Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Saturday, November 6, 2010

Pacarku Dina Selingkuh

Aku sudah pacaran dengan Dina sejak kelas 2 SMU sampai sekarang kuliah semester 4 di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Hubungan kami selama ini berjalan damai, mungkin terlalu damai. Akhir-akhir ini aku merasa hubunganku dengan Dina terasa hambar. Aku benar-benar cinta kepadanya, karena Dina sangat mengerti aku dan menerimaku apa adanya. Secara fisik Dina tergolong “petite” kalo orang bule bilang. Tingginya yang hanya 160cm sangat cocok dengan wajahnya yang “babyface” mirip dengan Nagita Slavina. Kulitnya putih mulus, tubuhnya padat berisi dengan ukuran yang sangat ideal.

Aku tidak ingin hubunganku dengan Dina yang sudah kujalin selama 3 tahun lebih ini putus begitu saja. Aku butuh Dina sebagai penyemangat hidupku, dan aku merasa Dina juga membutuhkan kasih sayangku karena dia hanya tinggal berdua dengan ibunya yang pengusaha furniture. Bisnis furniture ibunya sangat maju karena sudah sampai diekspor ke luar negeri. Konsekuensinya, sang ibu harus sering meninggalkan Dina sendiri di rumah untuk mengontrol pabrik furniturenya di Jepara. Orangtuanya bercerai sejak Dina masih SD sehingga Dina sangat membutuhkan figur laki-laki dewasa, figur yang menurut Dina dia temukan pada diriku.

Pada suatu weekend, seperti biasa aku meneleponnya untuk mengajak jalan-jalan.

“Sayang, nanti malem kamu mau nggak nyobain restoran baru di Kemang?”

“Duh Dina mau banget mas, tapi tante Dina dari Semarang baru dateng nih. Dina musti nemenin dia, nggak enak soalnya mama kan lagi di Jepara”

“Oh ya udah gak papa deh kalo gitu…”

“Yaaa sayang, jangan marah ya, kamu mau ngapain dong sendirian?”

“Gak papa sayang, aku di rumah aja kalo gitu nonton DVD”

“Maap ya sayang, Dina janji deh nanti ketemu di kampus Dina kasih sejuta cium buat yayang Dina yang paling sabar sedunia”

“Hehehehe janji yaa… Awas loh kalo ketemu aku tagih”

“Hihihi iya sayang, ya udah aku nemenin tanteku lagi ya”

“Oke sayang, kiss dulu mmmwah… love you”

“Mmmmwah… love you too sayang”

Telepon kututup dengan pelan. Tanganku meraih remote DVD dan menekan play. 15 menit aksi Bruce Wilis dalam Die Hard 4 tidak mampu mengusir rasa hampaku. Kumatikan televisi dan DVD. Kuputuskan untuk keluar saja jalan-jalan. Kuambil kunci Honda Jazz kesayanganku dan meluncurlah aku menuju entah kemana.

Di tengah jalan, aku melewati toko kue langgananku. Aku teringat Dina dan kue kegemarannya, kue mangkok. Aku mendapat ide untuk membelikannya beberapa kue dan mengantarkannya sebagai surprise, hitung-hitung cari muka juga di depan tantenya hehehe… Setelah membeli selusin kue mangkok, akupun meluncur menuju rumah Dina. Mobilku sengaja kuparkir agak jauh supaya Dina tidak bisa mendengarnya, karena dia sudah hafal dengan suara mesin mobil kesayanganku.

Sampai depan rumahnya, ada sebuah motor terparkir. Aku agak heran karena pagarnya tidak terkunci, padahal biasanya kalau ibunya sedang pergi keluar kota, Dina selalu menguncinya karena memang dia tinggal sendirian di rumah. Demi menjaga surprise, aku diam-diam masuk. Pintu depan rumahnya kutemukan terkunci. Aku tidak ingin mengetuk supaya tetap surprise. Aku berjalan ke samping rumahnya menuju jendela kamarnya. Semakin dekat aku mendengar suara-suara dari dalam kamarnya. Persis di depan jendela kamarnya, kusibakkan sedikit gordennya untuk mengintip. Apa yang kulihat kemudian membuat darahku menggelegak.

Dina sedang di atas tempat tidurnya dalam keadaan telanjang bulat, dengan posisi menungging dan seorang lelaki jelas-jelas sedang menyetubuhinya dari belakang. Betapa terkejutnya aku, pacarku sedang disetubuhi orang dengan gaya doggy style. Jelas kulihat ekspresi muka Dina yang seperti menahan rasa puas dan sakit bersamaan. Tubuh seksi pacarku maju mundur terdorong oleh hentakan pinggang lelaki yang sedang menghunjamkan penisnya ke dalam vagina Dina. Pinggul Dina dicengkeram erat oleh kedua tangan lelaki itu. Terlihat kontras sekali warna pantat putih Dina yang mulus beradu dengan pinggul lelaki yang berkulit coklat gelap itu. Aku mencoba pindah melihat dari sisi jendela satunya lagi. Sekarang dapat kulihat penis lelaki itu ternyata besar dan panjang sekali, sekitar 23 cm panjangnya, 4x lebih besar dari penisku. Vagina Dina yang mungil ternyata mampu menampung penis sebesar itu. Penis raksasa itu keluar masuk vagina pacarku dengan lancarnya, itu berarti Dina sudah sangat terangsang sampai becek vaginanya.

“Ouh ouh ouh enak banget bang… terus entot Dina bang”, ceracau Dina sambil terengah-engah penuh kenikmatan

“Oooh si eneng memeknya rapet banget… abang kayak ngentot sama perawan”, lelaki itu dengan kurang ajarnya mengomentari memek pacarku.

“Ahh ahh ahhh… kontol abang sih gede banget… Aahhhh enak baaang” Dina menjawab dengan melenguh keenakan.

Belum pernah kudengar Dina menggunakan kata-kata kasar seperti itu. Tak kusadari, penisku sudah mengeras tertahan celana jeansku. Aku terangsang melihat pacarku disetubuhi orang, aku terangsang melihat vagina pacarku dihantam oleh penis yang besar milik lelaki asing itu.

“Owh bang terus bang, Dina mo keluar lagi bang…terus entot memek Dina bang… ooh ooh….oooooooooooooooooh” Tubuh Dina mengejang tanda telah mencapai orgasme. Lelaki itu melepaskan cengkeramannya. Tubuh Dina terkulai lemas di kasur. Sekarang terlihat jelas penis raksasa itu tegang hitam mengkilat berselaput cairan vagina pacarku.

“Duh abang kuat banget sih, Dina udah empat kali keluar tapi peler abang masih ngaceng aja” Dina meraih penis besar lelaki itu dengan ekspresi muka penuh kepuasan.

“Yah maklum neng, bini abang lagi hamil tua, abang udah 3 bulan lebih kagak ngewe. Mangkenye sekalinya ketemu memek, si otong semangat juang empat lima dah” ucap lelaki itu dengan seringai kepuasan karena mampu membuat cewek secantik dan seseksi Dina melayang ke langit kenikmatan.

“Uh Dina ngiri deh sama bininya abang, bisa ngerasain ngentot sehebat ini tiap hari” ucap Dina sembari mulai mengocok penis besar itu.

“Hehehe..” Lelaki itu terkekeh, “Bini abang mah kalo udah mulai cerewet, ntu brarti memeknya udah gatel minta ditancep neng. Hampir tiap malem dah die minta dientot mulu, kadang sampe pagi, mangkanye abang selalu ngojeknya siang”.

Bangsat! Ternyata lelaki ini tukang ojek langganan Dina. Aku ingat Dina selalu bercerita kalau dia punya tukang ojek langganan yang selalu mengantarnya ketika aku sedang tidak bisa menjemputnya. Aku semakin terangsang memikirkan seorang tukang ojek berwajah kampungan berkulit coklat gelap yang sedang menyetubuhi pacarku Dina yang putih, cantik dan seksi

“Neng, ayo dong mulai lagi… si otong udah ga sabar nih pengen ngebor” Tukang ojek itu rupanya tidak sabar ingin menyetubuhi lagi pacarku yang cantik.

“Uuhh si abang… tapi Dina di bawah ya bang, kaki Dina lemes nih” Ucap Dina dengan senyum nakal menggodanya itu.

“Ah tenang aja neng, si eneng tinggal ngangkang, trus rasain dah enaknya dientot kanjut abang” Tukang ojek itu berujar sambil bergerak ke atas tubuh molek Dina.

“Mmmmmhhhh ayo bang masukin… entot lagi memek Dina bang…” Dina melebarkan kedua kakinya, membuat vaginanya yang sudah merah dan basah tepat berada di depan penis besar sang tukang ojek.

“Nih, neng rasain lagi titit abang yah” Tukang ojek itu kembali menancapkan penis besarnya ke vagina Dina.

“Aaaaaauuuhhhhh…..” Dina merintih antara sakit dan nikmat. “MMMmhhhhhh…. Auh… tancep memek Dina bang….aahhh”

Bless… bless…. Clop clop clop… terdengar jelas penis besar itu dengan lancarnya menembus vagina Dina yang sudah sangat basah. Mulut si tukang ojek dengan rakusnya menghisap-hisap payudara Dina. Dina semakin melenguh tidak karuan.
“Oooh…ahhhh….. isep toket Dina bang…. Entot memek Dina…..oooh… ahhhh” Dina semakin meracau dan merintih.

Selama 5 menit kemudian kulihat ranjang Dina ikut bergetar karena hunjaman pinggang si tukang ojek. Mata Dina tertutup dengan ekspresi menggigit bibir. Aku semakin terangsang hebat melihat pacarku sedang terbaring pasrah disetubuhi tukang ojek kampungan itu. Tak tahan lagi kubuka retsleting celana jinsku dan kukeluarkan penisku. Aku bermasturbasi sambil menyaksikan pacarku yang cantik disetubuhi seorang tukang ojek berpenis besar. Tanpa kusadari, aku mulai menikmati pemandangan vagina pacarku yang sedang dibor penis berukuran besar tersebut. Tak membutuhkan waktu lama bagiku untuk mencapai ejakulasi. Akupun menumpahkan spermaku ke dinding luar kamar pacarku sendiri. Sungguh aneh, pacarku sedang disetubuhi orang lain sedangkan aku hanya bisa bermasturbasi sambil menonton mereka memadu birahi.

“Oooh neng… abang mau keluar nih neng…” Rupanya tukang ojek itu sudah hampir mencapai klimaksnya.

“Oooh terus bang…Dina juga mau keluar lagi bang….oohhhh ahhhh…auhhhh…”Dina memeluk erat punggung tukang ojek itu seperti tidak rela melepasnya.

“Ooohhh… bentar neng abang cabut ya…. Aaahhhh…. Abang keluarin di luar biar eneng nggak hamil…”

“Jangan bang…ohhhh…aahhhh… jangan dicabut…aaahhh…. Terus entot Dina bang….keluarin di dalem aja sama-sama ya bang…ahhhh…oooh” Dina memeluk erat punggung tukang ojek itu, tidak rela berhenti disetubuhinya. “Oooooooooh Dina keluar lagi baaaaaang….ahhhh”

“Ooohhh…iya neng…auuhhhh….abang keluar nih neng…. AAAAAAaahhhhhh” Tubuh tukang ojek itu menegang dengan penis besarnya yang masih tertancap di vagina pacarku, menumpahkan spermanya langsung ke rahim Dina. Selama 10 detik kulihat si tukang ojek orgasme mengucurkan benihnya ke vagina pacar kesayanganku.

Pelan-pelan tukang ojek itu memutar badannya. PLOP! Suara penis besar yang tercabut itu jelas terdengar. Cairan putih kental mengalir pelan keluar dari vagina pacarku. Rupanya banyak sekali sperma yang dikeluarkannya sampai luber. Dua manusia itu terbaring lemas setelah mencapai puncak birahi.

Tamat.

Istri-Istri Binal Menggoda Ayah Mertua

Kisah panas ini menceritakan tentang istri binal yang doyan menggoda
mertua nya yang kaya raya. Kisah nyata ini menarik untuk disimak,
selamat menikmati.

Berdiri di depan pintu rumahku, Mirna mendekatkan kepalaku ke arahnya
dan berbisik di telingaku, "Ayah boleh mendapatkanku jika ingin."

Dia memberiku sebuah kecupan ringan di pipi, dan berbalik lalu berjalan
menyusul suami dan anaknya yang sudah lebih dulu menuju ke mobil. Yoyok
menempatkan bayinya pada dudukan bayi itu, dan seperti biasanya, terlalu
jauh untuk mendengar apa yang dibisikkan istrinya terhadap ayah
mertuanya. Mirna melenggang di jalan itu dengan riangnya seperti seorang
gadis remaja yang menggoda saja. Yoyok tak mengetahui ini juga, ini
hanya untukku.

Mungkin kamu mengira aku terlalu mengada-ada soal ini, tapi nyatanya apa
yang Mirna lakukan itu tidak hanya sekali saja. Dan sejak aku tak
terlalu terkejut lagi, aku jauh dari rasa bosan soal itu. Aku merasa ada
getaran pada penisku, dan pikiran yang tidak wajar berputar-berputar di
benakku.

