Tuesday, December 1, 2009
Pemerkosaan Triana K.
Triana Kusumawati namanya. karyawati salah satu bank swasta terbesar di bilangan Arivai Plg. Bertubuh ramping dan kulit putih dengan rambut ikal yang dihighlight coklat. Ia selalu berpenampilan menarik dengan dandanan ala karyawati bank. Bibirnya selalu merah menyala, rok seragam birunya selalu pendek dan ketat. Hari telah menjelang malam ketika Triana berdiri di pinggir jalan Arivai menunggu angkot. Ia baru saja pulang lembur.
Tak lama kemudian ia menghentikan sebuah angkot dan naik terburu-buru karena mendadak hujan turun dengan derasnya. Triana duduk di bangku tengah diapit 2 orang lelaki bertubuh kekar. Ia terkesiap menyadari ada 5 penumpang angkot dan semuanya lelaki bertubuh kekar dengan pakaian lusuh. Mereka adalah kuli bangunan yang baru saja pulang. Mendadak Triana merasakan kedua tangannya dicekal, kemudian sepasang tangan membekap mulutnya. Sementara yang lain menutup jendela angkot. Hujan memang turun dengan deras.
Triana berusaha meronta namun tenaga mereka terlalu kuat. Mendadak mereka berlima menarik-narik blus gadis itu hingga kancingnya berhamburan. Dada triana yang berukuran 36B yang dibungkus bra krem mencuat menggoda. Triana benar-benar tak menduga mereka berniat melecehkannya. Dengan kasar mereka menarik blazer birunya lepas, kemudian blusnya menyusul. Dadanya yang kejal langsung diremas-remas dengan kasar. Hingga menculat keluar dari bra. Triana menjerit tertahan karena mulutnya masih dibekap keras dari belakang. Kini kedua tangannya ditarik kebelakang dan dipegangi erat. Triana menangis melihat lelaki di sebelahnya mengeluarkan pisau besar dan mulai memutuskan ikat pinggangnya.
"Jangan melawan triana sayang... nurut be, biar dak kami potong tetekmu." Mereka telah membukai tasnya dan membaca namanya di KTP.
Triana bergetar merasakan pisau itu mulai memotong rok birunya yang ketat hingga putus. Triana dapat melihat mereka membuang pakaiannya keluar. Angkot itu masih berada di jalan raya yang ramai. Triana sekarang duduk diapit hanya mengenakan bra dan cd kremnya, serta sepatu hak tingginya.
"jjj jangan pak... jangan..." triana hanya dapat menangis ketika tali branya diputus dengan cepat kemudian payudaranya mencuat ketika bra itu direnggut dan dibuang.
Dengan cepat buah dadanya dikenyot kanan kiri. Triana hanya bisa menangis terengah-engah merasakan payudaranya disedot dan dikulum dengan kasar oleh kedua penyiksanya. Tangannya masih dipegangi ke belakang kepalanya. Hal ini membuat dadanya membusung menggairahkan. Triana merasa sangat dilecehkan karena ia bisa melihat dijendela yang buram terkena hujan mereka masih berada di sekitar jalan sudirman yang merupakan jalan utama di kota Plg.
Mendadak ia merasakan tangan-tangan kasar menyelusup ke balik celana dalamnya. meremas-remas pantat dan gundukan memiawnya. Triana menggigit bibirnya menahan tangis dan sensasi yang aneh yang mulai ia rasakan. Dengan cepat kain halus itu telah melorot lepas. kini mereka memaksanya untuk membuka pahanya. Triana melihat cdnya dibuang lewat jendela. Ia sempat terpikir bahwa ia menulis namanya pada cd tersebut. Triana lemas tak berdaya ketika jari-jari kasar itu mulai mengorek memiawnya, smentara salah satunya memaksa melumat mulutnya.
"MMmmmhhh" Triana hanya mampu melenguh tertahan merasakan lidah orang asing menggerayangi rongga mulutnya.
Ia telanjang bulat bersama 5 kuli bangunan yang haus birahi di sebuah angkot. Triana tak mampu menahan reaksi tubuhnya, suara decak cairan di kemaluannya mulai terdengar ketika kuli itu mengocoknya dengan jari2 kasarnya. Mendadak ia merasakan puncak kepuasan yang membuat tubuhnya meregang dan menegang menggairahkan.
"NGGKKhhh!!!!!!!!" Triana merasakan tubuhnya mendadak lemas tak bertenaga. ia benar-benar malu karena orgasme dilecehkan seperti ini.
Mendadak angkot berhenti. Mereka menyeret Triana yang telanjang keluar. Mereka berhenti diwilayah kumuh Plg, kertapati. Triana tak mampu meronta ketika didorong hingga menungging di atas tanah becek. Hujan masih turun dan tubuh telanjangnya menjadi semakin seksi karena basah kuyup di bawah lampu jalan. Tanpa babibu lagi kuli yang pertama menyodok kemaluan Triana dengan deras. kemudian menyetubuhinya dengan buas.
"Nghhh sakit... akhhh ampunnn..." Triana hanya dapat merintih dan menangis. tubuhnya lemas dan kedinginan. "NGHHH!!" Ia dapat merasakan cairan kental hangat mengisi rahimnya. Triana terkejut menyadari ia berada di tengah gang sempit di pemukiman kumuh. lelaki yang kedua mendadak kembali mencengkeram pinggulnya. triana hanya mampu menahan nafas ketika dirasakannya penis lelaki itu mulai menumbuk anusnya yang keriput.
"jangann pak... jangannn....sodomi... sakittt AAKKKHHH!!" Triana meregang merasakan sesuatu yang keras menyodok masuk ke lubang anusnya yang sempit.
Triana mulai disodomi dibawah hujan. Diatas tanah yang becek. Ia hanya bisa mengerang-erang kesakitan hingga pemerkosanya puas dan menyentak dalam. Menyemburkan maninya mengisi dubur Triana Kusumawati, karyawati bank tersebut. Selanjutnya mereka bergilir menyodomi gadis itu. Dubur Triana berulang-ulang disodok paksa. Triana memang pernah disodomi oleh temannya di kantor, namun tetap saja disodomi paksa sangat menyakitkan. Ketika supir angkot yang mendapat giliran terakhir menyemburkan maninya di pantat triana, gadis itu sudah sanggup bergerak lagi. Tubuhnya lemas, anus dan kemaluannya perih.
Mereka kemudian menutup matanya dengan kain hitam kemudian mengikat Triana ke pagar sebuah rumah kayu dengan posisi menungging, sehingga setiap orang yang lewat gang tersebut pasti akan melihat lubang dubur dan kemaluannya. kemudian mulutnya juga disumpal dengan kain kotor.
"HMMM! MMMHH!!" Triana benar-benar lemas. Mereka kemudian meninggalkannya begitu saja. Mereka tahu karena hujan telah berhenti sebentar lagi banyak tukang beca dan preman-preman yang akan melewati gang itu. Benar saja sepanjang malam para preman, pengemis, tukang beca, bahkan anak-anak SMP yang kebetulan lewat mensodominya dan mengagahinya. Mereka merasa tenang karena Triana dibungkam dan ditutup matanya.
