Sunday, November 1, 2009
Yu Neem
AKU terjaga saat kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh kakiku.
Gusbangun, sudah sore. Mandi dulu. Ayo. bangun. Aku terbangun. Yu Nem berdiri di ujung tempat tidurku. Tangan kanannya mengguncang-guncang kakiku. Aku meliukkan badan, dan mataku terpejam lagi.
Heeeh. ayo bangun. Mandi dulu, Yu Nem kembali mengguncangkan kakiku.
Aku membalikkan badan. Enak sekali tidurku. Rasanya masih ingin tidur lagi. Kulirik jam dinding menunjuk pukul 4 sore lebih.
Bu Lik sudah pulang, Yu? tanyaku. Yu Nem menggeleng, dan kembali memintaku mandi. Oh ya, umurku waktu itu masih 12 tahun, masih kelas 6 SD. Yu Nem adalah salah satu pembantu kami
Umurnya sekitar 30 tahun. Dia sudah lama ikut kami. Dia satu dari tiga pembantu kami. Yu Nem bertugas melayani keperluanku dan keperluan Bu Lik. Mulai dari mempersiapkan keperluan mandi, makan, apa saja. Karena itu aku lebih dekat dengan Yu Nem daripada dengan Mbah Karso atau Yu Parmi.
Bu Lik kok belum pulang to Yu? tanyaku. Yu Nem duduk di tepi ranjang.
Mungkin sampai malam. Kan kulakannya ke Praci.
Bu Lik adalah pedagang hasil bumi. Selain menerima setoran hasil bumi dari para petani, seringkali Bu Lik hunting dagangan sampai ke kota-kota kecamatan. Sesekali aku diajak.
Ayo mandi dulu Gus, kata Yu Nem. Aku pun beranjak. Yu Nem mengangsurkan handuk, dan aku menuju kamar mandi. Yu Nem mengikutiku.
Kok sepi? tanyaku.
Mbah Karso sama Parmi lagi nagih.
Mbah Karso dan Yu Parmi adalah dua pembantu kami lainnya. Beberapa pengrajin tempe dan tahu seringkali ambil kedelai dari Bu Lik, dan bayarnya beberapa hari kemudian. Para pembantu kami seringkali yang disuruh menagih.
Selesai mandi, ini yang tak aku sangka-sangka, Yu Nem bertanya, Kangen sama Ibu ya? Ibu yang dimaksud perempuan itu adalah Bu Lik. Pertanyaan Yu Nem bernada menyelidik, sedikit meledek. Dia tersenyum penuh arti. Aku menyambar koran, dan duduk di bangku teras. Aku paling sedang komik serial Tarzan. Biasanya sore begini aku membaca bersama Bu Lik. Yu Nem di sebelahku.
Ayo cerita dong Gus, katanya.
Cerita apa?
Cerita Gus sama Ibu. Aku terperanjat. Yu Nem tahu kok Gus. Mbah Karso, Parmi juga tahu. Tapi tenang saja, rahasianya aman.
Aku benar-benar mati kutu. Rupanya perzinaanku dengan Bu Lik sudah diketahui ketiga pembantuku.
Kalau sudah tahu ya sudah. Napa suruh cerita, sahutku agak kesal. Yu Nem tersenyum.
Pengin denger saja. Sudah pinter ya Gus?
Apaan sih? aku terus menatap koran, tapi pikiranku agak kacau.
Ehh tapi jangan bilang ke Ibu yaa kalau kami sudah tahu. Aku diam saja. Bener lho jangan bilang. lalu Yu Nem pergi.
Malamnya, aku belajar ditunggui Yu Nem. Dari dulu memang begitu. Kalau Bu Lik kecapekan dan tak bisa menunggui belajar, disuruhnya Yu Nem menungguiku. Waktu kelas satu sampai kelas dua SD perempuan itu malah kerap membantuku mengerjakan PR atau membantuku membetulkan cara membaca. Tetapi setelah kelas enam, dia mulai tidak bisa mengikuti pelajaranku. Maklum, dia cuma sekolah sampai kelas empat SD.
Sekitar jam 9 aku mulai ngantuk dan menyudahi belajar. Yu Nem membantu mengemasi buku-bukuku. Aku pun beranjak ke kamar.
Mau ditemani bobo ndak Gus? tiba-tiba Yu Nem bertanya. Dulu waktu masih umur 7-8 tahun aku sering tidur dikeloni Yu Nem. atau Bu Lik Tapi semenjak kelas lima, aku sudah tidur di kamar sendiri. Entah kenapa, rasanya pengin juga seperti dulu, tidur ditemani Yu Nem. Beda dengan Bu Lik, Yu Nem kalau ngeloni suka sabar. Sering mendongeng sambil mengusap-usap penggungku, dan aku memainkan ujung sikunya. Sampai tertidur.
He-eh kataku.
Aku merebahkan tubuh di ranjang. Yu Nem juga rebahan di sebelahku. Kami tidur satu bantal karena memang hanya ada satu bantal di tempat tidurku. Aroma perempuan ini belum berubah. Rambutnya berbau minyak cem-ceman. Minyak ini terbuat dari minyak kelapa dicampur daun pandan dan rempah-rempah lain. Dia mengenakan kemeja lengan pendek, dan jarik yang digulung sebatas pusar. Semua pembantuku kesehariannya ya begitu. Jariknya sedikit di bawah lutut.
Yu Nem meraih tubuhku, dan mengelus-elus punggungku.
Sudah lama ya Gus, ndak bobo sama Yu Nem. Wajahku hanya beberapa inci dari wajahnya. Terasa lembut nafasnya. Bau nafasnya gurih. Rasanya amat menenteramkan.
He-eh, sahutku pendek sambil memejamkan mata.
Berapa kali gituan sama Ibu? pertanyaan itu menyentakkanku, menghilangkan kantuk. Ndak pa-pa cerita sama Yu Nem. Dia menunggu reaksiku. Tangannya masih mengelus-elus punggungku. Sudah ndak kehitung ya? Ati-ati ya Gus, nanti kayak Gus Bambang, ketahuan terus diusir. Semua kena malu.
Memangnya Mas Bambang juga gituan sama Bu Lik? tanyaku ingin tahu. Aku memang mendengar selentingan kasus itu. Tapi karena umurku yang belum cukup mampu mencerna pembicaraan orang, aku tidak pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Iya. Dasarnya Gus Bambang ndak bisa menjaga rahasia, jadi yaa rahasianya kesebar. Lalu Yu Nem bercerita panjang lebar tentang skandal Bu Lik dengan Mas Bambang, sepupuku yang berarti juga masih keponakan Bu Lik. Yu Nem juga bercerita bagaimana Mas Bambang pun pernah meniduri Yu Nem dan Mbah Karso.
Yu Nem kok mau?
Yaa ndak berani nolak to Gus, jawabnya.
Berapa kali Yu?
Ahh banyak. Lalu Yu Nem memintaku bercerita tentang perzinaanku dengan Bu Lik.
Malu Yu ahh, sahutku.
Kok malu, Yu Nem juga sudah cerita. Lama aku terdiam.
Ayo cerita. Yu Nem mencubit hidungku. Pertamanya dipaksa ya?
He-eh, sahutku. Yu Nem tertawa kecil.
Lama-lama Gus yang minta?
Ndak. Ndak berani to Yu.
Disuruh cium-cium anunya Ibu juga?
Ihhh kok Yu Nem .
Dulu Gus Bambang suka cerita kok. Aku heran, kok Mas Bambang bisa cerita ke Yu Nem. Pantesan affairnya dengan Bu Lik terbongkar dan menggegerkan keluarga besar Bu Lik.
Gus ketagihan ndak? Kalau pas pengin gimana? Kan ndak berani minta ke Ibu?
Ya diem. Ditahan. Yu Nem terkikih.
Minta sama Yu Nem to, kayak Gus Bambang.
Idiih. Yu Nem tertawa kecil.
Sekarang lagi pengin ndak? Aku diam tak menjawab.
Mumpung ada Yu Nem Kalimat itu membuatku tergetar.
Yu Nem mau kok Gus. Tiba-tiba kurasakan elusan Yu Nem terasa aneh. Membuat bulu-bulu di tubuhku meremang. Darahku berdesir. Dan tak kuduga, Yu Nem mencium bibirku. Lembut. Lidahnya menerobos ke dalam mulutku, mencari-cari. Dihisapnya bibirku, dicarinya lidahku. Kami berpagutan. Tangan Yu Nem berpindah ke perutku, mengusap, meremas, dan menerobos masuk ke celana.
Sama Yu Nem ya Gus?
Tanpa menjawab aku membuka kancing baju Yu Nem, dan mengeluarkan sepasang tetek dari dalam kutangnya. Aku menghisapnya, memilin dan menggigitnya. Yu Nem mendesah-desah. Tangannya meremas penisku. Disingkapnya jariknya hingga menampakkan paha yang padat dan mulus. Dia lepas CD-nya, dan meraih tanganku, dibawanya ke selangkangan. Lalu dilepasnya celanaku.
Terasa penisku masuk ke dalam mulut hingga terdengar bunyi yang menggairahkan. Crop.cropp.
Yu Nem memutar tubuhnya, mengarahkan vaginanya tepat di depan mulutku. Lalu ditekannya pinggul, hingga vagina itu menempel di mulutku. Refleks lidahku terjulur. Yu Nem mengerang keras. Di tekan lagi, dan digoyangkannya pantat bulat itu. Aku coba menghindar karena nafasku jadi sesak. Tapi Yu Nem kembali menekan sambi terus melumat penisku dengan rakus.
Perempuan itu adalah janda yang sudah lama cerai dari suaminya. Mungkin dia memang sangat butuh sentuhan seperti halnya Bu Lik. Bedanya, Bu Lik bisa melampiaskan ke aku atau Mas Bambang, dan mungkin ke lelaki lain. Sedangkan Yu Nem, mana bisa. Kini di hadapannya ada aku. Lelaki kencur tapi sudah mahir bersenggama.
Yu Nem mengangkat pantatnya, dan Gus digigit itilnya. Aku menggigit lembut itil itu. Aromanya memang tidak sewangi vagina Bu Lik. Tapi sangat terasa lubangnya masih sempit. Vagina yang belum pernah mengeluarkan bayi. Yu Nem kembali mengerang. Penisku disedot kuat-kuat. Aku lap vaginanya yang basah lendir bencampur ludahku dengan ujung jariknya, lalu kujilat-jilat lagi. Nafsuku sudah sampai di ubun-ubun. Yu Nem membalikkan badan. Dipegangnya penisku dan diarahkan ke lubang vaginanya. Samar-samar aku lihat wajahnya meringis seperti menahan sakit. Dia berhenti sejenak, lalu mencoba menekan vaginanya. Ujung penisku mulai masuk. Dia kembali mendorong sehingga seluruh penisku masuk. Aku tidak tahu kenapa vagina Yu Nem begitu sempitnya, sampai-sampai penisku yang sebenarnya tidak besar pun sulit masuk. Maklum umurku masih 12 tahun, dan belum disunat.
Begitu seluruh penis tenggelam dalam vaginanya, Yu Nem menggereng. Seperti suara kereta api. Dia mencengkeram lenganku. Ditekannya tubuhnya seolah ingin menelan habis tubuhku. Digoyang-goyang tubuhnya.
Ahh Yu Nem memang tidak semahir Bu Lik. Ketika dengan Bu Lik, aku merasakan kenikmatan yang luar biasa sehingga cepat sekali keluar. Seringkali ketika ronde kedua baru Bu Lik mencapai puncaknya. Kini Yu Nem sepertinya sudah sampai di puncak, sedangkan aku belum apa-apa. Perempuan itu lemas di atas tubuhku.
Gus belum keluar?
Belum.
Dia membalikkan badan, telentang, dan memintaku menaiki tubuhnya.
Pelan-pelan ya? katanya sambil mengarahkan penisku ke lubang vaginanya. Aku menekan penisku. Yu Nem merintih menahan sakit. Dia memintaku pelan-pelan. Belakangan baru aku tahu, rasa sakit itu dikarenakan dia sudah lama tidak gituan, sehingga lubang vaginanya seperti menyempit.
Ketika seluruh penisku berada dalam cengkeraman vaginanya, akupun mulai memompa. Mula-mula dia terlihat pasif. Tetapi lama-lama kurasakan dia kembali terangsang dan mengimbangiku. Keringatnya bercucuran, menimbulkan aroma yang menyengat. Dalam kondisi normal mungkin aku muak dengan bau itu. Tetapi di tengah nafsu yang menjeratku, aku sangat menikmati aroma itu. Bahkan kemudian kuangkat tangannya sehingga nampak sepasang ketiak yang ditumbuhi bulu yang sangat lebat. Aromanya benar-benar menyengat tajam. Aku benamkan wajahku ke ketiak itu. Dia menggelinjang menerima jilatanku. Aku terus menggenjot dengan hebat.
Ohhh Gus Yu Nem ndak tahan lagi.
Beberapa saat kemudian aku mengejang.
Buang di luar Gus. kata Yu Nem. Sepertinya dia tahu apa yang akan terjadi. Nanti Yu Nem hamil. Buang di perut.
Aku tarik keluar penisku, aku tempelkan di perutnya, dan aku tekan dengan kuat, merasakan semprotkan maniku. Creettt.crettt.
Aku dipeluknya dengan erat, dan diciumnya wajahku, bibirku, kupingku. Aku jatuh telentang di sebelahnya. Tanpa kuduga, dia hampiri penisku, dan dihisap-hisapnya sisa-sisa maniku. Juga sebagian yang ada di perutnya.
Malam itu aku tertidur pulas. Aku terbangun oleh suara Bu Lik, memintaku segera mandi. Sekilas kulihat wajah Bu Lik menegang. Mungkin kecapekan dari bepergian. Tetapi memang ada yang ganjil. Suaranya amat berat. Dia seperti menghardikku
Pulang sekolah barulah semuanya terjawab. Yu Nem menyeretku dengan wajah tegang.
