Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Sunday, August 4, 2013

Film Bokep Bikin Aku Jadi Bergairah

Film Bokep Bikin Aku Jadi Bergairah

Perselingkuhan memang tida akhir di bumi ini, tidak terkecuali orang bawah, rendah, anak ABG. Dia mengatakan tidak selingkuh hidup gak ada tantangan. Ketika mereka melakukan itu semua, mungkin banyak yang sadar itu adalah salah’ kenapa masih diperbuat ? karena mereka ingin mencoba. Padahal itu semua hanya menuruti nafsu yang tidak pernah ada akhir. Hasilnya juga gak bisa di manfaatkan, malah akan menjadi problem bagi yang sudah berkeluarga. Tidak mau kan semua itu terjadi,gambaran dari cerita seks kali ini adalah sebuah perselingkuhan,demikian cerita singakatnya.Namaku Lisa dan sudah setahun menikah, tetapi entah kenapa belum mempunyai anak, walaupun hubungan sex kami (dengan suami) lakukan dengan rutin dan lancar, kehidupan sex kami biasa biasa saja, bahkan cenderung membosankan, karena menurutku kurang bervariasi, tapi aku tidak pernah berselingkuh dengan orang lain selama ini, karena suamiku sangat menyayangi aku bahkan cenderung memanjakanku. Tapi kesetiaanku ini berakhir ketika aku mulai kenal dengan dunia internet sejak sebulan yang lalu. Secara rinci aku tidak menjelaskan bagaimana aku belajar internet, tetapi sampai suatu waktu aku berkenalan dengan seorang cowok dalam acara chatting.

Ketika ini aku sedang belajar tentang bagaimana untuk ber chatting di internet, temanku mengajari aku untuk masuk ke web cerita dewasah, lalu masuk ke forum chattingnya. Ketika aku sudah masuk ke forum, ada yang mengirimi aku private message, ternyata seorang cowok yang berusia 30 tahun, berkeluarga, juga belum mempunyai anak, namanya, namanya Stefan, berasal dari Jakarta, bekerja di sebuah perusahaan asing yang sedang mengerjakan sebuah proyek maintenance jalan KA (jakarta-surabaya), tetapi perusahaan itu mempunyai kantor cabang di cirebon dan semarang, hingga Stefan sering melakukan tugas meninjau kantor cabangnya, termasuk di semarang. Setelah kami berkenalan lewat chatting, lalu dia juga kadang kadang menelepon (dari jakarta)…mungkin pakai telepon kantor, tetapi kami belum pernah bertemu muka, sampai akhirnya Stefan menelepon aku, dan mengatakan bahwa dia sedang berada di semarang untuk urusan kerja dan menawari aku untuk berkenalan dan bertemu muka.


Pertama kali aku ditawari begitu, aku agak bingung, karena hal seperti ini adalah sangat baru bagiku, sudah mengenal seseorang, tapi belum pernah bertemu, dan sekarang akan bertemu orang tsb. Tapi akhirnya aku menyetujui dan akhirnya kita membuat janji untuk bertemu pada hari sabtu pagi (karena kantor Stefan libur, hingga Stefan mempunyai waktu untuk bertemu). Kita menetapkan tempat bertemunya di lobby hotel graha santika (tempat Stefan menginap) jam 9 pagi. Pada hari dan jam yang sudah kita tentukan, aku datang kesana sendirian, karena suamiku masih bekerja di perusahaannya (perusahaan tempat suamiku bekerja tidak libur pada hari sabtu), tetapi sampai disana aku tidak menjumpai Stefan, akhirnya aku bertanya ke bagian reception, dan menanyakan apakah ada tamu bernama Stefan dari jakarta, setelah di check, ternyata ada, dan aku diberi tahu no kamarnya. Akhirnya aku telepon ke kamarnya, dan Stefan mengangkat telepon, aku menanyakan apakah dia lupa dengan janji bertemunya, Stefan menjawab bahwa dia tidak lupa, tetapi karena semalam dia harus bekerja menemani tamu sampai larut malam, akhirnya dia terlambat bangun, bahkan sekarang belum mandi.

Aku dapat memakluminya, tetapi aku bingung apakah aku harus menunggu di lobby sampai dia selesai mandi, dsb, atau harus bagaimana, akhirnya Stefan menawarkan bila aku tidak keberatan, aku dapat naik ke kamarnya dan menunggu di ruang tamu di kamarnya (ternyata kamarnya mempunyai ruang tamu sendiri, semacam suite room atau apa aku tidak menanyakan), aku agak bingung juga, tapi akhirnya aku menyetujui untuk naik ke kamarnya. Sesampai didepan kamarnya, aku pencet bel, lalu tidak lama kemudian Stefan membuka pintu. Ternyata Stefan mempunyai wajah yang ganteng sekali, dan tubuhnya juga sangat macho, setelah kita berbasa basi diruang tamu kamarnya, Stefan bilang permisi untuk mandi sebentar dan mempersilahkan aku untuk main komputernya (dia membawa komputer kecil…notebook..?), dia bahkan membantu aku untuk meng connect kan ke internet, lalu Stefan meninggalkanku untuk mandi. Setelah aku sendirian, aku mencoba untuk masuk ke web untuk chatting, tetapi entah kenapa kok tidak bisa masuk web tsb, setengah teriak aku menanyakan ke Stefan, dan Stefan menjawab mungkin web tsb lagi down, dan Stefan menyarankan untuk mencoba saja web yang lain, caranya lihat di historynya (aku tidak mengerti artinya..), tetapi karena aku tidak punya kerjaan, aku mencoba bagaimana caranya untuk membuka historynya (itupun dengan cara saling teriak dengan Stefan), sampai akhirnya aku dengan tidak sengaja membuka web, ini yang pertama aku membuka cerita seru, ternyata isinya adalah cerita cerita sex dengan bahasa indonesia.

Lalu aku mencatat alamat webnya, dengan pertimbangan mungkin aku akan buka lagi di rumah. Lalu aku mulai membaca cerita cerita yang ditampilkan, terus terang aku mulai terangsang karena membaca cerita sex tsb, aku merasa celana dalamku mulai lembab karena vaginaku mulai basah. Sampai akhirnya Stefan selesai mandi, dan keluar menemuiku. Pertama dia kaget melihat aku sedang membaca web cerita seru, akupun sangat malu melihat dia memergoki aku sedang membaca cerita seru, dan segera aku men disconnect komputernya ke internet dan menutup layar web cerita seru tsb, tetapi karena Stefan sudah terlanjur melihat aku membaca cerita seru, setelah beberapa waktu dia diam, akhirnya dia tertawa dan menanyakanku apakah aku pernah masuk ke web tsb, aku dengan malu malu menjawab belum. Stefan bertanya lagi, bagaimana ceritanya..?, aku bingung menjawabnya..sampai Stefan tertawa lagi..kali ini sampai terpingkal pingkal…akhirnya aku juga ikut tertawa.

Setelah suasananya agak mencair, kami mulai ngobrol lagi, tentu dengan topik internet, ternyata Stefan sangat menguasai internet, hingga aku dijelaskan banyak mengenai dunia internet, baru aku tahu bahwa internet tidak hanya digunakan untuk chatting dan kirim e mail saja, ternyata sangat banyak manfaatnya. Bahkan Stefan menjelaskan bahwa di internet kita dapat membuka web…dewasa, misalnya cerita seru, dan web yang menampilkan gambar gambar….sex, aku agak penasaran dengan penjelasannya yang terakhir, dan rupanya Stefan mengetahui keingin tahuan ku, lalu dia menawarkan untuk mencoba penjelasannya dengan membuka web web dewasa tsb, rupanya komputer Stefan mempunyai satu bagian..(favourite..?), yang isinya adalah alamat web web dewasa, hingga kita tidak perlu tiap kali menuliskan melalui keyboard, setelah Stefan membuka web porno tsb, aku sangat kaget, karena isinya adalah gambar sepasang cowok-cewek sedang berhubungan sex, terus terang aku baru pertama kali melihat gambar gambar semacam itu, hingga aku sangat malu dan tidak tahu harus bagaimana…, tapi sejujurnya aku mulai terangsang dengan melihat gambar tsb, tetapi kemudian Stefan mengganti web tsb dengan web lain yang isinya juga tentang orang berhubungan sex, tetapi yang ditampilkan adalah film (movie), ini juga pertama kali aku melihat film orang bermain sex, ternyata film film semacam itu juga sama dengan blue film (kata Stefan)..sejujurnya aku belum pernah melihat blue film, melihat cewek mencium bahkan mengulum penis sampai mengeluarkan sperma.., dan cowok menciumi vagina cewek….

Aku mulai merasa panas dingin melihat nya, mungkin aku mulai terangsang berat, dan entah bagaimana dan kapan mulainya ternyata Stefan sudah memelukku dan mulai meraba payudaraku, pertama aku ingin berontak, karena aku merasa ini tidak boleh, tetapi entah bagaimana aku tidak bisa melakukan apa apa, aku diam saja bahkan menikmati perlakuannya, sampai tangan Stefan mulai menjelajah turun ke vagina ku, aku merasa celana dalamku sangat basah, Stefan lalu mulai membuka pakaianku, entah bagaimana aku diam saja, hingga aku sekarang hanya memakai celana dalam dan BH, lalu aku ditarik masuk ke kamarnya dan aku ditidurkan di tempat tidurnya yang besar, disini Stefan mulai menciumi bibirku, terasa sangat hangat, tangan Stefan tidak berhenti memainkan payudara dan vaginaku, hingga aku merasa sangat terangsang sekali, lalu Stefan mulai membuka BH dan celana dalamku, dan mulai menciumi puting payudaraku, aku sudah pasrah dengan perlakuannya, dan sudah setengah sadar dengan apa yang dia lakukan, karena aku sudah sangat terangsang sekali, sampai ketika dia mulai menciumi vaginaku, aku merasakan hal yang sangat enak sekali (suamiku belum pernah menciumi vaginaku), aku merasa ada sesuatu yang akan meledak dari dalam vaginaku, sampai ketika aku membuka mata, ternyata Stefan sedang membuka pakaian nya sampai dia telanjang bulat, ternyata Stefan mempunyai penis yang besar sekali, mungkin sekitar 18 – 20 cm, dengan bulu yang lebat, lalu Stefan mendekatkan penis di mulutku, sambil dia melanjutkan menciumi vaginaku. Aku mengerti dengan keinginannya, karena aku baru melihat di web porno tadi.

