Jadilah Lelaki Perkasa, Seperkasa Kuda Putih

Saturday, September 4, 2010

Nyonya Astrid

Kejadian ini sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, Ketika aku baru beberapa bulan pindah ke sebuah perumahan yang masih sepi dari penghuni.
Jika malam itu adalah malam sial bagiku, mungkin benar… pasalnya siangnya Puspa istriku berangkat ke Semarang dijemput mas Tono kakak lelakinya, untuk menghadiri pernikahan sepupu mereka, sedangkan aku memang ga ikut karena ga mungkin meninggalkan tugas kantor yang memang sedang tinggi loadnya di akhir tahun ini… Yang pertama malam ini aku bakal kesepian di rumah, yang kedua baru tadi pagi menstruasi Puspa istriku berhenti, seharusnya malam ini aku dapat jatah setelah selama hampir seminggu kejantananku ga ketemu musuh … Makanya sepulang kantor aku mampir ke Glodok tempat yang memang sehari-hari aku lewati… kubeli beberapa filem bokep… pikirku lumayan untuk menghabiskan week end ini…. Menjelang memasuki gerbang perumahan yang masih sepi dari penghuni ini, hampir aku mengumpat keras, ketika ingat kalao DVD playerku masih berada di tukang service yang seharusnya sudah bisa diambil beberapa hari yang lalu dan sekarang, gila aja kalau aku harus putar balik menembus kemacetan Jakarta hanya untuk mengambil benda itu…. Aaaah… aku ingat mas Budhi satu-satunya tetangga terdekatku yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku, aku bisa pinjam dia… kembali aku bernafas lega. Sehabis mandi, segera aku bertandang ke rumah sebelah, aku sempat heran, ga biasanya masih jam 20.30 ruang tamunya sudah gelap, padahal mobil Avanza hitam miliknya ada di rumah, berarti mas Budhi ada dirumah… simpulku sederhana…
“ Mas Budhii… maaas…” panggilku dari luar pagar, sesekali kuketok-ketokkan gembok ke pagar besi, sehingga terdengar suara besi beradu nyaring… Agak lama kulihat lampu ruang tamu menyala, tapi pintu tidak segera dibuka, kulihat tirai sedikit tersingkap dan ada yang mengintip dari dalam, tumben pake diintip segala…. Biasanya mas budhi langsung buka pintu.
“ Eeeiii… Bimooo… sorry ya…ayo masuk pagar ga dikunci kan..?” seru suara wanita yang sangat aku kenal, mbak Astrid istri mas Budhi keluar dari pintu dengan pakaian tidurnya dilapisi sweater
“ Lho mas Budhi mana mbak… sudah tidur..? waduu jadi ngganggu neeh..?” kataku agak kikuk ketika aku sudah duduk di ruang tamu itu mas Budhi ga muncul..
“ Mas Budhi sedang tugas ke Medan Bim… eh mau minum apa neeh..?” mbak Astrid wanita berwajah cantik ini menawarkan minum yang membuatku semakin jengah untuk duduk berlama-lama disitu, pasalnya mba Astrid dengan pakaian tidur yang tipis memperlihatkan bayangan celana G-String putihnya… aku yakin bagian atas jika tak tertutup sweater akan membayang BH nya… atau mungkin ga pake… yang aku tahu ibu ini buah dadanya sangat montok… Sebenarnya antara aku dan mbak Astrid sudah akrab sekali, bahkan kalo bercanda kadang-kadang agak seronok… tapi itu justru jika ada di depan mas Budhi atau ada Puspa istriku.. ketika berdua begini aku jadi kaya mati angin… sementara mba Astrid masih bersikap wajar…
“ Waah.. ga usah repot-repot mbak… aku hanya mau pinjem DVD player aja kalo bisa…” kataku dengan agak sungkan…
“ Ada kok Bim… bentar aku lepasin kabel-kabelnya yah… sendirian di rumah… mau nonton film jorok ya..?” Tebak mbak Astrid yang tengah berlutut di lantai mencabuti kabel DVD player yang berada dibawah kolong membelakangiku sehingga pantatnya yang montok itu ngepress di baju tidurnya yang tipis dengan celana G-String, terlihat pantat montok itu bagaikan tanpa celana…mau ga mau kejantananku yang sudah seminggu ga ketemu musuhnya merespon positif... mulai menggeliat bangun.
“ Waaah… eeehhh… anuu… buat nonton video pengantin temen yang baru diedit” jawabku sempat gagap…
“ Alllaaaaaa… ga usah ngelesslaaah… iya juga gapapa… udah gede ini…haa..haaa..” potong mbak Astrid sambil meletakkan benda elektronik tipis ini di meja… dengan posisi aga menunduk ini mataku menangkap dua gundukan montok putih mulus tanpa lapisan dari sela-sela sweaternya di dalam daster yang memang berleher rendah… dan mbak Astrid seolah ga merasa akan hal itu…
“ Haaa…haaa… mbak Astrid nuduh neeh… nonton bokep sendirian ga seru… kalo ditemenin mbak Astrid baru seruuu…” jawabku mulai terbawa gaya sembarangannya mbak Astrid…
“ Heeee..??? bener ya Bim..? seumur-umur aku belom pernah nonton bokep… soalnya mas Budhi ga pernah ngasih… kamu ada kan filemnya..?” cerocos mbak Astrid tanpa bisa kujawab… dan sebelum aku bisa jawab…
“ Ya udah sana kamu duluan aku ngunciin pintu sama matiin lampu dulu….” Tanpa menunggu jawabanku ibu muda ini sudah menghilang ke belakang…
Dengan gontai aku melangkah pulang sambil nenteng DVD player milik mba Astrid... pikiranku jadi kacau, karena mba Astrid kepengen ikut nonton bokep sama aku... Sampai dirumah sambil masangin kabel-kabel ke monitor aku bingung sendiri… aku bakal mati gaya, nonton bokep berduaan dengan istri orang… Lain semasa bujangan dulu, kalo nonton bokep justru cari pendamping yang bisa dijadikan pelampiasan… Lulu anak Fakultas Psikologi, pendampingku setia nonton bokep… ujung-ujungnya kami saling melampiaskan walaupun hanya sampe oral sex… Lulu ga mau aku setubuhi, katanya waktu itu dia masih perawan… Trus beberapa lagi Titiek, Anita, Mimi… kalo mereka bertiga memang sudah dapat predikat ayam kampus. Bahkan pernah aku dikeroyok mereka bertiga semaleman…
“ Heeeiii aku datang…! ko malah ngelamun Bim…?” Suara mba Astrid membuyarkan lamunanku. Mba Astrid datang dengan membawa tentengan berupa beberapa minuman kaleng dan makanan kecil..
“ Busyeeet bekelnya banyak bener…? Mau sampe pagi…?” seruku untuk menetralisir kebingunganku… Waddduuu… aku pikir mba Astrid tadi berganti baju yang lebih pantas, ternyata masih menggunakan baju tidur yang sama… ini namanya sial atau keberuntungan siiih..???
“ Heh..? siapa tau sampe pagi…? Bim aslinya… sebelum kamu datang tadi aku di dalam rumah sendirian, tuh takut… tau ga siih..? sepi bangeeet… makanya aku bawa banyak bekel, ntar kita ngobrol aja sampe pagi… setuju..?” celoteh mba Astrid panjang lebar bener-bener ga berubah sikapnya, ada atau ga ada suaminya…
“ Sekarang mau nonton yang mana dulu..? silakan nyonya Astrid menentukan pilihan…” kataku sambil menyodorkan segepok piringan DVD lengkap dengan sampulnya…
Pilihan mba Astrid rupanya tepat, pilihan filmnya masih yang XX... jadi sewaktu nonton kami masih bisa sambil santai bercanda mengkomentari adegan demi adegan, walaupun 2 jam kemudian setelah film pertama selesai aku lihat wajah mba Astrid agak memerah dan sesekali merapatkan sweaternya seolah-olah menyembunyikan dadanya yang montok....
“ Mmm... apa sih yang dikuatirkan mas Budhi dengan aku nonton Bokep, kalo beginian sih ga begitu ngaruh aku rasa Bim...?” kata mba Astrid sedikit arogan.. sambil milih-milih lagi film yang akan ditonton berikutnya...
“ Yang bener aja deeeh Nyonya Astrid..?? kalo nontonnya sama suami orang..?” Jawabku menggodanya.. entah kenapa aku bisa menemukan panggilan Nyonya Astrid untuknya yang selama ini ga pernah muncul..
“ Haa... haaa... suami Puspa sih anak kemaren sore mana berani macem-macem..?” sahutnya setengah menantang dengan bibir manisnya dicibirkan padaku... Memang usia mba Astrid lebih tua 2-3 tahun dari aku, makanya sering ledekannya kepadaku selalu menyangkut umur dan apalagi memang wajahku kata orang adalah baby face, innocent... seandainya orang tau kelakuanku di jaman kuliah dulu... pernah kencan ranjang dengan dosen manajemen... pernah pacarin anaknya sekaligus nidurin mamanya... ibu kospun pernah aku embat... mungkin akan lain kesannya padaku dan kebetulan Puspa istriku aku dapatkan ketika aku sudah di Jakarta dan sama sekali tak tahu masa laluku yang brengsek...
“ Biim... iihh asyik banget tuh mereka yak..?” Gumam mba Astrid yang memang dasar mulutnya ga bisa diem... melihat adegan pose 69 kayanya heran banget...
“ Emang kamu belum pernah mba..?” sahutku polos...
“ Eeeh... enggak... no comment.. sssst diem aja ya sekarang..” kudengar mba Astrid menjawab gagap dan suaranya agak bergetar.... Benar saja suasana jadi hening, apalagi volume film memang kecil supaya ga kedengaran dari luar.... Tapi kini yang aku dengar adalah suara nafas mba Astrid yang tidak teratur, seolah-olah terengah-engah... sedangkan aku juga sudah terhanyut dengan adegan syuuur yang terpampang di monitor dan film kali ini adalah XXX... celana pendekku yang gombrong, di bagian selangkanganku sudah menggembung akibat batang kemaluanku sudah menegang kencang, makanya kutumpangkan bantalan kursi agar ga terlihat oleh mba Astrid... awalnya aku ga begitu memperhatikan mba Astrid, karena aku sangat terbawa oleh adegan dan wajah-wajah seksi di film itu... tapi beberapa kali kudengar mba Astrid menghela nafas panjangnya... dan beberapa kali merubah posisi duduknya, seolah gelisah... mulailah aku memperhatikan tingkah wanita yang menahan gejolak birahi.... kulihat sering nyonya muda ini meregangkan jari-jari tangannya.... dan kulihat wajah yang cantik berkulit putih ini makin memerah, seperti layaknya orang habis minum arak... Satu setengah jam berlalu... sesekali kulirik mba Astrid yang duduk di sebelahku persis... kegelisahannya kulihat semakin hebat... dan hilang sudah komentar-komentar konyolnya seperti pada film pertama... Pada suatu saat menjelang film ini selesai... mata kami bertemu pandang... kulihat sorot mata yang aneh dari mba Astrid... sementara kurasa matakupun sudah aneh juga... dimata mba Astrid..
“ Biiiiiimmmm....” Kudengar suaranya mendesah memanggil namaku
“ Ya mbaa...” jawabku tak kalah lirih, dalam pandanganku saat itu yang dihadapanku bukanlah Astrid sebagai wanita yang sudah kukenal baik...tetapi Astrid sebagai wanita yang sangat menggairahkan sedang menggelar libidonya... entah siapa yang memulai... tahu-tahu tangan kami sudah saling menggenggam... kuremas lembut jari-jari halus mba Astrid. Mba Astrid menundukkan wajahnya ketika wajahku mendekat, kusibakkan rambut panjangnya yang jatuh menutup sebagian wajahnya... kembali dia mengangkat wajahnya dan wajah kami hampir tak berjarak, hembusan nafasnya terasa hangat dihidungku.. matanya menatapku penuh makna... Entah keberanian dari mana yang mendorongku mengulum bibir indah yang setengah terbuka milik mba Astrid... aah reaksi positif kudapatkan... kulumanku dibalasnya, sejenak bibir kami berpagutan mesra, sampe akhirnya dia melepaskan pagutan bibirnya dengan nafas terengah-engah.
“ Aaah Biimo... jangan... jangan diteruskan... bahaya...” katanya setengah berbisik sambil berusaha melepaskan rengkuhanku... tak akan kulepaskan nyonya cantik ini... kepalang tanggung..pikirku.
“ Kenapa mba..? apanya yang berbahaya..?” sahutku sekenanya sambil mendaratkan kecupan bibirku di lehernya yang jenjang... sejenak dia meronta-ronta kecil berusaha menghindari kenakalan bibirku pada leher mulusnya, sementara tanganku tengah meremasi kemontokan buah dada yang ternyata memang tak mengenakan bra... beberapa kali tangan halusnya menepiskan tanganku dari dadanya... tapi segera tanganku kembali ke tempat semula, sampai sesaat kemudian perlawanannya berhenti dengan sendirinya, berubah dengan desah nafas memburu dan geliatan tubuhnya... serangankupun kukendorkan.. kecupan bibirku kuperlembut demikian juga remasan tanganku berubah menjadi elusan lembut pada kulit payudaranya dan gelitikan mesra pada puting susunya yang sudah mengeras...


