Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Wednesday, December 2, 2009

Fantasiku : Aku dan Mbak Ina






Sebelumnya kenalkan nama ku Dee 24 tahun, tubuhku ngak terlalu tinggi hanya 165 cm dengan berat badan 57 kg, soal wajah kata orang sih masih kek anak SMA:). Sudah beberapa waktu ini kebiasaan ku chatting kembali lagi. Saking getolnya kusering chat ampe tengah malam. Chatting tuh emang sangat mengasyikan apalagi kalo ama orang yang enak diajak ngobrol.

Udah ngak usah pake lama perkenalanya kita mulai aja kisah ku ini:)

Kisahnya begini, Udah beberapa hari ini aku mendapatkan teman chat namanya Ina. Orangnya beberapa tahun lebih tua dariku namun cukup manis juga:) kulitnya lumayan putih standart wanita kulit putih wanita Indonesia tingginya 152 cm (lumayan kecil tapi kusuka soalnya enak buat dipeluk hehehe..), beratnya 47 dan toketnya aduuh… ngak bisa bilang pokoknya GEDE ngebuat ku sering ngak konsen kalo chat ma dia (menurutnya ukurannya 38).

Karena kita sering chat akhirnya kita berdua menjadi sangat akrab, dia menceritakan kehidupannya serta masalah-masalahnya salah satunya ia sedang merasa sedih karena pacarnya selama 5 tahun terakhir ini tiba-tiba saja memutuskannya tanpa ada penjelasan yang jelas. Kebetulan saat itu pun aku juga tengah patah hati sehingga kita semakin merasa cocok (ngerasa senasib hehehehe:)) Begitu akrabnya hingga kita berdua saling tukar nomer hape dan saling berteleponan :)

Akhirnya setelah chat dan bertelponan beberapa waktu Ina memintaku untuk menemaninya menemui pacarnya tersebut dikotanya tempat tinggalnya. Oh ya Ina ini orang Pontianak sedangkan Dee orang Palembang dan Pacarnya Ina itu orang Jambi. Akhirnya kita rencanain buat ketemuan di Palembang dan dari sana melanjutkan perjalanan ke Jambi, memakai mobil soalnya Cuma butuh waktu +- 5 Jam dari kota tempat tinggal ku.

Pagi itu tepatnya pukul 9 dia menelepon ku dan bilang kalau dia sudah sampai di Bandara SMB II Palembang, dan meminta ku untuk menjemputnya. “Aloo…. Dee... Nih Mbak Ina!!!”, ujarnya. “Bisa Jemput Mbak di Bandara, mbak udah nyampe nih”, pintanya dengan suara yang sangat lembut. “Ok Mbak!! Dee udah ada di Parkiran tunggu sebentar ya,” ujarku padanya. “Iya Mbak tunggu ya,”katanya dengan gugup sebab ini pertama kalinya dia bepergian jauh sendirian.

“Mbak Ina ya,” tegurku padanya, walau sering webcam ini merupakan pertemuan ku dengannya ternyata dia cukup cantik dan mengairahkan, ditambah lagi dia saat itu memakai kaos putih ketat yang membuat dadanya yang besar itu terlihat begitu mempesona:). “Iya, kamu Dee ??,” tanyanya sambil tersenyum. “Bener mbak, aku Dee” jawabku lagi, setelah berbasa-basi dan menanyakan kepadanya apakah kami berdua langsung berangkat ke Jambi berdua “Bagaimana mbak kita langsung berangkat atau mbak istirahat dulu??,” tanyaku. “Langsung aja Dee mbak dah ngak sabar mau ketemu dengan pacar mbak!!!” jawabnya.





Jadilah siang itu kami berdua berangkat ke Jambi dengan menyewa sebuah mobil yang ku kendarai sendiri , didalam perjalan kami saling bercerita dan menatap (yang menyebabkan aku ngak konsen nyetir aja, karena setiap melihatnya mataku selalu tertuju kearah dadanya yang besar, tapi aku coba buang semua pikiran kotorku padanya sebab ku masih coba menghormatinya). Setelah cukup lama diperjalanan akhirnya kami sampai di Jambi saat itu sudah jam tujuh malam, kami kemudian memutuskan untuk berhenti makan. Selesai makan malam di warung makan sederhana, kami segera mencari losmen kecil supaya pengeluaran dapat dihemat. Rencananya, besok pagi baru kami keliling mencari rumah pacarnya tersebut karena diapun belum pernah kesana. Awalnya kami ingin menyewa dua kamar tapi malam itu ternyata kamar yang tersisa tinggal satu buah, dan kamar itupun adalah satu kamar dengan ranjang yang muat untuk dua orang. Setelah berdiskusi dan ditambah lagi malam semakin larut dan kami udah mengantuk, sehingga kami tidak berpikir macam-macam dan menerima kamar itu. Cukuplah untuk tempat kami istirahat malam itu.



Begitu masuk kamar, Mbak Ina langsung bergegas mandi karena sangat lelah dan ingin segera tidur. Perjalanan sepanjang siang tadi memang melelahkan karena cukup lama aku menyetir mobil dan lagi Mbak Ina juga terlihat cukup lelah karena perjalanannya lumayan jauh (Perjalanan di Pesawat dari Pontianak + di Mobil ke Jambi). Aku pun segera mengunci pintu kamar dan jendela-jendela rapat-rapat, takut nyamuk masuk, lalu menyiapkan peralatan mandi. Tidak lama Mbak Ina keluar dari kamar mandi, mengenakan kimono batik sebatas paha sambil mengeringkan rambut sehabis keramas.



"Mbak Ina tidur dulu, Dee, cape sekali," katanya sambil naik ke ranjang, memilih tempat yang mojok ke tembok, mengatur bantal di sisi kiri lalu membaringkan tubuhnya. Waktu itu masih sekitar jam 8 malam.

"Silahkan Mbak Ina, aku juga mau mandi dulu," jawabku sambil masuk ke kamar mandi. Air dingin segera menyegarkan tubuhku yang berkeringat.



Tidak sampai 15 menit aku mandi keramas, menggosok gigi lalu pakai celana pendek dan t-shirt. Ketika keluar dari kamar mandi kulihat Mbak Ina sudah tertidur pulas. Fisik wanita memang tidak sekuat pria, padahal kalau dihitung justru aku yang lebih lelah karena aku harus menyetir lama.

Setelah selesai berbenah, aku pun segera mematikan lampu kamar lalu menyalakan lampu kamar mandi dan membuka pintunya sedikit, sehingga sebagian sinarnya masuk ke kamar. Meski hanya redup cukuplah untuk membuat suasana tidak gelap pekat. Kubaringkan diri di sebelah Mbak Ina. Kipas angin kecil di atas ranjang terus berputar dan tidak lama kemudian aku pun terlelap.



Jam dinding kamar losmen menunjukkan jam 11 malam ketika mendadak aku terbangun karena rasa panas yang luar biasa menerpaku, badanku berkeringat banyak sekali. Kipas angin kecil di langit-langit kamar ternyata tidak mampu menghalau udara panas kota Jambi. Maka aku segera bangkit dan melepas t-shirt, mengeringkan keringat dengan handuk lalu kembali ke ranjang dengan telanjang dada. Namun, begitu kembali ke atas ranjang, pandanganku terpaku pada sebatang paha gempal milik Mbak Ina yang samar-samar terlihat di antara redupnya sinar lampu kamar mandi.



Posisiku tidur di sebelah kanan Mbak Ina, dan sekarang kimono Mbak Ina tersibak pada bagian paha kanannya, sampai kelihatan CD-nya! Perlahan aku bangkit dan menguakkan pintu kamar mandi lebih lebar lagi sehingga sinar lampu masuk makin terang dan pemandangan menggairahkan itu semakin jelas. Paha yang masih gempal menggairahkan dan gundukan di balik CD-nya benar-benar membuatku panas dingin. Pikiran kotor kembali muncul di benakku, melihat kemolekan milik Mbak Ina itu, tubuhku jadi merinding. Kutelan ludah beberapa kali sambil membayangkan aku menggeluti tubuh polos wanita bertinggi sekitar 152 cm dan berdada besar itu.



Pelan kubaringkan tubuh di sisi Mbak Ina yang tidur telentang dan, entah ada dorongan apa, pelan-pelan kugeser dan kutempelkan paha kiriku yang hanya bercelana pendek ke paha kanan Mbak Ina yang terbuka. Kalau dia terbangun, aku akan berpura-pura tidur, pikirku nakal. Tapi ternyata dia tidak bangun. Aku pun semakin berani. Tempelanku di pahanya semakin lekat, bahkan tubuhku yang telanjang dada pun beringsut mendekatinya. Tidak ayal zakarku mulai ereksi. Nafsu syahwatku mulai naik. Kuamati kimono Mbak Inaku dan kucari tali pengikatnya di bagian pinggang. Tanganku bergerilya melepas ikatan kimono itu dan beruntung simpulnya dengan sekali tarik terlepas.



Hati-hati kusibakkan bagian depan kimono Mbak Ina ke kiri dan kanan dan.. gila, tubuh Mbak Ina begitu mengundang nafsu untuk menggelutinya. Dia ternyata tidak ber-BH! Dua gunung gempal montok menantang dan merangsangku. Zakarku bergerak-gerak dan aku pun beringsut-ingsut melepas celanaku luar-dalam, hingga bugil-gil.



Dengan gaya pura-pura tidur aku semakin melengketi Mbak Ina. Udara panas membuat tubuhku dan tubuh Mbak Ina sama-sama berkeringat. Dengkurnya yang halus terdengar dekat sekali ketika kepala kami berdekatan. Seperti orang menggeliat, dengan nekat aku bergerak memeluk Mbak Ina. Tanganku mengenai payudaranya yang kira-kira berukuran 38B mengkal, padat dan kaki kananku berada di sela-sela pahanya. Otomatis penisku tertekan di batang paha kanannya. Kubiarkan posisi ini beberapa saat sambil menunggu reaksinya. Ternyata Mbak Ina cuma melenguh kecil dan bergerak-gerak sedikit namun tetap tidur.



