Perselingkuhanku dengan bu Broto sudah berlangsung mulus selama 3 bulan. Kami sepakat, untuk menjaga keamanan nasional, kami melakukannya hanya setiap Sabtu pagi disaat aku ngga pulang kampung. Kini bu Broto melakukannya sudah tidak sungkan2 lagi. Lebih gilannya lagi setiap Jumat malam Sabtu aku diminta mengintip dia bersetubuh dengan suaminya. Untuk memperlihatkan bahwa dia ngga pernah orgasme dengan suaminya yang hanya sebentar dan langsung tidur.
Seperti halnya yang kami lakukan Sabtu pagi ini. Kami melakukan dengan penuh nafsu. Permainan bu Broto kini semakin berani, dia sudah mulai mahir memainkan lidahnya dikemaluanku. Diapun sudah ngga malu2 lagi mendesah keenakan dan mengerang disaat orgasme. Untung rumah sepi jadi suara kami tidak terdengar oleh siapa2. Hampir dua jam kami melakukannya pagi ini. Aku sampai dua kali ejakulasi sedangkan bu Broto lebih dari 6 x.
Setelah selesai kami melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan hanya bertelanjang bulat. Baru saja kami menutup kamar mandi, tiba2 terdengar agak keras orang mengetuk pintu. Aku terkejut, "Wah, jangan2 pak Broto pulang, tapi kok suara Vespanya ngga kedengaran..." Aku langsung memakai celana pendek dan kaosku dan segera keluar kamar mandi, sedang bu Broto tetap didalam pura2 sedang BAB. Baru selangkah dari pintu kamar mandi kembali terdengar TOK, TOK, TOK !!
Kini suaranya lebih keras dari yang pertama, " Ya.. sebentar " teriaku sambil berlari kearah pintu depan dan saat aku melewati kamar bu Broto yang berantakan aku sempatkan menutup pintunya.
Pintu depan segera aku buka (ternyata kami lupa menguncinya) dan didepan pintu ternyata berdiri seorang wanita berwajah manis berkulit bersih (sedikit lebih gelap dari warna kulit bu Broto) mengenakan celana jeans ketat yang membungkus pantat dan paha yang masih indah dengan paduan baju longggar berwarna krem dengan assesori ikat pinggang besar. Dari wajahnya, usianya sekitar diatas 40 an. Disampingnya ada sebuah koper pakaian. Kayaknya baru datang dari luar kota.
" Mana mbak Tati (nama bu Broto) ?! " tanyanya agak keras, seperti orang kesal.
" Maksud mbak bu Broto ? beliau sedang dikamar mandi, mbak siapa ya ? " tanyaku masih mencoba bersopan santun.
" Saya Resti adiknya mas Broto yang dari Surabaya " jawabnya ketus.
" Oh, eh silakan masuk mbak Resti.." aku agak gugup dan mempersilakannya masuk.
" Siapa de Budi ? " tiba2 bu Broto berteriak dari belakang setelah keluar dari kamar mandi dan melangkah keluar " Waah ada tamu jauh to, loh Res, kamu mau datang kok ngga kasih kabar dulu biar kami jemput, de Budi ini Resti adik kandung satu2nya pak Broto, Resti ini Budi yang kos disini...eh de Budi tolong bawain kopornya mbak Resti ke kamar tengah. " mereka pun berpelukan saling menyapa dan akupun menenteng kopor mbak Resti ke kamar tengah selanjutnya aku kekamar mandi dan pura2 tiduran membiarkan mereka saling kangen2an akhirnya akupun tertidur beneran bangun2 ketika ada yang mengetuk pintu kamarku " de Budi, de Budi..." suara pak Broto memanggilku dan melihat jam dinding baru jam 11.17 padahal biasanya pak Broto pulang sekitar jam 1, aku kaget dan bingung " Wah ada apa lagi nih, jangan2 pak Broto tahu hubunganku dengan istrinya dan dia panggil adiknya untuk menyelesaikannya...wah gawat nih " pikirku bingung tapi tanganku tetap membuka pintu kamarku " Wah maaf nih de Budi bapak ngganggu istirahatnya, anu...bapak mau ke Cirebon sama atasan bapak sampai hari Rabu dan ditunggu di Terminal, tolong anterin bapak ya de Budi, nanti Vespanya de Budi bawa pulang. " kata pak Broto dan membuat hatiku lega,
" Bisa, bisa pak sebentar saya cuci muka dan ganti baju dulu..." jawabku spontan.
" Ya de Budi makan dulu saja baru kita berangkat..."
Setelah mengantar pak Broto aku ngga langsung pulang, tapi nonton bioskop dulu, pulang2 jam 5.30 sore dan langsung mandi, aku sekilas melihat bu Broto dan mbak Resti lagi ngobrol sambil nonon TV.
" De Budi sini dulu de " bu Broto memanggilku dari dalam saat aku keluar dari kamar mandi.
" Ya sebentar bu, " jawabku sambil masuk kamar dan menyisir rambutku kemudian mendekati mereka yang sedang duduk disofa panjang yang memang satu2nya tempat duduk depan TV.
" Ini, Resti mau bicara denganmu" kata bu Broto begitu aku berdiri didekat mereka dan aku lihat mbak Resti yang mengenakan piyama batik dan kelihatan lebih segar dari ketika dia datang, menggeser duduknya supaya aku bisa duduk disampingnya dan dia sekarang berada ditengah. " Silakan duduk disini de Budi " dan akupun duduk disampingnya.
" Begini de Budi, saya adalah teman dari kecil dengan mbak Tati, usia kami hanya beda 1 tahun, saya lebih muda dan saya menganggap dia sebagai kakak kandungku sendiri dan diantara kami sudah ngga ada lagi rahasia2an dan mas Broto juga mengenal mbak Tati ini sejak kecil walaupun mereka tidak akrab. Saya tahu, mbak Tati ini orangnya sangat setia pada suami..." kata mbak Resti begitu aku duduk disebelahnya dan kata2 terakhirnya yang terputus membuatku berdebar2 dan aku hanya bisa diam menanti lanjutannya.
" Saya benar2 bingung dan kaget dia bisa berselingkuh dengan de Budi..." kembali kata2nya terhenti dan matanya tajam menatapku yang kaget dan kebingungan.
" Mmmaksud mbak...? " aku pura2 bloon dan mataku minta bantuan ke bu Broto, tapi dia asyik nonton TV.
" Saya tahu apa yang terjadi tadi pagi karena pintu depan lupa dikunci begitu juga kamar tidur yang terbuka sehingga aku bisa nonton adegan seru kalian dan tadinya aku ngga percaya sama mbak Tati tapi tadi kami sudah ngobrol dan ternyata kami mempunyai masalah yang sama . " lanjut mbak Resti
" Sudah 2 tahun lebih suamiku menderita diabetes kronis dan dia sudah ngga bisa berbuat apa2 denganku..." suara mbak Resti mulai pelan
" Sekarang aku mau buat kesepakatan dengan de Budi, aku akan diam tidak melaporkan ke mas Broto tapi de Budi harus melakukan yang sama seperti de Budi melakukan mbak Tati, mau ? "
Kembali mataku minta pertolongan bu Broto, kali ini dia menolongku, sambil tersenyum dia mengangguk2an kepalanya tanda setuju tapi timbul keisenganku sama mbak Resti.
" Terus saya harus berbuat apa ? " aku pura2 bertanya
Tiba2 mbak Resti mendekati telingaku dan berkata pelan " aku juga ingin dipuaskan seperti mbak Tati tadi pagi " tangan kanannya langsung mengelus kemaluanku yang hanya mengenakan celana pendek tanpa CD. Tangan kananku langsung menarik pinggangnya sehingga mbak Resti duduk dipangkuanku dan mbak Resti langsung menciumi bibirku tanpa ada perasaan risih ada bu Broto disampingnya, sedangkan bu Broto hanya pura2 batuk " ehem...ehem...dah sana didalam..."
Tapi mbak Resti ngga nggubris dia terus mencium bibirku penuh nafsu terdengar dari nafasnya yang memburu, aku melirik ke bu Broto dan dia nampak tegang sambil pura2 nonton TV tapi matanya sebentar2 melirik kearah kami. Aku yakin baru kali ini dia melihat secara langsung sepasang laki2 dan perempuan berciuman dengan penuh nafsu apalgi kini mbak Resti sudah membuka baju piyamanya dan pantatnya terus digayang2kan di kemaluanku, ternyata dia ngga pakai bra sehingga payudaranya yang berkuran sedang dan sudah mulai turun menantang untuk diraba dan dihisap, sesaat aku perhatikan ada yang berbeda dengan punya bu Broto, puting payudara mbak Resti masih kecil kayak wanita yang belum punya anak, tangan kananku mulai meraba payudaranya ternyata masih kenyal. "...aahh..." desahnya disaat tanganku meraba payudaranya dan tangan kirinya membantu menekan tanganku supaya aku meremas lebih keras payudaranya, tangan kanannya menarik kepalaku supaya aku menghisap payudara kirinya dan desahannyapun makin keras disaat lidahku menjilat2 di putingnya. Sambil menjilat mataku melirik bu Broto yang semakin gelisah tapi aku ngga peduli lidahku terus aku mainkan di payudara mbak Resti dan membuat dia semakin bernafsu. Kini dia turun dari pangkuanku dan berlutut didepanku dan tangannya langsung melorotkan celana pendeku hingga terlepas dan tentu sala kemaluanku yang sudah tegang dari tadi langsung menyembul keluar sebentar mbak Resti mengelus2 kemaluanku dan dia menarik sedikit posisi duduku supaya lebih melorot dan dia mengarahkan mulutnya kearah biji pelerku dan lidahnya bermain2 disini, permainan lidah mbak Resti lebih berpengalaman dari bu Broto terasa lebih halus demikian juga saat lidahnya mulai bermain dibatang kemaluanku sampai aku ngga bisa nahan suara kenikmatanku
"...aagghhh..." dan ketika sambil menahan nikmat tanganku meraih tangan bu Broto yang sedari tadi terlihat hanya tegang aku merasakan tangannya sedikit gemetar dan saat dia menoleh kearahku aku melihat mukanya agak merah, ngga tahu apa karena malu atau nafsu atau karena keduanya. Sebentar bu Broto memandangku dan aku menarik tangannya supaya dia lebih mendekat kearahku dan diapun menggeser duduknya dan aku bisa meraih bahunya kemudian mencium bibirnya yang juga gemetar tapi dia langsung membalas ciumanku dan nafasnya makin memburu saat tangan kananku meraih payudaranya yang juga tanpa bra dan kami bertigapun sudah sangat dibakar nafsu birahi.
Sesaat kemudian kami bertiga sudah tidak ada lagi yang mengenakan pakaian dan sudah pindah kekamar bu Broto, yang lebih agresif adalah mbak Resti, mungkin karena sudah lebih dari 2 tahun dia ngga dipuaskan suaminya jadinya sekarang seperti kehausan. Kini dia sudah berbaring di tempat tidur dan minta aku menyetubuhinya, tapi aku mau membuat dia lebih bernafsu supaya cepat orgasme karena ku masih menghadapi lawan satunya yakni bu Broto. Aku memang merangkak keatas tubuh mbak Resti sedang bu Broto kembali sebagai penonton, aku hanya mencium sesaat bibirnya kemudian lidahku merayap ke payudaranya sebenta bermain dikedua payudaranya sambil tangan kananku mengelus gundukan memeknya yang berbulu tipis, jilatanku merayap keperutnya dan bermain dipusarnya kemudian ke selangkangannya tapi aku ngga menjilat memeknya membuat mbak Resti penasaran, aku justru membalikan tubuh mbak Resti supaya tengkurap dan aku menciumi punggungnya terus turun ke kedua bongkahan pantatnya disini kadang aku menggigit pelang pantatnya membuat desahannya semakin keras aplagi saat lidahku mulai bermain dipaha bagian dalamnya dengan sedikit gigitan kecil membuat dia mengangkat pantatnya minta memeknya yang sudah sangat basah untuk dijilat dan tidak langsung menjilat memeknya aku terus menjilat bagian samping luar memeknya dan ini membuat pantatnya lebih tinggi terangkat dan pahanya lebih lebar terbuka dan akupun mulai memasukan kepalaku diantara kedua pahanya sambil mengadah keatas menghadap memeknya dan mulai menjilat klitnya dan cairan kentalnyapun makin banyak keluar sampai menetes ke daguku. Kedua tangan mbak Resti meremas sprei dan mulutnya terus mendesis bagai ular tiba2 tangannya menarik paha bu Broto dan mulutnya langsung menyergap memek bu Broto yang juga sudah basah, tiba2 mulut mbak Resti mengerang dan pantatnya memeknya ditekankan kuat2 ke mulutku sambil badannya bergetar "..bbud aku kkluarr.." dan dagukupun semakin basah tersiram lendir mbak Resti yang banyak mengeluarkan lendir. Sesaat diapun tergeletak dikasur dengan nafas memburu sedang bu Broto yang dari tadi juga sudah naik nafsunya oleh jilatan maut mbak Resti langsung naik diatas tubuhku memasukan kemaluanku ke liang memeknya dan langsung menggoyang dari atas. Ruapanya mbak Resti ingin membuat sensasi lain dia kembali bangun dan meraih payudara bu Broto dan langsung menghisapnya membuat bu Broto berteriak kecil menahan nikmat dan tangan kiriku yang nganggur langsung mengarah ke memek mbak Resti yang sedikit terbuka dan langsung aku masukan kedalamnya, memek mbak Resti sangat licin akibat orgasme tadi dan akibat sentuhan jariku dimemeknya nafsu mbak Resti bangkit lagi dan diapun menjilat payudara bu Broto dengan sangat bernafsu membuat bu Broto semakin tinggi melambung dan sebentar kemudian goyangannya semakin liar dan semakin liar dan diapun mencapai klimaksnya dan ambruk yang segera diaganti mbak Resti . Kali ini mbak Resti memperlihatkan kemahirannya diatas ranjang dimenggoyang dengan lembut tapi pasti membuat kemaluanku seakan dipijat2 dan dan membuat aku tidak tahan untung rupanya mbak Resti bukan pemain yang lama diapun sudah tidak beraturan goyangannya dan akhirnya aku keluar duluan disusul beberapa detik kemudian mbak Restipun orgasme. Dan kamipun tertidur kecapaian.
Sunday, July 25, 2010
Saturday, July 24, 2010
BU BROTO
Setelah 3 tahun nganggur akibat PHK akhirnya aku mendapatkan pekerjaan kembali dan aku diterima disebuah perusahaan swasta yang ditempatkan di Yogya yang berjarak sekitar 250 km dari kota asalku. Untuk sementara karena gaji yang masih kecil dan aku tidak mendapatkan fasilitas perumahan dari kantor, aku harus meninggalkan istri dan anaku yang masih berumur 5 tahun dirumah mertuaku dan aku harus kos. Sebulan sekali aku pulang, biasanya hari Jumat malam setiap awal bulan setelah terima gaji. Akupun harus mencari kos yang bayarnya miring. Setelah mencari2 akhirnya aku mendapatkan sebuah keluarga yang memiliki rumah khas Yogya yang cukup besar dengan 4 buah kamar dan ditinggali hanya sepasang suami istri. Anak tunggal mereka kuliah di Jakarta. Mereka menyewakan kamarnya dengan harga yang cukup murah. Karena mereka menerima aku hanya untuk menemani mereka yang hanya berdua dengan pertimbangan aku sudah berkeluarga sehingga disini hanya aku yang kos.
Pak Subroto adalah nama pemilik kosku yang akrab dipanggil dengan pak Broto adalah seorang pegawai negri sipil berusia 52 tahun. Sebenarnya dia lebih mirip serang anggota TNI karena bertubuh tinggi (182 cm) kekar dan berkumis tebal. Diusianya sekarang badannya masih kekar. Tampangnya sangar tapi orangnya ramah dan baik bahkan suka bercanda. Istrinya yang akrab di panggil bu Broto adalah seoarang ibu rumah tangga biasa yang sudah berusia 46 tahun. Orangnya lembut. Wajahnya biasa2 saja tapi karena kulitnya yang kuning bersih dia masih kelihatan menarik walau bentuk tubuhnya sudah tidak ramping lagi tapi perutnya tidak terlihat buncit layaknya ibu2 seusia dia mungkin karena tingginya yang 162 cm dan dia rajin minum jamu jawa. Kelihatannya mereka adalah pasangan yang serasi dan merekapun sangat baik terhadapku membuat aku betah kos dirumah mereka sehingga tidak terasa sekarang sudah bulan ke enam aku kos disini.
Malam itu hari Sabtu sekitar pukul 01.40 aku terbangun karena berasa mau pipis dan akupun melangkah ke kamar mandi yang letaknya agak dibelakang. Hampir semua lampu dirumah ini dipadamkan kecuali diruang makan yang menyala itupun hanya lampu yang 5 watt. Saat aku menoleh bagan depan rumah, mataku tertuju pada sinar lampu yang agak terang yang keluar dari celah pintu kamar bapak dan ibu Broto yang sedikit terbuka. Timbul isengku ingin melihat apa yang terjadi didalam kamar itu. Akupun menunda kekamar mandi dan pelan2 mendekati celah pintu yang sedikit terbuka itu. Di dalam kamar ternyata aku melihat pak Broto dan istrinya sama2 telanjang. Rupanya mereka akan melakukan hubungan suami istri. Entah aku ketinggalan episode awalnya atau tidak, aku ngga tahu, aku ngga melihat mereka melakukan warming up. Yang aku lihat adalah saat posisi bu Broto sudah telentang memperlihatkan tubuhnya yang masih mulus walau tidak langsing lagi dengan gundukan memek yang tertutup bulu jembut yang lebat sedang suaminya sudah berlutut diantara kedua pahanya dengan memegangi kemaluannya yang berukuran sesuai tubuhnya yang tinggi besar untuk diarahkan ke memek bu Broto.
Aku kagum dengan ukuran kemaluan pak Broto, akupun berdebar menunggu permainan mereka yang aku yakin seru. Aku membayangkan bu Broto bakalan menjerit2 kenikmatan kayak di film2 bokep saat senjata pak Broto beraksi dan diam2 burungkupun mulai naik.
Pak Broto mulai menempelkan kemaluannya ke memek istrinya "Pelan2 aja ya pak, biar lama..." terdengar pelan suara bu broto saat saat kemaluan pak Broto menempel di memeknya dan dibalas dengan anggukan suaminya dan pak Brotopun terus menekan masuk kemaluannya dan.......aaaahhhhh......terdengar suara mereka bersamaan.
Sesaat pak Broto menahan kemaluannya didalam memek istrinya. Sesaat kemudian dia mulai pelan2 memaju mundurkan pantatnya yang disambu dengan desisan istrinya....sssh....sshh....mungkin belum lebih 15 x pak Broto secara pelan2 mengayunkan pantatnya dan tiba2 dia mempercepat dan semakin cepat gerakannya dan diapun mengerang panjang .....hhhgghh....aku nda kuat deee...aahh.... sambil menekankan pantatnya rapat2 kememek istrinya sebentar kemudian tubuh pak Broto ambruk diatas tubuh istrinya. Aku melihat bu Broto agak kesal dan mencubit pantat pak Broto tapi dia ngga protes apa2, mungkin adat yang membuat seperti ini. Akupun kecewa karena pertunjukannya hanya sebentar dan akupun segera melangkah pelan menuju kamar mandi untuk kencing dan kembali tidur.
Jam 8 pagi aku baru bangun karena hari Sabtu aku libur kerja. Akupun langsung ke wastafel untuk gosok gigi. Pak Broto sudah berangkat kerja di kamar mandi ada bu Broto yang sedang mandi. Ketika aku selesai gosok tiba2 dari kamar mandi terdengar suara bu Broto " Aduuhhh...." Akupun segera mendekati pintu kamar mandi dan dari luar aku bertanya ke bu Broto " Kenapa bu ? "
" Oh nda apa2 de Budi, cuma daster sama pakaian dalam ibu yang jatuh dan kesiram air...." jawab bu Broto dari dalam kamar mandi
" Ooh, saya kira ada apa....." akupun segera menjauh dari pintu untuk melanjutkan nyeduh kopi.
Sesaat kemudian bu Broto keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk yang agak kekecilan ditubuhnya dan tangannya memegangi ikatannya takut lepas. Biasanya dia tidak pernah melakukan ini, keluar kamar mandi selalu sudah memakai daster, makanya dia setengah berlari apalagi saat melihat aku sedang nyeduh kopi didapur dia semakin gugup dan sambil menunduk dia tersipu " maaf..maaf de Budi".
Saking gugupnya dia tidak melihat ada bangku kecil didepanya dan ....brukk!!...aduh!!....dan bu Brotopun sempoyongan hampir terjatuh dan tentu saja dia melepaskan tangannya dari handuknya untuk menggapai pegangan agar tidak jatuh, tentu saja handuknya terlepas dari tubuhnya. Secara refleks aku yang ada didepan bu Broto menangkap tubuh telanjang bu Broto dan akupun memeluk tubuh sintal bu Broto. Tinggi kami hampir sama dan wajahnya pas didepan wajahku. Sesaat aku dapat melihat dengan jelas wajah cemas bu Broto yang sudah mulai ada kerutan di sekitar matanya tapi masih menarik dan bu Brotopun mulai sadar kalau dia telanjang dan hendak melepaskan diri, tapi aku malah mengetatkan pelukanku dan aku memberanikan diri mengecup bibirnya
" De Budi ! apa yang kamu lakukan, kamu jangan kurang ajar.." dia marah dan memberontak hendak melepaskan pelukanku tapi aku semakin ketat memeluknya
" Bu, saya tahu yang terjadi semalam antara ibu dengan bapak...." kataku
" Maksudmu ?" bu Broto berhenti berontak dan memandangku penuh selidik
" Ibu semalam kecewa sama bapak, karena bapak selesai duluan tapi ibu entah malu atau tidak berani untuk protes sehingga ibu hanya memendam kekecewaan. Apa setiap kali selalu begitu bu ? " tanyaku pelan. Entah dia malu atau memang memendam lama kekecewaan dan sesuai yang aku katakan tiba2 dia menangis dan malah memeluku dan aku hanya membiarkan dia mengis di bahuku, setelah bisa menguasai diri melepaskan pelukannya dan akupun tidak menahannya lagi sehingga dia dapat memungut handuknya yang terlepas dan menutupkannya kembali ke tubuhnya, dia bilang :
" Aku memang nda pernah merasakan kenikmatan sex. Hanya bapak yang selalu merasa puas karena dia selalu selesai duluan, bagaimana kalau istri de Budi ? " Aku ngga menjawab tapi kembali aku menarik tubuh bu Broto dan mencium bibirnya kini dia ngga melawan tapi juga tidak membalas ciumanku tapi saat mulai mencium dan menjilat bagian bawah telinganya dia agak mendesis dan saat aku kembali mencium bibirnya dia mulai membalas tapi agak kaku. Sambil berciuman pelan2 aku membimbing dia kekamarku dan dia tersadar saat aku rebahkan tubuh sintalnya ke kasurku dan melepaskan ciumanku " De Budi mau ngapain ? "
Dengan tidak melepaskan pelukanku aku berbisik didekat telinga bu Broto " Saya mau membuat ibu merasakan kenikmatan sex "
" Tapi ibu sudah tua de Budi.." protesnya
" Tapi ibu belum terlambat untuk menikmatinya..." kataku sambil tanganku membuka ikatan handuknya sehingga nampaklah tubuh telanjang bu Broto.