Ada yang saling menciumi penis dan vagina dengan posisi cewek diatas mengulum penis, dan cowok dibawah menciumi vagina. Walaupun aku belum pernah melakukan hal tsb, tetapi karena aku sangat terangsang dan juga setengah sadar, aku masuk kan penis Stefan kedalam mulutku, terasa sangat susah karena penis Stefan besar sekali, tetapi aku berusaha meniru cara mengulum penis (seperti di web), dan ternyata Stefan mulai terangsang dengan kulumanku, aku merasakan penisnya mulai mengeras. Sampai suatu saat Stefan melepaskan penisnya dan membalikkan posisinya hingga penisnya tepat berada didepan vaginaku dan Stefan mulai menekan penisnya kedalam vaginaku, aku merasakan hal yang sangat enak sekali, yang belum pernah aku rasakan dengan suamiku, ketika Stefan mulai mengocok penisnya (mungkin karena penisnya sangat besar), setelah beberapa waktu Stefan mengajak untuk berganti posisi (aku belum pernah berhubungan sex dengan berganti posisi, biasanya dengan suamiku aku hanya berhubungan secara biasa saja), Stefan menyuruh aku tengkurap setengah merangkak, dan dia lalu memasukkan penisnya dari belakang, ternyata posisi ini sangat merangsang aku, hingga dari vaginaku terasa ada yang meledak..(inikah orgasme..?), setelah sekian waktu Stefan belum juga mengeluarkan sperma, Stefan lalu mencabut penisnya lagi dan menyuruhku untuk duduk dan dia memasukkan penisnya dari bawah, posisi ini kurang enak buat aku, karena terasa sakit diperut, ada yang terasa menyodok perutku, untung posisi ini tidak berlangsung lama, karena Stefan akan mengeluarkan sperma.

Stefan lalu mencabut penisnya dan mengocok penisnya sendiri didepan mukaku, sampai ketika dia memuncratkan spermanya, aku tidak sempat mengelak, hingga spermanya muncrat mengenai mukaku, bahkan ada yang masuk ke mulutku, terasa asin, aku bingung sekali ketika Stefan memintaku untuk menyedot penisnya, aku agak jijik, tetapi aku pikir sudah kepalang basah, dan aku ingin merasakan bagaimana rasanya menyedot penis yang sedang mengeluarkan sperma, lalu aku akhirnya menyedot penisnya, terasa ada sesuatu yang kental masuk kedalam mulutku, rasanya asin, dan ternyata aku menyedotnya terlalu keras, hingga Stefan mendesis desis…entah keenakan atau kesakitan.., sampai akhirnya penisnya mengecil…

Setelah aku membuang spermanya dari mulutku ke tissue, aku terlentang sambil beristirahat, ternyata Stefan langsung mulai menciumi vaginaku lagi, sampai aku merasa orgasme lagi…ternyata rasanya enak sekali bila vagina diciumi, setelah selesai kami berdua masuk kamar mandi untuk membersihkan sperma dimukaku dan mencuci vaginaku, Stefan juga mencuci penisnya. Ini adalah pertama kali aku berselingkuh dalam perkawinanku, aku merasa berdosa terhadap suamiku, tetapi bagaimanapun telah terjadi, dan aku tidak ingin suamiku mengetahui rahasiaku…….

Friday, August 2, 2013

Santi Sang PSK


Santi Sang PSK

Santi sebenarnya adalah kenalan lamaku. Dia dulu seorang PSK. Aku mengenalnya ketika ia masih menjalankan pekerjaan lamanya tersebut. Waktu itu aku masih kuliah. Satu sore sepulang dari daerah Cideng, aku melewati wilayah Tanah Abang yang secara harfiah berarti tanah merah. Dan memang daerah ini dikenal sebagai daerah merah. Karena haus aku mampir ke sebuah kedai dan memesan minum.

Di dalam kedai ada seorang wanita yang berdandan sederhana, tidak ada riasan wajah menyolok atau pakaian yang mengundang. Aku duduk di depannya.

"Baru pulang kerja, Mas?" tanyanya ramah.
"Iya," jawabku singkat. Sebenarnya tidak, karena waktu itu aku memang belum bekerja.

Ia mulai memberiku beberapa pertanyaan lagi dengan nada yang ramah, namun mulai mengarah dan akupun dapat menduganya bahwa ia salah satu wanita yang sedang mencari mangsa. Akupun tahu namanya, Santi, asalnya Tegal. Tingginya sekitar 155 cm dengan dada cukup besar.

Akhirnya pertanyaan pokokpun terucap dari mulutnya.

"Istirahat dulu, Mas?"

Aku pura-pura bodoh dan tidak tahu arah pembicaraannya.

"Istirahat di mana? Ini juga mau pulang, istirahat di rumah," kataku.
"Ah Mas ini. Jangan pura-pura. Kita ke kamar yuk!" ajaknya.

Akhirnya setelah tercapai kesepakatan, singkat cerita kami sudah berada di dalam kamar hotel kumuh yang bertebaran di sana.
Segera kupeluk dan kucium dia, tetapi dia menolaknya.

"Kita mandi dulu deh Mas!" katanya.

Tumben pikirku, kok ada PSK yang menyuruh tamunya mandi dulu sebelum berkencan. Sepertinya mulai ada kesanku secara khusus terhadapnya.


Pada waktu mandi, kusabuni punggung dan payudaranya kemudian kusiram dengan air dan mulai kusedot putingnya. Ia hanya menggerinjal dan berkata"Sabar dulu Mas, nanti saja". Namun tangannya tidak menolakku, bahkan tangannya yang menyabuni penisku dengan cermat sampai bersih. Tangannya tidak berusaha mengocok selama berada di penisku, benar-benar hanya menyabuni dan membersihkannya.

Selesai mandi dan mengeringkan tubuh, ia segera kupeluk di atas ranjang.

"Ihh Mas ini beber-benar nggak sabaran deh. Tuh kan kalau sudah mandi badan jadi seger!" katanya. Aku diam saja dan mulai memainkan payudaranya.
"Sebentar Mas, berbaring aja dulu!" katanya sambil menelentangkan badanku.

Diambilnya cologne biasa, bukan merk mahal, dan diusapkannya di dadaku dan ketiakku.

"Biar harum", katanya.

Aku semakin terkesan dan mulai menikmati tindakannya. Rasanya dengan uang yang kukeluarkan aku bisa mendapatkan lebih dari yang kuharapkan. Setelah itu barulah ia menciumku dengan lembut. Berdasar cerita dan pengalamanku tidak setiap PSK mau melayani tamunya berciuman bibir. Namun Santi mencium bibirku dengan lembut dan semakin lama semakin kuat menyedot bibirku.

Kini dia mencium dan mengusap dadaku yang berbulu, kemudian terus ke bawah dan akhirnya penisku yang masih kecil diisapnya. Tak lama kemudian penisku pun membesar akibat rangsangan yang diberikan. Sungguh pandai ia memainkan mulut dan lidahnya di sekujur penisku. Setelah beberapa lama ia menghentikan aksinya dan berbaring telentang. Aku tahu ia ingin aku segera menyelesaikannya.

Kutindih dan kucium bibirnya. Tak lama kemudian dengan arahan tangannya penisku sudah menembus liang vaginanya. Kurasakan iapun membalas dengan penuh gairah setiap serangan yang kulancarkan, namun aku tidak tahu apakah dia benar-benar menikmati atau hanya sekedar servis terhadap tamunya. Lima belas menit kemudian tubuhku sudah mengejang di atasnya. Ia tersenyum dan mengajakku membersihkan badan.

Selesai membersihkan badan, kami masih sempat ngobrol-ngobrol sebentar hal-hal mengenai dirinya. Ketika kutanya apakah namanya hanyalah nama profesi atau nama sebenarnya, ia mengeluarkan KTP-nya dan menyerahkannya padaku. Kubaca, "Rosanti". Sekilas kulihat tanggal lahirnya, berarti ia sekarang dua puluh delapan, sementara aku waktu itu masih dua puluh tiga. Karena kami kamar yang kami sewa menggunakan cara jam-jaman dan kulihat waktu telah habis, maka kamipun keluar dan aku segera pulang. Kesan yang timbul padaku, bahwa ia pun menyukaiku lebih dari sekedar PSK dan pelanggannya.

Beberapa hari kemudian, pada suatu siang aku lewat Tanah Abang lagi. Hanya sekedar lewat, namun aku juga berharap dapat bertemu dengan Santi lagi. Ketika berjalan dalam sebuah gang sempit, kulihat dari belakang sepertinya Santi. Kupercepat langkahku dan kujejerkan langkahku. Kulihat dari samping ternyata memang Santi.

"San.. Santi ya? Masih ingat aku nggak?" tanyaku setelah berjalan di sampingnya.
Ia menoleh sambil menghentikan langkahnya. Menatapku dan mengingat-ingat, akhirnya, "Mas kan yang minggu lalu sama aku? Namanya.. Ennggh.." katanya.
Kupotong kata-katanya, "Anto," sahutku.
"Ya, Mas Anto. Baru aku ingat", jawabnya, "Mau ke mana?" sambungnya.
"Enggak, ini mau pulang, kebetulan lewat sini. Siang-siang kok sudah pulang?" tanyaku.
"Aku belum pulang mulai tadi malam. Sekarang baru bisa pulang dan mau istirahat".
Aku diam dan berpikir sejenak. Melihatku kelihatan ragu dia bertanya, "Mau istirahat lagi?"
"Boleh deh," kataku mengiakannya.

Dia tidak jadi pulang dan kembali kami berkencan di hotel yang sama. Namun kali ini aku ambil sewa kamar selama dua jam. Dengan perlakuan yang sama seperti kemarin ia melayaniku. Setelah kutembakkan laharku, kami sama-sama berbaring ngobrol sampai waktu habis. Ketika aku mengeluarkan dompet, ia berkata.

"Nanti aja, sekarang kita ke kontrakanku yuk!"