Aku bertambah berani, payudara kiri Mbak Ina kuusap-usap pelan dengan tangan kanan dan tubuhku semakin condong menelungkupinya. Namun tidak berapa lama kemudian Mbak Ina menggeliat, meregangkan badan dan sekonyong-konyong justru berguling ke arahku. Aku mengikuti arah gerakannya dan jadi gelagapan karena tubuh Mbak Ina yang lebih besar dariku sekarang malah yang menindihku. Aku telentang dan terasa buah dada besar Mbak Ina menekan dadaku. Anehnya, Mbak Ina tetap masih tidur. Maka 'rejeki' ini pun tidak kutolak.



Aku justru mengatur posisi tubuh Mbak Ina, kupeluk dan kugeser tubuh montok itu sehingga ia kini benar-benar tepat di atasku, menelungkupiku dengan wajahku di sekitar lehernya. Tangan kiriku memeluknya, sementara tangan kananku pelan-pelan melepas kimononya ke belakang. Mbak Ina nampak pulas sekali sehingga tidak merasa ketika kimononya kulolosi. Bahkan ketika kedua lengannya bergantian kuangkat untuk memudahkanku melepasnya dari kimono, ia tidak bereaksi.



Sebentar kemudian Mbak Ina sudah tinggal berbalut CD saja. Pelukan kiriku tambah erat, sementara tangan kananku bergerak lincah ke arah bawah, menelusup ke balik CD-nya. Pantat gempalnya kuremas, Mbak Ina hanya menggelinjang dan mendesah kecil, "Mmm.. mm.." Matanya tetap terpejam. Semakin berani, CD-nya mulai kuturunkan dengan bantuan tangan kiri juga. Untuk ini aku terpaksa harus mengangkangkan pahaku menahan kedua paha Mbak Ina, melepaskan CD Mbak Ina pelan-pelan sampai sekitar paha lalu menurunkannya dengan bantuan jari kakiku sampai lepas ke bawah.



Kemudian kuatur posisi zakarku sehingga terjepit paha Mbak Ina. Kutambah dengan jepitan di paha Mbak Ina, ugh.. nikmat sekali rasanya. Sejauh ini, entah pura-pura entah tidak, Mbak Ina tetap terlelap, sehingga aku pun kian brutal. Kupeluk erat tubuh atasnya, kujilati payudaranya, kugerak-gerakkan zakar tegangku sambil sedikit kuhentak-hentakkan pinggulku ke atas sehingga zakarku di sela-sela pahanya ikut merasakan nikmat.



Lama-lama aku tidak tahan lagi dan ingin segera membenamkannya ke vagina Mbak Ina. Perlahan tubuhnya kudoDeeg sampai telentang dan kutelungkupi. Pahanya kukangkangkan lebar-lebar, kucium-cium dan kujilat-jilat vaginanya. Lalu zakarku yang sudah tegang penuh kuhunjamkan agak kasar ke lubang nikmat itu. Begitu sudah melesak seluruhnya, aku pun segera menggenjot sekuat-kuatnya. Aku tidak perduli lagi apakah Mbak Ina mau bangun atau tidak, yang penting syahwatku tersalur!



Sleb.. sleb.. sleb.. aku terus memompa. Tangan Mbak Ina kiri kanan kupegang merentang di atas kepala dan mulutku asyik menjilati payudaranya. Uh.. uh.. uh.. kurasakan tenaga Mbak Ina berusaha memberontak namun aku tetap menekannya sehingga ia hanya dapat melenguh dan menggelinjang kecil dengan mata tetap terpejam.



Beberapa menit kemudian kurasakan pahaku yang sedang memompa dijepit erat-erat paha Mbak Ina, lalu pantatnya terangkat tinggi dan berkejat-kejat beberapa kali sampai zakarku terasa diremas-remas, lalu terasa basah. Setelah sekali lagi pahanya menjepit ketat pahaku dan mengejat-ngejat tiga kali, dia jadi layu. Kedua pahanya tergolek ngangkang ke kiri-kanan. Tangannya yang masih kupegang pun lalu terasa lemas.



Aku melepaskannya, lalu melanjutkan pompaanku sambil memeluk punggung dan menyedot-nyedot buah dadanya kiri-kanan. Matanya tetap terpejam sambil tubuhnya terguncang-guncang naik turun, terus sampai akhirnya aku orgasme dan zakarku terbenam dalam di vaginanya. Tubuhku pun lemas lunglai ambruk menindihnya. Mataku berat dan mengantuk sekali setelah itu.



Aku terbangun lagi ketika jam dinding menunjukkan sekitar jam dua pagi dan mendapati tubuh kami masih pada posisi semula. Aku menelungkup di atas tubuh Mbak Ina. Dia pun masih tertidur dengan dengkur halusnya. Di luar masih gelap, dalam kilasan cahaya dari kamar mandi kuamati wajah Mbak Ina yang berkesan kuat dengan alis tebal. Aku jadi ingin mencium bibirnya yang agak tebal.



Pelan kunaikkan tubuhku yang lebih pendek dari tubuhnya. Kukecup-kecup kecil bibirnya sebentar, lalu kutempelkan bibirku di bibirnya. Lidahku menguak bibir itu, menyeruak di sela-sela giginya, menerobos masuk lalu menjilati lidah Mbak Ina. "Emm.. emm..," Mbak Ina melenguh kecil dan kurasakan lambat laun mulai ada balasan jilatan pada lidahku.



Tubuh bagian pinggul Mbak Ina bergerak-gerak kecil sehingga zakarku pun mulai mengembang lagi. Tanganku pun mulai beraksi meremas dua bongkah daging kenyal di depan dadaku. Entah kenapa, sampai saat ini Mbak Ina tetap tidak mau membuka matanya. Malukah dia bersetubuh dengan ku?



Aku tidak perduli, terserah dia mau buka atau tutup mata, toh yang penting aku dapat menyalurkan syahwat tanpa gangguan! Zakarku sudah menegang besar kembali, kedua kakiku segera membuka paha Mbak Ina lebih lebar dan.. sleeb, masuklah kembali burungku ke sangkarnya yang mulai terasa licin. Gerakan maju-mundur, naik-turun, masuk-keluar pun mulai kulakukan, sambil tangan tetap meremas-remas payudaranya, sambil lidah kami tetap bergelut. Malah kali ini terasa kedua tangan Mbak Ina memeluk dan menekan leherku. Nikmat sekali. "Egh.. egh.. egh..!" desis bibir Mbak Ina yang setengah terbuka.



Aku bergerak keluar-masuk dengan santai, demikian pula pinggul Mbak Ina yang sesekali ikut mengimbangi gerakanku dengan gerakan berputar atau terangkat. 15 menit sudah kami bergerak berirama dan lagi-lagi mendadak kedua kaki Mbak Ina memeluk pahaku erat-erat, lalu pinggulnya terangkat tinggi-tinggi dan berkejat-kejat lima enam kali. Sebelum akhirnya kembali melemas di atas ranjang. Aku mengira-ngira, pasti Mbak Ina mengalami seperti yang kualami tadi, dan kini pun aku mulai tidak tahan untuk mengeluarkan sesuatu dari batanganku.



Kupercepat gerakanku, semakin kasar mencumbu vagina Mbak Ina, semakin gemas meremas payudaranya, semakin kuat bibir dan lidahku mengulum mulutnya, sampai akhirnya.. creet sekali (pantatku berkejat dua kali).. creet kedua kali (pantatku berkejat lagi dua kali).. creett lagi (pantatku berkejat empat kali).. creet creet cret (pantatku berkejat-kejat keras sampai menekan vagina Mbak Ina dalam-dalam). Habis tuntas rasanya seluruh cairanku. Lemah lunglai badanku terkapar di atas tubuh Mbak Ina. Kami tidak perduli dengan badan yang bersimbah keringat hingga seprei ranjang basah kusut.



"Cukup, Dee..!" bisik Mbak Inaku sambil mendorongku dari atas tubuhnya. Aku agak kaget mendengar suaranya dan segera menggulirkan diri ke samping kanannya. Kuperhatikan Mbak Ina segera memunggungiku sambil menekuk kedua kakinya, sehingga badannya bongkok udang, tetap telanjang dan berkeringat. Aku juga telentang ngos-ngosan, telanjang dan berkeringat. Sejurus kemudian kami pun tertidur lagi.

Jam lima pagi, aku terjaga lagi. Kali ini terasa agak dingin dihembus kipas angin dari atas. Kuambil selimut sambil melihat Mbak Ina yang masih berposisi telanjang bongkok udang. Hal ini menarikku untuk memeluknya dari belakang. Kutebarkan selimut lebar itu hingga menutupi tubuh kami berdua. Tangan kiri kusisipkan di bawah badannya dan tangan kananku kupelukkan melingkupi dadanya. Pinggulku kulekatkan ke arah pantatnya, sehingga otomatis zakarku menempel di situ pula, di sela-sela paha belakangnya.



Dasar darah mudaku masih panas, sejenak kemudian burung kecilku sudah jadi 'garuda' perkasa yang siap tempur lagi. Kugerak-gerakkan menusuki sela-sela paha belakang Mbak Ina. Tanganku pun tidak tinggal diam dan mulai memelintir puting Mbak Ina kiri-kanan seraya meremas-remas gumpalan kenyal itu. Kontan mendapat perlakuan seperti itu Mbak Inaku terbangun dan bereaksi.



"Sudah, Dee..! Jangan lagi..!" tubuh Mbak Ina beringsut menjauhiku, namun aku tetap memeluknya erat.

