Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Saturday, January 26, 2013

Aku Benar-Benar Haus nafsu

Minggu pagi ini, sambil meregangkan badan aku melepas selimut dan aku merasakan sentuhan kain satin dasterku di puting buah dadaku dan entah kenapa rasanya nikmat dan merinding kulitku dibuatnya. Terasa putingku membesar dan keras. Cepat aku pergi mandi di shower, aku mandi air dingin. Air membuat kesegaran tersendiri dan aku merasa vaginaku merebak terkena air sejuk yang mengalir mengenai klitorisku. Kulitku meremang dan uhhh… aku tiba-tiba sadar bahwa aku menginginkan batang panas untuk mengisi lubang nikmatku. Ahhh… dua bulan tanpa garukan-garukan di situ. Lagi di tengah urusan itu kok tidak selera sekali ya.

Aku pakai handuk melilitkan di badanku dan menyisir. Dari jendela kamarku yang di atas ini aku bisa melihat ke bawah dan Andi sedang mencuci motornya, ahh… keponakan jauhku (dari sisi sex-ku) itu memang rajin. Walau dia sibuk dengan kuliahnya di kedokteran dia suka dan rajin mengurus kebun luas di rumah ini juga. Tiba-tiba ia ke belakang pohon dan membuka celana pendeknya, mau kencing! Aku berhenti menyisir dan mengamati, astaga besar benar batang penisnya. Ia tak sadar ada yang meperhatikan dan diguncang-guncangnya menghabisi sisa urine-nya dan terasa kakiku melemah, lututku gemetar setelah 2 bulan tidak melihat penis lelaki. Aku cepat ganti daster tipis pendek, BH dan CD tak sempat lagi kukenakan, dan nafasku menderu berlomba dengan nafsu yang sudah tak tertahan lagi geloranya.

Kubuka jendela dan…

“Andi, tolong Mbak ya…” teriakku agak keras penuh rencana.

“OK, Mbak Asti…” sahutnya.

“Ini tolong dong ambilkan tas merah kecil di atas lemari tinggi itu, bawa tangga kecilnya Di.”

Andi cekatan naik sambil memperhatikan pakaianku yang pendek menerawang, pahaku yang putih terlihat hampir sampai ke atas. Tapi ia tak berani langsung melihatnya. Aku tersenyum dan Andi naik ke atas tangga. Dicarinya di antara tas dan koper di atas (memang tidak ada ), dan…

“Yang mana sih Mbak koq tidak ada?”

“Masa sih tidak ada, coba Mbak yang naik, pegangin lho tangganya, Mbak takut jatuh.”

Aku naik ke anak tangga yang atas dan Andi memegang sisi tangga. Dan mulutnya segera ternganga karena ia bisa melihat aku karena daster mini dan tanpa mengenakan CD. Aku pura-pura tak tahu dan sibuk mencari-cari di atas.

Aku naik satu anak tangga lagi dan melebarkan kedua kakiku di tangga dan membungkuk ke arah lemari sehingga Andi jelas bisa melihat semua itu dan dari sudut mata kulihat Andi terbelalak.

“Lihat apa Andi?” tegurku.

Ia malu dan menundukkan kepala.

“Mmaa.. aaff… Mbak Asti…”

Aku geli melihat ia tersipu-sipu.

“Lha kamu kan sudah biasa di sekolah lihat yang gini kan”

“Wah… tapi Mbak Asti…”

“Tapi apa… ayoo…”

Aku turun lagi satu anak tangga. Lututku lemas sekali dan gelora nafsuku sudah menggelegak rasanya

“Mau lihat lagi Andi?” tantangku.

Andi terkejut dan parau ia berkata,

“Bbbolehh Mbak?”

Kutarik sedikit rok dasterku, pahaku yang putih dan berbulu halus sekali tersingkap dan bibir vaginaku pas di depan mulutnya.

“Ndi…” desahku, “Pernah mencium ginian tidak?”

“Bbbeelumm…” gemetarnya.

Suaranya tambah parau karena mulutnya terasa kering. Tiba-tiba aku tertawa karena dari sisi atas celana pendeknya mendesak keluar kepala penisnya, rupanya ia tak mengenakan celana dalam.

“Ini sih gara-gara Mbak Asti, aku jadi malu deh…”

Dia sudah tak kuat lagi dan disergahnya bibir vaginaku. Aku cepat mendekap kepalanya dan “Ssshhh… ahhh… Andi cium terus Ndi… Mbak ingin sekali…” Andi mencium kedua tepi bibir dan lidahnya mencari-cari dan menari-nari di atas tepi bibir vagina. Klitorisku yang sebesar kacang merah mengeras dan keluar dari ujung atas vaginaku dan “Ahhh… ahhh…” lidah Andi terasa melewati dan kasap sekali seperti amplas. Aku sudah tak kuat lagi dan nafasku menderu-deru bak angin puyuh. Andi mendekap pantatku dan diangkatnya aku dari tangga. Dasar anak muda kuat sekali, dia menggendongku dalam posisi demikian. Aku pun tak takut jatuh lagi, pikiranku nanar menikmati sedotan mulutnya.

Dibawanya aku keranjang besar dan direbahkannya lembut di sana. Sambil jalan tadi mulutnya tak lepas dari vaginaku yang sudah kuyup dengan cairanku. Akhirnya dalam 2 menit aku menjerit, “Aaauhhh…” dan kutekan dengan pinggangku dan kulipatkan pahaku di sisi kepalanya dengan kuat. Mulut Andi menyedot kencang di klitorisku dan meletuslah orgasmeku yang pertama sejak 2 bulan ini. Mataku berkaca-kaca dan nanar. “Andi… Andi… enakkk… enakkk sekali… terus… terus… Ndi…” keluhku. Kulihat Andi pun terengah-engah, “Mbak… Mbak… tolong lepas dong pahanya, Andi hampir tidak bisa nafas nih…” Kulepaskan kempitan pahaku dan segera kududuk bersimpuh di ranjang dan kutarik dasterku ke atas, terpana Andi melihat buah dadaku masih keras dan berdiri dengan sedikit pongah dalam ukuran 38C.

Diulurkan secara pelan tangannya takut-takut, langsung kusambar dan kuletakkan di atas putingku, segera diremas-remasnya bak tukang roti meremas-remas adonan terigu. Putingku terasa tertekan di telapak yang kasap sekali dan seketika nanar kembali pandanganku. Mataku berkaca-kaca. Nikmatnya langsung seperti listrik mengalir spontan ke arah vaginaku yang baru saja orgasme. Kutarik, kutindih si Andi dan sambil menarik ke bawah celana pendeknya, dan wess… batang penisnya yang sudah keras sekali terpental kena pipiku. Di ujungnya terlihat cairan bening tanda ia sudah benar-benar bernafsu sekali. “Aduh… aduh… Mbak… aku tidak kuat lagi.. mau keluar…” Aku terperanjat karena lupa bahwa anak muda seperti Andi belum bisa tentunya menguasai diri. Cepat kukulum kepala penisnya dan kusedot sambil kumasukkan sampai hampir ke belakang mulutku. Perlahan kugerakkan kenyotan dan lidahku terputar-putar di sekeliling kepala penisnya. Andi terguncang di ranjang dan mengejang, terasa menahan geli enak dan dalam 1 menit meledaklah mani dari buah zakarnya yang kuelus-elus. Telapak tanganku yang satu meraba daerah antara zakar dan pantatnya, dan Andi tambah nikmat mengeluarkan orgasmenya. Wah maninya banyak sekali dan memenuhi mulutku. Aku telan semua mani Andi tak bersisa sedikitpun, kupijat batang penisnya yang masih keras itu sampai akhirnya bersih semua. Kukeluarkan penisnya dan kelihatan berkilat merah darah tua gundulnya itu. Berkilap-kilap basah. “Aduhhh… luar biasa enak sekali Mbak, maaf ya saya tidak kuat lagi…” Matanya sayu dan masih sambil menikmati ketelanjanganku. Aku menerkamnya dan memeluknya dan buah dadaku terasa kempes di atas dadanya yang keras. Andi memerah wajahnya karena kemesraan yang kulakukan. Di pahaku terasa penisnya mulai mengeras lagi, aku geli merasakannya, segera membesar… membesar… dan kuremas lagi dengan tanganku. “Tuh Andi, apa itu tuh…? Tidak apa kamu keluar tadi itu normal, sekarang mulai mekar lagi tuh…”

Vaginaku kuletakkan di atas batang penisnya dan… “Lihat nih Andi…” Aku mulai menggosok- gosokkan dan menggeser-geser ke atas dan ke bawah dengan mulut bibir vaginaku di atas batang penisnya. Terasa rambut kemaluannya menggelitik ke bibir vagina dan ke batang panas itu. Andi ternganga dan tergagap-gagap menyaksikan dan di depan matanya berayun-ayun buah dadaku, ia masih tak percaya apa yang sedang terjadi. “Ndi, remas-remas buah dadaku lagi dong…” keluhku keenakan menggosok vagina itu. Kuarahkan klitorisku dan terasa belakang kepala penisnya menggaruk-garuk, enaknya tak terkira nikmatnya. Cairan dari lubang vaginaku mengalir dan aku mulai jongkok. Kupegang penisnya dan kuarahkan ke mulut lubang kenikmatan itu. Perlahan kuturunkan pinggangku dan… “Aahhh…” kepalanya kugaruk-garukkan di bibir vaginaku sebelum perlahan kumasukkan. Andi terbalik-balik matanya menahan nikmat yang tak terkirakan itu.

Sengaja aku berhenti setelah kepalanya masuk sedikit, dan senut-senut kupermainkan otot bibir vaginaku (ilmu ini kudapat dari si Mbok Inem). Andi merasakan betapa kepala penisnya seakan dipijat-pijat dan dinding bibir vagina itu seolah menyedot dan menghimpit dengan halus. Lekukan bibir vagina itu pas sekali ke kepala penisnya. Dia mencoba mengangkat pinggulnya akan memasukkan lebih dalam dan aku terdiam saja masih jongkok, dan… “Bless…” masuk lagi beberapa inci, dan akhirnya aku duduk di atas pinggang Andi. Pahaku menganga di kiri kanan dengan seksi sekali, dan akhirnya seluruh penis sudah amblas ke dalam lubang vaginaku. Rambut kemaluanku tersibak ke kiri dan ke kanan di antara batang penisnya.

Aku terpejam menikmati betapa panas dan kerasnya batang itu meregangkan seluruh lubangku yang sempit sekali. Agak sakit memang, karena lama sudah tak dikunjungi daging keras itu. Perlahan-lahan kunikmati dan aku mulai menggerakan naik-turun, kemudian teratur aku gerakkan pinggangku ke depan dan ke belakang. Andi pun merasa penisnya seolah-olah diperah dan kepala penisnya terutama. Enak luar biasa, ia mengimbangi dengan gerakan naik-turun juga. Aku sudah seperti penunggang kuda. Buah dadaku tak dilupakan Andi, aku membungkuk sedikit sehingga kedua melonku bisa diremas-remasnya dan… “Niiikmaaatt…” Aku percepat gerakanku dan sekarang aku mulai gerakan penari Hawaii, hanya pinggulku yang bergoyang dan gerakannya memutar lingkaran.

“Hehhh… ahhh…” garukan kepala penis di dinding vaginaku terasa luar biasa, seluruh lekuk-lekuk lubangku terasa digaruk. Aku ingin tahu berapa lama Andi kuat menghadapi manuverku, kukerahkan otot-otot vaginaku dan kulihat lagi mata Andi sudah terpana, terbeliak-beliak sehingga kelihatan hanya putih biji matanya saja dan mulutnya mengeluarkan suara seperti tak ada artinya. “Ahhh… ahhh… akkkhh… Mbak Asti… Mbak Asti… enakkk…” Tangannya sekarang memegang dan meremas bukit pantatku. Dan aku sendiri merasa orgasmeku mulai bergelora menuju puncaknya. Aku seperti penunggang kuda menaiki kuda liar dan naik-turun putar… putar… putar… Buah dadaku terasa bebas sekali terpental pental, rambut kemaluanku dan rambut kemaluan Andi terasa bersatu tiap aku meremas memutar di atasnya, “Ahhh ahhha ahhh…” Akhirnya meletuslah orgasmeku dan aku masukkan dalam-dalam penis Andi dan kulebarkan pahaku di sisinya dan kugosok keras keras bibir kemaluanku di atas rambut kemaluannya, dan… dan… dan… Andi pun meletus lagi orgasmenya, “Srottt… serrr…” terasa maninya menyemprot di dalam lubangku tapi tak kuperhatikan lagi. Aku sendiri seperti lupa diri memutar mutar pinggangku dalam gerak melebar dan meremas kuat batang penis Andi.

Akhirnya aku lemas rebah di atas dadanya.

“Mbak Asti luar biasa deh… aku senang sekali bisa diperawani oleh Mbak Asti…”

“Apa? Oh kamu tuh belum pernah toh… Di… Aku kira kamu sering sama-teman mahasiswi atau suster-suster di rumah sakit, kan pada cantik-cantik…”

Andi memerah wajahnya dan berkata,

“Aku pemalu Mbak… jadi tidak pernah dapat. Sekarang aku dapat sama Mbak Asti, aku senang sekali… boleh lagi tidak…?”

Aku cubit zakarnya.

“Tentu.. tentu.. boleh Ndi… asal kamu tidak bosen saja, Mbak kan sudah tua,” godaku sambil meremas-remas buah zakarnya.

Ayo kita mandi saja bareng.

Siang itu aku selesai dengan Andi, lalu aku berbenah dan pergi ke rumah Mbak Nani di seberang. Ia seorang janda seumurku, tapi aku tahu juga ia suka menerima laki-laki. Nani sebenarnya teman aerobikku di tempat senam. Dengan Mbak Nani aku sama-sama berdagang berlian untuk tambahan penghasilan, karena ia banyak relasinya di Dharma Wanita sewaktu suaminya masih ada. Badannya tinggi, hampir sama dengan aku yang 178 cm dan buah dadanya pun ukurannya 38D. Nani tidak punya anak dan di rumah ia tinggal bersama 2 sepupu wanita dan adik-adik suaminya yang masih pada sekolah, ada yang SMA dan ada yang sudah kuliah. Aku jarang ke rumahnya selama ini karena dulu suamiku dulu tak suka aku bergaul dengan dia. Entah kenapa.

“Mbak, Mbak Nani…” panggilku sambil mengetuk pintu.

Kok sepi ya? Aku masuk dari pintu samping dan rupanya sedang pada pergi karena motor anak-anak pada tidak ada.

“Mbak…?”

“Ohh… Ibu Asti,” sambut pembantunya, Mbok Warsih.

“Ibu Nani kemana ya? tadi sih ada, mungkin mandi… maaf ya Bu, Mbok lagi nyuci piring nih, Bu Asti masuk saja.”

Aku masuk ke ruang tengah dan duduk di sofanya, dan aku tiba-tiba mendengar suara sayup-sayup mendesah-desah. Jantungku berdegup seketika mendengar suara yang amat familiar kukenal itu. Perlahan-lahan kucari sumber suaranya, dan ternyata datang dari kamar atas, kamar Mbak Nani. Aku naik berjingkat-jingkat, aku masuk ke lorong di atas dan benar! Dari kamar Mbak Nani, lagi ngapain dia? Lututku terasa lemas lagi mengingat Andi tadi pagi, dan terasa bibir vaginaku melembab dan empuk lagi. Nafsuku mulai berkobar-kobar membayangkan apa yang mungkin sedang berlangsung di kamar Nani.

Nahh… kamarnya tidak tertutup, pintunya masih terbuka sedikit, perlahan kudorong dan kusingkap gordin kamar dan astaga… Mbak Nani sedang disetubuhi dan posisinya ia berlutut menungging, pantatnya tinggi ke atas dan goyang pinggulnya kencang. Aku tak bisa melihat jelas siapa laki-laki itu, tapi mataku terbelalak dari posisiku jelas melihat penisnya keluar masuk cepat ke lubang vagina, dan saking pasnya terlihat bibir vagina itu tertarik keluar setiap batangnya ditarik keluar. Batang itu… oh… batang itu basah berkilap-kilap keluar-masuk keluar-masuk dan buah zakarnya bersih sekali kemerahan tak ada rambut sama sekali. Paha Mbak Nani pun basah dengan aliran cairan dari vaginanya berkilat kilat kena cahaya.

Lututku benar-benar lemas, dan celana dalamku membasah. Aku hampir jatuh saking lemasnya, dengkulku dan aku berpegang pada amban pintu. Perlahan kudorong lagi pintunya lebih lebar dan keduanya benar-benar kerasukan, sehingga tidak melihat pintu membuka lebih lebar. Kakiku benar-benar terasa seperti agar-agar jelly, lemas. Aku berpegang pada amban pintu dan Mbak Nani pun dalam badai nafsunya terlihat memutar pinggulnya mengikuti enjotan dari lelaki itu. Buah dadanya terpental-pental dan desahnya benar-benar menghanyutkan, sepeti suara binatang sedang birahi. “Ahhh… shh ssshhh Mas Mas…. enakkk… Uhhh uhhh… hmmm…” seru Nani. Tiba-tiba mereka meregang dan meletup-letuplah orgasme mereka dan terbadai-badai buah dada Mbak Nani karena binalnya ia menjepit penis itu. Dan terpuruk ia dipelukan lelaki tadi dari belakang.

Nafas mereka memburu terengah-engah seperti pelari maraton. Siapa lelaki itu? Perlahan aku mundur dan terduduk di kursi tamu di beranda kamar itu. Nafasnya masih tak terkendali dan celana dalamnya kuyup. Aku bingung mesti ngapain dan aduh gatalnya lubang vaginaku, gila aku tadi baru dengan Andi, kok sekarang sudah begini lagi. Kurapatkan pahaku kencang dengan harapan sedikit terbantu.

Masih tetap membara dan akhirnya aku tidak kuat lagi dan aku buru-buru pulang berharap Andi masih di sana. “Andi… Andi…” seruku dengan parau. Begitu masuk ke rumah, kok tidak menjawab, pikirku. “Andii…” aku mencari ke paviliun, wah kosong semua, sudah pergi dia, keluh kecewaku. Aku naik ke atas dan segera membuka semua bajuku. Mandi, pikirku untuk meredakan ini. Aku terdiam di bawah shower, aduhhh… aliran air malah tambah merangsangku. Bagaimana ini, bagaimana, ah masturbasi saja, dan kuraba klitorisku yang sudah nongol keluar, “Shhh… shhh enakkk…” tiba-tiba terdengar suara bel pintu. “Aduh siapa lagi… Andi pulang?” harapku. Aku segera mengambil handuk dan kulibatkan di sekeliling tubuhku yang sintal, wah… kurang besar. Kugenggam saja handuk itu biar tidak copot.

Bel berbunyi tak sabar lagi, dan aku cepat turun, kupikir lihat dulu siapa dan kalau tidak kenal biar tak kubuka, aku mau masturbasi, kesalku. Dari jendela kulihat, wah ternyata anak pengantar koran, anaknya Pak RT di ujung jalan. Aku bimbang apakah mau membuka pintu atau tidak? Bagaimana aku, hanya handukan saja. Entah kenapa, impulsif kubuka juga dan aku melihat anak lelaki dengan mulut ternganga terbesar begitu dia melihatku hanya berhanduk dan masih basah kulitku dan rambutku. Dalam hati, aku senang karena berarti aku OK dong.

“Ya…?” tanyaku.

“Oh maap Mbak… eh Ibu… mau nagih uang koran.”

Ihh sialan, hanya mau nagih, batinku.

“Bisa lain kali?” ujarku.

“Oh eh… bis bis… bisaa…” paraunya.

Lho kok ia menutup-nutupi depan celananya. Tiba-tiba aku sadar bahwa anak ini sudah lumayan besar, mulai deh aku berpikir lain.

“Eh iya deh, aku bayar saja, masuk dulu deh… aku baru mandi,” kataku.

“Ah biar di sini saja Mbak, eh Ibu…”

Kuulurkan tanganku dan kutarik saja masuk dan ia jalan agak membungkuk-bungkuk, rupanya mencoba menyembunyikan sesuatu.

“Kenapa sih?” tanyaku, “Kamu sakit pinggang?”

“Ah.. ah… eh… tidak… tidak…” katanya.

Mukanya merona merah sekali.

“Ya sudah ayo masuk ke sini!”

Kutarik lagi dan kubawa ke ruang tamu.

“Duduk deh…” lau dia duduk, “Namamu siapa?”

Aku masih berdiri di depannya dan tetesan air masih mengalir di pahaku. Si anak itu matanya terbelalak melihat paha mulusku di depan mukanya.

Apa… apa… apa Mbak…” gelagapan terus dia.