“ Bimo... ssss... aku ngga tahaaan..” bisiknya pendek, dekat sekali suara itu di telingaku... ooowww... daun telingaku dikulumnya... dijilatinya...
“ Ikuti aja mba... nikmati aja..” bisikku mesra sambil menarik tali daster yang tersimpul di pundaknya, sehingga memperlihatkan kesempurnaan bukit montok di dadanya.. begitu mulus dengan puting mungil mengeras berwarna merah kecoklatan... kudaratkan jilatan ujung lidahku pada benda itu, tubuh mba Astrid menggeliat sambil mendesah panjang...
“ Ssssssshhh... aaahh... Biimm..ooo.. aku.. takuut... mmmmmhh” Tak kupedulikan lagi kalimat-kalimat mba Astrid, karena nafsukupun sudah di ubun-ubun apalagi menghadapi kenyataan ternyata tubuh ibu muda ini memang tak layak untuk dilewatkan sesentipun... desah-desah resah berhamburan dari mulut mba Astrid, geliatan tubuhnya sudah menunjukkan kepasrahannya kepada birahinya sendiri... tangannya mulai melingkar di leherku, betapa rambutku digerumasinya, betapa kuatnya jari lentik mba Astrid mencengkeram kulit punggungku, manakala puting susunya kukulum dalam waktu yang lama....
“ Duuuh... ampuuunn.....” desahnya lirih, perutnya yang rata berkulit putih dihiasi lubang pusar berbentuk bagus ini menggeliat erotis, manakala bibirku mengecupinya... Tubuh atas mba Astrid sudah kutelanjangi, entah kemana daster dan sweaternya jatuh ketika kulempar tadi. Tubuhnya setengah rebah dengan kepala berada di sandaran tangan sofa, sementara kulihat tangannya meremasi payudaranya sendiri... Mba Astrid mengerang panjang dengan menggoyang-goyangkan kepalanya yang mendongak ketika lubang pusarnya kukorek-korek mesra dengan lidahku... tubuhnya menggeliat erotis sekali, rupanya disitu adalah salah satu daerah sensitifnya...
“ Owww... Biimmoo... jangaaan... aku ga mauu...” bisiknya sambil tangannya menahan daguku... ketika kukecupi gundukan kemaluannya dari balik celana G Stringnya yang sudah tampak bercak basah...
“ Kenapa mbak..?” tanyaku lembut..
“ Ssssshh... aku belum.. pernah... maluuu..” jawab mba Astrid, sambil berusaha menarik tubuhku ke atas... Busyeet jadi diapain aja tubuh indah ini sama mas Budhi..? Selanjutnya tanpa permisi celana G String itu kusingkap ke samping.... Fuuuiii..! sebuah gundukan kecil yang dibelah tengah dengan rambut kemaluan ga begitu lebat... sebuah bentuk luar kemaluan wanita yang masih orisinil... indah sekali belahan yang basah kulihat berdenyut-denyut... tak ayal lagi lidahku terjulur menyapu cairan yang membasahi belahan indah itu....
“Aaaaahhh... Biiiimmoooo... kamu bandeeelll...” Erang mba Astrid dengan tubuh semakin hebat menggeliat... sepasang kaki panjangnya semakin terkangkang lebar... kaki sebelah kiri terjuntai ke lantai yang beralaskan karpet tebal dan kaki sebelah kanannya ditumpangkan di atas sandaran sofa... setelah G Stringnya kutanggalkan. Rambutku habis diacak-acak tangannya yang gemas yang kadang mencengkeram erat kulit pundakku... hal ini membuat aku semakin kesetanan ditambah aroma vaginanya yang segar... bibirku menciumi bibir vaginanya selayaknya mencium bibir mulutnya dan lidahku menyelip-nyelip memasuki liang yang basah itu sampai sedalam-dalamnya.... sesekali kukulum clitoris mungil yang sudah mengeras...
“ Biiimmmmooo.... ampuuuunn... nikmaaaaat bangeeettt...” mba Astrid merintih-rintih dengan suara seperti orang mau menangis... pinggulnya bergerak-gerak merespon ulah lidah dan bibirku di selangkangannya...
“ Ooowwh... Biiimmm... sudaaaaahhhh aku ga tahaaaaan...” Suara mba Astrid semakin memilukan... Tiba-tiba tubuh mba Astrid bangkit dan mendorong lembut tubuhku yang tengah bersimpuh di karpet tebal kuikuti saja sehingga tubuhku telentang di karpet sedangkan tubuh mba Astrid mengikuti arah rebah tubuhku sehingga tubuhku kini ditindihnya.... payudaranya yang montok dan kenyal itu kini menempel ketat di dadaku... wajah kami begitu dekat dan wajah wanita yang tengah diamuk birahi memang akan semakin terlihat memikat, seperti wajah mba Astrid ini kulihat semakin mempesonaku...
“ Bimooo... ayo masukin yaaah..?” Desisnya dengan bibir indahnya kulihat gemetar...
Alis indah di wajah cantik mba Astrid mengerinyit dan matanya yang agak sipit semakin menyipit sayu...
“ Ouught... pelaaan Biiimm... ssssss... nyeriii...” keluhnya... sambil memepererat pelukannya... kurasakan liang sanggama ibu muda ini sempit sekali ketika palkonku berusaha menerobosnya... Tapi ibu muda ini sangat bersemangat untuk menuntaskan gairah binalnya... walaupun dengan ekspresi yang nampak kesulitan dan kesakitan.... diiringi geal-geol pinggulnya... akhirnya amblaslah seluruh batang kemaluanku tertanam di liang sanggamanya yang sempit..
“ Sssshhh... gilaaa... gede banget punya kamu... hhh... hhh... tunggu Biimm..” Tubuh sintal mba Astrid ambruk ke tubuhku ketika penetrasi itu berhasil... kudiamkan sejenak tubuh sintal itu diam tak bergerak di atas tubuhku dengan nafas memburu tak beraturan... besutan-besutan kecil kurasakan ketika mba Astrid mulai menggerakkan pinggulnya... dan gerakan itu semakin keras... dan besutan-besutan itu semakin nikmat kurasakan.... aku ga bisa menahan diri lagi untuk mengcounternya... aku mulai mengayun batang kemaluanku..
“ Biimmooo... oooohhh...sssshhhh” hanya itu desah-desah kalimat pendek yang sering terucap dari mulut mba Astrid yang dengan gemulai menarikan pinggulnya... diiringi erangan dan rintihan kami yang sangat ekspresif... sesekali bibir kami berpagutan liar... remasan gemas tanganku pada payudara montok yang terayun-ayun itu seakan tak mau lepas...
“ Biimm... Biimmoooo... ssssshh... aku hampiiirrr... ookkkhhh..” gerakan tubuh mba Astrid semakin tak beraturan... dan rasanya akupun ga perlu menahan bobolnya tanggul spermaku untuk lebih lama...
“ Tunggu mba..” desisku pendek.. dan bagaikan dikomandoin tubuh kami bisa serentak meregang dan aku terpaksa mengayunkan batang kemaluanku sehebat-hebatnya un tuk menghasilkan kenikmatanku secara maksimal...
“ Aaaaarrgh.. Biiiimmooo... aammmpuuuunn...” Tubuh mbak Astrid menggelepar hebat di atas tubuhku... betapa kejam kuku jarinya mencengkeram dadaku sebagai pelampiasan meledaknya puncak birahi betinanya....
Hening.... sesaat setelah terjadinya ledakan hebat... kulihat jarum jam didnding menunjukkan angka 11.30... tubuhku tetap rebah telentang... sedangkan tubuh mba Astrid tergolek disamping membelakangiku... Ketika deru nafas memburu kami mulai mereda... dan ketika keringat birahi kami mulai mengering.... kupeluk tubuh sintal mba Astrid dari belakang, tapi dengan lembut tanganku diangkat dan dipindahkan ke tubuhku sendiri... dan tubuh mbak Astrid beringsut menjauhiku... kudekati lagi tubuh itu dan kudaratkan kecupan di punggung berkulit mulus itu... kudengar isak tangisnya....
“ kenapa mba..?” tanyaku lembut... lama ga ada jawaban, isak tangis mba Astrid makin keras... kubelai lembut pundaknya.. tapi tanganku ditepisnya...
“ Bimo... aku sedih dengan kejadian ini... aku malu sama kamu.. dan aku merasa sudah melukai hati Puspa dan mas Budhi...” terdengar suara mba Astrid serak...
“ Malu kepadaku..? untuk apa malu...? justru aku merasa lebih dekat dan bahagia sama kamu mbak.. walaupun sebenarnya ga seharusnya dengan jalan seperti ini... selama kita bisa memposisikan masalah ini pada porsinya, kurasa mas Budhi ataupun Puspa ga akan merasa kita sakiti..” jawabku panjang lebar..
“ Aku takut mereka tahu apa yang telah kita lakukan..” sahut mba Astrid dengan suara yang semakin tenang...
“ Mereka ga akan tahu selama kita ga memberitahu... dan kondisi kita saat ini adalah seorang lelaki dan wanita yang punya keinginan yang harus terpenuhi saat ini juga... kita tidak bisa menghindari mbak..” sahutku lagi, sambil kutumpangkan tanganku dipinggul bulatnya... mba Astrid tak bereaksi walaupun masih mempunggungiku...
“Lebih tepatnya harus terpenuhi malam ini... bukan hanya sesaat...” sahut mba Astrid sambil membalikkan badannya, sehingga kembali payudara montoknya menempel di dadaku... matanya menatapku tajam penuh tantangan.. dan kini wajah sembab sehabis menangis ini tersenyum manis sekali...
“ sepanjang malam ini mba..?” tanyaku menegaskan, sambil kulingkarkan lenganku ke pinggangnya yang raping...
“ Yah... bukankah malam masih panjang Bim...?” bisiknya manja.. wajahnya ditengadahkan ke wajahku. Kupagut bibir bagus itu dan disambut dengan sangat bergairah.... Gairah liar birahi betina mba Astrid meletup dahsyat, aku benar-benar tak menyangka ibu muda yang kalem dan polos bisa berubah sedemikian agresip... Batang kemaluanku rupanya benar-benar membikin ibu muda ini gemas setengah mati... tak hentinya tangan berjari lentik ini mengocok dan meremas-remasnya..
“ Bimo aku pengen “ini” kamu..” bisiknya manja sambil meremas lebih keras saat mengucap kata “ini”...
“ Emang bisa..?” sahutku menggoda... wooww.. perutku digigit kecil mba Astrid dengan gemas...
“ Boleeeh enggaaa..?” rajuknya