Pembantu asyik
Dan akupun lansung masuk kamar tidurku rencananya sih mau tidur tapi pas aku mau tutup kordeng jendela aku melihat ica sedang mandi dan pintu kamar mandinya tidak di tutup mungkin dia merasa klo di rumah sedang sendirian karna kamarku dibelakang dan kamar mandi dan kamartidur pembantuku ada dibelakang kamarku jadi aku bisa leluasa melihat ica mandi, ica sekarang sedang menggosoki tubuhnya dengan sabun pas sampai di teteknya kyanya sengaja di lama-lamain karna aku melihat dia merem melek kaya sedang menikmati nya aku terus saja melihat tingkah lakunya tanpa terasa burungku pun berdiri ,maka aku keluarkan burungku karna terasa sesak. Saat sedang asyiknya onani ica dah selesai mandi karna dia dah pakai handuk dan dia bebalik aku kira mungkin saat itu melihatku tapi dia pura pura tidak melihatku dia langung saja pergi kemarnya karna kamarnya Cuma disebelah kamar mandi
Aku langsung panggil aja dia ca ca ca di jawab iya den ada apa ? cepat sini perutku sakit banget “ entar den” jangan entar entar sekarang gak pakai lama dia pun langsuns datang menuju kamarku hanya dengan handuk , maka aku langsung aja laari menuju kasur aku karna aku dah gak pakai celana , aku langsung aja tutupi bagian bawahku dengan selimut, tok tok tok den ica mengetuk pintu dah masuk aja ca , dalam batin aku wau tubuhnya pyih banget klo dilihat dari dekat, den kok mngelamun ada apa memanggil isah “ oh ya perutku sakit banget ni tolong dong di kerokin, oooo sebentar ya den saya pakaian dulu, gak sah aku dah gak tahan ni, tapi kerokannya ka ada di belakang, pakai hambody aja tu ada di meja dan di laciku ada uang kuno pakai aja buat kerokin aku, dia pun menurut langsung kerokin perutku , tapi karna aku gak tahan karna kerokanya terlalu kencang ,jangan kencang kencang dong ca sakit ni “ maaf den” dah di urut aja , diapun nurut akupun mulai bertanya ca emang kamu gak kepengen begituan lagi yak ok gak menikah lagi kan suami mud ah meninggalkan mu cukup lama , “ kepingin apaan sih den” yang begituan sambil tanganku memeggang pahanya sambil aku elus elus dia diem aja maka aku beranikan untuk naik keatas sampai di pangkal pahanya aku mencari lubang kemaluan ica aku mainkan disana dia hanya tersenyum sambil berkata aden nakal nit u burungnya berdiri dia langsung aja memegang burungku lalu mengocoknya dah lama aku pengen bersetubuh dengan aden aku sering liat aden klo malem malem sering onani kadang aku jadi nafsu den” kenapa kmu gak masuk aja dan kita maen bareng” gak berani den”
Aku lepas anduk ica aku langsung kulum tetenya sambil tananku gak berhenti mainin nonoknya dia merintih ke enakan dah den ais dah gak tahan masukin dong den aku lansung aja masukin burungku ke nonoknya kira kira sekutar 15 menit aku merasa ada yang mau keluar aku terus aja kocok “ terus den ais mau keluar ni aku juga kita bareng bareng aja ,karna aku gak tahan maka crot crot crot spermaku keluar dirahimnya oku lansung ambruk di di tubuh ica ,ca nonok lo enak banget sih akupun langsung tertidur skarna kecapean saat bangu n aku bingung karna ica gak ada ,aku cari dia ternyata dia sedang nonton sinetron eh aden dah bangun ya tadi bapak telpon gak bisa pulang karna harus kebandung soalnya nenek aden sakit jadi bapak dan ibu gak bakalan pulang sampai besuk, aku dengar itu kegirangan langsung aja aku peluk ica dank u ciumin dia maka kami pun melakukan sampai pagi.
Gairah Pasienku
Akupun tak ada masalah hubungan dengan para pasien. Umumnya mereka puas atas hasil diagnosisku, bahkan sebagian besar pasien merupakan pasien “langganan”, artinya mereka sudah berulang kali konsultasi kepadaku tentang kesehatannya. Dan, ketika aku iseng memeriksa file-file pasien, aku baru menyadari bahwa 70 % pasienku adalah ibu-ibu muda yang berumur antar 20 - 30 tahun. Entah kenapa aku kurang tahu.
“Mungkin dokter ganteng dan baik hati” kata Nia, suster yang selama ini membantuku.
“Ah kamu . bisa aja”
“Bener Dok” timpal Tuti, yang bertugas mengurus administrasi praktekku.
Oh ya, sehari-hari aku dibantu oleh kedua wanita itu. Mereka semua sudah menikah. Aku juga sudah menikah dan punya satu anak lelaki umur 2 tahun. Umurku sekarang menjelang 30 tahun.
Aku juga berpegang teguh pada sumpah dan etika dokter dalam menangani para pasien. Penuh perhatian mendengarkan keluhan mereka, juga Aku tak “pelit waktu”. Mungkin faktor inilah yang membuat para ibu muda itu datang ke tempatku. Diantara mereka bahkan tidak mengeluhkan tentang penyakitnya saja, tapi juga perihal kehidupan rumah tangganya, hubungannya dengan suaminya. Aku menanggapinya secara profesional, tak ingin melibatkan secara pribadi, karena aku mencintai isteriku.
Semuanya berjalan seperti biasa, wajar, sampai suatu hari datang Ny. Syeni ke meja praktekku ..
Kuakui wanita muda ini memang cantik dan seksi. Berkulit kuning bersih, seperti pada umumnya wanita keturunan Tiong-hwa, parasnya mirip bintang film Hongkong yang aku lupa namanya, langsing, lumayan tinggi, dan …. inilah yang mencolok : dadanya begitu menonjol ke depan, membulat tegak, apalagi sore ini dia mengenakan blouse bahan kaos yang ketat bergaris horsontal kecil2 warna krem, yang makin mempertegas keindahan bentuk sepasang payudaranya. Dipadu dengan rok mini warna coklat tua, yang membuat sepasang kakinya mulusnya makin “bersinar”.
Dari kartu pasien tertera Syeni namanya, 28 tahun umurnya.
“Kenapa Bu .” sapaku.
“Ini Dok . sesak bernafas, hidung mampet, trus perut saya mules”
“Kalau menelan sesuatu sakit engga Bu “
“Benar dok”
“Badannya panas ?”
Telapak tangannya ditempelkan ke dagunya.
“Agak anget kayanya”
Kayanya radang tenggorokan.
“Trus mulesnya . kebelakang terus engga”
“Iya Dok”
“Udah berapa kali dari pagi”
“Hmmm . dua kali”
“Ibu ingat makan apa saja kemarin ?”
“Mmm rasanya engga ada yang istimewa . makan biasa aja di rumah”
“Buah2 an ?”
“Oh ya . kemarin saya makan mangga, 2 buah”
“Coba ibu berbaring disitu, saya perika dulu”
Sekilas paha putih mulusnya tersingkap ketika ibu muda ini menaikkan kakinya ke dipan yang memang agak tinggi itu.
