Usiaku sudah hampir mencapai kepala tiga, ya... sekitar 2 tahunan lagi lah. Aku tinggal bersama mertuaku yang sudah lama ditinggal mati suaminya akibat penyakit yang dideritanya. Dari itu istriku berharap aku tinggal di rumah supaya kami tetap berkumpul sebagai keluarga tidak terpisah. Di rumah itu kami tinggal 6 orang, ironisnya hanya aku dan anak laki-lakiku yang berumur 1 tahun berjenis kelamin cowok di rumah tersebut, lainnya cewek.
Jadi... begini nih ceritanya.
Awal September lalu aku tidak berkerja lagi karena mengundurkan diri. Hari-hari kuhabiskan di rumah bersama anakku, maklumlah ketika aku bekerja jarang sekali aku dekat dengan anakku tersebut. Hari demi hari kulalui tanpa ada ketakutan untuk stok kebutuhan bakal akan habis, aku cuek saja bahkan aku semakin terbuai dengan kemalasanku.
Pagi sekitar pukul 8 wib, baru aku terbangun dari tidur. Kulihat anak dan istriku tidak ada disamping, ah... mungkin lagi di beranda cetusku dalam hati. Saat aku mau turun dari tempat tidur terdengar suara jeritan tangis anakku menuju arah pintu. seketika itu pula pintu kamar terbuka dengan tergesanya. Oh... ternyata dia bersama tantenya Liza yang tak lain adalah adik iparku, rupanya anakku tersebut lagi pipis dicelana. Liza mengganti celana anakku, "Kemana mamanya, Za...?" tanyaku. "Lagi ke pasar Bang" jawabnya "Emang gak diberi tau, ya?" timpalnya lagi. Aku melihat Liza pagi itu agak salah tingkah, sebentar dia meihat kearah bawah selimut dan kemudian salah memakaikan celana anakku.
"Kenapa kamu?" tanyaku heran " Anu bang..." sambil melihat kembali ke bawah.
"Oh... maaf ya, Za?" terkejut aku, rupanya selimut yang kupakai tidur sudah melorot setengah pahaku tanpa kusadari, aku lagi bugil. Hmmm... tadi malam abis tempur sama sang istri hingga aku kelelahan dan lupa memakai celana.
Anehnya, Liza hanya tersenyum, bukan tersenyum malu, malah beliau menyindir "Abis tempur ya, Bang. Mau dong..." Katanya tanpa ragu "Haaa..." Kontan aja aku terkejut mendengar pernyataan itu. Malah kini aku jadi salah tingkah dan berkeringat dingin dan bergegas ke toilet kamarku.
Dua hari setelah mengingat pernyataan Liza kemarin pagi, aku tidak habis pikir kenapa dia bisa berkata seperti itu. Setahu aku tuh anak paling sopan tidak banyak bicara dan jarang bergaul. Ah... masa bodoh lah, kalau ada kesempatan seperti itu lagi aku tidak akan menyia-nyiakannya. Gimana gak aku sia-siakan, Tuh anak mempunyai badan yang sangat seksi, Kulit sawo matang, rambut lurus panjang. Bukannya sok bangga, dia persis kayak bintang film dan artis sinetron Luna Maya. Kembali momen yang kutunggu-tunggu datang, ketika itu rumah kami lagi sepi-sepinya. Istri, anak dan mertuaku pergi arisan ke tempat keluarga almahrum mertua laki sedangkan iparku satu lagi pas kuliah. Hanya aku dan Liza di rumah. Sewaktu itu aku ke kamar mandi belakang untuk urusan "saluran air", aku berpapasan dengan Liza yang baru selesai mandi. Wow, dia hanya menggunakan handuk menutupi buah dada dan separuh pahanya. Dia tersenyum akupun tersenyum, seperti mengisyaratkan sesuatu.
Selagi aku menyalurkan hajat tiba-tiba pintu kamar mandi ada yang menggedor.
"Siapa?" tanyaku
"Duhhhh... kan cuma kita berdua di rumah ini, bang" jawabnya.
"Oh iya, ada apa, Za...?" tanyaku lagi
"Bang, lampu di kamar aku mati tuh"
"Cepatan dong!!"
"Oo... iya, bentar ya" balasku sambil mengkancingkan celana dan bergegas ke kamar Liza.
Aku membawa kursi plastik untuk pijakan supaya aku dapat meraih lampu yang dimaksud.
"Za, kamu pegangin nih kursi ya?" perintahku "OK, bang" balasnya.
"Kok kamu belum pake baju?" tanyaku heran.
"Abisnya agak gelap, bang?"
"ooo...!?"
Aku berusaha meraih lampu di atasku. Tiba-tiba saja entah bagaimana kursi plastik yang ku injak oleng ke arah Liza. Dan... braaak aku jatuh ke ranjang, aku menghimpit Liza.
"Ou...ou..." apa yang terjadi. Handuk yang menutupi bagian atas tubuhnya terbuka.
"Maaf, Za"
"Gak apa-apa bang"
Anehnya Liza tidak segera menutup handuk tersebut aku masih berada diatas tubuhnya, malahan dia tersenyum kepadaku. Melihat hal seperti itu, aku yakin dia merespon. Kontan aja barangku tegang.
Kami saling bertatap muka, entah energi apa mengalir ditubuh kami,
dengan berani kucium bibirnya, Liza hanya terdiam dan tidak membalas.
"Kok kamu diam?"
"Ehmm... malu, Bang"
Aku tahu dia belum pernah melakukan hal ini. Terus aku melumat bibirnya yang tipis berbelah itu. Lama-kelamaan ia membalas juga, hingga bibir kami saling berpagutan. Kulancarkan serangan demi serangan, dengan bimbinganku Liza mulai terlihat bisa meladeni gempuranku. Gunung kembar miliknya kini menjadi jajalanku, kujilati, kuhisap malah kupelintir dikit.
"Ouhh... sakit, Bang. Tapi enak kok"
"Za... tubuh kamu bagus sekali, sayang... ouhmmm" Sembari aku melanjutkan kebagian perut, pusar dan kini hampir dekat daerah kemaluannya. Liza tidak melarang aku bertindak seperti itu, malah ia semakin gemas menjambak rambutku, sakit emang, tapi aku diam saja.
Sungguh indah dan harum memeknya Liza, maklum ia baru saja selesai mandi. Bulu terawat dengan potongan tipis. Kini aku menjulurkan lidahku memasuki liang vaginanya, ku hisap sekuatnya sangkin geramnya aku.
"Adauuu.... sakiiit" tentu saja ia melonjak kesakitan.
"Oh, maaf Za"
"Jangan seperti itu dong" merintih ia
"Ayo lanjutin lagi" pintanya
"Tapi, giliran aku sekarang yang nyerang" aturnya kemudian
Tubuhku kini terlentang pasrah. Liza langsung saja menyerang daerah sensitifku, menjilatinya, menghisap dan mengocok dengan mulutnya.
Ohhh... Za, enak kali sayang, ah...?" kalau yang ini entah ia pelajari
dari mana, masa bodo ahh...!!
"Duh, gede amat barang mu, Bang"
"Ohhh...."
"Bang, Liza sudah tidak tahan, nih... masukin kontol mu, ya Bang"
"Terserah kamu sayang, abang juga tidak tahan" Liza kini mengambil posisi duduk di atas tepat agak ke bawah perut ku. Ia mulai memegang kemaluanku dan mengarahkannya ke lubang memeknya. semula agak sulit, tapi setelah ia melumat dan membasahinya kembali baru agak sedikit gampang masuknya.
"Ouuu...ahhhhh...." blessss... seluruh kemaluanku amblas di dalam goa kenikmatan milik Liza.
"Aduuuh, Baaaang..... akhhhhh" Liza mulai memompa dengan menopang dadaku. Tidak hanya memompa kini ia mulai dengan gerakan maju mundur sambil meremas-remas payu daranya.
Hal tersebut menjadi perhatianku, aku tidak mau dia menikmatinya sendiri. Sambil bergoyang aku mengambil posisi duduk, mukaku sudah menghadap payudaranya. Liza semakin histeris setelah kujilati kembali gunung indahnya.
"Akhhhh... aku sudah tidak tahan, bang. Mau keluar nih.
Ahhh... ahhh... ouhhh"
"Jangan dulu Za, tahan ya bentar" hanya sekali balik kini aku sudah berada diatas tubuh Liza, genjotan demi genjotan kulesakkan ke memeknya. Liza terjerit-jerit kesakitan sambil menekan pantatku dengan kedua tumit kakinya, seolah kurang dalam lagi kulesakkan.
"Ampuuuun... ahhhh... ahhhh... trus, Bang"
"Baaang... goyangnya cepatin lagi, ahhhh... dah mau keluar nih"
Liza tidak hanya merintih tapi kini sudah menarik rambut dan meremas tubuhku.
"Oughhhhh... abang juga mau keluar, Za" kugoyang semangkin cepat, cepat dan sangat cepat hingga jeritku dan jerit Liza membana di ruang kamar.
Erangang panjang kami sudah mulai menampakan akhir pertandingan ini.
"Akkhhhhhh..... ouughhhhh.... ouhhhhhh"
"Enak, Baaaangg...."
"Iya sayang.... ehmmmmmm" kutumpahkan spermaku seluruhnya ke dalam vagina Liza dan setelah itu ku sodorkan kontol ke mulutnya, kuminta ia agar membersihkannya.
"mmmmmmuaaachhhhh..." dikecupnya kontolku setelah dibersihkannya dan itu pertanda permainan ini berakhir, kamipun tertidur lemas.
Kesempatan demi kesempatan kami lakukan, baik dirumah, kamar mandi, di hotel bahkan ketika sambil menggendongku anakku, ketika itu di ruang tamu. Dimanapu Liza siap dan dimanapun aku siap.
Tuesday, November 19, 2013
ML dengan Adik Ipar
Saturday, October 12, 2013
Kisah Asmara Vivi, Istri yang Kecewa dengan Suami
Perkenalkan nama saya Nendi umur 29 tahun, saya bekerja di sebuah hotel berbintang tiga di kota “B”. Seperti kebanyakan orang bekerja yang kadang membuat kita jenuh, untuk mengatasinya aku sering mengunjungi situs 17Tahun ini, sampai akhirnya saya terobsesi untuk menulis cerita ini.
Cerita ini berawal dari pulang kemalaman dengan seorang sekretaris teman sekantor di bagian lain, namanya Vivi berperawakan sintal dengan kulit putih dan tinggi badan yang sedang-sedang saja sekitar 165 cm. Sebetulnya Vivi bukanlah tipe orang yang ramah walaupun dia seorang sekretaris, mungkin karena om-nyalah dia ada di posisi tersebut. Oh ya, Vivi juga sudah menikah kira-kira satu setengah tahun yang lalu, dan saya pernah beberapa kali ketemu dengan suaminya.
*****
Pagi itu pada saat jam masuk kantor aku berpapasan dengannya di pintu masuk, seperti biasa kita saling tersenyum dan mengucapkan selamat pagi. Ah lucu juga kita yang sudah kenal beberapa tahun masih melakukan kebiasaan seperti itu, padahal untuk hitungan waktu selama tiga tahun kita harus lebih akrab dari itu, tapi mau bagaimana lagi karena Vivi orangnya memang seperti itu jadi akupun terbawa-bawa, aku sendiri bertanya-tanya apakah sifatnya yang seperti itu hanya untuk menjaga jarak dengan orang-orang di lingkungan kerja atau memang dia punya pembawaan seperti itu sejak lahir.
Mungkin saat itu aku sedang ketiban mujur, tepat di pintu masuk entah apa penyebabnya tiba-tiba saja Vivi seperti akan terjatuh dan refleks aku meraih tubuhnya dengan maksud untuk menahan supaya dia tidak benar-benar terjatuh, tapi tanpa sengaja tanganku menyentuh sesuatu di bagian dadanya. Setelah dapat berdiri dengan sempurna Vivi memandang ke arahku sambil tersenyum, ya ampun menurutku itu merupakan sesuatu yang istimewa mengingat sifatnya yang kuketahui selama ini.
“Terima kasih Pak nendi, hampir saja aku terjatuh.”
“Oh, nggak apa-apa, maaf barusan tidak sengaja.”
“Tidak apa-apa.”
Seperti itulah dialog yang terjadi pagi itu. Walaupun nggak mau mikirin terus kejadian tersebut tapi aku tetap merasa kurang enak karena telah menyentuh sesuatu pada tubuhnya walaupun nggak sengaja, waktu kutengok ke arah meja kerjanya melalui kaca pintu ruanganku dia juga kelihatannya kepikiran dengan kejadian tersebut, untung waktu masuk kerja masih empat puluh lima menit lagi jadi belum ada orang, seandainya pada saat itu sudah banyak orang mungkin dia selain merasa kaget juga akan merasa malu.
Aku kembali melakukan rutinitas keseharian menggeluti angka-angka yang yang nggak ada ujungnya. Sudah kebiasaanku setiap tiga puluh menit memandang gambar panorama yang kutempel dikaca pintu ruanganku untuk menghindari kelelahan pada mata, tapi ternyata ada sesuatu yang lain di seberang pintu ruanganku pada hari itu, aku melihat Vivi sedang memandang ke arah yang sama sehingga pandangan kami bertemu. Lagi, dia tersenyum kearahku, aku malah jadi bertanya-tanya ada apa gerangan dengan cewek itu, aku yang geer atau memang dia jadi lain hari ini, ah mungkin hanya pikiranku saja yang ngelantur.
Jam istirahat makan seperti biasa semua orang ngumpul di EDR untuk makan siang, dan suatu kebetulan lagi waktu nyari tempat duduk ternyata kursi yang kosong ada di sebelah Vivi, akhirnya aku duduk disana dan menyantap makanan yang sudah kuambil. Setelah selesai makan, kebiasaan kami ngobrol ngalor-ngidul sambil menunggu waktu istirahat habis, karena aku duduk disebelah dia jadi aku ngobrol sama dia, padahal sebelumnya aku males ngobrol sama dia.
“Gimana kabar suaminya vi?” aku memulai percakapan
“Baik pak.”
“Trus gimana kerjaannya? masih di tempat yang dulu?”
“Sekarang sedang meneruskan studi di amerika, baru berangkat satu bulan yang lalu.”
“Oh begitu, baru tahu aku.”
“Ingin lebih pintar katanya pak.”
“Ya baguslah kalau begitu, kan nantinya juga untuk mesa depan berdua.”
“Iya pak.”
Setelah jam istirahat habis semua kembali ke ruangan masing-masing untuk meneruskan kerjaan yang tadi terhenti. Akupun kembali hanyut dengan kerjaanku.
Pukul setengah tujuh aku bermaksud beres-beres karena penat juga kerja terus, tanpa sengaja aku nengok ke arah pintu ruanganku ternyata Vivi masih ada di mejanya. Setelah semua beres akupun keluar dari ruangan dan bermaksud untuk pulang, aku melewati mejanya dan iseng aku nyapa dia.
“Kok tumben hari gini masih belum pulang?”
“Iya pak, ini baru mau pulang, baru beres, banyak kerjaan hari ini”
Aku merasakan gaya bicaranya lain hari ini, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang kalau bicara selalu kedengaran resmi, yang menimbulkan rasa tidak akrab.
“Ya udah kalo begitu kita bareng aja.” ajakku menawarkan.
“Tidak usah pak, biar aku pulang sendiri saja.”
“Nggak apa-apa, ayo kita bareng, ini udah terlalu malam.”
“Baik Pak kalau begitu.”
Sambil berjalan menuju tempat parkir kembali kutawarkan jasa yang walaupun sebetulnya niatnya hanya iseng saja.
“Gimana kalo vivi bareng aku, kita kan searah.”
“Nggak usah pak, biar aku pakai angkutan umum atau taksi saja.”
“Lho, jangan gitu, ini udah malem, nggak baik perempuan jalan sendiri malem-malem.”
“Baik kalau begitu pak.”
Di sepanjang jalan yang dilalui kami tidak banyak bicara sampai akhirnya aku perhatikan dia agak lain, dia kelihatan murung, kenapa ini cewek.
“Lho kok kelihatannya murung, kenapa?” tanyaku penasaran.
“Nggak apa-apa pak.”
“Nggak apa-apa kok ngelamun begitu, perlu teman buat ngobrol?” tanyaku memancing.
“Nggak ah pak, malu.”
“Kok malu sih, nggak apa-apa kok, ngobrol aja aku dengerin, kalo bisa dan perlu mungkin aku akan bantu.”
“Susah mulainya pak, soalnya ini terlalu pribadi.”
“Oh begitu, ya kalo nggak mau ya nggak usah, aku nggak akan maksa.”
“Tapi sebetulnya memang aku perlu orang untuk teman ngobrol tentang masalah ini.”
“Ya udah kalo begitu obrolin aja sama aku, rahasia dijamin kok.”
“Ini soal suami aku pak.”
“Ada apa dengan suaminya?”
“Itu yang bikin aku malu untuk meneruskannya.”
“Nggak usah malu, kan udah aku bilang dijamin kerahasiaannya kalo vivi ngobrol ke aku.”
“Anu, aku sering baca buku-buku mengenai hubungan suami istri.”
“Trus kenapa?”
“aku baca, akhir dari hubungan badan antara suami istri yang bagus adalah orgasme yang dialami oleh keduanya.”
“Trus letak permasalahannya dimana?”
“Mengenai orgasme, aku sampai dengan saat ini aku hanya sempat membacanya tanpa pernah merasakannya.”
Aku sama sekali nggak pernah menduga kalo pembicaraannya akan mengarah kesana, dalam hati aku membatin, masa sih kawin satu setengah tahun sama sekali belum pernah mengalami orgasme? timbul niatku untuk beramal:-)
“Masa sih vi, apa betul kamu belum pernah merasakan orgasme seperti yang barusan kamu bilang?”
“Betul pak, kebetulan aku ngobrolin masalah ini dengan bapak, jadi setidaknya bapak bisa memberi masukan karena mungkin ini adalah masalah laki-laki.”
“Ya, gimana ya, sekarang kan suami vivi lagi nggak ada, seharusnya waktu suami vivi ada barengan pergi ke ahlinya untuk konsultasi masalah itu”
“Pernah beberapa kali aku ajak suami aku, tapi menolak dan akhirnya kalau aku singgung masalah itu hanya menimbulkan pertengkaran diantara kami.”
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan tanpa terasa pula kami sudah sampai didepan rumah Vivi, Aku bermaksud mengantar dia sampai depan pintu rumahnya.
“Tidak usah pak, biar sampai sini saja.”
“Nggak apa-apa, takut ada apa-apa biar aku antar sampai depan pintu.”
Dasar, kakiku menginjak sesuatu yang lembek ditanah dan hampir saja terpeleset karena penerangan di depan rumahnya agak kurang. Setelah sampai di teras rumahnya kulihat kakiku, ternya yang kunjak tadi adalah sesuatu yang kurang enak untuk disebutkan, sampai-sampai sepatuku sebelah kiri hampir setengahnya kena.
“Aduh Pak nendi, gimana dong itu kakinya.”
“Nggak apa-apa, nanti aku cuci kalo udah nyampe rumah.”
“Dicuci disini aja pak, nanti nggak enak sepanjang jalan kecium baunya.”
“Ya udah, kalo begitu aku ikut ke toilet.”
Setelah membersihkan kaki aku diperliahkan duduk di ruang tamunya, dan ternyata disana sudah menunggu segelas kopi hanngat. Sambil menunggu kakiku kering kami berbincang lagi.
“Oh ya vi, mengenai yang kamu ceritakan tadi di jalan, gimana cara kamu mengatasinya?”
“aku sendiri bingung Pak harus bagaimana.”
Mendengar jawaban seperti itu dalam otakku timbul pikiran kotor lelaki.
“Gimana kalau besok-besok aku kasih apa yang kamu pengen?”
“Yang aku mau yang mana pak.”
“Lho, itu yang sepanjang jalan kamu bilang belum pernah ngalamin.”
“Ah bapak bisa aja.”
“Bener kok, aku bersedia ngasih itu ke kamu.”
Termenung dia mendengar perkataanku tadi, melihat dia yang sedang menerawang aku berpikir kenapa juga harus besok-besok, kenapa nggak sekarang aja selagi ada kesempatan.
Kudekati dia dan kupegang tangannya, tersentak juga dia dari lamunannya sambil menatap kearahku dengan penuh tanda tanya. Kudekatkan wajahku ke wajahnya dan kukecup pipi sebelah kanannya, dia diam tidak bereaksi. Ku kecup bibirnya, dia menarik napas dalam entah apa yang ada dipikirannya dan tetap diam, kulanjutkan mencium hidungnya dan dia memejamkan mata.
Ternyata napsu sudah menggerogoti kepalaku, kulumat bibirnya yang tipis dan ternyata dia membalas lumatanku, bibir kami saling berpagut dan kulihat dia begitu meresapi dan menikmati adegan itu. Kitarik tangannya untuk duduk disebelahku di sofa yang lebih panjang, dia hanya mengikuti sambil menatapku. Kembali kulumat bibirnya, lagi, dia membalasnya dengan penuh semangat.
Dengan posisi duduk seperti itu tanganku bisa mulai bekerja dan bergerilya. Kuraba bagian dadanya, dia malah bergerak seolah-olah menyodorkan dadanya untuk kukerjain. Kuremas dadanya dari luar bajunya, tangan kirinya membuka kancing baju bagian atasnya kemudian membimbing tangan kananku untuk masuk kedalam BHnya. Ya ampun bener-bener udah nggak tahan dia rupanya.
Kulepas tangan dan bibirku dari tubuhnya, aku berpindah posisi bersandar pada pegangan sofa tempatku duduk dan membuka kalkiku lebar-lebar. Kutarik dia untuk duduk membelakangiku, dari belakang kubuka baju dan BHnya yang saat itu sudah nempel nggak karuan, kuciumi leher bagian belakang Vivi dan tangan kiri kananku memegang gunung di dadanya masing-masing satu, dia bersandar ketubuhku seperti lemas tidak memiliki tenaga untuk menopang tubuhnya sendiri dan mulai kuremas payudaranya sambil terus kuciumi tengkuknya.
Setelah cukup lama meremas buah dadanya tangan kiriku mulai berpindah kebawah menyusuri bagian perutnya dan berhenti di tengah selangkangannya, dia melenguh waktu kuraba bagian itu. Kusingkap roknya dan tanganku langsung masuk ke celana dalamnya, kutemukan sesuatu yang hangat-hangat lembab disana, sudah basah rupanya. Kutekan klitorisnya dengan jari tengah tangan kiriku.
