, kubuka pahaku lebar-lebar, dia lalu merangkak dan mulai menempatkan mulutnya pada pangkal pahaku, kemudian kurasakan lidahnya yang hangat menyapu kewanitaanku, lalu menelusup ke bagian dalamnya, sambil sesekali menghisapnya, menimbulkan suara-suara kecil yang lucu, begitu hebat rangsangan yang kuterima dari perlakuannya padaku. Aku makin gila menggelinjang-gelinjang penuh kenikmatan, belakang kepalanya kupegangi erat-erat dan menyurukkannya makin dalam pada pangkal pahaku. Aku ingin dia melumat habis kewanitaanku. Kurasakan kewanitaanku makin basah oleh cairan lendir hangat bercampur liur miliknya, kadang dia malah menghisap-hisap tonjolan daging kecil sebesar biji kacang polong dalam kewanitaanku, membuatku makin mengerang-erang dengan penuh kenikmatan, kurasakan sensasi yang luar biasa hebat, seakan-akan ada hawa panas yang berpangkal dari kewanitaanku menjalari seluruh syaraf tubuhku.
Aku bermandikan keringat, dan mendesah-desah memohon padanya untuk segera menghujamkan batang kejantanannya pada lubang kewanitaanku. "Oohh.. Sayang.. please.. sekarang.. uuhh.. mmhh.." mataku terpejam rapat. "Sebentar", akhirnya dia beranjak, lalu menempatkan ujung kepala batang kejantanannya pada bibir kewanitaanku, aku membantunya dengan menggenggamnya dan mengarahkannya perlahan memasuki lubang senggamaku yang hangat dan licin. "Sreett.. sreett.." terasa agak susah, karena batang milliknya lumayan besar dan panjang. "Wah agak susah yaa..?" dia tersenyum, memandangku. Aku berinisiatif untuk membantunya, dengan berbalik dan langsung kupegang batang kejantanannya, mengarahkannya pada mulut mungilku, lalu langsung kujilati, kuhisap dan kubasahi dengan liurku. Mulutku terasa penuh menampung kejantanannya, kemudian aku mulai mengeluar-masukkannya pada mulutku, sambil sesekali menghisapnya, hingga kedua pipiku terlihat kempot, saking bernafsunya.

Tubuhnya bergetar hebat menerima perlakuan lidahku pada kejantanannya, dia mendesah-desah, "Ooohh.. Din.. aauuhh.. ennakk.. egghh.. ouhh.. mm.." Batang kejantanannya keluar masuk dalam mulut mungilku, hingga terlihat mengkilap karena air liurku. Setelah kurasa cukup, aku menyuruhnya untuk segera memasukannya pada lubang kewanitaanku, yang sudah tidak sabar lagi menanti untuk diterobosnya. "Sekarang.. Say, ahh", aku memohon pendek.

Dia mengarahkan lagi batang kejantanannya pada mulut kewanitaanku, lalu menekannya sedikit demi sedikit, "Srett.. sreett.." kali ini terasa agak lebih mudah, aku membantunya dengan menjepitkan kedua kakiku pada pinggangnya, kemudian setelah sekitar sepertiga bagian batang itu masuk, dia tiba-tiba menghujamkannya keras-keras. "Auuhh.. oouuhh.. iyahh.. yahh.. sshh.. hh.." aku berseru pendek saat kurasakan batang itu masuk menyungkal dalam-dalam pada kewanitaanku.

Dia lalu menggoyang-goyangkan pinggangnya maju-mundur, menghajar lubang kewanitaanku dengan kejantanannya. Aku merasakan kenikmatan luar biasa berpangkal pada lubang kewanitaanku, hingga makin banyak cairan bening yang hangat, berbau khas keluar dari kewanitaanku. Aku mengimbanginya dengan ikut bergoyang seirama hujaman tubuhnya kadang kuputar-putar pantatku hingga batangnya makin terjepit erat dalam kewanitaanku. Berdua kami mengerang-erang terbakar birahi. "Auuhh.. oohh.. iiyaahh.. yaahh.. yahh.. sshh.. uh.. uh.. oouuww!"

