Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Tuesday, December 1, 2009

Anal Ibu Mertua

Aku tidak mengerti, kenapa ibu mertuaku lama benar di dalam kamar mandi. Suara air tidak ada terdengar. Aku iseng mengintipnya dari kisi-kisi kecil. Duh... ibu mertuaku melakukan sesuatu. Di pinggir bak mandi aku melihat ada baby oil. Tutpnya terbuka. Lalu ibu mertuaku memasukkan terong ke dalam duburnya. Sejak kematian ayah mertuaku tiga bulan lalu, ibu mertuaku keliohatan suka berias diri dan bergenit ria. Aku biarkan saja, karena aku mendengar pintu dibuka dan isteriku memasuki rumah.

Sejak kematian ayahmertuaku, ibu mertuaku memang tinggal di rumah kami.Rumahnya yang besar, lima kamar, dia konrakkan kepada pekerja asing. Usianya berkisar 39 tahun. Anak pertamanya abang iparku, sudah menikah juga dan tingal Kalimantan. Istriku berusia 21 tahun dan kami sama-sama tinggal satu kota dengan ibumertuaku.

Pagi-pagi sekali, isteriku sudah pergi ke kantor. Aku hari ini akan kekantor siang hari. AKu bangu terlambat dan ibu mertuaku membanguni aku agar cepat mandi, sarapan sudah dia sediakan. Aku terbangun dan mandi. Aku lihat ibu sudah rapi dan cantik dengan daster tipis rumahan.Dengan berlilit handuk, aku memasuki kamarku untuk memakai celana pendekku. Aku memang suka memakai celana pendek di rumah.
"Ibu cantik sekali dan sexy," kataku.
"Ah.. kamu memujiku berlebihan. Udah cepat, biar sarapannya dimakan."
Aku cepat memakai celana pendek dan aku bertelanjang dada saja menghadapi sarapan pagi.
Ketika ibuku lintas dari sampingku, aku langsung memberanikan diri meremas pantatnya.
"Waaawwww..." ibu setengah menjerit.
"Kamu kok jadi gratil begini. Sama ibumertua lagi," katanya. Au tersenyum.
"Dari pada terong yang gratil, kan lebih baik aku yang gratil. Mana ibu sexy lagi," kataku mengoda.
"Apa?"
"Terong," kataku tegas. Ibu mendelik padaku.
"Tau apa kamu tentang terong?" tanya ibu.
"Ya taulah. Masak aku gak tau. Ada terong, ada baby oil dalam kamar mandi. AKu lihat semua kok," kataku.
"Kamu mengintip ibu, ya?"
"Iya !" jawabku tegas sembari mengunyah sarapan pagiku. Ibu cemberut dan aku biarkan saja. Tapi kok... kontolku tiba-tiba jadi tegang.

Aku mendatangi ibu ke dapur yang lagi asyik membersihkan piring. Sambil lewat aku remas lagi pantatnya yang montyok dan berbuah. Ibuku memang bertubuh mungil, tapi pantatnya, waw...
"Kamu ini. Awas nanti ketahuan orang, kamu berbuat begini sama ibumertuamu. Kamu bisa malu," katanya.
"Hanya kita berdua, bu. Lagi pula, pintu depat terkunci rapat. Gerbang juga terkunci, semuanya terkunci," kataku sembari memeluknya dari belakang. Aku meremas teteknya dan menciumi tengkuknya. Sebelah tanganku membelai Memeknya.
"Man, kamu ini. Ibu mertua sendiri...?"
"Lebih baik aku, Bu. Daripada terong," kataku terus menciumi dan menjilati tengkuknya. Teteknya kuremas terus dan kuangkat dasternya, sampai aku mampu menyentuh celana dalamnya.


"Man, jangan. Nanti keterusan, kita bisa bahaya," katanya perlahan. Aku tahu, bulu tengkuknya berdesir. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Cepat kuangkat dasternya ke atas dan melepasnya, hingga tingal bra dan celana dalam saja. Aku terus menciumi tengkuknya dan melepas pengait bra-nya. Kubalikkan tubuhnya dan menciu bibirnya. Aku mendekapnya dan lidah kami dengan cepat bermain, saling mengkait.
"Aku tak mau Man. Nanti aku hamil. Bahaya," katanya.
"Kalau dubur mana hamil, Bu?"
"Kaslau dari dubur memang tidak. Tapi apa kamu mau dari dubur?"
"Mau, Bu." Cepat kulepaskan celana dalam ibu. Kulepaskan juga celanaku. Kami sama-sama bertelanjang. Cepat pula ibuku mengambil baby oil dari atas meja makan. Dilumurinya kontolku dengan baby oil.
"Huuuhhh... gede amat, Man punyamu."
"Ayo, Bu. Nunging di lantai," bisiku. Ibu cepat berlutut di lantai dan menungging. Aku memang belum pernah ngentot dubur. Kutusukkan kontolku ke dubur ibu.
"Perlahan, Man. Kontolmu besar tuh. Nanti ibu kesakitan."
"Tenang, Bu."
Kutusuk kontolkui perlahan. Baby oil membuat kontolku menjadi licin dan dubur ibu juga. Kutusuk dan kutusuk. Aku berlutut di belakangnya. Setelah masuk setengah, ibu meraih tanganku dan diarahkannya ke memeknya.
"Di eleus-elus, Man," pintanya. Aku mengelus-elus klentitnya dari belakang. Perlahan kutusuk lagi kontolku semakin ke dalam.
"Tetesi lagi baby oilnya, Man. Biar tak sakit." Aku meraih beby oil, dan menetesi baby oil itu ke ujung dubur ibuku. Perlahan tapi pasti, kontolku terbenam semuanya. Perlahan kutarik dan perlahan pula kutusuk. Aku belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya ngentot dubur. Ternyata luar biasa nikmat. Kontolkua terasa diremas-remas dan saat aku menariknya, terasa kontolku demikian tergenggam erat.

"Bagaimana, kalau ibu aku pangku saja. Kita berhadap-hadapan," pintaku.
"Bagaimana caranya?"
"Pokoknya ibu ikut saja," pintaku. Cepat kucabut kontolku. Aku duduk di lantai. Kubimbing ibu mengangkangi diriku dan mengarahkan kontolku ke lubang duburnya.
"Tekan bu," kataku. Ibu menekannya perlahan sampai semua kontolku amblas di dalam duburnya. Bulu-bulu jembutku, menggelitik-gelitik klentitnya. Kamu berpelukan dan saling melumat bibir.

"Bagaimana, Bu? Enak?"
"Hemmmm...." Ibu tak menjawabku. Kami terus berpelukan dan saling menjilat tubuh. Leher dan lidah kami terusbermain. Saatnya aku menjilatri dan mengisap-isap tetek ibu. Walau sudah kendor, tapi pentilnya masih terasa enak untuk diisap. Ibu mengeliat.
TIba-tiba ibu menggoyang pantatnya dan menggesek-gesekkan memeknya ke jembutku dan mendekapku kuat. Aku dipeluknya dan bahuku digigitnya, sampai aku kesakitan.
"Huuuhhh...." lenguhnya.
"Ibu sudah sampai?"
"Hmmm..." Ibu lemas aku terus memeluknya dan mempermainkan kontolku dalam duburnya. Sampai akhirnya aku melepas spermaku. Jembutku sudah basah oleh cairan dari vagina ibu. Kontolku mengecil dan terlepas dari dubur ibu.

Kucium ibu. Dia tersenyum. Aku membelai rambutnya, seperti aku membelai rambut anak TK.
"Kamu sayang ibu, Man?"
"Iya, Bu. Aku menyayangi Ibu."
"Tapi kita harus hati-hati lo."
"Iya, Bu. Ibu suka, kan?"
"Ya. Ibu suka."
"Mana lebih enak daripada terong, Bu?" Ibu tersenyum dan mencubit genit pipiku, lalu memelukku. Ibu masih dalam pangkuanku.
"Bagaimana, kalau besok kita dari depan juga, Bu?"
"Hus... ibu gak mau hamil."
"Kita pakai kondom dan kalau perlu kita beli pil KB di apotik. Bagaimana?"
"Yah... besok aku beli pil KB dan menanayakan, bagaimana aturannya."
Aku memeluk ibu dan ibu juga memelukku dan kami kembali saling mengkaitkan lidah kami.