Akupun segera membuka pakaianku. Payudarnya walau agak kendor masih menarik bahkan terasa lembut saat aku merabanya dan pelan2 lidahku mulai menjilati payudara bu Broto, mata bu Broto terpejam menikmatinya dan kedua tangannya ditelentangkan memperlihatkan ketiaknya yang mulus. Bergantian aku menjilati payudaranya sambil tanganku mengelus2 gundukan jembutnya. Kedua paha panjang dan gempalnya mulai dibuka dan jarikupun mulai merayap ke dalam memeknya yang mulai becek dan pahanya semakin lebar dibuka sambil mulutnya mendesis....ssshh....ssshh...hhhhh....mengikuti gerakan jariku.
Ciumanku mulai merayap turun ke perutnya ....aaahhh..... dia menahan geli bercampur nikmat saat lidahku aku mainkan dipusarnya dan kedua tangan memegangi kepalaku dan lidahku terus merayap ke gundukan jembutnya, tiba2 dia bangun dan menahan kepalaku " Mau diapain ? " tanyanya. Aku kembali hanya tersenyum sambil mencium pipinya dan berbisik " Aku mau buat ibu terbang" dan dengan lembut aku baringkan kembali bu Broto dan kembali aku mainkan lidahku digundukan jembutnya tapi aku tidak langsung menjilati klitnya aku hanya menjilati selangkangannya. Memeknya semakin becek dan akupun mulai menjilati klitnya.....aaahhh.....tertahan suara bu Broto sambil kedua tangannya memegangi kepalaku pantatnya terus goyang mengikuti gerakan lidahku di klitnya, pantatnya diangkat tinggi2 dan kedua tangannya kuat2 memegangi kepalaku bahkan kadang menjambak rambutku apalagi saat lidahku dengan cepat berputar diklitnya dan dia menekan kuat2 kepalaku ke memeknya, aku tahu dia mau orgasme, makanya aku terus putar dengan cepat lidahku di klitnya, tiba2 tubuhnya bergetar dan sesaat kemudian aku rasakan ada cairan hangat membasahi daguku dan tubuh bu Brotopun diam, perlahan aku angkat kepalaku dan aku lihat nafas bu Broto terengah2 dadanya naik turun dengan cepat tapi mulutnya tersenyum padaku. " Baru sekali ini aku merasakan enaknya orgasme " Katanya sambil memelukku " Ayo sekarang gantian de Budi "
" Ibu pernah ngisep burung bapak ?" tanyaku
" Ngga pernah karena kalau diisep bapak cepat sekali keluarnya....."
" Bagaimana kalau coba punya saya, tapi jangan dihina ya, ounya saya ngga sebesar punya bapak...." candaku dan bu Broto hanya tertawa kecil sambil mendorong tubuhku dan diapun mulai menyedot2 burung, masih kaku caranya tapi lama2 dia mulai memakai lidahnya.
Akupun ngga mau diam, aku tarik paahanya agar memeknya berada diatas mulut dan akupun bisa menjilati memeknya yang sudah becek jadi semakin becek bahkan sampai mengalir ke hidungku akupun semakin bernafsu menjilati memeknya dan demikian juga bu Brotopun. Ketika dia semakin kencang mengoyangkan pantatnya dimulutku dan akupun semakin bernafsu aku minta dia segera memasukan burungku dengan posisi dia diatas dan karena kami sudah sangat bernafsu hanya 5 menit kemudian kami bersamaan keluar dan bu Broto orgasme dengan sangat hebat dengan posisi dia diatas sampai dia berteriak kuat2.
Acara seperti ini menjadi rutin setiap Sabtu pagi, yakni disaat aku libur dan pak Broto pergi bekerja.
Pak Subroto adalah nama pemilik kosku yang akrab dipanggil dengan pak Broto adalah seorang pegawai negri sipil berusia 52 tahun. Sebenarnya dia lebih mirip serang anggota TNI karena bertubuh tinggi (182 cm) kekar dan berkumis tebal. Diusianya sekarang badannya masih kekar. Tampangnya sangar tapi orangnya ramah dan baik bahkan suka bercanda. Istrinya yang akrab di panggil bu Broto adalah seoarang ibu rumah tangga biasa yang sudah berusia 46 tahun. Orangnya lembut. Wajahnya biasa2 saja tapi karena kulitnya yang kuning bersih dia masih kelihatan menarik walau bentuk tubuhnya sudah tidak ramping lagi tapi perutnya tidak terlihat buncit layaknya ibu2 seusia dia mungkin karena tingginya yang 162 cm dan dia rajin minum jamu jawa. Kelihatannya mereka adalah pasangan yang serasi dan merekapun sangat baik terhadapku membuat aku betah kos dirumah mereka sehingga tidak terasa sekarang sudah bulan ke enam aku kos disini.
Malam itu hari Sabtu sekitar pukul 01.40 aku terbangun karena berasa mau pipis dan akupun melangkah ke kamar mandi yang letaknya agak dibelakang. Hampir semua lampu dirumah ini dipadamkan kecuali diruang makan yang menyala itupun hanya lampu yang 5 watt. Saat aku menoleh bagan depan rumah, mataku tertuju pada sinar lampu yang agak terang yang keluar dari celah pintu kamar bapak dan ibu Broto yang sedikit terbuka. Timbul isengku ingin melihat apa yang terjadi didalam kamar itu. Akupun menunda kekamar mandi dan pelan2 mendekati celah pintu yang sedikit terbuka itu. Di dalam kamar ternyata aku melihat pak Broto dan istrinya sama2 telanjang. Rupanya mereka akan melakukan hubungan suami istri. Entah aku ketinggalan episode awalnya atau tidak, aku ngga tahu, aku ngga melihat mereka melakukan warming up. Yang aku lihat adalah saat posisi bu Broto sudah telentang memperlihatkan tubuhnya yang masih mulus walau tidak langsing lagi dengan gundukan memek yang tertutup bulu jembut yang lebat sedang suaminya sudah berlutut diantara kedua pahanya dengan memegangi kemaluannya yang berukuran sesuai tubuhnya yang tinggi besar untuk diarahkan ke memek bu Broto.
Aku kagum dengan ukuran kemaluan pak Broto, akupun berdebar menunggu permainan mereka yang aku yakin seru. Aku membayangkan bu Broto bakalan menjerit2 kenikmatan kayak di film2 bokep saat senjata pak Broto beraksi dan diam2 burungkupun mulai naik.
Pak Broto mulai menempelkan kemaluannya ke memek istrinya "Pelan2 aja ya pak, biar lama..." terdengar pelan suara bu broto saat saat kemaluan pak Broto menempel di memeknya dan dibalas dengan anggukan suaminya dan pak Brotopun terus menekan masuk kemaluannya dan.......aaaahhhhh......terdengar suara mereka bersamaan.
Sesaat pak Broto menahan kemaluannya didalam memek istrinya. Sesaat kemudian dia mulai pelan2 memaju mundurkan pantatnya yang disambu dengan desisan istrinya....sssh....sshh....mungkin belum lebih 15 x pak Broto secara pelan2 mengayunkan pantatnya dan tiba2 dia mempercepat dan semakin cepat gerakannya dan diapun mengerang panjang .....hhhgghh....aku nda kuat deee...aahh.... sambil menekankan pantatnya rapat2 kememek istrinya sebentar kemudian tubuh pak Broto ambruk diatas tubuh istrinya. Aku melihat bu Broto agak kesal dan mencubit pantat pak Broto tapi dia ngga protes apa2, mungkin adat yang membuat seperti ini. Akupun kecewa karena pertunjukannya hanya sebentar dan akupun segera melangkah pelan menuju kamar mandi untuk kencing dan kembali tidur.
Jam 8 pagi aku baru bangun karena hari Sabtu aku libur kerja. Akupun langsung ke wastafel untuk gosok gigi. Pak Broto sudah berangkat kerja di kamar mandi ada bu Broto yang sedang mandi. Ketika aku selesai gosok tiba2 dari kamar mandi terdengar suara bu Broto " Aduuhhh...." Akupun segera mendekati pintu kamar mandi dan dari luar aku bertanya ke bu Broto " Kenapa bu ? "
" Oh nda apa2 de Budi, cuma daster sama pakaian dalam ibu yang jatuh dan kesiram air...." jawab bu Broto dari dalam kamar mandi
" Ooh, saya kira ada apa....." akupun segera menjauh dari pintu untuk melanjutkan nyeduh kopi.
Sesaat kemudian bu Broto keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk yang agak kekecilan ditubuhnya dan tangannya memegangi ikatannya takut lepas. Biasanya dia tidak pernah melakukan ini, keluar kamar mandi selalu sudah memakai daster, makanya dia setengah berlari apalagi saat melihat aku sedang nyeduh kopi didapur dia semakin gugup dan sambil menunduk dia tersipu " maaf..maaf de Budi".
Saking gugupnya dia tidak melihat ada bangku kecil didepanya dan ....brukk!!...aduh!!....dan bu Brotopun sempoyongan hampir terjatuh dan tentu saja dia melepaskan tangannya dari handuknya untuk menggapai pegangan agar tidak jatuh, tentu saja handuknya terlepas dari tubuhnya. Secara refleks aku yang ada didepan bu Broto menangkap tubuh telanjang bu Broto dan akupun memeluk tubuh sintal bu Broto. Tinggi kami hampir sama dan wajahnya pas didepan wajahku. Sesaat aku dapat melihat dengan jelas wajah cemas bu Broto yang sudah mulai ada kerutan di sekitar matanya tapi masih menarik dan bu Brotopun mulai sadar kalau dia telanjang dan hendak melepaskan diri, tapi aku malah mengetatkan pelukanku dan aku memberanikan diri mengecup bibirnya
" De Budi ! apa yang kamu lakukan, kamu jangan kurang ajar.." dia marah dan memberontak hendak melepaskan pelukanku tapi aku semakin ketat memeluknya
" Bu, saya tahu yang terjadi semalam antara ibu dengan bapak...." kataku
" Maksudmu ?" bu Broto berhenti berontak dan memandangku penuh selidik
" Ibu semalam kecewa sama bapak, karena bapak selesai duluan tapi ibu entah malu atau tidak berani untuk protes sehingga ibu hanya memendam kekecewaan. Apa setiap kali selalu begitu bu ? " tanyaku pelan. Entah dia malu atau memang memendam lama kekecewaan dan sesuai yang aku katakan tiba2 dia menangis dan malah memeluku dan aku hanya membiarkan dia mengis di bahuku, setelah bisa menguasai diri melepaskan pelukannya dan akupun tidak menahannya lagi sehingga dia dapat memungut handuknya yang terlepas dan menutupkannya kembali ke tubuhnya, dia bilang :
" Aku memang nda pernah merasakan kenikmatan sex. Hanya bapak yang selalu merasa puas karena dia selalu selesai duluan, bagaimana kalau istri de Budi ? " Aku ngga menjawab tapi kembali aku menarik tubuh bu Broto dan mencium bibirnya kini dia ngga melawan tapi juga tidak membalas ciumanku tapi saat mulai mencium dan menjilat bagian bawah telinganya dia agak mendesis dan saat aku kembali mencium bibirnya dia mulai membalas tapi agak kaku. Sambil berciuman pelan2 aku membimbing dia kekamarku dan dia tersadar saat aku rebahkan tubuh sintalnya ke kasurku dan melepaskan ciumanku " De Budi mau ngapain ? "
Dengan tidak melepaskan pelukanku aku berbisik didekat telinga bu Broto " Saya mau membuat ibu merasakan kenikmatan sex "
" Tapi ibu sudah tua de Budi.." protesnya
" Tapi ibu belum terlambat untuk menikmatinya..." kataku sambil tanganku membuka ikatan handuknya sehingga nampaklah tubuh telanjang bu Broto.
Akupun segera membuka pakaianku. Payudarnya walau agak kendor masih menarik bahkan terasa lembut saat aku merabanya dan pelan2 lidahku mulai menjilati payudara bu Broto, mata bu Broto terpejam menikmatinya dan kedua tangannya ditelentangkan memperlihatkan ketiaknya yang mulus. Bergantian aku menjilati payudaranya sambil tanganku mengelus2 gundukan jembutnya. Kedua paha panjang dan gempalnya mulai dibuka dan jarikupun mulai merayap ke dalam memeknya yang mulai becek dan pahanya semakin lebar dibuka sambil mulutnya mendesis....ssshh....ssshh...hhhhh....mengikuti gerakan jariku.
Ciumanku mulai merayap turun ke perutnya ....aaahhh..... dia menahan geli bercampur nikmat saat lidahku aku mainkan dipusarnya dan kedua tangan memegangi kepalaku dan lidahku terus merayap ke gundukan jembutnya, tiba2 dia bangun dan menahan kepalaku " Mau diapain ? " tanyanya. Aku kembali hanya tersenyum sambil mencium pipinya dan berbisik " Aku mau buat ibu terbang" dan dengan lembut aku baringkan kembali bu Broto dan kembali aku mainkan lidahku digundukan jembutnya tapi aku tidak langsung menjilati klitnya aku hanya menjilati selangkangannya. Memeknya semakin becek dan akupun mulai menjilati klitnya.....aaahhh.....tertahan suara bu Broto sambil kedua tangannya memegangi kepalaku pantatnya terus goyang mengikuti gerakan lidahku di klitnya, pantatnya diangkat tinggi2 dan kedua tangannya kuat2 memegangi kepalaku bahkan kadang menjambak rambutku apalagi saat lidahku dengan cepat berputar diklitnya dan dia menekan kuat2 kepalaku ke memeknya, aku tahu dia mau orgasme, makanya aku terus putar dengan cepat lidahku di klitnya, tiba2 tubuhnya bergetar dan sesaat kemudian aku rasakan ada cairan hangat membasahi daguku dan tubuh bu Brotopun diam, perlahan aku angkat kepalaku dan aku lihat nafas bu Broto terengah2 dadanya naik turun dengan cepat tapi mulutnya tersenyum padaku. " Baru sekali ini aku merasakan enaknya orgasme " Katanya sambil memelukku " Ayo sekarang gantian de Budi "
" Ibu pernah ngisep burung bapak ?" tanyaku
" Ngga pernah karena kalau diisep bapak cepat sekali keluarnya....."
" Bagaimana kalau coba punya saya, tapi jangan dihina ya, ounya saya ngga sebesar punya bapak...." candaku dan bu Broto hanya tertawa kecil sambil mendorong tubuhku dan diapun mulai menyedot2 burung, masih kaku caranya tapi lama2 dia mulai memakai lidahnya.
Akupun ngga mau diam, aku tarik paahanya agar memeknya berada diatas mulut dan akupun bisa menjilati memeknya yang sudah becek jadi semakin becek bahkan sampai mengalir ke hidungku akupun semakin bernafsu menjilati memeknya dan demikian juga bu Brotopun. Ketika dia semakin kencang mengoyangkan pantatnya dimulutku dan akupun semakin bernafsu aku minta dia segera memasukan burungku dengan posisi dia diatas dan karena kami sudah sangat bernafsu hanya 5 menit kemudian kami bersamaan keluar dan bu Broto orgasme dengan sangat hebat dengan posisi dia diatas sampai dia berteriak kuat2.
Acara seperti ini menjadi rutin setiap Sabtu pagi, yakni disaat aku libur dan pak Broto pergi bekerja.
Friday, July 23, 2010
IBU guru
Namanya Fatimah tapi biasa di panggil Bu Fat. Umurnya kutaksir sekitar 50 tahunan. Meskipun tidak begitu cantik namun mukanya selalu terlihat bersih. Wajahnya hanya dilapisi mik-up tipis dengan lips-gloss pada bibirmya serta farfum berwangi kembang selalu tercium dari tubuh Bu Fat. Maklum sudah berumur, badan Bu Fat sedikit gempal dan sepasang buah dadanya pun besar dan terlihat masih montok .
Seperti biasa pagi itu Bu Fat datang ke rumahku untuk mengajar ngaji anakku. Aku pun mempersilahkannya masuk.
''Eh, dik Lan, anak-anak sama dik Wati ke mana?'' Tanya Bu Fat.
''Iya bu saya minta maaf sama ibu karena lupa ngasih tahu kalau hari ini anak saya libur dulu soalnya ikut ibunya ke rumah saudara, bantu-bantu mau ada hajatan''. Jawabku.
"Oh begitu, nggak apa-apa, wah dik Lan bujangan lagi dong hari ini?" Kata Bu Fat sambil tersenyum tipis.
Aku hanya tersenyum menanggapinya, lalu aku tawarkan padanya minum, pertamanya sih dia menolaknya tapi setelah kutawarkan lagi akhirnya Bu Fat mau juga. Aku pun segera pergi ke dapur membuat minuman.
"Kopi aja yah, Bu Fat" Tawarku.
''O, yah nggak apa-apa, apa aja deh''. Jawabnya.
Tapi tiba-tiba otak aku mula memikirkan yang bukan-bukan, sewaktu aku ke dapur, Bu Fat duduk di atas sofa dan kulihat kain yang di pakai Bu Fat tersingkap menampakkan paha Bu Fat yang agak besar. Aku mencuri pandang sedikit sambil terus berjalan. Karena mataku asik memperhatikan paha Bu Fat aku tidak sadar kalau saat itu sudah dekat dinding dapur hingga kepalaku terantuk, ku gosok-gosok jidatku untuk menghilangkan sakit. Melihatku terantuk Bu Fat langsung bangun dan mendekatiku.
"Eh.. dik Lan.. kenapa?" Tanya Bu Fat.
Aku tak menjawab, sedangkan wajahku meringis menahan sakit.
"Ada apa sih dik Lan? Bu Fat bertanya lagi sambil tersenyum, mungkin lucu melihatku meringis, sedangkan tangannya diulurkan untuk memegang tanganku yang sedang menggosok-gosok jidat.
"Nggak apa-apa bu..," Jawabku.
Setelah tahu jidatku tidak apa-apa Bu Fat tersenyum lagi lalu dilepaskan pegangan tangannya yang memegang pergelangan tanganku, dan aku terus ke dapur untuk menyiapkan minum untuk Bu Fat dan sesudah siap kemudian ku hidangkan di meja tamu di depan Bu Fat.
''Kopinya di minum ya dik..'' Kata Bu Fat sambil mengangkat gelas kopi lalu menghirupnya perlahan setelah meniup-niup permukaan air kopi agar tidak terlalu panas.
''Oh iya silahkan Bu..,'' Aku mempersilahkan.
Saat itu nafsu seksku kembali naik ketika kuperhatikan lagi paha Bu Fat yang kembali tersibak, karena Bu Fat duduk persis dihadapanku, aku dapat melihat dengan jelas hingga ke celana dalamnya yang berwarna krem. Tapi lama-lama Bu Zila rupanya sadar, lalu dibetulkannya letak kain yang dipakainya sehingga pahanya tertutup.
"Wah.. dik Lan ini nggak boleh melihat pemandangan, matanya sampai nggak ngedip-ngedip.'' Canda Bu Fat mengagetkanku.
''Ah Bu Fat bisa aja.'' Elakku sambil cengar-cengir.
Nafsu seksku kian terbakar, otakku dipenusi fantasi seks dengan Bu Fat, bisa nggak yah aku ngedapetin wanita berusia 50 tahun ini, bisik hatiku bertanya. Ku coba mereka cara agar nafsuku terhadap Bu Fat dapat terlampiaskan . Aku memang sangat suka wanita yang sudah berumur seperti Bu Fat, bagiku mereka lebih seksi juga lebih memahami dan tidak egois dalam bermain sex.
"Er.. air kopi ni aja ke yang boleh hilangkan dahaga?" tanya aku dengan muka selamberr aja.
Kak Fat. tersentak sekejap.
"...maksud dik Lan? "
''Eh.. mana ada maksud apa apa? Saya hanya bergurau saja.." kata aku.
Untuk kesekian kalinya, setelah Bu Fat menghirup kopi, diletakkannya gelas kopi di atas meja, tapi ketika itu Bu Fat lantas bangun. Aku diam saja, dalam hatiku bertanya Bu Fat mau ngapain yah?. Ku lihat Bu Fat berjalan menuju ke lemari dimana aku memajang benda-benda hiasan.
"Istri dik Lan cantik yah?, anaknya juga cakep" Katanya sambil mengamati fotret istrik dan anakku.
"Pasti dong bu, siapa dulu bapaknya" kata aku mencuba bercanda.
"Katanya istri dik Lan sedang mengandung anak kedua?'' Tanya Bu Fat.
Aku mengiyakan.
"Sudah berapa bulan?"
"5 bulan Bu".
"Wah, itu artinya air naik ke kepala dik lan?" Lanjut Bu Fat sambil memandangku.
"..Emmh, maksud ibu? " Tanyaku tidak mengerti maksud perkataan Bu Fat.