“ Iyaaaa... habisiiin deeeh..” jawabku sambil kuremas pantat bulatnya... Awalnya kurasakan mba Astrid masih coba-coba... dengan sabar aku memberi arahan, karena beberapa kali palkonku terkena giginya... lumayan sakiit... Selanjutnya, tubuhku dibuat melintir dan menggeliat merasakan permainan lidah dan lembutnya bibir mba Astrid membasuk batang kemaluanku... kadang-kadang dengan nekadnya batang kemaluanku ditanamnya dalam-dalam sampai ujung kerongkongannya... sampai mba Astrid tersedak..
“ Eeeii.. jangan diabisin mbaa..” kataku lembut... melihat mba Astrid tersedak..
“ Abis gemeees aku Bim... punya kamu panjaaang bangeeet, gede lagi...” bisiknya manja, memberi alasan...
Akhirnya kami membuat posisi 69, mba Astrid menindihku dengan posisi mengangkangi wajahku... Kami sepakat dengan posisi ini sampai mencapai orgasme... kembali erangan dan rintihan kami bersahutan.. gerak tubuh kami sudah tak berirama, detik-detik akhir mba Astridpun kurasakan... beberapa kali kaki panjangnya meregang dan besotan mekinya di bibirku makin liar... aksi lidah dan bibirnya pada batang kemaluankupun makin liar, membuatku semakin mendekati titik kulminasi...
“ Eeeeeehhhkkk... Biiiimmmm... niiiikkkkmaaaattnyaaa...” rengek mba Astrid panjang, tubuhnya menggeliat hebat... kedua kakinya meregang.. besotan meki ke mulutkupun makin hebat... lidahku kujulurkan jauh kedalam liang becek yang kurasakan mengedut-ngedut...
“ Oooowww.. mbak akuu.. hampiiirr...” Desahku selang tak lama setelah palkonku kembali dihajar lidah dan mulut mba Astrid... busyeeet, bukannya melepaskan kuluman bibirnya di palkonku, mba Astrid malah memperhebat aksi mulut dan lidahnya ditambah kocokan tangannya pada batang kemaluanku... Apa dayaku... tak ampun lagi diiringi eranganku, tubuhku mengejang keras mengantarkan semprotan spermaku bertubi-tubi di dalam mulut mba Astrid yang makin lengket seperti lintah menempel di tubuhku... tak luput kantong pelerku diremas-remas lembut, seakan spermaku ingin diperas habis... setelah dirasa tetes terakhir... buru-buru mba Astrid bangun dari tubuhku dan menyambar botol aqua yang tadi dibawa dari rumah dan diteguknya sampai tandas...
“ Iiih... rasanya aneh... banyak banget, kentel lagi... kenyang deh aku Bim... tapi enaak kok, asin ada gurihnya..” komentar mba Astrid dengan pengalaman barunya... Kembali kami berbaring di karpet tebal merasakan lemasnya tubuh...
Setelah mengguyur tubuh dengan shower di kamar mandi kembali kami rebahan santai di karpet tebal di depan televisi, saat itulah mba Astrid menceritakan rahasia kehidupan ranjangnya dengan mas Budhi, yang monotone, mas Budhi terlalu polos dan lurus dalam soal sex.. sedikit-sedikit takut dosa. Dalam hal kepuasan sex sebenernya mba Astrid tidak merasa kekurangan, karena selain mas Budhi memang punya stamina tubuh yang bagus dengan hidup sehatnya, di sisi lain memang mba Astrid adalah type wanita yang gampang tersulut gairah seksualnya dan dengan cepat mencapai puncak orgasme...
“ Pernah hari Minggu pagi aku liat mas Budhi sedang nyuci mobil dengan kaos yang basah, sehingga nempel dibadannya yang atletis... seeerrrr... langsung.. basah juga deh CD ku... dan langsung kutarik mas budhi kekamar dan aku telanjangi.... haa.. haaa.. dapet dua kali...” tutur mba Astrid sambil menyuapi aku dengan anggur yang dibawanya tadi... Kembali kami nonton bokep yang belum kami tonton... belum seperempat jam Asia Carrera beraksi...
“ Biiiimmm... nggaaa tahaaan neeh... keburu pagi...” Desah mba Astrid manja dengan nafas yang sudah ngos-ngosan... apalagi dengan membengkaknya batang kemaluanku yang dari tadi ga lepas dari genggamannya.
“ Mba Astrid pingin diapain..?” bisikku sambil kudaratkan kecupan di lehernya
“ Pingin kaya di film itu...” jawabnya manja... tanpa disuruh mba Astrid menelungkupkan tubuhnya di sofa dengan kaki berlutut di karpet agak mengangkang... kuminta pantatnya ditunggingkan sehingga gundukan bukit kemaluannya mengarah keluar... mba Astrid kembali mengerang gemas ketika palkonku mulai merentangkan otot liang sanggamanya... ketika pantat montok itu mulai menggeol gemulai dan ketika batang kemaluanku mulai memompa... mulailah kuda jantan dan kuda betina ini berpacu birahi... Aku membuktikan mba Astrid memang wanita yang cepat mencapai orgasme dan cepat kembali berkobar birahinya... dan mba Astrid menghendaki berganti posisi setelah dia mencapai orgasme... saking seringnya dia mencapai orgasme... hampir-hampir kami kehabisan posisi dan di setiap posisi mba Astrid mengaku bisa mencapai orgasme dengan kenikmatan yang maksimal... Ketika pada orgasme mba Astrid yang kelima, aku juga merasakan orgasmeku hampir sampai... mba Astrid menyadari itu...
“ Biimm... tumpahkan dimulutku sayaaang... aku suka peju kentel kamu...” rengeknya disela-sela nafas kuda betinanya... dan dengan bernafsu sekali mba Astrid menyambut semburan demi semburan sperma kentalku dengan mulut terbuka lebar dan lidah yang menggapai-gapai... Tubuh mba Astrid kembali rebah telentang di karpet setelah menenggak setengah botol aqua... rambutnya yang panjang tampak kusut dan basah oleh keringatnya, tubuhnya yang berkulit putih juga tampak berkilat basah oleh keringat... terlihat sinar matanya yang kecapekan dan wajah agak memucat... Ketika aku keluar dari kamar mandi setelah kembali mengguyur tubuhku dengan shower, kulihat mba Astrid tertidur pulas dengan bibir tersenyum... kulihat jam menunjukkan jam 03.45... kurebahkan tubuhku disisinya... kubelai lembut rambutnya yang masih basah oleh keringat birahi... kukecup keningnya yang sedikit nonong... kuamati tubuh telanjang ibu muda ini, sebuah struktur yang sempurna... wajahnya berbentuk oval, bibir berbentuk bagus, hidung mancung berbentuk ramping, mata agak sipit tapi memanjang dengan kelopak besar... bulu mata yang lentik dan panjang... alisnya seperti di gambar... postur tubuhnyapun proporsional antara tinggi dan beratnya... sekitar 165 – 170 cm... buah dadanya yang montok kutaksir cup branya B.... memang masih kenyal menggemaskan dengan puting susu bak perawan, mencuat mungil ke depan, berwarna merah kecoklatan...
perutnya yang rata dengan lubang pusar berbentuk indah... pinggang ramping menyambung dengan pinggul yang padat ditopang sepasang kaki yang panjang berbentuk atletis.... Rupanya aku tak dapat menahan kantukku... Aku membuka mata kulihat mbak Astrid bersimpuh di sebelah tubuhku, dengan pakaian sudah lengkap membalut tubuhnya, rupanya dia yang membangunkanku kulihat jam dinding menunjukkan pukul 05.15...
“Biim, aku pulang dulu yaa..?” kata mbak Astrid, wajahnya sudah segar, rupanya sempat mencuci mukanya sebelum membangunkanku...
“ Eeeh... buru-buru sih..? kan masih pagi... “ jawabku sambil menarik pinggangnya...
“ Bimo kamu gila... liat tuh udah terang...” protesnya ketika tubuhnya menindih tubuhku akibat tarikan tanganku dan aku memang gha peduli karena seperti biasa kalo pagi hari, batang kemaluanku pasti ikut menggeliat bangun saat aku bangun.... kembali kugumuli tubuh indah yang kini sudah berdaster lengkap dengan sweaternya....
“ Aaaahhh Bimmooo... ga mauuk... bauuuk ga enak..” protesnya manja tapi tidak menolak bahkan kudengar desisan panjang ketika batang kemaluanku kembali menggelosor memasuki tubuhnya...
“ Biiimmo... asli aku ga mampu menolak yang begini iniii ooohhkk...” desisnya gemas merasakan pompaan batang kemaluanku ke liang sanggamanya yang sempit...
“ Ayyuu Biiimmm... keburu mbak Suti dateng...” bisik mbak Astrid di deket telingaku, setelah orgasmenya yang kedua, mbak Suti adalah tukang cuci yang tiap pagi datang ke rumahnya....
“Owwkk.. Biiimmm... giiilllaa kamuuu... aku berasaa lagiii...” rengek mbak Astrid lirih.. kurasakan tubuhnya mulai menegang...
“ Mmmhh... tuungguuu mbaakk..” Kupergencar pompaanku... tubuh mbak Astrid makin kuat menegang.. memperkuat pelukan dan cengkeramannya di tubuhku...
“ Oooowww... nggaaaaa tahaaaan Biiiimmm...!” teriakan keras mba Astrid menghantarkan geleparan tubuhnya yang tak terkontrol hal ini ternyata mendorong dengan cepat semburatnya spermaku kembali memenuhi liang sanggama mba Astrid.... Kembali kami terkapar di atas karpet... kali ini mbak Astrid ngga lagi telanjang... hanya dasternya aja tersingkap sampai ke perut... Setelah nafsnya kembali teratur mbak Astrid beringsut bangkit sambil memungut celana G Stringnya dimasukkan ke kantong dasternya...
“ Udah ya Bim... makasih banget untuk malam panjang ini... aku ga akan melupakan malam indah sama kamu ini, tapi aku berharap cukup sekali ini saja... jangan sampai kita ulang ya Biim... janji ya..?” kata mbak Astrid sendu... akupun mengangguk saja, ngga ada kalimat yang mampu terucap dari mulutku... Kuantar mbak Astrid sampai pintu ruang tamu, karena aku masih telanjang bulat... Nggak sampai setengah menit mba Astrid menutup pintu rumahnya, kulihat dari balik kaca jendela mba Suti tukang cuci itu datang...
Memang kejadian itu ga terulang lagi sampai saat ini dan hubungan keluarga kami tetap seperti sediakala sampai akhirnya mba Astrid dan Puspa istriku melahirkan anak dengan waktu hampir bersamaan, tapi kejadian semalam itu rupanya benar-benar menjadi ikon yang hidup di hati aku dan mbak Astrid... beberapa kali kami melakukan phone sex setiap kali mbak Astrid curhat tentang kehidupan seksnya yang tetap monotone... hanya sebatas itu...