Mirna adalah seorang wanita yang mungil, tapi ukuran fisiknya itu tak
mampu menutupi daya tarik seksualnya. Sosoknya terlihat tepat dalam
ukurannya sendiri. Dia mempunyai rambut hitam pekat yang dipotong
sebahu, yang dengan alasan tertentu dia biasanya mengikatnya dengan
bandana. Dia memiliki energi dan keuletan yang sepengetahuanku tak
dimiliki orang lain. Cantiklah kalau ingin mendeskripsikannya. Dia
selalu sibuk, selalu terburu-buru tapi selalu kelihatan manis. Dia masuk
dalam kehidupan kami sejak dua tahun lalu, tapi dengan cepat sudah
terlihat sebagai anggota keluarga kami sekian lamanya.

Yoyok anakku bertemu dengannya saat dia masih di tahun pertamanya
kuliah. Mirna baru saja lulus SMU, mendaftar di kampus yang sama dan
ikut kegiatan penataran mahasiswa baru. Kebetulan Yoyok yang bertugas
sebagai pengawas dalam kelompoknya Mirna. Seperti mereka bilang, cinta
mereka adalah cinta pada pandangan pertama.

Mereka menikah di usia yang terbilang muda, Yoyok 23 tahun dan Mirna 19
tahun. Setahun kemudian bayi pertama mereka lahir. Aku ingat waktu itu
kebahagian terasa sangat menyelimuti keluarga kami. Suasana waktu itu
semakin mendekatkan kami semua. Mirna sangat jenaka, selalu tersenyum
riang, dan juga menyukai bola. Dia sering menggoda Yoyok, mereka
benar-benar pasangan serasi. Dia selalu menyemangatinya. Yoyok
memerlukan itu.

Yoyok dan Mirna sering berkunjung kemari, membawa serta anak mereka.
Mereka telah mengontrak rumah sendiri, meskipun tak terlalu besar. Aku
pikir mereka merasa aku membutuhkan seorang teman, karena aku seorang
tua yang akan merasa kesepian jika mereka tak sering berkunjung. Di
samping itu, aku memang sendirian di rumah tuaku yang besar, dan aku
yakin mereka suka bila berada di sini, dibandingkan rumah kontrakannya
yang sempit.

Ibu Yoyok telah meninggal karena kanker sebelum Mirna masuk dalam
kehidupan kami. Sebenarnya, tanpa mereka, aku benar-benar akan jadi
orang tua yang kesepian. Aku masih sangat merindukan isteriku, dan bila
aku terlalu meratapi itu, aku pikir, kesepian itu akan memakanku. Tapi
pekerjaanku di perkebunan, hobi olahragaku serta kunjungan mereka, telah
menyibukkanku. Terlalu sibuk untuk sekedar patah hati, dan terlalu sibuk
untuk mencari wanita dalam hidupku lagi. Aku tak terlalu memusingkan
kerinduanku pada sosok wanita. Tak terlalu.

Bayi mereka lahir, dan menjadi penerus keturunan keluarga kami. Kami
sangat menyayanginya. Dan kehidupan terus berjalan, Yoyok melanjutkan
pendidikannya untuk gelar MBA, dan Mirna bekerja sebagai teller di
sebuah bank swasta. Kunjungan mereka padaku tak berubah sedikit pun,
cuma bedanya sekarang mereka sering membawa beberapa bingkisan juga.
Tentu saja, di samping itu juga perlengkapan bayi, beberapa popok,
mainan dan makanan bayi.

Beberapa bulan lalu Mirna dan bayi mereka datang saat Yoyok masih di
kelasnya. Dia duduk disana menggendong bayinya di lengannya. Dia sedang
berusaha untuk menidurkan bayinya. Aku tak tahu bagaimana, tapi
pemandangan itu entah bagaimana menggelitik kehidupan seksualku.

"Jadi, ayah, kapan ayah akan segera menikah lagi?" dia bertanya dengan
getaran pada suaranya.

"Aku tak tahu. Aku kelihatannya belum terlalu membutuhkan kehadiran
seorang wanita dalam hidupku. Lagipula, aku telah memiliki kalian yang
menemaniku."

"Aku tidak bicara tentang teman. Aku sedang bicara soal seks." matanya
mengedip genit ke arahku saat dia bicara.

"Apa?"

"Ayah tahu, seks…" dia hampir saja tertawa sekarang.

"Saat pria dan wanita telah telanjang dan memainkan bagiannya
masing-masing?" jelasnya lagi, mengguruiku.

"Ya, aku tahu seks," aku membela diri.

"Lagipula kamu pikir dari mana suamimu berasal?"

"Yah, aku hanya khawatir ayah sudah melupakannya. Maksudku, apa ayah tak
merindukannya?"

"Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku sudah terlalu tua untuk hal
seperti itu."

"Hei! Pria tak pernah bosan dengan hal itu. Setidaknya begitulah dengan
puteramu."

"Anakku jauh lebih muda dariku, dan dia mempunyai seorang isteri yang
cantik."

"Terima kasih, tapi aku masih tetap menganggap ayah membutuhkannya," dia
menekankan suaranya pada kata ayah.

"Terima kasih sudah ngobrol," kataku, masih terdengar sengit.

Ada sedikit jeda pada perbincangan itu, saat dia masih menekan kehidupan
seksualku. Aku pikir bukanlah urusannya untuk mencampuri hal itu
meskipun kadang aku membayangkannya juga. Dia pandang bayinya, yang
akhirnya tertidur, dan memberinya sebuah senyuman rahasia, sepertinya
mereka berdua akan berbagi sebuah rahasia besar. Masih memandangnya,
tapi dia berbicara padaku..

"Ayah boleh memilikiku jika ayah menginginkanku."

"Apa!!?"

"Aku serius." Mirna menatapku.

"Ayah boleh memilikiku. Ayah lelaki yang tampan dan macho. Ayah masih
membutuhkan seks. Di samping itu, aku bersedia, kan?"

Aku pikir dia sedang bercanda. Tapi wanita yang menggoda ini tidak
sedang main-main. Tapi tetap saja tak mungkin aku melakukannya dengan
isteri dari anakku.

"Terima kasih atas tawarannya, tapi kupikir aku akan menolaknya."
suaraku terdengar penuh dengan keraguan saat mengucapkannya.

Mirna mencibirkan bibir bawahnya, aku tak bisa menduga apa yang sedang
dirasakannya. Dia tetap terlihat menawan, dan aku merasa Yoyok sangat
beruntung memilikinya. Dia bicara dengan pelan..

"Lihatlah, Yoyok tak akan tahu. Maksudku, aku tak akan mengatakannya
kalau ayah juga begitu. Dan bukannya aku selalu menawarkan diriku pada
setiap lelaki yang kutemui. Aku bukan wanita seperti itu. Aku bisa
mengatur untuk sering berkunjung kemari. Dan aku tahu ayah menganggapku
cukup menggoda, kan, sebab aku sering melihat ayah memandangi pantatku…"

Aku tak mungkin menyangkalnya. Mirna mungkin tak terlalu tinggi, tapi
dia memiliki bongkahan pantat yang sangat indah di atas kedua kakinya
yang kencang itu.

"Ya, pantatmu memang indah. Tapi itu bukan berarti kalau aku ingin
berselingkuh dengan menantuku sendiri." Dia berhenti sejenak, tapi Mirna
tak akan menyerah begitu saja.

"Yah, tapi jangan lupa, Ayah boleh mendapatkanku jika ingin."

Dan itulah awal dari semua ini...

Seiring minggu yang berlalu, entah di sengaja atau tidak, dia seakan
selalu menggodaku, membuat puting susunya menyentuh dada bidangku saat
dia menyerahkan bayinya padaku. Atau dia masukkan jarinya di mulutnya
saat Yoyok tak melihat, dan menghisapnya dengan pandangan penuh
kenikmatan padaku. Seakan-akan dia melakukan oral seks denganku. Suatu
waktu dia duduk di lantai dengan kaki menyilang dan sedang bermain
dengan bayinya, dia memandangku tepat di mata, tersenyum, dan menyentuh
pangkal pahanya di balik celana jeansnya. Aku tak akan pernah melupakan
itu. Dan dia entah bagaimana selalu menemukan cara untuk berduaan
denganku walaupun sesaat, dan dia memberiku ciuman singkat yang penuh
gairah, tepat di bibir. Itu semua dilakukannya berulang-ulang.

"Ayah boleh mendapatkanku jika ingin," dia berbisik di belakang Yoyok
saat suaminya itu sedang memasukkan DVD pada player.

"Ayah boleh mendapatkanku jika ingin," dia berbisik saat mendekat untuk
menyodorkan minuman padaku.

"Ayah boleh mendapatkanku jika ingin," dan dia selalu kembali
membisikkannya setiap kali dia berpamitan.

Sekarang, aku akui aku bukanlah seorang pria yang terbuat dari batu. Aku
tak akan bilang bahwa tingkah nakalnya itu tidak memberikan pengaruh
terhadapku. Mirna sangat manis dan mungil, dan melahirkan bayinya tak
membuatnya berubah seperti kebanyakan wanita. Dia tetap langsing, seksi
dan cantik, sama seperti dia masih perawan dulu. Dia menawarkan dirinya
sepenuhnya untuk kumiliki. Tapi aku tak akan memulai tidur dengan
menantuku sendiri, tak peduli semudah apapun itu. Setidaknya itulah yang
tetap kukatakan pada diriku sendiri.

Beberapa minggu yang lalu kami semua berkumpul di rumahku untuk melihat
pertandingan bola. Aku mengambil beberapa kaleng minuman dan sedang
berada di dapur untuk menyiapkan beberapa makanan ringan saat Mirna
muncul dari balik pintu itu.

"Hai!" sapanya, membuka pintu dan masuk ke dapur.

"Ayah sudah siap untuk pertandingan nanti?"

"Hampir. Aku sedang membuat makanan untuk keluarga besar kita, dan aku
punya beberapa wortel untuk cucuku. Aku pikir dia akan suka dan warnanya
sama dengan kesebelasan yang akan bertanding nanti, kan?"

"Aku pikir dia tak akan peduli. Di samping itu bukankah ada hal lebih
baik yang bisa ayah kerjakan untukku?" Mirna tertawa.

"Jangan menggodaku. Aku seorang kakek dan aku akan lakukan apa yang
menurutku akan disukai oleh cucuku."

Cerita Dewasa - Aku memandangnya. Mirna berdiri di sana memakai bandana
merah kesukaannya diatas rambutnya yang sebahu. Dia memakai kaos yang
sedikit ketat yang tak sampai ke pinggangnya, dan pusarnya mengedip
padaku di balik kaosnya. Kancing jeansnya membuatnya kelihatan seperti
anak-anak di era bunga tahun 60-an, dan dia memakai sandal dengan bagian
bawah yang tebal yang mana menjadikannya lebih tinggi tiga inchi. Kuku
kakinya dicat merah senada dengan lipstiknya, dan itu menjadi mencolok
dengan sangat menarik di balik denimnya.

Dia selalu suka mengenakan perhiasan, dan dia memakainya pada leher,
telinga, pergelangan tangan dan bahkan di jari kakinya. Dia membuatku
berandai-andai jika saja aku masih remaja, jadi aku dapat memacari gadis
sepertinya. Mungkin suatu waktu nanti aku harus pergi ke kampus dan
mencari gadis-gadis binal. Khayalanku terhenti saat menyadari kalau
Yoyok dan bayinya ternyata tidak mengikutinya masuk.

"Mana anggota keluargamu yang lainnya?" aku bertanya ingin tahu.

"Mereka akan segera datang. Yoyok pergi ke toko perkakas untuk membeli
peralatan mesin cuci yang rusak. Dia membawa serta anak kami. Perjalanan
ke toko perkakas yang pertama bersama anaknya, kurasa itulah yang
dikatakannya padaku." dia tersenyum.

"Apa ayah mempermasalahkan saat pertama kalinya mengajak Yoyok ke toko
perkakas?"

"Aku tak ingat," aku berkata dengan garing. Mirna mendekat padaku,
berjinjit dan menaruh tangannya melingkari leherku.

"Ini kesempatan ayah. Ayah boleh mendapatkanku jika ingin."

Mirna memandangku tepat di mata dan mengangkat tubuhnya dan menciumku
panjang dan bernafsu. Aku ingin mendorongnya, tapi aku tak tahu dimana
aku harus menaruh tanganku. Aku tak mau menyentuh pinggangnya yang
telanjang itu, dan jika aku menaruh tanganku di dadanya aku pasti akan
menyentuh puting susunya yang menggiurkan. Saat aku terkejut dan
bingung, aku temukan diriku menikmati ciumannya. Ini sudah terlalu lama,
dan aku merasa telah lupa akan rasa lapar yang mulai tumbuh dalam
diriku. Akhirnya aku menghentikan ciuman itu, mundur dan melepaskan
tangannya dari leherku.

"Kita tak boleh melakukannya." aku mencoba menyampaikannya dengan
lembut, tapi aku takut itu kedengaran seperti rajukan.

"Ya kita boleh."