Aku tambah geli saja.

“Oh saya namanya Banu…” jelasnya hampir berbisik.

Matanya masih menatap pahaku yang basah, pori-poriku masih menggremeng sehingga bulu-bulu halus di situ kelihatan berdiri.

“Banu mana bonnya?” tanyaku.

“Oh oh… iya ini…”Tangannya menggapai tas yang ditaruhnya di atas pahanya dan aha… rupanya ia berusaha menutupi penisnya yang sudah tegang berat. Ha ha ha, aku mau menikmati siang ini untuk melepas dahaga gara-gara Nani tadi. Biar deh anak Pak RT sudah besar juga kok. Tapi aku mesti hati-hati supaya dia tidak shock.

“Ini buat bulan lalu ya Ban?” tanyaku sambil mengambil kwitansi dan aku jalan ke buffet tempat aku menaruh dompetku.

“Ii.. iiiya… Tante eh Ibu eh… iya…” katanya.

Dari kaca di atas buffet aku melihat matanya mengikuti goyang pantatku di balik handuk yang nyaris tak menutupi pantatku dan pasti bulu di sela-sela pahaku bisa dilihatnya. Sengaja kuregangkan kakiku dan matanya membesar dan membesar. Aku pura-pura mencari-cari dompet dan membelakangi dia dan matanya sudah terkunci ke pantatku yang sintal. Lalu aku berjinjit dan pura-pura mencari di atas lemari tepi buffet sehingga handukku naik ke atas juga. Ha ha ha, pasti dia melihat lebih jelas lagi ujung vaginaku sekarang.

Aku tiba-tiba membalik dan Banu sudah pucat dan seperti orang dihipnotis saja. Aku balik membawa dompetku dan sengaja aku duduk di seberangnya. Kukangkangkan kakiku sehingga handukku naik ke atas paha. Aku pura-pura meneliti rincian kwitansi dan Banu matanya menjalang mencoba mencari apa yang akan bisa dilihatnya. Aku sendiri sudah basah kuyup, vaginaku lemas membayangkan mau menikmati anak ini.

Tiba-tiba aku bertanya,

“Eh kamu hari Minggu koq tidak pergi main-main sih? kan bisa besok nagih.”

“Aa.. aku pengen beresin ini Bu…” katanya.

“Masih banyak yang mesti ditagih?” tanyaku lagi.

“Tidak, ini terakhir.”

“OK, ini uangnya dan terima kasih ya,” kataku sambil berdiri.

Terlihat mukanya kecewa karena mungkin inginnya sih apa ya? (mana aku tahu dia mikir apa, yang jelas tegangnya masih tuh di balik celana pendek jeansnya).

Dia berdiri dan cepat ditutupkannya lagi tasnya di depan kemaluannya.

“Eh Banu, mau bantu Mbak tidak?” tanyaku.

Dengan sergap ia menjawab, “Mau…” katanya senang.

“Ini Mbak mau pakai krim tapi susah kalau di belakang punggung. Mau tidak kamu bantuin oleskan.”

Wah kalian mesti lihat ekspresi mukanya, seperti orang menang lotere 1 juta dolar tuh.

“Ayo sini naik ke kamar Mbak deh!” ajakku.

Berdebar-debar aku membayangkan ini semua. Lubang vaginaku sudah bukan main gatelnya. Aku berbaring telungkup tanpa melepas handuk setiba di kamar.

“Itu Ban, ada di meja hias yang warna putih botolnya.”

“Ini ya Mbak?” katanya cekatan.

Ia sudah lupa dengan tasnya dan celananya seperti sebuah tenda dengan tonggak tegak lurus.

“Yep….. itu dia Banu. Ini mulai dari pundak atasku ya Ban.

Ia duduk di pinggirku dan nafasnya terdengar terengah-engah. “Srr…” duh dinginnya krim itu ketika ia mulai mengoles pundakku. Tangannya terasa hangat sekali dan gemetar.

“Banu kamu pernah tidak ngolesin body cream gini?” tanyaku untuk membuat ia relaks.

“Ahhh… nggak pernah. Mbak cantik sekali dan kulitnya halus bener deh,” katanya sambil terus mengoleskan krim.

Ah enak, dan pahanya terasa menempel pada sisi tubuh atasku.

“Eh Mbak, ini handuknya ngehalangin,” katanya lebih berani.

Aku berdebar dan… “Oh iya… dorong saja…” tangannya mendorong sisi atas haduk di punggungku dan ditambahkannya krim dan dioleskannya ke punggungku.

“Mbak.. eeeh… saya buka saja ya handuknya.”

Ah… batinku, berani juga anak ini. Kuangkat sedikit badanku dan ditariknya handuk dan jadi longgar dan copot. Buah dadaku terasa sedikit pedih waktu ditariknya handuk itu dan telanjang bulatlah aku. Dari kaca meja hias aku lihat Banu ternganga lagi melihat tubuh mulus dan montok tersaji di depan matanya. Ia lupa mesti memberi krim. Aku pun menahan nafsuku dan tetap terlungkup.

“Eh Banu ayo dong! ngeliatin apa sih kayak belum pernah ngeliat wanita,” desahku merangsang.

“Oh iya iya…”

Dia mengoles lagi dengan sigapnya, tangannya teasa tambah hangat.

“Hmm, pantatnya juga tidak Mbak Etty?”

Hi hi hi dia panggil aku pakai nama Etty, lucu rasanya karena sudah lama tidak dipakai nama itu.

“Iya,” ujarku.

Dan “Seerr…” rabaan tangannya membuatku mendesah keenakan dan suasana di kamar itu sudah penuh dengan hawa nafsu saja. Rabaan tangannya mulai mengcengkeram kedua bukit sintal, dan aku pelan-pelan merenggangkan pahaku dan kuangkat sedikit pantatku. Banu pindah ke dekat pahaku dan aku geli karena pasti dia ingin lihat vaginaku. Sengaja kuangkat terus dan kulebarkan lagi pahaku dan tangannya masih meremas-remas (bukan ngolesin lagi cing).

Kulihat ia menjilatkan lidahnya ke bibirnya dan tangannya mendekat ke arah paha dan jempolnya kiri dan kanan mendekat ke vaginaku sambil tetap meremas-remas pantatku sebelah bawah. Aku pun tak sadar mendesah-desah keenakan dan terasa di sebelah dalam pahaku mengalir cairan dari vaginaku. Aku diam saja supaya Banu tidak malu dan kuintip terus dari kaca kelakuannya. Diulurnya jempolnya dan terasa sentuhan halus di tepi bibir vaginaku. Enak dan aku angkat lagi pantatku dan jempolnya menyentuh lebih berani. Aku menahan terus nafsuku, maunya sih aku sudah berbalik dan kuterkam saja si Banu ini tapi itu akan mengurangi nikmat. Banu melihat aku diam saja dan jempolnya tambah ke dalam pahaku dan ia kelihatan terkejut merasakan lincir dan hangat, basah sekali bibir vaginaku. Ia melihat aku tetap terdiam, aku menggigit bantal yang kupeluk dan terasa puting susuku gatal sekali juga. Kutahan nafsuku dan kubiarkan dia eksplorasi dulu.

Nak Banu… aduhh…” keluhku, “Shhh… enak sekali…”

Dan kakinya tambah dikangkangkannya lebar-lebar, pantatnya naik sedikit sehingga vaginaku sudah terpampang di mata Banu yang terbelalak. Tenggorokannya kering sekali dan tangannya dingin. Bulu kemaluanku sudah menempel karena kuyup. Jari Banu meremas-remas pantat dan paha atas. Dilihatnya vagina merekah dan bau khas seperti laut begitu merambah hidungnya membuat suasananya tambah merangsang. Dasar anak masih “ijo” dia tak tahu mau ngapain. Aku biarkan jarinya mendekat ke bibir vaginaku dan kutahan nafas mengantisipasi enak yang bakal kurasakan. Kutinggikan lagi pantatku dan terasa jarinya menyentuh dan mulai menggosok dengan rasa ingin tahu sambil takut dimarahi. Aku berbisik, “Terus Banu… paha dalam ibu itu perlu juga,” aku memberanikan dirinya, dan aku lebarkan lagi pahaku sehingga betul betul sudah bebas terlihat belahan vaginaku dari belakang situ. Jari-jari Banu mulai mendekat lebih jauh ke lubang dan bibir-bibir kiri dan kanan vaginaku dan mengorek-ngorek. “Aduhhh… nikmat sekali…” Jari tengah Banu masuk ke lubang basah dan keluar-masuk, ia mengorek-ngorek tanpa tahu apa yang harus dikerjakan. Kutuntun tangannya dan kutangkupkan pada vaginaku dan jari telunjuknya aku letakkan di atas klitorisku “Gosok dan gelitik Banu!” kataku. Pantatku tambah tinggi sehingga aku hampir berlutut. Pantatku sudah hampir setinggi mulut Banu yang ternganga selebar pintu Tol.

Dengan pelan tanganku meraba paha Banu, seperti orang kena listrik ia mengejang. “Jangan takut Banu, Ibu tidak apain kok.” Aku naikkan lagi dan penisnya yang sudah keras luar biasa terasa di luar celana pendeknya. Aku elus-elus dan ia seperti orang kesurupan, matanya terbalik-balik keenakan, dan kutarik celananya ke bawah, ia berdiri dan bebas merdeka batangnya itu. Kugenggam erat-erat dan aku bilang, “Banu kamu ke belakang situ dan tempelkan penismu ini ke mulut lubang vagina.” Aku menungging berlutut, pantatku tinggi ke atas dan posisi vaginaku sudah terbuka lebar. Banu mendekat dan sambil memegang penisnya ia mengarahkan ke vaginaku.

“Ahhh.. ahhh… enak Banu…”

“Iya Mbak enak sekali…”

Aku pegang penisnya dan pelan-pelan kuamblaskan ke dalam lubang vaginaku. Gila panas sekali batangnya itu. Dan aku mulai berayun-ayun ke depan dan ke belakang. Banu pegangan pada pinggulku, buah dadaku berayun-ayun menggelantung bebas. Dan pelan sekali kusedot penis Banu dalam vaginaku, kugerakkan otot dinding vaginaku bergelombang-gelombang. Di kaca aku melihat posisiku dan Banu, sungguh pemandangan luar biasa. Anak masih “ijo” itu antusias sekali dan kelihatan ia masih bingung-bingung. Terus kugenjot dan Banu mulai pintar mengikuti gerakannya, dan terasa batangya maju-mundur menggaruk-garuk dinding vaginaku dengan nikmat sekali.

Dan 2 menit kemudian meledak-ledak orgasmeku dan ia kujepit dengan kencang dalam vaginaku sampai terasa seperti kuperas batangnya sampai kering dari spermanya. Terdampar Banu di atas punggungku dan aku rebah ke ranjang. Penisnya masih setengah tegang dan terasa berdenyut denyut. Itu pengalaman Banu pertama.

Aku tertidur setelah itu dengan enak sekali, sungguh segar. Besoknya aku sibuk di kebun sampai sore, dan siangnya aku tidur lagi sebentar, rencanaku anak kostku yang lain akan kupetik perjakanya. Jam 06.00 sore aku mandi dan dandan sedikit, aku kenakan daster tipis. Setelah itu aku duduk di kamar tamu membaca koran sore menunggui anak-anak kost pulang kuliah sore.

Ketukan di pintu menyadarkan aku dan aku bilang, “Iya…” Andi masuk dan ia senyum-senyum.

“Ada apa Andi? nggak jadi nginap di rumah Anwar ya?” kataku manis.

Aku tak bangkit dari ranjang, dasterku agak tersingkap kubiarkan. Mata Andi segera melihat itu dan senyum lagi.

“Anu Mbak Etty. Perlu apa-apa tidak?” katanya sambil mendekat.

“Oh ini Mbak Etty…” katanya sambil duduk di sampingku dan tangannya memegang tanganku.

“Tapi tidak boleh marah ya… Herman, Toni kan masih SMA, mereka baru dapat pelajaran biologi dan sering nanya-nanya, aku tapi sulit juga menjelaskan kalau tidak ada peragaan.”

“Lha iya, kamu kan di kedokteran bisa dong ngejelasin,” kataku.

Elusan tangannya membuat hatiku berdesir lagi dan vaginaku langsung mendenyut. (Gila nafsuku besar sekali sih batinku).

“Lalu kenapa?”

“Ini lho, tapi bener ya tidak boleh marah?” kata Andi lagi.

“Iya sudah, apa sih susah banget mau ngomong. Kamu perlu uang buat beli peta biologi?”

“Eh tidak, sebenernya sudah ada tapi perlu bantuan Mbak Etty,” kata Andi lagi.

“Gini Mbak, mereka ingin tahu tubuh wanita dan aku pikir paling gampang kalau Mbak Etty tidak keberatan aku pakai tubuh Mbak buat peragaannya.”

“Ha.. ha.. ha… Andi kamu ada-ada saja, malu ah,” kataku sambil berdebar-debar dengan pengalaman baru ini.

“Boleh tidak Mbak?” desak Andi lagi.

“Iya dah, tapi gimana? aku mesti apa?”

Baru aku bilang begitu pintu kamar sudah terbuka dan masuk Herman dan Toni. Kurang ajar dari tadi mereka nguping di pintu. Aku agak menjerit karena kaget. Herman dan Toni malu-malu dan mukanya merah. Andi mengajak mereka ke tempat tidurku dan katanya, “Mbak saya lepas ya dasternya.” Aku malu, karena aneh rasanya ada 3 lelaki muda di kamarku. Tapi gemuruh di dadaku menggebu-gebu membayangkan tubuh ke-3 anak muda ini. Aku hanya bisa manggut-manggut, lidahku kelu dan duh vaginaku sudah langsung melembab dan lembek terasa hangat bibir vaginaku. Aku duduk dan kuangkat dasterku dan waktu tanganku ke atas buah dadaku langsung bebas menggelinjang sintal dan kulihat mata ke-3 anak itu membelalak. Aku menutup buah dadaku dengan daster yang sudah lepas dan Andi mendekat lagi. “Mbak baring ya, tangannya ke atas. Ini kita serius kok Mbak, mereka besok ujian. Jadi Mbak tidak usah malu karena membantu nih.” Tanganku ditariknya kedua-duanya ke atas dan buah dadaku munjung dengan bebas dan seksi sekali. Kulirik dan duh mereka sudah pada tegang. Aku berbaring hanya bercelana dalam segitiga kecil sekali hampir tak bisa menutup vaginaku dan di depannya jelas sekali basah sudah.

Andi juga suaranya bergetar karena menahan nafsu, aku rasa. “Ton, Man sini kamu di sisi sana biar aku jelaskan tentang buah dada,” katanya sok seperti dosen. Herman dan Toni berdesak-desak dengan gesit mendekat. Andi memegang buah dadaku dan menjelaskan bahwa ini adalah buah dada yang sehat dan terpelihara baik katanya sambil meremas, dan katanya, “Nah kamu coba pegang dan remas-remas! Herman kamu perah yang sini dan Toni kamu coba kekenyalan yang satunya, kemudian gantian dan bandingkan.” Mata mereka jalang sekali dan kedengaran desah nafas mereka yang sudah tak beraturan. Aku sendiri begitu diremas Andi tak sadar mendesah enak. Dan seketika kedua anak itu rebutan meremas-remas kedua buah dadaku, dan banjirlah cairan di vaginaku.

“OK.. OK.. sudah sudah cukup!” seru Andi, “Sekarang lihat ini, ini adalah puting susu dan di sekitarnya ini disebut aerola,” katanya sambil memelintir putingku ke kiri dan kanan, aku menggelinjang geli. “Ini kalau sehat akan bereaksi bila disentuh atau dirangsang sehingga mengeras,” lanjutnya. “Nah coba kamu pegang puting seorang satu ya… dan pelintir seperti ini!” katanya sambil mencontohkan dijepitnya puting susuku di antara jempol dan jari telunjuknya dan diputarnya putingku. Aduh seketika aliran syarafku ke vagina tambah enak rasanya. Vaginaku terasa kuyup dan mengalir ke sisi pahaku. Celana dalamku tak dapat menampung lagi cairan itu. Herman memelintir puting susu kiri dan Toni di buah dada kananku. Aku tak sadar kakiku sudah mengempit dan bergoyang-goyang menahan rasa geli dan pinggulku bergeser-geser di ranjang. Andi sendiri memperhatikan kedua anak itu praktikum di puting susuku dan keduanya asyik sekali. Diremasnya vaginaku dari luar celana dalam sehingga aku sudah kehilangan sadar dan rasa malu. Gelinjang-gelinjangku sudah seperti kuda liar.

“Andi… Andi… ooohh… Gila kalian ayo dongg…” Pelintir-pelintiran tangan Tony dan Herman masih terus dan mereka seperti anak kecil dapat mainan. “OK OK, stop dulu!” muka keduanya kecewa dan mereka menurut sekali. “Sekarang kita beralih ke bagian sini,” katanya sambil meremas vaginaku. Aku senang sekali serasa akan mendapat pelepasan. Mereka semua jelas-jelas sudah ereksi penisnya tapi masih menahan diri. Sebenarnya aku yang sudah tidak tahan ingin sekali vaginaku dimasuki batang panas dan aku gembira sekali membayangkan ada 3 penis panas. “Ini namanya vagina,” kata Andi sambil meremas-remas terus dari luar CD-ku yang sudah kuyup. “Mas Andi, kenapa kok basah gitu sih?” tanya Toni dengan polos sambil agak bergetar dan parau suaranya. “Oh ini,” kata Andi sambil memegang depan CD-ku. “Ini biasa kalau wanita sedang birahi maka akan keluar cairan-cairan seminal seperti ini. Dan maaf Mbak Etty, saya turunkan ya celananya!” Lagi aku tak bisa menjawab kelu lidahku dan aku hanya manggut cepat dan kuangkat pantat dan pinggulku. Andi menyelipkan tangannya ke samping CD-ku dan menariknya turun, seketika terbukalah vaginaku dan Herman maupun Toni tambah besar saja belalak mata mereka.

Andi mengelus-elus vaginaku dan mengatakan, “Ayo kalian pindah ke sini dekat paha Mbak Etty biar jelas,” katanya. Nafas Andi pun mendengus-dengus, aku rasa kalau dibiarkan ia sudah mau menancapkan penisnya ke dalam lubangku. Andi menjepitkan jarinya pada bibir vaginaku yang tebal, empuk panas dan menyibak bibir vaginaku dan menariknya keluar, “Nah ini namanya labia, bibir vagina,” kata Andi. “Coba kalian rasakan, dielus-elus seperti ini!” katanya lagi. “Ahhh… nikmat sekali…” Herman dan Tony dengan gemetar memegang seorang sebelah dan menariknya. Kemudian mengelus-elus dengan ujung jari-jari mereka. Gila geli sekali, dan aku senang karena mereka serius dan semangat sekali (iya lah mana tidak semangat melihat vagina begitu cantik). Ada dua menit mereka menarik-narik pelan dan mengintip-intip dari dekat, dengus nafas mereka geli sekali kena pahaku di atas. Dan Andi menghentikan mereka. “OK, berikutnya perhatikan bentuknya ini,” katanya sambil menyibak rambut kemaluanku yang sudah kuyup oleh cairan vaginaku. Aduh, itu cairan mengalir kemana-mana terasa sampai ke lubang duburku. “Ini adalah klentit atau klitoris,” katanya sambil menarik kacangku yang sudah keras sekali. Di dorongnya keluar di antara kedua jarinya dan lihat…!” katanya lagi. “Ini kalau disenggol akan mengeras seperti ini.” Dan dimain-mainkannya dengan ujung jarinya klitorisku itu.

