Dua hari kemudian ketika aku pulang sekolah, kulihat ada mobil Oom di garasi. Apakah Oom Ton tak ke kantor hari ini ? Atau jangan-jangan Oom tahu kalau aku ..
Ah, jangan berpikir begitu. Dua hari terakhir ini sikap Oom kepadaku tak ada perubahan apa-apa. Sikap Tante juga wajar-wajar saja. Justru aku yang kelimpungan. Bayangkan. Setiap hari ketemu Tante. Aku selalu membayangkan “dalam”-nya, walau pakaian Tante tertutup rapat. Lalu, terbayang, aku sudah pernah menjamah tubuh itu, dan terangsang lagi.
Selama dua hari ini aku betul-betul tersiksa. Terlihat paha Tante yang sedikit tersingkap saja, aku langsung “naik”. Ooh..! Aku ingin lagiiiiii.
Siang ini aku makan sendirian. Kamar Tante tertutup rapat. Oom pasti ada di dalam, mobilnya ada. Tante juga tentunya. Mungkin mereka sedang …? Siang-siang ? Biar saja, toh suami-isteri. Sekejap ada rasa tak nyaman. Tanteku sedang ditiduri suaminya…! Aku iri! Memangnya kamu siapa ?
Baru saja aku selesai menyantap sendok terakhir makananku, kemudian mengangkat gelas, ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka, Tante keluar, mengenakan baju tidur. Aku terpana. Tanganku yang sedang memegang gelas berhenti, belum sempat minum, terpesona oleh Tante dengan baju tidurnya. Kelihatan ia baru bangun tidur, melihatku.
“Sudah pulang, To”
“Udah dari tadi Tante”
Ia tutup pintu kamarnya kembali lalu mendekatiku, dan tiba-tiba mencium pipiku erat, lenganku merasakan lembutnya sesuatu yang menandakan Tante tak memakai kutang.
Hampir saja aku menumpahkan air minum karena kaget.
“Ada kabar gembira.”katanya berbisik. Sebelum aku berreaksi atas aksinya itu, Tante sudah beranjak ke belakang meninggalkanku.
Aku jadi penasaran. Penasaran pada benda lembut yang mendesak lenganku tadi, serta pada kabar gembira apa ?
Ketika Ia kembali lagi, aku berdiri untuk memuaskan rasa penasaran tadi.
Tante menempelkan telunjuknya ke mulut sambil matanya melirik ke kamar. Aku mengerti isyarat ini. Jangan ganggu, ada suaminya.
Sejam kemudian kulihat Oom Ton duduk di sofa ruang tengah bersama Tante. Oom Ton berpakaian rapi berdasi, seperti hendak ke kantor, sedangkan Tante mengenakan daster pendek tak berlengan berkancing tengah, daster kesukaanku. Terlihat segar, baru saja mandi, mungkin.
“Tarto” Oom Ton memanggilku.
“Ya, Oom”
“Oom mau ke Bandung, dua hari. Kamu jaga rumah ya ?”
Ini rupanya kabar gembira itu!
“Baik, Oom, kapan Oom berangkat ?”
“Sebentar lagi, jam tiga”
Dua hari Oom tak ada di rumah, tentunya dua malam juga. Dua malam aku menjaga rumah, bersama Tante.
Dua malam bersama Tante ? Bukan main!. Eit, jangan berharap dulu, ya. ‘Kan tadi Ia bilang kabar gembira ?
Kok kamu yakin kabar gembiranya Tante adalah karena Oom ke Bandung ? Jangan sok pasti ya!
Aku melirik Tante, Ia biasa-biasa saja.
Pak Dadan datang membawa tas di bahunya, masuk garasi menghidupkan mesin mobil.
“Papa berangkat ya, Ma”
“Ya, Pa, hati-hati di jalan, ya ?”
“Mama juga hati-hati di rumah”
Oom mencium pipi Tante, lalu menciumi Si Luki.
“Jaga baik-baik, ya To”
“Ya, Oom”
Seisi rumah mengantar Oom sampai depan pintu pagar, melambai sampai mobilnya berbelok ke jalan Tebet Timur Raya.
Semuanya masuk ke rumah kembali. Hatiku bersorak. Dadaku penuh berharap dan kepalaku penuh rencana.
Luki dibawa pengasuhnya ke rumah sebelah. Mbak meneruskan pekerjaannya di belakang. Aman. Tinggal aku dan Tante. Kuberanikan diriku. Kupeluk Tante dari belakang. Betul ‘kan, Tante tak memakai kutang. Wah, sudah lama sekali aku tak menyentuhnya.
Tante sedikit kaget, lalu berbalik membalas pelukanku. Cuma sebentar, melepaskan diri.
“Sabar, dong To”
“Tante …” Serak suaraku.
“Nanti malam saja ”
Aha, rencana di kepalaku bisa terlaksana malam ini.
Kami duduk berdampingan di sofa, sedikit berjarak. Aku nonton TV, Tante membaca.
Aku tak tahan lagi, penisku sudah tegang dari tadi. Sekarang baru jam setengah empat sore. Berapa jam lagi aku mesti menunggu ? Oh, lama sekali.
Tante, tolonglah aku. Aku tak sanggup lagi menunggu.
Kulihat sekeliling meyakinkan situasi. Luki masih sama si Tinah di tetangga. Mbak Mar menyetrika di belakang. Aman!
Kupegang tangan Tante yang sedang ada di pahanya. Dengan begini aku bisa meremas-remas tangannya sambil merasakan lembutnya paha. Ia sesekali membalas remasanku, tetap membaca.
Ditariknya tangannya untuk membuka halaman buku bacaannya, tanganku “tertinggal” di pahanya. Kesempatan.
Kuusap lembut pahanya. Paha itu masih seperti yang kemarin, padat, kenyal, halus, berbulu lembut. Masih tetap membaca.
Aku makin berani, tanganku bergerak ke atas menyusup dasternya. Kuusap celana dalamnya. Nafasnya mulai terdengar meningkat “volume”nya.
Diletakkannya buku itu sambil menghela nafas panjang.
“To., kamu engga sabaran, ya ?” katanya sambil memegang tanganku di bawah sana.
“Maafkan saya Tante, saya.. saya ..engga kuat lagi Tante, saya ingin lagi, Tante” Kataku terputus-putus menahan birahi yang mendesak. Kelaminku juga mendesak.
“Masih sore, To”
“Tolonglah., Tante, saya membayangkan terus setiap ..hari” kataku setengah memohon. Aku yakin Tantepun sebenarnya telah terangsang, terlihat dari nafasnya dan aku merasakan basah di celananya. Aku sudah sampai pada titik yang tak mungkin surut kembali. Situasi sekeliling aman. Jadi, apa lagi selain berlanjut ?
“Saya mohon, Tante” kini aku betul-betul memohon.
Ditariknya tanganku dari paha, lalu dituntun ke dadanya. Permohonanku diterima.
Kuremas buah dada itu yang hanya ditutupi selembar kain daster.
“Eeeeeeehhh” desahnya.
Tiga hari lalu, waktu aku pertama kali meniduri Tante (memang baru pertama kali aku berhubungan sex), aku belum sempat menikmati buah dada ini. Waktu itu kami sudah sama-sama terangsang sehabis aku memijatnya. Aku baru sempat meremasnya, itupun dibalik kutang. Lalu ketika kutangnya sudah terbuka, Tante sudah keburu menuntun kelaminku memasukinya.
Sekaranglah kesempatan untuk menikmati dada itu.
Kubuka kancing dasternya, satu, dua, tiga.
Dada itu mengagumkan.
Putih, besar, menonjol, bulat, bergerak maju mundur seirama nafasnya, putingnya kecil agak panjang tegak lurus ke depan berwarna merah jambu.
Aku berlutut di depannya, kusingkirkan daster itu, kucium belahan dadanya yang seperti parit kecil di antara dua bukit.
Halusnya buah itu dapat kurasakan di kedua belah pipiku.
Mulutku bergerak ke kiri, ke dada bagian atas, terus turun, kutelusuri permukaan bukit halus itu dengan bibir dan lidahku. Sementara tangan kananku mengusapi buah kirinya. Luar biasa, kulit itu haluuus sekali! Tangannya mengusap-usap belakang kepalaku. Penelusuranku berakhir di puncaknya. Kumasukkan putting itu kemulutku, kukemot.
“Aaaaaaaahhh” lenguhnya pelan sekali.
Tangannya menekan kepalaku.
Kukemot lagi, kuhisap, kupermainkan dengan lidahku, putting itu mengeras. Puting satunya lagi juga mengeras, terasa di antara telunjuk dan ibujari tangan kananku.
Ada kesamaan gerak antara mulut dan tangan kananku. Kalau mulutku mengulum puting, jari-jariku memilin puting sebelahnya. Bila bibir dan lidahku merambahi seluruh permukaan buah yang sangat halus itu, telapak tanganku merambah pula. Seluruh permukaan dada itu demikian halus, sehingga ada sedikit yang tak halus di sebelah puting agak ke bawah menarik perhatianku.
Kulepaskan muluku dari dadanya, ingin memeriksa. Di sebelah puting dada kiri Tante ada bercak merah. Kuperhatikan dan kuraba. Seperti bekas gigitan. Oh. Aku ingat tadi siang waktu makan. Ini pasti “hasil kerja” Oom Ton di kamar yang terkunci tadi..
Akupun ingin. Betapa enaknya menggigit buah kenyal ini.
Dada kanan bagianku. Kucium puting itu kembali, geser sedikit, aku mulai menggigit.
Tiba-tiba Tante mendorong kepalaku.
“Jangan, To. Kamu..mikir, dong” katanya sambil terengah-engah.
Ah, bodohnya aku. Kalau kugigit tentu nanti berbekas, jelas pemilik sahnya, Oom Ton, akan curiga!
“Maafkan saya Tante, habis gemas sih.”
“Yahhh.engga apa-apa. Kamu harus ingat, ini rahasia kita saja”
Dipegangnya dadanya sendiri lalu disodorkannya ke mulutku. Gantian, sekarang dada kiri dengan mulutku, yang kanan dengan tangan kiriku….
Sudah saatnya untuk pindah ke kamar.
Aku bangkit berdiri. Tante masih tergolek duduk. Kancing tengah dasternya sudah semuanya terlepas, menyibak kesamping, tinggal celana dalamnya saja. Dada itu rasanya makin besar saja.
Kutarik kedua tangan Tante, tapi ia melepaskannya. Dibukanya gesperku, lalu kancing celanaku, dan ditariknya resleting dan celana dalamku. Penisku yang tegang itu keluar dengan gagahnya persis di depan mukanya.
“Uuuuuuuuuhhhh” Tante melenguh pelan memegang kelaminku, dielusnya.
“Kok besar sekali sih To, punyamu ini”
Kuraih badannya, kubimbing ia ke kamarku sambil masih memegang senjataku, tertatih-tatih kami berdua.
Kukunci pintu kamarku, kurebahkan Tante perlahan di dipanku, kulucuti pakaianku, dengan bertelanjang bulat kudekati Tante.
Dengan perlahan kupelorotkan celana merah jambu itu. Kembali aku bertemu dengan rambut halus hitam mengkilat itu. Ada cairan bening di sana. Kutindih tubuhnya lalu kakinya menjepit tubuhku. Kamipun berciuman, saling menggigit lidah. Lalu akupun tak tahan lagi.
Aku bangkit. Kubuka kakinya lebar. Lubang sempit itu terbuka sedikit, merah. Sekarang aku tak perlu dituntun lagi. Aku sudah tahu. Kutempelkan kepala penisku ke lubang sempit itu, lalu kudorong hati-hati.
“Aaaaaaaaaaahhhhh, To, sedaaaaaap”
Kepalanya sudah masuk. Nikmaaaaaaaaaat!
Aku heran, lubang sesempit itu bisa “menelan” kepala penis besarku. Kenapa kupikirkan ? Yang penting enak.
Sambil memegangi kedua belah dadanya, aku mendorong lagi. Enak-enak geli atau geli-geli enak. Entah mana yang benar. Kudorong lagi, Aaah lagi, enak lagi, geli lagi.
Lagi kudorong, sampai habis, sampai mentok.
“Idiiiiiiiiiiiiih, Toooo, enak sekali”
Nyaman, sudah didalam seluruhnya.
Pinggul Tante mulai berputar. Aku tahu tugasku, menarik dan mendorong. Mulut Tante mengeluarkan bunyi-bunyian setiap aku mendorong. Melenguh, mendesah, kadang menjerit kecil, atau kata-kata yang tak bermakna.
Kejadian tiga hari lalu berulang. Baru beberapa kali “tusuk” aku sudah merasakan geli luar biasa. Nampaknya aku tak mampu menahan lagi. Ah, kenapa begini ? Aku tak bisa tahan lama. Aku cemas jangan-jangan Tante nanti kecewa lagi. Tapi bagaimana lagi, aku sudah hampir tiba di puncak.
Aku coba berhenti bergerak sambil menahan agar jangan sampai keluar dulu, persis kalau aku menahan kencing. Tapi begitu aku diam, pantat Tante langsung berputar. Seluruh bagian tubuh yang di dalam sana memeras-meras kelaminku. Oh, aku tak akan berhasil menahan diri. Langsung saja aku bergerak lagi, makin cepat malah. Ocehan Tantepun makin ngawur.
Aku jadi cepat, makin cepat dan semakin cepat, lalu ……. badanku bergetar hebat, mengejang, berulang, memuntahkan, mengejang lagi, muntah lagi…
Tante berhenti berputar, lalu menjepit kakiku, menerima pelepasanku.
Rasanya aku mengeluarkan banyak sekali
Lalu akupun ambruk di atas tubuh Tante.
Aku selesai. Selesai menggetar, selesai mengejang, selesai melepas, selesai semuanya. Tanteku selesai terpaksa. Aku yakin ia kecewa lagi.
“Tante, gimana Tante, saya engga bisa menahan lagi …”
“Hmmm, To”
“Maafkan lagi saya, Tante. Saya gagal”
“Sudahlah, To”
“Saya hanya memuaskan diri sendiri”
“Tante bilang sudahlah, kamu lumayan tadi”
“Lumayan gimana Tante ?”
“Ada kemajuan dibanding yang lalu. Tante merasa enak, tadi”
“Tante bohong! Tante cuma menghibur saya”
“Benar, To. Memang Tante merasa belum “tuntas”, tapi kocokanmu tadi bisa Tante nikmati”. Aku agak tenteram.
“Ini karena kamu belum biasa, To. Tante yakin, lama-lama kamu akan mampu. Barangmu kerasnya luar biasa”
“Gimana caranya supaya saya bisa lama, Tante ?’
“Nanti kamu akan tahu sendiri”
“Ajarin saya ya, Tante”
Tante tak menjawab. Akupun berdiam diri. Lama kami berdua membisu.
Tante melihat jam, pukul empat sore, lalu bangkit mencari-cari pakaiannya yang berserakan.
“Tante mandi dulu, ya ?”
Aku membantunya berpakaian.
Merapikan karet celana dalamnya, mengkaitkan kutangnya, mengancingkan dasternya. Ada sesuatu yang lain kurasakan. Aku merasa demikian “mesra” membantunya berpakaian. Aku serasa membantu isteriku!
Ya, barusan aku merasa meniduri isteriku.
Kupeluk Tante erat sekali, agak lama. Lalu kucium pipinya dalam-dalam.
“Tante”
“Apa, To ?”
“Tarto sayang Tante” kataku tiba-tiba.
Dipandangnya mataku lurus-lurus.
“Apa maksudmu To”
“Engga tahu Tante, pokoknya saya sayang sama Tante. Tante jangan kapok, ya ? Tarto ingin kita terus begini”
“Oh, itu maksudmu. Asal kamu bisa jaga rahasia”
“Bisa, Tante”
“Juga harus hati-hati”
“Iya,Tante”
Tanpa kusadari, penisku bangun lagi.
“Sudah, mandi sana” Tante ke luar kamarku
***
Di kelas aku jadi sering melamun, membayangkan waktu aku menyelusuri seluruh permukaan dada Tante dengan mulut dan lidahku. Membayangkan bagaimana kelaminku secara perlahan memasukinya…
Bel tanda pulang berbunyi. Aku bersorak. Ingat ke rumah, ingat malam ini Tante menjadi milikku. Akan kureguk semua kenikmatan dari tubuh Tante. Pokoknya nanti akan kunikmati seluruhnya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, sampai puas.
Memang aku bisa puas, tapi bagaimana dengan Tante ? Dua kali aku berhubungan kelamin dengan Tante, dua-duanya aku bisa mengeluarkan spermaku ke dalam lubang kelamin Tante, sampai puncak, sampai puas. Tapi Tante tidak. Aku jadi cemas, jangan-jangan nanti aku juga begitu. Tapi aku ingat, yang kedua kemarin tante bilang aku ada kemajuan. Hal ini sedikit menghiburku. Mudah-mudahan yang ketiga nanti dengan bertambahnya pengalamanku, ada kemajuan lagi. Aku agak tenang sekarang.
Di rumah sepi-sepi saja. Tak ada siapapun, juga Tante. Aku makan siang sendirian. Tante mungkin ada di kamar, pintu kamarnya tertutup. Kuselesaikan makan siangku dengan cepat, lalu duduk saja di meja makan, berharap Tante akan keluar dari kamarnya. Setengah jam berlalu, masih sendiri. Aku ke ruang keluarga nonton TV. Duduk di sofa lalu ingat, kemarin di sini aku menikmati buah dada Tante dengan tuntas. Diam-diam punyaku mulai tegak, padahal hanya membayangkan yang kemarin. Ditambah lagi acara TV menyajikan fashion show di Sydney, Australia. Peragawati cantik-cantik yang berlenggok di catwalk itu umumnya tak memakai kutang. Kalau model bajunya berdada rendah, belahan dadanya jelas. Kalau bahannya tipis, putingnya menonjol. Apalagi peragawati yang punya dada besar, buahnya berguncang waktu ia melenggang. Aku tambah tegang, makin pusing karena terangsang. Oh. Tante sayang, kemanakah engkau. Aku membutuhkanmu sekarang!
Tiba-tiba pintu kamar Tante terbuka. Aku menoleh. Kepala Tante nongol memberi isyarat padaku dengan mengangguk-angguk. Nasibku memang beruntung. Jelas ini isyarat ajakan masuk. Tapi masak di kamar itu, kamar pribadi Oom dan Tante. Aku ragu, bengong saja belum bereaksi atas isyaratnya. Sekali lagi Tante mengangguk, kali ini sambil mengedipkan kedua matanya. Dengan pasti aku melangkah menuju kamarnya. Kepala Tante lenyap. Aku masuk langsung menutup pintu kamarnya dan mengunci.
Di ranjang besar itu Tante terlentang. Mengenakan baju tidur tipis, sehingga samar-samar celana dalam dan kutangnya terlihat. Matanya sayu memandangku, berkaca-kaca. Kutang itu bergerak naik-turun menandakan nafas Tante sudah memburu.
Aku tak tahan melihat pemandangan yang menggairahkan ini, segera saja aku menghampirinya. Tapi…
“Tunggu dulu. Buka dulu dong, pakaianmu” perintahnya. Okey, tanpa dimintapun aku akan membuka. Sementara aku membuka pakaian sampai telanjang bulat, Tante memelorotkan celana dalamnya dengan posisi masih terlentang. Kini di balik baju tidur tipis itu nampak rambut-rambut halus yang menggemaskan itu.
Belum sempat aku bergerak, ada lagi ‘ulah’ Tante.
Ditariknya gaun tidur tipis itu perlahan, memperlihatkan paha bulat itu. Ditarik lagi keatas sampai pusarnya nongol. Kelamin berambut halus dan perutnya terbuka terhidang di depanku. Luar biasa. Tante menyajikan ’strip tease show’ di depanku! Ada-ada saja Tante ini.
Dengan ’senjata’ yang tegak keras aku menghampiri tubuh indah ini.
Kucium rambut-rambut halus itu sebentar. Gemasnya aku.
“Aaaaaaaahhhh” teriak Tante.