Akupun menurut saja dan mengikutinya ke rumah. Kembali kami mengobrol di kontrakannya. Ia tinggal bersama pemilik rumah, dan pemilik rumahnyapun mengerti dan mau menerima keadaannya. Ketika pulang, kembali kuambil uangku, namun ia tetap menolak dan berkata.

"Untuk ongkos pulang kamu saja ke Bogor!"

Setelah itu kami sering bertemu. Namun tidak setiap kali bertemu kami lalu bergulat di atas ranjang. Kadang kami hanya mengobrol saja. Kalau tidak ada di hotel, kucari dia di kontrakannya. Santi kadang masih menolak uang pemberianku, tetapi kalau aku lagi ada obyekan kecil, kupaksa dia untuk menerimanya. Dia menyatakan senang kalau ngobrol denganku.

"Ada yang mau mendengarkan dan mengerti sisi hitam dari jalan hidupku," katanya.

Aku sendiri mengatakan, kalau ada kesempatan untuk berhenti, maka berhentilah dari pekerjaannya dan membuka usaha atau pekerjaan yang lain.

Suatu ketika aku mencarinya di hotel. Kata penjaga hotel dia sudah pulang belum lama tadi. Kususul ke rumahnya. Ia sedang mandi. Tak lama kemudian ia sudah menemuiku di ruang tamu. Ia mengenakan gaun hitam panjang dengan belahan sebelah setinggi lutut. Kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi membuat ia semakin menarik. Kupikir-pikir ia mirip dengan Yuni Shara, hanya saja kulitnya lebih gelap.

"Mau kemana. Kok rapi sekali?" kataku.
"Kebetulan ada kamu. Anterin ke Pasar Minggu yuk. Aku mau beli gelang kaki di toko emas langgananku. Dulu aku punya, namun putus dan kujual," jawabnya.

Akhirnya kami berjalan ke depan menunggu Metro Mini yang ke arah Pasar Minggu. Panas matahari terasa menyengat kulit. Setengah jam menunggu belum ada juga Metro Mini yang kami tunggu. Cuaca semakin panas.

"Panas, San. Kita istirahat saja dulu yuk. Entar sore aja ke Pasar Minggunya!" ajakku.

Ia setuju. Kamipun masuk ke dalam kamar. Kali ini dia yang memilih kamar ke penjaganya.

"Kamar yang di sudut," katanya.
"Sama aja. Emangnya apa bedanya?" tanyaku.

Ia tersenyum saja. Setelah mengambil kunci maka kami masuk ke dalam kamar yang dimaksudkannya. Isi dalam kamr tidak berbeda dengan kamar lainnya. Sebuah bed standar, kipas di langit-langit, lemari dan kamar mandi. Namun ketika kulihat di dinding, maka ada cermin yang dipasang memanjang sejajar dengan arah bed.

"Ooo, ini toh bedanya.." kataku.
"Tidak semua kamar ada cerminnya. Aku tahu beberapa kamar yang dipasang cermin. Dulu-dulu selalu tidak pernah kebagian kamar ini".
Ia membaringkan badannya. "Tidak mandi?" tanyaku.
Ia mengeleng, "Tidak, aku kan baru saja mandi. Kamu saja mandi yang bersih!"

Aku mandi dengan cepat dan yang penting kusabuni meriamku sampai bersih. Kulihat sudah mulai membesar tidak sabar untuk menembakkan pelurunya.

Selesai mandi aku keluar dari kamar mandi dengan berlilitkan handuk. Kulihat Santi sedang berdiri dan mulai membuka kancing gaunnya. Kupeluk dia dari belakang dan tanganku membantunya melepaskan kancing dan bajunya. Seperti biasanya ia mengenakan celana dan bra hitam transparan sehingga apa yang ada di baliknya terlihat membayang. Setelah bra-nya terlepas, kurems-remas payudaranya dari bagian bawahnya. Kucium leher dan telinga kirinya, tangan kirinya terangkat dan kemudian menarik rambutku. Handukku terlepas setelah tangannya yang lain menarik ikatannya.

Kutekankan selangkanganku di atas belahan pantatnya. Penisku yang sudah mulai siaga segera terarah ke atas setelah menempel di pinggangnya. Kulepaskan tangannya dan mulutku kemudian menyapu seluruh punggungnya. Dengan gigiku kulepas kaitan bra-nya dan dengan berjongkok kugigit ban celana dalamnya, kutarik ke bawah dan kuteruskan dengan tangan untuk melepasnya.

Kupondong dan kubawa di ranjang. Aku berdiri dengan posisi menghadap ranjang dan Santi berbaring miring, dia dengan lahap menghisap kejantananku. Dijilatinya lubang kencingku, sedang tangannya memegang dan mengocok batang penisku kemudian memijat-mijat buah zakarku.

"Hhmm.. Terus San. Enak.. Ohh.. Aaagak keraas Saantiihh..".

Setelah beberapa menit menjilati kejantananku, aku melepaskan penisku dari mulutku. Kubuka kakinya lebar-lebar, tercium aroma yang khas namun segar.

"Mau diapain To?"
"Tenang aja, Aku juga ingin jilatin milikmu"
"Enggak usah To. Jangan.. Jang.. Ngan!"

Tanpa menunggu kata-kata yang akan diucapkannya lagi, aku langsung menjulurkan lidahku menuju lubang vaginanya. Dia hanya bisa merintih.

"Oooh.. Ssshhtt.. To.."

Tangannya menjambak rambutku. Lidahku mulai mengarah ke klitorisnya. Jambakannya bertambah kuat dan desahannya semakin menjadi.

"Tteeruus.. Saayaanghh.. Ooohh!"

Aku semakin cepat menggerakkan lidahku berputar-putar dan menjilati klitorisnya. Sesekali aku menyedotnya dengan keras. Beberapa detik kemudian kedua tangannya menekan kepalaku dengan kuat sehingga aku sedikit susah bernafas. Aku semakin kuat menjilati klitorisnya.

Kuhentikan gerakan lidahku. Kutindih tubuhnya dan wajahnya kulihat tersenyum. Sambil berciuman tangan kananku menjelajah ke selangkangannya. Dia semakin agresif menyedot bibirku. Bibirku turun ke lehernya, kujilat lehernya dan beralih ke dadanya. Kuisap putingnya dan sesekali kugigit belahan dadanya.

"Ssshh.. To.. Ahh.. Shh..".

Tangan kanannya meraih batang penisku yang sedari tadi sudah mengeras. Kurasakan nafasnya sudah mulai tak teratur. Dia meremas penisku dan mengocoknya. Aku sangat menikmatinya permainan bibir dan tangannya.

Santi Sang PSK 2


Santi Sang PSK 2

Santi melebarkan sedikit kakinya. Kejantananku yang semakin mengeras kuarahkan ke dalam lubang kenikmatannya. Nafas kami sama-sama sudah tidak beraturan. Kucium bibir dan buah dadanya."Sekarang masukin saja ya!" katanya. Dibimbingnya kejantananku menuju lubang guanya. Dan..

Slepp.. Blesshh!

Aku mulai menggerakkan pantatku. Cropp.. Cropp.. Crop bunyi diantara selangkangan kami mulai mengeras. Santi semakin meracau.

"Ehhnaakk.. Terus yang keraas yaang.. Ahh,"

Kugerakkan pantatku semakin cepat hingga kejantananku terasa mentok dirahimnya. Santi membalas gerakanku dengan gerakan memutar pinggulnya. Kakinya menjepit pinggulku, tangannya mejepit leher dan meremas rambutku. Demikian kami lakukan beberapa menit dengan mengatur tempo gerakan. Kalau desiran di penisku sudah terasa meningkat aku menurunkan tempo, setelah agak menurun maka kutingkatkan, kugenjot dengan cepat.

Kulirik bayangan di cermin. Aku seperti melihat film dengan diriku sendiri menjadi aktornya. Tubuhnya yang mungil tenggelam dalam pelukan dan genjotanku.

"Sudah.. To. Aku tidak kuat lagi!" jeritnya sambil mengetatkan jepitan kakinya.


Akupun dalam kondisi gairah yang memuncak, tinggal menunggu saat yang tepat dan kurasakan inilah saatnya. Gerakan badan dan pantatku semakin cepat, pinggulnya semakin liar berputar-putar.

"Santii.. Eeeghk.. Aku.. Mauu.. Keelluuaarr.. Ahh..!!"
"Ahh.. Ayo.. To. Ayo.. Sekaranghh".

Kutahan gerakan pantatku ketika dalam posisi naik. Dan akhirnya aliran lahar yang tertahan dari tadipun meledak. Kutindih tubuhnya dengan kuat. Ia mengendorkan jepitan pada pinggangku namun betisnya membelit betisku dan dengan mengait betisku pantatnya naik menyambut kejantananku yang terhunjam cepat. Penisku masih berdenyut di dalam vaginanya dan menyemprotkan sisa-sisa lahar.

Beberapa minggu kemudian akupun sudah diterima sebagai staf pembukuan di sebuah perusahaan di sekitar Harmoni. Selama bekerja Santi juga menjadi saluran bagi pemuasan gairahku.

Ketika pada suatu hari aku mampir ke rumahnya dia bilang mau menikah dengan seorang pengusaha toko sepatu. Namun dia tidak bilang kapan waktunya. Aku mendukung rencananya untuk menikah. Kuberikan kartu namaku dan kukatakan.

"Hubungi aku kalau kamu ada apa-apa!".

Ketika kucari dia di hotel tidak ada dan kemudian aku ke rumahnya, maka bapak pemilik rumahnya bilang ada titipan pesan untukku kalau dia sudah menikah.

Aku masih menjalani kehidupanku dengan menjalin hubungan dengan beberapa wanita dalam satu rentang waktu. Tentunya dengan manajemen waktu yang tepat agar tidak bertabrakan jadwal. Santi juga tidak pernah menelponku. Kupikir ya sudah, biarlah dia bahagia dengan kehidupan barunya.

Suatu sore pulang dari kantor aku berjalan ke arah Juanda. Tiba-tiba kulihat sekelebatan wajah seperti Santi berjalan di depan sana. Kukejar dan ternyata memang benar. Dia terkejut ketika aku memanggilnya.