Friday, September 3, 2010

Gabung dengan MILIS CERITA X SERU

Belakangan ini ada banyak pertanyaan "Bagaimana cara bergabung dimilis X Seru?". Untuk bergabung dengan milis X seru anda dapat mengirimkan mail kosong ke alamat 

ceritaxseru-subscribe@googlegroups.com. 


Anda juga dapat berkunjung ke 









http://groups.yahoo.com/group/ceritaxseru/ 






untuk melihat arsip milis yang ada, dan dapat bergabung ke milis melalui halam tersebut. Ato cukup isi email di kolom bawah ini dan klik joins now!!






Subscribe to ceritaxseru




"Milis cerita x seru merupakan wadah pencinta cerita dewasa untuk dapat saling mengirim cerita, photo dan pengalamannya secara langsung antar anggota!!! Milis ini juga merupakan cadangan buat jaga-jaga kalo situs2 porno diblok pemerintah.... Dengan bergabung cerita x akan dikirim melalui email kamu secara langsung tanpa harus membuka situs dan kamu juga bisa ikut mengirim cerita yang akan dibaca semua anggota milis..."



Jangan lupa juga gabung ke halaman facebook Cerita X seru cukup klik suka/like!!







Created By





Deenamaku "Dee K"

Hot & Wild Private Party...

Gallery Photo



Resigzed ImageClick this bar to view the full image.

Resigzed ImageClick this bar to view the full image.
Resigzed ImageClick this bar to view the full image.
Resigzed ImageClick this bar to view the full image.
Resigzed ImageClick this bar to view the full image.
Resigzed ImageClick this bar to view the full image.
Resigzed ImageClick this bar to view the full image.
Resigzed ImageClick this bar to view the full image.
Resigzed ImageClick this bar to view the full image.
Resigzed ImageClick this bar to view the full image.
Resigzed ImageClick this bar to view the full image.
Resigzed ImageClick this bar to view the full image.
Resigzed ImageClick this bar to view the full image.