Jangan cerita ke Ibu bahwa Gus sama Yu Nem gituan, katanya. Perempuan itu bercerita bahwa pagi tadi dia dipanggil Bu Lik, diinterograsi. Ditanya kenapa Yu Nem tidur di kamarku. Mula-mula Yu Nem mengelak. Tapi Bu Lik bilang, bantalku beraroma minyam cem-ceman. Satu-satunya yang dituduh adalah Yu Nem karena dia yang paling dekat denganku. Akhirnya Yu Nem mengaku bahwa dia memang tidur di kamarku karena aku yang minta ditemani. Tidur biasa, tidak ngapa-ngapain.
Bener ya Gus, jangan bilang. Pokoknya jangan ngaku. Wajah Yu Nem benar-benar tegang. Aku sendiri merasa sangat takut. Takut gagal membohongi Bu Lik.
Malamnya, di kamarku Bu Lik menanyaiku. Karung bantal sudah tak beraroma cem-ceman lagi. Sudah diganti.
Kenapa Yu Nem tidur di sini tadi malam? tanya Bu Lik.
Saya takut Bu Lik. Sepi sekali tadi malam ndak ada Bu Lik, jawabku berbohong dengan kecemasan yang seakan hendak membunuhku.
Ndak boleh. Gus ndak boleh tidur dengan pembantu. Ngerti?! Aku mengangguk.
Gituan sama Yu Nem ya? tanyanya. Aku memang sudah menduga akan ditanya begitu. Tapi tetap saja aku amat takut, berdebar-debar. Ngeri.
Ndak kok Bu Lik. Saya ndak mau to.
Sumpah?
Iya sumpah Bu Lik. Perempuan itu menarik nafas, lalu mencium pipiku.
Bu Lik ndak mau kamu gituan sama perempuan lain. Sama Bu Lik saja. Dia memagut bibirku. Malam itu aku disetubuhi Bu Lik.
Sejak peristiwa dengan Yu Nem, aku memang sangat ingin mengulangi. Kesempatan kecil selalu kami gunakan. Kadang-kadang di dalam kamar Yu Nem di tengah malam buta. Tapi seringnya di gudang, di antara tumpukan karung-karung palawija, dalam kegelapan. Setelah selesai, kami menyelinap keluar, persis maling
Tamat
Aku dan Kakakku
Ini mungkin sebuah pengalaman yang paling gila (menurutku), karena orang pertama yang mengajarkan seks kepadaku adalah kakak kandungku sendiri. Aku adalah seorang gadis berumur 18 tahun (sekarang), dan kakakku sendiri berusia 23 tahun. Sudah lama aku mengetahui kelainan yang ada pada diri kakakku. Karena ia sering mengajak teman perempuannya untuk tidur di rumah, dan karena kamarku berada persis di sebelah kamarnya, aku sering mendengar suara-suara aneh, yang kemudian kusadari adalah suara rintihan dan kadang pula teriakan-teriakan tertahan. Tentu saja meskipun orang tuaku ada di rumah mereka tak menaruh curiga, sebab kakakku sendiri adalah seorang gadis.
Ketika aku mencoba menanyakannya pada awal Agustus 1998, kakakku sama sekali tidak berusaha menampiknya. Ia mengakui terus terang kalau ia masuk sebuah klub lesbian di kampusnya, begitu juga dengan kekasihnya. Waktu itu aku merasa jijik sekaligus iba padanya, karena aku menyadari ada faktor psikologis yang mendorong kakakku untuk berbuat seperti itu. Kekasihnya pernah mengecewakannya, kekasih yang dicintainya dan menjadi tumpuan harapannya ternyata telah menikah dengan orang lain karena ia telah menghamilinya. Kembali pada masalah tadi, sejak itu aku jadi sering berbincang-bincang dengan kakakku mengenai pengalaman seksnya yang menurutku tidak wajar itu. Ia bercerita, selama menjalani kehidupan sebagai lesbian, ia sudah empat kali berganti pasangan, tapi hubungannya dengan mantan-mantan pacarnya tetap berjalan baik.
Begitulah kadang-kadang, ketika ia kembali mengajak pasangannya untuk tidur di rumah, pikiranku jadi ngeres sendiri. Aku sering membayangkan kenikmatan yang tengah dirasakannya ketika telingaku menangkap suara erangan dan rintihan. Aku tergoda untuk melakukannya. Pembaca, hubunganku yang pertama dengan kakakku terjadi awal tahun 2000, ketika ia baru saja putus dengan pasangannya. Ia memintaku menemaninya tidur di kamarnya, dan kami menonton beberapa CD porno, antara tiga orang cewek yang sama-sama lesbian, dan aku merinding karena terangsang secara hebat mengingat kakakku sendiri juga seperti itu.
"Aku sayang kamu, makasih ya, mau nemenin aku", katanya berbisik di telingaku.
Mendengar hal itu, spontan aku mendongakkan wajah dan kulihat matanya berlinang, mungkin ia teringat pada kekasihnya. Refleks, aku mencium pipinya untuk menenangkan, dan ternyata ia menyambutnya dengan reaksi lain. Di balasnya kecupanku dengan ciuman lembut dari pipi hingga ke telingaku, dan di sana ia menjilat ke dalam lubang telingaku yang membuat aku semakin kegelian dan nafsuku tiba-tiba saja naik. Aku tak peduli lagi meski ia adalah kakakku sendiri, toh hubungan ini tak akan membuatku kehilangan keperawanan. Jadi kuladeni saja dia. Ketika ia menunduk untuk melepaskan kancing-kancing kemejaku, aku menciumi kuduknya dan ia menggelinjang kegelian.
"Oh.. all..", desahnya.
Aku semakin liar menjilati bagian tengkuknya dan memberi gigitan-gigitan kecil yang rupanya disukai olehnya.
Ketika kusadari bahwa kemejaku telah terlepas, aku merasa tertantang, dan aku membalas melepaskan T-shirt yang ia kenakan. Ketika ia menunduk dan menjilati puting susuku yang rupanya telah mengeras, aku menggelinjang. Kakakku demikian lihai mempermainkan lidahnya, kuremas punggungnya.
"Oohh.. Kaakk, ah.. geli", Ia mendongak kepadaku menatap mataku yang setengah terkatup, dan tersenyum.
"Kamu suka?".
"Yah..", kujawab malu-malu, mengakui.
Ia kembali mempermainkan lidahnya, dan aku sendiri mengusap punggungnya yang telanjang (kakakku tak biasa pakai bra ketika hendak tidur) dengan kukuku, kurasakan nafasnya panas di perutku, menjilat dan mengecup. Aku memeluknya erat-erat, dan mengajaknya rebah di peraduan, lantas kutarik tubuhku sehingga ia berada dalam posisi telentang, kubelai payudaranya yang kencang dan begitu indah, lantas kukecup pelan-pelan sambil lidahku terjulur, mengisap kemudian membelai sementara jemariku bermain di pahanya yang tidak tertutup. Aku menyibakkan rok panjang yang dipakainya kian lebar, dan kutarik celana dalamnya yang berwarna merah sementara ia sendiri mengangkat pantatnya dari kasur untuk memudahkanku melepaskan CD yang tengah dipakainya.
Ketika aku meraba ke pangkal pahanya, sudah terasa begitu basah oleh cairan yang menandakan kakakku benar-benar sedang bergairah. Aku sendiri terus menggelinjang karena remasannya di payudaraku, tapi aku ingin lebih agresif dari pada dia, jadi kubelai lembut kemaluannya, dan merasakan jemariku menyentuh clitorisnya, aku membasahi jemariku dengan cairan yang ada di liang senggamanya kemudian kuusap clitorisnya, lembut pelan, sementara ia mendesah dan kemudian meremas rambutku kuat-kuat.
"Oh.. Yeahh.. Ukkhh, ahh, terus, teruss, ahh", celoteh kakakku dengan ributnya. Aku terus mengusap clitoris kakakku, dan tiba-tiba kurasakan tubuhnya mengejang kuat-kuat, jemarinya meremas punggungku, lantas ia merebah lemas.
Aku memandang ke wajahnya yang bersimbah keringat, "Sudah Kak?" Ia mengangguk kecil dan tersenyum.
"Thanks yah", aku mengedik.
Aku belum puas, belum. Kukeringkan jemariku sekaligus kemaluan kakakku, kemudian aku turun, dan menciumi pahanya.
"Ohh.. teruskan terus.. yeah.. terus..", aku tak peduli dengan erangan itu, aku mendesakkan kepalaku di antara kedua pahanya dan sementara aku mulai menjilati selangkangannya, kulepaskan ritsluiting rok kakakku, dan menariknya turun. Aku juga melepaskan sendiri celana jeans pendek yang tengah kupakai, kemudian aku memutar badanku sehingga kemaluanku berada tepat di atas wajah kakakku. Ia mengerti dan segera kami saling menjilat, pantat serta pinggul kami terus berputar diiringi desahan-desahan yang makin menggila. Aku terus menjilati clitorisnya, dan kadangkala kukulum, serta kuberi gigitan kecil sehingga kakakku sering berteriak keenakan. Kurasakan jemarinya bergerak mengelusi pantatku sementara tangan kirinya merayap ke pinggir dipan.
Sebelum aku menyadari apa yang ia lakukan, ia menarik tanganku dan menyerahkan sebuah penis silikon kepadaku.
"Kak?", bisikku tak percaya.
"Masukkan, masukkaan, please.." Ragu, aku kembali ke posisi semula dengan ia terus menjilati clitorisku, kumasukkan penis buatan itu perlahan-lahan, dan kurasakan ia meremas pantatku kuat-kuat, pinggulnya berputar kian hebat dan kadang ia mendorong pantatnya ke atas, aku sendiri menyaksikan penis itu masuk ke lubang kemaluan kakakku dan asyik dengan pemandangan itu, kusaksikan benda tersebut menerobos liang senggamanya dan aku membayangkan sedang bersetubuh dengan seorang lelaki tampan yang tengah mencumbui kemaluanku.
Lama kami berada dalam posisi seperti itu, sampai suatu ketika aku merasakan ada sesuatu di dalam tubuhku yang membuatku seolah merinding seluruh tubuh karena nikmatnya, dan tahu-tahu aku menegang kuat-kuat, "okh.. kaakk.. ahh.. ahh!" Tubuhku serasa luluh lantak dan aku tahu aku telah mengalami orgasme, kucium paha kakakku dan kumasukkan penis silikon itu lebih cepat, dan pada ritme-ritme tertentu, kumasukkan lebih dalam, kakakku mengerang dan merintih, dan terus-terang, aku menikmati pemandangan yang tersaji di depanku ketika ia mencapai orgasme. Terakhir, aku mencium clitorisnya, kemudian perut, payudara dan bibirnya. Lantas ketika ia bertanya, "Nyesel nggak?" aku menggeleng dengan tegas. Malam itu kami tidur dengan tubuh telanjang bulat, dan sekarang kami kian sering melakukannya.
E N D
"Thanks yah", aku mengedik.
Aku belum puas, belum. Kukeringkan jemariku sekaligus kemaluan kakakku, kemudian aku turun, dan menciumi pahanya.
"Ohh.. teruskan terus.. yeah.. terus..", aku tak peduli dengan erangan itu, aku mendesakkan kepalaku di antara kedua pahanya dan sementara aku mulai menjilati selangkangannya, kulepaskan ritsluiting rok kakakku, dan menariknya turun. Aku juga melepaskan sendiri celana jeans pendek yang tengah kupakai, kemudian aku memutar badanku sehingga kemaluanku berada tepat di atas wajah kakakku. Ia mengerti dan segera kami saling menjilat, pantat serta pinggul kami terus berputar diiringi desahan-desahan yang makin menggila. Aku terus menjilati clitorisnya, dan kadangkala kukulum, serta kuberi gigitan kecil sehingga kakakku sering berteriak keenakan. Kurasakan jemarinya bergerak mengelusi pantatku sementara tangan kirinya merayap ke pinggir dipan.
Sebelum aku menyadari apa yang ia lakukan, ia menarik tanganku dan menyerahkan sebuah penis silikon kepadaku.
"Kak?", bisikku tak percaya.
"Masukkan, masukkaan, please.." Ragu, aku kembali ke posisi semula dengan ia terus menjilati clitorisku, kumasukkan penis buatan itu perlahan-lahan, dan kurasakan ia meremas pantatku kuat-kuat, pinggulnya berputar kian hebat dan kadang ia mendorong pantatnya ke atas, aku sendiri menyaksikan penis itu masuk ke lubang kemaluan kakakku dan asyik dengan pemandangan itu, kusaksikan benda tersebut menerobos liang senggamanya dan aku membayangkan sedang bersetubuh dengan seorang lelaki tampan yang tengah mencumbui kemaluanku.
Lama kami berada dalam posisi seperti itu, sampai suatu ketika aku merasakan ada sesuatu di dalam tubuhku yang membuatku seolah merinding seluruh tubuh karena nikmatnya, dan tahu-tahu aku menegang kuat-kuat, "okh.. kaakk.. ahh.. ahh!" Tubuhku serasa luluh lantak dan aku tahu aku telah mengalami orgasme, kucium paha kakakku dan kumasukkan penis silikon itu lebih cepat, dan pada ritme-ritme tertentu, kumasukkan lebih dalam, kakakku mengerang dan merintih, dan terus-terang, aku menikmati pemandangan yang tersaji di depanku ketika ia mencapai orgasme. Terakhir, aku mencium clitorisnya, kemudian perut, payudara dan bibirnya. Lantas ketika ia bertanya, "Nyesel nggak?" aku menggeleng dengan tegas. Malam itu kami tidur dengan tubuh telanjang bulat, dan sekarang kami kian sering melakukannya.
E N D
Aku dan Regina
Ini adalah cerita tentang pengalamanku saat berhubungan seks dengan sahabat baikku, Regina H. Dharmawan. Pagi ini, aku kembali mendapat kuliah sore hari. Ah, daripada iseng, lebih baik aku ke rumah Regina. Sekalian dari sana pergi ke kampus bersama. Aku memarkir mobil di depan pintu pagar rumah Regina. Rumahnya tampak sepi. Jangan-jangan ia tak ada di rumah. Aku tekan bel pintu. Tak lama kemudian pembantunya keluar.