“Ohh .. ehh ..”
Aku semakin bernapsu mendengan rintihannya dan kumasukkan jariku ke vaginanya, suaranya semakin menjadi. Kukeluar masukkan jariku disana, tubuhnya semakin melenting seperti batang plastik kepanasan, terus kukucek-kucek semakin cepat tubuhnya bergetar menerima perlakuanku. Dua puluh menit lamanya kulakukan itu dan akhirnya keluar suara dari mulutnya.
“Udah dulu pak, aku nggak tahan pengen pipis.”
“Jangan ditahan, biarkan aja lepas.”
“Aduh pak, nggak tahan, vivi mau pipis .. ohh .. ahh.”
Badanya semakin bergetar, dan akhirnya.
“Ahh .. uhh.”
Badanya mengejang beberapa saat sebelum akhirnya dia lunglai bersender kedadaku.
“Gimana vi rasanya?”
“Enak pak.”
Kulihat air matanya berlinang.
“Kenapa kamu menangis vi.”
Dia diam tidak menyahut.
“Kamu nyesel udah melakukan ini?” tanyaku.
“Bukan pak.”
“Lantas?”
“aku bahagia, akhirnya aku mendapatkan apa yang aku idam-idamkan selama ini yang seharusnya datang dari suami aku.”
“Oh begitu.”
Kami saling terdiam beberapa saat sampai aku lupa bahwa jari tengah tangan kiriku masih bersarang didalam vaginanya dan aku cabut perlahan, dia menggeliat waktu kutarik jari tanganku, dan aku masih tercenung dengan kata-kata terakhir yang terlontar dari mulutnya, benar rupanya .. dia belum pernah merasakan orgasme.
“Mau ke kamar mandi pak?”
Tiba-tiba suara itu menyadarkanku dari lamunan ..
“Oh ya, sebelah mana kamar mandinya?”
“Sebelah sini pak”, sahutnya sambil menunjukkan jalan menuju kamar mandi.
Dia kembali ke ruang tamu sementara aku mencuci bagian tangan yang tadi sudah melaksanakan tugas sebagai seorang laki-laki terhadap seorang perempuan. Tak habisnya aku berpikir, kenapa orang berumah tangga sudah sekian lama tapi si perempuan baru mengalami orgasme satu kali saja dan itupun bukan oleh suaminya.
Selesai dari kamar mandi aku kembali ke ruang tamu dan kutemukan dia sedang melihat acara di televisi, tapi kulihat
dari wajahnya seakan pikirannya sedang menerawang, entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu.
“Vi, udah malam nih, saya pulang dulu ya ..”
Terhenyak dia dan menatapku ..
“Emm, pak, mau nggak malam ini nemanin vivi?”
Kaget juga aku menerima pertanyaan seperti itu karena memang tidak pikiran untuk menginap dirumahnya malam ini, tapi aku tidak mau mengecewakan dia yang meminta dengan wajah mengharap.
“Waktu kan masih banyak, besok kita ketemu lagi di kantor, dan kapan-kapan kita masih bisa ketemu diluar kantor.”
Dia berdiri dan menghampiriku ..
“Terima kasih ya pak, vivi sangat bahagia malam ini, saya harap bapak tidak bosan menemani saya.”
“Kita kan kenal sudah lama, saya selalu bersedia untuk membantu kamu dalam hal apapun.”
“Sekali lagi terima kasih, boleh kalau mau pulang sekarang dan tolong sampaikan salam saya buat ibu.”
Akhirnya aku pulang dengan terus dihinggapi pertanyaan didalam pikiranku, kenapa dia bisa begitu, kasihan sekali dia.
Seperti biasa esoknya aku masuk kantor pagi-pagi sekali karena memang selalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, kupikir belum ada siapa-siapa karena biasanya yang sudah ada saat aku datang adalah office boy, tapi ternyata pagi itu aku disambut dengan senyuman vivi yang sudah duduk di meja kerjanya. Tidak seperti biasa, pada hari-hari sebelumnya aku selalu melihat vivi dalam penampilan yang lain dari pagi ini, sekarang dia terlihat berseri dan terkesan ramah dan akrab.
“Pagi vi.”
“Pagi pak.”
“Gimana, bisa tidur nyenyak tadi malam?”
“Ah bapak, bisa aja, tadi malam saya tidur pulas sekali.”
“Ya sudah, saya tinggal dulu ya, selamat bekerja.”
“Iya pak.”
Aku meneruskan langkahku menuju ruang kerjaku yang memang tidak jauh dari meja kerjanya, dari dalam ruangan kembali aku menengokkan wajah ke arahnya, ternyata dia masih menatapku sambil tersenyum.
Tidak seperti biasanya, aku merasakan hari ini bekerja merupakan sesuatu yang membosankan, suntuk rasanya menghadapi pekerjaan yang memang dari hari ke hari selalu saja ada sesuatu yang harus diulang, akhirnya aku menulis cerita ini. HP didalam saku celanaku berbunyi, ada SMS yang masuk, kubuka SMS tersebut yang rupanya datang dari cewek diseberang ruanganku yang tadi pagi menatapku sampai aku masuk ke ruangan ini .. ya dia, vivi.
“Pak, nanti mlm ada acara gak? kalo tidak bisa gak bapak menuhin janji bapak tadi malam.”
Begitulah isi SMS yang kuterima, aku berpikir agresif juga nih cewek pada akhirnya. Kuangkan telepon yang ada diatas meja kerjaku dan kutekan nomor extensin dia.
“Kenapa gitu vi, mau ngajak kemana?”
“Eh bapak, kirain siapa, enggak, vivi udah nyediain makan malam di rumah, bapak bisa kan makan malam sama vivi nanti malam?”
“Boleh, kalau gitu nanti pulang saya tunggu di ruang parkir ya.”
“Iya pak, ma kasih.”
Sore hari aku terkejut karena waktu pulang sudah terlewat sepuluh menit, bergegas kubereskan ruanganku dan berlari menuju ruang parkir. Disana vivi sudah menungguku, tapi dia tersenyum waktu melihatku datang, tadinya kupikir dia akan kecewa, tapi syukurlah kelihatanyya dia tidak kecewa.
“Maaf jadi nunggu ya vi, harus beres-beres sesuatu dulu.”
“Nggak apa-apa pak, vivi juga barusan ada yang harus diselesaikan dulu dengan neni.”
“Yo.” kataku sambil membukkan pintu untuk dia, dan dia masuk kedalam mobil kemudian duduk disebelahku.
Diperjalanan kami ngobrol kesana kemari, dan tanpa terasa akhirnya kami masuk ke komplek perumahan dimana vivi tinggal lalu kami turun menuju ke rumahnya. Dia membuka pintu depan rumahnya dengan susah, rupanya ada masalah dengan kunci pintu tersebut. Aku tidak berusaha membantunya, karena dari belakang baru kuperhatikan kali ini kalau bagian tengah belakang milik vivi menarik sekali, lingkarannya tidak terlalu besar, tapi aku yakin laki-laki akan suka bila melihatnya dalam keadaan setengah berjongkok seperti itu.
Akhirnya pintu terbuka juga dan dia mempersilakan aku masuk, dan kamipun masuk. Setelah mempersilakan aku untuk duduk, dia pergi ke kamarnya, setelah itu dia kembali lagi dengan pakaian yang sudah digantinya, dia tidak langsung menghampiriku tapi terus melangkah ke arah dapur dan kembali dengan segelas air putih dan segelas kopi, lalu dia menyodorkan kopi tersebut kepadaku.
“Wah enak sekali nih hari gini minum kopi, kamu kok nggak minum kopi juga vi?”
“Saya nggak pernah minum kopi pak, nggak boleh sama si mas.”
“Oh gitu.”
“Pak mobilnya dimasukin garasi aja ya, biar vivi yang mindahin.”
“Bolah, sekalian saya mau ikut ke kamar mandi dulu, badan rasanya nggak enak kalau masih ada keringatnya.”
“Handuknya ada di kamar mandi pak.”
Dia berdiri sambil menerima kunci mobil yang kuserahkan sedangkan aku ngeloyor ke kamar mandi untuk terus membersihkan badan yang memang rasanya agak nggak enak setelah barusan diperjalanan dihadapkan ke kondisi jalan yang cukup macet tidak seperti biasa.
Keluar dari kamar mandi kudapati vivi kelihatan sedikit bingung, kutanya dia,
“Kenapa vi, kok seperti yang bingung begitu ..”
“Anu pak, barusan ada telepon dari restoran yang saya pesani untuk makan malam, katanya nggak bisa nganter makanan yang dipesan karena kendaraannya nggak ada.”
“Ya sudah nggak apa-apa, kita kan bisa bikin makanan sendiri, punya apa yang bisa dimasak?”
“Adu pa, vivi jadi malu.”
“Udah nggak apa-apa kok, malah jadi bagus kita bisa masak barengan.”
Kataku sambil tersenyum, vivi melangkahkan kakinya menuju dapur dan kuikuti, sampai didapur dia membuka lemari es yang ternyata hanya ada sedikit makanan yang siap masak disana. Akhirnya kami masak masakan seadanya sambil berbincang kesana kemari.
Tanpa sengaja aku perhatikan postur tubuh vivi yang terlihat lain dengan pakaian yang dikenakan sekarang, pakaian yang sedikir agak ketat menyebabkan lekuk-lekuk tubuhnya terlihat jelas, sungguh bentuk tubuh yang sempurna untuk wanita seusia dia. Tanpa sadar kuhampiri dia dan dari belakang kupeluk dia yang sedang melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, dia menoleh kearahku dan tersenyum, kudekatkan bibirku ke bibirnya dan dia menyambutnya, awalnya hanya ciuman biasa sampai akhirnya kami saling berpagutan disini, ya di dapur miliknya.
Berlanjut terus pergulatan bibir tersebut, kuraba buah dadanya dan kuremas dari luar bajunya. Tangan vivi bergerak membuka kancing baju bagian depan dilanjutkan dengan menyingkapkan BH yang dia pakai, dengan demikian tanganku kiri kanan lebih leluasa meremasnya. Beberapa saat kemudian kulepaskan bibirku dari bibirnya dan kuarahkan ke buah dadanya yang terlihat sungguh indah dengan warna puting yang kemerahan, kujilat puting yang sebelah kanan dan dia menarik nafas dalam menerima perlakuan itu, akhirnya kukulum puting itu dan kuhisap dalam-dalam sambil tangan kananku tetap meremas dadanya yang sebelah kiri.
Tangan kiriku kugerakkan ke arah pantatnya, dan kuremas pantat yang kenyal itu. Kumasukkan tangan itu ke dalam rok yang dia pakai dan disana kuraba ada sesuatu yang hangat dan sedikit basah dan kuraba-raba bagian itu terus menerus. Rupanya dia tidak tahan menerima sikapku itu, tangannya bergerak membuka resleting roknya dan melorotkannya kebawah. Aku hentikan kegiatan bibirku di buah dadanya lalu bubuka celana dalamnya dan kutemukan bulu indah yang tidak terlalu banyak disana kusingkapkan sedikit dan kuarahkan bibirku kesana dan kujilat bagian kecil yang menonjol disana.
Suara lenguhan dari bibirnya sudah tidak terbayangkan lagi, akan memperpanjang cerita kalau saya tuliskan disini.
“Oh, pak, saya belum pernah merasakan ini, oh ..”
Aku terus melanjutkan kegiatan lidahku diselangkangannya sambil terus memasukkan lidah ini kedalam gua lembab yang berbau khas milik wanita. Lenguhan demi lenguhan terus keluar dari mulutnya sampai akhirnya kurasakan tubuhnya mengejang dan bergetar dengan mengeluarkan teriakan yang tidak bisa ditahan dari mulutnya, dia sudah sampai ke puncak kenikmatan sentuhan seorang lelaku seperti aku ini, dan akhirnya kuhentikan kegiatanku itu lalu berdiri menghadap dia, danpa kuduga dia mencium bibirku.
“Pak kita ke kamar ya.”
Dia menuntunku masuk ke kamar tidurnya, kamar itu terlihat rapi, lalu kami duduk dipinggir tempat tidur dan kembali saling berpagutan disana. Dia bangkit berdiri dihadapanku seraya bertanya.
“Boleh saya buka pakaian bapak?”
Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan tersebut, lalu dia membuka seluruh pakaian yang kukenakan sampai ke celana dalamku. Dia memegang senjataku yang dia dapati dibalik celana dalam yang baru saja terbuka, lalu dia menciumnya dan menjilatinya, nikmat sekali rasanya.
“Dari dulu saya ingin melakukan ini, tapi suami saya nggak pernah mau diperlakukan begini.”
Dia berkata begitu sambil kembali meneruskan kegiatannya menjilati senjata milikku, tanpa kuduga dia lanjutkan kegiatannya tadi dengan mengulum dan menyedot batang kemaluanku, dan rasanya lebih nikmat dari yang tadi kurasakan. Akhirnya dia berhenti berlaku seperti itu dan berkata.
“Pak, tidurin vivi ya.”
Tanpa menunggu permintaan itu terulang aku baringkan tubuhnya diatas tempat tidur, aku ciumi sekujur tubuhnya yang dibalas dengan gelinjangan tubuh mulus itu, akhirnya setelah sekian lama kucoba masukkan kemaluanku kedalam lubang senggama yang memang sudah basah dari sejak tadi, dan “Ahh ..” itulah yang keluar dari mulut vivi, sungguh nikmat sekali rasanya memasuki tubuh yang telanjang ini, dan satu lagi, lubang kemaluannya masih terasa cukup sempit dan menggigit, terbersit lam pikiranku sebuah pertanyaan, sebesar apa milik suaminya sampai lubang ini masih terasa sempit seperti ini.
Kuperhatikan jam yang ada di dinding kamarnya menunjukkan bahwa aku sudah mengeluar masukkan kemaluanku kedalam tubuhnya selama dua puluh menit dan akhirnya kembali kurasakan tubuhnya mengejang sambil mengeluarkan suara-suara aneh dari mulutnya, akhirnya dia menggelepar sambil memeluk tubuhku erat-erat seolah tidak ingin lepas dari tubuhnya, karena pelukannya itu aku jadi terhenti dari kegiatanku.
Beberapa saat kemudian vivi melepaskan pelukannya dan terkulai lemas, tapi aku melihat sebuah senyuman puas diwajahnya dan itu membuat aku merasa puas karena malam ini dia sudah dua kali mendapatkan apa yang selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya.
“Gimana vi?”
“Aduh, vivi lemas tapi tadi itu nikmat sekali ..”
“Vivi mau coba gaya yang lain?”
“Emm ..”
Kubangunkan tubuhnya dan kugerakkan untuk membelakangiku, kudorong pundaknya dengan pelan sampai dia menungging dihadapanku, kumasukkan kejantananku kedalam lubang senggamanya dan dia mengeluarkan teriakan kecil.
“Aduh .. Pak enak sekali, dorong terus pak, vivi belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini ..”
Aku keluar masukkan kemaluanku ini kedalam tubuhnya dengan irama yang semakin lama semakin kupercepat, lama juga aku melakukan itu sampai akhirnya dia berkata “Pak vivi mau pipis lagi ..”, semakin kupercepat gerakanku karena kurasakan ada sesuatu yang mendorong ingin keluar dari dalam tubuhku.
Dalam kondisi lemas dan masih menungging vivi menerima gerakan maju mundur dariku, mungkin dia tahu kalau aku sebentar lagi mencapai klimaks, dan akhirnya menyemburlah cairan dari kemaluanku masuk semua kedalam tubuhnya. Beberapa saat kemudian aku merasakan tubuhku lemas bagai tak bertulang dan kucabut senjataku dari lubang milik vivi.
Aku terbaring disampingnya setelah melepaskan nikmat yang diada tara, dia tersenyum puas sambil menatapku dan memelukku, lalu kami tertidur dengan perasaan masing-masing. Dalam tidur aku memimpikan kegiatan yang barusan kami lakukan dan waktu hampir pagi aku terbangun kudapati vivi masih terpejam dengan wajah yang damai sambil masih memelukku, kulepaskan pelukkannya dan dia terbangun, lalu kami meneruskan kegiatan yang tadi malam terpotong oleh tidur sampai akhirnya kami berdua bangun dan menuju kamar mandi dalam keadaan masing-masing telanjang bulat tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh kami.
Dikamar mandi kami melakukannya lagi, dan kembali dia mengucapkan kata-kata yang tidak habis aku bisa mengerti “Vivi belum pernah melakukan seperti ini sebelumnya ..”.
Akhirnya kami berangkat kerja dari rumah vivi, sengaja masih pagi agar tidak ada orang di kantor yang melihat kedatangan kami berdua untuk menghindari sesuatu yang kami berdua tidak inginkan.
Sampai saya menulis cerita ini, masih tetap terngiang kata-katanya yang sering mengucapkan kata-kata “Vivi belum pernah melakukan seperti ini sebelumnya ..” setiap saya berhubungan dengan dia dengan gaya yang lain.
Berawal dari situlah kami sering melakukan hubungan suami istri, dan itu selalu kami lakukan atas permintaan dari dia, aku sendiri tidak pernah memintanya karena aku tidak mau dia punya pikiran seolah-olah aku mengeksploitir dia. Dan sekarang vivi yang kukenal jauh berbeda dari vivi yang dulu, dia menjadi orang yang ramah dan selalu tersenyum kepada semua orang dilingkungannya.
*****
Pemirsa, ini adalah sebuah pengalaman yang walaupun saya menikmatinya tapi tetap terbersit dalam pikiran kenapa masih ada [terutama wanita seperti vivi] yang mengalami hal seperti itu, sungguh harus menjadi contoh bagi kita kaum lelaki untuk berusaha memuaskan pasangan kita, semoga cerita ini menjadi cermin, dan walaupun begitu saya akan meneruskan cerita ini ke babak selanjutnya .. tunggu tanggal mainnya.
Oh ya, dalam cerita ini saya tidak banyak menuliskan suara-suara apa yang timbul saat kami melakukan kegiatan pertempuran laki perempuan, karena saya yakin itu akan ada dalam imajinasi anda sebagai pembaca:).
Dan bagi anda yang ingin menyampaikan sesuatu seperti umpatan, makian:-) atau hanya ingin berkenalan, saya bisa dihubungi lewat situs cerita 17tahun ini. Terima kasih.
Bersama Grace - 2
Dari Bagian 1
Tangan saya kembali bergerilya ke bawah punggungnya, dan berusaha melepas BH putihnya hingga akhirnya lepas juga. Dengan tiba-tiba BH itu disentak oleh Grace sendiri hingga lepas ke lantai dan menarik kaosnya hingga ke atas. Tampak jelas payudaranya yang putih mulus dengan putingnya yang sudah berdiri kencang.
“Ndi.. Pakai kondom ya..?” pinta Grace sambil meraba-raba si boy dengan pelan.
“Ya Grace..” jawab saya sambil membuka kondom yang sudah saya persiapkan dari tadi. Grace sekarang sudah melepas kaos ketatnya hingga tinggal tersisa rok mini dan CD putihnya.
“Tunggu Grace, biar saya saja yang nanti melepasnya” cegah saya saat melihatnya akan membuka roknya, dan sekarang saya juga sudah membuka pakaian dan celana panjang hingga bugil tinggal tersisa CD saja.
“Ini rahasia kita berdua lho” bisik Grace sambil menatap saya tajam dan saya lihat di matanya ada keinginan yang terpendam dan sudah lama tak tersalurkan.
“Oke boss..” jawab saya sambil menciumnya dengan hangat dan disambut dengan gemas oleh Grace, bahkan tangan saya dengan bebas meremas payudaranya yang kiri dan kanan secara bergantian. Kemudian ciuman saya turun ke payudaranya dan melumatnya, menghisap bahkan menggigit putingnya hingga Grace merintih. Itu saya lakukan selama beberapa menit.
“Sst.. mmh.. terus.. sst.. ke bawah.. dikit.. sst..” pinta Grace sambil merintih tidak karuan sambil mendorong kepala saya memintaku mencium dan menjilat pusarnya.
Tangan kanan saya juga aktif merayap pada pahanya dan semakin naik ke bawah hingga masuk ke dalam roknya dan menyentuh vaginanya yang terbungkus CD. Saya usap-usap beberapa menit, kemudian tangan saya masukkan ke dalam CD putihnya dan mengorek-ngorek lubang vaginanya hingga mengeluarkan cairan.
“Sst.. Ndi.. Aduh.. Geli.. Sst..” rintih Grace sambil berusaha membuka roknya. Karena birahinya sudah cukup tinggi, saya bantu untuk membuka rok beserta CD-nya hingga Grace bugil sama sekali dan kelihatan bodinya yang padat dan montok.
“Ayo Ndi, buka juga dong, kok bengong..” pinta Grace tidak sabar sambil membuka CD saya dan keluarlah si boy dengan tegaknya. Grace sampai tercengang melihat si boy yang agak bengkok ini.
Bagaimana saya tidak bengong melihat cewek cantik putih mulus dan seksi di hadapan saya dengan ukuran payudara 34B ini. Kami sama-sama bugil sekarang dan saya mengambil posisi agak berjongkok untuk menghisap vaginanya yang ditumbuhi bulu halus dan tercukur rapi, sedangkan Grace tiduran di sofa sambil membuka pahanya agak lebar.
“Lho, kok bengong” tanya Grace sambil membimbing kepalaku agar lebih dekat pada vaginanya.
“Ehh..” jawabku kaget tapi cuma sesaat karena berikutnya, vaginanya sudah saya jilat, yang pada awalnya baru pada bibir vagina dan lama-kelamaan pada lubang vaginanya mencari biji kacangnya serta menghisapnya lebih keras, bahkan bulu-bulu halusnya juga ikut tersapu dengan jilatan dan hisapan saya.
“Sst.. Oh.. Yes.. Sst.. Mmh..” rintih Grace panjang sambil menggerakkan pinggulnya ke atas sampai wajah saya terbenam semua dalam permukaan vaginanya. Sementara tangan kiri saya meremas-remas payudaranya silih berganti dengan dibantu tangan Grace sendiri.
“Sst.. Teru.. Ss.. Ndi.. Sstss.. Mmh.. Sst.. Saya.. Kelu.. Ar.. Arkh..” jerit Grace karena dengan tiba-tiba menjepit kepala saya dengan kedua pahanya.
Rupanya Grace telah mengalami orgasmenya yang pertama karena saya tahu begitu banyak cairannya yang keluar.
“Grace, mau nggak isep si boy?” tanya saya menghentikan gerakan menghisap cairan vaginanya sambil menyodorkan si boy padanya.
