Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Thursday, November 4, 2010

Ibu Dosenku, Pemuas Hasratku

Cerita Panas ini bermula pada waktu itu aku lagi kuliah di semester VI
di salah satu PTS di Bandung. Ceritanya saat itu aku lagi putus dengan
pacarku dan memang dia tidak tahu diri, sudah dicintai malah bertingkah,
akhirnya dari cerita cintaku cuma berumur 2 tahun saja. Waktu itu aku
tinggal berlima dengan teman satu kuliah juga, kita tinggal serumah atau
ngontrak satu rumah untuk berlima. Kebetulan di rumah itu hanya aku yang
laki-laki. Mulanya aku bilang sama kakak perempuanku, "Sudah, aku pisah
rumah saja atau kos di tempat", tapi kakakku ini saking sayangnya
padaku, ya saya tidak diperbolehkan pisah rumah. Kita pun tinggal
serumah dengan tiga teman wanita kakakku.

Ada satu diantara mereka sudah jadi dosen tapi di Universitas lain, Ibu
Vivin namanya. Kita semua memanggilnya Ibu maklum sudah umur 40 tahun
tapi belum juga menikah. Ibu Vivin bertanya, "Eh, kamu akhir-akhir ini
kok sering ngelamun sih, ngelamunin apa yok? Jangan-jangan ngelamunin
yang itu.."
"Itu apanya Bu?" tanyaku.

Memang dalam kesehari-harianku, ibu Vivin tahu karena aku sering juga
curhat sama dia karena dia sudah kuanggap lebih tua dan tahu banyak hal.
Aku mulai cerita,
"Tahu nggak masalah yang kuhadapi? Sekarang aku baru putus sama
pacarku", kataku.
"Oh.. gitu ceritanya, pantesan aja dari minggu kemarin murung aja dan
sering ngalamun sendiri", kata Ibu Vivin.

Begitu dekatnya aku sama Ibu Vivin sampai suatu waktu aku mengalami
kejadian ***** Entah kenapa aku tidak sengaja sudah mulai ada perhatian
sama Ibu Vivin. Waktu itu tepatnya siang-siang semuanya pada kuliah, aku
sedang sakit kepala jadinya aku bolos dari kuliah. Siang itu tepat jam
11:00 siang saat aku bangun, eh agak sedikit heran kok masih ada orang
di rumah, biasanya kalau siang-siang bolong begini sudah pada nggak ada
orang di rumah tapi kok hari ini kayaknya ada teman di rumah nih. Aku
pergi ke arah dapur.
"Eh Ibu Vivin, nggak ngajar Bu?" tanyaku.
"Kamu kok nggak kuliah?" tanya dia.
"Habis sakit Bu", kataku.
"Sakit apa sakit?" goda Ibu Vivin.
"Ah.. Ibu Vivin bisa aja", kataku.
"Sudah makan belum?" tanyanya.
"Belum Bu", kataku.
"Sudah Ibu Masakin aja sekalian sama kamu ya", katanya.
Dengan cekatan Ibu Vivin memasak, kita pun langsung makan berdua sambil
ngobrol ngalor ngidul sampai-sampai kita membahas cerita yang agak
berbau seks. Kukira Ibu Vivin nggak suka yang namanya cerita seks, eh
tau-taunya dia membalas dengan cerita yang lebih hot lagi. Kita pun
sudah semakin jauh ngomongnya. Tepat saat itu aku ngomongin tentang
perempuan yang sudah lama nggak merasakan hubungan dengan lain jenisnya.

"Apa masih ada gitu keinginannya untuk itu?" tanyaku.
"Enak aja, emangnya nafsu itu ngenal usia gitu", katanya.
"Oh kalau gitu Ibu Vivin masih punya keinginan dong untuk ngerasain
bagaimana hubungan dengan lain jenis", kataku.
"So pasti dong", katanya.
"Terus dengan siapa Ibu untuk itu, Ibu kan belum kawin", dengan enaknya
aku nyeletuk.
"Aku bersedia kok", kataku lagi dengan sedikit agak cuek sambil kutatap
wajahnya. Ibu Vivin agak merah pudar entah apa yang membawa keberanianku
semakin membludak dan entah kapan mulainya aku mulai memegang tangannya.
Dengan sedikit agak gugup Ibu Vivin kebingungan sambil menarik kembali
tangannya, dengan sedikit usaha aku harus merayu terus sampai dia
benar-benar bersedia melakukannya.
"Okey, sorry ya Bu, aku sudah terlalu lancang terhadap Ibu Vivin", kataku.
"Nggak, aku kok yang salah memulainya dengan meladenimu bicara soal
itu", katanya.
Dengan sedikit kegirangan, dalam hatiku dengan lembut kupegang lagi
tangannya sambil kudekatkan bibirku ke dahinya. Dengan lembut kukecup
keningnya. Ibu Vivin terbawa dengan situasi yang kubuat, dia menutup
matanya dengan lembut. Juga kukecup sedikit di bawah kupingnya dengan
lembut sambil kubisikkan, "Aku sayang kamu, Ibu Vivin", tapi dia tidak
menjawab sedikitpun.

Dengan sedikit agak ragu juga kudekatkan bibirku mendekati bibirnya.
Cup.. dengan begitu lembutnya aku merasa kelembutan bibir itu. Aduh
lembutnya, dengan cekatan aku sudah menarik tubuhnya ke rangkulanku,
dengan sedikit agak bernafsu kukecup lagi bibirnya. Dengan sedikit
terbuka bibirnya menyambut dengan lembut. Kukecup bibir bawahnya, eh..
tanpa kuduga dia balas kecupanku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan.
Kutelusuri rongga mulutnya dengan sedikit kukulum lidahnya. Kukecup,
"Aah.. cup.. cup.. cup.." dia juga mulai dengan nafsunya yang membara
membalas kecupanku, ada sekitar 10 menitan kami melakukannya, tapi kali
ini dia sudah dengan mata terbuka. Dengan sedikit ngos-ngosan kayak
habis kerja keras saja.

"Aah.. jangan panggil Ibu, panggil Vivin aja ya!
Kubisikkan Ibu Vivin, "Vivin kita ke kamarku aja yuk!".

Cerita Dewasa - Dengan sedikit agak kaget juga tapi tanpa perlawanan
yang berarti kutuntun dia ke kamarku. Kuajak dia duduk di tepi tempat
tidurku. Aku sudah tidak tahan lagi, ini saatnya yang kutunggu-tunggu.
Dengan perlahan kubuka kacing bajunya satu persatu, dengan lahapnya
kupandangi tubuhnya. Ala mak.. indahnya tubuh ini, kok nggak ada sih
laki-laki yang kepengin untuk mencicipinya. Dengan sedikit membungkuk
kujilati dengan telaten. Pertama-tama belahan gunung kembarnya. "Ah..
ssh.. terus Ian", Ibu Vivin tidak sabar lagi, BH-nya kubuka, terpampang
sudah buah kembar yang montok ukuran 34 B. Kukecup ganti-gantian, "Aah..
ssh.." dengan sedikit agak ke bawah kutelusuri karena saat itu dia tepat
menggunakan celana pendek yang kainnya agak tipis dan celananya juga
tipis, kuelus dengan lembut, "Aah.. aku juga sudah mulai terangsang.

Kusikapkan celana pendeknya sampai terlepas sekaligus dengan celana
dalamnya, hu.. cantiknya gundukan yang mengembang. Dengan lembut
kuelus-elus gundukan itu, "Aah.. uh.. ssh.. Ian kamu kok pintar sih, aku
juga sudah nggak tahan lagi", sebenarnya memang ini adalah pemula bagi
aku, eh rupanya Vivin juga sudah kepengin membuka celanaku dengan sekali
tarik aja terlepas sudah celana pendek sekaligus celana dalamku. "Oh..
besar amat", katanya. Kira-kira 18 cm dengan diameter 2 cm, dengan
lembut dia mengelus zakarku, "Uuh.. uh.. shh.." dengan cermat aku
berubah posisi 69, kupandangi sejenak gundukannya dengan pasti dan
lembut. Aku mulai menciumi dari pusarnya terus turun ke bawah, kulumat
kewanitaannya dengan lembut, aku berusaha memasukkan lidahku ke dalam
lubang kemaluannya, "Aah.. uh.. ssh.. terus Ian", Vivin mengerang. "Aku
juga enak Vivin", kataku. Dengan lembut di lumat habis kepala
kemaluanku, di jilati dengan lembut, "Assh.. oh.. ah.. Vivin terus
sayang", dengan lahap juga kusapu semua dinding lubang kemaluannya,
"Aahk.. uh.. ssh.." sekitar 15 menit kami melakukan posisi 69, sudah
kepengin mencoba yang namanya bersetubuh. Kurubah posisi, kembali
memanggut bibirnya.

Sudah terasa kepala kemaluanku mencari sangkarnya. Dengan dibantu
tangannya, diarahkan ke lubang kewanitaannya. Sedikit demi sedikit
kudorong pinggulku, "Aakh.. sshh.. pelan-pelan ya Ian, aku masih
perawan", katanya. "Haa.." aku kaget, benar rupa-rupanya dia masih suci.
Dengan sekali dorong lagi sudah terasa licin. Blesst, "Aahk.." teriak
Vivin, kudiamkan sebentar untuk menghilangkan rasa sakitnya, setelah 2
menitan lamanya kumulai menarik lagi batang kemaluanku dari dalam, terus
kumaju mundurkan. Mungkin karena baru pertama kali hanya dengan waktu 7
menit Vivin.. "Aakh.. ushh.. ussh.. ahhkk.. aku mau keluar Ian",
katanya. "Tunggu, aku juga sudah mau keluar akh.." kataku. Tiba-tiba
menegang sudah lubang kemaluannya menjepit batang kemaluanku dan terasa
kepala batang kemaluanku disiram sama air surganya, membuatku tidak kuat
lagi memuntahkan.. "Crot.. crot.. cret.." banyak juga air maniku muncrat
di dalam lubang kemaluannya. "Aakh.." aku lemas habis, aku tergeletak di
sampingnya. Dengan lembut dia cium bibirku, "Kamu menyesal Ian?"
tanyanya. "Ah nggak, kitakan sama-sama mau." Kami cepat-cepat
berberes-beres supaya tidak ada kecurigaan, dan sejak kejadian itu aku
sering bermain cinta dengan Ibu Vivien hal ini tentu saja kami lakukan
jika di rumah sedang sepi, atau di tempat penginapan apabila kami sudah
sedang kebelet dan di rumah sedang ramai. sejak kejadian itu pada diri
kami berdua mulai bersemi benih-benih cinta, dan kini Ibu Vivien menjadi
pacar gelapku.