Seperti biasa, Aku akan memeriksa pernafasannya dulu. Aku sempat bingung. Bukan karena dadanya yang tetap menonjol walaupun dia berbaring, tapi seharusnya dia memakai baju yang ada kancing ditengahnya, biar aku gampang memeriksa. Kaos yang dipakainya tak berkancing.
Stetoskopku udah kupasang ke kuping
Ny. Syeni rupanya tahu kebingunganku. Dia tak kalah bingungnya.
“Hmmm gimana Bu”
“Eh .. Hmmm .. Gini aja ya Dok” katanya sambil agak ragu melepas ujung kaos yang tertutup roknya, dan menyingkap kaosnya tinggi-tinggi sampai diatas puncak bukit kembarnya. Kontan saja perutnya yang mulus dan cup Bhnya tampak.
Oohh . bukan main indahnya tubuh ibu muda ini. Perutnya yang putih mulus rata, dihiasi pusar di tengahnya dan BH cream itu nampak ketat menempel pada buah dadanya yang ampuun .. Putihnya . dan menjulang.
Sejenal aku menenangkan diri. Aku sudah biasa sebenarnya melihat dada wanita. Tapi kali ini, cara Ibu itu membuka kaos tidak biasa. Bukan dari atas, tapi dari bawah. Aku tetap bersikap profesional dan memang tak ada sedikitpun niatan untuk berbuat lebih.
Kalau wanita dalam posisi berbaring, jelas dadanya akan tampak lebih rata. Tapi dada nyonya muda ini lain, belahannya tetap terbentuk, bagai lembah sungai di antara 2 bukit.
“Maaf Bu ya ..” kataku sambil menyingkap lagi kaosnya lebih keatas. Tak ada maksud apa-apa. Agar aku lebih leluasa memeriksa daerah dadanya.
“Engga apa-apa Dok” kata ibu itu sambil membantuku menahan kaosnya di bawah leher.
Karena kondisi daerah dadanya yang menggelembung itu dengan sendirinya stetoskop itu “harus” menempel-nempel juga ke lereng-lereng bukitnya.
“Ambil nafas Bu.”
Walaupun tanganku tak menyentuh langsung, melalui stetoskop aku dapat merasakan betapa kenyal dan padatnya payudara indah ini.
Jelas, banyak lendir di saluran pernafasannya. Ibu ini menderita radang tenggorokan.
“Maaf Bu ya ..” kataku sambil mulai memencet-mencet dan mengetok perutnya. Prosedur standar mendiagnosis keluhan perut mulas.
Jelas, selain mulus dan halus, perut itu kenyal dan padat juga. Kalau yang ini tanganku merasakannya langsung.
Jelas juga, gejalanya khas disentri. Penyakit yang memang sedang musim bersamaan tibanya musim buah.
“Cukup Bu .”
Syeni bangkit dan menurunkan kakinya.
“Sakit apa saya Dok” tanyanya. Pertanyaan yang biasa. Yang tidak biasa adalah Syeni masih membiarkan kaosnya tersingkap. Belahan dadanya makin tegas dengan posisnya yang duduk. Ada hal lain yang juga tak biasa. Rok mini coklatnya makin tersingkap menampakkan sepasang paha mulus putihnya, karena kakinya menjulur ke bawah menggapai-gapai sepatunya. Sungguh pemandangan yang amat indah .
“Radang tenggorokan dan disentri”
“Disentri ?” katanya sambil perlahan mulai menurunkan kaosnya.
“Benar, bu. Engga apa-apa kok. Nanti saya kasih obat” walaupun dada dan perutnya sudah tertutup, bentuk badan yang tertutup kaos ketat itu tetap sedap dipandang.
“Karena apa Dok disentri itu ?” Sepasang pahanya masih terbuka. Ah ! Kenapa aku jadi nakal begini ? Sungguh mati, baru kali ini aku “menghayati” bentuk tubuh pasienku. Apa karena pasien ini memang luar biasa indahnya ? Atau karena cara membuka pakaian yang berbeda ?
“Bisa dari bakteri yang ada di mangga yang Ibu makan kemarin” Syeni sudah turun dari pembaringan. Tinggal lutut dan kaki mulusnya yang masih “tersisa”
Oo .. ada lagi yang bisa dinikmati, goyangan pinggulnya sewaktu dia berjalan kembali ke tempat duduk. Aku baru menyadari bahwa nyonya muda ini juga pemilik sepasang bulatan pantat yang indah. Hah ! Aku makin kurang ajar. Ah engga.. Aku tak berbuat apapun. Cuma tak melewatkan pemandangan indah. Masih wajar.
Aku memberikan resep.
“Sebetulnya ada lagi Dok”
“Apa Bu, kok engga sekalian tadi” Aku sudah siap berkemas. Ini pasien terakhir.
“Maaf Dok .. Saya khawatir .. Emmm ..” Diam.
“Khawatir apa Bu “
“Tante saya kan pernah kena kangker payudara, saya khawatir .”
“Setahu saya . itu bukan penyakit keturunan” kataku memotong, udah siap2 mau pulang.
“Benar Dok”
“Ibu merasakan keluhan apa ?”
“Kalau saya ambil nafas panjang, terasa ada yang sakit di dada kanan”
“Oh . itu gangguan pernafasan karena radang itu. Ibu rasakan ada suatu benjolan engga di payudara” Tanpa disadarinya Ibu ini memegang buah dada kanannya yang benar2 montok itu.
“Saya engga tahu Dok”
“Bisa Ibu periksa sendiri” kataku.
“Tapi saya kan engga yakin, benjolan yang kaya apa ..”
Apakah ini berarti aku harus memeriksa payudaranya ? Ah engga, bisa-bisa aku dituduh pelecehan seksual. Aku serba salah.
“Begini aja Bu, Ibu saya tunjukin cara memeriksanya, nanti bisa ibu periksa sendiri di rumah, dan laporkan hasilnya pada saya”
Aku memeragakan cara memeriksa kemungkinan ada benjolan di payudara, dengan mengambil boneka manequin sebagai model.
“Baik dok, saya akan periksa sendiri”
“Nanti kalau obatnya habis dan masih ada keluhan, ibu bisa balik lagi”
“Terima kasih Dok”
“Sama-sama Bu, selamat sore”
Wanita muda cantik dan seksi itu berlalu.
Lima hari kemudian, Ny Syeni nongol lagi di tempat praktekku, juga sebagai pasien terakhir. Kali ini ia mengenakan blouse berkancing yang juga ketat, yang juga menonjolkan buah kembarnya yang memang sempurna bentuknya, bukan kaos ketat seperti kunjungan lalu. Masih dengan rok mininya.
“Gimana Bu . udah baikan”
“Udah Dok. Kalo nelen udah engga sakit lagi”
“Perutnya ?”
“Udah enak”
“Syukurlah … Trus, apa lagi yang sakit ?”
“Itu Dok .. Hhmmm .. Kekhawatiran saya itu Dok”
“Udah diperiksa belum ..?”
“Udah sih . cuman …” Dia tak meneruskan kalimatnya.
“Cuman apa .”
“Saya engga yakin apa itu benjolan atau bukan ..”
“Memang terasa ada, gitu “
“Kayanya ada kecil . tapi ya itu . saya engga yakin”
Mendadak aku berdebar-debar. Apa benar dia minta aku yang memeriksa . ? Ah, jangan ge-er kamu.