Aku berpindah ke atas, kulumat bibirnya sambil meremas sebelah dadanya. Kutang itu perlu disingkirkan dulu seharusnya, tapi aku tak sempat. Tanganku sebelah lagi bergerak ke bawah. Eh, Tante sudah basah! Benjolan dan pintu itu licin.
“Hhhhhhhhmmmmmmmm..” Tante tak mampu melenguh karena bibirnya aku kunci dengan bibirku.
Disingkirkannya tanganku yang sedang asyik di bawah, dipegangnya kelaminku, lalu diarahkannya ke ‘pintu’. Rupanya Tante ingin memulai sekarang. Mungkin sama dengan aku, sudah sama-sama terangsang lebih dulu sebelum bergumul. Aku terrangsang oleh bayanganku dan peragawati tadi, Tante terangsang entah oleh apa.
Aku mulai ‘masuk’
“Aduhh! Pelan-pelan, To!” Tante mengaduh, memang masukku tadi agak kasar.
“Maaf Tante, habis engga tahan sih..”kataku tersengal.
Kamipun saling menggenjot. Lucu kelihatannya kali ini. Tante masih mengenakan gaun tidur dan kutangnya, kelamin kami sudah saling pagut…
Hasilnya, seperti kemarin.................
Aku ‘keluar’ lebih dulu, sementara Tante belum terpuaskan benar. Kentara dari pinggulnya yang masih mencoba menggoyang sambil kakinya menjepit pinggangku.
Kembali aku kecewa.
Kalau kelaminku sudah bergesekan dengan kelamin Tante, disamping rasa nikmat, juga rasa geli luar biasa. Jika sudah geli begitu, aku tak sanggup lagi menahan untuk jangan sampai ke puncak dulu.
Kembali aku gagal memuaskan Tante.
Kembali aku berusaha menetralkan suasana yang tak enak ini.
Kuelus buah dada yang putingnya masih tegang itu dengan penuh perasaan, lalu kucium perlahan. Tante mengusap kepalaku. Kucium pipinya dengan mesra.
“Tante..”
“Hmmm”
“Saya..engga..”
“Udahlah..Tante tahu. Kamu engga usah merasa apa-apa. Tante maklum kok. Kamu tadi lumayan, sudah ada kemajuan”
“Tapi Tante kan belum …”
“Engga usah kamu pikirin. Tante mengerti” katanya menentramkan sambil mengelus-elus dadaku.
“Saya engga bisa bertahan lama, Tante”
“Sudah lumayan, kok. Tante tadi juga merasa nikmat. Kamu udah mulai pintar mengocok tadi”
“Saya bisa merasakan Tante tadi belum puas”
“Iya, memang wanita membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding laki-laki. Tapi kamu tadi ada kemajuan dibanding kemarin”
“Tak adil rasanya. Saya merasakan kenikmatan luar biasa, sedangkan Tante belum”
“Sudahlah, To. Tak perlu kamu pikirkan. Tante mengerti”
“Terima kasih Tante” Kupeluk tubuhnya erat. Erat sekali.
Diciumnya pipiku, lalu merebahkan kepalanya di dadaku. Aku mengelus rambutnya.
“Tubuhmu atletis sekali. Dadamu bidang” katanya sambil tangannya menelusuri dadaku.
“Iya, Tante. Dulu saya kerja di kebun. Saya juga sering olahraga”
Tiba-tiba tangan Tante ke bawah menggenggam punyaku.
“Kelaminmu besar sekali”
“Ah, masa Tante. Saya kira biasa-biasa saja”
“Apalagi kalau lagi tegang”. Kulirik punyaku, sudah agak surut.
“Tubuh Tante luar biasa” balasku.
“Kalau lagi tegang keras dan panas” komentarnya lagi masih tentang penisku, mengabaikan pujianku.
“Buah dada Tante indah sekali”
“Ah, masa. Dibanding punya siapa” pancingnya.
“Siapa saja” Aku pura-pura terpancing.
“Berarti kamu sering lihat buah dada, ya” Kubalikkan badannya.
“Besar, bulat, kenyal, putih, licin, halus lagi” kataku sambil melihat dekat-dekat buah itu.
“Buah dada siapa yang kamu lihat” tanyanya sambil menggoyang-goyang kelaminku yang masih berada digenggamannya.
“Cuma baru ini” jawabku sambil mulai merabai permukaan dadanya.
“Jujur aja, To. Dada siapa yang pernah kamu lihat” katanya lagi. Tante penasaran rupanya.
“Sungguh mati Tante. Cuma punya Tante yang pernah saya lihat”
“Yang bener, To” tangannya tidak menggenggam lagi, tapi mengelus kelaminku.
“Benar Tante”
“Kok tahu bagus ?”
“Saya hanya lihat punya teman-teman sekolah. Itupun dari luar”
“Pernah kamu pegang ?” Tangannya masih mengelus, aku mulai terangsang.
“Ih, engga lah, Tante. Bisa gempar, dong”
“Jadi, tahunya punya Tante bagus, dari mana ?”
“Pokoknya, dari luar, punya Tante paling besar” Ujung jariku mempermainkan putingnya. Putting itu mulai mengeras.
“Tante”
“Hmm ?”
“Apa setiap buah dada ujungnya begini ?’
“Begini gimana”
“Panjang, mungil, tapi keras”
“Mungkin. Punyamu mulai keras”
Aku seperti disadarkan. Memang aku sudah terangsang akibat percakapan tentang dada dan elusan Tante pada kelaminku. Aku mau lagi. Kenapa tidak ? Mumpung masih ada kesempatan. Oom Ton paling cepat besok siang pulangnya. Segera saja kukulum putting yang sejak tadi kupermainkan.
“Eeeeehhhhhmmmmmmm..” Tante melenguh panjang.
Tanganku ke bawah mencari-cari di antara ‘rambut-rambut’. Basah di sana. Kugosok yang basah itu.
“Uuhmmmm….Aaahhhhhhh..Uuhhmmmm m” desahnya agak keras, mengikuti irama gosokanku. Kelaminku diremas-remas. Enak.
“To… Hhheeeehhhggh..sedap, To..Hhheeeeeghh”
Tante makin ribut, aku khawatir kalau sampai terdengar dari luar kamar. Ah, tak ada orang ini. Aku makin giat menggosoki tonjolan kecil di bawah sana.
Tante makin ribut, menceracau tak karuan
Gosok lagi.
Teriak dia lagi. Akhirnya…
“Udah, To.ampun..Ayo To, sekarang To, sekarang…!”
Aku bangkit. Kelaminku yang sudah keras kupegang pangkalnya, kuarahkan. Tante membuka kakinya lebar-lebar. Demikian lebarnya sampai kedua lututnya ke atas, menyuguhkan kelaminnya yang membasah, tepat di depan kelaminku.
Aku masuk.
Kudorong perlahan.
“Oooohhh, To..sedapnya….”
Sudah tenggelam separoh. Kudorong lagi.
“Aduuuuhhhh, mamaaaa, nikmatnya…” teriaknya lagi.
Kudorong lagi.
Sudah masuk seluruhnya.
Kurebahkan tubuhku menindih tubuhnya. Tanganku ke belakang punggungnya. Kudekap erat tubuhnya, lalu aku mulai menggenjot. Sedaaaaaaaapp.
Bertumpu pada kedua lututku, aku menarik dan mendorong pinggulku.
Nikmaaaaaaaaaattt.
Entah kata apa saja yang keluar dari mulut Tante aku tak peduli. Terus saja menggenjot, naik-turun, keluar-masuk.
Aku nikmati benar gesekan kelaminku pada dinding vagina Tante.
Kadang selagi punyaku didalam, Tante “mengikat” pahaku dengan kakinya sambil memutar pantatnya. Kurasakan sentuhan seluruh relung kelaminnya pada kelaminku.
Luar biasa sedapnya.
“To…hhehh.kamu…hhehh..kok..hhe hh..”Tante mencoba bicara disela-sela nafasnya yang memburu.
“Keenaapaa . hheehh.. Taanntee…hhehh”
“Kamu….kok…lama…”
Baru aku menyadari, sudah puluhan kali kelaminku kugenjot keluar- masuk-putar, tapi aku tak merasakan geli seperti biasanya. Yang kurasakan hanya nikmat. Rasa geli yang tak bisa kutahan yang kemudian membuat aku ke ‘puncak’, kali ini tak kurasakan! Heran!
“Engga …tahu.. Tante..”
“To, Oh my God..heeeehhhhhh”
“Enak…Tante…?”
“Wooow….luar biasa…”
Genjot dan genjot lagi
“Kamu..masih…lama..To..?”
“Masih…Tante.”
Memang aku belum merasakan “geli menuju puncak”
“Diam. dulu,.. To”
Aku menghentikan genjotanku. Posisiku masih “di dalam”.
Tangan Tante memeluk erat punggungku, sementara kakinya mengikat pahaku. Lalu tubuhnya bergerak miring hendak merobohkan tubuhku. Aku bertahan, tak tahu maksudnya.
“Gantian, To…Tante di atas.”
Baru aku tahu maksud gerakan Tante ini. Kuikuti gerakannya, tapi..
“Jangan.sampai…lepasss”
Rupanya gerakan robohku terlalu cepat, sehingga kelaminku sedikit tercabut. Untung Tante cepat mengimbangi gerakanku, hingga punyaku “masuk lagi”.
Sekarang kami sudah sempurna berbalik posisi. Tante yang menindihku. Hanya sebentar. Tante lalu perlahan bangkit mendudukiku. Kelamin kami tak terlepas. Tante mulai bergerak. Aneh, gerakannya maju-mundur! Rasanya lain pula, tapi sama sedapnya! Dengan posisi begini gesekannya terasa lain. Kadang diputar, seperti diperas. Kadang Tante “jongkok”, pantatnya naik-turun, sedap juga.
“Aaaahhhh..kamu..nakal” teriaknya ketika dia berjongkok membenamkan kelaminku, aku mengangkat pantatku.
Kedua tanganku diraih, dituntun ke dadanya. Kuremas dada yang tambah licin kena keringat.
Entah sudah berapa lama akhirnya Tante capek juga. Dia rebahkan tubuhnya. Kupeluk. Kumiringkan, aku ingin di atas lagi. Tante menurut. Dengan hati-hati kami mengubah posisi, agar jangan terlepas. Aku berhasil.
“Kamu…udah..pintar..”pujinya.
Dengan posisi di atas aku jadi bebas menggenjot. Lagi-lagi Tante teriak.
“Terus..To.., Tante…hampir…”
Terus. Tusukanku makin menggila. Teriakannya makin keras.
Rasa geli datang, dimulai dari ujung penis, terus menjalar ke seluruh tubuh. Makin geli. Makin cepat aku menarik-tusuk. Kesemutan…mengambang..melayang ..dan…….
“Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh….”
Seeeerrr, denyut-denyut, creett...., bergetar, creeettt..., berguncang..cret...creeeett... .. Entah sudah berapa kali semprotan dari penisku, yang jelas setiap kali keluar aku merasakan kenikmatan yang tak bisa kugambarkan dengan kata-kata. Begitu nikmat. Aku sampai lupa memperhatikan tingkah Tante. Badannya telah bergeser ke atas karena ku”dorong” dengan tusukanku. Bantalnya bukan lagi di kepala, tapi di punggung. Sedangkan kepala terkulai, mata melihat ke atas, bibir terkatub rapat seluruh tubuh gemetaran. Teriakannya ? Tak perlu kuceritakan. Agak lama juga aku dan Tante bergetaran begini, merasakan puncaknya kenikmatan hubungan kelamin…….
Lalu, hanya nafas kami berdua yang terdengar, seolah berebut mengisap oksigen untuk mengembalikan enerji yang keluar.
Lalu barangsur pelan, makin beraturan.
Tante masih “terkapar”
Aku lunglai di atas tubuhnya.
Ini keempat kalinya aku bersetubuh dengan Tante. Yang terakhir inilah kurasakan sangat berbeda dibanding tiga kali yang terdahulu. Lebih nikmat, lebih memuncak, lebih lama, lebih banyak aku mengeluarkan “air”ku, lebih bergetar, pokoknya …..susah diceritakan. Pengalaman baru tentang rasa nikmat.
Dan lagi, mudah-mudahan pengamatanku tak salah, Tante begitu menggelepar, mengerang, teriak, berbeda dengan sebelumnya, Tante kali ini kelihatan “selesai”. Semoga begitu.
“Ooh..To., kamu hebat” Diciumnya pipiku dengan gemasnya.
“Apanya yang hebat, Tante”
“Kamu betul-betul lelaki” tambahnya
“Memang dari dulu saya laki-laki. Ini buktinya” Kusodorkan kelaminku, menusuk perutnya.
“Laki-laki yang jantan” diremasnya penisku dengan gemas.
“Auu” teriakku
“To…luar biasa..” Tak putus-putusnya ia memujiku.
“Enak engga tadi, Tante ?”
“Wow. bukan main. Sangat!”
Kupeluk tubuhnya. Aku merasa bahagia sekali.
“Tante sayang..” Aku berbisik semesra mungkin.
Agak kaget Tante memandangku, lalu tersenyum. Manis sekali!
“Ada apa ‘yang ?” Wuih, mesra banget. Tante memanggilku ‘yang’.
“Saya sayang Tante” Kucium bibirnya.
“Hhmmmmmmm” lenguhnya.
“Kalau lama, enak sekali ya Tante”
“Kok kamu tadi bisa lama”
“Engga tahu, Tante. Mungkin karena tadi ronde kedua”
“Atau mungkin karena kamu udah mulai pandai”
“Yang pandai gurunya”
“Huuuu” cibirnya sambil mencubit kontolku. Aku senang.
“Guruku yang cantik”
Dicubitnya hidungku.
“Dan berpengalaman” godaku lagi.
“Aaah, udahlah, To”
Kami diam lagi.
“To.” panggilnya tiba-tiba.
“Ya.sayang”
“Jangan tinggalin Tante, Ya”
“Oo, engga dong. Masa Tante yang jelita begini mau ditinggalin”
“Tante serius, To”
“Saya juga serius, Tante. Saya membutuhkan Tante. Saya ingin begini setiap hari, Tante”
“Saya butuh kamu” Nah ini baru pernyataan. Ini pernyataan baru. Tante membutuhkanku ? Bukankan ia punya suami ?
“Oom Ton gimana Tante”
Tiba-tiba wajah Tante berubah, agak sedih kulihat.
“Tante….ah engga. Pokoknya kita harus hati-hati, To. Ingat pesanku ‘kan ? Tante juga senang kita bisa begini terus. Tapi hati-hati, ya ?”
“Pasti, Tante. Saya akan hati-hati. Tapi Tante mau kan, tiap hari”
“Nanti kamu bosan”
“Saya sudah bilang, Tarto sayang Tante. Tarto butuh Tante. Tarto ingin menikmati setiap hari. Tadi Tante bilang membutuhkan Tarto. Maksudnya gimana Tante ?”
“Iya.sama seperti kamu, Tante juga ingin setiap hari”
Klop ‘kan ? Keinginan yang sama, saling membutuhkan, saling memuaskan, dan….saling menyayangi. Apakah ini yang dinamakan cinta ? Ya, apakah kami saling mencintai ? Aku memang tak ingin kehilangan Tante, tapi Tante sendiri bagaimana ? Apakah ia membutuhkanku karena mencintai keponakannya ini ? Atau karena aku baru saja memuaskannya ? Bagaimana dengan suaminya ? Jangan-jangan ia tak mendapatkan kepuasan dari Oom Ton ? Aku ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan terakhir ini, tapi mana berani aku menanyakan langsung kepada Tante. Ah, itu tak penting. Yang penting, aku sekarang punya kekasih yang luar biasa, yang bisa membuatku melayang-layang di puncak kenikmatan.
Lelah benar aku malam ini. Bayangkan, malam ini dua kali aku “bertempur”. Terutama yang terakhir tadi, permainan lama yang betul-betul menguras tenagaku. Aku sekarang ingin istirahat.
Masih agak sempoyongan aku bangkit mengumpulkan pakaianku.
“Mau ke mana To ?”
“Saya ingin tidur, Tante”
“Sudah tidur sini aja, temanin Tante”
“Saya senang sekali Tante, tapi besok Oom ‘kan pulang ?”
“Paling cepat besok siang” Aku memperhatikan Tante yang dengan malas bangkit. Tubuh wanita ini memang luar biasa. Aku benar-benar beruntung mendapatkannya. Masih telanjang bulat Tante berjalan menuju kamar mandi. Tak lepas mataku menatapnya.
“Kenapa, To” Tante merasa aku tatap begitu.
“Tante memang indah” kataku sambil bergantian menatap dada dan ‘rambut’ bawahnya.
“Kamu memang nakal. Sudahlah, bersih-bersih dulu baru kita tidur”
Di dalam kamar tidur Tante yang luas ini ada kamar mandi yang luas pula. Ada dua wastafel cermin lebar, bath-tube, dan tempat untuk mengguyur (douce) yang berpintu kaca agak buram.
Di bath-tube kami saling membersihkan, Tante menyabun tubuhku sementara aku mengguyur tubuhnya, lalu gantian. Ah, mesra sekali.
Lalu berdua kami tidur berpelukan dibawah selimut yang hangat, tanpa pakaian. Tante yang punya ide begini. Enak juga. Jam dinding menunjuk waktu 11.32. Dua ronde permainan makan waktu hampir 3 jam. Pantas saja aku lelah.
***
Dengan tergagap aku terbangun. Dimana aku in ? Tante masih ada di pelukanku. Kulihat sekeliling, ah aku tidur di kamar pribadi Oom Ton dan Tante Yani!
Ada rasa enak di bawah sana. Ooh, Tante sedang asyik mengelus-elus penisku yang tegang. Setiap bangun pagi, tanpa dieluspun penisku memang tegang. Elusan ini yang membuat aku terbangun. Kulihat jam dinding, pukul 05.17. Ah , sudah pagi, aku harus siap-siap. Tapi Tante ini..
Tante memandangku, tersenyum, seperti biasa : manis.
“Punyamu udah keras, To” Buah dada itu menyembul karena terpepet dadaku. Aku terangsang.
Langsung saja aku raih buah indah itu. Putingnya sudah keras. Kami berpagutan. Aku ingin tahu kesiapan Tante pagi ini, tanganku ke bawah sana. Sudah basah rupanya. Mengingat waktu, aku ingin segera mulai. Tantepun paham.
Kembali aku melakukan ‘pertempuran’ panjang melawan Tante.
Rasanya jalan ke puncak masih lama.
Aku mempercepat “pompaan”ku
Belum juga.
Aku terus melumat bibir Tante, mencegah “kicauan”nya yang makin keras, khawatir terdengar Mar yang sangat mungkin sudah bangun.
Ganti posisi
Percepat lagi.
Hampir
Ubah posisi..
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh hhhh.........."
Akhirnya............aku makin yakin seperti yang Tante katakan, bahwa aku lelaki tulen, jantan, hebat….
Pagi yang melelahkan sekaligus menyegarkan……!
Tante memberikan bukti, bukan hanya janji. Kami bersetubuh hampir tiap hari, kecuali kalau Tante senam. Waktu yang dipilihnya adalah siang hari, waktu saya baru pulang sekolah, di kamarku. Ini demi keamanan. Siang hari adalah saat yang paling aman. Saat Si Mar sedang sibuk bekerja di belakang, Si Luki bermain dengan pengasuhnya di rumah sebelah, dan saat Oom Ton belum pulang kantor. Siang hari memberikan Tante cukup waktu untuk membersihkan diri, menghilangkan “bekas”.
Aku jauh dari bosan, seperti yang dikhawatirkan Tante. Karena aku memang sangat menikmati hubungan ini. Faktor lain yang membuat aku tak bosan adalah kreativitas Tante. Seperti yang kukemukakan di awal tulisan ini, ada saja ide Tante untuk membuat kejutan untukku setiap berhubungan kelamin. Entah itu posisi berhubungan, atau acara “pembukaan”, tambahan ronde, dan lain-lain yang membuat aku merasa “lain”.