“Mmh.. Gimana ya, Grace belum pernah tuch” jawabnya sangsi karena mungkin Grace memang belum pernah menghisap kemaluan cowok.
“Gini, kuajarin, Grace lumat aja dan jilat dulu kepalanya ya” bujuk saya sambil membimbing Grace duduk di sofa dan saya berdiri di hadapannya mengulurkan kontol. Tangan kanannya saya arahkan untuk memegang kontol saya dan memintanya mengocok pelan.
“Begini ya..?” tanya Grace sambil mengocok kontol saya pelan dan mengurutnya hingga si boy semakin keras saja.
Rupanya si Grace cepat belajarnya, dan saya semakin menikmatinya.
“Bagus.. Sekarang kulum Grace.. Sst.. Ya.. Gitu..” pinta saya lirih karena dengan cepatnya Grace mengulum kepala kontol saya dan semakin lama semakin ke dalam hingga kontol saya sampai masuk semua pada mulutnya, bahkan kadang-kadang tanpa diminta, Grace menjilati buah zakar saya tanpa jijik dan kembali mengulum dan menghisap kontol saya dengan irama yang kadang cepat kadang pelan.
“Sst.. Udah Grace.. Cukup..” pinta saya karena sudah tidak kuat menahan hisapan Grace yang semakin lama se makin liar saja.
“Ayo Ndi, Grace udah nggak tahan nich..” jawab Grace sambil memasangkan kondom pada kontol saya.
Kemudian Grace rebah telentang lagi di sofa dengan masih memegang kontolku yang sudah memakai kondom dan mengarahkannya pada bibir vaginanya. Kontol saya gesek-gesekkan dulu pada bibir vaginanya untuk pemanasan hingga membuat Grace mendesis kegelian.
“Sst.. Geli.. Ndi.. Udah masukin aja..”
“Auwh.. Sst.. Pelan.. Sst..” jerit Grace karena kepala kontol saya sudah masuk setengah pada vaginanya dan akhirnya masuk semua dalam vaginanya.
“Sst.. Aduh.. Mmh.. Sstss..” rintih Grace begitu kontol saya masuk semua dan menggoyangkan pinggulnya dengan pelan. Saya juga memompa kontol saya keluar masuk vaginanya dengan perlahan dan semakin lama makin cepat.
“Sst.. Ndi.. Mmh.. Sst.. Ce.. Petan.. Sst..” pinta Grace pada saya karena saya memperlambat sodokan kontol saya.
“Mmh.. Nah.. Gitu.. Ter.. Us.. Ssttss..”
“Grace.. En.. Ak.. Nggak.. Sst..?” tanya saya tersengal-sengal karena Grace semakin aktif memutar-mutar pinggulnya, bahkan tangan kanannya memegang pantat saya dan menekannya dengan keras hingga kontol saya semakin dalam masuk ke vaginanya.
“Sstss.. Enak.. Ndi.. Sstt..” jawabnya lirih karena kedua tangan saya silih berganti meremas payudaranya yang kadang-kadang saya isap puting susunya bergantian.
“Sstssrtt.. Udah.. Ndi.. Kelu.. Arin.. Samaan.. Sst..” pinta Grace yang rupanya sudah tidak tahan pada sodokan kontol saya yang keluar masuk makin cepat diimbangi pula dengan cepatnya goyangan pinggul Grace.
“I.. Ya.. Grace.. Sst..” desis saya lirih karena saya dengan kuat juga diputar-diputar oleh pinggul Grace yang kencang itu hingga kontol saya rasanya senut-senut dijepit oleh vaginanya.
Beberapa puluh menit saya dan Grace melakukan making love itu dengan bersemangat hingga kepala Grace menoleh ke kiri-ke kanan tak beraturan. Rupanya pertahanan saya sudah akan bobol dan akhirnya saya memberi aba-aba pada Grace disertai dengan pelukan Grace yang makin kencang.
“Sst.. Ayo.. Grace.. Sst..”
“Ssrtrrsst.. Arkhkk..” jerit Grace melengking sambil menjepit kontol saya dengan erat, disertai sodokan kontolku yang makin cepat dan akhirnya..
Crot.. croot.. croot.. Tiga kali tembakan saya muntahkan dalam vaginanya tapi masih di dalam kondom. Grace akhirnya lunglai sambil memeluk saya dengan hangat.
“Hahh.. Lega rasanya..”
“Gimana rasanya Grace?” tanya saya sambil membelai rambutnya yang harum itu.
“Enak gila” jawabnya sambil tersenyum.
Selama dua hari, sejak kejadian itu saya sering melakukan making love dengan Grace, bahkan sering Grace yang memulai lebih dulu. Akhirnya pada hari terakhir saya mengantar Grace ke bandara Selaparang. Hari masih pagi kira-kira jam 05.25, karena pesawatnya akan berangkat jam 07.00. Mungkin Grace masih ingin curhat pada saya mengenai beberapa hal.
“Wah, masih sepi ya..”
“Iya Grace, baru kita aja yang datang, tapi nggak apalah, kita khan bisa ngobrol” jawab saya santai.
“Iya, ya”
Pagi itu Grace mengenakan hem yang baru dibelinya dan dipadu dengan rok jins mini kesukaannya yang berwarna putih. Setelah mengobrol sekitar lima belas menit, Grace kelihatannya gelisah dan mengajak saya ke toilet wanita.
“Saya tunggu di sini ya”
“Udah ayo masuk, mumpung nggak ada orang” pinta Grace sambil menggandeng tangan saya masuk ke toilet wanita itu.
Lalu kami masuk ke kamar mandi di pojok yang kosong. Gila juga Grace, nanti kalau ada yang tahu bagaimana, pikirku. Belum sempat saya berpikir panjang, Grace sudah melepas celana dalamnya yang berwarna merah dan mendorong saya duduk di atas toilet modern itu.
“Eh.. Grace.. Gimana kalo ada orang nich” jawab saya bingung, tapi akhirnya saya lepas juga celana jins beserta CD saya hingga si boy nongol dengan tegaknya.
“Sst.. Udah diam aja kamu” jawab Grace sambil meremas kontol saya hingga tegak sempurna.
“Tapi belum pake kondom nich”
“Nggak usah, Grace pengin yang original, ayo..” pintanya sambil mengarahkan kontol saya pada vaginanya.
Saya juga membantunya dengan memegang pantatnya hingga masuk semua kontol saya pada vaginanya. Posisi saya yang duduk memangku Grace dan Grace berhadapan dengan saya mengakibatkan tekanan vaginanya lebih terasa.
“Sst.. Ndi.. Ayo.. Cepetan.. Sst..”
“Iya..” jawab saya sambil dengan cepat menyodokkan kontol keluar masuk vaginanya.
Untung saja pagi itu belum ramai oleh penumpang dan toilet itu belum ada yang mendatanginya hingga Grace dan saya bisa making love dengan nikmat yang bercampur dengan perasaan berdebar-debar.
“Sst.. Sayang.. Cepet.. Ssrrtt..” rintih Grace sambil menggoyang pinggulnya dengan liar.
“Sst.. Mmhmm.. Ssrttss..” desisnya.
“Grace.. Sst..” desis saya lirih sambil tangan saya melepas kancing hemnya dan masuk ke dalam BH-nya serta meremas payudaranya dengan pelan, bahkan kadang-kadang saya cium juga bibirnya yang merah basah dengan gemas, yang dibalasnya dengan ciuman yang liar juga.
“Ssrtss.. Ssttrtss..” rintih Grace pelan sambil mempercepat goyangan pinggulnya.
Dan akhirnya kegiatan yang berlangsung kurang lebih 40 menit itu saya akhiri dengan mempercepat sodokan kontol saya dengan cepat hingga akhirnya muncratlah lahar putih saya dalam vaginanya dengan keras tanpa penghalang kondom.
“Sst.. Arkhkk..” jerit Grace sambil memeluk saya dengan erat karena bersamaan dengan keluarnya lahar putih saya, juga keluar lahar putih dari Grace. Hingga beberapa saat saya dan Grace masih menikmati sensasi itu dengan berciuman lembut.
“Trim’s ya Ndi..”
“Sama-sama Grace, kapan-kapan main-main ke Lombok lagi ya” jawab saya sambil membereskan celana dan baju, begitu pula dengan Grace yang mengganti celana dalamnya dengan yang berwarna hijau lumut.
Setelah rapi, saya dan Grace keluar toilet untuk mengobrol lagi menunggu pesawat yang masih belum berangkat juga. Beberapa saat kemudian baru Grace berangkat ke Jakarta dengan membawa dan meninggalkan sejuta kenangan. Selamat jalan Grace, terima kasih atas amplop dan kenangannya serta ijinmu agar saya bisa mengirimkan cerita pengalaman kita berdua ini, salam sayang dari sahabatmu Andi. Jangan lupa ya kirim komentarmu atas cerita saya ini.
Bersama Grace - 1
Kisah nyata ini bermula ketika saya mengikuti test penerimaan karyawan sebuah perusahaan di kota Mataram. Pada hari Sabtu jam 10.20 yang telah ditentukan, saya diinterview pada session terakhir.
“Saudara Andi, silakan” panggil resepsionis cewek itu mengajak saya ke sebuah ruangan.
Di ruangan itu sudah duduk seorang wanita yang cantik, seperti artis mandarin yang ternyata adalah seorang Manager HRD. Memakai setelan hem, dalamnya berwarna putih dan jasnya merah serta dipadu rok mini merah, kulitnya putih bersih karena masih ada keturunan tionghoa. Saya perkirakan umurnya masih muda sekitar 26 tahunan.
“Permisi Bu..”
“Selamat pagi, silakan duduk” sapanya ramah mempersilakan saya duduk di sofa yang cuma dibatasi dengan meja kecil hingga kami saling berhadapan.
“Oh ya, kenalkan saya Grace”
“Andi Bu” jawab saya sambil bersalaman dengannya.
“Panggil Mbak aja ya”
“Iya.. Mbak”
Setelah acara tanya jawab mengenai bidang yang saya lamar dan bagaimana tanggapan dari perusahaan, akhirnya sampailah pada pertanyaan yang terakhir.
“Dulu apa pekerjaannya, Andi?” tanya Grace sambil menopangkan sebelah kakinya yang putih itu.
Duh cantiknya cewek ini, udah putih, cantik lagi seperti artis Mandarin di Hongkong itu, pikirku. Kuperkirakan tingginya 170 cm/56 kg dengan pinggang yang langsing, pokoknya seksi deh.
“Sampai sekarang sih masih sebagai free guide” jawab saya jujur.
“Maksudnya..?”
“Pemandu tour lepasan untuk turis domestik, begitu”
“Oh gitu, sebetulnya perusahaan ini membutuhkan orang yang berkualitas tinggi”
“Jadi maaf ya, Andi belum bisa memenuhi syarat yang ditentukan perusahaan”
“Nggak apa-apa kok Mbak, saya bisa menerimanya”
“Oh ya, saya cuma sebentar di Lombok ini, kira-kira dua mingguan”
“Maksud Mbak..?” tanya saya nggak ngerti.
“Kalo saya minta Andi menjadi tour guide saya selama dua minggu, berapa biayanya?”
“Terserah Mbak aja, pokoknya ditanggung puas deh jalan-jalan ke pulau Lombok” jawab saya senang, meskipun tidak dapat pekerjaan tapi ada order nih, cantik lagi.
“Besok ya, jam 09.00 di hotel Senggigi Beach, saya tunggu”
“Ya Mbak, pasti saya datang”
“Permisi Mbak”
“Ya, silakan” jawab Mbak Grace mengantar saya keluar ruangan.
*****
Tepat jam 09.20 esoknya, saya sampai di hotel Senggigi Beach tempat Mbak Grace menginap.
“Selamat pagi Mbak, kamar Mbak Grace yang mana ya?” tanya saya pada recepsionis hotel itu.
“Oh, Pak Andi ya, sudah ditunggu di lobi hotel sama Ibu Grace”
“Terima kasih Mbak”
“Sama-sama”
Ternyata Mbak Grace sudah menunggu di lobi dengan kaos ketat berwarna biru hingga samar-samar kelihatan payudaranya yang masih terbungkus BH menonjol di balik kaos gaulnya dan dipadu celana panjang jins, kelihatannya jauh sekali dari formalitas.
“Maaf Mbak, kelamaan nunggu ya?”
“Nggak apa-apa kok, tapi panggil Grace aja ya”
“Ya Mbak.. E.. Eh.. Grace”
“Andi, bisa nyopir khan?”
“Bisa.. emangnya kenapa”
“Tadi saya pinjam mobil kantor untuk jalan-jalan”
“Oh, bisa kok Mbak, jadi kita nggak perlu pake taksi”
“Grace pengin liat tempat gerabah dulu ya”
“Ya, ayo kita berangkat sekarang” ajak saya sambil menggandeng tangannya, rupanya Grace tidak keberatan saya gandeng tanggannya yang putih mulus itu.
Pada jam 09.40 kami berangkat ke desa Banyumulek, tempat gerabah khas Lombok yang luarnya memakai anyaman rotan itu, jaraknya di luar kota Mataram. Setelah sampai, Grace membeli beberapa gerabah hingga jam 12.10 dan kami kembali lagi ke Mataram untuk makan siang.
“Terus mau kemana lagi Grace?” tanya saya padanya dalam mobil yang akan menuju hotel.
“Temenin saya berenang yuk”
“Ayo, tapi saya nggak bawa baju renang nich”
“Ah, gampang nanti saya beliin, gimana?”
“OK boss”
Maka sampailah kami di hotel Senggigi Beach, ternyata kolam renang tidak begitu ramai dengan orang, cuma ada beberapa bule sedang berjemur.
“Tunggu di sini ya Ndi, saya mau ganti baju dulu” celoteh Grace sambil berlalu ke ruang ganti.
Setelah beberapa saat, wow.. Grace sudah berganti dengan baju renang yang seksi sekali, berwarna putih selaras dengan kulitnya dan payudaranya menonjol dari balik baju renangnya.
“Ayo Ndi, kok bengong aja” katanya mengagetkan saya dan kami pun berenang di dalam kolam yang cukup besar itu.
Kami berenang sampai jam 17.10 sore dan lalu Grace mengajak saya mengakhiri dulu acara renangnya.
“Sampai besok ya Ndi”
“Ya, sampai besok Grace” jawab saya sambil menelan ludah karena membayangkan betapa putih dan seksinya Grace memakai pakaian renangnya itu.
Beruntung sekali jika saya bisa memeluk atau bahkan making love dengannya. Ah tapi itu cuma angan-angan saya saja. Hari berikutnya saya antar Grace ke pemandian alam Suranadi, tempat air awet muda di Narmada, dan beberapa tempat wisata lainnya.
“Kita ke mall yuk” ajak Grace sambil menggandeng tangan saya mesra bagai sepasang kekasih saja.
“Ada acara apa nich ke mall?” tanya saya sambil melirik Grace yang duduk dengan santai dan seenaknya, bahkan kadang-kadang rok mininya memperlihatkan hampir separuh lebih pahanya yang putih mulus hingga si boy jadi tidak tenang, kapan ya bisa bergesekan dengannya, pasti sedap, pikirku.
“Saya mau beli pakaian atas nich” jawabnya.
Selama sepuluh hari berlalu, kami sudah menjadi akrab sekali. Siang itu Grace mengenakan kaos ketat putih bergambar panda yang dipadu dengan rok jins mini berwarna biru dengan sabuknya yang besar, saya tidak tahu apakah ini model baju gaul jaman sekarang atau kreasi Grace sendiri. Mall Cilinaya itu sungguh ramai pada saat hari Minggu, hingga saya bisa menggandeng pinggang Grace yang ramping itu dan wangi tubuhnya sungguh harum sekali. Rupanya Grace tidak keberatan saya peluk pinggangnya. Ini baru lumayan, pelan-pelan ada kesempatan nih, pembaca.
“Kita cari baju yuk” ajaknya ke toko baju dalam mall tersebut.
“Okey..”
“Ini bagus nggak Ndi?” tanyanya sambil memperlihatkan hem merah.
“Bagus juga kok Grace, cobain aja” jawabku.
“Iya deh” jawabnya sambil menuju ruang ganti.
Tentu saja saya mengikutinya dan membantu menutup kain tempat mencoba baju itu, namun yang membuat saya berdebar-debar, ternyata ada celah sedikit untuk mengintip ruang ganti itu, mungkin saja Grace tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Pertama-tama Grace membuka kaos ketat warna putihnya hingga sekarang tampak kelihatan BH warna kuningnya yang sungguh indah, membuat si boy langsung berdiri, kemudian ia mencoba hem merah itu dan ternyata pas sekali dengan bentuk tubuh Grace. Setelah cocok dan membayar harganya, saya mengajak Grace mencoba naik cidomo (semacam dokar yang ditarik oleh kuda), sedangkan mobil masih diparkir di Mall supaya aman.
“Gimana Grace, rasanya naik cidomo?” tanya saya sambil memperhatikan rok mininya yang tadi agak tersingkap pada saat naik cidomo hingga kelihatan sedikit celana dalamnya yang berwarna putih polos. Si boy langsung berdiri hingga celana jins saya jadi sesak.
“Lucu ya, naik cidomo begini”
“Ya, ini namanya kendaraan tradisional khas daerah sini”
“Oh, gitu..”
Setelah bolak balik naik cidomo, kami kembali ke hotel supaya Grace bisa beristirahat.
“Ndi, kamu tadi ngintip saya ya?” tanya Grace tiba-tiba sambil menatap saya lekat.
“E.. Eh.. Ya.. Nggak sengaja kok” kata saya tergagap-gagap karena kaget bahwa Grace tahu tadi saya memperhatikan wilayah pribadinya. Saya pasrah saja kalau akan dimaki atau bahkan diusir.
“Mmh.. Gitu ya”
“Maaf ya Grace, saya nggak sengaja kok, kalo Grace nggak suka saya bisa pergi sekarang kok” jawab saya sambil akan meninggalkannya.
“Tunggu.. Ndi, sebetulnya Grace nggak apa-apa kok”
“Terima kasih kalo begitu” jawab saya yang tidak jadi meninggalkannya, bahkan sempat duduk di hadapannya kembali.
“Gimana badannya Grace?” tanyanya lagi dengan antusias.
Wah ada kesempatan lagi, saya ingin berusaha membujuk Grace supaya mau making love dengan saya siang ini, paling-paling ditolak atau diusir, itu resikonya.
“Seksi sekali” jawabku.
“Yang bener” tanyanya memastikan.
“Abis bodinya Grace seksi sich, rajin fitness ya”
“Iya, ini akibat latihan fitness”
“Ndi, masuk kamar yuk, soalnya panas di luar” ajak Grace tiba-tiba sambil menggandeng tangan saya masuk kamar kelas VIP itu, sungguh kamar yang bagus sekali.
Tiba-tiba HP Grace berdering, dan Grace menjawab HP-nya sambil duduk di sofa. Wow, sekarang dengan jelas sekali kelihatan CD-nya yang berwarna putih karena duduknya yang agak membuka kedua pahanya itu. Sungguh pemandangan yang indah sekali. Setelah Grace menutup HP-nya, Grace menatap saya dengan pandangan yang lain.
“Ada apa Grace?” tanya saya sambil duduk di sampingnya.
“Mungkin satu atau dua hari lagi saya kembali ke Jakarta” jawabnya sambil menyandarkan kepalanya pada pundak saya.
“Lho, kok cepat sekali” tanya saya sambil mengelus pundak kirinya pelan.
“Biasa, panggilan dari bos besar..” jawabya sambil mengusap-ngusap paha kiri saya dengan mesra.
“Gimana kalo sekarang, Andi kasih hadiah”
“Hadiah apa, pasti asyik nih?” celoteh Grace penasaran sambil menatap saya serius.
“Gimana, kalo hadiahnya berupa ciuman”
“Hush, ngawur kamu, khan udah kukasih liat” celotehnya sambil nyengir.
“Lho, ini khan ada rasanya” jawab saya nggak mau kalah sambil tangan kanan saya mengusap-usap pipinya yang putih mulus.
“Geli tau..” tolaknya manja.
“Lama-lama enak kok” rayu saya sambil mencium lehernya, bahkan menjilatinya sedikit demi sedikit supaya Grace merasakan rangsangan.
“Jang.. An.. Ndi.. Kamu.. Nakal..” sentak Grace sambil mendorong tubuh saya, namun dorongannya malah membuat kami berdua jatuh ke sofa dengan posisi saya menindih Grace.
Kesempatan itu tak saya sia-siakan karena langsung saja saya cium bibirnya yang merah basah. Beberapa saat Grace masih memberontak lemah dan pergumulan itu semakin membuat tangan kanan saya menekan-nekan payudaranya yang masih terbungkus kaos dan tangan kiri saya memegang kepalanya.
“Mmh..” guman Grace karena mulutnya penuh oleh lidah saya yang berusaha membelitnya dan kembali ke lehernya yang putih bersih, terus menjilatinya dengan gemas.
“Sst.. Jann.. Ngan.. Sst..” celotehan dan sedikit rintihan Grace membuat saya tahu bawah Grace sekarang agak terangsang, dan perlawanannya sudah mulai semakin lemah.
“Aduh.. Sst.. Ndi.. Pelan-pelan..” rintihnya sambil memegang tangan saya yang sedang meremas payudaranya.
Ke Bagian 2
Ya, Saya Roy Takeshi
Kamis 30 September 2004, jam menunjukkan pukul 09.25. Tiba-tiba telepon di meja kerjaku berdering.
“Hallo?” kataku ketika telepon kuangkat.
“Pak Roy, sibuk tidak sekarang?” tanya suara wanita.
Aku sangat tahu pasti suara siapa itu. Ibu Anne, Kepala Bagian Keuangan di perusahaan tempat aku bekerja sekarang.
“Tidak begitu sibuk, Bu..” jawabku.
“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanyaku.
“Bisa ke ruangan saya sekarang, Pak Roy?” kata Ibu Anne lagi.
“Bisa.. Bisa, Bu,” kataku dengan pasti.
“Apakah ada masalah dengan Divisi saya, Bu?” tanyaku lagi.
“Tidak. Tidak ada masalah kok. Pak Roy datang saja kesini..” katanya.
“Maaf nih, saya minta Bapak hormat,” tambahnya lagi.
“Baik, Bu.. Segera..” kataku sambil menutup telepon lalu bangkit dan segera menuju lantai ii tempat Ibu Anne berada.
“Masuk saja, Pak Roy!” kata Ibu Anne ketika aku ketuk pintu ruang kerjanya.