"Ada perlu apa, Non?" tanyanya.
"Ng.. Gina ada, Mbak?"
"Ada, tunggu sebentar ya." Sang pembantu masuk ke dalam rumah kembali.
"Kata Non Gina, Non Irene disuruh langsung masuk saja. Non Gina lagi ada di kamarnya."
"Baiklah, Mbak."
Pembantu itu mengantarkan aku ke depan pintu kamar tidur Regina. Setelah pintu dibuka dari dalam aku segera masuk. Si pemilik kamar sedang duduk di atas tempat tidur seraya membaca buku. Astaga! Ia telanjang bulat. Tubuhnya yang indah itu tidak ditutupi oleh selembar benang pun. Tampaklah payudaranya yang montok dan padat. Ditengah-tengahnya terdapat puting susu yang tinggi, yang dikelilingi oleh lingkaran coklat, sementara bagian kemaluannya ditumbuhi rambut-rambut tipis. Pahanya yang putih dan mulus menantang setiap lelaki untuk menjamahnya.
"Ren, duduk di sini dong. Jangan bengong saja."
"Lho, kamu lagi ngapain, Gin?" tanyaku.
"Rasanya hari ini aku lagi malas kuliah nih, Ren."
"Kenapa?"
"Nggak tahu tuh. Pokoknya lagi malas."
"Tapi kamu nggak usah telanjang bulat kayak begitu dong", kataku sambil menyodorkan kaus singlet kepadanya. Regina bukannya menerima pemberianku, namun ia malah menyeret tanganku sehingga aku jatuh telentang di atas kasur. Tiba-tiba Regina mencium bibirku, sementara tangannya meremas-remas payudaraku yang tidak begitu besar.
"Gin! Aduh, kok kamu begini sih?! Jangan ah!" kataku sambil berusaha melepaskan diri. Akan tetapi Regina lebih kuat. Tubuhnya yang bugil menindih tubuhku. Akhirnya aku pasrah saja. Dengan perlahan-lahan Regina menanggalkan kaus oblong yang kukenakan. Ia menyelipkan tangannya ke balik mangkuk behaku lalu meremas payudaraku. Aku menggerinjal-gerinjal dibuatnya. Kemudian ia melepaskan beha yang kupakai sehingga terbukalah payudaraku yang kencang menantang.
"Ya ampun, Ren. Buah dada kamu bagus amat. Biar nggak besar, tapi kencang dan kenyal lho", kata Regina sambil mempermainkan puting susuku dengan jari-jemarinya yang lentik sehingga membuatku kegelian.
Aku hanya tersenyum saja. Lalu ia meremas-remas payudaraku. Terasa kenyal dan ketat baginya. Aku semakin menggerinjal-gerinjal. Setelah itu mulutnya menghisap, mengulum, dan menyedot payudaraku. Lidahnya pun mempermainkan puting susuku yang mulai menegang. Kemudian ia menghisap-hisapnya laksana seorang bayi yang kehausan air susu ibunya.
Setelah puas merambah payudaraku, Regina membuka celana panjangku. Tangannya meraba pahaku yang mulus. Lalu ia menurunkan celana dalamku, sehingga kami berdua bugil bagai dua orang bayi yang baru saja dilahirkan. Kemudian ia menyuruhku duduk. Ia menyodorkan payudaranya ke mulutku dan aku menerimanya. Aku lumat payudara yang kenyal itu dengan mulutku, sedangkan lidahku yang menyambar-nyambar seperti lidah ular, bergoyang-goyang mempermainkan puting susunya yang tinggi menggiurkan. Aku hisap puting susu itu yang semakin lama semakin menegang saja. Regina semakin memelukku dengan erat.
"Ouuhh.. Irene.. ouuhh!"
Aku dan Regina saling berpelukan. Kedua pasang payudara kami saling bersentuhan. Sejenak ada perasaan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku merasakan payudaranya yang kenyal. Demikian pula Regina yang merasakan payudaraku. Ia menggesek-gesekkan puting susunya ke puting susuku, sehingga kami berdua sama-sama mendesah.
"Ouuhh.. ouuhh.." aku menjerit kecil tatkala lidah Regina mulai menjilati kemaluanku dan kemudian masuk menyusuri liang vaginaku. Ia menjilat-jilat bagian dalam "daerah terlarang"ku yang mulai basah itu. Aku menjerit lagi, ketika ujung lidahnya mempermainkan daging kecil yang menempel pada kewanitaanku itu. Lalu aku berdua berbuat serupa. Akhirnya kami berdua sama-sama kelelahan dan tergolek begitu saja di atas kasur.
Tak lama kemudian, Regina bangkit. Ia mengambil es jeruk yang ada di meja di samping tempat tidurnya. Lalu ia menuangkan es jeruk itu ke kemaluanku. Aku menjerit kecil kedinginan. Sementara ia juga menuangkan es jeruk yang tersisa ke dalam kemaluannya sendiri. Tubuh Regina menindihku. Kepalanya menghadap ke selangkanganku. Demikian pula kepalaku menghadap ke selangkangannya. Lidahnya mulai menjilati kemaluanku. Ia menikmati er jeruk yang sudah mulai masuk ke dalam liang vaginaku. Lidahnya mengikuti aliran air jeruk itu sampai masuk ke dalam "gua keramat"ku itu. Dijilatinya dinding vaginaku, membuatku menggerinjal-gerinjal kegelian.
"Ouuhh.. Gina.. teruskan..!" desisku bernafsu. Regina melanjutkan penjelajahannya. Sementara itu di sisi lainnya, lidahku pun berbuat hal yang sama pada kemaluannya. Kami berdua dengan garang mempermainkan daging kecil yang berada di dalam liang kewanitaan lawan masing-masing. Kami berdua menggerinjal-gerinjal keras, sampai-sampai tubuh kami berdua jatuh ke lantai.
Beberapa detik kemudian, tubuh kami berdua tergeletak di lantai berdampingan dalam keadaan loyo. Lelah memang, namun penuh dengan kenikmatan yang tak terhingga. Regina tersenyum. Tiba-tiba tangannya kembali meraih tubuhku dan mendekapku. Kembali payudara kami bersentuhan, sementara mulut kami saling melumat satu sama lain. Kami berbaring berhadap-hadapan, dengan kedua kakiku dan kakinya saling berselisipan dan kedua selangkangan kami saling menempel. Kemudian Regina menggesekkan kemaluannya pada kemaluanku berulang-ulang hingga kami berdua puas.
E N D
cerita ibu mertua hot
Bapak mertuaku (Pak Tom, samaran) yang berusia sekitar 60 tahun baru saja pensiun dari pekerjaannya di salah satu perusahaan di Jakarta. Sebetulnya beliau sudah pensiun dari anggota ABRI ketika berumur 55 tahun, tetapi karena dianggap masih mampu maka beliau terus dikaryakan. Karena beliau masih ingin terus berkarya, maka beliau memutuskan untuk kembali ke kampungnya didaerah Malang, Jawa Timur selain untuk menghabiskan hari tuanya, juga beliau ingin mengurusi kebun Apelnya yang cukup luas.
Ibu mertuaku (Bu Mar, samaran) walaupun sudah berumur sekitar 45 tahun, tetapi penampilannya jauh lebih muda dari umurnya. Badannya saja tidak gemuk gombyor seperti biasanya ibu-ibu yang sudah berumur, walau tidak cantik tetapi berwajah ayu dan menyenangkan untuk dipandang. Penampilan ibu mertuaku seperti itu mungkin karena selama di Jakarta kehidupannya selalu berkecukupan dan telaten mengikuti senam secara berkala dengan kelompoknya.
Beberapa bulan yang lalu, aku mengambil cuti panjang dan mengunjunginya bersama Istriku (anak tunggal mertuaku) dan anakku yang baru berusia 2 tahun. Kedatangan kami disambut dengan gembira oleh kedua orang mertuaku, apalagi sudah setahun lebih tidak bertemu sejak mertuaku kembali ke kampungnya. Pertama-tama, aku di peluk oleh Pak Tom mertuaku dan istriku dipeluk serta diciumi oleh ibunya dan setelah itu istriku segera mendatangi ayahnya serta memeluknya dan Bu Mar mendekapku dengan erat sehingga terasa payudaranya mengganjal empuk di dadaku dan tidak terasa penisku menjadi tegang karenanya.
Dalam pelukannya, Bu Mar sempat membisikkan Sur (namaku).., Ibu kangen sekali denganmu, sambil menggosok-gosokkan tangannya di punggungku, dan untuk tidak mengecewakannya kubisiki juga, Buuu, Saya juga kangen sekali dengan Ibu, dan aku menjadi sangat kaget ketika ibu mertuaku sambil tetap masih mendekapku membisikiku dengan kata-kata, Suuur, Ibu merasakan ada yang mengganjal di perut Ibu, dan karena kaget dengan kata-kata itu, aku menjadi tertegun dan terus saling melepaskan pelukan dan kuperhatikan ibu mertuaku tersenyum penuh arti.
Setelah dua hari berada di rumah mertua, aku dan istriku merasakan ada keanehan dalam rumah tangga mertuaku, terutama pada diri ibu mertuaku. Ibu mertuaku selalu saja marah-marah kepada suaminya apabila ada hal-hal yang kurang berkenan, sedangkan ayah mertuaku menjadi lebih pendiam serta tidak meladeni ibu mertuaku ketika beliau sedang marah-marah dan ayah mertuaku kelihatannya lebih senang menghabiskan waktunya di kebun Apelnya, walaupun di situ hanya duduk-duduk seperti sedang merenung atau melamun. Istriku sebagai anaknya tidak bisa berbuat apa-apa dengan tingkah laku orang tuanya terutama dengan ibunya, yang sudah sangat jauh berlainan dibanding sewaktu mereka masih berada di Jakarta, kami berdua hanya bisa menduga-duga saja dan kemungkinannya beliau itu terkena post power syndrome. Karena istriku takut untuk menanyakannya kepada kedua orang tuanya, lalu Istriku memintaku untuk mengorek keterangan dari ibunya dan supaya ibunya mau bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya, maka istriku memintaku untuk menanyakannya sewaktu dia tidak sedang di rumah dan sewaktu ayahnya sedang ke kebun Apelnya.
Di pagi hari ke 3 setelah selesai sarapan pagi, istriku sambil membawa anakku, pamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi mengunjungi Budenya di kota Kediri, yang tidak terlalu jauh dari Malang dan kalau bisa akan pulang sore nanti.
Lho, Mur (nama istriku), kok Mas mu nggak diajak..?, tanya ibunya.
Laah.., nggak usahlah Buuu, biar Mas Sur nemenin Bapak dan Ibu, wong nggak lama saja kok, sahut istriku sambil mengedipkan matanya ke arahku dan aku tahu apa maksud kedipan matanya itu, sedangkan ayahnya hanya berpesan pendek supaya hati-hati di jalan karena hanya pergi dengan cucunya saja.
Tidak lama setelah istriku pergi, Pak Tompun pamitan dengan istrinya dan aku, untuk pergi ke kebun apelnya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya sambil menambahkan kata-katanya, Nak Suuur, kalau nanti mau lihat-lihat kebun, susul bapak saja ke sana. Sekarang yang di rumah hanya tinggal aku dan ibu mertuaku yang sedang sibuk membersihkan meja makan. Untuk mengisi waktu sambil menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan tugas yang diminta oleh istriku, kugunakan untuk membaca koran lokal di ruang tamu.
Entah sudah berapa lama aku membaca koran, yang pasti seluruh halaman sudah kubaca semua tak kutemukan ada cerita dewasa disana, tak pula kutemukan list video bokep ( ya iyalahhhh …) dan tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara sesuatu yang jatuh dan diikuti dengan suara mengaduh dari belakang, dengan gerakan reflek aku segera berlari menuju belakang sambil berteriak, Buuu, ada apa buuu?. Dan dari dalam kamar tidurnya kudengar suara ibu mertuaku seperti merintih, Nak Suuur, tolooong Ibuuu, dan ketika kujenguk ternyata ibu mertuaku terduduk di lantai dan sepertinya habis terjatuh dari bangku kecil di dekat lemari pakaian sambil meringis dan mengaduh serta mengurut pangkal pahanya. Serta merta kuangkat ibu mertuaku ke atas tempat tidurnya yang cukup lebar dan kutidurkan sambil kutanya, Bagian mana yang sakit Buuu, dan ibu mertuaku menjawab dengan wajah meringis seperti menahan rasa sakit, Di sini.., sambil mengurut pangkal paha kanannya dari luar rok yang dipakainya.
Tanpa permisi lalu kubantu mengurut paha ibu mertuaku sambil kembali kutanya, Buuu, apa ada bagian lain yang sakit..?
Nggak ada kok Suuur, cuman di sepanjang paha kanan ini ada rasa sakit sedikit.., jawabnya.
Ooh, iya nak Suuur, tolong ambilkan minyak kayu putih di kamar ibu, biar paha ibu terasa panas dan hilang sakitnya.
Aku segera mencari minyak yang dimaksud di meja rias dan alangkah kagetku ketika aku kembali dari mengambil minyak kayu putih, kulihat ibu mertuaku telah menyingkap roknya ke atas sehingga kedua pahanya terlihat jelas, putih dan mulus. Aku tertegun sejenak di dekat tempat tidur karena melihat pemandangan ini dan mungkin karena melihat keragu-raguanku ini dan tertegun dengan mataku tertuju ke arah paha beliau, ibu mertuaku langsung saja berkata, Ayooo..lah nak Suuur, nggak usah ragu-ragu, kaki ibu terasa sakit sekali ini lho, lagi pula dengan ibu mertua sendiri saja kok pake sungkan sungkan, tolong di urutkan paha ibu tapi nggak usah pakai minyak kayu putih itu, ibu takut nanti malah paha ibu jadi kepanasan.