Mataku gelap rasanya seperti mau pingsan karena enak sekali. “OK, kamu coba Man,” katanya ke Herman, dan Herman dengan semangat menggoyang klitorisku dan ia juga bereksperimen menjepit klitorisku dengan kedua jari dan memilin-milin. Pantatku menggelinjang-gelinjang liar dan Tony aku lihat sepintas ternganga melihat kelakuanku. Andi sementara itu tak tinggal diam, ia memeperhatikan kedua anak itu sambil meremas-remas memerah buah dadaku. Aku lemas dengan nafsu yang sudah memuncak sekali. Pahaku sudah ngangkang lebar sekali dan bau mesum dari vaginaku memenuhi kamar. Badanku terasa hangat sekali dan betapa lubang vaginaku mengharapkan batang panas, tapi aku masih mengikuti semua permainan anak-anak ini. “OK, sudah!” katanya setelah Toni juga mendapat giliran. “Sekarang seperti ini kalian harus tahu bahwa lubang vagina ini sangat sensitif jadi tidak boleh kasar kalau mau memeriksa.” Andi memasukkan jari tengahnya yang kasap ke dalam lubang vaginaku dan begitu masuk dinding vaginaku langsung mendenyut mencengkeram, “Senut… senuttt…”

“Usahakan kuku kalian harus sudah digunting dan tidak tajam, karena kalau sampai luka sulit nanti sembuhnya,” katanya sok tahu seperti dosen sungguhan. “OK, kalian coba masukkan dan gosok gosok seperti ini keluar-masuk,” katanya. Aku terbadai saja di ranjang dan kedua anak ini bergantian memasukkan jari tengahnya memasturbasi aku, entah berapa kali sudah aku orgasme. Seprei ranjang sudah kusut seperti kapal pecah. Andi terus meremas-remas buah dadaku sambil memainkan puting susuku. “Nah sekarang kita harus mengerti juga bau vagina yang sehat seperti ini,” kata Andi. Ia mendekatkan hidungnya ke lubang vaginaku dan hembusan nafasnya yang panas menambah bara nafsuku. Kalau aku tidak menahan diri sudah kuterkam si Andi ini dan kutunggangi penisnya. Aku masih play along dengan mereka. Kemudian Andi berbicara lagi. “Dan kita juga perlu menjilati untuk tahu rasanya cairan ini,” katanya sambil bibirnya langsung menerkam vaginaku. “Ahhhh…” jeritku keenakan. Dan lidah kasapnya segera bermain di sekitar situ, kira-kira semenit ia dengan berat hati melepaskan dan…”OK, sekarang Toni kamu coba!” Toni dengan cekatan mendekat dan memasukkan mukanya di antara selangkanganku yang sudah kubuka lebar-lebar.

Aku ambil bantal dan kuganjal pantatku sehingga vaginaku munjung keluar. Mulut Toni terasa panas sekali dan dengan semangat ia menciumi dan seruput-seruput ia menjilati. Aku terbadai lagi dan orgasmeku memuncak untuk kesekian kalinya. Lidah Toni berkali-kali masuk ke lubang vaginaku dan cairan demi cairan dihisapnya. Kadang kadang ia menghisap dengan kencang dan pahaku sudah tak sadar mengempit kepala Toni. “Sudah Ton!” kata Herman menarik Toni dan membuka paksa pahaku, dia juga tidak sabaran jadinya. “Dan gantian Herman!” Aduh, gila digigitnya bibir kemaluanku, rupanya saking semangat tergigit sedikit bibir vaginaku, tapi ia juga semangat dan terasa lidahnya lebih panjang dan kasar lagi dari lidah Toni dan Andi. Aku menggeruskan vaginaku ke mulutnya dan pahaku mengempit kepala Herman di antara kedua pahaku yang sintal putih. Sementara Andi sudah membuka celananya dan penisnya sudah keras sekali, disorongkannya ke mulutku dan dengan rakus aku menerkam dan mengelomohi kepala penisnya. Toni juga tadi melihat Andi, ia meremas-remas buah dadaku dengan semangat. Kadangkadang aku agak menjerit karena sakit juga, mungkin gemes si Toni ini.

Herman masih asyik menyeruput vaginaku dan klitorisku, dia cari dan disedot. Toni tadi tidak sampai mengisap-isap klitorisku. Tak lama Andi meletup orgasmenya dan dengan rakus aku hisap kencang sambil meremas-remas batangnya dan mengocok-ngocok supaya spermanya keluar semua. Kutelan habis semua sperma itu. Toni ternganga lagi melihatku ganas seperti itu dan binal sekali. “Man, Man sudah Man!” kata Andi. Herman dengan segan mengangkat kepalanya dari vaginaku. Andi mengatakan, “Mbak Etty, kami perlu membuat eksperimen lanjutan, boleh tidak?” Aku sudah tidak bisa berpikir karena ingin sekali penis-penis ini kuremas dalam vaginaku.

Andi mengeluarkan pisau cukur Gillette dan katanya, “Man kamu ambil itu sabun untuk cukur kita cukur jembut Mbak Etty!” Toni masih terus meremas-remas buah dadaku dan kadang mempermainkan puting susuku, dan dihisap-isapnya juga. Tanganku memegang batang penisnya dari luar celana. Kemudian aku bilang, “Kalian tidak fair masak aku sendiri yang telanjang bulat kalian semua buka juga dong!” Aku rasa aku mesti lapor ke Jaya Suprana di MURI karena kalau ada rekor buka baju pasti mereka menang. Dalam sekejab sudah telanjang semua. Herman dan Toni bulu kemaluannya masih halus-halus, mereka baru SMU kelas I, kalau tidak salah ingatanku. Herman mengoleskan sabun di bulu-bulu kemaluanku sambil jarinya iseng mencubiti klitorisku. Dan Andi mulai mencukur dari mulai perut bawahku dengan hati-hati sekali, dan terasa bulu kemaluanku berjatuhan dan dingin di tempat yang sudah bersih. Terus Andi maju dan sekitar bibir tepi-tepi vaginaku juga. Ditariknya lembar bibir vaginaku dan dicukurnya pelan-pelan. Dan dalam beberapa menit gundul sudah vaginaku. Andi mengambil kaca kecil dan menyuruhku duduk. Aku mengangkang sambil duduk dan Andi meletakkan kaca itu di depan vaginaku, ha ha ha lucu sekali dan klitrosisku tampak jelas nongol, bibir vaginaku merekah dan kelihatan seperti kerang mentah.

“OK, sekarang giliranku,” kataku, “Kalian bertiga tiduran, kita lihat siapa yang paling kuat, Mbak akan tunggangi kalian satu persatu dan yang paling kuat lama malam ini boleh tidur sama Mbak sampai pagi hadiahnya,” kataku sambil senyum dengan buas dan binalnya. Ketiganya cepat berbaring dan aku bilang, “Ambil bantal semua, taruh bantal di bawah pantatnya!” Aku merasa liar sekali melihat ketiga tiang bendera dari daging itu sudah berdiri tegak lurus. Hmm, aku mulai dari Toni, dia berbaring di tengah dan aku jongkok di atas penisnya, kugenggam batang itu dan kugosok-gosok kepalanya di mulut vaginaku. Pelan-pelan aku jongkok lebih dalam dan kepala penisnya mulai masuk. Toni merem menikmati dan mulutnya terbuka dan mendesah-desah keenakan. “Bless…” masuk semua dan aku turun terus sampai terbenam dan aku mulai bergoyang berputar tanpa naik-turun dengan cepat, genggaman vaginaku kukerahkan dengan kuat, terus kuputar searah jarum jam. Buah dadaku yang montok bergoyang, satu di kiri diremas Andi dan yang kanan diremas Herman, mereka juga ikut terengah-engah. Aku mulai mengulek penis Toni ke depan dan ke belakang, berayun-ayun, pinggulku berputar-putar, dan terasa hangat dan kerasnya penisnya di dalam vaginaku dan mata Toni terbelalak ke atas sehingga kelihatan putihnya saja, dan badannya melengkung kejang.

Dalam 2 menit sudah orgasme dia dan semprotan maninya di dalam vaginaku panas sekali. Dan aku sendiri karena buah dadaku diremas-remas kedua anak ini di kiri dan di kanan juga tak lama ikut meledak. Suasana yang cabul ini menggelorakan birahi, dan aku mengejangkan badanku menikmati orgasme entah keberapa. Kempitan vaginaku membuat Toni agak kesakitan karena kuatnya otot dinding vaginaku. Terasa klitorisku menyentuh rapat ke penis Toni, dengan terengah-engah aku berlutut dan kucabut vaginaku dari penis Toni yang kuyup dengan sperma dan cairan kewanitaanku. Aku merangkak pindah menungging di atas penis Herman, buah dadaku bergantung bebas, aku ingin mengisap penis Herman dan menelan sumber awet muda, tadinya aku juga maunya Toni aku sedot dulu spermanya yang penuh protein itu, hanya vaginaku gatal sekali tadi. Dan setelah digaruk oleh kepala penis itu, enak sekali, agak mending walau aku masih penuh birahi. Terasa Andi menggosok vaginaku dengan tissue untuk melap mani Toni yang berleleran dan aku sudah tak perduli. Kuraih batang penis Herman yang kulihat agak gemetar menahan gejolak senangnya, ia membayangkan penisnya bakal aku sedot. Kuciumi dulu sepanjang batang penis dari satu sisi ke sisi lain. kemudian kulekatkan lidahku di bagian bawah kepala penisnya yang sudah berkilat-kilat basah dan kuputar sekitar penis itu dengan lincah dan seketika menggelinjang Herman keenakan.

“Aduh Mbak Ettyyy…” dan tangannya seketika mencengkeram rambutku dan mendorong agar penisnya masuk ke mulutku. Aku sengaja hanya menyentuh dengan ujung lidahku di atas kepala penisnya, dan tanganku mengelus-ngelus buah zakarnya yang sudah padat itu. Kuremas-remas buah pelir itu dan ciuman-ciuman ke batang penis sekitar pelir membuat ia tambah liar dan sudah seperti kuda liar. Menggeram minta agar aku menyedot. Ah anak muda perjaka. Aku masukkan kepala penisnya saja ke dalam mulutku dan kukelomoh seperti makan es krim Walls saja laiknya atau Lolipop. Pembaca wanita yang belum pernah nyoba anda kehilangan cara-cara yang menakjubkan ini untuk memberi nikmat pada pasangan anda (pasangan di rumah maupun di luar). Dan tanganku tetap menggocok pelir dan batang Herman sementara itu dari belakang Toni memelukku dan memerah-merah buah dadaku dan eh gila si Andi masuk ke selangkanganku yang sudah di lapnya dan ia menarik pantatku sehingga aku terduduk dengan vagina di atas mulut Andi. “Uihhh geli sekalii…” dan Andi karena sudah lebih pengalaman (siapa dong gurunya) memberiku kenikmatan selangit. “Aahhh…”

Gila deh aku dan tiga anak muda-muda dan telanjang bulat semua. Sayang tidak ada kamera video waktu itu. Kuhisap kencang sampai pipiku kempot dan lidahku menyambar-nyambar kepala penis di dalam dan akhirnya Herman mengangkat tinggi-tinggi pantatnya dan aku hampir tersedak penisnya masuk ke dalam rongga mulutku yang dalam, dan… “Srot… srott…” Bertubi-tubi spermanya muncrat dan kusedot dan kutelan habis. Mbak-Mbak, ini dia obat awet muda, rahasia lho. Dan Andi menyedot terus klitorisku sehingga aku pun orgasme dan saking naik ke otak, mataku gelap dan aku duduk menekan vaginaku di mulut Andi sambil berputar di situ. Aku tumbang ke samping dan Andi bangun, mulutnya berbuih putih di sekitar bibirnya sehingga aku tertawa melihatnya sambil terengah-engah. Dan Toni sudah ereksi lagi, Andi juga dan Herman masih mencari nafas, penisnya separuh tegang. Kuambil air di gelas dan sambil menenangkan nafas aku minum, eh lagi duduk gitu susuku sudah diremas-remas lagi dan idih ini anak-anak, entah tangan siapa masuk mengorek-ngorek vaginaku dan aku dipeluk dari belakang, siapapun aku sudah tidak perduli.

Aku menikmati mereka malam ini. Ujian biologi? Hmm aku tahu mereka hanya buat alasan saja. Telingaku dicium dan dijilat entah oleh siapa, perutku juga diciumi salah satu anak, dan aku langsung spanning”Ayo Ton, maju-mundur, Mbak kepit dengan tetek nih penismu, enak tidak.”

“Eeenakk… Mbakkkk…” gumamnya bingung.

Dia dengan canggung maju-mundur, keringat di buah dadaku menjadi pelincinnya.

“Man kamu berlutut di atas mulut Mbak dan sinikan penismu ke dalam mulut Mbak lagi,” kataku.

Lalu akhirnya Andi menyemprotkan spermanya ke dalam vaginanya, dan disusul Herman sambil mengerang kuhisap teras penisnya dan muncratlah spermanya memenuhi mulutku. Toni masih terus menggesek-gesek penisnya dikepit buah dadaku, lalu dia menyemprotkan spermanya sampai mengenai dagu dan muka.

Mereka lalu lemas berbaring di samping kanan dan kiriku, mereka benar-benar puas, dan ilmu mereka jadi bertambah, ilmu yang mana? Ah aku tidak perduli, pokoknya aku puas dan dapat pengalaman uang bermacam-macam. Sampai sekarang aku masih membutuhkan seks terutama yang muda-muda, agar awet muda, dan aku benar bahagia menikmati semuanya ini.

Friday, January 25, 2013

Guruku

Cerita ini berawal ketika aku memasuki bulan kedua kelas II di sebuah SLTP N di daerah Jateng. Sebut saja aku Bujang, aku adik dua bersaudara lahir dari keturunan Sumatera aE" Jawa. Dari keisengan ku sering memakai sepatu warna putih (di SLTP ku sepatu harus warna hitam), aku sempat mau berkelahi dengan Guru BK ku gara-gara sepatu putihku hadiah ulang tahunku harus dicat warna hitam.

Kakakku adalah seorang preman di kotaku, jadi aku sedikit banyak menjadi anak yang cenderung nakal. Suatu hari aku datangi guru BK ku kerumahnya, sampai dirumah ternyata guruku sedang tidak di rumah, dan hanya istrinya yang berada di rumah. Aku katakan maksudku, minta ganti rugi atas sepatu baruku. Dengan berlinang air mata ternyata guruku sedang tertimpa musibah, orangtuanya sakit dan harus dioperasi dengan biaya banyak. Dia mau melakukan apa saja asal aku tidak minta ganti. Aku cium pipinya beberapa kali dan aku tinggalkan dia.

Dua tahun kemudian aku lulus dan melanjutkan sekolah ke SMA di Jateng. Tak disangka istri guruku yang dulu pernah aku cium, ternyata mengajar di SMA itu. Pada saat pendaftaran aku langsung dipanggil masuk ke kantor, aku tak tahu ada apa, aku hanya menurut saja.

aEsMasuk.. tidak usah sungkan-sungkanaEt katanya seraya menyilahkan aku duduk.
aEsMakasih..aEt jawabku sekenanya.
aEsNanti aku tunggu di rumah jam 3 sore, kamu boleh pergiaEt katanya singkat.

Aku keluar ruangan dengan pikiran tak menentu, ada apa sebenarnya. Aku jadi agak takut juga. Sampai dirumahnya, aku hampir jam empat. Aku ketuk pintu dan dan saya tunggu sambil duduk di teras rumah.

aEsMasuk.. tidak dikunciaEt jawabnya dari dalam, ternyata dia sudah tahu yang datang aku.
aEsKenapa terlambat, aku sudah hampir tak tahan nih !aEt, jawabnya sambil menyilakan aku duduk di kursi tamunya.

Aku terkejut melihat apa yang aku hadapi, ternyata dia tidak memakai pakaian bawahnya hanya memakai kaos tanpa lengan dan sudah mulai memainkan aEssesuatunyaaEt dengan vibrator/atau apa namanya aku kurang tahu. Sambil terus memasukkan dan mengeluarkan alat itu sambil terus mendesah-desah. Aku jadi bingung harus berbuat apa, baru aku mau berbalik keluar tanganku sudah dipegangnya.

aEsBerani keluar, aku akan berteriakaEt ancamnya pelan namun pasti.
aEsMau ibu apaaEt, jawabku kaku, tak tahu harus bagaimana. Baru sekali ini aku menghadapi seorang perempuan setengah telanjang.

Belum sempat aku berpikir banyak, ditariknya tanganku menuju kamarnya. Seluruh pakaiannya dia buka, dan dalam keadaan telanjang bulat aku disuruhnya mempermainkan aEsbarangnyaaEt. Dengan agak takut-takut aku pegang miliknya, aku mainkan dengan jariku. aEsSsss… ssss… hhhhaEt hanya itu yang keluar dari mulutnya. Tak puas dengan tangaku, dia minta aku menjilatinya, aku tolak tapi dia mengancam akan berteriak. Terpaksa dengan agak sedikit perlahan aku dekatkan mukaku, terlihat aEssesuatu yang anehaEt di usiaku yang ke 17 tahun lebih (aku beberapa kali tidak naik kelas) aku baru sekali ini aku melihat aEsmmaEt dari dekat (karena aku termasuk orang yang acuh terhadap perempuan, aku lebih banyak mengkonsumsi obat-obatan daripada perempuan), bau tidak wajar antara enak dan tidak enak langsung tercium, aku sampai mau muntah. Belum sempat mulutku sampai di aEsbarangnyaaEt didorongnya kepalaku dengan dua tangannya, tak bisa mengelak mulutku langsung beradu dengan memeknya. aEsSsss… Ssss.. hhhh.aEt Lagi-lagi yang terdengar hanya desahnya.

aEsAyo jilatin, kalau tidak awas kamuaEt, ancamnya lagi.
Aku hanya bisa menurutinya. Tidak puas dengan itu, dengan disertai ancaman aku disuruhnya tidur terlentang, dia bangkit, dan tahu-tahu duduk dimukaku. Dia gesek-gesekkan memeknya dimukaku dan dimulutku. Sampai beberapa lama sampai aku sulit untuk bernafas, tak sampai lima menit dia sudah mengerang tanda selesai, wajahku jadi basah semua, dan dengan bau yang tidak enak. Dia bangun aku langsung bangun, duduk dipinggir tempat tidur dan langsung muntah-muntah. Keluar semua isi diperutku, termasuk minuman yang aku minum tadi.
aEsMaaf, aku kurang kontrol tadiaEt katanya sambil memijit-mijit belakang leherku.
aEsSudahlah.. aku mau ke kamar mandi dulu cuci mukaaEt, kataku pelan sambil meninggalkannya duduk sendiri di tempat tidur. Baru sekali ini aku muntah-muntah merasakan sesuatu yang tidak enak dan asing.

Keluar dari kamar mandi, aku sudah disambutnya dengan tawanya. Manis juga pikirku, tapi ini calon guruku. Belum sempat aku berpikir jauh dia sudah memegang celanaku.
aEsSudah siap..aEt katanya.
aEsSiap apa..aEt, kataku pelan.
aEsMasak tidak pernah, atau mungkin pernah menontonaEt katanya lagi, sambil membuka semua pakaianku.
Aku jadi malu, dan mau lari saja rasanya. Tapi dia terus main ancam.

Tak berapa lama aku sudah dalam keadaan telanjang bulat, dan dengan sigap dia sudah memegang senjataku dan siap dimasukkan dimulutnya. Dia jilat, dikulum sampai aku hanya bisa mendesah. Pelan-pelan senjataku bangkit. Baru aku tahu rasanya enak, pantas dia juga tadi minta digitukan.
aEsSssss ahhhh sssss ahhhhhhaEt hanya itu yang bisa keluar dari mulutku, sambil tanganku memegang kepalanya, agar tidak dilepaskan isapannya. Kurang dari tiga menit terasa ada yang mau keluar dari mulutku, ssssss..ahhhhhhh, dan cret… cret…, beberapa kali airku keluar di mulutnya.
aEsBaru kali ini ya, kok sebentar sudah keluar, belum digoyangaEt, candanya tanpa malu-malu. aEsBiasa untuk pertama kali, tapi nanti akan kuat juga lama kelamaanaEt, terangnya sambil memelukku.
aEsYya..aEt aku hanya bisa mengangguk pelan.

Dituntunnya aku ke kamar mandi, dibersihkannya senjataku, perlahan-lahan dengan teliti. Terus kami ngobrol di kamarnya masih dalam keadaan telanjang bulat, tapi tubuh kami dibalut selimut. Tak terasa kami ketiduran, dan bangun sudah malam sekitar jam setengah sembilan. Belum sempat aku bangkit duduk, dia sudah mendekapku. Diciumnya bibirku, dimasukkannya lidahnya di mulutku, aku hanya bisa membalas walaupun agak sedikit canggung. Lama kami saling berciuman.

aEsAyo hisap lagi ya…aEt katanya manja setelah menjauhkan bibirnya dari bibirku.
Aku langsung menjilati memeknya, ada rasa aneh dan enak yang tak bisa dilukiskan. Ternyata setelah aku terangsang, pikiran kotor, bau, jijik, dan lainnya tidak terasa. Aku hanya senang saja melakukannya. Esssssss.. ahhhhhh aaaaahhhh, hanya itu yang terdengar.
aEsGantian…aEt, kataku pelan setelah agak lama aku mencumbu memeknya.
Tanpa diminta lagi dia sudah memegang senjataku dan mengulumnya dengan buas. Saya pegang kepalanya, aku dorong senjataku sedalam-dalamnya masuk dimulutnya. Dia terbatuk-batuk sambil berbisik aEskamu mau membalas saya ya…aEt. Aku hanya tersenyum.
aEsAyo masukkan sayang …aEt katanya manja.
aEsSssssss ahhhhh, sudah tidak kuat nihaEt pintanya lagi setelah aku gantian lagi mencumbu memeknya

Aku masukkan senjataku kedalam lobang memeknya. Enak juga ya, kok aku dari dulu tidak pernah tahu. Kugoyang Senjataku maju mundur sesuai permintaannya. Baru beberapa kali goyangan sudah ada yang mau keluar dari SenjatakuaEt. Crrrrrrret… creeeeeeet, aku keluarkan airku di dalam memeknya. Setelah beristirahat, saya goyang atau dia goyang saya malam itu beberapa kali sampai pagi, sampai lama-kelamaan aku bisa bertahan agak lama, dan dia mulai senang dengan permainanku.