Pernah sekali waktu ketika aku pulang sekolah, ia sudah siap di dipanku memakai selimutku sebatas dada dan tak memakai apa-apa lagi di balik selimut itu. Kejutan yang membuatku “terbakar”.
Lain kali lagi ia memintaku “masuk” dari belakang. Bertumpu pada lututnya ia ‘nungging’, aku bermain sambil memegangi pantatnya yang bahenol itu.
Saat yang lain lagi, kami ‘bertempur’ di atas meja belajarku. Ia duduk di pinggiran meja membuka kaki, aku ‘masuk’ sambil tetap berdiri.
Pernah juga di kursi belajarku. Aku duduk di kursi yang dirapatkan ke dinding, ia duduk di atas pahaku berhadapan. Dengan posisi begini ia bebas “memilih” posisi tusukan kelaminku di vaginanya. Posisi atau gaya apapun, yang jelas membuat kami berdua menuju puncak bersamaan atau hampir berbarengan.
Kejutan yang susah kulupakan serta merupakan pengalaman baru bagiku adalah seperti yang akan kuceritakan di bawah ini.
Seperti yang sudah-sudah, pulang sekolah setelah ganti baju, aku langsung menemui Tante meminta “jatah” bersetubuh. Aku sebut jatah karena kalau malam hari Tante bukan milikku lagi, tapi jatah suaminya.
Siang itu ruang tengah sepi, Tante mungkin ada di kamarnya, kulihat pintunya sedikit terbuka. Aku ingin masuk ke kamarnya, kali ini aku ingin main di kamarnya, karena sejak “semalam 3 ronde” itu aku tak pernah lagi making love di kamar itu, selalu di kamarku. Kuperiksa keadaan sekeliling dulu. Aman.
Aku masuk kamarnya. Tante mengenakan kimono sedang mengikat rambutnya. Kukunci pintu, kupeluk Tante dari belakang, menggerayangi. Tak ada apa-apa lagi di balik kimono itu.
“Hhmmmmm..sebentar ya ‘yang, Tante mau mandi dulu”
“Engga usah mandi juga Tante tetap wangi” kataku terus menjelajahi tubuhnya.
“Entar biar segar. Sabar dulu ya..” Aku menghentikan aksiku.
“Saya ikut mandi Tante” kataku bercanda.
“Ayolah, kita mandi bareng” Tak kusangka Tante menganggapnya serius. Ayo, kalau begitu.
Aku langsung bertelanjang, menuntun Tante memasuku kamar mandi. Tante membuka kimononya, bertelanjang bulat juga, masuk ke ruang douce. Tak bosan-bosannya aku memandangi tubuh indah ini, padahal hampir tiap siang aku menggumulinya.
“Ayo, To” ajaknya.
“Kita main di sini Tante ?” nakalku timbul.
“Hush, sekarang kita mandi dulu, kapan-kapan bolehlah”
Tanganku yang bersabun menggosoki dadanya. Di bagian putting sengaja kutekan-tekan. Tante juga menggosok dadaku dengan sabun. Lalu perutnya, dan ke bawah lagi. Tangan Tante juga ke bawah. Diusapnya dengan sabun ‘rambut’ bawahku, kemudian dipegangnya batang kelaminku, digosok juga. Karuan saja batang itu membesar.
“Hiiiiii, bangunnya cepet bener” Aku menikmati gosokannya. Tante benar-benar teliti, semua bagian dari alat vitalku itu dibersihkan dengan sabun lalu diguyur. Enak.
Aku ikut-ikutan. Seluruh bagian kelaminnya aku bersihkan. Kalau aku lagi menggosok “pintu” kelaminnya, kulihat mata Tante merem-melek keenakan.
Selesai mengeringkan badan aku langsung menubruk Tante.
“Heee, jangan disini To, ingat dong” Oh ya. Siang begini terkadang si Luki suka masuk ke kamar, tentu diikuti si Tinah. Berbahaya.
Aku berpakaian, hanya pakaian luar saja, pakaian dalam aku bawa, menyingkat waktu.
“Hiiiii, lucu.” kata Tante mengomentari tonjolan di celanaku. Tantepun hanya memakai daster, tanpa pakaian dalam.
Aku masuk kamarku duluan, langsung berbugil. Sejurus kemudian Tante menyusul, juga langsung bertelanjang bulat. Kami langsung bersatu, saling raba dan saling pagut. Kali ini mungkin tak ada kejutan yang dibuat Tante. Atau ya itu tadi, mandi dulu sebelum main. Betul juga kata Tante, lebih segar.
Aku meringkik kegelian ketika Tante menciumi pusarku. Ini mungkin kejutannya, tak biasanya Tante begitu.
Tapi, Tante terus ke bawah menciumi ‘rambut’ku. Lebih kaget lagi, tangannya menggenggam kelaminku dan mulai menciumi barang yang sudah mengeras itu! Bukan main! Geli-geli nikmat. Bahkan..
“Aaaaaaaahhhh” aku mengerang ketika kepala penisku dimasukkan ke mulutnya!
Luar biasa nikmatnya. Ini rupanya mengapa Tante begitu teliti membersihkan kelaminku waktu mandi tadi.
“Tante…”
Tante seolah tak mendengar panggilanku, terus saja asyik melahap barangku. Tante sanggup memasukkan barang itu hingga separohnya. Sewaktu di dalam, jelas kurasakan lidah Tante ikut bermain menggelitiki penisku. Woooow sedapnya tak terkira .!
Sungguh ini pengalaman baru bagiku. Nikmatnya terasa lain. Entah apa yang dirasakan oleh Tante. Kok mau-maunya ia melakukan ini. Aku sih keenakan. Aku perhatikan bagaimana ia sibuk mengeluarkan-memasukkan penisku, kepalanya naik-turun berirama.
“Aaaahhhhhhh…hhmmmmmmmm…sssssh hhhhhhh..sedap, .. Tante., …Tante..pintar .sekali…” celotehku menahan nikmat. Bagaimana nanti kalau aku tak mampu menahan diri ? Masa aku menyemprotkan spermaku ke mulut Tante ? Ah, bagaimana nanti saja, yang penting sekarang….sedaaaaaaaaaap.
Tiba-tiba Tante melepas “makanan”nya, disapunya barangku dengan kain dasternya yang tergeletak di dipan. Aku merasa kehilangan sesuatu. Dikeringkan. Lalu…dikulum lagi…! Nikmaaaaat..
Dilepaskannya lagi, barangkali mau dilap lagi. Ternyata tidak, badannya digeser sehingga kaki Tante berpindah ke arah kepalaku.
“To, .. ayo cium, To..”katanya terengah. Sejenak aku bengong tak mengerti permintaannya.
“Kamu cium ini…” katanya kemudian sambil menunjuk ke selangkangannya. Okey, Tante, toh aku sudah sering mencium ‘rambut-rambut’ halusmu itu. Aku mulai mencium.
“Ke bawah lagi, dong To..” Ke bawah ? berarti disitunya ? Hal baru, kenapa tidak ?
Kucium tonjolan kecil yang sudah keras itu. Asin rasanya.
“Aaaaaaaahhhhhhhh, sedap To, terus…”
Kini lidahku yang menyapu-nyapu pintu dan tonjolan tadi
“Yaaaahhh. yaaaaaa…begitu enak…” katanya sambil mulutnya menyergap lagi batang kelaminku.
Ada cairan yang asin rasanya.
Di kemudian hari aku baru tahu bahwa yang sedang aku dan Tante lakukan sekarang ini namanya “posisi 69″
Dalam mengulum ini Tante pintar sekali, banyak variasinya. Keluar-masuk, kadang menyedot-nyedot, bermain lidah, sesekali menggigit (aku langsung teriak).
Akupun diajarinya bermain. Menggelitik ‘lubang’ dengan lidahku, menggigit kelentitnya (pelan, tentu saja), menyapu bibirku ke “bibir”nya.
Asyik juga bermain seperti ini. Masing-masing sibuk, masing-masing merasakan nikmatnya.
Entah sudah berapa lama kami bermain begini. Untung saja aku berhasil menahan diri untuk tidak keluar. Aku sekarang memiliki ketrampilan baru untuk mengontrol diri, mengatur diri kapan saatnya ‘keluar’. Kalau tidak, masa aku menyiram mulut Tante dengan maniku.
Sampai akhirnya….
“Ayo, To….sekarang.To….”
Aku memutar tubuhku, sementara Tante rebah terlentang membuka kakinya, siap menerima tusukanku.
Aku masuk dengan gemas.
Tante menerima dengan antusias.
Untuk kesekian kalinya kami saling menggenjot.
Bersama menuju puncak.
Berbarengan menggelepar.
Sudah itu
Sama-sama lemas
Sama-sama puas.
Oh, betapa bahagianya aku.
Kebutuhan lahir dan batin terpenuhi.
Kurang apa lagi ?
***
Tak ada yang kurang pada diri Tante. Cantik, putih, tubuh bagus, permainan di tempat tidur luar biasa, dan kreatif. Kreativitas Tante tercermin dari cara bersetubuh. Ada saja yang dilakukannya yang membuatku merasa bersetubuh dengan orang baru. Selalu ada hal baru dalam setiap permainannya. Sejak Tante memperkenalkan “posisi 69″, aku selalu minta dikulum penisku sebagai acara pembukaan. Tante juga amat menikmati permainan lidahku di vaginannya.
Seperti biasa sepulang sekolah aku mendekati Tante untuk melaksanakan ‘tugas’ rutin, bersetubuh.
Aku sudah membuka resleting celanaku, mengeluarkan penisku yang tegang di dekat Tante yang sedang duduk di tepi ranjang, masih berpakaian lengkap, di kamar Tante yang sudah kukunci. Yah, semacam pemberitahuan bahwa aku sudah siap. Tapi tante menyambut dengan dingin, tak seperti biasanya. Ia hanya mengelus-elus. Ketika dengan kurang ajar aku mendekatkan kelaminku ke mulutnya, ia hanya mengecup lembut kepalanya, tidak dikulum seperti biasanya, paling-paling hanya menggenggam.
“Tante engga bisa sekarang, To”
“Kenapa Tante ?”
“Tante lagi …itu..”
“Lagi apa, Tante ?”
“Lagi mens.”
“Mens ? Apa itu Tante ?”
“Kamu engga tahu ?”
“Bener, Tante. Saya sungguh engga tahu” Memang aku tidak tahu.
“Begini, setiap bulan wanita yang sudah dewasa mengalami masa menstruasi. Wanita yang normal pasti mengalami”
Lalu Tante memberiku kuliah tentang menstruasi itu. Bahkan ditunjukkannya kepadaku celana dalamnya yang berbalut itu.
“Kalau begitu, besok saja ya, Tante” pertanyaan bodoh memang.
“Engga bisa To. Masa mens biasanya sekitar seminggu. Tapi kalau Tante sekitar 4 - 5 hari.”
Wah, menunggu 4 - 5 hari, mana tahan ?
“Tapi Tante, saya ingin …”
“Engga, To. Sabar aja ya, yang…”
Aduh, pusing juga aku, keinginan sudah sampai ke kepala.
“Bagaimana kalau begini saja Tante..” Kataku sambil menempelkan penisku ke bibir Tante, minta dikulum.
“Engga bisa juga, To. Itu namanya kamu egois. Kamu bisa puas, tapi kalau Tante terangsang, gimana ?” Benar juga kata Tante.
“Maafkan saya, Tante. Saya sungguh-sungguh belum tahu” kataku sambil memeluknya dengan mesra.
“Engga apa-apa, To. Tante maklum”
Dimasukkannya penisku, celana dalamku dibetulkan letaknya, lalu ditutupnya resleting celanaku. Mesra sekali.
“Awas, ya. Jangan cari sasaran lain” katanya.
Kucium kedua belah pipi Tante, dengan mesra juga.
“Engga dong, Tante. Emangnya apaan.”
Ternyata ada yang belum aku ketahui tentang wanita
Sekarang masalahku, mana bisa aku menunggu 4 - 5 hari tanpa bersetubuh, setelah hampir tiap hari menikmati.
Pulang sekolah agak kaget aku mendapati Tante duduk di sofa, membaca. Kucium pipinya.
“Engga senam, ‘yang ?”
“Engga, lagi banyak-banyaknya”
“Apanya yang banyak ?”
“Ah, kamu. Ya mens-nya” Aku mengerti. Tapi berarti hilang juga kesempatanku siang ini menyatroni mBak Mar. Paling tidak aku harus menunggu 2 hari lagi, jadwal senam Tante berikutnya, atau menunggu sampai Tante “bersih”.
Malamnya, terkantuk-kantuk aku menunggu Oom Ton dan Tante masuk kamar. Pukul 10.15 mereka masih asyik menonton TV. Aku masuk kamar duluan, gelisah. Setengah jam berikutnya kudengar TV dimatikan, lampu tengah juga, lalu kudengar suara pintu ditutup dan dikunci.
***
Sengaja aku datang ke sekolah lebih pagi. Hari in ada ulangan Fisika dan aku merasa belum siap. Di rumah aku tak bisa konsentrasi belajar, ingatanku ke Tante melulu. Apalagi sekarang udah beberapa hari aku tak bersetubuh, pusing aku, mana bisa belajar di rumah. Pagi ini kesempatan terakhirku untuk belajar Fisika menghadapi ulangan nanti. Belum banyak kawan yang datang, cuma ada Tono, Edi dan Rika yang lagi ngrumpi. Dito belum nongol. Aku ambil bangku paling belakang, mojok, lalu mencoba berkonsentrasi. Lumayanlah dalam setengah jam aku bisa memecahkan soal-soal yang kuperkirakan akan keluar nanti. Juga beberapa rumus sempat “masuk’ ke otakku, sampai seseorang datang menghampiriku dengan senyuman yang amat manis. Yuli memang manis, apalagi kalau senyum.
Akhir-akhir ini kami makin akrab, sebatas dalam pelajaran lho! Sering saling meminjam buku catatan, diskusi soal-soal PR, atau cuma ngomongin guru-guru. Makin dekat kurasakan Yuli makin menarik, dadanya makin menonjol aja. Aku sudah berada di pelukan Tante sih, jadi aku kurang memperhatikan Yuli. Entah ini hanya ge-er saja, kulihat Yuli begitu ceria kalau berdekatan denganku.
“Rajin bener. belajar Fisika ya..?” tegurnya sambil duduk di sebelah kananku.
“Ah engga. Justru karena aku males, baru sempet belajar sekarang” sahutku
“Pinjam catatan Matematiknya dong Tar”
“Matematik ? Kan entar ulangan Fisika”
“Iyyaa. Tapi kemarin gua engga sempet nyatet jawaban soal kemarin”
Aku ulurkan buku Matematik, sambil memgang tangannya. Yuli membiarkan tanganku meremas tangannya, meskipun kemudian dia tarik tangannya, without any words. Tanda “penerimaan”. Tangannya halus bener .. Lalu dia dengan serius memelototi catatanku itu. Anak ini memang serius banget kalau belajar. Mataku tak lepas memperhatikannya. Dia mungkin tahu aku melihatnya, tapi pura-pura tidak tahu. Ah .. Ini dia. Di sela-sela kancing bajunya, aku sempat “mencuri” keindahan sebelah buah yang tumbuh di dadanya. Hanya sedikit sih, tapi cukup membuatku “berdiri”. Apalagi daging itu terlihat sedikit naik-turun seirama tarikan nafasnya. Ah seandainya ..khayalanku melayang tinggi. Kuperiksa keadaan sekeliling. Masih sepi, memang masih pagi sih. Hanya ada 2 kawan yang tadi, lagi asyik menulis.
Sekaranglah waktunya! Toh 2 teman tadi menghadap ke depan kelas, tak akan melihat bila aku “menggarap” Yuli.
Segera saja tangan kananku merangkul bahu Yuli. Tak ada reaksi. Aksi kuteruskan dengan memegang dagu dan menariknya. Mata Yuli sedikit membelalak, agak kaget mungkin, tapi tak ada tanda-tanda penolakan. Ah. bibir merah membasah yang menggairahkan. Kucium bibirnya. Dan … Yuli membalas ganas ciumanku..!
Tanganku mulai membuka kancing baju putih itu, lalu empat jariku menyusup ke balik BH-nya. Halus, padat, dan lumayan besar. Aku meremas. Yuli melenguh. Jariku mencari-cari putingnya. Mengeras. Tangannya kepangkuanku. Meremas juga. Sambil masih berciuman, aku melirik dua temanku tadi, mereka masih tak acuh sibuk sendiri. Aman!
Bibirku menelusuri lehernya yang licin, terus kebawah. Kancing bajunya sudah
terbuka semuanya. Kulepas baju seragamnya, lalu kudorong Yuli hingga rebah di bangku sekolah!
Aku menindihnya hingga tubuh kami “lenyap” dari pandangan teman-teman tadi kalau mereka menengok ke belakang. Kuciumi habis-habisan kedua bukit perawan itu. Aku yakin bukit kembar ini belum tersentuh oleh “pendaki” manapun. Keras, dan padat. Aku tak sanggup menahan lagi. Walaupun pakaianku masih lengkap nempel di badan, tapi meriamku sudah nongol tegak dari rits celana, siap. Kusingkap rok abu-abu itu jauh-jauh ke atas. Kupelorotkan celana dalam krem-nya…
Amboi … bulu-bulu halus, merata di seluruh permukaan kewanitaanya.. Luar biasa.. Masa aku kerjain di sini, di kelas ? Biar saja. Kalau nanti ketangkap basah gimana ? Peduli amat. Kalau sudah begini, mana bisa “delay”, apalagi “cancel”. Lagi pula Yuli sudah merintih-rintih sambil membuka pahanya agak lebar. We got the point no return!
Mulai sekarang ? Ya, tunggu apa lagi. BH-nya masih nempel. Biar saja, tak ada waktu lagi. Kutempatkan penisku ke “tempat yang layak”. Menyapu-nyapu sebentar di seputar pintu-basahnya, lalu mulai menusuk.
“Uuuuhhhhhh ..” Yuli melenguh.
Mentok. Padahal baru “kepala”ku yang tenggelam. Tusuk lagi dengan menambah tekanan.
“Aaaahhhhh .pelan ..pelan ..sakiiit…” Desahnya pelan dan terbata-bata.
Buset! Susah bener. Vagina yang satu ini sempit benar. Apa betul, Yuli masih perawan .? Mungkin juga. Sebab biasanya kalau sama Tante Yani tusukan begini sudah mampu mencapai “dasar”.
Aku tusuk lagi lebih kuat, bahkan sekuat tenagaku. Dan …..
“Heh! ngelamun aja!”kudengar suara agak membentak. Suara Yuli!
Aku tersadar.
Aku kembali ke alam nyata.
Kembali dari lamunan nakal.
Lamunan bersetubuh dengan gadis yang duduk di sebelahku ini.
Gadis yang baru saja mengagetanku!
Ah.sialan. Kenapa aku begini ?
Gara-gara mengintip sedikit buah Yuli, aku jadi melayang..
***
Hari berikutnya aku kurang beruntung. Tante ada di rumah mengajakku ngobrol. Hanya ngobrol. Sayang sekali tubuh molek ini belum bisa “dipakai”. Sembulan dada bagian atas Tante dan sedikit belahannya cukup membuatku kepingin.
“Tante…” panggilku dengan suara serak”
“Hmm ?”
“Saya pengin, Tante”
“Kamu itu, engga sabaran, engga pernah puas”
“Bukan begitu, Tante. Saya puas, puas sekali. Cuma ketagihan, habis enak sih. Udah biasa setiap hari…”
“Sabar, dong” katanya sambil menggenggam selangkanganku.
“Eh, udah keras..” katanya lagi.
“Iya, Tante. Saya siap setiap saat” kataku meniru iklan
“Dasar…….! Dua hari lagi”
“Lama bener..”
Besok siangnya lagi, ada kejutan baru untukku. Tidak bersetubuh sih, tapi menyenangkan.
Tante sedang duduk di sofa menyulam. Begitu datang aku langsung menyingkirkan kain sulamannya, lalu kucium pipi dan kemudian bibirnya. Aku langsung tahu bahwa dibalik gaun merah jambu, warna kesukaannya, Tante tak memakai BH.