Bahkan dengkulku sekarang berupaya membuka pahanya dari belakang. Mbak Ina beringsut menjauh lagi dan kedua tangannya berusaha melepas pelukanku.

"Jangan, Dee..!" rintihnya sambil tetap membelakangiku.

"Tapi, tadi kita sudah melakukannya, Mbak?" tanyaku tidak mengerti. Pelukanku tetap.

"Ya. Ta.. tadi Mbak.. khilaf.."

"Khilaf..? Tapi kita sudah melakukannya sampai dua kali Mbak?" aku tidak habis mengerti.

Kulekatkan lagi zakarku ke pantatnya. Mbak Ina menghindar.



"Ii.. ya, Dee. Mbak Ina tadi benar-benar tak mampu.. menahan nafsu.. Mbak Ina belom pernah melakukan ini (mendengar hal itu tentu saja aku kaget karena itu artinya aku telah memperawaninya). Dan sekarang kamu merangsang Mbak Ina sampai Mbak Ina terlena."

"Masak terlena sampai dua kali?" ujarku sembari mencoba menenangkan diri.

"Yang pertama memang. Mbak Ina baru terbangun setelah.., Dee mem.. memasuki Mbak. Mbak Ina mau melawan tapi tenagamu kuat sekali sampai akhirnya Mbak Ina diam dan malah jadi terlena."



"Kalau yang kedua, Mbak..?" tanyaku ingin tahu sambil mendekap lebih erat. Mbak Ina menghindar dan menepisku lagi. "Kamu mencium bibir Mbak Ina. Di situ lah kelemahan Mbak, Dee. Mbak selalu terangsang kalau berciuman.." . "Oh, kalau begitu Mbak Ina kucium saja sekarang ya..? Biar Mbak Ina bernafsu lagi." pintaku bernafsu sambil berupaya memalingkan wajah Mbak Ina. Tapi Mbak Ina menolak keras. "Jangan, Dee..! Sudah cukup. Kita jangan berzinah lagi. Mbak merasa berdosa. Hik.. hik.. hik.." Mbak Ina terisak. Aku jadi mengendurkan serangan, meski tetap memeluknya dari belakang.



Kemudian kami terdiam. Dalam dekapanku terasa Mbak Ina sedang menangis. Tubuhnya berguncang kecil. "Ya sudah, Mbak . Sekarang kita tidur saja. Tapi bolehkan Dee memeluk Mbak Ina seperti ini..?" Tidak kuduga Mbak Ina justru berbalik menghadapku sambil membetulkan selimut kami dan berkata, "Tapi kamu harus janji tak akan menyetubuhi Mbak lagi kan, Dee?" , "Iya, Mbak. Aku janji.., anggap saja Mbak Ina sekarang sedang memeluk adik Mbak sendiri."



Sekilas kulihat bibir Mbak Ina tersenyum. Di bawah selimut, aku kembali memeluknya dan kurasakan tangan Mbak Ina juga memelukku. Buah dada besarnya menekan dadaku, tapi aku mencoba mematikan nafsuku. Zakarku, meski menyentuh pahanya, juga kutahan supaya tidak tegang lagi. Wajah kami berhadap-hadapan sampai napas Mbak Ina terasa menerpa hidungku. Matanya terpejam, aku pun mencoba tidur.



Mungkin saking lelahnya, dengan cepat Mbak Ina terlelap lagi. Namun lain halnya dengan aku. Terus terang, meski sudah berjanji, mana bisa aku mengekang terus nafsu birahiku, terutama si 'garuda' kecilku yang sudah mulai mengepakkan sayapnya lagi. Dengan tempelan buah dada sebesar itu di dada dan pelukan hangat tubuh polos menggairahkan begini, mana bisa aku tidur tenang? Mana bisa aku menahan syahwat? Jujur saja, aku sudah benar-benar ingin segera menelentangkan Mbak Ina, menusuk dan memompanya lagi!



Tapi aku sudah janji tidak akan menyetubuhinya lagi. Mestikah janji ini kuingkari? Apa akal? Bisakah tidak mengingkari janji tapi tetap dapat menyebadani Mbak Ina? Benakku segera berputar, dan segera ingat kata-kata Mbak Ina tadi bahwa dia paling mudah terangsang kalau dicium. Mengapa aku tidak menciumnya saja? Bukankah mencium tidak sama dengan menyetubuhi?



Ya, pelan tapi pasti kusisipkan kaki kiri di bawah kaki kanan Mbak Ina, sedang kaki kananku kumasukkan di antara kakinya sehingga keempat kaki kami saling bertumpang tindih. Aku tidak perduli zakarku yang sudah jadi tonggak keras melekat di pahanya. Kurapatkan pelukan dan dekapanku ke tubuh Mbak Ina, wajahku kudekatkan ke wajahnya dan perlahan bibirku kutautkan dengan bibirnya.



Lidahku kembali berupaya memasuki rongga mulutnya yang agak menganga. Aku terus bertahan dengan posisi erotis ini sambil agak menekan bagian belakang kepala Mbak Ina supaya pertautan bibir kami tidak lepas. Dan usahaku ternyata tidak sia-sia. Setelah sekitar 30 menit kemudian, tubuhku mulai pegal-pegal, kurasakan gerakan lidah Mbak Ina. Serta merta gerakannya kubalas dengan jilatan lidah juga.

"Emm.. emm.. mm.." desis Mbak Ina sambil membelit lidahku.



Kepalanya kutekan makin kuat dan aku berusaha menyedot lidahnya hingga masuk ke mulutku. Kukulum lidahnya dan kupermainkan dengan lidahku. Kusedot, kusedot dan kusedot terus sampai Mbak Ina agak kesakitan, lalu kubelit-belit lagi dengan lidahku. Ya, silat lidah ini berlangsung cukup lama dan ketika tanpa sengaja pahaku menyenggol vagina Mbak Ina, terasa agak basah. Pasti Mbak Ina terangsang, pikirku. Tapi aku tidak mau memulai, takut melanggar janji. Biar Mbak Ina saja yang aktif.



Maka aku pun berusaha menambah daya rangsang pada diri Mbak Ina. Pelan tangan kirinya kubimbing untuk menggenggam zakarku. Meski mula-mula enggan, tapi lama kelamaan digenggamnya juga 'garuda perkasa'-ku. Bahkan dipijit-pijit sehingga aku pun menggelinjang keenakan.

"Shh.. shh..!" desisku sambil mengulum lidahnya.



Tangan kananku, setelah membimbing tangan kiri Mbak Ina menggenggam zakarku lalu meneruskan perjalanannya ke celah paha Mbak Ina yang sudah basah. Kusibakkan rambut-rambut tebal itu, mencari celah-celah lalu menyisipkan jari telunjuk dan tengahku di situ. Kugerakkan ke keluar-masuk dan Mbak Ina mendesis-desis, genggamannya di zakarku terasa mengeras. Aku tidak tahan lagi.



"Masukin ya, Mbak?" bisikku, lupa pada janjiku.

"Ja.. jangan, Dee..!"

"Ak.. aku nggak tahan lagi, Mbak..!" pintaku.

"Di.. dijepit paha saja ya, Dee..?"

Tanpa kusuruh, Mbak Ina lalu telentang dan mengangkangkan pahanya. Pelan aku menaikinya. Mbak Ina membimbing zakarku di antara pahanya sekitar sejengkal di bawah vagina, lalu menjepitnya. Ia menggerak-gerakkan pahanya sehingga zakarku terpelintir-pelintir nikmat sekali.



Payudara besar Mbak Ina menekan dadaku juga. Tangan kiriku mengutil-ngutil puting kanannya. Ciuman ke bibirnya kulanjutkan lagi, jemari tangan kananku juga terus berupaya memasuki vagina Mbak Ina dan mengocoknya.

"Heshh.. heshh.. Dee.. mm..," Mbak Ina sulit bicara karena mulutnya masih kukulum.

"Tanganmu.. Dee..!" tangan kanan Mbak Ina berusaha menghentikan kegiatan tangan kiriku di putingnya, sedang tangan kanannya berusaha menghentikan kegiatan jemari kananku di vaginanya.



Dipegangnya jemariku. Aku hentikan gerakan, tapi tiga jari tetap terendam di vagina basah itu dan kukutil-kutil kecil. Sampai Mbak Ina tidak tahan dan mengangkangkan sedikit pahanya hingga jepitan pada zakarku terlepas. Cepat kutarik jemariku dari situ dan kunaikkan sedikit tubuhku sehingga sekarang ganti zakarku berada di pintu gerbang nikmat itu. Kepalanya malah sudah menyeruak masuk.



"Hshh.. Dee, jangan dimasukkan..!" Mbak Ina buru-buru memegang zakarku, digenggamnya.

"Tapi aku sudah nggak tahan Mbak .." desisku.

"Cukup kepalanya saja, Dee.. dan jangan dikocok..!" Mbak Ina memperketat genggamannya, sementara aku semakin memperderas tekanan ke vaginanya.

"Ii.. ingat janjimu, Dee..!"

"Ta.. tapi Mbak Ina juga ingin kan?" tanyaku polos.

"Ii.. iya sih, Dee. Mbak juga sudah nggak tahan. Tapi ini zinah namanya."

"Apa kalau tidak dimasukkan bukan zinah, Mbak ?" tanyaku bloon.

"Bu.. bukan, Dee. Asal burungmu tidak masuk ke vagina Mbak , bukan zinah.." aku jadi bingung.

Terus terang tidak mengerti definisi zinah menurut Mbak Ina ini.



"Kalau begitu, apa Mbak Ina punya jalan keluar? Kita sudah sama-sama terangsang berat. Tapi kita nggak mau berzinah."

"Egh.. gini aja Dee. Mbak akan.. ugh.. mengulum punyamu. Turunlah sebentar..!"