End

Seks Kilat Dengan Teman Kantor

Di kantor itu aku baru diterima sebagai pegawai tetap, sebagaimanabiasanya proses beradaptasi dan berkenalan dengan pegawai yang lainnya,ada salah satu pegawai wanita yang tadinya sih biasa-biasa saja, tidakmenarik perhatianku namanya Riri (bukan nama sebenarnya) dalamperjalanan waktu kami sedikit akrab karena kebetulan dia duduk disamping meja kerjaku.

Dari ceritanya ternyata dia hanya part time karena di rumah tidakada kerjaan, lagi pula dia baru datang ke Jakarta ikut suami, tubuhnyakecil mungil putih agak sintal aku taksir umurnya baru tiga puluhanlebih dikit, dia selalu memperhatikan setiap gerakku dan suka curipandang, kalau aku tatap dia tersenyum sedikit menggoda, karena itu akucoba berani bercanda mulai dari yang ringan sampai nyerempet-nyerempetporno, dia selalu menanggapi, suatu saat aku bilang..
"Ri, pergelangan kakimu seksi lho, coba aku pegang boleh nggak".
"Boleh, kenapa gitu", jawabnya.

Aku lingkarkan jari tanganku dan kuukur, ternyata jempol dan jaritengahku bisa ketemu dan di belakang mata kakinya ada lekukan yangtegas.
"Wah, gila ini perempuan pasti suaminya beruntung".


Aku memang pernah dapat info bahwa ciri wanita yang demikian,istilah dengan teman temanku pokoknya tidak habis tiga ribu deh,(saking enaknya) hal ini yang bikin aku ingin mencoba kalau bisa.Kesempatan itu datang waktu dia bilang dia mau mengundurkan diri, akutawarkan..

"Kita rayakan perpisahan dengan jalan berdua mau nggak".
Eh, ternyata ia bersedia, lalu sepulang kantor kuajak dia nontonbioskop, aku pilih cerita film yang sepi penontonnya dan memilih tempatstrategis, singkat cerita aku cuma sempat nonton seperempat cerita,karena kuberanikan pipiku kusentuhkan ke pipinya yang akhirnya berlabuhdi bibirnya, terasa bergetar bibirnya yang tipis dan lembut itu.

Tanganku mulai membelai dan dia diam saja aku tahu dia menahan nafasketika tanganku mulai mengunjungi sudut cita-cita laki-laki, semulapahanya bertahan namun renggang juga, lalu jemariku menerobos daricelah celana dalamnya, semula cuma lembab tapi sedikit sentuhan dititik celah bibir kemaluannya terasa licin dan segera membasahipermukaan dari bawah sampaihingga ke atas, kutekan sambil kugesekclitorisnya. Wow, kini clitorisnya mulai mengeras.

"Pulang yuk", bisiknya, aku setuju.
"Pulang ke mana?", pancingku.
"Ke motel, yuk", katanya. Amboi hatiku deg-degan badanku agak demam karena membayangkan apa yang akan terjadi.
"Kamu nakal ya", ujarnya sambil mencubit burungku.

Aku tak bisa mengelak karena kedua tanganku memegang stir mobil.Dalam perjalan itu ruitsleting celanaku dibukanya dan dengan sigapdikeluarkannya rudalku, tanpa canggung diselusupkan kepalanya diantarastir dan perutku, dihisap dan dijilatnya.
"Aah, gila kamu", kataku.
"Biar saja, rasakan pembalasanku, balasan yang tadi di bioskop", katanya.
Di motel, dia yang menyerangku.
"Sekarang kamu harus bertanggung jawab, dan harus dituntaskan di sini ya", katanya sambil mendengus bernafsu.

"Tenang, tenang pasti, aku kan juga siap", kataku.
"Ayo buktikan", katanya sambil meremas rudalku yang juga sudah siap launching.
Kulepas bajunya dan Bra, dan bukit susunya seperti tidak berubahwalau tanpa BH kencang tergantung di dadanya dengan puting coklatmengeras, sambil kuhisap kumainkan lidahku berputar, dia merengekseperti anak kecil kegelian, kubuka roknya sekaligus celana dalamnya,kuturunkan ciumanku ke arah pusarnya dan kujilat lagi sekitar pusarnya.

Aku sengaja berhenti di situ walau aku tahu dia ingin lanjut, akuberdiri dan kini ganti dia yang melucuti pakaianku seperti yangkulakukan padanya, dia lakukan padaku tapi dia teruskan dengan menjilatpenisku. Wuiih, rasanya, mulutnya kecil, giginya kecil rasanya gelisekali, ini permainan lihai rupanya, akupun tidak mau kalah. Ditariknyatanganku ke ranjang dan rupanya dia sudah ingin dimasuki oleh penisku,tapi tidak aku turuti, aku ajak dia main 69 dulu, kumainkan clitorisnyadengan lidahku, kuputar dan kupijat bagian sisi clitorisnya yang basahdan mengeras.

Tiba-tiba dia merenggang dan mengerang panjang terasa clitorisnyajuga mengeras kejang, rupanya dia orgasme duluan tapi dia tidak bilang,Bukit bibir vaginanya kulihat mengembang, sambil kubiarkan diaistirahat untuk orgasmenya yang ke dua kuciumi paha bagian dalamnya,dia hanya bisa bilang, "Maas, maas".

Kini ujung rudalku kuletakan di gerbang vaginanya yang mulai basahlagi, dia menarik pantatku agar segera merasakan batangku yang sudahseperti kayu, kuturuti tapi aku masukan dengan perlahan sekali, akuingin menikmati perjalanan batang penisku ke dalam lubangnya itu milidemi milimeter sepanjang batangku dan itu aku rasakan sangat licin,lengket pulen dan nikmat sekali, cairan vaginanya tidak banjir tapiagak lengket (inilah rasa vagina perempuan dengan ciri pergelangan kakikecil dan dekok).

Begitu perlahan dan Gentle aku masukan batangku sehingga terasadenyutan dinding vaginanya melumat batang penisku, setengah batangkumasuk, kuperintahkan dia agar melakukan penarikan otot vagina dananusnya seperti orang habis selesai berak, dan dia lakukan, Auu..,batangku serasa tersedot ke dalam, kutarik cepat batangku dia merengeklagi.
"Maas masukin doong".

Begitu lagi kulakukan sampai beberapa kali sampai dia menggeramkarena nikmatnya, Teknik separoh masuk, tarik kemudian tusuk habis inikulakukan berulang sampai dia bilang..

"Ampuun Maas", dan pada saat kubenam habis batang penisku dan akugoyang angka 8, kurasa kepala penisku menyentuh mulut rahimnya dan diamuncratkan orgasme yang ke-2, shhah kepala penisku diguyurnya gelingilu jadi satu, akupun tak tahan lagi. Pantatku dikepitnya keras-kerasseperti tidak mau dilepaskan, kami lemas dan berkeringat, dia bisikkanke telingaku..

"Maas Kamu hebat kayak superman".
Pagi hari di kantor aku datang lebih dahulu, tidak lama kemudian diabaru muncul sambil tersenyum malu penuh arti, pada kesempatan jamistirahat makan siang dia curi bisik padaku..
"Mas, aku nggak jadi mengundurkan diri", sambil tersenyum nakal.
"Lho, lalu", kataku.
"Besok kita nggak usah nonton, tapi langsung ke tempat nikmat.., aku kangen Maas", sambil berlalu.
"Besok ya Mas".
"Ya.., ya.., yaa..", jawabku.

Sekian.

Wednesday, November 3, 2010

Pagerank

PageRank adalah sebuah algoritma yang telah dipatenkan yang berfungsi menentukan situs web mana yang lebih penting/populer. PageRank merupakan salah satu fitur utama mesin pencari Google dan diciptakan oleh pendirinya, Larry Page dan Sergey Brin yang merupakan mahasiswa Ph.D. Universitas Stanford.
Sebuah situs akan semakin populer jika semakin banyak situs lain yang meletakkan link yang mengarah ke situsnya, dengan asumsi isi/content situs tersebut lebih berguna dari isi/content situs lain. PageRank dihitung dengan skala 1-10.
Contoh: Sebuah situs yang mempunyai Pagerank 9 akan di urutkan lebih dahulu dalam list pencarian Google daripada situs yang mempunyai Pagerank 8 dan kemudian seterusnya yang lebih kecil.
Banyak cara digunakan search engine dalam menentukan kualitas/rangking sebuah halaman web, mulai dari penggunaan META Tags, isi dokumen, penekanan pada content dan masih banyak teknik lain atau gabungan teknik yang mungkin digunakan. Link popularity, sebuah teknologi yang dikembangkan untuk memperbaiki kekurangan dari teknologi lain (Meta Keywords, Meta Description) yang bisa dicurangi dengan halaman yang khusus di desain untuk search engine atau biasa disebut doorway pages. Dengan algoritma ‘PageRank’ ini, dalam setiap halaman akan diperhitungkan inbound link (link masuk) dan outbound link (link keuar) dari setiap halaman web.
PageRank, memiliki konsep dasar yang sama dengan link popularity, tetapi tidak hanya memperhitungkan “jumlah” inbound dan outbound link. Pendekatan yang digunakan adalah sebuah halaman akan diangap penting jika halaman lain memiliki link ke halaman tersebut. Sebuah halaman juga akan menjadi semakin penting jika halaman lain yang memiliki rangking (pagerank) tinggi mengacu ke halaman tersebut.
Dengan pendekatan yang digunakan PageRank, proses terjadi secara rekursif dimana sebuah rangking akan ditentukan oleh rangking dari halaman web yang rangkingnya ditentukan oleh rangking halaman web lain yang memiliki link ke halaman tersebut. Proses ini berarti suatu proses yang berulang (rekursif). Di dunia maya, ada jutaan bahkan milyaran halaman web. Oleh karena itu sebuah rangking halaman web ditentukan dari struktur link dari keseluruhan halaman web yang ada di dunia maya. Sebuah proses yang sangat besar dan komplek
Dari pendekatan yang sudah dijelaskan pada artikel konsep pagerank, Lawrence Page and Sergey Brin membuat algoritma pagerank seperti di bawah :
Algoritma awal PR(A) = (1-d) + d ( ( PR(T1) / C(T1) ) + … + ( PR(Tn) / C(Tn) ) )
Salah satu algoritma lain yang dipublikasikan PR(A) = (1-d) / N + d ( ( PR(T1) / C(T1) ) + … + ( PR(Tn) / C(Tn) ) )
* PR(A) adalah Pagerank halaman A
* PR(T1) adalah Pagerank halaman T1 yang mengacu ke halaman A
* C(T1) adalah jumlah link keluar (outbound link) pada halaman T1
* d adalah damping factor yang bisa diberi antara 0 dan 1.
* N adalah jumlah keseluruhan halaman web (yang terindex oleh google)
Dari algoritma diatas dapat dilihat bahwa pagerank ditentukan untuk setiap halaman anda bukan keseluruhan situs web. Pagerank sebuah halaman ditentukan dari pagerank halaman yang mengacu kepadanya yang juga menjalani proses penentuan pagerank dengan cara yang sama, jadi proses ini akan berulang sampai ditemukan hasil yang tepat. Akan tetapi pagerank halaman A tidak langsung diberikan kepada halaman yang dituju, akan tetapi sebelumnya dibagi dengan jumlah link yang ada pada halaman T1 (outbound link), dan pagerank itu akan dibagi rata kepada setiap link yang ada pada halaman tersebut. Demikian juga dengan setiap halaman lain “Tn” yang mengacu ke halaman “A”. Setelah semua pagerank yang didapat dari halaman-halaman lain yang mengacu ke halaman “A” dijumlahkan, nilai itu kemudian dikalikan dengan damping factor yang bernilai antara 0 sampai 1. Hal ini dilakukan agar tidak keseluruhan nilai pagerank halaman T didistribusikan ke halaman A.
Random surfer model merupakan pendekatan yang menggambarkan bagaimana sesungguhnya yang dilakukan seorang pengunjung di depan sebuah halaman web. Ini berarti peluang atau probabilitas seorang user mengklik sebuah link sebanding dengan jumlah link yang ada pada halaman tersebut. Pendekatan ini yang digunakan pagerank sehingga pagerank dari link masuk (inbound link) tidak langsung didistribusikan ke halaman yang dituju, melainkan dibagi dengan jumlah link keluar (outbound link) yang ada pada halaman tersebut. Rasanya semua juga menganggap ini adil. Karena bisa anda bayangkan apa jadinya jika sebuah halaman dengan rangking tinggi mengacu ke banyak halaman, mungkin teknologi pagerank tidak akan relevan digunakan.
Metode ini juga memiliki pendekatan bahwa seorang user tidak akan mengklik semua link yang ada pada sebuah halaman web. Oleh karena itu pagerank menggunakan damping factor untuk mereduksi nilai pagerank yang didistribusikan sebuah halaman ke halaman lain. Probabilitas seorang user terus mengkilk semua link yang ada pada sebuah halaman ditentukan oleh nilai damping factor (d) yang bernilai antara 0 sampai 1. Nilai damping factor yang tinggi berarti seorang user akan lebih banyak mengklik sebuah halaman sampai dia berpindah ke halaman lain. Setelah user berpindah halaman maka probabilitas diimplemntasikan ke dalam algoritma pagerank sebagai konstanta (1-d) . Dengan mengeluarkan variable inbound link (link masuk), maka kemungkinan seorang user untuk berpindah ke halaman lain adalah (1-d), hal ini akan membuat pagerank selalu berada pada nilai minimum.
Dalam algoritma pagerank yang lain, terdapat nilai N yang merupakan jumlah keseluruhan halaman web, jadi seorang user memiliki probabilitas mengunjungi sebuah halaman dibagi dengan total jumlah halaman yang ada. Sebagai contoh, jika sebuah halaman memiliki pagerank 2 dan total halaman web 100 maka dalam seratus kali kunjungan dia mengunjungi halaman itu sebanyak 2 kali (catatan, ini adalah probabilitas).
Sumber : Wikipedia