“Mandi dulu sana, To”
“Udah bisa, Tante ?” tanyaku cerah.
“Ih, kesitu aja pikiranmu. Belum, belum bersih” jawabnya sambil menuntun tanganku ke bawah perutnya. Masih ada pembalut di sana.
“Jadi, gimana dong Tante” kuremas dadanya yang tak berkutang.
“Pokoknya kamu mandi dulu”
Aku mandi dan mengganti baju dengan penuh harap, barangkali ada kreativitas baru dari Tante.
Aku keluar kamar. Ini dia kejutannya. Tante masih duduk di situ, hanya kancing gaunnya telah dibuka sampai perut, mempertontonkan sepasang buah dada yang mengagumkan. Luar biasa. Berani benar Tante ini, bertelanjang dada di ruang tengah. Jelas belum bisa bersetubuh, tapi kelakuan Tante ini menandakan ada permainan apa lagi nih.
Langsung saja kuserbu buah dada itu.
“Eeeeehhhhmmmmmm” Dengan gemasnya aku mengacak-acak buah indah itu dengan mulut dan tanganku.
Belum puas aku bermain dengan dada, Tante mendorongku sampai aku berdiri di depannya. Lalu.Tante membuka kancing jeans-ku!
“Tante… Si Mar nanti…..”
“Engga ada, lagi pergi…”
Dibukanya resleting celanaku, diturunkannya celana dalamku, lalu dikeluarkannya penisku yang langsung tegang, digenggam pangkalnya, terus diciumi ‘kepala’-nya, lalu masuk mulutnya!
Ooooohhh, nikmat sekali permainan baru ini. Suasana baru. Bayangkan. Di ruang tengah, berdua masih berpakaian, aku hanya mengeluarkan kelaminku, Tante mengulumnya dengan bertelanjang dada! Oh, indahnya dunia ini.
“Ooohhhhhhhhh, Tante, …sedaaaaappp.”
Kepala Tante bergerak maju-mundur, sangat perlahan. Terasa sekali bibirnya menjepit dan bergerak menelusuri permukaan penisku.
“Tante..Tante…enaaaaaaaak, Tante..”
Tante terus saja. Tanganku dituntun ke buah dadanya. Aku sampai lupa diri tak berbuat apa-apa pada Tante. Habis sedap sekali sih!
Kedua tanganku meremasi sepasang buah kenyal itu. Tante terus bekerja. Geli, Tante…!
Ya, geli. Aku hampir ke puncak. Entah mengapa kali ini aku cepat mendaki. Mungkin karena pintarnya bibir dan lidah Tante merayapi permukaan kulit kelaminku, atau karena suasana yang aneh ini.
Aku tak mampu menahan lebih lama lagi.
Tante rupanya tahu kalau aku hampir sampai, ia mempercepat gerakannya. Bagaimana kalau keluar, aku tak tega kalau sampai menumpahi mulut Tante dengan spermaku.
Segera..ya..segera sampai….
Dilepasnya kulumannya, tangannya yang memegang sapu tangan secepat kilat menutupi kelaminku dan digenggam.
“Aaaaaaaaaahhhhhh” sambil berteriak aku muncrat. Sedaaaaaaap.
Tante meremas.
Muncrat lagi, enak, meremas lagi, muncrat, nikmat, remas, sedap, muncrat, remas….
Beberapa detik aku terbang, kakiku goyah, lalu mendarat ditubuh Tante. Kucium mulutnya. Masih ada muncratan lagi, tertampung di saputangan. Ada lagi, makin sedikit…..
Beberapa saat aku masih menubruk Tante, ia masih menggenggam dengan saputangan.
“Terima kasih, Tante…”
“Enak, To ?”
“Sedaaaaaaap, Tante. Tapi lebih nikmat ke sini…” jawabku sambil memegang benda yang masih berpembalut itu.
“Masih pusing ?”
“Hilang, Tante. Lepas sudah…” Keteganganku memang lepas.
“Tante sendiri, gimana dong, Tante ?”
“Engga apa-apa. Ini ‘kan cuma membantu kamu”
Kupeluk lagi Tante lebih erat. Aku makin sayang saja sama Tanteku ini.
“Terima kasih, Tante. Tarto makin sayang sama Tante” kataku jujur.
“Sudah, cuci dulu sana. Ih, banyaknya….”
“Iya, habis sudah tiga hari engga keluar.”.
***
Sejak peristiwa ‘penguluman di ruang tengah’ kemarin itu aku jadi makin berani ‘kurang ajar’ kepada Tante. Seperti siang ini. Waktu Tante sedang duduk membaca di ruang tengah, aku mendekatinya dari belakang dengan kelaminku sudah kukeluarkan, terjulur kutempelkan di pipi Tante.
“He, ngawur kamu.!” Tante kaget. Ditariknya punyaku.
“Aauuu” aku teriak.
“Masukkin, engga aman!”
“Iya Tante, saya tahu. Cuma bercanda”
Di hari berikutnya Tante membalas.
Sewaktu aku sedang makan siang sendiri, Tante mendekatiku, sangat dekat sehingga perutnya hanya berjarak beberapa senti dari pipiku. Kucium bawah perutnya. Lalu Tante meraih tanganku, dimasukkan ke balik gaunnya, langsung vaginanya terpegang. Tak ada celana dalam di balik gaun Tante.
“Sudah bersih, Tante ?”
“Sudah..”
Kuangkat gaun itu sehingga ‘rambut’ yang menggemaskan itu nampak. Aku langsung tegang, berarti siang ini bisa. Aku langsung berdiri meninggalkan makanku, memeluknya.
“Tunggu dulu” kata Tante sambil mendorongku terduduk kembali.
“Kali ini Oommu dulu, ya..” Katanya sambil meninggalkanku masuk ke kamarnya.
Kurang ajar! Oom Ton ada di kamar. Seharusnya aku tahu, mobilnya ada di garasi. Tante masih sempat melihatku sambil tersenyum, sebelum ia mengunci kamar.
Aku makin tegang ketika setengah jam kemudian lamat-lamat mendengar suara erangan Tante dari kamar..
Aku masuk kamar, tak tahan di situ.
Tante sudah selesai mens-nya, seharusnya siang ini ia milikku. Tapi Oom Ton merebutnya. Merebut ? Memang Oom Ton pemilik sah.
Aku gagal mencoba berkonsentrasi membaca Fisika, besok ulangan. Bayangan Tante disetubuhi suaminya yang muncul. Ah, sialan..
Setelah mencoba menyadari posisiku, aku jadi agak tenang. Aku ‘kan hanya kemenakannya yang dibantu, lahir dan batin, kenapa musti sewot ? Kelaminku mulai surut.
Tapi itu tak lama.
Tiba-tiba Tante masuk, langsung mengunci pintu kamarku. Disodorkan buah dadanya ke mulutku. Buah itu masih berkeringat, juga wajahnya. Tak peduli. Aku serbu dada itu, masih duduk di kursi belajarku. Kelaminku langsung membesar lagi. Tante dengan tergopoh-gopoh membuka resleting celanaku, mengeluarkan isinya yang sudah keras menjulang. Ia melangkah naik ke pahaku. Mengarahkan kelaminku ke vaginanya, dan….blessss aku langsung masuk…! Gila! Tanpa pemanasan dulu Tante langsung main. Di kursi lagi. Untung aku cepat siap. Jadilah kami ‘berkudaan’ di kursi. Tante semangat sekali nampaknya. Dengan posisi berpangku berhadapan ia di atas, Tante leluasa mengeksplorasi penisku. Aku lebih pasif. Hanya kadang-kadang saja menusuk, soalnya berat, harus mengangkat tubuhnya dengan pinggulku.
Edan! Setengah jam yang lalu aku mendengar Tante mengerang di kamarnya bersama Oom Ton, sekarang ia berkudaan denganku, sementara suaminya (mungkin) sedang pulas di kamar sebelah!
Seakan ia tak ada puasnya. Atau jangan-jangan ia belum puas dengan suaminya lantas melanjutkan di sini ? Hanya Tante yang tahu. Betapa trampilnya ia menggenjot. Vaginanya begitu menjepit dan mengurut penisku, berulang-ulang. Begitu rupa ia menstimulasi kelaminku, membuat aku cepat naik. Geli sekali. Makin cepat dia, makin geli aku. Tiba-tiba tangannya mencekram kepalaku kuat sekali. Tubuhnya bergetar hebat, mengejang. Di dalam sana berdenyut-denyut. Bahuku digigitnya. Getaran tubuhnya makin hebat, lalu mendadak berhenti menggenjot. Mengerang. Tante sedang melayang di puncak..
Akupun hampir sampai. Aku sekarang yang menggenjot. Tante teriak. Vaginanya menjepitku teratur menandakan Tante telah orgasme. Aku tak peduli, sebab aku belum, cuma hampir sampai, terus menggenjot. Tante masih mencekeram erat, secara pasif mengikuti gerakan tusukanku yang naik-turun, lalu…akupun mengejang, melepas. Heran, Tante mengerang lagi, seharusnya aku yang teriak. Tante ikut menikmati ejakulasiku.
Sejurus kemudian kami diam, masih berpelukan, Tante belum mencabut. Hanya nafas kami berdua yang masih berkejaran.
“Tante hebat…” aku membuka percakapan
“Apanya yang hebat, justru kamu yang hebat. Tante tadi ‘kan duluan”
“Ah, kita hampir bersamaan kok tadi”
“Jadi apa maksudmu hebat”
“Tante bisa dua kali berturutan”
“Ooh itu, engga juga sih..”
“Tadi saya mendengar, waktu Tante sama Oom”
“Ah, masa.?”
“Iya, Tante mengerang, saya jadi ngiri.”
“Kan kamu dapat juga”
“Itulah makanya Tante bisa dua kali”
“Kamu juga bisa dua kali, waktu malam itu.”
“Iya, tapi ‘kan ada jarak waktu”
“Sebenarnya Tante tadi cuma sekali”
“Yang benar, Tante. Barusan Tante ‘kan sampai puncak..”
“Iya. Cuma itu. Sama kamu”
“Tadi sama Oom..” aku mulai menyelidik tentang hubungan Oom dan Tanteku ini.
Tante diam saja.
“Kok diam, Tante” aku benar-benar ingin tahu.
“Ini kan masalah Tante dengan Oom-mu, rahasia dong”
“Please, Tante, cerita dong. Tante kan isteri ku juga” buah dadanya kucium, putingnya masih keras.
“Kamu engga usah tahu”
“Ayolah, Tante”
Tante diam lagi agak lama. Lalu….
“Sama Oommu Tante belum sampai …..” Kaget juga aku. Jadi, tak berhasil orgasme dengan suaminya lalu melanjutkan denganku.
“Ah masa, Tante”
“Itulah kenyataannya, To. Oom-mu engga bisa memuaskan Tante”
Mungkin inilah sebabnya, Tante tiap siang tak menolak aku setubuhi, bahkan menikmati.
“Pantesan……”
“Pantesan apa ?” tanya Tante
“Tadi Tante langsung masuk, engga pemanasan dulu”
“Tante tadi senewen, To. Ada rasa menggantung, ada yang harus dituntaskan”
“Untung saya tadi udah siap”
“Sorry ya To…”
“Engga apa-apa, Tante. Saya tadi juga puas. Cuma lebih nikmat kalau pemanasan dulu”
“Kamu harus mulai terbiasa begini, To. Seperti yang Tante bilang dulu, Tante butuh kamu. Jangan kaget kalau tiba-tiba Tante pengin. Tante harus mencapai orgasme. Kalau tidak Tante bisa gila..”
“Saya siap, Tante, Betul. Kapanpun Tante butuh saya, silakan saja Tante. Saya juga menikmatinya, Tante. Tanpa pemanasanpun saya engga apa-apa. Tadi saya bilang begitu, itu hanya akan lebih nikmat kalau dengan pemanasan. Kalau tidakpun engga apa-apa”
“Syukurlah, To. Pemanasan gimana yang kamu inginkan, To ?”
“Seperti inilah Tante” jawabku sambil menciumi dadanya.
“Itu kalau kita sempat. Kalau kaya tadi, gimana ?” tanyanya lagi.
“Kan saya siap, Tante”
“Iya sih. Maksud Tante supaya kamu lebih nikmat, kamu perlu pemanasan”
“Yang biasanya kita lakukan sudah dengan pemanasan ‘kan. Cuma tadi saja, yang tidak” jawabku sekenanya. Pertanyaan Tante sulit kujawab.
“Waktu kamu denger Tante sama Oom tadi, kamu gimana”
“Saya terangsang, Tante”
“Okey, Tante ada ide buat pemanasan kamu, To. Tapi ide gila, mungkin”
“Silakan, Tante. Saya senang sekali. Tante kreatif, saya menikmatinya”
‘Jangan kaget, ya. Kamu tahu kamar si Luki ?”
“Tahu Tante” kamar Luki bersebelahan dengan kamar Tante.
“Disitu kan ada pintu yang tembus ke kamar Tante”
“Saya engga perhatikan, Tante”
“Kalau kunci pintu itu Tante cabut, kamu bisa lihat ke kamar Tante dari lubangnya….kamu ngerti apa yang Tante maksud ?”
“Belum, Tante”
“Lubang kunci itu lurus ke tempat tidur..”
Amboi. Berarti, kalau aku mengintip lewat lubang itu, aku bisa lihat kejadian tempat tidur Tante. Hubungannya dengan pemanasan, berarti….hebat, ide yang hebat. Kucium bibir Tante dengan gemas.
“Ide brilian! Setuju banget tante!” kataku gembira.
“Ntar dulu, setuju apa ?”
“Aku akan mengintip Tante sama Oom, sebagai pemanasan”
“Kamu cerdas. Menurut kamu ini gila, engga”
“Engga! Saya mau Tante. Kita coba nanti malam ya.?”
“Semangat banget”
“Pengalaman baru” Aku sangat ingin melihat bagaimana Tante melayani Oom, bagaimana permainan Oom Ton!
Tante diam lagi. Hanya sekejap, lalu.
“To, Tante ingin main sama kamu di tempat terbuka…” kaget lagi aku. Tempat terbuka ? Aneh. Ini sih hebat banget. Aku ingat kemarin, Tante mengulumiku di ruang tengah. Nikmat.
“Ide Tante memang hebat-hebat. Saya suka Tante. Tapi aman engga ?
“Itu masalahnya”
“Kita cari kesempatan, Tante. Pasti nikmat deh”
Tante pelan-pelan bangkit, melepas.
“Eeeeeeeeeehhhhhhhhh” lenguhnya mengiringi pencabutan ini.
Di pintu kamarku Tante nengok kanan-kiri sebelum keluar. Aku ke kamar mandi.
Selesai dari kamar mandi aku lihat kamar Luki, kosong. Luki sedang dibawa pengasuhnya keluar. Pelan-pelan aku masuk, hati-hati pintunya kukunci. Ini dia pintu penghubung tadi. Aku mengintip. Tak melihat apa-apa, kuncinya masih menggantung. Aku kecewa. Kuncinya hanya bisa dicabut dari arah kamar Tante. Ia harus membantuku. Aku mencari Tante, lagi di kamarnya. Lebih baik aku makan dulu sambil menunggu Tante keluar.
Benar, Tante keluar, segar sekali nampaknya.
“Tante, cabut dulu kuncinya, saya mau coba” bisikku. Tante tersenyum, masuk lagi ke kamarnya.
Dari lubang kunci di kamar Luki aku bisa melihat dengan jelas dari arah kaki, Oom sedang tidur pulas, hanya bercelana tidur. Kubayangkan, dari arah bawah ini aku akan bisa lihat kelamin mereka berdua, baik posisi ‘biasa’, Tante di bawah, atau Tante di atas. Kecuali kalau mereka memutar posisi dengan kakinya ke arah bantal, aku hanya bisa melihat kepala mereka, paling-paling dada Tante.
***
Malam itu sekitar pukul 10, aku sudah berada dalam kamar Luki yang sudah pulas. Dari lubang kunci aku lihat mereka sedang membaca. Hanya sekali-sekali mereka bicara. Oom Ton mengenakan pakaian tidur lengkap, Tante memakai daster. Aku menyadari sebenarnya berbahaya aku disini. Bisa saja tiba-tiba Oom membuka pintu ini untuk melihat anaknya. Jadi setiap Oom bangkit, aku harus siap-siap. Kalau Tante sih, aku engga perlu bereaksi. Tegang juga aku.
Ah, ternyata Tante juga berpakaian ‘lengkap’. Sekarang aku bisa dengan jelas melihat celana dalam merah jambu itu, karena Tante mengangkat sebelah kakinya. Kecil kemungkinannya mereka akan main malam ini. Setengah jam aku capek menunggu, Oom mematikan lampu baca, lalu tidur. Kamar itu walaupun hanya diterangi lampu tidur, tapi cukup jelas aku bisa melihat tubuh mereka.
Dengan kecewa aku kembali ke kamar dan tidur….
Esok siangnya, ketika kami baru saja melaksanakan ‘tugas’ nikmat dan masih terlentang berdua tanpa busana, kutanyakan pada Tante tentang semalam aku tak jadi menyaksikan ‘pertunjukan’ Tante dan Oom main.
“Yaa.itulah To, Oom-mu memang jarang meminta, paling dua kali atau bahkan cuma sekali seminggu. Makanya Tante butuh ini” jawabnya sambil mencekal kelaminku.
“Kenapa engga Tante yang minta”
“Ah, Tante ‘kan melayani Oom-mu”
“Tak ada salahnya Tante yang mulai”
“Betul, memang. Tapi, sering Tante malah kecewa. Oom-mu kan hobinya kerja, jadi mungkin capek. Lebih baik Oom-mu yang mulai, itu artinya dia betul-betul butuh”
“Sayang, memiliki badan sebagus ini tak optimal dimanfaatkan” kataku sambil mengelus buah dadanya. Tak bosan-bosannya aku pada buah kembar yang indah ini.
“Sekarang sudah optimal”
“Ya. Dan sayalah yang beruntung”
“Tante juga beruntung punya kamu”
Kamipun berpelukan erat. Kalau sudah begini, aku bisa lupa semuanya. Lupa pada Yuli, Rika, atau mBak Mar.
Aku berguling, jadi menindihnya.
Pahaku mendesak di antara pahanya.
Penisku mencari-cari.
Dan….aku masuk lagi.
“Heeeeh!’ Tante teriak kaget.
Aku mendorong.
“Eeeeeeeehhhhhh” lenguhnya. Sekarang ia tak kaget lagi.
Aku menarik dan mendorong.
Aku menikmati.
Tante juga.
Aku tak ingat bahwa ia tanteku.
Tante lupa bahwa aku kemenakannya.
Bahkan lupa bahwa kami berdua manusia.
Begitu ‘gila’nya kami bermain, kami lebih mirip hewan.
Hewan yang sedang menikmati reproduksi.
Reproduksi bukan untuk mendapatkan keturunan, cuma untuk kenikmatan.
Dan..creet...creettt.......ken ikmatan kami dapatkan secara bersamaan.
Gila! Sesiang ini kami telah dua kali bersetubuh!
Memang edan.
“Edan kamu, To…” komentar sesudahnya.
“Supaya optimal, Tante..” komentarku juga.
Kurasakan bagian dalam vaginanya berdenyut-denyut meremas penisku. Permainan yang melelahkan. Aku jadi lemas, penisku jadi pegal. Pegal-pegal nikmat ….!