Dan aku pun menurut, turun dari atas Mbak Ina dan telentang. Mbak Ina bangkit lalu memutar badannya dan mengangkangiku. Mulutnya ada di atas zakarku dan vaginanya di atas wajahku. Kurasakan ia mulai menggenggam dan mengulum 'garuda perkasa'-ku. Dikulum dan digerakkan naik turun di mulutnya.



Shiit.. hsshh.. nikmat sekali. Jemariku segera menangkap pinggulnya yang bergerak maju mundur dan segera kuselipkan empat jari kanan ke vaginanya. Kugerakkan cepat, malah agak kasar, keluar masuk sampai basah semua.

"Ugh.. uughh.. uagh.. Dee..! Dee, Mbak mau keluar, mm.. mm.." Mbak Ina terus mengulum sambil meracau.

Sekejap kemudian tubuhnya berhenti bergerak, lalu pinggul yang kupegangi terasa berkejat-kejat. Kemudian cairan hangat membanjiri tanganku dan sebagian menetesi dadaku. Kurasakan cairan itu seperti air maniku hanya lebih encer dan bening.



Mbak Ina kemudian terkapar kelelahan di atasku dengan posisi mulutnya tetap mengulum zakarku sambil mengocoknya. Tidak berapa lama, aku pun merasa mau keluar.

"Egh.. egh.. Mbak . Aku mau keluar..!" Mbak Ina malah mempercepat kocokannya dan memperdalam kulumannya.

Aku berkejat dan muncrat memasuki mulut Mbak Ina dan ditelannya, semuanya habis ditampung mulut Mbak Ina. Akhirnya aku pun lemas dan ikut menggelepar kelelahan.



Tangan-kakiku terkapar lemas ke kiri-kanan. Mbak Ina juga terkapar kelelahan namun mulutnya masih terus menjilati zakarku sampai bersih, barulah kemudian dia berbalik dan memelukku. Wajah kami berhadapan, mata Mbak Ina merem-melek.



"Kalau yang barusan ini bukan zinah Mbak ?" tanyaku lagi.

"Bukan, Dee.. karena kamu tidak memasukkan burungmu ke vagina Mbak Ina." jawabnya sambil mata memejam.

Aku tidak tahu apakah jawabnya itu benar atau salah. Namun, setelah kupikir-pikir, aku lalu bertanya lagi, "Jadi kalau begitu, boleh dong kita melakukan lagi seperti yang barusan ini, Mbak ?"

"He-eh.." jawabnya sambil terkantuk-kantuk kemudian dengkur kecilnya mulai terdengar lagi.



Jam enam pagi waktu itu. Aku pun segera menebarkan selimut lagi di atas tubuh polos kami dan memeluknya dengan ketat. Rasanya aku tidak mau melepaskan tubuh Mbak Ina walau sekejap pun. Persetan dengan tujuan semula. Sengaja aku juga tidak mengingatkan Mbak Ina akan tujuan kami sebenarnya. Aku malah berharap menginap lagi semalam, biar ada kesempatan bersebadan dengan Mbak Ina lebih lama lagi. Sepanjang hari ini aku mau bercumbu terus dengan Mbak Ina, sampai spermaku keluar sepuluh kali lagi! Begitu angan-angan jorokku.



Ya, akhirnya memang kami hari itu tidak keluar kamar dan memperpanjang menginap sehari lagi. Selama di dalam kamar, di atas ranjang, kami tidak pernah mengenakan pakaian barang selembar pun. Hampir setiap tiga jam sekali aku dan Mbak Ina sama-sama mengalami orgasme, meskipun hanya pakai bantuan tangan atau mulut dan lidah.



Jam delapan pagi, sebelas, dua siang, lima sore, delapan malam, sebelas malam, dua pagi, lima pagi dan delapan paginya lagi kami selalu terkejat-kejat dan orgasme hampir bersamaan. Selama itu memang Mbak Ina masih selalu ingat untuk menolakku yang ingin memasukkan penisku ke vaginanya, dan aku pun menurutinya.



Namun, akhirnya Mbak Ina terlena dan aku pun bebas memasukkan penisku ke vaginanya. Aku sungguh puas dibuatnya. Namun tiba-tiba ada suara alarm yang sangat keras KRIIIINNGG!!!!!!!!!!!!!!!! KRIIIINNGG!!!!!!!!!!!!!!!!, “Hmm.. Nyemm… Nyem..,” aku terbangun dari tidur aaahh… ternyata semua yang kualami hanya mimpi. Haaah…. Semoga ini jadi kenyataan…

Nenek Tetanggaku

Kami baru saja pindahke kawasan itu. Kasawan perumahan yang segala sesuatunya serba sendiri-sendiri. Tak seorang mau mengusik yang lain. Saat aku bersama dua orang buruh mengangkati barang-barang rumah kami, tiba-tiba seorang perempuan setengah baya datang menghampiri dan menegur ayah-ibuku. SEbagai tetangga baru, tentu ayah dan ibu sangat ramah kepada perempuan itu.



Akhhirnya aku memangilnya nenek. Nek Bilah, begitu panggilankami. Dia seoprang janda berana empat, kesemuan anak-anaknya sudh berumah tangga. Itu sebabnya dia kami panggil nenek. Anak-anaknya jauh di kota lain. Itu pula sebenya dia mendekatkan diri kepada kami, agar kami tetangganya adalah saudara terdekatnya. Bila ada apa-apa pada si nenek, kami tetangga yang lebih dulu menolongnya.

Aku suka menolongnya menyirami bunga-bunga yang banyak sekali di halaman rumahnya. Anggrek berwarna-warni dengan berbagai jenis. Demikian pula tanaman lainnya. Ibu dan ayahku pun senang melihatku menolongi si nenek yang selalu makai daster di rumah. Umurnya 53 tahun. Tubuhnya masih sehat dan kelihata segar bila dibandingkan dengan teman-temannya sebaya. Setiap dia menggoreng singkong atau membuat kue-kue apa saja, orang yang pertama yang diberikannya adalah aku. Dia tak segan-segan memanggil namaku, kemudian menyerahkan sepiring kue masakannya untk kami cicipi sekeluarga. Ayah dan ibu pun bila membeli kue dari pasar, selalu memberinya, bahkan oleh-oleh setiap kali ibu dan ayahku ke luar kota.


Aku sering kali tidur-tiduran pada gazebo mungilnya di samping rumah sembari membaca buku-bukukuliahku. Biasanya, aku jugamembawa laptop ke gazebo itu. Sore itu, Nek Bilah baru saja usai mandi. Terpancar dari aroma sabun di tubuhnya. Aku masih tiduran di gaezebonya. Terkadang aku hanya melompat pagar saja, kalau aku malas masuk dari gerbangnya. Biasanya si nenek tertawa saja, dan ibuku hanya bilang, hati-hati melompat, nanti terkilir. Kali ini aku sengaja tiduran pakai kain sarung saja dan kaos oblong.

Nek Bilah datang. Dia memijiti betisku pakai vaseline.
"Enak nek, terus dong?" kataku. Ibuku malah nyeletuk dari seberang pagar.
"Enak aja nyuruh orang tua. Kuwalat baru tahu?" kata ibuku.
"Ya.. gak apapalah" Seru nenek menimpali dan meneruskan pijatannya. Nenek memijat betisku dengan seksama. AKu menimatinya. Saat tangannya sampai ke pahaku, aku baru ingat kalau aku tidak memakai celana dalam. Kubiarkan saja, toh, nenek hanya memijat sampai betis saja, pikirku.
Nenek menyingkap sarungku, katanya biar leluasa. Nyatanya, nenek menyingkapnya terlalu tingi sampai ke pantatku. Mungkin nenek mengira aku pakai celana dalam.

"Waaaooowww... besar juga punyamu," kata nenek sembari mengelus penisku. Tak kusangka, nenek begitu berani mengelus penisku.
"Emangnya kenapa nek?" kataku.
"Apa sudah pernah dimandiin?"
"Setiap hari ya dimandiin nek<" kataku. "Maksud nenek dimandiin yang lain. Mandi enak..." katanya genit. "Oh... belum. Apa nenek mau memandiinnya?" kataku nakal pula. "Ikh... kamu, kok mau sama nenek-nenek..." katanya. "Nenek dan gadis sama saja. Yang pentingkan rasanya," aku menimpali semakin berani. Nenk Bilah diam. Kontolku terus dielusnya pakai vaseline. Tentu saja semakin keras. "Sudah, sekarang terlentang," katanya.

Aku mengikutinya dan menelentangkan diriku. Nek BIlang kembali memijat pahaku. Gazebonya memang terlindungi oleh pohon-pohon bunga. Jika tak diperhatikan betul-betul dan dengan sunguh-sungguh, tak seorang pun yang tahu, kalau di gazbo itu ada manusia. Termasuk dari rumahku sendiri. Itu pula menyebabkan aku menyenangi gazebo itu tempatku belajar dan mengetik kuliahku di laptopku. Nek Bilang menyingkap kain sarungku sampai ke pusat dan jelas-jelas kontolku beridir dalam elusannya terlihat jelas. "Enak?" Nek Bilang bertanya setengah berbisik. Aku mengangguk. Kulihat Nek Bilang melepaskan celana dalamnya.







Setelah matanya celingak-celinguk ke kiri dan kanan, depan dan belakang, dia menaiki tubuhku dan mengangkangiku. Aku diam saja. Diangkatnya dasternya dan dituntunnya kontolku memasuki lubang memeknya. Sebelumnya dia lumuri vaseline dulu di bibir memeknya. Setelah ujung kontolku kena persis di antara kedua bibir memeknya, dia menekan tubuhnya dari atas, lalu melesatlah kontolku ke dalam memeknya. Terasa hangat di dalam lubang memek nek Bilah. Untuk pertama kali kontolku mengeram dilubang nikmat. Nek Bilah seakan mengurut dadaku. Pintar betul nenek ini bersandiwara memerankan seperti tukan pijat, bisik hatiku. Pantatnya yang besar memenuhi pahaku. Aku memejamkan mataku. Goyangannya semakin menjadi-jadi dan semain cepat. AKu merasa nikmat bukan kepalang.