“Duduklah. Santai saja..” katanya.
“Ada perlu apa, Bu?” tanyaku setelah aku duduk.
Entah kenapa Ibu Anne menatapku sambil tersenyum. Ibu Anne berumur sekitar 37 tahun, 4 tahun lebih tua dari aku sekarang. Orangnya lumayan cantik, tinggi badan sedang, kondisi tubuh sangat terjaga. Banyak karyawan yang mencuri pandang kalau Ibu Anne sedang berjalan karena sangat menggoda gerakan tubuhnya. Aku terdiam sambil menatap matanya.
“Tidak ada apa-apa kok, Roy..” kata Ibu Anne membuka percakapan.
“Aku hanya mau tahu pendapat Pak Royu tentang sesuatu..” katanya lagi.
“Apa itu, Bu?” tanyaku.
Ibu Anne kembali tersenyum.
“Pak Roy suka buka-buka internet, kan?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Pak Roy pernah buka situs tentang cerita begituan?” tanyanya sambil merapatkan kedua telapak tangannya.
Aku diam sambil menatap matanya sesaat.
“Pernah, Bu.. Sesekali..” jawabku sambil tersenyum.
“Pak Roy pernah lihat situs *****?” tanyanya lagi.
“Ya..” jawabku pendek.
“Memangnya ada apa, Bu?” tanyaku.
Ibu Anne tersenyum.
“Pak Roy pernah baca cerita-cerita karya Roy Takeshi?” tanya Ibu Anne bernada menyelidik.
“Mm.. Pernah,” jawabku sambil menatap mata Ibu Anne.
“Saya sangat suka semua cerita karya dia?” ujra Ibu Anne sambil tersenyum.
“Tapi sepertinya saya sangat mengenal gaya bahasa dan redaksi yang dia gunakan..” kata Ibu Anne sambil menatap tajam mataku.
Aku diam sambil menatap matanya pura-pura tidak mengerti.
“Dan ada satu cerita yang judulnya “Wahh..!” kayaknya saya pernah dengar cerita itu di lingkungan Perusahaan kita,” katanya lagi terdengar semakin menyelidik.
“O ya? Memangnya disini ada berita apa, Bu Anne?” tanyaku berlagak bego.
Ibu Anne tersenyum.
“Sudahlah, Pak Roy.. Tidak usah kita bahas,” ujarnya.
“Nama asli Pak Roy siapa sih?” tanya Ibu Anne sambil tetap tersenyum.
“Ah, Ibu ini..” kataku sambil tertawa.
“Ini silakan baca sendiri nama asli saya,” kataku lagi sambil menyerahkan badge namaku.
“Saya tahu.. Saya tahu..” kata Ibu Anne sambil tertawa juga.
“Tapi saya sangat yakin kalau Roy Takeshi adalah salah satu karyawan Perusahaan ini..” ujarnya.
“Ada beberapa bukti dan hal lain yang menguatkan keyakinan saya, yaitu..” kata Ibu Anne sambil mengambil sebuah map lalu mengeluarkan beberapa lembar copy dari cerita-cerita Roy Takeshi. Kemudian Ibu Anne menandai beberapa kalimat dan hal lain di dalam berkas itu.
“Ini adalah gaya bahasa dan redaksi yang sangat saya kenal..” katanya sambil menyodorkan berkas itu kepadaku.
Aku meneliti semua hal yang diberi tanda olehnya.
“Itu adalah tulisan Pak Roy..” katanya pasti sambil menatap tajam mataku.
“Cerita dengan gaya bahasa dan redaksi seperti ini siapa saja bisa buat, Bu,” kataku sambil meletakkan berkas itu di atas meja.
“Tapi kenapa ada satu cerita yang sama dengan cerita yang saya dengar di Perusahaan ini, ya?” tanya Ibu Anne sambil tersenyum.
“Apakah itu bukan faktor kebetulan?” sanggahku.
“Bukan..” jawabnya.
“Umur serta asal daerah Roy Takeshi sama dengan Pak Roy,” tambah Ibu Anne.
“Dugaan saya betul kan, Pak..” tanya Ibu Anne.
Aku terdiam sambil menatap matanya dalam-dalam.
“Ya, saya Roy Takeshi!” aku menjawab jujur setelah menimbang segala sesuatunya.
Ibu Anne tersenyum..
“Saya minta agar hal ini hanya Ibu saja yang tahu..” kataku santai sambil menyandarkan tubuhku di kursi.
“You can count on me..” jawabnya sambil tersenyum.
“Lagian saya sangat menyukai Roy Takeshi akan kejujuran dia dalam menceritakan pengalaman pribadinya dalam beberapa cerita,” ujarnya.
“Apakah cerita Roy Takeshi menjijikkan, Bu?” tanyaku.
“Sama sekali tidak. It’s all natural. Saya suka kok,” katanya lagi.
“Saya tidak menyangka kalau seorang Pak Roy ternyata sangat pandai menulis juga,” pujinya.
“Ah, hanya sekedar kebetulan saja saya suka menulis, Bu..” kataku.
“Pak Roy nanti ada waktu tidak untuk makan malam,” tanya Ibu Anne.
“Ada acara apa nih?” tanyaku sambil tersenyum.
“Tidak ada acara apa-apa kok. Hanya sekedar ingin makan malam dengan seorang penulis kesukaan saya,” ujarnya sambil tersenyum.
“Suami Ibu ikut?” tanyaku.
“Tidak. Hanya kita saja..” jawabnya.
“Baiklah..” kataku.
“Sampai sore nanti,” kataku sambil lalu segera menuju pintu.
“Sampai sore nanti,” katanya pula.
Sorenya selepas jam kerja, aku dan Ibu Anne segera meluncur ke salah satu Restoran ternama di Casablanca. Setelah semua makanan tersedia, kami segera menyantapnya. Setelah selesai, kami berbicara santai sambil meneguk beberapa gelas Wine.
“Istri Pak Roy sudah menunggu ya di rumah?” Ibu Anne sambil meneguk minumannya.
“Tidak juga. Saya sudah bicara akan pulang agak malam..” jawabku.
“Suami Ibu?” tanyaku.
“Oh, dia masih bersama dengan relasinya..” jawabnya.
“Saya mau tanya sesuatu, Pak..” katanya.
“Menurut Pak Roy, saya menarik tidak?” tanyanya sambil menatap mataku.
“Akan saya jawab jujur,” kataku sambil meneguk minumanku.
“Saya tidak akan jawab tentang penilaian pribadi saya terhadap Ibu,” kataku.
“Tapi saya hanya mau bilang bahwa hampir semua karyawan tertarik sama Ibu,” kataku jujur.
“Mungkin itu bisa menjawab pertanyaan Ibu,” kataku lagi.
“Hampir semua karyawan?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Termasuk Pak Roy?” tanyanya sambil memegang tanganku di atas meja.
Aku terdiam sejenak sambil menatap matanya.
“Ya, saya suka Ibu,” jawabku.
Digenggamnya tanganku lalu ditarik dan diciumnya.
“Saya juga sangat menyukai Pak Roy sejak pertama bertemu dulu..” ujarnya sambil menatap mataku.
Kami saling bertatapan selama beberapa waktu sambil meremas tangan.
“Pak Roy mau temani saya malam ini?” tanyanya.
“Ya..” jawabku sambil tersenyum.
“Mau istirahat dimana?” tanyanya langsung.
“Terserah Ibu Anne saja..” jawabku.
“Baiklah..” katanya..
Segera kami meluncur ke satu hotel di daerah sekitar itu juga. Setelah check-in, kami segera masuk ke kamar.
“Saya mau mandi dulu, Bu..” kataku.
“Kita mandi bersama saja. Saya juga kegerahan nih..” katanya.
Ibu Anne tanpa ragu melepas pakaiannya di depan mataku.
“Tolong buka pengaitnya, Pak Roy,” katanya sambil mendekatkan belakang badannya kepadaku.
Lalu aku buka kaitan BH-nya. Aku sendiri hanya tinggal memakai celana dalam saat itu. Setelah melepas BH-nya, Ibu Anne berbalik lalu tersenyum. Dirangkulkan tangannya ke leherku.
“Saya bahagia bisa berdua dengan Pak Roy,” katanya sambil mengecup bibirku.
Aku balas kecupannya sambil memeluk tubuhnyua erat. Kami berciuman hangat mulanya. Lama-lama ciuman kami jadi liar disertai rabaan dan remasan pada masing-masing tubuh kami. Sambil tetap berdiri aku remas buah dadanya sementara lidah dan mulutku bermain di buah dada yang satunya lagi.
“Ohh, Royy..” desah Ibu Anne sambil meremas rambutku.
“Ohh.. Sshh..” desahnya makin keras ketika tanganku turun dan masuk ke celana dalamnya lalu mengelus memeknya yang sudah basah.
sAku perosotkan celana dalamnya sampai lepas. Aku dorong badannya ke bibir meja, kemudian aku berjongkok. Wajahku tepat berada di depan memeknya yang ditumbuhi bulu-bulu yang tidak terlalu lebat.
“Pak, Royy..” desahnya ketika lidahku mulai menjilati belahan memeknya dari bawah sampai kelentitnya.
Mata Ibu Anne terpejam dan mulutnya mendesis ketika lidahku menjilati kelentitnya dengan keras dan cepat sementara jariku menusuk keluar masuk lubang memeknya.
“Uhh.. Ooww.. Sshh…” desah Ibu Anne sambil menggoyangkan pinggulnya.
Aku terus jilati memeknya sambil tanganku yang satu masuk ke celana dalamku lalu kukocok kontolku sendiri.. Sampai akhirnya, “Ohh.. Mmhh..” jerit lirih kenikmatan Ibu Anne terdengar seiring dengan mengejang badannya ketika air mani menyembur nikmat di memeknya. Aku terus jilati belahan memek Ibu Anne. Cairan rasa asin dan gurih yang keluar dari memeknya aku jilat habis.
“Ohh, Royy!” jerit lirih Ibu Anne lagi ketika aku masukkan lidahku ke lubang memeknya.
Aku mainkan lidahku sebentar di dalamnya. Tak lama aku hentikan jilatanku. Aku bangkit lalu aku cium bibirnya.
“Pak Roy, belum pernah saya merasakan kenikmatan seperti tadi sebelumnya..” kata Ibu Anne lalu mengecup bibirku.
Aku hanya tersenyum sambil melepas celana dalamku.
“Pindah ke ranjang, Bu..” pintaku.
“Iya..” jawabnya.
Di atas ranjang, tanpa banyak cakap aku langsung setubuhi Ibu Anne.
“Ohh.. Enak sekali rasanya, Pak Roy..” bisik Ibu Anne ketika aku keluar masukkan kontolku di memeknya.
“Pengen rasanya setiap saat bisa seperti ini dengan Pak Roy..” bisiknya lagi sambil menggoyangkan pinggulnya.
“Saya juga ingin seperti itu. Bu..” kataku, “Tapi kalau terlalu sering terlihat berduaan, bisa bahaya nantinya..” kataku lagi sambil terus menggenjot kontolku.
Ibu Anne tersenyum. Aku hentikan gerakanku, lalu aku cabut kontolku dari memeknya.
“Tengkurap, Bu..” bisikku.
Ibu Anne kembali tersenyum lalu membalikkan badannya. Pantatnya yang bulat besar padat sangat menambah gairahku. Perlahan aku masukkan kontolku ke lubang memeknya dari belakang.
“Mmhh..” desah Ibu Anne sambil memejamkan matanya.
Aku setubuhi Ibu Anne dengan posisi begitu selama beberapa waktu sampai akhirnya aku rasakan kalau aku hampir orgasme. Aku cabut kontolku, kemudian aku balikkan tubuh Ibu Anne.
“Hisap, Bu..” bisikku sambil mengangkangi wajahnya.
Kontol yanmg masih basah oleh cairan memek dikulum dan dihisapnya dengan nafsu.
“Ohh..” desahku sambil memejamkan mata.
“Terus, Bu..” kataku sambil memompa kontolku pelan di mulutnya.
Orgasmeku hampir sampai..
“Boleh saya keluarkan di mulut Ibu?” pintaku dengan suara serak menahan nikmat.
Ibu Anne mengangguk sambil tetap menghisap kontolku. Tak lama, croott!! croott!! Air maniku tumpah banyak di dalam mulutnya. Terlihat Ibu Anne gelagapan sesaat. Dilepasnya kontolku dari mulutnya. Mulutnya terlihat agak kembung mengulum air maniku. Sambil matanya terpejam, terlihat Ibu Anne menelan air maniku dengan agak susah..
“Untuk pertama kalinya saya menelan air mani..” kata Ibu Anne sambil tersenyum.
“Benarkah?” kataku sambil membaringkan badanku di sampingnya.
“Iya, Pak Roy..” bisik Ibu Anne sambil membalikkan badannya ke arahku.
“Saya sangat senang sekali malam ini bersama Pak Roy,” kata Ibu Anne sambil menjatuhkan kepalanya di dadaku.
Aku belai mesra rambutnya.
“Kapan-kapan kita bisa bersama lagi, kan?” tanyanya sambil kepalanya tegak menatapku.
“Ya..” kataku sambil tersenyum.
“Boleh saya minta sesuatu?” tanyaku serius.
“Apa?” tanya Ibu Anne lirih.
“Bolehkan saya membuat cerita tentang kita ini?” tanyaku lagi.
Ibu Anne tersenyum.
“Sangat boleh sekali, Roy Takeshi,” jawabnya sambil mengecup bibirku.
“Tapi jangan gunakan nama asli saya, ya?” pintanya.
“Of course..” sambil mengecup bibirnya.
“Kita jadi mandi bersama, tidak?” tanyaku sambil mencubit pipi Ibu Anne.
“Yuk!” kata Ibu Anne sambil turun dari tempat tidur.
Namanya Wati
Suatu hari aku dipanggil pimpinanku ke dalam ruangannya. Aku menduga-duga apa gerangan sebabnya aku dipanggil mendadak begini.
“Duduk, Dik. Tunggu sebentar ya,” katanya sambil meneruskan membaca surat-surat yang masuk hari ini.
Setelah selesai membaca satu surat barulah dia menatapku.
“Begini Dik Anto, besok hari libur nasional. Hari ini apa yang masih harus diselesaikan?” tanyanya.
Aku berpikir sejenak sambil mengingat apalagi tugas yang harus kuselesaikan segera hari ini.
“Rasanya sih sudah tidak ada lagi yang mendesak pak, ada beberapa proposal dan rencana kerja yang harus saya buat, tapi masih bisa ditunda sampai minggu depan. Ada apa Pak?” tanyaku.
“Anu, ada tamu dari Kalimantan, namanya Pak Jainudin, panggil aja Pak Jay. Sebenarnya bukan untuk urusan kantor kita sih. Hanya kebetulan saja pas dia ada di sini, jadinya sekalian aja. Dia menginap di Bekasi. Tadi dia telpon katanya minta tolong agar diantarkan surat yang kemarin Dik Anto buat konsepnya untuk dipelajari, jelaskan aja detailnya. Nanti Dik Anto antar saja ke sana dan bayar bill hotel beliau. Layani sampai selesai urusannya, kalau perlu nanti nggak usah kembali ke kantor. Besok beliau kembali. Kalau mobil kantor pas kosong, pakai taksi aja soalnya ini penting. Uangnya ambil di kasir!” katanya sambil memberikan memo kepadaku untuk ambil uang di kasir.
Bergegas aku ke kasir sambil cek di resepsionis ada mobil kantor lagi kosong atau tidak. Ternyata semua mobil lagi dipakai. Jadi aku naik taksi ke Bekasi.
Setelah sampai di hotel yang dituju, aku segera menemui Pak Jay, dan menyerahkan berkas yang dimaksud. Setelah dia bertanya tentang detail dari berkas tadi, dia katakan bahwa dia sudah mengerti dengan isinya dan setuju. Hanya ada perbaikan redaksional saja.
“OK Dik, nanti saya kabari. Begini saja, konsep ini saya bawa dulu. Perbaikannya nanti menyusul saja. Hanya redaksional kok. Isinya saya sudah paham dan prinsipnya setuju,” katanya.
“Oh ya pak, pimpinan saya sampaikan bahwa bill hotel bapak biar kami yang selesaikan,” kataku.
“Aduh, jadi merepotkan. Sampaikan terima kasih dan salam untuk pimpinanmu, Pak Is” katanya sambil menyalamiku.
“Baik Pak nanti saya sampaikan, selamat jalan”.
Aku kemudian membereskan bill di front office. Tiba-tiba saja petugas hotel memanggilku.
“Maaf Pak Anto ya? Ini Pak Jay mau bicara,” katanya sambil menyerahkan gagang telepon. Kuterima gagang telepon dan dari seberang Pak Jay berkata”Dik, saya lupa kasih tahu. Kebetulan semua urusan saya selesai hari ini jadi saya bisa pulang siang nanti. Dik Anto tunggu sebentar di bawah ya!”
Aku menunggu Pak Jay turun ke lobby. Sebentar kemudian dia sudah datang dan minta dipanggilkan taksi. Kupanggilkan taksi, dia naik dan katanya.
“Terima kasih banyak lho bantuannya”.
Aku menggangguk dan tersenyum saja. Setelah taksinya pergi, aku berpikir kalau dia jadi pulang, sementara bill sudah dibayar penuh sampai besok, sayang rasanya. Biar aja kuisi kamarnya sampai besok, toh besok juga libur. Aku lapor ke resepsionis.
“Mbak, Pak Jay sudah check out, saya pakai kamarnya sampai besok. Tapi tolong beresin dulu kamarnya, saya mau jalan dulu sebentar. Boleh kan?” kataku.
“Boleh pak, silakan saja,” katanya sambil tersenyum.
Akhirnya saya keliling-keliling di Kota Bekasi. Nggak ada yang aneh sih. cuma sudah lama saja tidak ke Bekasi. Setelah beberapa lama, capek juga rasanya badanku. Aku akhirnya masuk ke sebuah panti pijat tradisional. Siapa tahu dapat massage girl yang oke, setelah dipijat nanti gantian kita yang memijatnya.
Seperti biasa begitu masuk di ruang depan aku disodori foto-foto close up yang cantiknya mengalahkan artis. Mbak yang jaga mengomentari sambil sekalian promosi. Si A pijatannya bagus dan orangnya supel, Si B agak cerewet tapi cantik, Si C hitam manis dan ramah dan lain-lainnya. Aku sih tidak tertarik dengan promosinya. Pilihanku biasanya berdasarkan feeling saja.
Pada saat lihat-lihat foto, ada wanita yang masuk. Kulihat sekilas, kalau dia massage girl di sini aku pilih dia saja.
Kutanya pada yang jaga, ” Mbak, yang tadi barusan lewat kerja di sini juga?”
“Ya Mas, dia baru minta ijin keluar sebentar tadi. Katanya ada sedikit keperluan,” jawabnya.
“Boleh pijat sama dia Mbak?” tanyaku lagi.
“Boleh saja, tapi tarif untuknya agak tinggi sedikit,” katanya sambil tersenyum kemudian menyebutkan rupiah yang harus kusediakan.
Kuiyakan dan disuruhnya aku masuk ke kamar VIP, ada AC-nya meskipun berisik dan tidak terlalu dingin. Sambil menunggu di dalam kamar, kuamat-amati sekelilingku. Sebuah kamar berukuran 3 X 2 meter dengan sebuah spring bed untuk satu orang dan sebuah meja kecil yang di atasnya ada cream pijat dan handuk. Pintunya ditutup dengan korden kain sampai ke lantai. Kulepaskan pakaianku tinggal celana dalam saja. Iseng-iseng kubuka laci meja kecil di sampingku. Ada kotak “25″ yang sudah kosong.
Tidak lama kemudian gadis pemijat yang kupesan sudah muncul. Kuamati lagi dengan lebih teliti. Lumayan. Kulitnya putih, tinggi (untuk ukuran seorang wanita) dengan perawakan seimbang. Ia mengenakan celana panjang hitam dan kaus putih. BH-nya yang berwarna hitam nampak jelas membayang di badannya.
“Selamat siang,” sapanya sambil menutup korden dan mengikatkan pinggirnya pada kaitan di kusen pintu.
“Siang,” jawabku singkat.
“Silakan berbaring tengkurap Mas, mau diurut atau dipijat saja”.
“Punggungku dipijat saja, kaki dan tangan boleh diurut”.
Aku berbaring di atas spring bed. Ia mulai memijat jari dan telapak kakiku.
“Namanya siapa Mbak?” tanyaku.
“Apa perlunya Mas tanya-tanya nama segala. Mas kerja di Sensus ya?” Jawabnya sambil tersenyum. Meskipun jawabannya begitu tapi dari nada suaranya dia tidak marah.
Akhirnya sambil memijat aku tahu namanya, Wati, berasal dari Palembang. Pijatannya sebenarnya tidak terlalu keras. Sepertinya dia pernah belajar tentang anatomi tubuh manusia sehingga pada titik-titik tertentu terasa agak sakit jika dipijat.
“Aduh.. Pelan sedikit dong!” teriakku ketika dia memijat bagian betisku.
“Kenapa Mas, Sakit? Kalau dipijat sakit berarti ada bagian yang memang tidak beres. Coba bagian lain, meskipun pijatannya lebih keras tapi kan nggak sakit”.
Kupikir benar juga pendapatnya. Aku sedikit pernah baca tentang pijat refleksi yang membuka simpul syaraf dan melancarkan aliran darah sehingga metabolisme tubuh kembali normal. Ia memijat pahaku.
“Hmmhh.. Ada urat yang sedikit ketarik Mas. Pasti beberapa hari ini adik kecilnya tidak bisa bangun secara maksimal,” katanya.
Memang beberapa hari ini, entah karena kelelahan bekerja atau sebab lain sehingga pada pagi hari saat bangun tidur adik kecilku kondisinya kurang tegang. Aku tidak terlalu memperhatikan karena pikiran memang lagi fokus untuk menyelesaikan pekerjaan minggu ini. Tangannya beberapa kali mulai menyenggol kejantananku yang terbungkus celana dalam. Tapi herannya aku sama sekali nggak terangsang. Kucoba untuk menaikkan pantatku dengan harapan tangannya bisa lebih ke depan lagi, tapi ditekannya lagi pantatku.
“Sudahlah, Mas diam saja nanti nggak jadi pijat,” katanya.
Kali ini tangannya benar-benar meremas adik kecilku. Tapi sekali lagi aku heran, karena nggak bisa terangsang. Tangannya kini memijat pinggangku. Ibu jarinya menekan pantatku bagian samping dan jari lainnya memijat-mijat sekitar kandung kemih.