''Nggak usah di terangin juga dik Lan nanti pasti ngerti, tadi kan dik Lan puas memandang selangkangan ibu memangnya ibu nggak tahu, udah gitu gaya dik Lan ini seperti orang yang tak puas saja" Serang Bu Fat.
"Tapi.., tadi itu saya, eu.. eh..,.. bukan.. anu..," Kata ku tergagap tak tahu harus berkata apa untuk membela diri.
"Ya sudah dik Lan, tenang aja mungkin rezeki dik Lan bisa melihat paha ibu." Kata Bu Fat sambil tersenyum aneh.
Aku bingung melihat sikap Bu Fat, hatiku bertanya-tanya apa sih maksud Bu Fat sebenarnya.
"Istri dik Lan perginya lama nggak?" Bu Fat bertanya.
"Sepertinya sih lama bu, soalnya dia pergi kerumah uwaknya, mau ada hajatan katanya, jadi ya.. bantu-bantu disana, malah mungkin nginap disana" Jawabku.
"Oh.. gitu.. toh'' Kata Bu Fat.
Bu Fat lalu membalikan badannya dan berjalan menuju kembali ke sofa lalu di hempaskan badannya.
''..Ssshh, ahh.., panas banget yah, rasanya semua bagian badan ibu berkeringat nih..'' Gumam Bu Fat, kemudian dibukanya kerudung yang dipakainya.
Aku hanya diam sambil memperhatikan saja.
"Apa Bu Fat mau mandi?, atau mau buka baju saja, silahkan saja bu" Kataku. Kuberanikan diri untuk mulai memancingnya ke arah situasi yang kuinginkan.
"Kalau iya gimana dik Lan, tapi tutup dulu dong gordennya nanti keliatan orang nggak enak." Sambut Bu Fat sambil melihat ke arah gorden.
Entah perasaan apa yang kurasakan ketika itu, aku segera bangun, kutarik kain gorden sampai rapat sambil membelakangi Bu Fat. Samar-samar ku dengar bunyi resleting di buka, aku menoleh kebelakang, nampak Bu Fat sedang membuka kain bagian bawah yang di pakainya lalu melepasnya.
"Jangan berdiri saja dik Lan, kalau mau lihat, kesini dong biar dekat.'' Goda Bu Fat.
Mendengar itu, segera ku dekati Bu Fat yang tengah menyandarkan dirinya atas sofa, dengan hanya memakai baju kurung tanpa kain bawah. Mata Bu Fat tampak dipejamkan sambil tangannya mengipas-ngipas badannya, sedangkan aku bermaksud kembali ketempatku semula, namun tiba-tiba Bu Fat menarik tangan aku saat aku melintas di depannya hingga badanku terhuyung mau jatuh di atas tubuhnya, kemudian tanpa ku duga Bu Fat lalu menarik ke atas baju kurung dia, dan terpampanglah bra yang menutupi buah dada Bu Zila yang besar. Mataku terbelalak melihatnya.
Dia kembali menyandarkan dirinya ke sofa, aku masih berdiri bingung di samping Bu Fat, kemudian bu Fat menarik pantatnya ke tepi sopa lantas bangun dan berdiri.
"Dik Lan, ibu mau ke kamar mandi, mau mandi biar segar." Kata Bu Fat .
Aku mempersilahkannya, lalu berjalan di depannya untuk menunjukan kamar mandi. Tak lama, terdengar suara air jebar-jebur sepertinya Bu Fat sedang mandi, tiba-tiba ku dengar suara benda jatuh dari dalam kamar mandi.
"Kelumpanggggg!!!!!! Pang pang pang!!!!''
''Aduhhhhh......!" Suara Bu Fat menjerit.
Dengan tergopoh-gopoh ku dekati kamar mandi, tanganku mencoba mendorong pintu kamar mandi, ternyata tak dikunci, ku beranikan diri saja membuka pintu kamar mandi dan alangkah terkejutnya aku, nampak Bu Fat dengankeadaan tubuhnya yang telanjang bulat terduduk di lantai kamar mandi dengan kedua kaki mengangkang menampakkan memeknya yang di tumbuhi bulu agak lebat denan bibir memeknya sedikit tebuka, sedangkan sepasang buah dadanya yang besar tampak menggantung berguncang-guncang.
"Kenapa bu, apa yang terjadi.. bu?'' Tanyaku khawatir.
"Ibu jatuh, kepeleset dik, lantainya kamar mandinya licin, aduhhhh.. pantat ibu sakit.'' Kata Bu Fat dengan suara menahan sakit.
Tanpa berkata-kata lagi segera ku raih dan ku bopong tubuh Bu Fat lalu memapahnya keluar dari kamar mandi dalam keadaan tubuhnya masih telanjang bulat, sambil tertatih-tatih ku papah Bu Fat ke sofa lalu ku baringkan.
"Oh, yah ibu mau saya ambilkan baju ibu di kamar mandi?" Tanyaku.
"Nggak usahlah dik, lagian bukannya tubuh ibu sudah nggak ada lagi yang belum dilihat sama dik Lan kan?'' Jawab Bu Fat.
Aku diam aja.
"Dik Lan... tolong dong urutin ini." Pinta Bu Fat sambil menunjuk bagian belakang tubuhnya.
Aku mengganguk saja, Bu Fat kemudian membaringkan badannya di atas sofa sedangkan aku duduk di sampingnya sambil memijitkan tanganku ke tubuh Bu Fat. Pantat Bu Fat yang besar montok membuatku sangat bernafsu untuk meremas-remasnya, namun aku coba menahan diri kupikir belum waktunya.
''Bawahan sedikit dik Lan, dekat pinggang, nah itu!"
Aku turutkan saja permintaan Bu Fat. Seperti saat Bu Fat memintaku mengurut bagian pinggangnya. Kulit Bu Fat terasa Lembut meski sudah tidak kencang lagi.
Semakin lama nafsuku semakin tinggi hingga aku menjadi sedikit liar dan nekad. Pijatanku kini sudah semakin ngaco dan hanya ku arahkan ke bagian-bagian tubuh Bu Fat yang menurutku menarik secara seksual. Pantat Bu Fat ku remas-remas sambil sesekali jariku sengaja ku sentuhkan ke memeknya. Kontolku semakin keras dan tegang saja. Hingga akhirnya aku tak kuat lagi menahan nafsu, kuciumi saja pantat Bi Fat dan ku panjangkan lidahku mencoba menjangkau memek Bu Lizah.
"Eh.., dik Lan, koq malah ke situ?" Tanya Bu Fat dengan suara perlahan.
Tak ku indahkan lagi pertanyaan Bu Fat, nafsuku sudah sangat tinggi, dengan liar ku jilati memek Bu Fat, ku kuakkan kaki Bu Fat hingga memek Bu Fat yang berjembut agak tebal itu tampak lebih lebih jelas lagi. Aku terus menurunkan lagi lidahku menikmati bahagian bawah memek Bu Fat yang ternyata sudah basah oleh lendir, saat lidahku menyapu sekitar bibir Bu Fat, Bu Fat terdengar mengeluh.
"..Mmmmmmmm.., sshh.., jilat yang dalam dik Lan.." Desah Bu Fat.
Aku pun menjilati memek Bu Fat dan sesekali mengigit kecil bibir memek serta itil Bu Fat.
Sambil menjilat, jari tangan ku ku masukan dan ku putar-putar di dalam lubang memek Bu Fat.
"..mmm.., aahh.., ayo masukin yang dalam jarinya, dik lan, nah ..sshh, aahhh.., putar-dik, ahhh..,'' Racau Bu Fat semakin ghairah.
Nafsuku semakin tak terbendung lagi, kuminta Bu Fat untuk terlentang. Bu Fat lalu bangun dan menyandarkan tubuhnya ke sofa lalu kakinya mengangkang, muka ku langsung ku hujamkan ke memek Bu Fat. Bu Fat memegang erat kepala aku sambil meramas ramas rambutku.
"..sssshh.., mmhh.., aahhhh..," Badan Bu Fat sampai terhempas-hempas menikmati jilatan lidahku pada memek dan itilnya, sesekali ku gigit pelan sampai Bu Fat melenguh agak keras..
"Awwwww.., uiiih..., seperti itu.., yaaaa..., aahh.., ayo lagi dik Lan.'' Lenguh Bu Fat lagi.
Sambil ku nikmati memeknya, tangan ku meremas-remas tetek Bu Fat yang menggantung bergantian, dan Bu Fat membongkokkan badannya untuk meraih kontolku, aku terus saja menjilat dan menghisap memek Bu Fat sampai aku rasakan seluruh badan Bu Fat bergeletar.
"Jilat dik Lan, Jilat semuanya,..ssshhh.., mmmmmmm.., yah..,''
Bu Fat mengangkat kepalaku sambil tersenyum dia berkata..,
"Ayo dik Lan, biar ibu udah tua tapi memek ibu masih legit koq..,'' Kata Bu Fat sambil memegang dan menepuk-nepuk memeknya.
Aku senyum, tanganku ku usap-usapkan ke permukaan memek Bu Fat, jembutnya ku tarik pelan-pelan.
"Sekarang gantian, ibu pengen ngelihat punya dik Lan.'' Pinta Bu Fat.
Aku bangun dan berdiri didepan Bu Fat, ku lepas celanaku, dan tersembulah kontolku yang sudah mengacung keras itu. Melihat itu Bu Fat tersenyum.
"Ini kalau ibu jilatin sebentar juga pasti keluar" Kata Bu Fat tersenyum.
Aku tak menanggapinya, Bu Fat lalu mendekatkan wajahnya ke kontolku dan mulutnya meraih kontolku, setelah terlebih dahulu lidahnya menjilati. Kontolku terasa hangat ketika Bu Fat memasukannya ke dalam mulutnya.
Kontolku lalu dihisap-hisapnya dengan gerak maju mundur.
"mmmmph..... mmmmmppphh" Bunyi mulut Bu Fat ketika menghisap kontolku yang bercampur air liurnya. Bu Fat juga kemudian mengulum pula buah zakar ku.
Sesekali Bu Fat memasukkan seluruh batang kontolku kedalam mulutnya dan pada bagian inilah yang aku sangat tak tahan.
"..mmmhhhh..., oohh.., Bu Fat terus bu" Aku mengeluh enak sambil ku pegang erat kepala Bu Fat, waktu kurasakan air maniku tak dapaat ku tahankan lagi.
''..aahh.., bu saya keluar bu'' Erangku.
Air maniku pun muncrat di dalam mulut Bu Fat yang terus saja menghisapi kontolku sambil memainkan lidahnya mengulas-ulas kepala kontolku.
Bu Fat tetap memegangi kontolku yang mulai mengecil. Aku terus duduk di sebelah Bu Fat.
"Wah nggak nyangka ibu pinter banget ngisep..,'' Kata ku memuji.
"Iya dong dik Lan, soalnya lelaki itu sebenarnya banyak yang lebih suka itunya di hisap dan dijilati, perempuan juga sama banyak yang lebih suka barangnya dijilati saja. Sebab tidak menguras tenaga. Pastinya, kalau lelaki pandai membuat perempuan itu puas secara begini, perempuan akan dapat melayani kembali lelaki itu dengan sempurna." Bu Fat menerangkan.
''Ibu memang sangat suka ngewe, tapi kalau ngewe tapi akhirnya tak puas buat apa? Mending usaha sendiri aja sampai puas." Kata dia lagi sambil meremas-remas kontolku yang perlahan mulai mengeras.
''Hah .. Macam dik Lan ni,, batang dahlah boleh tahan.. besar.. panjangnya cukup.. dan air pulak banyak.. puaslah perempuan tu.. tapi kalau dik lan tak reti.. susahlah nanti. Syok Sendiri.'' kata dia lagi. Aku pun dah mula nak meara main cipap Kak Zi pula.
"Dik lan, memek ibu memang sudah agak longgar sedikit, maklum aja ibu kan sudah tua, makanya dik Lan harus menusukkan kontolnya keras.'' Kata Bu Fat.
''Tenang saja bu soal tusuk menusuk sih rasanya saya sanggup.'' Kataku sambil tersenyum.
Bu Fat lantas menyandar kembali di atas sofa dan mengangkangkan kakinya, memeknya terlihat sudah basah.
''Ayo Dik Lan masukin kontolmu cepat.'' Pinta Bu Fat.
Aku pun tanpa menunggu lagi segera saja memasukkan kontolku kedalam memek Bu Fat, ku hentak dengan sekuat hati.
"Aww.., aduuhh., ayo hentak lagi dik Lan, puaskan ibu...'' Bu Fat mengerang.
''Dik Lan coba goyangin sedikit kontolnya deh, biar memek ibu semua ngerasain.'' Kata Bu Fat.
Ku ikuti permintaannya, sambil mendorong koputar kontolku bahkan seperti hendak menyungkit isi memek Bu Fat keluar.
Gerakan ku menusuk-nusukan ****** kulakukan dengan simultan, aku juga meremas-ramas tetek Bu Fat sambil tetap ku hetakan kontoku kedalamnya.
Ku rasakan Bu Fat mengemut-ngemutkan memeknya hingga kontolku serasa di remas-remas nikmat. Aku dan Bu Fat kemudian berganti posisi, Bu Fat memutar badannya supaya aku menusuknya dari belakang.
"..aahh, ..oohhh, ..aaahh, ...oohhh, ...mmmhhh. .." Bu Fat mengeluh keenakan.
Hingga beberapa saat kemudian,
"Aaaahh.., sshh.....'' Bu Fat mendesah-desah disertai gerakan tubuhnya yang semakin liar sepertinya Bu Fat klimaks.
Aku segera mencabut kontolku dari lobang memek Bu Fat yang ternyata di fahami oleh Bu Fat dengan memutar badannya dan disongsongnya kontolku dengan mulutnya. Dan dihisap-hisapnya kontolku lagi, hingga akhirnya kurasakan cairan kenikmatan menjalari kontolku, kenikmatan itu bertambah dengan hisapan yang di lakukan Bu Fat memberi sensasi seks yang berbeda yang tentunya lebih dahsyat karena spermaku seakan-akan disedot keluar oleh mulut Bu Fat. Tubuhku mengejang sedangkan tanganku sibuk mempermainkan sepasang tetek Bu Fat, merasakan kenikmatan itu sampai tetes terahir.
Setelah aku dan Bu Fat sama-sama terdiam beberapa saat, Bu Fat lalu beringsut kemudian berjalan ke kamar mandi. Ku dengar air mencebok, sepertinya Bu Fat sedang membersihkan memeknya. Bu Fat keluar dari kamar mandi sudah dengan memakai celana dalamnya tanpa BH karena Bhnya dan juga pakaiannya di bawa di tangannya sehingga tetek Bu Fat tampak berayun-ayun mengikuti gerak jalan Bu Fat. Ketika ku perhatikan teteknya Bu Fat tampak tanda merah yang secara nggak sadar ku buat ketika ngewe dengan Bu Fat tadi.
Bu Fat tersenyum kecil saja ketika melihat ku, dipakainya kembali pakaiannya. Dia kemudian mengenakan kerudungnya dan kembali ke sofa.
Aku yang masih bertelanjang bulat santai saja tiduran di sofa. Bu Fat lalu duduk di sampingku, dipegangnya kontolku yang sudah layu itu dan di remas-remasnya hingga keras dan tegang lagi.
"Wah, dik Lan mau lagi ya?, ininya keras lagi nih.'' Goda Bu Fat sambil tersenyum.
Aku Tak menjawabnya hanya tersenyum sambil mengedipkan mata. Bu Fat mengangsurkan mukanya mendekati kontolku dan mulutnya menggapai kontolku untuk kemudian dihisapnya lagi.
''Dik Lan kita main sekali lagi yah..,'' Ajak Bu Fat kepadaku.
Langsung ku anggungkan kepalaku, karena memang itu yang aku maui apa lagi setelah kontolku di sepongnya tadi nafsuku bangkit lagi.
Aku dan Bu Fat akhirnya ngewe lagi kali ni Bu Fat masih memakai kerudungnya membuatku semakin bernafsu mengewenya.
Akhirnya setelah merapikan lagi pakaian dan kerudung yang di pakainya, Bu Fat pamit, dia bilang mau pergi mengajar lagi satu di rumah. Aku mengenakan celanaku dan kubukakan pintu untuk Bu Fat, dia tersenyum melirikku sambil memakai sepatunya.
''Istirahat dulu ya dik, biar lebih segar makan telur setengah matang 2 butir dan minum air dicampur madu." Pesan Bu Fat sambil berbisik.
"Kalau dik Lan kepengen lagi, kasih tahu ibu yah, atau talepon dulu" Lanjut Bu Fat.
''Baik bu..,'' Jawabku sambil meremas pantat Bu Fat yang gempal..
Hubungan ku dengan Bu Fat terus berlangsung hingga kini, kapan pun aku mau ngewe dengan Bu Fat aku tinggal meneleponnya, dan Bu Fat tak pernah menolaknya, karena biar pun Bu Fat sudah tua ternyata nafsu seksnya masih tetap tinggi.
Thursday, July 22, 2010
Ibu Guru yang "Nakal"
Rina adalah seorang guru sejarah di smu. Umurnya 30 tahun, cerai tanpa anak. Kata orang dia mirip Demi Moore di film striptease. Tinggi 170, 50 kg, dan 36B. Semua murid-muridnya, terutama yang laki-laki pengin banget ngeliat tubuh polosnya.

Suatu hari Rina terpaksa harus memanggil salah satu muridnya ke rumahnya, untuk ulangan susulan. Si Anto harus mengulang karena ia kedapatan menyontek di kelas. Anto juga terkenal karena kekekaran tubuhnya, maklum dia sudah sejak SD bergulat dengan olah raga beladiri, karenanya ia harus menjaga kebugaran tubuhnya.
Bagi Rina, kedatangan Anto ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Ia juuga diam-diam naksir dengan anak itu. Karenanya ia bermaksud memberi anak itu 'pelajaran' tambahan di Minggu siang ini.
" Sudah selesai Anto ? " Rina masuk kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Anto selama satu jam untuk mengerjakan soal2 yang diberikannya.
" Hampir bu "
" Kalau sudah nanti masuk ke ruang tengah ya saya tinggal ke belakang.."
" Iya.."
" Bu Rina .sayaa sudah selesai " Anto masuk ke ruang tengah sambil membawa pekerjaannya.
" Ibu dimana .?"
"Ada di kamar Anto sebentar ya ." Rina berusaha membetulkan t shirtnya. Ia sengaja mencopot BH nya untuk merangsang muridnya itu. Di balik kaus longgarnya itu bentuk payudaranya terlihat jelas, terlebih lagi putting susunya yang menyembul.
Begitu ia keluar, mata Anto nyaris copot karena melotot, melihat tubuh gurunya. Rina membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas, tidak seperti biasanya saat ia tampil di muka murid-muridnya.
"Kenapa ayo duduk dulu, Ibu periksa.."
"Muka Anto merah karena malu, karena Rina tersenyum saat pandangannya terarah ke buah dadanya.
" .bagus bagus . Kamu bisa gitu kok pakai menyontek segala..? "
" Maaf bu, hari itu saya lupa untuk belajar.."
" Oooo .begitu to ?"
"Anto kamu mau menolong saya .?" Rina merapatkan duduknya di karpet ke tubuh muridnya.
" ..apa ibu ?" tubuh anto bergetar ketika tangan gurunya itu merangkul dirinya, sementara tangan Rina yang satu mengusap2 daerah 'vital' nya.
"Tolong ibu ya..dan janji jangan bocorkan pada siapa2."
"tapi tapi ..saya "
"Kenapa ? Ooooo..kamu masih perawan ya ?"
Muka Anto langsung saja merah mendengar perkataan Rina "Iya bu"
"Nggak apa-apa ." Ibu bimbing ya.
Rina kemudian duduk di pangkuan Anto. Bibir keduanya kemudia saling berpagutan, Rina yang agresif karena haus akan kehangatan dan Anto yang menurut saja ketika tubuh hangat gurunya menekan ke dadanya. Ia bisa merasakan puting susu Rina yg mengeras. Lidah Rina menjelajahi mulut Anto, mencari lidahnya untuk kemudian saling berpagutan abagai ular. Setelah puas, Rina kemudian berdiri di depa muridnya yang masih melongo. Satu demi satu pakaiannya berjatuhan ke lantai. Tubunya yang polos-los seakan akan menantang untuk diberi kehangatan oleh perjaka yang juga muridnya ini.
" Lepaskan pakaiannmu Anto " Rina berkata sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya.
"Ahhhh cepat Anto " Rina mendesah tidak sabar.
Anto kemudian berlutut di samping gurunya. Ia tidak tahu apa yg harus dilakukan. Pengetahuannya tentang sex hanya didapatnya dari buku dan video saja.
" Anto..letakkan tanganmu di dada ibu "
Dengan gemetar Anto meletakkan tangannya di dada Rina yang turun naik. Tangannya kemudian dibimbing untuk meremas-remas payudara Rina yg montok itu.
"Oohhh .enakk..begitu caranya..remas pelan-pelan, rasakan putingnya menegang.."
Dengan semangat Anto melakukan apa yang gurunya katakan.
" Ibu ..Boleh saya hisap susu ibu ?"
Rina tersenyum mendengar pertanyaan muridnya, yang berkata sambil menunduk, " Boleh..lakukan apa yg kamu suka.."
Tubuh Rina menegang ketika merasakan jilatan dan hisapan mulut pemuda itu di susunya. Perasaan yang ia pernah rasakan 3 th lalu saat ia masih bersama suaminya.
"Oohhh .jilat terus sayang .ohhhhh " Tangan Rina mendekap erat kepala Anto ke payudaranya.
Anto semakin buas menjilati pentil susu gurunya tersebut, mulutnya tanpa ia sadari menimbulkan bunyi yang nyaring. Hisapan Anto makin keras, bahkan tanpa ia sadari ia gigit-gigit ringan pentil gurunya tersebut.
"Mmmmm..nakal kamu ." Rina tersenyum merasakan tingkah muridnya itu. Sekarang coba kamu lihat daerah bawah pusar ibu.
Anto menurut saja. Duduk diantara kaki Rina yang membuka lebar. Rina kemudian menyandarkan punggungya pada dinding dibelakangya.