"Kontolmu memang besar dan panjang. Keras lagi," kata Nek Bilang to the point. Dia tidak memilah kata lagi. Mulutnya mulai cakap kotor. Kontol bagus, katanya setengah berbisik. AKu tak mau kalah. MEmek nenek juga enak, walau sudah tua. Goyangan nenek juga hebat. Kapan saja nenek mau kontolku, nenek boleh kode aku, kataku. Dia tersenyum. Aku kenikmatan dan aku tak mampu berbuat apa-apa selain mendiamkan saja goyangannya. Tiba-tiba croot...crooot...croooooottttt. Sepermaku muncrat memenuhi lubang Nek Bilah. Dia semakin mempercapat goyangannya dan menindihku kuat-kuat dan menicum leherku. Nenek juga sampai.... katanya. Sejak itu, atas sarannya, jika aku mau ke gazebo, tidak boleh pakai celana tapi harus pakai sarung dan tanpa celana dalam. Aku setuju. Sepulang kuliah dan siap makan siang aku dan menggati pakaianku dengan sarung. Kulihat Nek Bilah sembunyi memberi kode dari gazebonya. Aku ambil laptop dan menyeberang.

"Ini, kasi kue ini pada ennekmu," kata ibuku. "AKu lihat tadi Nenek naikbeca keluar. Tapi marilah, nanti kalau pulang keberikan," kataku berbohong pada ibuku. Aku membawa sebungkus kue untuk nek Bilah. Begitu aku masuk ke halaman rumahnya, kulihat nek Sumi merangkak menuju gazebonya. Aku geli melihatnya, nenek-nenek masih merangkak kaya kucing berjalan memekai kedua kaki dan kedua tangannya agar tubuhnya rendah dan tak kelihatan. Nek Bilah sudah pula menambah berbagai tanaman mengelilingi gazebo, hingga gazebo semakin rindang dan susah untuk dilihat.

Begitu akusampai di gazebo, nek Bilah langsung merebahkan tubuhku dan tubuhnya juga tergeletak di sampingku. Dilumurinya kontolku pakai vaselin agar licin dan dia juga melumuri kontolnya pakai vaselin. Maksudnya agar cepat kontolku memasuki lubangnya. Karean lubangnya sudah kering dan sudah menapouse, vaselin sangat membantu. Setelah kontolku keras, dia minta aku menindihnya. AKu menyucukkan kontolku ke vaginanya. "Mau yang lebih enak?" bisiknya padaku. AKu mengangguk. Dia meminta aku mencabut kontolku dari memeknya. Dia mengambil lagi Vaselin dan melumurinya. Lalu dituntunnya kontolku.

"Tekan" katanya. AKumenekan kontolku. Kok sempit sekali. Ternyata kontolku dituntun ke lubang anusnya. Kutekan kuat-kuat secara perlahan, akhirnya kontolku jepit oleh anusnya. Wah... nikmat sekali. Sejak itu, aku lebih sering meminta lubang anus ketimbang lubang memeknya. Akhirnya ada kesepakatan. Setiap selasa, jatrahku lubang memek dan setiap jumat jatahku lubang anus. Terkadang aku yang horny. Jika demikian, aku langsung ke rumah nenek dan sebelumnya aku sudah lebih dulu mengirimkan SMS agar dia siap-siap. Walau bukan selasa atau jumat. Mungkin rabu atau kamis atau hari apa saja. Nek Bilah langsung membuka celana dalamnya dan melumuri lubang anus dan memeknya.

Terserah aku memilihnya mana. Tapi biasanya kalau sudah aku pesan melalui SMS, jatahku adalah lubang memek. Nek Bilah yang lihat dan pandai bermain sandiwara. Ternyata dia seorang aktris. Aktris ngentot.

Enak Ma...?

Aku selalu melihat mamaku termenung, saat di rumah kontrakan kami dimasuki pengantin baru. Sesekali mamaku selalu berlinangan airmata. Tapi mama selalutersenyum bila aku mendekatinya. Saat kutanya kenapa mama meneteskan airmata, dia selalu menjawab dengan senyum.

"Itu karena mama sayang kamu, Wan," katanya. AKu jadi berpikir, kalau sayang kenapa harus menangis, bisikkukepada mama.
"Kamu belum mengerti, nanti kamu akan mengerti sendiri," jawab mama. AKu justru mendesaknya untuk bercerita agar mengerti.



Satu malam, aku terbangun. Kulihat jam dinding, pukul 22.00. Kulihat mama berdiri di tempat tidur dan mengintip ke rumah sebelah melalui lubang dindin. Lampu di kamar kami sudah mati da gelap. Kecuali terlihat seberkas cahaya dari rumah sebelah. Dinding papan yang sudah tua itu menghasilkan lubang-lubang kecil. Aku jadi ingin tahu dan ikut mengintip juga. Karean keasyikan, mama tidak tahu aku ikut mengintip. Kulihat tante dan om Broto sedang asyik masyuk. AKu pernah mendengar cerita dari teman-temanku, apa itu bersetubuh dan bagaimana bersetubuh. Lalu aku dan teman-temanku melihat gambar-gambar porno. Aku pun berpikir, begitni yangdisebut bersetubuh. Kemaluanku jadi tegang, melihat tante dan Om Broto bersetubuh. Sampai akhirnya mereka berhenti bersetubuh dan menutupi dirinya pakai selimut. Mama melepaskan lubang intipannya. Saat dia mau kembali tidur, kami saling melirik. Mama jadi malu, karena tanpa sadar, aku dan mama sama-sama mengintip. Di tariknya tubuhku.
"Kamu mash kecil, kok ikut mengintip," kata mamaku. Aku diam saja, takur dimarahi.
"Sudah jangan bilang siapa-siapa," kata mamaku.
"Tapi aku mau seperti tante dan om Broto itu," kataku.
"Hussss... kamu masih kecil. Gak boleh," kata mamaku.
"Kapan baru boleh" tanyaku.
"Nanti kalau sudah mahasiswa," jawabnya. Berarti aku harus menunggu lama. Aku masih SMP kelas 3, empat tahun lagi.
"Tapi ma..."
"Sudah. Jangan brisik. Nanti kedengaran orang. Malu," mama memelukku dan menyelumutiku.


Aku tidak pernah kenal papaku. Kata mama dan nenek, papaku meninggal dunia sejak usiaku 3 tahun. Mama sengaja tidak menikah lagi, karena tak mau aku memiliki ayah tiri, walau terkadang aku iri melihat teman-temanku berjalan dengan ayah mereka.
Saat mama memelukku, aku merasakan, pentil teteknya menyingung bibirku. Kancing dasternya terlepas, mungkin.Perlahan aku mengisap pentil mama. Beberapa menit, mama melepaskan isapanku pada pentilnya. Aku kecewa. Tak lama, karean mema menggantinya dengan pentil tetek yang lain. Aku kembali mengisap pentilnya.
"Wan... apa betul kamu mau seperti tante dan om Broto tadi?" bisik mamaku.
"Iya ma. Mau. Aku mau tau. Kata teman-teman ngentot itu enak banget," bisikku pula.
"Tapi kamu tak boleh cerita kepada siapa saja. Janji," kata mama.
"Janji ma sumpah mati," bisikku pula. Mama membuka dasternya, sampai mama telanjang. Mama juga membuka pakaianku.
"Naiklah ke atas tubuh mama," katanya. Aku mengikutinya. Mama mengambil kontolku, lalu diarahkannya ke lubang memeknya.
"Tekan Wan," bisik mama. Aku mengikutinya dan menekan kontolku.
"Keluar masukkan kontol nya Wan, sambil isap-isap tetek mama," bisik mama lagi. Aku melakukannya. Mama memelukku. Kamu berpelukan. Aku terus emompa mama.

Tak tau entah berapa lama kami saling berpelukan dan saling berpelukan sembari mengisap tetek mama. Tak lama aku mengejang. Mama menjepit tubuhku dengan kakinya. Kami berpelukan.
"Tak dapat kubayangkan betapa nimatnya, saat aku melepaskan maniku di dalam tubuih mamaku. Mamaku juga memelukku kuat sekali dan menjepit tubuhku dengan kuat. Kami pun tertidur. Besoknya kami terbangun kesiangan.
Mama membawaku mandi ke kamar mandi. Kami mandi beruda. Di kamarmandi mama kembali mengingatkan aku, agar tidak menceritakan kepada siapapun. Jika aku bercerita, mama tidak akan mau lagi seperti tadi malam. Mama juga bilang, kalau aku akan diusir dari rumah dan tidak akan disekolahkan lagi. Aku berjanji.

Hari itu aku tidak sekolah dan mama juga tidak pergi kerja, karean sudah terlambat. Kami di rumah saja dan berjanji, besok harus sekolah.
Setelah sarapan pagi, mama rebahan di tempat tidur sambil membaca-baca majalah. Aku ikut rebah di sampingnya. Tetangga pada sepi, dan kami merasakan sunyi.
"Ma, boleh lagi sepertia tadi malam?" kataku. Mama tersenyum.
"Wawan masih mau?"
"Mau ma." Kembali mama tersenyum.
"Tapi janji ya, tak boleh erita kepada siapa pun." Aku mengangguk. Mama membuka pakaiannya sampai telanjang, aku juga. Kata mama sebelum begituan, kami harus berciuman dulu. Mama mengajari bagaimana berciuman. Mama juga mengajari, bagaimana menjilat memek mama. Semua diajari. Sampai aku merasakan semuanya nikmat.