Mirna kembali menaruh lengannya di leherku dan mendorong bibirku ke
arahnya. Ada gairah yang lebih lagi di ciuman kali ini, dan akhirnya
penolakanku sirna. Kali ini saat kami berhenti, ada sedikit kekurangan
udara di antara kami berdua, dan aku semakin merasa sedikit bimbang.
Mirna memandangku dengan binar di matanya dan sebuah senyuman di bibirnya.

"Ayah menginginkanku. Aku bisa merasakannya. Ayah tak mendapatkan wanita
setahun belakangan ini, dan ayah tak mempunyai tempat untuk
melampiaskannya. Dan aku menginginkan ayah. Jadi ambillah aku."

Pada sisi ini aku tak mampu berkomentar. Aku menginginkannya. Tapi aku
tak dapat meniduri menantuku, bisakah aku? Tapi aku menginginkan dia.
Aku merasa pertahananku melemah, dan saat Mirna menciumku lagi, aku jadi
sedikit terkejut saat menyadari diriku membalas ciumannya dengan rakus.

"Mm. Itu lebih baik," katanya saat kami berhenti untuk mengambil nafas.

Mirna menarik tangannya dari leherku dan mulai melepaskan kancing
celanaku saat menciumku kembali. Lalu dia mundur jadi dia bisa melihat
saat dia melepaskan kancing jeansku, menurunkan resletingnya, dan
merogoh ke dalam untuk mengeluarkan barangku. Aku terkejut saat melihat
milikku itu jadi tampak lebih besar di genggaman tangannya yang kecil.
Itu sudah tak disentuh wanita selama setahun, dan bereaksi dengan cepat,
menjadi keras, panjang dan terus membesar. Seiring nakalnya jari-jari
indah Mirna dalam memperlakukannya. Cairan precumnya keluar saat dia
mengocoknya dengan lembut. Mirna mundur dan duduk pada pantatnya yang
seksi. Saat kepalanya turun, dia menempatkan bibirnya di pangkal penisku
yang sudah basah.

"Aku rasa aku menyukai bentuknya… Begitu besar, keras dan panjang…"
bisiknya sambil melirikku menggoda.

Lalu kemudian dia membuka mulutnya dan dengan perlahan memasukkan
penisku ke dalam mulutnya. Ke dalam dan lebih dalam lagi penisku masuk
dalam mulutnya yang lembut, hangat dan basah, dan aku merasa berada di
dalam vagina yang basah dan kenyal saat lidahnya menari di penisku.
Akhirnya aku merasa telah berada sedalam yang kumampu, bibirnya
menyentuh rambut kemaluanku dan kepala penisku berada entah di mana jauh
di tenggorokannya. Aku merasa bagaikan seekor merpati yang dibebaskan
tuannya ke angkasa. Begitu nikmat dan lega rasanya.

Penisku tanpa terasa mengejang, dan pinggangku bergerak berlawanan arah
dengannya. Sesaat kemudian, aku sudah lupa diri. Tindakannya membuat
erangan nikmatku bergema di dapur yang luas itu. Tak lama aku sudah
larut dalam erotisme ini. Aku begitu menikmati menyetubuhi wajahnya,
dengan menggoyang-goyangkan pantatku maju-mundur dengan cepat. Mendorong
milikku memasuki mulut mungilnya. Mirna tampak tersedak-sedak, tapi tak
sekalipun protes oleh ulah nakalku itu.

Agak lama kemudian, perlahan dia menjauhkan mulutnya dariku, menimbulkan
suara seperti sedang mengemut permen. Puas sudah dia menikmati
kejantanan mertuanya ini. Saat dia bangkit untuk menciumku lagi, aku
segera mengarahkan tanganku di antara pahanya. Aku gosok jeansnya dan
dia menggeliat karenanya.

"Mm, itu nikmat sekali," katanya. "Tapi biar aku membuatnya jadi lebih
mudah.", lanjutnya.

Mirna melepaskan kancing celananya dan menurunkan resletingnya,
memperlihatkan celana dalam katunnya yang bergambar beruang kecil.
Diturunkannya celananya dan melepaskannya dari tubuhnya. Kami melihat ke
bawah pada area gelap di bawah sana di mana area kewanitaannya
bersembunyi, dan kemudian aku sentuh perutnya yang kencang dan terus
menurunkan celana dalamnya.

Mirna mengerang dalam kenikmatan saat tanganku mencapai sasarannya
dibalik celana dalamnya. Vaginanya serasa selembut pantat bayi, dan aku
sadar kalau dia pasti telah mencukurnya sebelum kemari. Terasa basah dan
licin oleh cairan kewanitaannya dan membuatku kagum bahwa itu tak
menimbulkan bekas basah di luar jeansnya. Saat tanganku menyelinap ke
balik bibir vaginanya dan menyentuh klitorisnya yang mengeras, dia
memejamkan matanya dan menekankan miliknya berlawanan arah dengan
gerakan jari-jariku.

Mirna menaruh salah satu tangannya di leherku dan mendorong kami untuk
ciuman intensif berikutnya saat tangannya yang lain mengocok penisku dan
tanganku terus bergerak, aktif mengocok lubang surganya. Saat kami
berhenti untuk bernafas, Mirna mundur dan mengatakan sesuatu yang
mengejutkan..

"Yoyok datang!"

Aku segera melepas pelukanku dan melihat ke arah jendela. Ya, mobil
Yoyok terlihat di jalan sedang menuju kemari. Mirna pasti melihatnya
melewati bahuku saat kami asyik saling bercumbu tadi. Tiba-tiba perasaan
bersalah datang menerkamku karena hampir saja kami ketahuan. Aku tak
percaya dengan apa yang hampir saja kami lakukan. Dengan tergesa-gesa
aku kenakan kembali celanaku, tapi Mirna menghentikanku dan menangkap
tanganku dan melanjutkan kocokannya di batang penisku.

"Hei, tidak boleh. Tak semudah itu ayah boleh mengakhirinya. Aku telah
menunggu terlalu lama untuk ini."

"Tapi Yoyok hampir datang! Dia akan melihat kita!" Mirna kelihatan cuek
saja. Dia tetap memegang penisku, lalu berdiri dan menarik tanganku
berjalan ke arah meja dapur yang kokoh itu.

"Ini perjanjiannya," katanya.

"Aku tak akan mengadu pada Yoyok tentang apa yang baru saja kita lakukan
kalau ayah dapat dapat mengeluarkan seluruh sperma ayah yang panas dalam
vaginaku sebelum dia sampai kemari." Sambil berkata begitu, dia
menurunkan celananya hingga lutut dan membungkuk di meja itu. Kemudian
dengan santainya dia berbaring di atas meja itu, dengan memandangku
penuh godaan. Melihat itu jakunku turun-naik.

"Dia akan segera datang!" hampir saja aku teriak.

"Tidak." Mirna membentangkan kakinya sejauh celananya memungkinkan dan
dia memandangku dengan seringai menggoda.

"Dia harus menggendong bayi dan mengeluarkan semua barangnya. Biasanya
dia memerlukan beberapa menit. Sekarang kemarilah dan setubuhi aku."

Mirna telah telanjang dari pinggang hingga kaki, dan dia memohon padaku
agar segera memasukkan diriku dalam tubuhnya. Aku menatap dua lubang
yang mengundang itu. Pantatnya begitu kencang dan aku begitu terusik
saat melihat lubang anusnya yang berkerut kemerahan. Di atasnya, bibir
vaginanya yang merah, terlihat mengkilap basah. Kakinya tak sejenjang
model, tapi tetap terlihat indah mempesona. Aku membayangkan bercinta
dengannya beberapa jam. Tanggannya bergerak ke belakang di antara
pahanya dan menempatkan tangannya pada vaginanya. Dengan dua jarinya
dilebarkannya bibir vaginanya hingga terbuka, dan aku dapat melihat
lubang merah mudanya mengundang penisku agar segera masuk.

"Ayo," katanya. "Ambil aku…" lanjutnya.

Aku tak tahu apa dia sedang bercanda saat mengatakannya. Istri Yoyok
atau bukan, rangsangan ini lebih dari cukup untuk membuat akal sehatku
lenyap. Aku melangkah ke arahnya. Kubalikkan tubuh seksinya. Aku
bergerak mendekat, ke belakang menantuku dan menempatkan penisku di
kewanitaannya. Saat aku mendorong penisku melewati lubang surganya yang
sempit, aku dapat merasakan jari Mirna menahannya agar tetap terbuka,
dan dia melenguh saat aku memegang pinggangnya dan memasukkan penisku
padanya.

Milik Mirna telah sangat basah hingga aku dapat dengan mudah melewati
vagina mudanya yang sempit, hingga mentok di bagian terdalamnya. Aku
mulai mengayunkan barangku di dalamnya, semakin lama semakin kencang.
Kulakukan itu akibat didorong oleh nafsu yang sudah lama tak kurasakan,
sedangkan sebagiannya oleh rasa takut jika Yoyok memergoki kami
sewaktu-waktu.

Sekitar 15 menit kupompa miliknya, Mirna mengerang. Aku dapat merasakan
jarinya menggosok kelentit dan bibir vaginanya sendiri. Nafasnya mulai
tersengal, dan setelah beberapa goyangan kasar berikutnya, dia segera
orgasme. Suara rengekan pelan keluar dari bibirnya saat dia mencengkeram
pinggiran meja dengan kuat, dan letupan orgasmenya menggoncang kami
berdua saat aku menghentak miliknya cukup keras.

Cerita Seks - Itu cukup untuk mengantarkanku ke puncaknya. Aku tak
berhubungan dengan wanita dalam setahun ini, dan aku belum pernah
mendapatkan yang sebinal Mirna. 5 menit kemudian, aku sampai. Sambil
menahan nafas, aku mendorong seluruh batangku ke dalam miliknya. Kami
mematung, dan kemudian spermaku menyemprot dengan hebat jauh di
dalamnya. Serasa aku telah mengguyurnya dengan selang air hangat. Dia
mengerang dalam nikmat, menggetarkan pantatnya di seputar penisku saat
aku mengosongkan persediaan benihku di dalamnya. Dia melemah seiring
dengan habisnya spermaku, dan kami akhirnya berhenti bergerak, untuk
mengambil nafas.

Takut Yoyok akan datang sebelum kami sempat melepaskan diri, aku
keluarkan diriku darinya dengan bunyi "plop" yang lemah, lalu mundur
menjauh dan kembali mengenakan celanaku. Mirna masih tetap berbaring
tertelungkup di atas meja, masih mencoba menikmati kehangatan spermaku,
pantat telanjangnya masih tetap menggodaku. Aku lihat spermaku dan
cairannya mulai meleleh keluar dari vaginanya.

Saat aku sedang berusaha membetulkan celanaku, tak sengaja aku melihat
keluar. Aku melihat mobil Yoyok masih ada di sana. Terheran-heran
kuamati. Oh rupanya mobil itu terjerumus ke selokan di jalan masuk yang
sempit itu. Prosesnya mungkin akan memakan waktu beberapa jam. Saat
itulah Mirna menghampiriku. Dia turut memandang ke luar. Melihat hal
itu, dia tersenyum.

"Lihat Yah. Tampaknya Yoyok sedang ada masalah di sana. Mungkin
prosesnya akan memakan waktu lama. Kalau begitu apa lagi yang kita
tunggu?" katanya genit.

Usai berkata begitu, dia berpaling menghadapku. Dia loloskan pakaiannya
sendiri hingga tak lama kemudian dia sudah bugil. Melihat tingkahnya
itu, jantungku berdegup kencang. Jakunku bergerak naik-turun, terangsang
melihat kemolekan tubuh seksinya. Mirna segera menghampiriku, lalu mulai
melucuti kancing kemejaku satu-persatu. Sambil meraba-raba otot-otot
kekar di lengan, dada, dan perutku, dia berbisik di telingaku;

"Ayolah, Yah. Kita belum tuntaskan semuanya…"

Usai berkata begitu, dia lucuti semua pakaianku, tanpa aku bisa berbuat
apa-apa untuk mencegahnya. Setelahnya dia suruh aku untuk membungkuk.
Diarahkannya kepalaku ke vaginanya yang masih berlumuran spremaku. Saat
itulah aku sudah mulai lupa siapa diriku dan siapa wanita yang ada di
hadapanku ini.

Sementara Yoyok di luar sana sibuk dengan mobil dan bayinya, di dapur
ini aku sibuk bergelut dengan Mirna dalam berbagai posisi dan tempat.
Meraih surga dunia yang lama sekali tak kurasakan. Kamipun sukses meraih
orgasme susul menyusul hingga beberapa kali. Tepat 10 menit sebelum
Yoyok masuk ke dapur itu, kusemburkan spermaku ke wajahnya yang cantik,
yang langsung diraih dan ditelannya dengan rakus. Sebagian dari
sperma-sperma itu tumpah dan menggenangi lantai di mana kami berdiri.
Setelahnya kami segera berbenah secepat yang bisa kami lakukan.

"Apa kalian sudah siap untuk pertandingannya?" tanya Yoyok sambil
membuka pintu dapur. Keningnya berkerut saat melihat kami yang tampak
keletihan dan berkeringat.

"Ya," aku dan Mirna menjawab serempak. Aku melirik ke lantai dapur.
Sisa-sisa spermaku masih mengenanginya sebagian. Kuharap Yoyok tidak
akan pernah menyadarinya.