“Penuh.. Beberapa hari pasti tidak dikeluarkan ya Mas? Maklum adiknya juga lagi nggak fit,” komentarnya agak ngeres.
Lagi-lagi tebakannya benar. Aku tidak tahu dia asal tebak atau memang ada ilmunya untuk hal-hal seperti itu.
“Hhh..” kataku ketika ia mulai menekan punggungku, kemudian terus sampai tengkuk.
Aku mulai merasa rileks dan mengantuk. Enak juga pijatannya. Kini kakiku diurutnya dengan cream pijat. Sampai di dekat pahaku dia berkata”Tahan sedikit Mas, agak sakit memang”. Tangannya dengan kuat mengurut paha bagian dalamku. Terasa sakit sekali.
“Uffpp.. Haahh,” kataku sambil menahan sakit.
Kepalaku kubenamkan ke bantal. Setelah kedua belah pahaku diurut terasa ada perbedaan. Kejantananku mulai bereaksi ketika tangannya menyusup ke bawah pahaku. Pelan tapi pasti kejantananku mulai membesar sehingga terasa mengganjal. Aku agak menaikkan pantatku untuk mencari posisi yang enak. Kali ini dibiarkannya pantatku naik dan tanganku meluruskan senjataku pada arah jam 12.
“Balik badannya, dadanya mau dipijat nggak?”
Kubalikkan badanku. Kulihat keringat mulai menitik di lehernya. Untung ada AC, meskipun tidak bagus, sedikit menolong. Wati mengusap-usap dadaku.
“Badanmu bagus Mas, dadanya diurut ya?”
“Nggak usah, tanganku aja deh diurut,” kataku.
Ia duduk di sampingku dengan kaki menggantung di samping ranjang. Ketika ia meluruskan dan mengurut tanganku kupegang dadanya. Lumayan besar, tapi agak kendor.
“Tangannya..” katanya mengingatkanku.
Tidak berapa lama ia sudah selesai memijat dan mengurut badanku. Aku meregangkan badan. Terasa lebih segar.
“Sebentar saya ambil air dulu Mas,” ia keluar kamar dan kembali dengan membawa air hangat dan handuk kecil.
Dicelupkannya handuk kecil ke dalam air hangat dan dilapnya seluruh tubuhku sampai bekas cream pijat hilang. Kemudian dilapnya badanku sekali lagi dengan handuk yang ada di atas meja kecil. Aku kembali terangsang ketika dia melap dadaku. Kuperhatikan dia dan kupegang tangannya di atas dadaku. Ia memutar-mutarkan tangannya yang dibalut handuk.
“Kenapa Mas,” bisiknya.
“Ingin dikeluarin supaya nggak penuh dan meluap terbuang,” kataku.
Ia menggerakkan tangan, kode untuk mengocok penisku.
“Nggak boleh emangnya disini ya? Ini apa?” tanyaku sambil membuka laci meja dan menunjukkan kotak “25″ yang kosong tadi.
“Mas ini tangannya usil deh. Bukan begitu Mas, bos lagi ada di sini. Dia kesini seminggu dua kali. Dia melarang kami untuk begituan dengan tamu, katanya belakangan ini sering ada razia,” jawabnya.
Kami diam beberapa saat, tensiku sudah mulai turun.
“Begini saja Mas, kebetulan saya juga lagi ingin dan Mas sebenarnya sesuai dengan seleraku dan rasanya bisa memuaskanku. Sekali-sekali ingin juga menikmati kesenangan. Nanti malam saja kita ketemu setelah jam 10 malam, sini sudah tutup”.
Kutanya berapa tarifnya untuk semalam.
“Jangan salah kira Mas, tidak semua wanita pemijat hanya ingin uang saja. Sudah kubilang kalau kita nanti bisa take and give. Just for fun”.
Busyet.. Entah benar entah tidak bahasa yang diucapkannya aku tidak peduli. Malam ini aku dapat pemuas keinginanku yang tertahan selama beberapa hari. Kukatakan nanti setelah selesai kerja kutunggu di hotel tempatku menginap.
Aku kembali ke hotel dan mandi. Sekilas ada keinginanku untuk berswalayan-ria. Tapi kutahan, takut nanti malam jadi kurang greng. Setelah mandi aku kembali jalan di sekitar hotel. Jalan mulai macet, karena jam pulang kantor sudah lewat. Cuaca agak mendung dan tak lama turun gerimis. Kupercepat langkahku, tapi gerimis sudah mulai lebat. Untung ada sebuah warung tenda. Sekilas kubaca tersedia STMJ. Boleh juga nih, hitung-hitung persiapan nanti malam. Kupesan satu gelas. Kuseruput perlahan. Rasa hangat menjalari tubuhku. Jahenya terlalu pedas, kulirik penjualnya.
“Di sini STMJ-nya asli Mas, alami. Bukan buatan pabrik jamu, melainkan saya buat sendiri. Jahenya memang sengaja agak banyak biar badan jadi sehat dan tidak mudah masuk angin,” katanya seolah membaca pikiranku. Kutunggu minumanku agak dingin. Ternyata ramai juga warung ini. Mungkin juga akibat ramuan Bapak penjualnya yang membuatnya dengan bahan alami.
Kembali ke hotel meskipun dengan pakaian sedikit basah, namun kesegaran pijatan dan STMJ membuatku tidak takut masuk angin. Aku tidak bawa pakaian ganti karena niatnya tidak menginap, hanya melayani tamu kantor. Kulepas bajuku dan dengan tetap memakai celana panjang kubaringkan tubuhku ke ranjang yang empuk. Enak juga jadi orang kaya. Menginap di tempat yang empuk dan berAC. Namun kupikir lagi, ternyata hidup ini enak kalau dijalani dengan senang hati. Orang kaya yang punya jabatan tentu tingkat stressnya lebih tinggi dan belum tentu mereka dapat menikmati semua yang ada padanya. Mungkin cocok juga aku jadi filsuf, pikirku begitu sadar dari lamunanku.
Kulihat jam dinding menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit. Masih ada waktu tiduran dua jam setelah seharian pikiranku agak capek. Badan sih tidak apa-apa, hanya pikiran yang perlu istirahat.
Setengah tertidur aku mendengar ketukan di pintu.
“Tok.. Tok.. Tok..
“Mas Anto, ini Wati,” terdengar suara dari luar.
Upss, aku melompat dari ranjang dan membuka pintu. Setelah kubuka pintu aku tertegun sejenak. Wati tetap memakai kaus yang tadi siang dipakainya dibungkus dengan sweater dan celananya sudah ganti dengan jeans. Sepatu dengan hak tinggi membuat dia tampak lebih tinggi dan langsing. Kacamata bening nangkring di hidungnya yang sedang. Wajahnya dihiasi dengan make up tipis. Kalau dilihat sekilas seperti Yurike Prastica.
Wati masuk dan melepaskan sweaternya. Aku menutup pintu, menguncinya dan duduk di atas ranjang, lalu ia duduk di sampingku. Saat itu aku masih termangu, tapi penisku bereaksi lebih cepat dan langsung saja tegak dengan kerasnya. Wati melihat kebawah, ia sengaja melihat dan meraba, mengusap serta memainkan penisku.
Aku mulai bergairah tetapi hanya diam menunggu aksinya. Kurebahkan tubuhku ke tempat tidur, ia terus memainkan penisku. Dilepasnya kacamata dan diletakkan di meja samping ranjang. Ia berdiri dan melepaskan celana panjangnya. Pahanya yang mulus terpampang di depanku. Kudorong ia dan kupepetkan ke dinding sambil berciuman lembut. Ia mengerang kecil” Ngghngngh..”.
Tangannya membuka celana panjangku dan menariknya ke bawah. Tangannya meremas penisku dan mengeluarkannya dari celana dalamku. Ia bergerak sehingga aku yang dipepetnya di dinding. Dalam posisi setengah jongkok ia mulai mengulum penisku. Penisku semakin lama semakin tegang. Ia mengkombinasikan permainannya dengan mengocok, menjilat, mengisap dan mengulum penisku. Kupegang erat kepalanya dan kugerakkan maju mundur sehingga mulutnya bergerak mengulum penisku. Tangannya meremas pantatku dan menarik celana dalamku yang mengganggu gerakannya. Kurasakan mulutnya menyedot dengan kuat sampai penisku terasa ngilu.
Kuangkat tubuhnya dan kulucuti celana dalamnya. Kaus tipisnya masih kubiarkan tetap di badannya. Sebuah keindahan tersendiri melihatnya dalam kondisi polos di bagian bawah dan kausnya masih melekat. Belahan payudaranya yang besar membayang di balik kaus tipisnya. Kini aku yang jongkok di depannya dan mulai menjilati dan memainkan clit-nya. Vaginanya punya bibir luar yang agak melebar. Warnanya kemerahan. Ia terguncang-guncang ketika clitnya kujilat dan kujepit dengan kedua bibirku. Beberapa saat kami dalam posisi begitu. Tangan kirinya memegang kepalaku dan menekankan ke selangkangannya. Tangan kanannya meremas payudaranya sendiri.
Aku bangkit berdiri dan bermaksud melepas BH-nya. Kucari-cari di punggungnya tetapi tidak kutemukan pengaitnya.
“Di depan.. Buka dari depan,” Wati berbisik.
Rupanya model BH-nya dengan kancing di depan. Kuremas kedua dadanya dengan lembut. Tanganku sudah menemukan kancing BH-nya. Tidak lama dadanya sudah terbuka. Putingnya yang coklat membayang di balik kausnya. Kugigit dari luar kausnya dan Wati mengerang.
Penisku di bawah yang sudah berdiri melewati garis horizontal mulai mencari sasarannya. Tangannya mengocok penisku lagi dan menggesekkannya pada vaginanya. Kucoba memasukkannya sekarang, namun meleset terus. Kuangkat sebelah kakinya dan kucoba lagi. Tidak tembus juga. Mulutku masih bermain dengan puting di dalam kausnya. Wati kelihatannya tidak sabar lagi dan dengan sekali gerakan kausnya sudah terlempar di sudut kamar. Tanganku mengusap gundukan payudaranya dan meremas dengan keras namun hati-hati. Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri bahunya dan melepas tali BH-nya sehingga kini kami dalam keadaan polos.
Karena sudah gagal berkali-kali mencoba untuk memasukkan penis dalam posisi berdiri, kudorong dia ke arah ranjang dan akhirnya kudorong dia rebah ke ranjang. Saat itu aku mulai kepanasan karena gairah yang timbul. Lalu aku menerkam dan memeluk Wati. Perlahan-lahan ia mulai mengikuti permainanku. Kutindih tubuhnya dan kuremas pantatnya yang masih padat.
“Anto.. Kumohon please ayo.. Masukk.. Kan!”
Tangannya meraih kejantananku dan mengarahkan ke guanya yang sudah basah. Aku menurut saja dan tanpa kesulitan segera kutancapkan penisku dalam-dalam ke dalam liang vaginanya.
Kami saling bergerak untuk mengimbangi permainan satu dengan lainnya. Aku yang lebih banyak memegang peranan. Ia lebih banyak pasrah dan hanya mengimbangi saja. Gerakan demi gerakan, teriakan demi teriakan dan akhirnya kamipun menggelosor lemas dalam puncak kepuasan yang tidak terkira.
Setelah sejenak kami beristirahat, kami saling melihat keindahan tubuh satu sama lain gairahku mulai bangkit lagi. Aku memeluknya kembali dan mulai menjilati vaginanya. Dan kemudian memasukkan penisku yang sudah kembali menegang.
Aku menusuk vaginanya, crek.. crek.. crek.. crek.. crokk .. Berulang kali. Ia pun mendesah sambil menarik rambutku. Kami saling bergoyang, hingga tempat tidur pun terasa mau runtuh dan berderit-derit. Setelah hampir setengah jam dari permainan kami yang kedua kali, Wati mengejang dan vaginanya terasa lebih lembab dan hangat. Sejenak kuhentikan genjotanku.
Kini aku kembali menggenjot vagina Wati lagi. Kami berdua bergulingan sambil saling berpelukan dalam keadaan merapat. Kuputar badannya sehingga dia dalam posisi pegang kendali di atas. Kini dia yang lebih banyak memainkan peranan. Akhirnya aku hampir mencapai puncak dari kenikmatan ini. Kutarik buah zakarku sehingga penisku seolah-olah memanjang.
“Wati, kayaknya aku nggak tahan lagi, aku mau keluar”.
Akhirnya tak lama kemudian kami mencapai titik puncak. Aku keluar duluan dan tak lama Watipun mendapatkan puncaknya dengan menikmati kedutan pada penisku. Setelah itu kami terbaring lemas, dengan Wati memelukku dengan payudaranya menekan perutku.
“Wati terimakasih untuk saat-saat ini”
“Nggak usah To.. Wati yang terimakasih karena, Wati nggak menyangka kamu sungguh hebat. Wati nggak nyangka kamu punya tenaga yang besar. Wati tadi hanya berharap menikmati permainan dengan cepat karena tadi siang pijatanku sudah kuarahkan agar kita bermain dengan cepat”.
Kami tertidur berpelukan dan setelah pagi harinya kami bercinta untuk ketiga kalinya, dan kuakhiri dengan tusukan yang manis, kami saling membersihkan badan dan pulang. Kuantar ia sampai di depan gang rumahnya.
Ketika beberapa hari kemudian kucari dia di tempat kerjanya, tidak kudapati lagi dirinya. Kata Mbak yang jaga di depan dia pulang kampung dan tidak kembali lagi. Ditawarkan temannya yang lain untuk memijatku, namun aku tidak berminat dan langsung balik kanan, back to Batavia.
Olga
“Ya, jadi menurut bapak kira-kira berapa lama ya selesainya??â€
“Paling 2 sampai 3 hari non…Kalau mau hari ini juga kita bisa mulai bongkar, jadi bisa hemat waktu juga…Gimana Non Olga??†Jawab bapak-bapak separuh baya itu
“Boleh pak, tapi saya ada perlu hari ini,gapapa saya tinggal pak??†jawab wanita yang dipanggil Olga.
“Oh, gapapa Non, urusan disini jadi tanggung jawab saya..Non tenang aja..â€
“Ga bukan masalah itu, saya percaya koq ma bapa,.Kan dulu rumah mama juga
bapak yang beresin,..Soal pembayaran gimana pak,..??â€
“Ya, kita minta 50% aja dulu bisa??Buat belanja bahan nich non.sama urusan
ma pihak apartement gimana,nanti kita dimarahin lagi kerja disini??†jawab
mandor itu..
“Oke tapi untuk pembayaran tunggu saya pulang ya pak. Paling jam empat saya sudah pulang, urusan maintenance sudah saya urus pak, ga masalah, ke tetangga juga sudah saya omonginâ€
“Oh, kalo gitu kita kan enak kerja-nya,..Ya sudah non kalo non mang ada pekerjaan, bisa ditinggal, pokoknya Non tau rapi saja…heheheâ€
Â
“Oke, kalo gitu saya tinggal ya pak, pemotretan-nya jam 12 soalnya..Takut telat..†Kata wanita itu sambil mengangkat tasnya..
Dia tampak tergesa-gesa sekali, Ya, wanita tinggi putih berwajah oriental itu memang Olga, Olga Lydia, foto model, aktris dan presenter yang cukup terkenal di Indonesia.
“Hati-hati Non,..â€
“Ya makasih Pak, tolong tunggu saya ya pak..†ingatnya
“Baik Non†jawab mandor itu,..
Olga pun bergegas keluar dari apartementnya, para pekerja berjumlah dua orang plus seorang mandor itu pun segera melakukan pekerjaannya, merenovasi dan
memperbaiki beberapa saluran air di apartement itu.
“Bagus ya pak apartementnya†Kata salah satu dari pekerja
“Ya bagus lah, namanya juga punya artis, hehehe†jawab mandor itu.
“Udah lama pak kenal ma keluarga dia?†tanya mandor berkumis dan kekar
itu, umurnya kira-kira 50an.
“Dari kecil Ded, dah lama juga kenal keluarganya, jadi kerja yang bener ya. Ga enak gue kalo asal jadi aja..â€
“Ya pasti pak, tenang aja.hehehe†jawab pekerja bernama Dedi itu.
“Ya bapak tinggalin aja disini biar kita yang urus dulu, kan bapak bisa belanja cat dulu, siapa tau kita bisa mulai cat sore†Kata seorang pekerja yang sedang merokok,..
“Oke gue tinggal, tapi lu jangan ngerokok aja Bakrie, takut kena karpet yaâ€
“Siap Boss..†jawab pria 30an berambut cepat dan berbibir tebal itu sambil mematikan rokoknya..
Â
###
Â
Di pinggiran kolam renang, sebuah rumah mewah, terlihat beberapa orang mempersiapkan alat-alat pemotretan, dari dalam rumah keluarlah Olga dan beberapa asisten serta Darwis Triadi, salah satu fotografer terkenal di tanah air.
“Gimana??Udah beres alat-alatnya??masa mindahin dari dalem keluar aja lama??†tanya Darwis ke krunya.
“Sudah Boss, nich lagi test aja,..†Jawab salah satu kru..
“Oke Olga bisa dimulai sekarang??â€
“Sip Darwis, lagian gue dah risih nich..Hehehe†sambil melepas selendang yang
menutupi bagian pinggangnyya kebawah.
Olga dengan swimsuit merahnya kini sudah masuk set pemotretan itu dengan dibantu beberapa assisten-nya untuk mempersiapkan pose yang diinginkan Darwis. Kipas angin pun dinyalakan untuk membuat kesan rambutnya yang tertiup angin. Tak lama pemotretan itu pun dimulai, beberapa scene, dan mereka mulai berpindah-pindah set.
Â
“Ya bagus, coba angkat tangan kiri kamu, jangan liat ke kamera..natural ajaâ€
Klik !!!
“Ya bagus, Liat kesini, majukan kaki kiri kamu, ya bungkuk sedikit..â€
Klik !!!
“Lightening pindah kebelakang, Ya tahan sebentar pose itu, senyum sedikit, yaa..â€
Klik !!!
“Oke Thanks, Olga sip banget, ini saya usahain jadi cover ya…sayang banget kalo ga jadi cover..†Kata fotografer itu,..
“Oooo..bayaranya nambah donk,.hehehe, Ga becanda, Gue liat donk hasilnya ya, jangan naek cetak dulu baru lu kasih gue,..†jawab Olga.
“Oke santai, kamu tau gimana saya kerja kan..â€
“Hahaha, ya udah, dah beres kan gue tinggal ya??â€
“Oke ga masalah thanx ya..Bye-byeâ€
“Sip, take care ya..Byeâ€
Olga pun segera menuju ruang ganti pakaian di rumah itu, scene di kolam renang itu, memaksanya untuk berpose dengan swim suit, Sopan sich, tapi pemotretan ini jarang sekali dia lakukan. Di ruang ganti itu ada Anna, sahabat Olga yang juga seorang model.
Â
“Gmana Lyd??†tanyanya.
“Ga tau gue juga belum liat hasilnya, lu tahu sendiri si Darwis, belum perfect buat dia mana mungkin dikasih liat ke kita?? Jawab Olga..
“Hahaha, iya juga yee.Lupa gue,..Mau kemana nich kita??â€
“Aduh sory Ann, gue musti buru-buru balik, mau ke ATM dulu, gue mau ambil duit, apartemen gue kan lagi dibenerin, gila keran bocor terus, sekalian lapis cat lagi…â€
“Ohhh, jadi nich dibenerin, terus yang jaga siapa??Besok aja kita masih ada satu roll lagi kan..â€
“Ah tenang aja,..Hari ini gue tinggal, besok sich nyo gue yang jaga.â€
“Yawda lu ati-ati aja barang lu ya..â€
“Rabu lu jadi kan ke tempat, gue ga da Job juga kan kita??â€
“Oce dech, tar gue dateng dech lusa ya..,Gue cabut dulu nich, Biasa Roby dah nunggu..â€
“Yawda TitiDJ Na,..â€
“Hahaha, Lu juga ye, Bye..†Jawab Anna, sambil membuka pintu ruang ganti itu, Olga pun segera mengambil pakaiannya di loker, Dia segera berganti pakaian, Tak lama Olga pun selesai dan segera keluar dari ruang ganti itu. Setelah berpamitan pada Darwis dan beberapa kru, Olga pun segera meninggalkan lokasi pemotretan itu.
Â
###
Â
Pukul 4.20 Olga sudah kembali, setelah mengambil Uang di ATM untuk membayar 50% biaya perbaikan apartement-nya. Sesampainya di apartementnya, Ibu Olga sudah disana, selain itu beberapa bagian ruangan apartement itu sudah dilapis ulang, Pekerjaan-nya cukup rapi juga…Dia segera menghampiri ibunya di dapur..
“Kapan dateng Mi??â€
“Dah pulang, tadi jam 2an lah…Minum dulu jus di lemari es tuch…â€
“Makasih Mi, tar dech..Nginep kan Mi???â€
“Iya, tapi besok sore mami pulang, kasian Papi kamu sendiri,..â€
“Yee, kenapa papi ga diajak kesini aja sekalian??†Jawab Olga sambil mengambil jus
“Tau sendiri kan Papi mu itu, lebih seneng burung daripada nyenengin Mami mu..â€
“Dasar Mami..hehehe,..Pak Jabir mana Mi ??â€
“Diatas kayaknya..Dia lagi bongkar pipa ma anak buahnya..â€
“Oh, Olga keatas dulu ya Mi, sekalian bayar Uang muka nich,..Mami belum dinner kan?â€
“Belum, mau Mami masakin??â€
“Ga usah mi, nanti kita makan aja diluar, mami dah mandi??â€
“Belum, yawda Mami mandi dulu dech..â€
“Oke..aku naek dulu ke atas..†kata Olga yang dibalas senyuman oleh maminya..Ia pun segera naik ke tingkat 2, menemui si mandor Jabir.
Â
“Gimana Pak untuk hari ini??†tanya Olga.
“Ya Non liat sendiri, buat pipa ini juga udah ketemu penyakitnya, cuman kita ga bawa peralatannya, mungkin besok kita urus dech Non,kita lagi ngikis cat aja dulu besok di Cat ulang, kalo sekarang ga keburu,..†Jawab Pak Jabir
“Oh yawda, ini pembayaranya pak, 50% dulu,..Dihitung Pak,..†Sambil menyodorkan amplop berisi uang tunai..