Bila aku tegang dan kepingin dubur ibu, aku menunggu isteriku tidur. Atau aku buat alasan agar dia lebih cepat pergi ke kantor. Begitu dia pergi, aku hanya menunjukkan kepada ibu, bahwa aku sudah menggenggam baby oil dan ibu mengerti. Dia pasti langsung pergi ke dapau dan melepaskan pakaiannya dan kami bersetubuh, lewat dubur.
Atau bila ibu kepingin, dia akan berteriak kepada isteriku.
"Lucy... kamu lihat dimana baby oil ibu?" Baru aku kemudian yang menjawab.
"Jika tidak kelihatan, nanti aku belikan bu. Aku ke kantor dulu sebentar, lalu aku belikan dan akan aku antar," jawabku. Isteriku akan tersenyum. Isteriku bangga sekali, aku menyayangi ibunya dan malah memanjakannya. Aku selalu mengatakan kepada isteriku, kalau ibu sudah tua, diabutuh dimanja oleh anak laki-lakinya, tapi anak laki-lakinya jauh di seberang pulau. Isteriku pun tersenyum.
"Terima kasih, Mas. Mas sudah mau memanjakan ibuku," katanya

Anak Autis

Doni anak autis, bungsudari tiga bersaudara. Kini umurnya sudah 15 tahun, bertubuh tinggi, sedikit agar kurusan dibanding tubuhnya. Dia hanya mau kenal dan dekat dengan mamanya. JIka dia sudah dekat denganmamanya, tak seorang boleh dekat. Dia akan mengauk sejadi-jadinya dan memecahkan apa saja yang ada. Dimana saja diaminta dikeloni oleh mamanya. Papanya saja kalau dekat pada mamanya saat dia sedang minta dikeloni, tak berani dekat. Mamanya pun setiap malam harus tidur lebih dulu di kamar Doni. Setelah Doni terlelap, biasanya dia tidur tak pernah bangun jika matahari belum terbit, barulah mamanya pindah ke tempat tidurnya dan tidur dengan suaminya.


Doni sekolah di sekolah autis mulanya, kemudian dengan pendidikan yang baik, dia boleh masuk SMP dan kini sudah kelas tiga.
"Sudah sana Don. Mama lagi masak," kata mamanya ingin melepaskan diri dari pelukan Doni anaknya. Tapi Doni terus memeluk mamanya dari belakang dan menciumi mamanya, pada tengkuk dan lehernya.

Sering mamanya terangsang dalam pelukan Doni. Perempuan mana yang tak terangsang, saat lehernya dijilati dan teteknya dielus-elus oleh laki-laki. Tapi yang melakukannya adalah anak kadungnya sendiri. Jika dilarang, biasanya Doni akan mengamuk dan marah. Atau mengunci diri di kamar, tak mau keluar sampai sehari semalam tanpa makan dan minum. Saat begitulah mamanya menjadi kasihan padanya dan membujuknya agar mau keluar dan makan. Hanya mamanya yang bisa membujuknya. Tak seorang yang bisa berhasil membujuknya jika bukan mamanya sendiri.

Mamanya pun selalu menangis. Saat-saat Doni mencumbuinya, mamanya tak mampu berbuat apa-apa dan terpaksa membiarkannya, lalu berada dipuncak dan gemetaran antara senang dan takut dosa, akhirnya harus pasrah dan orgasme. Saat pada puncaknya, mama Doni selalu lupa siapa yang membuatnya orgasme. Begitu selesai orgasmenya, dia pun sedih dan menetskan air mata. Karena terlalu sering demikian demikian, akhirnya mamanya pasrah dan tak ada cara lain, selain menikmati cumbuan anaknya sampai dia orgasme. Saat dia orgasme, cumbuan anaknya bukan selesai, hingga tak jarang si Mama harus orgasme sampai dua kali. Sementara ketika berhubungan dengan suaminya, dia tak pernah mendapatkan orgasme, tau-tau dia sudah hamil.

"Dodi... sebentar sayang, mama siapkan dulu ikannya, nanti Dodi boleh peluk mama lagi," kata si Mama. Tapi Dodi tak mau diam. Di rumah itu, hanya mereka berdua dan Dodi biasanyajika berdua, akan bebas melakukan apa saja kepada mamanya. Seperti hari itu, dia sudah melepas daster mamanya sampai mamanya tingal memakai bra dan celana dalam saja. Si Mama terus membersihkan ikan dan memotong-motongnya, lalu mencampurnya dengan garam dan asam. Tiba-tiba pengait bra si Mama sudah terbuka dan Dodi melepasnya. Tetek si Mama berjuntai tanpa pembungkus lagi. Ingin rasanya dia marah pada Dodi. Tapi...

Begitu si Mama menaikkan kuali ke atas kompos, Dodi beraksi lagi melepaskan celana dalam mamanya. Memaksa celana dalam itu lepas dari tubuh si Mama.
"Kamu mau apa sayang. Kenapa mama ditelanjangi?" tanya nya. Dodi hanya tertawa saja. Tawa khas anak autis. Si Mama pun mengelus-elus kepala Dodi agar dia mengizinkannya untuk memakai pakaiannya kembali. Saat itu Dodi melepaskan pakaiannya. Dan...

Si Mama sangat terkejut, melihat kontol anaknya begitu besar. Seperti percaya atau tidak, matanya melotot melihat kontol anaknya. Jauh lebih besar dari milik suaminya Papa Dodi. Besar, panjang dan keras. Saat itu juga darah si Mama berdesir. Apakah benar ini kemaluan laki-laki? Anak usia 15 tahun? Oh...

Untuk membuktikannya, si Mama memegang kontol anaknya itu. Lalu dia gigit lidahnya sendiri. Terasa sakit. Benar, dia tidak bermimpi. Saat itulah Dodi memeluknya dan desir darah si Mama semakin kuat. Lalu Dodi mengatakan ingin melakukan, sebagai mana si Mama dengan Si Papa? Ha....

Mungkin Dodi pernah mengintip atau bahkan sering mengintip mereka sedeang bersetubuh. Entahlah. SI Mama pun diseretnya ke kamar tidur.
"Jangan Dodi. Jangan sayang..." pinta si Mama memelas. Tapi tenaga anaknya jauh lebih kuat. Mama ditelentangkan di tempat tidur dan langsung dijilati dan dipeluk. Berulang-ulang dengan buas dan tatapan mata yang sangat menakutkan. Sejak di dapur si Mama sudah berdesir-desir. Kembali dengan pasrah dan tetesan airmata, Mama pun membiarkan anaknya itu. Dengan kasar, Dodi mengangkangkan kedua paha mamanya. Dia menindihnya dan menuntut kontolnya memasuku lubang memek mamanya. Memek yang basah langsung dia tekan. Terasa begitu seret dan kontol itu memenuhi lubang memek ibunya.

Si Mama tak mampu membendung hasratnya, saat anaknya itu mulai menjilati lehernya dan meremas-remas teteknya dan menarik cucuk kontolnya di lubang si Mama. Kontol itu begitu penuh. Seperti baut dengan murnya. Tak ada sedikitpun yang tersisa pada gesekan dinding memek dengan kontol anaknya. Setiap tarikan dan tusukan, sepenuhnya dinding memeknya semua tergesek, bersentuhan antara kontol dengan dinding memek. Ah....

Si mama sudah tak mampu bertahan. Dia memeluk erat tubuh anaknya dari bawah. Seingatnya, selam hidupnya, dia belum pernah merasakan kenikmatan seperti itu. Dan dia pun memeluk sekuat tenaganya sampai nafasnya tersengal dan memeknya semakin basah dalam orgasmenya sendiri. Lalu tubuhnya melemas. Anaknya tyerus memompa dan memompanya, seperti tak kenal lelah dan tak kenal puas, tak kenal orgasme.

Tusuk-cabut yang dilakukan Dodi, iramanya kostan. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lamban. Bagaikan hitungan kondaktor dalam sebuah orkestra, pompaan kontol Dodi di memek mamanya, bagaikan tempo 3/4. Terus... terus dan terus, tanpa henti, tanpa istirahat dan terus. Si Mama sudah sangat basah. Dia harus pandai mengimbangi untuk menetralkan nafasnya. Lima menit kemudian, nafasnya kembali normal dan Dodi terus memompanya. Si Mama pun tak mengangkat kedua kakinya. Hanya saja kedua telapak kakinya menempal ke kasur dan lututnya membengkok ke atas.

Dodi tekadang menindih mamanya, terkadang berlutut memompa kontolnya. memek mamanya semakin basah dan basah. Mama berupaya membuka matanya. Dia bertatapan dengan mata anaknya. Mata dan wajah tanpa ekspresi dan terus memompa tanpa rasa lelah.
"Sudah sayang... mama sudah lelah," bujuk mamanya. Dodi tak menjawab, Pompaannya dia teruskan dengan ritma yang tetap tanpa perubahan. Kembali Dodi memeluk mamanya dan menciumi lehernya dan meremas-remas tetek si Mama. Kini si Mama tak mampu pula berdiam diri. Dia mulai bereaksi dan memeluk anaknya. Haruskan aku orgasme lagi, bathinnya.

Saat itulah dia memberikan respons kepada Dodi saat pompaan Dodi semakinkuat dan kencang dengan hunjaman-hunjaman yang luar biasa buas dan ganas. Nafasnya sudah memburubagaikana kuda yang berlari kenang. Tusuk-cabut... tusuk cabut dan seterusnya. Semakan lama semakin kencang. Bukan hanya kontol Dodi yang bergesekan dengan dinding memek mamanya. Kini tubuhnya terutama bagian dada dan perutnya bergesekan dengan perut dan tetek mamanya. Semua tubuh mamanya bergoyang. Suara tempat tidur tak bisa dihempang dan berdenyit-denyit.