"Sudah, kamu naiki tubuh mama," katanya. Aku kembali menaiki tubuh mama dan memompanya. Kami bersetubuh dua kali pada hari itu.
Sampai pada satu hari, mama menangis. Katanya dia hamil. Aku gak mengerti banyak. Tapi mama bilang semuanya akan beres. AKu tak tahu. Yang jelas, secara bisik-bisik mama dan tante Lele yang bidan diam-diam mengincu kamar. AKu tak tahu apa yang mereka kerjakan di dalam kamar. Yang kulihat, dalam waskom ada darah segar dan mama sangat lemas dan pucat. Setelah beberapa tahun aku baru t ahu, kalau ketika itu mama mengugurkan kanduangannya, karena hamil bersetubuh denganku.

Setelah mama sehat betul, Tante Lela datang lagi ke rumah.
"Pakai kontrasepsi,ya, supaya jangan hamil lagi. Aku mengerti kebutuhanmu," kata tante Lela. Kembali mereka berdua ke kamar. Kali ini, mereka keluar dengan snyum.
"Tunggu seminggu baru boleh." kata Tante Lela. Mama menganguk.

Mama dapat rejeki. Kami pindah rumah KPR BTN type 36. Setelah pindah rumah itu, dua minggu kemudian aku ujian akhir dan lulus. Aku masuk SMU tak jauh dari rumah dan tempat kerja mama juga tak jauh dari rumah.
Di rumah baru, kami melakukannya sampai aku sarjana. Tak ada lagi yang kami takuti. Mama juga sudah operasi kecil, hingga tak mungkin hamil lagi.
Sampai aku bekerja, dan aku kini sudah menikah. Tapi setiap sekali seminggu, aku selalu memberi jatah kenikmata buat mama. Bahkan, kalau boleh aku jujur, hanya dengan mama, aku mendapatkan kepuasankuyang sejati. Tidak kepada isteriku, juga perempuan lain yang selalu kukencani. AKu suruh mama ambil pensiun, mama tetap menolak. Nanti kalau sudah masanya dipensiunkan, katanya.

Tuesday, December 1, 2009

Bersetubuh dalam Bathin

Setelah empat tahun menikah, akhirnya suamiku menikah lagi dengan perempuan lain. Akusetuju saja, karena memang aku tak mampumelahirkan seorang anakpun pada suamiku. Suami tetapmenyayangiku dan memperhatikanku. Dua kali seminggu, senin dan kamis, dia tetap tidur di rumahku. Bahkan rumah, villa, plus tiga buah ruko dan satu saloon, semua atas namaku. Dua minggu lalu, aku dibelikan duabuah ruko lagi.


AKu tetap sendirian di rumah. Pembantu, setiap pukul 17.30 dia kembali pulang ke rumahnya. Lagi pula apa yang kutakutkan. Pukul 08.00 sampai pukul 15.00 sampai pukul 22 dua satpam selalu siap menjaga rumahku. Demikian pada pukul 22.00 sampai pukul 08.00 pagi. Mereka jaga tiga kalipergantian setiap hari. Itu juga dibiayai oleh suamiku.

Minggu itu, aku memang istirahat. Biasa setiap minggu, aku luluran di rumah. Saat pelulurku pulang, saat itu adikku Rudi datang ke rumah. AKu selalu senang, jika dia datang. Selain mulutnya yang ceplas-ceplos, juga suasana rumah jadi rame.
"Ih... seksi sekali, membuat aku jadi nafsu nih..." celotehnya. Biasa dia begitu. Aku memang memakai daster mini, tipis dan tanpa bra serta celana dalam. Maklum baru luluran dan baru mandi keramas. Aku selalu menjawabnya dengan apa adanya saja, biar rame.
"Seksi dan cantik, kan?" jawabku.
"Yang jelas, aku jadi horney nih..." katanya. Aku mencibir. Usianya dua tahun di bawahku dan sudah punya seorang anak berusia 3 bulan.
"Salah sendiri, kenapa jadi horney," kataku pula.

Tiba-tiba Rudi sudah di depanku dan langsung memelukku dan mencium bibirku. Begitu buasnya dan sangat tak kusangka sama sekali.
"Tubuhmu harum sekali, mBak?" bisiknya. Bisikannya itu tiba-tiba membuatku malah jadi horney. Kubalas kecupannya yang nakal. Maksudnya, agar dia jera. Eh... malah dia semakin memelukku dan mempermainkan lidahnya dalam mulutku dan meremas buah dadaku dengan lembut. Direbahkannya aku di karpet dan dia melepas celanaya.
"Ruuddd..."

Belum sempat aku protes, Rudi adikku sudah berada di atas tubuhku dan memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Dia memompanya, membuat aku blingsatan. Mulanya aku diam saja, tapi lama kelamaan aku juga tak tahu malu dan membalasnya, sampai kami sama-sama orgasme. AKu mencium pipinya sebagai ucapan terima kasih dan dibalas dengan kecupan di keningku.

Usai membersihkan diri, kami naik ke lanai dua. Kami duduk di taman kolam renang mini di lantai dua. Kami bercerita tetantang anaknya yang sedang lucu-lucunya. Bercerita tentang usahaku yang semakin berkembang pesat dan bercerita apa saja, sampai kepada cerita politik yang sedang hangat menjelang pemilu dan ramenya tanda gambar menghiasi kota.

Sambil bercerita, Rudi terus memelukku dan mengelus-elus buah dadaku dengan lembut. Sesekali dikecupnya bibirku dan tengkukku. AKumengelus-elus kepalanya dan merangkul pingangnya. Tak sedikitpun kami membicarakan apa yang baru saja terjadi. Sampai Rudi menarikku ke pangkuannya. Kedua kakiku mengangkangi kedua kakinya yang merapat. Rudi mengeluarkan penisnya dan menurunkan celanaya sampai lutut. Ditariknya tubuhku ke bawah, sampai ujung penisnya menyentuh lubang vaginaku. Aku menekan tubuhku, sampai akhirnya semua penis adik kutertelan habis dalam lubangku. Rudi melepas dasterku ke atas dan dia juga melepas T-shirt nya. Kami berdua bertelanjang dada. Kami beepelukan tanpa kata sepatahpun. Sesekali Rudi menyelus-elus pungungku dan kublas dengan eluskan di rambutnya.
Dalam pelukan kami, dada kami sangat rapat. Aku merasakan degub jantung adikku Rudi. Pasti dia juga merasakan degup jantungku yang keras. Angin terus semilir menyapu-nyapu tubuh kami. Kami terus berdekapan dalam diam, tanpa kata.
Dan... aku merasakan semburan sperma adikku dalam rahimku saat dia memelukku kuat sekali. Aku membalas pelukannya dengan kuat pula, dan aku melepaskan kenimmatanku.

Kami telah orgasme. Tapi kami tidak melepas pelukan kami dan kamitidak mengeluarkan kata sepatah pun jua. Hanya bathin kamiyag berkata-kata. Lebih dari 20 menit selepas orgasme, kami terus berpelukan dan saling memberikan elusan, sebagai ucapan terima kasih kami masing-masing. Dan... aku merasakan ada denyut kembang-kempis dalam rahimku. Aku yakin pens Rudi telah bangkit lagi. Kami saling mengelus lagi dan sesekali mengecup leher dengan lembut. Setelah saling peluk dengan kuat, kami merasakan kekejangan pad atubuh kami masing-masing dan kembali kami orgasme untuk kedua kalinya.
Terasa olehku, penis Rudi terlepas dari lubang vaginaku. AKuturun dari pangkuannya. Rudi tersenyum padaku. Dia pergi ke tepi kolam membersihkan penisnya, kemudian pipis di tepi kolam dan memakai kembali celananya. Kami duduk kembali di tempat semula dan bercerita tentang pekerjaan Rudi di kantor konsultan arsitekturnya. Tak lama, Rudi pamit pulang dan aku mengantarnya sampai ke pintu rumah. Saat keluar pintu, Rudi kembali mengecup bibirku dengan lembut dan senyumnya. Aku membalas senyumnya pula.

Empat hari, sudah berlalu. Tiba-tiba aku meneria SMS darinya. "Siapkan SUsu Coklat dan taman kolam renang. Aku sgr ksana!"
Oh... rinduku pada adikku. kubalas segera SMS-nya:"Semua sdh siap. dtnglh."
Benar, setengah jam kemudian Rudi sudah hadir dan langsung naik ke lantai atas ke tepi kolam. Tanpa lihat sana-sini, dia melepas semua pakaiannya. Aku mengikutinya. Kami berpelukan dan saling memagut bibir dan mempermainkan lidah kami. Rudi mengisap tetekku dan meraba-raba vaginaku yang cepat basah. Dia bawa aku ke kursi di sudut taman. Duduk di sana. Di tarikntya tubuhku. Kedua telapak kakiku menghinjak ubin dan aku berada di pangkuan Rudi. Kutuntun penisnya memasuki liangku sampai amblas habis. Setelah yakin penisnya amblas, kami berpelukan tanpa gerak yang berarti, kecuali saling mengelus dan mengecup lembut. Tanpa suara tanpa goyangan. Sampai kami saling berangkulan dengan kuat dan melepaskan kenimmatan kami. Begitulah setiap kami melakukan persetubuhan. Tidak ada gaya macam-macam, kecuali diam dan berpelukan, karean sebenarnya yang bersetubuh bukan tubuh kami, tapi bathin kami.

"Rud. Dlm perutku ada anakku, keponakanmu," kukirim SMs padanya setelah planotes ke dokter.
"Jg anakku. Dia keponakanmu," jawabnya. Aku tersenyum. Kini kami telah memiliki tiga orang anak. Aku yakin betul itu adalah anaku dengan Rudi adikku, bukan dengan suamiku. Suamiku semakin sayang padaku, karena dia mengira itu adalah naknya. Rudi juga sudah memiliki tiga orang anak dari siterinya.

Bathin lebih membutuhkan yang tulus, ketimbang tubuh.