Tuesday, November 2, 2010

Cara Mengganti Kursor di Blog

Mengganti kursor di blog dengan berbagai ikon yang terlihat lebih variatif dan keren , banyak sekali pilihan yang bisa anda pilih disini.
Caranya adalah

Download template lengkap , untuk backup data anda bila terjadi kesalahan
Centang  Expant Template widget
Cari kode seperti ini  </head>   gunakan ctrl+f untuk search
Bila sudah ketemu  copy kode dibawah ini diatas kode </head>    
<style type="text/css">HTML,BODY{cursor:  url("http://downloads.totallyfreecursors.com/thumbnails/checkgreen.gif"), auto;} </style>

Kode yang berwarna merah adalah url ikon kursor anda , dan kita boleh menggantinya dengan pilihan lain disini   http://www.totallyfreecursors.com


Simpan Template 

Mengganti Judul Blog dengan Judul Postingan

Apa Fungsinya kita merubah Judul Blog dengan Judul Postingan ?, yahh...kata pakar pakar seo sih agar posting atau blog kita lebih mudah diindeks search engine atau dengan kata lain Seo Frienldy . Caranya adalah sbb :

Download template lengkap , untuk Backup data bila terjadi kesalahan , dalam pengeditan
Beri centang pada  Expand template widget, selanjutnya
Cari Kode Seperti ini     <title><data:blog.pageTitle/></title>
Gunakan CTRL+F untuk search

Kemudian ganti kode yang diatas (Tulisan Berwarna Merah) dengan Kode dibawah ini(Tulisan Berwarna Hijau)     <b:if cond='data:blog.pageType == &quot;index&quot;'>
<title><data:blog.title/></title>
<b:else/>
<title><data:blog.pageName/></title>
</b:if>