" Coba kamu rasakan " ia membimbing telunjuk Anto memasuki memeknya.
"Hangat bu .."
Bisa kamu rasakan ada semacam pentil ..?"
" .iya .."
"Itu yg dinamakan klitoris itu titik peka cewek juga, coba kamu gosok2 "
Pelan-pelan jari anto mengusap-usap klitoris yg mulai menyembul itu.
"Terus ..ooohhhh ..ya..gosk ..gosokk .." Rina mengerinjal-gerinjal keenakan ketika kelentitnya digosok-gosok oleh Anto.
"Kalo diginikin enak ya bu ? " Anto tersenyum sambil terus mengosok2 jarinya.
"Oohh ..Antoo .mmmmmmmm", tubuh Rini telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang2, sementara bibirnya merintih-rintih keenakan.
Tangan Anto semakin berani mempermainkan kelentiti gurunya yang makin bergelora dirangsang birahi. Nafasnya yang semakin memburu pertanda pertahanan gurunya akan segera jebol.
"Oooaaaahhhh .Anntooooooooo " Tangan Rina mencengkeram pundak muridnya, sementara tubuhnya menegang dan otot2 kewanitaannya menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yg telah lama tidak dirasakannya.
"Hmmmm .kamu lihai Anto . Sekarang..coba kamu berbaring.."
Anto menurut saja. Penisnya segera menegang ketika merasakan tangan lembut gurunya.
"Wah..wahh .besar sekali " tangan Rina segera mengusap-usap penis yang telah mengeras tersebut.
Segera saja benda panjang dan berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Rina. Ia segera menjilati ****** muridnya itu dengan penuh semangat. Kepala ****** muridnya itu dihisapnya keras2, hingga2 anto merintih2 keenakan.
"Ahhhh .enakk ..enakkkk " Anto tanpa sadar menyodok2an pinggulnya untuk semakin menekan ******nya makin ke dalam kuluman Rina. Gerakannya makin cepat..seiring semakin kerasnya hisapan Rina..
"Ooohhh ibu..ibbuuuuuuu "
Muncratlah cairan mani Anto di dalam mulut Rina, yg segera menjilati cairan itu higga tuntas.
"Hmmmm .manis rasanya Anto " Rina masih tetap menjilati ****** muridnya yg masih tegak.
"Sebentar ya aku mau minum dulu.."
Ketika Rina sedang membelakangi muridnya sambil menenggak es the dari kulkas. Tiba-tiba ia merasakan seseorang mendekapnya dari belanag .
"Anto ..biar ibu minum dulu "
"Tidak ..nikmati saja ini " Anto yg masih ngaceng berat mendorong Rina ke kulkas. Gelas yg dipegang rina jatuh, untungnya tidak pecah. Tangan Rina kini menopang tubuhnya ke permukaan pintu kulkas.
"Ibu..sekarang !"
"Ahhhkkkk ." Rina berteriak, saat Anto menyodokkan ******nya dengan keras ke liang memeknya dari belakang. Dalam hatinya ia sangat menikmati hal ini, pemuda yg tadinya pasif berubah menjadi liar.
"Antooo .enakk..ohhh ohhh " Tubuh rina bagai tanpa tenaga menikmati kenikmatan yg tiada taranya. Tangan Anto satu menyangga tubuhnya, sementara yg lain meremas2 payudaranya. Dan penisnya yg keras melumat liang memeknya.

""Ibu menikmati ini khan .." bisik anto di telinganya
'Ahhhh ..hhhhh " Rina hanya merintih, setiap merasakan sodokan keras dari belakang.
'Jawab..ibu " dengan keras anto mengulangi sodokannya.
"ahhh .iyaa "…. "Anto .anto janga ..nn di da ..lla ." belum sempat ia meneruskan kalimatnya, Rina telah merasakan cairan hangat di liang memeknya menyemprot keras. Kepalang basah ia kemudian menyodokkan keras pinggulnya.
"uuhggghhh " ****** Anto yg belepotan mani itupun amblas lagi ke dalam liang Rina .
"aAhhhhhhh, .."
Kedua insan itupun tergolek lemas..menikmati apa yg baru saja mereka rasakan.
---------end bagian pertama---------
Setelah kejadian dengan Anto, Rina masih sering bertemu dengannya guna mengulangi lagi perbuatan mereka. Namun yang mengganjal hati Rina adalah jika Anto kemudian membocorkan hal ini ke teman-temannya.
Benar juga, suatu hari ….
Ketika Rina berjalan menuju mobilnya seusai sekolah bubar, perhatiannya tertumbuk pada seorang muridnya yang duduk di sepeda motor di samping mobilnya, katakanlah dia Reza. Ia berbeda dengan Anto, anaknya agak pembuat onar jika di kelas, kekar dan nakal. Hatinya agak tidak enak melihat situasi ini.
"Bu Rina salam dari Anto " Reza melemparkan senyum sambil duduk di sepeda motornya.
"Terima kasih, boleh saya masuk " Ia harus berkata begitu karena sepeda motor Reza menghalangi pintu mobilnya.
" Boleh..boleh Bu saya juga ingin pelajaran tambahan seperti Anto."
Langkah Rina terhenti seketika. Namun otaknya masih berfungsi normal, meskupun sempat kaget.
"Kamu kan nilainya bagus, nggak ada masalah kan.." sambil duduk di balik kemudi.
"Ada sedikit sih kalau ibu nggak bisa mungkin kepala guru bisa membantu saya, sekaligus melaporkan pelajaran Anto " Reza tersenyum penuh kemenangan.
"Apa hubungannya .?" Keringat mulai menetes di dahi Rina.
"Sudahlah kita sama-sama tahu . bu. Saya jamin pasti puas. "
Tanpa menghiraukan omongan muridnya, Rina langsung menjalankan mobilnya ke rumahnya. Namun ia sempat mengamati bahwa muridnya itu mengikutinya terus hingga ia menikung untuk masuk kompleks perumahan.
Setelah mandi air hangat, ia bermaksud menonton tv di ruang tengah. Namun ketika ia hendak duduk..pintu depan diketuk oleh seseorang. Rina segera menuju pintu itu, ia mengira Anto yang datang. Ternyata ketika dibuka
"Reza ! Kenapa kamu ngikuutin saya ! " Rina agak jengkel dengan muridnya ini.
"Boleh saya masuk ? "
"Tidak !. "
"Apa guru2 perlu tau rahasiamu ? "
"!! " dengan geram ia mempersilakan Reza masuk.
"Enak ya rumahnya ,bu " dengan santainya ia duduk di dekat tv. " Pantas aja Anto senang di sini "
"Apa hubunganmu dengan Anto ?" dengan ketus Rina bertanya.
"Dia teman dekat saya, jadi artinya tidak ada rahasia diantara
kami berdua. "
Kali ini Rina benar-benar kehabisan akal. Tidak tahu harus berbuat apa.
"Bu, kalo saya mau melayani Ibu lebih baik dari Anto, mau ? " Reza bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Rina.
Rina masih belum bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas diingin. Belum sempat ia menjawab, Anto telah membuka resleting celananya. Dan setelah beberapa saat ******nya meyembul dan telah berada di hadapannya.
"Bagaimana bu, lebih besar dari Anto khan ?
Reza ternyata lebih agresif dari Anto, dengan satu gerakan meraih kepala Rina dan memasukkan ******nya ke mulut Rina.
"Mmmmpfpphhhh ."
"Ahh yaa..memang ibu pandai dalam hal ini. Nikmati saja bu..enak kok "
Rupanya nafsu menguasai diri Rina, menikmati ****** yang besar di dalam mulutnya, ia segera mengulumnya bagai permen. Dijilatinya kepala ****** pemuda itu dengan semangat. Kontan saja Reza merintih keenakan.
"Aduhh .nikmat sekali bu oohhhhh.." Reza menyodok-nyodokkan ******nya ke dalam mulut Rina, sementara tangannya meremas remas rambut bu gurunya itu. Rina merasakan ****** yang diisapnya berdenyut-denyut. Rupanya Reza sudah hendak keluar.
"Oooohhh..ibu enakkk..enakkk ..aahhhhhhhhhh.."
Cairan mani Reza muncrat di mulut Rina, yang segera menelannya. Dijilatinya ****** yang berlepotan itu hingga bersih. Kemudian ia berdiri.
"Sudahh..sudah selesai kamu bisa pulang. " Namun Rina tidak bisa memungkiri perasaannya. Ia menikmati mani Reza yang manis itu serta membayangkan bagaimana rasanya jika ****** yang gede itu masuk ke memeknya.

"Bu, ini belum selesai. Mari ke kamar, akan saya perlihatkan permainan yang sebenarnya. "
"Apa !! beraninya kamu memerintahh .!" Namun dalam hatinya ia mau. Karenanya tanpa berkata-kata ia berjalan ke kamarnya, Reza mengikuti saja.
Setelah ia di dalam, Rina tetap berdiri membelakangi muridnya itu. Ia mendengar suara pakaian jatuh, dugaannya pasti Reza sedang mencopoti pakaiannya. Ia pun segera mengikuti jejakr Reza. Namun ketika ia hendak melepaskan kancing dasternya..
"Sini saya teruskan.." ia mendengar Reza berbisik ke telinganya. Tangan Reza segera membuka kancing dasternya yang terletak di bagian depan. Kemudian setelah dasternya jatuh ke lantai, tangan itupun meraba-raba payudaranya. Rina juga merasakan ****** pemuda itu diantara belahan pantatnya.
"Gilaaa .besar amat " pikirnya. Tak lama kemudian iapun dalam keadaan polos.
****** Reza digosok2kan diantara pantatnya, sementara tangan pemuda itu meremasi payudaranya. Ketika jemari Reza meremas puuting susu Rina, erangan kenikmatanpun keluar.
"mmmmm oohhhhHHhhh . "
Reza tetap melakukan aksi peremasan itu dengan satu tangan, sementara tangan satunya melakukan operasi ke memek Rina.
"Reza aaahhhhhhhhhh .aaaHHHHHHhhhhhh .." Tubuh Rina menegang saat pentil klitorisnya ditekan2 oleh Reza.
"Enak bu .? " Reza kembali berbisik di telinga gurunya yang telah terbakar oleh api birahi itu. Rina hanya bisa menngerang, mendesah, dan berteriak lirih. Saat usapan, remasan, dan pekerjaan tangan Reza dikombinasi dengan gigitan ringan di lehernya.
Tiba-tiba Reza mendorong tubuh Rina agar membungkuk. Kakinya di lebarkan.
" Kata Anto ini posisi yg disukai ibu ."
"Ahhhhhhhhhhhhhhhkkkk ..HHmmmmm .Hmmmmmmmmpp ." Rina menjerit, saat Reza dengan keras menghujamkan ******nya ke liang memeknya dari belakang. "
"Uggghhhhh inniiiiiiiii .inniiiiiiiiiiiii ." Reza medengus penuh gairah dengan tiap hujaman ******nya ke liang Rina.
Rinapun berteriak-teriak kenikmatan, saat liang memeknya yang sempit itu dilebarkan secara cepat.
"Adduuuhhh ..terussss terussss Rezaaa ..ooohhhhhHHhHh " Kepala bu guru itu berayun-ayun, terpengaruh oleh sodokan Reza.
Tangan Reza mencengkeram pundak Rina, seolah-olah mengarahkan tubuh gurunya itu agar semakin cepat saja menelan ******nya. "Ooohhh Rina ..rinnnaaaaaaa "
Rina segera merasakan cairan hangat menyemprot di dalam memeknya dengan deras .. Matanya terpejam menikmti perasaan yang tidak bisa ia bayangkan.
Rina masih tergolek kelelahan di tempat tidur. Rambutnya yang hitam panjang menutupi bantalnya, dadanya yang indah naik-turun mengikuti irama nafasnya. Sementara itu memeknya sangat becek, berlepotan mani Reza dan maninya sendiri. Reza juga telajang bulat, ia duduk di tepi tempat tidur mengamati tubuh gurunya itu. Ia kemudian duduk mendekat, tangannya meraba-raba liang memek Rina, kemudian dipermainkannya pentil klitoris gurunya itu.
"Mmmmm capek .mmmm" bibir Rina mendesah saat pentilnya dipermaikan. Sebenarnya ia sangat lelah, tapi perasaan terangsang yang ada di dalam dirinya mulai muncul lagi. Dibukanya kakinya lebar-lebar sehingga memberikan kemudahan bagi Reza untuk memainkan itilnya.
"Rezz aahhhh ." Tubuh Rina bergetar, menggelinjang-gelinjang saat Reza mempercepat permainan tangannya.
"Bu, balik .Reza pengin nih .."
"Nakal kamu ahh .." dengan tersenyum nakal, Rina bangkit dan menungging. Tangannya memegang kayu dipan tempat tidurnya. Matanya terpejam menanti sodokan ****** Reza. Reza meraih payudara Rina dari belakang dan mencengkeramya denga keras saat ia menyodokkan penisnya yang sudah tegang
"Adduuuuhhhh ..owwwwwmmmmm .." Rina mengaduh kemudian menggigit bibirnya, saat lubang memeknnya yang telah licin melebar karena desakan ****** Reza.
"Bu Rina enak lho memek Ibu .ketat " Reza memuji sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
"Mmmmm aahhh ahhhh ..ahhhhhhkkk" Rina tidak bisa bertahan untuk hanya mendesah. Ia berteriak lirih seiring gerankan Reza. Badannya digerakkannya untuk mengimbangi serangan Reza. Kenikmatan ia peroleh juga dari remasa muridnya itu.
" Ayooo .aahhhhh ahhhhh .mmm .buat ibu keluuuaa ..rrrr lagi.." gerakan Rina makin cepat menerima sodokan Reza.
Tangan Reza beralih memegangi tubuh Rina, diangkatnya gurunya itu sehingga posisinya tidak lagi "doggy style", melainkan kini Rina menduduki ******nya dengan membelaki dirinya. Reza kini terlentang di tempat tidur yg acak2an dan penuh oleh mani yg mengering.
"Oooowwwwwww ." Teriakan Rina terdengar keras saat ia tidak bisa lagi menahan orgasmenya. Tangannya mencengkeram tangan Reza, kepalanya mendongak menikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sementara Reza sendiri tetap menusuk-nusukkan ******nya ke memek Rina yg makin becek.
"Ayoo .makin dalam dalammmmm ."
"Ahhh .aahhhhhh ..aaa hhhhhh.." Rezapun mulai berteriak-teriak.
"Mau kelluuuuaaa .rrrrrrrrrrrrrr "
" .." Rina sekali lagi memejamkan matanya, saat mani
Reza menyemprot dalam liang memeknya. Rina kemudian ambruk menidih tubuh Reza yang basah oleh peluh.
Sementara diantara kaki-kaki mereka mengalir cairan hangat hasil kenikmatan mereka..
"Bu Rina .. sungguh luar biasa . Coba kalau Anto ada disini sekarang "
"mmmm memangnya kamu mau apa ." Rina kemudian merebahkan dirinya di samping Reza. Tangannya mengusap-usap pentil Reza.
" Kita bisa main bertiga bu, pasti lebih nikmat .."
Rina tidak bisa menjawab komentar Agus, sementara perasaannya dipenuhi kebingungan.
-------End bagian ke 2------
Akhirnya hari kelulusan murid klas 3 sampai juga. Dengan demikian Rina harus berpisah dengan kedua murid yang disayanginya, terlebih lagi ketika ia harus pindah ke kota lain untuk menempati pos baru di kanwil. Karenanya ia memanggil Anto untuk datang ke rumahnya untuk memberitahukan perihal kepindahannya. Ketika seputar Indonesia mulai ditayangkan, Anto muncul. Ia langsung dipersilakan duduk.
"Bu, Anto kangen lho…"
"Iya deh..nanti. Gini, Ibu bulan depan pindah ke kota B, soalnya akan dinaikkan pangkatnya. Jadi…jadi..Ibu ingin malam ini malam terakhir kita…" mata Rina berkaca-kaca ketika mengucapkan itu.
" ………….." Anto tidak bisa menjawab. Ia kaget mendengar berita itu. Baginya Rina merupakan segalanya, terlebih lagi ia telah mendapatkan pelajaran berharga dari gurunya itu.
"…tapi Anto masih boleh berkirim surat kan ? "
Rina bisa sedikit tersenyum melihat muridnya tabah, " Iya..boleh..boleh…"
"Minum dulu Nto, ada es the di meja makan. Kalau sudah nonton VCD di kamar yaa" Rina mengerling nakal ke muridnya sambil beranjak ke kamar.
Di kamar ia mengganti pakaiannya dengan kimono kegemarannya, melepas BH, menghidupkan AC dan tentu saja menyetel VCD 'Kama Sutra-nya Penthouse ". Lalu ia tengkurap di tempat tidur sambil menonton tv.
Di luar Anto meminum es the yg disediakan Rina dan membiarkan pintu depan tidak terkunci. Ia mempunyai rencana yang telah disusun rapi dengan …
Lalu Anto menyusul Rina ke kamar tidur. Begitu pintu dibuka ia melihat gurunya tengkurap menonton vcd dengan dibalut kimono merah tipis, lekuk2 tubuhnya jelas terlihat. Rambutnya yang panjang tergerai di punggungnya bagai gadis iklan shampo Pantene.
" Ganti pakaian itu Nto.." Rina menunjuk celana pendek dan kaos tipis yang terlipat rapi di meja riasnya. Ketika Anto sedang mencopot celananya Rina sempat melihat penis pemuda itu menyembul di balik CD GT Man nya. Setelah selesai Anto juga tengkurap di samping Rina.

"Sudah liat film ini belum…? Bagus untuk info posisi-posisi ngesex. "
"Belum tuh…" Mata Anto tertuju pada posisi dimana si wanita berdiri memegang pohon sementara si pria memasukkan penisnya dari belakang, sambil meremas2 payudara partnernya.
"Mmmmm..itu posisi fave saya. Kalau kamu suka nanti CD itu bisa kamu ambil."
"Thanx.." Anto kemudian mengecup pipi gurunya.
Adegan demi Adegan terus bergulir, suasana pun menjadi semakin panas. Rina kini tengkurap dengan tidak lagi mengenakan selembar benangpun demikian pula Anto. Anto kemudian duduk di sebelah gurunya itu, dibelainya rambut Rina dengan lembut, kemudian disibakkannya ke sebelah kiri. Bibir Anto kemudian menciumi tengkuk Rina, dijilatinya rambut-rambut halus yg tumbuh lebat.
"Aaahhhhhh…"
Setelah puas, Anto kemudian memberi isyarat pada Rina agar duduk di pangkuannya.
"Bu, biar Anto yg puasin ibu malam ini…." Bisik Anto di telinga Rina. Rina yg telah duduk di pangkuan Anto pasrah saja saat kedua tangan muridnya meremas-remas payudaranya yg liat. Kemudian ia menjerit lirih saat putting susunya mendapat remasan.
"Akhh…" Rina memejamkan matanya.
"Anto…jilatin memek ibu…"
Anto kemudian merebahkan Rina, dibukanya kaki gurunya itu lebar2, kemudian dengan perlahan ia mulai menjilati memek gurunya. Bau khas dari memek yang telah basah oleh gairah itu membuat Anto kian bernafsu.
"Ooohhhh…terussss…teruusss…" Rina bergetar merasakan kenikmatan itu. Tangannya membimbing tangan Anto dalam meremasi susunya. Memberikan kenikmatan ganda.
"Jilatin..pentil itu…ooohohhhhhhhhhhhh…" Bagai dikomando Anto menjilati pentil klitoris Rina, dengan penuh semagat.
"Aduuhhh….ooohhh…oohhhhhh…hhhhh..hhhhhhhh…"
"Anto…massuuuuuukkkkkk…kkkkkk…"
Kaki Rina kemudian disampirkannnya ke pundak, dan dengan cepat disodokkannya ******nya ke memek Rina yg becek.
"mmmmmmmmm…" Rina menggigit bibirnya. Meskipun lubang memeknya telah licin, namun ****** yg besar itu tetap saja agak kesulitan menerobos masuk.
" Uuhhh…masih susah juga ya bu…" Anto sambil meringis memaju mundurkan ******nya. Ia merasakan ******nya bagai diremas-remas oleh tangan yg sangat halus saat di dalam.
Tangan Rina mempermainkan putting Anto. Dengan gemas dicubitnya hingga Anto berteriak. "Uhh,, nakal… ini balasannya ! " sodokan Anto makin keras, lebih keras dari saat ia memasukkan ******nya.
" Aaaaaaaaaaaaa…" Tiba2 pintu kamar tebuka ! Spontan Rina terkejut, tapi tidak bagi Anto. Reza sudah berdiri dimuka pintu, senjatanya telah tegak berdiri.
"Mmmm..hot juga permainan ibu dengan Anto, boleh saya bergabung ? " Reza kemudian berjalan mendekati mereka. Rina yg hendak berdiri ditahan oleh Anto, yg tetap menjaga ******nya di dalam memek rina.

"Nikmati saja…"
Reza kemudian mengangkangi Rina, ******nya berada tepat di mukanya. " Isap…ayooooo" sambil memasukkan ******nya. Saat itu pula Anto menghentakkan gerakannya. Saat Rina berteriak, saat itu pula ****** Reza masuk.
"Ahhhhhh…nikmat…". Rina merem-melek menghisap-hisap ****** muridnya, sementara Anto dengan puas menggarap memeknya.
"Uuufff…jilatin..jilattt…" tangan Reza memegangi kepala Rina, agar semakin dalam saja mengisap ******nya.
Posisi itu tetap bertahan hingga akhirnya Anto keluar duluan. Maninya menyemprot dengan leluasa di lubang memek gurunya yang cantik. Sementara Reza tetap mengerang-erang sambil medorong-dorong kepala Rina.
Setelah Anto mengeluarkan ******nya dari memek Rina… "Berdiri menghadap tembok bu ! "
Rina masih kelelahan. Ia telah orgasme pula saat Anto keluar, namun ia tidak bisa teriak karena ada ****** di mulutnya. Saat ia berdiri dengan tangan di tembok menahan tubuhnya, mani Anto menetes ke lantai.