Tiba-tiba bibirnya melumat bibirku dengan liarnya, lidah kami beradu saling jilat, saling hisap dengan rakusnya, beberapa saat kemudian mulutnya segera berpindah pada kedua puting payudaraku, memberinya gigitan-gigitan kecil, sementara kejantanannya masih dengan buasnya menghajar lubang kewanitaanku. Aku benar-benar merasakan nafsu yang begitu panas membara. Hingga akhirnya aku mencapai puncak, aku menjerit kecil, "Auuhh.. ouhh.. ouuw.. aku.. auuhh.. aahh.. hh.!" kurasakan seluruh persendian tubuhku berlolosan, tubuhku yang bermandi keringat bergetar dengan hebatnya, dua tanganku mencakar-cakar punggungnya, saat itu kurasakan sesuatu meledak dari dalam tubuhku dan memberikan sensasi hebat ke seluruh saraf tubuhku, kurasakan sangat ringan sekali dan nikmat tiada tara, serasa terbang ke nirwana, aku orgasme dengan sempurna.

Dia sendiri belum selesai, dia menghentikan genjotannya pada kewanitaanku, memberikan kesempatan padaku untuk menikmati sensasi orgasme, setelah dirasanya cukup, tanpa mencabutnya dahulu, dia langsung mulai lagi meningkatkan goyangannya. Batangannya mulai lagi keluar masuk dalam liang kewanitaanku, kurasakan lagi kenikmatan yang luar biasa akan hal itu. Kupandangi dalam-dalam wajahnya yang diliputi nafsu membara, seakan-akan kami berbicara dengan tindakan, bukannya dengan kata-kata.

Hingga akhirnya dia merasa tidak kuat lagi, dan sebelum benteng pertahanannya jebol, aku segera beranjak meraih batang kejantanannya yang amat tegang hingga urat-uratnya bertonjolan, yang mengkilat basah oleh cairan kewanitaanku, dan segera saja aku mengulumnya lagi, menghisapnya kuat-kuat, kemudian, "Auuhh.. oohh.. Diinn.. sshh.. hh.."A' erangnya. Kurasakan cairan hangat dan kental muncrat deras memenuhi rongga mulutku, begitu banyak hingga berleleran pada bibirku, aku segera menelannya dengan rakus seakan-akan haus akan lendir itu, menghisapnya hingga tetes terakhir. Aku puas sekali.

Tubuhnya menggelosoh pelan di samping tubuhku, basah oleh keringat. Kamar itu hening, suara TV sudah lama hilang, sebagai gantinya hanya terdengar dengusan nafas dua manusia dewasa berlainan jenis yang terkapar sehabis bercinta dengan liarnya. Dia memandangku dengan lembut, lalu berbisik, "Terima kasih Sayang, aku menikmatinya.." dia mengecup keningku. Aku tidak menjawab, hanya mengangguk pelan dengan senyum kecil menghiasi bibirku.

Setelah beberapa saat berlalu dengan canda dan obrolan kecil, kami mulai lagi bersiap-siap untuk ronde berikutnya. Kali ini aku mengambil alat bantu dari travel bag yang kubawa, yaitu batang vibrator plastik yang digerakkan dengan tenaga baterai, kuangsurkan barang itu padanya. Dia sekali lagi kaget, tidak menyangka kalau aku menyuruhnya merangsang dengan menggunakan vibrator itu.

"Wah, kamu sering pakai ini yah..?" dia tergelak kecil.
"Ah, banyak kok wanita yang pakai, cuma mereka nggak pernah bilang aja ke pasangannya masing-masing.." paparku.
"Iya gitu..?" dia masih terheran-heran.
Aku tidak memberinya kesempatan bertanya lebih lanjut, aku segera menubruknya dan melumat bibirnya dengan penuh nafsu, buah dadaku yang kenyal menekan dadanya. Dia membalas pagutanku. Kemudian aku meraih batang vibrator itu dari tangannya dan menyalakannya, terdengar suara berdengung pelan saat barang itu bergetar perlahan. Dengan mulut masih berpagutan erat, aku mencoba menyelipkan vibrator itu pada selangkanganku, getaran dari alat itu membuat saraf-saraf pada bukit kewanitaanku terangsang kembali, hingga kurasakan berdenyut-denyut pelan, dan mulai menghangat oleh cairan kewanitaanku.

Kemudian, kuberikan vibrator itu padanya. Sementara itu tubuhku telah ditelusuri oleh jilatan lidah dan pagutan-pagutan kecilnya, hingga akhirnya kembali lagi mulutnya telah berada di bibir kewanitaanku. Kali ini dengan vibrator yang menancap dalam-dalam pada kewanitaanku, lidahnya berusaha mencari tonjolan daging kecil milikku. Akhirnya berhasil juga dia melakukan hal itu, dengan mulutnya dia melumat habis areal sekitar kewanitaanku, tetapi tangannya juga beraksi mengocok-kocok batang vibrator itu keluar masuk liang kewanitaanku, hingga dilumuri lendir putih, licin, dan berbau khas. Sebagian lendir lain yang berubah menjadi busa karena dikocok, meleleh keluar kewanitaanku menuju lubang anus. Tubuhku menggelepar-gelepar merasakan rangsangan yang sedemikian hebatnya. Aku mengerang-erang penuh kenikmatan. Keringat membasahi sekujur tubuhku, aku merasa geli luar biasa. "Oohh.. oohh.. hess.. sshh..