"Maaf aku telat, tadi mobilku terperosok di sana…" ujar Yoyok lagi.

"Tak apa Nak… yang penting kamu dan bayimu baik-baik saja…" kataku
sambil menyembunyikan senyuman. Mengingat apa yang barusan kami lakukan
saat Yoyok sedang sibuk dengan mobilnya itu. Kulirik Mirna juga
ikut-ikutan tersenyum mendengar jawabanku itu.

"Ini," katanya, menyodorkan bayinya padaku dan meletakkan belanjaannya
di atas meja dapur.

"Tolong urus ini, aku akan mengambil popok bayi."

Yoyok melangkah ke pintu yang masih terbuka, dan aku menghampiri Mirna.
Dia masih tampak tersenyum-senyum kepadaku.

"Tadi hampir saja,.." kataku pelan sambil menyengir ke arahnya.

"Tapi enak 'kan?" godanya balik.

"Enak sekali… kamu benar… Aku masih membutuhkan kehangatan seorang
wanita…" jawabku sambil tetap tersenyum.

Mirna mengecup bibirku, lalu segera beralih ke bayinya yang kugendong.

"Mari, biar aku yang menggendongnya."

Aku berikan bayinya. Mirna memberiku pemandangan yang mempesona, wajah
cantik dari seorang wanita yang lemas sehabis bercinta. Sebelum dia
keluar dari dapur, dia memberiku ciuman yang bernafsu lagi.

"Masih ada satu hal lagi yang harus kuketahui…" katanya genit.

"Apa itu?"

"Kalau aku ingin lagi, bisakah aku mendapatkannya besok?"

Dan dia melenggang begitu saja tanpa menunggu jawabanku yang hanya
melongo. Dia yakin kalau aku akan bersedia. Ceceran sperma di lantai itu
membuktikan semuanya…

Tamat.

Friday, November 5, 2010

Nikmatnya ML dengan Tante Arab

Aku mendapat tugas ke sebuah kota kabupaten di Kawasan Timur Indonesia. Ada sebuah peluang proyek baru disana. Aku berangkat dengan seorang Direktur. Setelah bertemu dengan para pejabat yang berwenang dan mengutarakan tujuan kedatangan kami, maka Direktur tersebut pulang terlebih dahulu karena masih ada urusan lain di Jakarta. Tinggalah aku disana mengurus semua perijinan sendirian saja.
Hotel tempatku menginap adalah sebuah hotel yang tidak terlalu besar, namun bersih dan enak untuk tinggal. Letaknya agak sedikit di pinggiran kota, sepi, aman, dan transport untuk kemana-mana relatif mudah. Aku mendapat kamar dilantai 2 yang letaknya menghadap ke laut. Setiap sore sambil beristirahat setelah seharian berputar-putar dari satu instansi ke instansi lainnya aku duduk di teras sambil melihat laut.

Para karyawan hotel cukup akrab dengan penghuninya, mungkin karena jumlah kamarnya tidak terlalu banyak, sekitar 32 kamar. Aku cukup akrab dan sering duduk di lobby, ngobrol dengan tamu lain atau karyawan hotel. Kadang-kadang dengan setengah bercanda aku ditawari selimut hidup oleh karyawan hotel, mulai dari room boy sampai ke security. Mereka heran selama hampir 3 minggu aku tidak pernah bawa perempuan. Aku tersenyum saja, bukan tidak mau bro, tapi pikiranku masih tersita ke pekerjaan.