--TAMAT--
Thursday, March 4, 2010
Foto-foto Kecelakaan Mobil
sumber: http://juandry.blogspot.com/2010/03/orang-orang-ini-benar-benar-mempunyai.html
20 Apartemen Paling Aneh Dan Gila Di Dunia
1. Expo 67 – Montreal Quebec, Canada2. Nakagin Capsule Tower – Tokyo, Japan3. Container City 1 – London, UK4. Turning Torso Building – Malmö, Sweden5. Wozoco’s Apartment – Amsterdam, Netherlands6. Elephant Building – Bangkok, Thailand8. Urban Cactus High Rise – Amsterdam, Netherlands9. MVRDV Stackable High Rise – Rødovre, Copenhagen10. Suite Vollard – Curitiba, Paraná, Brazil11. Marina City –
Orang yang Tidak Mengenal Rasa Sakit
sumber: http://nonude-butcute.blogspot.com/2010/03/havve-fjell-man-who-is-not-afraid-of.html
Wednesday, March 3, 2010
Kawan Suamiku, Rekan Selingkuhku
Aku bernama Erni umur 34 tahun,mempunyai pengalaman berselingkuh dengan teman suamiku bernama Vin umurnya 34 tahun. Tinggiku 157 cm dan berat 55 kg, dadaku 34 B, sedangkan Vin tinginya 183 cm dengan berat badan (mungkin) 80-an kg. Pria ini teman dekat suamiku. Karena ulah suamiku aku menyukai pria asal Itali ini. Aku, pernah ngesek bersama dengan suamiku sekaligus melibatkan Vin.
Peristiwa itu mengawali diriku menyukai Vin, dan ketagihan untuk ngesek lagi dengan teman suamiku itu . Aku bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Sedangkan Vin teman sekantor suamiku. Aku dan suamiku sudah menjalani pernikahan selama 9 tahun dan memperoleh seorang anak. Kehidupan perkawinanku baik2 saja, meski aku berselingkuh dengan Vin.Karena "hubungan" kami hanya terbatas kebutuhan seks saja. Pada suatu siang, Vin meneleponku. Bahwa nanti malam dia mengajak bertemu, dan aku bersedia.Kebetulan suamiku tugas ke luar kota, dan beberapa hari ini muncul keinginan ngesek dengan dia." Oke aku tunggu di rumah atau ketemu di luar saja," jawabku. Vin mengusulkan aku ke apartemennya saja. Agar tidak ada orang yang tahu." Ok deh nanti jam 7 an aku ke sana " jawabku.
Sore itu aku bergegas pulang. Sampai di rumah aku sampaikan kepada pembantu dan anakku, bahwa nanti malam aku ada acara kantor. Dan kemungkinan pulangnya agak larut. Alasan serupa juga kusampaikan kepada suamiku via SMS. Dia tidak keberatan, karena aku beralasan .akan dijemput dan diantar oleh sopir kantorku. Setelah semua kebutuhan dan keperluan di rumahku beres, Aku segera mandi. Kupilih baju tipis dan rok yang juga terbuat dari kain halus.CD yang kukenakan model G string dan BH berbahan transparan juga berwarna hitam.Aku utahu pertemuan bertujuan ML (making love) .
Aku tidak memesan taksi dari rumah, agar pembantuku tidak tahu kalau aku naik taksi.Setelah berjalan kaki beberapa meter dari rumah, aku mencegat taksi.Vin tinggal di sebuah apartemen di Kebayoran Baru. Ternyata dia sudah menungguku di depan lobby. Kami beriringan masuk lift ke lantai 11."Er saya mandi dulu ya," kata Vin . Dia baru pulang dari kantor, dan belum sempat mandi. Sementara menunggu Vin, aku duduk santai di ruang tamu. Sam,bil menonton TV. Selang beberapa menit kemudian, Vin dengan mengenakan kimono biru, duduk disampingku. Tanpa terasa selama ngobrol dan minum, dia menghabiskan 2 kaleng bir.
Mataku sempat meselintas melihat penis dan kantung pelirnya dari celah kimononya.. Ternyata dia tidak mengenakan celana dalam. Tanganku segera mengelus elus pahanya. Vin sejenak melirikku dan memelukku serta menciumiku.Kubalas dengan tidak kalah mesra. Vin yang semula mengelus elus dan meremas remas tanganku, beralih meraba raba pahaku dan lututku. Tahap demi tahap dadaku yang terbuka, sampai di atas tonjolan payudaraku dia diciumi dan dijilati. Rasanya enak dan lembut. Tangannya mengelus elus bagian payudaraku yang tertutup BH dan blus tipis.Gerakan bibir dan lidahnya yang mengecup dan mengelitik putingku yang sudah menonjol dari balik BH tipis itu. Rasanya nikmat dan merangsangku. Nafsu ku mulai meninggi dan tanganku segera menyelinap ke balik kimononya,mengelus dan merba raba paha dan penisnya yang masih "tidur".Vin tampaknya mulai terangsang, hal itu kuketahui dari penisnya yang begerak menegang. Diamenggelinjang keenakan." Er..... enak sekali," bisiknya..Satu persatu kancing blusku dia lepas, . sehingga BH hitamku mencuat keluar. Payudaraku yang tertutup BH dia raba raba.Kedua punting terasa membesar dan mengeras. Dari balik BH ku yang tipis itu kelihatan tonjolan puntingku. Vin semakin gemas, dia menjilatinya dan menciuminya. Aku semakin kegelian.Belum lagi hilang kenikmatan yang kuperoleh, terasa tanganya merambat ke bawah. Perutku dielus elus dan pada gilirannya rambut bawahku juga merasakan hal serupa. Dalam keadaan yang semakin terangsang, kukulum bibirnya dan kupermainkan lidahnya.
Vin kelihatannya semakin benafsu. Setelah dia melepas kuluman di bibirku, bibirnya dan lidahnya beralih menjilati leherku dengan lembut. Sementara kedua tangannya bekerja untuk menanggalkan blusku. Blusku dicampakan. Kini bagian atas tubuhku sudah terbuka bebas. . Mulut pria yang dengan" rakus" melumat leherku beralih melumat bagian depan dadaku. Aaaahhh...aaaahh. Aku merintih keenakan dan kegelian. Penis Vin yang kuelus elus terasa semakin menegang. Penis itu begitu panjang dan keras sekali. Nikmat sekali menggegam dan mengelus penis yang kini sudah tegang. Pelan-pelan kukocok kocok, sampai Vin merintih dan melenguh keenakan.Tanganku menarik penis keluar dari sela sela kimono. Melihat penis dengan kepala yang cukup besar itu nafsuku semakin berkobar. Segera kucium dan kujilati. Vin menggegejang. Dan dia cengan cekatan melepas kaitan BH ku, dan melepaskannya dari tubuhku. Dua gunung kembar yang terbuka itu, kugeser geser ke kepala penisnya. Vin semakin mengejang dan merintih.
Dia menarik tubuhku ke atas, kepalanya menunduk dan bibirnya mengecup ngecup dadaku. Buah dadaku dikulum, dan putingnya disedot sedot dengan lembut. Eeehhhh.... eeehhhh. Aku menggelinjang dan kerengguk kepala Vin kelengketkan ke dadaku. Kegelian dan kenikmatan semakin menjadi jadi. Aaaaaahhhh .... aaaach..." Enaaaaak ..Vinnnn" aku merintih rintih, tanganya mengelus dan mengelitikan rambut dan vaginaku yang masih tertutup CD tipis Vaginaku mulai basah. Vi yang tangan yang kekar dan berbulu ini memang pintar membuat diriku cengan cepat terangsang.. Tanpa kusadari kedua kakiku terentang lebar. Melihat posisiku seperti itu, dia semakin bernafsu. Pangkal pahaku dielus elus, sekali kali jari jarinya mengesek gesek bibir vaginaku yang semakin basah. Kiltorisku yang sudah mengeras, dielus elusnya juga. Enak banget. Vin bangkit dan segera menarik rsleting serta melepas rokku.
Diriku kini hanya terbalut CD. Rambut vaginaku terbayang jelas dibalik CD. Vin kemudian berjongkok dibawahku dan lidahnya menjilati vaginaku. Lidahnya bergeser geser di bagian lubang vagina dan klitorisku. Cara pria ini mengoral membuat diriku semakin terangsang. Lenguhan dan rintihan disertai gelinjangan liar menunjukan bagaimana dirku tak terkontrol lagi. Lidah Vin menjelajah di sela sela CD ku yang bagian tepinya ditarik dan digserkan ke sampaing. Vaginaku terbuka lebar, karena kedua pahaku kurentangkan. Lidanya semakin menyusup ke dalam lubangku. Terasa geli sekali. Cairanku mengalir deras. Bibir vaginaku dikecup sangat lembut sekali. Sementara kedua tangannya mengelus elus kedua pahaku. Mataku yang terpejam semakin terasa gelap. Aliran rangsangan sudah sampai ke ujung kepalaku. Kepala Vin kucengkeram, setiap kali kegelian yang begitu tinggi menjalar ke sleuruh tubuhku. " Aaaah.. Vin nikmat sekali aaaah, aku nggak kuat Vin..enaaaaak," rintihku sambil meremas rambut kepalanya. Masih dalam posisi dia mengulum vaginaku, Vin melepas komononya. Kini Vin sudah bertelanjang bulat. Aku yang dari tadi duduk dalam posisi melorot, bangun dan duduk di tepi sofa. Kuraih penis yang digegamanku ukurannya itu, dan segera kukulum. Cairan yang membasahi penis itu agak asin. Kepala penis yang mirip helm tentara ini kujilati dengan penuh nafsu. Tanganku mengelus elus kantung bijinya yang menggelantung dibawah penis yang masuk di mulutku. Vin melenguh keenakan dan tubuhnya sempat begetar. " Er... nikmat ...aaaah," bisik Vin, dan permainan pada penisnya kutingkat lebih seru lagi. Vin sempat kelojotan juga, kedua kakinya direntangkan lebih lebar. Posisi ini membuat ku semakin leluasa mengoralnya.
Tampaknya Vin sudah tidak tahan lagi merasakan penisnya kujiltai dan kusedot sedot. Dia menarik tubuhku dan mendekapnya.Kami berpelukan dengan posisi berdiri. Tubuh jangkung itu menduduk dan bibirku yang masih basah oleh cairan penisnya langsung dikulum. Terasa penisnya membentur tubuhku dan dia geser geser. Penis ukuran " large" menyusup ke selangkanganku dan bergerak gerak bergser geser di vaginaku yang masih tertutup CD. Meski dilapisi kain CD, gerakan penis itu terasa menggelikan dan enak sekali. Tiba-tiba Vin membalik badanku sehingga posisinya dia memeluku dari belakang. Leher dan tengkuk dia ciumi dan jilati. Sementara kedua tanganya meremas remas dan mengelus kedua buah dadaku. Aku merintih, menggelijang. Vin sangat tahu kalau aku paling tidak tahan bila bagian belakangku diciumi atau dijilati. Pinggul dan bokongku meliuk liuk.u merintih keenakkan. Pria yang merangsangku ini memang sangat faham dimana titik titik sensitifku. Termasuk area tubuhku bagian belakang.Kalau diciumi atau dijilati di bagian ini, aku merasakan suatu kegelian yang sangat tinggi. Mataku terpejam, untuk menikmati rangsangan demi rangsangan yang terjadi pada diriku. Tak lama kemudian, Vin berjongkok di bagian bokongku merasakan suatu sensasi lain.Lidah dan bibir Vin terasa ekank sekali saat menjelajah di sekitar itu. Belahan bokokngku berkali kali di jilatinya Geli sekali. Tubuhku bergetar menahan kenikmatan. Kain mirip tali di G Stringku ditarik pelan pelan."Apa yang akan dia lakukan lagi", kataku dalam batin. Ternyata lidahnya menjilati sekitar lubang belakangku.bergnatian dengan menyentuhkan ujung lidahnya ke bibir vaginaku. Sementara kedua tangannya mengelus elus bulu vaginaku. Kenikmatan yang kuperoleh aku ekspoltasikan dengan mengelus elus elus tangannya, serta menekan agar masuk lebih ke bawah lagi. Dia semakin terbawa oleh permainanku juga. Ketika aku melebarkan posisi kedua kakiku. Melalui sela sela CD ku. Lidah Vin menyusup lebih dalam dan menjilati vaginaku dengan lembut. Tubuhku mengejang ngejang, keenakan. Aaaaahh.... eeeeeh...eeeeehhh...eeehhh.
Perasaan dan otakku semakin tak terkendali. Teramasuk saat Vin memintaku menungging juga kuturuti. Kedua tanganku berpegangan di sofa. Dia menempatkan posisinya di bawahku. Payudaraku yang menggelantung di raih dan dikulum serta putingnya begrantian dijilati. Lidahnya menjilati dari payudara, perut terus turun sampai mendekati gundukan rambut vaginaku. Dia berkali kali menjilati dan jari jarinya mengelus elus vaginaku. Gila, enak sekali, sensasi dari permainan ini. Tubuhku sempat beberapa kali bergoyang dan bergetar. Saat lidah dan bibirnya mengecup bagian yang sangat senesitif bagiku.Pelan pelan Vin menarik CD ku dan dia memlorotkan dan mencampakan di lantai di tumpukkan kimononya. Masih dalam keadaan berrlanjang bulat, Vin minta agar diriku tetap menungging. Kedua kakiku direntang lagi. Vin berjongkok di belakangku dan dia mengoral seluruh bokongku. Aku sempat beteriak dan melenguh ketika lidahnya menjilati lubang duburku. Enak dan geli sekali. Bokongku bergoyang goyang menikmati rangsangan yang belum pernah aku peroleh dari suamiku." Vin ...... enaaaak... geliii sekaliiii," lenguhku sambil memutar mutar pinggulku. Rasa kegelian semakin memuncak saat lidahnya berulang ulang menyapu dan menjilati kulit di antara lubang vagina dan lubang dubur. Bibir vaginaku yang sudah basah kuyup, terasa dikuak oleh tangan Vin dan lidahnya menjilati lebih ke dalam lagi. Vaginaku merasakan suatu isapan yang lembut. Ternyata Vin memang menyedotnya. Wuaaah.... enak dan nikmat banget. Ujung lidah yang menggelitik dinding vaginaku, kurasakan semakin nikmat saat dia menyedot vaginaku.. Cairan yang tersimpan di dalam terasa mengalir keluar, dan dia menghirupnya. Mungkin dia menelannya. Aku sudah tidak peduli lagi. Apa pun yang dia lakukan, aku pasrah. Terpenting aku merasakan suatu kenikmatan dan kepuasan yang panjang. Pria teman suamiku ini memang hebat dalam teknik mengoral. Hal ini kurasakan. Beberapa kali aku harus menyerah kalah ( sudah orgasme), padahal masih pada tahap fore play. Kehaliannya dia mengoral itu menjadikan aku sering orgasme duluan.Setiap kali ML dengan dia, sedikitnya mengalami dua kali orgasme. Permainan oral seks dia, diselingi dengan bergantian mengulum kedua payudaraku, Gundukan dimana rambut bawahku tumbuh berkali kali kalu dikecup dan dijilatinya. Pangkal selangkangku jug a memperoleh giliran disapu sapu oleh lidah dan bibirnya. Permainan Vin ini membuat diriku semakin nikmat. Dibandingkan suamiku saat mengoral diriku, Vin jauh lebih pintar, dan sabar serta lembut.Aku yakin siapaun wanita yang merasakan permaina Vin tersebut akan mengalami seperti diriku.
Rintih rintih dan kegelinjangan menunjukan kalau aku semakin terangsang.Terutama saat Vin kembali mengulum bibir vaginaku, lidahnya menjilat pelan di ujung klitorisku. Vaginaku semakin kencang. Tiba tiba kegelian semakin menyelimuti diriku ketika vaginaku terasa disedot dan payudaraku di remas lembut sekali, dan lubang duburku di elus elus oleh jari Vin. Aaaaaaaahhh... aaaahh. Tubuhku bergoyang hebat, mataku gelap. Rasa geli pada idirku meningkat lebih cepat.. "Aaaaaaahhh... Vinnnn... saya orgasmee ... aaaaahhhhh," teriakku dan tubuhku mengejang lebih keras. Vin bukannya mengedurkan permainan malahan mulutnya semakin "melumat" vaginaku. Orgasme yang terjadi pada diriku semakin panjang. Vaginaku berkedut kedut.
Vin kuduga juga merasakan gerakan pada vaginaku itu. Dia berbisiki, " Er ... saya masuki yaaa," dan kujawab " Iya Vin... masukin aku dari tadi sudah kepingin punyamu ke dalam,". Vin berdiri, penisnya di arahakan ke vaginaku dan terasa sangat lembut mengeser geser di sana. Tak lama kemudian terasa vaginaku tersumpal benda keras dan besar. " Eeeeeehhhhh..." aku merintih pelan dan Vin yang kedua tanganya memegang pinggulku segera mendorong penisnya. Aaaahh... enak sekali. Batang penis pajang dan besar itu tahap demi tahap menyusup lebih dalam . Ketika dia mendorong lebih dalam terasa sepertinya menyentuh dinding rahimku. Nikmaaat sekali. Kegelian semakin menjadi jadi ketika penis itu berputar putar pelan dalam di dalam. Dinding vaginaku yang mencengkeram penis itu merasakan adanya batang penis berulir ulir bergerak keluar masuk. Guratan dan uliran urat yang melingkar lingkar pada penis Vin memang menjadikan penis ekstra besar itu menjadi semakin lebih istimewa. Apalagi pemiliknya tergolong "pria kuat dan tahan lama
Dengan posisi dogystyle, Vin "menghajarku" dengan kelembutan yang dia miliki. Setiap kali dia menghujamkan penisnya ke dalam kuimbangi dengan memutar mutar pinggulku. Bila dia memutar penisnya bokongku kudorong ke belakang, sehingga putaran tidak hanya terasa di dalam tapi juga dirasakan oleh bibir vaginaku. Kenikmatan lain yang dia berikan, saat dia " menghajarkan" seperti itu, berkali kali bibirnya menjilati punggung dan leherku. Sedangkan kedua tangannya terus mengelus elus payudaraku yang makin mengencang dan menggelantung . Sepertinya Vin memang ingin memberikan kenikmatan secara utuh., Agar diriku memperoleh kepuasan prima. Kegelian dan kenikmatan semakin menjadikan diriku melambung ke langit. Lenguhan dan desahan dari Vin berulang kali menunjukan dia juga menikmati permainanku yang cenderung lebih pasif dibandingkan permainan dia. Tanpa terasa mungkin sudah lebih dari 10 menit dia bermain dengan gaya doggystyle itu. Meski aku merasakan kenikmatan yang begitu tinggi. Kekuatan tubuhku tak mampu mendukungnya. Lama kelamaaan kakaiku sudah tidak tahan lagi menyangga tubuhku. Kakiku agak gemetaran. Vin tampaknya tahu akan kondisiku. " Kamu capek ya ... tapi saya lagi enak nih," bisiknya dan aku hanya menjawab pendek, " Iyaaa... kita berubah posisi yuk," kataku.
Vin pelan pelan mencabut penisnya dan minta aku berdiri. Kemudian dia duduk di pinggir sofa. Kulihat penis yang mencuat keras itu mendonggak ke atas. Dari posisinya aku mengetahui agar aku duduk dipangkuannya. Tanganku melingkar di lehernya dan kuposisikan lubang vaginaku tepat di penis Vin. Kuturunkan badanku pelan pelan, sementara tangan Vin yang menggegam penis, juga mengarahkannya tepat ke lubang vaginaku. Bleeeessss..... penis itu masuk ke dalam. Vin segera menggerakkan pinggulnya.Meski penis itu terasa sesak dan padat, tapi vaginaku merasa kegelian. Pinggulku kuputar putar, dan kuselingi dengan gerakkan naik turun.Bibir kami saling berpagutan, tanganku melingkar di leher Vin. Kedua tangan Vin memeluk pinggulku. Tubuh kami saling lengket, sehingga kedua payudaraku sering kali kegelian tergesek oleh bulu2 dada. Kami saling bergantian mengeksplorasi leher. Kecupan dan jilatan membuat Vin, beberapa kali merintih. Setiap kali dia tidak tahan kegelian pada lehernya, Bibirnya langsung menyambar biibirku dan mengulumnya. Lidahnya maupun lidahku saling " bermain" di dalam mulut. Permainan semakin seru. Tubuhku yang dipelukan dan pangkuannya, bergerak semakin liar. Dengusan nafas dan nafsu kami berdua semakin mengebu ngebu. Kedua tangan Vin mengangkat pinggulku dan kemudian menurunkannya secara pelan pelan. Vaginaku terasa seperti dimasuki benda kenyal, keras panjang dan besar yang kurasakan begitu enak. Apalagi saat tubuhku terdiam penis itu begerak gerak di dalam vaginaku. Gerakan dan sentakan itu membuatku mengalami suatu kenikmatan yang sulit aku ceritakan.