"Ayo cepat sayang, mama suadah mau sampai... cepat sayaaaaang," desah si Mama. Dodi benar-benar seperti kesetanan. Dia terus memompa mamanya semakin cepat dan cepat dengan desah nafas yang benar-benar menakutkan. Desah nafas kuda atau desah nafas lembu yang ganas dan kasar.
"Dodiiii....." teriak mamanya tanpa sadar menggema di ruangan kamar itu. Dodi terus memompanya semakin cepat lagi, semakin keras dan semakin kasar.
"Maaaaaaaaaaaa......." Kini Dodi yang berteriak kuat. Di tekannya kuat-kuat kontolnya ke dalam memek mamanya sampai benar-benar kandas ke dalam dan menindih tubuh mamanya dengan kuat dari atas. Crooooooooooottt... crooooooottt... croooott.....crooot...crot.. Sepermanya berbuncah-buncah melepas dari kontolnya. Desah nafas tersengal Dodi dan mamnya memburu. Mamanya memejamkan matanya. Letih dan lelah. Dodi juga melemas dan terkulai di sisi mamanya.

Nafas mereka akhirnya normal. SI Mama mengambil dasternya dan memakainya tanpa bra dan celana dalanm, langsung ke kamar mandi di kamar anaknya dan mencucinya. Dia pun ke dapur meneguk air putih dengan berkali- kali tegukan. Dia menyodorkannya kepada Dodi untuk meneguk air putih itu. Dodi meneguknya.

Si Mama menruskan pekerjaannya. Minyak ditruang ke dalam kuali dan dia mulai menggoreng ikan kemudian untuk disambal. Gorengan sudah selesai. Api dimatikan, tinggal membuat cabai ke blender untuk menyambal ikan. Dia merasakan kupasan yang tak terhingga atas kejadian yang baru saja terjadi dengan anak kandungnya.

TIba-tiba Dodi datang, masih bertelanjang bulat. Si Mama melihat kontol Dodi mash mengeras dan berdiri tegak. Si Mama tersenyum. Dodi malah menubruk mamanya dengan pelukan.
"Kenapa sayang....?" tanya si Mama. Dodi terus memeluknya dan membuka kancing dasternya lalu mengisap-isap teteknya.
"Sudah sayang, besok lagi ya?" katanya membujuk lalu membalikkan tubuhnya mendekati belender. Saat itu Dodi menarik dasternya ke atas dan pantatnya yang putih mulus terlihat. Si Mama meneruskan pekerjaannya. Tapi Dodi amengangkangkan kedua kakinya. Dan Dodi pun menyodokkan kontolnya dari belakang ke memek mamanya. Daridepan dua jari Dodi membukakan lubang memeknya agar kontolnya bisa memasuki lubang itu. Mamanya berpikir, kalau berdiri nanti Dodi kan capek sendiri lalu kontol itu akan tercabut sendiri.

Tidak demikian keadaannya. Kontol itu memasuki lubang memek mamanya. Lebih separuh. Mamanya membiarkannya saja sembari terus mengerjakan pekerjaannya, agar nanti kedua anaknya pulang kuliah mereka langsung makan. Tapi kocokan kontol anaknya membuatnya tak mampu konsentrasi mengerjakan pekerjaannya. Tanpa sadar akhirnya dia menunggingkan tubuhnya dan bertumpu pada meja dapur yang terbuiat dari marmer itu. Dodi semakin leluasa memompanya dari belakang. Dia memutar-mutar kontolnya di lubang mamanya. Lama. Lebih setengah jam. Akhirnya si Mama orgasme. Lemas. Dia berupaya melepaskan kontol anaknya dari memeknya dan berhasil.
"Sudah... sudah..." katanya dan berlari ke kamar. Dodi mengejarnya, menangkapnya dan membaringkannya di tempat tidur dan memasukkan kontolnya dengan paksa lalu memompanya. Ada setengah jam juga Dodi memompanya, sampai mamanya, sempat orgasme dua kali lagi. Dia pun menangis. Dan pergi meninggalkan anaknya.

Akhirnya si Mama mengancam. Jika terus dilakukan mamanya akan pergi meninggalkan dirinya. Dodi puketakutan. Akhirnya, Dodi menyetujui, kalau mereka hanya melakukannya tiga kali seminggu. JIka sudah tepat hari dan waktunya, si Mama harus memebawanya ke tempat lain. dodi tidak mau melesat pada janji. Mereka melakukannya. Kini justru si Mama yang tak mampu melepaskan anak kandungnya. Mereka melakukannya secara teratur dan penuh rahasia. Ternyata anak autis juga mampu menjaga rahasia.

Perahu (10)



Saat kami makan dengan lahapnya, ibu tersenyum dari sebuah sudut saat mata kami bertatapan. Aku mengerti apa arti senyumannya dan arti tatapannya. Terlebih tanpa sadar, aku menyuapkan sepotongikan ke mulut Suti dan Suti menerima dengan mulutnya, ketika aku menyodorkannya ke mulutnya. uti pun makan dengan bahagia.

Usia makan Suti mencuci piring bekas piring makan kami. Saat itu itu ibu datang mendekatiku dan berbisik.
"Kamu jangan lupa giliranmu menyirami bayi dalam kandunganku," katanya. Aku mengangguk. Yah... sudahkepalang. Dalam perut ibu ada bayiku. Kata ibu yang sudah berpengalaman, aku harus terus menerus menyiraminya, kalau aku tak mau bayiku sakit dalam perut. Aku terkejut. Tiba-tiba saja, ibu mengelus kontolku dari balik celana. Dalam keterkejutanku, ibu malah tersenyum.
"Tadi dia sudah makan kenyang tuh," sindir ibu. Aku mengerti maksudnya. Kontolku sudah makan kenyang dari memek Suti. Aku tersenyu kecil.
"Siapa yang kenyang, Bu," tanya Suti menyahut dari belakang.
"Mas mu. Dia sendawa, berarti makannya kenyang," kata ibu di dapur. Aku jelas mendengarnya.

Tiga hari setelah kejadian itu, aku didatangi ibu di dapur. Pagi itu, ayah pergi ke kecamatan. Katanya ada pertemuan partai yang mau kampanye. Ayah diundang oleh calegnya. Suti sekolah. Ibu langsung meraba kontolku dari balik celanaku. Pagi yang hangat itu, aku benar-benar jadi nafsu. Langusng kupeluk ibu dan mencium bibirnya dan aku mempermainkan lidahku dalam mulutnya. Ibu membalasnya. Kuinta ibu berjongkok.
"Untuk apa?" katanya. Aku hanya menatapnya dengan mataku aku meminta ibu mengikuti apa yang kumau. Ibu pun berjongkok. Kukeluarkan kontolku, lalu kusodorkan ke mulut ibu.
"Hisap bu," kataku. Ibu sempat melihatku. Lalu kontolku dipegangnya, lalu dimasukkan ke dalam mulutnya.
"Aduh, Bu. Jangan kena gigi ibu, sakit," kataku. Ibu berusaha agar gigibnya tidak mengenai kontolku. Aku merasa nikat sekali.
"Bagaimana Bu? Enak juga kan?" kataku. Ibu ku diam saja.

Ku minta ibu berlutut dan meungging. Ibu melakukannya. Kusingkap rok-nya. Ibu yang tidak memakai celana dalam kukangkangkan. Kumasukkan pelat-pelan kontolku ke lubang memeknya. Perlahan aku enusuknya dan perlahan pula aku menariknya.
"Bagaimana, Bu?" kataku.
"Enak. Teruskan," katanya. AKu mencucuk tarik kontolku di dalam lubang memek ibu. Ibu mendesah-desah, bagaimana anjing yang baru saja usai berlari jarak jauh. Sampai akhrinya, aku melepaskan spermaku di dalam memek ibu.

Perut ibu semakin membesar. Ibu sudah tak mungkin lagi ut ke laut. Jika sore Suti tidak ikut latihan pramua atau les, Suti selalu menemaniku ke laut. Tentu dengan nasehat, hati-hati, jangan sampai Suti hamil dan jangan sampai ada yang tahu. Aku mengangguk. Aku pun melaut bersama Suti. Selalu saja, aku ketinggalan kondom. Suti juga tidak mengingatkan dan malah Suti sangat menginginkan aku tidak memakai kondom. Kami justru bersetubuh denga leluasa tanpa pengaman. Tanpa sadar, Suti hamil dalam usia 15 tahun. Aku sempat panik juga. Kalau digugurkan, bagaimana mengatakannya kepada ibu dan bagaimana mengatakannya kepad adokter yang akan menggugurkannya. AKhirnya aku dapat akal. AKu mengteahui kalau Amir suka mencuri-curi pandang kepada Suti. Dan beberapa kawan-kawan Suti suka mengolok-olok Suti dengan Amir dan Suti biasanya tertunduk malu, tapi Amir malah bangga dan senang.