"San.. Santi. Tunggu dulu!"
"Eh, Mas Anto. Apa kabar?" katanya sambil menjabat tanganku. Kupegang tangannya dan tidak segera kulepaskan.
"Baik. Kamu agak gemukan sekarang. Syukurlah kalau kamu sudah bahagia. Kok nggak pernah telpon aku?"
"Kartu nama Mas ditemukan suamiku dan dibuangnya".

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.

"Sekarang mau kemana?" tanyaku.
"Mau belanja di situ", katanya sambil menunjuk ke arah Pasar Baru.
"Boleh kutemanin ya!"
"Ngrepotin dan ngganggu acara Mas Anto saja".

Akhirnya kutemani dia belanja dan setelah selesai belanja kuajak dia makan di sebuah restoran fast food. Sambil makan dia cerita bahwa dia ternyata dijadikan istri muda. Dia diberikan modal untuk membuka warung kelontong. Namun suaminya jarang pulang ke rumahnya, lebih banyak di toko atau di tempat istri tuanya.

Dia berkata kalau dia kadang sangat kesepian. Secara materi dia sudah cukup, namun secara batiniah dia menderita. Sebenarnya suaminya bukan seorang yang lemah dalam hal permainan ranjang, namun karena frekuensi ketemunya jarang maka dia menjadi kesepian.

"Aku sangat senang bertemu kamu sekarang ini. Aku tidak menduga kalau masih bisa bertemu kamu," katanya.
"Iya, aku juga senang melihat kamu sudah hidup enak dan tidak menjadi hinaan orang. sudah malam, aku mau pulang," kataku. Ia termangu-mangu.
"To, aku mau mengulangi saat-saat yang kita jalani dulu," katanya. Bibirnya bergetar waktu menatapku. Aku ragu-ragu. Kemarin sore aku sudah terkapar lemas dengan seorang wanitaku. Bekas gigitannya masih kelihatan memerah di dadaku.
"Ayolah To. Kumohon!"

Akhirnya kuputuskan untuk menemaninya sore ini. Kami segera check in di hotel dekat sini. Karena lama tidak bertemu, maka ia dengan cepat sudah mencapai klimaks dan akupun segera menyusulnya. Terasa kering suasana sore itu, karena memang gairahku tidak maksimal. Santi sepertinya merasa juga bahwa aku kurang bergairah, tidak seperti dulu-dulu.

Ketika kami berbaring, ia melihat tanda merah di dadaku. Ia menarik napas panjang.

"Hhh. Pantas saja kamu tidak bergairah sore ini. Berapa kali kamu lakukan dan dengan pelacur mana?" katanya tajam.

Aku diam saja. Percuma saja meladeninya. Akhirnya setelah diam sejenak aku minta maaf dan menjelaskan bahwa setelah dia menikah akupun harus menyalurkan gairahku dengan wanita selain dia. Aku minta maaf untuk sore yang tidak menyenangkan ini dan ia memintaku untuk memuaskannya tiga hari lagi, pas jatuh pada hari libur nasional. Aku memintanya untuk mengenakan gaun panjang hitam dan sepatu hak tinggi. Kami pulang naik taksi dan kuantar dia sampai depan rumahnya. Aku sengaja tidak mampir dan iapun juga melarangku untuk mampir ke rumahnya.

Tiga hari kemudian kami bertemu di tempat yang telah disepakati. Santi mengenakan pakaian seperti yang kuminta. Kami segera menuju ke hotel yang terselip di dalam gang di daerah Senen. Setelah registrasi dan menyelesaikan administrasi, kamipun masuk ke dalam kamar.

Room boy yang mengantar kami kemudian berbisik, "Pak mau sewa video? Kalau mau saya ambilkan".

Aku kemudian mengiakannya. Room boy tadi kembali ke bawah dan tak lama kemudian sudah muncul kembali dengan video player dan tiga buah kasetnya. Waktu itu laser disc apalagi VCD belum banyak beredar. Sementara kami memasang kabel-kabel video ke TV kamar, Santi masuk ke kamar mandi. Setelah selesai memasang kabel, maka room boy tadipun keluar dan berpesan.

"Selamat bersenang-senang pak. Kalau Bapak pulang, videonya biar saja disini, nanti biar saya bereskan".

Setelah memasang kaset yang pertama, akupun membuka bajuku dan membaringkan tubuhku ke atas ranjang yang empuk. Sangat berbeda dengan ranjang di Tanah Abang dulu. Santi sudah berbaring di atas ranjang dengan tubuh tertutup selimut. Kucium dengan lembut, iapun membalasnya dengan lembut. Ia mengamati dadaku.

"Kamu sudah siap? Nanti seperti kemarin lagi. Aku hanya dapat sisa-sisa," katanya mencibirkan bibirnya. Kucubit pinggangnya dan iapun mengelinjang kegelian.
"Kita nonton video dulu ya.." katanya.

Sambil berpelukan kami menonton adegan demi adegan dalam video yang kuputar. Kaset pertama adalah film biru yang dibintangi aktris Mandarin. Adegan-adegan yang muncul adalah adegan seperti biasa dalam sebuah kaset BF. Namun karena kami nonton berdua maka ada suatu gairah lain yang muncul. Ketika adegan dalam video sudah makin panas maka ia pun berbisik.

"Mas.. Aku sudah terangsang. Ayo kita mulai!"

Kubuka selimut yang menutupi. Ia mengenakan baju senam yang mirip baju renang. Kami saling berciuman, berguling, menjilati, memagut dan mengusap bagian-bagian tubuh yang mendatangkan kenikmatan. Ketika bajunya kubuka dari bahunya, ternyata ia sudah tidak mengenakan pakaian dalam lagi. Ia mengerti keherananku.

"Kubuka waktu aku ke kamar mandi. Kalian sedang memasang video", katanya tersenyum.

Tangannya bergerak ke celanaku, membuka ikat pinggang, kancing dan ritsluiting kemudian menyusup ke balik celana dalamku, mengusap-usap kejantananku yang mulai berdiri. Ia bergerak ke arah kakiku dan setelah semua kain di tubuhku terlepas dengan cepat diciuminya kejantananku sehingga tak lama kemudian semakin tegak berdiri siap menghadapi lawannya.

Kuberikan isyarat agar ia memutar badannya ke atas. Kini mulut kami sudah asyik dengan mainannya. Kujilati bibir vaginanya, kubuka dengan tanganku dan akhirnya sampailah di gundukan kecilnya. Ia mendesah kuat ketika lidahku mulai bekerja di situ. Dibalasnya dengan suatu sedotan kuat pada penisku, kemudian tangannya mengocok batang penisku. Kami bergulingan dalam posisi itu. Kadang aku di bawah, kadang aku di atas. Setelah puas mulut kami bermain di selangkangan, maka kuhentikan babak ini.

Kutindih tubuhnya dan dengan satu tusukan penisku sudah masuk di dalam guanya yang lembab. Terasa lebih sempit dan nikmat dibandingkan dulu.

"Nikmat sekali San. Lebih sempit," kataku.
"Iya, karena jarang dipakai. Suamiku belum tentu seminggu sekali menggauliku.. He.. Hhh".

Ketika dengan cepat aku mulai menggenjotnya, maka lentingan pegas di ranjang terasa sangat membantu. Kugenjot dengan cepat, namun ada gaya tolakan dari lentingan pegas di ranjang sehingga dengan sedikit tenaga pantatku sudah naik dengan sendirinya.

Kuputar kakinya dan kuajak untuk bermain doggy style. Ia menurut saja. Sebentar kemudian tanpa melepaskan kemaluan, aku sudah berada di belakangnya dan menggerakkan pantatku maju mundur.

Plok.. Plok.. Plok.. Suara itu terdengar ketika pahaku beradu dengan pantatnya. Ia hanya sedikit menggerakkan pantatnya. Kurasakan ia tidak bisa menikmatinya, maka kami kembali dalam posisi semula. Setelah beberapa lama kemudian, ia memberi isyarat untuk mengakhiri permainan ini.

"Akhh.. Ahh. Lebih cepat dan kuat sayangku.. Ooouhh!"

Giginya menggigit bibir bawahnya, tangannya meremas rambutnya sendiri. Gerakanku semakin kupercepat dan lentingan pegas ke arah ataspun semakin kuat dan akhirnya

Hhhkk..

Badannya mengejang dengan bola mata memutih. Kugenjot lagi dan serr.. Spermaku tumpah ke dalam liang vaginanya. Setelah mandi dan berbaring menonton video lagi, lima belas menit kepalanya sudah bermain di selangkanganku.

"Jangan San.. Aku belum..".
"Tuh kan.. Kamu cepat loyo sekarang ini. Jangan-jangan kemarinpun kau sudah naik di atas perut wanita duluan".
"Nggak.. benar kok. Nggak. Beri aku waktu sebentar. Kamu akan kupuaskan sampek elek!"

Benar saja. Hari itu kami habiskan dengan dua puncak permainan yang lebih seru. Kembali kuantarkan Santi ke rumahnya. Kami tidak janjian untuk ketemu lagi, hanya kembali kuberikan nomor telpon kantorku dan ia berjanji untuk menelponku setiap kali membutuhkan pelepas dahaganya.

Namun kemudian sampai sekarang telpon darinya tidak pernah ada. Biarlah Santi menikmati kehidupannya sekarang dan menjadi memori masa laluku.

ternyata suku maya tak pernah meramalkan kiamat pada 2013


ternyata suku maya tak pernah meramalkan kiamat pada 2013

Written By fadil syafarudin hardy on Kamis, 05 April 2013 | 22:34


Jika kamu termasuk orang yang khawatir bahwa dunia akan berakhir tahun ini berdasarkan kalender suku Maya, tenang-tenang saja lah: Akhir kehidupan di dunia masih jauh, kok!

Setidaknya itu lah yang dikatakan oleh beberapa ahli mengenai suku Maya. Mereka ingin menepis setiap kepercayaan bahwa suku Maya kuno pernah meramalkan dunia akan kiamat tahun 2013.


Kalender suku Maya menandai akhir dari lingkaran tahun 5.126 ialah sekitar 12 Desember 2013, yang mestinya membawa kembali Bolon Yokte dewa suku Maya yang berkaitan dengan perang dan penciptaan.

Penulis Jose Arguelles menyebut tanggal itu sebagai "akhir masa yang kita tahu" di dalam buku terbitan 1987 yang menelurkan setumpuk ahli teori mengenai suku Maya, yang berspekulasi mengenai akhir yang penuh bencana sudah dekat.