“Maaf Dok .. Apa bisa …. Saya ingin yakin” katanya lagi setelah beberapa saat aku berdiam diri.
“Maksud Ibu, ingin saya yang periksa” kataku tiba2, seperti di luar kontrol.
“Eh .. Iya Dok” katanya sambil senyum tipis malu2. Wajahnya merona. Senyuman manis itu makin mengingatkan kepada bintang film Hongkong yang aku masih juga tak ingat namanya.
“Baiklah, kalau Ibu yang minta” Aku makin deg-degan. Ini namanya rejeki nomplok. Sebentar lagi aku akan merabai buah dada nyonya muda ini yang bulat, padat, putih dan mulus !
Oh ya . Lin Chin Shia nama bintang film itu, kalau engga salah eja.
Tanpa disuruh Syeni langsung menuju tempat periksa, duduk, mengangkat kakinya, dan langsung berbaring. Berdegup jantungku, sewaktu dia mengangkat kakinya ke pembaringan, sekilas CD-nya terlihat, hitam juga warnanya. Ah . paha itu lagi . makin membuatku nervous. Ah lagi, penisku bangun ! baru kali ini aku terangsang oleh pasien.
“Silakan dibuka kancingnya Bu”
Syeni membuka kancing bajunya, seluruh kancing ! Kembali aku menikmati pemandangan seperti yang lalu, perut dan dadanya yang tertutup BH. Kali ini warnanya hitam, sungguh kontras dengan warna kulitnya yang bak pualam.
“Dada kanan Bu ya .”
“Benar Dok”
Sambil sekuatnya menahan diri, aku menurunkan tali BH-nya. Tak urung jari2ku gemetaran juga. Gimana tidak. Membuka BH wanita cantik, seperti memulai proses fore-play saja ..
“Maaf ya Bu .” kataku sambil mulai mengurut. Tanpa membuka cup-nya, aku hanya menyelipkan kedua telapak tanganku. Wow ! bukan main padatnya buah dada wanita ini.
Mengurut pinggir-pinggir bulatan buah itu dengan gerakan berputar.
“Yang mana Bu benjolan itu ?”
“Eehh . di dekat putting Dok . sebelah kanannya .”
Aku menggeser cup Bhnya lebih kebawah. Kini lebih banyak bagian buah dada itu yang tampak. Makin membuatku gemetaran. Entah dia merasakan getaran jari-jariku atau engga.
“Dibuka aja ya Dok” katanya tiba2 sambil tangannya langsung ke punggung membuka kaitan Bhnya tanpa menunggu persetujuanku. Oohhh . jangan dong . Aku jadi tersiksa lho Bu, kataku dalam hati. Tapi engga apa-apa lah ..
Cup-nya mengendor. Daging bulat itu seolah terbebas. Dan .. syeni memelorotkan sendiri cup-nya …
Kini bulatan itu nampak dengan utuh. Oh indahnya … benar2 bundar bulat, putih mulus halus, dan yang membuatku tersengal, putting kecilnya berwarna pink, merah jambu !
Kuteruskan urutan dan pencetanku pada daging bulat yang menggiurkan ini. Jelas saja, sengaja atau tidak, beberapa kali jariku menyentuh putting merah jambunya itu ..
Dan .. Putting itu membesar. Walaupun kecil tapi menunjuk ke atas ! Wajar saja. Wanita kalau disentuh buah dadanya akan menegang putingnya. Wajar juga kalau nafas Syeni sedikit memburu. Yang tak wajar adalah, Syeni memejamkan mata seolah sedang dirangsang !
Memang ada sedikit benjolan di situ, tapi ini sih bukan tanda2 kangker.
“Yang mana Bu ya .” Kini aku yang kurang ajar. Pura-pura belum menemukan agar bisa terus meremasi buah dada indah ini. Penisku benar2 tegang sekarang.
“Itu Dok . coba ke kiri lagi .. Ya .itu .” katanya sambil tersengal-sengal. Jelas sekali, disengaja atau tidak, Syeni telah terrangsang .
“Oh . ini ..bukan Bu . engga apa-apa”
“Syukurlah”
“Engga apa-apa kok” kataku masih terus meremasi, mustinya sudah berhenti. Bahkan dengan nakalnya telapak tangnku mengusapi putingnya, keras ! Tapi Syeni membiarkan kenakalanku. Bahkan dia merintih, amat pelan, sambil merem ! Untung aku cepat sadar. Kulepaskan buah dadanya dari tanganku. Matanya mendadak terbuka, sekilas ada sinar kekecewaan.
‘Cukup Bu” kataku sambil mengembalikan cup ke tempatnya. Tapi …
“Sekalian Dok, diperiksa yang kiri .” Katanya sambil menggeser BH nya ke bawah. hah ? Kini sepasang buah sintal itu terbuka seluruhnya. Pemandangan yang merangsang .. Putting kirinyapun sudah tegang . Sejenak aku bimbang, kuteruskan, atau tidak. Kalau kuteruskan, ada kemungkinan aku tak bisa menahan diri lagi, keterusan dan ,,,, melanggar sumpah dokter yang selama ini kujunjung tinggi. Kalau tidak kuteruskan, berarti aku menolak keinginan pasien, dan terus terang rugi juga dong . aku kan pria tulen yang normal. Dalam kebimbangan ini tentu saja aku memelototi terus sepasang buah indah ciptaan Tuhan ini.
“Kenapa Dok ?” Pertanyaan yang mengagetkan.
“Ah .. engga apa-apa … cuman kagum” Ah ! Kata-kataku meluncur begitu saja tak terkontrol. Mulai nakal kamu ya, kataku dalam hati.
“Kagum apa Dok” Ini jelas pertanyaan yang rada nakal juga. Sudah jelas kok ditanyakan.
“Indah .” Lagi-lagi aku lepas kontrol
“Ah . dokter bisa aja .. Indah apanya Dok” Lagi-lagi pertanyaan yang tak perlu.
“Apalagi .”
“Engga kok . biasa-biasa aja” Ah mata sipit itu .. Mata yang mengundang !
“Maaf Bu ya .” kataku kemudian mengalihkan pembicaraan dan menghindari sorotan matanya.
Kuremasi dada kirinya dengan kedua belah tangan, sesuai prosedur.
Erangannya tambah keras dan sering, matanya merem-melek. Wah . ini sih engga beres nih. Dan makin engga beres, Syeni menuntun tangan kiriku untuk pindah ke dada kanannya, dan tangannya ikut meremas mengikuti gerakan tanganku .. Jelas ini gerakan merangsang seksual . herannya aku nurut saja, bahkan menikmati.
Ketika rintihan Syeni makin tak terkendali, aku khawatir kalau kedua suster itu curiga. Kalaupun suster itu masuk ruangan, masih aman, karena dipan-periksa ini ditutup dengan korden. Dan . benar juga, kudengar ada orang memasuki ruang praktek. Aku langsung memberi isyarat untuk diam. Syeni kontan membisu. Lalu aku bersandiwara.
“Ambil nafas Bu ” seolah sedang memeriksa. Terdengar orang itu keluar lagi.
Tak bisa diteruskan nih, reputasiku yang baik selama ini bisa hancur.