Nikmatnya Bermain Dengan Istri Polisi Hutan

Aku sangat menyukai pergi dengan menggunakan mobil, terutama untuk daerah daerah yang belum pernah aku kunjungi dengan demikian aku dapat melihat banyak pemandangan alam serta juga untuk menjaga stamina tubuh. Karena dengan berkendaraan jarak jauh, pastilah dibutuhkan stamina yang tinggi dan ini aku sukai. Ada lagi hal hal kecil yang aku sukai karena dengan berkendaraan seorang diri, kadang kadang aku bisa mendapat rejeki berupa perempuan cantik yang kerap kali kutemui diperjalanan. Hal ini aku alami ketika suatu hari aku pergi ke Semarang dengan mengendarai Mercedesku, semuanya berjalan dengan lancar, aku sempat mampir dibanyak tempat untuk sekedar bersantai dan menikmati pemandangan alam. Tetapi tanpa diduga disatu jalan pintas ditengah hutan yang aku sendiri kurang mengenal, aku terjebak pohon roboh. Aku jadi kuatir, karena kota terakhir yang aku lewati sekitar 50 km dibelakangku, padahal saat itu hari sudah agak sore, dengan kesal aku keluar dari mobil dan menunggu sebentar, aku sudah hampir memutuskan untuk kembali kekota Pekalongan ketika kulihat ada sepeda motor datang menghampiriku. Aku segera melambai lambaikan tangan memintanya berhenti. Ternyata penumpangnya adalah seorang pria dan wanita, si pria seorang laki laki dengan tubuh tinggi besar berkumis melintang dan wajah yang kasar sekali, rupanya adalah seorang polisi hutan, hal ini kulihat dari seragamnya, yang membuat aku berdebar adalah perempuannya. Si perempuan benar benar menarik, badannya montok, tinggi besar, berkulit putih bersih dan wajah yang menarik sekali. Hidung mancung, mata yang bulat dan bibir penuh menampilkan sensualitas seorang wanita. Si pria dengan tersenyum senyum yang aku lihat memuakkan sekali menanyakan apa keperluanku, kukatakan apa dia bisa membantu menyingkirkan pohon yang roboh itu, kukatakan kalau aku mau bayar berapa saja asal pohon dapat disingkirkan dan aku dapat meneruskan perjalanan. Dengan wajah yang dibuat sesopan mungkin dia menyatakan bahwa dia sanggup untuk mencari orang untuk meminggirkan pohon tersebut. Mendengar itu aku langsung mengeluarkan uang 200 ribu untuk kuberikan padanya.Kukatakan bahwa itu untuk uang muka, nanti kalau pohonnya sudah minggir akan aku beri lagi. Menerima uang itu dia segera bertindak, disuruhnya perempuan cantik yang rupanya isterinya itu untuk menunggu dan dia segera pergi dengan sepeda motornya. Aku bersorak girang karena ditinggal berdua dengan perempuan secantik ini ditengah hutan sepi, tetapi aku tak berani semberono karena aku belum mengerti bagaimana perempuan ini.
Ternyata Narti nama isteri polisi hutan itu gampang diajak bicara bahkan sedikit genit, apalagi ketika kutanya hal yang agak agak berbau porno, berkali kali dia tertawa terkikik mendengar perkataanku. Aku benar benar suka dengan perempuan ini, giginya putih dan rata sekali, susunya besar sekali, karena kuperhatikan dari tempat dudukku, susunya yang putih itu kelihatan menonjol sekali. Suasana yang sepi membuat nafsuku jadi naik keotak, ******ku juga ngaceng tapi aku masih kuatir kalau Narti menolak. Akhirnya tanpa pikir panjang aku pura pura kencing dipohon dekat mobilku, aku yakin kalau dia memperhatikan aku, karena cara kencingku sengaja sedikit kuarahkan padanya. Benar saja Narti tertawa melihat ******ku dan dia melengos, melihat reaksinya itu aku makin berani, secara sengaja aku mendekati dia sementara ******ku yang ngaceng masih kukeluarkan dari celana. "Apa punya suamimu sebesar ini Nar ?" tanyaku penuh nafsu. Narti mendorong badanku sambil berkata "Lebih besar lagi, sana Pak, nanti ada yang lihat lho !" Aku tertawa sambil memasukkan ******ku, aku menganggap kata katanya tadi itu hanya omong kosong, aku yakin dia juga suka denganku, hanya mungkin dia masih takut kalau ketahuan suaminya yang memang wajahnya galak dan licik itu. Dalam hati aku sudah memutuskan untuk malam ini bermalam dirumahnya saja, karena aku benar benar ingin menikmati tubuh Narti yang montok itu. Rupanya keberuntungan masih berpihak kepadaku, karena ternyata ketika Hartono suami Narti kembali, dia belum menemukan cukup orang untuk memindahkan pohon itu, mungkin agak malam baru ada cukup banyak orang. Dengan nekad aku bertanya apakah aku bisa bermalam saja dirumahnya agar besok pagi bisa melanjutkan perjalanan Seperti yang kuduga, dengan senang hati Hartono mengajak aku kerumahnya, aku menarik nafas lega, ketika aku menoleh ke Narti, Narti yang berdiri dibelakang suaminya tersenyum mendengar aku akan bermalam dirumahnya. Kukeluarkan lagi uang 200 ribu dan kuberikan pada Narti dengan pesan untuk belanjanya. Narti ragu ragu menerima, tetapi aku paksa saja. Hartono sangat senang, dia terus tersenyum dan berbicara panjang lebar, tetapi tak bisa menghilangkan kesan kejam dan licik dari wajahnya. Aku sendiri sempat heran, kenapa orang secantik Narti bisa dikawin pria seperti Hartono ini.
Kuiikuti sepeda motor Hartono yang bergoncengan dengan Narti untuk menuju rumahnya, ternyata rumah mereka agak jauh ditengah hutan jati yang menjadi tanggung jawab Hartono sebagai polisi hutan. Rumahnya cukup besar tetapi masih terbuat dari bambu, dikelilingi oleh pohon jati yang besar. Meskipun terpencil, ternyata rumah itu memiliki tenaga listrik yang berasal dari diesel kecil. Menurut Hartono tenaga listrik diperlukan untuk komunikasinya dengan pusat pengawasan hutan di Semarang. Aku mendapat kamar yang kecil dengan dinding dari bambu, tetapi keadaan kamar itu cukup rapi dan bersih. Ketika aku dan Hartono sedang berbincang, kulihat Narti lewat dengan hanya memakai sarung yang menutupi buah dadanya, aku menelan ludah melihat kemulusan pundaknya serta susunya yang menyembul keluar dari balik sarung itu, aku pura pura tak memperhatikannya, karena aku kuatir kalau Hartono jadi curiga kepadaku. Aku terus mengharap agar Hartono mau keluar sebentar agar aku bisa mencari alasan untuk mengintai Narti yang sedang mandi tetapi Hartono terus saja berbicara tanpa henti. Akhirnya aku jadi bosan dan putus asa, aku memperkirakan bahwa tak mungkin aku dapat menikmati tubuh Narti karena suasananya yang tak memungkinkan ini. Sampai Narti masuk kembali setelah dari kamar mandi, aku masih terus bercakap dengan Hartono. Narti kuperhatikan sedang mempersiapkan makan malam untuk kami. Makan malam sederhana sekali tetapi Narti rupanya pandai memasak dan lagi pula dia ingin menjamuku sehingga segala persediaan makanan dikeluarkan. Selesai makan aku segera minta permisi untuk tidur. Rupanya kamarku bersebelahan dengan kamar Narti dan Hartono, karena tadi kulihat Narti keluar masuk kekamar sebelah begitu juga dengan Hartono. Setelah kurapatkan pintu aku duduk diatas tempat tidur sambil melamun, saat itulah pandanganku tertambat pada sebuah lubang kecil didinding bambu pembatas kamarku dan kamar Hartono, letaknya agak tinggi sehingga aku harus mencari kursi untuk memanjat. Setelah aku yakin bahwa pintu kamarku telah terkunci rapat, barulah aku berani mengintai kekamar sebelah, aku jadi berdebar debar, karena aku bisa melihat pemandangan dikamar sebelah dengan sangat leluasa sekali, aku dapat melihat tempat tidur mereka dan semua bagian kamar itu tanpa ada yang tersisa. Kubayangkan seandainya nanti Narti berganti pakaian atau apa dikamar itu, pasti aku dapat melihatnya dengan jelas. Kuperhatikan Narti dan Hartono masih bercakap cakap diluar, kadang kadang kudengar tertawa Narti yang merangsang, mungkin mereka sedang bercumbu, agar mereka tak curiga kalau aku tak tidur, maka aku sengaja mematikan lampu kamarku.