“Ah, percayalah bapak ma Non,..Habis ngikis cat di ruangan ini kita pamit dulu ya Non, sudah jam 5 juga..â€
“Oke Pak, ga masalah, beresin aja dulu pak, Saya tinggal ya?â€
“Silahkan Non..â€
Olga pun segera turun, tak lama rombongan pak Jabir pun menyelesaikan pekerjaannya. Mereka berpamitan dengan Olga dan ibunya, yang sedang berbincang sambil menonton televisi..
“Sudah sana mandi, katanya mau makan,..’ Tegur Ibu Olga,..
“Iya Mi, baru pada pulang sich ga tenang ada mereka..Hehehe..â€
“Dasar, bagus dech, kamu itu wanita, jaga baik-baik harga diri kamu Olga.â€
“Iya Mi, ya Olga mandi dulu ya.â€
“Ya sudah, besok kamu ada acara ??â€
“Besok aku musti ke agency, kenapa Mi??â€
“Ya sudah kamu mandi saja dulu, nanti malam ada yang mau Mami bicarakan..â€
“Yawda dech, aku mandi dulu Mi..â€
Â
Sejam kemudian Olga pun sudah berdandan, maminya yang sudah siap dari tadi sudah menunggunya di ruang tamu, mereka pun pergi makan malam, menyantap makanan Eropa di sebuah restoran elit, Pukul 10 lewat mereka kembali ke apartement Olga.
“Mami mau tidur??†tanya Olga,.
“Ga sich, kamu mau tidur sayang ?†Jawab ibunya..
“Ngantuk sich mi, tapi katanya ada yang Mami mau omongin..â€
“Oh iya, ampir Mami Lupa,.Gini tentang issue belakangan ini tentang kamu nak,.â€
“Ah itu lagi, Mami percayakan ma Aku ??â€
“Iya Mami juga ga percaya, tapi Mami mau dengar dari kamu langsungâ€.
“Oke dech, aku ga da hubungan apapun dengan pejabat itu..Oke Mi..Percayakan
ma akuâ€..Kata Olga sambil mengacungkan 2 jarinya, seperti bersumpah.
“Iya kamu ga usah gitu lah, mami percaya koq ma Kamu sayang..Mami cuma
kuatir aja, kamu kan tahu itu pejabat + kamu juga tau kan dia udah berkeluarga, jangan sampai kamu nganggu hidup orang lain, kita juga dari keluarga berada, ga perlu mikirin harta kaya Orang lain,..†ingat ibu-nya
“Iya Mi, Makasih ya,..Tidur yuk Miâ€
“Ya sudah kamu tidur saja dulu, Mami nunggu telepon Papi-mu,..â€
“Oc, dech Mi, Tar tidur bareng aku aja ya,..Nitez mi..â€
“Ya sudah nanti mami nyusul sayang..â€
Olga pun meninggalkan Ibunya di ruang keluarga, tak lama dia pun tertidur..
Â
Keesokan harinya,â€Pagi Mih,..Aku dah telat nich, aku musti cepet-cepet ke agency, Mami dah makan kan??†Tanya Olga..
“Udah kamu tenang aja,..Kamu pulang jam berapa??â€
“Mami mau pulang jam berapa, nanti aku yang anter aja??â€
“Ga usah, nanti Mami naik taksi saja,..Paling jam tujuhlah, nunggu Pak Jabir pulang kan..â€
“Ooh, kalau gitu tunggu aku ya Mi, aku ga malem koq pulanganya,..â€
“Kamu beresin aja pekerjaan kamu, mami sich gampang…â€
“Ya pokoknya Mami tunggu aja, aku kan masih kangen.â€
“Ya sudah, Mami tunggu kamu ya sayang..â€
“Oke dech,..Mam aku pergi dulu ya ?â€
“Eeeeh, Gak sarapan dulu sayang ??â€
“Telat Mih,..â€
“Udah minum dulu susunya ya..â€
“Yawda dech,..Aku pergi ya…†Ujar Olga setelah meminum susunya sambil meninggalkan Apartementnya
Sepulangnya dari Agensy, Olga pun melihat pekerjaan rumahnya yang sudah 75 % rampung, tampaknya pekerjaan ini akan selesai lebih cepat dari jadwal. Masih jam lima sore, ketika ibunya minta ditemani ke minimarket, maka Olga turun mengantar ibunya.
Â
###
“Sayang ya Pak, Non Olga jarang Disini..†Ujar Bakrie.
“Ya mau ngapain juga dia disini…†Jawab Jabir..
“Ya kan lumayan pak, baru hari ini aja dia dirumah, ma temen-nya lagi..’ sambung Dedi.
“Lu pada ngeres aja..Pengen liat paha-nya aja lu pada ya??†Canda pak Jabir.
“Iya lah, normal toh Pak, namanya juga laki-laki†Kata Bakrie yang disambut tawa keduanya.
“Ayo, siap geser yah, hati-hati loh !†Pak Jabir mulai memberi perintah pada anak buahnya untuk menggeser sebuah lemari yang awalnya digeser kembali ke tempat semula.
Karena terlalu bertenaga mendorongnya tiba-tiba sebuah koper kecil diatasnya jatuh dan terbuka sehingga isinya berceceran keluar.
“Hadoh, gimana sih lu, dorong pelan-pelan aja ngapain pake tenaga gitu !†Pak Jabir mengomeli Bakrie dan Dedi, “untung orangnya lagi kebawah, cepet-cepet beresin lagi sebelum dia balikâ€
Mereka pun buru-buru memunguti barang-barang yang tercecer dari koper yang terbuka itu, isinya adalah beberapa album foto. Ada sebuah album foto yang terbuka, jadi bagaimanapun isi album itu terlihat oleh mereka yang sedang berusaha merapikan semua album ini kembali ke dalam koper.
Â
“Eh lihat Pak Jabir, non Olga itu cantik sekali ya.. mana kulit perutnya putih mulus gini. Bener bener amoy dahâ€, kata Bakrie memandang foto Olga di album itu sambil menelan ludah. “Gimana halusnya ya? Jadi pingin ngerasakan nihâ€, timpal Dedi yang kini ikut memandangi foto sexy Olga yang memakai bikini. Pak Jabir mau tidak mau tertarik juga untuk melihat. Reaksinya tak jauh beda, ia menelan ludah dan malah melamun membayangkan Olga kecil yang dulu ia lihat, sekarang sudah menjadi wanita yang menggairahkan di dalam foto foto itu.
Â
“Pak? Pak Jabir? Lagi ngelamun apa pak? Melamun non Olga ya?â€, senggol Dedi melihat pak Jabir yang terus memandang foto Olga dari tadi, membuat pak Jabir tersadar dari lamunannya. “Hush.. mau tau saja. Sudah cepat, kita kembalikan semua, nanti non olga marah lagi melihat koper ini terbongkar seperti ini!â€, kata pak Jabir. Sambil terus memasukkan album album foto itu, Bakrie berkata, “Kalo bisa besok aku kepingin melihat lihat koleksi foto non Olga ahâ€.
Â
Tepat selesai Bakrie mengatakan itu, tinggal 1 album foto yang tersisa di luar koper yang dipegang pak Jabir, tapi ia  tak segera memasukkan album itu ke dalam koper. Album itu terkunci, dan di covernya ada tertulis ‘Popular, Edisi Lanjutan’. Pak Jabir berkata, “yang foto bikini tadi, aku memang pernah lihat di sebuah majalah waktu dipanggil pertama sama non Olga untuk merenovasi apartemen ini. Kalau membaca ini, jadi ingat nama majalah itu popular. Jadi penasaran juga, memangnya lanjutannya foto sexy ini seperti apa ya?â€
Â
“Wah kalau dikatakan lanjutan, apa ya? Lanjutan dari pakai pakaian lengkap, terus bikini. Terus ya mungkin tinggal pakaian dalam ya…terus, bugil kali ya?†kata Bakrie yang mulai ngeres pikirannya. Mereka diam sejenak, tiba tiba Dedi mengeluarkan obeng dari sakunya. “Kita buka saja daripada penasaran mikirin apa isinyaâ€, katanya dengan yakin. Pak Jabir sempat berpikir untuk mencegah, tapi akhirnya rasa penasarannya mengalahkan moralnya. Ia meminjam obeng Dedi dan mulai berusaha membongkar kunci yang ternyata tak semudah itu dilakukannya.
Â
Akhirnya dengan tak sabar, pak Jabir mencongkel kunci itu, dan saat album itu terbuka, ketiga orang ini terpana. Tak pernah pak Jabir membayangkan, akan bisa melihat foto dari Olga Lidya dengan berbagai pose erotis. Balutan bikini itu makin lama makin tak menyembunyikan keindahan tubuhnya yang amat ideal, foto-foto itu memang satu seri dengan foto-foto seksi Olga yang pernah ditampilkan di majalah Popular itu, latar belakang dan pakaian renang yang dipakainya pun sebagian sama persis, namun dalam album itu posenya lebih menantang, misalnya posenya di tangga kolam renang dengan pakaian renang berwarna perak itu kini dipeloroti atasnya sehingga menampakkan payudaranya yang berukuran sedang dan montok. Foto-foto itu tentu bukan untuk konsumsi umum, Olga memang sengaja membuatnya untuk koleksi pribadinya saja sehingga disimpannya pun di tempat khusus ditambah dengan album foto berkunci. Ketika semua sedang terperangah, tiba-tiba pak Jabir menutup buku itu, membuat yang lain bersiap protes. Pak Jabir segera menjelaskan tindakannya ini pada kedua orang itu.
Â
“Kita jangan lihat buku ini di sini. Nanti kita pamit ke non Olga untuk malam dulu di warung bawah, seolah olah kita sudah lapar. Di, kamu sembunyikan album ini di jaketmuâ€, kata pak Jabir. Dedi segera membungkus album itu di jaketnya yang butut. Bakrie yang memang agak lebih bodoh ini bertanya, “Kita ngapain pakai makan lagi? Masih kenyang lah! Bukannya tadi kita makan siangnya telat sampai jam tiga lebih?â€. ‘plak’, pak Jabir memberikan tamparan ringan pada kepala belakang Bakrie. “Pakai otak sedikit! Tapi.. sudalah.. kalo kamu sih mending gak usah ikut mikir, nanti tambah kacau. Yang jelas kalau mau enak, diam dan ikuti saja aku dan Dediâ€, kata pak Jabir, tepat ketika Olga masuk ke ruangan itu.
Â
“Non Olga, sepertinya kami harus makan dulu, sudah terlalu lapar nih. Kami ke warung bawah sebentar Nonâ€, kata pak Jabir pada Olga. Tanpa prasangka apapun, Olga mengiyakan saja, kebetulan juga Olga sudah ingin mandi. Maka setelah mereka bertiga keluar, Olga segera masuk ke kamar mandi. Sementara itu, di bawah, pak Jabir berhenti pada ujung lorong yang ada lampunya. Di sana, mereka meneruskan membuka-buka album itu. “Gila bener.. mulus amatâ€, kata Bakrie yang tak bisa melepaskan pandangan matanya dari foto tubuh Olga yang sudah nyaris telanjang bulat dengan pose yang menggoda. Pose-pose telanjang itu sesungguhnya sangat elegan dan artistik tidak seperti pose-pose bugil asal ngangkang dengan muka mupeng yang mengundang birahi ala penthouse atau hustler, namun orang-orang seperti mereka mana mungkin mengerti yang namanya artistic nude, bagi mereka bugil = porno dan ujungnya membangkitkan birahi.
Â
Dedi tidak bisa bicara lagi, dengan gelisah ia menanti pak Jabir yang sudah hampir tak bisa menguasai diri, tangannya gemetar ketika membalik halaman demi halaman album itu, hanya untuk melihat tubuh indah Olga yang sudah tak tertutup sehelai benangpun. Di beberapa pose, kemaluannya hanya terlindung telapak tangannya, sementara kedua payudaranya yang indah menggelantung bebas, sungguh menantang orang yang melihat foto itu. Mata mereka melotot dengan mulut melongo menatapi pose Olga yang sudah tidak tertutup sehelai benangpun sedang duduk di bibir kolam dengan kaki disilang, seluruh lekuk tubuhnya terlihat jelas kecuali kemaluannya yang tersembunyi di balik lipatan kaki.
“Buka lagi dong, mau liat yang keliatan m-e-m-e-knya, mau tau jembutan ga !†pinta Dedi yang penasaran melihat kemaluan Olga.
Akhirnya mereka dapat menyaksikan seluruh keindahan tubuh Olga dalam sebuah pose bugil frontal dimana Olga sedang berdiri di bawah siraman shower, kedua tangannya menyibak rambutnya ke belakang sehingga payudara dan vaginanya yang berbulu tipis terekspos jelas. Setelah melihat halaman terakhir, mereka bertiga berusaha menenangkan diri.
“Yah, kok ga ada yang ngangkang sih, padahal pengen yang lebih jelas†Bakrie sepertinya tidak puas dan ingin melihat lebih dari itu.
“Gini, kita kembali ke atas terus lihat perkembangan situasi di sana. Jangan bertindak gegabah†kata Pak Jabir
Â
Dedi dan Bakrie menurut saja pada kata kata sang bos. Bakrie sempat bertanya, “pak Jabir, bisa tidak kita mencicipi servis non Olga?†Dedi menimpali, “Buku ini kita pakai saja buat memojokkan non Olga pakâ€. Pak Jabir manggut manggut, “Iya, kan tadi aku sudah bilang. Kita lihat situasinya. Kalau memungkinkan, kenapa tidak?â€. Mereka mulai merencanakan bagaimana mereka bisa membuat Olga talkluk di tangan mereka. Setelah rencana dirasa bisa diterapkan, mereka kembali ke atas, bersiap untuk membuat Olga jatuh dalam derita.
Â
###
Â
Ketika sampai, mereka melihat Olga sedang melihat lihat hasil kerja mereka. Olga yang sudah mandi, kini memakai pakai baju rumah yang santai, kaus singlet putih tanpa lengan yang hampir menunjukkan belahan dadanya, lengannya yang putih mulus terekspos jelas. Warna putih pada kaus itu membuat warna pink bra Olga sedikit membayang. Celana pendek mini yang dikenakan Olga membuat mereka hampir tak bisa mengalihkan pandangan mereka dari paha Olga yang terpampang jelas. Untung saja pak Jabir menguasai keadaannya, ia menyapa Olga yang masih belum menyadari keberadaan mereka. “Malam non Olgaâ€, kata pak Jabir diikuti rekan rekannya, dan Olga membalik badan melihat mereka semua yang keringatan. Rupanya ketika di bawah tadi, mereka sudah begitu terbakar nafsu, tapi tentu saja Olga tak mengetahui semua itu.
Â
“Wah bapak bapak… habis makan apa sampai keringatan gitu? Kepedasan ya.. saya ambilkan minum dulu yaâ€, kata Olga sambil berlalu ke dapur. Mereka bertiga tahu, kini kesempatan jelas terbuka. Pintu yang dari tadi terus terbuka itu ditutup oleh Bakrie, Pak Jabir memposisikan diri ke dekat jendela, sementara Dedi pura pura mengemasi peralatan pertukangannya, dan Bakrie yang selesai menutup pintu, ikut membantu Dedi. Tiba tiba, “Ded! Albumnya!â€, kata Bakrie melihat jaket Dedi ternyata tak menutupi album itu seluruhnya. Terdengar langkah Olga yang sudah akan kembali dari dapur, membuat Dedi panik karena album itu diluar jangkauannya. Tapi sekali ini, otak Bakrie lumayan jalan, ia melepas bajunya dan melempar ke jaket Dedi, lemparannya tepat sasaran dan menutupi album itu, tepat ketika Olga memasuki ruangan itu.
Â
“Nih, diminum dulu. Silakan bapak-bapakâ€, kata Olga sambil tersenyum manis, lalu duduk di kursi yang ada di tengah ruangan itu, sambil mengistirahatkan tubuhnya yang lumayan capai setelah melewati urusan kerja yang panjang dengan agency siang tadi. Mereka bertiga mengambil minum itu, lalu mengelilingi Olga dengan jarak yang lumayan jauh, jadi tidak sampai mencurigakan Olga. Sambil minum, pak Jabir memulai obrolan ringan, seperti yang tadi direncanakan di bawah. “Non Olga, gimana dengan hasl kerja kami? Nggak buruk kanâ€, tanya pak Jabir. Olga segera menjawab, “Oh.. baik kok pak, saya puas kokâ€.
Â
“Kalau gitu, kali kali ada kenalan non Olga yang butuh renovasi, tolong non Olga kenalkan pada kami yaâ€, kata Dedi. Bakrie menimpalin, “Kenalan non Olga juga artis ya? Iya.. enak ya jadi artisâ€. Olga hanya tersenyum kecil, lalu menjawab, “Iya deh, nanti kalo ada teman saya yang butuh bantuan bapak bapak, saya pasti mengenalkan pada kalian. Dan tentang artis, ada enaknya, ada nggak enaknya juga lah. Apalagi, kalau ada rekan artis lain yang iri, kadang menggunakan segala cara untuk saling menjatuhkanâ€. Pak Jabir menyambung, “contohnya RUU APP itu ya, non Olga?â€. Olga segera merespon, “Betul, itu salah satu contohnya! Untungnya salah satu tokoh yang mengusung ini kebongkar rahasianya kalo ternyata moralnya juga nggak bener. Jadi pelan pelan suara suara yang pro jadi surut sendiri, karena itu merupakan satu pukulan telak buat kubu pro RUU APPâ€
Â
Pak Jabir dan yang lain tertawa, kemudian Dedi bertanya, “iya non, saya jadi ingat. Dulu non Olga termasuk yang keras menentang RUU APP itu ya? Kenapa nonâ€. Ditanya begini, Olga sempat menerawang, kemudian Olga menjawab, “iya. Cuma gara gara ego orang yang sok suci yang berselisih dengan seorang artis wanita, memanfaatkan popularitasnya yang waktu itu belum jatuh, melontarkan ide yang jelas mengorbankan hak hak kaum wanita. Laki laki yang nggak bisa menahan diri untuk berpikiran atau berbuat mesum, wanita yang disalahkan dengan alasan penampilan atau perbuatan yang mengundang hasrat. Itu kan keterlaluan? Lelucon yang sama sekali tidak lucu dari berbagai lelucon yang pernah saya dengar!â€, kata Olga berapi-api.
Â
“Untung saja, seperti yang saya katakan tadi, orang yang sok suci yang mengusung hal itu kebongkar rahasianya. Pintar sekali menutupi kalau dia itu punya hasrat yang begitu menggebu, dengan cara berkoar koar tentang moral dan RUU APP. Padahal, sudah punya banyak istri, masih pakai kawin siri sama artis muda. Itu kan menunjukkan kalau dirinya amat tidak tahan godaan hawa nafsu. Dengan kemunafikannya yang sudah kelewat batas itu, maka saya merasa harus memprotes kerasâ€, kata Olga lagi pada mereka bertiga yang manggut manggut, jelas mereka mengerti siapa tokoh yang dimaksud oleh Olga. Tiba tiba Olga merasa risih, ia menyadari sejak tadi mata mereka bertiga memandang tubuhnya seolah olah ingin menelanjanginya. Selain itu, ia satu satunya wanita di sini, di antara 3 kuli yang salah satunya bahkan telanjang dada. Ia sudah akan mengakhiri percakapan ini, ketika Jabir bertanya, “Protes yang Non Olga maksud itu, dengan cara berpose seksi di majalah Popular?â€
Â
Olga makin merasa risih, dan berusaha menjelaskan dengan halus, “Pak, kalau yang di majalah Popular itu, menurut saya bukan pose seksi yang bersifat porno pak, tapi itu bersifat seni.†Bakri mengambil album yang sejak tadi disembunyikan di bawah tumpukan baju dan jaket, sambil menunjukkan ke Olga dia berkata, “pose seni itu, termasuk yang di buku ini non Olga?â€. Olga tersentak, jantungnya serasa berhenti berdetak melihat album yang harusnya ada di dalam koper di atas lemari itu, tak tahu harus menjawab atau berbuat apa. Melihat Olga yang hanya bisa diam, pak Jabir meneruskan, “Nggak salah juga kalau non Olga menentang RUU APP mati matian, kiranya non Olga nggak suka ya difoto seperti itu…â€. Olga menguatkan diri dan memotong kata kata pak Jabir, “Kalian ini kok bisa nggak tahu aturan gitu sih, seenaknya saja melihat lihat koleksi pribadi orang lain. Foto itu hanya untuk…â€, dan Bakrie langsung memotong, “untuk ditampilkan di majalah Playboy?â€
Â
Olga yang sudah terpojok, dengan putus asa setengah berteriak, “Kalian jangan macam macam! Kembalikan buku itu pada saya!†Berkata begitu, Olga segera berdiri dan berusaha meraih buku itu dari tangan pak Jabir, tapi kedua tangannya sudah dipegang dan ditelikung ke belakang oleh Bakrie dan Dedi. “Aduh… lepaskan saya… to..â€, Olga yang hampir berteriak minta tolong langsung tersadar dirinya dalam posisi yang tidak menguntungkan melihat pak Jabir mengeluarkan albumnya ke jendela. Sekali album itu jatuh ke bawah, entah apa yang terjadi dengan reputasinya, maka Olga hanya bisa menatap mereka dengan lemas. Pak Jabir mengerti bahwa Olga sudah tak berdaya, ia mulai melancarkan intimidasinya. “Non Olga, kami sudah melihat tubuh non Olga di dalam album ini. Tapi tentu saja lebih menyenangkan lagi kalau kami bisa melihat bentuk asli dari tubuh non Olga. Nah, non mau kan nunjukin tubuh non pada kami secara langsung di sini?â€. Berkata demikian, pak Jabir menutup album yang tadi sempat pura pura akan dilempar keluar, dan menaruhnya di meja telepon dekat jendela itu.
Â
“Tentu saja saya tak perlu menjelaskan lagi pada non Olga, bagaimana dengan album ini jika non Olga berani macam macam. Sekali saya lempar ke bawah, orang orang di sana akan dapat gempar, dan besoknya infotainment di TV tak akan ketinggalan memberitakan hal ini jugaâ€, kata pak Jabir dengan ketenangan yang tidak dibuat buat, Olga memang sudah terlihat menyadari nasibnya ada di tangan para kuli yang sekarang sedang bersiap untuk melumatnya habis babisan. Tapi Olga masih mencoba mencari celah untuk lolos dari keadaan ini. “Bapak bapak, tolonglah. Saya punya duit, kalian mau dibayar berapa?â€. Pak Jabir segera menjawab, “Kalau soal duit, itu gampang. Non memang harus bayar kami untuk tutup mulut. Tapi non juga harus tahu, kami semua ingin mencicipi servis non jugaâ€. Olga menyadari ia sudah tak punya harapan lagi, dan tertunduk lemas. “Lepaskan pegangan kalian. Non Olga, sekarang non boleh pilih. Non mau buka baju non sendiri dengan sukarela, atau kami bantuin non untuk membukanya,†kata pak Jabir. Olga yang sudah dilepaskan oleh Dedi dan Bakrie, tertunduk menggigit bibir menahan tangis, dan mulai melepasi bajunya dengan terpaksa.