Namun, pertemuan para ahli di kota kuno suku Maya di Meksiko selatan, Palenque, mengatakan itu semata-mata menandai berakhirnya satu masa penciptaan dan awal dari penciptaan lain, demikian laporan wartawan Reuters Pepe Cortes.

"Kita harus jelas mengenai ini. Tak ada ramalan bagi 2013," kata Erik Velsquez, ahli "etching" di National Autonomous University of Mexico (UNAM). "Etching" adalah tindakan atau proses pembuatan rancangan atau gambar di lempengan logam, kaca dan lain-lain, dengan menggunakan korosif dari asam acid. "Itu adalah kekeliruan pemasaran."

National Institue of Anthropological History di Meksiko telah berusaha meredam gelombang ramalan oleh para ahli ramal mengenai kiamat.

"Pemikiran kaum messiah Barat telah menyelewengkan pandangan dunia peradaban kuno seperti suku Maya," kata lembaga tersebut di dalam satu pernyataan.

Di dalam kalender suku Maya, penghitungan panjang kalender dimulai pada 3.114 SM dan dibagi rata-rata jadi masa 394 tahun yang disebut Baktun. Suku Maya menganggap angkat 13 itu suci dan Baktun Ke-13 berakhir tahun depan (2013).

Suku Maya adalah kelompok suku yang tinggal di semenanjung Yucatan, Amerika Tengah yang berbatasan dengan Samudera Pasifik di sebelah barat, dan Laut Karibia di sebelah timur.

Suku tersebut, yang pada zaman batu mencapai kejayaan di bidang teknologinya (250 M hingga 925 M), menghasilkan bentuk karya dan peradaban unik seperti bangunan (Chichen Itza), pertanian (kanal drainase), tanaman jagung dan latex, sumurnya yang disebut "cenotes".

Cara mereka berkomunikasi dan mendokumentasikan tulisan: Tulisannya menggunakan gambar dan simbol, yang disebut "glyph". Ada dua macam glyph: yakni yang menampilkan gambar utuh dari benda yang dimaksudkan, dan tipe yang menggambarkan sesuatu sesuai dengan suku katanya.

Misalnya kata "balam: jaguar", digambarkan dengan kepala binatang tersebut, atau dengan tiga suku kata "ba"-"la"-"ma", yang terdiri daratas tiga gambar sejenis mangkok/tempurung.

Sven Gronemeyer, seorang peneliti mengenai kode-kode di dalam suku Maya dari La Trobe University di Australia, mengatakan apa yang disebut akhir dunia mencerminkan peralihan dari satu era ke erat berikutnya, saat Bolon Yokte kembali. Ia telah berusaha membaca sandi di dalam kalender tersebut.

"Karena Bolon Yokte sudah hadi pada hari penciptaan ... tampaknya alamiah bagi suku Maya bahwa Bolon Yokte akan hadir lagi," katanya.

Dari rata-rata 15.000 teks glyph yang terdaftar dan ditemukan di berbagai tempat berbeda mengenai apa yang saat itu menjadi kekaisaran suku maya, hanya dua yang menyebut-nyebut 2013, kata Intitute itu.

"Suku Maya tak berfikir tentang kemanusiaan, pemanasan global atau meramalkan kedua kutub akan bersatu," kata Alfonso Ladena, profesor dari Complutense University of Madrid. "Kita lah yang memproyeksikan kekhawatiran kita dengan menjadikan mereka sebagai landasan."


Namun, terlepas dari benar atau tidaknya suku maya meramalkan hal ini, sangat tidak pantaslah kita untuk mempercayai sebuah ramalan di zaman modern ini.

Kebanyakan ramalan yang ada hanyalah sebuah hipnotis yang akan mengarahkan pikiran kita ke apa yang diramalkan, sehingga apa yang pernah kita alami terhadap ramalan membuat kita percaya.

Thursday, August 1, 2013

ngesex Bersama Sari Temen Kosku


Kencan Bersama Sari Temen Kosku

Walaupun bulan ini penuh dengan kesibukanku, aku termasuk orang yang sangat susah untuk dapat mengontrol keinginan seks atas wanita. Pengalaman ini kualami beberapa hari sebelum bulan-bulan sibukku yang lalu di tempat kost. Di tempat kost kami berlima dan hanya ada satu-satunya cewek di kost ini, namanya Sari. Aku heran ibu kost menerima anak perempuan di kost ini. Oh, rupanya Sari bekerja di dekat kost sini.

Sari cukup cantik dan kelihatan sudah matang dengan usianya yang relatif sangat muda, tingginya kira-kira 160 cm. Yang membuatku bergelora adalah tubuhnya yang putih dan kedua buah dadanya yang cukup besar. Ahh, kapan aku bisa mendapatkannya, pikirku. Menikmati tubuhnya, menancapkan penisku ke vaginanya dan menikmati gelora kegadisannya.

Perlu pembaca ketahui, umurku sudah 35 tahun. Belum menikah tapi sudah punya pacar yang jauh di luar kota. Soal hubungan seks, aku baru pernah dua kali melakukannya dengan wanita. Pertama dengan Mbak Anik, teman sekantorku dan dengan Esther. Dengan pacarku, aku belum pernah melakukannya. Swear..! Beneran.

Kami berlima di kost ini kamarnya terpisah dari rumah induk ibu kost, sehingga aku dapat menikmati gerak-gerik Sari dari kamarku yang hanya berjarak tidak sampai 10 meter. Yang gila dan memuncak adalah aku selalu melakukan masturbasi minimal dua hari sekali. Aku paling suka melakukannya di tempat terbuka. Kadang sambil lari pagi, aku mencari tempat untuk melampiaskan imajinasi seksku.

Sambil memanggil nama Sari, crot crot crot.., muncratlah spermaku, enak dan lega walau masih punya mimpi dan keinginan menikmati tubuh Sari. Aku juga suka melakukan masturbasi di rumah, di luar kamar di tengah malam atau pagi-pagi sekali sebelum semuanya bangun. Aku keluar kamar dan di bawah terang lampu neon atau terang bulan, kutelanjangi diriku dan mengocok penisku, menyebut-nyebut nama Sari sebagai imajinasi senggamaku. Bahkan, aku pernah melakukan masturbasi di depan kamar Sari, kumuntahkan spermaku menetesi pintu kamarnya. Lega rasanya setelah melakukan itu.

Sari kuamati memang terlihat seperti agak binal. Suka pulang agak malam diantar cowok yang cukup altletis, sepertinya pacarnya. Bahkan beberapa kali kulihat suka pulang pagi-pagi, dan itu adalah pengamatanku sampai kejadian yang menimpaku beberapa hari sebelum bulan itu.

Seperti biasanya, aku melakukan masturbasi di luar kamarku. Hari sudah larut hampir jam satu dini hari. Aku melepas kaos dan celana pendek, lalu celana dalamku. Aku telanjang dengan Tangan kiri memegang tiang dan tangan kanan mengocok penisku sambil kusebut nama Sari. Tapi tiba-tiba aku terhenti mengocok penisku, karena memang Sari entah tiba-tiba tengah malam itu baru pulang.

Dia memandangiku dari kejauhan, melihat diriku telanjang dan tidak dengan cepat-cepat membuka kamarnya. Sepertinya kutangkap dia tidak grogi melihatku, tidak juga kutangkap keterkejutannya melihatku. Aku yang terkejut.

Setelah dia masuk kamar, dengan cuek kulanjutkan masturbasiku dan tetap menyebut nama Sari. Yang kurasakan adalah seolah aku menikmati tubuhnya, bersenggama dengannya, sementara aku tidak tahu apa yang dipikirkannya tentangku di kamarnya. Malam itu aku tidur dengan membawa kekalutan dan keinginan yang lebih dalam.

Paginya, ketika aku bangun, sempat kusapa dia.
"Met pagi.." kataku sambil mataku mencoba menangkap arti lain di matanya.
Kami hanya bertatapan.

Ketika makan pagi sebelum berangkat kantor juga begitu.
"Kok semalam sampai larut sih..?" tanyaku.
"Kok tak juga diantar seperti biasanya..?" tanyaku lagi sebelum dia menjawab.
"Iya Mas, aku lembur di kantor, temenku sampai pintu gerbang saja semalam." jawabnya sambil tetap menunduk dan makan pagi.
"Semalam nggak terkejut ya melihatku..?" aku mencoba menyelidiki.
Wajahnya memerah dan tersenyum. Wahh.., serasa jantungku copot melihat dan menikmati senyum Sari pagi ini yang berbeda. Aku rasanya dapat tanda-tanda nih, sombongnya hatiku.

Rumah kost kami memang tertutup oleh pagar tinggi tetangga sekeliling. Kamarku berada di pojok dekat gudang, lalu di samping gudang ada halaman kecil kira-kira 30 meter persegi, tempat terbuka dan tempat untuk menjemur pakaian. Tanah ibu kostku in cukup luas, kira-kira hampir 50 X 100 m. Ada banyak pohon di samping rumah, di samping belakang juga. Di depan kamarku ada pohon mangga besar yang cukup rindang.

Rasanya nasib baik berpihak padaku. Sejak saat itu, kalau aku berpapasan dengan Sari atau berbicara, aku dapat menangkap gejolak nafsu di dadanya juga. Kami makin akrab. Ketika kami berbelanja kebutuhan Puasa di supermarket, kukatakan terus terang saja kalau aku sangat menginginkannya. Sari diam saja dan memerah lagi, dapat kulihat walau tertunduk.

Aku mengajaknya menikmati malam Minggu tengah malam kalau dia mau. Aku akan menunggu di halaman dekat kamarku, kebetulan semua teman-teman kostku pulang kampung. Yang satu ke Solo, istrinya di sana, tiap Sabtu pasti pulang. Yang satunya pulang ke Temanggung, persiapan Puasa di rumah.

Aku harus siapkan semuanya. Kusiapkan tempat tidurku dengan sprei baru dan sarung bantal baru. Aku mulai menata halaman samping, tapi tidak begitu ketahuan. Ahh, aku ingin menikmati tubuh Sari di halaman, di meja, di rumput dan di kamarku ini. Betapa menggairahkan, seolah aku sudah mendapat jawaban pasti.