Aku diterima di SMA itu tanpa ada masalah, walaupun nilaiku sedikit. Aku diterima dan diakukan sebagai anak kakanya. Dan itu pula sebabnya tidak ada yang curiga aku terlihat sering ngobrol dengan dia. Dan kebetulan dia sambil menjadi pembina pramuka. Kami jadi bebas, tidak ada yang curiga aku keluar malam dari tenda waktu kemah, ngobrol sambil dilanjutkan dengan adegan ML. Seperti malam itu…

aEsAyo sayang …, lagi pengen nihaEt katanya padaku.
aEsAku jugaaEt jawabku sekenanya.

Aku keluar berjalan menuju sungai yang agak sedikit jauh dari tenda kami, diikuti guruku dibelakangku.
Sampai di sungai aku dudukan ibu guruku di semak-semak, sebelumnya aku sudah mencari alas dari daun pisang ditepi sungai. Aku mulai memainkan tanganku dibali seragam pramukanya. Aku remas-remas gunungnya, aku gelitik puncak gunungnya secara terus menerus, sambil terus mulut kami saling beradu, bertukar air lir dan saling berpangutan memainkan lidah kami masing-masing.

Tak puas dengan itu, saya buka seragam pramukanya, terlihat gunungnya yang begitu indahnya. Walaupun aku sudah seringkali mengulum, mencium dan mempermainkan lidahku di atas gundukan daging kenyalnya, tapi aku tidak pernah merasakan bosan. Aku gigit-gigit ujung daging kenyalnya, dia hanya bisa mendesah ssssssss… ahhhhhh aaahhhh.. seperti yang biasa dia bisikan.

Aku selipkan tanganku dibawah CD nya yang ternyata dia sudah mulai basah, aku mainka tanganku disana. Aku pegang, aku usapkan seluruh telapak tanganku diatas memeknya sampai ujung jari menyentuh lubang belakangnya. Aku masukkan jari tengahku kedalam lubang memeknya. Dan dia hanya bisa mendesis, mendesah seperti ular yang sedang mencari mangsa. Aku yang tadinya merasa agak kedinginan, karena kebetulan kami kemah di atas sebuah bukit mulai agak merasakan panas ditubuhku.

aEsTolong lepaskan pakaianku sayang ..aEt, pintaku sedikit manja sambil terus menerus memainkan tiga jari tengah ku di lubang kewanitaannya, dan dua jariku yang lainnya untuk menahan dan membuka daerah terlarangnya.
aEsSsssssssss aaahhhhhhhh aaaahhh ah…aEt, jawahnya mulai tak karuan. Tangannya mulai melepaskan satu persatu pakaianku, hanya tertinggal CD nya saja. Dimasukkannya tangannya kedalam CD ku, dia remas-remas bolaku seperti biasa yang ia sukai.

Dia pegang senjataku dengan tangannya, sementara dia sudah mulai menarik kebawah CD ku dengan tangan yang lainnya. Aku bangkit aku bersandar pada sebuah pohon, aku tarik kepalanya menuju senjataku. Tanda diminta dia sudah biasa langsung bisa mengulum, menjilat-jilat batang senjataku. Hampir setengah jam aku dibuai oleh kenikmatan mulutnya di senjataku, aku tekan kepalanya terus setiap dia hendak melepaskan kulumannya.

aEsSayang … aku sudah tidak kuat nih.. ahhhhhhhhaEt, rintihnya pelan.
aEsGantian dong…aEt, pintanya lagi.

Setelah dia berhasil melepaskan kulumannya setelah aku menumpahkan beberaa tetes air ku dimulutnya, karena aku sudah tak tahan.Saya lepaskan CD guru ku yang sudah sangat basah itu, aku mulai memainkan kedua tangaku di daerah terlarangnya. Aku buka dengan tanganku, dan saku masukkan tanganku yang satunya lagi dengan perlahan-lahan, maju mundur, maju mundur dengan teratur.

aEsSsssssss ahhhh…aEt hanya itu yang terdengar diantara sayup-sayup suara angin berdesir.
aEsEnak sayang …, ayo jilati dongaEt.
aEsAyo sayang … jilati aku dongaEt, pintanya lagi, setelah sekian lama di meminta tapi aku masing memainkan tanganku di memeknya.

Aku dekatkan wajahku ke memeknya dan mulai aku jilati sedikit demi sedikit. Mulai dari atas, diatas bulu-bulu lembutnya, ke bawah sampai aku merasakan lidahku menjilati sesuatu yang hangat, kenyal dan sedikit basah. Aku mainkan lidahku didalam memeknya, dia pegang kepalaku, dia tekan, sampai mukaku menyentuh semua permukaan kulit kemaluannya. Aku mainkan lidah ku teru, terus, dan terus sampai aku terdengar suara erangan yang panjang si keheningan malam.

aEsAaaahhhhh, aaaaaahhhh, ahhh !.
Aku bersihkan diriku, aku pakai kembali pakaianku dan pakaiannya sudah dipakai pula. Aku berjalan bergandengan menuju kemahkami, sambil sekali-sekali bibir kami saling bertemu, dan tersenyum puas. Sebelum sampai di perkemahan…
aEsAyo sayang, dimasukkan di sini…aEt, tiba-tiba senjataku yang masih lemas dipegangnya, aku jadi terbangun.

Dan senjataku mulai bangkit. Aku balas pegang kedua gunung kembarnya, aku selipkan tanganku dari balik bajunya.
Beberapa lama kami saling meraba, sampai akhirnya aku singkapkan roknya keatas, dan aku lepaskan CD nya kebawah. Dengan tangan berpegangan di pohon, aku goyang guruku dari belakang tanpa melepaskan celanaku. Aku goyang terus lama sekali.

aEsGanti aahhhhh, aku sudah pegal nih!, katanya.
aEsYaaahhh aEs, jawabku pendek, sambil melepaskan senjataku dari lubang memeknya.

Aku duduk di bawah pohon, aku turunkan sedikit celanaku. Dia aku suruh duduk di atas pangkuanku. Aku masukkan senjataku ke dalam lubang hangatnya. Dia bergerak naik turun seirama nafasnya yang sudah tidak teratur lagi. Sampai akhirnya…

aEsAku hampir keluar …ahhhhhhhhhaEt, desahnya.
aEsTahan dulu, aku pingin yang lebih lama lagi…aEt jawabku.
aEsAku tak tahan … aaaaahhhhhhaEt, balasnya lagi.
aEsAaaaahhhhhhhh, cretttttt, aahhhhhh, creeettaEt desah kami berdua.

Aku cium bibirnya, dengan lembut dan agak lama. Kami saling tersenyum puas. Aku bali ke tendaku dan langsung ganti celana, kulihat teman-temanku sudah pada tidur semua. Aku lihat jam, astaga sudah jam 2 lebih padahal barusan kami berdua berangkat kesungai jam 9 malam. Berarti lama benar saya bermain di luar.

Perbuatanku aku lakukan sampai aku lulus dari SMA itu tanpa ada seorangpun yang tahu. Sampai akhirnya aku lulus dan sebagai tanda perpisahan kami, aku diajak dia pergi keluar kota selama tiga hari. Dan aku lewatkan waktu itu dengan terus memuaskan diri kami masing-masing.

Setelah sekian lama berpisah, lima tahun sudah aku tidak bertemu. Kami kebetulan bertemu di sebuah restoran. Sambil menangis dia peluk aku, aku cium keningnya, terlihat orang-orang disekelilingku heran memandang perbuatan kami berdua, karena terlihat seperti sepasang kekasih tetapi dilihat wajah kami jauh berbeda (karena perbedaan usia).

Dia cerita bahwa suami dan dua anak nya meninggal karena kecelakaan, beberapa tahun setelah aku lulus sekolah. Dan suaminya sempat minta maaf dan berpesan bahwa dia juga sudah memaafkan perbuatanku dan dia, sebetulnya suaminya tahu tapi dia diam saja tidak pernah mengusik kami berdua. Dan baru saat itu pula, aku tahu bahwa suaminya suka melakukan ML dengan kasar dan sering sambil memukulnya. Dan dia memilikiku sebagai pelampiasan nafsunya tanpa ada rasa sakit di badannya.

Sejak saat itu aku dan dia tinggal satu rumah dengan istriku, tanpa istriku tahu keadaan yang sebenarnya. Istriku adalah teman sekelasku dulu, jadi dia pikir dia adalah tanteku. Kami hidup bahagia tanpa harus mengulang perbuatan kami dulu yang sering ML.

Thursday, January 24, 2013

Kesengsaraan Nia Ramadhani

'Halo..., eeeh, Tante Tamara... ada apa? Main ke rumah tante? waaah mau banget, saya kan penggemar berat tante.... iya tante sekarang saya ke sana.'
Dan telepon itu menjadi awal neraka buat Nia Ramadhani

Tamara sendiri yang membukkan pintu rumahnya, ia memakai daster hitam tipis transparan, yang memperlihatkan keindahan tubuhnya yang tidak memakai apa-apa lagi di balik daster itu.

Nia merasa jengah, namun demi kesopanan sebagai tamu, ia tersenyum.
'Ayo Nia, kita ke ruang dalam' ajak Tamara sambil mengajak Nia kesebuah ruangan di rumahnya.

Tamara mendorong Nia ke dalam ruangan itu dan pintunya tertutup dan terkunci di belakang mereka.

'Apa-apaan ini Tante?

Dan letusan senjata yang hampir mengenai kaki Nia mengagetkannya, entah sejak kapan Tamara memegang senjata.

Nia terdiam menggigil melihat laras senjata itu mengarah ke tubuhnya, Tamara kemudian duduk disebuah kursi di tengah ruangan itu, Nia yang merasa dapat kesempatan segera berlari ke arah pintu, namun desing peluru yang nyaris mengenai wajahnya menghentikan langkahnya.

Tamara mengarahkan Nia sehingga berdiri dihadapannya, Nia mulai menangis ketakutan, melihat kilatan senjata yang dipegang Tamara.

'Kenapa, begini Tante?' sedu Nia

'Karena aku benci kamu' seru Tamara dingin
'Kamu tidak berhak menggantikan aku... mengambil ketenaranku, kejayaanku, menyaingi kecantikanku'

'Tapi tante...'

Desing peluru berikutnya melewati bawah selangkangan Nia, dan meninggalkan lubang di roknya.
Tak terasa Nia kencing di celana, Tamara tertawa sejadi-jadinya.

'Ampun tante.. jangan bunuh saya... saya berjanji akan melakukan apa saja demi tante... atau kalau tante mau saya akan mundur dari dunia entertainment...'

'Apapun?'

'Apapun, tante...'

'Bagus... kita akan rekam pernyataanmu'

Nia baru sadar kalau banyak kamera dalam ruangan itu, lalu Tamara melemparkan sebuah kertas ke arah Nia

'Baca dengan jelas...'

Nia melihat isi pernyataan itu, ia terkejut... namun senjata yang menyalak menciutkan nyalinya, ia hanya ingin hidup, maka dengan suara bergetar ia membaca pernyataan itu

'Saya Nia Ramadhani, membuat pernyataan ini dalam keadaan waras dan tanpa paksaan apapun juga dari pihak manapun juga. Dengan ini saya menyatakan bahawa saya menyerahkan seluruh jiwa, dan raga saya kepada nyonya saya. Saya bersedia menjadi budak nyonya saya dan melakukan semua perintahnya tanpa pertanyaan, pemberontakkan, ataupun penolakan lainnya. Dan saya bersedia diperbudak selama nyonya saya berkenan.'

Nia tau jebakan ini... karena tak akan ada yang tau kalau Tamara Blezinsky yang melakukannya.

'Mulai sekarang, budak... panggil aku nyonya.'

'Ba..baik tan...eh.. nyonya'

'Sekarang... striptease, pelacur...'

Nia menangis karena direndahkan begitu rupa, namun ancaman tamara tak bisa dianggap mainan, maka... Nia mulai bergerak erotis dan menelanjangi tubuhnya, hingga hanya tinggal kaus kaki putih selutut dan sepatu hitam yang menghiasi tubuh polos Nia.

Tamara melemparkan sebuah pisau cukur ke arah Nia...

'Cukur jembutmu lonte... nyonyamu mau lihat memekmu'

Kembali Nia menangis dihina begitu rupa... dan tak lama... vagina Nia yang merah muda merekah terpampang jelas.

Kemudaian Tamara bangkit dari duduknya.... ia mengambil seluruh pakaian Nia dan membakarnya... lalu ia melolosan daster tipisnya... dan memaksa Nia bersimpuh di depan vaginanya yang berdenyut ingin dipuaskan.

'Jilat' perintah Tamara... 'Puaskan aku budak...'

Nia tak punya pilihan kecuali melakukan permintaan Tamara dan mulai menjilati vagina Tamara sampai Tamara ejakulasi.

'Bagus budak... karena aku puas... aku akan memberimu hadiah.... Mamat sayang.... masuk sayang'

Pintu membuka dan sesosok laki-laki masuk.dan mengunci pintu di belakangnya

Nia bergidig melihat laki-laki itu, tubuhnya bongkok, matanya besar sebelah, dan giginya tongos tak beraturan, serta tampak terbelakang mental karena membiarkan liurnya berleleran begitu rupa. Nia makin ngeri, karena laki-laki yang dipanggil Mamat itu telanjang bulat.
'Budak... kamu boleh menikmati dientot Mamat karena kau puas...'

Tanpa sadar Nia beringsut menjauhi Mamat... dan hal itu adalah kesalahan besar karena...

'Ampun nyonya.... ampun, saya salah nyonya.... tidak tahu diuntung nyonya... saya akan layani Mamat nyonya... tapi jangan cambuk saya lagi... ampuuuunnn'

'Baik... sekarang merangkak ke arah Mamat, BANGSAT'

Nia merangkak sambil menahan sakit disekujur tubuhnya yang penuh bilur merah dan ungu... Tamara kemudian memerintahkan Nia mengoral penis Mamat yang panjangnya 20cm itu.

Nia hanya bisa meratapi dirinya yang kini mengoral penis orang cacad yang liurnya kini mengalir menetesi rambut dan wajah Nia.

Nia berusaha mengoral sebisanya, namun Nia kaget karena makin lama, penis Mamat makin memenuhi rongga mulutnya.

Lalu Tamara memerintahkan Nia untuk terlentang dan menarik kaki kearah dada dan mengangkan sebisanya.

Mamat yang sudah konak berat langsung menyodokkan penisnya ke vagina Nia yang sempit dan kering. Nia menjerit sejadi-jadinya, ia coba berontak, namun tubuhnya di cengkeram Tamara, Mamat tidak peduli, ia terus melesakkan seluruh penisnya kedalam vagina Nia, bahkan sampai tembus ke rahimnya.

Tamara memaksa Nia melihat pemerkosaan itu. Penis besar Mamat benar-benar destruktif, bahkan tampak seperti kepalan tangan yang maju mundur di bawah selimut.

Lalu Tamara mengangkangi wajah Nia dan memaksanya menjilati vaginanya lagi. Nia benar-benar kelabakan karena Tamara seakan sengaja menduduki wajahnya sehingga liang anusnya menutupi hidung Nia, dan aroma kotoran memenuhi paru-paru Nia.

Tamara kemudian menunggingkan Nia, dan membuka bongkahan pantat Nia dengan kasar. Mamat yang seakan dilatih untuk hal itu segera menghujamkan penisnya kedalam anus Nia dan menyodominya dengan brutal. Nia melolong kesakitan, karena anusnya disodomi dengan brutal. Nia dapat merasakan cairan hangat, yang diyakininya darah, mulai keluar dari anusnya yang hancur itu.

Walau cacat namun rupanya stamina Mamat benar-benar hebat, sudah satu jam ia memperkosa dan menyodomi Nia, gerakannya mulai liar. Tamara memerintahkan Mamat untuk mengarahkan penisnya yang berlumuran darah dan kotoran Nia ke mulut Nia, lalu tanpa belas kasihan Tamara memerintahkan Nia untuk menjilati penis Mamat perlahan-lahan seperti sedang menikmati ice cream, sehingga semua darah dan kotoran bersih, Niapun merasakan kotorannya sendiri, selain itu Nia dipaksa mendeepthroath mamat sebisanya dan dipaksa menelan semua sperma yang disemburkan Mamat. Nia tersedak, dan sebagian sperma mengalir dari hidungnya seperti ingus. Tamara kembali tertawa kegirangan.

Hari sudah larut malam ketika Tamara mengusirnya dari rumahnya dengan menggunakan pakaian yang diberikan Tamara, tanktop tipis, ketat, dan kekecilan, serta celana pendek kulit, ketat yang membuat Nia nampak seperti pelcur murahan. Dan memaksanya naik kendaraan umum pulang ke rumahnya.

Nia tidak berani mengadukan Tamara, karena takut rekaman perkosaannya tersebar dan juga ancaman Tamara yang akan memerintahkan ribuan orang untuk memperkosa Nia sampai mati.

Sejak itu Nia benar-benar jadi budak Tamara, juga jadi pelcur dagangan Tamara yang harus melayani siapapun dari pengusaha terkenal hingga gelandangan pinggir jalan, sesuai keinginan Tamara.

Derita Nia Ramadhani 2
Eps: Putus

Ini adalah kejadian dibalik sakitnya Nia Ramadhani, tak lama setelah putus dari penyanyi R 'n B, Resa.

'Aku minta putus..., aku sudah ngga tahan' teriak Nia
'kamu terlalu posesif... aku ngga mau', sambung Nia, ketika mereka berdua sedang berkendaraan

'jadi kamu mau putus, hah... oke lonte... aku putusin kamu... tapi aku akan hancurkan kamu' teriak Resa sambil melajukan mobilnya seperti kesetanan ke arah lokasi pelacuran terkumuh di Jakarta.

lalu Resa menjambak Nia keluar mobil dan menyeretnya ke tempat pelacuran itu. beberapa preman yang ada disitu menahan mereka

'Ada apa nih bang? siapa tuh cewe?'

'Apa abang ngga ngenalin?' kata Resa, 'Ini Nia Ramadhani, artis sinetron... malam ini dia mau tau rasanya jadi lonte, jadi kalo abang-abang mau... silakan entot dia sampe mampus.'
Mendengar itu Nia menjerit ngeri, namun para preman bersorak gembira, Resa menyeret Nia ke tengah lokasi pelacuran, dan sekejap saja mereka sudah dikelilingi seluruh penghuni lokalisasi yang jumlahnya ada sekitar seratus orang.

Resa lalu menelanjangi Nia dan melemparkannya ke arah para manusia tuna susila itu. Nia menjerit, berusaha berontak, namun apa dayanya dikepung banyak orang, tubuhnya dibanting ke tanah, dan vaginanya segera dihujam penis. Nia hanya dapat menjerit tertahan karena ada penis lain yang mengisi mulutnya.

Tak lama orang di vaginanya orgasme, dan segera diganti oleh penis lain. Tak lama berselang, Nia kembali tersedak karena penis di mulutnya di dorong sampai mentok ke tenggorokannya, dan ejakulasi di situ. Orang berikutnya menunggingkan Nia dan menyodomi anusnya dengan brutal. Nia melolong sejadi-jadinya, namun kembali ada penis yang menyumpal kerongkongannya.
Kemudian Nia dipaksa ber woman on top, lalu anusnya di sodomi, dam mulutnya di jejali penis. Nia benar-benar bagai boneka rusak, dilempar kesana-kemari, dibuat bagai seonggok daging, mengalami berbagai variasi sex, yang menyakitkan, terutama variasi satu lobang dua batang di anus dan vaginanya.

Para pelacur yang ada, bukannya menolong malah ikut menyiksa Nia, mereka memaksa Nia menjilati vagina dan anus mereka sampai orgasme, dan ikut menghancurkan vagina dan anus Nia dengan berbagai cara, fisting, sayur mayur, buah-buahan,botol berbagai miras.

Resa benar-benar kejam, tanpa kasihan ia justru mengumpulkan pengemis, dan gelandangan dari daerah sekitar komplek pelacuran. Tak lama terkumpul sekitar lima puluh orang.