Adikku Lisa

Aku tak tahu, bagaimana haryusmemulai menceritakannya. Aku anak tertua dari lima bersaudara. Adikku yag ke lima beda usia kami sangat ajuh, berkisar 6 tahun. Saat aku sudah kelas 3 SMA adikku Lisa baru berusia 11 tahun. Dia memang anak yang sangat manja kepadaku. Lisa memang tak sempat mengenal ayah kami, karean ayah kami meningal dunia, ketika berada dalam kandungan ibu. Dari dua kakak laki-lakinya, aku tempat lisa selalu mengadeu. Menyelesaikan PR dan banyak hal. Semua tahu itu. Lisa juga sering datang ke tempat tidurku. Bagitu aku terbangun pagi, Lisa suadh berada satu selimut denganku. Dan aku selalu memeluknya, jika Lisa kedinginan.



Malam itu, Lisa datang lagi ke tempat tidurku. Dia memelukku, seperti biasanya. Aku juga memeluknya. Karean panas, malam itu, aku hanya memakai celana dalam saja lalu dilapisi selimut tipis. Saat Aku memeluk Lisa, pahaku dan paha Lisa beradu. Dan... tiba-tiba libidoku naik. Segera kukunci pintu dan kembali memeluk Lisa. Gesekan paha kami, membuatku tak menentu. Perlahan kulepaskan celana dalam Lisa. Anehnya Lisa menurut saja. Kuselipkan kontolku di sela-sela pangkal pahanya, hingga panggal pahanya menjepit kontolku. Kubiarkan kontolku yang mengeras dijepit disana. Tepatnya, aku merasakan jepitan itu persis mengenai kemaluannya. Kami berpelukan. Sampai akhirnya, aku memeluknya kuat dan melepaskan spermaku.

"Kak ada apa? Kok licin-licin?" tanya Lisa. Aku diam saja dan kuambuil celana dalamku serta melapnya. Kupakai celana dalamku yang baru setelah mencucinya di kamar mandi. Kami pun tidur sampai pagi. Malam berikutnya, Lisa berbisik padaku. Nanti malam aku tidur sama kakak lagi ya, kayak tadei malam. Aku mengangguk. Selesai PRku dan PR LIsa kami naik ke lantai atas dan tidur, setelah Lisa permisi pada ibuku. Aku memang sendirian di kamar sempit di atas.
Malam ini aku sengaja pakai kimono tanpa pakaian dalam. Perlahan kukecup bibir Lisa yang mungil. Lisa diam saja. Setelah beberapa kali kukecup dan kuisap lidahnya, kubisikkan pda Lisa agar gantian. Lisa mengikutinya. Aku mulai mengarahkan tangan Lisa ke kontolku. Lisa meraba-rabanya.





"Seperti yang tadi malam kak?" katanya.
"Nanti. Kakak akan buat Lisa benar-benar enak," kataku. Kusuruh Lisa mencuci memeknya dengan sambun sebersih-bersihnya. Lisa melakukannya. Aroma sabun wangi, masih terasa. Kuminta Lisa rebah dan aku mulai menjilati memeknya yang belum berbulu itu. Lisa diam saja. Lama kelamaan, Lisa mulai menggoyang-goyang pantatnya. Dia mulai mengeliat-geliat. tubuhnya seperti gelisah. Aku meneruskan menjilatinya. Sampai akhirnya Lisa mendesah dan menjepit kepalaku dengan kedua pahanya dengan kuat. Lalu tak tak lama perlahan di melepasnya. Aku marasakan nafasnya terengah-engah. Aku tersenyum dan membelai rambutnya. Aku berikan dia minum air putih.


"Enak? bisikku. LIsa mengangguk, lalu menutup matanya, malu. Aku kembali tidur di sisinya dan kami tidur berselimut. Tak lama Lisa kembali memelukku. Aku balas memeluknya. Setelah satu jam, Lisa berbisik ke telingaku.
"Kak... Lisa mau lagi dong..." katanya.
"Nantilagi ya. Kakak udah ngantuk," kataku. Lisa merajuk.
"Ayo dong kak. Lisa mau lagi..." katanya. Agar dia diam, kucipok bibirnya dan mengisap-isap lidahnya.

"Kamu isap-dan jilat titik kakak, ya" kataku. Lisa menggeleng. Aku ajari dia bagaiana caranya menjilati penisku. AKhirnya setelah kubujuk rayu, Lisa akhirnya mau juga. Sampai akhirnya aku melepaskan spermaku di dalam mulutnya. Kami pun tertidur pulas.

Setelah peristiwa itu, aku dan Lisa selalu melakukannya dengan sembunyi-sembunyi dan tiadak ada yang mencurigai, karean antara aku dan Lisa memang sudah lama selalu tidur sama, kapan saja Lisa mau. Kemudian aku tergoda melihat buah dadanya yang mulai menonjol, walau dia belum memakai BH. Sampai akhirnya Mama membawa adik-adikku ke rumah nenek dan Lisa tidak mau ikut, karean aku tidak ikut. Akhirnya kami tinggal bedua di rumah. Pukul 10 mama adeikku pergi. Saat itu, aku langsung mengajak Lisa ke lantai atas.
"Tiodak ada siapa-siapa, kita telanjang yuk..." kataku. Lisa setuju dan langsung melepas pakaiannya sampai telanjang. Aku juga. Kulihat buah dadanya muali muncul. Pentilnya sebesar kacang ijo. Kami mandi ke kamar mandi. Mandi bersama sebersih-besihnya.
Di kamar, aku duduk di kursi kecil. Kusuruh Lisa menaikiku. Au memeluknya sembari menjilati lehernya, teteknya dan terakhir mengelus-elusnya. Lisa terus menutup matanya.

Kedua tangannya hanya memeluk leherku saja. Tak ada reaksi apa-apa dari dirinya. Terlihat seperti pasrah saja. Aku terus menjilatinya. Apa saja yang dapat kujilat. Sampai akhirnya, Aku mendengar Lisa mendesah-desah.
"Kakak masukin titik kakak ke memek kamu ya," kataku. Lisa mengangguk.
"Tapi sedikit sakit. Gak apa-apa ya," kataku pula. LIsa kembali mengangguk.
Kubaringkan Lisa di lantai. Kukangkangkan kedau kakinya dan kuarahkan kontolku ke lubang memeknya. Lyubang yang begitu sempit. AKu sendiri sebenarnya tak yakin, apakah kontolku bisa masuk ke lubang yang sempit itu. Perlahan aku menekannya. Lisa meringis. AKu terus menekan dan menekan. Sampai kepala kontolku sudah berada di dalam.
"Kak... pelan. Sakiiit," katanya. Aku berhenti sejenak. Aku kembali menjilati leher Lisa dan mengecup bibirnya serta menjilati pentil teteknya yang sangat kecil itu. Lalu secara tiba-tiba kutusukkan kontilku makin ke dalam.
"Aduuuhhh...!!!" jerit Lisa. Aku memberhentikannya.
"Kak sakit..." katanya. Kudiamkan sejenak kontolku dan membiarkannnya disana. Kupeluk tubuhnya dan spermaku pun kulepas di sana. Sampai kontolku mengecil. Saat kontolku lepas dari memek Lisa, aku melihat ada darah meleleh sedikit. Lisa menangis menahan perih. AKu memeluknya.
"Besok juga sudah sembuh. Tapi tak boleh ngomong sama siapapun. nanti kita tak diperbolehkan bersama lagi," kataku. Lisa mengangguk di sela-sela tangsinya. Aku mengajaknya ke kamar mandi dan mencucinya. Tak lama, lelehan darah berhenti.
Besok pagi, Lisa meringis. Untung mama dan adikku belum pulang dari kampung, karean banjir, tak bisa pulang. Akhirnya mama dan adikku tiga hari di kampung nenek. Lisa sudah mulai tenanag dan rasa sakitnya sudah jauh berkurang.
Tiga minggu kami tidak melakukannya, kecuali berciuman dan Lisa menjilati kontolku. Persis pada mingu ke empat, kembali aku menjlati memek Lisa sampai lis amengelinjang. Kuarahkan kontiolku ke dalam memeknya. Dengan mudah kepala kontolku sudah memasukinya. Perlahan kutekan dan kutekan. JIka dia merasa sakit, aku cukupkan. Menurut perhitunganku, sudah lebih setengah kontolku menghilang di lubang Lisa. Setiap minggu aku menambah ke dalaman tusukanku, sampai pada bulan ke dua, semua kontolku sudah bisa terbenam seluruhnya ke dalam lubang Lisa. Lisa pun sudah mulai dapat menimmati tusukanku. Smpai akhirnya, Lisa merasa perutnya mulas dan mengeluarkan darah. AKu takut setengah mati. Ternyata Lisa, mengalami haid pertamanya. Aku senang sekali mendengarnya.
Menurut pelajaran biologi, jika perempuan yang swudah haid, dia sudah siap hamil. AKu tak boleh lagi sembarangan. Lisa juga tak boleh lagi tidur denganku. AKu pun menyiapkan kondom setiap saaat. Jika aku sudah horny, aku mengirimkan SMS kepadanya, walau kami satu rumah. Aku minta agar dia mengendap segera ke kamarku tengah malam. SMS ku dibalasnya.
Dadaku bergetar menunggu ke datangannya. Aku mendengar ketuka kecil di pintu. Aku segera membuka dan kuseret Lisa ke dalam. Lisa tak memakai celana dalam. Aku langsung menyetubuhinya, setelah kondom terpasang dengan rapi. Kami sama-sama memberikan respons yang terbaik. Kami sadar, waktu kami sangat tergesa. Hal itu selalu kami lakukan.