Â
Kaus dan celana pendeknya sudah terjatuh ke lantai. Kini Olga hanya mengenakan bra dan celana dalam, membuat mereka bertiga tertegun memandangi tubuh Olga yang putih mulus tanpa cacat. Mereka menunggu tapi Olga tak melanjutkan melepas semuanya. Kini Olga mulai menggigil dan melipat kedua tangan memeluk dirinya sendiri, bukan karena hawa dingin AC di ruang itu, tapi selain malu yang amat sangat, ia membayangkan tubuhnya akan dinikmati oleh ketiga kuli bejat ini.
“Lho non Olga, kok pilih kasih sama yang jadi fotografer itu. kami kan juga mau liat yang ada di dalam beha dan celana dalam non.â€, kata Bakrie.
“Lagi dong†sambung Dedi
Pak Jabir menimpali, “Lanjut.. lagiâ€. Mereka bertiga bersahut sahutan seolah sedang menonton aksi striptease. Olga mulai menangis, ia tak bisa berpikir lagi apa yang harus dilakukannya. Tak ingin menunggu lebih lama lagi, mereka bertiga mulai mendekati Olga yang mundur mundur ketakutan. Olga jatuh terduduk ke sofa yang tadi memang didudukinya. Dalam kepanikannya, Olga mulai memohon, “Sudah pak.. saya mohon, jangan beginiâ€. Tapi semua itu hanya usaha yang sia sia, mana mungkin tiga orang pria yang sudah begitu bernafsu mau melepas wanita cantik menggiurkan seperti Olga?
Â
“Tenang non Olga. Pokoknya non Olga nurut saja, maka kami nggak akan berbuat kasar. Lagipula, ingat soal album tadi. Jadi sebaiknya non Olga layani kami tanpa berbuat yang macam macamâ€, kata pak Jabir dingin. Olga hampir menjerit ketika bra yang masih melekat di payudaranya ditarik ke belakang hingga kedua tangannya terangkat ke belakang, dan bersamaan dengan itu celana dalamnya juga dilorotkan hingga kini Olga sudah telanjang bulat. Mata mereka bertiga hampir copot melihat keindahan payudara dan vagina Olga yang sudah pasrah dan hanya bisa menangis. “Lho non Olga, kok nangis terus sih? Di TV katanya cuma bisa mimpi.. hahaha..â€, ejek Bakrie. Pak Jabir mendekat dan berkata, “cup cup.. non Olga jangan nangis. Sini bapak cium yaâ€. Bibir Olga dilumat oleh pak Jabir dengan penuh nafsu, sementara kedua rekan pak Jabir mulai meraba raba tubuh Olga sambil sesekali meremasi payudara yang indah itu.
Â
Bakrie yang semenjak tadi berdiri saja, kini berjongkok di antara kedua belah paha Olga. Pria itu tampak mengagumi keindahan sepasang paha yang sudah lama dikaguminya, paha itu dielus dan dijilatinya alam Olga. Kini kemaluan Olga yang di tumbuhi oleh bulu-bulu halus itu menjadi sebuah pertunjukan gratis bagi orang-orang kampung ini..
“Gila m-e-m-e-k-nya aja putih gini, wangi lagi…†ejek Bakrie
“Ya iyalah, kalo ga mana bisa jadi artis atau model†sahut Dedi.
Ejekan ini kontan membuat wajah Olga memerah, namun perasaan itu tidak berlangsung lama, salah satu jari Bakrie mulai menggelitik kemaluan Olga. Tubuh Olga mulai bergerak-gerak, belum lagi sapuan lidah di leher dan telinganya yang juga mulai meningkatkan birahinya. Jemari Bakrie makin lancar mengesek-gesek kemaluan Olga karena dibantu oleh cairan kemaluannya yang mulai keluar, terlebih lagi sesekali pria itu memijit klitorisnya sehingga makin merangsang artis cantik itu..
Â
Olga terus mendesah tertahan sambil sesekali melayani lidah Pak Jabir. Dedi yang memainkan puting susu Olga mulai menjilati benda mungil yang sensituf itu, terkadang dia menyusu sambil menggigit puting kemerahan itu. Olga pun makin hanyut dalam birahinya. Wajah Bakrie semakin terbenam pada vaginanya, tubuh Olga menggeliat ketika dirasakannya lidah pria itu mulai menyapu bibir vaginanya. Dengan rakus Bakrie menjilati vagina Olga yang sudah becek itu. Setiap sapuan lidahnya membuat darah Olga makin berdesir dan tubuhnya menggeliat. Pak Jabir yang sejak tadi berciuman dengannya juga ikut menggerayangi payudara yang satunya. Tangan kasar itu meremas-remas serta memilin-milin puting susunya sehingga semakin mengeras. Nafas Olga semakin memburu seiring dengan semakin hotnya percumbuan itu. Suara kecupan-kecupan beserta desahan tertahan terdengar dari mulut mereka yang saling beradu. Mau tak mau Olga tak dapat menyangkal lagi bahwa dirinya telah terbuai dalam perkosaan ini. Dia tidak dapat menahan sensasi nikmat pada vaginanya yang sedang dijilati Bakrie, lidah pria itu bergerak liar seperti ular menjilati dinding vagina dan klitorisnya. Olga semakin tidak tahan lagi dengan siksaan birahi ini, sepasang paha mulusnya makin mengencang mengapit kepala si Bakrie dan cairan orgasmenya mengalir deras di sela-sela vaginanya. Cairan itu segera diseruput Bakrie dengan rakusnya sehingga tubuh Olga makin menggelinjang.
Â
Pak Jabir melepaskan lumatan bibirnya setelah puas menciuminya selama sepuluh menitan, sebuah percumbuan yang cukup lama. Olga langsung bernafas tersenggal-senggal mengambil udara segar dan juga sisa orgasmenya barusan. Ketiga kuli bangunan itu menatapnya dan tersenyum puas melihat reaksi Olga yang baru saja mencapai klimaks pertamanya.
“Hehehe…gimana Non Olga ? Enak kan ?†ejek Pak Jabir.
“Non kerangsang juga yah, gile sampe becek gini !†sahut Bakrie di antara kedua pahanya yang baru menegakkan kepala.
“Gimana Krie rasanya ?†tanya Dedi pada temannya.
“Wuihh…enak tenan, pejunya artis, gurih banget deh !†komentar pria itu.
Wajah Olga memerah dan kupingnya terasa panas mendengar kata-kata mereka yang tak senonoh itu, namun disisi lain dirinya juga sangat menikmati percumbuan dan orgasme barusan. Pak Jabir menyuruh kedua anak buahnya membereskan meja ruang tamu dan mereka segera menyingkirkan gelas-gelas bekas minum tadi dan sebuah pot bunga kecil diatasnya.
“Aah…mau apa Pak ?†tanya Olga ketika si mandor itu mengangkat tubuhnya.
“Santai aja Non, cuma mindahin aja supaya lega†jawabnya santai
Tubuh telanjang Olga kini diletakkan diatas meja ruang tamu dari bahan fiber itu dengan kaki terjuntai ke bawah. Ketiga kuli itu berdiri mengelilinginya dan menatapnya dengan pandangan lapar. Olga kini bagaikan sebuah makanan nikmat yang siap disantap bulat-bulat. Mereka lalu mulai membuka pakaiannya masing-masing sampai bugil. Olga terhenyak melihat alat vital mereka yang rata-rata besar dan hitam. Rasanya sudah lemas dulu membayangkan ketiga batang itu mengaduk-aduk vaginanya.
Â
Pak Jabir mengambil posisi diantara kedua pahanya, kemudian ia berlutut dan membenamkan wajahnya pada selangkangan Olga sama seperti bawahannya tadi. Tubuh Olga pun kembali menggeliat karena lidah pria itu segera menjilati vaginanya dan libidonya pun naik lagi. Jurus menjilat Pak Jabir lebih lihai daripada Bakrie tadi, ia membuka bibir vagina Olga dengan kedua jarinya sehingga lidahnya dapat menjelajah lebih leluasa dan menyentil-nyentil klitorisnya. Dedi berdiri disamping kepalanya sambil menyodorkan penis yang telah tegang itu ke wajahnya.
“Ayo sepongin Non†perintahnya sambil menepakan penis-nya ke wajah Olga.
“Ga mau Pak, saya belum pernah†iba Olga, jijik sekali baginya kalau harus mengulum
penis bau itu, mana hitam dan kepalanya memerah lagi.
“Oh jadi mau ya albumnya kita lempar ke bawah sana terus diliat orang-orang ?†ancam Dedi yang makin tak sabar.
“Aaah, jangan Pak, baa…baaik dech saya mau†jawab Olga ketakutan.
Dengan gemetaran, Olga meraih penis Dedi, dengan ragu-ragu dia mulai membuka mulutnya dan mulai memasukan penis itu kemulutnya. Belum sempat penis itu masuk kemulutnya, Dedi yang sudah birahi tinggi menyodokan penisnya ke mulut Olga yang membuatnya kalang kabut
“Mmmmph!†setelah beberapa detik baru Olga dapat menyesuaikan dirinya dengan benda asing dimulutnya.
Penis itu sungguh menyesakkan baginya belum lagi baunya yang tidak sedap itu. Olga terpaksa memaju-mundurkan kepalanya yang ditahan oleh Dedi, setidaknya dengan demikian sedikit lebih lega.
Â
“Wuuuiihh…asyik banget nih sepongannya, baru pernah gua disepong artis, mimpi apa gua semalem†gumam Dedi sambil merem-melek keenakan.
“Makannya jangan cuma BBM, baru bisa mimpi !†timpal Bakrie yang penisnya sedang dikocok dengan tangan Olga.
Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar komentar Bakrie yang menirukan slogan yang biasa diucapkan Olga dalam Republik Mimpi, sebuah program televisi yang dipandunya. Pak Jabir tidak berlama-lama menjilati vagina Olga, baru lima menit saja dia sudah bangkit dan menyangkutkan kedua betis Olga ke bahunya yang lebar sambil mengarahkan penisnya ke vagina model cantik berusia 31 tahun itu.
“Pak, pelan-pelan, jangan kasar dong†pintanya melepas sebentar penis Dedi dari mulutnya.
“Tenang aja Non, yang penting enak kan†jawab Pak Jabir yang disambut tawa mereka.
Perlahan-lahan mandor itu mulai menancapkan penisnya pada vagina Olga, lumayan sulit karena vagina Olga, walau sudah tidak perawan, terlalu sempit untuk menerima penis sebesar itu. Selama proses penetrasi itu baik Pak Jabir maupun Olga mengerang-ngerang merasakan alat kelamin mereka beradu dan saling bergesekan. Dedi dan Bakrie tertawa-tawa dan menyoraki menyaksikan prosesi ‘pencoblosan’ itu.
“Uuiii…seret banget, m-e-m-e-knya artis emang beda !†kata Pak Jabir ketika penisnya menancap setengahnya.
Kemudian pria itu mendorong-dorongkan penis itu agar semakin dalam memasuki vagina Olga. Model cantik itu mengerang panjang ketika Pak Jabir menyodokkan penisnya hingga menyentuh g-spot nya.
Â
“Asyik ya Pak n-g-e-n-t-o-tin sama terkenal ?†tanya Bakrie
“Iya, aaahhh, enak banget…jauh lebih enak dari lonte-lonte di kampung†jawab Pak Jabir sambil terus menggenjot.
Cemoohan itu membuat wajah Olga makin memerah, masa dia dibandingkan dengan lonte kampung, namun dia mulai tidak perduli, kini ia terkonsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaannya secepatnya. Dia masih harus mengoral penis Dedi dan mengocoki si Bakrie. Tak lama kemudian Bakrie minta giliran dioral karena sudah ngiler melihat reaksi temannya yang demikian menikmati sepongan Olga.
“Gantian bentar dong Ded, kayanya enak banget tuh, ayo Non gantian†katanya seraya menjenggut rambut Olga dan menghadapkan wajahnya pada penisnya, “yuk, isep yang enak, jangan dia doang dong !â€
Olga pun kini melayani penis Bakrie yang ukurannya lebih pendek sedikit dari Dedi sehingga Olga sedikit bersyukur karenanya. Pada saat itu tubuhnya terguncang hebat akibat sentakan-sentakan Pak Jabir.
“Mmmm…mmhhh…eennggg !†di tengah oral seks ia tak sanggup menahan desahannya.
Mandor itu semakin liar menyodoki vaginanya dengan penisnya, semakin lama vagina Olga semakin basah sehingga batang itu semakin lancar keluar masuk di liang itu. Sesekali Pak Jabir menjilati kakinya yang mulus yang disangkutkan di bahunya, hal itu memberikan sensasi geli pada Olga. Ia semakin tak berdaya terhadap mereka yang menjarahi tubuhnya dengan liar, ia bahkan telah hanyut dan menikmatinya walau itu diluar kehendaknya.
Â
Dedi melepaskan tangan Olga yang sedang mengocok penisnya karena tidak ingin buru-buru keluar. Ia lebih memilih menikmati kemolekan tubuh model cantik itu sambil menunggu Pak Jabir selesai menggarapnya. Pria berkumis tipis itu berlutut di samping tubuh Olga, mulutnya mendekat dan mulai menjilati payudara wanita itu. Darah Olga semakin berdesir karena sapuan dan sentilan lidah Dedi pada payudaranya. Setelah menyusu sebentar, dikecupi dan dijilatinya lekuk-lekuk tubuh Olga yang indah itu sambil tangannya meraba-raba bagian pinggul dan pahanya yang kencang dan berkulit halus.
“Uuhhh…asyik Non iya…iyahhh…isep terus, ntar keluar telan yah !†nampak si Bakrie makin berkelejotan menikmati penisnya dioral.
Ia menggerakkan pinggulnya seolah seperti menyetubuhi mulut wanita itu karena sebentar lagi akan mencapai klimaks. Olga sebenarnya kelabakan atas perlakuannya itu, berkali-kali wajahnya terbenam di selangkangan pria itu yang berbulu lebat dan berkali-kali pula kepala penis itu menyentuh tenggorokannya, namun karena kepalanya dipegangi oleh pria itu, ia pun hanya bisa pasrah saja.
“Aaarrggghhh !†pria itu mengerang dan menumpahkan spermanya di mulut Olga.
Cairan putih kental itu sebagian tertelan olehnya sedangkan sisanya meleleh keluar di pinggir bibirnya. Aromanya begitu menusuk sehingga ia buru-buru menelan cairan itu agar tidak terlalu berasa. Semburan sperma itu mulai berkurang seiring penis Bakrie yang menyusut di mulut Olga. Setelahnya, pria itu masih memintanya menjilati penis itu hingga bersih.
Â
Lima menitan kemudian, giliran Pak Jabir berejakulasi, dia menekan-nekan penisnya lebih dalam sambil mulutnya menceracau.
“Uuhhh…eeennghh !†lenguh pria itu seperti kerbau liar, kedua tangannya makin erat mencengkram betis Olga.
“Oohhh…oohh…sudah, jangan…aaahh !†Olga juga mendesah tak karuan karena ia juga merasakan gelombang birahinya meledak.
Olga pun kembali mencapai puncak, cairan kewanitaannya meleleh semakin membasahi vaginanya. Tubuhnya mengejang dan menekuk ke atas tak terkendali. Namun itu semua belum selesai karena Pak Jabir masih terus menyetubuhinya sampai dua-tiga menit ke depan. Akhirnya barulah si mandor itu orgasme dan menyemburkan lahar hangatnya di dalam vagina Olga. Frekuensi genjotannya menurun dan akhirnya berhenti lalu penis itu tercabut dari vaginanya, nampak lelehan sperma bercampur cairan kewanitaan membasahi selangkangan wanita cantik itu begitu penis itu terlepas.
“Liat nih si Non Olga Lydia, tadi sok jual mahal gak taunya enjoy juga main sama kita-kita†ejek Dedi yang duduk di sampingnya sambil meremas payudaranya.
“Lu liat ga Ded tadi, gua ngecrot di mulutnya, di mulut artis, gile ga kebayang bisa dapet kesempatan gini hehehe !†kata Bakrie dengan bangga.
Pak Jabir yang baru orgasme tidak berkomentar apa-apa, ia hanya terduduk di sofa dengan lemas dan nafas terengah-engah, sebuah senyum puas tersungging di wajahnya.
Â
Sementara Olga yang sudah mulai pulih dari orgasmenya merasa dirinya sudah hancur, tidak pernah disangka olehnya dirinya akan menjadi objek pemerkosaan kuli-kuli bangunan seperti mereka. Kata-kata tak senonoh yang terlontar dari mulut mereka membuat kupingnya panas, namun ia tidak bisa memungkiri bahwa ia juga menikmatinya. Olga pun menangis tersedu-sedu mengingat penderitaan yang dialaminya, ia menyalahkan diri sendiri karena kalau tahu begini album koleksi pribadi itu dia simpan di tempat lain yang lebih tersembunyi dan juga sangat kesal pada mereka yang berani lancang mengoprek barang pribadinya.
“Hayo Non Olga, sekarang sama saya, jangan nangis melulu !†Dedi meraih bahunya.
Pria itu duduk di kursi panjang dan menepuk kedua pahanya sebagai tanda menyuruh Olga naik ke pangkuannya. Dengan terpaksa, Olga pun turun dari meja ruang tamu dan mendekati pria itu. Ia naik ke pangkuan Dedi dengan posisi berhadapan, Dedi menggenggam penisnya dan mengarahkan ke vagina Olga. Dibimbingnya Olga menaiki penisnya hingga vagina wanita itu menelan penisnya.
“Nnggghh…aaahhh Bang !†lenguh Olga saat penis itu tertancap makin dalam.
Cairan yang membasahi selangkangannya berfungsi sebagai pelumas yang memperlancar masuknya penis Dedi yang besar dan berurat itu. Olga menggeliat dan matanya terpejam merasakan penis itu tertanam seluruhnya pada vaginanya, rasanya sesak sekali dan juga sangat keras. Sensasi nikmat menjalari tubuhnya ketika Dedi mulai menggerakkan pinggulnya perlahan sehingga penisnya bergesekan dengan dinding vaginanya.
Â
Sambil menggenjot, tangan Dedi menggerayangi tubuh Olga mulai dari punggung, pantat, payudara, dan paha.
“Wah…wah, mulus banget Non, bikin gemes aja†puji Dedi sambil menghirup tubuhnya.
“Aakkhh…sakit Bang, jangan keras gitu dong !†rintih Olga karena kedua buah dadanya diremas dengan brutal.
Mulut pria itu juga tak henti-hentinya menjilat dan mencupangi payudaranya yang montok itu hingga meninggalkan jejak ludah dan bekas-bekas cupangan. Dirangsang sedemikian rupa, Olga semakin tak bisa mengendalikan dirinya. Ketika Dedi tidak lagi menyentakkan pinggulnya, Olga menggerakkan sendiri pinggulnya mencari kenikmatannya. Tak lama kemudian tubuh Olga berkelejotan, otot betis dan pahanya mengejang, nafasnya semakin memburu sambil terus merintih keras dan panjang. Setelah mencapai klimaks tubuhnya kembali lemas di pelukan Dedi yang tersenyum puas karena telah berhasil menaklukan sang model cantik itu. Kedua rekan Dedi yang sedang duduk beristirahat juga tertawa dan mengejek melihat adegan itu.
“Weleh, hot banget Non goyangannya, ketagihan nih ceritanya ? Kenapa ga jadi artis bokep aja Non, pasti laku keras deh !†sahut Pak Jabir
“Non Olga ternyata suka ngebor juga, si Inul aja kalah hot hahaha !†timpal Bakrie.
“Asyik kan Non, n-g-e-n-t-o-t sama saya, enak ga ?†tanya Dedi masih yang menaik-turunkan pinggulnya dengan perlahan. “liat tuh Non dibawah sana, banjir gituâ€
Olga terdiam lemas tidak bisa berkata apa-apa menanggapi cemoohan mereka yang melecehkan harga dirinya itu. Tubuhnya sudah basah oleh keringat dan tulang-tulangnya seperti mau copot karena lelahnya.
Â
“Gimana rasanya Non, jawab dong !†kata Dedi sambil terus menyentak pinggulnya menyodoki vagina Olga.
“Ampun Bang…iya enak, tapi tolong udah dong†kata Olga dengan lemas dan mengiba.
“Ded ke kamar aja, lebih lega, gua masih belum nyicipin m-e-m-e-knya nih !†ajak Bakrie.
“Ayo aja, sekalian rasain enaknya seranjang sama artis hehe†Dedi mengiyakan, “yuk Non kita ke kamar Non, pegangan yang benar yah, jangan nyalahin kalau tar jatohâ€
Olga dengan pasrah menuruti apa kata tukang bangunan itu, ia memeluknya dengan erat dan sepasang kakinya melingkari pinggangnya. Setelah mengumpulkan tenaga, Dedi berdiri sambil mengangkat tubuh Olga yang memeluknya, penisnya masih tertancap pada vaginanya. Bagi seorang yang terbiasa dengan kerja kasar seperti Dedi, tidak terlalu sulit mengangkatnya. Pria itu menopang tubuh Olga dengan memegang kedua pantatnya sambil berjalan dengan hati-hati menuju ke kamar. Sambil berjalan sesekali Dedi menyentakkan pinggulnya sehingga membuat Olga mendesah nikmat.
“Wei, ati-ati lo, gituan sambil jalan kalo jatuh patah tulang nyaho deh†goda Bakrie
Merekapun tiba di kamar Olga yang tertata rapi dan beraroma pengharum ruangan yang sedap. Dedi membaringkan tubuh Olga di atas ranjangnya dengan hati-hati, dia sendiri berlutut diantara kedua paha mulus itu. Setelah itu dia melanjutkan genjotannya dengan lebih bernafsu, Olga mengerang sambil meremasi sprei di bawahnya. Kedua kuli lainnya mengerubutinya dan tangan-tangan kasar mereka menjamahi lekuk-lekuk tubuhnya yang indah. Pak Jabir dengan gemas melihat payudara Olga yang bergoyang-goyang langsung melumat dan me
ggigiti puting yang sudah mengeras itu. Olga merintih sambil menjambak rambut pria itu, gigitan pria itu menimbulkan rasa nyeri bercampur nikmat baginya. Pada saat yang sama Bakrie melumat bibirnya sehingga mau tak mau Olga harus melayani permainan lidah pria itu.