Kembali Nia mengalami perkosaan dan hinaan yang merendahkan martabatnya, karena Resa sengaja mengumpulkan pengemis dan gelandangan yang paling cacat yang dapat ditemui. Ada yang kakinya buntung, badannya cacat, korengan disekujur tubuh, ada yang badannya busuk di mana-mana, ada yang pengkor, idiot. Bahkan Resa sengaja mencari kumpulan terkumuh yang memiliki beragam penyakit kelamin, sehingga vagina anus serta mulutn Nia yang harus men deep throath semua penis itu terinfeksi siphilis, gonorhea, herpes, genital wrats, dan vietnam rose.

Setelah puas melihat Nia dalam kodisi sekarat dan sangat menderita, Resa menjejalkan tubuh Nia yang lemah dan berantakan ke dalam bagasi mobilnya yang penuh ban serep dan perkakas mobil lainnya.

Lalu Resa mengantar kan Nia kerumahnya lalu mengikat tubuh Nia membentuk huruf X di gerbang rumahnya yang sedang sepi, dan meninggalkannya dengan mencoret tubuh Nia dengan spidol permanen, di atas vaginanya yang membuka lebar dan mengalirkan sperma dan darah ditulisnya, 'memek lonte', juga tulisan 'aku lonte gratisan', lalu Resa meninggalkan Nia begitu saja.

Demi menjaga reputasi Nia dan menutupi aib. Nia dan keluarganya sepakat... maka berita yang muncul adalah, Nia terlalu kelelahan, Nia perlu istirahat. Dan Resa tertawa

derita nia 3: eps: nyontek

Hari itu Nia Ramadhani benar-benar lupa kalau ada ujian, karena ia sibuk shooting sampai subuh. karena panik, ia melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya.... dan ada sepasang mata yang melihat Nia mencontek.... seseorang yang sangat membenci Nia...

Sekolah hampir bubar ketika Nia mendapat MMS, dan ketika ia membukanya, ia sangat terkejut melihat rekaman dirinya sedang mencontek.Dan pesan yang mengikutinya berbunyi, kalau kamu tidak mau rekaman ini tersebar... datang ke ruang olah raga setelah sekolah sepi.

Nia yang ketakutan perbuatannya diketahui, mengikuti ancaman itu. Setelah sekolahnya sepi... ia datang ke ruang olah raga, di dalamnya ia melihat temannya Maya.

'Ada apa ini May... Kamu kenapa?'

'Aku... Mau... kamu... hancur! kamu sudah terlalu lama ada di atas, lonte. sekarang saatnya kamu jatuh.'

Dan mendadak ada tangan yang mendorong Nia terjatuh, dan terdengar pintu ruang olah raga dikunci, dan ketika Nia sadar, ia sudah dikelilingi sekitar 40 orang temannya yang berkelakuan paling brutal dan yang paling jelek yang ada disekolah.

Nia mencoba berontak, namun mereka benar-benar kesetanan, tidak lama tubuh Nia sudah telanjang, kecuali kaus kaki semata kakinya. mereka merobek-robek pakaian Nia dan membuangya.

Nina menangis sejadi-jadinya... ia tau tak akan ada yang menyelamatkan dari gerombolan serigala yang sekarang telah telanjang bulat seluruhnya.

Mulut Nia menjadi korban pertama, penis demi penis, merojok masuk jauh ke kerongkongannya. Nia hampir muntah dan kehabisan napas karena mereka menekan wajahnya sehingga hidungnya tertanam di bulu penis mereka.

Kemudian, temannya yang paling preman, Joko, maju, ia menjambak rambut Nia, menaparinya, menendang pantat montok Nia sampai terjengkang, dan dengan brutal menyodominya.

Nia menjerit sejadi-jadinya karena anusnya di sodomi dengan brutal, Joko bukannya iba, bahkan makin menjadi-jadi menghancurkan anus Nia, mengubah posisinya sehingga makin menyakitkan Nia. ketika akhirnya Joko ejakulasi, ia memaksa Nia men deep throath penisnya yang belepotan darah dan kotorannya.

Nia benar-benar merasa terhina diperlakukan begitu rupa, terlebih ketika ia melihat Maya sengaja merekam seluruh kejadian perkosaan itu.

Sebuah XXXXXXXXX di wajah Nia membuat ia terlentang, dan belum hilang kagetnya, tubuhnya sudah di timpa, Andi, temannya yang paling gendut. Nia sampai megap-megap karena Andi sengaja menumpukan berat badannya ke tubuh kecil Nia.

lalu teman-temannya yang lain maju. mereka meregangkan kaki Nia sejauh mungkin sehingga seakan-akan mereka mau merobek Nia jadi dua, lalu mereka bergantian memperkosa dan menyodominya.
Temannya yang lain menelikung tubuh Nia, sehingga hanya bahu dan kepalanya yang menyangga di tanah, lalu mereka memperkosa vagina dan anusnya dengan brutal. bahkan dalam posisi itu anus dan vaginanya menerima serangan satu lobang dua batang, Juga mulutnya selalu penuh dengan penis, yang sengaja di hujamkan sampai dalam ke kerongkongannya.

Nia juga dipaksa ber woman on top, sementara punggungnya dipecuti Maya. Bukan hanya itu, mereka mengikat leher Nia dengan rantai anjing dan memaksanya berlaku seperti anjing. Nia benar-benar direndahkan. Mereka memaksa Nia membuka mulutnya dan mereka berlomba-lomba berejakulasi ke arah mulut Nia, wajahnya sampai belepotan sperma, mereka memaksa Nia berkumur dengan sperma mereka dan kemudian menelannya. Mereka juga memaksa Nia menjilati telapak kaki dan anus mereka.

Hari menjelang subuh ketika akhirnya mereka puas melihat kondisi tubuh Nia yang berantakan. Esoknya tubuh bugil Nia jadi tontonan seluruh sekolah.
Teman-teman Nia yang ternyata sangat membencinya dan sangat ingin melihat Nia menderita. Mereka berlomba menyiksanya dengan melempari telur, dan sayuran busuk ke tubuh Nia.

Sejak saat itu Nia Ramadhani menjadi lonte untuk seluruh orang disekolah karena rekaman perkosaannya juga sengaja disebar Maya, sehingga semua sekolah tau kalau Nia benar-benar hina dan nista.

Mereka memaksa Nia untuk bugil kalau berada dilingkup sekolah dan menyerahkan dirinya untuk menjadi pembuangan sperma semua orang yang mau, mulai dari anak baru sampai penjaga sekolah. Bahkan guru-gurnya juga ikut menikmati Nia Ramadhani sang artis sinetron.

Wednesday, January 23, 2013

Olga Lyddia The Unreleased Pictorial

Ini adalah fanfics artis pertama gw, semoga hasilnya berkenan, cerita ini ada berkat kolaborasi Shusaku dgn Chad & Dian k (penulis serial Eliza). Nice to cooperate with u all.
enjoy the story

Ini adalah fanfics artis pertama gw, semoga hasilnya berkenan, cerita ini ada berkat kolaborasi Shusaku dgn Chad & Dian k (penulis serial Eliza). Nice to cooperate with u all. enjoy the story

"Ya, jadi menurut bapak kira-kira berapa lama ya selesainya??"
"Paling 2 sampai 3 hari non...Kalau mau hari ini juga kita bisa mulai bongkar, jadi bisa hemat waktu juga...Gimana Non Olga??" Jawab bapak-bapak separuh baya itu

Read More

"Boleh pak, tapi saya ada perlu hari ini,gapapa saya tinggal pak??" jawab wanita yang dipanggil Olga.
"Oh, gapapa Non, urusan disini jadi tanggung jawab saya..Non tenang aja.."
"Ga bukan masalah itu, saya percaya koq ma bapa,.Kan dulu rumah mama juga bapak yang beresin,..Soal pembayaran gimana pak,..??"
"Ya, kita minta 50% aja dulu bisa??Buat belanja bahan nich non.sama urusan ma pihak apartement gimana,nanti kita dimarahin lagi kerja disini??" jawab mandor itu..
"Oke tapi untuk pembayaran tunggu saya pulang ya pak. Paling jam empat saya sudah pulang, urusan maintenance sudah saya urus pak, ga masalah, ke tetangga juga sudah saya omongin"
"Oh, kalo gitu kita kan enak kerja-nya,..Ya sudah non kalo non mang ada pekerjaan, bisa ditinggal, pokoknya Non tau rapi saja...hehehe"

"Oke, kalo gitu saya tinggal ya pak, pemotretan-nya jam 12 soalnya..Takut telat.." Kata wanita itu sambil mengangkat tasnya..

Dia tampak tergesa-gesa sekali, Ya, wanita tinggi putih berwajah oriental itu memang Olga, Olga Lydia, foto model, aktris dan presenter yang cukup terkenal di Indonesia.

"Hati-hati Non,.."
"Ya makasih Pak, tolong tunggu saya ya pak.." ingatnya
"Baik Non" jawab mandor itu,..

Olga pun bergegas keluar dari apartementnya, para pekerja berjumlah dua orang plus seorang mandor itu pun segera melakukan pekerjaannya, merenovasi dan memperbaiki beberapa saluran air di apartement itu.
"Bagus ya pak apartementnya" Kata salah satu dari pekerja
"Ya bagus lah, namanya juga punya artis, hehehe" jawab mandor itu.
"Udah lama pak kenal ma keluarga dia?” tanya mandor berkumis dan kekar itu, umurnya kira-kira 50an.
"Dari kecil Ded, dah lama juga kenal keluarganya, jadi kerja yang bener ya. Ga enak gue kalo asal jadi aja.."
"Ya pasti pak, tenang aja.hehehe" jawab pekerja bernama Dedi itu.
"Ya bapak tinggalin aja disini biar kita yang urus dulu, kan bapak bisa belanja cat dulu, siapa tau kita bisa mulai cat sore" Kata seorang pekerja yang sedang merokok,..
"Oke gue tinggal, tapi lu jangan ngerokok aja Bakrie, takut kena karpet ya"
"Siap Boss.." jawab pria 30an berambut cepat dan berbibir tebal itu sambil mematikan rokoknya..

###

Di pinggiran kolam renang, sebuah rumah mewah, terlihat beberapa orang mempersiapkan alat-alat pemotretan, dari dalam rumah keluarlah Olga dan beberapa asisten serta Darwis Triadi, salah satu fotografer terkenal di tanah air.
"Gimana??Udah beres alat-alatnya??masa mindahin dari dalem keluar aja lama??" tanya Darwis ke krunya.
"Sudah Boss, nich lagi test aja,.." Jawab salah satu kru..
"Oke Olga bisa dimulai sekarang??"
"Sip Darwis, lagian gue dah risih nich..Hehehe” sambil melepas selendang yang menutupi bagian pinggangnyya kebawah.
Olga dengan swimsuit merahnya kini sudah masuk set pemotretan itu dengan dibantu beberapa assisten-nya untuk mempersiapkan pose yang diinginkan Darwis. Kipas angin pun dinyalakan untuk membuat kesan rambutnya yang tertiup angin. Tak lama pemotretan itu pun dimulai, beberapa scene, dan mereka mulai berpindah-pindah set.

"Ya bagus, coba angkat tangan kiri kamu, jangan liat ke kamera..natural aja"
Klik !!!
"Ya bagus, Liat kesini, majukan kaki kiri kamu, ya bungkuk sedikit.."
Klik !!!
"Lightening pindah kebelakang, Ya tahan sebentar pose itu, senyum sedikit, yaa.."
Klik !!!
"Oke Thanks, Olga sip banget, ini saya usahain jadi cover ya...sayang banget kalo ga jadi cover.." Kata fotografer itu,..
"Oooo..bayaranya nambah donk,.hehehe, Ga becanda, Gue liat donk hasilnya ya, jangan naek cetak dulu baru lu kasih gue,.." jawab Olga.
"Oke santai, kamu tau gimana saya kerja kan.."
"Hahaha, ya udah, dah beres kan gue tinggal ya??"
"Oke ga masalah thanx ya..Bye-bye"
"Sip, take care ya..Bye"
Olga pun segera menuju ruang ganti pakaian di rumah itu, scene di kolam renang itu, memaksanya untuk berpose dengan swim suit, Sopan sich, tapi pemotretan ini jarang sekali dia lakukan. Di ruang ganti itu ada Anna, sahabat Olga yang juga seorang model.

"Gmana Lyd??" tanyanya.
"Ga tau gue juga belum liat hasilnya, lu tahu sendiri si Darwis, belum perfect buat dia mana mungkin dikasih liat ke kita?? Jawab Olga..
"Hahaha, iya juga yee.Lupa gue,..Mau kemana nich kita??"
"Aduh sory Ann, gue musti buru-buru balik, mau ke ATM dulu, gue mau ambil duit, apartemen gue kan lagi dibenerin, gila keran bocor terus, sekalian lapis cat lagi..."
"Ohhh, jadi nich dibenerin, terus yang jaga siapa??Besok aja kita masih ada satu roll lagi kan.."
"Ah tenang aja,..Hari ini gue tinggal, besok sich nyo gue yang jaga."
"Yawda lu ati-ati aja barang lu ya.."
"Rabu lu jadi kan ke tempat, gue ga da Job juga kan kita??"
"Oce dech, tar gue dateng dech lusa ya..,Gue cabut dulu nich, Biasa Roby dah nunggu.."
"Yawda TitiDJ Na,.."
"Hahaha, Lu juga ye, Bye.." Jawab Anna, sambil membuka pintu ruang ganti itu, Olga pun segera mengambil pakaiannya di loker, Dia segera berganti pakaian, Tak lama Olga pun selesai dan segera keluar dari ruang ganti itu. Setelah berpamitan pada Darwis dan beberapa kru, Olga pun segera meninggalkan lokasi pemotretan itu.

###

Pukul 4.20 Olga sudah kembali, setelah mengambil Uang di ATM untuk membayar 50% biaya perbaikan apartement-nya. Sesampainya di apartementnya, Ibu Olga sudah disana, selain itu beberapa bagian ruangan apartement itu sudah dilapis ulang, Pekerjaan-nya cukup rapi juga...Dia segera menghampiri ibunya di dapur..
"Kapan dateng Mi??"
"Dah pulang, tadi jam 2an lah...Minum dulu jus di lemari es tuch..."
"Makasih Mi, tar dech..Nginep kan Mi???"
"Iya, tapi besok sore mami pulang, kasian Papi kamu sendiri,.."
"Yee, kenapa papi ga diajak kesini aja sekalian??" Jawab Olga sambil mengambil jus
"Tau sendiri kan Papi mu itu, lebih seneng burung daripada nyenengin Mami mu.."
"Dasar Mami..hehehe,..Pak Jabir mana Mi ??"
"Diatas kayaknya..Dia lagi bongkar pipa ma anak buahnya.."
"Oh, Olga keatas dulu ya Mi, sekalian bayar Uang muka nich,..Mami belum dinner kan?"
"Belum, mau Mami masakin??"
"Ga usah mi, nanti kita makan aja diluar, mami dah mandi??"
"Belum, yawda Mami mandi dulu dech.."
"Oke..aku naek dulu ke atas.." kata Olga yang dibalas senyuman oleh maminya..Ia pun segera naik ke tingkat 2, menemui si mandor Jabir.

"Gimana Pak untuk hari ini??" tanya Olga.
"Ya Non liat sendiri, buat pipa ini juga udah ketemu penyakitnya, cuman kita ga bawa peralatannya, mungkin besok kita urus dech Non,kita lagi ngikis cat aja dulu besok di Cat ulang, kalo sekarang ga keburu,.." Jawab Pak Jabir
"Oh yawda, ini pembayaranya pak, 50% dulu,..Dihitung Pak,.." Sambil menyodorkan amplop berisi uang tunai..
"Ah, percayalah bapak ma Non,..Habis ngikis cat di ruangan ini kita pamit dulu ya Non, sudah jam 5 juga.."
"Oke Pak, ga masalah, beresin aja dulu pak, Saya tinggal ya?"
"Silahkan Non.."

Olga pun segera turun, tak lama rombongan pak Jabir pun menyelesaikan pekerjaannya. Mereka berpamitan dengan Olga dan ibunya, yang sedang berbincang sambil menonton televisi..
"Sudah sana mandi, katanya mau makan,..' Tegur Ibu Olga,..
"Iya Mi, baru pada pulang sich ga tenang ada mereka..Hehehe.."
"Dasar, bagus dech, kamu itu wanita, jaga baik-baik harga diri kamu Olga."
"Iya Mi, ya Olga mandi dulu ya."
"Ya sudah, besok kamu ada acara ??"
"Besok aku musti ke agency, kenapa Mi??"
"Ya sudah kamu mandi saja dulu, nanti malam ada yang mau Mami bicarakan.."
"Yawda dech, aku mandi dulu Mi.."

Sejam kemudian Olga pun sudah berdandan, maminya yang sudah siap dari tadi sudah menunggunya di ruang tamu, mereka pun pergi makan malam, menyantap makanan Eropa di sebuah restoran elit, Pukul 10 lewat mereka kembali ke apartement Olga.

"Mami mau tidur??" tanya Olga,.
"Ga sich, kamu mau tidur sayang ?" Jawab ibunya..
"Ngantuk sich mi, tapi katanya ada yang Mami mau omongin.."
"Oh iya, ampir Mami Lupa,.Gini tentang issue belakangan ini tentang kamu nak,."
"Ah itu lagi, Mami percayakan ma Aku ??"
"Iya Mami juga ga percaya, tapi Mami mau dengar dari kamu langsung".
"Oke dech, aku ga da hubungan apapun dengan pejabat itu..Oke Mi..Percayakan
ma aku"..Kata Olga sambil mengacungkan 2 jarinya, seperti bersumpah.
"Iya kamu ga usah gitu lah, mami percaya koq ma Kamu sayang..Mami cuma
kuatir aja, kamu kan tahu itu pejabat + kamu juga tau kan dia udah berkeluarga, jangan sampai kamu nganggu hidup orang lain, kita juga dari keluarga berada, ga perlu mikirin harta kaya Orang lain,.." ingat ibu-nya
"Iya Mi, Makasih ya,..Tidur yuk Mi"
"Ya sudah kamu tidur saja dulu, Mami nunggu telepon Papi-mu,.."
"Oc, dech Mi, Tar tidur bareng aku aja ya,..Nitez mi.."
"Ya sudah nanti mami nyusul sayang.."
Olga pun meninggalkan Ibunya di ruang keluarga, tak lama dia pun tertidur..
Keesokan harinya,"Pagi Mih,..Aku dah telat nich, aku musti cepet-cepet ke agency, Mami dah makan kan??" Tanya Olga..
"Udah kamu tenang aja,..Kamu pulang jam berapa??"
"Mami mau pulang jam berapa, nanti aku yang anter aja??"
"Ga usah, nanti Mami naik taksi saja,..Paling jam tujuhlah, nunggu Pak Jabir pulang kan.."
"Ooh, kalau gitu tunggu aku ya Mi, aku ga malem koq pulanganya,.."
"Kamu beresin aja pekerjaan kamu, mami sich gampang..."
"Ya pokoknya Mami tunggu aja, aku kan masih kangen."
"Ya sudah, Mami tunggu kamu ya sayang.."
"Oke dech,..Mam aku pergi dulu ya ?"
"Eeeeh, Gak sarapan dulu sayang ??"
"Telat Mih,.."
"Udah minum dulu susunya ya.."
"Yawda dech,..Aku pergi ya..." Ujar Olga setelah meminum susunya sambil meninggalkan Apartementnya
Sepulangnya dari Agensy, Olga pun melihat pekerjaan rumahnya yang sudah 75 % rampung, tampaknya pekerjaan ini akan selesai lebih cepat dari jadwal. Masih jam lima sore, ketika ibunya minta ditemani ke minimarket, maka Olga turun mengantar ibunya.

###

"Sayang ya Pak, Non Olga jarang Disini.." Ujar Bakrie.
"Ya mau ngapain juga dia disini..." Jawab Jabir..
"Ya kan lumayan pak, baru hari ini aja dia dirumah, ma temen-nya lagi..' sambung Dedi.
"Lu pada ngeres aja..Pengen liat paha-nya aja lu pada ya??" Canda pak Jabir.
"Iya lah, normal toh Pak, namanya juga laki-laki" Kata Bakrie yang disambut tawa keduanya.
“Ayo, siap geser yah, hati-hati loh !” Pak Jabir mulai memberi perintah pada anak buahnya untuk menggeser sebuah lemari yang awalnya digeser kembali ke tempat semula.
Karena terlalu bertenaga mendorongnya tiba-tiba sebuah koper kecil diatasnya jatuh dan terbuka sehingga isinya berceceran keluar.
“Hadoh, gimana sih lu, dorong pelan-pelan aja ngapain pake tenaga gitu !” Pak Jabir mengomeli Bakrie dan Dedi, “untung orangnya lagi kebawah, cepet-cepet beresin lagi sebelum dia balik”

Mereka pun buru-buru memunguti barang-barang yang tercecer dari koper yang terbuka itu, isinya adalah beberapa album foto. Ada sebuah album foto yang terbuka, jadi bagaimanapun isi album itu terlihat oleh mereka yang sedang berusaha merapikan semua album ini kembali ke dalam koper.