"mmmm..Nto..liat tuh punya kamu.." seru Reza sambil nyengir. Ia kemudian menempelkan tubuhnya ke Rina. ******nya tepat berada di antara kedua pantat Rina.
"Nih bu rasakan punya Reza juga ya….."
Anto dengan santai menyaksikan temannya menggarap gurunya dari belakang. Tangan Reza memegangi pinggang Rina saat ia menyodok-nyodokkan ******nya keluar masuk dengan cepat. Saat Rina merintih-rintih menikmati permainan mereka, Anto merasakan ******nya ngaceng lagi. Ia tidak tahan melihat pemandangan yg sangat erotik sekali.
Kedua insan itu saling mengaduh, mendesah, dan berteriak lirih seiring kenikmatan yg mereka berikan dan rasakan.
"Ooooowwwwww…" Tubuh Rina yang disangga Reza menegang, kemudian lemas.
Anto menduga mereka berdua telah sampai di puncak kenikmatan. Timbul isengnya, ia kemudian mendekati mereka dan……..menyusup diantara Rina dan tembok. Dipindahkannya tangan Rina ke pundaknya, dan ******nya menggantikan posisi Reza.
"Anto…" Lagi-lagi Rina mendesah saat ****** Anto masuk dan pinggulnya didorong oleh Reza dari belakang.
" Ahhh..ahhhh…doronggg…doronggggg…"
"…………………….."
"aaaaaaaaa…aaaaaaa…aaaaaaaaaaaa"
"Oooooooooh …"
Rina berteriak keras sekali, saat dorongan Reza sangat keras menekan pinggulnya. ****** Anto amblas hingga mencapai pangkalnya masuk ke memek Rina. Saat itu pula ia merasakan ****** yg berdenyut-denyut itu melepaskan muatannya untuk kedua kali.
Malam itu merupakan malam yang liar bagi ketiga insan yg akan berpisah itu. Malam yg tidak bisa mereka lupakan untuk selamanya.
Setelah kejadian dengan Anto, Rina masih sering bertemu dengannya guna mengulangi lagi perbuatan mereka. Namun yang mengganjal hati Rina adalah jika Anto kemudian membocorkan hal ini ke teman-temannya. Benar juga, suatu hari ?.
Ketika Rina berjalan menuju mobilnya seusai sekolah bubar, perhatiannya tertumbuk pada seorang muridnya yang duduk di sepeda motor di samping mobilnya, katakanlah dia Reza. Ia berbeda dengan Anto, anaknya agak pembuat onar jika di kelas, kekar dan nakal. Hatinya agak tidak enak melihat situasi ini.
"Bu Rina salam dari Anto " Reza melemparkan senyum sambil duduk di sepeda motornya.
" Terima kasih, boleh saya masuk " Ia harus berkata begitu karena sepeda motor Reza menghalangi pintu mobilnya.
" Boleh..boleh Bu saya juga ingin pelajaran tambahan seperti Anto."
Langkah Rina terhenti seketika. Namun otaknya masih berfungsi normal, meskupun sempat kaget.
"Kamu kan nilainya bagus, nggak ada masalah kan.." sambil duduk di balik kemudi.
" Ada sedikit sih kalau ibu nggak bisa mungkin kepala guru bisa membantu saya, sekaligus melaporkan pelajaran Anto " Reza tersenyum penuh kemenangan.

" Apa hubungannya .?" Keringat mulai menetes di dahi Rina.
" Sudahlah kita sama-sama tahu . bu. Saya jamin pasti puas. "
Tanpa menghiraukan omongan muridnya, Rina langsung menjalankan mobilnya ke rumahnya. Namun ia sempat mengamati bahwa muridnya itu mengikutinya terus hingga ia menikung untuk masuk kompleks perumahan.
Setelah mandi air hangat, ia bermaksud menonton tv di ruang tengah. Namun ketika ia hendak duduk..pintu depan diketuk oleh seseorang. Rina segera menuju pintu itu, ia mengira Anto yang datang. Ternyata ketika dibuka
"Reza ! Kenapa kamu ngikuutin saya ! " Rina agak jengkel dengan muridnya ini.
"Boleh saya masuk ? "
" Tidak !. "
" Apa guru2 perlu tau rahasiamu ? "
" !! " dengan geram ia mempersilakan Reza masuk.
" Enak ya rumahnya ,bu " dengan santainya ia duduk di dekat tv. " Pantas aja Anto senang di sini "
" Apa hubunganmu dengan Anto ? Itu urusan kami berdua " dengan ketus Rina bertanya.
" Dia teman dekat saya. Tidak ada rahasia diantara kami berdua. Jadi artinya "
Kali ini Rina benar-benar kehabisan akal. Tidak tahu harus berbuat apa.
" Bu, kalo saya mau melayani Ibu lebih baik dari Anto, mau ? " Reza bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Rina.
Rina masih belum bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas diingin. Belum sempat ia menjawab, Anto telah membuka resleting celananya. Dan setelah beberapa saat ******nya meyembul dan telah berada di hadapannya.
"Bagaimana bu, lebih besar dari Anto khan ?
Reza ternyata lebih agresif dari Anto, dengan satu gerakan meraih kepala Rina dan memasukkan ******nya ke mulut Rina.
"Mmmmpfpphhhh ."
"Ahh yaa..memang ibu pandai dalam hal ini. Nikmati saja bu..enak kok "
Rupanya nafsu menguasai diri Rina, menikmati ****** yang besar di dalam mulutnya, ia segera mengulumnya bagai permen. Dijilatinya kepala ****** pemuda itu dengan semangat. Kontan saja Reza merintih keenakan.
"Aduhh .nikmat sekali bu oohhhhh.." Reza menyodok-nyodokkan ******nya ke dalam mulut Rina, sementara tangannya meremas remas rambut bu gurunya itu. Rina merasakan ****** yang diisapnya berdenyut-denyut. Rupanya Reza sudah hendak keluar.
"Oooohhh..ibu enakkk..enakkk ..aahhhhhhhhhh.."
Cairan mani Reza muncrat di mulut Rina, yang segera menelannya. Dijilatinya ****** yang berlepotan itu hingga bersih. Kemudian ia berdiri.
"Sudahh..sudah selesai kamu bisa pulang. " Namun Rina tidak bisa memungkiri perasaannya. Ia menikmati mani Reza yang manis itu serta membayangkan bagaimana rasanya jika ****** yang gede itu masuk ke memeknya.
"Bu, ini belum selesai. Mari ke kamar, akan saya perlihatkan permainan yang sebenarnya. "
"Apa !! beraninya kamu memerintahh .!" Namun dalam hatinya ia mau. Karenanya tanpa berkata-kata ia berjalan ke kamarnya, Reza mengikuti saja.

Setelah ia di dalam, Rina tetap berdiri membelakangi muridnya itu. Ia mendengar suara pakaian jatuh, dugaannya pasti Reza sedang mencopoti pakaiannya. Ia pun segera mengikuti jejakr Reza. Namun ketika ia hendak melepaskan kancing dasternya..
" Sini saya teruskan.." ia mendengar Reza berbisik ke telinganya. Tangan Reza segera membuka kancing dasternya yang terletak di bagian depan. Kemudia setelah dasternya jatuh ke lantai, tangan itupun meraba-raba payudaranya. Rina juga merasakan ****** pemuda itu diantara belahan pantatnya.
"Gilaaa .besar amat " pikirnya. Tak lama kemudian iapun dalam keadaan polos.
****** Reza digosok2kan diantara pantatnya, sementara tangan pemuda itu meremasi payudaranya. Ketika jemari Reza meremas puuting susu Rina, erangan kenikmatanpun keluar.
"mmmmm oohhhhHHhhh . "
Reza tetap melakuka aksi peremasan itu dengan satu tangan, sementara tangan satunya melakukan operasi ke memek Rina.
"Reza aaahhhhhhhhhh .aaaHHHHHHhhhhhh .." Tubuh Rina menegang saat pentil klitorisnya ditekan2 oleh Reza.
"Enak bu .? " Reza kembali berbisik di telinga gurunya yang telah terbakar oleh api birahi itu.
Rina hanya bisa menngerang, mendesah, dan berteriak lirih. Saat usapan, remasan, dan pekerjaan tangan Reza dikombinasi dengan gigitan ringan di lehernya.
Tiba-tiba Reza mendorong tubuh Rina agar membungkuk. Kakinya di lebarkan.
" Kata Anto ini posisi yg disukai ibu ."
"Ahhhhhhhhhhhhhhhkkkk ..HHmmmmm .Hmmmmmmmmpp ." Rina menjerit, saat Reza dengan keras menghujamkan ******nya ke liang memeknya dari belakang. "
"Uggghhhhh inniiiiiiiii .inniiiiiiiiiiiii ." Reza medengus penuh gairah dengan tiap hujaman ******nya ke liang Rina.
Rinapun berteriak-teriak kenikmatan, saat liang memeknya yang sempit itu dilebarkan secara cepat.
" Adduuuhhh ..terussss terussss Rezaaa ..ooohhhhhHHhHh " Kepala bu guru itu berayun-ayun, terpengaruh oleh sodokan Reza. Tangan Reza mencengkeram pundak Rina, seolah-olah mengarahkan tubuh gurunya itu agar semakin cepat saja menelan ******nya.
"Ooohhh Rina ..rinnnaaaaaaa "
Rina segera merasakan cairan hangat menyemprot di dalam memeknya dengan deras .. Matanya terpejam menikmti perasaan yang tidak bisa ia bayangkan.
Rina masih tergolek kelelahan di tempat tidur. Rambutnya yang hitam panjang menutupi bantalnya, dadanya yang indah naik-turun mengikuti irama nafasnya. Sementara itu memeknya sangat becek, berlepotan mani Reza dan maninya sendiri. Reza juga telajang bulat, ia duduk di tepi twmpat tidur mengamati tubuh gurunya itu. Ia kemudian duduk mendekat, tangannya meraba-raba liang memek Rina, kemudian dipermainkannya pentil klitoris gurunya itu.
"Mmmmm capek .mmmm" bibir Rina mendesah saat pentilnya dipermaikan. Sebenarnya ia sangat lelah, tapi perasaan terangsang yang ada di dalam dirinya mulai muncul lagi. Dibukanya kakinya lebar-lebar sehingga memberikan kemudahan bagi Reza untuk memainkan itilnya.
"Rezz aahhhh ." Tubuh Rina bergetar, menggelinjang-gelinjang saat Reza mempercepat permainan tangannya.
"Bu, balik .Reza pengin nih .."
"Nakal kamu ahh .." dengan tersenyum nakal, Rina bangkit dan menungging. Tangannya memegang kayu dipan tempat tidurnya. Matanya terpejam menanti sodokan ****** Reza. Reza meraih payudara Rina dari belakang dan mencengkeramya denga keras saat ia menyodokkan penisnya yang sudah tegang
"Adduuuuhhhh ..owwwwwmmmmm .." Rina mengaduh kemudian menggigit bibirnya, saat lubang memeknnya yang telah licin melebar karena desakan ****** Reza.
"Bu Rina enak lho memek Ibu .ketat " Reza memuji sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
"Mmmmm aahhh ahhhh ..ahhhhhhkkk" Rina tidak bisa bertahan untuk hanya mendesah. Ia berteriak lirih seiring gerankan Reza. Badannya digerakkannya untuk mengimbangi serangan Reza. Kenikmatan ia peroleh juga dari remasa muridnya itu.
" Ayooo .aahhhhh ahhhhh .mmm .buat ibu keluuuaa ..rrrr lagi.." gerakan Rina makin cepat menerima sodokan Reza.
Tangan Reza beralih memegangi tubuh Rina, diangkatnya gurunya itu sehingga posisinya tidak lagi "doggy style", melainkan kini Rina menduduki ******nya dengan membelaki dirinya. Reza kini terlentang di tempat tidur yg acak2an dan penuh oleh mani yg mengering.
"Oooowwwwwww ." Teriakan Rina terdengar keras saat ia tidak bisa lagi menahan orgasmenya. Tangannya mencengkeram tangan Reza, kepalanya mendongak menikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sementara Reza sendiri tetap menusuk-nusukkan ******nya ke memek Rina yg makin becek.
"Ayoo .makin dalam dalammmmm ."
"Ahhh .aahhhhhh ..aaa hhhhhh.." Rezapun mulai berteriak-teriak.
"Mau kelluuuuaaa .rrrrrrrrrrrrrr "
" .." Rina sekali lagi memejamkan matanya, saat mani Reza menyemprot dalam liang memeknya. Rina kemuidan ambruk menidih tubuh Reza yang basah oleh peluh. Sementara diantara kaki-kaki mereka mengalir cairan hangat hasil kenikmatan mereka..
"Bu Rina .. sungguh luar biasa . Coba kalau Anto ada disini sekarang "
"mmmm memangnya kamu mau apa ." Rina kemudian merebahkan dirinya di samping Reza. Tangannya mengusap-usap pentil Reza.
" Kita bisa main bertiga bu, pasti lebih nikmat .."
Rina tidak bisa menjawab komentar Agus, sementara perasaannya dipenuhi kebingungan.
End
Bagi Rina, kedatangan Anto ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Ia juuga diam-diam naksir dengan anak itu. Karenanya ia bermaksud memberi anak itu 'pelajaran' tambahan di Minggu siang ini.
" Sudah selesai Anto ? " Rina masuk kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Anto selama satu jam untuk mengerjakan soal2 yang diberikannya.
" Hampir bu "
" Kalau sudah nanti masuk ke ruang tengah ya saya tinggal ke belakang.."
" Iya.."
" Bu Rina .sayaa sudah selesai " Anto masuk ke ruang tengah sambil membawa pekerjaannya.
" Ibu dimana .?"
"Ada di kamar Anto sebentar ya ." Rina berusaha membetulkan t shirtnya. Ia sengaja mencopot BH nya untuk merangsang muridnya itu. Di balik kaus longgarnya itu bentuk payudaranya terlihat jelas, terlebih lagi putting susunya yang menyembul.
Begitu ia keluar, mata Anto nyaris copot karena melotot, melihat tubuh gurunya. Rina membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas, tidak seperti biasanya saat ia tampil di muka murid-muridnya.
"Kenapa ayo duduk dulu, Ibu periksa.."
"Muka Anto merah karena malu, karena Rina tersenyum saat pandangannya terarah ke buah dadanya.
" .bagus bagus . Kamu bisa gitu kok pakai menyontek segala..? "
" Maaf bu, hari itu saya lupa untuk belajar.."
" Oooo .begitu to ?"
"Anto kamu mau menolong saya .?" Rina merapatkan duduknya di karpet ke tubuh muridnya.
" ..apa ibu ?" tubuh anto bergetar ketika tangan gurunya itu merangkul dirinya, sementara tangan Rina yang satu mengusap2 daerah 'vital' nya.
"Tolong ibu ya..dan janji jangan bocorkan pada siapa2."
"tapi tapi ..saya "
"Kenapa ? Ooooo..kamu masih perawan ya ?"
Muka Anto langsung saja merah mendengar perkataan Rina "Iya bu"
"Nggak apa-apa ." Ibu bimbing ya.
Rina kemudian duduk di pangkuan Anto. Bibir keduanya kemudia saling berpagutan, Rina yang agresif karena haus akan kehangatan dan Anto yang menurut saja ketika tubuh hangat gurunya menekan ke dadanya. Ia bisa merasakan puting susu Rina yg mengeras. Lidah Rina menjelajahi mulut Anto, mencari lidahnya untuk kemudian saling berpagutan abagai ular. Setelah puas, Rina kemudian berdiri di depa muridnya yang masih melongo. Satu demi satu pakaiannya berjatuhan ke lantai. Tubunya yang polos-los seakan akan menantang untuk diberi kehangatan oleh perjaka yang juga muridnya ini.
" Lepaskan pakaiannmu Anto " Rina berkata sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya.
"Ahhhh cepat Anto " Rina mendesah tidak sabar.
Anto kemudian berlutut di samping gurunya. Ia tidak tahu apa yg harus dilakukan. Pengetahuannya tentang sex hanya didapatnya dari buku dan video saja.
" Anto..letakkan tanganmu di dada ibu "
Dengan gemetar Anto meletakkan tangannya di dada Rina yang turun naik. Tangannya kemudian dibimbing untuk meremas-remas payudara Rina yg montok itu.
"Oohhh .enakk..begitu caranya..remas pelan-pelan, rasakan putingnya menegang.."
Dengan semangat Anto melakukan apa yang gurunya katakan.
" Ibu ..Boleh saya hisap susu ibu ?"
Rina tersenyum mendengar pertanyaan muridnya, yang berkata sambil menunduk, " Boleh..lakukan apa yg kamu suka.."
Tubuh Rina menegang ketika merasakan jilatan dan hisapan mulut pemuda itu di susunya. Perasaan yang ia pernah rasakan 3 th lalu saat ia masih bersama suaminya.
"Oohhh .jilat terus sayang .ohhhhh " Tangan Rina mendekap erat kepala Anto ke payudaranya.
Anto semakin buas menjilati pentil susu gurunya tersebut, mulutnya tanpa ia sadari menimbulkan bunyi yang nyaring. Hisapan Anto makin keras, bahkan tanpa ia sadari ia gigit-gigit ringan pentil gurunya tersebut.
"Mmmmm..nakal kamu ." Rina tersenyum merasakan tingkah muridnya itu. Sekarang coba kamu lihat daerah bawah pusar ibu.
Anto menurut saja. Duduk diantara kaki Rina yang membuka lebar. Rina kemudian menyandarkan punggungya pada dinding dibelakangya.
" Coba kamu rasakan " ia membimbing telunjuk Anto memasuki memeknya.
"Hangat bu .."
Bisa kamu rasakan ada semacam pentil ..?"
" .iya .."
"Itu yg dinamakan klitoris itu titik peka cewek juga, coba kamu gosok2 "
Pelan-pelan jari anto mengusap-usap klitoris yg mulai menyembul itu.
"Terus ..ooohhhh ..ya..gosk ..gosokk .." Rina mengerinjal-gerinjal keenakan ketika kelentitnya digosok-gosok oleh Anto.
"Kalo diginikin enak ya bu ? " Anto tersenyum sambil terus mengosok2 jarinya.
"Oohh ..Antoo .mmmmmmmm", tubuh Rini telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang2, sementara bibirnya merintih-rintih keenakan.
Tangan Anto semakin berani mempermainkan kelentiti gurunya yang makin bergelora dirangsang birahi. Nafasnya yang semakin memburu pertanda pertahanan gurunya akan segera jebol.
"Oooaaaahhhh .Anntooooooooo " Tangan Rina mencengkeram pundak muridnya, sementara tubuhnya menegang dan otot2 kewanitaannya menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yg telah lama tidak dirasakannya.
"Hmmmm .kamu lihai Anto . Sekarang..coba kamu berbaring.."
Anto menurut saja. Penisnya segera menegang ketika merasakan tangan lembut gurunya.
"Wah..wahh .besar sekali " tangan Rina segera mengusap-usap penis yang telah mengeras tersebut.
Segera saja benda panjang dan berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Rina. Ia segera menjilati ****** muridnya itu dengan penuh semangat. Kepala ****** muridnya itu dihisapnya keras2, hingga2 anto merintih2 keenakan.
"Ahhhh .enakk ..enakkkk " Anto tanpa sadar menyodok2an pinggulnya untuk semakin menekan ******nya makin ke dalam kuluman Rina. Gerakannya makin cepat..seiring semakin kerasnya hisapan Rina..
"Ooohhh ibu..ibbuuuuuuu "
Muncratlah cairan mani Anto di dalam mulut Rina, yg segera menjilati cairan itu higga tuntas.
"Hmmmm .manis rasanya Anto " Rina masih tetap menjilati ****** muridnya yg masih tegak.
"Sebentar ya aku mau minum dulu.."
Ketika Rina sedang membelakangi muridnya sambil menenggak es the dari kulkas. Tiba-tiba ia merasakan seseorang mendekapnya dari belanag .
"Anto ..biar ibu minum dulu "
"Tidak ..nikmati saja ini " Anto yg masih ngaceng berat mendorong Rina ke kulkas. Gelas yg dipegang rina jatuh, untungnya tidak pecah. Tangan Rina kini menopang tubuhnya ke permukaan pintu kulkas.
"Ibu..sekarang !"
"Ahhhkkkk ." Rina berteriak, saat Anto menyodokkan ******nya dengan keras ke liang memeknya dari belakang. Dalam hatinya ia sangat menikmati hal ini, pemuda yg tadinya pasif berubah menjadi liar.
"Antooo .enakk..ohhh ohhh " Tubuh rina bagai tanpa tenaga menikmati kenikmatan yg tiada taranya. Tangan Anto satu menyangga tubuhnya, sementara yg lain meremas2 payudaranya. Dan penisnya yg keras melumat liang memeknya.
'Ahhhh ..hhhhh " Rina hanya merintih, setiap merasakan sodokan keras dari belakang.
'Jawab..ibu " dengan keras anto mengulangi sodokannya.
"ahhh .iyaa "…. "Anto .anto janga ..nn di da ..lla ." belum sempat ia meneruskan kalimatnya, Rina telah merasakan cairan hangat di liang memeknya menyemprot keras. Kepalang basah ia kemudian menyodokkan keras pinggulnya.
"uuhggghhh " ****** Anto yg belepotan mani itupun amblas lagi ke dalam liang Rina .
"aAhhhhhhh, .."
Kedua insan itupun tergolek lemas..menikmati apa yg baru saja mereka rasakan.
---------end bagian pertama---------
Setelah kejadian dengan Anto, Rina masih sering bertemu dengannya guna mengulangi lagi perbuatan mereka. Namun yang mengganjal hati Rina adalah jika Anto kemudian membocorkan hal ini ke teman-temannya.
Benar juga, suatu hari ….
Ketika Rina berjalan menuju mobilnya seusai sekolah bubar, perhatiannya tertumbuk pada seorang muridnya yang duduk di sepeda motor di samping mobilnya, katakanlah dia Reza. Ia berbeda dengan Anto, anaknya agak pembuat onar jika di kelas, kekar dan nakal. Hatinya agak tidak enak melihat situasi ini.