Dengan perasaan penuh keraguan, kuurut pelan-pelan paha kanannya yang terlihat ada tanda agak merah memanjang yang mungkin sewaktu terjatuh tadi terkena bangku yang dinaikinya seraya kutanya, Bagaimana Buuu, apa bagian ini yang sakit..?
Betul Nak Suuur, yaa yang ituuu, tolong urutkan yang agak keras sedikit dari atas ke bawah, dan dengan patuh segera saja kuikuti permintaan ibu mertuaku. Setelah beberapa saat kuurut pahanya yang katanya sakit itu dari bawah ke atas, sambil memejamkan matanya, ibu mertuaku berkata kembali, Nak Suuur, tolong agak ke atas sedikit ngurutnya, sambil menarik roknya lebih ke atas sehingga sebagian celana dalamnya yang berwarna merah muda dan tipis itu terlihat jelas dan membuatku menjadi tertegun dan gemetar entah kenapa, apalagi vagina ibu mertuaku itu terlihat mengembung dari luar CD-nya dan ada beberapa helai bulu vaginanya yang keluar dari samping CD-nya.
Ayoo,doong, Nak Sur, kok ngurutnya jadi berhenti, kata ibu mertuaku sehingga membuatku tersadar.
Iii, yaa, Buuu maaf, tapi, Buuu, jawabku agak terbata-bata dan tanpa menyelesaikan perkataanku karena agak ragu.
aah kenapa sih Nak Suuur..?, kata ibu mertuaku kembali sambil tangan kanannya memegang tangan kiriku serta menggoncangnya pelan.
Buuu, Saa, yaa, saayaa, sahutku tanpa sadar dan tidak tahu apa yang harus kukatakan, tetapi yang pasti penisku menjadi semakin tegang karena melihat bagian CD ibu mertuaku yang menggelembung di bagian tengahnya.
Nak Suuur.., katanya lirih sambil menarik tangan kiriku dan kuikuti saja tarikan tangannya tanpa prasangka yang bukan-bukan, dan setelah tanganku diciumnya serta digeser geserkan di bibirnya, lalu secara tidak kuduga tanganku diletakkan tepat di atas vaginanya yang masih tertutup CD dan tetap dipegangnya sambil dipijat-pijatkannya secara perlahan ke vaginanya diikuti dengan desis suara ibu mertuaku, ssshh, ssshh. Kejadian yang tidak kuduga sama sekali ini begitu mengagetkanku dan secara tidak sadar aku berguman agak keras.
Buuu, Saayaa, dan belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, dari mulut ibu mertuaku terdengar, Nak Suuur, koook seperti anak kecil saja.., siiih?.
Buu, Saa, yaa, takuuut kalau nanti bapak datang, sahutku gemetar karena memang saat itu aku takut benar, sambil mencoba menarik tanganku tetapi tangan ibu mertuaku yang masih tetap memegang tanganku, menahannya dan bahkan semakin menekan tanganku ke vaginanya serta berkata pelan, Nak Suuur, Bapak pulang untuk makan siang selalu jam 1 siang nanti, tolong Ibuuu, naak,terdengar seperti mengiba. Entot ibu nak suurrrrr … ibu sudah tak tahan pengen telanjang bugil dan dientotin …….
Sebetulnya siapa sih yang tidak mau kalau sudah seperti ini, aku juga tidak munafik dan pasti para pembaca pun juga tidak bisa menahan diri kalau dalam situasi seperti ini, tetapi karena ini baru pertama kualami dan apalagi dengan ibu mertuaku sendiri, tentunya perasaan takutpun pasti akan ada.
Ayooolah Nak Suuur, tolongin Ibuuu, Naak, kudengar ibu mertuaku mengiba kembali sehingga membuatku tersadar dan tahu-tahu ibu mertuaku telah memelukku.
Buuu, biar saya kunci pintunya dulu, yaa..?, pintaku karena aku was-was kalau nanti ada orang masuk, tetapi ibu mertuaku malah menjawab, Nggak usah naak, selama ini nggak pernah ada orang pagi-pagi ke rumah Ibu, serta terus mencium bibirku dengan bernafsu sampai aku sedikit kewalahan untuk bernafas. Semakin lama ibu mertuaku semakin tambah agresif saja, sambil tetap menciumiku, tangannya berusaha melepaskan kaos oblong yang kukenakan dan setelah berhasil melepaskan kaosku dengan mudah disertai dengan bunyi nafasnya yang terdengar berat dan cepat, ibu mertuaku terus mencium wajah serta bibirku dan perlahan-lahan ciumannya bergerak ke arah leher serta kemudian ke arah dadaku.
Ciuman demi ciuman ibu mertuaku ini tentu saja membuatku menjadi semakin bernafsu dan ketakutanku yang tadipun sudah tidak teringat lagi.
Buuu, boleh saya bukaa, rok Ibu..? tanyaku minta izin.
Suuur, bol, eh, boleh, Nak, Nak Suur, boleh lakukan apa saja.., katanya dengan suara terputus-putus dan terus kembali menciumi dadaku dengan nafasnya yang cepat dan sekarang malah berusaha melepas kancing celana pendek yang ada di badanku. Setelah rok ibu mertuaku terlepas, lalu kulepaskan juga kaitan BH-nya dan tersembulah payudaranya yang tidak begitu besar dan sudah agak menggelantung ke bawah dengan puting susunya yang besar kecoklatan. Sambil kuusapkan kedua tanganku ke bagian bawah payudaranya lalu kutanyakan, Buuu, boleh saya pegang dan ciumi tetek, Ibuu..?
Bool, eh, boleh, sayang.., lakukan apa saja yang Nak Sur mau.., Ibu sudah lama sekali tidak mendapatkan ini lagi dari bapakmu, ayoo.., sayaang, sahut ibu mertuaku dengan suara terbata-bata sambil mengangkat dadanya dan perlahan-lahan kupegang kedua payudara ibu mertuaku dan salah satu puting susunya langsung kujilati dan kuhisap-hisap, serta pelan-pelan kudorong tubuh ibu mertuaku sehingga jatuh tertidur di kasur dan dari mulut ibu mertuaku terdengar, ssshh, aahh.., sayaang, ooohh, teruuus, yaang, tolong puasiiin Ibuu, Naak, dan suara ibu mertuaku yang terdengar menghiba itu menjadikanku semakin terangsang dan aku sudah lupa kalau yang kugeluti ini adalah ibu mertuaku sendiri dan ibu dari istriku.
Naak Suuur, kudengar suara ibu mertuaku yang sedang meremas-remas rambut di kepalaku serta menciuminya, Ibuu, ingin melihat punyamu, Naak, seraya tangannya berusaha memegang penisku yang masih tertutup celana pendekku.
Iyaa, Buu, saya buka celana dulu Buuu, sahutku setelah kuhentikan hisapanku pada payudaranya serta segera saja aku bangkit dan duduk di dekat muka ibu mertuaku. Segera saja ibu mertuaku memegang penisku yang sedang berdiri tegang dari luar celana dan berkomentar, Nak Suur, besar betuuul, dan keras lagi, ayooo, dong cepaat.., dibuka celananya, agar Ibu bisa melihatnya lebih jelas, katanya seperti sudah tidak sabar lagi, dan tanpa disuruh ibu untuk kedua kalinya, langsung saja kulepas celana pendek yang kukenakan.
Ketika aku membuka CD-ku serta melihat penisku berdiri tegang ke atas, langsung saja ibu mertuaku berteriak kecil, Aduuuh, Suuur, besaar sekali, padahal menurut anggapanku ukuran penisku sepertinya wajar saja menurut ukuran orang Indonesia tapi mungkin saja lebih besar dari punya suaminya dan ibu mertuaku langsung saja memegangnya serta mengocoknya pelan-pelan sehingga tanpa kusadari aku mengeluarkan desahan kecil, ssshh, aahh, sambil kedua tanganku kuusap-usapkan di wajah dan rambutnya.
Aduuuh, Buuu, sakiiit, teriakku pelan ketika ibu mertuaku berusaha menarik penisku ke arah wajahnya, dan mendengar keluhanku itu segera saja ibu mertuaku melepas tarikannya dan memiringkan badannya serta mengangkat separuh badannya yang ditahan oleh tangan kanannya dan kemudian mendekati penisku. Setelah mulutnya dekat dengan penisku, langsung saja ibu mertuaku mengeluarkan lidahnya serta menjilati kepala penisku sedangkan tangan kirinya meremas-remas pelan kedua bolaku, sedangkan tangan kiriku kugunakan untuk meremas-remas rambutnya serta sekaligus untuk menahan kepala ibu mertuaku. Tangan kananku kuremas-remaskan pada payudaranya yang tergantung ke samping.
Setelah beberapa kali kepala penisku dijilatinya, pelan-pelan kutarik kepala ibu mertuaku agar bisa lebih dekat lagi ke arah penisku dan rupanya ibu mertuaku cepat mengerti apa yang kumaksud dan walaupun tanpa kata-kata langsung saja kepalanya didekatkan mengikuti tarikan kedua tanganku dan sambil memegangi batang penisku serta dengan hanya membuka mulutnya sedikit, ibu mertuaku secara pelan-pelan memasukkan penisku yang sudah basah oleh air liurnya sampai setengah batang penisku masuk ke dalam mulutnya. Kurasakan lidah ibu mertuaku dipermainkannya dan digesek-gesekannya pada kepala penisku, setelah itu kepala ibu ditariknya mundur pelan-pelan dan kembali dimajukan sehingga penisku terasa sangat nikmat. Rupanya dia jago ngisep kontol. Karena tidak tahan menahan kenikmatan yang di berikan ibu mertuaku, aku jadi mendesis, ssshh, aacccrrr, ooohh, mengikuti irama maju mundurnya kepala ibu. Makin lama gerakan kepala ibu mertuaku maju mundur semakin cepat dan ini menambah nikmat bagiku.
Beberapa menit kemudian, ibu mertuaku secara tiba-tiba melepaskan penisku dari mulutnya, padahal aku masih ingin hal ini terus berlangsung dan sambil kembali menaruh kepalanya di tempat tidur, dia menarik bahuku untuk mengikutinya. Ibu langsung mencium wajahku dan ketika ciumannya mengarah ke telingaku, kudengar ibu berkata dengan agak berbisik, Naak Suuur, Ibu juga kepingin punya ibu dijilati, dan sambil kunaiki tubuh ibu mertuaku lalu kutanyakan, Buuu, apa boleh, saya lakukan?, dan segera saja ibu menjawabnya, Nak Suuur, tolong pegang dan jilati kepunyaan ibu, naak, ibu sudah lama kepingin di gituin.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, aku menurunkan badanku secara perlahan-lahan dan ketika melewati dadanya kembali kuciumi serta kujilati payudara ibu mertuaku yang sudah tidak terlalu keras lagi, setelah beberapa saat kuciumi payudara ibu, aku segera menurunkan badanku lagi secara perlahan sedangkan ibu mertuaku meremas-remas rambutku, juga terasa seperti berusaha mendorong kepalaku agar cepat-cepat sampai ke bawah. Kuciumi dan kujilati perut dan pusar ibu sambil salah satu tanganku kugunakan untuk menurunkan CD-nya. Kemudian dengan cekatan ku lepas CD-nya dan kulemparkan ke atas lantai. Kulihat vagina ibu mertuaku begitu lebat ditumbuhi bulu-bulu yang hitam mengitari liang vaginanya. Mungkin karena terlalu lama aku menjilati perut dan sekitarnya, kembali kurasakan tangan ibu yang ada di kepalaku menekan ke bawah dan kali ini kuikuti dengan menurunkan badanku pelan-pelan ke bawah dan sesampainya di dekat vaginanya, kuciumi daerah di sekitarnya dan apa yang kulakukan ini mungkin menyebabkan ibu tidak sabaran lagi, sehingga kudengar suara ibu mertuaku, Nak Suuur, tolooong, cepaat, saa.., yaang, ayooo, Suuur.
Tanpa kujawab permintaannya, aku mulai melebarkan kakinya dan kuletakkan badanku di antara kedua pahanya, lalu kusibak bulu vaginanya yang lebat itu untuk melihat belahan vagina ibu dan setelah bibir vagina ibu terlihat jelas lalu kubuka bibir kemaluannya dengan kedua jari tanganku, ternyata vagina ibu mertuaku telah basah sekali. Ketika ujung lidahku kujilatkan ke dalam vaginanya, kurasakan tubuh ibu menggelinjang agak keras sambil berkata, Cepaat, Suuur, ibu sudah nggak tahaan.
Dengan cepat kumasukkan mulut dan lidahku ke dalam vaginanya sambil kujilati dan kusedot-sedot dan ini menyebabkan ibu mulai menaik-turunkan pantatnya serta bersuara, ssshh, aahh, Suuur, teruuus, adduuuhh, enaak, Suuur, Lalu kukecup clitorisnya berulang kali hingga mengeras, hal ini membuat ibu mertuaku menggelinjang hebat, Aahh, ooohh, Suuur, betuuul, yang itu, Suuur, enaak, aduuuh, Suuur, teruskaan, aahh, sambil kedua tangannya menjambak rambutku serta menekan kepalaku lebih dalam masuk ke vaginanya. Kecupan demi kecupan di vagina ibu ini kuteruskan sehingga gerakan badan ibu mertuaku semakin menggila dan tiba-tiba kudengar suara ibu setengah mengerang, aahh, oooh, duuuh, Suuur, ibuu, mau.., mauuu, sampaiii, Naak, oooh, disertai dengan gerakan pantatnya naik turun secara cepat.
Gerakan badannya terhenti dan yang kudengar adalah nafasnya yang menjadi terengah-engah dengan begitu cepatnya dan tangannyapun sudah tidak meremas-remas rambutku lagi, sementara itu jilatan lidahku di vagina ibu hanya kulakukan sekedarnya di bagian bibirnya saja. Dengan nafasnya yang masih memburu itu, tiba-tiba ibu mertuaku bangun dan duduk serta berusaha menarik kepalaku seraya berkata, Naak Suuur, ke siniii, saayaang, dan tanpa menolak kuikuti saja tarikan tangan ibu, ketika kepalaku sudah di dekat kepalanya, ibu mertuaku langsung saja memelukku seraya berkata dengan suara terputus-putus karena nafasnya yang masih memburu, Suuur, Ibu puas dengan apa yang Nak Suuur, lakukan tadi, terima kasiih, Naak. Ibu mertuaku bertubi-tubi mencium wajahku dan kubalas juga ciumannya dengan menciumi wajahnya sambil kukatakan untuk menyenangkan hatinya, Buuu, saya sayang Ibuuu, saya ingin ibu menjadi, puu..aas.