Tak terasa sudah 3 minggu aku menginap di hotel. Karena surat-surat yang diperlukan sudah selesai, aku bisa sedikit bernafas lega dan mulai mencari hiburan. Tadi malam aku kembali dapat merasakan kehangatan tubuh perempuan setelah bergumul selama 2 ronde dengan seorang gadis panggilan asal Manado. Aku mendapatkannya dari security hotel. Meskipun orangnya cantik dan putih, tetapi permainannya tidak terlalu istimewa karena barangnya terlalu becek dan sudak kendor, tapi lumayanlah buat mengurangi sperma yang sudah penuh.
Dua hari lagi aku akan pulang. Transportasi di daerah ini memang agak sulit. Untuk ke Jakarta aku harus ke ibukota propinsi dulu baru ganti pesawat ke Jakarta. Celakanya dari kota ini ke ibukota propinsi dalam 1 minggu hanya ada 4 penerbangan dengan twin otter yang kapasitasnya hanya 17 seat. Belum lagi cadangan khusus buat pejabat Pemda yang tiba-tiba harus berangkat. Aku yang sudah booking seat sejak seminggu yang lalu, ternyata masih masuk di cadangan nomor 5.
Alternatifnya adalah dengan menaiki kapal laut milik Pelni yang makan waktu seharian untuk sampai ibukota propinsi. Rencanaku kalau tidak dapat seat pesawat terpaksa naik kapal laut.
Sore itu aku ngobrol dengan security, yang membantu mencarikan perempuan, sambil duduk-duduk di cafe hotel. Kami membicarakan gadis Manado yang kutiduri tadi malam. Kubilang aku kurang puas dengan permainannya.
Tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada wanita yang baru masuk ke cafe. Wanita itu kelihatan bertubuh tinggi, mungkin 168 cm, badannya sintal dan dadanya membusung. Wajahnya kelihatan bukan wajah Melayu, tapi lebih mirip ke wajah Timur Tengah. Security itu mengedipkan matanya ke arahku.
” Bapak berminat ? Kalau ini dijamin oke, Arab punya,” katanya.
Wanita tadi merasa kalau sedang dibicarakan. Ia menatap ke arah kami dan mencibir ke arah security di sampingku.
“Anis, sini dulu. Kenalan sama Bapak ini,” kata security itu.
“Aku mau ke karaoke dulu,” balas wanita tadi. Ternyata namanya Anis. Anis berjalan kearah meja karaoke dan mulai memesan lagu.
Ruangan karaoke tidak terpisah secara khusus, jadi kalau yang menyanyi suaranya bagus lumayan buat hiburan sambil makan. Tapi kalau pas suara penyanyinya berantakan, maka selera makan bisa berantakan. Untuk karaoke tidak dikenakan charge, hanya merupakan service cafe untuk tamu yang makan disana.
“Dekatin aja Pak, temani dia nyanyi sambil kenalan. Siapa tahu cocok dan jadi,” kata security tadi kepadaku.
Aku berjalan dan duduk didekat Anis. Kuulurkan tanganku, “Boleh berkenalan ? Namaku Jokaw”.
“Anis,” jawabnya singkat dan kembali meneruskan lagunya. Suaranya tidak bagus cuma lumayan saja. Cukup memenuhi standard kalau ada pertunjukan di kampung.
Beberapa lagu telah dinyanyikan. dari lagu dan logat yang dinyanyikan wanita ini agaknya tinggal di Manado atau Sulawesi Utara. Dia mengambil gelas minumannya dan menyerahkan mike ke tamu cafe di dekatnya.
“Sendirian saja nona atau …,” kataku mengawali pembicaraan.
“Panggil saja namaku, A…N…I…S, Anis,” katanya.
kami mulai terlibat pembicaraan yang cukup akrab. Anis berasal dari Gorontalo. Ia memang berdarah Arab. Menurutnya banyak keturunan Arab di Gorontalo. Kuamati lebih teliti wanita di sampingku ini. Hidungnya mancung khas Timur Tengah, kulitnya putih, rambutnya hitam tebal, bentuk badannya sintal dan kencang dengan payudaranya terlihat dari samping membusung padat.
Kutawarkan untuk mengobrol di kamarku saja. Lebih dingin, karena ber-AC, dan lebih rileks serta privacy terjaga. Ia menurut saja. kami masuk ke dalam kamar. Security tadi kulihat mengangkat kedua jempolnya kearahku. Di dalam kamar, kami duduk berdampingan di karpet dengan menyandar ke ranjang sambil nonton TV. Anis masuk ke kamar mandi dan sebentar kemudian sudah keluar lagi.
Kami melanjutkan obrolan. Ternyata Anis seorang janda gantung, suaminya yang seorang pengusaha, keturunan Arab juga, sudah 2 tahun meninggalkannya namun Anis tidak diceraikan. ia sedang mencoba membuka usaha kerajinan rotan dari Sulawesi yang dipasarkan disini. Dikta ini dia tinggal bersama familinya. Ia main ke hotel, karena dulu juga pernah tinggal di hotel ini seminggu dan akrab dengan koki wanita yang bekerja di cafe. dari tadi siang koki tersebut sedang keluar, berbelanja kebutuhan cafe.
Kulingkarkan tangan kiriku ke bahu kirinya. Ia sedikit menggerinjal namun tidak ada tanda-tanda penolakan. aku semakin berani dan mulai meremas bahunya dan perlahan-lahan tangan kiriku menuju kedadanya. Sebelum tangan kiriku sampai di dadanya, ia menatapku dan bertanya, “Mau apa kamu, Jokaw ?” Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.
Kupegang dagunya dengan tangan kananku dan kudekatkan mukanya ke mukaku. Perlahan kucium bibirnya. Ia diam saja. Kucium lagi namun ia belum juga membalas ciumanku.
“Ayolah Anis, 2 tahun tentulah waktu yang cukup panjang bagimu. Selama ini tentulah kamu merindukan kehangatan dekapan seorang laki-laki,” kataku mulai merayunya.
Kuhembuskan napasku ke dekat telinganya. Bibirku mulai menyapu leher dan belakang telinganya.
“Akhh, tidak.. Jangan..,” rintihnya.
“Ayolah Nis, mungkin punyaku tidak sebesar punya suami Arab-mu itu, namun aku bisa membantu menuntaskan gairahmu yang terpendam”.
Ia menyerah, pandangan matanya meredup. Kucium lagi bibirnya, kali ini mulai ada perlawanan balasan dari bibirnya. tanganku segera meremas dadanya yang besar, namun sudah sedikit turun. Ia mendesah dan membalas ciumanku dengan berapi-api. Tangannya meremas kejantananku yang masih terbungkus celana.
Kududukan ia ditepi ranjang. Aku berdiri didepannya. tangannya mulai membuka ikatan pinggang dan ritsluiting celanaku, kemudian menyusup ke balik celana dalamku. Dikeluarkannya kejantananku yang mulai menegang. Dibukanya celanaku seluruhnya hingga bagian bawah tubuhku sudah dalam keadaan polos.
Mulutnya kemudian menciumi kejantananku, sementara tangannya memegang pinggangku dan mengusap kantung zakarku. Lama kelamaan ciumannya berubah menjadi jilatan dan isapan kuat pada kejantananku. Kini ia mengocok kejantananku dengan mengulum kejantananku dan menggerakan mulutnya maju mundur. Aliran kenikmatan segera saja menjalari seluruh tubuhku. Tangannya menyusup ke bajuku dan memainkan putingku. Kubuka kancing bajuku agar tangannya mudah beraksi di dadaku. Kuremas rambutnya dan pantatkupun bergerak maju mundur menyesuaikan dengan gerakan mulutnya.
Aku tak mau menumpahkan sperma dalam posisi ini. Kuangkat tubuhnya dan kini dia dalam posisi berdiri sementara aku duduk di tepi ranjang. Tanpa kesulitan segera saja kubuka celana panjang dan celana dalamnya. Rambut kemaluannya agak jarang dan berwarna kemerahan. Kemaluannya terlihat sangat menonjol di sela pahanya, seperti sampan yang dibalikkan. Ia membuka kausnya sehingga sekarang tinggal memakai bra berwarna biru.
Kujilati tubuhnya mulai dari lutut, paha sampai ke lipatan pahanya. Sesekali kusapukan bibirku di bibir vaginanya. Lubang vaginanya terasa sempit ketika lidahku mulai masuk ke dalam vaginanya. Ia merintih, kepalanya mendongak, tangannya yang sebelah menekan kepalaku sementara tangan satunya meremas rambutnya sendiri. Kumasukan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya, sementara lidahku menyerang klitorisnya. Ia memekik perlahan dan kedua tangannya meremas payudaranya sendiri. Tubuhnya melengkung ke belakang menahan kenikmatan yang kuberikan. Ia merapatkan selangkangannya ke kepakalu. Kulepaskan bajuku dan kulempar begitu saja ke lantai.
Akhirnya ia mendorongku sehingga aku terlentang di ranjang dengan kaki masih menjuntai di lantai. Ia berjongkok dan, “Sllruup..”. Kembali ia menjilat dan mencium penisku beberapa saat. Ia naik keatas ranjang dan duduk diatas dadaku menghadapkan vaginanya di mulutku. Tangannya menarik kepalaku meminta aku agar menjilat vaginanya dalam posisi demikian.
Kuangkat kepalaku dan segera lidahku menyeruak masuk ke dalam liang vaginanya. Tanganku memegang erat pinggulnya untuk membantu menahan kepalaku. Ia menggerakan pantatnya memutar dan maju mundur untuk mengimbangi serangan lidahku. Gerakannya semakin liar ketika lidahku dengan intens menjilat dan menekan klitorisnya. Ia melengkungkan tubuhnya sehingga bagian kemaluannya semakin menonjol. tangannya kebelakang diletakan di pahaku untuk menahan berat tubuhnya.
Ia bergerak kesamping dan menarikku sehingga aku menindihnya. Kubuka bra-nya dan segera kuterkam gundukan gunung kembar di dadanya. Putingnya yang keras kukulum dan kujilati. Kadang kumisku kugesekan pada ujung putingnya. Mendapat serangan demikian ia merintih “Jokaw, ayo kita lakukan permainan ini, Masukan sekarang..”.
Tangannya menggenggam erat penisku dan mengarahkan ke lubang vaginanya. Beberapa kali kucoba untuk memasukannya tetapi sangat sulit. Sebenarnya sejak kujilati sedari tadi kurasakan vaginanya sudah basah oleh lendirnya dan ludahku, namun kini ketika aku mencoba untuk melakukan penetrasi kurasakan sulit sekali. Penisku sudah mulai mengendor lagi karena sudah beberapa kali belum juga menembus vaginanya. Aku ingat ada kondom di laci meja, masih tersisa 1 setelah 2 lagi aku pakai tadi malam, barangkali dengan memanfaatkan permukaan kondom yang licin lebih mudah melakukan penetrasi. namun aku ragu untuk mengambilnya, Anis kelihatan sudah di puncak nafsunya dan ia tidak memberikan sinyal untuk memakai kondom.
Kukocokkan penisku sebentar untuk mengencangkannya. Kubuka pahanya selebar-lebarnya. Kuarahkan penisku kembali ke liang vaginanya.
“Jokaw.. Kencangkan dan cepat masukkan,” rintihnya.
Kepala penisku sudah melewati bibir vaginanya. Kudorong sangat pelan. Vaginanya sangat sempit. Entah apa yang menyebabkannya, padahal ia sudah punya anak dan menurut ceritanya penis suaminya satu setengah kali lebih besar dari penisku. Aku berpikir bagaimana caranya agar penis suaminya bisa menembus vaginanya.
Penisku kumaju mundurkan dengan perlahan untuk membuka jalan nikmat ini. Beberapa kali kemudian penisku seluruhnya sudah menembus lorong vaginanya. Aku merasa dengan kondisi vaginanya yang sangat sempit maka dalam ronde pertama ini aku akan kalah kalau aku mengambil posisi di atas. Mungkin kalau ronde kedua aku dapat bertahan lebih lama. Akan kuambil cara lain agar aku tidak jebol duluan.
Kugulingkan badannya dan kubiarkan dia menindihku. Anis bergerak naik turun menimba kenikmatannya. Aku mengimbanginya tanpa mengencangkan ototku, hanya sesekali kuberikan kontraksi sekedar bertahan saja supaya penisku tidak mengecil.
Anis merebahkan tubuhnya, merapat didadaku. Kukulum payudaranya dengan keras dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ia mendengus-dengus dan bergerak liar untuk merasakan kenikmatan. Gerakannya menjadi kombinasi naik turun, berputar dan maju mundur. Luar biasa vagina wanita Arab ini, dalam kondisi aku dibawahpun aku harus berjuang keras agar tidak kalah. Untuk mempertahankan diri kubuat agar pikiranku menjadi rileks dan tidak berfokus pada permainan ini.
15 menit sudah berlalu sejak penetrasi. Agaknya Anis sudah ingin mengakhiri babak pertama ini. Ia memandangku, kemudian mencium leher dan telingaku.
“Ouhh.. jokaw, kamu luar biasa. Dulu dalam ronde pertama biasanya suamiku akan kalah, namun kami masih bertahan. Yeesshh.. Tahan dulu, sebentar lagi.. Aku..”.
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku tahu kini saatnya beraksi. Kukencangkan otot penisku dan gerakan tubuh Anispun semakin liar. Akupun mengimbangi dengan genjotan penisku dari bawah. Ketika ia bergerak naik, pantatku kuturunkan dan ketika ia menekan pantatnya ke bawah akupun menyambutnya dengan mengangkat pantatku.
Kepalanya bergerak kesana kemari. Rambutnya yang hitam lebat acak-acakan. sprei sudah terlepas dan tergulung di sudut ranjang. bantal di atas ranjang semuanya sudah jatuh ke lantai. Keadaan diatas ranjang seperti kapal yang pecah dihempas badai. Ranjangpun ikut bergoyang mengikutu gerakan kami. Suaranya berderak-derak seakan hendak patah. Akupun semakin mempercepat genjotanku dari bawah agar iapun segera berlabuh di dermaga kenikmatan.
Semenit kemudian..
“Aaggkkhh.. Nikmat.. Ouhh.. Yeahh,” Anis memekik.
Punggungnya melengkung ke atas, mulutnya menggigit putingku. Kurasakan aliran kenikmatan mendesak lubang penisku. Aku tidak tahan lagi. Ketika pantatnya menekan ke bawah, kupeluk pinggangnya dan kuangkat pantatku.
“Ouhh.. An.. Nis. Aku tidak tahan lagi.. Aku sampaiihh!”
Ia memberontak dari pelukanku sampai peganganku pada pinggulnya terlepas. pantatnya naik dan segera diturunkan lagi dengan cepat.
“Jokaw.. Ouhh Jokaw.. Aku juga..”.
Kakinya mengunci kakiku dan badannya mengejang kuat. dengan kaki saling mengait aku menahan gerak tubuhnya yang mengejang. Giginya menggigit lenganku sampai terasa sakit. Denyutan dari dinding vaginanya saling berbalasan dengan denyutan dipenisku. Beberapa detik kemudian, kami masih merasakan sisa-sisa kenikmatan. ketika sisa-sisa denyutan masih terjadi badannya menggetar. Ia berbaring diatas dadaku sampai akhirnya penisku mulai mengecil dan terlepas dengan sendirinya dari vaginanya. Sebagian sperma mengalir keluar dari vaginanya di atas perutku. Anis berguling ke samping setelah menarik napas panjang.
“Luar biasa kamu Kaw. Suamiku tidak pernah menang dalam ronde pertama, memang dalam berhubungan ia sering mengambil posisi di atas. tapi kami sanggup membawaku terbang ke angkasa,” katanya sambil mengelus dadaku.
“Akupun rasanya hampir tidak sanggup menandingimu. Mungkin sebagian besar laki-laki akan menyerah di atas ranjang kalau harus bermain denganmu. Milikmu benar-benar sempit,” kataku balas memujinya.
Memang kalau tadi aku harus bermain diatas, rasanya tak sampai sepuluh menit aku pasti sudah KO. Makanya, jangan cuma penetrasi terus main genjot saja, teknik bro!
“Kamu orang Melayu pribumi, tapi kok bulunya banyak gini. Keturunan India atau mungkin Arab ya?”
“Nggak ah, asli Indonesia lho..”.
Ia masih terus memujiku beberapa kali lagi. Kuajak ia mandi bersama dan setelah itu kami duduk di teras sambil minum soft drink dan melihat laut. Aku hanya mengenakan celana pendek tanpa celana dalam dam kaus tanpa lengan. Ia mengenakan kemejaku, sementara bagian bawah tubuhnya hanya ditutup dengan selimut yang dililitkan tanpa mengenakan pakaian dalam.
Ia duduk membelakangiku. Tubuhnya disandarkan di bahuku. Mulutku sesekali mencium rambut dan belakang telinganya. Kadang mulutnya mencari mulutku dan kusambut dengan ciuman ringan. Tangan kanannya melingkar di kepalaku.
“Kamu nggak takut hamil melakukan hal ini denganku?”tanyaku.
“Aku dulu pernah kerja di apotik, jadi aku tahu pasti cara mengatasinya. Aku selalu siap sedia, siapa tahu terjadi hal yang diinginkan seperti sore ini. Aku sudah makan obat waktu masuk ke kamar mandi tadi. Tenang saja, toh kalaupun hamil bukan kamu yang menanggung akibatnya.” katanya enteng.
Jadi ia selalu membawa obat anti hamil. Untung saja aku tadi tidak berlaku konyol dengan memakai kondom. Mungkin saja sejak ditinggal suaminya ia sudah beberapa kali bercinta dengan laki-laki. Tapi apa urusanku, aku sendiri juga melakukannya. yang penting malam ini ia menjadi teman tidurku.
Matahari sudah jauh condong ke Barat, sehingga tidak terasa panas. hampir sejam kami duduk menikmati sunset. Gairahku mulai timbul lagi. Kubuka dua kancing teratas bajunya. Kurapatkan kejantananku yang sudah mulai ingin bermain lagi ke pinggangnya. Kususupkan tanganku kebalik bajunya dan kuremas dadanya.
“Hmmhh..,” ia bergumam.
“Masuk yuk, sudah mulai gelap. Anginnya juga mulai kencang dan dingin,” kataku.
Kamipun masuk ke dalam kamar sambil berpelukan. Sekilas kulihat tatapan iri dan kagum dari tamu hotel di kamar yang berseberangan dengan kamarku.
“I want more, honey!” kataku.
kami bersama-sama merapikan sprei dan bantal yang berhamburan akibat pertempuran babak pertama tadi. Kubuka bajunya dan kutarik selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya. Kurebahkan Anis di ranjang. Kubuka kausku dan aku berdiri di sisi ranjang di dekat kepalanya.
Anis mengerti maksudku. Didekatkan kepalanya ke tubuhku dan ditariknya celana pendekku. Sebentar kemudian mulut dan lidahnya sudah beraksi dengan lincahnya di selangkanganku. Aku mengusap-usap tubuhnya mulai dari bahu, dada sampai ke pinggulnya. Peniskupun tak lama sudah menegang dan keras, siap untuk kembali mendayung sampan.
Lima menit ia beraksi. Setelah itu kutarik kepalanya dan kuposisikan kakinya menjuntai ke lantai. Kubuka mini bar dan kuambil beberapa potong es batu di dalam gelas. Kujepit es batu tadi dengan bibirku dan aku berjongkok di depan kakinya. Kurenggangkan kedua kakinya lalu dengan jariku bibir vaginanya kubuka. Bibirku segera menyorongkan es batu ke dalam vaginanya yang merah merekah. Ia terkejut merasakan perlakuanku. Kaki dan badannya sedikit meronta, namun kutahan dengan tanganku.
“Ouhh.. Jokaw.. Kamu.. Gila.. Gila.. Jangan.. Cukup Kaw!” ia berteriak.
Aku tidak menghiraukan teriakannya dan terus melanjutkan aksiku. Rupanya sensasi dingin dari es batu di dalam vaginanya membuatnya sangat terangsang. Kujilati air dari es batu yang mencair dan mulai bercampur dengan lendir vaginanya.
“Jokaw.. Maniak kamu..,” ia masih terus memekik setiap kali potongan es batu kutempelkan ke bagian dalam bibir vagina dan klitorisnya.
Kadang es batu kupegang dengan jariku menggantikan bibirku yang tetap menjilati seluruh bagian vaginanya. Kakinya masih meronta, namun ia sendiri mulai menikmati aksiku. Kulihat ke atas ia menggigit ujung bantal dengan kuat untuk menahan perasaannya.
Akhirnya semua potongan es batu yang kuambil habis. Aku masih meneruskan stimulasi dengan cara cunilingus ini. Meskipun untuk ronde kedua aku yakin bisa bertahan lebih lama, namun untuk berjaga-jaga akan kuransang dia sampai mendekati puncaknya. yang pasti aku tak mau kalah ketika bermain dengannya. Kurang lebih sepuluh menit aku melakukannya.
Ia terhentak dan mengejang sesaat ketika klitorisnya kugaruk dan kemudian kujepit dengan jariku. Kulepas dan kujepit lagi. Ia merengek-rengek agar aku menghentikan aksiku dan segera melakukan penetrasi, namun aku masih ingin menikmati dan memberikan foreplay dalam waktu yang agak lama. Beberapa saat aku masih dalam posisi itu. tangan kanannya memegang kepalaku dan menekannya ke celah pahanya. Tangan kirinya meremas-remas payudaranya sendiri.
Aku duduk di dadanya. Kini ia yang membrikan kenikmatan pada penisku melalui lidah dan mulutnya. Dikulumnya penisku dalam-dalam dan diisapnya lembut. Giginya juga ikut memberikan tekanan pada batang penisku. Dilepaskannya penisku dan kini dijepitnya dengan kedua payudaranya sambil diremas-remas dengan gundukan kedua dagingnya itu. Kugerakkan pinggulku maju mundur sehingga peniskupun bergesekan dengan kulit kedua payudaranya.
Kuubah posisiku dengan menindihnya berhadapan, kemudian mulutku bermain disekitar payudaranya. Anis kelihatan tidak sabar lagi dan dengan sebuah gerakan tangannya sudah memegang dan mengocok penisku dengan menggesekannya pada bibir vaginanya. Tanganku mengusap gundukan payudaranya dan meremas dengan pelan dan hati-hati. Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri leher dan bahunya kemudian bibirnya yang sudah setengah terbuka segera menyambut bibirku. kami segera berciuman dengan ganas sampai terengah-engah. Penisku yang sudah mengeras mulai mencari sasarannya.
Kuremas pantatnya yang padat dan kuangkat pantatku.
“Jokaw.. Ayo.. Masukk.. Kan!”
Tangannya menggenggam penisku dan mengarahkan ke dalam guanya yang sudah basah. Aku mengikuti saja. Kali ini ia yang mengambil inisiatif untuk membuka lebar-lebar kedua kakinya. Dengan perlahan dan hati-hati kucoba memasukan penisku kedalam liang vaginanya. Masih sulit juga untuk menembus bibir vaginanya. tangannya kemudian membuka bibir vaginanya dan dengan bantuan tanganku maka kuarahkan penisku ke vaginanya.
Begitu melewati bibir vaginanya, maka kurasakan lagi sebuah lorong yang sempit. Perlahan-lahan dengan gerakan maju mundur dan memutar maka beberapa saat kemudian penisku sudah menerobos kedalam liang vaginanya.
Aku bergerak naik turun dengan perlahan sambil menunggu agar pelumasan pada vaginanya lebih banyak. Ketika kurasakan vaginanya sudah lebih licin, maka kutingkatkan tempo gerakanku. Anis masih bergerak pelan, bahkan cenderung diam dan menungguku untuk melanjutkan serangan berikutnya.
Kupercepat gerakanku dan Anis bergerak melawan arah gerakanku untuk menghasilkan sensasi kenikmatan. Aku menurunkan irama permainan. Kini ia yang bergerak liar. Tangannya memeluk leherku dan bibirnya melumat bibirku dengan ganas. Aku memeluk punggungnya kemudian mengencangkan penisku dan menggenjotnya lagi dengan cepat.
Kubisikkan untuk berganti posisi menjadi doggy style. Ia mendorong tubuhku agar dapat berbaring tengkurap. Pantatnya dinaikkan sedikit dan tangannya terjulur kebelakang menggenggam penisku dan segera menyusupkannya kedalam vaginanya. Kugenjot lagi vaginanya dengan menggerakkan pantatku maju mundur dan berputar. Kurebahkan badanku di atasnya. kami berciuman dengan posisi sama-sama tengkurap, sementara kemaluan kami masih terus bertaut dan melakukan aksi kegiatannya.
Aku menusuk vaginanya dengan gerakan cepat berulang kali. Iapun mendesah sambil meremas sprei. Aku berdiri di atas lututku dan kutarik pinggangnya. Kini ia berada dalam posisi nungging dengan pantat yang disorongkan ke kemaluanku. Setelah hampir sepuluh menit permainan kami yang kedua ini, Anis semakin keras berteriak dan sebentar-bentar mengejang. Vaginanya terasa semakin lembab dan hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut penisku.
Anis berbalik terlentang dan sebentar kemudian aku naik ke atas tubuhnya dan kembali menggenjot vaginanya. Kusedot putingnya dan kugigit bahunya. Kutarik rambutnya sampai mendongak dan segera kujelajahi daerah sekitar leher sampai telinganya. Ia semakin mendesah dan mengerang dengan keras. Ketika ia mengerang cukup keras, maka segera kututup bibirnya dengan bibirku. Ia menyambut bibirku dengan ciuman yang panas. Lidahnya menyusup ke mulutku dan menggelitik langit-langit mulutku. Aku menyedot lidahnya dengan satu sedotan kuat, melepaskannya dan kini lidahku yang masuk ke dalam rongga mulutnya.
kami berguling sampai Anis berada di atasku. Anis menekankan pantatnya dan peniskupun semakin dalam masuk ke lorong kenikmatannya.
“Ouhh.. Anis,” desahku setengah berteriak.
Anis bergerak naik turun dan memutar. Perlahan-lahan kugerakkan pinggulku. Karena gerakan memutar dari pinggulnya, maka penisku seperti disedot sebuah pusaran. Anis mulai mempercepat gerakannya, dan kusambut dengan irama yang sama. Kini ia yang menarik rambutku sampai kepalaku mendongak dan segera mencium dan menjilati leherku. Hidungnya yang mancung khas Timur Tengah kadang digesekkannya di leherku memberikan suatu sensasi tersendiri.
Anis bergerak sehingga kaki kami saling menjepit. kaki kirinya kujepit dengan kakiku dan demikian juga kaki kiriku dijepit dengan kedua kakinya. dalam posisi ini ditambah dengan gerakan pantatnya terasa nikmat sekali. Kepalanya direbahkan didadaku dan bibirnya mengecup putingku.
Kuangkat kepalanya, kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Setelah kujilati dan kukecup lehernya kulepaskan tarikan pada rambutnya dan kepalanya turun kembali kemudian bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.
Anis kemudian mengatur gerakannya dengan irama lamban dan cepat berselang-seling. Pantatnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga penisku masuk terbenam dalam-dalam menyentuh rahimnya.
kakinya bergerak agar lepas dari jepitanku dan kini kedua kakiku dijepit dengan kedua kakinya. Anis menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakan pantatnya maju mundur sambil menekan kebawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sebuah benda yang lembut namun kuat. Semakin lama semakin cepat ia menggerakkan pantatnya, namun tidak menghentak-hentak. darah yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang merambat disekujur tubuhku.
“Ouhh.. Sshh.. Akhh!” Desisannyapun semakin sering. Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri pertarungan ini dan menggapai puncak kenikmatan.
“Tahan Nis, turunkan tempo.. Aku masih lama lagi ingin merasakan nikmatnya bercinta denganmu”.
Aku menggeserkan tubuhku ke atas sehingga kepalaku menggantung di bibir ranjang. Ia segera mengecup dan menciumi leherku. Tak ketinggalan hidungnya kembali ikut berperan menggesek kulit leherku. Aku sangat suka sekali ketika hidungnya bersentuhan dengan kulit leherku.
“Jokaw.. Ouhh.. Aku tidak tahan lagi!” ia mendesah. Kugelengkan kepalaku memberi isyarat untuk bertahan sebentar lagi.
Aku bangkit dan duduk memangku Anis. Penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot PC. Ia semakin cepat menggerakkan pantatnya maju mundur sementara bibirnya ganas melumat bibirku dan tangannya memeluk leherku. Tanganku memeluk pinggangnya dan membantu mempercepat gerakan maju mundurnya. Dilepaskan tangannya dari leherku dan tubuhnya direbahkan ke belakang. Kini aku yang harus bergerak aktif.
Kulipat kedua lututku dan kutahan tubuhnya di bawah pinggangnya. Gerakanku kuatur dengan irama cepat namun penisku hanya setengahnya saja yang masuk sampai beberapa hitungan dan kemudian sesekali kutusukkan penisku sampai mentok. Ia merintih-rintih, namun karena posisi tubuhnya ia tidak dapat bergerak dengan bebas. Kini aku sepenuhnya yang mengendalikan permainan, ia hanya dapat pasrah dan menikmati.
Kutarik tubuhnya dan kembali kurebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya melotot dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bahuku. Kugulingkan tubuhku, kini aku berada diatasnya kembali.
Kuangkat kaki kanannya ke atas bahu kiriku. Kutarik badannya sehingga selangkangannya dalam posisi menggantung merapat ke tubuhku. Kaki kirinya kujepit di bawah ketiak kananku. Dengan posisi duduk melipat lutut aku menggenjotnya dengan perlahan beberapa kali dan kemudian kuhentakkan dengan keras. Iapun berteriak dengan keras setiap aku menggenjotnya dengan keras dan cepat. Kepalanya bergerak-gerak dan matanya seperti mau menangis. Kukembalikan kakinya pada posisi semula.
Aku masih ingin memperpanjang permainan untuk satu posisi lagi.
kakiku keluar dari jepitannya dan ganti kujepit kedua kakinya dengan kakiku. Vaginanya semakin terasa keras menjepit penisku. Aku bergerak naik turun dengan perlahan untuk mengulur waktu. Anis kelihatan sudah tidak sabar lagi. Matanya terpejam dengan mulut setengah terbuka yang terus merintih dan mengerang. Gerakan naik turunku kupercepat dan semakin lama semakin cepat.
Kini kurasakan desakan kuat yang akan segera menjebol keluar lewat lubang penisku. Kukira sudah lebih dari setengah jam lamanya kami bergumul. Akupun sudah puas dengan berbagai posisi dan variasi. Keringatku sudah berbaur dengan keringatnya.
Kurapatkan tubuhku di atas tubuhnya, kulepaskan jepitan kakiku. Betisnya kini menjepit pinggangku dengan kuat. Kubisikan, “OK baby, kini saatnya..”.
Ia memekik kecil ketika pantatku menekan kuat ke bawah. Dinding vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Ia menyambut gerakan pantatku dengan menaikan pinggulnya. Bibirnya menciumku dengan ciuman ganas dan kemudian sebuah gigitan hinggap pada bahuku.
Satu aliran yang sangat kuat sudah sampai di ujung lubang penisku. Kutahan tekanan penisku ke dalam vaginanya. Gelombang-gelombang kenikmatan terwujud lewat denyutan dalam vaginanya bergantian dengan denyutan pada penisku seakan-akan saling meremas dan balas mendesak.
Denyut demi denyutan, teriakan demi teriakan dan akhirnya kami bersama-sama sampai ke puncak sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang.
“Anis.. Ouhh.. Yeaahh!!”
“Ahhkk.. Lakukan Jokaw.. Sekarang!!”
Akhirnya aliran yang tertahan sejak tadipun memancar dengan deras di dalam vaginanya. Kutekan penisku semakin dalam di vaginanya. Tubuhnya mengejang dan pantatnya naik. Ia mempererat jepitan kakinya dan pelukan tangannya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan tangannya menekan kepalaku di atas dadanya. Ketika dinding vaginanya berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot PC-ku. Iapun kembali mengejang dan bergetar setiap otot PC-ku kugerakkan.
Napas dan kata-kata penuh kenikmatan terdengar putus-putus, dan dengan sebuah tarikan napas panjang aku terkulai lemas di atas tubuhnya. kami masih saling mengecup bibir dan keadaan kamarpun menjadi sunyi, tidak ada suara yang terdebgar. hanya ada napas yang panjang tersengal-sengal yang berangsur-angsur berubah menjadi teratur.
Lima belas menit kemudian kami berdua sudah bermain dengan busa sabun di kamar mandi. Kami saling menyabuni dengan sesekali melakukan cumbuan ringan. Setelah mandi barulah kami merasa lapar setelah dua ronde kami lalui. Sambil makan Anis menelpon familinya, kalau malam ini ia tidak pulang dengan alasan menginap di rumah temannya. Tentu saja ia tidak bilang kalau temannya adalah seorang laki-laki bernama Jokaw.
Malam itu dan malam berikutnya tentu saja tidak kami lewatkan dengan sia-sia. Mandi keringat, mandi kucing, mandi basah dan tentunya mandi kenikmatan menjadi acara kami berdua.
Esoknya setelah mengecek ke agen Merpati ternyata aku masih mendapat seat penerbangan ke kota propinsi, seat terakhir lagi. Ketika chek out dari hotel kusisipkan selembar dua puluh ribuan ke tangan security temanku. Ia tersenyum.
“Terima kasih Pak,” katanya sambil menyambut tasku dan membawakan ke mobil.
“Kapan kesini lagi, Pak? kalau Anis nggak ada, nanti akan saya carikan Anis yang lainnya lagi,” bisiknya ketika sudah berangkat ke bandara.
Anis mengantarku sampai ke bandara dan sebelum turun dari mobil kuberikan kecupan mesra di bibirnya. Sopir mobil hotel hanya tersenyum melihat tingkah kami.
Setahun kemudian aku kembali lagi ke kota itu dan ternya Anis tidak berada di kota itu lagi. Ketika kutelpon ke nomor yang diberikannya, penerima telepon menyatakan tidak tahu dimana sekarang Anis berada. Dengan bantuan security temanku maka aku mendapatkan perempuan lainnya, orang Jawa Tinur. Lumayan, meskipun kenikmatan yang diberikannya masih di bawah Anis.