"Bu Rina salam dari Anto " Reza melemparkan senyum sambil duduk di sepeda motornya.
"Terima kasih, boleh saya masuk " Ia harus berkata begitu karena sepeda motor Reza menghalangi pintu mobilnya.
" Boleh..boleh Bu saya juga ingin pelajaran tambahan seperti Anto."
Langkah Rina terhenti seketika. Namun otaknya masih berfungsi normal, meskupun sempat kaget.
"Kamu kan nilainya bagus, nggak ada masalah kan.." sambil duduk di balik kemudi.
"Ada sedikit sih kalau ibu nggak bisa mungkin kepala guru bisa membantu saya, sekaligus melaporkan pelajaran Anto " Reza tersenyum penuh kemenangan.
"Apa hubungannya .?" Keringat mulai menetes di dahi Rina.
"Sudahlah kita sama-sama tahu . bu. Saya jamin pasti puas. "
Tanpa menghiraukan omongan muridnya, Rina langsung menjalankan mobilnya ke rumahnya. Namun ia sempat mengamati bahwa muridnya itu mengikutinya terus hingga ia menikung untuk masuk kompleks perumahan.
Setelah mandi air hangat, ia bermaksud menonton tv di ruang tengah. Namun ketika ia hendak duduk..pintu depan diketuk oleh seseorang. Rina segera menuju pintu itu, ia mengira Anto yang datang. Ternyata ketika dibuka
"Reza ! Kenapa kamu ngikuutin saya ! " Rina agak jengkel dengan muridnya ini.
"Boleh saya masuk ? "
"Tidak !. "
"Apa guru2 perlu tau rahasiamu ? "
"!! " dengan geram ia mempersilakan Reza masuk.
"Enak ya rumahnya ,bu " dengan santainya ia duduk di dekat tv. " Pantas aja Anto senang di sini "
"Apa hubunganmu dengan Anto ?" dengan ketus Rina bertanya.
"Dia teman dekat saya, jadi artinya tidak ada rahasia diantara
kami berdua. "
Kali ini Rina benar-benar kehabisan akal. Tidak tahu harus berbuat apa.
"Bu, kalo saya mau melayani Ibu lebih baik dari Anto, mau ? " Reza bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Rina.
Rina masih belum bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas diingin. Belum sempat ia menjawab, Anto telah membuka resleting celananya. Dan setelah beberapa saat ******nya meyembul dan telah berada di hadapannya.
"Bagaimana bu, lebih besar dari Anto khan ?
Reza ternyata lebih agresif dari Anto, dengan satu gerakan meraih kepala Rina dan memasukkan ******nya ke mulut Rina.
"Mmmmpfpphhhh ."
"Ahh yaa..memang ibu pandai dalam hal ini. Nikmati saja bu..enak kok "
Rupanya nafsu menguasai diri Rina, menikmati ****** yang besar di dalam mulutnya, ia segera mengulumnya bagai permen. Dijilatinya kepala ****** pemuda itu dengan semangat. Kontan saja Reza merintih keenakan.
"Aduhh .nikmat sekali bu oohhhhh.." Reza menyodok-nyodokkan ******nya ke dalam mulut Rina, sementara tangannya meremas remas rambut bu gurunya itu. Rina merasakan ****** yang diisapnya berdenyut-denyut. Rupanya Reza sudah hendak keluar.
"Oooohhh..ibu enakkk..enakkk ..aahhhhhhhhhh.."
Cairan mani Reza muncrat di mulut Rina, yang segera menelannya. Dijilatinya ****** yang berlepotan itu hingga bersih. Kemudian ia berdiri.
"Sudahh..sudah selesai kamu bisa pulang. " Namun Rina tidak bisa memungkiri perasaannya. Ia menikmati mani Reza yang manis itu serta membayangkan bagaimana rasanya jika ****** yang gede itu masuk ke memeknya.
"Apa !! beraninya kamu memerintahh .!" Namun dalam hatinya ia mau. Karenanya tanpa berkata-kata ia berjalan ke kamarnya, Reza mengikuti saja.
Setelah ia di dalam, Rina tetap berdiri membelakangi muridnya itu. Ia mendengar suara pakaian jatuh, dugaannya pasti Reza sedang mencopoti pakaiannya. Ia pun segera mengikuti jejakr Reza. Namun ketika ia hendak melepaskan kancing dasternya..
"Sini saya teruskan.." ia mendengar Reza berbisik ke telinganya. Tangan Reza segera membuka kancing dasternya yang terletak di bagian depan. Kemudian setelah dasternya jatuh ke lantai, tangan itupun meraba-raba payudaranya. Rina juga merasakan ****** pemuda itu diantara belahan pantatnya.
"Gilaaa .besar amat " pikirnya. Tak lama kemudian iapun dalam keadaan polos.
****** Reza digosok2kan diantara pantatnya, sementara tangan pemuda itu meremasi payudaranya. Ketika jemari Reza meremas puuting susu Rina, erangan kenikmatanpun keluar.
"mmmmm oohhhhHHhhh . "
Reza tetap melakukan aksi peremasan itu dengan satu tangan, sementara tangan satunya melakukan operasi ke memek Rina.
"Reza aaahhhhhhhhhh .aaaHHHHHHhhhhhh .." Tubuh Rina menegang saat pentil klitorisnya ditekan2 oleh Reza.
"Enak bu .? " Reza kembali berbisik di telinga gurunya yang telah terbakar oleh api birahi itu. Rina hanya bisa menngerang, mendesah, dan berteriak lirih. Saat usapan, remasan, dan pekerjaan tangan Reza dikombinasi dengan gigitan ringan di lehernya.
Tiba-tiba Reza mendorong tubuh Rina agar membungkuk. Kakinya di lebarkan.
" Kata Anto ini posisi yg disukai ibu ."
"Ahhhhhhhhhhhhhhhkkkk ..HHmmmmm .Hmmmmmmmmpp ." Rina menjerit, saat Reza dengan keras menghujamkan ******nya ke liang memeknya dari belakang. "
"Uggghhhhh inniiiiiiiii .inniiiiiiiiiiiii ." Reza medengus penuh gairah dengan tiap hujaman ******nya ke liang Rina.
Rinapun berteriak-teriak kenikmatan, saat liang memeknya yang sempit itu dilebarkan secara cepat.
"Adduuuhhh ..terussss terussss Rezaaa ..ooohhhhhHHhHh " Kepala bu guru itu berayun-ayun, terpengaruh oleh sodokan Reza.
Tangan Reza mencengkeram pundak Rina, seolah-olah mengarahkan tubuh gurunya itu agar semakin cepat saja menelan ******nya. "Ooohhh Rina ..rinnnaaaaaaa "
Rina segera merasakan cairan hangat menyemprot di dalam memeknya dengan deras .. Matanya terpejam menikmti perasaan yang tidak bisa ia bayangkan.
Rina masih tergolek kelelahan di tempat tidur. Rambutnya yang hitam panjang menutupi bantalnya, dadanya yang indah naik-turun mengikuti irama nafasnya. Sementara itu memeknya sangat becek, berlepotan mani Reza dan maninya sendiri. Reza juga telajang bulat, ia duduk di tepi tempat tidur mengamati tubuh gurunya itu. Ia kemudian duduk mendekat, tangannya meraba-raba liang memek Rina, kemudian dipermainkannya pentil klitoris gurunya itu.
"Mmmmm capek .mmmm" bibir Rina mendesah saat pentilnya dipermaikan. Sebenarnya ia sangat lelah, tapi perasaan terangsang yang ada di dalam dirinya mulai muncul lagi. Dibukanya kakinya lebar-lebar sehingga memberikan kemudahan bagi Reza untuk memainkan itilnya.
"Rezz aahhhh ." Tubuh Rina bergetar, menggelinjang-gelinjang saat Reza mempercepat permainan tangannya.
"Bu, balik .Reza pengin nih .."
"Nakal kamu ahh .." dengan tersenyum nakal, Rina bangkit dan menungging. Tangannya memegang kayu dipan tempat tidurnya. Matanya terpejam menanti sodokan ****** Reza. Reza meraih payudara Rina dari belakang dan mencengkeramya denga keras saat ia menyodokkan penisnya yang sudah tegang
"Adduuuuhhhh ..owwwwwmmmmm .." Rina mengaduh kemudian menggigit bibirnya, saat lubang memeknnya yang telah licin melebar karena desakan ****** Reza.
"Bu Rina enak lho memek Ibu .ketat " Reza memuji sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
"Mmmmm aahhh ahhhh ..ahhhhhhkkk" Rina tidak bisa bertahan untuk hanya mendesah. Ia berteriak lirih seiring gerankan Reza. Badannya digerakkannya untuk mengimbangi serangan Reza. Kenikmatan ia peroleh juga dari remasa muridnya itu.
" Ayooo .aahhhhh ahhhhh .mmm .buat ibu keluuuaa ..rrrr lagi.." gerakan Rina makin cepat menerima sodokan Reza.
Tangan Reza beralih memegangi tubuh Rina, diangkatnya gurunya itu sehingga posisinya tidak lagi "doggy style", melainkan kini Rina menduduki ******nya dengan membelaki dirinya. Reza kini terlentang di tempat tidur yg acak2an dan penuh oleh mani yg mengering.
"Oooowwwwwww ." Teriakan Rina terdengar keras saat ia tidak bisa lagi menahan orgasmenya. Tangannya mencengkeram tangan Reza, kepalanya mendongak menikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sementara Reza sendiri tetap menusuk-nusukkan ******nya ke memek Rina yg makin becek.
"Ayoo .makin dalam dalammmmm ."
"Ahhh .aahhhhhh ..aaa hhhhhh.." Rezapun mulai berteriak-teriak.
"Mau kelluuuuaaa .rrrrrrrrrrrrrr "
" .." Rina sekali lagi memejamkan matanya, saat mani
Reza menyemprot dalam liang memeknya. Rina kemudian ambruk menidih tubuh Reza yang basah oleh peluh.
Sementara diantara kaki-kaki mereka mengalir cairan hangat hasil kenikmatan mereka..
"Bu Rina .. sungguh luar biasa . Coba kalau Anto ada disini sekarang "
"mmmm memangnya kamu mau apa ." Rina kemudian merebahkan dirinya di samping Reza. Tangannya mengusap-usap pentil Reza.
" Kita bisa main bertiga bu, pasti lebih nikmat .."
Rina tidak bisa menjawab komentar Agus, sementara perasaannya dipenuhi kebingungan.
-------End bagian ke 2------
Akhirnya hari kelulusan murid klas 3 sampai juga. Dengan demikian Rina harus berpisah dengan kedua murid yang disayanginya, terlebih lagi ketika ia harus pindah ke kota lain untuk menempati pos baru di kanwil. Karenanya ia memanggil Anto untuk datang ke rumahnya untuk memberitahukan perihal kepindahannya. Ketika seputar Indonesia mulai ditayangkan, Anto muncul. Ia langsung dipersilakan duduk.
"Bu, Anto kangen lho…"
"Iya deh..nanti. Gini, Ibu bulan depan pindah ke kota B, soalnya akan dinaikkan pangkatnya. Jadi…jadi..Ibu ingin malam ini malam terakhir kita…" mata Rina berkaca-kaca ketika mengucapkan itu.
" ………….." Anto tidak bisa menjawab. Ia kaget mendengar berita itu. Baginya Rina merupakan segalanya, terlebih lagi ia telah mendapatkan pelajaran berharga dari gurunya itu.
"…tapi Anto masih boleh berkirim surat kan ? "
Rina bisa sedikit tersenyum melihat muridnya tabah, " Iya..boleh..boleh…"
"Minum dulu Nto, ada es the di meja makan. Kalau sudah nonton VCD di kamar yaa" Rina mengerling nakal ke muridnya sambil beranjak ke kamar.
Di kamar ia mengganti pakaiannya dengan kimono kegemarannya, melepas BH, menghidupkan AC dan tentu saja menyetel VCD 'Kama Sutra-nya Penthouse ". Lalu ia tengkurap di tempat tidur sambil menonton tv.
Di luar Anto meminum es the yg disediakan Rina dan membiarkan pintu depan tidak terkunci. Ia mempunyai rencana yang telah disusun rapi dengan …
Lalu Anto menyusul Rina ke kamar tidur. Begitu pintu dibuka ia melihat gurunya tengkurap menonton vcd dengan dibalut kimono merah tipis, lekuk2 tubuhnya jelas terlihat. Rambutnya yang panjang tergerai di punggungnya bagai gadis iklan shampo Pantene.
" Ganti pakaian itu Nto.." Rina menunjuk celana pendek dan kaos tipis yang terlipat rapi di meja riasnya. Ketika Anto sedang mencopot celananya Rina sempat melihat penis pemuda itu menyembul di balik CD GT Man nya. Setelah selesai Anto juga tengkurap di samping Rina.
"Belum tuh…" Mata Anto tertuju pada posisi dimana si wanita berdiri memegang pohon sementara si pria memasukkan penisnya dari belakang, sambil meremas2 payudara partnernya.
"Mmmmm..itu posisi fave saya. Kalau kamu suka nanti CD itu bisa kamu ambil."
"Thanx.." Anto kemudian mengecup pipi gurunya.
Adegan demi Adegan terus bergulir, suasana pun menjadi semakin panas. Rina kini tengkurap dengan tidak lagi mengenakan selembar benangpun demikian pula Anto. Anto kemudian duduk di sebelah gurunya itu, dibelainya rambut Rina dengan lembut, kemudian disibakkannya ke sebelah kiri. Bibir Anto kemudian menciumi tengkuk Rina, dijilatinya rambut-rambut halus yg tumbuh lebat.
"Aaahhhhhh…"
Setelah puas, Anto kemudian memberi isyarat pada Rina agar duduk di pangkuannya.
"Bu, biar Anto yg puasin ibu malam ini…." Bisik Anto di telinga Rina. Rina yg telah duduk di pangkuan Anto pasrah saja saat kedua tangan muridnya meremas-remas payudaranya yg liat. Kemudian ia menjerit lirih saat putting susunya mendapat remasan.
"Akhh…" Rina memejamkan matanya.
"Anto…jilatin memek ibu…"
Anto kemudian merebahkan Rina, dibukanya kaki gurunya itu lebar2, kemudian dengan perlahan ia mulai menjilati memek gurunya. Bau khas dari memek yang telah basah oleh gairah itu membuat Anto kian bernafsu.
"Ooohhhh…terussss…teruusss…" Rina bergetar merasakan kenikmatan itu. Tangannya membimbing tangan Anto dalam meremasi susunya. Memberikan kenikmatan ganda.
"Jilatin..pentil itu…ooohohhhhhhhhhhhh…" Bagai dikomando Anto menjilati pentil klitoris Rina, dengan penuh semagat.
"Aduuhhh….ooohhh…oohhhhhh…hhhhh..hhhhhhhh…"
"Anto…massuuuuuukkkkkk…kkkkkk…"
Kaki Rina kemudian disampirkannnya ke pundak, dan dengan cepat disodokkannya ******nya ke memek Rina yg becek.
"mmmmmmmmm…" Rina menggigit bibirnya. Meskipun lubang memeknya telah licin, namun ****** yg besar itu tetap saja agak kesulitan menerobos masuk.
" Uuhhh…masih susah juga ya bu…" Anto sambil meringis memaju mundurkan ******nya. Ia merasakan ******nya bagai diremas-remas oleh tangan yg sangat halus saat di dalam.
Tangan Rina mempermainkan putting Anto. Dengan gemas dicubitnya hingga Anto berteriak. "Uhh,, nakal… ini balasannya ! " sodokan Anto makin keras, lebih keras dari saat ia memasukkan ******nya.
" Aaaaaaaaaaaaa…" Tiba2 pintu kamar tebuka ! Spontan Rina terkejut, tapi tidak bagi Anto. Reza sudah berdiri dimuka pintu, senjatanya telah tegak berdiri.
"Mmmm..hot juga permainan ibu dengan Anto, boleh saya bergabung ? " Reza kemudian berjalan mendekati mereka. Rina yg hendak berdiri ditahan oleh Anto, yg tetap menjaga ******nya di dalam memek rina.
Reza kemudian mengangkangi Rina, ******nya berada tepat di mukanya. " Isap…ayooooo" sambil memasukkan ******nya. Saat itu pula Anto menghentakkan gerakannya. Saat Rina berteriak, saat itu pula ****** Reza masuk.
"Ahhhhhh…nikmat…". Rina merem-melek menghisap-hisap ****** muridnya, sementara Anto dengan puas menggarap memeknya.
"Uuufff…jilatin..jilattt…" tangan Reza memegangi kepala Rina, agar semakin dalam saja mengisap ******nya.
Posisi itu tetap bertahan hingga akhirnya Anto keluar duluan. Maninya menyemprot dengan leluasa di lubang memek gurunya yang cantik. Sementara Reza tetap mengerang-erang sambil medorong-dorong kepala Rina.
Setelah Anto mengeluarkan ******nya dari memek Rina… "Berdiri menghadap tembok bu ! "
Rina masih kelelahan. Ia telah orgasme pula saat Anto keluar, namun ia tidak bisa teriak karena ada ****** di mulutnya. Saat ia berdiri dengan tangan di tembok menahan tubuhnya, mani Anto menetes ke lantai.
"mmmm..Nto..liat tuh punya kamu.." seru Reza sambil nyengir. Ia kemudian menempelkan tubuhnya ke Rina. ******nya tepat berada di antara kedua pantat Rina.
"Nih bu rasakan punya Reza juga ya….."
Anto dengan santai menyaksikan temannya menggarap gurunya dari belakang. Tangan Reza memegangi pinggang Rina saat ia menyodok-nyodokkan ******nya keluar masuk dengan cepat. Saat Rina merintih-rintih menikmati permainan mereka, Anto merasakan ******nya ngaceng lagi. Ia tidak tahan melihat pemandangan yg sangat erotik sekali.
Kedua insan itu saling mengaduh, mendesah, dan berteriak lirih seiring kenikmatan yg mereka berikan dan rasakan.
"Ooooowwwwww…" Tubuh Rina yang disangga Reza menegang, kemudian lemas.
Anto menduga mereka berdua telah sampai di puncak kenikmatan. Timbul isengnya, ia kemudian mendekati mereka dan……..menyusup diantara Rina dan tembok. Dipindahkannya tangan Rina ke pundaknya, dan ******nya menggantikan posisi Reza.
"Anto…" Lagi-lagi Rina mendesah saat ****** Anto masuk dan pinggulnya didorong oleh Reza dari belakang.
" Ahhh..ahhhh…doronggg…doronggggg…"
"…………………….."
"aaaaaaaaa…aaaaaaa…aaaaaaaaaaaa"
"Oooooooooh …"
Rina berteriak keras sekali, saat dorongan Reza sangat keras menekan pinggulnya. ****** Anto amblas hingga mencapai pangkalnya masuk ke memek Rina. Saat itu pula ia merasakan ****** yg berdenyut-denyut itu melepaskan muatannya untuk kedua kali.
Malam itu merupakan malam yang liar bagi ketiga insan yg akan berpisah itu. Malam yg tidak bisa mereka lupakan untuk selamanya.
Setelah kejadian dengan Anto, Rina masih sering bertemu dengannya guna mengulangi lagi perbuatan mereka. Namun yang mengganjal hati Rina adalah jika Anto kemudian membocorkan hal ini ke teman-temannya. Benar juga, suatu hari ?.
Ketika Rina berjalan menuju mobilnya seusai sekolah bubar, perhatiannya tertumbuk pada seorang muridnya yang duduk di sepeda motor di samping mobilnya, katakanlah dia Reza. Ia berbeda dengan Anto, anaknya agak pembuat onar jika di kelas, kekar dan nakal. Hatinya agak tidak enak melihat situasi ini.
"Bu Rina salam dari Anto " Reza melemparkan senyum sambil duduk di sepeda motornya.
" Terima kasih, boleh saya masuk " Ia harus berkata begitu karena sepeda motor Reza menghalangi pintu mobilnya.
" Boleh..boleh Bu saya juga ingin pelajaran tambahan seperti Anto."
Langkah Rina terhenti seketika. Namun otaknya masih berfungsi normal, meskupun sempat kaget.
"Kamu kan nilainya bagus, nggak ada masalah kan.." sambil duduk di balik kemudi.
" Ada sedikit sih kalau ibu nggak bisa mungkin kepala guru bisa membantu saya, sekaligus melaporkan pelajaran Anto " Reza tersenyum penuh kemenangan.
" Apa hubungannya .?" Keringat mulai menetes di dahi Rina.
" Sudahlah kita sama-sama tahu . bu. Saya jamin pasti puas. "
Tanpa menghiraukan omongan muridnya, Rina langsung menjalankan mobilnya ke rumahnya. Namun ia sempat mengamati bahwa muridnya itu mengikutinya terus hingga ia menikung untuk masuk kompleks perumahan.
Setelah mandi air hangat, ia bermaksud menonton tv di ruang tengah. Namun ketika ia hendak duduk..pintu depan diketuk oleh seseorang. Rina segera menuju pintu itu, ia mengira Anto yang datang. Ternyata ketika dibuka
"Reza ! Kenapa kamu ngikuutin saya ! " Rina agak jengkel dengan muridnya ini.
"Boleh saya masuk ? "
" Tidak !. "
" Apa guru2 perlu tau rahasiamu ? "
" !! " dengan geram ia mempersilakan Reza masuk.
" Enak ya rumahnya ,bu " dengan santainya ia duduk di dekat tv. " Pantas aja Anto senang di sini "
" Apa hubunganmu dengan Anto ? Itu urusan kami berdua " dengan ketus Rina bertanya.
" Dia teman dekat saya. Tidak ada rahasia diantara kami berdua. Jadi artinya "
Kali ini Rina benar-benar kehabisan akal. Tidak tahu harus berbuat apa.
" Bu, kalo saya mau melayani Ibu lebih baik dari Anto, mau ? " Reza bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Rina.
Rina masih belum bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas diingin. Belum sempat ia menjawab, Anto telah membuka resleting celananya. Dan setelah beberapa saat ******nya meyembul dan telah berada di hadapannya.
"Bagaimana bu, lebih besar dari Anto khan ?