Entah bagaimana, perasan kenikmatan yang kualami kali ini semakin menghebat. Aku berkali kali menggelinjang dan mengenjang. Begitu pula Vin, kulihat semakin bernafsu memuaskan diriku. Sentuhan sentuhan dan gesekan penisnya terasa enak sekali, sehingga vaginaku mencengkeramnya. " Er... enak nggak.," bisik Vin dan aku berterus terang, " Enak sekali Vin... aaaacchhhh... aaachhhh, Bikin aku puas lagi yaaaaa". Mendengar jawabanku itu Vin segera memutar pelan penisnya dan sepertinya seluruh dinding vaginaku tergesek gesek dan diaduk aduk lembut olehnya. Aku semakin merintih rintih. Vin mendorong tubuhku dan dia membukukan kepalanya. Aaaaahhh...aaaaaah.. mulunya mengulum buah dadaku dan putingnya dia isap isap. " Yaaaa.Vin.... enaaaaaaaaaak," aku berteraik histeris sambil menghentakan hentakan kepalaku. Nafsuku semakin teak terkendali dan liar. Rintihan dan lenguhanku bertubi tubi mengikuti alur permainan Vin. Vaginaku semakin mengencang dan aku merasakan sebentar lagi akan orgasme lagi." Vin kam,u hebat ... kamu jantan .. Vin... bentar lagi aaaaahh," teriakku keenakan. Bibirnya yang melumat payudaraku beralih melumat bibirku. Dan, aku sudah tidak tahan lagi." Vin ayuk saama Vin... ayuk dong sayang....aku mau puncaaak nih " kataku setengah berteriak dan dia membalasnya," Iyaaaa... ayuk sama sama... ". Tubuhku dan tubuh dia bergerak cepat. Aku naik turun dan dia mengimbangi dengan mendorong ke atas, sehingga penisnya semakin ke dalam. " Aaaaaaaaaaah..........aaaaaaaaaaaaaaah sayaa klimakass," teriakku dan aku mencapai titik klimaaks yang sangat tinggi. Tubuhku mengejang dan bergetar keras. Tak lama kemudian nafas Vin semakin cepat dan dia juga menrintih keras, " Eeeehhh....eeehhhhh.... saya keluar Errrr," tubuhku ditekan kebawah dan dipeluknya dengan ketat. Terasa sperma yang hangat menyemprot dan membasahi vaginaku. Aku roboh di pelukkannya., Pria ini memeluku ku dan mencium bibirku. Mesra sekali. Aku merasakan suatu bahagia dan kepuasan yang begitu tingg, seperti terbang ke surga.Aku menilai Vin memang jantan, pria sejati. Dia telah memberikan kepuasan yang sangat istimewa kepadaku.
Dalam keadaan saling berpelukkan. Vin menggeser tubuhnya dan tubuhku sehingga posisi kami tiduran di sofa panjang yang muat untuk tiga orang. Kucium ketiaknya dan bulu dadanya. " Terima kasih sayang...kamu memberikan kepuasan seperti kualami sekarang ini," bisiku. Vin tersenyum dan menciumi rambut kepalaku. Setelah pulih , usaia melewati "pertempuran" yang begitu seru dan nikmat. Aku mencoba bangkit dan menarik vaginaku. Ternyata penis Vin masih menegang, sehingga masih memadati lubang vaginaku. Sehingga agak sulit keluarnya. Vin yang sudah membuka matanya sempat tersenyum. " Biarin di dalam dulu ya... sampai dia lemas sendiri," katanya sambil meraih payudaraku dan mengelusnya lembut. Beberapa menit kemudian setelah terasa vaginaku agak melonggar, pelan pelan aku bangkit dan melepas penisnya. " Saya mau ke kamar mandi dulu," kataku sambil berdiri. Tapi saat melihat tubuh Vin yang terkapar dan jantan itu. Muncul keinginanku. Penis yang berlumur sperma bercampuran cairan vaginak, kucium dan kulum sebentar. Vin sempat menggeliat." Err geli sekali..." katanya. Aku segera bangki menuju ke kamar mandi. Saat aku membersihkan diri. Vin menyusulku. Dia minta aku duduk di bibir bathup. Dan dia membantu membersihkan vagianku dengan penuh perhatian. Setelah vaginaku bersih. Gantian aku yang mencuci penisnya. Selama aku menyambuni dan mengosok penis yang bergelantung, aku sempat membatin. " Burung ini memang besar dan panjang .. pantas saja aku keenakan setiap kali dia masuk ke punyaku,".Setelah mandi aku dan Vin beristirahat di tempat tidurnya. Kami berdua tetap tanpa sehela benangpun. Saat aku menghitung waktu. Baru kusadari tadi kami ngesek lebih dari 35 menit. Beberapa menit berlalu aku terlelap dipelukan Vin.
Setelah terbangun jam menunjukan pukul 21.00. Vin menyiapkan makanan dan kami makan bersama. Romantisnya lagi, selama makan dan berbincang kami tetap telanjang bulat. Tubuhku terasa sudah kembali pulih. Ditambah dengan minum sesloki red wine lagi.
Setelah berkumur dan membersihkan mulutku, Vin mengajaku kembali ke tempat tidur. Dia memelukku dan mencium ku kembali. Kurasakan jilatan pada leherku. Nafasnya begitu hangat dan harum. Aku diam saja, menikmati jilatan dan ciumannya. Tapi hal itu tak berlangsung lama. Kubalas dengan mengulumnya bibir dan memainkan lidahku di dalam mulutnya. Sedangkan tanganku meraba raba dadanya. Vin bereaksi dengan mengelu elus payudaraku. Putingku yang mulai mengeras dan mencuat diusap usah oleh jari jarinya. Terasa lembut dan enak. Lidaku gantian menjilati lehernya. Dia merintih kegelian. Penisnya kuelus elus, dan mulai mulai menegang kembali Tampaknya Vin mulai terangsang. Vin menurunkan kepalanya, dan mengulum puting buah dadaku. Nikmat sekali. Kulumannya dan ciumannya menjadi aku semakin terangsang.. Bibir dan lidahnya menciumi seluruh bagian depan tubuhku. Jari jarinya yang bermain di vaginaku pelan pelan dengan lembut menyusup masuk ke dalam vaginaku. Jari tengah yang ukurannya cukup besar bermain di dalam. Terasa geli dan enak. Jari itu keluar masuk dan berputar putar di dalam. Aku merintih keenakan. Pahaku kukangkangkan lebih lebar lagi. Di bangkit dan kepalanya ke bawah .Dia menjilati rambut vaginaku, dan klitorisku. Dirku semakin kegelian. Rintihan dan desahan mengalir dengan cepat. " Vin terus Vin.. terussss," kataku merengek rengek minta agar dia mengoralku lebih enak lagi. Lidahnya berulang ulang menjilati seluruh bibir dan lubang vaginaku. klitorisku di kecup2nya. Aaaaaah.. aku kegelian. Lubang vaginaku terasa dijuluri oleh lidahnya dan di dalam bergerak gerak menjelajahi seluruh dinding depan liang kenikmatanku itu. Kedua tangan Vin secara bersama juga mengelus dan meremas lembut kedua payudaraku. Aku menggelinjang semakin hebat. Kuangkat dan ketekuk kedua pahaku, agar Vin lebih mudah menikmati vaginaku. Aaaaahhhh.....aaaaahhhh...aaaahahhh .Aku melolong keeenakan saat vaginaku terasa disedot dengan lembut oleh Vin. Tubuhku bergetar getar tidak karuan. " Vin ...Vin aku enak... gantian Vin ...," rintihku sambilberusaha duduk dan menarik tubuh dia. " Kamu terlentang ya.." kataku. Dia sangat mahfum dengan kemauanku itu. Tubuh yang perkasa itu terlentang. Kulihat penisnya sudah mencuat ke atas. kuraih penis itu kuelus elus sebentar. Kemudian aku mengulumnya. Kini kubalas permainan dia. Penis yang begitu dan menggiurkan itu kuisap isap, dan kujilati dengan [penuh nafsu.. Vin merintih rintih.Lenguhan berganti rintihan semakin cepat ketika.Kantung bijinya kujilati dan kukecup kecup.. " Er... aku geli sekali... kamu gituin." rintih Vin.Penisnya semakin tegang dan panjang.Kepala penis yang besar seperti helm, dan kini beriar kujilati dengan ujung lidahku. Vin mengejang ngejang.Tangan Vin berusaha menggapai tubuhku. Kemudian posisiku beralih tubuhku di sampingnya. Sehingga tanganya bisa menjangkau payudara dan vaginaku. Saat aku mengoralnya, Vin meransgang payudara bergantian dengan vaginaku. Kini aku ikut menggelinjang. Pinggulku bergoyang goyang. Dia menarik pinggulku. Menempatkan posisi vawahku persisi di mulutnya. Kami bergaya 69. Vaginaku dijilati dan disedot sedot. Sementara tangan kanannya mengelus elus kedua buah dadaku bergantian. Hisapan dan hilatan terus kulakauakn pada penisnya. Lidahku juga menjilati bagian bawah kantung pelirnya. Di sini Vin, kembali mengejang. " Terus ke bawah lagi jilati semua... aaaahh....aaaahhh...aaah," rintih Vin. Vin dan akupun sudah semakin tidak tahan. Ingin segera mentutaskan permainan ini. " Err masuk yaaa.. kamu di atas," pintanya. Beberapa menit aku masih mengoralnya.Aku bangun dan berjongkok di atas penisnya. Kugegam penis itu dan kubimbing masuk ke dalam vaginaku. Enak sekali, penis yang panjang itu terasa masuk sangat dalam.sekali. Pinggulku bergoyang dan berputar. Menstimulasi penis Vin yang tercengkeram di dalam. Setiap aku menggerakan pionggulku, Vin melakukan hentakan dan gerakan memutar yang berlawanan. Nikmat sekali. Tapi aku ingin bisa lebih menikmati lagi. " Vin... kamu diam ya .. biar kamu menikmati saja dan aku yang kerja," kataku dan dia mengangguk sambil tersenyum. Kedua tangannya terus mengelus kedua payudaraku dan bergantian dengan mengelus pinggulku. Bokongku naik turun dan pinggulku berputar putar, Penis di dalam diremas remas oleh dinding dan otot vaginaku. Vin memejamkan matanya, menikmati permainanku. Meski tubuhnya diam, terasa penis yang sedang merasakan kedutan kedutan vaginhaku juga memebrikan perlawanan. Penis itu sepertinya tersentak sentak dan bergerak memutar. Aku geli sekali dan nikmat. Aku merintih dan mendesah desah lebih liar lagi. Vaginaku terasa geli sekali. " Sayaaaaa.... enak Vin.. aaaahhh aaaahahh aaaahhh," rintihku sambil memacu gerakan pinggulku lebih liar. Vin mendekap pingganku dan mengikuti gerakan tubuhku yang meliuk liuk. Bokokngku ku tekan lebih dalam lagi. Gesekan bulu yang mengelilingi penis Vin, membuat vagina dan selangkanganku semakin kegelian. Suara di kamar berukuran 3 kali 4 meter itu semakin ramai oleh dengusah nfaas dan rintihan kedua manusia yang sedang berpacu kenikmatan.
Tubuhku semakin mengejang dan rintihanku sudah tidak beraturan lagi. Terasa aliran kenikmatan dan kegelian menjalar ke seluruh tubuhku. Mulai dari ujung kaki sampai ke ubun ubun. " Vin saya enaaak.... ayuk... ayuk kita bareng...eeeehh..eeehhh," kataku saat merasakan kegelian yang begitu hebat dan sebentar lagi pasti segera orgasme. G Spotku berkali kali tersentuh oleh penis Vin. beberapa menit kemudian tubuhku mengejang dan aku berteriak keras," Aaaaaaahhh.........aku klimaksss Vin....". Vaginaku berkedut kedut lebih cepat. Vin merasakannya, " Enaaak .. punyamu ... aaaahh" rintihnya sembari dan tangan Vin dari tadi mengelus dan meraba payudaraku beralih memegangi pinggangku. Beberapa menit kemudian dia melenguh panjang," Aaaaauuuuuhhh...aaauhhh,". Penis yang begitu besar dan memadati vaginaku, terehentak hentak dan menyemburkan sperma. Dengan vaginaku masih mencekeram penisnya, aku duduk terdiam. Kedutan di dalam vaginaku masih berlangsung ssementara penis Vin pun belum terlihat tanda lunglai. Kupandangi Vin, dia tampak puas. Begitu pula aku juga mengalami kepuasan lagi.
Selewat beberapa menit kemudian, terasa penis Vin mengecil, dan pelan pelan kutarik keluar. Tubuhku roboh ke samping Vin. Kupeluk tubuh pria yang sering memmuaskan dahaga seksku itu. Kami berciuman dan berulang ulang menyampaikan perasaan masing masing. Vin dan aku sama sama puas dan merasakan kenikmatan.
Setelah membersihkan diri aku bersiap siap pulang. Vin masih sempat menciumku bibir dan vaginaku. Akupun sebelum keluar kamar mengulum penisnya yang terkulai lemas di balik celananya. Vin mengantarku pulang dengan mobilnya. Di tengan perjalanan kami berjanji bila ada kesempatan dan membutuhkan akan ML lagi. Malam itu aku sungguh bahagia karena memperoleh kepuasan dan kenikmatan. Desakan dan luapan libido kini terbayar sudah. Sampai menjelang tidur pun bayangan, serunya permainan ngesek tadi terus muncul di kepalaku. Kubayangkan begitu aku begitu nikmat ketika penis Vin menjelajahi dan menghujam di dalam vaginaku. Dan setiap kali aku membayangkan penis yang panjangnya lebih dari 17 cm, mungkin juga antara 18- 20 cm itu vaginaku mengencang.
Peristiwa itu mengawali diriku menyukai Vin, dan ketagihan untuk ngesek lagi dengan teman suamiku itu . Aku bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Sedangkan Vin teman sekantor suamiku. Aku dan suamiku sudah menjalani pernikahan selama 9 tahun dan memperoleh seorang anak. Kehidupan perkawinanku baik2 saja, meski aku berselingkuh dengan Vin.Karena "hubungan" kami hanya terbatas kebutuhan seks saja. Pada suatu siang, Vin meneleponku. Bahwa nanti malam dia mengajak bertemu, dan aku bersedia.Kebetulan suamiku tugas ke luar kota, dan beberapa hari ini muncul keinginan ngesek dengan dia." Oke aku tunggu di rumah atau ketemu di luar saja," jawabku. Vin mengusulkan aku ke apartemennya saja. Agar tidak ada orang yang tahu." Ok deh nanti jam 7 an aku ke sana " jawabku.
Sore itu aku bergegas pulang. Sampai di rumah aku sampaikan kepada pembantu dan anakku, bahwa nanti malam aku ada acara kantor. Dan kemungkinan pulangnya agak larut. Alasan serupa juga kusampaikan kepada suamiku via SMS. Dia tidak keberatan, karena aku beralasan .akan dijemput dan diantar oleh sopir kantorku. Setelah semua kebutuhan dan keperluan di rumahku beres, Aku segera mandi. Kupilih baju tipis dan rok yang juga terbuat dari kain halus.CD yang kukenakan model G string dan BH berbahan transparan juga berwarna hitam.Aku utahu pertemuan bertujuan ML (making love) .
Aku tidak memesan taksi dari rumah, agar pembantuku tidak tahu kalau aku naik taksi.Setelah berjalan kaki beberapa meter dari rumah, aku mencegat taksi.Vin tinggal di sebuah apartemen di Kebayoran Baru. Ternyata dia sudah menungguku di depan lobby. Kami beriringan masuk lift ke lantai 11."Er saya mandi dulu ya," kata Vin . Dia baru pulang dari kantor, dan belum sempat mandi. Sementara menunggu Vin, aku duduk santai di ruang tamu. Sam,bil menonton TV. Selang beberapa menit kemudian, Vin dengan mengenakan kimono biru, duduk disampingku. Tanpa terasa selama ngobrol dan minum, dia menghabiskan 2 kaleng bir.
Mataku sempat meselintas melihat penis dan kantung pelirnya dari celah kimononya.. Ternyata dia tidak mengenakan celana dalam. Tanganku segera mengelus elus pahanya. Vin sejenak melirikku dan memelukku serta menciumiku.Kubalas dengan tidak kalah mesra. Vin yang semula mengelus elus dan meremas remas tanganku, beralih meraba raba pahaku dan lututku. Tahap demi tahap dadaku yang terbuka, sampai di atas tonjolan payudaraku dia diciumi dan dijilati. Rasanya enak dan lembut. Tangannya mengelus elus bagian payudaraku yang tertutup BH dan blus tipis.Gerakan bibir dan lidahnya yang mengecup dan mengelitik putingku yang sudah menonjol dari balik BH tipis itu. Rasanya nikmat dan merangsangku. Nafsu ku mulai meninggi dan tanganku segera menyelinap ke balik kimononya,mengelus dan merba raba paha dan penisnya yang masih "tidur".Vin tampaknya mulai terangsang, hal itu kuketahui dari penisnya yang begerak menegang. Diamenggelinjang keenakan." Er..... enak sekali," bisiknya..Satu persatu kancing blusku dia lepas, . sehingga BH hitamku mencuat keluar. Payudaraku yang tertutup BH dia raba raba.Kedua punting terasa membesar dan mengeras. Dari balik BH ku yang tipis itu kelihatan tonjolan puntingku. Vin semakin gemas, dia menjilatinya dan menciuminya. Aku semakin kegelian.Belum lagi hilang kenikmatan yang kuperoleh, terasa tanganya merambat ke bawah. Perutku dielus elus dan pada gilirannya rambut bawahku juga merasakan hal serupa. Dalam keadaan yang semakin terangsang, kukulum bibirnya dan kupermainkan lidahnya.
Vin kelihatannya semakin benafsu. Setelah dia melepas kuluman di bibirku, bibirnya dan lidahnya beralih menjilati leherku dengan lembut. Sementara kedua tangannya bekerja untuk menanggalkan blusku. Blusku dicampakan. Kini bagian atas tubuhku sudah terbuka bebas. . Mulut pria yang dengan" rakus" melumat leherku beralih melumat bagian depan dadaku. Aaaahhh...aaaahh. Aku merintih keenakan dan kegelian. Penis Vin yang kuelus elus terasa semakin menegang. Penis itu begitu panjang dan keras sekali. Nikmat sekali menggegam dan mengelus penis yang kini sudah tegang. Pelan-pelan kukocok kocok, sampai Vin merintih dan melenguh keenakan.Tanganku menarik penis keluar dari sela sela kimono. Melihat penis dengan kepala yang cukup besar itu nafsuku semakin berkobar. Segera kucium dan kujilati. Vin menggegejang. Dan dia cengan cekatan melepas kaitan BH ku, dan melepaskannya dari tubuhku. Dua gunung kembar yang terbuka itu, kugeser geser ke kepala penisnya. Vin semakin mengejang dan merintih.
Dia menarik tubuhku ke atas, kepalanya menunduk dan bibirnya mengecup ngecup dadaku. Buah dadaku dikulum, dan putingnya disedot sedot dengan lembut. Eeehhhh.... eeehhhh. Aku menggelinjang dan kerengguk kepala Vin kelengketkan ke dadaku. Kegelian dan kenikmatan semakin menjadi jadi. Aaaaaahhhh .... aaaach..." Enaaaaak ..Vinnnn" aku merintih rintih, tanganya mengelus dan mengelitikan rambut dan vaginaku yang masih tertutup CD tipis Vaginaku mulai basah. Vi yang tangan yang kekar dan berbulu ini memang pintar membuat diriku cengan cepat terangsang.. Tanpa kusadari kedua kakiku terentang lebar. Melihat posisiku seperti itu, dia semakin bernafsu. Pangkal pahaku dielus elus, sekali kali jari jarinya mengesek gesek bibir vaginaku yang semakin basah. Kiltorisku yang sudah mengeras, dielus elusnya juga. Enak banget. Vin bangkit dan segera menarik rsleting serta melepas rokku.