“Udah Bu ya . tak ada tanda-tanda kangker kok”
“Dok ..” Katanya serak sambil menarik tanganku, mata terpejam dan mulut setengah terbuka. Kedua bulatan itu bergerak naik-turun mengikuti alunan nafasnya. Aku mengerti permintaanya. Aku sudah terangsang. Tapi masa aku melayani permintaan aneh pasienku? Di ruang periksa?
Gila !
Entah bagaimana prosesnya, tahu-tahu bibir kami sudah beradu. Kami berciuman hebat. Bibirnya manis rasanya .
Aku sadar kembali. Melepas.
“Dok .. Please . ayolah .” Tangannya meremas celana tepat di penisku
“Ih kerasnya ..”
“Engga bisa dong Bu ..’
“Dokter udah siap gitu .”
“Iya .. memang .. Tapi masa .”
“Please dokter .. Cumbulah saya .”
Aku bukannya tak mau, kalau udah tinggi begini, siapa sih yang menolak bersetubuh dengan wanita molek begini ?
“Nanti aja . tunggu mereka pulang” Akhirnya aku larut juga .
“Saya udah engga tahan .”
“Sebentar lagi kok. Ayo, rapiin bajunya dulu. Ibu pura-pura pulang, nanti setelah mereka pergi, Ibu bisa ke sini lagi” Akhirnya aku yang engga tahan dan memberi jalan.
“Okey ..okey . Bener ya Dok”
“Bener Bu”
“Kok Ibu sih manggilnya, Syeni aja dong”
“Ya Syeni” kataku sambil mengecup pipinya.
“Ehhhhfff”
Begitu Syeni keluar ruangan, Nia masuk.
“habis Dok”
Dia langsung berberes. Rapi kembali.
“Dokter belum mau pulang ?”
“Belum. Silakan duluan”
“Baiklah, kita duluan ya”
Aku amati mereka berdua keluar, sampai hilang di kegelapan. Aku mencari-cari wanita molek itu. Sebuah baby-bens meluncur masuk, lalu parkir. Si tubuh indah itu nongol. Aku memberi kode dengan mengedipkan mata, lalu masuk ke ruang periksa, menunggu.
Syeni masuk.
“Kunci pintunya” perintahku.
Sampai di ruang periksa Syeni langsung memelukku, erat sekali.
“Dok …”
“Ya .Syeni .”
Tak perlu kata-kata lagi, bibir kami langsung berpagutan. Lidah yang lincah dan ahli menelusuri rongga-ronga mulutku. Ah wanita ini .. Benar-benar ..ehm ..
Sambil masih berpelukan, Syeni menggeser tubuhnya menuju ke pembaringan pasien, menyandarkan pinggangnya pada tepian dipan, mata sipitnya tajam menatapku, menantang. Gile bener ..
Aku tak tahan lagi, persetan dengan sumpah, kode etik dll. Dihadapanku berdiri wanita muda cantik dan sexy, dengan gaya menantang.
Kubuka kancing bajunya satu-persatu sampai seluruhnya terlepas. Tampaklah kedua gumpalan daging kenyal putih yang seakan sesak tertutup BH hitam yang tadi aku urut dan remas-remas. Kali ini gumpalan itu tampak lebih menonjol, karena posisinya tegak, tak berbaring seperti waktu aku meremasnya tadi. Benar2 mendebarkan ..
Syeni membuka blousenya sendiri hingga jatuh ke lantai. Lalu tangannya ke belakang melepas kaitan Bhnya di punggung. Di saat tangannya ke belakang ini, buah dadanya tampak makin menonjol. Aku tak tahan lagi …
Kurenggut BH hitam itu dan kubuang ke lantai, dan sepasang buah dada Syeni yang bulat, menonjol, kenyal, putih, bersih tampak seluruhnya di hadapanku. Sepasang putingnya telah mengeras. Tak ada yang bisa kuperbuat selain menyerbu sepasang buah indah itu dengan mulutku.
“Ooohhh .. Maaassss ..” Syeni merintih keenakan, sekarang ia memanggilku Mas !
Aku engga tahu daging apa namanya, buah dada bulat begini kok kenyal banget, agak susah aku menggigitnya. Putingnya juga istimewa. Selain merah jambu warnanya, juga kecil, “menunjuk”, dan keras. Tampaknya, belum seorang bayipun menyentuhnya. Sjeni memang ibu muda yang belum punya anak.
“Maaaasss .. Sedaaaap ..” Rintihnya ketika aku menjilati dan mengulumi putting dadanya.
Syeni mengubah posisi bersandarnya bergeser makin ke tengah dipan dan aku mengikuti gerakannya agar mulutku tak kehilangan putting yang menggairahkan ini. Lalu, perlahan dia merebahkan tubuhnya sambil memelukku. Akupun ikut rebah dan menindih tubuhnya. Kulanjutkan meng-eksplorasi buah dada indah ini dengan mulutku, bergantian kanan dan kiri.
Tangannya yang tadi meremasi punggungku, tiba2 sekarang bergerak menolak punggungku.
“Lepas dulu dong bajunya . Mas .” kata Syeni
Aku turun dari pembaringan, langsung mencopoti pakaianku, seluruhnya. Tapi sewaktu aku mau melepas CD-ku, Syeni mencegahnya. Sambil masih duduk, tangannya mengelus-elus kepala penisku yang nongol keluar dari Cdku, membuatku makin tegang aja .. Lalu, dengan perlahan dia menurunkan CD-ku hingga lepas. Aku telah telanjang bulat dengan senjata tegak siap, di depan pasienku, nyonya muda yang cantik, sexy dan telanjang dada.
“Wow .. Bukan main ..” Katanya sambil menatap penisku.
Wah . tak adil nih, aku sudah bugil sedangkan dia masih dengan rok mininya. Kembali aku naik ke pembaringan, merebahkan tubuhnya, dan mulai melepas kaitan dan rits rok pendeknya. Perlahan pula aku menurunkan rok pendeknya. Dan …. Gila !
Waktu menarik roknya ke bawah, aku mengharapkan akan menjumpai CD hitam yang tadi sebelum memeriksa dadanya, sempat kulihat sekejap. Yang “tersaji” sekarang dihadapanku bukan CD hitam itu, meskipun sama-sama warna hitam, melainkan bulu-bulu halus tipis yang tumbuh di permukaan kewanitaan Syeni, tak merata. Bulu-bulu itu tumbuh tak begitu banyak, tapi alurnya jelas dari bagian tengah kewanitaannya ke arah pinggir. Aku makin “pusing” …
Kemana CD-nya ? Oh .. Dia udah siap menyambutku rupanya. Dan Syeni kulihat senyum tipis.
“Ada di mobil” katanya menjawab kebingunganku mencari CD hitam itu.
“Kapan melepasnya ?”
“Tadi, sebelum turun .”
Kupelorotkan roknya sampai benar2 lepas .. kini tubuh ibu muda yang putih itu seluruhnya terbuka. Ternyata di bawah rambur kelaminnya, tampak sebagian clit-nya yang berwarna merah jambu juga ! Bukan main. Dan ternyata, pahanya lebih indah kalau tampak seluruhnya begini. Putih bersih dan bulat.