Setelah nafas ibu sudah kembali normal dan tetap saja masih menciumi seluruh wajahku dan sesekali bibirku, dia berkata, Naak Suuur, Ibu masih belum puas sekali, Suuur, tolooong puasin ibu sampai benar-benar puaas, Naak, seraya kurasakan ibu merenggangkan kedua kakinya. Karena aku masih belum memberikan reaksi atas ucapannya itu, karena tiba-tiba aku terpikir akan istriku dan yang kugeluti ini adalah ibu kandungnya, aku menjadi tersadar ketika ibu bersuara kembali, Sayaang, ayooo, tolooong Ibu dipuasin lagi Suuur, tolong masukkan punyamu yang besar itu ke punya ibu.
Buuu, seharusnya saya tidak boleh melakukan ini, apalagi kepada Ibuu,sahutku di dekat telinganya.
Suuur, nggak apa-apa, Naak, Ibu yang kepingin, lakukanlah Naak, lakukan sampai Ibu benar-benar puas Suuur, katanya dengan suara setengah mengiba.
aahh, biarlah, kenapa kutolak, pikirku dan tanpa membuang waktu lagi aku lalu mengambil ancang-ancang dan kupegang penisku serta kuusap-usapkan di belahan bibir vagina ibu mertuaku yang sudah sedikit terbuka. Sambil kucium telinga ibu lalu kubisikkan, Buuu, maaf yaa., saya mau masukkan sekarang, boleh?.
Suur, cepat masukkan, Ibu sudah kepingin sekali Naak, sahutnya seperti tidak sabar lagi dan tanpa menunggu ibu menyelesaikan kalimatnya aku tusukkan penisku ke dalam vaginanya, mungkin entah tusukan penisku terlalu cepat atau karena ibu katanya sudah lama tidak pernah digauli oleh suaminya langsung saja beliau berteriak kecil, Aduuuh, Suuur, pelan-pelan saayaang, ibu agak sakit niiih, katanya dengan wajah yang agak meringis mungkin menahan rasa kesakitan. Kuhentikan tusukan penisku di vaginanya, Maaf Buu, saya sudah menyakiti Ibu, maaf ya Bu. Ibu mertuaku kembali menciumku, Tidak apa-apa Suuur, Ibu cuma sakit sedikit saja kok, coba lagi Suur.., sambil merangkulkan kedua tangannya di pungungku.
Buuu, saya mau masukkan lagi yaa dan tolong Ibu bilang yaa, kalau ibu merasa sakit, sahutku. Tanpa menunggu jawaban ibu segera saja kutusukkan kembali penisku tetapi sekarang kulakukan dengan lebih pelan. Ketika kepala penisku sudah menancap di lubang vaginanya, kulihat ibu sedikit meringis tetapi tidak mengeluarkan keluhan, Buuu, sakit.., yaa?. Ibu hanya menggelengkan kepalanya serta menjawab, Suuur, masukkan saja sayaang, sambil kurasakan kedua tangan ibu menekan punggungku. Aku segera kembali menekan penisku di lubang vaginanya dan sedikit terasa kepala penisku sudah bisa membuka lubang vaginanya, tetapi kembali kulihat wajah ibu meringis menahan sakit. Karena ibu tidak mengeluh maka aku teruskan saja tusukan penisku dan, Bleess, penisku mulai membongkar masuk ke liang vaginanya diikuti dengan teriakan kecil, Aduuuh, Suuur, sambil menengkeramkan kedua tangannya di punggungku dan tentu saja gerakan penisku masuk ke dalam vaginanya segera kutahan agar tidak menambah sakit bagi ibu.
Buuu, sakit yaa..? maaf ya Buuu. Ibu mertuaku hanya menggelengkan kepalanya.
Enggak kok sayaang, ibu hanya kaget sedikit saja, lalu mencium wajahku sambil berucap kembali, Suuur, besar betul punyamu itu.
Pelan-pelan kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku yang terjepit di dalam vaginanya keluar masuk dan ibupun mulai menggoyang-goyangkan pantatnya pelan-pelan sambil berdesah, ssshh, oooh, aahh, sayaang, nikmat, teruuuskan, Naak, katanya seraya mempercepat goyangan pantatnya. Akupun sudah mulai merasakan enaknya vaginan ibu dan kusahut desahannya, Buuu, aahh, punyaa Ibu juga nikmat, buuu, sambil kuciumi pipinya.
Makin lama gerakanku dan ibu semakin cepat dan ibupun semakin sering mendesah, Aah, Suuurr, ooh, teruus, Suur. Ketika sedang nikmat-enaknya menggerakkan penisku keluar masuk vaginanya, ibu menghentikan goyangan pantatnya. Aku tersentak kaget, Buuu, kenapa? apa ibu capeeek?, Ibu hanya menggelengkan kepalanya saja, sambil mencium leherku ibu berucap, Suuur, coba hentikan gerakanmu itu sebentar.
Ada apa Buuu, sahutku sambil menghentikan goyangan pantatku naik turun.
Suuur, kamu diam saja dan coba rasakan ini, kata ibu tanpa menjelaskan apa maksudnya dan tidak kuduga tiba-tiba terasa penisku seperti tersedot dan terhisap di dalam vagina ibu mertuaku, sehingga tanpa sadar aku mengatakan, Buuu, aduuuh, enaak, Buu, teruus Bu, oooh, nikmat Buu, dan tanpa sadar, aku kembali menggerakkan penisku keluar masuk dengan cepat dan ibupun mulai kembali menggoyangkan pantatnya.
oooh, aah, Suuur, enaak Suuur, dan nafasnya dan nafaskupun semakin cepat dan tidak terkontrol lagi.
Mengetahui nafas Ibu serta goyangan pantat Ibu sudah tidak terkontrol lagi, aku tidak ingin ibu cepat-cepat mencapai orgasmenya, lalu segera saja kuhentikan gerakan pantatku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya yang menyebabkan ibu mertuaku protes, Kenapa, Suuur, kok berhenti?, tapi protes ibu tidak kutanggapi dan aku segera melepaskan diri dari pelukannya lalu bangun.
Tanpa bertanya, lalu badan ibu mertuaku kumiringkan ke hadapanku dan kaki kirinya kuangkat serta kuletakkan di pundakku, sedangkan ibu mertuaku hanya mengikuti saja apa yang kulakukan itu. Dengan posisi seperti ini, segera saja kutusukkan kembali penisku masuk ke dalam vagina ibu mertuaku yang sudah sangat basah itu tanpa kesulitan. Ketika seluruh batang penisku sudak masuk semua ke dalam vaginanya, segera saja kutekan badanku kuat-kuat ke badan ibu sehingga ibu mulai berteriak kecil, Suuur, aduuuh, punyamu masuk dalam sekali, naak, aduuuh, teruuus sayaang, aah, dan aku meneruskan gerakan keluar masuk penisku dengan kuat. Setiap kali penisku kutekan dengan kuat ke dalam vagina ibu mertuaku, ibu terus saja berdesah, Ooohh, aahh, Suuur, enaak, terus, tekan yang kuaat sayaang.
Aku tidak berlama-lama dengan posisi seperti ini. Kembali kehentikan gerakanku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya. Kulihat ibu hanya diam saja tanpa protes lagi dan lalu kukatakan pada ibu, Buuu, coba ibu tengkurap dan nungging, kataku sambil kubantu membalikkan badan dan mengatur kaki ibu sewaktu nungging, Aduuh, Suuur, kamu kok macem-macem sih, komentar Ibu mertuaku. Aku tidak menanggapi komentarnya dan tanpa kuberi aba-aba penisku kutusukkan langsung masuk ke dalam vagina ibu serta kutekan kuat-kuat dengan memegang pinggangnya sehingga ibu berteriak, Aduuuh Suuur, oooh, dan tanpa kupedulikan teriakan ibu, langsung saja kukocok penisku keluar masuk vaginanya dengan cepat dan kuat hingga membuat badan ibu tergetar ketika sodokanku menyentuh tubuhnya dan setiap kali kudengar ibu berteriak, oooh, oooh, Suuur, dan tidak lama kemudian ibu mengeluh lagi, Suuur, Ibu capek Naak, sudaah Suuur, Ibuu capeeek, dan tanpa kuduga ibu lalu menjatuhkan dirinya tertidur tengkurap dengan nafasnya yang terengah-engah, sehingga mau tak mau penisku jadi keluar dari vaginanya.
Tanpa mempedulikan kata-katanya, segera saja kubalik badan ibu yang jatuh tengkurap. Sekarang sudah tidur telentang lagi, kuangkat kedua kakinya lalu kuletakkan di atas kedua bahuku. Ibu yang kulihat sudah tidak bertenaga itu hanya mengikuti saja apa yang kuperbuat. Segera saja kumasukkan penisku dengan mudah ke dalam vagina ibu mertuaku yang memang sudah semakin basah itu, kutekan dan kutarik kuat sehingga payudaranya yang memang sudah aggak lembek itu terguncang-guncang. Ibu mertuaku nafasnya terdengar sangat cepat, Suuur, jangaan, kuat-kuat Naak, badan ibu sakit semua, sambil memegang kedua tanganku yang kuletakkan di samping badannya untuk menahan badanku.
Mendengar kata-kata ibu mertuaku, aku menjadi tersadar dan teringat kalau yang ada di hadapanku ini adalah ibu mertuaku sendiri dan segera saja kehentikan gerakan penisku keluar masuk vaginanya serta kuturunkan kedua kaki ibu dari bahuku dan langsung saja kupeluk badan ibu serta kuucapkan, Maaf, Buu, kalau saya menyakiti Ibu, saya akan mencoba untuk pelan-pelan, segera saja ibu berucap, Suuur nggak apa-apa Nak, tapi Ibu lebih suka dengan posisi seperti ini saja, ayoo, Suuur mainkan lagi punyamu agar ibu cepat puaas.
Iyaa, Buuu, saya akan coba lagi, sahutku sambil kembali kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku keluar masuk vagina ibu dan kali ini aku lakukan dengan hati-hati agar tidak menyakiti badan ibu, dan ibu mertuakupun sekarang sudah mulai menggoyangkan pantatnya serta sesekali mempermainkan otot-otot di vaginanya, sehingga kadang-kadang terasa penisku terasa tertahan sewaktu memasuki liang vaginanya.
Ketika salah satu payudara ibu kuhisap-hisap puting susunya yang sudah mengeras itu, ibu mertuaku semakin mempercepat goyangan pinggulnya dan terdengar desahannya yang agak keras diantara nafasnya yang sudah mulai memburu, ooohh, aahh, Suuur, teruuus, oooh, seraya meremas-remas rambutku lebih keras. Akupun ikut mempercepat keluar masuknya penisku di dalam vaginanya.
Goyangan pinggul ibu mertuakupun semakin cepat dan sepertinya sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Disertai nafasnya yang semakin terengah-engah dan kedua tangannya dirangkulkan ke punggungku kuat-kuat, ibu mengatakan dengan terbata-bata, Nak Suuur, aduuuh, Ibuuu, sudaah, oooh, mauuu kelluaar. Aku sulit bernafas karena punggungku dipeluk dan dicengkeramnya dengan kuat dan kemudian ibu mertuaku menjadi terdiam, hanya nafasnya saja yang kudengar terengah-engah dengan keras dan genjotan penisku keluar masuk vaginanya. Untuk sementara aku hentikan untuk memberikan kesempatan pada ibu menikmati orgasmenya sambil kuciumi wajahnya, Bagaimana, Buuu?, mudah-mudahan ibu cukup puas.
Ibu mertuaku tetap masih menutup matanya dan tidak segera menjawab pertanyaanku, yang pasti nafas ibu masih memburu tetapi sudah mulai berkurang dibanding sebelumnya. Karena ibu masih diam, aku menjadi sangat kasihan dan kusambung pertanyaanku tadi di dekat telinganya, Buu, saya tahu ibu pasti capek sekali, lebih baik ibu istirahat dulu saja.., yaa?, seraya aku mulai mengangkat pantatku agar penisku bisa keluar dari vagina ibu yang sudah sangat basah itu. Tetapi baru saja pantatku ingin kuangkat, ternyata ibu mertuaku cepat-cepat mencengkeram pinggulku dengan kedua tangannya dan sambil membuka matanya, memandang ke wajahku, Jangaan, Suuur, jangan dilepas punyamu itu, ibu diam saja karena ingin melepaskan lelah sambil menikmati punyamu yang besar itu mengganjal di tempat ibuuu, jangaan dicabut dulu, yaa, sayaang, terus kembali menutup matanya.
Mendengar permintaan ibu itu, aku tidak jadi mencabut penisku dari dalam vagina ibu dan kembali kujatuhkan badanku pelan-pelan di atas badan ibu yang nafasnya sekarang sudah kelihatan mulai agak teratur, sambil kukatakan, Tidaak, Buuu, saya tidak akan mencabutnya, saya juga masih kepingin terus seperti ini, sambil kurangkul leher ibu dengan tangan kananku. Ibu hanya diam saja dengan pernyataanku itu, tetapi tiba-tiba penisku yang sejak tadi kudiamkan di dalam vaginanya terasa seperti dijepit dan tersedot vagina ibu mertuaku, dan tanpa sadar aku mengaduh, Aduuuh, oooh, Buuu.
Kenapa, sayaang, enaak yaa?, sahut ibu sambil mencium bibirku dengan lembut dan sambil kucium hidungnya kukatakan, Buuu, enaak sekaliii, dan seperti tadi, sewaktu ibu mertuaku mula-mula menjepit dan menyedot penisku dengan vaginanya, secara tidak sengaja aku mulai menggerakkan lagi penisku keluar masuk vaginanya dan ibu mertuakupun kembali mendesah, oooh, aah, Suuur, teruuus, naak, aduuuh, enaak sekali.