Diriku kini hanya terbalut CD. Rambut vaginaku terbayang jelas dibalik CD. Vin kemudian berjongkok dibawahku dan lidahnya menjilati vaginaku. Lidahnya bergeser geser di bagian lubang vagina dan klitorisku. Cara pria ini mengoral membuat diriku semakin terangsang. Lenguhan dan rintihan disertai gelinjangan liar menunjukan bagaimana dirku tak terkontrol lagi. Lidah Vin menjelajah di sela sela CD ku yang bagian tepinya ditarik dan digserkan ke sampaing. Vaginaku terbuka lebar, karena kedua pahaku kurentangkan. Lidanya semakin menyusup ke dalam lubangku. Terasa geli sekali. Cairanku mengalir deras. Bibir vaginaku dikecup sangat lembut sekali. Sementara kedua tangannya mengelus elus kedua pahaku. Mataku yang terpejam semakin terasa gelap. Aliran rangsangan sudah sampai ke ujung kepalaku. Kepala Vin kucengkeram, setiap kali kegelian yang begitu tinggi menjalar ke sleuruh tubuhku. " Aaaah.. Vin nikmat sekali aaaah, aku nggak kuat Vin..enaaaaak," rintihku sambil meremas rambut kepalanya. Masih dalam posisi dia mengulum vaginaku, Vin melepas komononya. Kini Vin sudah bertelanjang bulat. Aku yang dari tadi duduk dalam posisi melorot, bangun dan duduk di tepi sofa. Kuraih penis yang digegamanku ukurannya itu, dan segera kukulum. Cairan yang membasahi penis itu agak asin. Kepala penis yang mirip helm tentara ini kujilati dengan penuh nafsu. Tanganku mengelus elus kantung bijinya yang menggelantung dibawah penis yang masuk di mulutku. Vin melenguh keenakan dan tubuhnya sempat begetar. " Er... nikmat ...aaaah," bisik Vin, dan permainan pada penisnya kutingkat lebih seru lagi. Vin sempat kelojotan juga, kedua kakinya direntangkan lebih lebar. Posisi ini membuat ku semakin leluasa mengoralnya.
Tampaknya Vin sudah tidak tahan lagi merasakan penisnya kujiltai dan kusedot sedot. Dia menarik tubuhku dan mendekapnya.Kami berpelukan dengan posisi berdiri. Tubuh jangkung itu menduduk dan bibirku yang masih basah oleh cairan penisnya langsung dikulum. Terasa penisnya membentur tubuhku dan dia geser geser. Penis ukuran " large" menyusup ke selangkanganku dan bergerak gerak bergser geser di vaginaku yang masih tertutup CD. Meski dilapisi kain CD, gerakan penis itu terasa menggelikan dan enak sekali. Tiba-tiba Vin membalik badanku sehingga posisinya dia memeluku dari belakang. Leher dan tengkuk dia ciumi dan jilati. Sementara kedua tanganya meremas remas dan mengelus kedua buah dadaku. Aku merintih, menggelijang. Vin sangat tahu kalau aku paling tidak tahan bila bagian belakangku diciumi atau dijilati. Pinggul dan bokongku meliuk liuk.u merintih keenakkan. Pria yang merangsangku ini memang sangat faham dimana titik titik sensitifku. Termasuk area tubuhku bagian belakang.Kalau diciumi atau dijilati di bagian ini, aku merasakan suatu kegelian yang sangat tinggi. Mataku terpejam, untuk menikmati rangsangan demi rangsangan yang terjadi pada diriku. Tak lama kemudian, Vin berjongkok di bagian bokongku merasakan suatu sensasi lain.Lidah dan bibir Vin terasa ekank sekali saat menjelajah di sekitar itu. Belahan bokokngku berkali kali di jilatinya Geli sekali. Tubuhku bergetar menahan kenikmatan. Kain mirip tali di G Stringku ditarik pelan pelan."Apa yang akan dia lakukan lagi", kataku dalam batin. Ternyata lidahnya menjilati sekitar lubang belakangku.bergnatian dengan menyentuhkan ujung lidahnya ke bibir vaginaku. Sementara kedua tangannya mengelus elus bulu vaginaku. Kenikmatan yang kuperoleh aku ekspoltasikan dengan mengelus elus elus tangannya, serta menekan agar masuk lebih ke bawah lagi. Dia semakin terbawa oleh permainanku juga. Ketika aku melebarkan posisi kedua kakiku. Melalui sela sela CD ku. Lidah Vin menyusup lebih dalam dan menjilati vaginaku dengan lembut. Tubuhku mengejang ngejang, keenakan. Aaaaahh.... eeeeeh...eeeeehhh...eeehhh.
Perasaan dan otakku semakin tak terkendali. Teramasuk saat Vin memintaku menungging juga kuturuti. Kedua tanganku berpegangan di sofa. Dia menempatkan posisinya di bawahku. Payudaraku yang menggelantung di raih dan dikulum serta putingnya begrantian dijilati. Lidahnya menjilati dari payudara, perut terus turun sampai mendekati gundukan rambut vaginaku. Dia berkali kali menjilati dan jari jarinya mengelus elus vaginaku. Gila, enak sekali, sensasi dari permainan ini. Tubuhku sempat beberapa kali bergoyang dan bergetar. Saat lidah dan bibirnya mengecup bagian yang sangat senesitif bagiku.Pelan pelan Vin menarik CD ku dan dia memlorotkan dan mencampakan di lantai di tumpukkan kimononya. Masih dalam keadaan berrlanjang bulat, Vin minta agar diriku tetap menungging. Kedua kakiku direntang lagi. Vin berjongkok di belakangku dan dia mengoral seluruh bokongku. Aku sempat beteriak dan melenguh ketika lidahnya menjilati lubang duburku. Enak dan geli sekali. Bokongku bergoyang goyang menikmati rangsangan yang belum pernah aku peroleh dari suamiku." Vin ...... enaaaak... geliii sekaliiii," lenguhku sambil memutar mutar pinggulku. Rasa kegelian semakin memuncak saat lidahnya berulang ulang menyapu dan menjilati kulit di antara lubang vagina dan lubang dubur. Bibir vaginaku yang sudah basah kuyup, terasa dikuak oleh tangan Vin dan lidahnya menjilati lebih ke dalam lagi. Vaginaku merasakan suatu isapan yang lembut. Ternyata Vin memang menyedotnya. Wuaaah.... enak dan nikmat banget. Ujung lidah yang menggelitik dinding vaginaku, kurasakan semakin nikmat saat dia menyedot vaginaku.. Cairan yang tersimpan di dalam terasa mengalir keluar, dan dia menghirupnya. Mungkin dia menelannya. Aku sudah tidak peduli lagi. Apa pun yang dia lakukan, aku pasrah. Terpenting aku merasakan suatu kenikmatan dan kepuasan yang panjang. Pria teman suamiku ini memang hebat dalam teknik mengoral. Hal ini kurasakan. Beberapa kali aku harus menyerah kalah ( sudah orgasme), padahal masih pada tahap fore play. Kehaliannya dia mengoral itu menjadikan aku sering orgasme duluan.Setiap kali ML dengan dia, sedikitnya mengalami dua kali orgasme. Permainan oral seks dia, diselingi dengan bergantian mengulum kedua payudaraku, Gundukan dimana rambut bawahku tumbuh berkali kali kalu dikecup dan dijilatinya. Pangkal selangkangku jug a memperoleh giliran disapu sapu oleh lidah dan bibirnya. Permainan Vin ini membuat diriku semakin nikmat. Dibandingkan suamiku saat mengoral diriku, Vin jauh lebih pintar, dan sabar serta lembut.Aku yakin siapaun wanita yang merasakan permaina Vin tersebut akan mengalami seperti diriku.
Rintih rintih dan kegelinjangan menunjukan kalau aku semakin terangsang.Terutama saat Vin kembali mengulum bibir vaginaku, lidahnya menjilat pelan di ujung klitorisku. Vaginaku semakin kencang. Tiba tiba kegelian semakin menyelimuti diriku ketika vaginaku terasa disedot dan payudaraku di remas lembut sekali, dan lubang duburku di elus elus oleh jari Vin. Aaaaaaaahhh... aaaahh. Tubuhku bergoyang hebat, mataku gelap. Rasa geli pada idirku meningkat lebih cepat.. "Aaaaaaahhh... Vinnnn... saya orgasmee ... aaaaahhhhh," teriakku dan tubuhku mengejang lebih keras. Vin bukannya mengedurkan permainan malahan mulutnya semakin "melumat" vaginaku. Orgasme yang terjadi pada diriku semakin panjang. Vaginaku berkedut kedut.
Vin kuduga juga merasakan gerakan pada vaginaku itu. Dia berbisiki, " Er ... saya masuki yaaa," dan kujawab " Iya Vin... masukin aku dari tadi sudah kepingin punyamu ke dalam,". Vin berdiri, penisnya di arahakan ke vaginaku dan terasa sangat lembut mengeser geser di sana. Tak lama kemudian terasa vaginaku tersumpal benda keras dan besar. " Eeeeeehhhhh..." aku merintih pelan dan Vin yang kedua tanganya memegang pinggulku segera mendorong penisnya. Aaaahh... enak sekali. Batang penis pajang dan besar itu tahap demi tahap menyusup lebih dalam . Ketika dia mendorong lebih dalam terasa sepertinya menyentuh dinding rahimku. Nikmaaat sekali. Kegelian semakin menjadi jadi ketika penis itu berputar putar pelan dalam di dalam. Dinding vaginaku yang mencengkeram penis itu merasakan adanya batang penis berulir ulir bergerak keluar masuk. Guratan dan uliran urat yang melingkar lingkar pada penis Vin memang menjadikan penis ekstra besar itu menjadi semakin lebih istimewa. Apalagi pemiliknya tergolong "pria kuat dan tahan lama
Dengan posisi dogystyle, Vin "menghajarku" dengan kelembutan yang dia miliki. Setiap kali dia menghujamkan penisnya ke dalam kuimbangi dengan memutar mutar pinggulku. Bila dia memutar penisnya bokongku kudorong ke belakang, sehingga putaran tidak hanya terasa di dalam tapi juga dirasakan oleh bibir vaginaku. Kenikmatan lain yang dia berikan, saat dia " menghajarkan" seperti itu, berkali kali bibirnya menjilati punggung dan leherku. Sedangkan kedua tangannya terus mengelus elus payudaraku yang makin mengencang dan menggelantung . Sepertinya Vin memang ingin memberikan kenikmatan secara utuh., Agar diriku memperoleh kepuasan prima. Kegelian dan kenikmatan semakin menjadikan diriku melambung ke langit. Lenguhan dan desahan dari Vin berulang kali menunjukan dia juga menikmati permainanku yang cenderung lebih pasif dibandingkan permainan dia. Tanpa terasa mungkin sudah lebih dari 10 menit dia bermain dengan gaya doggystyle itu. Meski aku merasakan kenikmatan yang begitu tinggi. Kekuatan tubuhku tak mampu mendukungnya. Lama kelamaaan kakaiku sudah tidak tahan lagi menyangga tubuhku. Kakiku agak gemetaran. Vin tampaknya tahu akan kondisiku. " Kamu capek ya ... tapi saya lagi enak nih," bisiknya dan aku hanya menjawab pendek, " Iyaaa... kita berubah posisi yuk," kataku.
Vin pelan pelan mencabut penisnya dan minta aku berdiri. Kemudian dia duduk di pinggir sofa. Kulihat penis yang mencuat keras itu mendonggak ke atas. Dari posisinya aku mengetahui agar aku duduk dipangkuannya. Tanganku melingkar di lehernya dan kuposisikan lubang vaginaku tepat di penis Vin. Kuturunkan badanku pelan pelan, sementara tangan Vin yang menggegam penis, juga mengarahkannya tepat ke lubang vaginaku. Bleeeessss..... penis itu masuk ke dalam. Vin segera menggerakkan pinggulnya.Meski penis itu terasa sesak dan padat, tapi vaginaku merasa kegelian. Pinggulku kuputar putar, dan kuselingi dengan gerakkan naik turun.Bibir kami saling berpagutan, tanganku melingkar di leher Vin. Kedua tangan Vin memeluk pinggulku. Tubuh kami saling lengket, sehingga kedua payudaraku sering kali kegelian tergesek oleh bulu2 dada. Kami saling bergantian mengeksplorasi leher. Kecupan dan jilatan membuat Vin, beberapa kali merintih. Setiap kali dia tidak tahan kegelian pada lehernya, Bibirnya langsung menyambar biibirku dan mengulumnya. Lidahnya maupun lidahku saling " bermain" di dalam mulut. Permainan semakin seru. Tubuhku yang dipelukan dan pangkuannya, bergerak semakin liar. Dengusan nafas dan nafsu kami berdua semakin mengebu ngebu. Kedua tangan Vin mengangkat pinggulku dan kemudian menurunkannya secara pelan pelan. Vaginaku terasa seperti dimasuki benda kenyal, keras panjang dan besar yang kurasakan begitu enak. Apalagi saat tubuhku terdiam penis itu begerak gerak di dalam vaginaku. Gerakan dan sentakan itu membuatku mengalami suatu kenikmatan yang sulit aku ceritakan.
Entah bagaimana, perasan kenikmatan yang kualami kali ini semakin menghebat. Aku berkali kali menggelinjang dan mengenjang. Begitu pula Vin, kulihat semakin bernafsu memuaskan diriku. Sentuhan sentuhan dan gesekan penisnya terasa enak sekali, sehingga vaginaku mencengkeramnya. " Er... enak nggak.," bisik Vin dan aku berterus terang, " Enak sekali Vin... aaaacchhhh... aaachhhh, Bikin aku puas lagi yaaaaa". Mendengar jawabanku itu Vin segera memutar pelan penisnya dan sepertinya seluruh dinding vaginaku tergesek gesek dan diaduk aduk lembut olehnya. Aku semakin merintih rintih. Vin mendorong tubuhku dan dia membukukan kepalanya. Aaaaahhh...aaaaaah.. mulunya mengulum buah dadaku dan putingnya dia isap isap. " Yaaaa.Vin.... enaaaaaaaaaak," aku berteraik histeris sambil menghentakan hentakan kepalaku. Nafsuku semakin teak terkendali dan liar. Rintihan dan lenguhanku bertubi tubi mengikuti alur permainan Vin. Vaginaku semakin mengencang dan aku merasakan sebentar lagi akan orgasme lagi." Vin kam,u hebat ... kamu jantan .. Vin... bentar lagi aaaaahh," teriakku keenakan. Bibirnya yang melumat payudaraku beralih melumat bibirku. Dan, aku sudah tidak tahan lagi." Vin ayuk saama Vin... ayuk dong sayang....aku mau puncaaak nih " kataku setengah berteriak dan dia membalasnya," Iyaaaa... ayuk sama sama... ". Tubuhku dan tubuh dia bergerak cepat. Aku naik turun dan dia mengimbangi dengan mendorong ke atas, sehingga penisnya semakin ke dalam. " Aaaaaaaaaaah..........aaaaaaaaaaaaaaah sayaa klimakass," teriakku dan aku mencapai titik klimaaks yang sangat tinggi. Tubuhku mengejang dan bergetar keras. Tak lama kemudian nafas Vin semakin cepat dan dia juga menrintih keras, " Eeeehhh....eeehhhhh.... saya keluar Errrr," tubuhku ditekan kebawah dan dipeluknya dengan ketat. Terasa sperma yang hangat menyemprot dan membasahi vaginaku. Aku roboh di pelukkannya., Pria ini memeluku ku dan mencium bibirku. Mesra sekali. Aku merasakan suatu bahagia dan kepuasan yang begitu tingg, seperti terbang ke surga.Aku menilai Vin memang jantan, pria sejati. Dia telah memberikan kepuasan yang sangat istimewa kepadaku.
Dalam keadaan saling berpelukkan. Vin menggeser tubuhnya dan tubuhku sehingga posisi kami tiduran di sofa panjang yang muat untuk tiga orang. Kucium ketiaknya dan bulu dadanya. " Terima kasih sayang...kamu memberikan kepuasan seperti kualami sekarang ini," bisiku. Vin tersenyum dan menciumi rambut kepalaku. Setelah pulih , usaia melewati "pertempuran" yang begitu seru dan nikmat. Aku mencoba bangkit dan menarik vaginaku. Ternyata penis Vin masih menegang, sehingga masih memadati lubang vaginaku. Sehingga agak sulit keluarnya. Vin yang sudah membuka matanya sempat tersenyum. " Biarin di dalam dulu ya... sampai dia lemas sendiri," katanya sambil meraih payudaraku dan mengelusnya lembut. Beberapa menit kemudian setelah terasa vaginaku agak melonggar, pelan pelan aku bangkit dan melepas penisnya. " Saya mau ke kamar mandi dulu," kataku sambil berdiri. Tapi saat melihat tubuh Vin yang terkapar dan jantan itu. Muncul keinginanku. Penis yang berlumur sperma bercampuran cairan vaginak, kucium dan kulum sebentar. Vin sempat menggeliat." Err geli sekali..." katanya. Aku segera bangki menuju ke kamar mandi. Saat aku membersihkan diri. Vin menyusulku. Dia minta aku duduk di bibir bathup. Dan dia membantu membersihkan vagianku dengan penuh perhatian. Setelah vaginaku bersih. Gantian aku yang mencuci penisnya. Selama aku menyambuni dan mengosok penis yang bergelantung, aku sempat membatin. " Burung ini memang besar dan panjang .. pantas saja aku keenakan setiap kali dia masuk ke punyaku,".Setelah mandi aku dan Vin beristirahat di tempat tidurnya. Kami berdua tetap tanpa sehela benangpun. Saat aku menghitung waktu. Baru kusadari tadi kami ngesek lebih dari 35 menit. Beberapa menit berlalu aku terlelap dipelukan Vin.
Setelah terbangun jam menunjukan pukul 21.00. Vin menyiapkan makanan dan kami makan bersama. Romantisnya lagi, selama makan dan berbincang kami tetap telanjang bulat. Tubuhku terasa sudah kembali pulih. Ditambah dengan minum sesloki red wine lagi.