Sabtu malam, malam semakin larut. Aku tidur seperti biasanya. Juga semua keluarga ibu kost. Aku memang sudah nekat kalau seandainya ketahuan. Aku sudah tutupi dengan beberapa pakaian yang sengaja kucuci Sabtu sore dan kuletakkan di depan kamarku sebagai penghalang pandangan. Tidak lupa, aku sudah menelan beberapa obat kuat/perangsang seperti yang diiklankan.

Tengah malam hampir jam setengah satu aku keluar. Tidak kulihat Sari mau menanggapi. Kamarnya tetap saja gelap. Seperti biasa, aku mulai melepasi bajuku sampai telanjang, tangan kiriku memegangi tiang jemuran dan tangan kananku mengocok penisku. Sambil kusebut nama Sari, kupejamkan mataku, kubayangkan sedang menikmati tubuh Sari. Sungguh mujur aku waktu itu. Di tengah imajinasiku, dengan tidak kuketahui kedatangannya, Sari telah ada di belakangku.

Tanpa malu dan sungkan dipeluknya aku, sementara tanganku masih terus mengocok penisku. Diciuminya punggungku, sesekali digigitnya, lalu tangannya meraih penisku yang menegang kuat.
"Sari.. Sari.. achh.. achh.. nikmatnya..!" desahku menikmati sensasi di sekujur penisku dan tubuhku yang terangkat tergelincang karena kocokan tangan Sari.
"Uhh.. achh.. Sari, Sari.. ohh.. aku mau keluar.. ohh.." desahku lagi sambil tetap berdiri.

Kemudian kulihat Sari bergerak ke depanku dan berlutut, lalu dimasukkannya penisku ke mulutnya.
"Oohh Sari.. Uhh Sarii.., Saarrii.. Nikmat sekali..!" desahku ketika mulutnya mengulumi penisku kuat-kuat.
Akhirnya aku tidak dapat menahannya lagi, crott.. crot.. crot.., spemaku memenuhi mulut Sari, membasai penisku dan ditelannya. Ahh anak ini sudah punya pengalaman rupanya, pikirku.

Lalu Sari berdiri dengan mulut yang masih menyisakan spermaku, aku memeluknya dan menciuminya. Ahh.., kesampaian benar cita-citaku menikmati tubuhnya yang putih, lembut, sintal dan buah dadanya yang menantang.

Kulumati bibirnya, kusapu wajahnya dengan mulutku. Kulihat dia memakai daster yang cukup tipis. BH dan celana dalamnya kelihatan menerawang jelas. Sambil terus kuciumi Sari, tanganku berkeliaran merayapi punggung, dada dan pantatnya. Ahh.. aku ingin menyetubuhi dari belakang karena sepertinya pantatnya sangat bagus. Aku segera melepaskan tali telami dasternya di atas pundak, kubiarkan jatuh di rumput.

Ahh.., betapa manis pemandangan yang kulihat. Tubuh sintal Sari yang hanya dibalut dengan BH dan celana dalam. Wahh.., membuat penisku mengeras lagi. Kulumati lagi bibirnya, aku menelusuri lehernya.
"Ehh.., ehh..!" desis Sari menikmati cumbuanku.
"Ehh.., ehh..!" sesekali dengan nada agak tinggi ketika tanganku menggapai daerah-daerah sensitifnya.

Kemudian kepalanya mendongak dan buah dadanya kuciumi dari atas. O my God, betapa masih padat dan montok buah dada anak ini. Aku mau menikmatinya dan membuatnya mendesis-desis malam ini. Tanganku yang nakal segera saja melepas kancing BH-nya, kubuang melewati jendela kamarku, entah jatuh di mana, mungkin di meja atau di mana, aku tidak tahu. Uhh.., aku segera memandangi buah dada yang indah dan montok ini. Wah luar biasa, kuputari kedua bukitnya. Aku tetap berdiri. bergantian kukulumi puting susunya. Ahh.., menggairahkan.

Terkadang dia mendesis, terlebih kalau tangan kananku atau kiriku juga bermain di putingnya, sementara mulutku menguluminya juga. Tubuhnya melonjak-lonjak, sehingga pelukan tangan kanan atau kiriku seolah mau lepas. Sari menegang, menggelinjang-gelinjang dalam pelukanku. Lalu aku kembali ke atas, kutelusuri lehernya dan mulutku berdiam di sana. Tanganku sekarang meraih celana dalamnya, kutarik ke bawah dan kubantu melepas dari kakinya. Jadilah kami berdua telanjang bulat.

Kutangkap kedua tangan Sari dan kuajak menjauh sepanjang tangan, kami berpandangan penuh nafsu di awal bulan ini. Kami sama-sama melihat dan menjelajahi dengan mata tubuh kami masing-masing dan kami sudah saling lupa jarak usia di antara kami. Penisku menempel lagi di tubuhnya, enak rasanya. Aku memutar tubuhnya, kusandarkan di dadaku dan tangannya memeluk leherku.

Kemudian kuremasi buah dadanya dengan tangan kiriku, tangan kananku menjangkau vaginanya. Kulihat taman kecil dengan rumput hitam cukup lebat di sana, lalu kuraba, kucoba sibakkan sedikit selakangannya. Sari tergelincang dan menggeliat-geliat ketika tanganku berhasil menjangkau klitorisnya. Seolah dia berputar pada leherku, mulutnya kubiarkan menganga menikmati sentuhan di klitorisnya sampai terasa semakin basah.

Kubimbing Sari mendekati meja kecil yang kusiapkan di samping gudang. Kusuruh dia membungkuk. Dari belakang, kuremasi kedua buah dadanya. Kulepas dan kuciumi punggungnya hingga turun ke pantatnya. Selangkangannya semakin membuka saja seiring rabaanku.

Setelah itu aku turun ke bawah selakangannya, dan dengan penuh nafsu kujilati vaginanya. Mulutku menjangkau lagi daerah sensitif di vaginanya sampai hampir-hampir kepalaku terjepit.
"Oohh.., ehh.., aku nggak tahan lagi.., masukkan..!" pintanya.

Malam itu, pembaca dapat bayangkan, aku akhirnya dapat memasukkan penisku dari belakang. Kumasukkan penisku sampai terisi penuh liang senggamanya. Saat penetrasi pertama aku terdiam sebelum kemudian kugenjot dan menikmati sensasi orgasme. Aku tidak perduli apakah ada yang mendengarkan desahan kami berdua di halaman belakang. Aku hanya terus menyodok dan menggenjot sampai kami berdua terpuaskan dalam gairah kami masing-masing.

Aku berhasil memuntahkan spermaku ke vaginanya, sementara aku mendapatkan sensasi jepitan vagina yang hebat ketika datang orgasmenya. Aku dibuatnya puas dengan kenyataan imajinasiku malam Minggu itu. Sabtu malam atau minggu dini hari yang benar-benar hebat. Aku bersenggama dengan Sari dalam bebrapa posisi. Terakhir, sebelum posisi konvensioal, aku melakukan lagi posisi 69 di tempat tidur.

Ahh Sari, dia berada dalam pelukanku sampai Minggu pagi jam 8 dan masih tertidur di kamarku. Aku bangun duluan dan agak sedikit kesiangan. Ketika melihat ke luar kamar, ohh tidak ada apa-apa. Kulihat kedua cucu ibu kostku sedang bermain di halaman. Mereka tidak mengetahui di tempat mereka bermain itu telah menjadi bagian sejarah seks hidupku dan Sari.

Pembaca, itulah pengalamanmu dengan Sari di kost. Aku sudah dua malam Minggu bersamanya. Betapa hebat di bulan ini. Aku bisa, aku bisa.. dan mau terus berburu lagi. Ahh.., hidup memang menggairahkan dengan seks, dengan wanita. Hanya, aku harus super selektif memilihnya. Semoga pengalamanku ini berguna buat sobat muda

Bonus Sex Dari Pembelian Mobil


Bonus Sex Dari Pembelian Mobil

Namaku Wawan. Umurku 23 tahun, dan sekarang sedang kuliah di tingkat terakhir di sebuah PTS di Jakarta. Asalku dari Sukabumi, dimana aku menghabiskan masa anak-anak dan remajaku, sampai kemudian aku pindah ke Jakarta empat tahun yang lalu.

Ekonomi keluargaku termasuk pas-pasan. Ayahku hanyalah seorang pensiunan pegawai bank pemerintah di Sukabumi. Sedangkan ibuku bekerja sebagai guru sebuah SMA negeri di sana. Aku tinggal di tempat kos di daerah Jakarta Barat. Karena uang kiriman orang tuaku kadang-kadang terlambat dan terkadang bahkan tidak ada kiriman sama sekali, untuk bertahan hidup, akupun menjadi guru privat anak-anak SMA. Memang aku beruntung dikaruniai otak yang lumayan encer.

Akupun hidup prihatin di ibukota ini, terkadang seharian aku hanya makan supermie saja untuk mengganjal perutku. Aku pikir tidak mengapa, asal aku bisa hemat untuk bisa membeli buku kuliah dan lain sebagainya, sehingga aku bisa lulus dan membanggakan kedua orang tuaku. Terkadang aku iri melihat teman-teman kuliahku. Mereka sering dugem, berpakaian bagus, bermobil, mempunyai HP terbaru, dll.


Salah satu dari teman kuliahku bernama Monika. Dia seorang gadis cantik dan kaya. Ia anak seorang direktur sebuah perusahaan besar di Jakarta. Percaya atau tidak, dia adalah pacarku. Kadang aku heran, kok dia bisa tertarik padaku. Padahal banyak teman laki-laki yang bonafid, mengejarnya. Ketika kutanyakan hal ini, ini bukan ge-er, dia bilang kalau menurutnya aku orang yang baik, sopan dan pintar. Disamping itu, dia suka dengan wajahku yang katanya "cute", dan perawakanku yang kekar. Nggak percuma juga aku sering latihan karate waktu di Sukabumi dulu.