Lisa duduk di SMP kelas 1. DFia satu yayasan denganku, hingga jika ke sekolah aku memboncengnya dan aku masuk ke kampusku D3 akuntansi. Aku selalu menungunya pulang sekolah. Setiap ada kesempatan, kami selalu melakukannya. Mama yang berjualan di pasar dibantu oleh adik-adikku. Hingga aku dan Lisa selalu berada di rumah dan membuka warung kecil kami.
Aku pun menikah dan Lisa sudah pula menikah. Anakku sudah sekolah kelas 3 dan kelas 1 SD, sedang Lisa punya anak. Sampai akhirnya Lisa memiliki anak. Kami yakin, anak itu adalah anak kami berdua. Bukan anak Lisa dengan suaminya.

Kini anakku dan anak Lisa sudah dua orang. Kami yakin sekali kedau anak itu, adalah anak kami.

Anakku Sayang, Anakku Malang, Anakku Gilang

Ketika aku melahirkan Gilang, anakku, satu-satunya, menurut dokter rahimku harusdibuang, karena sudah terinfeksi. Masih untung aku bisamelahirkan anakku dengan selamat. Sejak saat itu, dipastikan tidak bisa melahirkan lagi. Tapi bukan berarti aku tidak bisa bersetubuh lagi. Justru nafsuku semakin hebat. Aku pun meneruskan bersetubuh dengan suamiku setiap malam, sampai anakku berusia 5 tahun.

Kejadian menyekitkan pun terjadi. Suamiku meninggal dalam kecelakaan, lalu lintas. Aku sangat bersedih. Aku dan anakku Gilang hidup berdua. Sebuah toko kecil peninggalan suamiku, bukan semakin surut, justru semakin berkembang. Aku bahagia dengan Gilang. Untuk nafsuku, aku harus membeli dildo yang mirip [penis laki-laki. Dengan alat itulah aku melepaskan keinginan seks-ku.

Tak terasa Gilang tumbuh remaja. Kini dia sudah berusia hampir 15 tahun. Aku baru sadar, kalau Gilang sudah menginjak remaja. Walau demikian, kemanjaannya, tetap tak berubah. Kami tidur satu kamar dan seranjang. Aku sadar, kalau satu malam Gilang memegangi penisnya. Aku melihatnya. Penis itu sudah berdiri keras.
"Kamu sedang apa Lang?" tanyaku perlahan.
"Ini ma, megang-megang titit. Kata teman-teman, kalau sudah keras seperti ini, sudah bisa ngentot,Ma?" tanya Gilang. Ingin rasanya aku memarahinya. Tapi, byukankah pertanyaannya itu sebuah pertanyaan yang lumrah dan harus dia ketahui?

"Nanti kamuketahui sendiri," kataku.
"Kata teman-teman, kalau ngentot itu nikmat sekali. Benar gak ma?" dia bertanya lagi. Huh... bagiamana aku harus menjawabnya? Gilang menarik tanganku dan mengarahkan ke penisnya.
"Pegang, ma. Pegang. Sudah keras kan?" katanya.
Aku terkejut, setelah tanganku menyentuh penisnya yang keras itu. Dadaku bergetar. Darahku berdesir. Oh... tidak. Tak mungkin. Dia adalah anakku. Anak kandungku sendiri. Tapi rasa inginku disetubuhi semakin kencang dan dadaku bergelora. Oh...

"Ma... Gilang mau ngentot ma. Boleh gak ma?" Ya ampun. Bagaimana aku menjawabnya. AKu katakan tidak boleh, diapasti tersinggung. Buah hatiku satu-satunya. Jika kukatakan boleh, mana mungkin Gilang menyetubuhi diriku. Tidak.
"Ma... boleh gak ma, kalau Gilang ngentot mama. Gilang mau tau, apa benar enak apa tidak," katanya lagi. Aku masih tetap diam. Nafasku sudah tak teratur memagangi penisnya.
"Kamu tidak boleh bercerita pada siapapun. Berjanji?" kataku. Aduh... kok aku keceplosan ngomong?


"Iya ma. Aku janji, ma," katanya.
Cepat kulepas celana dalamku. Ternyata sudah basah. Dadaku menggemuruh dengan kencangnya. Gilang melihatku membuka celana dalamku hingga dari pusat ke bawah, aku sudah bugil.
"Ayo naiklah ke tubuh mama," kataku. Gilang menindihi tubuhku. Kulepas bajuku dan kusodorkan tetekku padanya.
"Isaplah tetek mama," kataku. Gilang mengisapi tetekku. Kukangkangkan kedau pahaku dan kuarahkan penis keras Gilang dengan ukuran biasa saja ke dalam lubangku.
"Tekan ke dalam," bisikku. Gilang menekan penisnya ke dalam lubangku. Oh... aku merasakan lubangku dipenuhipenis gilang. Sudah belasan tahun aku tak merasakannya. Walau sesekaliaku menginginkannya, tapi aku mampu bertahan. Walau ada lelaki iseng ingin merayuku, aku tetap bertahan. Sesekali, hampir runtuh juga pertahananku.
Belum apa-apa, aku sudah orgasme. Aku memeluk Gilang dengan kuatnya sembari melepaskan kenikmatanku. Setelah orgasme aku membiarkan Gilang di atas tubuhku. Aku mulai merasakan Gilang memompa lubangku. Tak lama aku jadi menginginkannya kembali. Aku meresponsnya dearibawah. Kupeluk tubuh Gilang dan menjilati lehernya. Gilang memompaku semakin kuat dan cepat.
"Maaaaaaa....." rintihnya. Aku mengerti Gilang akan tiba pada puncaknya. Aku harus segera mengimbanginya, kalau aku tak ingin kehilangan kenikmatanku untuk kedua kalinya. Benar, Gilang memelukku kuat sekali dan aku merasakan semprotan spermanya lepasdi dalam lubangku. "Maaaaaaaa....." Gilang menjerit. Untung kamarku agakluas, hingga aku yakin, suaranya tak terlepas ke luar rumah. Tak lama Gilang terkulailemas di atas tubuhku. Aku merasakan penisnya telepas darilubangku setelah mengecil.


"Bagaimana, sudah tau rasanya ngentot?" tanyaku berbisik. Gilang tak menjawab. Nafasnya masih memburu. Kuelus-elus kepalanya dengan kasih sayangku. Bagaimanapun, dia adalah anaku satu-satunya. Sampai akhirnya nafasnya kembali teratur. Aku mengajaknya ke kamar mandi untuk membersihka diri. Setelah itu kami tertidur lelap.

Aku tak mendengar suara Adzan subuh menggema. Aku tertidur pulas, setelah belasan tahun takmerasakan kenikmatan. Silau matahari, menusuk kelopak matanya dari kisi-kisi jendela. Aku tak langsung membuka mataku. Tapi aku merasakan sesuatu. Tetekku sedang diisapi oleh Gilang. Mungkin gilang sudah terbangun dari tadi. Dan... aku sedang telanjang bulat. Pasti Gilang yang membuka kimonoku dan celana dalamku. Kulirik, Gilang memang sudah bugil. Ah... darahku bagai distrum listrik. Begitu cepatnya aku bernafsu.

"Kamu mau lagi sayang?" tanyaku berbisik.
"Mau ma..." katanya. Kubiarkan dia mengisapi tetekku dan merabai tubuhku. Aku ingin tahu apakah dia sudah pernah melakukanpersetubuhan selain dengan diriku. Ternyata, Gilang masih sangat polos. Bulu jembutku dielus-elusnya. Akhirnya, kami bersetubuh kembali di pagiitu. Kebetulan hari itu hari libur, hinga kami tak perlu bangun cepat-cepat, karean toko juga tak kami buka jika libuir. Harus ada waktu istirahat.

Setelah mandi pagi, kami sarapan. Aku minta, agar Gilang tidak bercerita kepada siapapun. Jika Gilang bercerita, aku mengancam, aku akan bunuh diri. Gilang punberjajnji. Kami bersendagurau di rumah seharian penuh. Saat aku duduk di kursi, aku meminta Gilang naik ke tubuhku. Kedua kakinya mengangkangiku. Aku memeluknya dan mengajarinya berciuman. Mengajarinya menisap tetek, mengajarinya menjilati klitorisku. Aku mengajaribanyak hal tentang seks. Kemudian aku mengatakan pada Gilang, kami hanyaboleh melakukannya dua kali dalam semingu, malam selasa dan malam jumat. Gilang menyetujuinya. Perjanjian itu, justru sesekali aku yang melanggarnya. Entah kenapa, selalu saja tiba-tiba aku menginginkannya. Dengan senang hati, Gilangpun melayani permintaanku.

Setelah persetubuhanku dengan Gilang, makaniatku untuk menikah lagi, hilang dengan sendirinya. Aku tak akan menikah dengan laki-laki manapun juga, karean Gilang mampu memberikan yang terbaik untukku, melebihi apa yang pernah kuterima dari papanya. Sampai kapan? Sampai Gilang menikah nanti
Nyatanya, setelah Gilang menikah dalam usia 26 tahun, saat isterinya bekerja, Gilang selalu mengajakku bersetubuh. Menurutnya, tiada yang senikmat bersetubuh denganku dan menurutnya, aku orang yang paling mampu memuaskannya dan menyayanginya.

Aku tersenyum bangga dan aku selalu memberikan apa yang diinginkan oleh Gilang, karean sebenarnya aku juga sangat membutuhkannya. Menurutku, tiada laki-laki yang seperkasa Gilang, walau usiaku sudah 42 tahun. Justru kamu sering melakukannya di tokok saat aku mau menutup toko. Kami sudah sama-sama susah menahan diri, saat itu kami melakukannya dengan duduk atau berdiri atau posisi apa saja. Tak lama. hanya 10 menit, kami mampu mencapai puncak kenikmatan kami.
Bagi kami bersetubuh bukan soal lama atau tida, tapi soal nikmat yang mampu kami rasaka bversama. Nikmat adalah puncak segala-galanya.
Sungguh Puaskah Istri Anda ?