Setelah Selesai pengeditan Klik Simpan Template

Cerita X : Cerita Bu Neneng yang Baik Hati

Ini adalah cerita sex-ku yang asyik. Namaku Joko (samaran), tinggiku 171
cm, berat ideal. Akumemiliki wajah yang ganteng dan penis yang lumayan
untuk membuat cewek tegang dan lemas. Aku mempunyai daya sex yang kuat
sekali, sering aku melakukan onani dengan dengan nonton BF dan berkhayal
tubuh sintal dan seksi, lalu memasukkan penisku ke vagina cewek. Aku
sering nonton BF dan diiringi meremas-remas penis sampai aku tegang dan
keluar sperma. Ini biasanya aku lakukan sampai tiga kali dalam satu kali
nonton BF. Aku suka susu cewek yang besar dan kenyal. Aku paling suka
kalau bermain sex dengan posisi aku di bawah dan cewek yang memainkan
vaginanya di atas tubuhku sambil melihat pantat besar dan mulus yang
naik turun dan bergoyang.
Cerita ini bermula dari kecelakaan kecil yang menimpaku. Seperti biasa,
sore hari aku menyempati jalan-jalan dengan motor kesayanganku, dengan
memakai jeans dan jaket kesayanganku, dengan kecepatan yang tidak begitu
cepat. Aku lihat ke kanan dan ke kiri, tiba tiba ada motordari belakang
dengan kecepatan tinggi menyerempetku. Sekilas aku kaget dan berusaha
minggir, tapi sial aku malah jatuh karena tepi jalan itu ada batu batu
kecil yang menyebabkan ban motorku tergelincir dan akhirnya aku tertimpa
motor dan yang menyerempetku tadi langsung tancapgas (kabur)! Setelah
itu aku berusaha bangun dengan pertolongan orang orang di sekitar situ.
Aku terluka di bagian kaki (paha atas, lengan atas dan dada), sebenarnya
luka ini tidak begitu serius bagiku, tapi aku kagum sekali dengan
pertolongan orang-orang di sekitar situ yang penuh simpatik.
Setelah beberapa detik kejadian itu, aku langsung dibawa ke dalam sebuah
rumah dekat kejadian. Ya, seperti biasa menghindari campur tangan
polisi. Setelah aku dimasukkan di dalam sebuah rumah dan motorku di
depan rumah itu, aku disuruh duduk oleh seorang cewek yang ternyata
pemilik rumah itu. "Adik duduk aja di sini, biar ibu ambilin obat ya…"
kata cewek itu dan segera masuk ke dalam kamarnya yang letaknya di
depanku. Perkiraanku cewek ini umurnya sekitar 36, meskipun umurnya ya…
cukup tua sih. Tapi cewek ini bodinya oke sekali deh, tingginya sekitar
165 cm susu yang montok berukuran sekitar 36B dan masih terangkat dengan
menggunakan kaos yang longgar dan pantat yang besar sekali karena pada
waktu itu dia pakai rok pendek sampai lutut dan kelihatan betis yang
mulus dengan ditumbuhi rambut halus. Aku sempat berkhayal untuk memegang
pantatnya yang besar sekali, kuremas-remas sambil memasukkan jariku ke
lubangkenikmatannya.
Setelah beberapa menit dia mencari obat merah di kamarnya, dia memanggil
anaknya, "Sri.. Sri…ambilin minum tuh… buat Mas-nya!" ternyata dia punya
anak perempuan yang namanya Sri, umurnya sekitar 17 tahun. Setelah
berhasil menemukan obat merah, lalu menghampiriku,
"Wah… ini lukanya parah sekali Dik…" sambil membuka tutup obat merah.
"Ah.. nggak kok Bu… biasa aja kok," kataku sambil memperhatikan susunya
yang montok tergelantung itu.
"Nama Adik siapa?" tanya ibu itu sambil meneteskan obat merah di lengan
atasku.
"Joko Bu, aduh pedih sekali… pelan-pelan Bu…!"
"Maaf ya… Dik Joko, oh ya nama ibu Neneng," katanya sambil meneteskan
ulang obat itu di lengan atasku.
Dan tidak disengaja susu Neneng itu menyenggol sikuku."Oh… maaf Bu…
tidak sengaja," tanyaku sambil melihat susu Neneng yang membuat penisku
agak tegang.
Dia hanya tersenyum dan tertawa kecil.
"Lho… Dik Joko yang kena yang mana lagi, kelihatannya celana kamu sobek
tuh…" katanya sambil memegang celanaku yang sobek itu.
"Ya… Bu itu di bagian paha atas dan di dada ini," sambil membuka sedikit
kaos yang kupakai.
"Yang ini harus diobati loh, entar kalau tidak cepet diobati berbahaya,
kaki kamu bisa di luruskan nggak?" kata Bu Neneng.
"Agak linu Bu… karena bagian paha sih…" kataku sambil mencari kesempatan
melihat susu.
Pada waktu itu tepat dudukku tidak memungkinkan aku meluruskan kakiku.
"Ya… sudah ke kamar Ibu dulu situ berbaring biar kakimu bisa
diluruskan," kata Bu Neneng sambil membantuku berdiri dan berjalan.
"Ya… Bu… tapi…?" tanyaku ragu.
Nanti disangka macam-macam, tapi memang niatku untuk berusaha nge-sex
sama Bu Neneng yang montok itu.
"Tapi apa, oh… kamu malu ya… nyantai aja kamu kan teluka dan perlu
pengobatan, sudah masuk ayo Ibu bantu!" sambil melingkarkan tangan kanan
di pundak Bu Neneng aku berjalan.
Dan tidak disengaja waktu berjalan, jari-jariku menyentuh permukaan susu
montok Bu Neneng tapi aku tidak merubahnya, malah kugesek-gesekkan
dengan pelan-pelan agar tidak ketahuan kalau disengaja, terasa puting
susu Bu Neneng yang kenyal menyebabkan penisku tegang. Dan sampailah di
tempat tidur Bu Neneng.
"Sudah Dik Joko, mana yang luka lagi?" sambil duduk di sampingku dan
membelakangiku sementara aku terlentang, otomatis tanganku menempel di
paha mulus Bu Neneng.
"Di dada sini Bu," kataku sambil membuka ke atas kaosku agar kelihatan
lukanya.
"Ya… sudah dilepas dulu kaosnya, entar kalau kena obat ini kan jadi
merah," katanya basa-basi.
Aku langsung buka kaosku, dan sekarang aku telanjang dada.
"Nah gini kan bisa leluasa mengobati kamu," sambil mendekat ke dadaku,
dan otomatis aku melihat dengan jelas susu Bu Neneng tergelantung dan
ditutupi oleh BH yang tidak muat menampung besarnya susu Bu Neneng dan
tanganku makin kurapatkan ke paha dan sekarang sudah di atas paha mulus
Bu Neneng. Dan pada waktu Bu Neneng meneteskan obat, aku terasa pedih
dan dengan refleks tanganku terangkat sehingga menyenggol susu Bu Neneng
dan rok mini Bu Neneng terangkat ke atas, terlihat paha yang mulus itu.
"Maaf ya.. Bu, Joko tidak sengaja kok," pintaku sambil menurunkan
tanganku ke paha Bu Neneng yang mulus dan putih itu.
"Ya.. tidak apa-apa kok," sambil meneruskan meneteskan lagi di bagian
dadaku yang luka.
Sekarang dia agak ke atas dan membungkukkan dirinya, otomatis susu yang
montok itu dekat sekali dengan wajahku itu. Aku tidak tahu ini disengaja
atau tidak, tapi buatku disengaja atau tidak tetap saja membuat penisku
makin tegang. Lama-lama kok posisi Bu Neneng makin membungkuk dan sampai
suatu saat susunya tersentuh dengan mulutku. Wah, terasa kenyal dan
empuk, aku tidak diam saja, aku berusaha pelan-pelan menggeser tanganku
yang di paha mulus Bu Neneng itu, pelan dan pelan karena aku takut Bu
Neneng marah karena ulahku ini. Dengan nafsu yang kutahan, aku
gerak-gerakkan tanganku. Waduh.. paha orang ini mulus sekali, batinku
sambil merasakan penis yang menegang kepingin lepas dari sangkarnya
(CD-ku), dan sampailah aku di pangkal paha Bu Neneng itu dan menyentuh
CD Bu Neneng yang kelihatan memakai CD warna hijau kembang dan kepalaku
bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menggesek susu Bu Neneng
(pelan-pelan), dan sesekali kujilat halus susu montok itu, waktu itu Bu
Neneng diam saja dan terus mengobati dadaku yang luka tapi nafas Bu
Neneng tidak bisa disembunyikan, sering dia menarik nafas panjang untuk
menahan nafsunya.
"Sudah nihhh… Semua luka kamu di dada sudah diobati, sekarang mana lagi
yang terluka?" sambil melihatku dan membiarkan tanganku di pahanya yang
mulus itu."Itu Bu.. di paha atas," jawabku sambil menunjukkan tempat
yang luka."Wow… Ya ini harus dibuka Dik Joko, kalau tidak dibuka dimana
ibu bisa mengobati apalagi kamu pakai jeans yang ketat.. ya sudah
dicopot aja!" jawab Bu Neneng sambil melihat dengan dekat luka dari luar
celanaku dan sesekali lihat penisku yang sudah tegang dari tadi.
"Bu… bisa bantuin copot celanaku, aku tidak bisa copot sendiri Bu, kan
tanganku luka," alasanku agar Bu Neneng bisa lihat penisku dari dekat.
Tiba-tiba Sri datang dengan membawa air putih.
"Bu ini airnya.."
"Ya.. sudah sekarang kamu keluar, e.. jangan lupa tutup pintunya, ibu
mau obati Mas Joko dulu!"
Wah ini kesempatanku untuk melampiaskan sex-ku. Setelah itu Bu Neneng
mulai membuka resleting celanaku dan membuka bagian atas dan aku
mengangkat sedikit pinggulku supaya Bu Neneng mudah melepas celanaku.
Saat membuka celanaku, posisi Bu Neneng membungkuk sehingga mulutnya
dekat dengan penisku yang tegang, dan aku sengaja mengangkat pinggul
yang lebih tinggi dan tersembullah penisku dan mulut Bu Neneng… "Sorry
Bu.. tak sengaja," mulai saat itu penisku mulai tegang sekali karena
cara Bu Neneng membuka celanaku sangat merangsang penisku.
Sambil sedikit menungging dan menggerakkan sedikit pantat yang besar
itu, Bu Neneng melepas celana jeans-ku (apa ini usaha Bu Neneng untuk
merangsang nafsuku), dan akhirnya aku sekarang tinggal pakai CD. Dan
mulailah Bu Neneng mengobati paha atasku dengan posisi nungging
membelakangiku dan sedikit siku tangannya menyentuh penis yang sudah
tegang. Sesekali BuNeneng melihat penisku dan menggesek-gesekkan sikunya
di penisku itu. Dengan melihat gelagat Bu Neneng ini yang memberi
peluang padaku, aku tidak diam aja. Dengan melihat pantat yang besar
menghadap kepadaku, tanganku mulai sedikit meremas-remas dan mengelus
betis lalu menuju ke atas paha yang mulus dan akhirnya aku sampai ke
paling atas (pantat mulus Bu Neneng) dan aku nekat mengangkat rok mini
Bu Neneng ke atas sehingga sekarang terlihat pantat Bu Neneng yang
mulusitu dengan ditutupi CD yang menyelepit di belahan pantat.
Aku mulai mengelus-elus, dan sesekali menarik CD Bu Neneng dan ternyata
sudah basah dari tadi.Lalu aku memainkan jariku di permukaan vagina yang
tertutup CD itu, Bu Neneng mungkin sudah tahu gelagatku itu sehingga dia
merenggangkan kedua pahanya, jadi sekarang terlihat jelas CD Bu Neneng
yang basah. Sekarang aku memberanikan diri untuk melihat secara langsung
vagina Bu Neneng yang kelihatan sudah tidak sabar untuk dimasuki rudalku
yang sudah tegak berdiri. Akumulai menggeser CD Bu Neneng ke kiri dan
kelihatan dengan jelas vagina Bu Neneng yang sudah memerah itu. Lalu aku
perlahan-lahan menggesek-gesekkan jariku di permukaan vagina Bu Neneng
dan dengan reaksi itu nafas Bu Neneng mulai tak beraturan, "Eeehhh…
ahhh… ohhh hemmm.." dan sekarang aku memasukkan jari tengahku ke lubang
kenikmatan Bu Neneng dengan pasti dan kukocok dan terus kukocok dengan
pelan-pelan dan lama-lama semakin cepat dan… "Ah.. oh yes te… rus…
please… ah… ohe.. lebih dalam.. Jook… " Bu Neneng mulai membuang obat
merah itu dan sekarang tidak mengobati lukaku lagi malah sekarang dia
sudah mulai mengocok dan meremas dengan kuat penisku.
Aku kurang puas dengan posisi ini, aku mulai mengangkat salah satu kaki
Bu Neneng ke sampingku dan sekarang posisi 69 yang kudapat, dan vagina
Bu Neneng tepat di depan mulutku. Aku mulai menjilat klitorisnya, dan
kusedot kecil dan kupermainkan pinggir vagina Bu Neneng dengan lidahku
yang indah itu. "Oh.. ya… enak sekali hisapanmu Jok… Oh aughhh ahhh yes…
terus!" dan aku mulai memasukkan lidahku ke dalam lubang yang basah itu
dan terasa asin tapi gurih.
"Oh… ah… terus… kont*l kamu tegang sekali Joko…"
"Ya.. Bu jilat… jilat dong..!"
Tanpa banyak kata Bu Neneng terus melumat habis penisku.
"Oh… ya… ya… terus yang keras lagi…!"
Bu Neneng memang lihai dalam hal oral, tidak satu bagian pun dari
penisku yang terlewatkan dari lidah birahi Bu Neneng. Telur penisku
terlahap juga dengan mulut binalnya. Bu Neneng tidak puas sampai di
situ, sekarang dia mengangkat pantatku lebih tunggi dan kelihatan jelas
lubang anusku dan sekarang mempermainkan lidahnya di lubang anusku. Oh,
terasa geli bercampur nikmat sampai ujung rambut, pada waktu itu juga Bu
Neneng tidak kuat menahan nikmat yang dia rasakan, dan aku tahu kalau Bu
Neneng mau orgasme yang pertama kalinya, aku mempercepat gerakan lidahku
diklitorisnya, dan mempercepat kocokkan jariku di vaginanya dan
akhirnya… "Jo… ah ye.. yea.. aku tidak tahan Jok.. a.. ku.. ke..
luaaar…" dan "Serr… serrr.." terasa semprotan kuat dari vagina Bu Neneng
kena jariku.
Cairan putih kental yang keluar dari vagina Bu Neneng kusedot habis
sampai bersih cairan kenikmatan Bu Neneng tersebut. Dia sekarang
tergeletak lemas di sampingku.
"Bu Neneng masih kuat? Apa cukup saja Bu?" tanyaku disamping memelintir
puting susunya yangkuharapkan sex Bu Neneng kembali lagi dan terangsang.
"Ah.. kamu jantan sekali Jok! Aku tidak nyangka kamu kuat sekali, kamu
belum keluar?" tanya Bu Neneng sambil mengocok halus kemaluanku yang
masih tegang itu.
"Belum Bu! mau lagi atau…"
Belum aku berhenti ngomong Bu Neneng mulai memasukkan penisku ke
mulutnya dan dijilat, disedot dan dikocok, sedangkan aku di pinggir
tempat tidur dan Bu Neneng di atas tempat tidur denganposisi nungging,
dan aku tetap meremas-remas dan sesekali kupelintir-pelintir puting Bu
Neneng itu.
"Aah… terus Bu…! lebih dalam Bu…! yes hemmm Aah… sessttt aahh…"
"Jok… masukin aja ya… aku pingin ngerasain penis kamu ini,"
Lalu aku memutarkan tubuh Bu Neneng dengan posisi nungging dan aku mulai
mengarahkan penisku ke lubang Bu Neneng tapi aku tidak langsung
memasukkan penisku, kugesek-gesek dulu ke permukaan vagina Bu Neneng.
"Ah.. ya… masukkan Jok.. cepet aku tidak tahan nih… oh… ce… pet!"
Aku langsung memasukkan ke lubang Bu Neneng.
"Blesss… sleppp…"
"Ah… ye…" erang Bu Neneng menerima serangan batang kemaluanku.Aku mulai
memajukan dan memundurkan penisku dengan pelan tapi pasti dan sekarang
aku tambah frekuensi kecepatan kocokanku.
"Ah… ya.. penis kamu.. hebat Jok.. keras, te.. rus.. oh.. ssst… ah…"
Aku semakin terangsang dengan erangan Bu Neneng yang menggeliat-liat
seperti cacing kebakar. Aku angkat kaki kanannya untuk mempermudah
jelajah penisku untuk sampai ke rahimnya dan makin mempercepat kocokanku.
"Oh ya.. aughhh.. ssttt teruss.. jangan ber.. henti.. ah… ke.. rass..
Joko.. hebat…"
Dan akhirnya,
"Jok… lebih cepet…! aku mau ke.. luar.. aku.. tidak… oh.. ye.. tahan…
la.. gi.. ah… oh shhh…"
Dan akhirnya dia menyemprotkan cairan kenikmatannya, "Serr.. serr…"
terasa ujung penisku disemprot dengan cairan hangat yang kental.
Sekarang Bu Neneng tergulai lemas di hadapanku. Aku memperhatikan tubuh
Bu Neneng yang montok dengan susu yang besar, dengan telanjang bulat
tanpa sehelai benang pun.
Aku tetap mengocok sendiri penisku biar tetap tegang, dan aku mulai
tidak kuat, mungkin ini waktunya aku untuk mengakhiri permainan sex-ku.
"Bu… permisi, aku mau mengakhiri tugasku ini…"
Dengan mengangkat tubuh Bu Neneng ke pinggir tempat tidur, dan membuka
lebar-lebar paha Bu Neneng sehingga terpampang vagina Bu Neneng yang
masih basah dengan cairan kenikmatannya, aku mulai memasukkan penis dan
mengocoknya.
"Ah.. kau nakal ya.. Jok.. aughhh hemmm.. terus Jok…"
Aku dengan semangat "45″ kukocok habis vagina Bu Neneng dengan
menggesek-gesek klitorisnya dengan jari jempolku untuk mempercepat dia
untuk orgasme ketiga kalinya, dan…
"Bu… aku mau ke… luar.. ah.. ye… di.. mana.. ini… dalam atau di luar… oh
ye!" sambil mempercepat kocokan jari dan penisku.
"Ya.. aku juga Joko… uh.. uh.. hemm… sstt.. kita.. barengan di dalam..
oh ye.."
Bu Neneng tidak kuat lagi ngomong kecuali merem-melek tahan nafsu, dan
akhirnya aku keluar di dalam vagina Bu Neneng, "Crottt.. crottt…" sampai
lima kali semprotan dan dibarengi dengan erangan dan getaran tubuh Bu
Neneng, "Oh… yak.. yes… hemmm…" Lalu kucabut penisku dan
kupukul-pukulkan di permukaan vagina Bu Neneng dengan reaksi Bu Neneng
mengangkat tubuhnya akibat vaginanya kupukul dengan penisku.
"Bu Neneng hebat sekali deh, makasih ya Bu…"
"Kamu juga hebat banget Joko.. Ibu sampai kualahan menghadapi kont*l
kamu yang tegap ini. Wah… kont*l kamu ini harus dibersihkan dulu ya…"
Dia langsung mengarahkan penisku ke mulutnya dan dilahap langsung dan
dikocok-kocok habis.
"Wow… oh… ye.. teruus.. yesss… sseessttt ahh ya…"
Ini membuatku tegang lagi, dan Bu Neneng tak henti-hentinya mengocok dan
mengulum penisku yang tegang sekali.
"Bu… stop.. augghhhh he… stooop aku.. tak.. tahan.."
Dan…
"Croot… croottt…"
Kukeluarkan spermaku untuk kedua kalinya di wajah Bu Neneng, dan aku
tergeletak lemas di atas susu Bu Neneng.
"Nah.. sekarang kan Bu Neneng tidak kalah banget toh.. ya.. dua-tiga lah…!"
"Makasih ya.. Jok… kamu hebat dalam permainan sex, kapan-kapan kita lagi
ya.. sudah kamu tidur dulu deh!"
Lalu aku tertidur sampai malam, dan sebelum aku pulang ke kost-ku,
sempat Bu Neneng minta untuk oral sekali lagi.