Monika dan aku telah berpacaran semenjak dua tahun belakangan ini. Walaupun kami berbeda status sosial, dia tidak tampak malu berpacaran denganku. Akupun sedikit minder bila menjemputnya menggunakan motor bututku, di rumahnya yang berlokasi di Pondok Indah. Sering orang tuanya, mereka juga baik padaku, menawarkan untuk menggunakan mobil mereka jika kami akan pergi bersama. Tetapi aku memang mempunyai harga diri atau gengsi yang tinggi (menurut Monika pacarku, gengsiku ketinggian), sehingga aku selalu menolak. Kemana-mana aku selalu menggunakan motor bersama Monika.

Monikapun tidak berkeberatan bahkan mengagumi prinsip hidupku. Saat makan atau nonton, aku selalu menolak bila dia akan mentraktirku. Aku bilang padanya sebagai laki-laki aku yang harus bayarin dia. Meskipun tentu saja kami akhirnya hanya makan di rumah makan sederhana dan nonton di bioskop yang murah. Itupun aku lakukan kalau sedang punya uang. Kalau tidak ya kami sekedar ngobrol saja di rumahnya atau di tempat kostku.

Monika adalah gadis baik-baik. Aku sangat mencintainya. Sehingga dalam berpacaran kami tidak pernah bertindak terlalu jauh. Kami hanya berciuman dan paling jauh saling meraba. Memang benar kata orang, bila kita benar-benar mencintai seseorang, kita akan menghormati orang tersebut. Monika pernah bilang padaku, kalau ia ingin mempertahankan keperawanannya sampai ia menikah nanti. Terlebih akupun waktu itu masih perjaka. Mungkin hal ini sukar dipercaya oleh pembaca, mengingat trend pergaulan anak muda Jakarta sekarang.

Keadaanku mulai berubah semenjak beberapa bulan yang lalu. Saat itu aku ditawari sebuah peluang untuk berwiraswasta oleh seorang temanku. Aku tertarik mendengar cerita suksesnya. Terlebih modal yang dibutuhkanpun sangat kecil, sehingga aku berpikir tidak ada salahnya untuk mencoba.

Hasilnya ternyata luar biasa. Mungkin memang karena bidang ini masih banyak peluang, disamping strategi pemasaran yang disediakan oleh program ini sangat jitu. Penghasilankupun per bulan sekarang mencapai jutaan rupiah. Mungkin setingkat dengan level manajer perusahaan kelas menengah. Bekerjanyapun dapat part-time sambil disambi kuliah. Memang beruntung aku menemukan program ini.

Semenjak itu, penampilanku berubah. Gaya hidup yang sudah lama aku impikan sekarang telah dapat kunikmati. HP terbaru, pakaian bagus, sudah dapat aku beli. Semakin sering aku mengajak Monika untuk makan di restoran mahal serta nonton film terbaru di bioskop 21. Monika sempat kaget dengan kemajuanku. Sempat disangkanya aku berusaha yang ilegal, seperti menjual narkoba. Tetapi setelah aku jelaskan apa bisnisku, dia pun lega dan ikut senang. Disuruhnya aku bersyukur pada Tuhan karena telah memberikan jalan kepadaku.

Hanya satu saja yang masih kurang. Aku belum punya mobil. Setelah menabung dari hasil usahaku selama berbulan-bulan, akhirnya terkumpul juga uang untuk membeli mobil bekas. Kulihat di suratkabar dan tertera iklan tentang mobil Timor tahun 1997 warna gold metalik. Aku tertarik dan langsung kutelpon si penjualnya.

"Ya betul... mobil saya memang dijual". Suara seorang wanita menjawab di ujung telepon.
"Harganya berapa Bu?"
"Empat puluh delapan juta"
"Kok mahal sih Bu?"
"Kondisinya bagus lho.. Semuanya full orisinil"

Dengan cepat kukalkulasi danaku. Wah.. Untung masih cukup, walaupun aku harus menjual motorku dulu. Tetapi akupun berpikir, siapa tahu harganya masih bisa ditawar. Kuputuskan untuk melihat mobilnya terlebih dahulu.

"Alamatnya dimana Bu?"

Diapun kemudian memberikan alamatnya, dan aku berjanji untuk datang ke sana sore ini sehabis kuliah.

*****

Setelah mencari beberapa lama, sampai juga aku di alamat yang dimaksud.

"Selamat sore" sapaku ketika seorang wanita cantik membuka pintu.
"Oh sore.." jawabnya.

Aku tertegun melihat kecantikan si ibu. Usianya mungkin sekitar 35 tahunan, dengan kulit yang putih bersih, dan badan yang seksi. Payudaranya yang tampak penuh di balik baju "you can see" menambah kecantikannya. Agar pembaca dapat membayangkan kecantikannya, aku bisa bilang kalau si ibu ini 80% mirip dengan Sally Margaretha, bintang film itu.

"Saya Wawan yang tadi siang telepon ingin melihat mobil ibu"
"Oh.. Ya silakan masuk."

Akupun masuk ke dalam rumahnya.

"Tunggu sebentar ya Wan. Mobilnya masih dipakai sebentar menjemput anakku les. Mau minum apa?"
"Ah.. Nggak usah ngerepotin.. Apa saja deh Bu"

Akupun kemudian duduk di ruang tamu. Tak lama si ibu datang dengan membawa segelas air sirup.

"Kamu masih kuliah ya," tanyanya setelah duduk bersamaku di ruang tamu
"Iya Bu.. Hampir selesai sih "
"Ayo diminum.. Beruntung ya kamu.. Dibelikan mobil oleh orang tuamu" si ibu berkata lagi.

Kuteguk sirup pemberian si ibu. Enak sekali rasanya menghilangkan dahagaku.

"Oh.. Ini saya beli dari usaha saya sendiri, Bu. Mangkanya jangan mahal-mahal dong" jawabku.
"Wah.. Hebat kamu kalau gitu. Memang usaha apa kok masih kuliah sudah bisa beli mobil"
"Yah usaha kecil-kecilan lah" jawabku seadanya.
"Ngomong-ngomong mobilnya kenapa dijual Bu?"
"Aduh kamu ini ba Bu ba Bu dari tadi. Saya kan belum terlalu tua. Panggil saja tante Sonya." jawabnya sambil sedikit tertawa genit.
"Mobilnya akan saya jual karena mau beli yang tahunnya lebih baru"
"Oh begitu.." jawabku.

Kemudian tante Sonya tampak melihatku dengan pandangan yang agak lain. Agak rikuh aku dibuatnya. Terlebih tante Sonya duduk sambil menumpangkan kakinya, sehingga rok mininya agak sedikit terangkat memperlihatkan pahanya yang putih mulus.

"Anaknya berapa tante. Terus suami tante kerja dimana?" tanyaku untuk menghilangkan kerikuhanku.
"Anakku satu. Masih SD. Suamiku sudah nggak ada. Dia meninggal dua tahun yang lalu" jawabnya.
"Waduh.. Maaf ya tante"
"Nggak apa kok Wan.. Kamu sendiri sudah punya pacar?"
"Sudah, tante"
"Cantik ya?"
"Cantik dong tante.." jawabku lagi.

Duh, aku makin rikuh dibuatnya. Kok pembicaraannya jadi ngelantur begini. Tante Sonya kemudian beranjak duduk di sebelahku.

"Cantik mana sama tante.." katanya sambil tangannya meremas tanganku.
"Anu.. Aduh.. Sama-sama, tante juga cantik" jawabku sedikit tergagap.
"Kamu sudah pernah begituan dengan pacarmu?".

Sambil berkata, tangan tante Sonya mulai berpindah dari tanganku ke pahaku.

"Belum.. Tante.. Saya masih perjaka.. Saya nggak mau begituan dulu" jawabku sambil menepis tangan tante Sonya yang sedang meremas-remas pahaku.

Jujur saja, sebenarnya akupun sudah mulai terangsang, akan tetapi saat itu aku masih dapat berpikir sehat untuk tidak mengkhianati Monika pacarku. Mendengar kalau aku masih perjaka, tampak tante Sonya tersenyum.

"Mau tante ajarin caranya bikin senang wanita?" tanyanya sambil tangannya kembali merabai pahaku, dan kemudian secara perlahan mengusap-usap penisku dari balik celana.
"Aduh.. Tante.. Saya sudah punya pacar.. Nggak usah deh.."
"Mobilnya kapan datang sih?" lanjutku lagi.
"Sebentar lagi.. Mungkin macet di jalan. Mau minum lagi? "

Tanpa menunggu jawabanku, tante Sonya pergi ke belakang sambil membawa gelasku yang telah kosong. Lega juga rasanya terlepas dari bujuk rayu tante Sonya. Beberapa menit kemudian, tante Sonya kembali membawa minumanku.

"Ayo diminum lagi" kata tante Sonya sambil memberikan gelas berisi sirup padaku.

Kuteguk sirup itu, dan terasa agak lain dari yang tadi. Tante Sonya kemudian kembali duduk di sebelahku.

"Ya sudah.. Kamu memang setia nih ceritanya.. Kita ngobrol aja deh sambil menunggu mobilnya datang, OK?"
"Iya tante.." jawabku lega.
"Kamu ngambil jurusan apa?"
"Ekonomi, tante"
"Kenal pacarmu di sana juga?"

Waduh.. Aku berpikir kok si tante kembali nanyanya yang kayak begituan.

"Iya dia teman kuliah"
"Ceritain dong gimana ketemuannya"

Yah daripada diminta yang nggak-nggak, aku setuju saya menceritakan padanya tentang kisahku dengan Monika. Kuceritakan bagaimana saat kami berkenalan, ciri-cirinya, acara favorit kami saat pacaran, tempat-tempat yang sering kami kunjungi.

Bonus Sex Dari Pembelian Mobil 2


Bonus Sex Dari Pembelian Mobil 2

Setelah beberapa lama bercerita, entah mengapa nafsu birahiku terangsang hebat. Akupun merasakan sedikit keringat dingin mengucur di dahiku.

"Kenapa Wan.. Kamu sakit ya" tanya tante Sonya tersenyum sambil kembali meremas tanganku.

Tangannya kemudian beralih ke pahaku dan kembali diusap dan diremasnya perlahan.

"Anu tante rasanya kok agak aneh ya?" jawabku.
"Tapi enak kan?"

Tante Sonyapun kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan kemudian bibir kamipun telah saling berpagut. Tak kuasa lagi aku menolak tante Sonya. Nafsuku telah sampai di ubun-ubun.