Kugigit bibirku kuat-kuat dengan mata terpejam, menahan panasnya gelombang birahi yang menjalari tubuhku. Aku mulai tak tahan lagi. Tiba-tiba kudengar perintahnya, "Din, tolong kamu berbalik tengkurap." Aku mengerti maksudnya, maka dengan vibrator masih menancap pada lubang kewanitaanku, aku berbalik, lalu menunggingkan pantatku yang mengkilap karena keringat.

Kemudian dia mengambil posisi tepat di belakangku, lalu kurasakan lidahnya menjilat-jilat areal sekitar lubang anusku, dibarengi dengan ibu jarinya yang mencoba diselipkan keluar-masuk pada lubangnya. Akhirnya dia berdiri mengangkangiku, lalu menggengam batang kejantanannya mencoba menusuk lubang anusku dengan pelahan. "Sreett.. sreett.." agak terasa susah pada awalnya, tetapi karena telah dilumuri oleh ludah dan sebagian cairan lendir kewanitaanku, maka pelan-pelan batang kejantanannya melesak masuk pada lubang pantatku.

"Auusshh.. sstthh.. sshh.. egg.. ouhh.. oh.." aku makin merasakan rangsangan yang luar biasa hebat saat dia mulai menggoyangkan pinggangnya, menghajar lubang anusku dengan batang kejantanannya, sementara itu juga vibrator yang masih bergetar menancap pada lubang kewanitaanku, kukocok-kocok dengan sebelah tanganku. Dua batang menghajar dua lubang pada tubuh bagian bawahku. Maka makin deraslah lendir yang keluar dari kewanitaanku, makin hangat, dan sensasi yang ditimbulkan juga luar biasa hebat. Aku makin tak tahan lagi. "Aaarrgghh.. aahh.. oohh.. hhss.. sshh..!" aku berteriak-teriak penuh kenikmatan, rambutku telah acak-acakan. Tubuhku makin menggelinjang-gelinjang tak karuan. Pinggangku dipegangnya, hingga memudahkannya menghajar lubang pantatku. Dua batang itu bergantian membongkar lubang kewanitaan, dan lubang anusku, hingga kurasakan tubuhku bergetar dengan hebatnya. "Ohh.. yaah.. akkh.. aku.. kelluuarrh.. oohhs.. ssh.." aku mengalami orgasme dengan hebatnya, kurasakan lagi sesuatu meledak menjalari seluruh saraf tubuhku, tak lama kemudian dia pun mengerang-erang juga, "Oohh Din.. oouhh.. aku.. juga mau.. mau.." belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, dia segera mencabut batang kejantanannya, lalu dengan tergesa dia cabut pula vibrator pada kewanitaanku, menggantikannya dengan menghujamkan dalam-dalam batang kejantanannya sendiri ke lubang kewanitaanku, lalu sepersekian detik kemudian dinding-dinding rongga kewanitaanku merasakan semprotan lendir hangat dengan derasnya memenuhi lubang kewanitaanku yang berdenyut-denyut merah merekah, licin dan basah. Lendir putih hangat, kental itu sampai berleleran keluar di mulut bukit empuk milikku, bercampur dengan cairan kewanitaanku.

Akhirnya malam itu kami bertempur habis-habisan, aku sendiri sampai merasakan orgasme tujuh kali berturut-turut. Benar-benar malam yang panas dan liar. Begitu juga malam-malam berikutnya, kami selalu bercinta, mencoba berbagai macam gaya, hingga akhirnya tak terasa weekend telah habis dan aku harus kembali bekerja esok harinya. Aku sangat puas memperoleh lawan yang seimbang, yang begitu mengerti bagaimana seni bercinta di tempat tidur, dan bagaimana memperlakukan wanita dengan penuh kelembutan dan kematangan emosi.

Untuk rekan-rekan pembaca pria, mohon maaf kalau saya tidak pernah menanggapi e-mail yang masuk, dan juga tolong jangan kirimi saya gambar-gambar pria bugil, karena saya tidak berminat sama sekali untuk menanggapi semuanya. Terima kasih.
Sungguh Puaskah Istri Anda ?