Tak lama kemudian kudengar pintu kamar Hartono dibuka dan langkah kaki memasukinya, aku segera berjingkat menaiki kursiku dan mengintai, kulihat Narti didalam kamar sendirian, entah dimana Hartono, tetapi tak lama kemudian Hartono masuk kekamar dan menyusul Narti yang sudah berbaring diatas tempat tidur itu. Hartono kulihat merangkul Narti dan berbisik bisik. Setelah itu keduanya bangkit dari berbaringnya dan sama sama membuka pakaiannya, hatiku berdebar keras. Seperti yang kuduga, mereka akan bersetubuh ! Tubuh Narti yang telanjang bulat betul betul membuat liurku bertetesan, mulus dan montok sekali, susunya seperti semangka dengan pentil yang kecil sekali sementara perutnya langsing dengan selangkangan yang penuh oleh jembut hitam keriting. Tetapi yang paling membuat aku takjub adalah Hartono ! ****** Hartono benar benar hebat, panjangnya melebihi panjang ******ku ditambah lagi dengan ujungnya yang membengkak seperti jamur besar sekali. Aku membayangkan betapa leganya Narti merasakan tusukan ****** sebesar itu. Dasar orang desa, setelah sama sama telanjang, Narti langsung tidur mengangkang sambil tangannya merentangkan liang nonoknya sendiri, Hartonopun langsung menindih Narti dan menuntun ******nya keliang nonok Narti. Aku melotot melihat nonok Narti yang merah tua menganga menanti ****** Hartono, begitu ****** Hartono masuk kedalam liangnya, Narti langsung mengangkat kedua kakinya tinggi tinggi sambil direntangkan lebar lebar, rupanya dia juga merasa kalau ****** suaminya terlalu gede. Dengan sangat cepat Hartono menggerak gerakkan pantatnya maju mundur sementara Narti dengan cepat pula memutar mutar pantatnya mengimbangi gerakan Hartono ! Suara Narti yang merintih rintih membuat aku jadi makin bernafsu, ******ku rasanya tak tahan ingin mencari nonok untuk kusetubuhi, tetapi sungguh sial nasibku, ditengah hutan tanpa nonok, aku justru harus menyaksikan adegan persetubuhan yang seperti ini. Hartono dengan kasar terus merojok nonok Narti sambil mulutnya menciumi susu Narti, tiba tiba saja Hartono melenguh seperti kerbau yang digorok dan gerakan pantatnya mengejang ngejang. Aku yakin kalau Hartono sudah memuntahkan air maninya. Setelah berdiam diri beberapa saat, Hartono langsung menggulingkan dirinya kesamping sehingga ******nya yang sekarang sudah mengkerut itu tampak menjijikkan karena penuh dengan lendir air maninya. Kuperhatikan wajah Narti ternyata tak sedikitpun terlihat kepuasan diwajah itu, justru yang terlihat adalah rasa kecewa, rupanya Narti belum berhasil mencapai kepuasannya sementara Hartono sudah loyo. Narti berbaring terlentang dengan kakinya terkuak lebar menampakkan nonoknya yang berkilau karena lendir dari ****** Hartono, tangannya diam diam menggosok gosok susunya. Hartono sendiri, tampaknya tak perduli dengan isterinya, ia menarik selimut dan langsung tidur dengan membelakangi Narti.
Aku merasa inilah saatnya bagiku untuk beraksi, tetapi apakah aku harus masuk kekamar Narti, bukankah itu terlalu berbahaya. Narti sendiri kelihatan melamun sambil tetap berbaring telanjang bulat, ia menggoyang goyangkan tubuh suaminya tetapi tak ada reaksi dari Hartono, dengan kecewa ia memukul punggung Hartono dan tiba tiba saja ia bangkit dan turun dari tempat tidurnya, diraihnya sarung diatas tempat tidur serta dilibatkan kebadannya lalu ia keluar dari kamarnya. Aku berdebar, apakah mungkin ia akan masuk kekamarku ini ? tetapi dugaanku keliru, rupanya Narti menuju kebelakang rumahnya untuk membersihkan nonoknya.
Akupun segera menyusul keluar dari kamarku, saat itu aku hanya memakai sarung yang dipinjamkan Narti sebagai selimut, didalamnya akupun tak memakai apa apa. ******ku yang ngaceng membuat sarungku jadi menonjol seperti orang sunatan. Nafsuku yang sudah memuncak membuat aku jadi nekad luar biasa disamping aku yakin sekali bahwa Narti pasti mau main denganku, permasalahannya bagaimana agar suaminya tidak tahu. Ketika aku sampai dekat sumur, Narti baru saja keluar dari kamar mandinya, aku langsung memeluknya sambil berbisik agar jangan ribut. Narti terkejut melihatku, tetapi seperti yang sudah kuduga, ia diam saja ketika tanganku meremas remas susunya serta juga nonoknya yang masih basah itu, ketika kubisikkan agar dia menungging supaya bisa memasukkan ******ku, Narti menurut saja, dengan posisi seperti itu, ******ku dengan lancar berhasil memasuki liang surga Narti, rasanya peret sekali karena Narti baru saja mencucinya, aku meraba raba mencari susunya dan setelah ketemu langsung kuremas dengan penuh nafsu. Narti sendiri juga membantu rasa nikmatku dengan mengelus elus buah pelirku sementara dia sendiri asyik memutar mutar pantatnya. Tiba tiba Narti berbisik "Pak ayo dikamar Bapak saja, nanti kelihatan orang kalau disini !" Dengan penuh rasa kuatir aku bertanya "lalu kalau suamimu bangun gimana ?" Narti menjawab, "tak mungkin dia bangun, kalau tidur seperti orang mati " Dengan mengindap indap aku dan Narti masuk kekamarku, dari omongan Narti aku yakin kalau Narti seringkali memasukkan laki laki dalam rumahnya, jadi meskipun kelihatannya sangar, ternyata Hartono seorang pria yang bodoh, aku tersenyum membayangkan hal ini. Dikamar, Narti langsung berbaring dan menguakkan pahanya, ******ku dituntunnya memasuki nonoknya, aku sangat menyukai suasana seperti ini, perempuan montok dengan tubuh putih mulus, nonok yang merekah lebar siap menerima serangan ******ku. Begitu ******ku masuk semua, Narti menyuruhku diam dan dia yang mulai memutar mutar pantatnya pelan pelan tetapi mantap sekali. Aku memejamkan mata merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Narti ini, kuciumi bibirnya dan dia juga balas menggigiti bibirku sambil memeluk badanku. Rasanya masih baru beberapa menit Narti memutar pantatnya ketika tiba tiba ia mencakar punggungku dan merintih pelan. Kurasakan nonoknya mengejang saat ia memuntahkan kenikmatannya. Aku diam saja, karena memang aku kepengen dia puas barulah nanti aku yang akan mencari kepuasanku sendiri. Benar saja, setelah dirasanya sudah lega dan puas, Narti menyuruhku mulai menggoyangkan ******ku, aku sendiri sudah sekian lama menahan nafsuku yang bergejolak, maka tak lama aku sudah memuntahkan air maniku, kutancapkan dalam dalam ******ku supaya benar benar dapat kunikmati kepuasan ini. Narti terus mengelus elus punggungku dan menciumi aku. Rupanya dia benar benar senang denganku disamping dia berhasil mencapai kepuasannya. Saat itulah dia berbisik kepadaku, agar supaya besok pagi berpura pura badan sakit semua, pasti nanti Hartono menyuruh Narti untuk memijat, saat itu bisa main sekali lagi. Kucabut ******ku dan kuminta Narti kembali kekamarnya setelah sebelumnya kuberi uang 300 ribu, dengan pelan pelan Narti keluar kamarku dan menuju sumur untuk cuci lagi. Aku menutup pintu kamarku dan tidur pulas yang kuingat adalah besok pagi harus berpura pura sakit agar supaya Narti bisa memijatku, dan begitu Hartono berangkat, aku bisa menggarap Narti dengan bebas !