"Saya tadi dikasih apa tante" tanyaku lirih.
"Ah.. Cuma sedikit obat kok. Supaya kamu bisa lebih rileks" jawabnya sambil tangannya mulai membuka retsleting celanaku.
"Ayo, tante ingin merasakan penismu yang masih perjaka itu" lanjutnya sambil kembali menciumi wajahku.

Tante Sonyapun kemudian membuka celanaku beserta celana dalamnya sekaligus.

"Hmm.. Besar juga ya punyamu. Tante suka kontol besar anak muda begini".

Tangannya mulai mengocok penisku perlahan. Kemudian tante Sonya merebahkan kepalanya dipangkuanku. Diciumnya kepala penisku, dan lantas dengan bernafsu dikulumnya penisku yang sudah tegak menahan gairah berahi.

"Ah.. Tante.." desahku menahan nikmat, ketika mulut tante Sonya mulai menghisap dan menjilati penisku.

Tangan tante Sonyapun tak tinggal diam. Dikocoknya batang penisku, dan diusap-usapnya buah zakarku. Setelah sekian lama penisku dipermainkannya, kembali tante Sonya bangkit dan menciumiku.


"Kita lanjutin pelajarannya di kamar yuk sayang.." bisiknya.

Akupun sudah tak kuasa menolak. Nafsu berahi telah menguasai diriku. Kamipun beranjak menuju kamar tidur tante Sonya di bagian belakang rumah. Sesampainya aku di kamar, tante Sonya kembali menciumiku. Kemudian tangankupun diraihnya dan diletakkan di payudaranya yang membusung.

"Ayo sayang.. Kamu remas ya"

Kuikuti instruksi tante Sonya dan kuremas payudara miliknya. Tante Sonyapun terdengar mengerang nikmat.

"Sayang... tolong bukain baju tante ya".

Tante Sonya membalikkan badan dan akupun membuka retsleting baju "you can see"nya. Setelah terbuka, tante Sonya kembali berbalik menghadapku.

"BHnya sekalian donk sayang.." ujarnya.

Kuciumi kembali wajahnya yang ayu itu, sambil tanganku mencari-cari pengait BH di punggungnya.

"Aduh.. Kamu lugu amat ya.. Tante suka.." katanya disela-sela ciuman kami.
"Pengaitnya di depan, sayang.."

Kuhentikan ciumanku, dan kutatap kembali BHnya yang membungkus payudara tante Sonya yang besar itu. Kubuka pengaitnya sehingga payudara kenyal itupun seolah meloncat keluar.

"Bagus khan sayang.. Ayo kamu hisap ya.."

Tangan tante Sonya merengkuh kepalaku dan didorong ke arah dadanya. Tangannya yang satunya lagi meremas payudaranya sendiri dan menyorongkannya ke arah wajahku.

"Ah.. Enak.. Anak pintar.. Sshh" desah tante Sonya ketika aku mulai menghisap payudaranya.
"Jilati putingnya yang.." instruksi tante Sonya lebih lanjut. Dengan menurut, akupun menjilati puting payudara tante Sonya yang telah mengeras.

Kemudian aku kembali menghisap sepasang payudaranya bergantian. Setelah puas aku hisapi payudaranya, tante Sonya kemudian mengangkat kepalaku dan kembali menciumiku.

"Sekarang kamu buka rok tante ya"

Tante Sonya merengkuh tanganku dan diletakkannya di pantatnya yang padat. Kuremas pantatnya, lalu kubuka retsleting rok mininya. Aku terbelalak melihat Tante Sonya ternyata menggunakan celana dalam yang sangat mini. Seksi sekali pemandangan saat itu. Tubuh tante Sonya yang padat dengan payudara yang membusung indah, ditambah dengan sepatu hak tinggi yang masih dikenakannya.

Kembali tante Sonya mencium bibirku. Lantas ditekannya bahuku, membuatku berlutut di depannya. Tangan tante Sonya lalu menyibakkan celana dalamnya sehingga vaginanya yang berbulu halus dan tercukur rapi nampak jelas di depanku.

"Cium di sini yuk sayang.." perintahnya sambil mendorong kepalaku perlahan.
"Oh..my god.. Sshh" erang tante Sonya ketika mulutku mulai menciumi vaginanya.

Kujilati juga vagina yang berbau harum itu, dan kugigit-gigit perlahan bibir vaginanya.

"Ahh.. Kamu pintar ya.. Ahh" desahnya.

Tante Sonya lantas melepaskan celana dalamnya, sehingga akupun lebih bebas memberikan kenikmatan padanya.

"Jilat di sini sayang.." instruksi tante Sonya sambil tangannya mengusap klitorisnya.

Kujilati klitoris tante Sonya. Desahan tante Sonya semakin menjadi-jadi dan tubuhnya meliuk-liuk sambil tangannya mendekap erat kepalaku. Beberapa saat kemudian, tubuh tante Sonyapun mengejang.

"Yes.. Ah.. Yes.." jeritnya.

Liang vaginanya tampak semakin basah oleh cairan kewanitaannya. Kusedot habis cairan vaginanya sambil sesekali kuciumi paha mulus tante Sonya. Tak percuma ilmu yang kudapat selama ini dari pengalamanku menonton video porno.

"Kita terusin di ranjang yuk.." ajaknya setelah mengambil nafas panjang.

Akupun kemudian melucuti semua pakaianku. Tante Sonya lalu membuka sepatu hak tingginya, sehingga sambil telanjang bulat, kami merebahkan diri di ranjang.

"Ciumi susu tante lagi dong yang.."

Aku dengan gemas mengabulkan permintaannya. Payudara tante Sonya yang membusung kenyal, tentu saja membuat semua lelaki normal, termasuk aku, menjadi gemas. Sementara mulutku sibuk menghisap dan menjilati puting payudara tante Sonya, tangannya menuntun tanganku ke vaginanya. Akupun mengerti apa yang ia mau. Tanganku mulai mengusap-usap vagina dan klitorisnya.

Tante Sonya kembali mengerang ketika nafsu berahinya bangkit kembali. Ditariknya wajahku dari payudaranya dan kembali diciuminya bibirku dengan ganas. Selanjutnya, tante Sonya menindih tubuhku. Dijilatinya puting dadaku dan kemudian perutkupun diciuminya.

Sesampainya di penisku, dengan gemas dijilatinya lagi batangnya. Tak lama kemudian, kepala tante Sonyapun sudah naik turun ketika mulutnya menghisapi penisku.

"Sekarang tante pengin ambil perjakamu ya.."

Sambil berkata begitu, tante Sonya menaiki tubuhku. Diarahkannya penisku ke dalam vaginanya. Rasa nikmat luar biasa menghinggapiku, ketika batang penisku mulai menerobos liang vagina tante Sonya.

"Uh.. Nikmat sekali.. Tante suka kontolmu.. Enak.." desah tante Sonya sambil menggoyangkan tubuhnya naik turun di atas tubuhku.
"Heh.. Heh.. Heh.." begitu suara yang terdengar dari mulut tante Sonya. Seirama dengan ayunan tubuhnya di atas penisku.
"Tante suka.. Ahh.. Ngentotin anak muda.. Ahh.. Seperti kamu.. Yes.. Yes.."

Tante Sonya terus meracau sambil menikmati tubuhku. Tangannya kemudian menarik tanganku dan meletakkannya di payudaranya yang bergoyang-goyang berirama. Akupun meremas-remas payudara kenyal itu. Suara desahan tante Sonya semakin menjadi-jadi.

"Enak.. Ahh.. Ayo terus.. Entotin tante.. Ah.. Anak pintar.. Ahh.."

Tak lama tubuh tante Sonyapun kembali mengejang. Dengan lenguhan yang panjang, tante Sonya mengalami orgasme yang kedua kalinya. Tubuh tante Sonya kemudian rubuh di atasku. Karena aku belum orgasme, nafsukupun masih tinggi menunggu penyaluran. Kubalikkan tubuh tante Sonya, dan kugenjot penisku dalam liang kewanitaannya. Rasa nikmat menjalari seluruh tubuhku. Kali ini eranganku yang menggema dalam kamar tidur itu.

"Oh.. Enak tante.. Yes.. Yes.." erangku ditengah suara ranjang yang berderit keras menahan guncangan.
"Wawan mau keluar tante.." kataku ketika aku merasakan air mani sudah sampai ke ujung penisku.
"Keluarin di mulut tante, sayang.."

Akupun mencabut keluar penisku dan mengarahkannya ke wajah tante Sonya. Tangan tante Sonya langsung meraih penisku, untuk kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya.

"Ahh.. Tante.." jeritku ketika aku menyemburkan air maniku dalam mulut tante Sonya.

Tante Sonya lantas mengeluarkan penisku dan mengusap-usapkannya pada seluruh permukaan wajahnya yang cantik.

*****

Setelah membersihkan diri, kamipun kembali duduk di ruang tamu.

"Enak Wan?" tanyanya sambil tersenyum genit.
"Enak tante... memang tante sering ya beginian"
"Nggak kok.. Kalau pas ada anak muda yang tante suka saja.."
"Oh.. Tante sukanya anak muda ya.."
"Iya Wan.. Disamping staminanya masih kuat.. Tante juga merasa jadi lebih awet muda." jawab tante Sonya genit.

Tak lama mobil yang dinantipun datang. Akhirnya aku jadi membeli mobil tante Sonya itu. Disamping kondisinya masih bagus, tante Sonya memberikan korting delapan juta rupiah.

"Asal kamu janji sering-sering main ke sini ya" katanya sambil tersenyum saat memberikan potongan harga itu.

Kejadian ini berlangsung sebulan yang lalu. Sampai saat ini, aku masih berselingkuh dengan tante Sonya. Sebenarnya aku diliputi perasaan berdosa kepada Monika pacarku. Tetapi apa daya, setelah kejadian itu, aku jadi ketagihan bermain seks. Aku tetap sangat mencintai pacarku, dan tetap menjaga batas-batas dalam berpacaran. Tetapi untuk menyalurkan hasratku, aku terus berhubungan dengan tante Sonya.

Bisniskupun makin lancar. Keuanganku semakin membaik, sehingga aku sanggup memberikan hadiah-hadiah mahal pada Monika untuk menutupi rasa bersalahku.
Sungguh Puaskah Istri Anda ?