End

Monday, November 1, 2010

Lani : Sahabatku Menghamili Aku

"Yantoo … aku hamil !!!" Teriakku di telepon kepada sahabatku Yanto yang
sedang ada di rumah mertuanya di Jakarta.

Ditanganku saat itu ada hasil pemeriksaan USG yang menunjukkan gambar
janin berumur 10 minggu yang sehat. Keputusanku untuk di USG sebenarnya
bukan untuk melihat janin ini tetapi untuk memeriksa perutku karena
beberapa minggu ini aku merasa sering mual-mual dan tidak sembuh-sembuh
dengan obat-obatan biasa. Aku tidak menyangka hubungan badanku dengan
Yanto akan membuatku hamil dengan cepat, padahal hubungan badan
pertamaku dengan Yanto baru menginjak bulan ke-3.

Namaku Lani, seorang dokter di Bandung yang sedang mengambil
spesialisasi mata saat cerita ini terjadi. Umurku saat itu sekitar 36
tahun dan berstatus janda cerai dengan satu anak perempuan ABG. Mantan
suamiku juga dokter ahli penyakit dalam yang belakangan aku ketahui
punya kelainan sex, yaitu bisex (suka perempuan dan laki-laki). Sehingga
karena tidak tahan akhirnya aku minta cerai setelah ayahku meninggal.

Perceraian dan kehilangan ayah membuat aku menjadi gamang, apalagi
bagiku ayahku adalah segala-galanya. Kegamanganku itu rupanya terbaca
dan dimanfaatkan oleh dokter NL, seorang dokter senior yang sangat
dihormati di kotaku yang juga sekaligus menjadi dosen pembimbing program
spesialisku. Dengan pendekatan kebapakannya dia akhirnya bisa membawaku
ke ranjangnya tanpa banyak kesulitan. Affair kami awalnya berlangsung
cukup panas karena kami punya banyak kesempatan bersama untuk
melakukannya di manapun kami ingin, seperti di tempat praktek, di rumah
sakit, di rumah dokter NL (saat ada istrinya) bahkan di dalam pesawat
kecil (dokter NL ini adalah juga seorang pilot).

Karena alasanku berhubungan dengannya adalah untuk mengisi kekosongan
sosok seorang ayah, maka aku pada awalnya tidak begitu peduli dengan
kualitas hubungan seks yang aku dapat yaitu jarangnya aku mendapat
orgasme. Hubungan kami inipun tidak pernah membuatku sampai hamil
walaupun kami sering melakukannya pada periode suburku tanpa pengaman.
Karena perbedaan umur yang cukup jauh, pelan-pelan aku mulai ada rasa
bosan setiap kali berhubungan badan dengan pembimbingku ini. Apalagi
kedekatanku dengan dokter NL ini membuatku mulai dijauhi oleh
teman-teman kuliahku yang secara tidak langsung mulai menghambat program
spesialisasiku.

Akhirnya pada suatu acara reuni kecil-kecilan SMAku, aku bertemu lagi
dengan sahabat-sahabat lamaku, termasuk Yanto. Aku dan Yanto sebenarnya
sewaktu di SMA bersahabat sangat dekat sehingga beberapa teman
menganggap kami pacaran. Tapi setelah lulus SMA, Yanto memilih untuk
berpacaran dengan sahabatku yang lain yang kemudian menjadi istrinya.

Kalau sebelumnya aku lebih sering berhubungan dengan istrinya Yanto,
bahkan kedua anak kami juga bersahabat. Tapi setelah acara reuni itu,
aku juga menjadi sering bekomunikasi kembali dengan Yanto, baik lewat
telepon maupun SMS. Akhirnya Yanto menjadi teman curhatku, termasuk
masalah affairku dengan dokter NL dan entah kenapa aku menceritakannya
dengan detail sampai ke setiap kejadian. Yanto adalah pendengar yang
baik dan dia sama sekali tidak pernah langsung menghakimi apa yang telah
kulakukan, terutama karena tahu persis latar belakangku. Komunikasiku
dengan Yanto sebagian besar sepengetahuan istrinya, walaupun detailnya
hanya menjadi rahasia kami berdua.

Kalau aku sudah suntuk teleponan, kadang-kadang dia mengajakku
jalan-jalan untuk ngobrol langsung sehingga pelan-pelan aku mulai bisa
melupakan afairku dengan dokter NL dan mencoba membina hubungan yang
baru dengan beberapa laki-laki yang dikenalkan oleh teman-temanku.
Sayangnya aku sering kurang merasa sreg dengan mereka, terutama karena
mereka tidak bisa mengerti mengenai jam kerja seorang dokter yang sedang
mengambil kualiah spesialisnya.

Lagi-lagi kalau ada masalah dengan teman-teman priaku ini aku curhat
kepada Yanto yang sebagai anak seorang dokter Yanto memang juga bisa
memahami kesulitanku dalam mengatur waktu dengan mereka.

Hingga pada suatu siang aku mengajak Yanto untuk menemaniku ke rumah
peristirahatan keluargaku di Lembang yang akan dipakai sebagai tempat
reuni akbar SMAku. Aku ingin minta saran Yanto tentang bagaimana
pengaturan acaranya nanti disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia di
sana. Seperti biasa sepanjang jalan kita banyak ngobrol dan bercanda,
tapi entah kenapa obrolan dan canda kita berdua kali ini sering
menyinggung seputar pengalaman dan fantasi dalam hubungan seks
masing-masing. Sekali-sekali kita juga bercanda mengenai "perabot" kita
masing-masing dan apa saja yang suka dilakukan dengan "perabot" itu saat
bersetubuh.

Entah kenapa dari obrolan yang sebenarnya lebih banyak bercandanya ini
membuat aku mulai sedikit terangsang, putingku kadang-kadang mengeras
dan vaginaku mulai terasa sedikit berlendir. Waktu aku lirik celananya
Yanto juga terlihat lebih menonjol yang mungkin karena penisnya juga
berereksi. Dalam pikiranku mulai terbayangkan kembali beberapa hubungan
badan di masa lalu yang paling berkesan kenikmatannya.

Tanpa terasa akhirnya kami sampai di rumah peristirahatan keluargaku,
perhatianku jadi teralihkan untuk memberi pesan-pesan kepada mamang
penjaga rumah dan tukang kebun yang ada di sana untuk mempersiapkan
rumah tersebut sebelum akhirnya membawa Yanto berkeliling rumah. Seperti
waktu SMA dulu, obrolan kami kadang-kadang diselingi dengan saling
bergandengan tangan, saling peluk dan rangkul atau sekedar mengelus-elus
kepala dan pipi.