Paginya aku terbangun setelah mendengar suara orang berbicara dikamar sebelah, ketika kulirik jam tanganku rupanya hari sudah pukul 7 pagi, aku segera meloncat dari tempat tidurku, tetapi aku segera insaf bahwa pagi ini aku harus berpura pura sakit agar supaya bisa dipijat Narti. Dengan bergaya seolah olah kelelahan aku keluar dari kamar dan langsung duduk dikursi meja makan, Hartono segera menyambutku dengan ucapan selamat paginya yang memuakkan, Narti sendiri juga menyapaku dengan menanyakan apakah tidurku nyenyak. Aku menjawab bahwa badanku sakit semua entah karena apa. Seperti yang sudah diperkirakan Narti, dengan cepat Hartono menyatakan kalau sebaiknya aku tiduran saja biar nanti dipijit isterinya. Aku hanya mengangguk seolah olah kesal dengan keadaanku, padahal dalam hatiku aku bersorak gembira. Kulirik Narti yang hanya memakai sarung dilibatkan diatas buah dadanya itu, aku yakin dia tak memakai apapun dibalik sarungnya itu, aku meneguk teh yang tersedia dimeja dan segera kembali kekamarku. Sedang aku berbaring melamun menantikan Hartono berangkat, tiba tiba kudengar suara Hartono dan Narti yang berbisik bisik dikamar sebelah. Ketika kuintip, astaga...... benar benar jago si Hartono itu, karena ternyata dia sempat lagi mendayung nonok Narti. Dengan hanya memelorotkan celana panjangnya sementara Narti telanjang bulat, dengan rakus Hartono menyodok nyodokkan pantatnya sementara tangannya meremas remas pantat isterinya yang bulat dan montok itu. Kaki Narti tergantung diatas pundaknya. Aku hanya dapat berkata dalam hati, awas nanti kalau kamu sudah pergi pasti akan kulumat habis isterimu itu.
Tak lama kemudian kudengar Hartono mengetuk pintu kamarku dan ketika kupersilahkan masuk, Hartono masuk bersama Narti yang kulihat tambah cantik dan segar setelah disetubuhi suaminya itu. Dengan sopan Hartono pamit dan sekaligus juga mengantarkan Narti yang akan memijat aku. Dengan berpura pura menahan rasa sakit, aku mengambil dompetku dan memberikan lagi uang pada Hartono sebanyak 500 ribu, kusuruh dia memakainya untuk memindahkan pohon yang menghalangi jalan itu. Mata Hartono mendelik melihat begitu banyak uang yang kuberikan, ia segera bergegas berangkat tanpa menoleh lagi pada isterinya, aku yakin kalau uang tersebut paling hanya diberikan sebagian kecil pada mereka yang memotong pohon, sisanya masuk kantong pribadinya. Kutoleh Narti yang saat itu sudah memakai daster, tanpa basa basi aku langsung merengkuh tubuh Narti yang montok itu kedalam pelukanku dan langsung kucium bibirnya yang penuh itu. Narti memeluk tubuhku erat erat, Narti sangat pandai memainkan lidahnya, terasa hangat sekali ketika lidahnya menyelusup diantara bibirku. Tanganku asyik meremas susu Narti yang kencang dan padat itu, pentilnya kupuntir puntir membuat Narti memejamkan matanya karena geli. Dengan sigap aku menarik daster Narti, dan seperti biasanya Narti sudah tak mengenakan apa apa dibalik dasternya itu. Tubuh Narti benar benar aduhai dan merangsang seleraku, tubuhnya tinggi besar, putih dengan susu yang luar biasa montoknya ditambah nonok yang berjembut lebat mencembung. Kalau tadi malam aku tak terlalu jelas melihatnya, maka kali ini aku benar benar puas, ketika kubentangkan bibir nonoknya, itilnya yang sebesar biji salak langsung menonjol keluar. ketika kusentuh dengan lidahku, Narti langsung menjerit lirih. Aku langsung mencopot celanaku sehingga ******ku langsung mengangguk angguk bebas. Ketika kudekatkan ******ku kewajah Narti, dengan sigap pula Narti menggenggamnya dan kemudian mengulumnya. Kulihat bibir Narti yang tebal itu sampai membentuk huruf O karena ******ku yang besar itu hampir seluruhnya memadati mulutnya, Narti sepertinya sengaja memamerkan kehebatan kulumannya, karena sambil mengulum ******ku ia berkali kali melirik kearahku. Aku hanya dapat menyeringai keenakan dengan servis Narti ini. Mungkin posisiku kurang tepat bagi Narti yang sudah berbaring itu sementara aku sendiri masih berdiri disampingnya, maka Narti melepaskan kulumannya dan menyuruhku berbaring disebelahnya. Setelah aku berbaring dengan agak tergesa gesa Narti merentangkan kedua kakiku dan mulai lagi menjilati bagian peka disekeliling ******ku, mulai dari pelirku, terus naik keatas sampai keliang kencingku semuanya dijilatinya, bahkan Narti dengan telaten menjilati liang duburku yang membuat aku benar benar blingsatan. Aku hanya dapat meremas remas susu Narti serta merojok nonoknya dengan jariku. Aku sudah tak tahan dengan kelihaian Narti ini, kusuruh dia berhenti tetapi Narti tak memperdulikanku malahan ia makin lincah mengeluar masukkan ******ku kedalam mulutnya yang hangat itu. Tanpa dapat dicegah lagi air maniku menyembur keluar yang disambut Narti dengan pijatan pijatan lembut dibatang ******ku seakan akan dia ingin memeras air maniku agar keluar sampai tuntas. Ketika Narti merasa kalau air maniku sudah habis keluar semua, dengan pelan pelan dia melepaskan kulumannya, sambil tersenyum manis ia melirik kearahku. Kulihat ditepi bibirnya ada sisa air maniku yang masih menempel dibibirnya, sementara yang lain rupanya sudah habis ditelan oleh Narti. Narti langsung berbaring disampingku dan berbisik "Bapak diam saja ya, biar saya yang memuaskan Bapak !" Aku tersenyum sambil menciumi bibirnya yang masih berlepotan air maniku sendiri itu. Dengan tubuh telanjang bulat Narti mulai memijat badanku yang memang jadi agak loyo juga setelah tegang untuk beberapa waktu itu, pijatan Narti benar benar nyaman, apalagi ketika tangannya mulai mengurut ******ku yang setengah ngaceng itu, tanpa dihisap atau diapa apakan, ******ku ngaceng lagi, mungkin karena memang karena aku masih kepengen main beberapa kali lagi maka nafsuku masih bergelora. Aku juga makin bernafsu melihat susu Narti yang pentilnya masih kaku itu, apalagi ketika kuraba nonoknya ternyata itilnya juga masih membengkak menandakan kalau Narti juga masih bernafsu hanya saja penampilannya sungguh kalem . Melihat ******ku yang sudah tegak itu, Narti langsung mengangkangi aku dan menepatkan ******ku diantara bibir nonoknya, kemudian pelan pelan ia menurunkan pantatnya sehingga akhirnya ******ku habis ditelan nonoknya itu. Setelah ******ku habis ditelan nonoknya, Narti bukannya menaik turunkan pantatnya, dia justru memutar pantatnya pelan pelan sambil sesekali ditekan, aku merasakan ujung ******ku menyentuh dinding empuk yang rupanya leher rahim Narti. Setiap kali Narti menekan pantatnya, aku menggelinjang menahan rasa geli yang sangat terasa diujung ******ku itu. Putaran pantat Narti membuktikan kalau Narti memang jago bersetubuh, ******ku rasanya seperti diremas remas sambil sekaligus dihisap hisap oleh dinding nonok Narti. Hebatnya nonok Narti sama sekali tidak becek, malahan terasa legit sekali, seolah olah Narti sama sekali tak terangsang oleh permainan ini. Padahal aku yakin seyakin yakinnya bahwa Narti juga sangat bernafsu, karena kulihat dari wajahnya yang memerah, serta susu dan itilnya yang mengeras seperti batu itu. Aku makin lama makin tak tahan dengan gerakan Narti itu, kudorong ia kesamping sehingga aku dapat menindihinya tanpa perlu melepaskan jepitan nonoknya. Begitu posisiku sudah diatas, langsung kutarik ******ku dan kutekan sedalam dalamnya memasuki nonok Narti. Narti menggigit bibirnya sambil memejamkan mata, kakinya diangkat tinggi tinggi serta sekaligus dipentangnya pahanya lebar lebar sehingga ******ku berhasil masuk kebagian yang paling dalam dari nonok Narti. Rojokanku sudah mulai tak teratur karena aku menahan rasa geli yang sudah memenuhi ujung ******ku, sementara Narti sendiri sudah merintih rintih sambil menggigiti pundakku. Mulutku menciumi susu Narti dan menghisap pentilnya yang kaku itu, ketika Narti memintaku untuk menggigiti susunya, tanpa pikir panjang aku mulai menggigit daging empuk itu dengan penuh gairah, Narti makin keras merintih rintih, kepalaku yang menempel disusunya ditekan keras keras membuatku tak bisa bernafas lagi, saat itulah tanpa permisi lagi kurasakan nonok Narti mengejang dan menyemprotkan cairan hangat membasahi seluruh batang ******ku. Ketika aku mau menarik pantatku untuk memompa nonoknya, Narti dengan keras menahan pantatku agar terus menusuk bagian yang paling dalam dari nonoknya sementara pantatnya bergoyang terus diatas ranjang merasakan sisa sisa kenikmatannya. Dengan suara agak gemetar merasakan kenikmatannya, Narti menanyaiku apakah aku sudah keluar, ketika aku menggelengkan kepala, Narti menyuruhku mencabut ******ku. Ketika ******ku kucabut, Narti langsung menjilati ******ku sehingga cairan lendir yang berkumpul disitu menjadi bersih. ******ku saat itu warnanya sudah merah padam dengan gagahnya tegas keatas dengan urat uratnya yang melingkar lingkar disekeliling batang ******nya. Narti sesekali menjilati ujung ******ku dan juga buah pelirku. Ketika Narti melihat ******ku sudah bersih dari lendir yang membuat licin itu, dia kembali menyuruhku memasukkan ******ku, tetapi kali ini Narti yang menuntun ******ku bukannya keliang nonoknya melainkan keliang duburnya yang sempit itu. Aku menggigit bibirku merasakan sempit serta hangatnya liang dubur Narti, ketika ******ku sudah menyelusup masuk sampai kepangkalnya, Narti menyuruhku memaju mundurkan ******ku, aku mulai menggerakkan ******ku pelan pelan sekali. Kurasakan betapa ketatnya dinding dubur Narti menjepit batang ******ku itu, terasa menjalar diseluruh batangnya bahkan terus menjalar sampai keujung kakiku. Benar benar rasa nikmat yang luar biasa, baru beberapa kali aku menggerakkan ******ku, aku menghentikannya karena aku kuatir kalau air maniku memancar, rasanya sayang sekali jika kenikmatan itu harus segera lenyap. Narti menggigit pundakku ketika aku menghentikan gerakanku itu, ia mendesah minta agar aku meneruskan permainanku. Setelah kurasa agak tenang, aku mulai lagi menggerakkan ******ku menyelusuri dinding dubur Narti itu, dasar sudah lama menahan rasa geli, tanpa dikomando lagi air maniku tiba tiba memancar dengan derasnya, aku melenguh keras sekali sementara Narti juga mencengkeram pundakku. Aku jadi loyo setelah dua kali memuntahkan air mani yang aku yakin pasti sangat banyak. Tanpa tenaga lagi aku terguling disamping tubuh Narti, kulihat ******ku yang masih setengah ngaceng itu berkilat oleh lendir yang membasahinya. Narti langsung bangun dari tempat tidur, dengan telanjang bulat ia keluar mengambil air dan dibersihkannya ******ku itu, aku tahu kali ini dia tak mau membersihkannya dengan lidah karena mungkin dia kuatir kalau ada kotorannya yang melekat. Setelah itu, disuruhnya aku telungkup agar memudahkan dia memijatku, aku jadi tertidur, disamping karena memang lelah, pijatan Narti benar benar enak, sambil memijat sesekali dia menggigiti punggungku dan pantatku. Aku benar benar puas menghadapi perempuan satu ini. Aku langsung memikirkan bagaimana caranya agar perempuan ini bisa ikut aku ke Jakarta dan melayani aku sepuas puasnya, bila perlu biar dia kupekerjakan dirumahku agar supaya aku dapat setiap waktu menikmatinya. Nanti aku akan bicara pada suaminya, karena kunci utama adalah suaminya, kalau suaminya aku beri pekerjaan yang enak, pasti isterinya juga ikut..............................
Aku tertidur cukup lama, ketika terbangun badanku terasa segar sekali, karena selama aku tidur tadi Narti terus memijit tubuhku. Ketika aku membalikkan tubuhku, ternyata Narti masih saja telanjang bulat, ******ku mulai ngaceng lagi melihat tubuh Narti yang sintal itu, tanganku meraih susunya dan kuremas dengan penuh gairah, Nartipun mulai meremas remas ******ku yang tegang itu. Entah darimana, ia memberikan semacam minyak untuk menggosok ******ku, terasa hangat dibatang ******ku. Ketika kutanya minyak apa itu, Narti menjawab bahwa itu minyak bulus, remasan Narti yang lembut membuat ******ku makin membengkak, mungkin juga akibat pengaruh minyak bulus itu. Sedang asyik asyiknya Narti mengurut ******ku, tiba tiba kudengar suara perempuan memanggil manggil nama Narti sambil mengetuk pintu depan. Aku agak terkejut, tetapi kulihat Narti tenang saja, " itu Luluk tetangga sebelah, biar saya bukakan dulu" Setelah meraih sarung dan dilibatkan ketubuhnya, Narti segera keluar untuk membukakan pintu, aku diam saja didalam kamar sambil memandang ******ku yang sudah tegak lurus seperti Monas itu. Tak berapa lama kudengar suara pintu ditutup dan langkah kaki menuju kedalam, hatiku lega karena kupikir Narti akan berbincang lama dengan tamunya itu. Tetapi diluar dugaanku, Narti masuk kembali kekamarku sambil mengajak tamunya tadi, seorang gadis muda, aku terduduk kaget, karena tak menyangka. Narti dan gadis muda tadi hanya tersenyum melihat aku terduduk itu. Melihat ini semua, otakku bekerja cepat, kalau Narti berani mengajak perempuan lain kekamarku padahal dia tahu aku sedang telanjang bulat, pasti perempuan ini juga bisa disantap ! Tetapi yang membuat aku jadi bingung adalah perempuan ini kelihatannya masih remaja sekali, umurnya paling belum 17 tahun, apakah dia sudah berpengalaman ? Narti memperkenalkan padaku gadis remaja itu katanya namanya Luluk, dia tinggal didekat rumah Narti dan Luluk juga pandai memijat, sambil berkata Narti mengedipkan matanya. Aku mulai yakin bahwa gadis remaja yang kelihatan segar sekali ini rupanya juga doyan ******. Aku hanya tersenyum sambil memperhatikan Luluk yang hanya tersenyum senyum itu. Wajahnya cantik dengan hidung yang bangir dan badan langsing tetapi padat sekali. Pakaiannya sederhana, tetapi tak dapat menyembunyikan kecantikan alamiahnya. Aku tak berani bertanya macam macam pada Narti, tetapi aku menduga bahwa Luluk pasti sudah pernah dimakan oleh Hartono suami Narti, bahkan paling tidak mereka sering main bertiga sehingga Narti tak canggung mengajak Luluk masuk. Memikir ini semua aku berkata, "Sebentar ya Luk, kamu duduk dulu, saya mau meneruskan hajat yang belum selesai" langsung aku tarik tangan Narti dan kubuka jariknya. Narti hanya menurut saja dan segera terlentang ditempat tidur sambil mengangkat kakinya lebar lebar, ketika kulirik Luluk, kulihat dia duduk dikursi sambil memperhatikan Narti. Tanpa sungkan lagi aku langsung mengarahkan ******ku keliang nonok Narti dan sekali tekan ******ku amblas. Narti merintih rintih sambil memutar mutar pantatnya, sementara tangannya memeluk pinggangku erat erat. Aku dengan penuh nafsu menggigiti susu Narti yang kenyal itu, nafsuku benar benar memuncak, kurasakan peretnya nonok Narti menjepit ******ku, berkali kali Narti berbisik katanya ******ku bertambah mekar. Aku diam saja karena kurasakan kenikmatan yang tiada taranya ini. Seperti yang sudah kuduga, Narti tak dapat menahan nafsunya lagi, dia tiba tiba saja mengerang dan mengejang, kurasakan nonoknya menjepit ******ku keras sekali dibarengi dengan licinnya liang nonok Narti. Rupanya Narti keok, aku yang sedang tanggung meneruskan genjotanku agar kenikmatanku juga segera tiba, tetapi Narti menahan pantatku sehingga aku tak dapat bergerak. Saat itu Narti berkata kepada Luluk "Luk, ayo ikut, kok diam saja !" Ketika kulirik Luluk, kulihat wajahnya merah padam, entah malu entah menahan nafsunya, yang jelas mendengar ajakan Narti dia langsung berdiri dan membuka pakaiannya. Aku menelan ludah melihat Luluk telanjang bulat didepanku, susunya putih dan besar sekali untuk remaja seusianya, kencang dengan pentil yang mendongak keatas. Perutnya rata dengan bukit nonok yang mencembung dihiasi jembut yang cukup tebal. Begitu mendekat Luluk langsung menjilati liang nonok Narti dari belakang, padahal ******ku masih tertanam diliang nonok itu. Kulihat Narti memejamkan matanya sambil berbisik, "ayo pak Luluk sudah gatal, cepat tiduri dia !" Tanpa menunggu dua kali aku mencabut ******ku dan turun dari tempat tidur, Luluk hanya tersenyum melihat aku mencabut ******ku, tetapi dia kembali asyik menjilati bibir nonok Narti. Melihat posisinya yang agak menungging, maka aku berjongkok dan mendekati Luluk dari belakang, nonok Luluk hanya berupa garis panjang agak kemerah merahan, tanpa disuruh aku langsung menjilatinya, merasakan jilatanku, Luluk langsung mengangkangkan kakinya sehingga mulutku lebih mudah mencapai bibir nonoknya, bahkan sampai keitilnya yang sudah kaku itu. Aku yang sudah hampir "muntah" merasa tak tahan lagi, langsung saja ku genggam tongkat wasiatku dan kutusukkan kenonok Luluk. Nonok Luluk yang sudah basah dengan mudah menelan ******ku yang termasuk besar itu, namun meskipun demikian, nonok Luluk tetap seolah olah menggenggam ******ku dan sepertinya meremas remasnya, sungguh sungguh nikmat, sampai sampai aku tak berani menggerakkan pantatku lagi karena kuatir kalau spermaku muncrat. Dalam hal nonok, aku harus mengakui bahwa kepunyaan Luluk lebih enak daripada kepunyaan Narti, tetapi kalau dari segi seksinya, tetap Narti lebih meyakinkan. Kuremas remas susu Luluk yang kenyal itu, Luluk hanya diam saja dan mulutnya tetap asyik menjilati nonok Narti , aku kagum pada Luluk yang mampu memuaskan dua orang sekaligus, pasti ini didikan Narti ! Benar saja tak lama kemudian Narti merintih keras sambil menggerak gerakkan kepalanya, rupanya ia sudah mencapai klimaksnya. Aku melihat semua ini jadi tak tahan, tanpa dapat kucegah lagi, spermaku memancar keluar dengan derasnya menghantam dinding nonok Luluk. Aku benar benar lelah, tenagaku terkuras habis, tanpa memperdulikan Luluk lagi, aku langsung mencabut ******ku sehingga air maniku meleleh keluar dari liang nonok Luluk, aku langsung membaringkan diriku disamping Narti dan memejamkan mataku untuk tidur, aku rasanya sudah tak perduli lagi dengan Hartono, biarpun dia saat ini pulang aku tetap akan tidur dan menghilangkan penat disekujur badanku ini. Tanpa kuduga, dengan lemah lembut kedua perempuan yang sudah memuaskan aku itu sama sama memijati tubuhku. Narti memijat punggungku sedang Luluk memijati kakiku. Aku merasa seperti dalam harem saja, tanpa terasa aku sudah lelap dan tertidur menikmati semua rejekiku ini...............
Sungguh Puaskah Istri Anda ?