AKu mulai meyakinakn SUti, kalau dia harus membawa Amir ke pulau ini, kemudian merayunya dan melakukan persetubuhan dengan Amir. Mulanya Suti tidak mau, atpi aku terus meyakinkannya, kalau kami tak mungkin menikah. Dengan perasaan berat, SUti akhirnya mau juga. Aku lebih dahulu ke pulau kecil dan mengendap di balik pohon bakau. Tak lama perahu kecil dinaiki oleh AMir dan Suti muncul. AKu sembunyi di balik pohon bakau yang lebat. AKu melihat AMir mulai merayu Suti. Usia mereka hanya selisih 4 tahun. Mereka pun berciuman. Saat itu Suti yag sudah lincah dan pintar mulai mengelus-elus kontol Amir. Amir membalas mengelus-elus memek Suti dan Amir melepaskan celananya. Perlahan pula Amir melepas celana Suti yang tidak memekai celana dalam. Perlahan Amir menindih Suti di atas perahu dan memasukkan kontolnya ke dalam memek Suti. Aku melihat dengan jelas, Amir menggenjot Suti dari atas sampai perahu terangguk angguk. Sampai akhirnya mereka merenggang dan Suti menangis. AKu mendengar Amir membujuknya dan memeluk Suti dengan tulus. Kejadian itu terulang berkali-kali atas petunjukku. Sampai akhirnya, aku meminta dikawani oleh dua orang tua mencari perahu yang dipakai Amir dan Suti. Kami mengendap-endap dari balik pohon bakau. Kami bertiga melihat Suti digenjot oleh Amir.
"Bagaimana. Kita tangkap basah," kata salah seorang orangtua itu.
"Terserah. Tapi aku di sini saja. AKu malu," kataku. Mereka memakluminya. AKhirnya kedua orangtua penduduk kampung kami memergoki mereka dan menyergapnya. Saat mereka menyergapnya aku puilang sendiri. Dari kejauahan aku melihat mereka membawa Suti dan Amir ke kampung dan aku sudah lebih dahulu sampai. Aku hanya tertunduak saja, saat keduanya dibawa ke rumah kepala desa. Kedua orang tua kami diundang datang dan semua diberitahukan.

Aku katakan, aku tak mau persoalan ini diperbesar-besar. Aku meinta agar mereka dinikahkan saja. Mulanya ayahku uring-uriongan. Tapi aibuku membentaknya dan aku menyetujui mereka menikah. Akhirnya, kedua orangtua Amir setuju mereka dinikahkan, karena ibu AMir sudah lama menyenangi adikku Sutinah.

Sore itu, beberapaorang di desa itu diundang, termasuk kepala sekolah Suti. Kepala desa memohon, agar Suti diperkenankan mengikuti ujian, minggudepan agar mendapat ijazah. Kepala sekolah setuju. Mereka dinikahkan dan ayahku menjadi walinya. Aku tertunduk. Saat mata Suti melirikku, aku tersenyum dan Suti tersenyum sembunyi-sembunyi.

Malam itu juga, Amir pindah ke rumah kami dan di rumah tirai pembatas di pasang. Aku tidur di dapur. Setelah sebulan, Suti mulai muntah-muntah. Hampir seluruh dengan mengathui kalau SUti hamil. Orangtua Amir sangat senang. Bahkan ada yang mengatakan,.Amir itu laki-laki perkasa. Begitu nikah langsung hamil. Tapi ada yang mengatakan. kalau Amir dan Suti diam-diam sudah lama melakukan hubungan suami isteri secara diam-diam. Semua memaklumi. Begitulah kalau des pantai.

"Ini anak Mas, Kan?" kata Suti berbisik. Aku mengangguk. Dalam hatiku, kalau setahu ini, aku akan mendapatkan dua orang anak sekali gus. Sati dari ibu dan satu dari adikku Suti.

Orang-orang kampung datang ke rumah kami, setelah tujuh hari ibu melahirkan seorang bayi laki-laki. Selamatan dibuatkan kecil-kecilan. Bacakan namanya. Ayaku senang ssekali atas kelahiran bayi mungil itu. Dalam usianya yang tua, orang brkata, kalau ayahkju masih hebat. Ayah pun dengan busung dada sangat bangga dikatakan demikian.

Duabulan setelah itu, giliran Suti melahirkan. Dia meraung-raung. Maklum anak pertama. Aku sangat gelisah akan keselamatan adikku Suti. Ada penyesalan dalam diriku. Ibu bidan desa terus menerus menemani Suti yang masih muda belia itu. Akhirnya aku mendengarkan suara tangisan bayi yang memecah hembusan angin senja. Bayi laki-laki kata ibu bidan. Aku pun lega. Ku dengar tangisan Suti langsung terhenti. Ibu pun sangat sibuk mengambil air dalam waskom. Bayi dibersihkan.

Setelah semua selesai, kami satu-persatu bergantian diberikan kesempatan m,enyalami Suti. Pertama Amir, kedua orangtuanya, ayahku dan terakhir aku. Aku mencium pipi SUti. Suti memelukku kuat dan meneteskan air mata. Aku juga.
"Selamat ya dik..." kataku.
Suti meraih tengkukku dan membisikkan ke telingaku.
"Bukan dik. Bune..." katanya berbisik.
"Aku mendekarkan mulutku ke telinganya dan megatyakan:" Selamat ya bune..."
Suti tersenyum di balik wajahnya yang masih pucat. Aku juga tersenyum. Semua menyaksikannya. Lalu ibuku angkat suara.
"Aku bahagia sekali. Anak laki-lakiku, sangat menyayangi adiknya Suti. Demikian juga Suti sangat menyayangi kang Mas-nya. Maklumlah, selama ini hanya ada mereka berdua, sebelum adik Suti laghir," kata ibuku dengan sedikit bangga atau dibangga-banggakan.
Semua ikut memuji kami, aku dan SUti
TAMAT

Perahu (9)

Mas kenapa tidak menyayangiku lagi, tanya Suti sepulang sekolah. Aku gagap menjawabnya. Aku jugamerasa, kalau Suti seperti tertinggal. AKu mengetahuinya, kalau Suti suka sendiri dan menyendiri.




"Mas, apa mas tidak sayang sama Suti lagi, ya?" tanyanya dengan rengekan.
"Siapa bilang Mas tidak sayang. Mas, harus kerja keras mendapatkan uang, utnuk sekolahmu, agar kamu terus sekolah tinggi. Mas rela kerja keras untuk itu. Apa namanya itu bukan sayang?" tanyaku pula. SUti mengengguk.
"Tapi Mas sudah tidak pernah mengajakku lagi ke laut mencari ikan. Ibu saja yang mas bawa," katanya mereajuk.
"Itu juga karena ibu sayang kamu. Dia tidak mau sekolahmu terganggu," kataku.
"Tapi mas dan ibu tidak gituan, kan?" tanya Suti menyelidik.
"Apa kamu sudah gila SUti. Dengan ibu sendiri," kataku pula setengah membentak. Suti diam dan menyadari kesalahannya. Suti lalu memelukku dan menyandarkan kepalanya dibahuku dengan manja. AKu memeluknya dan SUti mendongakkan kepalanya, lalu aku menciumi bibirnya dan kami berciuman mesra. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Ibu memasuki rumah. Kami cepat-cepat berpisah. Suti turun dari pintu belakang dan aku duduk di lantai. Ibu tersenyum.
"Kedatanganku menggangu ya?" sindir ibu. Aku diam.
"Tapi ibu juga harus memberikan kesempatan kepada Suti. SUti juga butuh..." kataku. Ibu tersenyum.
"Ya.. sudah, bawa dia melaut. Hati-hati jangan sampai ketahuan orang," kata ibu. Aku langsung turun ke bawah menemui Suti dan mengajaknya melaut, karean Sabtu sore itu, Suti tidak ke sekolah latihan Pramuka dan tidak ikut les. Suti senang sekali kuajak ke laut. Kami membawa peralatan penjerat kepiting.

Kami sama-sama mendayung perahu ke tengah laut menuju pulau kecil. Kami sama-sama berkeringat. Saat kami di tengah laut, kami berpapasan dengan nelayan lainnya.
"Sudah gelap, bakal turun hujan deras..." seorang nelayan berteriak.
"Ya.. Pak. Kami hanya memasang jerat kepiting dan akan langsung pulang. Besok pagi akan kami angkat," jawabku dengan suara keras.