Setelah selesai berkeliling kami kembali ke ruang tengah yang mempunyai
perapian yang biasa dipakai menghangatkan ruangan dari udara malam
Lembang yang cukup dingin. Di sana Yanto kembali memeluk pinggangku
dengan kedua tangannya dari depan sehingga kami dalam posisi berhadapan.
Pelukannya itu aku balas dengan memeluk leher dan bahunya sehingga kami
terlihat seperti pasangan yang sedang berdansa.

"Mmmmpppphhhh ……" Yanto tiba-tiba memangut bibirku lalu mengulumnya
dengan hangat dan lembut.

Walaupun saat itu aku benar-benar kaget, tapi entah kenapa aku merasa
senang karena dicium oleh orang yang aku anggap sangat dekat denganku.
Dengan jantungku berdebar aku kemudian memberanikan diri untuk membalas
ciumannya sehingga kami berciuman cukup lama dengan diselingi permainan
lidah ringan.

"Ahhh……." Tanpa sadar aku mendesah saat ciuman perdana kami itu akhirnya
berakhir.

Sesaat setelah bibir kami lepas, aku masih memejamkan mata dengan muka
sedikit menengadah dan bibir yang setengah terbuka untuk menikmati
sisa-sisa ciuman tadi yang masih begitu terasa olehku. Aku baru tersadar
setelah Yanto menaruh telunjuknya dibibirku yang sedang terbuka dan
memandangku dengan lembut sambil tersenyum. Kemudian dia menarik
kepalaku ke dadanya sehingga sekarang kami saling berpelukan dengan
eratnya. Jantungku semakin berdebar dan nafasku mulai tidak teratur,
ciuman tadi telah membangkitkan "kebutuhanku" akan kehangatan belaian
laki-laki.

Tanpa menunggu lama, aku mengambil inisiatif untuk melanjutkan ciuman
kami dengan memangut bibir Yanto lebih dulu setelah melakukan beberapa
kecupan kecil pada lehernya. Kali ini aku menginginkan ciuman yang lebih
"panas" sehingga tanpa sadar aku memangut bibirnya lebih agresif. Yanto
langsung membalasnya dengan lebih ganas dan agresif, lidahnya langsung
menjelahi mulutku, membelit lidahku dan bibirnya melumat bibirku. Ciuman
yang bertubi-tubi dan berbalasan membuat tubuh kami berdua akhirnya
kehilangan keseimbangan hingga jatuh terduduk di atas sofa.

Tangan Yanto mulai bergerilya meremas-remas buah dadaku, mula-mulai
masih dari luar baju kaosku tapi tak lama kemudian tangannya sudah masuk
ke dalam kaosku. Kedua cup-BHku sudah dibuatnya terangkat ke atas
sehingga kedua buah dadaku dengan mudah dijangkaunya langsung.
Jari-jarinya juga dengan sangat lihai dalam mempermainkan putting buah
dadaku. Bibir Yanto juga mulai menciumi leher dan kedua kupingku
sehingga menimbulkan rasa geli yang amat sangat.

Terus terang dengan aksi Yanto itu aku menjadi sangat terangsang dan
membankitkan keinginanku untuk bersetubuh. Maklum sejak putus dengan
dosen pembimbingku praktis aku tidak pernah lagi tidur dengan laki-laki
lain. Aku saat itu sudah sangat berharap Yanto segera memintaku untuk
bersetubuh dengannya atau meningkatkan agresifitasnya ke arah persetubuhan.

Aku rasakan vaginaku sudah sangat basah dan aku mulai sulit berpikir
jernih lagi karena dikendalikan oleh berahi yang semakin memuncak.
Sebaliknya Yanto kelihatan masih merasa cukup dengan mencium meremas
buah dadaku saja yang membuat aku semakin tersiksa karena semakin
terbakar oleh nafsu berahiku sendiri.

"To, kamu mau ga ML sama aku sekarang ?" Kata-kata itu meluncur begitu
saja dengan ringan dari mulutku di mana dalam kondisi biasa sangat tidak
mungkin aku berani memulainya.

Hanya dengan melihat Yanto menjawabnya dengan anggukan sambil tersenyum,
aku langsung meloncat dari sofa dan berdiri di hadapan Yanto sambil
melepas kaos atas dan BHku dengan terburu-buru. Melihat itu, Yanto
membantuku dengan melepas kancing dan risleting celana jeansku sehingga
memudahkanku untuk mempelorotkannya sendiri ke bawah. Yanto sekali lagi
membantuku dengan menarik celana dalamku sampai terlepas hingga membuat
tubuhku benar-benar telanjang bulat tanpa ada lagi yang menutupi.

Tanpa malu-malu, aku kemudian menubruk Yanto di sofa untuk kemudian
duduk dipangkuannya dengan posisi kedua kakiku mengangkangi kakinya.
Kami lalu berciuman lagi dengan ganasnya sambil kedua tangan Yanto mulai
meraba-raba dan meremas-remas tubuh telanjangku sebelah bawah..

"Akkhhhhhh …." Aku menjerit pendek saat Yanto memasukkan jari tangannya
ke dalam liang senggama dari vaginaku yang sudah mengangkang di pangkuannya.

Tanpa menunggu lama mulut Yanto juga langsung menyambar putting
payudaraku membuat badanku melenting-lenting kenikmatan yang sudah lama
tidak kunikmati. Yanto semakin agresif dengan memasukkan dua jarinya
untuk mengocok-ngocok liang senggamaku yang membuat gerakan badanku
semakin liar.

Gerakanku yang sudah makin tidak terkendali rupanya membuat Yanto
kewalahan, lalu dengan perlahan dia mendorongku untuk rebah di karpet
tebal yang terhampar di bawah sofa. Kemudian dengan tenang Yanto mulai
membuka bajunya satu persatu sambil mengamati tubuh telanjangku
dihadapannya yang menggelepar gelisah oleh berahiku yang sudah sangat
memuncak. Melihat Yanto memandangiku seperti itu, apalagi dengan masih
berpakaian lengkap, tiba-tiba aku menjadi sangat malu sehingga aku raih
bantal terdekat untuk menutupi muka dan dadaku sedangkan pahaku aku
rapatkan supaya kemaluanku tidak terlihat Yanto lagi.

Sesaat kemudian aku merasakan Yanto membuka pahaku lebar-lebar dan tanpa
menunggu lama-lama kurasakan penisnya mulai melakukan penetrasi.

BLESSSSSS ……kurasakan penis Yanto meluncur dengan mulus memasuki liang
senggamaku yang sudah becek sampai hampir menyentuh leher rahimku.

"Uhhhhhhmmmm …." Aku mengeluarkan suara lenguhan dari balik bantal
menikmati penetrasi pertama dari penis sahabatku yang sudah aku kenal
lebih dari 20 tahun.

"Katanya tadi mau ngajak ML …." Kata Yanto sambil mengambil bantal yang
kupakai menutupi mukaku sambil tersenyum menggoda.

"Sok atuh dimulai saja …." Jawabku sekenanya dengan muka memerah karena
masih malu

CROK … CROK … CROK …CROK …. CROK … ayunan penis Yanto langsung
menimbulkan bunyi-bunyian dari cairan vaginaku.

Yanto mengait kedua kakiku dengan tanganya sehingga mengangkang
dengansangat lebar untuk membuatnya lebih leluasa menggerakkan
pinggulnya dalam melakukan penetrasi selanjutnya.

"Yantooo…..ohhhh…ahhhhh….. nikmat sekali …yantooo…." Aku mulai meracau
kenikmatan.

Kedua kakiku kemudian dipindah ke atas bahu Yanto sehingga pinggulku
lebih terangkat, sedangkan Yanto sendiri badannya sekarang menjadi
setengah berlutut. Posisi ini membuat sodokan penis Yanto lebih banyak
mengenai bagian atas dinding liang senggamaku yang ternyata mendatangkan
kenikmatan luar biasa yang belum pernah aku dapat dari laki-laki yang
pernah meniduriku sebelumnya.

"Adduuhhh …. enak sekali … ooohhh…. … kontolnya ….tooo…..kontolmu enak
sekaliii …" aku mulai meracau dengan pilihan bahasa yang sudah tidak
terkontrol lagi.

Aku lihat posisi Yanto kemudian berubah lagi dari berlutut menjadi
berjongkok sehingga dia bisa mengayun penisnya lebih panjang dan lebih
bertenaga. Badanku mulai terguncang-guncang dengan cukup keras oleh
ayunan pinggul Yanto. Ayunan penisnya yang panjang dan dalam seolah-olah
menembus sampai ke dalam rahimku secara terus menerus sampai akhirnya
aku mulai mencapai orgasmeku.

"Yanntooooooo ….. aaaak …kkk…kuu…udd…da…aahh…mmaau… dddaaapaaat …"
kata-kataku jadi terputus-putus karena guncangan badanku.

Yanto merespon dengan mengurangi kecepatan ayunan penisnya sambil
menurunkan kakiku dari bahunya.

"Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhh ……." Akhirnya gelombang orgasmeku datang
bergulung-gulung, bola mataku terangkat sesaat ke arah atas sehingga
tinggal putih matanya saja dan kedua tanganku meremas-remas buah dadaku
sendiri.

Yanto memberikan kecupan-kecupan kecil saat nafasku masih terengah-engah
sambil tetap memaju mundurkan dengan pelan penisnya yang masih keras
menunggu aku siap kembali karena dia sendiri belum sampai ejakulasi.
Setelah nafasku mulai teratur, aku peluk Yanto lalu kami berciuman
dengan penuh gairah dan kepuasan untuk babak ke satu ini.

"Lani, aku boleh minta masuk dari belakang ?" Bisiknya ditelingaku

"Tentu saja sayang, kamu boleh minta apa saja dari aku …" Aku menjawab
sambil tersenyum manis padanya.

Yanto dengan hati-hati bangun dari atas tubuhku sampai berlutut,
kemudian dengan pelan-pelan dia cabut penisnya dari vaginaku.

"Uhhhhhhhh …." Aku medesah karena merasa geli bercampur nikmat saat
penisnya dicabut.

Aku lihat penis Yanto masih mengacung keras dan sedikit melengkung ke
atas, batang penisnya yang penuh dililit urat-urat terlihat sangat basah
oleh cairan vaginaku. Karpet yang tepat di bawah selangkanganku juga
sangat basah oleh cairanku yang langsung mengalir ke karpet tanpa
terhalang bulu-bulu kemaluanku. Vaginaku memang hanya berbulu sedikit
seperti anak-anak gadis yang baru mau puber, itupun hanya ada di bagian
atas dekat perutku, sehingga aku tidak perlu repot-repot lagi mencukurnya.