Syeni lalu membuka kakinya. Clitnya makin jelas, benar, merah jambu. Aku langsung menempatkan pinggulku di antara pahanya yang membuka, merebahkan tubuhku menindihnya, dan kami berciuman lagi. Tak lama kami berpagutan, karena ..
“Maass .. Masukin Mas .. Syeni udah engga tahan lagi ..” Wah . dia maunya langsung aja. Udah ngebet benar dia rupanya. Aku bangkit. Membuka pahanya lebih lebar lagi, menempatkan kepala penisku pada clitnya yang memerah, dan mulai menekan.
“Uuuuuhhhhhh .. Sedaaaapppp ..” Rintihnya. Padahal baru kepala penisku aja yang masuk.
Aku menekan lagi.
“Ouufff .. Pelan-pelan dong Mas ..”
“Sorry …” Aku kayanya terburu-buru. Atau vagina Syeni memang sempit.
Aku coba lebih bersabar, menusuk pelan-pelan, tapi pasti … Sampai penisku tenggelam seluruhnya. Benar, vaginanya memang sempit. Gesekannya amat terasa di batang penisku. Ohh nikmatnya ..
Sprei di pembaringan buat pasien itu jadi acak2an. Dipannya berderit setiap aku melakukan gerakan menusuk.
Sadarkah kau?
Siapa yang kamu setubuhi ini?
Pasienmu dan isteri orang!
Mestinya kamu tak boleh melakukan ini.
Habis, dia sendiri yang meminta. Masa minta diperiksa buah dadanya, salah siapa dia punya buah dada yang indah ? Siapa yang minta aku merabai dan memijiti buah dadanya? Siapa yang meminta remasannya dilanjutkan walaupun aku sudah bilang tak ada benjolan ? Okey, deh. Dia semua yang meminta itu. Tapi kamu kan bisa menolaknya? Kenapa memenuhi semua permintaan yang tak wajar itu? Lagipula, kamu yang minta dia supaya datang lagi setelah para pegawaimu pulang . Okey deh, aku yang minta dia datang lagi. Tapi kan siapa yang tahan melihat wanita muda molek ini telanjang di depan kita dan minta disetubuhi?
Begitulah, aku berdialog dengan diriku sendiri, sambil terus menggenjot memompa di atas tubuh telanjangnya … sampai saatnya tiba. Saatnya mempercepat pompaan. Saatnya puncak hubungan seks hampir tiba. Dan tentu saja saatnya mencabut penis untuk dikeluarkan di perutnya, menjaga hal-hal yang lebih buruk lagi.
Tapi kaki Syeni menjepitku, menahan aku mencabut penisku.
Karena memang aku tak mampu menahan lagi .. Creetttttttt………..Kesempr otkan kuat-kuat air maniku ke dalam tubuhnya, ke dalam vagina Syeni, sambil mengejang dan mendenyut ….
Lalu aku rebah lemas di atas tubuhnya.
Tubuh yang amat basah oleh keringatnya, dan keringatku juga. …
Oh .. Baru kali ini aku menyetubuhi pasienku.
Pasien yang memiliki vagina yang “legit” ..
Aku masih lemas menindihnya ketika handphone Syeni yang disimpan di tasnya berbunyi. Wajah Syeni mendadak memucat. Dengan agak gugup memintaku untuk mencabut, lalu meraih Hpnya sambil memberi kode supaya aku diam. Memegang HP berdiri agak menjauh membelakangiku, masih bugil, dan bicara agak berbisik. Aku tak bisa jelas mendengar percakapannya. Lucu juga tampaknya, orang menelepon sambil telanjang bulat ! Kuperhatikan tubuhnya dari belakang. Memang bentuk tubuh yang ideal, bentuk tubuh mirip gitar spanyol.
“Siapa Syen” tanyaku.
“Koko, Suamiku” Oh .. Mendadak aku merasa bersalah.
“Curiga ya dia”
“Ah .engga .” katanya sambil menghambur ke tubuhku.
“Syeni bilang, masih belum dapat giliran, nunggu 2 orang lagi” lanjutnya.
“Suamimu tahu kamu ke sini”
“Iya dong, memang Syeni mau ke dokter” Tiba2 dia memelukku erat2.
“Terima kasih ya Mas … nikmat sekali .. Syeni puas”
“Ah masa .. “
“Iya bener .. Mas hebat mainnya .”
“Ah . engga usah basa basi”
“Bener Mas .. Malah Syeni mau lagi .”
“Ah .udahlah, kita berberes, tuh ditunggu ama suamimu”
“Lain kali Syeni mau lagi ya Mas”
“Gimana nanti aja .. Entar jadi lagi”
“Jangan khawatir, Syeni pakai IUD kok” Inilah jawaban yang kuinginkan.
“Oh ya ..?”
“Si Koko belum pengin punya anak”
Kami berberes. Syeni memungut BH dan blouse-nya yang tergeletak di lantai, terus mengenakan blousenya, bukan BH-nya dulu. Ternyata BH-nya dimasukkan ke tas tangan.
“Kok BH-nya engga dipakai ?”
“Entar aja deh di rumah”
“Entar curiga lho, suamimu”
“Ah, dia pulangnya malem kok, tadi nelepon dari kantor”
Dia mengancing blousenya satu-persatu, baru memungut roknya. Sexy banget wanita muda yang baru saja aku setubuhi ini. Blose ketatnya membentuk sepasang bulatan dada yang tanpa BH. Bauh dada itu berguncang ketika dia mengenakan rok mini-nya. Aku terrangsang lagi … Cara Syeni mengenakan rok sambil sedikit bergoyang sexy sekali. Apalagi aku tahu di balik blouse itu tak ada penghalang lagi.
“Kok ngliatin aja, pakai dong bajunya”
“Habis . kamu sexy banget sih …”
“Ah .. masa .. Kok bajunya belum dipakai ?”
“Entar ajalah . mau mandi dulu .”
Selesai berpakaian, Syeni memelukku yang masih bugil erat2 sampai bungkahan daging dadanya terasa terjepit di dadaku.
“Syeni pulang dulu ya Yang . kapan-kapan Syeni mau lagi ya .”
“Iya .. deh . siapa yang bisa menolak..” Tapi, kenapa nih .. Penisku kok bangun lagi.
“Eh .. Bangun lagi ya ..” Syeni ternyata menyadarinya.
Aku tak menjawab, hanya balas memeluknya.
“Mas mau lagi .?”
“Ah . kamu kan ditunggu suami kamu”
“Masih ada waktu kok …” katanya mulai menciumi wajahku.
“Udah malam Syen, lain waktu aja”
Syani tak menjawab, malah meremasi penisku yang udah tegang. Lalu dituntunnya aku menuju meja kerjaku. Disingkirkannya benda2 yang ada di meja, lalu aku didudukkan di meja, mendorongku hingga punggungku rebah di meja. Lalu Syeni naik ke atas meja, melangkahi tubuhku, menyingkap rok mininya, memegang penisku dan diarahkan ke liang vaginanya, terus Syeni menekan ke bawah duduk di tubuhku. ..
Penisku langsung menerobos vaginanya ..
Syeni bergoyang bagai naik kuda .
Sekali lagi kami bersetubuh .
Kali ini Syeni mampu menccapai klimaks, beberapa detik sebelum aku menyemprotkan vaginanya dengan air maniku …
Lalu dia rebah menindih tubuhku .. Lemas lunglai.