Â
Kira-kira sepuluh menit kemudian Dedi sudah akan ejakulasi, terlihat dari genjotannya yang makin ganas dan lenguhannya. Tubuh Olga ikut terguncang dengan hebat karena sodokan-sodokan kerasnya. Dengan satu hentakan keras disertai erangan panjang Dedi menyemprotkan spermanya di dalam vagina Olga. Mata Olga pun merem-melek menahan nikmatnya semburan cairan hangat itu di dalam vaginanya. Genjotan Dedi berhenti dan penisnya yang masih belum dicabut mulai menyusut, dia bernafas ngos-ngosan sambil berpegangan pada kedua betis wanita itu yang terangkat ke atas.
“Hhhsshh…hhhh…uenaknya, m-e-m-e-k artis emang top†kata Dedi yang nampak puas.
Lidah Pak Jabir menari-nari di leher Olga, wajah cantiknya perlahan tampak sayu menikmatinya. Namun ia tetap malu mengakuinya, bagaimana mungkin dia bisa menikmati diperlakukan begini oleh tiga orang yang lebih rendah status sosialnya dibanding dirinya.
“Udah kan Ded ? misi dulu dong, sekarang gua, udah kebelet pengen nyicipin punya Non Olga, tiap nonton Republik Mimpi gua udah ngidam nih†Bakrie menyuruh temannya menyingkir untuk mendapat jatahnya.
Bakrie membalik tubuh Olga dan menunggingkan pantatnya hingga Olga bertumpu pada kedua lutut dan telapak tangannya. Tanpa buang waktu lagi ia langsung menekan penisnya membelah vagina Olga. Penis itu mulai memompa vaginanya, terdengar bunyi berdecak dan tepukan setiap kali pria itu menyodok penisnya. Goyangan mereka semakin cepat, nampak payudara Olga yang menggantung itu terayun-ayun.
Â
Pak Jabir berlutut di hadapan Olga, ia menjenggut rambutnya sehingga kepalanya terangkat. Sebatang penis hitam yang basah itu telah mengacung ke arah wajahnya begitu wajahnya terangkat. Mandor itu menjejali mulut Olga dengan penisnya sebelum wanita itu sempat protes.
“Mmmm..mmmhh !†nampak Olga kelabakan ketika penis itu dimasukkan secara paksa ke mulutnya, baunya yang tidak enak itu menambah deritanya.
“Jilat Non, mainin lidahnya, uuuhh…ya gitu !†kata Pak Jabir sambil memegangi kepalanya.
Susah payah Olga menggerakkan lidahnya mengelilingi kepala penis yang seperti jamur itu, ia merasakan ada sedikit asin ketika lidahnya menyentuh lubang kencingnya, sempat terasa jijik memang, tapi di tengah keroyokan seperti ini ia tidak sempat berlama-lama memikirkan hal itu. Di belakangnya Bakrie terus menghela tubuhnya seperti menunggang kuda. Payudaranya pun tidak luput dari tangan Bakrie dan Dedi yang sedang mengistirahatkan penisnya. Putingnya ditarik-tarik, dipencet atau dipelintir memberi sensasi nikmat yang luar biasa walau di luar kehendaknya. Dua penis perkasa memompanya dari dua arah berlawanan membuatnya pasrah tanpa bisa melawan. Cairan hasil persetubuhan di sekitar selangkangannya sudah meluber kemana-mana dan meleleh di pahanya yang mulus. Syukur bagi Olga, Pak Jabir tidak berlama-lama menyetubuhi mulutnya, 6-7 menit saja pria itu sudah mengubah posisi dengan duduk berselonjor dan bersandar pada kepala ranjang, pegangannya pada kepala Olga juga mengendur. Kali ini dia memerintahkan agar Olga yang memanjakan penisnya sementara dia sendiri menikmati dengan santai.
Â
“Eeehhmm…sedap!†Pak Jabir mendesah nikmat ketika jari-jari lentik Olga menggenggam penisnya, lidahnya menyapu kepala penisnya yang memerah itu.
Olga setidaknya merasa lega karena dengan begini ia bisa mengambil nafas setelah setelah mulutnya disenggamai setengah mati sampai bernafas pun sulit. Ia kini berusaha agar Pak Jabir puas dengan pelayanan tangan dan mulutnya agar tidak menyetubuhi mulutnya seperti tadi lagi. Tusukan-tusukan pada vaginanya dan rangsangan dari tangan-tangan yang menggerayangi tubuhnya membuatnya larut dalam birahi dan tidak malu-malu lagi menunaikan tugasnya melayani penis si mandor. Tak lama kemudian penis di dalam mulutnya itu semakin berdenyut-denyut, Pak Jabir menahan kepala Olga sehingga ia mulutnya kembali dipenuhi penis.
“Uuuuhh !†erang Pak Jabir sambil memuntahkan spermanya dalam mulut Olga.
Sperma si mandor ini sangat kental dan aromanya lebih menusuk daripada milik si Bakrie tadi. Olga hampis saja memuntahkan cairah itu tapi pria itu tidak melepas kepalanya sehingga mau tidak mau ia harus menelan cairan itu. Baru setelah batang itu menyusut dan tidak menyemburkan sperma lagi Pak Jabir melepaskan kepalanya. Olga langsung terbatuk-batuk dan mengambil nafas, sementara di belakangnya Bakrie masih menyetubuhinya, kuat sekali staminanya, ada mungkin setengah jam ia memacu tubuhnya. Akhirnya kurang dari lima menit setelah diberi minum sperma oleh Pak Jabir, barulah pria berambut cepak itu mencabut penisnya. Dia buru-buru menuju ke dekat kepala Olga dan menyelipkan tangannya ke bawah kepala serta mengangkatnya.
“Buka mulutnya Non !†perintahnya sambil satu tangannya mengocok penisnya.
Dan cret…cret…penis itu menembakkan isinya dan mengenai wajah cantik Olga sebelum ia sempat membuka mulut karena masih lelah.
Â
Banyak sekali sperma Bakrie yang muncrat membasahi wajah Olga, setelah berhenti ia masih menyuruh Olga membersihkan penisnya dengan lidah. Mereka tertawa-tawa mengejek melihat Olga yang sudah tak berdaya dan takluk itu.
“Ini Non, ayo dijilat, biar ga mubazir!†perintah Bakrie setelah mencolek sperma di pipi Olga dan menyodorkan jari itu di depan mulutnya..
Jijik sekali rasanya ketika dia diperintahkan seperti itu, apalagi jemari Bakrie kini tinggal beberapa centi di depan mulutnya. Dengan terpaksa dan rasa takut Olga mulai membuka mulutnya, dan memasukan jemari bersperma Bakrie itu ke mulutnya. “Mmmm…!†dengan rasa jijik yang ditahannya, Olga mulai menjilati jemari itu sampai bersih.
“Enak kan Non ? gurih begitu†ujar Bakrie.
“Uiii…Non Olga demen minum peju juga yah !†sahut Dedi disambut gelak tawa teman-temannya.
Mereka beristirahat sekitar lima menitan, selama itu tangan mereka tidak pernah absent mencolek atau menjamahi tubuh Olga yang sudah basah oleh keringat, kata-kata tidak senonoh juga terlontar dari mulut mereka, namun ia sudah pasrah, harga diri apa lagi yang perlu dipertahankan toh baru saja direnggut mereka. Setelah cukup istirahat Dedi berbaring dan meraih lengan Olga menyuruhnya naik ke penisnya.
“Naik sini Non, saya demen banget sama goyangan Non, jadi ketagihan nih !†suruhnya.
Tanpa harus diperintah lagi, Olga meraih penis yang sudah tegak itu lalu mengarahkannya ke vaginanya. Perlahan-lahan ia turunkan tubuhnya hingga penis itu melesak masuk membelah bibir vaginanya sambil mengeluarkan desahan dari mulutnya. Mulailah ia menaik turunkan tubuhnya disana, matanya terpejam dengan wajah menengadah ke atas, payudaranya diremas oleh pria itu.
Â
Olga menggerakkan sendiri tubuhnya mengikuti birahi yang membara dalam dirinya. Kemudian ia merasakan sepasang tangan kekar mendekapnya dari belakang meraih payudaranya, sebuah ciuman mendarat di lehernya.
“Sori ganggu bentar nih, numpang nyoblos yah, kan masih ada satu lubang lagi !†kata Pak Jabir yang memeluknya dari belakang itu.
Olga langsung merinding mendengar kata-kata si mandor, satu lubang lagi ? berarti dia bermaksud bermain belakang, tidak…pasti rasanya sakit sekali, seumur-umur ia belum pernah merasakan bagian itu ditusuk apalagi oleh penis yang besar seperti itu.
“Nggak Pak, tolong jangan disitu….saya ga mau !†Olga memohon dengan terbata-bata ketika pria itu mendorong tubuhnya ke depan sehingga pantatnya nungging.
Dedi yang berbaring telentang di bawahnya langsung mendekap punggungnya ketika ia meronta.
“Kenapa ngga mau Non ? Asik kok, sakitnya cuma sebentar†kata Pak Jabir santai sambil mengarahkan penisnya dubur Olga.
“Tidak, aahh…aduh, pelan-pelan Pak, aahhh !†rintih Olga merasakan benda tumpul menekan anusnya memaksa masuk.
“Ini juga udah pelan-pelan non, santai aja†kata Pak Jabir.
Olga cuma bisa meringis dan merintih menahan nyeri dalam dekapan Dedi. Nyerinya tak tertahankan sampai air matanya keluar. Setelah tarik-dorong berapa saat akhirnya penis itu masuk juga ke pantatnya. Ia merasakan dua lubang dibawahnya penuh sesak, rasa sakit dari pantatnya masih terasa sehingga ia menangis menumpahkan deritanya.
Â
Olga sedang dalam posisi disandwitch oleh kedua buruh bangunan itu, mereka mulai memacu tubuhnya. Desahan Olga bercampur isak tangisnya memenuhi kamar ini, ia tak pernah menyangka akan mengalami pemerkosaan brutal seperti ini gara-gara album foto itu. Namun bila dipikir lebih jauh diperlakukan seperti ini baginya jauh lebih baik daripada kalau album itu dilempar ke bawah dan ditemukan orang-orang lalu menjadi berita panas di infotainment atau tabloid gosip, reputasinya akan hancur dimata seluruh rakyat dan kalau sudah begitu bunuh diri pun malah akan semakin menghancurkan namanya. Daripada menanggung semua akibat mengerikan itu terpaksa Olga merelakan diri dikerjai habis-habisan oleh mereka. Ia mencapai klimaks lagi ditengah genjotan kedua orang itu, namun mereka terus menyetubuhinya tanpa mempedulikannya. Kini ditambah lagi Bakrie yang maju dan menodongkan senjatanya di wajah Olga. Begitu wanita itu membuka mulut, Bakrie langsung menjejalinya dengan penis. Air matanya terus mengalir selama disetubuhi tiga arah itu. Pak Jabir meledak lebih dulu di anusnya, mungkin karena sempitnya. Setelah menumpahkan spermanya ia pun mencabut penisnya sambil mendesah nikmat. Dengan mundurnya Pak Jabir, Dedi lebih leluasa menggarap tubuhnya, ia berguling ke samping hingga tubuhnya berada di atas Olga lalu mencabut penisnya dan naik ke dada wanita itu. Ia meletakkan penisnya di antara payudara Olga lalu menjepitnya dengan kedua gunung itu. Nampak wajah Olga meringis lagi merasakan remasan pada dadanya. Pria itu lalu memaju-mundurkan penisnya diantara himpitan payudara itu. Pada saat yang sama Olga juga menggerakkan tangannya mengocok penis Bakrie yang berlutut di sebelah kepalanya, ia mengocoknya dengan cepat dengan harapan pria itu segera menyudahi aksinya.
Â
Dedi akhirnya orgasme di dada Olga, ketika keluar ia meremas kedua payudara Olga kuat-kuat sehingga membuatnya merintih kesakitan. Spermanya tumpah kemana-mana mengenai wajah, leher dan dadanya. Disusul tak lama kemudian Bakrie juga orgasme oleh kocokan tangan Olga, spermanya menyemprot di wajah model cantik itu sehingga membuatnya semakin basah, sebagian mengenai rambutnya. Mereka semua ambruk kelelahan, suara nafas yang ngos-ngosan terdengar bersamaan dengan hembusan AC. Olga telah luluh lantak, rambutnya kusut berantakan, tubuhnya bersimbah peluh dan ceceran sperma, vagina dan anusnya rasanya panas sekali. Ia mendengarkan obrolan ketiganya dengan sesama mereka dan juga komentar cabul terhadap dirinya.
“Puas banget gua malem ini biar nih badan pegel-pegel !†kata Bakrie
“Iya tuh musti dipuas-puasin kapan lagi coba n-g-e-n-t-o-tin artis kaya gini†Pak Jabir menimpali.
“Gak nyangka yah bisa asik gini, ini sih bukan BBM namanya, tapi BCM†kata Dedi.
“BCM ? apa tuh ?†tanya teman-temannya.
“Bukan Cuma Mimpi†jawabnya lalu mereka tertawa-tawa, “ya gak Non hehehe†tangannya meraba dada Olga sambil iseng meratakan ceceran sperma disitu.
Olga hanya diam saja karena untuk bersuara pun ia masih terlalu lelah, suaranya seakan telah habis untuk mendesah dan menjerit ketika orgasme tadi.
Â
Pak Jabir keluar dari kamar lalu ia masuk lagi tak lama kemudian sambil membawa segelas air. Ia menyelipkan tangan ke bawah punggung Olga lalu menegakkan badannya, gelas itu ditempelkannya ke bibir wanita itu dan menyuruhnya minum. Cukup pengertian juga pria setengah baya itu. Olga langsung meneguk air di gelas itu sampai habis, air itu sungguh menyejukkan tenggorokannya yang telah kering serta memberi sedikit tenaga pada tubuhnya.
“Kasian si Non Olga jadi acak-acakan gitu, kita mandiin aja yuk !†ajak Bakrie sambil cengengesan.
“Boleh juga tuh, sekalian kita juga mandi, gerah nih udah keringetan gini, jadi bisa mandi bareng artis juga kan†Dedi menyambut girang ajakan itu.
“Oh God, please jangan lagi†keluh Olga dalam hatinya, ia membayangkan akan dibantai lagi di kamar mandi bila mandi bareng mereka.
“Aduh udah dong, saya udah ga kuat lagi saya mohon†katanya dengan suara lemas ketika Dedi memapah tubuhnya hendak menurunkan dari ranjang.
“Mandi doang Non biar seger, biar Non tidurnya juga enak†kata Pak Jabir menenangkan.
“Bener Non, kita kan tanggung jawab, udah bikin Non berantakan gini masa ga dibersihin lagi hehehe !†goda si Bakrie.
Di kamar mandi Bakrie meletakkan tubuh Olga yang masih lemas itu di atas lantai marmer putih bermotif flora dengan posisi duduk bersandar ke tembok. Pak Jabir menyalakan kran shower dan mengatur suhunya sehingga air hangat menyiram Olga hingga basah. Guyuran air yang segar itu membuat kepenatan tubuhnya berkurang, ia menggerakkan tangan menyeka wajahnya yang lengket oleh sperma.
Â
Olga tidak peduli lagi ketiga pasang mata mereka sedang memandangi tubuhnya yang sudah basah. Pak Jabir mengulurkan tangannya membantunya berdiri,
“Yuk Non, Non ga usah repot-repot kok, biar kita aja yang mandiin, kan Non juga masih cape†katanya.
Ia mengangkat wajah memandang pria itu, sungguh seksi dan menggairahkan sekali ia dalam keadaan basah seperti itu, dengan ragu diangkatnya tangan membalas uluran tangan mandor itu. Kemudian ia mengangkat tubuhnya perlahan-lahan dengan tenaga yang mulai pulih, punggungnya masih bersandar ke tembok karena belum cukup tenaga untuk menopang tubuhnya dengan kedua kaki. Mandor itu berdiri di hadapannya dan kedua bawahannya di samping kiri dan kanannya, semua mata memandangnya, Olga tidak tahu lagi apa yang akan terjadi, sudah terlalu lelah untuk memikirkan semuanya. Pak Jabir mengambil botol sabun cair dari rak disampingnya dan ditumpahkannya cairan kental berwarna pink ke tubuhnya.
“Ayo bersihin !†perintahnya.
Segera tangan-tangan mereka menggosoki tubuhnya, mereka meratakan sabun cair itu ke seluruh tubuhnya hingga licin berbusa. Mereka jadi begitu lembut sekarang, beda sekali dengan beberapa saat lalu yang begitu brutal menggangbangnya. Elusan-elusan mereka ditambah lagi lembutnya busa sabun, membuat Olga merasa rileks dan terbuai.
Â
“Album saya Pak, tolong kembaliin yah !†pinta Olga pada Pak Jabir yang kebagian tugas menyabuni wajah dan payudaranya.
“Nanti Non, seudah renovasi selesai pasti saya kembaliin, saya sumpah kok†jawab Pak Jabir sambil menggosok memutar sepasang payudaranya.
“Please Pak, kembaliin sekarang juga, saya gak mau kalau sampai ketauan orang lain lagi†suaranya makin memelas.
“Tenang aja Non, pasti saya simpan baik-baik sampai dikembaliin nanti, dijamin gak ada seorangpun yang bakal nyentuh tuh album†Pak Dahlan memencet putingnya hingga ia mendesis.
“Iya Non tenang aja, kita juga ga mau kena perkara kalau sampai albumnya bocor lagi, pasti kita jaga baik-baik kok†Bakrie yang sedang mengkramas rambutnya dari belakang menambahkan.
“Kita simpan dulu biar kita bisa sama-sama senang, tul ga Non Olga ?†Dedi yang sedang jongkok menyabuni daerah paha dan kemaluannya ikut nimbrung.
“Sama-sama seneng apanya, dasar tengik !†maki Olga dalam hati.
Olga menghela nafas panjang, ia hanya bisa berharap kuli-kuli bejat ini menepati janjinya seusai renovasi nanti, masa ia selamanya jadi budak orang-orang seperti mereka. Ia tidak bisa menahan desahannya ketika jari Dedi mengorek vaginanya.
“Biar bersih Non hehehe†katanya dengan senyum memuakkan.
Usai menyabuni dan mengkramas Olga mereka kembali mengarahkan shower ke tubuhnya untuk membilasnya.
Â
Mereka lalu membasuh diri mereka sendiri, kecuali satu, si Dedi, ia masih saja berjongkok dan mengobok-obok vagina Olga.
“Aahh…udah Bang, jangan gitu lagi !†Olga hanya bisa mendesah sambil mendorong-dorong kepala pria itu.
“Wei, belum cukup juga apa, besok kita masih harus kerja, simpen tenaga dong !†tegor mandor itu sambil menoel kepala Dedi.
“Sabar dikit Pak, saya tadi kan belum sempat nyicipin sininya Non Olga, cuma jilat-jilat dikit aja kok, boleh kan Non ?†jawabnya seraya mengangkat paha kanan Olga ke bahunya, tanpa menunggu diiyakan ia membenamkan wajahnya ke kemaluan Olga yang baru dicuci bersih.
Lidah Dedi bergerak liar menjilati bibir vagina dan dinding bagian dalamnya sehingga wanita itu tidak tahan untuk tidak mendesah. Kali ini dia bermain gentle, sambil menjilat tangannya membelai-belai paha, pinggul dan payudaranya. Kelembutan ini membuat Olga yang baru saja dikasari tadi serasa mendapat air di setelah berhari-hari di gurun.
“Aaahh !†akhirnya ia kembali mengeluarkan cairan kewanitaanya.
Dedi langsung mengisapinya dengan rakus. Olga menggelinjang menahan nikmat dan geli karena lidah Dedi terus mengais-ngais seolah tak pernah puas. Akhirnya pria itu menurunkan pahanya dan bangkit. Baru sekarang ia membasuh tubuhnya, dengan buru-buru ia menyabuni diri lalu membilasnya sementara teman-temannya saat itu sudah mengelap tubuh masing-masing.
Â
Akhirnya ketiga kuli bangunan itu telah berpakaian kembali dan membereskan peralatan mereka. Mereka pamitan pada Olga yang hanya memakai handuk kuning yang dililit di tubuhnya, satu-satunya handuk yang tergantung di gantungan baju kamar mandinya. Dengan langkah gontai ia mengantar mereka ke pintu, ia hanya membukakan pintu setengah sambil sembunyi di baliknya karena hanya memakai handuk. Mereka pamitan dengan mengecup bibirnya atau menyentuh tubuhnya sebelum keluar. Orang terakhir, si Bakrie bahkan lebih kurang ajar, sebelum keluar ia dengan sengaja menarik handuk yang melilit di tubuhnya lalu membuka pintu lebar-lebar, kontan Olga pun menjerit kecil sambil menutupi tubuh dengan tangan, mereka malah tertawa-tawa melihatnya.
“Tenang, sepi kok Non, ga ada wartawan !†ejek Bakrie sambil melemparkan kembali handuk itu padanya.
Ia menutup pintu dengan kesal, tidak dibanting karena takutnya memancing perhatian tetangga. Dalam hatinya berkecamuk perasaan marah dan sedih, di kamarnya ia langsung menjatuhkan diri ke ranjang tanpa memakai baju. Disana ia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk bantal, kepenatannya membuatnya tertidur dengan posisi demikian, tengkurap dengan memeluk bantal. Ia baru bangun keesokan harinya ketika matahari masuk ke jendela kamarnya yang tirainya belum sempat ditutup. Ia berharap baru bangun dari mimpi buruk, namun ternyata tidak, semua nyata, ranjang itu masih berantakan spreinya kusut sana sini bekas pergumulan kemarin, bekas-bekas cupangan masih membekas di tubuhnya. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih, untung hari ini Jumat dan tidak masuk pagi. Kemudian terdengarlah bel berbunyi tanda ada tamu.
“Ya, siapa ?†tanyanya lewat speaker sebelum mempersilakan masuk.
“Kita Non, kangen gak ?†kata suara di seberang sana dengan nada ceria.
Olga langsung lemas mendengar suara yang tak asing itu, penderitaannya akan segera dimulai lagi.