"Ayo Lan, balikkan tubuh kamu" Pinta Yanto padaku

Setelah berhasil mengankat tubuhku sediri, aku lalu membalikkan badan
untuk mengambil posisi menungging sebagai persiapan melakukan
persetubuhan doggy style sesuai permintaannya tadi. Aku rasakan Yanto
medekat karena penisnya sudah terasa menempel di belahan pantatku dekat
liang anus. Posisi kedua kakiku dia betulkan sedikit untuk
mempermudahnya melakukan penetrasi.

BLESSSSS ………………... untuk kali kedua penisnya masuk ke dalam liang
senggamaku dengan mulus

"OOOOOHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH …………" Aku melenguh dengan kerasnya
mengikuti masuknya penis tersebut.

Kurasakan penis Yanto mulai bergerak maju mundur, bukan hanya karena
gerakan pinggulnya saja tapi juga karena dengan tangannya Yanto juga
menarik dan mendorong pinggulku sesuai dengan arah gerakan penisnya dia
sehingga aku seperti "ditabrak-tabrak" oleh penisnya.

"Aaaarkkkhhh….aaaarrrrrkkkkkhhhh ….aaarrrkkkhhh " Aku terus-terusan
mengerang kenikmatan

PLEK … PLEK … PLEK … PLEK … terdengar suara pantatku yang beradu dengan
pahanya Yanto.

"AUUUUUHHHHHHH…..AHHHHHHHHH …..OOOUUUUUUUHHHHH" Aku mulai
melolong-lolong dengan kerasnya.

TREK … tiba-tiba kudengar suara pintu yang dibuka.

"Neng Lani … ada apa Neng ?"

Aku mendengar suara penjaga rumahku bertanya dengan suara gugup. Rupanya
dia dikagetkan saat mendengar lolonganku tadi yang membawanya datang
kemari, tapi akhirnya menjadi lebih kaget lagi setelah melihat
majikannya sedang disetubuhi oleh tamunya. Lagi pula siapa yang
menyangka kami akan nekat bersetubuh siang hari bolong di ruang keluarga
yang terbuka dan masih ada penghuni rumah lainnya.

"Ga ada apa-apa kok Pak, saya sedang mijetin Neng Lani nih …"

Kudengar Yanto menjawab dengan tenang tanpa ada nada kaget atau gugup
seolah-olah tidak terjadi apa-apa, bahkan tanpa menghentikan pompaan
penisnya. Hanya kecepatannya saja dikurangi sehingga tidak terdengar
lagi bunyi-bunyian heboh yang berasal dari beradunya kemaluan-kemaluan kami

"Ahhhh …aaaahhh …auhhhhh …"

Aku tetap tidak mampu menahan erangan nikmatku walaupun aku sangat kaget
kepergok sedang bersetubuh oleh Mamang penjaga rumah yang sudah
megenalku sejak kecil

"Aa..aduh punten Neng Lani … punten Agan … Mamang tidak tahu Agan-agan
sedang sibuk begini, Mamang tadi takut ada apa-apa denger suara Neng
Lani seperti menjerit" Lanjutnya dengan muka pucat setelah sadar apa
yang dilihatnya.

"Ya sudah pak, Neng Lani juga ga apa-apa kok" Kudengar jawaban Yanto

"Yaaa Mmmaammang … sayaa gaaaa apa-apa ko..ok….dududddduuuhhhh….ahhhhh
….shhhhh " Aku coba bantu menjawab tanpa melihat ke arahnya tapi malah
jadi bercampur desahan karena aku benar-benar sedang dalam kendali
kenikmatan dari gerakan penis Yanto.

"Nuhun upami kitu mah, mangga atuh Neng … mangga Agan … mangga
lajengkeun deui, Mamang mah mau ke belakang lagi" kata Mamang sebelum
kemudian berlalu menghilang di balik pintu.

PLEK … PLEK … PLEK …PLEK …PLEK …Yanto kembali menggenjot penisnya dengan
kecepatan penuh

"Addduuuuhh….duhhh…terussss….terrruussss …..arrrrkkkkhhhh " Aku kembali
menjerit-jerit dan bahkan mungkin lebih keras lagi dari sebelumnya

CROK … CROK …CROK … CROK….CROK …cairan vaginaku mulai membanjir lagi,
sebagian ada mengalir turun lewat kedua pahaku sebagian lagi ada yang
naik melalui belahan pantatku karena terpompa oleh penis Yanto. Kepergok
oleh penjaga rumah sedang bersetubuh memang menegangkan, tapi sekaligus
membuat aku semakin terangsang setelah melihat sendiri Yanto bisa
mengatasinya dengan tenang.

"Geliiiiii …. Aduuuhh…geli sekaliiiii….uuuhhhhhh
….oohhhhhh….Yantoo….geliii …" Teriakku saat jari-jari Yanto mulai
mempermainkan liang duburku yang telah basah oleh cairan dari vaginaku.

"Sakkkiiiiit ….addudduuuh …. Sakitt….aarrrkkkhhhhh …." Jeritku ketika
Yanto malah memasukkan jari tangannya ke dalam liang duburku setelah
dilumasi cairan vaginaku terlebih dahulu. Saking sakitnya aku sampai
mencoba mengulurkan tangan kananku ke arah duburku untuk menepis
tangannya tapi tidak berhasil.

Tapi seperti waktu pertama kali vaginaku diperawani oleh mantan suamiku
dulu, rasa sakit itu lama-lama hilang dan berganti menjadi rasa nikmat
yang sangat berbeda. Walaupun tidak senikmat penis Yanto yang ada di
liang senggamaku, tapi tambahan gerakan jarinya di liang duburku mulai
membuatku semakin bergairah.

Tiba-tiba kurasakan gerakan Yanto menjadi tidak teratur lagi, penisnya
seperti berdenyut-denyut di dalam liang senggamaku sedangkan nafasnya
seperti ditahan-tahan. Mungkin Yanto akan ejakulasi ? Memikirkan hal
itu, aku menjadi tambah bergairah menuju orgasmeku yang kedua.

"Lan… Lani…sepertinya aku sudah akan keluarrrr …. " Kata Yanto dengan
sedikit tertahan

"T…ttung…ggguu sebentar lagi To …. Lani juga sss … sudah …hhhaampir
dapppatt lagi" Aku berharap bisa orgasme barengan pada saat Yanto
ejakulasi, saat itu tangan kananku sudah kupakai menggesek-gesek
klitorisku sendiri.

"Ahhhhh …" aku menjerit tertahan saat Yanto mencabut tangannya dari
liang duburku

Yanto sekarang memakai kedua tangannya itu untuk menahan pinggulku
sambil menekan-nekankan penisnya yang berdenyut makin kencang.

"LANIIIIII …ga bisa aku tahan lagi …. aaaarrkkkkhhhhhhhhhhhhhhhh" Yanto
mengerang tertahan saat ejakulasi

SSSSSRRRRTTT….SSSSRRRTTTT….SSSSRRRRT…cccrrtt…cccrrr…cccrrtt… aku
merasakan ada tiga kali semburan kuat dalam liang senggamaku diikuti
belasan semburan kecil. Semburan air mani yang hangat akhirnya membuat
aku juga segera mendapatkan orgasmeku yang kedua.

"Yantooo…. Nikmat sekali ….aaaakkkkhhhhh ……duuuuhhh …. benar benar kamu
nikmat" aku mulai meracau dengan suara pelan karena sudah sangat lemas.

Walaupun penis Yanto masih terasa keras setelah ejakulasi, badanku sudah
terlalu lemas untuk bisa menahan tubuhku sendiri dalam posisi
menungging. Aku pasrah saja ketika Yanto membalikkan badanku tanpa
melepaskan penisnya dari tubuhku. Walaupun kami bersetubuh cukup lama,
tapi tidak banyak keringat yang keluar dikarenakan udara Lembang yang
cukup sejuk, tapi aku lihat tubuh Yanto tetap agak berkilat oleh
keringatnya sendiri.

Kami kemudian berciuman dan berpelukan lagi dengan mesra, tidak pernah
terlintas dalam pikiranku sampai pagi tadi sebelum berangkat ke sini
bahwa aku akan bersetubuh dengan sahabat dekatku sendiri. Tapi aku
hampir tidak ada rasa menyesal telah melakukannya, padahal waktu aku
pertama kali disetubuhi dosen pembimbingku ada rasa menyesal yang cukup
dalam.

"Lani, kamu bisa menikmatinya sayang ?" Yanto berbisik di telingaku

"Enak sekali To, baru kali ini aku merasakan nikmat yang luar biasa "
Jawabku dengan lembut " Terima kasih ya To"

Yanto membalasnya dengan kembali memangut bibirku dengan lembut di sisi
lain aku merasakan Yanto mulai menggerakkan penisnya maju mundur lagi
walaupun masih dengan perlahan. Saat itu aku sudah sangat kelelahan
dengan persetubuhan dua babak tadi sehingga tidak siap untuk melanjutkan
ke babak berikutnya.

"To, aku udah kecapean sekarang … kalau kamu masih mau lagi, kita
lanjutkan setelah aku istirahat sebentar. Boleh kan ya sayang ?" Aku
coba menolak Yanto melanjutkan niatnya dengan sehalus mungkin.

Yanto rupanya bisa mengerti dan menghentikan gerakan penisnya, sebagai
gantinya aku melakukan kontraksi pada otot-otot vaginaku untuk
"meremas-remas" penis Yanto yang masih keras saja sampai sekarang
walaupun sudah berejakulasi. Dia kelihatannya sangat menikmatinya sampai
akhirnya berejakulasi lagi walaupun semprotannya jauh lebih lemah dan
lebih sedikit dari yang pertama.

"Uuuuuuuuhhhhhh …." Aku kembali melenguh saat Yanto menarik penisnya
yang mulai melunak.

Kami kemudian melanjutkan obrolan kami tanpa mengenakan pakaian dulu,
tapi aku tetap menutup badanku dengan selimut yang disediakan dekat
perapian karena walau bagaimanapun aku masih ada sedikit perasaan risi
bertelanjang bulat di depan sahabat laki-lakiku. Yanto ternyata sangat
kaget waktu mengetahui aku tidak memakai kontrasepsi dan sangat menyesal
sudah mengeluarkan spermanya di dalam tubuhku. Aku coba tenangkan
dirinya bahwa akulah yang menginginkan dia berejakulasi di dalam
tubuhku, lagi pula selama ini baik mantan suamiku maupun dosen
pembimbingku selalu mengeluarkannya di dalam dan aku hanya bisa hamil di
tahun pertama pernikahan kami.

Aku juga ceritakan bahwa baru dengan Yanto aku bisa dua kali mengalami
orgasme dalam sekali bersetubuh sampai aku merasa kepayahan, padahal
sebelumnya hanya kadang-kadang saja bisa sampai orgasme. Yanto bilang
bahwa dia selalu berusaha mendahulukan pasangan-pasangannya mendapat
orgasme duluan, minimal sekali, sebelum dia berejakulasi. Waktu aku
balik tanya memangnya sudah pernah meniduri berapa wanita, dia hanya
nyengir saja. Sekejap ada perasaan cemburu mengetahui bahwa aku bukan
perempuan satu-satunya selain istrinya yang dia tiduri, tapi aku
berusaha redam perasaan itu karena tujuan hubungan kami bukan seperti itu.