Semakin lama gerakan pinggul ibu semakin cepat dan kembali kudengar nafasnya semakin lama semakin memburu. Gerakan pinggul ibu kuimbangi dengan mempercepat kocokan penisku keluar masuk vaginanya. Makin lama aku sepertinya sudah tidak kuat untuk menahan agar air maniku tetap tidak keluar, Buuu, sebentar lagi, sayaa, sudaah, mau keluaar, sambil kupercepat penisku keluar masuk vaginanya dan mungkin karena mendengar aku sudah mendekati klimaks, ibu mertuakupun semakin mempercepat gerakan pinggulnya serta mempererat cengkeraman tangannya di punggungku seraya berkata, Suuur, teruuuss, Naak, Ibuuu, jugaa, sudah dekat, ooohh, ayooo Suuur, semprooot Ibuu dengan airmuu, sekaraang.
Iyaa, Buuu, tahaan, sambil kutekan pantatku kuat-kuat dan kami akhiri teriakan itu dengan berpelukan sangat kuat serta tetap kutekan penisku dalam-dalam ke vagina ibu mertuaku. Dalam klimaksnya terasa vagina ibu memijat penisku dengan kuat dan kami terus terdiam dengan nafas terengah-engah.
Setelah nafas kami berdua agak teratur, lalu kucabut penisku dari dalam vagina ibu dan kujatuhkan badanku serta kutarik kepala ibu mertuaku dan kuletakkan di dadaku.Setelah nafasku mulai teratur kembali dan kuperhatikan nafas ibupun begitu, aku jadi ingat akan tugas yang diberikan oleh istriku.
Buuu, apa ini yang menyebabkan ibu selalu marah-marah pada Bapak..?, tanyaku.
Mungkin saja Suuur, kenapa Suuur?, Sahutnya sambil tersenyum dan mencium pipiku.
Buuu, kalau benar, tolong ibu kurangi marah-marahnya kepada Bapak, kasihan dia, ibu hanya diam dan seperti berfikir.
Setelah diam sebentar lalu kukatakan, Buuu, sudah siang lho, seraya kubangunkan tubuh ibu serta kubimbing ke kamar mandi.
Setelah peristiwa ini terjadi, ibu seringkali mengunjungi rumah kami dengan alasan kangen cucu dan anaknya Mur, tetapi kenyataannya ibu mertuaku selalu mengontakku melalui telepon di kantor dan meminta jatahnya di suatu motel, sebelum menuju ke rumahku. Untungnya sampai sekarang Istriku tidak curiga, hanya saja dia merasa aneh, karena setiap bulannya ibunya selalu mengunjung rumah kami.
cerita ibu mertua hot
Bulik Ku Sayang
Aku sekarang tinggal di ibu kota, bekerja di suatu perusahaan telekomunikasi asing di kawasan Sudirman. Kisahku ini terjadi ketika aku masih 17 tahun, kelas dua SMA di kota Y. Aku tinggal di suatu kampung di pinggiran kota Y. Di samping rumahku tinggal keluarga kecil dengan dua anak yang masih kecil-kecil. Kebetulan keluarga ini masih famili dengan keluargaku tepatnya masih adik sepupu dengan Ibuku. Paklikku bekerja sebagai kepala sekolah SMP di kota. Setiap hari, beliau sudah pergi bekerja pagi-pagi sekali, dan pulangnya juga sudah sore, karena jauhnya tempat bekerja. Kasihan juga!


Bulikku (tanteku) bekerja di Puskesmas yang tidak terlalu jauh dari rumah. Bulikku ini orangnya ramah, supel, dan cukup manis. Sudah lama aku membayangkan dapat tidur dengannya, tapi itu cuma impian semata. Kalau ingat dia pasti aku langsung onani.
Tiap pagi Bulik menyapu halaman belakang , aku pun demikian. Suatu pagi kami dapat bersama beberapa saat di halaman belakang ketika kami sama-sama lagi menyapu. Kami ngobrol-ngobrol sebentar. Bulikku ini nakal juga pikirku. Dia pake kaus oblong warna putih, dan nggak pake beha, ahh. Aku ereksi habis waktu itu. Dengan nakal Bulik memperhatikan selangkanganku, begitu juga aku meperhatikan dadanya yang membusung itu.
Tampak jelas putting susunya yang berwarna coklat itu. Koq ngaceng, kenapa sih Mas. Bulikku kalau manggil aku pake panggilan Mas, karena anaknya juga begitu kalo panggil aku. Dengan malu-malu aku jawab, Habis Bulik nggak pake beha, jadinya kelihatan itunya. Mendadak aku dipanggil ibuku, karena sudah siang dan aku harus berangkat sekolah. Buru-buru aku mandi, dan nggak lupa colai, enaakkk. Oh Bulikku, biarkan aku mengulum susumu yang montok itu, begitu imajinasiku tiap hari. Tapi nggak ada keberanian untuk itu.
Pada akhir semester ganjil Paklik pergi bertamasya ke Bandung, mengantar anak didiknya. Bulik tidak ikut karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Wah ini
kesempatan besar buatku, begitu pikirku, Paklik nggak ada, aku juga libur, ahaa






Aku sudah susun rencana. Aku akan pura-pura main ke rumah Bulik buat baca koran,
maklum rumahku nggak langganan koran. Pagi itu Bapak Ibuku pergi ke Rumah kakakku, buat nengok cucunya, wah makin asyik aja nih.
Bolak-balik aku baca koran, nggak ada berita yang menarik, habis pikiranku sudah nggak di koran lagi. Bulikku lewat didepanku, membawa sabun dan perlengkapan mandi, mau mandi kayaknya. Aku jadi nggak karu-karuan waktu itu.
Pingin rasanya aku ngintip, tapi takut ketahuan. Lalu aku lanjutkan baca koran. Mendadak Bulikku memanggil aku dari kamar mandi. Mas, tolong ambilkan handuk di kamar Bulik, ya. Yessssss, aku langsung berjingkat ke kamar Bulik dan mendapatkan
handuk di balik pintu kamar.
Kamar Bulik harum sekali dan bersih bukan main, semua perabot tertata rapi, dan spreinya tampak tertata dengan baik. Aku langsung ke kamar mandi membawakan handuk. Bulik membuka pintu kamar mandi sedikit saja, aku jadi penasaran. Handuk aku berikan. Deg degan juga aku.
Waktu handuk sudah di tangan Bulik, aku mematung memandangi Bulikku yang terlihat
sebagian. Kenapa Mas, tanya Bulikku,. Aku terkaget, napasku agak sesak. Dengan
keberanian yang cuman sedikit aku baranikan ngomong. Aku pingin, aku pingin Bulik. Bulik tahu apa yang aku maksud, dia tertegun beberapa saat.
Lalu pintu ditutup dan sebentar kemudian Bulik keluar dari kamar mandi dengan handuk membalut tubuhnya. Mlongo saja aku, malu campur napsu. Bulik menuju ke kamar tidur buat ganti baju, karena hari sudah siang dan harus segera berangkat kerja.
Aku dipanggil ke kamar Bulik. Aku nurut saja. Bulik sudah berganti dengan pakaian kerja. Kenapa kamu punya pikiran mau tidur sama Bulikmu ini. Aku sayang sama Bulik, Bulik cantik, seksi. Dia tersenyum dan ketawa kecil. Sesaat kemudian suasana jadi hening. Bulik membisu.
Bulik bilang, Aku juga pingin Mas, sudah lama Paklikmu tidak pernah tidur sama Bulik, sudah hampir satu tahun. Aku pegang tangan Bulik, diam saja, aku remas-remas tangannya, tetap diam saja. Tanpa ba bi bu lagi kami sudah berpagutan, saling melepas keinginan yang sudah lama tertahan.
Aku ciumi bibir Bulikku dengan nafsu kesetanan. Bulik membalas dengan gelora asmara yang sudah lama tertahan. Kami bergumul di lantai beberapa saat, aku ciumi lehernya, kupingnya, ahhhh


Mas, aku pingin. Bulik membuka baju kerjanya, Behanya aku yang lepas. Dua gunung kembar menanti remasanku, langsung saja tanganku meremas susu sebelah kiri, dan aku sedot yang sebelah kanan. Bulik menggeliat nggak karuan. Bulik mendesah agak keras,
ahhhhhhh ahhAku bilang jangan terlalu keras, nanti didengar tetangga.
Aku sudah nggak tahan lagi, maklum pertama kali. Rok Bulik aku lepas dari belakang. Bulik tinggal pake CD warna krem. Aku juga segera telanjang. Aku lepas semua pakaianku, berikut CDku aku lepas, Bulik terkaget melihat penisku yang sudah cukup besar.
Punyamu besar juga Mas. Aku nggak peduli lagi dengan omongan Bulik, aku lepas Cdnya dan terlihat dengan jelas rambut hitam legam dan sangat lebat menutupi lubang yang aku impikan. Aku langsung saja serbu. Aku ciumi lagi bibir Bulik, Saling sedot, saling remas.
Aku nggak kuat lagi, Aku tidurkan Bulik di tempat tidur. Bulik menolak, soalnya tempat tidurnya dari kayu, yang berderit derit kalau dipake begituan. Lalu kasur aku tarik ke lantai, Bulik langsung berguling di kasur, aku serbu lagi. Ahhahhhhhh. Aku nggak mau
lama-lama lagi.
Aku arahkan penisku ke vagina Bulik, Bulik tersenyum. Aku coba masukkan, tetapi gagal, meleset. Lalu Bulik pegang penisku dan diarahkannya ke lubangnya. Aku masukkan pelan-pelan sambil aku nikmati gesekan penis dengan dinding vaginanya, nikmat sekali.
Aku genjot pelan-pelan dan Bulik menikmatinya, merem melek dia.Ahhh ahhBulik menoleh ke kiri, ke kanan. Susunya aku hisap dengan lahap, Bulik semakin terbuai dengan hentakan dan hisapanku, aku juga demikian. Setiap aku menusuk, aku rasakan kenikmatan yang tiada tara. Kami bercinta tidak lama, cuman empat menitan, soalnya diujung penisku sudah berdenyut-denyut.




Aku bilang sama Bulik, Di dalam apa di luar, Bulik? Di dalam saja, nggak apa-apa. Lalu aku pacu lagi, Bulik menggoyang juga. Beberapa detik sebelum ejakulasi, aku tekan dalam dalam penisku di vaginanya, Bulik tahu harus bagaimana, dia goyang pinggulnya dengan ritmis, aku nggak tahan lagi, sperma ku muncrat di dalam vagina Bulikku ini. Nikmatnya..
Aku tahu Bulik nggak puas, sebentar sih Setelah itu kami berciuman lagi, aku bilang kalau aku pingin begituan lagi dengan Bulik, dia setuju, tersenyum. Aku remas susunya.
Lalu dia berdiri dan make baju kerjanya, aku disuruh merapikan kamar tidur. Lalu
Bulik berangkat kerja, OhBulikku yang manis.
Bulikku (tanteku) bekerja di Puskesmas yang tidak terlalu jauh dari rumah. Bulikku ini orangnya ramah, supel, dan cukup manis. Sudah lama aku membayangkan dapat tidur dengannya, tapi itu cuma impian semata. Kalau ingat dia pasti aku langsung onani.
Tiap pagi Bulik menyapu halaman belakang , aku pun demikian. Suatu pagi kami dapat bersama beberapa saat di halaman belakang ketika kami sama-sama lagi menyapu. Kami ngobrol-ngobrol sebentar. Bulikku ini nakal juga pikirku. Dia pake kaus oblong warna putih, dan nggak pake beha, ahh. Aku ereksi habis waktu itu. Dengan nakal Bulik memperhatikan selangkanganku, begitu juga aku meperhatikan dadanya yang membusung itu.
Tampak jelas putting susunya yang berwarna coklat itu. Koq ngaceng, kenapa sih Mas. Bulikku kalau manggil aku pake panggilan Mas, karena anaknya juga begitu kalo panggil aku. Dengan malu-malu aku jawab, Habis Bulik nggak pake beha, jadinya kelihatan itunya. Mendadak aku dipanggil ibuku, karena sudah siang dan aku harus berangkat sekolah. Buru-buru aku mandi, dan nggak lupa colai, enaakkk. Oh Bulikku, biarkan aku mengulum susumu yang montok itu, begitu imajinasiku tiap hari. Tapi nggak ada keberanian untuk itu.
Pada akhir semester ganjil Paklik pergi bertamasya ke Bandung, mengantar anak didiknya. Bulik tidak ikut karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Wah ini
kesempatan besar buatku, begitu pikirku, Paklik nggak ada, aku juga libur, ahaa
Aku sudah susun rencana. Aku akan pura-pura main ke rumah Bulik buat baca koran,
maklum rumahku nggak langganan koran. Pagi itu Bapak Ibuku pergi ke Rumah kakakku, buat nengok cucunya, wah makin asyik aja nih.
Bolak-balik aku baca koran, nggak ada berita yang menarik, habis pikiranku sudah nggak di koran lagi. Bulikku lewat didepanku, membawa sabun dan perlengkapan mandi, mau mandi kayaknya. Aku jadi nggak karu-karuan waktu itu.
Pingin rasanya aku ngintip, tapi takut ketahuan. Lalu aku lanjutkan baca koran. Mendadak Bulikku memanggil aku dari kamar mandi. Mas, tolong ambilkan handuk di kamar Bulik, ya. Yessssss, aku langsung berjingkat ke kamar Bulik dan mendapatkan
handuk di balik pintu kamar.
Kamar Bulik harum sekali dan bersih bukan main, semua perabot tertata rapi, dan spreinya tampak tertata dengan baik. Aku langsung ke kamar mandi membawakan handuk. Bulik membuka pintu kamar mandi sedikit saja, aku jadi penasaran. Handuk aku berikan. Deg degan juga aku.