Tamat

Cara Membuat Blog Menjadi Dofollow

Apa sih blog dofollow itu ? Dan apa pula blog nofollow ?
Pada kehidupan sehari hari , kita mengenal yang dinamakan menabung , menabung berarti menyimpan sesuatu yang ada harganya . Lalu apa hubungannya menabung dengan Dofollow ? Ketika kita meninggalkan sepatah komentar di blog yang dofollow berarti kita telah menabung untuk masa depan blog kita ,karena sedikit demi sedikit ,komentar2 kita akan membukit dan akan mendapat bayaran dari MR Google berupa Ranking atau disebut dengan Pagerank . Nah ... rajin rajinlah berkomentar di blog dofollow .. karena akan mendapatkan hadiah backlink untuk blog anda , . Kalo backlink kita banyak tentu dihargai dong sama MR Google ? Pasti bro...  malah kita dapat hadiah lagi , blog kita gampang ditemuin di search engine.. asyik kan ?
Lalu apa pula blog nofollow itu ?
Blog nofollow ibarat kita menabung di tabungan yang bocor , tentu sebanyak apapun anda menabung tidak akan pernah penuh bukan ?
Kebanyakan blog defaultnya adalah Nofollow, untuk merubahnya menjadi Dofollow adalah sebagai berikut
Login ke www.blogger.com  Klik rancangan=>Klik Edit Html/javascript=>Download template lengkap untuk backup data anda => Centang Expand template widget
Cari Kode Seperti dibawah ini
     <a expr:href="data:comment.authorUrl' rel='nofollow'><data:comment.author>