Yanto kemudian memintaku untuk bersedia melakukan variasi hubungan anal
dengannya, aku sempat kaget dan menolak permintaannya. Apalagi bila
mengingat sakitnya liang duburku waktu dia memasukkan jari tangannya,
apalagi kalau penisnya yang besar dan keras itu ? Tapi waktu aku melihat
pandangan memohonnya, hatiku menjadi luluh dan bilang ke dia bahwa aku
tidak mau sering-sering melakukannya karena takut bentuk anusku berubah
drastis.

Kami kemudian sempat tertawa-tawa waktu membahas tentang peristiwa
tertangkap basah oleh Mamang penjaga rumah sedang bersetubuh secara
langsung akibat lolongan dan jeritan erotisku. Aku i memang dikenal oleh
orang lain sebagai orang yang kalem sehingga kalau sampai menjeri-jerit
tentu saja akan mengagetkan mereka. Aku yakinkan Yanto bahwa akan bisa
mengatasi Mamang penjaga rumah supaya tidak menceritakan kejadian ini
kepada keluargaku atau orang lain. Aku cuma menyesal Mamang itu sudah
melihat tubuh telanjangku dalam posisi dan ekspresi yang sangat
merangsang pikiran laki-laki.

Setelah hampir dua jam beristirahat, aku berkata kepada Yanto bahwa aku
belum melihat bentuk persisnya penis dia saat ereksi karena ketika tadi
sedang ereksi hampir selalu berada dalam vaginaku. Yanto balas menjawab
bahwa dia juga tidak sempat memperhatikan dengan teliti bentuk vaginaku,
oleh karena itu dia mengajak aku untuk langsung melakukan foreplay saja
dengan posisi 69. Dengansedikit tersipu aku sempat balik bertanya
tentang apa yang dimaksud posisi 69 karena soal teknik seks aku sangat awam.

Akhirnya kami mulai melakukan posisi 69 itu dengan aku berada di atas
karena benar-benar ingin melihat biangnya rasa nikmatku tadi. Ternyata
memang diameter penisnya Yanto sangat besar saat ereksi walaupun biasa
saja panjangnya. Tetapi yang istimewa adalah tonjolan urat-urat pembuluh
darah yang mengelilinginya sepeti ulir sekrup yang membuat gesekan pada
dinding vaginaku lebih terasa nikmat.

Tak lama kemudian kami mulai bergumul lagi dengan berahi yang lebih
panas karena melakukannya dengan kesadaran penuh bukan lagi karena
reaksi spontan seperti sebelumnya. Aku mengambil posisi di atas dia
sehingga bisa mengendalikan bagian mana saja dari liang senggamaku yang
ingin di sentuh penisnya. Sedangkan Yanto sendiri selain meremas buah
dadaku dan menghisap putingnya, juga mempermainkan kelentitku dengan
jari-jarinya. Akhirnya aku mencapai orgasme pertama yang sangat nikmat
sekaligus lelahkan untuk babak ke dua ini.

Yanto kemudian menagih janjiku untuk berhubungan secara anal sesaat
setelah orgasme pertamaku, sehingga aku kembali dalam posisi menungging.
Sekarang penis Yanto langsung masuk ke liang duburku setelah dibasahi
dulu dengan cairan vaginaku yang menetes. Aku benar-benar merasa
kesakitan yang luar biasa saat penisnya masuk ke dalam lubang duburku
yang ototnya masih kaku. Bahkan aku sempat menjerit jerit kesakitan
sebelum akhirnya mulai merasakan nikmatnya hubungan anal bahkan bisa
sampai mendapat orgasme walaupun tidak hebat penetrasi di vagina.

Setelah orgasme keduaku pada anal, Yanto kembali menyetubuhiku secara
konvensional sampai aku mencapai orgasme ketiga padahal Yanto belum juga
mendapat ejakulasinya . Saat itu aku benar-benar sudah kepayahan
menerima serbuanny sehingga akhirnya aku terpaksa memohon untuk berhenti
karena vaginaku sudah seperti hampir mati rasa. Dengan penuh pengertian
Yanto menghentikan aktivitasnya walaupun terlihat ada rasa kecewa di
matanya.

Karena hari sudah menjelang malam, setelah beristirahat sebentar sambil
berciuman, kami bersiap-siap untuk kembali ke Bandung. Sebelum pulang
aku berwanti-wanti kepada Mamang penjaga rumah supaya tidak perlu
bercerita tentang apa yang dilihatnya karena kami melakukannya sebagai
orang dewasa yang saling membutuhkan dan saling suka satu sama lainnya.
Si Mamang bilang dia mengerti sebagai janda tentunya aku butuh laki-laki
yang menemani saat kesepian.

Dalam perjalanan pulang aku menawarkan ke Yanto untuk melakukan seks
oral di mobil sambil berjalan sampai dia bisa ejakulasi. Aku menawarkan
itu karena merasa bersalah telah menyia-nyiakan sahabatku yang telah
memberikan kenikmatan yang bertubi-tubi ditambah beberapa petualangan
seks yang sangat baru buatku termasuk juga petualangan kepergok Mamang
yang mendebarkan. Yanto tentu saja menyambutnya dengan antusias dan dia
memintaku untuk melepas BHku supaya sambil di oral dia bisa membalas
dengan permainan tangannya pada buah dadaku.
Dengan nekat aku lalu mencopot BHku saat mobil berjalan yang artinya aku
harus melepas kaosku dahulu sebelum melepaskan BHnya itu. Sebuah mobil
sempat memberi lampu jauh saat aku bertelanjang dada, aku tidak tahu
apakah pengemudinya sempat melihat kondisiku saat itu.

Dengan sabar aku mulai melakukan seks oral sedangkan Yanto mengemudikam
mobil Audi A4 Triptroniknya hanya dengan satu tangan saja karena tangan
kirinya dipakai untuk memainkan buah dadaku. Aku sempat bergurau bahwa
penisnya dia sangat "yummie" sehingga tidak membosankan untuk dikulum
dimulut atau digesek-gesek di vagina.

Sekarang aku mengerti kenapa Yanto mau bersusah-susah memainkan buah
dadaku sambil mengemudi karena ternyata rangsangannya pada buah dadaku
itu membuatku banyak melakukan gerakan spontan pada mulutku saat
mengulum penisnya yang membuatnya merasa lebih nikmat. Walaupun aku
sudah berusaha maksimal, tapi Yanto belum saja berejakulasi padahal
sudah dekat rumahku. Tepat ketika mobilnya sudah berhenti di depan pintu
pagar rumahku, Yanto tiba tiba menekan kepalaku dengan kedua tangannya
sampai batang penisnya amblas menyodok masuk ke kerongkonganku dan ….

CRUT…CRUT…CRUT …CRUT … penisnya memuntahkan air mani yang sangat banyak
yang terpaksa aku telan langsung ke perutku

"Aaaaahhhh …." Kudengar suara Yanto mengerang nikmat

Aku coba berontak karena hampir tidak bisa bernafas, tapi Yanto hanya
melonggarkan sedikit tekanan tangannya

Crut …crut …crut …crut … masih ada beberapa semprotan lagi yang keluar
dari penisnya berceceran di dalam rongga mulutku, malah ada beberapa
yang menempel di bibir, pipi dan hidungku.

Ketika aku bangun dari pangkuan Yanto, aku lihat si Bibi sedang membuka
pintu pagar dan anakku menunggu di pintu garasi. Dengan terburu-buru aku
menyambar tisu yang disodorkan oleh Yanto yang sedang tersenyum nakal.
Aku hanya sempat menghapus mukaku sekenanya karena takut anakku datang
mendekat dan melihat penisnya Yanto yang tetap mengacung setelah
ejakulasi. Saat aku turun dari mobil malah aku lupa membawa BHku yang
ada di jok belakang.

Waktu aku mencium anakku, dia sempat berkomentar kenapa mamanya
lengket-lengket dan mulutnya rada ada bau amis.

Yanto memang memberiku banyak petualangan seks yang tidak pernah aku
bayangkan sampai umurku yang bisa dibilang matang ini walaupun frekuensi
pertemuan kami tidak terlalu sering. Aku hanya berhubungan badan dengan
dia saat aku benar-benar membutuhkannya atau karena Yanto memang
memintanya. Aku ingin tetap hubungan kami hanya sebagai sahabat karena
hubungan persahabatanku dengan Yanto jauh lebih berharga dari pada
kebutuhanku mencari pasangan hidup.

Setiap kali berhubungan badan aku selalu memaksanya untuk ejakulasi di
dalam, aku tidak mau ejakulasinya di luar ataupun memakai kondom
walaupun dia sangat khawatir karena merasa spermanya sangat subur.
Akhirnya kekhawatiran Yanto terbukti karena kemudian aku hamil, bahkan
sampai mencapai usia 10 minggu janin yang aku kandung. Asalnya aku tidak
percaya sampai diperiksa oleh temanku sesama dokter dengan menggunakan
alat USG. Karena hubunganku dengan Yanto belum mencapai 3 bulan, berarti
janin itu berasal dari hubungan seks kami yang awal-awal.

Dengan umur kandungan yang sudah besar, akhirnya aku minta tolong
temanku untuk merekomendasikan dokter koleganya di luar kota untuk
membantu menggugurkannya. Aku tidak mau di kuret di kotaku karena dapat
menimbulkan kehebohan besar.

Dengan pengalaman ini akhirnya aku berinisiatif pasang IUD sehingga
Yanto tetap bisa leluasa berejakulasi di dalam tubuhku seperti keinginanku.

Petualanganku denga Yanto akhirnya terhenti setelah dua tahun ketika ada
dokter yang melamarku dan memboyongku ke luar kota. Bukannya aku tidak
ingin setia pada suamiku yang baru, tapi sebenarnya aku sering
merindukan belaian keintiman khas Yanto mengingat dasar hubungan seks
kami yang istimewa. Walaupun dia selalu menjawab komunikasi dariku, tapi
dia tidak pernah lagi memintaku untuk melayaninya seperti yang dulu dia
lakukan kalau dia sedang membutuhkan seks. Padahal tinggal dia minta,
aku pasti pergi ke kotanya dengan cara apapun hanya untuk melayani
kebutuhannya. Tapi kalau kebetulan aku tahu dia sedang ada di kotaku,
Yanto tidak pernah menolak kunjunganku ke hotelnya untuk melepas rindu
akan siraman air maninya.

End

Sungguh Puaskah Istri Anda ?