Waktu handuk sudah di tangan Bulik, aku mematung memandangi Bulikku yang terlihat
sebagian. Kenapa Mas, tanya Bulikku,. Aku terkaget, napasku agak sesak. Dengan
keberanian yang cuman sedikit aku baranikan ngomong. Aku pingin, aku pingin Bulik. Bulik tahu apa yang aku maksud, dia tertegun beberapa saat.
Lalu pintu ditutup dan sebentar kemudian Bulik keluar dari kamar mandi dengan handuk membalut tubuhnya. Mlongo saja aku, malu campur napsu. Bulik menuju ke kamar tidur buat ganti baju, karena hari sudah siang dan harus segera berangkat kerja.
Aku dipanggil ke kamar Bulik. Aku nurut saja. Bulik sudah berganti dengan pakaian kerja. Kenapa kamu punya pikiran mau tidur sama Bulikmu ini. Aku sayang sama Bulik, Bulik cantik, seksi. Dia tersenyum dan ketawa kecil. Sesaat kemudian suasana jadi hening. Bulik membisu.
Bulik bilang, Aku juga pingin Mas, sudah lama Paklikmu tidak pernah tidur sama Bulik, sudah hampir satu tahun. Aku pegang tangan Bulik, diam saja, aku remas-remas tangannya, tetap diam saja. Tanpa ba bi bu lagi kami sudah berpagutan, saling melepas keinginan yang sudah lama tertahan.
Aku ciumi bibir Bulikku dengan nafsu kesetanan. Bulik membalas dengan gelora asmara yang sudah lama tertahan. Kami bergumul di lantai beberapa saat, aku ciumi lehernya, kupingnya, ahhhh
Mas, aku pingin. Bulik membuka baju kerjanya, Behanya aku yang lepas. Dua gunung kembar menanti remasanku, langsung saja tanganku meremas susu sebelah kiri, dan aku sedot yang sebelah kanan. Bulik menggeliat nggak karuan. Bulik mendesah agak keras,
ahhhhhhh ahhAku bilang jangan terlalu keras, nanti didengar tetangga.
Aku sudah nggak tahan lagi, maklum pertama kali. Rok Bulik aku lepas dari belakang. Bulik tinggal pake CD warna krem. Aku juga segera telanjang. Aku lepas semua pakaianku, berikut CDku aku lepas, Bulik terkaget melihat penisku yang sudah cukup besar.
Punyamu besar juga Mas. Aku nggak peduli lagi dengan omongan Bulik, aku lepas Cdnya dan terlihat dengan jelas rambut hitam legam dan sangat lebat menutupi lubang yang aku impikan. Aku langsung saja serbu. Aku ciumi lagi bibir Bulik, Saling sedot, saling remas.
Aku nggak kuat lagi, Aku tidurkan Bulik di tempat tidur. Bulik menolak, soalnya tempat tidurnya dari kayu, yang berderit derit kalau dipake begituan. Lalu kasur aku tarik ke lantai, Bulik langsung berguling di kasur, aku serbu lagi. Ahhahhhhhh. Aku nggak mau
lama-lama lagi.
Aku arahkan penisku ke vagina Bulik, Bulik tersenyum. Aku coba masukkan, tetapi gagal, meleset. Lalu Bulik pegang penisku dan diarahkannya ke lubangnya. Aku masukkan pelan-pelan sambil aku nikmati gesekan penis dengan dinding vaginanya, nikmat sekali.
Aku genjot pelan-pelan dan Bulik menikmatinya, merem melek dia.Ahhh ahhBulik menoleh ke kiri, ke kanan. Susunya aku hisap dengan lahap, Bulik semakin terbuai dengan hentakan dan hisapanku, aku juga demikian. Setiap aku menusuk, aku rasakan kenikmatan yang tiada tara. Kami bercinta tidak lama, cuman empat menitan, soalnya diujung penisku sudah berdenyut-denyut.
Aku bilang sama Bulik, Di dalam apa di luar, Bulik? Di dalam saja, nggak apa-apa. Lalu aku pacu lagi, Bulik menggoyang juga. Beberapa detik sebelum ejakulasi, aku tekan dalam dalam penisku di vaginanya, Bulik tahu harus bagaimana, dia goyang pinggulnya dengan ritmis, aku nggak tahan lagi, sperma ku muncrat di dalam vagina Bulikku ini. Nikmatnya..
Aku tahu Bulik nggak puas, sebentar sih Setelah itu kami berciuman lagi, aku bilang kalau aku pingin begituan lagi dengan Bulik, dia setuju, tersenyum. Aku remas susunya.
Lalu dia berdiri dan make baju kerjanya, aku disuruh merapikan kamar tidur. Lalu
Bulik berangkat kerja, OhBulikku yang manis.
adek sepupuku sayang
Base on true story
Sebelum gw certain kejadiannya gw nggak usah sebutin nama yak, kan udah kliatan dr nick gw….. okey gw mulai degh…..
Kejadiannya berawal dr thn 2005, setelah 4 thn gw nggak ketemu sm adek sepupu gw krn dia tinggal di pontianak…. Umurnya lebih tua 2 thn dr gw, dia jd adek sepupu gw nyokapnya adalah adek dr bokap gw….. jd setelah 4 thn gw nggak ketemu sm dia, dia dtng kejkt untuk berobat kecantikan….. awal ketemu agak kaget jg, dia yg dulunya kecil ( kurus ) skrg udah agak montokkan, badannya yg montok, payudarahnya yg makin besar, dan pantatnya yg sexy serta kulitnya yg putih….
Pertama sih nggak ada niat sedikitpun untuk membayangkan…. Smp pada akhirnya setelah 3 hari gw sm dia jln² keliling jkt terjadilah hal ini, pertama sih Cuma colongan friendkiss tp lama² lidahnya mulai masuk kedalem mulut gw….. smua hal ini terjadi dirm nenek gw, krn gw tinggal sm nenek gw dijkt pusat sedangkan nyokap sm bokap dan adek gw tinggal dicibubur…..
Oke lah dia di jkt selama 2minggu dang w berusaha untuk nggak nyia²in kesempatan ini, perlahan tp pasti pertama² gw mulai raba² payudarahnya hari berikutnya gw coba ngeraba vaginanya tp dia nolak… gw jd tau skrg batesannya…. Gw bercumbu hebat walaupun blm sampe tahap ml….. gw maklum akan hal ini, tp kisah ini masih berlanjut di thn 2007 kmrn dia ke jkt sm adeknya bwt jln²…. Seperti biasa di hari pertama kita ngelakuin kyk biasanya…..
Sampe pada akhirnya gw beraniin diri bwt nyoba ngeraba vaginannya lg, tp sekrang dia diem aja malah dia ngeraba penis gw……aksipun gw lanjutin, gw cumbu dia sampe dia terangsang….. akhirnya gw ajak dia kekamar gw, dia nurut aja begitu smp dikamar gw pancing lg birahinya dia meluk gw dgn erat…….
Sampe pd akhirnya gw ber2 nggak sadar gw ber2 udah nggak mengunakan sehelai benangpun ditubuh ini, gw gendong dia kekasur gw…. Gw remas² payudarahnya yg berukuran 36b itu, gw pindahin arah ciuman gw kearah putingnya…. Gw jilat, gw gigit² sambil dia megerang ke enakan….. gw maini jari telunjuk gw di dpn bibir vaginannya, dia pun kembali megerang sambil medesah “ enak mas…..“ gw masukin jari gw kedalem vaginannya dia pun kembali mendesah “ akh….. akh…..” gw mulai merasakan vaginanya yg mulai basah……
Kinipun dia nggak mau kalah dibaliknya badan gw….. di cium bibir gw lalu beranjak keleher, dan kedada….. diapun muali nakal dijilatnya penis gw kyk jilatin es cream, perlahan tp pasti….. lalu mulai lah dia mengulum penis gw….. gentian gw yg mendesah “ ugh….. enak dek….. “ dimainkannya penis gw didalem mulutnya…..
Akhirnya gw merasa udah nggak tahan gw balikin badannya lg, gw coba pancing birahinnya lagi dan ternyata berhasil dia mengerang kenakan…. Sambil mendesah dia blg “ ayo mas masukin aku dah nggak tahan….” Akhirnya gw coba masukin penis gw kedalam vaginanya…. Masih terasa peret, gw masukin perlahan sambil gw tarik ulur penis gw…..
setelah beberapa kali tarik ulur gw masukin dgn sekali hentakan, dia mendesah “ akh….. “ gw diemin beberapa saat penis gw ada didlm vaginnya, baru lah gw maenin….. sblmnya nggak akan terbayang klo hal ini akan terjadi….. gw nikmatin ml mini ber2, gw abis ml mini dgn 5 ronde….. setelah selesai dia pun blg “ bsk lagi ya mas” gw jawab “ iya….. oia makasih ya dek….” Dia pun menjawab “ iya mas gpp, yg penting kita ber2 seneng “ jd lah selama dia dijkt ini selama 3 minggu selalu kita habiskan ml mini bwt bercinta…..
Memang ada sedikit rasa penyesalan knp ini bs terjadi?? Tp apa mau dikata nasi sdh menjadi bubur…..
Sebelum gw certain kejadiannya gw nggak usah sebutin nama yak, kan udah kliatan dr nick gw….. okey gw mulai degh…..
Kejadiannya berawal dr thn 2005, setelah 4 thn gw nggak ketemu sm adek sepupu gw krn dia tinggal di pontianak…. Umurnya lebih tua 2 thn dr gw, dia jd adek sepupu gw nyokapnya adalah adek dr bokap gw….. jd setelah 4 thn gw nggak ketemu sm dia, dia dtng kejkt untuk berobat kecantikan….. awal ketemu agak kaget jg, dia yg dulunya kecil ( kurus ) skrg udah agak montokkan, badannya yg montok, payudarahnya yg makin besar, dan pantatnya yg sexy serta kulitnya yg putih….
Pertama sih nggak ada niat sedikitpun untuk membayangkan…. Smp pada akhirnya setelah 3 hari gw sm dia jln² keliling jkt terjadilah hal ini, pertama sih Cuma colongan friendkiss tp lama² lidahnya mulai masuk kedalem mulut gw….. smua hal ini terjadi dirm nenek gw, krn gw tinggal sm nenek gw dijkt pusat sedangkan nyokap sm bokap dan adek gw tinggal dicibubur…..
Oke lah dia di jkt selama 2minggu dang w berusaha untuk nggak nyia²in kesempatan ini, perlahan tp pasti pertama² gw mulai raba² payudarahnya hari berikutnya gw coba ngeraba vaginanya tp dia nolak… gw jd tau skrg batesannya…. Gw bercumbu hebat walaupun blm sampe tahap ml….. gw maklum akan hal ini, tp kisah ini masih berlanjut di thn 2007 kmrn dia ke jkt sm adeknya bwt jln²…. Seperti biasa di hari pertama kita ngelakuin kyk biasanya…..
Sampe pada akhirnya gw beraniin diri bwt nyoba ngeraba vaginannya lg, tp sekrang dia diem aja malah dia ngeraba penis gw……aksipun gw lanjutin, gw cumbu dia sampe dia terangsang….. akhirnya gw ajak dia kekamar gw, dia nurut aja begitu smp dikamar gw pancing lg birahinya dia meluk gw dgn erat…….
Sampe pd akhirnya gw ber2 nggak sadar gw ber2 udah nggak mengunakan sehelai benangpun ditubuh ini, gw gendong dia kekasur gw…. Gw remas² payudarahnya yg berukuran 36b itu, gw pindahin arah ciuman gw kearah putingnya…. Gw jilat, gw gigit² sambil dia megerang ke enakan….. gw maini jari telunjuk gw di dpn bibir vaginannya, dia pun kembali megerang sambil medesah “ enak mas…..“ gw masukin jari gw kedalem vaginannya dia pun kembali mendesah “ akh….. akh…..” gw mulai merasakan vaginanya yg mulai basah……
Kinipun dia nggak mau kalah dibaliknya badan gw….. di cium bibir gw lalu beranjak keleher, dan kedada….. diapun muali nakal dijilatnya penis gw kyk jilatin es cream, perlahan tp pasti….. lalu mulai lah dia mengulum penis gw….. gentian gw yg mendesah “ ugh….. enak dek….. “ dimainkannya penis gw didalem mulutnya…..
Akhirnya gw merasa udah nggak tahan gw balikin badannya lg, gw coba pancing birahinnya lagi dan ternyata berhasil dia mengerang kenakan…. Sambil mendesah dia blg “ ayo mas masukin aku dah nggak tahan….” Akhirnya gw coba masukin penis gw kedalam vaginanya…. Masih terasa peret, gw masukin perlahan sambil gw tarik ulur penis gw…..
setelah beberapa kali tarik ulur gw masukin dgn sekali hentakan, dia mendesah “ akh….. “ gw diemin beberapa saat penis gw ada didlm vaginnya, baru lah gw maenin….. sblmnya nggak akan terbayang klo hal ini akan terjadi….. gw nikmatin ml mini ber2, gw abis ml mini dgn 5 ronde….. setelah selesai dia pun blg “ bsk lagi ya mas” gw jawab “ iya….. oia makasih ya dek….” Dia pun menjawab “ iya mas gpp, yg penting kita ber2 seneng “ jd lah selama dia dijkt ini selama 3 minggu selalu kita habiskan ml mini bwt bercinta…..
Memang ada sedikit rasa penyesalan knp ini bs terjadi?? Tp apa mau dikata nasi sdh menjadi bubur…..
Oh Mama ........ Tak Kusangka
Sebenarnya aku teramat malu untuk menceritakan kejadian tragis ini, bagaimanapun ini rahasia keluarga, aku dan mama. Waktu itu hari Minggu pagi, pertengahan bulan Desember 1988, ketika liburan sekolah semester ganjil, semester pertama setelah di SMU.
Pada hari itu aku diminta mama untuk mengantar ke Solo, katanya ada acara reuni dengan teman-temannya di kota Solo. Dengan sepeda motor pemberian mama sebagai hadiah ulang tahun ke-17 juga sebagai hadiah aku diterima di salah satu SMA negeri bonafid di kabupaten, aku antar mama ke Solo, tepatnya di kota Palur.