Ganti menjadi seperti kode dibawah ini
  
<a expr:href='data:comment.authorUrl'><data:comment.author/></a>
Kemudian cari lagi kode seperti dibawah ini
<a expr:href='data:backlink.url' rel='nofollow'><data:backlink.title/></a>

Ganti menjadi seperti kode dibawah ini
  <a expr:href='data:backlink.url'><data:backlink.title/></a>
Simpan Template
Selamat Sekarang Blog Anda Sudah Dofollow

Cerita Pengalaman Pertama dengan Tante Lin

Sebelumnya, perkenalkan namaku Frans, usia ku 21 tahun, dan ini adalah
pertama kalinya aku mengirim cerita di sini, sebagai sharing untuk
teman-teman. Aku adalah seorang warga keturunan, saat ini aku sedang
kuliah di sebuah PTS di Jakarta. Tinggi

badanku 180 cm, berat badan ku 67 kg. Aku adalah anak pertama dari dua
bersaudara. Mohon maaf jika bahasanya ada yang tidak tepat, karena aku
belum berpengalaman dalam bercerita, dan kosakataku dalam berbahasa juga
kurang, tapi semoga teman-teman masih mengerti maksud dari cerita dewasa
ini. Jika ada saran atau kritik tolong email saya.
Pengalaman ini kualami baru 2 bulan yang lalu, dan ini merupakan pertama
kalinya aku melakukan hubungan badan dengan seorang wanita. Tepatnya
dengan seorang tante, panggil saja namanya tante Lin, dia seorang janda
yang ditinggal mati suaminya sekitar 4 tahun yang lalu, umur tante Lin
sekarang 31 tahun, mempunyai seorang anak yang masi kecil. Dia
sebenarnya sering sekali datang ke Jakarta, dan memang mempunyai sebuah
rumah disini, serta mempunyai seorang anak angkat yang juga merupakan
anak dari kakaknya. Namanya Fandri, dia juga sedang kuliah dan tinggal
di kos yang sama denganku, tapi dia lebi muda dariku 2 tahun. Kami
lumayan akrab, sehingga kami sering keluar atau pergi jalan bersama.

Perkenalanku dengan tante Lin, adalah ketika kunjungannya ke Jakarta,
karena sebenarnya dia berasal dari Kalimantan. Pada waktu itu, aku
diajak makan siang bersama oleh Fandri, dan katanya ada tantenya yang
datang ke Jakarta bersama anaknya. Fandri berjanji untuk bertemu
tantenya di sebuah mall yang cukup terkenal di Jakarta. Setelah menunggu
selama hampir setengah jam, akhirnya kami bertemu dengan tantenya.
Pertama kali melihat tantenya, pandanganku seperti tidak bisa ketempat
lain lagi. Aku begitu terpesona melihat penampilannya, begitu rapi,
cantik dan seksi. Mukanya yang putih dan mulus, rambutnya yang panjang
terurai, membuatnya terlihat begitu merangsang, serta tubuhnya yang
langsing, pinggang yang ramping, dan ukuran tubuh yang tidak terlalu
tinggi, mungkin sekitar 160cm. Dadanya yang montok, besar dan kencang,
mungkin sekitar 34D, ditambah lagi dengan memakai kemeja putih ketat
dengan kancing bagian atas yg dibuka, sampai buah dadanya yang besar itu
terlihat begitu indah dan montok, tampak menyembul, seperti mau keluar
dari pakaiannya. Pantatnya yg bulat dan kecil itu, terlihat begitu
padat. Adik kecilku bahkan sempat menegang , karena melihat keseksian,
keindahan, kemontokan tubuhnya, bahkan cara jalannya yang terlihat
seperti di catwalk. Dalam diriku tidak berhenti memuja tubuh yang sangat
seksi itu, dan betapa nafsu laki-laki aku muncul, karena itu kali
pertamanya aku melihat pemandangan yang begitu merangsang. Jujur saja,
aku sangat pengen meremas-remas dada dan bokongnya itu, tangan ku sudah
gatal rasanya. Tapi aku masi bisa menahannya.

Setelah itu kami saling berkenalan, tangannya yang kecil itu begitu
lembut. Dan dilanjutkan dengan makan siang bersama, kami
berbincang-bincang dan menjadi dekat, karena tante Lin orangnya gaul,
jadi semua pembicaraan kami terasa nyambung. Selesai makan, kami diantar
pulang ke kos oleh tante Lin. Sayang sekali aku tidak menanyakan no
hpnya. Setalah hari itu, kami makin sering bertemu, karena tante lin
sering mengajak kami pergi makan dan jalan-jalan. Dan aku menjadi
semakin menginginkan untuk menikmati tubuhnya itu. Tante lin sering
telpon-telponan denganku, kadang hanya untuk ngobrol saja, tapi tante
Lin lebih sering menelponi aku daripada anak angkatnya. Bahkan sempat
dia memintaku untuk menjadi anak angkatnya, tapi aku hanya menganggapnya
basa-basi saja.

Tak terasa sudah berapa kali kami bertemu, dan akhirnya aku menjadi
benar-benar akrab dengan tante Lin.. dan tante Lin mengajaku untuk
menginap ditempatnya. Semula aku menolak, tapi tante Lin tetap memaksa
seperti anak yang manja, akhirnya aku terima ajakannya. Aku hanya
pura-pura menolak, tapi sebenarnya aku mau menginap ditempatnya.
Malam itu, aku dan tante Lin duduk-duduk di lantai teras rumahnya di
lantai paling atas. Angin malam yang menyejukkan, dan suasana yang
tenang, membuat kami merasa lebi santai. Ketika itu anak-anaknya sudah
tidur.

Karena aku dan tante Lin sudah akrab, maka aku memberanikan diri
bertanya-tanya sesuatu yang "nakal".
"tante ngga ngerasa kesepian, kalau malem-malem ga ada yang temenin
tidur.. hehe..", candaku pada tante Lin..
sebelumnya tante Lin tampak terdiam tidak mau menjawab, hanya tertawa
kecil, tapi akhirnya, "Nakal juga kamu ya.."
"emang sih kesepian.. tapi mau gimana.. ga ada yang menghibur.. ",
lanjutnya dengan sedikit mengeluh.
"hahaha.. kalau tante bole.. aku mau menghibur tante..", candaku lagi.
"haha.. emangnya kamu bisa apa.. belum ada pengalaman, trus ntar malah
tante yang kecewa..", tanyanya, sambil memancingku.
"iya.. tapi setidaknya aku pernah liat dan tau cara-cara ama
posisi-posisi nya..", candaku dengan sedikit menantang.
"yuk masuk aja.. tambah dingin aja nih di sini..", ajaknya dan mengubah
topik. Dan kami pun masuk kedalam.
Tante Lin memintaku mengunci pintu, setelah selesai menguncinya,
ternyata tante Lin masih berdiri di sana. Kami saling bertatapan, cukup
lama, tapi tidak berbicara satu katapun. Pikiran ku mulai kacau, dan
berpikir yang tidak-tidak. Benar saja, tiba-tiba tante Lin memegang
kedua tanganku, dan dengan senyuman nakal menarikku ke sebuah kamar,
kamar yang disediakannya buatku selama aku menginap di tempatnya.

Aku didorong ke ranjang, dan terduduk diatas ranjang yang lebar itu.

Tante Lin langsung saja mendatangiku, meloncat dan duduk diatas pahaku,
kedua tangannya memegang erat rambut belakangku. Dan dengan tiba-tiba
tatapan matanya berubah menjadi tatapan nafsu yang sangat besar.

"Tunjukin ke tante kalau kamu emang tau cara-caranya..", setelah itu
langsung saja dia mencium bibirku dengan buasnya, tangannya yang
memegang kepalaku bergerak-gerak memegangi dan menjambaki dengan kuat
seluruh rambutku. Tubuh kami bergerak maju mundur mengikuti gerakan
kepala kami. Lidahnya bergerak-gerak dengan cepat di dalam mulutku, aku
membalasnya dengan menggerak-gerakan lidahku juga. Ternyata saat itu aku
baru sadar bahwa nafsu seks tante Lin ternyata besar sekali, dapat
kulihat dari caranya, bagaimana tante Lin ingin melumat lidahku. Ketika
lidahku masuk dan meraba-raba rongga mulutnya, giginya mengigit-gigit
dan mengisap-isap lidahku seperti mau menelannya bulat-bulat, kami
seperti sedang bermain pedang-pedangan dengan lidah didalam mulut kami.
Aku sudah tidak berpikir apa-apa lagi, kecuali malam ini aku harus
menikmati tubuh tante Lin sampai puas, akan kulampiaskan semua nafsuku
yang tertahan selama ini pada tante Lin.

"emmm.. emmmm.. ssshhh..aaahh.. ssshh.. aaahh..", suaranya mendesah.
Ketika sekali-sekali tante lin mengigit bibir bawahku, aku gigit pula
bibir atasnya. Begitu juga ketika tante Lin mengigit bibir atasku, maka
aku menggigi bibir bawahnya.
Kupegang kedua pahanya, kuleus-elus bagian dalam serta luarnya, sampai
akhirnya aku menaikan kedua tanganku dan mencengkram sekuat-kuatnya
kedua pantatnya yang bulat itu.

"ahhh….", teriakannya kecil.

Tangan kananku memeluk erat-erat pada pinggangnya yang ramping itu,
sampai buah dadanya itu terjepit diantara tubuh kami. Karena aku ingin
merasakan kedua buah dadanya menempel didadaku, Begitu besar, begitu
empuk, dan betapa dapat kurasakan kedua putingnya mengeras di dadaku.
Tangan kiriku tetap memegang kedua pantatnya itu, kumasukkan tanganku
kedalam celana karetnya, berulang kali aku meremas-remas pantatnya itu
dengan kuat-kuat, lalu kuelus-elus dan kuraba-raba, "aaahh..", suara itu
yang sangat ingin aku dengar dari mulutnya.

Akhirnya kumasukkan jari-jariku kedalam belahan kedua pantatnya. Dengan
jari-jariku dapat kurasakan hangat disekitar lubang pantatnya itu. Aku
bermain-main dengan jari-jariku dan aku gelitik-gelitik luang duburnya
itu, dan terasa tubuhnya berkejut-kejut kegelian, tangan kanannya
memegang kuat-kuat pergelangan tangan kiriku untuk menahan rasa geli
jari-jariku di duburnya. Jariku dapat merasaka bagaimana duburnya
mengejang kegelian.

Setelah cukup lama kami berciuman, tante Lin melepaskan bibirku, lalu
dia berdiri dan membuka baju, celana dan CDnya. Dan kulihat pemandangan
yang begitu menakjubkan ketika tante Lin mengangkat kedua tangannya,
dadanya yang besar itu ikut terangkat, lalu turun dan begoyang-goyang,
ahh… betapa beruntungnya aku dapat melihatnya dengan begitu dekat.

Aku tidak malu-malu lagi, maka kulepas juga semua pakaianku, sampai kami
benar-benar telanjang bulat. Aku tak sempat melihat semua bagian
tubuhnya, tapi yang pasti bulu-bulu di sekitar mem*k tante Lin itu telah
dicukur habis, membuat mem*knya terlihat lebih bersih dan lebih segar.
Adikku sudah mencapai 80%.

"dicukur tante..?", tanyaku, tante Lin hanya membalas dengan senyuman
dan tidak berkata apa-apa.

Setelah itu kami lanjutkan lagi ciuman kami, semakin lama mulut kami
semakin penuh dengan ludah kami yang telah bercampur, begitu kental,
begitu nikmat, dan begitu banyak sampai menetes keluar dari sela-sela
mulut kami, dan sampai aku merasa seperti sedang meminum segelas air
ludah kenikmatan bersama-sama tante Lin. Tiba-tiba tante Lin menyedot
semua ludah-ludah itu kemulutnya dan melepas mulutku. Dengan tatapan
mata dan senyuman yang nakal, tante Lin mengeluarkan air ludah itu,
membiarkannya mengalir seperti air terjun, dari mulutnya ke dagunya,
lehernya, membasahi dadaku dan dadanya, dan akhirnya turun sampai ke
pangkal paha kami, membuat gesekan tubuh kami terasa menjadi lebih
licin. Melihat itu, mulai kuarahkan kepalaku untuk menjilati air ludah,
tapi tidak kutelan, mulai dari sudut-sudut bibirnya, lalu dagunya,
lehernya, betapa air ludah itu terasa lebih nikmat, karena telah
bercampur dengan keringat tante Lin.

Kubungkukkan badanku sedikit, sehingga mendorong tubuh tante Lin sedikit
kebelakang, dan akhirnya mukaku sampai tepat didepan dadanya,
"besar banget tante..", kataku spontan, aku tidak melihat matanya, tapi
aku tahu kalau dia tertawa gembira.

Kubaringkan badanya ke ranjang, tante Lin dibawah dan aku diatas
menindihnya. Lalu kuciumi, kusedot-sedot dan kugigit-gigit kecil puting
susunya, tanganku meremas dadanya yang lain, jariku secara refleks mulai
memutar-mutar dan mencubit-cubit kecil puting susunya.