Begitu selesai memasang jerat kepiting, huja turun dengan deras disertai oleh petir. Kami cepat-cepat ke pulau kecil dan menambatkan perahu, lalu kami berlari ke dalam gubuk yang ada di pulau kecil itu. Sebuah gubuk kecil beratap rumbia dan berdindingkan anyaman daun kelapa. Kami duduk di bangku-bangku kecil yang ada di sana. Tiba-tiba petir menyabung lagi dan kilatnya menyambar-nyambar.
"Mas...aku takut," kata Suti. Dia naik kepangkuanku dan memelukku. Aku juga memeluknya. Lama kami saling berpelukan.
"Mas... aku mau," kata Suti berbisik.
"Kita tidak bawa kondom. Nanti kamu hamil dik. Jangan ya," kataku.
"Jadi bagaimana dong Mas?"
"Biar Mas jilati saja ya..." bisikku. Suti diam saja. Kuangkat baju kaosnya dan kulepaskan tali bra-nya. Aku mengisap-isap perlahan teteknya. Kujilati lehernya dan kuelus-elus pantatnya dalam pangkuanku.
"Mas... aku mau. Aku mau mas..." rengeknya.
"Nanti amu hamil dik. Jangan ya," kataku.
"Tidak mas... dua hari lagi aku akan haid. Pingangku sudah mulai sakit," katanya. Oh... aku tidak menyadari, kalau adikku sudah pintar menandai haidnya.

Kuturunkan dia dari pangkuanku, Kulepas celananya. Hujan masih terus turun dengan derasnya. Aku juga melepaskan celanaku. Kami berdua setengah telanjang. Kuminta Suti kembali naik ke pangkuanku. Dia sudah tau tugasnya. Suti naik kepangkuanku. Perlahan dia tangkap kontolku dan memasukkannya ke memeknya. Suti menekan tubuhnya, agar kontolku tertelan oleh memeknya.
"Oh...Kandas, mas," katanya.
"Ya."

Kami berpelukan dan bibir kami terus menempel. Lidah kami tak hentinya berkaitan dan kami saling memeluk dan saling mengelus-elus tubuh kami berlawanan dengan sapuan-sapuan mesra.
"Mas... benar tidak melakukan ini sama ibu, kan?" tanya SUti masih mengandung curiga.
"Kamu jangan mengada-ada," kataku.
"Kabarnya ibu hamil mas," kata Suti.
"Ya.. kenapa kalau hamil. Kamu kan juga dengar, kalau malam itu mereka begituan juga," kataku.

Suti Diam. Dia terus memelukku dan perlahan-lahan mengoyangkan tubuhnya. Dia memutar-mutar pinggangnya dan aku terus mengisapi teteknya yang mungil denganpentil yang kecil.
"Andaikan kita tidak bersaudara ya Mas," kata Suti.
"Kenapa?"
"Kalau kita tidak bersaudara, kita akan pacaran. Kalau SUti tamat sekolah,. kita menikah<' katanya.
"Hus... jangan pikirkan itu. Nanti kamu harus menikah dengan laki-laki lain," kataku.
"Nanti kalau Suti sudah menikah dengan lak0-laki lain, kita tidak bisa seperti ini lagi," katanya.
"Siapa bilang. Bisa dong. Kita akan buat pertemuan rahasia," kataku meyakinkan dan Suti tersenyum sembari terus mengoyang-goyang pinggangnya.

Suti pun memeluk erat tubuh ku. Nafasnya sudah terenagh-engah. Oh.... Suti meleguh seperti lembu.
"Aku sudah sampai mas," katanya. Aku tetap memel;uknya dan membiarkan dia berada di pangkuanku. Aku tahu, SUti sudah lemas. Kubiarkan dia diam di atas pangkuanku. Aku tetap memeluknya dan membelainya. Kontolku masih tetap tegang dan keras dalam memeknya.
"Mas... sayanag Suti, kan?" bisiknya.
"Ya.. aku tetap menyayangimu," kataku merayunya.
"Mas jangan pernah lakukan ini pada ibu ya?" ulangnya lagi.
"Kamu jangan mengada-ada dik. Jangan mengada ada," kataku.
"Benar ya Mas..."
"Benar. Dia ibu kita," kataku mengandung penyesalan. Suti mencium leherku dan mendengus di sana. Terasa nafasnya hangat di leherku. Gairahku muncul. Aku memelukkan kedua tangankua ke pantatnya dan menarik maju-mundur, agar kontolku keluar masuk di memeknya.
"Terus mas... enak...." katanya. Aku meneruskannya. Suti memelukkan kedua tangannyake tengkukku dan mulai menempelkan bibirnya dan lidah kami kembali bertautan.
"Ayo mas... ayo mas. ayoooo..." katanya. Kulihat nafsunya demikian menggebu-gebu. Aku terus menggoyangnya dan terus mencucupi bibirnya dan suara hujan semakin lama semkin menderas saja. Sesekali suara petir menggema dengan didahului oleh kliat dengan lidahnya yang menyambar-nyambar. Pada suara petir yang ketiga, aku memeluknya dengan kuat dan Suti juga memelukku dengan kuat. Saat itu, aku melepaskan speermaku beberapakali ke dalam memeknya.
"Maaaasssss....ohhhh...."
Aku terus e\memeluknya dengan kuat dan membelai-belai kepalanya.
"Enggak pakai kondom lebih enak lo Mas," katanya.
"Kenapa?"
"Entah. Rasa lendirnya lebih nikmat. Kalau gak pakai kondom, lendirnya gak terasa," kata Suti tersenyum.
"Ya... kita haruspakai kondom, kecuali kalau kau dua hari lagi mau haid," kataku.

Kontolku mengecil dan lepas dengan sendirinya dari memek Suti. Kuturunkan tubuh Suti, seiring dengan hujan mulai mereda. Malam sudah tiba dan langit makin hitam. Angin mulai rada juga.
"Kita pualng Mas. Aku takut," kata Suti.
"Ya. Kita pulang"
Kami memakai pakaian kami dan mendekati perahu lalu naik ke atasnya. Aku melepaskan ikatan tali perahu dan kami mengkayuh ke darat. Di darat, kami sudahmelihat kerlipan lampu=lampu dari desa kami. Kami memacu dayungan kami. Jangan sampai hujan datang semakin deras lagi dan angin menderu-deru. Di bawah siraman hujan rintik kami mendayung dan mendayung perahu kami tanpa kenal lelah.

"Mas... aku masih mau," kata Suti.
"Besok lagi. HUjan nanti deras dan angin nanti kencang, Kita harus segera tiba di rumah dan ganti baju, biar besok amu tidak sakit," bujukku. Suti tersenyum dengan semangat dia mendayung perahu dengankuat dan perahu kami melaju dengan kencang.

Setiba di rumah, kami langsung mengganti pakaian kami dengan yang kering dan kami menyantap makanan yang sudah tersedia. Aku memberikan sebuah tablet obat flu, agar Sutio tidak sakit dan aku jugam enelan sebutir obat itu.

Perahu (8)




Ibu sangat puas mengintip aku dan Suti berciuman mesra dan saling membelai. saling mengulurkan lidah. Aku menjilati teteknya dan megelusnya. Sutri berada di pangkuanku dan kami berpelukan dengan mesra dan saling mebelai. Aku tahu, ibu mengintipku dari belakang Suti. Aku tahu ibu berahi mengintip kami. Aku tahu ibu meraba memeknya. Ibu juga tahu, kalau aku sangat meikmati persetubuhanku dengan Suti dan sampai akhirnya aku membuang kondom ke laut. Aku yang menjagadiri dengan SUti, kalau tidak nampaknya Suti mau nempel terus dan bermanja terus. Aku hanrus menjaga mata orang-orang kampung.

Saat Suti sekolah, aku mendengar pertengkaran kecil ibu dan ayahku.
"Kpk kamu bisa hamil, Bune..." kata ayah.
"Lho kok bisa hamil? Pertanyaanmu kok aneh. Apa kontolmu tidak mausk ke puki-ku?" tanya ibu tak kalah sengit.
"Tapi aku kan pakai kondom?" kata ayah.
"Ya enggak tau. Kita tanya saja petuigas KB," kata ibu. Tak lama kebetulan bu Ningsih petugas KB dari kecamatan lewat di lorong rumah kami. Aku melihatnya dari atas perahu di kolong rumah. Aku mendengar percakapan mereka. Bu NIngsih mengatakan,
"Mungkin konromnya bocor, jadi bisa hamil. Kalau hamil ya sudah, soalnya kan Sutinah sudah SMP jadi sudah bisa hamil lagi," kata bu Ningsih. Ayah pun diam. Ibu pun dengan kasar membentak ayah setelah bu Ningsih pergi.
"Tuh... jadi jangan tanya-tanya kenapa aku bisa bunting. Yang jelas yang bikin aku bunting, kontolmu sendiri," kata ibu sangat sengit dan ketus, membuat ayah terdiam tak berkutik. Bahkan tersenyum. Ayah tau, kalau ibu ke laut , aku yang menemani. Yang ayah tak tau, kalau ibu hamil karena aku.