Setelah berkumur dan membersihkan mulutku, Vin mengajaku kembali ke tempat tidur. Dia memelukku dan mencium ku kembali. Kurasakan jilatan pada leherku. Nafasnya begitu hangat dan harum. Aku diam saja, menikmati jilatan dan ciumannya. Tapi hal itu tak berlangsung lama. Kubalas dengan mengulumnya bibir dan memainkan lidahku di dalam mulutnya. Sedangkan tanganku meraba raba dadanya. Vin bereaksi dengan mengelu elus payudaraku. Putingku yang mulai mengeras dan mencuat diusap usah oleh jari jarinya. Terasa lembut dan enak. Lidaku gantian menjilati lehernya. Dia merintih kegelian. Penisnya kuelus elus, dan mulai mulai menegang kembali Tampaknya Vin mulai terangsang. Vin menurunkan kepalanya, dan mengulum puting buah dadaku. Nikmat sekali. Kulumannya dan ciumannya menjadi aku semakin terangsang.. Bibir dan lidahnya menciumi seluruh bagian depan tubuhku. Jari jarinya yang bermain di vaginaku pelan pelan dengan lembut menyusup masuk ke dalam vaginaku. Jari tengah yang ukurannya cukup besar bermain di dalam. Terasa geli dan enak. Jari itu keluar masuk dan berputar putar di dalam. Aku merintih keenakan. Pahaku kukangkangkan lebih lebar lagi. Di bangkit dan kepalanya ke bawah .Dia menjilati rambut vaginaku, dan klitorisku. Dirku semakin kegelian. Rintihan dan desahan mengalir dengan cepat. " Vin terus Vin.. terussss," kataku merengek rengek minta agar dia mengoralku lebih enak lagi. Lidahnya berulang ulang menjilati seluruh bibir dan lubang vaginaku. klitorisku di kecup2nya. Aaaaaah.. aku kegelian. Lubang vaginaku terasa dijuluri oleh lidahnya dan di dalam bergerak gerak menjelajahi seluruh dinding depan liang kenikmatanku itu. Kedua tangan Vin secara bersama juga mengelus dan meremas lembut kedua payudaraku. Aku menggelinjang semakin hebat. Kuangkat dan ketekuk kedua pahaku, agar Vin lebih mudah menikmati vaginaku. Aaaaahhhh.....aaaaahhhh...aaaahahhh .Aku melolong keeenakan saat vaginaku terasa disedot dengan lembut oleh Vin. Tubuhku bergetar getar tidak karuan. " Vin ...Vin aku enak... gantian Vin ...," rintihku sambilberusaha duduk dan menarik tubuh dia. " Kamu terlentang ya.." kataku. Dia sangat mahfum dengan kemauanku itu. Tubuh yang perkasa itu terlentang. Kulihat penisnya sudah mencuat ke atas. kuraih penis itu kuelus elus sebentar. Kemudian aku mengulumnya. Kini kubalas permainan dia. Penis yang begitu dan menggiurkan itu kuisap isap, dan kujilati dengan [penuh nafsu.. Vin merintih rintih.Lenguhan berganti rintihan semakin cepat ketika.Kantung bijinya kujilati dan kukecup kecup.. " Er... aku geli sekali... kamu gituin." rintih Vin.Penisnya semakin tegang dan panjang.Kepala penis yang besar seperti helm, dan kini beriar kujilati dengan ujung lidahku. Vin mengejang ngejang.Tangan Vin berusaha menggapai tubuhku. Kemudian posisiku beralih tubuhku di sampingnya. Sehingga tanganya bisa menjangkau payudara dan vaginaku. Saat aku mengoralnya, Vin meransgang payudara bergantian dengan vaginaku. Kini aku ikut menggelinjang. Pinggulku bergoyang goyang. Dia menarik pinggulku. Menempatkan posisi vawahku persisi di mulutnya. Kami bergaya 69. Vaginaku dijilati dan disedot sedot. Sementara tangan kanannya mengelus elus kedua buah dadaku bergantian. Hisapan dan hilatan terus kulakauakn pada penisnya. Lidahku juga menjilati bagian bawah kantung pelirnya. Di sini Vin, kembali mengejang. " Terus ke bawah lagi jilati semua... aaaahh....aaaahhh...aaah," rintih Vin. Vin dan akupun sudah semakin tidak tahan. Ingin segera mentutaskan permainan ini. " Err masuk yaaa.. kamu di atas," pintanya. Beberapa menit aku masih mengoralnya.Aku bangun dan berjongkok di atas penisnya. Kugegam penis itu dan kubimbing masuk ke dalam vaginaku. Enak sekali, penis yang panjang itu terasa masuk sangat dalam.sekali. Pinggulku bergoyang dan berputar. Menstimulasi penis Vin yang tercengkeram di dalam. Setiap aku menggerakan pionggulku, Vin melakukan hentakan dan gerakan memutar yang berlawanan. Nikmat sekali. Tapi aku ingin bisa lebih menikmati lagi. " Vin... kamu diam ya .. biar kamu menikmati saja dan aku yang kerja," kataku dan dia mengangguk sambil tersenyum. Kedua tangannya terus mengelus kedua payudaraku dan bergantian dengan mengelus pinggulku. Bokongku naik turun dan pinggulku berputar putar, Penis di dalam diremas remas oleh dinding dan otot vaginaku. Vin memejamkan matanya, menikmati permainanku. Meski tubuhnya diam, terasa penis yang sedang merasakan kedutan kedutan vaginhaku juga memebrikan perlawanan. Penis itu sepertinya tersentak sentak dan bergerak memutar. Aku geli sekali dan nikmat. Aku merintih dan mendesah desah lebih liar lagi. Vaginaku terasa geli sekali. " Sayaaaaa.... enak Vin.. aaaahhh aaaahahh aaaahhh," rintihku sambil memacu gerakan pinggulku lebih liar. Vin mendekap pingganku dan mengikuti gerakan tubuhku yang meliuk liuk. Bokokngku ku tekan lebih dalam lagi. Gesekan bulu yang mengelilingi penis Vin, membuat vagina dan selangkanganku semakin kegelian. Suara di kamar berukuran 3 kali 4 meter itu semakin ramai oleh dengusah nfaas dan rintihan kedua manusia yang sedang berpacu kenikmatan.
Tubuhku semakin mengejang dan rintihanku sudah tidak beraturan lagi. Terasa aliran kenikmatan dan kegelian menjalar ke seluruh tubuhku. Mulai dari ujung kaki sampai ke ubun ubun. " Vin saya enaaak.... ayuk... ayuk kita bareng...eeeehh..eeehhh," kataku saat merasakan kegelian yang begitu hebat dan sebentar lagi pasti segera orgasme. G Spotku berkali kali tersentuh oleh penis Vin. beberapa menit kemudian tubuhku mengejang dan aku berteriak keras," Aaaaaaahhh.........aku klimaksss Vin....". Vaginaku berkedut kedut lebih cepat. Vin merasakannya, " Enaaak .. punyamu ... aaaahh" rintihnya sembari dan tangan Vin dari tadi mengelus dan meraba payudaraku beralih memegangi pinggangku. Beberapa menit kemudian dia melenguh panjang," Aaaaauuuuuhhh...aaauhhh,". Penis yang begitu besar dan memadati vaginaku, terehentak hentak dan menyemburkan sperma. Dengan vaginaku masih mencekeram penisnya, aku duduk terdiam. Kedutan di dalam vaginaku masih berlangsung ssementara penis Vin pun belum terlihat tanda lunglai. Kupandangi Vin, dia tampak puas. Begitu pula aku juga mengalami kepuasan lagi.
Selewat beberapa menit kemudian, terasa penis Vin mengecil, dan pelan pelan kutarik keluar. Tubuhku roboh ke samping Vin. Kupeluk tubuh pria yang sering memmuaskan dahaga seksku itu. Kami berciuman dan berulang ulang menyampaikan perasaan masing masing. Vin dan aku sama sama puas dan merasakan kenikmatan.
Setelah membersihkan diri aku bersiap siap pulang. Vin masih sempat menciumku bibir dan vaginaku. Akupun sebelum keluar kamar mengulum penisnya yang terkulai lemas di balik celananya. Vin mengantarku pulang dengan mobilnya. Di tengan perjalanan kami berjanji bila ada kesempatan dan membutuhkan akan ML lagi. Malam itu aku sungguh bahagia karena memperoleh kepuasan dan kenikmatan. Desakan dan luapan libido kini terbayar sudah. Sampai menjelang tidur pun bayangan, serunya permainan ngesek tadi terus muncul di kepalaku. Kubayangkan begitu aku begitu nikmat ketika penis Vin menjelajahi dan menghujam di dalam vaginaku. Dan setiap kali aku membayangkan penis yang panjangnya lebih dari 17 cm, mungkin juga antara 18- 20 cm itu vaginaku mengencang.
Tante Weli
Berawal dari nafsu beringas tanteku itu. Tante Weli sebenernya tante ku sendiri. Namun, akhirnya ia kusetubuhi. Atau lebih tepatnya, tante yang menyetubuhiku. Apa pasal? Karena nafsu hiperseks nya belum terlampiaskan, Tante Weli pun memaksaku. Bahkan ia mengancam akan berteriak dan mengatakan bahwa aku akan memperkosanya, jika aku menolak keinginannya bercinta. Duhhhh tante, besok lagi ya
Pagi ini aku sedang membereskan pakaianku untuk dimasukkan ke dalam koper. Ayahku memperhatikan dengan wajah sedih karena aku satu-satunya anak lelakinya harus pergi demi meraih masa depanku. Aku akan tinggal di Surabaya bersama Tante dan Oomku.
“Papa harap kamu bisa menjaga diri dan berbuat baik, menurut pada Oom Benny dan TanteLenny..” kata papaku.
Aku hanya diam menoleh menatap papaku yang nampak kurang bersemangat karena kepergianku, lalu kupeluk papaku.
“Saya tidak akan mengecewakan Papa..” kataku sambil menuju ke pintu.
Aku naik angkot menuju ke terminal bus. Ketika sudah di atas bus, aku membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya sambil berharap semoga cita-citaku dapat tercapai. Sesampainya di terminal, aku melanjutkan dengan naik angkot menuju perumahan mewah di daerah Darmo.
“Apa ini rumahnya..?” kataku dalam hati.
Nomornya sih bener. Maklum aku belum pernah ke rumahnya.
“Gila.., ini rumah apa istana..?” gumamku bicara pada diriku sendiri.
Aku segera menekan bel yang ada pada pintu gerbang. Beberapa saat kemudian pintu gerbang dibuka. Seorang satpam berbadan gemuk mengamatiku, lalu menegurku.
“Cari siapa ya..?” tanyanya.
“Apa betul ini rumah Oom Benny..?” tanyaku balik.
“Ya betul.. sampean siapa?” tanyanya lagi.
“Saya keponakan Oom Benny dari Jember.”
“Kenapa nggak bilang dari tadi, Sampean pasti Den Welly, kan..? Tuan sedang keluar kota, tapi Nyonya ada lagi nungguin.”
Sekejap aku sudah berada di ruangan dalam rumah mewah yang diisi perabotan yang serba lux. Tak lama kemudian seorang wanita cantik berkulit putih bersih dan bertubuh seksi muncul dari ruang dalam. Kalau kutebak usianya sekitar 35 tahunan, tapi bagikan seorang gadis yang masih perawan.
Dia tersenyum begitu melihatku, “Kok terlambat Well..? Tante pikir kamu nggak jadi datang..” ucap wanita seksi itu sambil terus memandangiku.
“Iya Tante.. maaf..” jawabku pendek.
“Ya sudah.., kamu datang saja Tante sangat senang.. Pak Bowo.., antarkan Welly ke kamarnya..!” perintah Tante Lenny pada Bowo.
Lalu aku mengikuti Pak Bowo menuju sebuah kamar yang ada di bagian bawah tangga. Aku cukup senang menempati kamar itu, karena aku langsung tertidur sampai sore hari. Ketika bangun aku segera mandi, lalu berganti pakaian. Setelah itu aku keluar kamar hendak jalan-jalan di halamanbelakang yang luas. Ketika sedang asik menghayal, tiba-tiba suara lembut dan manja menegurku. Aku agak kaget dan menoleh ke belakang. Ternyata tanteku yang sore itu mengenakan kimono dengan rokok di tangannya, rupanya ia baru bangun tidur.
“Oh Tante..” sapaku kikuk.
Tante tersenyum, dan pandangan yang nakal tertuju pada dadaku yang bidang dan berbulu lebat. Badanku memang cukup atletis karena sering berenang, fitness, dan aku memang mempunyaiwajah yang lumayan ganteng.
“Kamu sudah mandi ya, Wel..? Tampan sekali kamu..” kata tanteku memuji.
Aku kaget bukan main ketika ia mendekatiku, tangannya langsung mengelu-elus penisku, tentu saja aku jadi salah tingkah.
“Saya mau ke kamar dulu Tante..” kataku takut kalau nanti dilihat Oom Benny.
“Tunggu sebentar Wel, Tante ingin minta tolong mijitin kaki Tante.., soalnya keseleo waktu turun tadi..” kata Tante Lenny sambil merengek.
Lalu dia duduk seenaknya, hingga kimono yang tidak dikancing seluruhnya tersingkap, dan bagian dalam tante terlihat olehku. Gila.., ternyata ia tidak memakai CD, sempat juga kulihat bulu-bulu tipis di sekitar kemaluannya seperti habis dicukur.
Aku menahan nafas dan mencoba mengalihkan pandangan, tapi Tante Lenny yang tahu hal itu malah menarik lenganku dan mengangkat kaki kanannya menunjukkan bagian yang sakit. Aku terpaksa melihat betis dan paha tante yang mulus dan padat itu.
“Tolong diurut ya Wel.., tapi pelan-pelan aja ya..” ucapnya lembut.
Terpaksa aku memijit betis tanteku, meskipun hatiku cemas dan bingung. Apalagi ketika aku mencuri pandang melihat paha dan selangkanganya, sehingga nampak sekilas bagian yang berwarna merah muda itu. Tanteku melirik ke arahku sambil tersenyum genit, aku semakin bingung dan malu.
Itu pengalamanku di hari pertama di rumah Oom Benny. Sudah tiga Hari Oom Benny belum pulang juga, padahal aku ingin bertemu dengannya, sedangkan tiap malam aku diminta oleh tante untuk menemaninya ngobrol, bahkan tidak jarang disuruh menemani menonton VCD porno. Benar-benar gila.Hingga pada suatu malam tanteku merintih kesakitan. Waktu itu tante sedang nonton TV sendirian.
Tiba-tiba wanita itu memekik, “Achh.., aduh.., tolong Wel..!” keluhnya sambil memegangi keningnya.
“Kenapa Tante..?” tanyaku kaget dan khawatir.
“Kepala Tante agak pusing.., aduh.. tolong bawa Tante ke kamar Wel..!” keluh tante sambilmemegangi kepalanya.
Aku jadi kebingungan dan serba salah.
“Saya panggil Pak Bowo dulu ya Tante..?” usulku sambil ingin pergi.
Tapi dengan cepat tanteku melarangnya, “Nggak usah, lagi pula Pak Bowo Tante suruh ke Pasuruan ngawal barang.”
Aku jadi bertambah bingung. Terpaksa kutuntun tanteku untuk naik ke ruang atas. Tante merebahkan kepalanya pada pelukanku, aku jadi gemeteran sambil terus menaiki tangga.Sesampainya di dalam kamar, tante merebahkan tubuhnya yang seksi itu dengan telentang. Aku menarik napas lega dan bermaksud meninggalkan kamar. Baru saja kubalikkan tubuh, suara lembut itu melarangku.
“Kamu mau kemana..? Jangan tinggalkan Tante.., tolong pijitin Tante.. Wel..!”
Mendengar itu seluruh tubuhku jadi teringat pesan papa agar menuruti perkataan Oom dan Tanteku.
Perlahan kubalikkan badan, ternyata tanteku telah melepas kimononya. Dan kini hanya tinggal CD saja. Tubuhnya yang masih padat membuat nafsuku naik, payudara yang masih montok dan menantang itu membuat penisku mulai tegang, karena aku belum pernah melihat keindahan tubuh wanita dalam keadaan telanjang seperti ini, apalagi tanteku menggeliat perlahan. Desahan bibirnya yang tipis mengundang nafsu dan birahiku, dan penisku semakin dibuatnya tegang. Kuberanikan diri melangkah menuju ranjang.
Begitu sampai, tanteku yang pura-pura pusing itu tiba-tiba bangkit, lalu memelukku dan mencium bibirku dengan penuh nafsu. Wanita yang hipersex itu dengan cepat melucuti seluruh pakaianku.
“Jangan Tante.., jangan, saya takut..” pintaku sambil mau memakai pakaianku kembali.
“Kalo kamu menolak, Tante akan teriak dan mengatakan pada semua orang bahwa kamu mau memperkosa Tante..” ancam tanteku.
Aku hanya terdiam dan pasrah. Wanita itu kembali mencumbuku, diciuminya dan dijilatinya tubuhku. Begitu tangan halusnya mengenggam penisku, aku langsung membalas ciumannya dan mulai menjilati payudaranya, lalu kukulum putingnya yang berwarna merah agak kecoklatan itu. Tanteku mendesah perlahan.
Selanjutnya kami memainkan posisi 69, sehingga penisku dihisap dan dikemutnya. Nikmat sekali, kurenggangkan kedua pahanya sambil kujilat-jilat kemaluannya yang mulai basah itu.
“Ahh.., aahh.., ayo terus jilat Wel..! Jangan berhenti..!” erang tanteku keenakan.
Rupanya tanteku mengeluarkan cairan dari dalam liang kewanitaannya. Cairan itu memuncrat di wajahku, lalu kuhisap dan kutelan semua. Aku semakin terangsang, kujilati lagi kali ini lebih dalam, bahkan sampai ke duburnya. Kemudian kami berganti posisi, kali ini aku berdiri dan tante jongkok sambil mengulum penisku yang sudah sangat tegang.
Ternyata tanteku pandai sekali menjilat penis, tidak sampai lima menit aku sudah keluar.
“Ahh.., ayo Tante.., terus jilat sayang.., acchh..!” desahku sambil kudorong keluar masuk di mulutnya penisku yang besar ini.
“Tante mau keluar nih.., achh.. yeahh..!” erangku sambil kumuncratkan maniku di mulutnya.
Tante menelan semua maniku, bahkan masih mengocoknya berharap masih ada sisanya.
Setelah beberapa saat penisku mulai bangun kembali. Setelah tegang dibimbingnya penisku masuk ke liang kewanitaannya. Kali ini aku di atas dan tante di bawah. Agak susah sih, mungkin sudah lama tidak service oleh Oom Benny. Setelah kepalanya masuk, kudorong perlahan hingga masuk semuanya ke dalam.
“Ayo Wel..! Gerakin dong Sayang..!” pinta tanteku sambil menggerakkan pantatnya ke atas dan ke bawah karena ia sekarang berada di bawah.
Akhirnya kudorong keluar masuk penisku dengan gerakan yang cepat, sehingga semakin keras erangan tanteku.
Beberapa saat kemudian aku sudah ingin keluar, “Aahh..! Tante.., Welly udah mau keluar.., ahh..!” kataku.
“Sabar Sayang.., Tante sebentar lagi nih..! Yeahh.. ohh.. ahh.., fuck me Wel..! Kita barengan ya Sayang..? Oh.. yeah..!”
Rupanya tanteku juga hampir orgasme. Rasanya seperti ada yang memijat-mijat penisku dan kakinya dilingkarkan ke pantatku. Tante bergetar hebat dan memelukku sambil kemaluannya mengeluarkan cairan yang menyemprot penisku. Tidak lama aku juga mengeluarkan air mani dan spermaku di dalam vaginanya. Terasa begitu nikmatnya dunia ini. Akhirnya kami berdua terkapar lemas.
“Hebat bener kamu Wel.., Tante nggak nyangka baru kali ini Tante merasakan kenikmatan yang luar biasa..!” tuturnya dengan nafas terengah-engah.
Aku diam tak menjawab, tapi dalam hati aku merasa bersalah telah berhubungan dengan tanteku dan takut ketahuan Oom Benny. Tante turun dari ranjang tanpa busana, lalu dia menyalakan sebatang rokok.
“Bagaimana kalau Oom Benny sampai tahu, Tante..? Saya takut.., saya merasa berdosa..” kataku lemah.
Tapi tanteku malah tersenyum dan memelukku dengan mesra.
“Asal kamu tidak memberitahu orang lain, perbuatan kita aman. Lagi pula Oommu itu udah nggak bisa melakukan hubungan badan sejak lama. Dia itu impotent, Wel..!” tutur wanita tanpa busana yang penuh daya tarik itu.
“Jadi semua ini Tante lakukan karena Oom Benny tidak bisa menggauli Tante lagi, ya..?” tanyaku.
“Ya. Bukan sekali ini saja Tante melakukan hal seperti ini.., sebelum sama kamu, Tante pernah melakukannya dengan beberapa teman bisnis Oommu. Terus terang Tante nggak tahan kalau seminggu tidak disentuh atau dipeluk laki-laki..” tutur Tante.
Aku jadi geleng kepala mendengar penjelasan tanteku. Lalu aku bergerak mau pergi, tapi dengan cepat tante menahanku dan mengusap-usap dadaku yang berbulu.
“Well.., kamu harus bersihkan badanmu dulu.., mandilah supaya segar..!” ucapnya lembut.
Aku tak menjawab hanya menarik nafas panjang, lalu melangkah ke kamar mandi. Tubuhku terasa letih namun puas juga.
Begitulah pengalaman di Surabaya yang kualami 6 tahun yang lalu. Dan sampai saat ini aku telah mempunyai istri dan seorang anak.
Lalu apa tante weli tergolong tante girang ? tau deeeeeh...
Subscribe to:
Posts (Atom)