“Kapan-kapan ke rumahku ya … kita main di sana ..” Katanya sebelum pergi.
“Ngaco . suamimu .?”
“Kalo dia sedang engga ada dong ..”
Baiklah, kutunggu undanganmu.
Sejak “peristiwa Syeni” itu, aku jadi makin menikmati pekerjaanku. Menjelajahi dada wanita dengan stetoskop membuatku jadi “syur”, padahal sebelum itu, merupakan pekerjaan yang membosankan. Apalagi ibu-ibu muda yang menjadi pasienku makin banyak saja dan banyak di antaranya yang sexy .
Asih Yang 19thn


Saya Andri 32 thn….cerita ini adalah pengalaman pribadi saya beberapa tahun yang lalu di Kota Surabaya…. Daerah Wiyung…. dengan Asih… pembantuku….
Kebetulan dari kantor kami dikontrakan rumah bagi staf yg masih bujangan , ada 3 orang yang tinggal…….kebetulan rumah bosku juga satu komplek dengan rumah kontrakan kami….dia punya 2 pembantu salah satunya namanya Asih… tinggi , manis sekali , umur 19 thn tapi toketnya lumayan besar …pakaian modis banget ga seperti pembantu pada umumnya dan sexy banget……., aku liat pertama saja sudah napsu………
Kebetulan si Asih ini dipinjamkam ke kami oleh bosku …. tiap pagi Bantu masak dan bersihin rumah…..dan tiap bulan kami kasih tambahan gaji buat dia……………….
Karena kami semua pada bujangan…..senang sekali kami dapat pembantu semanis ini, tiap hari saya dan teman2 selalu goda, cowel..sana sini….. dia marah-marah tapi senang juga kayaknya….cuman aku yang agak cool….hehehe, biasa bikin penasaran.., ga ding soalnya aku sudah punya pacar……………..
Tapi kayaknya si Asih selalu curi-curi pandang ke saya…… lama-lama aku geregetan juga liat abg ini…. Aku pandang2 emang manis banget…body , rambutnya yang panjang …bikin aku tergoda jg…………… klo sedang nonton tv sore, pakai celana pendek dan kaos ketat sekali sehingga bongkahan tetek tercetak indah di dadanya…… pikiranku semakin tidak karuan…apalagi ditambah aksi genitnya………. Tapi aku belum bereaksi apa-apa cuman dipikiran ini terus berkecamuk ingin……..dengannya.
Akhirnya pada saat aku ulang tahun, aku dapat kado dari dia yang isinya pakaian lengkap dari bawah keatas ( kemeja,dasi,pakaian dalam, cedam, sisir, kaos kaki, handuk ) aku heran juga..teman-teman yang lain Ultah ga dikasih apa-apa kok giliran aku dapat semua …heheh , wah anak ini jangan2 bener2 mau serius…… pikiranku terus menimbang resiko dan manfaatnya……..akhirnya setan menang juga……hehehehe……….
Kebetulan temen2 yg lain klo pulang agak telat karena kerja di lapangan sementara aku di kantor so…selalu pulang duluan…, seperti biasa begitu aku pulang duluan di rumah cuman ada Asih yang lagi nyiapin makan buat aku….., aku langsung nyalahin TV….dan nonton…, setelah itu asih datang bawah makanan.. aku makan dan asih nungguin sambil nonton TV, sambil sekali ngobrol sama dia….”sih, berapa umur kamu sekarang ? “ tanyaku, “ mau 19 mas bulan depan” kata dia , “dah punya pacar belom” kataku , “ belum mas , dulu ada cuman saya ga cocok, sopir depan rumah juga naksir saya, cuman saya belom sreg” jawabnya, “ emang sregnya kayak apa ?” tanyaku .., “ yaaa klo bisa sih yang kayak mas andrii” jawabnya, “ glekkk “ terasa makanan menyumbat di mulutku jawabannya benar2 diluar dugaanku, kesempatan manis nih….otakku mulai berputar sambil terus makan….lalu dia ambil minum buatku, “ Asih mau ga jadi pacar aku?” tanyaku kemudian, “ ihh mas andri kan sudah punya pacar” jawabnya, “ iya sih tapi jauh, jarang kontak “ jawabku bohong, “ jadi kesepian, dari pada gitu mending mikir yang deket” lanjutku, “ mas andri boong, mana mau mas sama aku, cuman pembantu” katanya, “ sih pembantu juga manusia, apa salahnya punya keinginan juga” rayuku, sambil tanganku mengusap pahanya yang hanya pake celana pendek….” Mau ga sih? “ tanyaku lagi…. Wajahnya agak kemerahan …dia diem aja, cuman dari rautmukanya kayaknya dia mau, “gimana sih” aku coba mengelus rambutnya, kepalanya semakin ditundukkan…” iya mas , tapi jangan bilang sapa-sapa , saya malu” katanya, “ ok deh, ini tetep jadi rahasia kita” jawabku, kebetulan memang itu yang kuharapkan hehehe……
Wah..kapan lagi dapat ABG kata setan burik dikepalaku…..” asih kamu pernah dicium cowok gak” tanyaku, “ belum pernah mas” jawabku tanpa piker panjang , karena posisi kami dekat aku langsung cium keningnya, dia kaget tapi tidak menghindar……wah ga ada penolakan , bertubi-tubi aku cium pipinya, truss keningnya…….dia menunduk aja, “ jangan mas malu” katanya, “ malu sama sapa, cuman kita berdua kok” kataku, temen2ku memang datangnya agak malam karena ada stupping ekspor, lalu aku berusaha cium bibirnya..dia agak menghindar…tapi aku tahan kepalanya dengan tangan kananku……aku kecup bertubi-tubi…..dia mulai terangsang juga, nafasnya mulai memburu…..kemudian aku hentikan “ gimana enak sih,” tanyaku, “ iya mas “jawabnya pelan, “ sih boleh aku pegang tetekmu” , “ jangan mas” tolaknya, “ ga papa enak kok” langsung aku cium bibirnya lagi, dan tangan ku gerilya ke teteknya, wahhh masih kenceng banget… dasar ABG ,. Dia menggelinjang keenakan….. “ mas…mas… “ mulutnya mulai berkicau, aku ga perduli pelan-pelan tanganku membuka bra nya, ( klo cuman buka bra aku sudah liahai….. hehehehe ) tanpa dia sadar…… dan mulutku mulai berpindah pelan ke dadanya… “mas…..mas…..” cuman itu yang hanya bisa dia katakan, kubuka kaosnya otomatis bra yang sudah aku buka jg sudah lepas, dia berusaha menutupi bukit dadanya , cuman aku singkirkan dan niplenya mulai aku jilatin….. indah sekali dada abg ini, kenyal dan mantap…. Terus aku jilatin, dan aku kecup bagian sensitifnya, di menggelepar-gelepar keenakan….. sambil tanganku meraba pahanya yang mulus..dan halus…… “kring…kring…kring “ tiba-tiba telepon berbunyi ….brengsek …baru mau asyik……pikirku, cepat2 dia bangun dan akan telepon, rupanya temen2 sudah mau pulang , suruh siap2 makanan…… wahhh gagal eksekusi nih….. tp gapapa pelan-pelan bia tambah asyik …dalam batinku, “ mas jangan bilang-bilang ya mas” katanya setelah dia terima telp., “ ok say” dia terseyum dan langsung ke dapur nyiapin makanan, kembali aku nonton TV.