Sesampainya di tujuan, sudah banyak teman mama yang hadir. Mereka datang berpasangan (mama sudah menjanda ketika aku duduk di kelas II SMP, papa tertanggap menghamili gadis tetangga). Semula aku kira mereka pasangan suami istri atau ibu dengan puteranya sepertiku, namun lama-lama aku menjadi sangsi. Bagaimana tidak, meskipun selisih usianya cukup jauh tapi mereka tampak begitu mesra. Bahkan ketika mama memperkenalkan aku kepada teman-temannya sebagai anaknya, mereka semua tidak percaya, malah-malah mereka bilang mama hebat dalam memilih pasangan. Beberapa lelaki, yang semula aku anggap suami-suami mereka, banyak yang memberi semangat kepadaku. Menurut mereka, aku merupakan lelaki yang beruntung bisa mendapatkan cewe seperti mama, selain cantik, muda dan tidak pelit namun yang lebih penting duitnya banyak.
Sebenarnya aku malu, marah dan kesal. Bagaimana tidak marah, mereka tetap tidak percaya kalau aku anak mama yang sebenarnya. Namun demi melihat mama hanya tersenyum saja, aku tak menampakkan kesemuanya itu.
Dalam perjalanan pulang mama baru cerita semuanya kalau sebenarnya mereka bukan suami istri atau ibu dengan anak-anaknya, mereka merupakan pasangan idaman lain (PIL). Mama juga cerita mengapa tadi hanya tersenyum waktu mereka bilang aku pasangan mama dan hanya sedikit membela diri bahwa aku anaknya yang sebenarnya.
Menurut mama susah menjelaskan kepada mereka kalau aku anak mama yang sebenarnya, karena dihati mereka sudah lain. Mama juga cerita kenapa mengajak aku untuk mengantar ke acara tersebut, selain aku libur juga mama akan susah menolak seandainya nanti lelaki (gigolo) yang mereka tawarkan kepada mama jadi datang. Selama ini sudah sering mama diolok-olok oleh mereka. Mama dikata sebagai janda muda yang cantik dan punya uang tapi kuper. Dan jadwal selanjutnya, tahun baru (siang) di yogyakarta, di rumah Tante Ina.
Dua minggu sejak pertemuan di Solo, Tahun Baru pun datang, 1 Januari 1989. Dengan sepeda motor yang sama aku antar mama ke rumah Tante Ina di yogyakarta. Sengaja untuk acara ini aku minta mama untuk membeli beberapa pakaian, aku tidak terlalu kalah gengsi dengan cowok-cowok mereka. Sesampainya kami di di rumah Tante Ina, teman-teman mama sudah banyak yang datang lengkap dengan centheng-centhengnya. Ketika datang kami disambut dengan peluk dan cium mesra.
Rumah Tante Ina cukup besar dan luas, cukup untuk menampung lebih dari 30 orang. Acara dibuka dengan sambutan selamat datang dan selamat tahun baru dari tuan rumah, dilanjutkan dengan makan bersama dan seterusnya acara biasa “ngerumpi”. Entah usul dari siapa, diruangan tengah menyetel VCD porno. Kata mereka biasa untuk menghangatkan suasana yang dingin karena musin hujan.
Bisa dibayangkan bagaiaman perasaanku, diusia ke-17 dikala tingkat birahi sedang tumbuh menyaksikan kesemuanya ini. Mamapun juga tampak kikuk terhadapku, terlebih ketika Tante Astuti dan pacarnya tampak asyik bercium mesra disampingku dengan tangannya yang gencar menjelajah dan suaranya yang cukup berisik. Dan diantara kegelisahan itu, Tante Ina membisikkan kepada kami kalau mau boleh menggunakan kamar diatas. Sambil menyerahkan kunci dia ngeloyor pergi sama pacarnya. Aku dan mama hanya tersenyum, tapi ketika aku toleh di sekeliling sudah kosong, yang ada tinggal Tante Melani dan Tante Yayuk beserta pasangan mereka masing-masing, dimana pakaian yang mereka kenakan juga sudah kedodoran dan tidak lengkap lagi. Dengan rasa jengah mama mengajakku ke lantai atas.
Di lantai atas, di kamar yang disediakan untuk kami, tidak banyak yang dapat dilakukan. Kasur yang luas dan kain sprei yang berwarna putih polos hanya menambah gairah mudaku yang tak tersalurkan. Mama minta maaf, kata mama kegiatan semacam ini tidak biasanya diadakan waktu siang hari, dan baru kali ini mama ikut didalamnya (biasanya mama tidak hadir kalau acara malam hari). Sewaktu akan keluar kamar mama sengaja membuat rambutnya tampak awut-awutan (biar enggak ada yang curiga, katanya).
Waktu menunjukkan pukul 15.30 wib acara selesai. Pertemuan selanjutnya dikediaman Tante Astuti di Solo, bertepatan hari ulang tahun Tante Astuti yang ke-42. Sejak acara mendadak di rumah Tante Ina, selama dalam perjalanan pulang, mama tak banyak bicara. Kebekuan ini akhirnya cair waktu kami istirahat isi bensin.
Satu hal yang tak dapat kulupa dari mama, ketika akan keluar kamar atas tidak tampak penolakan mama waktu aku sekilas mencium pipi dan bibirnya serta waktu akan pamitan pulang mama juga tampak santai ketika tanganku sekilas meremas buah dadanya. Ketika aku tanyakan semua ini, mama hanya tersenyum dan mengatakan kalau aku mulai nakal.
Sehari menjelang pertemuan di rumah Tante Astuti mama tanya sama aku, mau datang apa enggak karena malam hari dan takut hal-hal seperti dirumah Tante Ina yang lalu akan terulang. Karena bertepatan hari ulang tahun Tante Astuti aku sarankan hadir, masalah yang lalu kalau memang harus terjadi yach itung-itung rejeki, kataku sambil berkelakar.
5 Februari 1989 di rumah Tante Astuti suasana hingar-bingar. Maklum Tante Astuti seorang janda sukses dengan seorang putera yang masih kecil. Dalam acara hari ini Tante Astuti sengaja mendekorasi rumahnya dengan suasana diskotik. Dentuman musik keras, asap rokok dan bau minuman beralkohol menyemarakkan hari ulang tahunnya.
Setelah memberikan ucapan selamat dan mencicipi makan malam acara dilanjutkan dengan ajang melantai. Sebenarnya mama sudah berusaha untuk tidak beranjak dari tempat duduknya, namun permintaan Tante Susan agar mama bersedia berdansa dengan relasi Tante Susan jualah yang membuat mama bersedia bangkit. Tak tega aku melihat kekikukan mama apalagi relasi Tante Susan tampak berusaha untuk mencium mama, serta merta akupun berdiri dan permisi kepada relasi Tante Susan agar mama berdansa denganku.
Kujauhkan rasa sungkan, malu dan grogi. Kurengkuh pinggang mama sambil terus berdansa kuajak ke arah taman untuk istirahat minggir dari keramaian pesta. Dibangku taman bukan ketenangan yang kudapat, justru yang ada Tante Yani dan Tante Sri dengan pasangannya asyik bercumbu mesra. Kepalang tanggung mau kembali ke pesta kasihan mama yang sudah cukup lelah selain tak enak sama mereka karena kalaupun kembali ke dalam harus melewati Tante Yani dan Tante Sri.
Akhirnya mama memutuskan kami tetap dibangku taman sambil menunggu pesta usai. Supaya Tante Yani dan Tante Sri tidak merasa jengah, mama memintaku untuk menciumnya. Awalnya hanya sekedar pipi dan sekilas bibir namun demi mendengar dengus nafsu Tante Yani, nafsu mudaku pun tak dapat kutahan. Tak hanya kecupan, justru pagutan yang lebih dominan dan tanpa sadar entah kapan mulainya, tangan ini sudah bergerilya di dalam baju mama, memeras, memilin dan ….. hingga teriakan nafsu Tante Sri menyadarkan perbuatanku atas mama.
Bercampurlah rasa malu, bersalah dan entah …. pada diri ini, aku mengajak mama untuk segera pamit kepada tuan rumah meskipun Tante Astuti menyarankan kami menginap dirumahnya.
Sesampainya dirumah kutumpahkan rasa sesalku atas perbuatan tak senonohku pada mama. Lagi-lagi mama hanya tersenyum dan mengatakan tak apa-apa, wajar orang lupa dan khilaf apalagi suasana seperti di rumah Tante Yani yang serba bebas. Sambil iseng aku bertanya mengapa waktu itu mama tidak menolak. Kata mama supaya Tante Yani dan Tante Sri tak terganggu apalagi waktu itu aku tampak bernafsu sekali. Oleh mama aku tak perlu memikirkan yang sudah-sudah dan sambil beranjak tidur mama masih sempat mencium pipiku.
Namun bagaimana aku bisa tak perlu memikirkan yang sudah-sudah sementara nafsu sudah bersimaharajalela. Karena tetap tak bisa tidur, dengan terpaksa tengah malam (+ 02.00 wib) kubangunkan mama. Dikamar tengah kucumbu mama, kucium, kupagut dan tangan ini tak terhalang bergentayangan disekujur tubuh mama. Namun tangan ini akhirnya berhenti sebelum sampai pada tujuan akhir, tempat yang teramat khusus.
Pagi harinya tak tampak kemarahan pada wajah mama, sambil sarapan pagi mama malah berkata kalau aku mewarisi sifat-sifat papa yang nakal tanpa menegur kelakuanku tadi malam. Bahkan mama geleng-geleng kepala ketika aku pamit berangkat sekolah kucium bibirnya didepan pintu.
4 April 1989 genap sudah 18 tahun usiaku, hari itu terasa lama sekali menunggu sore. Hari itu aku menunggu-nunggu hadiah ulang tahun spesial yang telah dijanjikan mama. Dua hari yang lalu, aku ditanya mama ingin hadiah apa untuk merayakan hari ulang tahunku. Sudah cukup banyak hadiah ulang tahun yang aku punya seperti : motor atau komputer. Akhirnya aku katakan pada mama, kalau mama tidak keberatan aku mau mama.
Sekilas mama terdiam, ada perasaan tidak percaya atau tidak dapat menerima permintaanku. Aku dikira bercanda lagi dan mama bertanya seebnarnya aku mau hadiah apa, aku bilang pada mama kalau aku tidak bercanda kalau aku mau mama.
Dua hari mama terdiam, dua hari kami tidak bertegur sapa. Aku kira mama marah atas permintaanku terdahulu. Pagi hari tadi setelah sarapan aku minta maaf pada mama atas permintaanku dua hari yang lalu dan sekaligus aku bermaksud menarik permintaanku.
Namun mama berkata lain, bahwa permintaanku dua hari yang lalu akan mama penuhi. Aku nanti malam diminta tidak mengundang teman-temanku dan aku juga diminta untuk mempersiapkan diri. Timbul dihatiku rasa senang, cemas, grogi, bahagia dan entah…. Spontan kucium mama, kucium pipinya, kucium bibirnya dan kucium matanya serta kupeluk erat.
Selepas pulang kerja tadi sore mama tidak keluar dari kamarnya. Baru tepat pukul 21.30 wib bersamaan dengan selesainya acara Dunia Dalam Berita di TVRI mama memanggilku untuk ke kamarnya.
Dengan gemuruh hati yang berdetak keras kuhampiri kamarnya dan kudapati mama di depan pintu dengan tubuhnya terbalut kain sprei. Sambil tersenyum manis mama mencium bibirku dan mulai melepas satu-persatu pakaian yang kukenakan. Tak kudapati wajah keterpaksaan pada mama, bahkan dengan serta merta tangan mama meraba dan mengelus dengan lembut ketika pakaian yang kukenakan tinggal celana dalam saja.
Dengan nafsu dan gairah yang menggelegak kuserang mama. Kucium, kupeluk, kucumbu dan dengan kekuatan prima kuakhiri perjakaku yang disambut mama dengan belitan yang memabukkan, yang menuntuk terus dan selalu terus, entah berapa kali malam itu birahi kutuntaskan.
Ada terbersit rasa bangga, puas dan plong ketika kutemukan mama tertidur pulas dengan bertelanjang dalam pelukanku. Kucium keningnya, namun ketika aku akan bangun mama menahanku dan dengan kelihaiannya mampu membangkitkan lagi gairah birahiku. Dan pagi hari itupun menjadi pagi yang teramat indah. Sebelum aku meninggalkan kamarnya mama mencium pipi dan bibirku sekilas sambil mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.
Entah mengapa dengan mama aku bisa begitu bergairah, semenjak kejadian di rumah Tante Yani di Yogyakarta yang lalu setiap memandang mama selalu timbul birahiku. Di sekolah tak kurang gadis sebaya yang lebih cantik yang tak menolak aku pacari, namun justru dengan mama birahiku timbul. Tapi harus diakui meskipun mama sudah cukup umur namun memang masih cantik, putih, tinggi, sintal, supel, luwes, berisi dan …..
Semenjak itu, hampir tiada batas penghalang antara aku dan mama. Dimana tempat dan dimana waktu, kalau aku mau mama selalu memenuhi. Dengan mama birahiku tak padam-padam. Setiap acara teman-teman mama selalu menjadi acara luar kota yang sangat mengasyikan dan menjadi acara favorit yang selalu aku tunggu-tunggu.
Sungguh permainan ranjang mama menjadi suatu candu hidupku, sore hari, sebelum tidur, sebelum belajar bahkan sebelum berangkat sekolah pun mama selalu siap. Dengan lemah-lembut, keayuan, kepasrahan, dan naluri keibuannya mama memenuhi hasratku sebagai lelaki.
Hingga kini, ketika istriku tengah mengandung anakku yang ketiga, dimana istri sedang tidak laik pakai, kembali mama sebagai penyelamat saluran nafsuku dan entah sampai kapan lagi kami masih harus begini ………………..
Subscribe to:
Posts (Atom)