“Eh lihat Pak Jabir, non Olga itu cantik sekali ya.. mana kulit perutnya putih mulus gini. Bener bener amoy dah”, kata Bakrie memandang foto Olga di album itu sambil menelan ludah. “Gimana halusnya ya? Jadi pingin ngerasakan nih”, timpal Dedi yang kini ikut memandangi foto sexy Olga yang memakai bikini. Pak Jabir mau tidak mau tertarik juga untuk melihat. Reaksinya tak jauh beda, ia menelan ludah dan malah melamun membayangkan Olga kecil yang dulu ia lihat, sekarang sudah menjadi wanita yang menggairahkan di dalam foto foto itu.

“Pak? Pak Jabir? Lagi ngelamun apa pak? Melamun non Olga ya?”, senggol Dedi melihat pak Jabir yang terus memandang foto Olga dari tadi, membuat pak Jabir tersadar dari lamunannya. “Hush.. mau tau saja. Sudah cepat, kita kembalikan semua, nanti non olga marah lagi melihat koper ini terbongkar seperti ini!”, kata pak Jabir. Sambil terus memasukkan album album foto itu, Bakrie berkata, “Kalo bisa besok aku kepingin melihat lihat koleksi foto non Olga ah”.

Tepat selesai Bakrie mengatakan itu, tinggal 1 album foto yang tersisa di luar koper yang dipegang pak Jabir, tapi ia tak segera memasukkan album itu ke dalam koper. Album itu terkunci, dan di covernya ada tertulis ‘Popular, Edisi Lanjutan’. Pak Jabir berkata, “yang foto bikini tadi, aku memang pernah lihat di sebuah majalah waktu dipanggil pertama sama non Olga untuk merenovasi apartemen ini. Kalau membaca ini, jadi ingat nama majalah itu popular. Jadi penasaran juga, memangnya lanjutannya foto sexy ini seperti apa ya?”

“Wah kalau dikatakan lanjutan, apa ya? Lanjutan dari pakai pakaian lengkap, terus bikini. Terus ya mungkin tinggal pakaian dalam ya…terus, bugil kali ya?” kata Bakrie yang mulai ngeres pikirannya. Mereka diam sejenak, tiba tiba Dedi mengeluarkan obeng dari sakunya. “Kita buka saja daripada penasaran mikirin apa isinya”, katanya dengan yakin. Pak Jabir sempat berpikir untuk mencegah, tapi akhirnya rasa penasarannya mengalahkan moralnya. Ia meminjam obeng Dedi dan mulai berusaha membongkar kunci yang ternyata tak semudah itu dilakukannya.

Akhirnya dengan tak sabar, pak Jabir mencongkel kunci itu, dan saat album itu terbuka, ketiga orang ini terpana. Tak pernah pak Jabir membayangkan, akan bisa melihat foto dari Olga Lidya dengan berbagai pose erotis. Balutan bikini itu makin lama makin tak menyembunyikan keindahan tubuhnya yang amat ideal, foto-foto itu memang satu seri dengan foto-foto seksi Olga yang pernah ditampilkan di majalah Popular itu, latar belakang dan pakaian renang yang dipakainya pun sebagian sama persis, namun dalam album itu posenya lebih menantang, misalnya posenya di tangga kolam renang dengan pakaian renang berwarna perak itu kini dipeloroti atasnya sehingga menampakkan payudaranya yang berukuran sedang dan montok. Foto-foto itu tentu bukan untuk konsumsi umum, Olga memang sengaja membuatnya untuk koleksi pribadinya saja sehingga disimpannya pun di tempat khusus ditambah dengan album foto berkunci. Ketika semua sedang terperangah, tiba-tiba pak Jabir menutup buku itu, membuat yang lain bersiap protes. Pak Jabir segera menjelaskan tindakannya ini pada kedua orang itu.
“Kita jangan lihat buku ini di sini. Nanti kita pamit ke non Olga untuk malam dulu di warung bawah, seolah olah kita sudah lapar. Di, kamu sembunyikan album ini di jaketmu”, kata pak Jabir. Dedi segera membungkus album itu di jaketnya yang butut. Bakrie yang memang agak lebih bodoh ini bertanya, “Kita ngapain pakai makan lagi? Masih kenyang lah! Bukannya tadi kita makan siangnya telat sampai jam tiga lebih?”. ‘plak’, pak Jabir memberikan tamparan ringan pada kepala belakang Bakrie. “Pakai otak sedikit! Tapi.. sudalah.. kalo kamu sih mending gak usah ikut mikir, nanti tambah kacau. Yang jelas kalau mau enak, diam dan ikuti saja aku dan Dedi”, kata pak Jabir, tepat ketika Olga masuk ke ruangan itu.

“Non Olga, sepertinya kami harus makan dulu, sudah terlalu lapar nih. Kami ke warung bawah sebentar Non”, kata pak Jabir pada Olga. Tanpa prasangka apapun, Olga mengiyakan saja, kebetulan juga Olga sudah ingin mandi. Maka setelah mereka bertiga keluar, Olga segera masuk ke kamar mandi. Sementara itu, di bawah, pak Jabir berhenti pada ujung lorong yang ada lampunya. Di sana, mereka meneruskan membuka-buka album itu. “Gila bener.. mulus amat”, kata Bakrie yang tak bisa melepaskan pandangan matanya dari foto tubuh Olga yang sudah nyaris telanjang bulat dengan pose yang menggoda. Pose-pose telanjang itu sesungguhnya sangat elegan dan artistik tidak seperti pose-pose bugil asal ngangkang dengan muka mupeng yang mengundang birahi ala penthouse atau hustler, namun orang-orang seperti mereka mana mungkin mengerti yang namanya artistic nude, bagi mereka bugil = porno dan ujungnya membangkitkan birahi.

Dedi tidak bisa bicara lagi, dengan gelisah ia menanti pak Jabir yang sudah hampir tak bisa menguasai diri, tangannya gemetar ketika membalik halaman demi halaman album itu, hanya untuk melihat tubuh indah Olga yang sudah tak tertutup sehelai benangpun. Di beberapa pose, kemaluannya hanya terlindung telapak tangannya, sementara kedua payudaranya yang indah menggelantung bebas, sungguh menantang orang yang melihat foto itu. Mata mereka melotot dengan mulut melongo menatapi pose Olga yang sudah tidak tertutup sehelai benangpun sedang duduk di bibir kolam dengan kaki disilang, seluruh lekuk tubuhnya terlihat jelas kecuali kemaluannya yang tersembunyi di balik lipatan kaki.

“Buka lagi dong, mau liat yang keliatan m-e-m-e-knya, mau tau jembutan ga !” pinta Dedi yang penasaran melihat kemaluan Olga.

Akhirnya mereka dapat menyaksikan seluruh keindahan tubuh Olga dalam sebuah pose bugil frontal dimana Olga sedang berdiri di bawah siraman shower, kedua tangannya menyibak rambutnya ke belakang sehingga payudara dan vaginanya yang berbulu tipis terekspos jelas. Setelah melihat halaman terakhir, mereka bertiga berusaha menenangkan diri.
“Yah, kok ga ada yang ngangkang sih, padahal pengen yang lebih jelas” Bakrie sepertinya tidak puas dan ingin melihat lebih dari itu.
“Gini, kita kembali ke atas terus lihat perkembangan situasi di sana. Jangan bertindak gegabah” kata Pak Jabir

Dedi dan Bakrie menurut saja pada kata kata sang bos. Bakrie sempat bertanya, “pak Jabir, bisa tidak kita mencicipi servis non Olga?” Dedi menimpali, “Buku ini kita pakai saja buat memojokkan non Olga pak”. Pak Jabir manggut manggut, “Iya, kan tadi aku sudah bilang. Kita lihat situasinya. Kalau memungkinkan, kenapa tidak?”. Mereka mulai merencanakan bagaimana mereka bisa membuat Olga talkluk di tangan mereka. Setelah rencana dirasa bisa diterapkan, mereka kembali ke atas, bersiap untuk membuat Olga jatuh dalam derita.

###

Ketika sampai, mereka melihat Olga sedang melihat lihat hasil kerja mereka. Olga yang sudah mandi, kini memakai pakai baju rumah yang santai, kaus singlet putih tanpa lengan yang hampir menunjukkan belahan dadanya, lengannya yang putih mulus terekspos jelas. Warna putih pada kaus itu membuat warna pink bra Olga sedikit membayang. Celana pendek mini yang dikenakan Olga membuat mereka hampir tak bisa mengalihkan pandangan mereka dari paha Olga yang terpampang jelas. Untung saja pak Jabir menguasai keadaannya, ia menyapa Olga yang masih belum menyadari keberadaan mereka. “Malam non Olga”, kata pak Jabir diikuti rekan rekannya, dan Olga membalik badan melihat mereka semua yang keringatan. Rupanya ketika di bawah tadi, mereka sudah begitu terbakar nafsu, tapi tentu saja Olga tak mengetahui semua itu.

“Wah bapak bapak… habis makan apa sampai keringatan gitu? Kepedasan ya.. saya ambilkan minum dulu ya”, kata Olga sambil berlalu ke dapur. Mereka bertiga tahu, kini kesempatan jelas terbuka. Pintu yang dari tadi terus terbuka itu ditutup oleh Bakrie, Pak Jabir memposisikan diri ke dekat jendela, sementara Dedi pura pura mengemasi peralatan pertukangannya, dan Bakrie yang selesai menutup pintu, ikut membantu Dedi. Tiba tiba, “Ded! Albumnya!”, kata Bakrie melihat jaket Dedi ternyata tak menutupi album itu seluruhnya. Terdengar langkah Olga yang sudah akan kembali dari dapur, membuat Dedi panik karena album itu diluar jangkauannya. Tapi sekali ini, otak Bakrie lumayan jalan, ia melepas bajunya dan melempar ke jaket Dedi, lemparannya tepat sasaran dan menutupi album itu, tepat ketika Olga memasuki ruangan itu.

“Nih, diminum dulu. Silakan bapak-bapak”, kata Olga sambil tersenyum manis, lalu duduk di kursi yang ada di tengah ruangan itu, sambil mengistirahatkan tubuhnya yang lumayan capai setelah melewati urusan kerja yang panjang dengan agency siang tadi. Mereka bertiga mengambil minum itu, lalu mengelilingi Olga dengan jarak yang lumayan jauh, jadi tidak sampai mencurigakan Olga. Sambil minum, pak Jabir memulai obrolan ringan, seperti yang tadi direncanakan di bawah. “Non Olga, gimana dengan hasl kerja kami? Nggak buruk kan”, tanya pak Jabir. Olga segera menjawab, “Oh.. baik kok pak, saya puas kok”.
“Kalau gitu, kali kali ada kenalan non Olga yang butuh renovasi, tolong non Olga kenalkan pada kami ya”, kata Dedi. Bakrie menimpalin, “Kenalan non Olga juga artis ya? Iya.. enak ya jadi artis”. Olga hanya tersenyum kecil, lalu menjawab, “Iya deh, nanti kalo ada teman saya yang butuh bantuan bapak bapak, saya pasti mengenalkan pada kalian. Dan tentang artis, ada enaknya, ada nggak enaknya juga lah. Apalagi, kalau ada rekan artis lain yang iri, kadang menggunakan segala cara untuk saling menjatuhkan”. Pak Jabir menyambung, “contohnya RUU APP itu ya, non Olga?”. Olga segera merespon, “Betul, itu salah satu contohnya! Untungnya salah satu tokoh yang mengusung ini kebongkar rahasianya kalo ternyata moralnya juga nggak bener. Jadi pelan pelan suara suara yang pro jadi surut sendiri, karena itu merupakan satu pukulan telak buat kubu pro RUU APP”

Pak Jabir dan yang lain tertawa, kemudian Dedi bertanya, “iya non, saya jadi ingat. Dulu non Olga termasuk yang keras menentang RUU APP itu ya? Kenapa non”. Ditanya begini, Olga sempat menerawang, kemudian Olga menjawab, “iya. Cuma gara gara ego orang yang sok suci yang berselisih dengan seorang artis wanita, memanfaatkan popularitasnya yang waktu itu belum jatuh, melontarkan ide yang jelas mengorbankan hak hak kaum wanita. Laki laki yang nggak bisa menahan diri untuk berpikiran atau berbuat mesum, wanita yang disalahkan dengan alasan penampilan atau perbuatan yang mengundang hasrat. Itu kan keterlaluan? Lelucon yang sama sekali tidak lucu dari berbagai lelucon yang pernah saya dengar!”, kata Olga berapi-api.

“Untung saja, seperti yang saya katakan tadi, orang yang sok suci yang mengusung hal itu kebongkar rahasianya. Pintar sekali menutupi kalau dia itu punya hasrat yang begitu menggebu, dengan cara berkoar koar tentang moral dan RUU APP. Padahal, sudah punya banyak istri, masih pakai kawin siri sama artis muda. Itu kan menunjukkan kalau dirinya amat tidak tahan godaan hawa nafsu. Dengan kemunafikannya yang sudah kelewat batas itu, maka saya merasa harus memprotes keras”, kata Olga lagi pada mereka bertiga yang manggut manggut, jelas mereka mengerti siapa tokoh yang dimaksud oleh Olga. Tiba tiba Olga merasa risih, ia menyadari sejak tadi mata mereka bertiga memandang tubuhnya seolah olah ingin menelanjanginya. Selain itu, ia satu satunya wanita di sini, di antara 3 kuli yang salah satunya bahkan telanjang dada. Ia sudah akan mengakhiri percakapan ini, ketika Jabir bertanya, “Protes yang Non Olga maksud itu, dengan cara berpose seksi di majalah Popular?”

Olga makin merasa risih, dan berusaha menjelaskan dengan halus, “Pak, kalau yang di majalah Popular itu, menurut saya bukan pose seksi yang bersifat porno pak, tapi itu bersifat seni.” Bakri mengambil album yang sejak tadi disembunyikan di bawah tumpukan baju dan jaket, sambil menunjukkan ke Olga dia berkata, “pose seni itu, termasuk yang di buku ini non Olga?”. Olga tersentak, jantungnya serasa berhenti berdetak melihat album yang harusnya ada di dalam koper di atas lemari itu, tak tahu harus menjawab atau berbuat apa. Melihat Olga yang hanya bisa diam, pak Jabir meneruskan, “Nggak salah juga kalau non Olga menentang RUU APP mati matian, kiranya non Olga nggak suka ya difoto seperti itu…”. Olga menguatkan diri dan memotong kata kata pak Jabir, “Kalian ini kok bisa nggak tahu aturan gitu sih, seenaknya saja melihat lihat koleksi pribadi orang lain. Foto itu hanya untuk…”, dan Bakrie langsung memotong, “untuk ditampilkan di majalah Playboy?”

Olga yang sudah terpojok, dengan putus asa setengah berteriak, “Kalian jangan macam macam! Kembalikan buku itu pada saya!” Berkata begitu, Olga segera berdiri dan berusaha meraih buku itu dari tangan pak Jabir, tapi kedua tangannya sudah dipegang dan ditelikung ke belakang oleh Bakrie dan Dedi. “Aduh… lepaskan saya… to..”, Olga yang hampir berteriak minta tolong langsung tersadar dirinya dalam posisi yang tidak menguntungkan melihat pak Jabir mengeluarkan albumnya ke jendela. Sekali album itu jatuh ke bawah, entah apa yang terjadi dengan reputasinya, maka Olga hanya bisa menatap mereka dengan lemas. Pak Jabir mengerti bahwa Olga sudah tak berdaya, ia mulai melancarkan intimidasinya. “Non Olga, kami sudah melihat tubuh non Olga di dalam album ini. Tapi tentu saja lebih menyenangkan lagi kalau kami bisa melihat bentuk asli dari tubuh non Olga. Nah, non mau kan nunjukin tubuh non pada kami secara langsung di sini?”. Berkata demikian, pak Jabir menutup album yang tadi sempat pura pura akan dilempar keluar, dan menaruhnya di meja telepon dekat jendela itu.

“Tentu saja saya tak perlu menjelaskan lagi pada non Olga, bagaimana dengan album ini jika non Olga berani macam macam. Sekali saya lempar ke bawah, orang orang di sana akan dapat gempar, dan besoknya infotainment di TV tak akan ketinggalan memberitakan hal ini juga”, kata pak Jabir dengan ketenangan yang tidak dibuat buat, Olga memang sudah terlihat menyadari nasibnya ada di tangan para kuli yang sekarang sedang bersiap untuk melumatnya habis babisan. Tapi Olga masih mencoba mencari celah untuk lolos dari keadaan ini. “Bapak bapak, tolonglah. Saya punya duit, kalian mau dibayar berapa?”. Pak Jabir segera menjawab, “Kalau soal duit, itu gampang. Non memang harus bayar kami untuk tutup mulut. Tapi non juga harus tahu, kami semua ingin mencicipi servis non juga”. Olga menyadari ia sudah tak punya harapan lagi, dan tertunduk lemas. “Lepaskan pegangan kalian. Non Olga, sekarang non boleh pilih. Non mau buka baju non sendiri dengan sukarela, atau kami bantuin non untuk membukanya,” kata pak Jabir. Olga yang sudah dilepaskan oleh Dedi dan Bakrie, tertunduk menggigit bibir menahan tangis, dan mulai melepasi bajunya dengan terpaksa.
Kaus dan celana pendeknya sudah terjatuh ke lantai. Kini Olga hanya mengenakan bra dan celana dalam, membuat mereka bertiga tertegun memandangi tubuh Olga yang putih mulus tanpa cacat. Mereka menunggu tapi Olga tak melanjutkan melepas semuanya. Kini Olga mulai menggigil dan melipat kedua tangan memeluk dirinya sendiri, bukan karena hawa dingin AC di ruang itu, tapi selain malu yang amat sangat, ia membayangkan tubuhnya akan dinikmati oleh ketiga kuli bejat ini.

“Lho non Olga, kok pilih kasih sama yang jadi fotografer itu. kami kan juga mau liat yang ada di dalam beha dan celana dalam non.”, kata Bakrie.
“Lagi dong” sambung Dedi

Pak Jabir menimpali, “Lanjut.. lagi”. Mereka bertiga bersahut sahutan seolah sedang menonton aksi striptease. Olga mulai menangis, ia tak bisa berpikir lagi apa yang harus dilakukannya. Tak ingin menunggu lebih lama lagi, mereka bertiga mulai mendekati Olga yang mundur mundur ketakutan. Olga jatuh terduduk ke sofa yang tadi memang didudukinya. Dalam kepanikannya, Olga mulai memohon, “Sudah pak.. saya mohon, jangan begini”. Tapi semua itu hanya usaha yang sia sia, mana mungkin tiga orang pria yang sudah begitu bernafsu mau melepas wanita cantik menggiurkan seperti Olga?

“Tenang non Olga. Pokoknya non Olga nurut saja, maka kami nggak akan berbuat kasar. Lagipula, ingat soal album tadi. Jadi sebaiknya non Olga layani kami tanpa berbuat yang macam macam”, kata pak Jabir dingin. Olga hampir menjerit ketika bra yang masih melekat di payudaranya ditarik ke belakang hingga kedua tangannya terangkat ke belakang, dan bersamaan dengan itu celana dalamnya juga dilorotkan hingga kini Olga sudah telanjang bulat. Mata mereka bertiga hampir copot melihat keindahan payudara dan vagina Olga yang sudah pasrah dan hanya bisa menangis. “Lho non Olga, kok nangis terus sih? Di TV katanya cuma bisa mimpi.. hahaha..”, ejek Bakrie. Pak Jabir mendekat dan berkata, “cup cup.. non Olga jangan nangis. Sini bapak cium ya”. Bibir Olga dilumat oleh pak Jabir dengan penuh nafsu, sementara kedua rekan pak Jabir mulai meraba raba tubuh Olga sambil sesekali meremasi payudara yang indah itu.

Bakrie yang semenjak tadi berdiri saja, kini berjongkok di antara kedua belah paha Olga. Pria itu tampak mengagumi keindahan sepasang paha yang sudah lama dikaguminya, paha itu dielus dan dijilatinya alam Olga. Kini kemaluan Olga yang di tumbuhi oleh bulu-bulu halus itu menjadi sebuah pertunjukan gratis bagi orang-orang kampung ini..