Ayah turun dari rumah menuju kedai kopi dan main catur di sana setelah ibu meaksanya minum obat. Saat ibu mau naik ke rumah, aku memanggilnya. Ibu datang dan naik ke perahu di kolopng rumah.
"Benar ibu hamil?" tanyaku. Ibu mengangguk.
"Ibu takut membuangnya," jawab ibu.
"Kenapa dibuang, Bu?"
"Karena dalam perut ibu adalah anakmu. Bukan anak ayahmu," jawab ibu berbisik. Aku diam.
"Kalau nanti harus menyanginya, karean dia anakmu. Ini rahasia," kata ibu. Aku menganguk. Tak pernah terpikir, aku akan punya anak. Kutatap wajah ibu dan ibu menatap wajahku dengan senyum. Ibu tahu aku limbung dan tak menyangka akan punya anak.

"Tapi kau harus terus menerus menyiraminya," kata ibu.
"Menyiram bagaimana bu?" tanyaku.
"Kita harus terus menerus ngentot, bodoh," kata ibu ketus.
"Kenapa?"
"Kalau tidak, nanti di dalam perut anakmu sakit," kata ibu. Aku mengangguk. Aku berpikiran, kalau orang hamil harus terus menerus disetubuhi. Aku diam. Aku haruspandai-pandai menguasai keadaan agar Suti tidak cemburu. Padahal kalau boleh, aku justru ingin punya anak dari Suti.

"Suti mana?" tanya ibu. AKu amenjelaskan, kalau Sutibaru saja pergi latihan pramuka ke sekolahnya.
"Ayo cepat. Kamu naik dari pintu belakang dan aku dari pintu depan. Kamu harus menyirami anakmu," kata ibu. Aku cepat meningalkan perahu. Aku tak ingin anakku sakit dalam perut ibu. Cepat kututp pintu. Ibu juga menutup pintu dari depan. Ibu langsung ke dapur menemuiku dan memelukku. Aku juga memeluknya. Ibu menyumpalkan teteknya ke mulutku.
"Buat aku seperti Suti," kata ibu. Aku mengisap-isap dan merabai tetek ibu.
"Ya.. kamu harusisap, supaya nanti air susu ibu banyak dan anakmu bisa menyusui dengan lahap dari tetek ibu," bisik ibu. Aku mengiyakan dan melakukan apa yang dikatakan ibu.

Kedu tetek itu kuisap dan kujilati bergantian. Kuremas dan kubelai-belai. Sampai aku sudah meloighat ibu melepaskan pakaiannya. Ibu menidurkan tubuhnya di lantai. Aku melepas celanaku juga dan menindih ibu dari atas. Ku buka kedua paha ibu dan kutusukkan kontolku ke lubang memeknya. Ibu menari tengkukku dan menyedot-nyedot bibirku. Aku menjulurkan lidahku. Kami saling mengisap lidah.
"Oh... kalau dari dulu aku mengathu begini... Kenapa ayahmu tak pernah melakukannya," kata ibu.
"Ayah hanya melakukan apa, Bu?" tanyaku.
"Ayahmu hanya tau menusuk memek ibu dan menusuk belakang ibu, kalau ibu lagi haid," katanya. Oh....
Aku terus menggenjotnya dan terus menusuknya. Dlam dan sangat dalam sekali. Ibu menggelinjang dan memelukku dengan kuat.
""Ayooo... toleee... diteruskan. Ibu sudah mau sampai.. terus nak..." kata ibu. Aku terus menggenjotnya dari atas. Aku menekan kuat tubuh ibu dan ibu memelukku. Kami sama-sama menikmatinya.
"Ayo... buruan... nanti ayahmu pulang..." Aku menggenjotnyaslebih cepat lagi. Leboh cepat lagi dan lebih cepat lagi. Crooottt...croootttt....crrrooooottttt.... Spermaku memenuhi lubang memek ibu dan kami berpelukan denga erat. Kii aku menyadari, bahwa aku juga sudah semakin menyayangi ibu, walau rasa sayangku lebih besar pada adikku Suti.
Kontolku keluar dari memek ibu karena mengacil. Aku bangkit. Ibu pun duduk membenahi celananya. Saat itulah terdengar ketukan di pintu depan. Ayah berteriak memanggil untuk dibukakan pintu.
"Kamu keluar dari pintu belakang langsung ke atas perhau," kata ibu. Aku mendekati pintu dapur. Saat ibu melangkah ke depan dengan langkah yang kuat di atas lantai papan itu, aku membuka pintu dapur dan melangkahke bawah kolong dan naik ke prahu.

"Kenapa pintu dikunci? Mana anakmu?" tanya ayah.
"Di bawah membenahi jaring," kata ibu.
"Kebnapa akutidak lihat?" tanya ayah.
"Karena matamu memang tuidak melihat," jawab ibu ketus. Ayah turun ke korlong rumah. Dia mendapatiku tertidur didalam perahu. Saat ayah mau mendekat, aku pura-pura ngorok. Aku mendengar ayah melamgkah naik ke rumah.
"Wah... dia ngorok," kata ayah.
"Biarkan dia ngorok. Dia letih sekali. Dia telah menggantikan kedudukanmu mencarimakan. Seharusnya kau banga pada anak laki-lakimu itu," kata ibu.
"Ya... dia sangat muda menggantikan diriku," kata ayah sedih. Ayahpu mengembangkan sajadah untuk melaksanakan shalatnya. Aku benar-benar tertidur saat adzan mahgrib berbunyi dari pengeras suara masjid, aku terbangun. Aku memenag letih, bukan mengakayuh perahu, tapi mengkayuh ibu agar anakkubisa aku sirami.

Sehabis makan malam, aku duduk di teras rumah. Ayah dan ibu sudah tertidur, demikian juga Suti. Tak ingin aku membangunkan Suti. AKu hanya memeluknya dan mengcup pipinya dengan sejuta sayang.

Perahu (7)

Ibu membawakan segelas kopi panas padaku dan dua buah pisang goreng dan meletakkannya dekatku. Ibu ikut membenahi jaring-jring, agar besok kami pakai lagi. Ibu duduk di dekatku.
"Awas ya... kalau kamu bercerita kepada siapa saja. Kubunuh kamu.." ancam ibu. Aku tersenyum.
"Bukannya menjawab, malah tersenyum," kata ibu membentak dengan suara tertahan, takut di dengar orang lain.
"Ya... pasti aku tidak bercerita apa-apa," kataku tenang. Ibu pun tersenyum. Ayo cepat dibenahi, biar kita cari kerang dan kepiting," kata ibu.
"Aku buatkan teh manis dyulu dan botol. Cepat masukkan jaring ke dalam perahu," kata ibuku. Aku mengikutinya. Jaring kusimpan ke dalam perahu dan memasukkan jala serta memasyukan alat-alat penangkap kepiting juga. Saat aku melepaskan perahu dari tambatannya di bawah kolong rumah kami dan meyorongnya ke aliran air yang agak dalam. Ibu berjalan sampai ke pantai. AKu tahu, dia akan menaiki perahu di sana, karena aliran sungai kecil, masih dangkal. Aku menjalankan perahu dengan menolak galah ke dasar lumpur. Bukan mengkayuhnya.

Begitu aku tiba di tepian laut, ibu tersenyum menyambutku. Ibu cepat naik ke perahu dan ikut mengkayuh. Orang-orang maklum. Mereka tahu, kalau kami butuh banyak uang untuk menyekolahkan adikku Suti dan mengobati ayahku. Kami harus bekerja keras. Orang-orang kapung pun kagum melihat kerja keras kami. Satu jam lebih kami mengkayuh dan sambil bercerita. Ibu banyak bertanya tentang Suti dan menasehatiku, agar jangan sampai hamil. Kami akan mendapat malu sekampung, katanya. Aku setuju. Tapi aku minta ibu harus rela juga, kalau sekali seminggu, aku membawa Suti ke pulau bakau untuk menangkap kepiting. Alasanku menangkap kepiting, tapi ibu sudh mengerti maksudku, agar Suti juga mendapat giliran. Ibu diam tan membantah.

Sampai di tempat kami menjatuhkan sepuluh buah alat penangkap kepiting ke laut dengan umpan usus ayam, entah darimana ibu mendapatkannya. Aku memasang juga sepuluh buah pancing dengan umpannya dan menancapkannya ke beberapa tempat, untuk memancing ikan sembilang. Kini iabu yang turuna ke lumpur untuk meraba lumpur mendapatkan kerang. Orang-orang berseliweran. Melihat kami sudah berada di tempat memasang jerat kepiting dan mengembangkan jaring, perahu-perahu itu pun berlalu. Sesekali terdengar teriakan. Udah dapat banyak belum....? Aku menjawabnya dengan sambil lalu:" baru turun paaaakkk." Mereka pun berlalu, bahkan banyak yang pulang, karean kosong tak dapat apa-apa. Ibu mengantarkan beberapa keranjang kecil kerang ke atas perahu. Di akar bakau, ibu mengelus kontolku. Tangannya dia masukkan dari atas karet celanaku.
"Bu, hati-hati, nanti aku jatuh, " kataku. Ibu tersenyum. Kontolku cepat mengeras. Ibu menurunkan celanaku sampai ke mata kaki. Aku berpegangan ke pohon bakau dan menungghingkan dirinya.
"Ayo cepat... ibu sudah tak tahan. Cepat!" katanya. Aku menyodokkan kontolku perlahan ke lubang memeknya.
"Ayo.. yang dalam... dalam lagi," katanya. Aku memeluk tubuh ibu dan mengocok kontolku dalam memeknya. Tiba-tia tersengar suara desir air. Pasti perahu yang datang. Aku mencabut kontolku dengan cepat. Menaikkan celanaku dan ibuku juga menaikan celananya dengan cepat. Dia melangkah ke atas perahu dan mengambil sebotol teh manis dan membawanya ke akar-akar pohon bakau. Saat teh tertuang ke dalam gelas, perahu kecil itu lintas. Sebuah perahu kecil.
"Suti...." panggil ibu. Ternyata yang datang ke tempat kami adalah Suti menaiki perahu tetangga tanpa cadik. Suti tersenyum dan menepi. Dia naik ke akar bakau dan membawa beberapa potong goreng sukun. Kami memakannya dengan riang. Ibu menatapku dengan tajam. Dia tandatanya, kenapa Suti harusmenyusul. Apakah Suti sudah curiga?