"aaahh..", desahnya.. Kubuka mulutku selebar-lebarnya dan dengan sedikit
memaksa aku mencoba "memakan" dadanya sebanyak mungkin. Aku ingin
"menelan" semua dadanya. Kuremas, Kugigit, kujilat dan kusedot, semua
itu kulakukan berulang-ulang kali sampai aku puas.

"ssshhh..aahhh..aah..aah..", desahannya semakin membuat nafsuku
menggebu-gebu.

Setelah puas dengan dadanya, aku mulai turun menciumi perutnya,
menjilat-jilat pusarnya, kedua tanganku tetap memegangi dadanya, tangan
tante Lin tetap memegang kepalaku, mengikuti kemana kepalaku bergerak.

Akhirnya aku sampai di depan mem*knya, yang ternyata sudah basah, aku
mencium bau harum dan lembut dari mem*k dan disekitar pangkal pahanya.
Aku sudah tidak tahan lagi, langsung saja kujilat dan kugigit-gigit
kecil klit nya, aku memainkan lidahku dengan cepat di duburnya,
naik-turun dari pantat ke klitnya, berulang-ulang sampai daerah itu
basah oleh ludahku.

"aaaaaaaaahhhh………..", suara desahannya yang rendah, dan semakin kuat
tante Lin menjambak rambutku.

Kujilati mem*k nya seperti sedang menjilat es krim, es krim yang tidak
akan pernah habis. Setelah itu aku belutut di ranjang dan mengangkat
pantatnya tinggi-tinggi, sehingga kedua lututnya berada di dekat dengan
kepalanya, selama dalam posisi kepala dan kaki dibawah tapi pantatnya
terangkat seperti itu, kedua tangannya hanya bisa memegang pantatnya,
menarik kekanan dan kekiri, sehingga lubang vagina dan lubang pantatnya
dapat kulihat dengan jelas. Tangan kiriku memegang perutnya, dengan
badan kutahan punggungnya supaya posisinya tidak berubah. Dan dengan
jari tengah serta telunjuk tangan kanan, kumasukkan kedalam vaginanya,
kedua jariku bermain-main, berputar kiri-kanan, dan keluar masuk
dilobang vaginanya.

"aaaahh… aaaahh..aaaahhh.. eennaaaakkk…", kata tante Lin sambil
memejamkan mata, membuatku semakin bersemangat memainkan vaginanya.
"jangan berhentii…. trussss…. aaaahh…"

Setelah cukup lama aku bermain-main dengan mem*knya, akhirnya tubuh
tante Lin seperti kejang-kejang, dan bergerak-gerak dengan cepat serta
kuat, sampai aku sedikit kewalahan menahan posisinya.

"aaaah.. aaaa..aaaaaaaaaaaaahh..", kata tante Lin, sembari tubuhnya
mengejang-ngejang, lalu keluar cairan putih kental yang cukup banyak
dari dalam vaginanya, membasahi tanganku dan daguku, dan menyebar ke
dadaku dan perutnya, aku tidak tahu cairan apa itu, baunya pun tidak
begitu sedap.

"haah.. hah.. hah..hah..", suaranya kecapekan, disertai keringat yang
bercucuran dan tubuhnya mulai melemas. Tangannya pun jatuh terkulai
keranjang, tante Lin terlihat seperti orang yang sudah KO.

"Jilatin franss… jilatin yaa.. sampe bersih…", kata tante Lin
dengan manja.. Semula aku tidak mau, tapi setelah mendengar permintaan
manja tante Lin, akhirnya kulakukan juga. Padahal penisku saja belum
kumasukan kedalam vaginanya, tapi tante Lin sudah kecapekan. Tapi aku
juga sebenernya sudah kecapekan berada di posisi seperti itu, tanganku
sudah pegal-pegal, tapi nafsu dan semangatku masih besar, karena aku
belom puas, jadi tidak boleh putus di tengah jalan.
"hahh.. franss.. jari kamu bener-bener nakal..", katanya
terengah-engah.
"sini frans..", panggilnya sambil menarik kepalaku mendekat ke mukanya.

Dengan begitu aku menindih badannya, dadanya yang besar itu mengganjal
tubuhku, dan kubiarkan juga penisku terjepit diantara tubuh kami. Aku
dapat merasakan detak jantungnnya, desahan nafasnya yang telah
kecapekan. Kedua tangannya melingkar memeluk leherku, kakinya juga
melingkat dan melipat di punggungku. Tanganku memegang pinggangnya,
meraba-raba dari atas ke bawah, dan satunya lagi mengelu-elus rambutnya
yang panjang dan terurai itu. Tubuhnya benar-benar dibasahi oleh
keringat. Aku sengaja menggerakkan tubuhku maju-mundur, sengaja membuat
penisku yang masih tegang itu mengosok-gosok mem*knya, sengaja
kuraba-raba pinggiran dadanya yang ikut berbergerak maju mundur,
kulakukan supaya dapat membuatnya bernafsu lagi.
"frans, tante suka banget cara lu ngobokin vagina tante..", kata tante
Lin memjuaku.
"jadi gimana.. tante puas ga..", tanyaku.
"puas banget.. baru begitu aja tante uda kecapekan..", katanya sambil
memegang pipiku dan menatap mataku dalam-dalam.
"tapi tenang aja.. tante masi kuat kok..", lanjutnya menggoda.
Tanpa banyak bicara lagi, langsung saja aku mencium bibirnya.. Petandan
mulainya ronde kedua.
"hhmmppp… hmmppp.. hemmmpp…", desahannya menjukkan bahwa tante Lin masih
bernafsu. Perlahan-lahan aku mulai merasakan putingnya mengeras kembali
didadaku, tangan dan kakinya memeluk tubuhku dengan lebih erat.
Tampaknya memang benar, nasfu dan stamina tante Lin sudah kembali.
Cukup berapa menit saja, dan air ludah mulai memenuhi mulut kami.

Tante Lin mendorong tubuhku kesamping, dan kamipun berganti posisi, aku
dibawah dan tante Lin diatas. Disedotnya kembali semua air ludah itu,
perlahan-lahan tante Lin menegakkan badannya. Tante Lin pun melakukan
hal tadi, mengeluarkan air ludah itu sedikit demi sedikit ke dadaku,
perutku, lalu akhirnya membanjiri tubuhnya sendiri, air ludah itu terus
turun dengan cepat sampai membasahi penisku yang berada terjepit
diantara bagian dalam pangkal pahanya dan tubuhku.

Dengan senyuman dan tatapan mata nakal, tante Lin memundurkan tubuhnya,
lalu membungkuk, sambil memegang penisku, tante Lin menumpahkan sisa air
ludah itu ke penisku.
"wow.. lumayan juga punya kamu yaa…", katanya dengan bernafsu, sambil
memegang erat penisku.
"tadi sudah giliran kamu.. sekarang giliran tante buat kamu
kecapekan..", setelah itu, tante Lin mulai mengecup kepala penisku.
Tangan yang satunya memegang, memainkan dan menekan-nekan, bahkan kadang
digenggamnya dengan kuat buah pelirku.
"Aaah…", kataku karena rasa nyeri di buah pelirku.

Dengan posisi kakiku yang terbuka lebar, tanpa banyak bicara lagi, tante
Lin dengan tatapan nakalnya mulai menjilati dari pangkal batang sampai
keujung penisku. Tanganku memegangi rambutnya, karena aku ingin melihat
pemandangan yang tak ingin aku lewati, bagaimana tante Lin menjilati
penisku dengan nafsunya. Digititnya kecil ujung penisku, rasanya geli
sekali. Dikulum-kulumnya penisku, dijilatnya seperti sedang menjilat
batang eskrim kenikmatan yang tidak akan pernah habis.
Sekarang giliran buah pelirku ikut di"makan"nya, dimasukkan kedalam
mulutnya bersama dengan bulu-buluku. Lidahnya bermain dengan cepat
didalam mulutnya, sesekali pelirku seperti sedang dikunyah oleh tante
Lin. "aaahh..", teriakku kecil, menahan sakit.
Penisku sudah basah sekali oleh air ludah tante Lin, nafsunya seperti
sudah tidak tertahan lagi. Penisku teraa panas gara-gara bergesekan
dengan mulut dan tangannya. Kepalanya naik turun dengan cepat diikuti
dengan tangannya. Sesekali kepala penisku ditarik dengan kuat oleh
giginya. Geli sekali.
Cukup lama tante Lin bermain-main dengan penisku, kira-kira hampir
setengah jam, akhirnya aku sudah tidak tahan lagi.
"aaaaa.. tanteeeee…", teriakku panjang.

Mendengar seperti itu, tante Lin makin mempercepat gerakan mulut dan
tangannya. Otot kakiku sudah mengejang menahannya, akhirnya.. crrttt..
crrttt.. keluar juga spermaku. Tante Lin tidak mengeluarkan penisku dari
mulutnya, dengan nafsu tante Lin menjilati semua spermaku, tidak
dibiarkannya setetespun mengalir keluar. Semuanya ditelan tanpa sisa,
bahkan penisku masi disedot-sedotnya. Begitu bernafsunya sampai tante
Lin terlihat seperti wanita yang benar-benar kehausan akan spermaku.

"aaahh.. punya kamu hangat sekali rasanya.. nikmat banget..", kata tante
Lin.
"ha ha.. sekarang kita satu sama..", lanjutnya dengan gembira, sambil
menindih badanku.
Kami berpelukan diranjang, saling meraba-raba tubuh. Kuelus pahanya yang
mulus, sedangkan tante Lin mengelus-elus perut dan dadaku. Kami saling
bertatapan dan saling memuji.
"enak sekali tante.. tante jago banget..", kataku, menikmati bagaimana
enaknya pengalaman dioral oleh seorang wanita cantik.
"kamu juga hebat.. tante suka de sama kamu.. bisa tahan selama itu…",
balasnya nakal.
Aku begitu lelah, rasanya sudah tidak ada tenaga lagi. Aku melihat tante
Lin, tampaknya ia juga dalam keadaan yang sama denganku.
Tak banyak bicara, tante Lin mengecup dahiku.
"kita bobo dulu aja ya sekarang.. tante pengen lanjut tapi lemes banget
rasanya..", katanya.
"iya tante.. aku juga capek banget.. tante emang top..", balasku.
Tampak tante Lin tersipu malu dan tertawa kecil. Sebenernya nafsuku
masih besar, tapi keadaan tubuhku tidak memungkinkan. Aku juga tidak mau
memaksa tante Lin yang sudah sangat kecapekan.

Begitu lemas, akhirnya kami tidur berpelukan, saling menghangatkan.
Kupeluk erat-erat tubuh tante Lin seperti sedang memeluk bantal, aku
masih ingin merasakan dadanya yang besar itu. Dengan pahanya tante Lin
mengelus-elus pahaku.
Aku merasa senang sekali mesikpun aku tidak puas malam itu.
Mulai dari keesokan harinya, aku merasa tante Lin menjadi semakin sayang
padaku. Ia memenuhi semua kebutuhan dan keperluanku. Dalam 2 bulan
terakhir ini, kami telah melakukan hubungan sex lagi sekitar 10 kali dan
kami lakukan setiap ada kesempatan. Pernah kami lakukan ketika didalam
mobil, dikamar mandi, dikamar anaknya bahkan sempat diatas ranjangnya,
ranjang tempat dimana tante Lin dan almarhum suaminya tidur.

Thursday, November 4, 2010

Html Dasar Untuk Pemula

Html (Hyper Text Markup Langue) adalah sebuah bahasa Markup untuk membuat halaman web
Kode-kode dasar HTML :

  • <b>Teks anda</b> berfungsi menebalkan teks
  • <u>Teks anda</u> berfungsi untuk menggaris bawahi  teks
  • <i>Teks anda</i> berfungsi untuk membuat teks miring
  • <big>Teks anda</big> berfungsi untuk memperbesar teks
  • <blink>Teks anda</blink> berfungsi membuat teks berkedip
  • <p align ="center">Teks anda</p> berfungsi untuk membuat teks ditengah
  • <p align="left">Teks anda</p> berfungsi untuk membuat teks di kiri
  • <p align="right">Teks anda</p> berfungsi untuk membuat teks di kanan
  • <marquee>Teks anda</marquee> berfungsi untuk membuat teks berjalan dari kiri ke kanan
  • <marquee behavior="alternate">Teks anda</marquee> berfungsi untuk membuat teks berjalan bolak balik
  • <marquee direction="right">Teks anda</marquee> berfungsi untuk membuat teks berjalan dari kanan kekiri
  • <marquee scrollamount="10">Teks anda</marquee> berfungsi untuk mengatur kecepatan teks berjalan

Pemutar Musik Ttpod

Pemutar musik TTPOD memiliki banyak fitur seperti skin , equalizer,download lirik dan lain lain.Mendukung banyak ponsel dan format audio. Apakah anda ingin memanjakan telinga anda dengan aplikasi ttpod ? TTPOD tentu lebih menarik dari pemutar musik bawaan hp anda . Anda bisa mengubah tampilan ttpod dengan fitur skin , mengubah format suara  bass,pop,country,jazz,metal dll . Kirim kiriman lagu langsung dari ttpod menggunakan bluetooth juga bisa, pokoknya asyik deh ...


Download Ttpod S60v3
Sungguh Puaskah Istri Anda ?