"Gila m-e-m-e-k-nya aja putih gini, wangi lagi..." ejek Bakrie
"Ya iyalah, kalo ga mana bisa jadi artis atau model" sahut Dedi.

Ejekan ini kontan membuat wajah Olga memerah, namun perasaan itu tidak berlangsung lama, salah satu jari Bakrie mulai menggelitik kemaluan Olga. Tubuh Olga mulai bergerak-gerak, belum lagi sapuan lidah di leher dan telinganya yang juga mulai meningkatkan birahinya. Jemari Bakrie makin lancar mengesek-gesek kemaluan Olga karena dibantu oleh cairan kemaluannya yang mulai keluar, terlebih lagi sesekali pria itu memijit klitorisnya sehingga makin merangsang artis cantik itu..

Olga terus mendesah tertahan sambil sesekali melayani lidah Pak Jabir. Dedi yang memainkan puting susu Olga mulai menjilati benda mungil yang sensituf itu, terkadang dia menyusu sambil menggigit puting kemerahan itu. Olga pun makin hanyut dalam birahinya. Wajah Bakrie semakin terbenam pada vaginanya, tubuh Olga menggeliat ketika dirasakannya lidah pria itu mulai menyapu bibir vaginanya. Dengan rakus Bakrie menjilati vagina Olga yang sudah becek itu. Setiap sapuan lidahnya membuat darah Olga makin berdesir dan tubuhnya menggeliat. Pak Jabir yang sejak tadi berciuman dengannya juga ikut menggerayangi payudara yang satunya. Tangan kasar itu meremas-remas serta memilin-milin puting susunya sehingga semakin mengeras. Nafas Olga semakin memburu seiring dengan semakin hotnya percumbuan itu. Suara kecupan-kecupan beserta desahan tertahan terdengar dari mulut mereka yang saling beradu. Mau tak mau Olga tak dapat menyangkal lagi bahwa dirinya telah terbuai dalam perkosaan ini. Dia tidak dapat menahan sensasi nikmat pada vaginanya yang sedang dijilati Bakrie, lidah pria itu bergerak liar seperti ular menjilati dinding vagina dan klitorisnya. Olga semakin tidak tahan lagi dengan siksaan birahi ini, sepasang paha mulusnya makin mengencang mengapit kepala si Bakrie dan cairan orgasmenya mengalir deras di sela-sela vaginanya. Cairan itu segera diseruput Bakrie dengan rakusnya sehingga tubuh Olga makin menggelinjang.

Pak Jabir melepaskan lumatan bibirnya setelah puas menciuminya selama sepuluh menitan, sebuah percumbuan yang cukup lama. Olga langsung bernafas tersenggal-senggal mengambil udara segar dan juga sisa orgasmenya barusan. Ketiga kuli bangunan itu menatapnya dan tersenyum puas melihat reaksi Olga yang baru saja mencapai klimaks pertamanya.

“Hehehe…gimana Non Olga ? Enak kan ?” ejek Pak Jabir.
“Non kerangsang juga yah, gile sampe becek gini !” sahut Bakrie di antara kedua pahanya yang baru menegakkan kepala.
“Gimana Krie rasanya ?” tanya Dedi pada temannya.
“Wuihh…enak tenan, pejunya artis, gurih banget deh !” komentar pria itu.

Wajah Olga memerah dan kupingnya terasa panas mendengar kata-kata mereka yang tak senonoh itu, namun disisi lain dirinya juga sangat menikmati percumbuan dan orgasme barusan. Pak Jabir menyuruh kedua anak buahnya membereskan meja ruang tamu dan mereka segera menyingkirkan gelas-gelas bekas minum tadi dan sebuah pot bunga kecil diatasnya.

“Aah…mau apa Pak ?” tanya Olga ketika si mandor itu mengangkat tubuhnya.
“Santai aja Non, cuma mindahin aja supaya lega” jawabnya santai
Tubuh telanjang Olga kini diletakkan diatas meja ruang tamu dari bahan fiber itu dengan kaki terjuntai ke bawah. Ketiga kuli itu berdiri mengelilinginya dan menatapnya dengan pandangan lapar. Olga kini bagaikan sebuah makanan nikmat yang siap disantap bulat-bulat. Mereka lalu mulai membuka pakaiannya masing-masing sampai bugil. Olga terhenyak melihat alat vital mereka yang rata-rata besar dan hitam. Rasanya sudah lemas dulu membayangkan ketiga batang itu mengaduk-aduk vaginanya.

Pak Jabir mengambil posisi diantara kedua pahanya, kemudian ia berlutut dan membenamkan wajahnya pada selangkangan Olga sama seperti bawahannya tadi. Tubuh Olga pun kembali menggeliat karena lidah pria itu segera menjilati vaginanya dan libidonya pun naik lagi. Jurus menjilat Pak Jabir lebih lihai daripada Bakrie tadi, ia membuka bibir vagina Olga dengan kedua jarinya sehingga lidahnya dapat menjelajah lebih leluasa dan menyentil-nyentil klitorisnya. Dedi berdiri disamping kepalanya sambil menyodorkan penis yang telah tegang itu ke wajahnya.

"Ayo sepongin Non" perintahnya sambil menepakan penis-nya ke wajah Olga.
"Ga mau Pak, saya belum pernah” iba Olga, jijik sekali baginya kalau harus mengulum penis bau itu, mana hitam dan kepalanya memerah lagi.
"Oh jadi mau ya albumnya kita lempar ke bawah sana terus diliat orang-orang ?" ancam Dedi yang makin tak sabar.
"Aaah, jangan Pak, baa...baaik dech saya mau" jawab Olga ketakutan.

Dengan gemetaran, Olga meraih penis Dedi, dengan ragu-ragu dia mulai membuka mulutnya dan mulai memasukan penis itu kemulutnya. Belum sempat penis itu masuk kemulutnya, Dedi yang sudah birahi tinggi menyodokan penisnya ke mulut Olga yang membuatnya kalang kabut

"Mmmmph!" setelah beberapa detik baru Olga dapat menyesuaikan dirinya dengan benda asing dimulutnya.

Penis itu sungguh menyesakkan baginya belum lagi baunya yang tidak sedap itu. Olga terpaksa memaju-mundurkan kepalanya yang ditahan oleh Dedi, setidaknya dengan demikian sedikit lebih lega.

“Wuuuiihh…asyik banget nih sepongannya, baru pernah gua disepong artis, mimpi apa gua semalem” gumam Dedi sambil merem-melek keenakan.
“Makannya jangan cuma BBM, baru bisa mimpi !” timpal Bakrie yang penisnya sedang dikocok dengan tangan Olga.

Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar komentar Bakrie yang menirukan slogan yang biasa diucapkan Olga dalam Republik Mimpi, sebuah program televisi yang dipandunya. Pak Jabir tidak berlama-lama menjilati vagina Olga, baru lima menit saja dia sudah bangkit dan menyangkutkan kedua betis Olga ke bahunya yang lebar sambil mengarahkan penisnya ke vagina model cantik berusia 31 tahun itu.

“Pak, pelan-pelan, jangan kasar dong" pintanya melepas sebentar penis Dedi dari mulutnya.
"Tenang aja Non, yang penting enak kan" jawab Pak Jabir yang disambut tawa mereka.

Perlahan-lahan mandor itu mulai menancapkan penisnya pada vagina Olga, lumayan sulit karena vagina Olga, walau sudah tidak perawan, terlalu sempit untuk menerima penis sebesar itu. Selama proses penetrasi itu baik Pak Jabir maupun Olga mengerang-ngerang merasakan alat kelamin mereka beradu dan saling bergesekan. Dedi dan Bakrie tertawa-tawa dan menyoraki menyaksikan prosesi ‘pencoblosan’ itu.

“Uuiii…seret banget, m-e-m-e-knya artis emang beda !” kata Pak Jabir ketika penisnya menancap setengahnya.

Kemudian pria itu mendorong-dorongkan penis itu agar semakin dalam memasuki vagina Olga. Model cantik itu mengerang panjang ketika Pak Jabir menyodokkan penisnya hingga menyentuh g-spot nya.

"Asyik ya Pak ngentotin sama cewe terkenal ?” tanya Bakrie
"Iya, aaahhh, enak banget…jauh lebih enak dari lonte-lonte di kampung” jawab Pak Jabir sambil terus menggenjot.

Cemoohan itu membuat wajah Olga makin memerah, masa dia dibandingkan dengan lonte kampung, namun dia mulai tidak perduli, kini ia terkonsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaannya secepatnya. Dia masih harus mengoral penis Dedi dan mengocoki si Bakrie. Tak lama kemudian Bakrie minta giliran dioral karena sudah ngiler melihat reaksi temannya yang demikian menikmati sepongan Olga.

“Gantian bentar dong Ded, kayanya enak banget tuh, ayo Non gantian” katanya seraya menjenggut rambut Olga dan menghadapkan wajahnya pada penisnya, “yuk, isep yang enak, jangan dia doang dong !”

Olga pun kini melayani penis Bakrie yang ukurannya lebih pendek sedikit dari Dedi sehingga Olga sedikit bersyukur karenanya. Pada saat itu tubuhnya terguncang hebat akibat sentakan-sentakan Pak Jabir.

“Mmmm…mmhhh…eennggg !” di tengah oral seks ia tak sanggup menahan desahannya.

Mandor itu semakin liar menyodoki vaginanya dengan penisnya, semakin lama vagina Olga semakin basah sehingga batang itu semakin lancar keluar masuk di liang itu. Sesekali Pak Jabir menjilati kakinya yang mulus yang disangkutkan di bahunya, hal itu memberikan sensasi geli pada Olga. Ia semakin tak berdaya terhadap mereka yang menjarahi tubuhnya dengan liar, ia bahkan telah hanyut dan menikmatinya walau itu diluar kehendaknya.

Dedi melepaskan tangan Olga yang sedang mengocok penisnya karena tidak ingin buru-buru keluar. Ia lebih memilih menikmati kemolekan tubuh model cantik itu sambil menunggu Pak Jabir selesai menggarapnya. Pria berkumis tipis itu berlutut di samping tubuh Olga, mulutnya mendekat dan mulai menjilati payudara wanita itu. Darah Olga semakin berdesir karena sapuan dan sentilan lidah Dedi pada payudaranya. Setelah menyusu sebentar, dikecupi dan dijilatinya lekuk-lekuk tubuh Olga yang indah itu sambil tangannya meraba-raba bagian pinggul dan pahanya yang kencang dan berkulit halus.
“Uuhhh…asyik Non iya…iyahhh…isep terus, ntar keluar telan yah !” nampak si Bakrie makin berkelejotan menikmati penisnya dioral.

Ia menggerakkan pinggulnya seolah seperti menyetubuhi mulut wanita itu karena sebentar lagi akan mencapai klimaks. Olga sebenarnya kelabakan atas perlakuannya itu, berkali-kali wajahnya terbenam di selangkangan pria itu yang berbulu lebat dan berkali-kali pula kepala penis itu menyentuh tenggorokannya, namun karena kepalanya dipegangi oleh pria itu, ia pun hanya bisa pasrah saja.

“Aaarrggghhh !” pria itu mengerang dan menumpahkan spermanya di mulut Olga.

Cairan putih kental itu sebagian tertelan olehnya sedangkan sisanya meleleh keluar di pinggir bibirnya. Aromanya begitu menusuk sehingga ia buru-buru menelan cairan itu agar tidak terlalu berasa. Semburan sperma itu mulai berkurang seiring penis Bakrie yang menyusut di mulut Olga. Setelahnya, pria itu masih memintanya menjilati penis itu hingga bersih.

Lima menitan kemudian, giliran Pak Jabir berejakulasi, dia menekan-nekan penisnya lebih dalam sambil mulutnya menceracau.

“Uuhhh…eeennghh !” lenguh pria itu seperti kerbau liar, kedua tangannya makin erat mencengkram betis Olga.
“Oohhh…oohh…sudah, jangan…aaahh !” Olga juga mendesah tak karuan karena ia juga merasakan gelombang birahinya meledak.

Olga pun kembali mencapai puncak, cairan kewanitaannya meleleh semakin membasahi vaginanya. Tubuhnya mengejang dan menekuk ke atas tak terkendali. Namun itu semua belum selesai karena Pak Jabir masih terus menyetubuhinya sampai dua-tiga menit ke depan. Akhirnya barulah si mandor itu orgasme dan menyemburkan lahar hangatnya di dalam vagina Olga. Frekuensi genjotannya menurun dan akhirnya berhenti lalu penis itu tercabut dari vaginanya, nampak lelehan sperma bercampur cairan kewanitaan membasahi selangkangan wanita cantik itu begitu penis itu terlepas.

“Liat nih si Non Olga Lydia, tadi sok jual mahal gak taunya enjoy juga main sama kita-kita” ejek Dedi yang duduk di sampingnya sambil meremas payudaranya.
“Lu liat ga Ded tadi, gua ngecrot di mulutnya, di mulut artis, gile ga kebayang bisa dapet kesempatan gini hehehe !” kata Bakrie dengan bangga.

Pak Jabir yang baru orgasme tidak berkomentar apa-apa, ia hanya terduduk di sofa dengan lemas dan nafas terengah-engah, sebuah senyum puas tersungging di wajahnya.

Sementara Olga yang sudah mulai pulih dari orgasmenya merasa dirinya sudah hancur, tidak pernah disangka olehnya dirinya akan menjadi objek pemerkosaan kuli-kuli bangunan seperti mereka. Kata-kata tak senonoh yang terlontar dari mulut mereka membuat kupingnya panas, namun ia tidak bisa memungkiri bahwa ia juga menikmatinya. Olga pun menangis tersedu-sedu mengingat penderitaan yang dialaminya, ia menyalahkan diri sendiri karena kalau tahu begini album koleksi pribadi itu dia simpan di tempat lain yang lebih tersembunyi dan juga sangat kesal pada mereka yang berani lancang mengoprek barang pribadinya.

“Hayo Non Olga, sekarang sama saya, jangan nangis melulu !” Dedi meraih bahunya.

Pria itu duduk di kursi panjang dan menepuk kedua pahanya sebagai tanda menyuruh Olga naik ke pangkuannya. Dengan terpaksa, Olga pun turun dari meja ruang tamu dan mendekati pria itu. Ia naik ke pangkuan Dedi dengan posisi berhadapan, Dedi menggenggam penisnya dan mengarahkan ke vagina Olga. Dibimbingnya Olga menaiki penisnya hingga vagina wanita itu menelan penisnya.

“Nnggghh…aaahhh Bang !” lenguh Olga saat penis itu tertancap makin dalam.

Cairan yang membasahi selangkangannya berfungsi sebagai pelumas yang memperlancar masuknya penis Dedi yang besar dan berurat itu. Olga menggeliat dan matanya terpejam merasakan penis itu tertanam seluruhnya pada vaginanya, rasanya sesak sekali dan juga sangat keras. Sensasi nikmat menjalari tubuhnya ketika Dedi mulai menggerakkan pinggulnya perlahan sehingga penisnya bergesekan dengan dinding vaginanya.

Sambil menggenjot, tangan Dedi menggerayangi tubuh Olga mulai dari punggung, pantat, payudara, dan paha.

“Wah…wah, mulus banget Non, bikin gemes aja” puji Dedi sambil menghirup tubuhnya.
“Aakkhh…sakit Bang, jangan keras gitu dong !” rintih Olga karena kedua buah dadanya diremas dengan brutal.

Mulut pria itu juga tak henti-hentinya menjilat dan mencupangi payudaranya yang montok itu hingga meninggalkan jejak ludah dan bekas-bekas cupangan. Dirangsang sedemikian rupa, Olga semakin tak bisa mengendalikan dirinya. Ketika Dedi tidak lagi menyentakkan pinggulnya, Olga menggerakkan sendiri pinggulnya mencari kenikmatannya. Tak lama kemudian tubuh Olga berkelejotan, otot betis dan pahanya mengejang, nafasnya semakin memburu sambil terus merintih keras dan panjang. Setelah mencapai klimaks tubuhnya kembali lemas di pelukan Dedi yang tersenyum puas karena telah berhasil menaklukan sang model cantik itu. Kedua rekan Dedi yang sedang duduk beristirahat juga tertawa dan mengejek melihat adegan itu.

“Weleh, hot banget Non goyangannya, ketagihan nih ceritanya ? Kenapa ga jadi artis bokep aja Non, pasti laku keras deh !” sahut Pak Jabir
“Non Olga ternyata suka ngebor juga, si Inul aja kalah hot hahaha !” timpal Bakrie.
“Asyik kan Non, n-g-e-n-t-o-t sama saya, enak ga ?” tanya Dedi masih yang menaik-turunkan pinggulnya dengan perlahan. “liat tuh Non dibawah sana, banjir gitu”

Olga terdiam lemas tidak bisa berkata apa-apa menanggapi cemoohan mereka yang melecehkan harga dirinya itu. Tubuhnya sudah basah oleh keringat dan tulang-tulangnya seperti mau copot karena lelahnya.
“Gimana rasanya Non, jawab dong !” kata Dedi sambil terus menyentak pinggulnya menyodoki vagina Olga.
“Ampun Bang…iya enak, tapi tolong udah dong” kata Olga dengan lemas dan mengiba.
“Ded ke kamar aja, lebih lega, gua masih belum nyicipin m-e-m-e-knya nih !” ajak Bakrie.
“Ayo aja, sekalian rasain enaknya seranjang sama artis hehe” Dedi mengiyakan, “yuk Non kita ke kamar Non, pegangan yang benar yah, jangan nyalahin kalau tar jatoh”

Olga dengan pasrah menuruti apa kata tukang bangunan itu, ia memeluknya dengan erat dan sepasang kakinya melingkari pinggangnya. Setelah mengumpulkan tenaga, Dedi berdiri sambil mengangkat tubuh Olga yang memeluknya, penisnya masih tertancap pada vaginanya. Bagi seorang yang terbiasa dengan kerja kasar seperti Dedi, tidak terlalu sulit mengangkatnya. Pria itu menopang tubuh Olga dengan memegang kedua pantatnya sambil berjalan dengan hati-hati menuju ke kamar. Sambil berjalan sesekali Dedi menyentakkan pinggulnya sehingga membuat Olga mendesah nikmat.

“Wei, ati-ati lo, gituan sambil jalan kalo jatuh patah tulang nyaho deh” goda Bakrie

Merekapun tiba di kamar Olga yang tertata rapi dan beraroma pengharum ruangan yang sedap. Dedi membaringkan tubuh Olga di atas ranjangnya dengan hati-hati, dia sendiri berlutut diantara kedua paha mulus itu. Setelah itu dia melanjutkan genjotannya dengan lebih bernafsu, Olga mengerang sambil meremasi sprei di bawahnya. Kedua kuli lainnya mengerubutinya dan tangan-tangan kasar mereka menjamahi lekuk-lekuk tubuhnya yang indah. Pak Jabir dengan gemas melihat payudara Olga yang bergoyang-goyang langsung melumat dan menggigiti puting yang sudah mengeras itu. Olga merintih sambil menjambak rambut pria itu, gigitan pria itu menimbulkan rasa nyeri bercampur nikmat baginya. Pada saat yang sama Bakrie melumat bibirnya sehingga mau tak mau Olga harus melayani permainan lidah pria itu.

Kira-kira sepuluh menit kemudian Dedi sudah akan ejakulasi, terlihat dari genjotannya yang makin ganas dan lenguhannya. Tubuh Olga ikut terguncang dengan hebat karena sodokan-sodokan kerasnya. Dengan satu hentakan keras disertai erangan panjang Dedi menyemprotkan spermanya di dalam vagina Olga. Mata Olga pun merem-melek menahan nikmatnya semburan cairan hangat itu di dalam vaginanya. Genjotan Dedi berhenti dan penisnya yang masih belum dicabut mulai menyusut, dia bernafas ngos-ngosan sambil berpegangan pada kedua betis wanita itu yang terangkat ke atas.

“Hhhsshh…hhhh…uenaknya, m-e-m-e-k artis emang top” kata Dedi yang nampak puas.

Lidah Pak Jabir menari-nari di leher Olga, wajah cantiknya perlahan tampak sayu menikmatinya. Namun ia tetap malu mengakuinya, bagaimana mungkin dia bisa menikmati diperlakukan begini oleh tiga orang yang lebih rendah status sosialnya dibanding dirinya.

“Udah kan Ded ? misi dulu dong, sekarang gua, udah kebelet pengen nyicipin punya Non Olga, tiap nonton Republik Mimpi gua udah ngidam nih” Bakrie menyuruh temannya menyingkir untuk mendapat jatahnya.