Setelah meneguk beberapa teguk teh manis, ibu kembali meraba lumpur berpura-pura mencari kerang dan meninggalkan, kami. Aku menyibukkan diri mendekati bebetrapa pancing yang kupasang. Ada dua pacing yang bergoyang-goyang. Aku menariknya dengan cepat. Ya... dua ekor ikan sembilang trangkat dan kulepas dari pancing serta memasukkannya ke dala perahu.
"Kapan kita berdua ke tempat ini?" tanya Suti.
"Kitabuat jadwal setiap minggu pagi dan mingu sore. Saat kamu tidak sekolah dan latiha pramuka," kataku.
"Benar ya, Mas..." pintaSuti setengah berbisik.
"Benar.." aku janji, kataku.
"Kalau begitu Suti pulang ya..." Suti pun pulang meninggalkan tempat itu. Saat itu ibu datang setelah mencuci tubuhnya yang berlumpur dengan air laut yang bening. Dia mendatangiku ke akar bakau.
"Suti bilang apa?"
"Dia minta jatah. Kapan aku bersamanya?" kataku berterus terang. Aku menceritakan pada ibui, setiap minggu pagi dan minggu sore atau kalau SUti tidak latihan pramuka dan kalau ibu berhalangan.
"Kamu tidak bercerita apa-apa tentang kita kan?" tanya ibu. Menurutku inilah kesempatanku.
"Tidak bu. Tapi nampaknya Suti curiga. Untuk itu, dia harus dapat kesempatan. Kalau tidak dia akan membuntuti kita terus," kataku berpura-pura. Ibu menjawabku dengan memberiku ciuman di pipiku.
"Kamu anak pintar tole..." kata ibu dan meremas kontolku lagi. Suara-suara burung bercicit-cicit di atas dahan-dahan bakau dan sesekali mereka berkejaran. Ibu melepaskan celananya dan kini dari pusat sampai ke bawah, telah telanjang. Tubuhnya masih padat dan bulukemaluannya sangat tipis membuat belahan memeknya jelas terlihat. Aku bersandar ke pohon bakau. Ibu langsung menaiki tubuhku. Aku berada di antara kedua kakinya. Ibu memasukka kontolku ke lubang memeknya sampai masuk semuanya. Aku memeluknya dan menaikkan baju kaosnya, sampai kedua teteknya tergantung. Mulutku menghisap-hisapnya. Ibu terus memutar-mutar tubuhnya, hingga terasa kontolku menyentuh-nyentuh lubang terdalam dari memeknya. Dan ibu histeris dengan lenguhannya yang kuat dan memelukku kuat sekali.
"Ibu sudah sampai," kataku. Ibu diam saja dan terus memelukku. Kni giliranku menghenjut-henjutnya dari bawah. Sampai aku melepaskan spermaku. Kami berpelukan dan melepaskan nikmat kami. Akhirnya, kontolku lepas dari lubang memek ibu. Ibu tersenyum. Dia menaikkan celananya dan aku juga. Kami megangkati jerat-jerat kepiting. Ada beberapa yang dapat dan ada yang masih korong. Kami menjatuhkannya kembali. Jaring yang kutebar perlaha kutarik dan ada beberapa ekor ikan kecil yang dapat. Cukup utuk lauk makan kami malam ini dan untuk bekal besok subuh.

"Bagaiamana? Apa kamu dapat menikmatinya?" kata ibu. Aku diam saja.
"Ya.. pasti Suti lebih nimmat, kan?" katany aketus dan cemburu. Aku diam juga.
"Kalau kamu merasa sudah longgar, ibu akan berikan yang lebih sempit dan lebih enak," kata ibu.
"Bagaimana bisa sempit?" kataku.
"Apa kamu mau?" tanya ibu. Aku mengangguk. Ibu dengancepat menurunkan celanaku dan memasukkan kontolku ke mulutnya. Kontolku dijilatinya. Wah.. aku belum pernah merasakan nikmatnya dikulum seperti itu. Setelah kontolku keras, ibu melepas celananya dan dia menunggingkan tubuhnya dan berpegangan ke pohonbakau.
"Ayo masukkan itu mu ke lubang belakang ibu," katanya. Aku seperti tak yakin.
"Ayo cepat. Nanti orang datang," katanya. Aku menusukkan kontolku ke mulut lubang belakangnya. Kutusuk lubang belakang itu dengan kuat. Kepala kontolku sudah menembusnya.
"Perlahan saja. Berhenti sebentar," kata ibu. Lalu aku menusuknya kembali. Setelah setengah kontolu masuk ke lubang belakangnya, aku merasa kontolku dipijat-pijat. Aku mearasa nikmat.
"Ayo ditusuk terus," kata ibu. Aku menusuknya.dan mencabutnya. Bagaikan aku menusk dan mencabut di lubang memeknya.
"Kalau mau keluar, keluarkan di lubang memek ib," pinta ibu. Aku memeluknya dari belakang sembari terus mencucuk cabut kontolku di lubang yang nikmat itu. Sebelah tangan Ibu meraba-raba memeknya.
"Bu.. aku mau keluar..."
"Cepat cabut dan masukkan ke lubang memek ibu," katanya. Aku mencabutnya dan dengan cepat aku mencucuknya ke lubang memeknya. Aku memeluknya dan melepaskan spermaku di dalam lubang memeknya. Ibu pun kembali histeris dengan nimmatnya.
"Bagaimana... enak kan?" tanya ibu. Au tersenyum.
Kami menarik semua jerat peiting. ada yang kena ada yang kosong. Kami harus pulang, sebelum matahari terbenam. Ibu naik ke perahu dan kami sama menaikkan layar, karena angin masih dari laut ke darat. Kami berlayar dengan perasaan kami masing-masing.

"Kapan-kapan, aku boleh melihatmu bersama Suti?" tanya ibuku.
"Bagaimana caranya, Bu?"
"Kita bertiga ke bakau ini dan aku berpura-pura mencari kerang di seberang sembari meilhat orang. Kalau aku bernyanyi-nyanyi, itu pertanda ada orang. Kalau tidak kamu boleh teruskan dan ibu akan mengintip," kata ibu. Gila pikirku. Aku diam memikirkannya.
"Tapi kalau Suti mengintip kita, boleh enggak?" tanyaku.
"Suti tak boleh tau. Bisa bahaya," kata ibu. Aku berpikir. Ya... Suti tak boleh tau.
"Bagaimana?" tanya ibu mendesak. Sebuah desakan yang susah kujawab. Diam-diam, aku mencintai Suti adikku sendiri. Aku menyayanginya. Akhirnya aku pu setuju, kalau ibu boleh melihat aku denganSuti, supaya satu saat nanti ibu muak dan dia tak mau lagi bversetubuh denganku. AKu setuju. Ibu pun tersenyum. Kami sampai di rumah dan membawa hasil kami untuk dimasak untuk makan malam. Suti ikut membantu membersihkan ikan sembilang dan kepiting disimpan untuk besok pagi di jual. Cukup untuk membeli dua kilo beras.

Perahu (6)

Sudah dua hari ayah pulang dari rumah sakit. Dia harusbanyak istirahat. Tidak boleh inum alkohol, kopi, merokok dan keluar malam. Makan obat harus terus diawasi dan dipaksa, jika ayah menolak. Demikian nasehat dokter.




Setelah seminggu ayah di rumah, ternyata aku dan adikku Suti, sudah tak tahan lagi. Malam ini, Suti meraba kemaluanku. Tentunya setelahmendengar ayah ngorok dan tertidur pulas. Tempat tidur kami, hanyaq dibatasi oleh tirai kain. Aku meliriknya dan memeluknya. kami berciuman. Suti membuka kainnya dan menyodorkan teteknya padaku untuk aku hisap dan jilati. Aku melakukannya dan aku sudah tak tahan lagi. Aku pelorotkan celanaku sampai lepas dan Suti juga melepaskan kain sarungnya. Dengan cepat SUtimenaiki tubuhku dan menggoyangku dari atas. Kurangkul tengkuknya dan kubisikka padanya agar pelan-pelan. Jangan sampai ibu dan ayah mengetahuinya. Mulanya Suti mengikutinya, tapi nampaknya laranganku dilanggar lagi, sampai dia puas dan lemas.