Reza ternyata lebih agresif dari Anto, dengan satu gerakan meraih kepala Rina dan memasukkan ******nya ke mulut Rina.
"Mmmmpfpphhhh ."
"Ahh yaa..memang ibu pandai dalam hal ini. Nikmati saja bu..enak kok "
Rupanya nafsu menguasai diri Rina, menikmati ****** yang besar di dalam mulutnya, ia segera mengulumnya bagai permen. Dijilatinya kepala ****** pemuda itu dengan semangat. Kontan saja Reza merintih keenakan.
"Aduhh .nikmat sekali bu oohhhhh.." Reza menyodok-nyodokkan ******nya ke dalam mulut Rina, sementara tangannya meremas remas rambut bu gurunya itu. Rina merasakan ****** yang diisapnya berdenyut-denyut. Rupanya Reza sudah hendak keluar.
"Oooohhh..ibu enakkk..enakkk ..aahhhhhhhhhh.."
Cairan mani Reza muncrat di mulut Rina, yang segera menelannya. Dijilatinya ****** yang berlepotan itu hingga bersih. Kemudian ia berdiri.
"Sudahh..sudah selesai kamu bisa pulang. " Namun Rina tidak bisa memungkiri perasaannya. Ia menikmati mani Reza yang manis itu serta membayangkan bagaimana rasanya jika ****** yang gede itu masuk ke memeknya.
"Bu, ini belum selesai. Mari ke kamar, akan saya perlihatkan permainan yang sebenarnya. "
"Apa !! beraninya kamu memerintahh .!" Namun dalam hatinya ia mau. Karenanya tanpa berkata-kata ia berjalan ke kamarnya, Reza mengikuti saja.
" Sini saya teruskan.." ia mendengar Reza berbisik ke telinganya. Tangan Reza segera membuka kancing dasternya yang terletak di bagian depan. Kemudia setelah dasternya jatuh ke lantai, tangan itupun meraba-raba payudaranya. Rina juga merasakan ****** pemuda itu diantara belahan pantatnya.
"Gilaaa .besar amat " pikirnya. Tak lama kemudian iapun dalam keadaan polos.
****** Reza digosok2kan diantara pantatnya, sementara tangan pemuda itu meremasi payudaranya. Ketika jemari Reza meremas puuting susu Rina, erangan kenikmatanpun keluar.
"mmmmm oohhhhHHhhh . "
Reza tetap melakuka aksi peremasan itu dengan satu tangan, sementara tangan satunya melakukan operasi ke memek Rina.
"Reza aaahhhhhhhhhh .aaaHHHHHHhhhhhh .." Tubuh Rina menegang saat pentil klitorisnya ditekan2 oleh Reza.
"Enak bu .? " Reza kembali berbisik di telinga gurunya yang telah terbakar oleh api birahi itu.
Rina hanya bisa menngerang, mendesah, dan berteriak lirih. Saat usapan, remasan, dan pekerjaan tangan Reza dikombinasi dengan gigitan ringan di lehernya.
Tiba-tiba Reza mendorong tubuh Rina agar membungkuk. Kakinya di lebarkan.
" Kata Anto ini posisi yg disukai ibu ."
"Ahhhhhhhhhhhhhhhkkkk ..HHmmmmm .Hmmmmmmmmpp ." Rina menjerit, saat Reza dengan keras menghujamkan ******nya ke liang memeknya dari belakang. "
"Uggghhhhh inniiiiiiiii .inniiiiiiiiiiiii ." Reza medengus penuh gairah dengan tiap hujaman ******nya ke liang Rina.
Rinapun berteriak-teriak kenikmatan, saat liang memeknya yang sempit itu dilebarkan secara cepat.
" Adduuuhhh ..terussss terussss Rezaaa ..ooohhhhhHHhHh " Kepala bu guru itu berayun-ayun, terpengaruh oleh sodokan Reza. Tangan Reza mencengkeram pundak Rina, seolah-olah mengarahkan tubuh gurunya itu agar semakin cepat saja menelan ******nya.
"Ooohhh Rina ..rinnnaaaaaaa "
Rina segera merasakan cairan hangat menyemprot di dalam memeknya dengan deras .. Matanya terpejam menikmti perasaan yang tidak bisa ia bayangkan.
Rina masih tergolek kelelahan di tempat tidur. Rambutnya yang hitam panjang menutupi bantalnya, dadanya yang indah naik-turun mengikuti irama nafasnya. Sementara itu memeknya sangat becek, berlepotan mani Reza dan maninya sendiri. Reza juga telajang bulat, ia duduk di tepi twmpat tidur mengamati tubuh gurunya itu. Ia kemudian duduk mendekat, tangannya meraba-raba liang memek Rina, kemudian dipermainkannya pentil klitoris gurunya itu.
"Mmmmm capek .mmmm" bibir Rina mendesah saat pentilnya dipermaikan. Sebenarnya ia sangat lelah, tapi perasaan terangsang yang ada di dalam dirinya mulai muncul lagi. Dibukanya kakinya lebar-lebar sehingga memberikan kemudahan bagi Reza untuk memainkan itilnya.
"Rezz aahhhh ." Tubuh Rina bergetar, menggelinjang-gelinjang saat Reza mempercepat permainan tangannya.
"Bu, balik .Reza pengin nih .."
"Nakal kamu ahh .." dengan tersenyum nakal, Rina bangkit dan menungging. Tangannya memegang kayu dipan tempat tidurnya. Matanya terpejam menanti sodokan ****** Reza. Reza meraih payudara Rina dari belakang dan mencengkeramya denga keras saat ia menyodokkan penisnya yang sudah tegang
"Adduuuuhhhh ..owwwwwmmmmm .." Rina mengaduh kemudian menggigit bibirnya, saat lubang memeknnya yang telah licin melebar karena desakan ****** Reza.
"Bu Rina enak lho memek Ibu .ketat " Reza memuji sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
"Mmmmm aahhh ahhhh ..ahhhhhhkkk" Rina tidak bisa bertahan untuk hanya mendesah. Ia berteriak lirih seiring gerankan Reza. Badannya digerakkannya untuk mengimbangi serangan Reza. Kenikmatan ia peroleh juga dari remasa muridnya itu.
" Ayooo .aahhhhh ahhhhh .mmm .buat ibu keluuuaa ..rrrr lagi.." gerakan Rina makin cepat menerima sodokan Reza.
Tangan Reza beralih memegangi tubuh Rina, diangkatnya gurunya itu sehingga posisinya tidak lagi "doggy style", melainkan kini Rina menduduki ******nya dengan membelaki dirinya. Reza kini terlentang di tempat tidur yg acak2an dan penuh oleh mani yg mengering.
"Oooowwwwwww ." Teriakan Rina terdengar keras saat ia tidak bisa lagi menahan orgasmenya. Tangannya mencengkeram tangan Reza, kepalanya mendongak menikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sementara Reza sendiri tetap menusuk-nusukkan ******nya ke memek Rina yg makin becek.
"Ayoo .makin dalam dalammmmm ."
"Ahhh .aahhhhhh ..aaa hhhhhh.." Rezapun mulai berteriak-teriak.
"Mau kelluuuuaaa .rrrrrrrrrrrrrr "
" .." Rina sekali lagi memejamkan matanya, saat mani Reza menyemprot dalam liang memeknya. Rina kemuidan ambruk menidih tubuh Reza yang basah oleh peluh. Sementara diantara kaki-kaki mereka mengalir cairan hangat hasil kenikmatan mereka..
"Bu Rina .. sungguh luar biasa . Coba kalau Anto ada disini sekarang "
"mmmm memangnya kamu mau apa ." Rina kemudian merebahkan dirinya di samping Reza. Tangannya mengusap-usap pentil Reza.
" Kita bisa main bertiga bu, pasti lebih nikmat .."
Rina tidak bisa menjawab komentar Agus, sementara perasaannya dipenuhi kebingungan.
End
Wednesday, July 21, 2010
Ibu Ina part 2
Aku berdiam diri sejenak, lalu kuteruskan aksiku mendorong penis makin dalam memasuki analnya. Setengah penisku sudah masuk, ia agak mendongakkan kepala seakan menahan sakit, tetapi gerakannya pantatnya malah mundur pantatnya agar penisku masuk lebih dalam lagi. Setelah penisku masuk 2/3, kutarik mundur, kumajukan lagi, demikian seterusnya. Dan kalau kurasa agak susah masuk, kembali kuberikan ludahku untuk melincinkan jalan masuk penis ke dalam analnya. Mbak Ina merintih-rintih dengan nikmat, apalagi tangan kiriku memainkan vaginanya dari depan dan tangan kananku meraih payudaranya, sehingga ia merasakan kenikmatan yang begitu luar biasa.
"Oughhh... Guusss, ssshhh... akhhh," desisnya seperti orang kepedasan akibat rasa nikmat yang tak terkatakan. "Terusss... okhh... terrussskaaan... sayyyang... ahhhhh... "
Rintihannya semakin kuat dan suatu ketika ia menjerit-jerit sambil menghentakkan pantatnya ke belakang hingga tak ayal lagi seluruh penisku menghunjam ke dalam analnya. Akibatnya sangat luar biasa. Aku begitu terpukau dengan gerakannya dan melakukan reaksi berupa gerakan cepat dan sesekali memutar dalam analnya.
Mbak Ina merintih-rintih. Kedua tanganku terus bermain di vagina dan payudaranya, apalagi waktu dadaku kudekatkan merapat ke punggungnya sambil merabai payudara dan membelai serta memelintir putingnya, ia makin kuat meronta-ronta tapi tidak berusaha melepaskan hunjamanku pada analnya. Gerakannya makin liar dan akhirnya ia tidak lagi menungging, tetapi tengkurap di ranjang tetapi dengan tanganku masih meremas payudara dan vaginanya dan hebatnya, dengan posisi ini, kurasakan penisku mendapatkan lumatan yang begitu dahsyat dalam analnya.
"Ayo sayang, ahhh... ayyooo... keluarin spermamu di analku, ohhhh... tidak usah dikeluarkan di luar," rintihnya. "Akkhhh... sayang... oughhh... nik... mattt... , uhhhh... ohhh... aku keluar lagi sayangggg... aaaakkhhhh," jeritnya.
Kurasakan betapa kuat jepitan otot-otot analnya pada penisku, sensasi yang luar biasa merasuki diriku dan dengan hentakan yang kuat pada analnya, penisku menyemprotkan cairan kenikmatan di dalam liang analnya. Denyutan vaginanya yang demikian basah pada jari-jari tanganku bersaing dengan remasan otot-otot di liang analnya.
Aku terpekik merasakan kenikmatan yang begitu dahsyat, "Aku... ohhh... aku... juga keluar, Mbak Ina... ooohhh... sayyy... sayang... akhh... ," bisikku di telinga Mbak Ina saat menjatuhkan tubuhku di atas tubuhnya sembari menggigit pundaknya dengan gemas dengan penisku masih tetap berada di analnya. Kunikmati denyutan demi denyutan pada liang vaginanya dan analnya yang menjepit penisku. Kuangkat perlahan-lahan penisku keluar dari analnya dan kuperhatikan beberapa tetesan cairan kenikmatanku turut keluar dari analnya membasahi pangkal pahanya.
"Penismu enak banget say...," desahnya di telingaku sambil memiringkan tubuhnya menghadap ke arahku.
"Enak mana dibanding suami Mbak?" godaku.
"Enakan punyamu Gus!"
"Emang penisku lebih besar dari punya suami Mbak?" tanyaku dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Ukurannya sih lebih besar dan lebih panjang dari punyamu, Gus. Tapi apa artinya kalau tidak bisa menggunakannya dengan baik? Enakan yang biasa-biasa aja kayak punyamu, tapi begitu perkasa memuaskan wanitanya," katanya sambil meraba penisku yang mulai melembek. "Lho, bukannya kalau lebih besar pasti lebih enak, Mbak?" Ada sedikit rasa iri padaku mendengar pengakuannya bahwa penis suaminya lebih besar daripada penisku.
"Yaah, itu kan kata orang. Aku yang menjadi istri lebih sepuluh tahun, bisa merasakan orgasme sekali sebulan pun sudah untung. Apalagi akhir-akhir ini seringkali cuma sekali seminggu berhubungan badan, itu pun kebanyakan karena kuminta," paparnya. "Tahu nggak Gus, walaupun kata orang, gairah wanita makin menurun pada usia empat puluh menjelang menopause, tapi aku sendiri merasa seolah-olah gairah masa mudaku kembali lagi. Entah mengapa bisa begitu? Aku sendiri heran tuh," lanjutnya.
"Kan ada aku, Mbak? Kalau butuh kenikmatan, aku tidak akan menolak Mbak," rayuku.
"Gus, Gus... kamu ternyata pandai memuaskan dan menyenangkan wanita," katanya menanggapi rayuanku, "Tapi jangan lupa, kalau di Jakarta, mana mungkin kita begini? Bisa-bisa rumah tangga kita masing-masing hancur, iya nggak?"
Aku terdiam menyimak kata-katanya sambil mengelus-elus rambutnya di keningnya dan yang tergerai di dadaku. "Ya, benar Mbak. Apalagi reputasi Mbak begitu bagus selama ini. Bisa-bisa semuanya jadi tak berarti kalau perselingkuhan kita ketahuan ya?"
"Benar Gus," jawabnya, "Tapi, jangan biarkan aku sendiri tidur kalau tugas berdua seperti ini lagi keluar kota ya?" pintanya.
"Emang masih boleh nanti-nanti, Mbak? Apa nggak takut ketahuan kenalan kita jika kebetulan ketemu?" tukasku.
"Ah, kalau lagi tugas gini, kita tetap aja pesan dua kamar terpisah, tapi kalau malam tidurnya bareng," imbuhnya membuat hatiku berbunga-bunga. "Berarti masih ada kesempatan lain untuk bermesraan dengannya, walaupun mungkin ia takkan pernah mau melakukan hubungan badan lewat vaginanya," pikirku nakal.
"Duhh, aku senang banget mendengar kata-kata Mbak," kataku. "Lebih enak tidur berdua gini, bisa makin fresh kalau balik ke Jakarta ya?"
Ia tidak menjawab, hanya tersenyum dan memainkan jari-jarinya di dadaku. Aku berbaring terlentang di sebelahnya dan ia berbaring lelah dengan kepalanya di dadaku sambil mengusap-usap perut dan penisku. Matanya terpejam dan iapun tertidur. Aku pun tak kuasa menahan kelopak mataku, tapi sebelum tertidur dalam posisi telanjang, masih sempat kutoleh jam dinding menunjukkan angka 4.
Waktu terbangun, aku merasa tubuh Mbak Ina masih tergolek di atas tubuhku. Tangannya masih memegangi penisku yang sudah layu dengan sisa-sisa sperma yang telah mengering. Kutengok jam telah menunjukkan pukul 7 pagi, berarti aku tertidur selama 3 jam. Aku ingin bangun dan berusaha memindahkan tubuhnya ke sampingku, tetapi tiba-tiba Mbak Ina meraih pinggangku sehingga tubuhku rebah di atas tubuhnya. Payudaranya kurasa kenyal, liat, belum kendor, menekan dadaku, apalagi kutoleh putingnya sudah tegang lagi. "Ah... kuat benar nafsu wanita ini, padahal dalam keseharian ia tampil begitu sopan, tidak nampak binal sama sekali," batinku.
Dengan mata masih terpejam, ia menciumi bibirku dan mengusap-usap punggungku sambil berkata, "Sayangku, betapa nikmat kebersamaan kita tadi." Aku menggulirkan tubuhku ke sampingnya dan memandangi wajahnya dengan memiringkan tubuh, "Ya Mbak, aku merasa seperti musafir kehausan yang baru menemukan oase," sambutku sambil membelai-belai anak-anak rambut di keningnya.
"Gusss," bisiknya lembut di telingaku sambil menciumi belakang telingaku hingga desah napasnya terasa menggelitik membuatku geli tapi nikmat. "Aku mau sarapan... "
"Ayo Mbak, apa kupesankan breakfast by phone?" timpalku.

"Bukan sarapan itu maksudku, sayang," desahnya sambil mencubiti kedua putingku bergantian, "Aku mau mengulangi kemesraan kita yang tadi... please!" sahutnya menghiba.
Gairahku bergolak kembali, apalagi ia langsung bergerak ke arah selangkanganku dan menempatkan tubuhnya di atas tubuhku dengan posisi terbalik. Kepalanya ia tempatkan di pangkal pahaku, sedangkan pahanya mencari tempat di atas wajahku. Jari-jari tangannya meraih penisku, dengan bibir dan lidahnya ia mengecup kepala dan leher penisku, kemudian menjilatinya seperti anak kecil yang kesenangan menikmati es krim. Aku tak kuasa menolakkan tubuhnya, bahkan mulai menikmati posisi 69 yang ia tawarkan. Vaginanya mulai terasa basah lagi sewaktu bibir dan lidahku menyeruak menjilati bibir-bibir vaginanya yang merah merona. Kedua tanganku kulingkarkan ke atas hingga tepat memegang kedua belahan pantatnya. Remasan demi remasan di pantatnya membuatnya mengerang, "Ahhh... nikmatnya say."
Lidahku makin gesit bermain menjilati kedua labia vaginanya, bahkan bibirku mulai mengisap secara bergantian bibir-bibir yang menyimpan kenikmatan itu. Saat kujilat klitorisnya, pahanya nampak bergetar menahan nikmat, apalagi saat jari telunjukku kumasukkan lagi menerobos analnya, ia semakin merintih bahkan sesekali menjerit. Tetapi ia tidak berusaha mengangkat pantatnya dari jilatan dan hisapanku; bahkan ia semakin kuat menekan pantatnya ke bawah hingga kurasakan hidung dan mulutku terbenam pada vaginanya yang merekah. "Ohhh... Agusss..., terusss... teruskan sayangkuuuu...," desahnya sambil meliuk-liukkan pinggulnya. "Sekarang, sekarang masukkan lagi penismu di analku, sayanggghhh... ooougghh ... ," rintihnya sambil berbalik terlentang dan membuka kedua pahanya lebar-lebar. Ohhh, sungguh fantastis, dibawah cahaya mentari yang masuk lewat gordijn jendela kamar hotel, kulihat betapa indah bentuk vaginanya yang telah kumesrai semalam.
Aku berlutut di antara kedua pahanya. Ia sudah menggelepar-gelepar seperti ikan terlempar dari air ke daratan, karena jari-jari tanganku terus bermain di klitoris dan vaginanya. Kedua tangannya kini meremas-remas payudara dan putingnya, matanya membeliak karena kenikmatan yang ia rasakan. Kedua kakinya kutarik lembut dan kuletakkan ke atas bahuku sambil mendekatkan lutut makin rapat ke pangkal pahanya. Jari-jariku mengait-ngait klitoris dan vaginanya dan cairan kenikmatan yang dihasilkan rongga vaginanya kuusapkan di analnya, juga air ludahku untuk menambah licinnya penetrasi penisku, bahkan kumasukkan jari telunjuk kanan ke dalamnya. Ia mengerang sambil terus meremas-remas dan mempermainkan payudaranya sendiri. Aku terpukau melihat gayanya. Ternyata Mbak Ina yang begitu tenang dalam penampilan di kantor, menyimpan kekuatan seks yang sangat hebat. Gayanya mengingatkanku pada pola permainan bintang film porno.
Setelah kurasa cairan vaginanya bercampur air ludahku telah cukup sebagai pelumas untuk memberi jalan bagi penisku, kepala penis kutempatkan di mulut analnya, mengulas-ulasnya beberapa saat, dan kumasukkan pelan-pelan sambil memperbaiki letak kakinya di pundakku. "Akhh... sshhhh ... ougghhh... pelan-pelan sayanggghhh...akhhh," rintihnya dan kedua tangannya seakan-akan ingin menolakkan pahaku, tetapi waktu kutarik mundur penisku dari analnya, kedua tangannya justru meraih pahaku untuk semakin rapat ke pahanya. Aku kembali melakukan tekanan dengan tenaga yang makin meninggi, walaupun belum berani memasuk-keluarkan penis dengan gerakan cepat di analnya, khawatir terjadi iritasi pada analnya.
"Terus... ohhhh... te...russs...kan... sayyyanggg... akhhhhhh," mulutnya mendesis sambil lidahnya ia julurkan keluar mulutnya dan menjilati bibirnya sendiri. Semakin lengkap penampilannya kulihat sebagai bintang seks. Penisku sudah lebih setengah bermain di analnya, tetapi ia justru makin memajukan pahanya agar penisku masuk lebih dalam lagi. Kedua tangannya meraih kedua pahaku agar lebih rapat lagi ke pahanya. Dan waktu penisku masuk seluruhnya, tubuhnya terasa mengejang, sehingga aku sempat kaget dan menghentikan gerakanku.
"Ada apa, Mbak? Apakah aku menyakitimu?" tanyaku lembut.
"Ohhh... tidak, tidak sayang... Teruskan, teruskan... akkhhh... enn...nak sayang..." ia merintih sambil menghempaskan kepalanya ke kanan kiri. Tangannya bergantian bermain di payudaranya dan sesekali meremas-remas sprei ranjang.
Kedua kakinya sudah hampir tegak lurus terhadap tubuhnya, berjuntai di pundakku. Kupercepat gerakan penis di analnya sambil jari-jariku kembali merangsang klitoris dan vaginanya, bahkan dua jariku kumasukkan ke dalam vaginanya, hingga ia terpekik.
"Gussss!!! Ahhh... nikmatttt sayyy... " rintihannya. Suara kecipak penisku beradu dengan analnya dan jari-jariku masuk keluar vaginanya melantunkan irama yang sangat nikmat untuk didengar. Gerakan kami semakin liar dan tak beraturan. Rintihan kami berdua bercampur bunyi kelamin kami. Penisku makin cepat kuhunjamkan ke analnya hingga terasa ada jepitan yang begitu kuat di kepala penisku. "Ahhh... koq rasanya seperti vagina saja jadinya?" pikirku.