Bakrie membalik tubuh Olga dan menunggingkan pantatnya hingga Olga bertumpu pada kedua lutut dan telapak tangannya. Tanpa buang waktu lagi ia langsung menekan penisnya membelah vagina Olga. Penis itu mulai memompa vaginanya, terdengar bunyi berdecak dan tepukan setiap kali pria itu menyodok penisnya. Goyangan mereka semakin cepat, nampak payudara Olga yang menggantung itu terayun-ayun.

Pak Jabir berlutut di hadapan Olga, ia menjenggut rambutnya sehingga kepalanya terangkat. Sebatang penis hitam yang basah itu telah mengacung ke arah wajahnya begitu wajahnya terangkat. Mandor itu menjejali mulut Olga dengan penisnya sebelum wanita itu sempat protes.

“Mmmm..mmmhh !” nampak Olga kelabakan ketika penis itu dimasukkan secara paksa ke mulutnya, baunya yang tidak enak itu menambah deritanya.
“Jilat Non, mainin lidahnya, uuuhh…ya gitu !” kata Pak Jabir sambil memegangi kepalanya.

Susah payah Olga menggerakkan lidahnya mengelilingi kepala penis yang seperti jamur itu, ia merasakan ada sedikit asin ketika lidahnya menyentuh lubang kencingnya, sempat terasa jijik memang, tapi di tengah keroyokan seperti ini ia tidak sempat berlama-lama memikirkan hal itu. Di belakangnya Bakrie terus menghela tubuhnya seperti menunggang kuda. Payudaranya pun tidak luput dari tangan Bakrie dan Dedi yang sedang mengistirahatkan penisnya. Putingnya ditarik-tarik, dipencet atau dipelintir memberi sensasi nikmat yang luar biasa walau di luar kehendaknya. Dua penis perkasa memompanya dari dua arah berlawanan membuatnya pasrah tanpa bisa melawan. Cairan hasil persetubuhan di sekitar selangkangannya sudah meluber kemana-mana dan meleleh di pahanya yang mulus. Syukur bagi Olga, Pak Jabir tidak berlama-lama menyetubuhi mulutnya, 6-7 menit saja pria itu sudah mengubah posisi dengan duduk berselonjor dan bersandar pada kepala ranjang, pegangannya pada kepala Olga juga mengendur. Kali ini dia memerintahkan agar Olga yang memanjakan penisnya sementara dia sendiri menikmati dengan santai.

“Eeehhmm…sedap!” Pak Jabir mendesah nikmat ketika jari-jari lentik Olga menggenggam penisnya, lidahnya menyapu kepala penisnya yang memerah itu.

Olga setidaknya merasa lega karena dengan begini ia bisa mengambil nafas setelah setelah mulutnya disenggamai setengah mati sampai bernafas pun sulit. Ia kini berusaha agar Pak Jabir puas dengan pelayanan tangan dan mulutnya agar tidak menyetubuhi mulutnya seperti tadi lagi. Tusukan-tusukan pada vaginanya dan rangsangan dari tangan-tangan yang menggerayangi tubuhnya membuatnya larut dalam birahi dan tidak malu-malu lagi menunaikan tugasnya melayani penis si mandor. Tak lama kemudian penis di dalam mulutnya itu semakin berdenyut-denyut, Pak Jabir menahan kepala Olga sehingga ia mulutnya kembali dipenuhi penis.
“Uuuuhh !” erang Pak Jabir sambil memuntahkan spermanya dalam mulut Olga.

Sperma si mandor ini sangat kental dan aromanya lebih menusuk daripada milik si Bakrie tadi. Olga hampis saja memuntahkan cairah itu tapi pria itu tidak melepas kepalanya sehingga mau tidak mau ia harus menelan cairan itu. Baru setelah batang itu menyusut dan tidak menyemburkan sperma lagi Pak Jabir melepaskan kepalanya. Olga langsung terbatuk-batuk dan mengambil nafas, sementara di belakangnya Bakrie masih menyetubuhinya, kuat sekali staminanya, ada mungkin setengah jam ia memacu tubuhnya. Akhirnya kurang dari lima menit setelah diberi minum sperma oleh Pak Jabir, barulah pria berambut cepak itu mencabut penisnya. Dia buru-buru menuju ke dekat kepala Olga dan menyelipkan tangannya ke bawah kepala serta mengangkatnya.

“Buka mulutnya Non !” perintahnya sambil satu tangannya mengocok penisnya.

Dan cret…cret…penis itu menembakkan isinya dan mengenai wajah cantik Olga sebelum ia sempat membuka mulut karena masih lelah.

Banyak sekali sperma Bakrie yang muncrat membasahi wajah Olga, setelah berhenti ia masih menyuruh Olga membersihkan penisnya dengan lidah. Mereka tertawa-tawa mengejek melihat Olga yang sudah tak berdaya dan takluk itu.

"Ini Non, ayo dijilat, biar ga mubazir!" perintah Bakrie setelah mencolek sperma di pipi Olga dan menyodorkan jari itu di depan mulutnya..

Jijik sekali rasanya ketika dia diperintahkan seperti itu, apalagi jemari Bakrie kini tinggal beberapa centi di depan mulutnya. Dengan terpaksa dan rasa takut Olga mulai membuka mulutnya, dan memasukan jemari bersperma Bakrie itu ke mulutnya. "Mmmm…!" dengan rasa jijik yang ditahannya, Olga mulai menjilati jemari itu sampai bersih.

"Enak kan Non ? gurih begitu" ujar Bakrie.
“Uiii…Non Olga demen minum peju juga yah !” sahut Dedi disambut gelak tawa teman-temannya.

Mereka beristirahat sekitar lima menitan, selama itu tangan mereka tidak pernah absent mencolek atau menjamahi tubuh Olga yang sudah basah oleh keringat, kata-kata tidak senonoh juga terlontar dari mulut mereka, namun ia sudah pasrah, harga diri apa lagi yang perlu dipertahankan toh baru saja direnggut mereka. Setelah cukup istirahat Dedi berbaring dan meraih lengan Olga menyuruhnya naik ke penisnya.

“Naik sini Non, saya demen banget sama goyangan Non, jadi ketagihan nih !” suruhnya.

Tanpa harus diperintah lagi, Olga meraih penis yang sudah tegak itu lalu mengarahkannya ke vaginanya. Perlahan-lahan ia turunkan tubuhnya hingga penis itu melesak masuk membelah bibir vaginanya sambil mengeluarkan desahan dari mulutnya. Mulailah ia menaik turunkan tubuhnya disana, matanya terpejam dengan wajah menengadah ke atas, payudaranya diremas oleh pria itu.

Olga menggerakkan sendiri tubuhnya mengikuti birahi yang membara dalam dirinya. Kemudian ia merasakan sepasang tangan kekar mendekapnya dari belakang meraih payudaranya, sebuah ciuman mendarat di lehernya.

“Sori ganggu bentar nih, numpang nyoblos yah, kan masih ada satu lubang lagi !” kata Pak Jabir yang memeluknya dari belakang itu.

Olga langsung merinding mendengar kata-kata si mandor, satu lubang lagi ? berarti dia bermaksud bermain belakang, tidak…pasti rasanya sakit sekali, seumur-umur ia belum pernah merasakan bagian itu ditusuk apalagi oleh penis yang besar seperti itu.

“Nggak Pak, tolong jangan disitu….saya ga mau !” Olga memohon dengan terbata-bata ketika pria itu mendorong tubuhnya ke depan sehingga pantatnya nungging.

Dedi yang berbaring telentang di bawahnya langsung mendekap punggungnya ketika ia meronta.

“Kenapa ngga mau Non ? Asik kok, sakitnya cuma sebentar” kata Pak Jabir santai sambil mengarahkan penisnya dubur Olga.
“Tidak, aahh…aduh, pelan-pelan Pak, aahhh !" rintih Olga merasakan benda tumpul menekan anusnya memaksa masuk.
"Ini juga udah pelan-pelan non, santai aja" kata Pak Jabir.

Olga cuma bisa meringis dan merintih menahan nyeri dalam dekapan Dedi. Nyerinya tak tertahankan sampai air matanya keluar. Setelah tarik-dorong berapa saat akhirnya penis itu masuk juga ke pantatnya. Ia merasakan dua lubang dibawahnya penuh sesak, rasa sakit dari pantatnya masih terasa sehingga ia menangis menumpahkan deritanya.

Olga sedang dalam posisi disandwitch oleh kedua buruh bangunan itu, mereka mulai memacu tubuhnya. Desahan Olga bercampur isak tangisnya memenuhi kamar ini, ia tak pernah menyangka akan mengalami pemerkosaan brutal seperti ini gara-gara album foto itu. Namun bila dipikir lebih jauh diperlakukan seperti ini baginya jauh lebih baik daripada kalau album itu dilempar ke bawah dan ditemukan orang-orang lalu menjadi berita panas di infotainment atau tabloid gosip, reputasinya akan hancur dimata seluruh rakyat dan kalau sudah begitu bunuh diri pun malah akan semakin menghancurkan namanya. Daripada menanggung semua akibat mengerikan itu terpaksa Olga merelakan diri dikerjai habis-habisan oleh mereka. Ia mencapai klimaks lagi ditengah genjotan kedua orang itu, namun mereka terus menyetubuhinya tanpa mempedulikannya. Kini ditambah lagi Bakrie yang maju dan menodongkan senjatanya di wajah Olga.
Begitu wanita itu membuka mulut, Bakrie langsung menjejalinya dengan penis. Air matanya terus mengalir selama disetubuhi tiga arah itu.

Pak Jabir meledak lebih dulu di anusnya, mungkin karena sempitnya. Setelah menumpahkan spermanya ia pun mencabut penisnya sambil mendesah nikmat. Dengan mundurnya Pak Jabir, Dedi lebih leluasa menggarap tubuhnya, ia berguling ke samping hingga tubuhnya berada di atas Olga lalu mencabut penisnya dan naik ke dada wanita itu. Ia meletakkan penisnya di antara payudara Olga lalu menjepitnya dengan kedua gunung itu. Nampak wajah Olga meringis lagi merasakan remasan pada dadanya. Pria itu lalu memaju-mundurkan penisnya diantara himpitan payudara itu. Pada saat yang sama Olga juga menggerakkan tangannya mengocok penis Bakrie yang berlutut di sebelah kepalanya, ia mengocoknya dengan cepat dengan harapan pria itu segera menyudahi aksinya.

Dedi akhirnya orgasme di dada Olga, ketika keluar ia meremas kedua payudara Olga kuat-kuat sehingga membuatnya merintih kesakitan. Spermanya tumpah kemana-mana mengenai wajah, leher dan dadanya. Disusul tak lama kemudian Bakrie juga orgasme oleh kocokan tangan Olga, spermanya menyemprot di wajah model cantik itu sehingga membuatnya semakin basah, sebagian mengenai rambutnya. Mereka semua ambruk kelelahan, suara nafas yang ngos-ngosan terdengar bersamaan dengan hembusan AC. Olga telah luluh lantak, rambutnya kusut berantakan, tubuhnya bersimbah peluh dan ceceran sperma, vagina dan anusnya rasanya panas sekali. Ia mendengarkan obrolan ketiganya dengan sesama mereka dan juga komentar cabul terhadap dirinya.

“Puas banget gua malem ini biar nih badan pegel-pegel !” kata Bakrie
“Iya tuh musti dipuas-puasin kapan lagi coba n-g-e-n-t-o-tin artis kaya gini” Pak Jabir menimpali.
“Gak nyangka yah bisa asik gini, ini sih bukan BBM namanya, tapi BCM” kata Dedi.
“BCM ? apa tuh ?” tanya teman-temannya.
“Bukan Cuma Mimpi” jawabnya lalu mereka tertawa-tawa, “ya gak Non hehehe” tangannya meraba dada Olga sambil iseng meratakan ceceran sperma disitu.

Olga hanya diam saja karena untuk bersuara pun ia masih terlalu lelah, suaranya seakan telah habis untuk mendesah dan menjerit ketika orgasme tadi.

Pak Jabir keluar dari kamar lalu ia masuk lagi tak lama kemudian sambil membawa segelas air. Ia menyelipkan tangan ke bawah punggung Olga lalu menegakkan badannya, gelas itu ditempelkannya ke bibir wanita itu dan menyuruhnya minum. Cukup pengertian juga pria setengah baya itu. Olga langsung meneguk air di gelas itu sampai habis, air itu sungguh menyejukkan tenggorokannya yang telah kering serta memberi sedikit tenaga pada tubuhnya.

“Kasian si Non Olga jadi acak-acakan gitu, kita mandiin aja yuk !” ajak Bakrie sambil cengengesan.
“Boleh juga tuh, sekalian kita juga mandi, gerah nih udah keringetan gini, jadi bisa mandi bareng artis juga kan” Dedi menyambut girang ajakan itu.
“Oh God, please jangan lagi” keluh Olga dalam hatinya, ia membayangkan akan dibantai lagi di kamar mandi bila mandi bareng mereka.
“Aduh udah dong, saya udah ga kuat lagi saya mohon” katanya dengan suara lemas ketika Dedi memapah tubuhnya hendak menurunkan dari ranjang.
“Mandi doang Non biar seger, biar Non tidurnya juga enak” kata Pak Jabir menenangkan.
“Bener Non, kita kan tanggung jawab, udah bikin Non berantakan gini masa ga dibersihin lagi hehehe !” goda si Bakrie.

Di kamar mandi Bakrie meletakkan tubuh Olga yang masih lemas itu di atas lantai marmer putih bermotif flora dengan posisi duduk bersandar ke tembok. Pak Jabir menyalakan kran shower dan mengatur suhunya sehingga air hangat menyiram Olga hingga basah. Guyuran air yang segar itu membuat kepenatan tubuhnya berkurang, ia menggerakkan tangan menyeka wajahnya yang lengket oleh sperma.

Olga tidak peduli lagi ketiga pasang mata mereka sedang memandangi tubuhnya yang sudah basah. Pak Jabir mengulurkan tangannya membantunya berdiri,

“Yuk Non, Non ga usah repot-repot kok, biar kita aja yang mandiin, kan Non juga masih cape” katanya.

Ia mengangkat wajah memandang pria itu, sungguh seksi dan menggairahkan sekali ia dalam keadaan basah seperti itu, dengan ragu diangkatnya tangan membalas uluran tangan mandor itu. Kemudian ia mengangkat tubuhnya perlahan-lahan dengan tenaga yang mulai pulih, punggungnya masih bersandar ke tembok karena belum cukup tenaga untuk menopang tubuhnya dengan kedua kaki. Mandor itu berdiri di hadapannya dan kedua bawahannya di samping kiri dan kanannya, semua mata memandangnya, Olga tidak tahu lagi apa yang akan terjadi, sudah terlalu lelah untuk memikirkan semuanya. Pak Jabir mengambil botol sabun cair dari rak disampingnya dan ditumpahkannya cairan kental berwarna pink ke tubuhnya.

“Ayo bersihin !” perintahnya.

Segera tangan-tangan mereka menggosoki tubuhnya, mereka meratakan sabun cair itu ke seluruh tubuhnya hingga licin berbusa. Mereka jadi begitu lembut sekarang, beda sekali dengan beberapa saat lalu yang begitu brutal menggangbangnya. Elusan-elusan mereka ditambah lagi lembutnya busa sabun, membuat Olga merasa rileks dan terbuai.
“Album saya Pak, tolong kembaliin yah !” pinta Olga pada Pak Jabir yang kebagian tugas menyabuni wajah dan payudaranya.
“Nanti Non, seudah renovasi selesai pasti saya kembaliin, saya sumpah kok” jawab Pak Jabir sambil menggosok memutar sepasang payudaranya.
“Please Pak, kembaliin sekarang juga, saya gak mau kalau sampai ketauan orang lain lagi” suaranya makin memelas.
“Tenang aja Non, pasti saya simpan baik-baik sampai dikembaliin nanti, dijamin gak ada seorangpun yang bakal nyentuh tuh album” Pak Dahlan memencet putingnya hingga ia mendesis.
“Iya Non tenang aja, kita juga ga mau kena perkara kalau sampai albumnya bocor lagi, pasti kita jaga baik-baik kok” Bakrie yang sedang mengkramas rambutnya dari belakang menambahkan.
“Kita simpan dulu biar kita bisa sama-sama senang, tul ga Non Olga ?” Dedi yang sedang jongkok menyabuni daerah paha dan kemaluannya ikut nimbrung.
“Sama-sama seneng apanya, dasar tengik !” maki Olga dalam hati.

Olga menghela nafas panjang, ia hanya bisa berharap kuli-kuli bejat ini menepati janjinya seusai renovasi nanti, masa ia selamanya jadi budak orang-orang seperti mereka. Ia tidak bisa menahan desahannya ketika jari Dedi mengorek vaginanya.

“Biar bersih Non hehehe” katanya dengan senyum memuakkan.

Usai menyabuni dan mengkramas Olga mereka kembali mengarahkan shower ke tubuhnya untuk membilasnya.

Mereka lalu membasuh diri mereka sendiri, kecuali satu, si Dedi, ia masih saja berjongkok dan mengobok-obok vagina Olga.

“Aahh…udah Bang, jangan gitu lagi !” Olga hanya bisa mendesah sambil mendorong-dorong kepala pria itu.
“Wei, belum cukup juga apa, besok kita masih harus kerja, simpen tenaga dong !” tegor mandor itu sambil menoel kepala Dedi.
“Sabar dikit Pak, saya tadi kan belum sempat nyicipin sininya Non Olga, cuma jilat-jilat dikit aja kok, boleh kan Non ?” jawabnya seraya mengangkat paha kanan Olga ke bahunya, tanpa menunggu diiyakan ia membenamkan wajahnya ke kemaluan Olga yang baru dicuci bersih.

Lidah Dedi bergerak liar menjilati bibir vagina dan dinding bagian dalamnya sehingga wanita itu tidak tahan untuk tidak mendesah. Kali ini dia bermain gentle, sambil menjilat tangannya membelai-belai paha, pinggul dan payudaranya. Kelembutan ini membuat Olga yang baru saja dikasari tadi serasa mendapat air di setelah berhari-hari di gurun.

“Aaahh !” akhirnya ia kembali mengeluarkan cairan kewanitaanya.

Dedi langsung mengisapinya dengan rakus. Olga menggelinjang menahan nikmat dan geli karena lidah Dedi terus mengais-ngais seolah tak pernah puas. Akhirnya pria itu menurunkan pahanya dan bangkit. Baru sekarang ia membasuh tubuhnya, dengan buru-buru ia menyabuni diri lalu membilasnya sementara teman-temannya saat itu sudah mengelap tubuh masing-masing.

Akhirnya ketiga kuli bangunan itu telah berpakaian kembali dan membereskan peralatan mereka. Mereka pamitan pada Olga yang hanya memakai handuk kuning yang dililit di tubuhnya, satu-satunya handuk yang tergantung di gantungan baju kamar mandinya. Dengan langkah gontai ia mengantar mereka ke pintu, ia hanya membukakan pintu setengah sambil sembunyi di baliknya karena hanya memakai handuk. Mereka pamitan dengan mengecup bibirnya atau menyentuh tubuhnya sebelum keluar. Orang terakhir, si Bakrie bahkan lebih kurang ajar, sebelum keluar ia dengan sengaja menarik handuk yang melilit di tubuhnya lalu membuka pintu lebar-lebar, kontan Olga pun menjerit kecil sambil menutupi tubuh dengan tangan, mereka malah tertawa-tawa melihatnya.

“Tenang, sepi kok Non, ga ada wartawan !” ejek Bakrie sambil melemparkan kembali handuk itu padanya.

Ia menutup pintu dengan kesal, tidak dibanting karena takutnya memancing perhatian tetangga. Dalam hatinya berkecamuk perasaan marah dan sedih, di kamarnya ia langsung menjatuhkan diri ke ranjang tanpa memakai baju. Disana ia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk bantal, kepenatannya membuatnya tertidur dengan posisi demikian, tengkurap dengan memeluk bantal. Ia baru bangun keesokan harinya ketika matahari masuk ke jendela kamarnya yang tirainya belum sempat ditutup. Ia berharap baru bangun dari mimpi buruk, namun ternyata tidak, semua nyata, ranjang itu masih berantakan spreinya kusut sana sini bekas pergumulan kemarin, bekas-bekas cupangan masih membekas di tubuhnya. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih, untung hari ini Jumat dan tidak masuk pagi. Kemudian terdengarlah bel berbunyi tanda ada tamu.

“Ya, siapa ?” tanyanya lewat speaker sebelum mempersilakan masuk.
“Kita Non, kangen gak ?” kata suara di seberang sana dengan nada ceria.

Olga langsung lemas mendengar suara yang tak asing itu, penderitaannya akan segera dimulai lagi.
Sungguh Puaskah Istri Anda ?