Mulai aku membelaikkan tubuh. KIni aku sudah berada di atas tubuhnya. Perlahan kupompa tubuh Suti dan menindihnya dari atas, sembari menicumi bibirnya dan lidah kami berpautan. Aku sudah semakin memuncak dan aku juga tak mampu bergerakpelan. Kugenjot tubuh Suti dengan kuat sembari memeluknya. Saat itu, betisku dicubit. Aku melihatnya ke belakang. Oh.. ibu yang mencubit betisku. Tapi kenikmatanku sudah berada di atas da aku meneruskan memompa tubuh Suti, sampai kami sama-sama menikmati kepuasan. Lalu kami berpelukan dan memakai pakaian kami sembari tidur.

Ibu membangunkan aku dan Suti. Ibu mengajakku untuk sama turun ke laut. Sedang Suti, tiba waktunya harus ke sekolah. Aku mengangkat jaring dan memasukkannya ke dalam perahu. Baru saja kami mengkayuh perahu dan belum mencapai bibir laut, ibu bertanya kepadaku.
"Tadi malam kamu dan Suti ngapain? Dia kan adikmu. Sejak kapan kamu dan Suti melakukan itu," tanya ibu. Mulanya aku diam. Ibu terus mendesak agar aku memberikan jawaban. Ibubenar-benar marah. AKu takmampu menjawab pertanyaannya.
"Sejak kapan, tole," desak ibu.
"Sejak ibu dan ayah ke rumah sakit," jawabku menunduk sembari terus mengkayuh. Kami pun tiba di bibir pantai. Aku memasang layar. Ibu berusia 37 tahun dan gtubuhnya yang mungil, ntapi marahnya segunung. Akhirnya ibu diam saja. Aku juga diam.

Aku membuang jaring ke laut dan ibu ikut membantunya melepas jaring-jaring itu. Hari ini, memang rezeki kami sangat mujur. TIga kali kami membuang jaring, ikan-ikan demikian banyak kami tangkap. Rata-rata ukuran sedang. Saat nelayan lain sudah pada pulang, kami masih menarik jaring.
"Kita kemana?" tany ibu, sat perahu kubawa ke tepi pulau kecil.
"Mandi Bu. JUga makan. Kita makan di sini sana, lebih teduh dan enak," kataku. Perahu merapat ke pantai dan aku langsung menuju pancuran. Aku membuka seluruh pakaianku bertelanjang aku menadah air pancur yang sejuk di kepalaku. Aku tahu ibu datang dari belakang, tapi aku pura-pura tidak melihatnya. Ibu menunggu aku siap mandi. Gantia kami mandi di pancuran itu. Ibu pun mandi telanjang juga setelah di memintaku untuk berjaga-jaga. Aku mengintipnya. Tubuh ibuku, membuat aku nafsu sekali.
Selesai ibu mandi, kami makan bersama di tepi pancuran itu, sembari melihat perahu kami yang tertambat. Kontolku masih saja menegang dan aku secepatnya makan. Ibu juga mengikutinya, karea hari sudah pukul 07.00. Kami harus sampai pukul 08.00 di pantai agar pembeli ikan tidak keburu pulang.

Saat ibu mengangkat kakinya, dari celana pendek yang dipakai dan longgar, aku mengetahui ibu tidak memakai celana dalam. Aku melihatnya tadi waktu dia memakai celana. Kurangkul ibu dri belakang.
"Ada apa, Tole?" tanya ibu perlahan. Aku diam saja. Ibu bertanya kembali, karean pelukanku belum lepas. Perlahan kutarik ibu ke sebuah batu besar yang agar ceper. Langsung kupeluk ibu. Ibu meronta dan melawan. Dia sangat berang dan marah. Aku sudah tak perduli. Kusentap celananya sampai lepas dan aku juga dengan cepat melepas celanaku. Ku peluk ibuku dan kuciumi lehernya. Ibu tetap meronta dan menolakku. Tapi aku sudah berada di antara kedua kakinya dan kumasukkan kontolku ke memek ibu. Perlahan kudorong. Saat kuraba, memek ibu sudah basah dengan air kental. Cepat aku sadar, kalau ibu sudah nafsu juga. Kusorong pelan-pelan kontolku ke lubang memeknya dan secepat itu, kontolku lenyap di dalam memeknya. Aku molau memompanya,walau ibu terus menerus meronta bahkan mearik rambutku dengan kuat. Aku semakin tak perduli. Terus memeluknya, menciumi lehernya dan memompa tubuhnya dengan lebih cepat. Aku merasa jambakan tangan ibu di rambutku sudah melemah. Aku terusmemompanya dan menciumi lehernya. Sampai akhirnya aku memeluknya kuat dan menekan sekuat-kuatnya kontolku ke dalam dan melepaskan beberapa kali spermaku di dalamnya. Saat itu, aku merasakan ibuku balas memelukku, walau malu-malu. Saat aku mau mencabut kontolku, saat itulah ibu memelukku da menahan pantatku. Aku urung menarik kontolku. Yang kudengar mulut ibu mendesis-desis dan akhirnya dia melepas pelukannya.

"Kamu memang anak kurang ajar. Biadab sekali kamu," bentakibu pdaku sembari menangis.
"Sudah bu, Maafkan aku," kataku sembari memeluknya. Ibu meronta.
"Jangan!" bentak ibu. Aku membujuknya, sampai akhirnya ibu diam dan aku membimbingnya ke atas perahu.
"Jangan sampai terlang lagi!": bentak ibu. AKudiam. Kupasang tali layar dan perlahan aku mengkayuhnya. Kumintaibu duduk dekat denganku dibelakang, agar haluan perahu terangkat sedikit dan perahu kami bisa berjalan dengan cepat. Ibu mendekat. Akhirnya tubuh ibu kukepit dengan kedua kakiku. Kontolku walau dari balik celana tertempel ke punggung ibuku. Kedua tangan ibu sengajakubimbing berada di paha kiri dan kananku. Saat perahu perlahan berlayar dan laut sepi, karena semua nelayan sudah berada di tepian pantai, aku takmampu menahan kontolku yang sudah tegang dan keras. Dengan sebelah memegang kemudi, sebelah lagi tanganku kumasukkan ke kaos ibu dari atas dan aku meremas tetek ibu dengan lembut.
"Ah.. ada apa lagi..." kata Ibu meronta, sampai perahu oleh.
"Ibu diam. Kita akan terbalik nanti," kataku.
"Kamu ini bagaimana? Apa kamu tidakmengerti jangan diulangi lagi, Mengerti!" bentak ibu. Tapi aku terusmeremas tetek ibu. Bergantian. Aku sengata membawa perahu melalui sela-sela pohon bakau agar teduh dan sepi. Cepat kulorotkan celanaku dan melorotkan celana ibu.
"Aduh gusti, kamu ini....!!!" Aku tak perduli. Kuangkattubuh ibu ke atas pangkuanku, walau dia membelakangi tubuhku dan kami sama-sama menghadap ke depan. Aku tahu, ibu sudah berbulan-bulan tidak bersetubuh. Cepat kucelupkan kontolku ke lubang memek ibu.
"Akh... " kata ibu. Tapi kontolku sudah berada di dalam. Perahu terus berjalan dengan santaidalam tiupan angin yang sepoi.
"Aduh.. bagaimana ini Tole," tanya ibu padaku.
"Ibu diam saja. Kita akan cari waktu yang baik, kita ke pulau dan kita akan memuaskan diri kita dengan tenang," katraku merayu.
"Biadab kamu !" bentaknya. Suara desau angin dan ombak-ombak kecil membuat perahu bergoyang-goyang. AKu memeluk ibu dari belakang dengan sebelah tangan dan...
"Ibu... aku mau sampai. Sebentar lagi, aku akan mencabutnya. Tenanglah..." kataku.
"Dioam kamu biadab. Coba kamu cabut. Tunggudulu," bentak ibu. Aku diam dan memeluk erat tubuh ibu serta melepaskan spermaku.
"Sudah, Bu. Aku sudah sampai," kataku lirih.
"Tungu. Jangan kamu cabut dulu. Kurang ajar kamu," bentak ibu lagi. AKu diam saja. Sampai akhirnyaibumendesah dan diamencabut sendiri kiontolku yang sudahlemas. Ibu memakai kembali celananya. Aku juga. Kami terus menuju pantai. Pembeli masih ada yang menunggu kami membeli ikan. Ikan kami jual dan kami kembali ke rumah kami.
Aku segera mengangkat jaring ke bawahpohon kelapa 50 meter dari rumah dan memperbaikinya, ibu mempersiapkan makan siang untuk kami sekeluarga.
Sungguh Puaskah Istri Anda ?