"Ayo say... goyang... goyang yang kuat," katanya sambil menikmati gerakan pantatku yang tidak lagi hanya maju mundur, tetapi juga menggunakan gerakan ngebor. Tanganku tidak lagi hanya bermain di vagina dan klitorisnya, tetapi juga meremas payudara dan menarik-narik dan memelintir putingnya hingga nampak warnanya semakin merah akibat jamahan dan jepitan jari-jariku. Keringatku tak kurasakan lagi mengucur dan menetes ke perutnya. Begitu pula keringat Mbak Ina telah membasahi tubuhnya membuatku semakin terangsang melihat payudara, perut dan pahanya yang nampak seakan-akan bercahaya.
"Akhhh... Gus... sayaaannggg... akkkkhu... keluarrrr... arrhggg..." jeritnya sambil menghempaskan pantatnya makin dalam hingga seluruh penisku ditelan analnya dan kedua kakinya menjepit kepalaku dengan kuatnya. Kurasakan betapa otot-otot vagina dan analnya berdenyut-denyut akibat orgasme yang sudah melanda dirinya. Mbak Ina terengah-engah.
"Okhhh... Mbak, tahannn... biar bareng denganku," pintaku.
"Oougg... sshhh... ahhh... aku sudah tidak kuatttt... oooooohhhh Gusss..." teriaknya membahana dan kurasakan cairan vaginanya begitu banyak membanjir membasahi jari-jariku dan jepitan analnya menahan penisku hingga tak bisa kutarik mundur. Aku pun mengerang sambil memeluk kedua kakinya di dadaku dan merasakan penisku berdenyut-denyut semakin kuat, pertanda akan mencapai klimaks.
"Mbaakkkk... ohhhh sayangkuuu... " gumamku sambil menikmati puncak kenikmatan bersama dirinya. Dengan cepat kurebahkan dia dan menarik penisku dari analnya lalu dengan lahap melumat vaginanya dan menyedot cairannya yang membanjir hingga menetes ke sela-sela pahanya. Ia menggeliat-geliat geli merasakan bibir dan lidahku menyedot cairan vaginanya dengan sangat bernafsu. Sprei di ranjangnya sudah acak-acakan akibat permainan panas kami berdua yang begitu menggebu-gebu.
Akhirnya, kami berdua berbaring bersisian sambil menenangkan diri, hingga lambat laun napas kami kembali normal. Ia mengambil handuk kecil dan melap peluh yang ada di tubuhku barulah kemudian ia sendiri mengeringkan tubuhnya dari keringatnya. Kami terlentang berdua sambil menatap langit-langit kamar hotel dengan tangan saling menggenggam.
Setelah itu kami mandi berduaan di bathtub. Saling menyabuni satu sama lain. Ia menolak halus waktu kuelus-elus payudara dan vaginanya dengan sabun sambil merangsangnya kembali. "Sudah Gus, aku capek... ntar lagi deh kalau mau... " Kami berdua keluar kamar mandi. Sambil memandanginya berpakaian dan berdandan, aku memesan makanan diantarkan ke kamar. Ia mengenakan celana pendek dan baju you can see tanpa mengenakan BH.
Kami makan berdua sambil menikmati siaran televisi. Jam sudah menunjukkan pukul 10. Aku pamit ke kamarku, walaupun ia merengek mau mencegah kepergianku. Saat di kamar, telepon berdering-dering terus begitu juga ponselku, tetapi waktu kulihat nomor ponselnya yang memanggil, sengaja tak kujawab. Lima belas menit kemudian aku kembali ke kamarnya dan mengetuk. Pintu kamarnya terbuka dan kulihat wajahnya cemberut, "Kenapa sih tidak mau jawab teleponku?" tanyanya sambil mencubit lengan atasku dengan gemas.
"Addduhhh, sakit Mbak," jeritku sambil menutup pintu di belakang kami. Ia menarik tanganku dan mendorongku hingga rebah ke atas ranjangnya. Lalu tubuhnya jatuh menimpaku tanpa dapat kucegah. Payudaranya yang kenyal menekan dadaku dan bibirnya menjejahi wajahku hingga aku gelagapan dibuatnya. Kembali kami mereguk kenikmatan demi kenikmatan hingga sore hari saat kami check-out dari hotel tersebut menuju Bandar Udara kembali ke Jakarta. Di atas pesawat ke Jakarta, aku merenungi kejadian dua hari itu sambil membaui aroma tubuh Mbak Ina yang tertidur dengan kepala rebah ke bahuku. Ah, benar-benar kenangan manis yang tak terlupakan.
end
"Oughhh... Guusss, ssshhh... akhhh," desisnya seperti orang kepedasan akibat rasa nikmat yang tak terkatakan. "Terusss... okhh... terrussskaaan... sayyyang... ahhhhh... "
Rintihannya semakin kuat dan suatu ketika ia menjerit-jerit sambil menghentakkan pantatnya ke belakang hingga tak ayal lagi seluruh penisku menghunjam ke dalam analnya. Akibatnya sangat luar biasa. Aku begitu terpukau dengan gerakannya dan melakukan reaksi berupa gerakan cepat dan sesekali memutar dalam analnya.
Mbak Ina merintih-rintih. Kedua tanganku terus bermain di vagina dan payudaranya, apalagi waktu dadaku kudekatkan merapat ke punggungnya sambil merabai payudara dan membelai serta memelintir putingnya, ia makin kuat meronta-ronta tapi tidak berusaha melepaskan hunjamanku pada analnya. Gerakannya makin liar dan akhirnya ia tidak lagi menungging, tetapi tengkurap di ranjang tetapi dengan tanganku masih meremas payudara dan vaginanya dan hebatnya, dengan posisi ini, kurasakan penisku mendapatkan lumatan yang begitu dahsyat dalam analnya.
"Ayo sayang, ahhh... ayyooo... keluarin spermamu di analku, ohhhh... tidak usah dikeluarkan di luar," rintihnya. "Akkhhh... sayang... oughhh... nik... mattt... , uhhhh... ohhh... aku keluar lagi sayangggg... aaaakkhhhh," jeritnya.
Kurasakan betapa kuat jepitan otot-otot analnya pada penisku, sensasi yang luar biasa merasuki diriku dan dengan hentakan yang kuat pada analnya, penisku menyemprotkan cairan kenikmatan di dalam liang analnya. Denyutan vaginanya yang demikian basah pada jari-jari tanganku bersaing dengan remasan otot-otot di liang analnya.
Aku terpekik merasakan kenikmatan yang begitu dahsyat, "Aku... ohhh... aku... juga keluar, Mbak Ina... ooohhh... sayyy... sayang... akhh... ," bisikku di telinga Mbak Ina saat menjatuhkan tubuhku di atas tubuhnya sembari menggigit pundaknya dengan gemas dengan penisku masih tetap berada di analnya. Kunikmati denyutan demi denyutan pada liang vaginanya dan analnya yang menjepit penisku. Kuangkat perlahan-lahan penisku keluar dari analnya dan kuperhatikan beberapa tetesan cairan kenikmatanku turut keluar dari analnya membasahi pangkal pahanya.
"Penismu enak banget say...," desahnya di telingaku sambil memiringkan tubuhnya menghadap ke arahku.
"Enak mana dibanding suami Mbak?" godaku.
"Enakan punyamu Gus!"
"Emang penisku lebih besar dari punya suami Mbak?" tanyaku dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Ukurannya sih lebih besar dan lebih panjang dari punyamu, Gus. Tapi apa artinya kalau tidak bisa menggunakannya dengan baik? Enakan yang biasa-biasa aja kayak punyamu, tapi begitu perkasa memuaskan wanitanya," katanya sambil meraba penisku yang mulai melembek. "Lho, bukannya kalau lebih besar pasti lebih enak, Mbak?" Ada sedikit rasa iri padaku mendengar pengakuannya bahwa penis suaminya lebih besar daripada penisku.
"Yaah, itu kan kata orang. Aku yang menjadi istri lebih sepuluh tahun, bisa merasakan orgasme sekali sebulan pun sudah untung. Apalagi akhir-akhir ini seringkali cuma sekali seminggu berhubungan badan, itu pun kebanyakan karena kuminta," paparnya. "Tahu nggak Gus, walaupun kata orang, gairah wanita makin menurun pada usia empat puluh menjelang menopause, tapi aku sendiri merasa seolah-olah gairah masa mudaku kembali lagi. Entah mengapa bisa begitu? Aku sendiri heran tuh," lanjutnya.
"Kan ada aku, Mbak? Kalau butuh kenikmatan, aku tidak akan menolak Mbak," rayuku.
"Gus, Gus... kamu ternyata pandai memuaskan dan menyenangkan wanita," katanya menanggapi rayuanku, "Tapi jangan lupa, kalau di Jakarta, mana mungkin kita begini? Bisa-bisa rumah tangga kita masing-masing hancur, iya nggak?"
Aku terdiam menyimak kata-katanya sambil mengelus-elus rambutnya di keningnya dan yang tergerai di dadaku. "Ya, benar Mbak. Apalagi reputasi Mbak begitu bagus selama ini. Bisa-bisa semuanya jadi tak berarti kalau perselingkuhan kita ketahuan ya?"
"Benar Gus," jawabnya, "Tapi, jangan biarkan aku sendiri tidur kalau tugas berdua seperti ini lagi keluar kota ya?" pintanya.
"Emang masih boleh nanti-nanti, Mbak? Apa nggak takut ketahuan kenalan kita jika kebetulan ketemu?" tukasku.
"Ah, kalau lagi tugas gini, kita tetap aja pesan dua kamar terpisah, tapi kalau malam tidurnya bareng," imbuhnya membuat hatiku berbunga-bunga. "Berarti masih ada kesempatan lain untuk bermesraan dengannya, walaupun mungkin ia takkan pernah mau melakukan hubungan badan lewat vaginanya," pikirku nakal.
"Duhh, aku senang banget mendengar kata-kata Mbak," kataku. "Lebih enak tidur berdua gini, bisa makin fresh kalau balik ke Jakarta ya?"
Ia tidak menjawab, hanya tersenyum dan memainkan jari-jarinya di dadaku. Aku berbaring terlentang di sebelahnya dan ia berbaring lelah dengan kepalanya di dadaku sambil mengusap-usap perut dan penisku. Matanya terpejam dan iapun tertidur. Aku pun tak kuasa menahan kelopak mataku, tapi sebelum tertidur dalam posisi telanjang, masih sempat kutoleh jam dinding menunjukkan angka 4.
Waktu terbangun, aku merasa tubuh Mbak Ina masih tergolek di atas tubuhku. Tangannya masih memegangi penisku yang sudah layu dengan sisa-sisa sperma yang telah mengering. Kutengok jam telah menunjukkan pukul 7 pagi, berarti aku tertidur selama 3 jam. Aku ingin bangun dan berusaha memindahkan tubuhnya ke sampingku, tetapi tiba-tiba Mbak Ina meraih pinggangku sehingga tubuhku rebah di atas tubuhnya. Payudaranya kurasa kenyal, liat, belum kendor, menekan dadaku, apalagi kutoleh putingnya sudah tegang lagi. "Ah... kuat benar nafsu wanita ini, padahal dalam keseharian ia tampil begitu sopan, tidak nampak binal sama sekali," batinku.
Dengan mata masih terpejam, ia menciumi bibirku dan mengusap-usap punggungku sambil berkata, "Sayangku, betapa nikmat kebersamaan kita tadi." Aku menggulirkan tubuhku ke sampingnya dan memandangi wajahnya dengan memiringkan tubuh, "Ya Mbak, aku merasa seperti musafir kehausan yang baru menemukan oase," sambutku sambil membelai-belai anak-anak rambut di keningnya.
"Gusss," bisiknya lembut di telingaku sambil menciumi belakang telingaku hingga desah napasnya terasa menggelitik membuatku geli tapi nikmat. "Aku mau sarapan... "
"Ayo Mbak, apa kupesankan breakfast by phone?" timpalku.
"Bukan sarapan itu maksudku, sayang," desahnya sambil mencubiti kedua putingku bergantian, "Aku mau mengulangi kemesraan kita yang tadi... please!" sahutnya menghiba.
Gairahku bergolak kembali, apalagi ia langsung bergerak ke arah selangkanganku dan menempatkan tubuhnya di atas tubuhku dengan posisi terbalik. Kepalanya ia tempatkan di pangkal pahaku, sedangkan pahanya mencari tempat di atas wajahku. Jari-jari tangannya meraih penisku, dengan bibir dan lidahnya ia mengecup kepala dan leher penisku, kemudian menjilatinya seperti anak kecil yang kesenangan menikmati es krim. Aku tak kuasa menolakkan tubuhnya, bahkan mulai menikmati posisi 69 yang ia tawarkan. Vaginanya mulai terasa basah lagi sewaktu bibir dan lidahku menyeruak menjilati bibir-bibir vaginanya yang merah merona. Kedua tanganku kulingkarkan ke atas hingga tepat memegang kedua belahan pantatnya. Remasan demi remasan di pantatnya membuatnya mengerang, "Ahhh... nikmatnya say."
Lidahku makin gesit bermain menjilati kedua labia vaginanya, bahkan bibirku mulai mengisap secara bergantian bibir-bibir yang menyimpan kenikmatan itu. Saat kujilat klitorisnya, pahanya nampak bergetar menahan nikmat, apalagi saat jari telunjukku kumasukkan lagi menerobos analnya, ia semakin merintih bahkan sesekali menjerit. Tetapi ia tidak berusaha mengangkat pantatnya dari jilatan dan hisapanku; bahkan ia semakin kuat menekan pantatnya ke bawah hingga kurasakan hidung dan mulutku terbenam pada vaginanya yang merekah. "Ohhh... Agusss..., terusss... teruskan sayangkuuuu...," desahnya sambil meliuk-liukkan pinggulnya. "Sekarang, sekarang masukkan lagi penismu di analku, sayanggghhh... ooougghh ... ," rintihnya sambil berbalik terlentang dan membuka kedua pahanya lebar-lebar. Ohhh, sungguh fantastis, dibawah cahaya mentari yang masuk lewat gordijn jendela kamar hotel, kulihat betapa indah bentuk vaginanya yang telah kumesrai semalam.
Aku berlutut di antara kedua pahanya. Ia sudah menggelepar-gelepar seperti ikan terlempar dari air ke daratan, karena jari-jari tanganku terus bermain di klitoris dan vaginanya. Kedua tangannya kini meremas-remas payudara dan putingnya, matanya membeliak karena kenikmatan yang ia rasakan. Kedua kakinya kutarik lembut dan kuletakkan ke atas bahuku sambil mendekatkan lutut makin rapat ke pangkal pahanya. Jari-jariku mengait-ngait klitoris dan vaginanya dan cairan kenikmatan yang dihasilkan rongga vaginanya kuusapkan di analnya, juga air ludahku untuk menambah licinnya penetrasi penisku, bahkan kumasukkan jari telunjuk kanan ke dalamnya. Ia mengerang sambil terus meremas-remas dan mempermainkan payudaranya sendiri. Aku terpukau melihat gayanya. Ternyata Mbak Ina yang begitu tenang dalam penampilan di kantor, menyimpan kekuatan seks yang sangat hebat. Gayanya mengingatkanku pada pola permainan bintang film porno.
Setelah kurasa cairan vaginanya bercampur air ludahku telah cukup sebagai pelumas untuk memberi jalan bagi penisku, kepala penis kutempatkan di mulut analnya, mengulas-ulasnya beberapa saat, dan kumasukkan pelan-pelan sambil memperbaiki letak kakinya di pundakku. "Akhh... sshhhh ... ougghhh... pelan-pelan sayanggghhh...akhhh," rintihnya dan kedua tangannya seakan-akan ingin menolakkan pahaku, tetapi waktu kutarik mundur penisku dari analnya, kedua tangannya justru meraih pahaku untuk semakin rapat ke pahanya. Aku kembali melakukan tekanan dengan tenaga yang makin meninggi, walaupun belum berani memasuk-keluarkan penis dengan gerakan cepat di analnya, khawatir terjadi iritasi pada analnya.
"Terus... ohhhh... te...russs...kan... sayyyanggg... akhhhhhh," mulutnya mendesis sambil lidahnya ia julurkan keluar mulutnya dan menjilati bibirnya sendiri. Semakin lengkap penampilannya kulihat sebagai bintang seks. Penisku sudah lebih setengah bermain di analnya, tetapi ia justru makin memajukan pahanya agar penisku masuk lebih dalam lagi. Kedua tangannya meraih kedua pahaku agar lebih rapat lagi ke pahanya. Dan waktu penisku masuk seluruhnya, tubuhnya terasa mengejang, sehingga aku sempat kaget dan menghentikan gerakanku.
"Ada apa, Mbak? Apakah aku menyakitimu?" tanyaku lembut.
"Ohhh... tidak, tidak sayang... Teruskan, teruskan... akkhhh... enn...nak sayang..." ia merintih sambil menghempaskan kepalanya ke kanan kiri. Tangannya bergantian bermain di payudaranya dan sesekali meremas-remas sprei ranjang.
Kedua kakinya sudah hampir tegak lurus terhadap tubuhnya, berjuntai di pundakku. Kupercepat gerakan penis di analnya sambil jari-jariku kembali merangsang klitoris dan vaginanya, bahkan dua jariku kumasukkan ke dalam vaginanya, hingga ia terpekik.
"Gussss!!! Ahhh... nikmatttt sayyy... " rintihannya. Suara kecipak penisku beradu dengan analnya dan jari-jariku masuk keluar vaginanya melantunkan irama yang sangat nikmat untuk didengar. Gerakan kami semakin liar dan tak beraturan. Rintihan kami berdua bercampur bunyi kelamin kami. Penisku makin cepat kuhunjamkan ke analnya hingga terasa ada jepitan yang begitu kuat di kepala penisku. "Ahhh... koq rasanya seperti vagina saja jadinya?" pikirku.
"Ayo say... goyang... goyang yang kuat," katanya sambil menikmati gerakan pantatku yang tidak lagi hanya maju mundur, tetapi juga menggunakan gerakan ngebor. Tanganku tidak lagi hanya bermain di vagina dan klitorisnya, tetapi juga meremas payudara dan menarik-narik dan memelintir putingnya hingga nampak warnanya semakin merah akibat jamahan dan jepitan jari-jariku. Keringatku tak kurasakan lagi mengucur dan menetes ke perutnya. Begitu pula keringat Mbak Ina telah membasahi tubuhnya membuatku semakin terangsang melihat payudara, perut dan pahanya yang nampak seakan-akan bercahaya.
"Akhhh... Gus... sayaaannggg... akkkkhu... keluarrrr... arrhggg..." jeritnya sambil menghempaskan pantatnya makin dalam hingga seluruh penisku ditelan analnya dan kedua kakinya menjepit kepalaku dengan kuatnya. Kurasakan betapa otot-otot vagina dan analnya berdenyut-denyut akibat orgasme yang sudah melanda dirinya. Mbak Ina terengah-engah.
"Okhhh... Mbak, tahannn... biar bareng denganku," pintaku.
"Oougg... sshhh... ahhh... aku sudah tidak kuatttt... oooooohhhh Gusss..." teriaknya membahana dan kurasakan cairan vaginanya begitu banyak membanjir membasahi jari-jariku dan jepitan analnya menahan penisku hingga tak bisa kutarik mundur. Aku pun mengerang sambil memeluk kedua kakinya di dadaku dan merasakan penisku berdenyut-denyut semakin kuat, pertanda akan mencapai klimaks.
"Mbaakkkk... ohhhh sayangkuuu... " gumamku sambil menikmati puncak kenikmatan bersama dirinya. Dengan cepat kurebahkan dia dan menarik penisku dari analnya lalu dengan lahap melumat vaginanya dan menyedot cairannya yang membanjir hingga menetes ke sela-sela pahanya. Ia menggeliat-geliat geli merasakan bibir dan lidahku menyedot cairan vaginanya dengan sangat bernafsu. Sprei di ranjangnya sudah acak-acakan akibat permainan panas kami berdua yang begitu menggebu-gebu.
Akhirnya, kami berdua berbaring bersisian sambil menenangkan diri, hingga lambat laun napas kami kembali normal. Ia mengambil handuk kecil dan melap peluh yang ada di tubuhku barulah kemudian ia sendiri mengeringkan tubuhnya dari keringatnya. Kami terlentang berdua sambil menatap langit-langit kamar hotel dengan tangan saling menggenggam.
Setelah itu kami mandi berduaan di bathtub. Saling menyabuni satu sama lain. Ia menolak halus waktu kuelus-elus payudara dan vaginanya dengan sabun sambil merangsangnya kembali. "Sudah Gus, aku capek... ntar lagi deh kalau mau... " Kami berdua keluar kamar mandi. Sambil memandanginya berpakaian dan berdandan, aku memesan makanan diantarkan ke kamar. Ia mengenakan celana pendek dan baju you can see tanpa mengenakan BH.
Kami makan berdua sambil menikmati siaran televisi. Jam sudah menunjukkan pukul 10. Aku pamit ke kamarku, walaupun ia merengek mau mencegah kepergianku. Saat di kamar, telepon berdering-dering terus begitu juga ponselku, tetapi waktu kulihat nomor ponselnya yang memanggil, sengaja tak kujawab. Lima belas menit kemudian aku kembali ke kamarnya dan mengetuk. Pintu kamarnya terbuka dan kulihat wajahnya cemberut, "Kenapa sih tidak mau jawab teleponku?" tanyanya sambil mencubit lengan atasku dengan gemas.
"Addduhhh, sakit Mbak," jeritku sambil menutup pintu di belakang kami. Ia menarik tanganku dan mendorongku hingga rebah ke atas ranjangnya. Lalu tubuhnya jatuh menimpaku tanpa dapat kucegah. Payudaranya yang kenyal menekan dadaku dan bibirnya menjejahi wajahku hingga aku gelagapan dibuatnya. Kembali kami mereguk kenikmatan demi kenikmatan hingga sore hari saat kami check-out dari hotel tersebut menuju Bandar Udara kembali ke Jakarta. Di atas pesawat ke Jakarta, aku merenungi kejadian dua hari itu sambil membaui aroma tubuh Mbak Ina yang tertidur dengan kepala rebah ke bahuku. Ah, benar-benar kenangan manis yang tak terlupakan.
end
Subscribe to:
Posts (Atom)