Sejak hari itu , tiap pagi mo berangkat kantor ku cium dulu dia di dapur, diam-diam takut temen2 pada curiga, hari sabtu kantor setengah hari sengaja aku ga mudik ke kampung, sementara teman2 langsung dr lapangan pulang ke kampunya masing2. kepala dah nyut-nyutan nunggu sampai hari sabtu,,, abis kantor aku langsung pulang …aku lihat asih lg nnton TV memang sengaja klo sabtu siang dia ga masak karena biasanya pulang semua.,
“ kok ga pulang mas” tanyanya, “ ga sih , hari ini aku ingin berduaan sama kamu” jawabku, “ ah mas andri bisa aja “ jawabnya , “ malam minggu kamu emang ga pingin aku temenin” tanyaku, “ ya pingin sih mas, emang mas ga pulang “ tanyanya, “ ga besok aja , kan deket “ jawabku, lansung kuambil tangannya dan kupeluk dia , “ mas…” dia kaget, tapi ga ada reaksi… kukecup bibirnya dia membalas tidak kalah hebohnya…. Rupanya beberapa hari ini dia telah belajar,..dan memendam nafsunya……, nafasnya semakin memburu kemudian aku lepas kaosnya ..terus tanganku gerilya ke tetek dan pahanya sampil terus mengecup telinganya dan bibirnya….. “ sih km mau lihat K……. ku “ bisikku, tanpa tunggu jawaban aku bawa tangannya ke adikku yang sudah tegang, “keras mas “ katanya, “ mo liat aslinya” aku terus buka resleting celana dan membawa tangan memegang adikku …… heemmmm aku makin bernafsu , dan dia jg , aku masukin tanganku ke dalam cd. Nya “ jangan mas” katanya , “ biar sama sih, biar adil”, jawabku, lalu aku buka jg celana pendeknya ……wah ..indah benar….. “ sih ke kamar yuk “ lalu aku bopong aja tubuhnya ke kamar, dan kulepas semua pakaiannya hingga bugil, dan aku jg begitu, sambil terus merangsangnya, mulutku sudah mulai turung di pangkal pahanya, kujilatin paha , perut dan kakinya…. Dia mengerang sambil menjambak rambutku…… lidah ku mulai berputar-putar di daerah V nya , dia semakin menekan kepalaku… “ mas….mas….. geliiiiiiiiii, enaaaaaaak” aku makin semangat menyedot-nyedot bagian dalam V nya…. Yang sudah sangat basah….enaak gila …gurih….. V..ABG…perawan lagi…..dengan jeritan panjang……dia ga tahann lagi “maaaaaaassssssssssss uhhhhhhhhhhh “ mekinya semakin basah “ enak sih “ , “enak mas” ., “gantian ya sih , kamu hisap adik saya” kataku, “ saya ga bisa mas “ katanya, “ gapapa , sedot aja kayak kamu makan es krim, tapi jangan kena gigi “ , “ yam as “ katanya…..dia mulai mengurut Ko…. ku dan membawanya ke mulutnya, pertama dia masih ragu-ragu dan kasar sekali…tp lama-lama bisa jg dan sangat halus sedotannya….” Uhhhhhh nikmat sekali siih terusssss “ dia ga peduli yang ku katakana , terus meremas dan menyedot-sedot kon….ku , “ ayo sih sama-sama”, “sama-sama gimana mas “ kita saling sedot….. lalu aku angkat dia membentuk posisi 69 dan meneruskan pekerjaan masing-masing…….sampai sekitar 15 menit…….kami menikmati saat-saat yang luar biasa ini…..seakan dunia milik kami berdua……. “ udah sih, aku masukin ya punyaku ke punyamu” pintaku, “ jangan mas nanti aku hamil” , “ ga papa aku tau kok caranya biar ga hamil”, “ bener mas “ tanyanya menyakinkan, “iya …cuman aga sakit sedikit, km tahan ya…” “ ya Mas “ aku mulai ambil posisi , selangkangannya aku buka dan masing2 aku letakkan diatas pahaku….. punggungnya aku ganjal pakai bantal…. “ taha ya sih”, aku puter2 dulu Kon…ku di sekitar lubang Vnya biar air semakin banya sehingga ga begitu sakit….. kuputer dan kumasukkan sedikit….kuputer lagi…kumasukkan lagi perlahan..-lahan semakin membuka lubang Vnya, dia semakin mengerang-ngerang keenakan….. setelah aku piker cukup….. kumasuk separuh….kont…ku susah sekali….terus …kumasukkan ….dia mulai mengerang menahan sakit…” masssssssss ssssssakit…..” , “ tahan say…sebetar “ “blukkkkkk….semua kon…ku sudah masuk , dan dia teriak “maaaaaaaaaaaaaaaas ssssssssssssssakit !!” “tahan sebentar…… aku diamkan beberapa saat, biar V menyesuaikan, setelah beberapa saat pelan-pelan mulai aku kocok… dan tanganku meremas teteknya…biar dia ga begitu terasa sakit………lama-lama kocokkanku semakin cepat…..dia mulai mengerang, meracau ga karuan,……dan menjerit-jerit kenikmatan bercampur kesakitan, darah segar sudah mulai mengalir diselangkangannya….. oooooooooohhh nikmatnya……..ooooooooohhh….kataku meracau juga……kamu memang enak say………..baru aku kocok 10 menit terasa kon…ku sudah ga tahan……. “ sih aku mau keluar…….” “oooooooohhh mas….aku jg ga kuat……..ohhhhhhhhhh” bersamaan dengan jeritan panjangnya aku cabut Kon…ku dan bersamaan itu keluarlah air maniku diatas perutnya……. Oooooo say enak banget.,….. aku liat asih nafasnya masih ngos…ngosan kayak orang abis lari dikejar anjing……… kami diam sejenak….. “ enak say” tanyaku , ….”iya mas… tapi agak sakit” nanti klo sudah biasa enak juga” kataku,……………………………………. Setelah istirahat 1 jam untuk minum, dan bersih-bersih….pertempuranku aku lanjut lagi dengan berbagai macam gaya, dan asih biarpun kecil, cepet bisa belajar, ….sehingga semakin nikmat aja…… sabtu itu aku bertempur sampai malam…… sampai minggunya aku telat bangunnya……….
Hari-hari berikutnya setiap ada kesempatan aku terus melakukan,……. Tetep menjaga hubungan kami , klo istirahat siang kadang2 aku balik kerumah dulu ambil jatah……..
Beberapa bulan kemudian aku dipindah ke Jakarta oleh perusahaan , dan asih tetep telp…telponan sama aku, setiap ada tugas ke Surabaya aku temui dia , dan main diluar rumah…..sampai akhirnya dia berhenti dan bekerja sebagai SPG di Mall Pakuwon….dan kemudian menikah…….hilang sudah kontakku dengan dia………sekian selesai………. Asih kenangan bersamamu akan selalu ku ingat!!!











